CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI KARYA A.
A NAVIS
DALAM PERSPEKTIF SEMIOTIK
Aliyah Wulandari (19020144027)
Ikana Sunita Diah A.T (19020144036)
Deidra Artamevia Refa Hananta Fortuna (19020144037)
Ahmad Nur Maulidi (19020144043)
Universitas Negeri Surabaya/Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Abstrak
PENDAHULUAN
Karya sastra memiliki berbagai jenis, salah satunya ialah cerita pendek. Analisis ini
menggunakan cerpen Robohnya Surau Kami karya A,A Navis sebagai objek penelitian,
dalam cerpen ini terdapat banyak tanda yang harus ditemukan makna yang ingin disampaikan
penulis.
Simbol mempunyai peranan penting dalam penelitian kebudayaan pada umumnya,
sebab kebudayaan terdiri atas kode – kode simbolis atau system – system dan bermacam –
macam pesan yang dikomunikasikan dengan alat bantu. Dalam teori Saussure, tanda
mempunyai tiga konsep yaitu; Tanda itu sendiri (sign), Aspek material (signifier) dan aspek
konseptual yang ditunjuk oleh aspek material (signified). (Nurgiyantoro, 2013:70)
Saussure terdapat tiga konsep yaitu:
1. Penanda (signifier) Aspek material dapat berupa suara, huruf tulisan, bentuk, gambar,
gerak dan lain – lain yang berfungsi menandakan. (Nurgiyantoro,2013:70)
2. Petanda (signified) Aspek konseptual merupakan suatu yang terjadi di mental kita
ketika mendengar atau melihat aspek material tanda.
3. Tanda (sign) merupakan kesatuan dari penanda (signifier) dan penanda (signified)
Penanda dan petanda ini mempunyai hubungan saling terkaitan yang membentuk sebuah
tanda.
Saussure (1993: 205) menggambarkan proses lahirnya tanda itu seperti terciptanya
gelombang adalah tanda. Gelombang tercipta atau terbentuk secara serentak ketika terjadi
persentuhan antara air laut dengan air yang meniupnya. Sebelum terjadi persentuhan, air tidak
punya bentuk yang menggelombang, dan angin juga tidak tampak kekuatannya untuk
menggerakan air (widada 2009:20)
PEMBAHASAN
Robohnya Surau Kami
Tanda : Memiliki artian bahwasannya dalam cerpen ini mengandung hal – hal yang
berbau robohnya keyakinan terhapad agama.
Garin
Tanda : memiliki makna seseorang yang menjaga surau. Yang hidup berlandaskan
kesederhanaan dan mengerjakan suatu pekerjaan tanpa mengharap imbalan.
Sudah bertahun – tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu (AA. Navis, 2010 : 140)
Tanda : semenjak Kakek mendengar bualan Ajo Sidi, ia merasa tertekan karena Tokoh
cerita dalam bualan Ajo Sidi sama seperti dirinya.
Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya.
Pandangannya sayu ke depan, seolah – olah ada sesuatu yang mengamuk pikirannya.
(AA. Navis, 2010 : 141)
Haji Saleh
Tanda : Menggambarkan orang-orang yang kurang ikhlas dalam melaksanakan ibadah