Jurnal Teknik Sipil, Vol. 11, No.
2, September 2022
KUAT ACUAN KAYU - KAYU LOKAL DI KABUPATEN ALOR
Januario M. L. Salde1 (michaelsalde13@[Link])
Elia Hunggurami2 (eliahunggurami@[Link])
Tri M. W. Sir 3 (trimwsir@[Link])
ABSTRAK
Berdasarkan pengujian secara fisis dihasilkan kode mutu dari kayu Ampupu, Merah, Hamajang,
Marehe, Kenari, Nitas dan Kemiri berturut-turut yaitu: E13; E10; E8; E10; E9; E8; E7. Dari hasil
pengujian secara mekanis terhadap kayu Ampupu, Merah, Hamajang, Marehe, Kenari, Nitas dan
Kemiri diperoleh kuat tekan tegak lurus serat berturut-turut yaitu: 10,33 MPa; 5,67 MPa; 3,33
MPa; 5,67 MPa; 3,50 MPa; 4,33 MPa; 2,67 MPa. Kuat tekan sejajar serat berturut-turut yaitu:
47,33 MPa; 30,67 MPa; 17,33 MPa; 30,00 MPa; 16,67 MPa; 25,33 MPa; 12,00 MPa. Kuat lentur
berdasarkan beban maksimum berturut-turut yaitu: 124,96 MPa; 76,68 MPa; 53,96 MPa; 76,68
MPa; 56,80 MPa; 55,38 MPa; 44,02 MPa. Persentase perbandingan kayu yang diteliti di
laboratorium terhadap kuat acuan SNI 7973:2013 untuk kayu Ampupu, Merah, Hamajang,
Marehe, Kenari, Nitas dan Kemiri diperoleh persentase perbandingan uji kuat tekan tegak lurus
serat berturut-turut yaitu: 122,58%; 59,31%; 53,54%; 59,31%; 25,50%; 99,60%; 56,55%.
Persentase perbandingan uji kuat tekan sejajar serat berturut-turut yaitu: 89,64%; 85,19%;
47,39%; 81,16%; 10,23%; 115,42%; 31,58%. Persentase perbandingan uji kuat lentur
berdasarkan beban maksimum berturut-turut yaitu: 316,92%; 282,14%; 286,26%; 282,14%;
214,96%; 296,42%; 303,04%.
Kata Kunci: Kayu, Kode Mutu, Kekuatan Kayu.
ABSTRACT
Based on physical testing, the quality codes for Ampupu, Merah, Hamajang, Marehe, Kenari,
Nitas and Kemiri were produced, respectively, namely: E13; E10; E8; E10; E9; E8; E7. From
the results of mechanical testing on Ampupu, Merah, Hamajang, Marehe, Kenari, Nitas and
Kemiri, the compressive strength perpendicular to the grain was obtained, respectively: 10.33
MPa; 5.67 MPa; 3.33 MPa; 5.67 MPa; 3.50 MPa; 4.33 MPa; 2.67 MPa. The compressive
strength parallel to the grain are: 47.33 MPa; 30.67 MPa; 17.33 MPa; 30.00 MPa; 16.67 MPa;
25.33 MPa; 12.00 MPa. Flexural strength based on maximum load, respectively: 124.96 MPa;
76.68 MPa; 53.96 MPa; 76.68 MPa; 56.80 MPa; 55.38 MPa; 44.02 MPa. The percentage of the
comparison of wood studied in the laboratory against the reference strength of SNI 7973:2013
for Ampupu, Merah, Hamajang, Marehe, Kenari, Nitas and Kemiri obtained the percentage
comparison of compressive strength tests perpendicular to the fiber, respectively: 122.58%;
59.31%; 53.54%; 59.31%; 25.50%; 99.60%; 56.55%. The percentage comparison of
compressive strength tests parallel to the fiber, respectively, are: 89.64%; 85.19%; 47.39%;
81.16%; 10.23%; 115.42%; 31.58%. The percentage of the flexural strength test ratio based on
the maximum load in a row are: 316.92%; 282.14%; 286.26%; 282.14%; 214.96%; 296.42%;
303.04%.
Keywords: Timber, Quality Code, Timber’s Strength
1
Prodi Teknik Sipil, FST Undana, (penulis korespondensi);
2
Prodi Teknik Sipil, FST Undana;
3
Prodi Teknik Sipil, FST Undana.
Salde, J. M. L., [Link]., “Kuat Acuan Kayu – Kayu Lokal di Kabupaten Alor 189
Jurnal Teknik Sipil, Vol. 11, No. 2, September 2022
PENDAHULUAN
Material kayu akan selalu dibutuhkan manusia karena sifat utama yang dimiliki yaitu kayu
merupakan kekayaan alam (natural resources) yang tidak akan pernah habis, mudah dalam
pemrosesan serta memiliki sifat-sifat spesifik yang tidak dimiliki oleh bahan lain, (Frick, 1981).
Dengan kondisi negara Indonesia yang berbentuk kepulauan maka pengembangan bahan
bangunan lokal sangat diperlukan dalam rangka mengurangi biaya untuk pengangkutan,
(Saefudin, 2007). Kabupaten Alor adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur,
Indonesia. Jenis tanah di Kabupaten Alor temasuk Vulkanik muda sehingga kaya unsur hara
dengan struktur tanah yang gembur dan subur. Solum tanah sedang sampai dalam, sehingga
tanah lebih stabil dengan kemampuan menahan air tinggi dan dapat diusahakan berbagai jenis
tanaman (RPI2-JM Kabupaten Alor, 2020). Hal inilah yang menyebabkan Kabupaten Alor
mempuyai berbagai jenis pepohonan yang dapat dimanfaatkan kayunya untuk pengembangan
bahan bangunan lokal. Jenis pohon-pohon lokal yang kayunya dimanfaatkan untuk konstruksi di
Kabupaten Alor antara lain: pohon Ampupu, pohon Merah, pohon Hamajang, pohon Marehe,
pohon Kenari, pohon Nitas, dan pohon Kemiri. Sebagai bahan hasil alam, kayu meliliki mutu
yang beragam. Variasi mutu kayu tersebut dipengaruhi oleh berat jenis dan cacat-cacat yang
dimiliki oleh batang kayu tersebut seperti mata kayu, miring serat, retak, dan sebagainya,
(Saefudin, 2007). Hal inilah yang menyebabkan masyarakat pada setiap daerah belum
menggunakan kayu-kayu lokal secara efektif dan efisien karena mutu dari kayu-kayu lokal
tersebut belum diketahui secara jelas terutama berdasarkan SNI 7973:2013.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kuat acuan kayu-kayu lokal di Kabupaten Alor
berdasarkan SNI 7973: 2013 dan nilai kekuatan kayu-kayu lokal di Kabupaten Alor jika diuji
secara mekanis, serta untuk mengetahui nilai persentase perbandingan kekuatan kayu-kayu lokal
di Kabupaten Alor yang diuji secara mekanis terhadap kuat acuan SNI 7973: 2013.
TINJAUAN PUSTAKA
Kuat Kelas Kayu Berdasarkan PKKI NI-5 1961
Setiap jenis kayu memiliki ketahanan alami terhadap kekuatan mekanis (bahan) yang terjadi
pada kayu tersebut. Ketahanan alami inilah yang disebut dengan kuat kelas kayu. PKKI NI-5
1961 menerangkan bahwa kuat kelas kayu dinyatakan dalam kuat kelas I, II, III dan IV. Kuat
kelas kayu berdasarkan PKKI NI-5 1961, dapat ditunjukan dalam Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Kuat Kelas Kayu (BSN, 1961)
Salde, J. M. L., [Link]., “Kuat Acuan Kayu – Kayu Lokal di Kabupaten Alor 190
Jurnal Teknik Sipil, Vol. 11, No. 2, September 2022
Kode Mutu Kayu Berdasarkan SNI 7973: 2013
Nilai desain acuan untuk kayu yang dipilah secara mekanis dicantumkan di dalam Tabel 2 di
bawah ini.
Tabel 2. Nilai Desain dan Modulus Elastisitas Lentur Acuan (BSN, 2013)
Nilai Desain Acuan Modulus Elastisitas Acuan
Kode (Mpa = N/mm2) (Mpa = N/mm2)
Mutu
Fb Ft Fc// Fv Fc┴ E Emin
E25 26.0 22.9 18.0 3.06 6.11 25000 12500
E24 24.4 21.5 17.4 2.87 5.74 24000 12000
E23 23.2 20.5 16.8 2.73 5.46 23000 11500
E22 22.0 19.4 16.2 2.59 5.19 22000 11000
E21 21.3 18.8 15.6 2.50 5.00 21000 10500
E20 19.7 17.4 15.0 2.31 4.63 20000 10000
E19 18.6 16.3 14.5 2.18 4.35 19000 9500
E18 17.3 15.3 13.8 2.04 4.07 18000 9000
E17 16.5 14.6 13.2 1.94 3.89 17000 8500
E16 15.0 13.2 12.6 1.76 3.52 16000 8000
E15 13.8 12.2 12.0 1.62 3.24 15000 7500
E14 12.6 11.1 11.1 1.49 2.96 14000 7000
E13 11.8 10.4 10.4 1.39 2.78 13000 6500
E12 10.6 9.4 9.4 1.25 2.50 12000 6000
E11 9.1 8.0 8.0 1.06 2.13 11000 5500
E10 7.9 6.9 6.9 0.93 2.13 10000 5000
E9 7.1 6.3 6.3 0.83 1.67 9000 4500
E8 5.5 4.9 4.9 0.65 1.30 8000 4000
E7 4.3 3.8 3.8 0.51 1.02 7000 3500
E6 3.1 2.8 2.8 0.37 0.74 6000 3000
E5 2.9 1.7 1.7 0.23 0.46 5000 2500
Faktor Konversi Format (KF)
Faktor konversi format yang ditetapkan (KF) di dalam SNI 7973:2013 didasarkan atas faktor
serupa yang terdapat di dalam ASTM D5457.
Tabel 3. Faktor Konversi Format (KF) (BSN, 2013)
Salde, J. M. L., [Link]., “Kuat Acuan Kayu – Kayu Lokal di Kabupaten Alor 191
Jurnal Teknik Sipil, Vol. 11, No. 2, September 2022
Kadar Air
Berdasarkan ASTM 4442-92 (Standard Test Methods for derection Moisture Content
Measurement of Wood-Base materials), untuk menghitung kadar air kayu menggunakan rumus:
MC (%) = (A – B)/B (1)
Dimana:
MC (Measure Content) = kadar air (%)
A = berat asli (gr)
B = berat kering oven (gr)
Sifat Mekanis Kayu
Sifat mekanis kayu yang diuji pada penelitian ini antara lain:
1. Kekuatan tekan
a. Kekuatan tekan sejajar serat
Menurut SNI 03-3958:1995, kuat tekan sejajar serat dihitung dengan beban per
satuan luas bidang tekan.
P
fc// = b x h (2)
Dimana:
fc//= kuat tekan sejajar serat (MPa)
P = beban uji tekan maksimum (N)
B = lebar benda uji (mm)
H = tinggi benda uji (mm)
b. Kekuatan tekan tegak lurus serat
Menurut SNI 03-3958:1995, kuat tekan stegak lurus serat dihitung dengan beban per
satuan luas bidang tekan.
P
fc ┴ = b x h (3)
Dimana
fc┴= kuat tekan tegak lurus serat (MPa)
P = beban uji tekan maksimum (N)
B = lebar benda uji (mm)
H = tinggi benda uji (mm)
2. Kekuatan Lentur Kayu
Menurut SNI 03-3959:1995 Kuat lentur dari benda uji dihitung dengan rumus:
3PL
fb= 2b x h² (4)
Dimana:
fb = kuat lentur (MPa)
P = beban uji lentur maksimum (N)
L = jarak tumpuan (mm)
b = lebar benda uji (mm)
h = tinggi benda uji (mm)
3. Modulus Elastisitas Lentur
Salde, J. M. L., [Link]., “Kuat Acuan Kayu – Kayu Lokal di Kabupaten Alor 192
Jurnal Teknik Sipil, Vol. 11, No. 2, September 2022
Menurut SNI 03-3959:1995 Kuat lentur dari benda uji dihitung dengan rumus:
𝑃𝐿3
MOE= 4∆b x h² (5)
Dimana:
MOE = modulus elastisitas lentur (MPa)
P = beban (N)
L = jarak tumpuan (mm)
∆ = defleksi (mm)
B = lebar benda uji (mm)
H = tinggi benda uji (mm)
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pengujian di Laboratorium. Pengujian yang
dilakukan adalah pengujian kadar air kayu, pengujian tekan tegak lurus serat kayu, sejajar serat
kayu, pengujian kuat lentur kayu dan modulus elastisitas lentur kayu. Ukuran benda uji untuk
pengujian kadar air kayu adalah 50 mm x 50 mm x 50 mm, ukuran benda uji untuk pengujian
tekan tegak lurus serat dan sejajar serat adalah 50 mm x 50 mm x 200 mm. Ukuran benda uji
untuk pengujian kuat lentur dan modulus elastisitas lentur kayu adalah 50 mm x 50 mm x 760
mm.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan Tabel 5 sampel kayu-kayu lokal di kabupaten alor tergolong dalam rentang kuat
kelas I-IV (PKKI, 1961) dengan kode mutu dalam rentang E7-E13 (SNI 7973, 2013)
Tabel 5. Pengelompokan Kayu-Kayu Lokal Yang di Uji Secara Fisis Berdasarkan Kode Mutu
Tabel 6. Nilai Pengujian Kekuatan Mekanis Kayu-Kayu Lokal di Kabupaten Alor
Salde, J. M. L., [Link]., “Kuat Acuan Kayu – Kayu Lokal di Kabupaten Alor 193
Jurnal Teknik Sipil, Vol. 11, No. 2, September 2022
Perbandingan Hasil Pengujian Kekuatan Kayu Secara Mekanis Dengan Kuat
Acuan Berdasarkan SNI 7973: 2013.
Nilai desain kuat acuan dikonversi dari ASD (Allowable Stress Design) ke LRFD (Load
Resistance Factor Design) yaitu nilai desain acuan pada SNI 7973:2013 dikalikan dengan faktor
konversi format (KF). Nilai faktor KF untuk setiap properti telah ditetapkan pada Tabel 3.
Perbandingan hasil pengujian kuat tekan tegak lurus serat kayu-kayu lokal di Kabupaten Alor
yang diteliti dengan kuat acuan berdasarkan kode mutu pada SNI 7973:2013 ditampilkan pada
Tabel 7 dan Gambar 1 berikut.
Tabel 7. Perbandingan Hasil Pengujian Kuat Tekan Tegak Lurus Serat Kayu-Kayu Lokal di
Kabupaten Alor Dengan Kuat Acuan Berdasarkan Kode Mutu Pada SNI 7973,2013
Gambar 1. Diagram Perbandingan Hasil Pengujian Kuat Tekan Tegak Lurus Serat Kayu-Kayu
Lokal di Kabupaten Alor Dengan Kuat Acuan Berdasarkan Kode Mutu Pada SNI 7973,2013
Tabel 8. Perbandingan Hasil Pengujian Kuat Tekan Sejajar Serat Kayu-Kayu Lokal di
Kabupaten Alor Dengan Kuat Acuan Berdasarkan Kode Mutu Pada SNI 7973,2013
Salde, J. M. L., [Link]., “Kuat Acuan Kayu – Kayu Lokal di Kabupaten Alor 194
Jurnal Teknik Sipil, Vol. 11, No. 2, September 2022
Gambar 2. Diagram Perbandingan Hasil Pengujian Kuat Tekan Sejajar Serat Kayu-Kayu Lokal
di Kabupaten Alor Dengan Kuat Acuan Berdasarkan Kode Mutu Pada SNI 7973:2013
Perbandingan hasil pengujian kuat tekan sejajar serat kayu-kayu lokal di Kabupaten Alor yang
diteliti dengan kuat acuan berdasarkan kode mutu pada SNI 7973:2013 ditampilkan pada Tabel 8
dan Gambar 2.
Perbandingan hasil pengujian kuat lentur kayu-kayu lokal di Kabupaten Alor berdasarkan beban
maksimum dengan kuat acuan berdasarkan kode mutu pada SNI 7973-2013 ditampilkan pada
Tabel 9 dan Gambar 3 berikut.
Tabel 9. Perbandingan Hasil Pengujian Kuat Lentur Kayu-Kayu Lokal di Kabupaten Alor
Berdasarkan Beban Maksimum Dengan Kuat Acuan Berdasarkan Kode Mutu Pada SNI 7973:
2013
Gambar 3. Diagram Perbandingan Hasil Pengujian Kuat Lentur Kayu-Kayu Lokal di
Kabupaten Alor Berdasarkan Beban Maksimum Dengan Kuat Acuan Berdasarkan Kode Mutu
Pada SNI 7973-2013
Salde, J. M. L., [Link]., “Kuat Acuan Kayu – Kayu Lokal di Kabupaten Alor 195
Jurnal Teknik Sipil, Vol. 11, No. 2, September 2022
Perbandingan hasil pengujian kuat lentur kayu-kayu lokal di Kabupaten Alor berdasarkan
lendutan izin dengan kuat acuan berdasarkan kode mutu pada SNI 7973-2013 ditampilkan pada
Tabel 10 dan Gambar 4 berikut.
Tabel 10. Perbandingan Hasil Pengujian Kuat Lentur Kayu-Kayu Lokal di Kabupaten Alor
Berdasarkan Lendutan Izin Dengan Kuat Acuan Berdasarkan Kode Mutu Pada SNI 7973-2013
Gambar 4. Diagram Perbandingan Hasil Pengujian Kuat Lentur Kayu-Kayu Lokal di
Kabupaten Alor Berdasarkan Lendutan Izin Dengan Kuat Acuan Berdasarkan Kode Mutu Pada
SNI 7973-2013
Tabel 10. Perbandingan Hasil Pengujian Modulus ElastisitasLentur Kayu - Kayu Lokal di
Kabupaten Alor Dengan Kuat Acuan Berdasarkan Kode Mutu Pada SNI 7973-2013
Salde, J. M. L., [Link]., “Kuat Acuan Kayu – Kayu Lokal di Kabupaten Alor 196
Jurnal Teknik Sipil, Vol. 11, No. 2, September 2022
Perbandingan hasil perhitungan modulus elastisitas lentur kayu-kayu lokal di Kabupaten Alor
berdasarkan beban maksimum dengan kuat acuan berdasarkan kode mutu pada SNI 7973-2013
ditampilkan pada Tabel 10 di atas dan Gambar 5 berikut.
Gambar 5. Diagram Perbandingan Hasil Pengujian Modulus Elastisitas Lentur Kayu-Kayu
Lokal di Kabupaten Alor Berdasarkan Lendutan Izin Dengan Kuat Acuan Berdasarkan Kode
Mutu Pada SNI 7973-2013
KESIMPULAN
1. Berdasarkan pengujian secara fisis pada penelitian ini dihasilkan kode mutu kayu Ampupu =
E13; kayu Merah = E10; kayu Hamajang = E8; kayu Marehe = E10; kayu Kenari = E9; kayu
Nitas = E8; kayu Kemiri = E7.
2. Nilai persentase perbandingan antara kekuatan kayu yang diuji secara mekanis terhadap kuat
acuan berdasarkan SNI 7973:2013 yang telah dikonversi dari ASD (Allowable Stress Design)
ke LRFD (Load Resistance Format Design) pada penelitian ini adalah:
a. Nilai presentase perbandingan uji kuat tekan tegak lurus serat kayu Ampupu =
122,58%; kayu Merah = 59,31%; kayu Hamajang = 53,54%; kayu Marehe = 59,31%;
kayu Kenari = 25,50%; kayu Nitas = 99,60%; kayu Kemiri = 56,55%.
b. Nilai persentase perbandingan uji kuat tekan sejajar serat kayu Ampupu = 89,64%;
kayu Merah = 85,19%; kayu Hamajang = 47,39%; kayu Marehe = 81,16%; kayu
Kenari = 10,23%; kayu Nitas = 115,42%; kayu Kemiri = 31,58%.
c. Nilai persentase perbandingan uji kuat lentur berdasarkan beban maksimum kayu
Ampupu = 316,92%; kayu Merah = 282,14%; kayu Hamajang = 286,26%; kayu
Marehe = 282,14%; kayu Kenari = 214,96%; kayu Nitas = 296,42%; kayu Kemiri =
303,04%.
d. Nilai persentase perbandingan uji kuat lentur berdasarkan lendutan izin kayu Ampupu
= 17,47%; kayu Merah = 20,19%; kayu Hamajang = 29,83%; kayu Marehe = -0,03%;
kayu Kenari = 31,01%; kayu Nitas = 50,90%; kayu Kemiri = 71,65%.
e. Nilai persentase perbandingan modulus elastisitas lentur kayu Ampupu = 35,38%;
kayu Merah = 37,29%; kayu Hamajang = 29,72%; kayu Marehe = 37,92%; kayu
Kenari = 38,07%; kayu Nitas = 46,83%; kayu Kemiri = 23,68%.
SARAN
Pada penelitian ini tidak dilakukan pengujian kuat geser dan kuat tarik kayu karena keterbatasan
alat pengujian. Oleh karena itu bagi mahasiswa dalam meneliti kuat acuan kayu disarankan
untuk melakukan pengujian kuat geser dan kuat tarik kayu.
Salde, J. M. L., [Link]., “Kuat Acuan Kayu – Kayu Lokal di Kabupaten Alor 197
Jurnal Teknik Sipil, Vol. 11, No. 2, September 2022
Daftar Pustaka
ASTM 4442-92. (2003). Standard Test Methods for derection Moisture Content Measurement of
Wood-Base materials. United Status.
Badan Standar Nasional. (1995). SNI 03-3958-1995 Tentang Metode Pengujian Kuat Tekan
Kayu Di Laboratorium. Jakarta: BSN.
Badan Standar Nasional. (1995). SNI 03-3959-1995 Tentang Metode Pengujian Kuat Lentur
Kayu Di Laboratorium. Jakarta: BSN.
Badan Standar Nasional. (2002). SNI-5-2002 Tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Kayu
Untuk Bangunan Gedung (Beta Version). Jakarta: BSN.
Badan Standarisasi Nasional. (1961). Tata Cara Perencanaan Konstruksi Kayu Indonesia
(PKKI). Jakarta: BSN.
Badan Standarisasi Nasional. (2013). SNI 7973:2013 Spesifikasi Desain Untuk Konstruksi Kayu.
Jakarta: BSN.
Cipta Karya-Alor. (2020). Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka
Menengah (RPI2-JM). Bidang Cipta Karya Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Frick, H. (1981). Ilmu Konstruksi Bangunan Kayu.
Saefudin, A. (2007). Pemanfaatan Kayu Sebagai Bahan Struktur Bangunan. Jurnal Menara
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta, 14.
Salde, J. M. L., [Link]., “Kuat Acuan Kayu – Kayu Lokal di Kabupaten Alor 198