0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
305 tayangan23 halaman

Asuhan Keperawatan Anak dengan SLE

Dokumen tersebut membahas konsep asuhan keperawatan pada kasus Systemik Lupus Eritematosus (SLE) pada anak. Dokumen tersebut menjelaskan definisi, etiologi, patofisiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, dan penatalaksanaan SLE serta konsep dasar asuhan keperawatan untuk SLE yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, dan intervensi keperawatan.

Diunggah oleh

Nurul Nurul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
305 tayangan23 halaman

Asuhan Keperawatan Anak dengan SLE

Dokumen tersebut membahas konsep asuhan keperawatan pada kasus Systemik Lupus Eritematosus (SLE) pada anak. Dokumen tersebut menjelaskan definisi, etiologi, patofisiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, dan penatalaksanaan SLE serta konsep dasar asuhan keperawatan untuk SLE yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, dan intervensi keperawatan.

Diunggah oleh

Nurul Nurul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KASUS

SISTEMIK LUPUS ERYTHEMSTOSUS (SLE)

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 5

NANDA NURUL MUHAIRA (S.0020.P.012)


SRI MULYANINGSIH (S.0020.P.019)
RANDI (S.0019.P.021)

PROGRAM S1 KEPERAWATAN
STIKES KARYA KESEHTAN
KENDARI
2022
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa Atas
Berkat Dan Rahmat-Nya Sehingga Kami Dapat Menyelesaikan Tugas tentang
Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan SLE. Tugas ini dibuat untuk menambah
khasanah ilmu pengetahuan khususnya pemberian Asuhan Keperawatan kepada
Anak.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua


pihak yang telah membantu sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. Tugas
ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pemberian Asuhan Keperawatan pada
Anak serta dappat digunakan sebagai acuan dalam memberikan perawatan.

Kami menyadari bahwa tugas ini jauh dari sempurna. Kami mengharapkan
kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
BAB I.................................................................................................................................5

KONSEP TEORI...............................................................................................................5

A. Definisi...................................................................................................................5

B. Etiologi...................................................................................................................5

C. patofisiologi...........................................................................................................6

D. Klasifikasi..............................................................................................................7

1. Cutaneous Lupus................................................................................................7

2. Discoid Lupus....................................................................................................7

3. Drug-induced lupus............................................................................................8

E. Manifestasi klinis...................................................................................................8

F. Pemeriksaan Fisik..................................................................................................9

G. Pemeriksaan Diagnostik.........................................................................................9

1. Pemeriksaan lab..................................................................................................9

2. Radiology...........................................................................................................9

H. Tindakan Penanganan...........................................................................................10

I. Penatalaksanaan Keperawatan..............................................................................11

BAB 11............................................................................................................................13

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN...........................................................13

A. Pengkajian............................................................................................................13

1. Data subyektif..................................................................................................13

2. Data Obyektif...................................................................................................13

B. Diagnosa Keperawatan.........................................................................................13

1. Nyeri akut.........................................................................................................13

2. Risiko infeksi...................................................................................................13

3. Resiko injuri.....................................................................................................13

4. gangguan citra tubuh……………………….……………………………13


5. ketidakseimbanngan nutrisi kekurang dari kebutuhan tubuh……...……13

C. Intervensi Keperawatan........................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................23
BAB I
KONSEP TEORI
A. Definisi
Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah radang kronis yang disebabkan
oleh penyakit autoimun (kekebalan tubuh) di mana sistem pertahanan tubuh yang
tidak normal melawan jaringan tubuh sendiri. Antara jaringan tubuh dan organ
yang dapat terkena seperti kulit, jantung, paru-paru, ginjal, sendi, dan sistem saraf.
Lupus eritematosus sistemik (SLE) merupakan suatu penyakit atuoimun yang
kronik dan menyerang berbagai system dalam tubuh. Systemic lupus
erythematosus (SLE) adalah penyakit radang yang menyerang banyak sistem
dalam tubuh, dengan perjalanan penyakit bisa akut atau kronis, dan disertai
adanya antibodi yang menyerang tubuhnya sendiri Systemic lupus erythematosus
(SLE) adalah suatu penyakit autoimun multisystem dengan manifestasi dan sifat
yang sangat berubah – ubah, penuakit ini terutama menyerang kulitr, ginjal,
membrane serosa, sendi, dan jantung.

B. Etiologi
Penyakit lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE) prevalensinya
dalam populasi tertentu kira – kira satu kasus per 2500 orang, penyakit ini
cenderung terjadi pada perempuan (kira – kira 9:1), yang menyerang satu diantara
700 perempuan usia subur. systemic lupus erythematosus (SLE) lebih sering
ditemukan pada ras tertentu seperti ras kulit hitam, Cina, dan Filipina. Penyakit ini
terutama diderita oleh wanita muda dengan puncak kejadian pada usia 15-40
tahun (selama masa reproduktif) dengan perbandingan wanita dan laki-laki 5:1)
Di Indonesia, data unutk kasus SLE masih belum ada yang mencakup semua
wilayah Indonesia. Data tahun 2002, berdasarkan data pasien yang datang ke
poliklinik Reumatologi Penyakit Dalam di RSUP Cipto Mangunkosumo Jakarta,
terdapat 1,4% kasusu dari total seluruh kunjungan pasien. Sedangkan unutuk RS
Hasan Sadikin Bandung, terdapat 10,5% (291pasien) dari total pasien yang
berkunjung ke poliklinik reumatologi pada tahun 2010.
C. patofisiologi
 Factor genetic
 Factor Humoral
 Factor lingkungan
 Kontak dengan sinar matahari
 Infeksi virus/bakteri
 Obat golongan sulva
 Penghentian lehamilan
 Trauma psikis

Lupus ditandai oleh peradangan kronis atau berulang mempengaruhi satu atau
lebih jaringan dalam hubungan dengan beberapa autoantibodi. Beberapa, seperti
anti - sel merah dan antibodi antiplatelet, jelas patogen, sedangkan yang lain
mungkin hanya penanda kerusakan toleransi. Etiologi tetap misteri, tetapi seperti
dalam banyak penyakit kronis, tampaknya mungkin bahwa penyakit ini dipicu
oleh agen lingkungan dalam kecenderungan tiap individu.

Faktor Endogen Banyak autoantibodi (terutama ANAs) diarahkan terhadap


antigen intraseluler biasanya 'tak terlihat' untuk sistem kekebalan tubuh. Hal ini
menunjukkan autoimunitas yang berkembang, setidaknya dalam beberapa kasus,
sebagai konsekuensi dari kematian sel yang tidak normal atau disregulasi
termasuk kematian sel terprogram (apoptosis). Dalam mendukung Konsep ini
telah menjadi pengakuan bahwa model hewan lupus di MLR / lpr mencit karena
mutasi genetik FAS. Aktivasi FAS menyebabkan apoptosis, kelainan FAS
mencegah apoptosis yang normal menyebabkan proliferasi limfositik tidak
terkendali dan produksi autoantibodi. Sebuah homolog manusia model hewan
adalah sindrom limfoproliferatif autoimun (ALPS), karena mutasi dari FAS, anak-
anak mengembangkan limfadenopati besar dan splenomegali dengan produksi
autoantibody.

Faktor Eksogen Bahkan sedikit yang diketahui tentang pemicu yang


bertanggung jawab untuk sebagian besar bentuk lupus. Obat seperti antikonvulsan
dan antibiotik (khususnya minocycline) dapat menyebabkan lupus. Sinar matahari
dapat memicu kedua manifestasi kulit dan sistemik lupus (dan neonatal lupus).
Menelan jumlah yang sangat besar kecambah 6 alfalfa juga dapat menyebabkan
lupus, pemicu aktif muncul menjadi L-canvanine. Peran, jika ada, dari virus dan
bakteri dalam memicu lupus tetap jelas meskipun perlu penelitian yang cukup
besar. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa infeksi tertentu adalah penting
dalam menyebabkan lupus. Menariknya, ada peningkatan penyakit rematik pada
orang dengan infeksi HIV, dan penyakit autoimun termasuk lupus tampaknya
menjadi lebih umum ketika ada restorasi kompetensi kekebalan dengan
penggunaan obat anti retro virus yang sangat aktif.

D. Klasifikasi
Ada tiga jenis type lupus :

1. Cutaneous Lupus
Tipe ini juga dikenal sebagai Discoid Lupus Tipe lupus ini hanya
terbatas pada kulit dan ditampilkan dalam bentuk ruam yang muncul pada
muka, leher, atau kulit kepala. Ruam ini dapat menjadi lebih jelas terlihat
pada daerah kulit yang terkena sinar ultraviolet (seperti sinar matahari,
sinar fluorescent). Meski terdapat beberapa macam tipe ruam pada lupus,
tetapi yang umum terdapat adalah ruam yang timbul, bersisik dan merah,
tetapi tidak gatal.

2. Discoid Lupus
Tipe lupus ini dapatmenyebabkan inflamasi pada beberapa macam
organ. Untuk beberapa orang mungkin saja hal ini hanya terbatas pada
gangguan kulit dan sendi. Tetapi pada orang yang lain, sendi, paru-paru,
ginjal, darah ataupun organ dan/atau jaringan lain yang mungkin terkena.
SLE pada sebagian orang dapat memasuki masa dimana gejalanya tidak
muncul (remisi) dan pada saat yang lain penyakit ini dapat menjadi aktif
(flare).
3. Drug-induced lupus
Tipe lupus ini sangat jarang menyerang ginjal atau sistem syaraf.
Obat yang umumnya dapat menyebabkan druginduced lupus adalah jenis
hidralazin (untuk penanganan tekanan darah tinggi) dan pro-kainamid
(untuk penanganan detak jantung yang tidak teratur/tidak normal). Tidak
semua orang yang memakan obat ini akan terkena drug-induced lupus.
Hanya 4 persen dari orang yang mengkonsumsi obat itu yang bakal
membentuk antibodi penyebab lupus. Dari 4 persen itu, sedikit sekali yang
kemudian menderita lupus. Bila pengobatan dihentikan, maka gejala lupus
ini biasanya akan hilang dengan sendirinya Dari ketiganya, Discoid Lupus
paling sering menyerang. Namun, Systemic Lupus selalu lebih berat
dibandingkan dengan Discoid Lupus, dan dapat menyerang organ atau
sistem tubuh. Pada beberapa orang, cuma kulit dan persendian yang
diserang. Meski begitu, pada orang lain bisa merusak persendian, paru-
paru, ginjal, darah, organ atau jaringan lain. Terdapat perbedaan antara
klasifikasi dan diagnosis SLE. Hal ini penting karena kadang-kadang
pengobatan akan tidak tepat akan tertunda menunggu kriteria klasifikasi
yang harus dipenuhi.

E. Manifestasi klinis
Gejala klinis yang mungkin muncul pada pasein SLE yaitu:

1. Wanita muda dengan keterlibatan dua organ atau lebih.


2. Gejala konstitusional: kelelahan, demam (tanpa bukti infeksi) dan penurunan
berat badan
3. Muskuloskeletal: artritis, artralgia, myositis
4. Kulit: ruam kupu-kupu (butter• ly atau malar rash), fotosensitivitas, lesi
membrane mukosa, alopesia, fenomena Raynaud, purpura, urtikaria,
vaskulitis.
5. Ginjal: hematuria, proteinuria, silinderuria, sindroma nefrotik f
6. Gastrointestinal: mual, muntah, nyeri abdomen
7. Paru-paru: pleurisy, hipertensi pulmonal,lesi parenkhim paru.
8. Jantung: perikarditis, endokarditis, miokarditis
9. Retikulo-endotel: organomegali (limfadenopati, splenomegali, hepatomegali)
10. Hematologi: anemia, leukopenia, dan trombositopenia
11. Neuropsikiatri: psikosis, kejang, sindroma otak organik, mielitis transversus,
gangguan kognitif neuropati kranial dan perifer.

F. Pemeriksaan Fisik
 Inspeksi : inspeksi kulit dilakukan untuk menemukan ruam
eritematous. Plak eritematous pada kulit dengan skuama yang
melekat dapat terlihat pada kulit kepala, muka atau leher. Inspeksi
kulit kepala dilakukan untuk menemukan gejala alopesia, dan
inspeksi mulut serta tenggorok untuk ulserasi yang mencerminkan
gangguan gastrointestinal. Selain itu juga untuk melihat
pembengkakan sendi.
 Auskultasi : dilakukan pada kardiovaskuler untuk mendengar
friction rub perikardium yang dapat menyertai miokarditis dan
efusi pleura. Efusi pleura serta infiltrasi mencerminkan insufisiensi
respiratorius dan diperlihatkan oleh suara paru yang abnormal.
 Palpasi : dilakukan palpasi untuk mengetahui adanya nyeri tekan,
dan sendi yang terasa hangat.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan lab :
a) Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah bisa menunjukkan
adanya antibodi antinuklear, yang terdapat pada hampir
semua penderita lupus. Tetapi antibodi ini juga bisa
ditemukan pada penyakit lain. Karena itu jika menemukan
antibodi antinuklear, harus dilakukan juga pemeriksaan
untuk antibodi terhadap DNA rantai ganda. Kadar yang
tinggi dari kedua antibodi ini hampir spesifik untuk lupus,
tapi tidak semua penderita lupus memiliki antibodi ini.
Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar komplemen
(protein yang berperan dalam sistem kekebalan) dan untuk
menemukan antibodi lainnya, mungkin perlu dilakukan
untuk memperkirakan aktivitas dan lamanya penyakit.
b) Analisa air kemih menunjukkan adanya darah atau
protein.
2. Radiology :

- Rontgen dada menunjukkan pleuritis atau perikarditis.

H. Tindakan Penanganan
Pilar pengobatan yang untuk penderita SLE sebaiknya dilakukan secara
berkesinambungan. Pilar pengobatan yang bisa dilakukan:

a. Edukasi dan konseling Pasien dan keluarga penderita SLE


memerlukan informasi yang benar dan dukungan dari seluruh
keluarga dan lingkungannya. Pasien memerlukan informasi
tentang aktivitas fisik, mengurangi atau mencegah kekambuhan
misalnya dengan cara melindungi kulit dari sinar matahari dengan
menggunakan tabir surya atau pakaian yang melindungi kulit,
serta melakukan latihan secara teratur. Pasien juga memerlukan
informasi tentang pengaturan diet agar tidak mengalami kelebihan
berat badan, osteoporosis, atau dislipidemia. Informasi yang bisa
diperlukan kepada pasein adalah:
 Penjelasan tentang penyakit lupus dan penyebabnya
 Tipe dari penyakit SLE dan karakteristik dari tipe-tipe
penyalit SLE
 Masalah terkait dengan fisik, kegunaan istirahta latihan
terutama yang terkait dengan pengobatan steroid seperti
osteoporosis, kebutuhan istirahat, pemakaian alat bantu,
pengaturan diet, serta cara mengatasi infeksi
 Masalah psikologis yaitucara pemahaman diri pasien SLE,
mengatasi rasa leleah, stres, emosional, trauma psikis,
masalah terkait dengan hubungan dengan keluarga, serta
cara mengatasi nyeri.
 Pemakaian obat mencakup jenis obat, dosis, lama
pemberian, dan yang lainnya. Kebutuahn pemberian
vitamin dan mineral.
 Kelompok pendukung bagi penderita SLE Edukasi juga
perlu diberikan untuk mengurangi stigma psikologis akibat
adanya anggota keluarga yang menderita SLE.
b. Program rehabilitasi Pasien SLE memerlukan berbagai latihan
untuk mempertahankan kestabilan sendi karena jika pasien SLE
diberikan dalam kondisi immobilitas selama lebih dari 2 minggu
dapat mengakibatkan penurunan massa otot hingga 30%. Tujuan,
indikasi, dan teknis pelaksanaan program rehabilirasi melibatkan
beberapa hal, yaitu:
 Istirahat
 Terapi fisik
 Terapi dengan modalitas
 Ortotik, dan yang lainnya.
c. Pengobatan medikamentosa Jenis obat yang dapat digunakan pada
pasein SLE adalah:
 OAINS 14
 Kortikosteroid
 Klorokuin
 Hidroksiklorokuin (saat ini belum tersedia di Indonesia)
 Azatioprin
 Siklofosfamid
 Metotreksat
 Siklosporin A
 Mikofenolat mofetil

I. Penatalaksanaan Keperawatan
Manajemen Keperawatan

Asuhan keperawatan didasarkan pada pengelolaan rasa sakit dan


peradangan, mengatasi gejala, dan mencegah komplikasi. Pengobatan rasa sakit
dan peradangan pada SLE ringan umumnya dicapai dengan nonsteroidal obat anti
inflamasi (NSAID). Obat antimalaria juga digunakan dalam SLE ringan untuk
mengontrol gejala radang sendi, ruam kulit, sariawan, demam, dan kelelahan.
Perawat perlu memberitahu orang tua yang kadang-kadang memakan waktu lama
sebelum terapi efek obat antimalaria yang jelas. Perawatan SLE membutuhkan
penambahan kortikosteroid. Kortikosteroid diberikan kepada anak ketika anak
tidak merespon NSAID atau obat antimalaria. Kortikosteroid sangat efektif dalam
mengurangi peradangan dan gejala, meskipun mereka juga memiliki efek samping
yang serius dari imunosupresi. Selama periode eksaserbasi, kortikosteroid dapat
dimulai dalam dosis tinggi. Setelah gejala di bawah kontrol, dosisnya adalah
meruncing ke terendah tingkat terapeutik.

Hal ini penting untuk memberitahu orang tua bahwa steroid harus perlahan
meruncing ketika saatnya untuk menghentikan obat. Jenis obat yang paling ampuh
yang digunakan untuk mengobati SLE parah termasuk agen imunosupresif. obat-
obat ini digunakan ketika penyakitnya sudah mencapai keadaan yang serius di
mana tanda-tanda parah dan gejala yang hadir. Agen Imunosupresif juga dapat
ditentukan jika ada kebutuhan untuk menghindari kortikosteroid. Keputusan untuk
menggunakan immunosuppressives membutuhkan pertimbangan serius karena
efek samping signifikan, terutama yang berkaitan dengan imunosupresi umum.
Contoh agen imunosupresif digunakan dalam pengobatan SLE termasuk
azathioprine (Imuran), siklofosfamid (Cytoxan), dan methotrexate (Rheumatrex).
BAB 11
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Data subyektif :
a) Pasien mengeluh terdapat ruam-ruam merah pada wajah
yang menyerupai bentuk kupu-kupu.
b) Pasien mengeluh rambut rontok.
c) Pasien mengeluh lemas
d) Pasien mengeluh bengkak dan nyeri pada sendi.
e) Pasien mengeluh sendi merasa kaku pada pagi hari.
f) Pasien mengeluh nyeri Data
2. Data Obyektif :
a) Terdapat ruam – ruam merah pada wajah yang menyerupai
bentuk kupu-kupu.
b) Nyeri tekan pada sendi.
c) Rambut pasien terlihat rontok.
d) Terdapat luka pada langit-langit mulut pasien.
e) Pembengkakan pada sendi.
f) Pemeriksaan darah menunjukkan adanya antibodi
antinuclear.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut
2. Risiko infeksi
3. Resiko injuri
4. Gangguan citra tubuh
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
C. Intervensi Keperawatan

NO DIAGNOSIS NOC NIC

1. Nyeri akut Pain control Indicator : Pain management


Factor yang  Mengenali onset Aktivitas :
berhubungan: agen nyeri  Melakukan
injuri fisik  Menjelaskan factor pengkajian nyeri
penyebab termasuk lokasi,
 Melaporkan karateristik,
perubahan nyeri onset/durasi,
 Melaporkan gejala frekuensi,
yang tidak kualitas atau
terkontrol keparahan nyeri,

 Menggunakan dan factor

sumber daya yang pencetus nyeri

tersedia untuk  Observasi tanda


mengurangi nyeri nonverbal dari

 Mengenali gejala ketidaknyamanan

nyeri yang , terutama pada

berhubungan pasien yang tidak

dengan penyakit bisa

Melaporkan nyeri berkomunikasi

terkontrol secara efektif


 Gunakan strategi
komunikasi
terapeutik untuk
mengetahui
pengalama nyeri
pasien dan
respon pasien
terhadap nyeri
 Kaji pengetahuan
dan kepercayaan
pasien tentang
nyeri
 Tentukan
dampak dari
nyeri terhadap
kualitas hidup
(tidur, selera
makan, aktivitas,
dll)
 Evaluasi
keefektifan
manajemen nyeri
yang pernah
diberikan
sebelumnya
 Control factor
lingkungan 22
yang dapat
mempengaruhi
ketidaknyamanan
pasien
 Kolaborasi
dengan pasien,
anggota keluarga,
dan tenaga
kesehatan lain
untuk
implementasi
manajemen nyeri
nonfarmakologi
 Dukung pasien
untuk
menggunakan
pengobatan nyeri
yang adekuat
2. Risiko infeksi Infection severity Infection Control
Factor risiko : Indicator : Aktivitas:
Imunosupresi  Demam  Pertahankan
 Nyeri teknik isolasi jika
 Limpadenopati diperlukan
Penurunan jumlah sel  Batasi jumlah
darah putih Risk control pengunjung
 Ajarkan kepada
tenaga kesehatan
untuk
meningkatkan
cuci tangan
 Ajarkan pasien
dan pengunjung
untuk cuci tangan
 Cuci tangan
sebelum dan
sesudah
melakukan
perawatan
kepada pasien
 Lakukan
perawatan
aseptic pada IV
line
 Tingkatkan
asupan nutrisi
yang adekuat
 Dorong pasien
untuk istirahat
 Ajarkan pada
pasien dan
keluarga cara
untuk mencegah
infeksi
3. Risiko Injuri Risk control Indicator : Risk identification
Factor Risiko:  Mencari informasi Aktivitas:
disfungsi autoimun tentang risiko pada  Review riwayat
kesehatannya kesehatan pasien
 Identifikasi factor  Review data
risiko yang berasal dari
 Mengakuir factor pengkajian risiko
risiko personal  Tentukan sumber
 Monitor factor daya yang
risiko lingkungan tersedia seperti
 Melakukan strategi tingkat
untuk control pendidikan,
risiko psikologis,
finansial, dan
dukungan
keluarga
 Identifikasi
sumber-sumber
ynag dapat
meningkatkan
risiko
 Identifikasi
factor risiko
biologis,
lingkungan, dan
perilaku serta
hubungan antara
factor risiko
 Tentukan
rencana untuk
mengurangi
risiko
 Diskusikan dan
rencanakan
aktivitas
mengurangi
risiko dengan
berkolaborasi
dengan pasein
dan keluarga
 Implementasikan
rencana aktivitas
mengurangi
risiko
4. Fatugun Fatigun level indicator Energy management
Karakteristik :  Kelemahan aktivitas :
Faktor yang  Kualitas tidur  Kaji status fisik
berhubungan :  Hematocrit pasien untuk
Anemia kelelahan dengan
memperhatikan
umur dan
perkembangan
 Doronng pasien
untuk
mengungkapkan
perasaan tentang
keterbatasan
 Gunakan
instrument yang
valid untuk
mengukur
kelelahan
 Tentukan
aktivitas yang
boleh dilakukan
dan seberapa
berat aktivitasnya
 Monitor asupan
nutrisi untuk
mendukung
sumber energy
yang adekuat
 Konsultasi
dengan ahli gizi
tentang
peningkatan
asupan energy
 Bantu pasien
untuk beristirahat
sesuai jadwal
 Dorong pasien
untuk tidur siang
 Bantu pasien
melakukan
aktivitas fisik
reguler
5. Ketidakseimbanga Setelah dilakukan Energy management
n nutrisi kurang tindakan keperawatan aktivitas :
dari kebutuhan selama kurang lebih 2  Kaji adanya
tbuh. jam nutrisi kurang teratasi alergi makanan
Berhubungan denan indikator :  Kolaborasi
dengan:  Albumin serum dengan ahlli gizi
Ketidakmampuan  Pre albumin serum untuk
untuk  Hematocrit menentukan
memasukkan atau  Hemoglobin jumlah kalori dan
mencerna nutrisi nutrisi yang
 Total iron binding
oleh karena faktor dibutuhkan
capacity
biologis, pasien
 Jumlah limfosit
psikologis atau  Anjurkan diet
ekonomi pada pasien yang
dimakan
mengandung
tinggi serat untuk
mencegah
konstipasi
 Ajarkan pasien
bagaimana
membuat catatan
makanan harian
 Monitor adanya
penurunan BB
dan gula darah
 Jadwalkan
pengobatan dan
tindakan selama
jam makan
 Monitor tugar
kulit
 Monitor intake
nutrisi
 Kolaborasi
dengan dokter
tentang
kebutuhan
suplemen
makanan seperti
NGT/TPN
sehingga intake
cairan yang
adekuat dapat
dipertahankan
 Anjurkan banyak
minum
 Catat adanya
edema,
hiperemik,
hipertonik
apabila lidah dan
cavitas oval
DAFTAR PUSTAKA

King, Jennifer K; Hahn, Bevra H. (2007). Systemic lupus erythematosus: modern


strategies for management – a moving target. Best Practice & Research Clinical
Rheumatology Vol. 21, No. 6, pp. 971–987, 2007 doi:10.1016/[Link].2007.09.002
available online at [Link]
Malleson, Pete; Tekano, Jenny. (2007). Diagnosis And Management Of Systemic
Lupus Erythematosus In Children. Paediatrics And Child Health 18:2. Published
By Elsevier Ltd. Symposium: Bone & Connective Tissue.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, ML., Swansosn, E. (2008). Nursing Outcomes
Classification (NOC) Fourth edition. St. Louis: Mosby Elseiver.

Bulechek G.M., Howard B.K, Dochterman J.M. (2008). Nursing Interventions


Classifivation (NIC) fifth edition. St. Louis: Mosby Elseiver.

Judha, M., & Setiawan, D. I. (2015). Apa dan Bagaimana Penyakit Lupus?
(Sistemik Lupus Eritematosus). Yogyakarta: Gosyen Publising.

Nursalam. (2015). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan


Praktik. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai