0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan12 halaman

Rekomendasi Kinerja Ruas Jl. Koroh-Yani

Dokumen ini merekomendasikan pengelolaan kinerja ruas jalan pada rute Jl. H.R. Koroh hingga Jl. Ahmad Yani di Kota Kupang untuk 5 tahun ke depan berdasarkan proyeksi kondisi fungsionalnya. Hasil evaluasi menunjukkan ruas-ruas jalan tidak memenuhi persyaratan teknis dan kinerjanya akan menurun akibat aktivitas komersial dan lalu lintas yang tinggi. Rekomendasi yang diajukan adalah pengurangan

Diunggah oleh

Sapto Prabowo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan12 halaman

Rekomendasi Kinerja Ruas Jl. Koroh-Yani

Dokumen ini merekomendasikan pengelolaan kinerja ruas jalan pada rute Jl. H.R. Koroh hingga Jl. Ahmad Yani di Kota Kupang untuk 5 tahun ke depan berdasarkan proyeksi kondisi fungsionalnya. Hasil evaluasi menunjukkan ruas-ruas jalan tidak memenuhi persyaratan teknis dan kinerjanya akan menurun akibat aktivitas komersial dan lalu lintas yang tinggi. Rekomendasi yang diajukan adalah pengurangan

Diunggah oleh

Sapto Prabowo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

REKOMENDASI PENGELOLAAN KINERJA RUAS JALAN

BERDASARKAN PROYEKSI KONDISI FUNGSIONAL RUTE JL. H.R.


KOROH-JL. AHMAD YANI
Krisantus S. W. Pedo1 ([Link]@[Link])

ABSTRAK
Rute Jl. H.R. Koroh sampai Jl. Ahmad Yani memiliki aktivitas komersial dan lalu lintas yang
tinggi sehingga dapat menyebabkan turunnya kinerja ruas jalan. Oleh karena itu tujuan penelitian
ini adalah untuk merekomendasikan pengelooan ruas jalan berdasarkan hasil proyeksi kinerja
ruas jalan pada rute tersebut untuk 5 tahun kedepan. Penelitian menggunakan metode evaluasi
terhadap kinrja jalan menurut MKJI (1997) dengan persyaratan teknis jalan raya menurut
Permen PU No. 19 Tahun 2011. Hasil penelitian menunjukan pada kondisi eksisting semua ruas
jalan dalam rute tidak memenuhi persyaratan teknis jalan untuk lebar bahu minimal. Pada aspek
kinerja ruas jalan dari kelima ruas jalan, ruas Jl. Jend. Soeharto dan Jl. Jend. Sudirman belum
memenuhi sasaran derajat kejenuhan (DS) ≤ 0,75. Hasil proyeksi kinerja ruas jalan menunjukkan
perlu adanya perbaikan kinerja ruas jalan dengan menerapkan rekomendasi pengelolaan yakni
rekomendasi 1 pengurangan kelas hambatan samping dan rekomendasi 2 pelebaran perkerasan
jalan. Terjadi peningkatan kinerja ruas jalan sebesar 11% - 25% pada rekomendasi 1 dan sebesar
23% - 74% pada rekomendasi 2, dengan skenario penerapan rekomendasi 1 mulai tahun 2022
kemudian diikuti penerapan rekomendasi 2 mulai tahun 2024.

Kata Kunci: Rekomendasi, Kinerja Ruas Jalan, Proyeksi, Rute


ABSTRACT
Route Jl. H.R. Koroh until Jl. Ahmad Yani has high commercial activity and high traffic so that it
can cause a decrease in road performance. Therefore, the purpose of this study is to recommend
the management of road sections based on the results of projected road performance on the
route for the next 5 years. This study uses the method of evaluating road performance according
to MKJI (1997) with the technical requirements of the road according to the Minister of Public
Works Regulation No. 19 of 2011. The results show that in the existing conditions all roads in
the route do not meet the road technical requirements for minimum shoulder width. In the aspect
of road performance of the five roads, the Jl. Jend. Suharto and Jl. Jend. Sudirman has not met
the target degree of saturation (DS) ≤ 0.75. The results of the projected performance of the road
show that there is a need to improve the performance of the road segment by implementing
management recommendations, namely recommendation 1 reduction of side friction class and
recommendation 2 road pavement widening. There was an increase in road performance by 11%
- 25% on recommendation 1 and 23% - 74% on recommendation 2, with the scenario of
implementing recommendation 1 starting in 2022, followed by the implementation of
recommendation 2 starting in 2024.

Keywords: Recommendations, Road Section Performance, Projections, Routes

PENDAHULUAN
Rute Jl. H.R. Koroh sampai Jl. Ahmad Yani yang terletak pada Kota Kupang merupakan rute
poros penghubung antara pusat kegiatan yang ada di Kota Kupang. Rute ini meliputi Jl. H.R
Koroh dengan panjang ruas 5,153 km, Jl. Jend. Soeharto dengan panjang ruas 1,595 km, Jl. Jend.
Sudirman dengan panjang ruas 1,259 km, Jl. Moh. Hatta dengan panjang ruas 0,906 km, dan Jl.

1
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandira – Kupang, (penulis
korespondensi).

Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 143
Jend. Ahmad Yani dengan panjang ruas 1,024 km. Pusat – pusat kegiatan seperti pendidikan,
perdagangan, pelayanan publik serta pemukiman tersebar pada ke 5 ruas jalan sepanjang rute ini.
Penataan tata guna lahan yang menunjukan penumpukan pusat – pusat kegiatan pada rute ini,
menimbulkan tingginya volume lalu lintas. Pemanfaatan tata guna lahan didominasi oleh
aktivitas perdagangan barang dan jasa, sehingga dapat menimbulkan tingginya hambatan
samping berupa parking on street, pemberhentian angkutan umum, aktivitas pedestrian (trotoar
dan penyeberangan) dan aktivitas bongkar muat barang. Situasi tersebut tentunya sangat
berpengaruh pada terganggunya volume arus lalu lintas sehingga kinerja ruas jalan juga akan
menurun.
Dengan adanya pertumbahan lalu lintas yang terjadi setiap tahunnya, maka dipredikasi akan
terjadi penurunan kondisi fungsional ruas jalan pada rute ini, oleh karena itu menjadi penting
untuk dikaji dan dianalisis melalui evaluasi kinerja jalan serta pemenuhan terhadap persyaratan
teknis jalan untuk proyeksi 5 tahun kedepan dengan tujuan menghasilkan usulan rekomendasi
terhadap pengeloaan kinerja ruas jalan jalan berdasarkan hasil proyeksi kondisi fungsional ruas
jalan yang telah diperhitungkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Sistem Jaringan Jalan
Sistem jaringan jalan dibedakan atas 2 jenis yakni, sistem jaringan jalan primer dan sistem
jaringan jalan sekunder. Menurut Undang – Undang No. 38 Tahun 2004 mendefinisikan:
1. Sistem jaringan jalan primer merupakan jaringan jalan yang memiliki peran dalam
pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan wilayah pada tingkat nasional
yang menghubungkan pusat – pusat kegiatan pada kawasan perkotaan yang memiliki
jangkauan pelayanan nasional wilayah dan lokal.
2. Sistem jaringan jalan sekunder merupakan jaringan jalan yang memiliki peran dalam
pelayanan distribusi barang dan jasa pada kawasan perkotaan yang memiliki kegiatan utama
bukan pertanian, dengan fungsi kawasan berupa pemukiman, pelayanan social serta kegiatan
ekonomi.

Kinerja Ruas Jalan


Suatu ukuran berupa angka ataupun huruf dalam mewakili suatu kualitas pelayanan ruas jalan
dapat disebut sebagai kinerja ruas jalan atau tingkat pelayanan atau Level of Service (LOS).
Kinerja ruas jalan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni kecepatan, waktu tempuh,
ruang manuver, perhentian lalu lintas, serta kenyamanan, dan kemudahan dalam berlalu lintas.
LOS dapat diwakili enam tingkatan yakni A sampai F, dengan masing – masing tingkatan
memilki rentan angka 0 – 1 dan > 1 pada tingkatan F yang mewakili kondisi kinerja dimana LOS
A terbaik dan LOS F terburuk (Khisty dan Lall, 2003). Menurut MKJI (1997) nilai derajat
kejenuhan (DS) yang efektif adalah ≤ 0,75.

Persyaratan Teknis Jalan


Menurut Permen PU No. 19 Tahun 2011, dalam pemenuhan standar pelayanan minimal jalan
untuk melayani lalu lintas dan angkutan jalan maka, suatu ruas jalan wajib memenuhi
persyaratan teknis jalan yang berlaku dengan lingkup persyaratan teknis jalan meliputi:
1. kecepatan rencana;
2. lebar badan jalan;
3. kapasitas jalan;
4. jalan masuk;

Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 144
5. persimpangan sebidang dan fasilitas berputar balik;
6. bangunan pelengkap jalan;
7. perlengkapan jalan;
8. penggunaan jalan sesuai dengan fungsinya
9. ketidak terputusan jalan.
Berdasarakan lingkup persyaratan teknis maka dapat disimpulkan persayaratan teknis jalan
dalam Tabel 1 dan 2 dibawah ini.
Tabel 1. Persyaratan Teknis Jalan Pada Ruas Jalan Dalam Sistem Jaringan Jalan Primer
(sumber: Permen PU No. 19 Tahun 2011: diolah)

Spesifikasi Penyediaan Prasarana Jalan


Jalan Bebas Hambatan Jalan Raya Jalan Kecil
Jalan Sedang
Medan Datar ≤ 156.000 ≤ 117.000 ≤ 78.000 ≤ 110.000 ≤ 82.000 ≤ 61.000 ≤ 22.000 ≤ 17.000
LHR (smp/hari) Medan Bukti ≤ 153.000 ≤ 115.000 ≤ 77.000 ≤ 106.000 ≤ 79.900 ≤ 59.800 ≤ 21.500 ≤ 16.300
Medang Gunung ≤ 146.000 ≤ 110.000 ≤ 73.000 ≤ 103.400 ≤ 77.700 ≤ 58.100 ≤ 20.800 ≤ 15.800
Arteri (Kelas I, II, III, Khusus) Arteri (Kelas I, II, III, Khusus) Lokal, Lingkungan
Fungsi Jalan Kolektor (Kelas I, II, III) Kolektor (Kelas I, II, III) (Kelas III)
Tipe Jalan Terckecil 4/2 T 4/2 T 2/2 TT
Tanpa Penutup
Perkerasan

Jenis Perkerasan Berpenutup Aspal/Beton Kerikil/Tanah


(Khusus LHRT=500
smp/hari)
IRI Terbesar 4 6 8 10
Kerataan
RCI Terckecil Baik Baik - Sedang Sedang Sedang
Kecepatan Medan Datar 80-120 60-120 60-80 30-60
Rencana Medan Bukti 70-110 50-100 50-80 25-50
(Km/Jam) Medang Gunung 60-100 40-80 30-80 20-40
Lebar Jalur Lalu VR < 80 Km/jam 2x(4x3,5) 2x(3x3,5) 2x(2x3,5) 2x(4x3,5) 2x(3x3,5) 2x(2x3,5) 2x3,5 2x2,75
Lintas (m) VR > 80 Km/jam 2x(4x3,6) 2x(3x3,6) 2x(2x3,6) 2x(4x3,6) 2x(3x3,6) 2x(2x3,6) - -
Medan Datar Bahu luar 3,5 dan bahu dalam 0,5 Bahu luar 2,0 dan bahu dalam 0,5 1,0 1,0
Lebar Bahu
Medan Bukti Bahu luar 2,5 dan bahu dalam 0,5 Bahu luar 1,5 dan bahu dalam 0,5 1,0 1,0
Minimal (m)
Medang Gunung Bahu luar 2,0 dan bahu dalam 0,5 Bahu luar 1,0 dan bahu dalam 0,5 0,5 0,5

Tabel 2. Persyaratan Teknis Jalan Pada Ruas Jalan Dalam Sistem Jaringan Jalan Sekunder
(sumber: Permen PU No. 19 Tahun 2011: diolah)
Spesifikasi Penyediaan Prasarana Jalan
Jalan Bebas Hambatan Jalan Raya Jalan Kecil
Jalan Sedang
LHR (smp/hari) ≤ 140.000 ≤ 100.000 ≤ 70.000 ≤ 145.900 ≤ 109.400 ≤ 72.900 ≤ 27.100 ≤ 19.500
Arteri (Kelas I, II, III, Khusus)
Arteri (Kelas I, II, III, Khusus) Lokal, Lingkungan
Fungsi Jalan Kolektor (Kelas I, II, III)
Kolektor (Kelas I, II, III)
(Kelas III)
Lokal (Kelas II, III)

Tipe Jalan Terckecil 4/2 T 4/2 T 2/2 TT 2/2 TT


Tanpa Penutup
Perkerasan

Jenis Perkerasan Berpenutup Aspal/Beton Kerikil/Tanah


(Khusus LHRT=500
smp/hari)

IRI Terbesar 4 6 8 10
Kerataan
RCI Terckecil Baik Baik - Sedang Sedang Sedang
Kecepatan Rencana (Km/Jam) 80-120 40-100 40-80 30-60
Lebar Jalur Lalu VR < 80 Km/jam 2x(4x3,5) 2x(3x3,5) 2x(2x3,5) 2x(4x3,5) 2x(3x3,5) 2x(2x3,5) 7 5,5
Lintas (m) VR > 80 Km/jam 2x(4x3,6) 2x(3x3,6) 2x(2x3,6) 2x(4x3,6) 2x(3x3,6) 2x(2x3,6) - -
Lebar Bahu Minimal (m) Bahu luar 2,5 dan bahu dalam 1,0 Bahu luar 2,0 dan bahu dalam 0,5 1,5 1,0

Kapasitas Ruas Jalan


Menurut Oglesby dan hick (1993) mendefiniskan kapasitas ruas jalan sebagai jumlah maksimum
dari volume kendaraan yang cukup untuk melewati suatu ruas jalan tersebut. Menurut MKJI
(1997), rumus pendekatan dalam memperhitungkan suatu kapasitas ruas jalan adalah sebagai
berikut:
C = Co x FCw x FCsp x FCsf x FCcs (1)
dengan
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 145
C adalah kapasitas (smp/jam)
Co adalah kapasitas dasar (smp/jam)
FCw adalah faktor penyesuaian lebar jalur lalu lintas
FCsp adalah faktor penyesuaian pemisah arah
FCsf adalah faktor penyesuaian hambatan samping, kerb dan bahu
FCcs adalah faktor penyesuaian ukuran kota

Ekivalensi Mobil Penumpaang (EMP)


Ekivalen Mobil Penumpang merupakan menurut MKJI (1997), penentuan nilai EMP kendaraan
penumpang adalah sebagai berikut:
Tabel 3. EMP Tipe Jalan 2/2 TT Jalan Perkotaan

Derajat Kejenuhan
Menurut MKJI (1997) derjaat kejenuhan dapat didefiniskan sebagai rasio antara volume terhadap
kapasitas yang menentukan suatu ukuran kinerja ruas jalan. Derajat kejenuhan ruas jalan dapat
ditentukan dengan persamaan:
DS = Qsmp / C (2)
dengan
DS adalah derajat kejenuhan
Qsmp adalah arus total (smp/jam)
C adalah kapasitas simpang/ ruas jalan (smp/jam)

Volume Jam Perencanaan


Volume jam perencanaan (VJP) merupakan volume jam puncak yang diperoleh dari perkalian
faktor proporsi ideal selama periode puncak dengan data Lalu Lintas Harian Rerata (LHR)
menurut MKJI (1997) penentuan volume jam perencanaan dapat dihitung dengan persamaan
berikut.
VJP = k x LHR (3)
dengan
VJP adalah volume jam perencanaan (smp/jam atau kend/jam)
k adalah faktor proporsi periode jam puncak pada lalu lintas (k = 0,9 untuk jalan kota dan k
= 0,11 untuk jalan luar kota)
LHR adalah lalu lintas harian rata – rata. (smp/jam atau kend/jam)

Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 146
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode evaluasi kinerja ruas jalan menurut Manual Kapasitas Jalan
Indonesia (MKJI) Tahun 1997 serta membandingkan rute ruas jalan terhadap persyaratan teknis
jalan menurut Permen PU No. 19 Tahun 2011. Penelitian akan membandingkan hasil analisis
terhadap kondisi eksisting dengan proyeksi 5 tahun kedapan terhadap persyaratan teknis jalan
serta kinerja ruas jalan. Data yang digunakan adalah berupa data primer yakni volume lalu lintas
dan kondisi geometrik jalan sedangkan data sekunder berupa informasi peta rute dan data
pertumbuhan kendaraan bermotor Kota Kupang.

Gambar 3. Diagram Alir Penelitian

Lokasi dan Waktu Penelitian


Rute jalan yang akan diteliti adalah rute dari Ruas Jl. H.R. Koroh (Perempatan jalur 40) sampai
Jl. Ahmad Yani (Strat A). Peta rute dapat dilihat pada Gambar 4 serta panjang ruas pada rute
dapat dilihat pada Tabel 4. Pengambilan data volume lalu lintas akan diambil pada satu titik
teramai pada setiap ruas jalan dengan pengambilan sampel pada waktu sibuk pagi (07.00-09.00
WITA), jam sibuk siang (12.00-14.00 WITA) dan jam sibuk sore (16.00-18-00 WITA).

Gambar 4. Peta Rute

Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 147
Tabel 4. Panjang Ruas Jalan Pada Rut

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kondisi Geometrik Jalan
Penentuan lebar efektif ruas jalan pada pada rute dipengaruhi oleh kelas hambatan samping
akibat aktivitas pada sisi jalan yakni parking on street serta aktivitas bongkar muat angkitan
barang dan naik turun penumpang angkutan kota. Pengurangan lebar efektif untuk arus lalu
lintas didasarkan pada anggapan lebar rerata yang dibutuhkan 1 buah mobil untuk parkir di sisi
badan jalan yakni sebesar 2 m. Kondisi ini berlaku pada ruas Jl. Jend. Soharto sampai Jl. Jend.
Ahmad Yani, sedangkan pada Jl. H. R. Koroh lebar efektif berkurang 1 m dari lebar perkerasan
dikarenakan perilaku pengendara yang mengambil seluruh bahu jalan sebagai lahan parkir.
Kondisi geometrik ruas jalan pada rute dapat dilihat pada Tabel 5. Menurut BAPPEDA Kota
Kupang (2011) dalam dokumen Rancana Tata Ruang Kota Kupang Tahun 2011-2031, semua
ruas jalan pada rute memiliki fungsi jalan arteri sekunder.
Tabel 5. Kondisi Geometrik Rute

Lebar Lebar Lebar Jenis Kegiatan Pada Sisi Kelas Hambatan


Nama Ruas Tipe
Jalan Eff. Bahu Jalan Samping
Jl. H.R. Koroh 2/2 TT 7 6 1 Perumahan, Pertokoan M
Jl. Jend. Soeharto 2/2 TT 11 7 - Pertokoan, Parking on street VH
Jl. Jend. Sudirman 2/2 TT 11 7 - Pertokoan, Parking on street VH
Fasilitas Publik, Parking on
Jl. Moh. Hatta 2/2 TT 11 7 - H
street
Pendidikan, Parking on
Jl. Jend. A. Yani 2/2 TT 11 7 - H
street

Kapasitas Ruas Jalan


Dengan menggunakan langkah perhitungan kapasitas ruas jalan perkotaan menurut MKJI (1997),
maka hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Perhitungan Kapasitas Ruas Jalan

Faktor Penyesuaian Kapasitas (F)


Nama Ruas Co C
Fcw FCsp FCsf FCcs
Jl. H.R. Koroh 2900 0,87 1 0,92 0,9 2089
Jl. Jend. Soeharto 2900 1 1 0,73 0,9 1905
Jl. Jend. Sudirman 2900 1 1 0,73 0,9 1905
Jl. Moh. Hatta 2900 1 1 0,82 0,9 2140
Jl. Jend. A. Yani 2900 1 1 0,82 0,9 2140

Volume Lalu Lintas

Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 148
Data volume lalu lintas pada jam puncak pada masing – masing ruas jalan yang diperoleh
kemudian diubah menjadi volume jam puncak (smp/jam) dengan mengalikan masing – masing
kendaraan dengan EMP mobil penumpang dengan EMP sepeda motor = 0,25, EMP mobil
penumpang = 1 dan EMP kendaraan berat = 1,2.
Perhitungan Volume lalu lintas rerata harian (LHR) dengan menggunakan metode MKJI (1997)
yakni faktor k sebesar 0,09 untuk jalan perkotaan. Rekapitulasi volume lalu lintas pada ruas jalan
pada rute dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Volume Lalu Lintas Jam Puncak (VJP) dan Volume Lalu Lintas Harian Rerata
(LHR)

Nama Ruas VJP VJP Faktor k LHR LHR


Kend/Jam Smp/Jam LHR = Kend/hari Smp/hari
VJP/k
Jl. H.R. Koroh 3.336 1.095 0,09 37.067 12.163
Jl. Jend. Soeharto 3.819 1.836 0,09 42.433 20.395
Jl. Jend. Sudirman 3.272 1.649 0,09 36.356 18.322
Jl. Moh. Hatta 2.320 1.077 0,09 25.778 11.967
Jl. Jend. A. Yani 2.559 1.350 0,09 28.433 15.003

Evaluasi Kondisi Eksisiting


1. Persayaratan Teknis
Berdasarkan persayaratan teknis jalan menurut Permen PU No 19 Tahun 2011 kelima ruas
jalan pada rute belum memenuhi kriteria lebar minimal bahu jalan untuk kategori jalan
sedang.

Tabel 8. Tinjauan Persayaratan Teknis Jalan Rute Kondisi Eksisting

Permen PU No 19 Tahun 2011


LHR
Nama Ruas Tipe Jalan L Jalan L. Bahu
(smp/hari) Klasifikasi Jalan
Min. Min. Min.
Jl. H.R. Koroh 12.163 Jalan Sedang 2/2 TT 7m 1,5 m
Jl. Jend. Soeharto 20.395 Jalan Sedang 2/2 TT 7m 1,5 m
Jl. Jend. Sudirman 18.322 Jalan Sedang 2/2 TT 7m 1,5 m
Jl. Moh. Hatta 11.967 Jalan Sedang 2/2 TT 7m 1,5 m
Jl. Jend. A. Yani 15.003 Jalan Sedang 2/2 TT 7m 1,5 m

2. Kinerja Jalan
Berdasarkan hasil perhitungan kondisi eksisitng pada Tabel 7, kondisi kinerja ruas Jl. H.R.
Koroh, Jl. Moh. Hatta dan Jl. Jend Ahmad Yani masih sesuai target sasaran yakni derajat
kejenuhan (DS) ≤ 0,75 sedangkan ruas Jl. Jend. Soeharto dan Jl. Jend Sudirman belum
sesuai target sasaran DS > 0,75.

Tabel 9. Kinerja Ruas Jalan Pada Rute

Nama Ruas C VJP (smp/jam) DS


Jl. H.R. Koroh 2089 1095 0,52
Jl. Jend. Soeharto 1905 1836 0,96
Jl. Jend. Sudirman 1905 1649 0,87

Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 149
Jl. Moh. Hatta 2140 1077 0,50
Jl. Jend. A. Yani 2140 1350 0,63
.

Proyeksi Kinerja Ruas Jalan 5 Tahun Kedepan


Dalam memproyeksikan data kondisi lalu lintas ke 5 tahun yang akan datang maka akan
digunakan data berdasarkan jumlah kendaraan bermotor di Kota Kupang tahun 2015 – 2020
bersumber dari Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur, kemudian akan akan diambil rerata
pertumbuhan kendaraan yang akan menjadi pertumbuhan lalu lintas per tahun yang akan
digunakan sebegai acuan dalam memperhitungkan proyeksi kinerja lalu lintas. Data
pertumbuhan lalu lintas dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Proyeksi Pertumbuhan Lalu Lintas Kota Kupang Tahun 2022 - 2027

Tahun Jumlah Kendaraan % Pertumbuhan


2022 170.278 -
2023 177.396 4,01%
2024 191.569 7,40%
2025 205.669 6,86%
2026 220.240 6,62%
2027 253.808 13,23%
Rata - rata 7,62%

Berdasarkan hasil proyeksi diperoleh persentase pertumbuhan rerata yang akan digunakan
sebagai acuan dalam memprediksikan kondisi lalu lintas tahun 2023 – 2027. Hasil proyeksi LHR
dan kinerja ruas jalan dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Hasil Proyeksi Kondisi Lalu Lintas Ruas Jalan

Eksisting Proyeksi
Nama Ruas 2022 2023 2024 2025 2026 2027
LHR DS LHR DS LHR DS LHR DS LHR DS LHR DS
Jl. H.R.
12.163 0,52 13.090 0,56 14.087 0,61 15.161 0,65 16.317 0,70 17.560 0,76
Koroh
Jl. Jend.
20.395 0,96 21.949 1,04 23.622 1,12 25.423 1,20 27.360 1,29 29.446 1,39
Soeharto
Jl. Jend.
18.322 0,87 19.719 0,93 21.222 1,00 22.839 1,08 24.580 1,16 26.453 1,25
Sudirman
Jl. Moh.
11.967 0,50 12.879 0,54 13.860 0,58 14.917 0,63 16.054 0,68 17.277 0,73
Hatta
Jl. Jend. A.
15.003 0,63 16.146 0,68 17.377 0,73 18.701 0,79 20.127 0,85 21.661 0,91
Yani

Hasil kinerja ruas jalan tahun 2022 – 2027 menunjukkan perlu adanya perbaikan kinerja ruas
jalan yang memiliki nilai DS ≥ 0,75 untuk Jl. Soeharto dan Jl. Sudirman terjadi tahun 2022
kemudian diikuti oleh Jl. Jend. A. Yani tahun 2026 dan Jl. H.R. Koroh tahun 2027.

Rekomendasi Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan


1. Pengurangan Kelas Hambatan Samping

Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 150
Tujuan dari rekomendasi ini adalah untuk mengurangi banyaknya aktivitas samping kiri dan
kanan jalan seperti parking on street serta aktivitas bongkar muat barang, dan naik turunnya
penumpang angkutan menyebabkan tingginya hambatan samping sehingga kinerja ruas jalan
terganggu. Oleh karena itu direkomendasikan beberapa aspek penanganan yakni:
a. manajemen parkir,
b. pembatasan waktu parkir/ berbayar
c. pengeloaan waktu dan tempat bongkar muat barang
d. pengeloaan tempat naik dan turunnya penumpang angkutan kota
e. kebijakan ketat mengenai izin ruang parkir (khususnya parking on street) untuk badan
usaha

Jika rekomendasi diatas disimulasikan dalam perhitungan kinerja ruas jalan maka dalam
perhitungan kapasitas jalan kelas hambatan samping yang semula sangat tinggi / tinggi akan
dianggap meningkat ke kelas menengah / rendah, kemudian asumsi pengurangan lebar
efektif jalan selebar 2 m akan dijadikan sebagai lebar bahu jalan sesuai ketentuan teknis
jalan.
2. Pelebaran Perkerasan Jalan
Pada rekomendasi ke 2 akan diusulkan untuk melebarkan perkerasan jalan sesuai dengan
persyaratan minmal pada teknis jalan menurut Permen PU No. 19 Tahun 2011 untuk
kategori jalan sedang. Pada rekomendasi ini akan diusulkan untuk menambah konstruksi
bahu jalan sesuai ketentuan, sehingga lebar perkerasan yang sudah ada menjadi lebar efektif
lalu lintas
Tabel 12. Perubahan Penampang Melintang Ruas Jalan Pada Rekomendasi 2

Nama Ruas Tipe Jalan Lebar Jalan Lebar Efektif Lebar Bahu
Jl. H.R. Koroh 2/2 TT 7 7 1,5
Jl. Jend. Soeharto 2/2 TT 11 11 1,5
Jl. Jend. Sudirman 2/2 TT 11 11 1,5
Jl. Moh. Hatta 2/2 TT 11 11 1,5
Jl. Jend. A. Yani 2/2 TT 11 11 1,5

Berdasarkan kedua rekomendasi yang diusulkan terdapat perubahan kapasitas ruas jalan
hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Kapasitas Ruas Jalan Pada Kondisi Eksisting, Rekomendasi 1 dan Rekomendasi 2

Kondisi Rekomendasi 1 Rekomendasi 2


Nama Ruas Eksisting (R1) (R2)
C C % C %
Jl. H.R. Koroh 2.089 2.375 12% 2.480 16%
Jl. Jend. Soeharto 1.905 2.375 20% 3.323 43%
Jl. Jend. Sudirman 1.905 2.375 20% 3.323 43%
Jl. Moh. Hatta 2.140 2.375 10% 3.323 36%
Jl. Jend. A. Yani 2.140 2.375 10% 3.323 36%
Peningkatan kapasitas jalan untuk kedua rekomendasi yang diusulkan terhadap kondisi
eksisting cukup signifikan dengan persentase peningkatan anatar 10% - 43%.

Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 151
Menggunakan hasil perhitungan kapasitas yang ada maka hasil perhitungan kinerja ruas
jalan kondisi eksisting dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Perbandingan Kinerja Ruas Jalan

Kondisi Rekomendasi 1 Rekomendasi 2


Nama Ruas Eksisting (R1) (R2)
DS DS % DS %
Jl. H.R. Koroh 0,52 0,46 14% 0,44 19%
Jl. Jend. Soeharto 0,96 0,77 25% 0,55 74%
Jl. Jend. Sudirman 0,87 0,69 25% 0,50 74%
Jl. Moh. Hatta 0,50 0,45 11% 0,32 55%
Jl. Jend. A. Yani 0,63 0,57 11% 0,41 55%

Terjadi peningkatan kinerja ruas jalan sebesar 11% - 25% pada rekomendasi 1 dan 23% -
53% pada rekomendasi 2. Proyeksi kinerja ruas jalan untuk rekomendasi 1 dan
rekomendasi 2 dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Proyeksi Kinerja Ruas Jalan Kondisi Rekomendasi 1 dan 2

2022 2023 2024 2025 2026 2027


Nama Ruas
R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2 R1 R2
Jl. H.R. Koroh 0,46 0,44 0,50 0,48 0,53 0,51 0,57 0,55 0,62 0,59 0,67 0,64
Jl. Jend. Soeharto 0,77 0,55 0,83 0,59 0,90 0,64 0,96 0,69 1,04 0,74 1,12 0,80
Jl. Jend. Sudirman 0,69 0,50 0,75 0,53 0,80 0,57 0,87 0,62 0,93 0,67 1,00 0,72
Jl. Moh. Hatta 0,45 0,32 0,49 0,35 0,53 0,38 0,57 0,40 0,61 0,43 0,65 0,47
Jl. Jend. A. Yani 0,57 0,41 0,61 0,44 0,66 0,47 0,71 0,51 0,76 0,55 0,82 0,59

Rencana Pengeloaan Kinerja Ruas Jalan

Berdasarkan hasil analisis rekomendasi 1 dan 2, penerapaan rekomendasi 1 dapat dilakukan pada
awal tahun 2022 dan secara bertahap dapat dilakukan rekomendasi 2 mulai tahun 2024.
Kemudian untuk ruas Jl. Jend. Soeharto dengan hasil LHR dan kinerja ruas jalan pada tahun
2027 untuk rekomendasi 2 sudah tidak sesuai dengan persyaratan teknis jalan untuk jalan sedang
(LHR > 27.100) dan kinerja ruas jalan (DS > 0,75) maka perlu adanya penanganan lanjutan
untuk ruas jalan ini yakni dengan melakukan perubahan pada tipe jalan, lebar jalur lalu lintas dan
lebar bahu jalan sesuai klasifikasi jalan raya menurut Permen PU No. 19 Tahun 2011 (lihat Tabel
2). Hasil perubahan ini menunjukkan peningkatan kapasitas ruas jalan sebesar 44% dan
peningkatan derajat kejenuhan pada ruas jalan terkait sebesar 79% dengan nilai derajat
kejenuhan tahun 2027 sebesar 0,45.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada kondisi eksisting semua ruas jalan dalam rute tidak memenuhi persyaratan teknis jalan
untuk lebar bahu, dan pada aspek kinerja ruas jalan ruas Jl. Jend. Soeharto dan Jl. Jend.
Sudirman belum memenuhi sasaran derajat kejenuhan (DS) ≤ 0,75.
2. Hasil proyeksi kinerja ruas jalan menunjukkan perlu adanya perbaikan kinerja ruas jalan
dengan menerapkan rekomendasi pengelolaan yakni rekomendasi 1 pengurangan kelas
hambatan samping dan rekomendasi 2 pelebaran perkerasan jalan.

Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 152
3. Terjadi peningkatan kinerja ruas jalan sebesar 11% – 25% pada rekomendasi 1 dan sebesar
23% – 74% pada rekomendasi 2. Skenario penerapan rekomendasi 1 sebaiknya dilakukan
mulai tahun 2022 (eksisting) dan rekomendasi 2 mulai tahun 2024.
4. Perlu adanya penanganan lebih lanjut pada ruas Jl. Jend. Soeharto dan Jl. Jend. Sudirman
yang masih LHR > 27.100 serta memiliki kinarja ruas jalan > 0,75 pada tahun 2027.
Peningkatan tipe dan lebar badan jalan berdasarkan kategori jalan raya menurut Permen PU
No. 19 Tahun 2011 perlu diterapkan, dengan hasil menunjukkan peningkatan kapasitas jalan
sebesar 44% dan derajat kejenuhan sebesar 79%.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Kupang. (2011). Peraturan Daerah Nomer 11
Tahun 2011 tantang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Kupang Tahun 2011 – 2031.
Kupang: BAPPEDA.
Badan Pusat Statistik. (2017). Jumlah Kendaraan Bermotor Provinsi Nusa Tenggara Timur
Tahun 2015-2017. (Available at [Link]
[Link])
Badan Pusat Statistik. (2020). Jumlah Kendaraan Bermotor Provinsi Nusa Tenggara Timur
Tahun 2018-2020. (Available at [Link]
[Link])
C. Jotin Khisty & B. Kent Lall. (2003). Dasar-Dasar Rekayasa Transportasi Jilid 1 Edisi Ketiga.
Jakarta: Erlangga.
Da Costa, DGN. (2013). The Aplication Of Sustainability Concept In Transportation
Management In Urban Area. 1st International Conference on Infrastructure Development,
UMS Surakarta, 1 – 3 Nov 2013.
Direktorat Jenderal Bina Marga. (1997). Manual Kapasitas Jalan Indonesia. Jakarta: Bina Karya.
Menteri Pekerjaan Umum. (2011). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 19 Tahun 2011
tentang Persyaratan Teknis Jalan Dan Kriteria Perencanaan Teknis. Jakarta: Menteri
Pekerjaan Umum.
Oglesby, C.H. dan Hick, R.g. (1993). Teknik Jalan Raya. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Pedo, KSW. (2020). Kajian Standar Pelayanan Minimal Jalan Rute Yogyakarta Menuju
Yogyakarta International Airport. Yogyakarta: Jurnal Universitas Atama Jaya Yogyakarta.
Undang – Undang Republik Indonesia. (2004). Undang – Undang Tentang Jalan No. 38 Tahun
2004. Jakarta.

Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 153
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 154

Anda mungkin juga menyukai