Rekomendasi Kinerja Ruas Jl. Koroh-Yani
Rekomendasi Kinerja Ruas Jl. Koroh-Yani
ABSTRAK
Rute Jl. H.R. Koroh sampai Jl. Ahmad Yani memiliki aktivitas komersial dan lalu lintas yang
tinggi sehingga dapat menyebabkan turunnya kinerja ruas jalan. Oleh karena itu tujuan penelitian
ini adalah untuk merekomendasikan pengelooan ruas jalan berdasarkan hasil proyeksi kinerja
ruas jalan pada rute tersebut untuk 5 tahun kedepan. Penelitian menggunakan metode evaluasi
terhadap kinrja jalan menurut MKJI (1997) dengan persyaratan teknis jalan raya menurut
Permen PU No. 19 Tahun 2011. Hasil penelitian menunjukan pada kondisi eksisting semua ruas
jalan dalam rute tidak memenuhi persyaratan teknis jalan untuk lebar bahu minimal. Pada aspek
kinerja ruas jalan dari kelima ruas jalan, ruas Jl. Jend. Soeharto dan Jl. Jend. Sudirman belum
memenuhi sasaran derajat kejenuhan (DS) ≤ 0,75. Hasil proyeksi kinerja ruas jalan menunjukkan
perlu adanya perbaikan kinerja ruas jalan dengan menerapkan rekomendasi pengelolaan yakni
rekomendasi 1 pengurangan kelas hambatan samping dan rekomendasi 2 pelebaran perkerasan
jalan. Terjadi peningkatan kinerja ruas jalan sebesar 11% - 25% pada rekomendasi 1 dan sebesar
23% - 74% pada rekomendasi 2, dengan skenario penerapan rekomendasi 1 mulai tahun 2022
kemudian diikuti penerapan rekomendasi 2 mulai tahun 2024.
PENDAHULUAN
Rute Jl. H.R. Koroh sampai Jl. Ahmad Yani yang terletak pada Kota Kupang merupakan rute
poros penghubung antara pusat kegiatan yang ada di Kota Kupang. Rute ini meliputi Jl. H.R
Koroh dengan panjang ruas 5,153 km, Jl. Jend. Soeharto dengan panjang ruas 1,595 km, Jl. Jend.
Sudirman dengan panjang ruas 1,259 km, Jl. Moh. Hatta dengan panjang ruas 0,906 km, dan Jl.
1
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandira – Kupang, (penulis
korespondensi).
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 143
Jend. Ahmad Yani dengan panjang ruas 1,024 km. Pusat – pusat kegiatan seperti pendidikan,
perdagangan, pelayanan publik serta pemukiman tersebar pada ke 5 ruas jalan sepanjang rute ini.
Penataan tata guna lahan yang menunjukan penumpukan pusat – pusat kegiatan pada rute ini,
menimbulkan tingginya volume lalu lintas. Pemanfaatan tata guna lahan didominasi oleh
aktivitas perdagangan barang dan jasa, sehingga dapat menimbulkan tingginya hambatan
samping berupa parking on street, pemberhentian angkutan umum, aktivitas pedestrian (trotoar
dan penyeberangan) dan aktivitas bongkar muat barang. Situasi tersebut tentunya sangat
berpengaruh pada terganggunya volume arus lalu lintas sehingga kinerja ruas jalan juga akan
menurun.
Dengan adanya pertumbahan lalu lintas yang terjadi setiap tahunnya, maka dipredikasi akan
terjadi penurunan kondisi fungsional ruas jalan pada rute ini, oleh karena itu menjadi penting
untuk dikaji dan dianalisis melalui evaluasi kinerja jalan serta pemenuhan terhadap persyaratan
teknis jalan untuk proyeksi 5 tahun kedepan dengan tujuan menghasilkan usulan rekomendasi
terhadap pengeloaan kinerja ruas jalan jalan berdasarkan hasil proyeksi kondisi fungsional ruas
jalan yang telah diperhitungkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Sistem Jaringan Jalan
Sistem jaringan jalan dibedakan atas 2 jenis yakni, sistem jaringan jalan primer dan sistem
jaringan jalan sekunder. Menurut Undang – Undang No. 38 Tahun 2004 mendefinisikan:
1. Sistem jaringan jalan primer merupakan jaringan jalan yang memiliki peran dalam
pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan wilayah pada tingkat nasional
yang menghubungkan pusat – pusat kegiatan pada kawasan perkotaan yang memiliki
jangkauan pelayanan nasional wilayah dan lokal.
2. Sistem jaringan jalan sekunder merupakan jaringan jalan yang memiliki peran dalam
pelayanan distribusi barang dan jasa pada kawasan perkotaan yang memiliki kegiatan utama
bukan pertanian, dengan fungsi kawasan berupa pemukiman, pelayanan social serta kegiatan
ekonomi.
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 144
5. persimpangan sebidang dan fasilitas berputar balik;
6. bangunan pelengkap jalan;
7. perlengkapan jalan;
8. penggunaan jalan sesuai dengan fungsinya
9. ketidak terputusan jalan.
Berdasarakan lingkup persyaratan teknis maka dapat disimpulkan persayaratan teknis jalan
dalam Tabel 1 dan 2 dibawah ini.
Tabel 1. Persyaratan Teknis Jalan Pada Ruas Jalan Dalam Sistem Jaringan Jalan Primer
(sumber: Permen PU No. 19 Tahun 2011: diolah)
Tabel 2. Persyaratan Teknis Jalan Pada Ruas Jalan Dalam Sistem Jaringan Jalan Sekunder
(sumber: Permen PU No. 19 Tahun 2011: diolah)
Spesifikasi Penyediaan Prasarana Jalan
Jalan Bebas Hambatan Jalan Raya Jalan Kecil
Jalan Sedang
LHR (smp/hari) ≤ 140.000 ≤ 100.000 ≤ 70.000 ≤ 145.900 ≤ 109.400 ≤ 72.900 ≤ 27.100 ≤ 19.500
Arteri (Kelas I, II, III, Khusus)
Arteri (Kelas I, II, III, Khusus) Lokal, Lingkungan
Fungsi Jalan Kolektor (Kelas I, II, III)
Kolektor (Kelas I, II, III)
(Kelas III)
Lokal (Kelas II, III)
IRI Terbesar 4 6 8 10
Kerataan
RCI Terckecil Baik Baik - Sedang Sedang Sedang
Kecepatan Rencana (Km/Jam) 80-120 40-100 40-80 30-60
Lebar Jalur Lalu VR < 80 Km/jam 2x(4x3,5) 2x(3x3,5) 2x(2x3,5) 2x(4x3,5) 2x(3x3,5) 2x(2x3,5) 7 5,5
Lintas (m) VR > 80 Km/jam 2x(4x3,6) 2x(3x3,6) 2x(2x3,6) 2x(4x3,6) 2x(3x3,6) 2x(2x3,6) - -
Lebar Bahu Minimal (m) Bahu luar 2,5 dan bahu dalam 1,0 Bahu luar 2,0 dan bahu dalam 0,5 1,5 1,0
Derajat Kejenuhan
Menurut MKJI (1997) derjaat kejenuhan dapat didefiniskan sebagai rasio antara volume terhadap
kapasitas yang menentukan suatu ukuran kinerja ruas jalan. Derajat kejenuhan ruas jalan dapat
ditentukan dengan persamaan:
DS = Qsmp / C (2)
dengan
DS adalah derajat kejenuhan
Qsmp adalah arus total (smp/jam)
C adalah kapasitas simpang/ ruas jalan (smp/jam)
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 146
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode evaluasi kinerja ruas jalan menurut Manual Kapasitas Jalan
Indonesia (MKJI) Tahun 1997 serta membandingkan rute ruas jalan terhadap persyaratan teknis
jalan menurut Permen PU No. 19 Tahun 2011. Penelitian akan membandingkan hasil analisis
terhadap kondisi eksisting dengan proyeksi 5 tahun kedapan terhadap persyaratan teknis jalan
serta kinerja ruas jalan. Data yang digunakan adalah berupa data primer yakni volume lalu lintas
dan kondisi geometrik jalan sedangkan data sekunder berupa informasi peta rute dan data
pertumbuhan kendaraan bermotor Kota Kupang.
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 147
Tabel 4. Panjang Ruas Jalan Pada Rut
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 148
Data volume lalu lintas pada jam puncak pada masing – masing ruas jalan yang diperoleh
kemudian diubah menjadi volume jam puncak (smp/jam) dengan mengalikan masing – masing
kendaraan dengan EMP mobil penumpang dengan EMP sepeda motor = 0,25, EMP mobil
penumpang = 1 dan EMP kendaraan berat = 1,2.
Perhitungan Volume lalu lintas rerata harian (LHR) dengan menggunakan metode MKJI (1997)
yakni faktor k sebesar 0,09 untuk jalan perkotaan. Rekapitulasi volume lalu lintas pada ruas jalan
pada rute dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Volume Lalu Lintas Jam Puncak (VJP) dan Volume Lalu Lintas Harian Rerata
(LHR)
2. Kinerja Jalan
Berdasarkan hasil perhitungan kondisi eksisitng pada Tabel 7, kondisi kinerja ruas Jl. H.R.
Koroh, Jl. Moh. Hatta dan Jl. Jend Ahmad Yani masih sesuai target sasaran yakni derajat
kejenuhan (DS) ≤ 0,75 sedangkan ruas Jl. Jend. Soeharto dan Jl. Jend Sudirman belum
sesuai target sasaran DS > 0,75.
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 149
Jl. Moh. Hatta 2140 1077 0,50
Jl. Jend. A. Yani 2140 1350 0,63
.
Berdasarkan hasil proyeksi diperoleh persentase pertumbuhan rerata yang akan digunakan
sebagai acuan dalam memprediksikan kondisi lalu lintas tahun 2023 – 2027. Hasil proyeksi LHR
dan kinerja ruas jalan dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Hasil Proyeksi Kondisi Lalu Lintas Ruas Jalan
Eksisting Proyeksi
Nama Ruas 2022 2023 2024 2025 2026 2027
LHR DS LHR DS LHR DS LHR DS LHR DS LHR DS
Jl. H.R.
12.163 0,52 13.090 0,56 14.087 0,61 15.161 0,65 16.317 0,70 17.560 0,76
Koroh
Jl. Jend.
20.395 0,96 21.949 1,04 23.622 1,12 25.423 1,20 27.360 1,29 29.446 1,39
Soeharto
Jl. Jend.
18.322 0,87 19.719 0,93 21.222 1,00 22.839 1,08 24.580 1,16 26.453 1,25
Sudirman
Jl. Moh.
11.967 0,50 12.879 0,54 13.860 0,58 14.917 0,63 16.054 0,68 17.277 0,73
Hatta
Jl. Jend. A.
15.003 0,63 16.146 0,68 17.377 0,73 18.701 0,79 20.127 0,85 21.661 0,91
Yani
Hasil kinerja ruas jalan tahun 2022 – 2027 menunjukkan perlu adanya perbaikan kinerja ruas
jalan yang memiliki nilai DS ≥ 0,75 untuk Jl. Soeharto dan Jl. Sudirman terjadi tahun 2022
kemudian diikuti oleh Jl. Jend. A. Yani tahun 2026 dan Jl. H.R. Koroh tahun 2027.
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 150
Tujuan dari rekomendasi ini adalah untuk mengurangi banyaknya aktivitas samping kiri dan
kanan jalan seperti parking on street serta aktivitas bongkar muat barang, dan naik turunnya
penumpang angkutan menyebabkan tingginya hambatan samping sehingga kinerja ruas jalan
terganggu. Oleh karena itu direkomendasikan beberapa aspek penanganan yakni:
a. manajemen parkir,
b. pembatasan waktu parkir/ berbayar
c. pengeloaan waktu dan tempat bongkar muat barang
d. pengeloaan tempat naik dan turunnya penumpang angkutan kota
e. kebijakan ketat mengenai izin ruang parkir (khususnya parking on street) untuk badan
usaha
Jika rekomendasi diatas disimulasikan dalam perhitungan kinerja ruas jalan maka dalam
perhitungan kapasitas jalan kelas hambatan samping yang semula sangat tinggi / tinggi akan
dianggap meningkat ke kelas menengah / rendah, kemudian asumsi pengurangan lebar
efektif jalan selebar 2 m akan dijadikan sebagai lebar bahu jalan sesuai ketentuan teknis
jalan.
2. Pelebaran Perkerasan Jalan
Pada rekomendasi ke 2 akan diusulkan untuk melebarkan perkerasan jalan sesuai dengan
persyaratan minmal pada teknis jalan menurut Permen PU No. 19 Tahun 2011 untuk
kategori jalan sedang. Pada rekomendasi ini akan diusulkan untuk menambah konstruksi
bahu jalan sesuai ketentuan, sehingga lebar perkerasan yang sudah ada menjadi lebar efektif
lalu lintas
Tabel 12. Perubahan Penampang Melintang Ruas Jalan Pada Rekomendasi 2
Nama Ruas Tipe Jalan Lebar Jalan Lebar Efektif Lebar Bahu
Jl. H.R. Koroh 2/2 TT 7 7 1,5
Jl. Jend. Soeharto 2/2 TT 11 11 1,5
Jl. Jend. Sudirman 2/2 TT 11 11 1,5
Jl. Moh. Hatta 2/2 TT 11 11 1,5
Jl. Jend. A. Yani 2/2 TT 11 11 1,5
Berdasarkan kedua rekomendasi yang diusulkan terdapat perubahan kapasitas ruas jalan
hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Kapasitas Ruas Jalan Pada Kondisi Eksisting, Rekomendasi 1 dan Rekomendasi 2
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 151
Menggunakan hasil perhitungan kapasitas yang ada maka hasil perhitungan kinerja ruas
jalan kondisi eksisting dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Perbandingan Kinerja Ruas Jalan
Terjadi peningkatan kinerja ruas jalan sebesar 11% - 25% pada rekomendasi 1 dan 23% -
53% pada rekomendasi 2. Proyeksi kinerja ruas jalan untuk rekomendasi 1 dan
rekomendasi 2 dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Proyeksi Kinerja Ruas Jalan Kondisi Rekomendasi 1 dan 2
Berdasarkan hasil analisis rekomendasi 1 dan 2, penerapaan rekomendasi 1 dapat dilakukan pada
awal tahun 2022 dan secara bertahap dapat dilakukan rekomendasi 2 mulai tahun 2024.
Kemudian untuk ruas Jl. Jend. Soeharto dengan hasil LHR dan kinerja ruas jalan pada tahun
2027 untuk rekomendasi 2 sudah tidak sesuai dengan persyaratan teknis jalan untuk jalan sedang
(LHR > 27.100) dan kinerja ruas jalan (DS > 0,75) maka perlu adanya penanganan lanjutan
untuk ruas jalan ini yakni dengan melakukan perubahan pada tipe jalan, lebar jalur lalu lintas dan
lebar bahu jalan sesuai klasifikasi jalan raya menurut Permen PU No. 19 Tahun 2011 (lihat Tabel
2). Hasil perubahan ini menunjukkan peningkatan kapasitas ruas jalan sebesar 44% dan
peningkatan derajat kejenuhan pada ruas jalan terkait sebesar 79% dengan nilai derajat
kejenuhan tahun 2027 sebesar 0,45.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada kondisi eksisting semua ruas jalan dalam rute tidak memenuhi persyaratan teknis jalan
untuk lebar bahu, dan pada aspek kinerja ruas jalan ruas Jl. Jend. Soeharto dan Jl. Jend.
Sudirman belum memenuhi sasaran derajat kejenuhan (DS) ≤ 0,75.
2. Hasil proyeksi kinerja ruas jalan menunjukkan perlu adanya perbaikan kinerja ruas jalan
dengan menerapkan rekomendasi pengelolaan yakni rekomendasi 1 pengurangan kelas
hambatan samping dan rekomendasi 2 pelebaran perkerasan jalan.
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 152
3. Terjadi peningkatan kinerja ruas jalan sebesar 11% – 25% pada rekomendasi 1 dan sebesar
23% – 74% pada rekomendasi 2. Skenario penerapan rekomendasi 1 sebaiknya dilakukan
mulai tahun 2022 (eksisting) dan rekomendasi 2 mulai tahun 2024.
4. Perlu adanya penanganan lebih lanjut pada ruas Jl. Jend. Soeharto dan Jl. Jend. Sudirman
yang masih LHR > 27.100 serta memiliki kinarja ruas jalan > 0,75 pada tahun 2027.
Peningkatan tipe dan lebar badan jalan berdasarkan kategori jalan raya menurut Permen PU
No. 19 Tahun 2011 perlu diterapkan, dengan hasil menunjukkan peningkatan kapasitas jalan
sebesar 44% dan derajat kejenuhan sebesar 79%.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Kupang. (2011). Peraturan Daerah Nomer 11
Tahun 2011 tantang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Kupang Tahun 2011 – 2031.
Kupang: BAPPEDA.
Badan Pusat Statistik. (2017). Jumlah Kendaraan Bermotor Provinsi Nusa Tenggara Timur
Tahun 2015-2017. (Available at [Link]
[Link])
Badan Pusat Statistik. (2020). Jumlah Kendaraan Bermotor Provinsi Nusa Tenggara Timur
Tahun 2018-2020. (Available at [Link]
[Link])
C. Jotin Khisty & B. Kent Lall. (2003). Dasar-Dasar Rekayasa Transportasi Jilid 1 Edisi Ketiga.
Jakarta: Erlangga.
Da Costa, DGN. (2013). The Aplication Of Sustainability Concept In Transportation
Management In Urban Area. 1st International Conference on Infrastructure Development,
UMS Surakarta, 1 – 3 Nov 2013.
Direktorat Jenderal Bina Marga. (1997). Manual Kapasitas Jalan Indonesia. Jakarta: Bina Karya.
Menteri Pekerjaan Umum. (2011). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 19 Tahun 2011
tentang Persyaratan Teknis Jalan Dan Kriteria Perencanaan Teknis. Jakarta: Menteri
Pekerjaan Umum.
Oglesby, C.H. dan Hick, R.g. (1993). Teknik Jalan Raya. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Pedo, KSW. (2020). Kajian Standar Pelayanan Minimal Jalan Rute Yogyakarta Menuju
Yogyakarta International Airport. Yogyakarta: Jurnal Universitas Atama Jaya Yogyakarta.
Undang – Undang Republik Indonesia. (2004). Undang – Undang Tentang Jalan No. 38 Tahun
2004. Jakarta.
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 153
Pedo, KSW., “Pengelolaan Kinerja Ruas Jalan Jl. H.R. Koroh – Jl. Ahmad Yani berdasarkan Proyeksi Kondisi Fungsional 154