Asuhan Keperawatan Anak dengan SLE
Asuhan Keperawatan Anak dengan SLE
DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 5
PROGRAM S1 KEPERAWATAN
STIKES KARYA KESEHTAN
KENDARI
2022
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa Atas
Berkat Dan Rahmat-Nya Sehingga Kami Dapat Menyelesaikan Tugas tentang
Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan SLE. Tugas ini dibuat untuk menambah
khasanah ilmu pengetahuan khususnya pemberian Asuhan Keperawatan kepada
Anak.
Kami menyadari bahwa tugas ini jauh dari sempurna. Kami mengharapkan
kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
BAB I.................................................................................................................................5
KONSEP TEORI...............................................................................................................5
A. Definisi...................................................................................................................5
B. Etiologi...................................................................................................................5
C. patofisiologi...........................................................................................................6
D. Klasifikasi..............................................................................................................7
1. Cutaneous Lupus................................................................................................7
2. Discoid Lupus....................................................................................................7
3. Drug-induced lupus............................................................................................8
E. Manifestasi klinis...................................................................................................8
F. Pemeriksaan Fisik..................................................................................................9
G. Pemeriksaan Diagnostik.........................................................................................9
1. Pemeriksaan lab..................................................................................................9
2. Radiology...........................................................................................................9
H. Tindakan Penanganan...........................................................................................10
I. Penatalaksanaan Keperawatan..............................................................................11
BAB 11............................................................................................................................13
A. Pengkajian............................................................................................................13
1. Data subyektif..................................................................................................13
2. Data Obyektif...................................................................................................13
B. Diagnosa Keperawatan.........................................................................................13
1. Nyeri akut.........................................................................................................13
2. Risiko infeksi...................................................................................................13
3. Resiko injuri.....................................................................................................13
C. Intervensi Keperawatan........................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................23
BAB I
KONSEP TEORI
A. Definisi
Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah radang kronis yang disebabkan
oleh penyakit autoimun (kekebalan tubuh) di mana sistem pertahanan tubuh yang
tidak normal melawan jaringan tubuh sendiri. Antara jaringan tubuh dan organ
yang dapat terkena seperti kulit, jantung, paru-paru, ginjal, sendi, dan sistem saraf.
Lupus eritematosus sistemik (SLE) merupakan suatu penyakit atuoimun yang
kronik dan menyerang berbagai system dalam tubuh. Systemic lupus
erythematosus (SLE) adalah penyakit radang yang menyerang banyak sistem
dalam tubuh, dengan perjalanan penyakit bisa akut atau kronis, dan disertai
adanya antibodi yang menyerang tubuhnya sendiri Systemic lupus erythematosus
(SLE) adalah suatu penyakit autoimun multisystem dengan manifestasi dan sifat
yang sangat berubah – ubah, penuakit ini terutama menyerang kulitr, ginjal,
membrane serosa, sendi, dan jantung.
B. Etiologi
Penyakit lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE) prevalensinya
dalam populasi tertentu kira – kira satu kasus per 2500 orang, penyakit ini
cenderung terjadi pada perempuan (kira – kira 9:1), yang menyerang satu diantara
700 perempuan usia subur. systemic lupus erythematosus (SLE) lebih sering
ditemukan pada ras tertentu seperti ras kulit hitam, Cina, dan Filipina. Penyakit ini
terutama diderita oleh wanita muda dengan puncak kejadian pada usia 15-40
tahun (selama masa reproduktif) dengan perbandingan wanita dan laki-laki 5:1)
Di Indonesia, data unutk kasus SLE masih belum ada yang mencakup semua
wilayah Indonesia. Data tahun 2002, berdasarkan data pasien yang datang ke
poliklinik Reumatologi Penyakit Dalam di RSUP Cipto Mangunkosumo Jakarta,
terdapat 1,4% kasusu dari total seluruh kunjungan pasien. Sedangkan unutuk RS
Hasan Sadikin Bandung, terdapat 10,5% (291pasien) dari total pasien yang
berkunjung ke poliklinik reumatologi pada tahun 2010.
C. patofisiologi
Factor genetic
Factor Humoral
Factor lingkungan
Kontak dengan sinar matahari
Infeksi virus/bakteri
Obat golongan sulva
Penghentian lehamilan
Trauma psikis
Lupus ditandai oleh peradangan kronis atau berulang mempengaruhi satu atau
lebih jaringan dalam hubungan dengan beberapa autoantibodi. Beberapa, seperti
anti - sel merah dan antibodi antiplatelet, jelas patogen, sedangkan yang lain
mungkin hanya penanda kerusakan toleransi. Etiologi tetap misteri, tetapi seperti
dalam banyak penyakit kronis, tampaknya mungkin bahwa penyakit ini dipicu
oleh agen lingkungan dalam kecenderungan tiap individu.
D. Klasifikasi
Ada tiga jenis type lupus :
1. Cutaneous Lupus
Tipe ini juga dikenal sebagai Discoid Lupus Tipe lupus ini hanya
terbatas pada kulit dan ditampilkan dalam bentuk ruam yang muncul pada
muka, leher, atau kulit kepala. Ruam ini dapat menjadi lebih jelas terlihat
pada daerah kulit yang terkena sinar ultraviolet (seperti sinar matahari,
sinar fluorescent). Meski terdapat beberapa macam tipe ruam pada lupus,
tetapi yang umum terdapat adalah ruam yang timbul, bersisik dan merah,
tetapi tidak gatal.
2. Discoid Lupus
Tipe lupus ini dapatmenyebabkan inflamasi pada beberapa macam
organ. Untuk beberapa orang mungkin saja hal ini hanya terbatas pada
gangguan kulit dan sendi. Tetapi pada orang yang lain, sendi, paru-paru,
ginjal, darah ataupun organ dan/atau jaringan lain yang mungkin terkena.
SLE pada sebagian orang dapat memasuki masa dimana gejalanya tidak
muncul (remisi) dan pada saat yang lain penyakit ini dapat menjadi aktif
(flare).
3. Drug-induced lupus
Tipe lupus ini sangat jarang menyerang ginjal atau sistem syaraf.
Obat yang umumnya dapat menyebabkan druginduced lupus adalah jenis
hidralazin (untuk penanganan tekanan darah tinggi) dan pro-kainamid
(untuk penanganan detak jantung yang tidak teratur/tidak normal). Tidak
semua orang yang memakan obat ini akan terkena drug-induced lupus.
Hanya 4 persen dari orang yang mengkonsumsi obat itu yang bakal
membentuk antibodi penyebab lupus. Dari 4 persen itu, sedikit sekali yang
kemudian menderita lupus. Bila pengobatan dihentikan, maka gejala lupus
ini biasanya akan hilang dengan sendirinya Dari ketiganya, Discoid Lupus
paling sering menyerang. Namun, Systemic Lupus selalu lebih berat
dibandingkan dengan Discoid Lupus, dan dapat menyerang organ atau
sistem tubuh. Pada beberapa orang, cuma kulit dan persendian yang
diserang. Meski begitu, pada orang lain bisa merusak persendian, paru-
paru, ginjal, darah, organ atau jaringan lain. Terdapat perbedaan antara
klasifikasi dan diagnosis SLE. Hal ini penting karena kadang-kadang
pengobatan akan tidak tepat akan tertunda menunggu kriteria klasifikasi
yang harus dipenuhi.
E. Manifestasi klinis
Gejala klinis yang mungkin muncul pada pasein SLE yaitu:
F. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : inspeksi kulit dilakukan untuk menemukan ruam
eritematous. Plak eritematous pada kulit dengan skuama yang
melekat dapat terlihat pada kulit kepala, muka atau leher. Inspeksi
kulit kepala dilakukan untuk menemukan gejala alopesia, dan
inspeksi mulut serta tenggorok untuk ulserasi yang mencerminkan
gangguan gastrointestinal. Selain itu juga untuk melihat
pembengkakan sendi.
Auskultasi : dilakukan pada kardiovaskuler untuk mendengar
friction rub perikardium yang dapat menyertai miokarditis dan
efusi pleura. Efusi pleura serta infiltrasi mencerminkan insufisiensi
respiratorius dan diperlihatkan oleh suara paru yang abnormal.
Palpasi : dilakukan palpasi untuk mengetahui adanya nyeri tekan,
dan sendi yang terasa hangat.
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan lab :
a) Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah bisa menunjukkan
adanya antibodi antinuklear, yang terdapat pada hampir
semua penderita lupus. Tetapi antibodi ini juga bisa
ditemukan pada penyakit lain. Karena itu jika menemukan
antibodi antinuklear, harus dilakukan juga pemeriksaan
untuk antibodi terhadap DNA rantai ganda. Kadar yang
tinggi dari kedua antibodi ini hampir spesifik untuk lupus,
tapi tidak semua penderita lupus memiliki antibodi ini.
Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar komplemen
(protein yang berperan dalam sistem kekebalan) dan untuk
menemukan antibodi lainnya, mungkin perlu dilakukan
untuk memperkirakan aktivitas dan lamanya penyakit.
b) Analisa air kemih menunjukkan adanya darah atau
protein.
2. Radiology :
H. Tindakan Penanganan
Pilar pengobatan yang untuk penderita SLE sebaiknya dilakukan secara
berkesinambungan. Pilar pengobatan yang bisa dilakukan:
I. Penatalaksanaan Keperawatan
Manajemen Keperawatan
Hal ini penting untuk memberitahu orang tua bahwa steroid harus perlahan
meruncing ketika saatnya untuk menghentikan obat. Jenis obat yang paling ampuh
yang digunakan untuk mengobati SLE parah termasuk agen imunosupresif. obat-
obat ini digunakan ketika penyakitnya sudah mencapai keadaan yang serius di
mana tanda-tanda parah dan gejala yang hadir. Agen Imunosupresif juga dapat
ditentukan jika ada kebutuhan untuk menghindari kortikosteroid. Keputusan untuk
menggunakan immunosuppressives membutuhkan pertimbangan serius karena
efek samping signifikan, terutama yang berkaitan dengan imunosupresi umum.
Contoh agen imunosupresif digunakan dalam pengobatan SLE termasuk
azathioprine (Imuran), siklofosfamid (Cytoxan), dan methotrexate (Rheumatrex).
BAB 11
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Data subyektif :
a) Pasien mengeluh terdapat ruam-ruam merah pada wajah
yang menyerupai bentuk kupu-kupu.
b) Pasien mengeluh rambut rontok.
c) Pasien mengeluh lemas
d) Pasien mengeluh bengkak dan nyeri pada sendi.
e) Pasien mengeluh sendi merasa kaku pada pagi hari.
f) Pasien mengeluh nyeri Data
2. Data Obyektif :
a) Terdapat ruam – ruam merah pada wajah yang menyerupai
bentuk kupu-kupu.
b) Nyeri tekan pada sendi.
c) Rambut pasien terlihat rontok.
d) Terdapat luka pada langit-langit mulut pasien.
e) Pembengkakan pada sendi.
f) Pemeriksaan darah menunjukkan adanya antibodi
antinuclear.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut
2. Risiko infeksi
3. Resiko injuri
4. Gangguan citra tubuh
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
C. Intervensi Keperawatan
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, ML., Swansosn, E. (2008). Nursing Outcomes
Classification (NOC) Fourth edition. St. Louis: Mosby Elseiver.
Judha, M., & Setiawan, D. I. (2015). Apa dan Bagaimana Penyakit Lupus?
(Sistemik Lupus Eritematosus). Yogyakarta: Gosyen Publising.