HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN
PERILAKU BULLYING DI SMPN 1
PANGKALAN KURAS
SOREK
2020
vi
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirohim
Alhamdulillah, segala puji dan syukur atas kehadiran Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmad dan hidayahnya. Shalawat beriring salam twrcurah
kepada Nabi besar Muhammad SAW,sehingga penulis dapat menyelesaikan
Skripsi yang berjudul “ Hubungan pola arus otoriter dengan perilaku bullying di
Smpn 1 pangkalan kuras”.Skripsi ini di buat untuk memenuhi syarat gelar serjana
Psikologi Universitas Islam Riau pekan baru.
Dalam menyelesaikan laporan ini penulis banyak menerimah bantuan,baik
berupa dorongan semangat, maupun sumbangan pikiran dari berbagai pihan
untuk itu,dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terimah kasih
kepada:
1. Bapak prof Dr H Syafirinaldi, SH,MCL selaku rektorat Universitas Islam
Riau.
2. Bapak Yanwar Arif.,[Link]., Psikologi selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Islam Riau.
3. Bapak [Link] , [Link]. [Link] selaku Wakil Dekan I Fakultas Psikologi
Universitas Islam Riau dan pembimbing II Skripsi yang telah memberi
bimbingan,Motivasi serta, meluangkan wakru,tenaga,pikiran, dan memberih
arahan yang berharga kepada penilis.
4. Ibuk Yulia Herawaty, S,Psi,. MA selaku Wakali II Fakultas Psikologi
Universitas Islam Riau.
vi
vii
5. Ibuk Lisfarika Napitupulu., [Link] selaku Wakil Dekan III Fakultas
Psikologi Universitas Islam Riau.
6. Ibuk Leni Armayati, [Link].,[Link] selaku pembimbing I Skripsi yang telah
membarikan bimbingan,,motivasi,serta meluangkan waktu,tenaga,pikiran,
dan memberi arahan yang berharga kepada penulis.
7. Ibuk Jurliani Siregar, [Link].,Psikologi sewlaku ketua prodi yang telah
memberih arahan, motivasi,dan informasih kepada penulis.
8. Segenap dosen Fakultas Psikologi dan Pengirus Tata Usaha Fakultas
Psikologi Universitas Islam Riau beserta Sraf Fakultas Psikologi Universitas
Islam Riau yang telah menjadi fasilitator untuk mendidik dan membimbing
penulis dalam proses perkuliahan.
9. Untuk Kepalah Sekolah, guru-guru beserta siswa Smpn 1 pangkan kuras
yang telah bersediah memberi data serta menyediakan sarana untuk
penelitian dalam penelitian ini,terimah kasih atas kerja samanya selama
penelitian.
10. Kedua orang tua tercinta ayahandaku Katik dan ibundaku Alaina yang telah
memberaskan dengan kasih sayang dan perhatian yang tulus serta tidak
henti-hentinya mendoakan penulis.
11. Abangku beserta kakak iparku dan adikku Darlis, S.H., Dian Maya
Sari,YS,SKM, Sarjono,[Link].,Apt, Ns. Vivi Arissandi,[Link], Julisar yang
selalu membantu dalam suka dan duka serta do’a dan dukungan.
vii
vii
i
12. Buat sahabat-sahabatku yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang
selalu memberikan semangat dan dukungan untuk menyelesaikan Skripsi
ini.
13. Semuah pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yanh juga
telah memberikan bantuan baik moral maupun materi dalam penyelesaian
Skripsi ini. Semoga apa yang telah di berikan mendapat balasan yang
setimpal dari Allah SWT, Amin
Penulis berharap Skripsi ini memberikan manfaat dan sumbangan pemikiran
khususnya di bidang psikologi dan perah pembaca umumnya. Pada akhirnya tiada
kata yang indah yang dapat di ucapkan untuk mengungkapkan semua rasa syukur
selain berdoa semoga apa yang di berikan dalam penyelesaian karya kecil ini
mendapat balasan yang serimpal dari Allah SWT,Amin
Skripsi ini mungkin belum sepenuhnya sempurna. Oleh karena itu,kritik
saran dan masukan menjadi suatu yang berakti dalam penyempurnaan skrisi ini
untuk menjadilebih baik sehingga dapat menjadi referensi penulis bagi peneliti
selanjutnya wassalam.
Pekanbaru, Juli 2020
Penulis
Ira wati
vii
i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa depan bangsa berada di tangan remaja, ungkapan ini ialah bentuk
cita-cita bagi generasi muda yang diharapkan dapat memiliki tumbuh
kembang yang sehat meliputi fisik, psikologis atau sosial sehingga mampu
mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif dan bangsa Indonesia bisa
menjadi lebih kuat dan dapat bersaing secara global dengan negara lainnya.
Masa remaja (adolescence) ialah periode perpindahan dari usia anak ke usia
dewasa sehingga saat tersebut terjadi fase pencarian jati dirinya. Remaja
memiliki rasa penasaran yang tinggi dan senang coba-coba akan hal baru dari
lingkungan sekitar, baik dari komunitas keluarga, sekolah, teman sebaya dan
masyarakat (Trevi,2010).
Definisi remaja menurut WHO atau World Health Organization adalah
penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun (Kemenkes, 2014). Pada masa
remaja ini, berada pada fase pencarian jati diri dan membuatnya cenderung
lebih dekat dengan teman sebaya, sehingga sewajarnya orang tua
memperhatikan ruang lingkup bermain anak untuk mencegah terjadinya
pergaulan yang kurang sehat di kalangan pelajar remaja.
Menurut Manjilala (2012), pada remaja usia 11 – 13 tahun terjadi fase
pencarian jati diri dimana remaja cenderung menonjolkan identitas dirinya,
muncul perasaan “malu”, sering konflik dengan orang tua, memiliki perasaan
1
2
tidak mau diatur, moody, tertarik pada lawan jenis, cenderung lebih dekat
dengan teman sebaya. Hal ini dapat berkembang menjadi keadaan “kritis”
jika remaja tidak mampu mengidentifikasi lingkungannya dengan tepat
karena mereka rentan terhadap perilaku bullying.
Beberapa waktu terakhir, tak asing di telinga kita mendengar kasus
bullying marak terjadi di kalangan pelajar Indonesia. Kejadian tersebut sangat
disayangkan sebab pada usia ini harusnya anak remaja memperoleh
perlindungan dan rasa nyaman dalam lingkungan bermainnya. Undang-
undang perlindungan anak no 23 tahun 2002 mengenai perlindungan anak,
Bab III tentang hak dan kewajiban anak: masing-masing anak memiliki hak
untuk hidup tumbuh, berkembang dan ikut serta secara normal selaras dengan
derajat kemanusiaan dan juga memperoleh perlindungan dari kekerasan dan
perbedaan (KPAI, 2019).
Remaja di dunia tercatat banyak yang menjadi korban maupun menjadi
pelaku bullying di lingkungannya. United Nation International Children’s
Emergency Fund (UNICEF) pada 2016 merilis, Indonesia pada posisi teratas
perihal kasus kekerasan pada anak dan remaja seumlah 84%. Angka ini jauh
lebih tinggi dibanding dengan jumlah kasus bullying di Vietnam dan Nepal
yang sama-sama mencarat 79%, lalu diurutan selanjutnya ada Kamboja
(73%) dan Pakistan (43%) ( Sindo Weekly, 2017).
Kenyataannya, kasus bullying yang terkuak di media hanyalah
segelintir dari kasus yang ada. Seperti kasus bullying yang dialami siswi
SMP di Kalimantan bernama Audrey hingga bermunculan tagar justice for
2
3
Audrey di media berita daring. Kasus kematian siswa SMA di Bogor yang
berujung pada hilangnya nyawa korban bulliying menjadi bukti nyata bahwa
kasus ini bukanlah hal sepela, namun membutuhkan perhatian khusus dari
semua pihak. Kasus bullying yang terjadi di kalangan pelajar menuntut
perhatian dari semua pihak, bukan hanya dari pihak sekolah saja tetapi
membutuhkan juga perhatian dari lingkungan sekitar dan orang tua atau
keluarga.
Bullying ialah suatu tindakan bernilai “kekerasan” yang dimotori
seorang/kelompok siswa yang berkuasa, kepada pihak lainnya yang tidak
dominan dengan maksud “melukai” (Riauskina, Djuwita, dan Soesetio,
2005). Menurut Usman (2013) perilaku bullying dan tindakan kekerasan yang
muncul di kalangan pelajar sekolah, dikarenakan remaja memiliki sifat
egoisentrisme yang tinggi.
Secara gamblang, perilaku bullying adalah tindakan sengaja yang
dilakukan untuk menunjukkan perilaku dominan terhadap siswa lain yang
dianggap “lemah”. Bullying ialah suatu sikap tidak baik yang mampu
membuat kerugian bagi pihak yang lebih lemah, dilakukan oleh orang lain
baik secara langsung atau tidak langsung (Usman, 2013).
Bullying di Indonesia bukanlah fenomena baru. Bullying dapat terjadi di
lingkungan sekolah, lingkungan bermain atau lingkungan sosial anak bahkan
di lingkungan rumah sendiri. Bullying merujuk pada perilaku yang dilakukan
oleh pihak yang berkuasa, kepada pihak yang tidak dominan, dan bermaksud
untuk “melukai” orang tersebut baik secara fisik atau mental. Keberadaan
3
4
bullying di lingkungan sekolah mampu membuat suasana sekitar menjadi
tidak kondusif untuk pertumbuhan remaja bagi sisi akademis ataupun dalam
kehidupan sehari-hari. Perilaku bullying terhadap siswa dapat berdampak
buruk sebab siswa yang bersangkutan dapat memiliki rasa tidak diingini atau
merasa tidak diterima oleh sekitarnya. Keadaan seperti ini berefek bagi
aktivitas remaja disekolah. Bagi eksekutor bullying, jika didiamkan tanpa
adanya penanganan dan campur tangan yang tepat dari pihak terkait dapat
membuat mereka “merasa” mempunyai kekuatan di lingkungan sekolah.
Kejadian ini menjadi pintu potensi timbulnya perbuatan bully lainnya seperti
memukul, mencuri, menganiaya bahkan pembunuhan. Pelaku bully
sepantasnya tahu dan sadar atas akibat dan konsekuensi dari perbuatan
bullying secara berlebihan.
Permasalahan bullying masih menjadi topik hangat diperbincangkan
dan belum menemukan titik terang karena kita masih bisa menemukan
kasusnya terjadi hingga sekarang. Bullying seolah hanya di pandang sebelah
mata dan dianggap sebagai kenakalan kecil remaja, sehingga hanya segelintir
yang paham akan dampak negatif dari sikap bullying tersebut. Sesungguhnya
dampak negatif bullying bisa membuat hilangnya hidup seseorang. Sudah
waktunya di perlukan kesadaran dari segala pihak guna menanggulangi
problema ini.
Bullying seolah sebagai kebiasaan dikalangan remaja maka dapat
memunculkan pola-pola tertentu seperti pola senior-junior dikalangan pelajar.
Bullying bisa dibilang seperti sesuatu yang normal sampai-sampai sudah
4
5
menjadi suatu “budaya”. Bullying terjadi tidak hanya sebatas kebiasaan yang
dilakukan turun-temurun, namun juga dapat terjadi akibat ketidaksadaran
pelaku hingga lemahnya korban dan saksi.
Perilaku school bullying tidak terbatas dalam bentuk fisik yang bisa
dilihat, tetapi bisa juga dalam wujud tak langsung dan bisa memiliki imbas
yang serius. Contohnya, bentuk pengucilan siswa, fitnah, palak, dan
kekerasan lainnya yang tergolong kepada sikap bullying (Djuwita, 2006).
Beberapa penelitian mengenai fenomena bullying telah dilakukan di
dalam maupun luar negeri, dan mendapati hasil bahwa beberapa faktor
penyebab munculnya sikap bullying ialah bentuk asuh orang tua yang keliru
seperti penelitian yang dilakukan oleh Rohmah (2017) meneliti pola asuh ibu
dengan perilaku bullying, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa secara
umum, pengasuhan otoriter berpeluang 5,294 kali lebih besar untuk anak
berperilaku bullying.
Kharisma (2016), meneliti tentang hubungan pola asuh permisif dengan
perilaku bullying di SMPN 5 Samarinda, hasil penelitiannya menunjukkan
bahwa adanya keterkaitan yang positif dan signifikan antara pola asuh
permisif dengan perilaku bullying dengan r = 0,1285 dan p = 0,000.
Nabilah (2018) dalam penelitiannya tentang: hubungan antara pola asuh
otoriter dengan perilaku bullying pada siswa sekolah menengah atas, adapun
hasil penelitiannya menyatakan adanya konektivitas positif antara pola asuh
otoriter orang tua dan perilaku bullying pada siswa sekolah menengah atas.
5
6
Noorlizah (2015) meneliti tentang hubungan antara perilaku bullying
dan gaya mengasuh anak pada siswa sekolah dasar, melalui analisis uji
korelasi Pearson, diperoleh hasil bahwa baik anak laki-laki dan perempuan di
sekolah cenderung melakukan agresi verbal. Pria bereaksi lebih agresif dalam
tiga bentuk intimidasi (verbal, fisik, dan tidak langsung) daripada wanita.
Anthony (2014) dalam penelitiannya yang berjudul: hubungan antara
gaya parenting dan kecenderungan perilaku bullying pada remaja, dengan
metode analisis menggunakan uji korelasi pearson didapati hasil bahwa gaya
pengasuhan otoriter lebih umum di antara orang tua dengan anak pelaku
bullying daripada metode lain.
Rigby (2013) dalam penelitiannya yang berjudul: Opini: penindasan di
sekolah dan hubungannya dengan pengasuhan anak dan kehidupan keluarga
dengan menggunakan metode studi longitudinal diperoleh hasil bahwa
viktimisasi sebaya di masa kanak-kanak, terutama jika kronis atau parah,
dikaitkan dengan gejala psikotik di awal masa remaja.
Sama halnya dengan kejadian tingkat nasional, fenomena bullying juga
terjadi di tanah melayu Riau madani ini. Dilaporkan pada berita daring
menuliskan bahwa seorang siswi kelas VII SMP Negeri 39 Pekanbaru
berinisial LP (12) disinyalir menjadi korban bullying oleh rekan sekelasnya.
Dampak dari bully dan pelecehan seksual tersebut, remaja 12 tahun itu
menjadi sakit dan merasakan tekanan batin (Fernando, 2019). Sesuai dengan
pengamatan awal yang peneliti lakukan kepada siswa-siswi SMPN 1
Pangkalan Kuras Sorek, dijumpai dari 15 anak yang ditanyai seputar bullying
6
7
di sekolah mengaku 9 diantaranya pernah melakukan bullying secara verbal, 5
anak lainnya mengaku pernah melakukan “keisengan” berupa bullying secara
fisik seperti membuat teman tersandung dengan menyanggah kaki saat
berjalan hingga terjatuh, memukul atau menampar teman yang dianggap
lemah.
Dan dari 9 anak yang melakukan bullying verbal setelah dilakukan
wawancara lebih lanjut ternyata 6 diantaranya mengaku memiliki pola asuh
orang tua yang otoriter, dan dituntut untuk menurut dengan perkataan orang
tua tanpa alasan.
Berdasarkan uraian sebelumnya sehingga peneliti ingin melakukan
penelitian dengan judul “Hubungan Pola Asuh Otoriter Dengan Perilaku
Bullying Di SMPN 1 Pangkalan Kuras Sorek Tahun 2020”.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini ialah “Hubungan Pola Asuh Otoriter
Dengan Perilaku Bullying Di SMPN 1 Pangkalan Kuras Sorek”.
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan keterangan sebelumnya, tujuan umum penelitian ini
untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku
bullying di SMPN 1 Pangkalan Kuras Sorek.
7
8
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Menjadi referensi peneliti selanjutnya, tentang bullying di
lingkungan sekolah dan menambah khazanah keilmuan psikologi
khususnya psikologi sosial.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Subjek
Dapat menjadi himbauan untuk meningkatkan kesadaran dan
“pertahanan diri” remaja dari ancaman bully di lingkungan sekolah
khususnya.
b. Bagi Sekolah
Menjadi bahan pertimbangan untuk lebih memperhatikan interaksi
anak didik agar tidak mengarah pada perilaku bullying di sekolah.
c. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian dirasa dapat dijadikan sebagai sumber informasi
kepada pembaca mengenai hubungan pola asuh otoriter dengan perilaku
bullying.
8
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Perilaku Bullying
1. Pengertian Perilaku Bullying
Sesuai dengan tatanan bahasa Indonesia, asal kata bullying atau
"perisakan" adalah risak. Risak memiliki arti usik, ganggu mengolok-
olok/mengejek (Depdiknas, 2015). Namun, istilah ini belum terlalu familiar
di masyarakat. Untuk pertama kalinya Heinemannlah yang mengkaji
mengenai kejadian bullying pada masyarakat (Smith, dkk, 2012),
Heinemann (2010) memilih istilah “mobbning” atau “mobbing” merujuk
kepada tindakan yang berkonten hal destruktif yang ditujukan pada
seseorang tertentu secara tak terduga. Mirip perumpamaan “mobbing” pada
negara Inggris dan Jerman, perumpamaan ini terbatas pada kegiatan yang
diperbuat oleh orang atau kelompok kepada pihak lain. Menurut Olweus
(dalam Smith, dkk,2012) memperluas definisi bullying dengan meyertakan
serangan sistematis satu pihak dominan terhadap pihak yang lemah.
Olweus (dalam Smith, dkk,2012) menyebutkan bahwa bullying ialah
tindakan sengaja bersifat serangan agresif yang sistematis, dilakukan
berulang, dari pihak dominan terhadap yang lemah baik dalam hal
kekuasaan atau kekuatan. Tindakan negatif yang disengaja, menimbulkan
atau membuat pada pihak lain tidak nyaman disebut bullying. Tindakannya
dapat berupa sentuhan fisik, verbal, atau lainnya, misalnya memperlihatkan
9
10
raut muka mengucilkan, melakukan gerak-gerik kurang sopan secara
sengaja dari pihak dominan (Smith, dkk, 2012).
Berdasarkan definisi tersebut menjelaskan tiga cakupan kriteria
bullying yaitu: (1) bullying adalah perilaku agresi sengaja (2) bullying
terjadi dengan sistematis/berulang; (3) terdapat kesenjangan kekuatan antara
pihak dominan dan yang lemah (dalam Smith, dkk, 2012).
Lain halnya Sullivan (2011) bullying merupakan sikap agresi yang
bersifat muslihat atau pengucilan yang dibuat secara sadar serta berulang-
ulang oleh orang atau sekelompok yang dominan terhadap pihak yang
lemah. Selanjutnya, menurut Coloroso (2009) bullying ialah suatu tindakan
intimidasi dari pihak dominan terhadap pihak lemah. Sikap bully ini juga
memiliki arti penyalahgunaan kuasa atau powe untuk tujuan melukai fisik
hingga mental seseorang atau kelompok dengan sengaja berujung pada
korban merasa mendapatkan presure, hingga menyebabkan trauma. Yang
membedakan bullying dengan konflik lainnya ialah adanya ketimpangan
kekuatan (Wiyani, 2014).
Pada kasus bullying, dibutuhkan kehadiran pihak ketiga mengingat
adanya ketimpangan kekuatan yang menjadi penghalang bagi pelaku juga
korban dalam mengatasi konflik. Sehingga dapat kita buat suatu kesimpulan
sendiri dari beberapa pendapat ahli sebelumnya bahwasanya bullying
merupakan tindakan secara sadar yang bertujuan melukai baik fisik, verbal
ataupun psikologis serta perlakuan yang berulang, bersifat sengaja dari
individu atau kelompok tertentu yang dominan.
11
Definisi bullying belum ditemukan padanan kata yang sesuai dengan
tatanan bahasa Indonesia, karena ia merupakan kata serapan dari bahasa
Inggris (Wiyani, 2014). Bullying asal kata bully berarti menggertak atau
orang yang menganggu pihak yang tidak dominan. Bullying adalah perilaku
agresif individu atau kelompok yang dominan terhadap yang tidak dominan,
dengan tujuan menyakiti fisik atau mental dan dilakukan secara berulang
(Wahyuni, 2014). Menurut Olweus (2009) bullying ialah perilaku tidak
mengenakkan dan mampu melukai fisik maupun psikis pihak korban.
Tattum (dalam Wiyani, 2014) berpendapat bahwa bullying adalah tindakan
sadar dan sengaja untuk menyakiti dan menempatkan pihak lain dibawah
tekanan. Pendapat lainnya, Colorso (2009) menyebutkan bullying sebagai
bentuk ketidakseimbangan kekuatan dapat menimbulkan hasrat untuk
melukai, mengancam lebih parahnya berujung pada teror.
Menurut Rigby (2010) bullying ialah perbuatan secara langsung atau
tidak oleh seseorang atau sekelompok yang dominan dibandingkan korban
dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya, dilakukan secara terus
menerus dan pelaku melakukannya dengan perasaan senang. Dapat kita
tarik sebuah kesimpulan sesuai dengan teori yang sudah ada bahwa bullying
adalah perilaku agresif individu atau kelompok secara sengaja berupa sikap
verbal, fisik, ataupun psikis dan ditunjukkan kepada pihak yang lebih lemah
serta dilakukan berulang-ulang. Secara garis besar kita bedakan jadi dua
bagian yaitu bullying verbal dan bullying secara non verbal.
12
2. Aspek Perilaku Bullying
Widayanti (2009) mengumukakan ada 3 aspek perilaku bullying, yaitu :
a. Bentuk fisik
Contoh bentuk fisik bully: memukul, mencubit, menampar, minta
secara paksa.
b. Bentuk verbal
Contoh verbal bully: mamaki, menggosip, atau mengejek.
c. Bentuk psikologis
Contoh bentuk bully psikologis: mengintimidasi, meremehkan dan
deskriminasi.
Menurut Usman (2013) ada tiga aspek perilaku bullying meliputi:
a. Aspek Verbal
Aspek verbal ialah kegiatan dengan tujuan untuk menyakiti melalui
ucapan/verbal seperti: menertawakan, menjadikannya bahan lelucon,
memberi julukan negatif kepada seseorang yang bisa membuat pihak lain
manjadi kurang nyaman, hingga emosi.
b. Aspek fisik
Aspek fisik ialah kegiatan melukai seseorang secara fisik atau
melibatkan fisik/tindakan fisik seperti memukul, menendang,
mendorong, serta dilakukannya tindakan-tindakan yang berujung
menyakiti dan mencederai fisik pihak lemah.
13
c. Aspek indirect
Aspek indirect atau tidak langsung ialah kegiatan yang bertujuan
menolak, menjauhi seseorang dari kelompok secara disengaja seperti
memfitnah, menuding, menyebarkan berita bohong mengenai seseorang
supaya ia dinilai buruk oleh lingkungannya.
Berdasarkan pemaparan aspek-aspek bullying yang telah dijelaskan
sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku bullying dapat
dilakukan secara verbal dan non verbal.
Priyatna (2010) membagi aspek bullying dibagi jadi dua yaitu
secara fisik dan non-fisik.
a. Beberapa contoh bullying secara fisik antara lain: memukul, melakukan
intimidasi, menggigit, menendang, menarik rambut, mengunci,
mengepung korban, memelintir, mencakar, menonjok, meludahi,
mendorong, memberikan ancaman, dan memusnahkan barang-barang
milik korban
b. Beberapa contoh bullying secara non-fisik dibedakan menjadi 2 yaitu
verbal dan non-verbal. Bullying verbal contohnya memalak, berkata
jorok pada korban, memeras, meledek, menghasut, berkata menekan,
menyebarluaskan kejelekan korban, mengintimidasi. Bullying non-
verbal, dibagi dua: langsung dan tidak langsung. Bullying non-verbal
tidak langsung, misalnya manipulasi pertemanan, curang, surat kaleng,
sembunyi-sembunyi, mengirim pesan menghasut, mengasingkan, tidak
mengikutsertakan. Bullying non-verbal langsung, contohnya gerakan
14
(tangan, kaki, atau anggota badan lain) mengancam, menatap, muka
mengancam, menggeram, hentakan mengancam, atau menakuti.
Aspek-aspek perilaku bullying ada 5 bentuk menurut Hertinjung
dan Karyani (2015), antara lain:
a. Aspek fisik langsung seperti: memukul, mendorong, menggigit,
menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit,
mencakar, meminta paksa, dan merusak barang orang lain.
b. Aspek verbal langsung antara lain mengancam, mempermalukan,
merendahkan, memberi panggilan nama ejekan, sarkasme, merendahkan,
mencela, mengintimidasi, memaki.
c. Aspek non-verbal langsung antara lain: melihat dengan sinis,
menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan,
mengejek, atau mengancam, biasanya disertai bullying fisik atau verbal.
d. Aspek non-verbal tidak langsung dengan mendiamkan seseorang,
memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan
atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.
e. Pelecehan seksual, kadang dikategorikan perilaku agresi fisik.
Rigby (dalam Saifullah, 2016) mengemukakan empat aspek
bullying antara lain yaitu:
d. Aspek fisik yaitu menendang, memukul, dan menganiaya orang yang
dirasa mudah dikalahkan dan lemah secara fisik.
e. Aspek verbal yaitu menghina, menggosip, dan memberi nama ejekan
pada korbannya.
15
f. Aspek isyarat tubuh yaitu mengancam dengan gerakan dan gertakkan
g. Aspek berkelompok yaitu membentuk koalisi dan membujuk orang untuk
mengucilkan seseorang.
Dalam penjelasannya, Pratiwi (2014) mengatakan bahwa aspek
fisik bullying ialah semua tindakan yang kasat mata. Sedangkan untuk
bullying non fisik berisi muatan verbal dan non verbal. Dikatakan verbal
jika segala seuatunya melibatkan indra pendengaran. Dikatakan aspek
non verbal atau psikologis jika sikap yang didapatkan bisa dirasakan tapi
tidak nampak, tidak terdengar misalnya seseorang yang memandang
dengan pandangan sinis, cuek, menyepelekan. Secara umum dapat kita
simpulkan bahwa sesuai dengan beberapa pendapat ahli, suatu sikap
bullying dibedakan jadi dua jenis, yakni verbal dan non verbal.
Sesuai dengan penelitian ini yang menggunakan skala pengukuran
guttman dimana pada skala guttman menyajikan jawaban secara tegas
seperti pernyataan “ya- tidak”, atau “pernah-tidak pernah” dan
sebagainya. Dihubungkan dengan penelitian ini, hal ini sejalan dengan
pendapat beberapa ahli, salah satunya menurut priyatna. Variabel
perilaku bullying disesuaikan dengan skala pengukuran guttman maka
dapat kita kategorikan menjadi bullying secara verbal dan non verbal.
Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai kedua pola asuh tersebut adalah
sebagai berikut:
Bullying secara verbal didalamnya meliputi segala tindakan
penindasan yang dapat ditangkap oleh indera pendengaran, meliputi
16
tindakan seperti: teriakan, keriuhan, ejekan, menjuluki atau memberi
sebutan tertentu, meremehkan, kritikan yang kejam, fitnah menghina ras,
ucapan yang kasar, panggilan telepon yang kasar
Sedangkan bullying non verbal meliputi segala bentuk penindasan
fisik, aspek psikis dan lainnya. Seperti: meninju, meludahi, menggores,
menampar, mencolek, memukul, menendang, memelintir, mencekik,
menggigit, pengabaian, merusak pakaian atau barang dari korban,
pengisolasian, penghindaran.
3. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Bullying
Usman (2013) menyebutkan empat faktor yang memberi pengaruh
pada perilaku bullying, diantaranya adalah :
a. Kepribadian
Sebagian besar pelaku bullying mempunyai rasa empati yang
rendah, kurang bersahabat, labil, memiliki tempramen tinggi merupakan
beberapa karakter akibat dari respon emosional. Hal tersebut
menunjukkan bahwa siswa yang memiliki empati rendah dan impulsif
memiliki kecenderungan untuk melakukan bullying daripada siswa
dengan kepribadian yang pasif atau pemalu.
b. Komunikasi interpersonal siswa dengan orangtua
Pelajar dengan pola asuh otoriter atau keluarga terbiasa
menggunakan pola komunikasi sarkasme akan cenderung meniru dan
menerapkan apa yang sering ia dengar di rumah kemudian di terapkan di
sekolah ataupun di kesehariannya. Selain itu, kurangnya kehangatan,
17
kasih sayang, serta pengarahan dan dukungan dari orangtua akan
menambah kecenderungan siswa melakukan bullying.
c. Pengaruh dari kelompok teman sebaya
Kelompok teman sebaya yang melakukan hal-hal negatif seperti
seperti kekerasan, membolos serta rendahnya sikap menghormati guru
dan menghargai teman mampu mempengaruhi dan menjadikan kita
berperilaku serupa. Idealnya teman di sekolah menjadi rekan untuk saling
mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Namun, pada kenyataan banyak
siswa yang melakukan bullying akibat dorongan dari kelompok teman
sebayanya.
d. Iklim Sekolah
Tingkat pengawasan pihak sekolah menentukan intensitas
terjadinya peristiwa bullying. Sikap sekolah yang cenderung membiarkan
dan mengabaikan perilaku bullying menjadikan pelaku merasa apa yang
dilakukannya tidak melanggar dan boleh melakukan intimidasi pada
siswa lain yang kurang memiliki kekuatan. Minimnya pengawasan pihak
sekolah dapat dikaitkan dengan perilaku bullying di lingkungan pelajar.
Karakteristik sekolah yang mayoritasnya memiliki jenis kelamin yang
sama juga menjadi faktor terjadinya perlaku bullying di sekolah (Annisa,
2012).
Menurut Rigby (2013), ada dua faktor yang berpengaruh terhadap
bullying, hal itu dibedakan menjadi:
18
a. Faktor Internal (faktor dalam)
Berikut ialah beberapa contoh faktor internal yang menyebabkan
terjadinya perilaku bullying: religiusitas, regulasi emosi, kepribadian,
perasaan berkuasa, dan gender. Penjelasannya ialah sebagai berikut:
1) Religiusitas
Perasaan ini secara dasar diterjemahkan menjadi keyakinan
akan supranatural, hal suci, atau ilahi, dan praktek-praktek dan
lembaga yang terkait dengan keyakinan tersebut. Penjelasan dari
Jalaluddin (2016) menyebutkan melalui pendekatan psikologi
agama, bahwa hal religiusitas ini ialah bagian yang tak terpisahkan
dari bentuk psikologi dan agama itu sendiri. Agama dalam hal ini
merujuk kepada kelembagaan yang mengatur tata cara hubungan
manusia kepada Tuhan, sedangkan religiusitas lebih menitik
beratkan pada aspek perasaan/isi hati manusia. Contohnya apabila
seseorang memiliki unsur internalisasi agama dalam dirinya maka ia
tidak akan melakukan bullying sebab ajaran agama melarang
menyakiti orang lain.
2) Regulasi Emosi
Regulasi emosi memiliki pengaruh besar atas pemikiran dan
perilaku individu. Siswa dengan regulasi emosi yang baik dapat
mengatur pikiran dan sikapnya. Contohnya jika sedang merasakan
emosi negatif, maka siswa yang memiliki regulasi emosi baik dapat
bisa berfikir dengan akal sehat sehingga masih berperilaku sesuai
19
akal sehatnya. Secara umum, regulasi emosi yang baik terhadap
suatu ekspresi emosi negatif dapat meminimalkan perilaku bullying.
Sebaliknya jika seseorang dengan regulasi emosi yang rendah maka
ia tidak mampu mengontrol emosinya.
Seorang pelaku bully, menurut Usman, (2013) sebenarnya
mereka haus akan perhatian tapi mereka tidak bisa mengendalikan
respon diri terhadap emosi yang ada yang pada akhirnya berujung
pada perilaku bullying.
3) Kepribadian
Faktor kepribadian berkontribusi besar pada perilaku bullying
sebab seorang pelaku bullying memiliki kecenderungan pribadi
dengan sikap empati yang rendah, dominan, impulsif, dan kurang
bersahabat. Disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat emosi yang
tidak stabil dan tingkat keramahtamahan yang rendah mampu
menciptakan perilaku bullying. Dalam penelitian Soedjatmiko, dkk,
(2013) menyebutkan bahwa perilaku bullying dipengaruhi oleh
tingkat emosi yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, anak usia 9-
13 tahun memiliki kecenderungan menunjukkan perilaku suka
mengancam orang lain dan mengajak berkelahi.
4) Perasaan berkuasa
Alasan mengapa pelaku bullying melakukan bully disebabkan
oleh adanya perasaan berkuasa. Sebab pelaku bullying akan merasa
senang jika ditakuti siswa lain, ia akan bangga jika dinilai hebat oleh
20
siswa lain. Hal ini semata-mata dilakukan sebagai bentuk
memperoleh “perhatian“ lingkungan. Alasannya hanyalah merasa
puas jika ia dinilai “berkuasa” di kalangan teman sebayanya.
Dengan kata lain pelaku bullying merasa senang jika ia dapat
menguasai teman-teman lainnya dan ditakuti.
5) Gender
Gender atau jenis kelamin juga berpengaruh kepada perilaku
bullying dimana disebabkan oleh perbedaan dalam hal pola pikir dan
peerasaan. Gender laki-laki lebih mengutamakan logika dan
pikirannya dibandingkan dengan gender perempuan yang lebih
mengedepankan perasaan, sehingga pelaku bullying lebih banyak
dilakukan oleh gender laki-laki dari pada gender perempuan , karena
ada perasaan tidak nyaman untuk tidak menyakiti orang lain.
Seperti penelitian yang dilakukan oleh Rigby terhadap 200
siswa di sekolah menengah pertama dan 200 siswa sekolah
menengah atas di Adelaide Region in South Australia menemukan
fakta bahwa pelaku bullying cenderung dimotori oleh siswa laki-laki
dibanding siswa perempuan dan pelaku berasal dari keluarga yang
broken home. Perilaku bullying yang ditimbulkan contohnya:
menendang dan mengancam (Usman, 2013).
b. Faktor eksternal
Beberapa faktor luar (eksternal) yang berpengaruh atas timbulnya
perilaku bullying menurut Wiyani (2014) antara lain:
21
1) Senioritas (Perbedaan kelas), strata ekonomi, dan etnisitas atau
rasisme.
Secara dasar, bahwa perilaku bullying muncul akibat adanya
perbedaan individu baik secara ekstrim atau tidak yang tidak dapat
disikapi dengan baik.
a) Perbedaan strata ekonomi dalam status keluarga dapat memicu
perilaku bullying.
b) Etnisitas atau rasisme berkaitan dengan adat atau kebiasaan suatu
daerah. Pada sebagian etnis minoritas, segala macam bentuk
perbedaan dapat saja menjadi pemicu munculnya kejadian
bullying.
2) Lingkungan keluarga
Pertumbuhan dan perkembangan individu secara awal dibentuk
dari keluarga sebagai lingkungan sosial pertama. Kompleksitas
masalah keluarga seperti rendahnya komunikasi antar orangtua dan
anak, ketidakhadiran ayah, ibu, broken home, orangtua yang tidak
harmonis serta ketimpangan sosial ekonomi menjadi penyumbang
tindakan agresi yang signifikan.
3) Situasi sekolah yang tidak harmonis atau diskriminatif
Keadaan sekolah denga penerapan disiplin yang kaku, rendahnya
pemantauan serta bimbingan etika dari tenaga pengajar di sekolah
hingga peraturan yang tidak konsisten dapat menjadi pemicu terjadinya
bullying.
22
4) Lingkungan teman sebaya
Sejatinya usia remaja lebih banyak menghabiskan waktu dengan
teman sebaya (peers). Kelompok ini sangat berpengaruh pada perilaku
remaja sebab memiliki tingkat usia dan kedewasaan yang sama
sehingga interaksi remaja lebih banyak terjadi pada kelompok ini.
Lingkungan teman sebaya lebih memiliki ikatan emosional yang tinggi
sebab remaja banyak menghabiskan waktunya dalam berinteraksi,
bertukar pikiran, dan pengembangan dalam kehidupan sosial dan
pribadinya pada lingkungan sebaya. Kelompok teman sebaya memiliki
pengaruh yang cukup besar dalam kemunculan perilaku bullying di
sekolah. Jika remaja banyak berinteraksi dengan teman sebayanya yang
pelaku bullying maka ia cenderung untuk melakukan perilaku bullying
juga.
Menurut Usman (2013) jika kita berteman dengan kelompok
teman sebaya yang bermasalah di sekolah seperti teman yang suka
membolos, cabut jam pelajaran, tidak menghormati guru, suka
menghina teman yang lemah, maka kita juga cenderung melakukan hal
serupa dengan teman kita tersebut. Sejatinya teman di lingkungan
sekolah harusnya bisa kita jadikan sebagai “partner” dalam proses
pencapaian cita-cita pendidikan. Secara umum faktor-faktor yang
mempengaruhi bullying dipicu oleh faktor internal dan faktor eksternal.
23
B. Pola Asuh
1. Pengertian Pola Asuh
Padanan kata pola asuh tersusun atas dua kata yaitu pola dan asuh.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2010), pola adalah model, sistem,
atau cara kerja, sedangkan asuh adalah “menjaga, merawat, mendidik,
membimbing, membantu, melatih, dan sebagainya”. Arti kata orang tua
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2010) adalah orang yang
mengemban tanggung jawab atas satu keluarga atau tugas rumah tangga,
dalam kehidupan sehari-hari orang tua disebut bapak dan ibu.
Pola asuh atau parenting style adalah penjabaran sikap atau perlakuan
yang digunakan orang tua dalam hal mengasuh anak (Yusuf, 2010). Pola
asuh ialah interaksi orang tua dan anak yang berisikan nilai-nilai, norma
sosial, edukasi, wawasan, pengayoman, kedisiplinan, kemandirian, dan
perlindungan dalam menumbuhkan nilai dewasa pada anak (Shochib, 2010).
Gunarsa (2010) mengemukakan bahwa “Pola asuh merupakan metode
pendidikan untuk mendidik anak dan memperlakukan anak”. Dalam hal ini
pendidik ialah orang tua khususnya ayah dan ibu atau wali. Dariyo (2011)
menyebutkan definisi pola asuh ialah cara yang ditempuh orang tua dalam
memperlakukan, memberi didikan, memberi bimbingan, dan menerapkan
nilai disiplin serta melindungi anak hingga anak dewasa, atau hingga anak
sesuai dengan norma-norma yang diharapkan oleh masyarakat kebanyakan.
24
Lain halnya Thoha (1996) menyebutkan “Pola Asuh ialah cara
mendidik orang tua yang dinilai baik untuk memberikan pendidikan pada
anak sebagai wujud dari rasa tanggung jawab orang tua kepada anak”.
Pola asuh ialah sebuah sikap interaksi orang tua dan anak ditinjau dari
beberapa sudut pandang, antara lain: cara orang tua menerapkan aturan pada
anak, pemberian reward and punishment, cara orang tua menunjukkan
otoritas dan cara memberikan perhatian dan tanggapan terhadap keinginan
anak baik secara langsung ataupun tidak langsung menurut Kohn (dalam
Thoha, 1996).
Secara umum sesuai uraian di atas dapat kita simpulkan: pola asuh
orang tua ialah proses langsung atau tidak langsung dalam berinteraksi
antara orang tua dan anak.
2. Jenis-Jenis Pola Asuh
a. Pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter merupakan pola asuh orang tua untuk mengatur
perilaku dan sikap anak melalui perintah yang tidak boleh dibantah. Pola
asuh ini mengedepankan aturan atau standar perilaku yang dituntut untuk
diikuti dan tidak boleh dipertanyakan. Anak harus tunduk dan patuh
pada kata-kata atau aturan orang tua. Orang tua tak segan memberikan
hukuman atas setiap perilaku yang bertentangan dengan aturan yang telah
ada (Wong, dkk, 2009).
Orang tua otoriter memiliki penilaian mengenai aturannya
merupakan sikap yang cocok bagi anak, jadi harus diperlakukan sesuai
25
nilai yang telah dianut sebelumnya (Yuniantun, 2009). Efek samping dari
penerapan pola asuh otoriter ialah adanya tekanan fisik maupun mental
yang dirasakan anak, anak merasa kurang happy, tidak bersemangat, suka
menyalahkan diri, gampang putus asa, kurang inisiatif, tidak tegas, ragu
dalam berpendapat, dan keterampilan berkomunikasi yang buruk
(Santrock, 2007).
b. Pola asuh permisif
Pola asuh orang tua dengan sedikit hingga tidak ada kontrol sama
sekali atas tindakan anaknya disebut juga dengan permisif (Wong, dkk,
2009). Dalam pengasuhan orang tua yang seperti ini, orang tua lebih
sering membiaran anak semaunya dan hasilnya adalah selalu berharap
keinginannya diikuti dan tidak mampu mengendalian perilakunya sendiri
(Santrock, 2007). Penerapan pola asuh ini biasanya dilandasi oleh
pengalaman orang tua pada masa remaja dulu sehingga mereka tidak
ingin terlibat konflik dengan anak remajanya (Surbakti, 2009).
c. Pola asuh demokratis
Pola asuh demokratis ialah penggabungan dari praktik mengasuh
anak menurut pola asuh otoriter dan permisif. Orang tua berinteraksi
secara seimbang dengan membimbing perilaku dan sikap anaknya supaya
tidak menyimpang. Sikap menghargai hak anak dan mengizinkan anak
berpendapat tapi tetap dalam batas kontrol dari orang tua yang kuat dan
konsisten sejalan dengan dukungan, pengertian dan keamanan yang
diberikan dari orang tua (Wong, dkk, 2009).
26
Sikap memberikan dukungan atas respon sikap positif anak, lebih
hangat dalam bersikap pada anak, memperlihatkan kasih sayang dan
keseimbangan dalam menegakkan aturan pada anak, ialah bentuk pola
asuh orang tua yang demokratis. Anak yang tumbuh dan berkembang
dalam pengasuhan orang tua yang demokratis akan menjadi anak yang
bahagia, ceria, dapat mengontrol emosi dan baik dalam hal pengendalian
diri, mandiri, berprestasi, dan tangguh dalam mengatasi stres. Anak juga
dapat membina hubungan yang baik dengan lingkungan pertemanannya
dan dapat menunjukkan sikap menghormati kepada orang yang lebih tua
(Santrock, 2007).
d. Pola asuh uninvolved atau mengabaikan
Dalam pola asuh ini, orang tua memiliki karakteristik yang kurang
terlibat dalam hidup anak dan terkesan cuek. Prioritas utama orang tua
bukanlah mengenai anak. anak-anak dalam pengasuhan uninvolved ini
biasanya tidak mampu melakukan hal secara mandiri, secara sosial
mereka dinilai kurang cakap, sulit mengendalikan emosi diri, tidak
berorientasi pada prestasi. Pengasuhan uninvolved ini dapat melahirkan
anak yang anti sosial dengan frekuensi yang tinggi. Sehingga anak-anak
dalam pengasuhan seperti ini biasanya adalah anak-anak yang belum
matang, sulit diatur, dan suka melakukan hal yang baik menurut
pandangan mereka saja tanpa mempertimbangkan aturan sosial yang ada
(Arisandi, 2011).
27
Berikut ialah beberapa jenis pola asuh menurut Hourlock (dalam
Thoha, 1996) yakni :
a. Pola Asuh Otoriter
Pengasuhan ini memiliki ciri: orang tua mengasuh secara ketat,
memaksakan aturan, menuntut anak untuk harus mengikuti perintaah
orang tua, bertindak terbatas dan tidak dibebaskan untuk melakukan
sikap sesuai pemikiran anak sendiri.
b. Pola Asuh Demokratis
Pengasuhan ini memiliki ciri: adanya perlakuan yang sehat antara
orang tua-anak, dimana orang tua mengakui akan kemampuan anak,
anak-anak mendapatkan peluang untuk dapat melakukan kegiatan secara
mandiri namun tetap bertanggung jawab.
c. Pola Asuh Permisif
Pengasuhan ini memiliki ciri: kebebasan tak terbatas bagi anak,
anak dinilai sebagai pribadi yang sudah dewasa dimata orang tua mereka
sehingga anak mendapat banyak kelonggaran dan dapat mengekspresikan
dirinya sesuka hati.
Lain halnya Baumrind (dalam Dariyo, 2011) yang membedakan pola
asuh orang tua kedalam empat bentuk, antara lain:
a. Pola Asuh Otoriter (parent oriented)
Pengasuhan seperti ini lebih menitik beratkan kepada kepatuhan
dan ketaatan terhadap aturan orang tua tanpa pengecualian. Orang tua
28
bebas bertindak tanpa melihat dari sisi anak. anak wajib untuk menuruti
perintah orang tua tanpa bantahan jika tidak ingin memperoleh hukuman.
b. Pola Asuh Permisif
Pengasuhan seperti ini bersifat children centered artinya semua
peraturan yang diterapkan dalam keluarga berada di bawah kendali anak.
semua kemauan anak dituruti, diikuti diizinkan oleh orang tua sesuai
keinginan anaknya.
c. Pola Asuh demokratis
Pengasuhan seperti ini menekankan pada kesejajaran atau
keseimbangan orang tua-anak. Semua keputusan dirembukkan bersama,
dipertimbangkan bersama. Anak mendapatkan kebebasan namun tetap
harus bertanggung jawab atas sikap mereka sehingga anak masih dapat
diawasi, dan berada dalam pemantauaan orang tua sehingga secara moral
orang tua dan anak dapat saling mempertanggungjawabkan sikap
masing-masing.
d. Pola Asuh Situasional
Pengasuhan seperti ini menitik beratkan pada keadaan tertentu,
atau bersifat situasional. Semua tipe pengasuhan dalam pola asuh ini
dapat digunakan, misalnya terkadang orang tua cenderung otoriter namun
dilain waktu orang tua terkesan permisif bahkan demokratis terhadap
anak. jadi dalam hal ini pengasuhan orang tua lebih melihat kepada
situasi yang berlangsung saat itu.
29
Interaksi orang tua-anak menurut Baumrind (dalam King, 2010) ada
empat cara:
a. Pola Asuh Authoritarian
Pengasuhan seperti ini menitik beratkan pada pembatasan serta
hukuman. Artinya orang tua menuntut anak agar dapat mengikuti aturan
yang dibuat oleh orang tua serta anak harus bisa menghargai kerja keras
serta usaha. Pengasuhan authoritarian secara gamblang memberikan
batasan dan mengontrol anak melalui sikap sedikit berdiskusi.
b. Pola asuh Authoritative
Pengasuhan seperti ini menuntut anak mandiri tapi tetap tetap
dalam batasan dan kendali orang tua. Orang tua mengijinkan adanya
diskusi dengan anak dan masih memperlihatkan hubungan yang hangat
dalam mengasuh anak.
c. Pola Asuh Neglectful
Pengasuhan seperti ini menitikberatkan pada kebebasan tanpa
batas, di mana kehidupan anak tanpa melibatkan keberadaan orang tua
seolah tak perduli kepada anak. Anak-anak dalam pengasuhan neglectful
biasanya merasa tertolak atau tidak diinginkan.
d. Pola Asuh Indulgent
Pengasuhan seperti ini masih memperlihatkan keterlibatan orang
tua tetapi dalam kadar yang kecil, dimana orang tua sedikit memberikan
batasan pada anak. Orang tua cenderung membebaskan anak-anak
melakukan keinginannya.
30
Tiga cara mendidik anak-anak menurut Dariyo (2011) antara lain:
a. Pola Asuh Otoriter
Pengasuhan otoriter bercirikan adanya pengaturan yang kaku dari
orang tua. Pembatasan terhadap kebebasan anak, perilaku yang
dipaksakan membuat anak merasa tidak nyaman, anak harus patuh
terhadap aturan yang dibuat orang tua, jika ada pelanggaran maka anak
akan mendapatkan hukuman fisik.
b. Pola Asuh Demokratis
Pengasuhan demokratis memiliki ciri adanya keterbukaan antara
orang tua-anak. Peraturan dibuat atas dasar persetujuan bersama.
Pengasuhan ini membebaskan anak dalam berpendapat, menghargai
perasaan anak serta mengajari anak menanggapi pendapat orang lain.
c. Pola Asuh Permisif
Pengasuhan ini bercirikan adanya kebebasan anak dalam bersikap,
berprilaku sesuai kehendaknya. Tidak ada aturan dari orang tua dan
setiap keputusan berada ditangan anak sendiri. Tidak ada aturan dan
arahan orang tua. Setiap keputusan diambil oleh anak tanpa melibatkan
campur tangan orang tua.
Ahmadi (2016) mengemukakan empat macam pola asuh yang
dilakukan orang tua dalam keluarga, yaitu :
a. Autokratis (Otoriter)
Bercirikan adanya peraturan yang kaku dari orang tua dan sangat
membatasi kebebasan anak.
31
b. Demokratis
Bercirikan adanya keterbukaan hubungan orang tua dan anak.
c. Permisif
Bercirikan adanya kebebasan tanpa batas pada anak dalam
berprilaku sesuai kehendaknya.
d. Laissez faire
Bercirikan sikap acuh tak acuh orang tua kepada anaknya.
Dapat disimpulkan bahwa secara garis besar bentuk-bentuk pola
asuh yang ada memiliki kemiripan satu sama lain, contohnya saja
pengasuhan otoriter mirip dengan authoritarian, yang mengedepankan
sikap patuh berlebihan akan aturan yang dibuat orang tua, menuntuk nilai
kedisiplinan yang tinggi dan kaku. Begitu juga halnya dengan pola asuh
authoritative yang mirip dengan demokratis yang menitikberatkan
keterbukaan hubungan orang tua-anak. Pengasuhan neglectful mirip
indulgent, atau permisif dan laissez faire dalam hal ini orang tua
memiliki kecenderungan tidak mau ikut campur, membiarkan dan
membebaskan, atau acuh kepada semua urusan anak. Dalam hal ini orang
tua menuruti setiap keinginan anak dan memperbolehkannya.
Berdasarkan atas macam-macam pola pengasuhan orang tua yang
telah disebutkan di atas, secara umum ada dua pola asuh orang tua yang
umum diterapkan sehari-hari. Sesuai dengan penelitian ini yang
menggunakan skala pengukuran guttman dimana pada skala guttman
menyajikan jawaban secara tegas seperti pernyataan “ya- tidak”, “pernah-
32
tidak pernah” dan sebagainya. Dihubungkan dengan penelitian ini, hal ini
sejalan dengan keterangan yang telah dijelaskan oleh beberapa ahli, salah
satunya menurut Hurlock. Variabel pola asuh disesuaikan dengan skala
pengukuran guttman maka dapat kita kategorikan menjadi pola asuh
otoriter dan pola asuh non otoriter (demokratis dan permisif).
Mengenai keterangan lebih lengkap tentang kedua pola asuh
tersebut dijabarkan sebagai berikut:
a. Pola Asuh Otoriter
Pengasuhan otoriter memusatkan kehendak atau aturan orang
tua yang dijadikan sebagai pedoman wajib untuk dituruti oleh anak
Dariyo (2011). Memberikan hukuman yang berat dalam menciptakan
kepatuhan anak menjadi hal yang lumrah pada pola pengasuhan
otoriter. Pada pola asuh ini, orang tua membuat sendiri aturan dan
batasan pengasuhan tanpa melibatkan pembicaraan dengan anak
namun anak wajib untuk mentaati segala peraturan yang ada. Sebagai
orang tua atau yang berkuasa dalam menetapkan segalanya sehingga
anak hanya dianggap sebagai objek yang wajib mematuhi kehendak
mereka, melaksanakan tanpa adanya keluhan dan tuntutan dari pihak
anak. Apabila ada bantahan atau keluhan maka orang tua dengan
gampang untuk menghukum anaknya seperti hukuman fisik.
Seperti pemaparan Thoha (1996) bahwa: pengasuhan yang
otoriter dicirikan dengan adanya hukuman, peraturan yang ketat
terhadap anak dan berlaku bukan hanya pada usia anak-anak atau
33
remaja tetapi hingga anak dewasa. Anak akan terus dianggap anak-
anak oleh orang tua sehingga apapun yang dikemukakan oleh anak
selalu dinilai salah, kurang tepat oleh orang tua karena anak tidak
memiliki pengalaman yang cukup lama seperti halnya pengalaman
orang tua. Pengasuhan seperti ini akan menciptakan anak dengan sifat
ragu-ragu, memiliki mental yang lemah, memiliki kepribadian yang
rendah, tidak mampu menentukan dan mengambil keputusan dalam
hidup secara mandiri.
Jadi, dalam hal ini kebebasan anak sangat dibatasi oleh orang
tua, apa saja yang akan dilakukan oleh anak harus sesuai dengan
keinginan orang tua. Jika anak membantah perintah orang tua maka
akan dihukum, bahkan mendapat hukuman yang bersifat fisik dan jika
patuh orang tua tidak akan memberikan hadiah.
b. Pola asuh non otoriter
Pada pengasuhan non otoriter didalamya termasuk pola asuh
permisif yang memberikan ruang luas pada anak ditandai dengan
adanya kebebasan pada anak dalam bersikap sesuai keinginannya
sendiri atau pola asuh demokratis yang memiliki ciri hubungan yang
terbuka antara orang tua-anak. Anak bebas berpendapat, menunjukkan
perasaan, dan keinginannya serta mau belajar menanggapi pendapat
orang lain.
34
3. Aspek Pola Asuh
Menurut Octarianty (2014), pola asuh otoriter memiliki beberapa
aspek antara lain:
a. Over protection, indikatornya: memberikan bantuan terus menerus pada
remaja yang telah mampu.
b. Mengawasi kegiatan remaja secara berlebihan indikatornya:
memaksakan kehendak berlebihan.
c. Dominasi, indikatornya: mendominasi anak.
d. Terlalu disiplin, indikatornya: mudah memberikan hukuman,
memberikan disiplin secara keras.
Berdasarkan pendapat dari Irawan (2019) aspek pola asuh adalah
sebagai berikut:
a. Aspek batasan perilaku (behavioral guidelines)
Dalam hal ini orangtua sangat kaku dan bersifat memaksa. Sejak
kecil anak dibiasakan dengan adanya batasan-batasan, seperti
pembatasan berdiskusi atau mengemukakan pendapat anak. Adapun
metode yang dipilih dalam menerapkan peraturan orang tua adalah
dengan memaksakan kehendak secara diktator dan sering menggunakan
hukuman secara berlebihanjika dijumpai peraturan yang tidak
diindahkan oleh anak. Adapun tujuan dari pola asuh ini untuk
mengontrol tanpa mengembangkan hak anak.
b. Aspek kualitas hubungan emosional orangtua-anak (emotional quality
of parent-child relationship)
35
Pada pengasuhan anak ini tidak terlalu dekat dengan orang tua
mereka, dimana aspek individualisasi anak tidak diakui dalam proses
pengasuhan ini. Adapun kedekatan yang tercipta dari pengasuhan
seperti ini hanya bersifat semu sebagai dampak dari rasa takut jika anak
membantah perintah orang tua mereka dan mengenyampingkan
keinginan untuk tumbuh dan berkembang pada anak.
c. Aspek perilaku mendukung (behavioral encouraged).
Dalam aspek ini, orang tua cenderung mengontrol dan mengawasi
anak ketimbang mendukung anak. Anak dituntut untuk bisa berfikir
sendiri dalam mencari jalan keluar masalah yang dihadapi anak. orang
tua tidak mau anaknya memiliki perilaku yang jelek dan
memerintahkan anaknya untuk berperilaku baik tanpa menjelaskan
tujuan berprilaku atau lebih memerintahkan anak untuk berbuat sesuatu
dalam penyelesaian masalah anak itu sendiri.
d. Aspek tingkat konflik orangtua – anak (levels of parent-child conflict).
Keberadaan kontrol yang berlebihan tanpadisertai dengan adanya
bonding serta perasaan saling menghormati, menyayangi dan menjaga
dari orang tua kepada anak dapat memicu terjadinya pemberontakan
pada diri anak. secara garis besar, pengasuhan ini bisa memicu banyak
konflik antara orangtua dengan anak walaupun hal itu tidak dinyatakan
secara langsung.
36
4. Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh
Beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua menurut
Usman (2013), yaitu sebagai berikut:
a. Lingkungan tempat tinggal
Pola asuh juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan tempat
tinggal. Hal ini akan mempengaruhi cara pandang orang tua dalam
menerapkan pola asuh. Dapat dilihat contohnya pada keluarga yang
berdomisili di kota besar maka akan banyak mengontrol, mengatur
kehidupan anak karena adanya perasaan khawatir sehingga orang tua
akan melarang jika anaknya pergi sendirian. Tentu saja kenyataannya
menjadi berbeda jika keluarga tersebut berasa di desa karena tidak perlu
terlalu dikhawatirkan mengingat tingkat kejahatan di desa lebih kecil dari
pada di kota sehingga orang tua di pedesaan tidak terlalu khawatir jika
anak-anaknya pergi kemana-mana sendirian.
b. Sub kultur budaya
Budaya disuatu tempat akan mampu memberi pengaruh pada pola
pengasuhan masyarakat yang tinggal did alamnya. Sebagai contoh
orangtua di Amerika Serikat memiliki budaya berdiskusi dengan anak,
dimana mereka mengijinkan anak bertanya tentang tindakan dan aturan
yang diterapkan orang tua kepada anak. Anak juga dilibatkan dan diberi
ruang dalam mengemukakan pendapat atau menyampaikan argumen
mengenai aturan dan standar moral.
37
c. Status sosial ekonomi
Status sosial ekonomi juga memiliki andil dalam pola pengasuhan
anak. status sosial ekonomi mempengaruhi cara pandangan mengenai
cara mengasuh anak yang tepat dan dapat diterima, contohnya: orang tua
dengan status sosial ekonomi kelas lebih menuntut kesopanan anak, anak
harus ikut aturan mutlak dibanding orang tua dari kelas menengah keatas
yang lebih mengedepankan diskusi. Demikian halnya dengan orang tua
dari kelas buruh yang bisa menghargai penyesuaian dengan standar
eksternal, sedangkan orangtua dari kelas menengah lebih menekankan
pada penyesuaian dengan standar perilaku yang sudah terinternalisasi.
Rigby (2010) mengutip beberapa faktor yang mempengaruhi pola
asuh antara lain:
a. Latar belakang orang tua
1) Hubungan ayah dan ibu seperti bagaimana cara mereka
berkomunikasi, pihak mana yang lebih dominan dalam keluarga, siapa
pengambil keputusan dalam keluarga dan siapa yang menjadi pencari
nafkah utama dalam keluarga.
2) Keadaan keluarga, seperti: banyaknya jumlah anggota keluarga dan
jenis kelamin yang ada di keluarga.
3) Keadaan keluarga dalam masyarakat meliputi kondisi sosial ekonomi,
tempat domisili keluarga (kota, desa, pinggiran).
38
4) Pribadi orang tua meliputi: seperti apa tingkat intelegensia orang tua,
seperti apa hubungan sosial serta nilai-nilai hidup yang dianut orang
tua.
5) Pandangan orang tua terhadap anak meliputi apa tujuan orang tua, arti
pola asuh orang tua bagi anak, tujuan menerapkan pola asuh tertentu,
misalnya: disiplin, hadiah, hukuman. Seperti apa bentuk penolakan
dan penerimaan orang tua, seperti apa sikap orang tua pada anak
apakah konsisten atau tidak konsisten, dan bagaimana harapan-
harapan orang tua terhadap anak.
b. Latar belakang anak
1) Karakteristik pribadi anak meliputi: kepribadian anak, keadaan fisik,
konsep diri, tingkat kesehatan anak, apa kebutuhan psikologis anak.
2) Pandangan anak terhadap orang tua meliputi seperti apa anak
memandang harapan orang tua kepadanya, seperti apa harapan anak
terhadap sikap orang tua yang diinginkannya, bagaimana pengaruh
figur orang tua bagi anak.
3) Sikap anak di luar rumah meliputi seperti apa hubungan sosial anak di
sekolah dan lingkungan bermainnya.
Adanya beberapa perbedaan dalam hubungan antara orang tua-anak
bisa disebabkan oleh: perbedaan nilai-nilai budaya, perbedaan pola
kepribadian, perbedaan sikap dalam hal pengasuhan, dan adanya peran
modelling, pengalaman orang tua dimasa lampau, anak mempelajari tentang
pengasuhan dari orang tuanya terdahulu, sehingga bisa dikatakan
39
pembentukan kepribadian seorang anak dipengaruhi oleh adanya pengaruh
dari pola asu orang tua terdahulu. Keluarga merupakan unit terkecil dan
menjadi lingkungan sosial pertama yang lekat dengan pertumbuhan dan
perkembangan anak. Orang tua memiliki tanggung jawab atas kesehatan
jasmani dan rohani pertumbuhan dan perkembangan anak.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang tua dalam
menerapkan pola asuh kepada anak-anaknya, yaitu :
a. Jenis pola asuh yang diterima orang tua sebelumnya
Pengalaman masa lalu dalam hal pola asuh yang diterima oleh
orang tua pada masa sebelumnya dinilai lebih baik dalam membentuk
kedewasaan untuk anak mereka, sehingga mereka akan menerapkan jenis
pola asuh yang sama pada anak-anaknya, tapi jika mereka mendapat
pengasuhan yang kurang tepat sebelumnya maka mereka akan mencari
atau mengganti pola asuh lain yang berbeda dengan pengalaman
sebelumnya (Santrock, 2008).
b. Kepribadian orang tua
Setiap orang berbeda dalam tingkat energi, kesabaran, intelegensi,
sikap, dan kematangannya. Karakteristik tersebut aan mempengaruhi
kemampuan orang tua untuk memenuhi tuntutan peran sebagai orang tua
dan bagaimana tingkat sensifitas orang tua terhadap kebutuhan anak-
anaknya (Santrock, 2008).
c. Usia orang tua
40
Usia orang tua yang masih muda biasanya lebih demokratis dan
permisif dari pada usia orang tua yang lebih tua cenderung mengatur
karena merasa banyak pengalaman dan lebih banyak makan asam garam
kehidupan. Pasangan orang tua usia yang lebih muda biasanya lebih
terbuka dan senang berdiskusi dengan anak sedangkan pasangan orang
tua usia yang lebih tua cenderung lebih keras dan bersikap otoriter
terhadap anak-anaknya, sebab lebih merasa memiliki banyak pengalaman
membuatnya menjadi lebih dominan dalam mengambil keputusan
(Kozier, dkk, 2010).
d. Jenis kelamin orang tua
Jenis kelamin orang tua juga mempengaruhi dalam peneerapan pola
asuh. Dimana ibu dinilai lebih bertanggung jawab dalam mengasuh anak
jadi biasanya ibu lebih memperhatikan anak dan ayah bertanggung jawab
untuk menanamkan nilai-nilai moral dan mengontrol perilaku anak
(Santrock, 2008).
e. Status ekonomi keluarga
Status ekonomi juga berpengaruh pada pemilihan pola asuh yang
digunakan dalam keluarga. Keluarga dengan ekonomi menengah ke
bawah biasanya lebih keras dalam mendidik anak. Keluarga ekonomi
kelas menengah lebih memberi pengawasan dan perhatian sebagai orang
tua. Sementara keluarga ekonomi kelas atas biasanya lebih sibuk untuk
urusan pekerjaan dan membuat anak merasa terabaikan (Yusuf, 2010).
f. Tingkat pendidikan
41
Tingkat pendidikan memiliki andil pada sikap orang tua dalam hal
memilih pengasuhan untuk anak. orang tua dengan pendidikan yang
tinggi, atau pernah mengikuti kursus mengasuh anak akan memilih pola
asuh demokratis jika dibandingkan dengan orang tua dengan pendidikan
rendah atau tidak mengetahui cara mengasuh anak (Hibana, 2002).
g. Usia anak
Usia remaja pada anak justru mendapat perhatian khusus dari orang
tua dan lebih diatur atau orang tua lebih otoriter dalam menghadapi anak
remaja dari pada anak kecil sebab usia anak yang masih kecil lebih patuh
daari pada usia remaja (Santrock, 2008).
h. Jenis kelamin anak
Jenis kelamin anak menjadi pertimbangan para orang tua dalam
melindungi anak mereka dari pengaruh luar. Anak perempuan atau
remaja perempuan mendapat proteksi yang lebih dari orang tua mereka.
Sebab anak perempuan lebih mudah lebih mudah untuk dipengaruhi oleh
lingkungan yang buruk serta bahaya yang mengancam (Santrock, 2008).
C. Hubungan Antara Pola Asuh dan Perilaku Bullying
Perilaku bullying di kalangan remaja bukanlah suatu hal yang baru dalam
dunia pendidikan sejak dahulu bahkan hingga sekarang. Perilaku bullying dapat
dilakukan secara verbal seperti mengejek, memaki, berkata kasar, secara fisik
seperti menampar, memukul, menendang, serta secara psikologis seperti
42
mengancam, meneror, meremehkan. Perilaku tersebut dilakukan secara
berulang-ulang kepada korban bullying.
Menurut Widayanti (2008) bullying merupakan merupakan salah satu
bentuk bully. Bentuk bullying secara verbal, fisik dan psikologis merupakan
pemicu yang dapat berakibat pada tindakan kekerasan. Perasaan sakit hati,
marah dan kecewa dari korban bullying menimbulkan keinginan untuk
membalas perbuatan yang sama. Menurut Ahmed dan Braithwaite (Wahyuni,
2014) perilaku bullying ini bukan hanya menjadi masalah sekolah yang serius,
tapi juga sudah menjadi masalah sosial. Bullying memiliki beberapa dampak
seperti mengakibatkan kerugian, tekanan, gangguan emosi, gangguan
perkembangan hingga remaja dan dewasa pada anak yang menjadi korban.
Pelaku bullying juga cenderung melakukan tindakan kriminal saat dewasa.
Berdasasrkan penelitian yang dilakukan oleh Putri (2017) dalam
penelitiannya yang berjudul pola asuh ibu dengan perilaku bullying pada siswa
SMK, hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan pola asuh non
otoriter dengan jumlah terbanyak memiliki perilaku non bullying yaitu 23
orang (71,9%) sedangkan responden dengan pola asuh otoriter dengan jumlah
terbanyak memiliki perilaku bullying yaitu 29 orang (67,4%). Nilai p value
yang didapat adalah 0,003 yakni lebih kecil daripada 0,05. Berdasarkan analisa
ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola asuh
ibu dengan perilaku bullying. Dari nilai OR yang diperoleh dapat disimpulkan
bahwa ibu yang menerapkan pola asuh otoriter memiliki peluang 5,294 kali
lebih besar untuk anak berperilaku bullying dibandingkan dengan ibu yang
43
menerapkan pola asuh otoritatif. Sedangkan ibu dengan pola asuh permisif
memiliki peluang 3,833 kali
Penelitian lain yang dilakukan Ramadia (2019) dalam penelitiannya yang
berjudul analisis pola asuh orang tua terhadap kejadian perilaku bullying pada
remaja di SMK Negeri Kota Bukit Tinggi menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying remaja di SMK
Negeri Kota Bukittinggi dengan uji chi-square menghasilkan p-value sebesar
0,001. Dimana pola asuh otoriter cenderung meningkatkan perilaku bullying
dikalangan anak.
Marlinda (2014) dalam penelitiannya yang berjudul hubungan pola asuh
orangtua yang otoriter dengan perilaku bullying di sekolah menunjukkan
bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orang tua otoriter dengan perilaku
bullying nilai koefisien korelasi sebesar 0,500 artinya tingkat keeratan
hubungan kedua variabel ini termasuk dalam kategori sedang.
Penelitian yang dilakukan oleh Nabilah (2018) yang berjudul hubungan
antara pola asuh otoriter dengan perilaku bullying pada siswa sekolah
menengah atas menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara pola asuh
otoriter orang tua dan perilaku bullying pada siswa sekolah menengah atas.
Penelitian yang dilakukan oleh Husaini (2013) dalam judul penelitian
“Hubungan antara jenis persepsi pola asuh orang tua terhadap resiko perilaku
bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat” menunjukkan hasil p value
0,00 artinya ada hubungan antara jenis persepsi pola asuh orang tua terhadap
terhadap resiko perilaku bullying.
44
Penelitian yang dilakukan oleh Ntobuo (2018) dengan judul ”Hubungan
pola asuh orang tua terhadap perilaku bullying di SMA N 1 Bolangitan”
menunjukkan hasil: sebagian besar pola asuh orang tua dalam kategori positif
sebanyak 75%, sebagian besar perilaku bullying dalam kategori rendah yaitu
sebanyak 81,3 %, analisis bivariat menunjukkan ada hubungan hubungan pola
asuh orang tua terhadap perilaku bullying di SMA N 1 Bolangitan ditandai
dengan nilai P value = 0,000.
Penelitian yang dilakukan oleh Susilo (2015) dengan judul “Pola asuh
otoriter orang tua dan sikap terhadap bullying pada siswa kelas XI di SMA
Negeri 5 Depok”. Adapun hasil penelitiannya menunjukkan: 82% siswa yang
mendapat pola asuh otoriter orang tua yang rendah dan 17% siswa mendapat
pola asuh otoriter orang tua yang tinggi. Pada hasil analisis variabel sikap
terhadap bullying menunjukkan bahwa 87% siswa yang memiliki sikap
terhadap bullying yang rendah dan 12% siswa yang memiliki sikap terhadap
bullying yang tinggi. Ada hubungan positif yang signifikan antara pola asuh
otoriter orang tua dengan sikap terhadap bullying pada siswa kelas XI SMA
Negeri 5 Depok ( p value < 0,001).
Berdasarkan pada uraian diatas tampak dinamika psikologi antara pola
asuh dengan perilaku bullying yaitu pola asuh otoriter yang tinggi dapat
membuat anak cenderung berperilaku bullying di sekolah. Pola asuh otoriter
menitik beratkan pola asuh yang cukup keras dimana anak harus
mendengarkan peraturan dari orang tua tanpa terkecuali. Pengasuhan ini
terkesan kaku mengatur anak dalam setiap kehidupannya sehingga dapat
45
menciptakan anak “takut” terhadap orang tua, tentu saja ini berdampak pada
psikologis anak dapat membuat anak menjadi tidak kreatif, membuat anak
menjadi seorang “penakut” sehingga bisa menjadi korban bullying atau
menjadikan anak sebagai pemberontak yang selalu melanggar aturan dan
pelaku bullying yang menjadikan temannya sebagai sarana “balas dendam”
akibat emosinya terhadap pola asuh orang tua yang diterimanya di rumah.
D. Hipotesis
Sesuai dengan uraian teoritik yang telah dijabarkan sebelumnya,
sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “ada hubungan
antara pola asuh otoriter dengan perilaku bullying”. Semakin otoriter pola asuh
maka semakin tinggi perilaku bullying dan sebaliknya.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, maksudnya adalah
pendekatan yang didominasi oleh data numerik dalam analisis statistik. Sesuai
dengan keterangan serta derajat variabel, penelitian ini memiliki sifat asosiatif
kasual, yakni penelitian dengan tujuan menjelaskan ada tidaknya hubungan,
pengaruh sebab akibat dalam hal ini ingin mengetahui adanya hubungan antara
variabel pola asuh otoriter dengan perilaku bullying. Variabel penelitian ini
terdiri dari dua variabel, yaitu: variabel bebas yaitu pola asuh otoriter (X) dan
variabel terikat yaitu perilaku bullying (Y).
B. Identifikasi Variabel Penelitian
Guna menghindari kerancuan pemahaman tentang variabel-variabel
dalam penelitian ini, maka perlu diidentifikasi secara jelas penentuan variabel-
variabel apa saja yang menjadi perhatian dalam penelitian ini. Adapun variabel
dalam penelitian ini ialah:
Variabel bebas (X) : pola asuh otoriter
Variabel terikat (Y) : perilaku bullying
46
47
C. Definisi Operasaional Variabel Penelitian
Definisi operasional ialah suatu teknik guna mendefinisikan variabel
secara operasional berdasarakan faktor-faktor yang akan diamati, dalam
kesempatan ini membantu peneliti dalam lakukan pengamatan atau pengukuran
dengan tepat dan teliti akan suatu objek atau fenomena.
1. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter otoriter adalah pengaturan orang tua terhadap anak
meliputi aspek mendidik anak, membimbing, memperlakukan anak,
mendisiplinkan anak dalam mencapai proses kedewasaan. Pola asuh otoriter
diukur dengan menggunakan skala pola asuh otoriter yang disusun oleh
Ntobuo (2018). Bedasarkan aspek-aspek pola asuh otoriter yang
dikemukakan oleh Ntobuo (2018)., Semakin besar skor skala maka semakin
tinggi pola asuh otoriter yang diperoleh siswa, begitu juga sebaliknya.
2. Perilaku Bullying
Perilaku bullying ialah tindakan sengaja yang dilakukan untuk
menunjukkan sikap dominan terhadap siswa lain yang dianggap “lemah”
(Usman, 2013). Perilaku bully dianalisa memakai skala perilaku bully sesuai
dengan yang dijelaskan oleh Ntobuo (2018). Sesuai dengan aspek-aspek
perilaku bully yang dikemukakan oleh Ntobuo (2018). terdiri dari aspek
fisik, verbal dan psikologis. Semakin besar skor skala menunjukkan
semakin besar perilaku bullying, begitu juga sebaliknya.
48
D. Subjek Penelitian-
1. Populasi Penelitian
Populasi ialah semua subjek penelitian atau objek yang diteliti
(Saryono, 2009). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah sebagian dari
siswa/siswi SMPN 1 Pangkalan Kuras Sorek yang memenuhi kriteria inklusi
penelitian seperti: siswa hadir saat penelitian berlangsung, bisa mengisi
kuesioner, kooperatif. Adapun jumlah populasi atau jumlah seluruh siswa
dari kelas 7, kelas 8 dan kelas 9 semuanya sebanyak 989 siswa yang
bersekolah di SMPN 1 Pangkalan Kuras Sorek untuk tahun ajaran
2019/2020.
2. Sampel Penelitian
Yang disebut dengan sampel penelitian merupakan bagian dari
populasi penelitian yang dapat mewakili karakteristik populasi yang ada
(Saryono, 2009). Sampel tersusun atas bagian populasi terjangkau yang bisa
dipakai sebagai subjek yang diambil menggunakan teknik sampling.
Berdasarkan data di SMPN 1 Pangkalan Kuras Sorek diketahui rincian
jumlah siswa perkelas untuk kelas VII, kelas VIII dan kelas XI adalah
seperti berikut:
49
Tabel 3.1 Rincian jumlah siswa perkelas untuk kelas VII, kelas
VIII dan kelas XI di SMPN 1 Pangkalan Kuras Sorek
Kelas VII (298 orang) Kelas VIII (354 orang) Kelas IX (337 orang)
VII A 30 orang VIII A 35 orang IX A 29 orang
VII B 30 orang VIII B 36 orang IX B 28 orang
VII C 30 orang VIII C 34 orang IX C 31 orang
VII D 30 orang VIII D 34 orang IX D 30 orang
VII E 30 orang VIII E 36 orang IX E 30 orang
VII F 30 orang VIII F 35 orang IX F 32 orang
VII G 30 orang VIII G 36 orang IX G 30 orang
VII H 30 orang VIII H 36 orang IX H 31 orang
VII I 28 orang VIII I 36 orang IX I 31 orang
VII J 30 orang VIII J 36 orang IX J 32 orang
IX K 33 orang
Jumlah 298 orang Jumlah 354 orang Jumlah 337 orang
TOTAL 989 orang
Adapun untuk mengetahui besar sampel yang akan diteliti yaitu
melalui rumus berikut:
n = N
1 + N (d) ²
= 989
1 + 989 (0,05)2
= 989
3,4725
= 285 siswa/siswi
Keterangan:
n = Besar sampel yang akan diteliti yaitu 285 orang siswa/siswi
N= Besar Populasi peneliti yaitu 989 orang siswa/siswi
d = nilai simpangan pada suatu populasi atau derajat ketepatan yang
diinginkan, pada penelitian ini besar nilai d = 5%
1 = Konstanta (Rumus Slovin dalam Notoatmodjo, 2013)
50
Setelah dilakukan perhitungan menurut rumus maka didapatkan besar
sampel minimal adalah 285 orang siswa/siswi.
Sampel penelitian adalah siswa/siswi SMPN 1 Pangkalan Kuras Sorek
yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Adapun teknik pengambilan
sampel dilakukan secara accidental sampling artinya cara menentukan
sampel secara insidental, yakni responden secara kebetulan berjumpa
peneliti lalu dilanjutkan menjadi sampel jika dinilai memenuhi kriteria
penelitian.
E. Metode Pengumpulan Data
Cara mengumpulkan data merupakan proses pendekatan kepada subyek
dan metode dalam menyusun karakteristik yang dibutuhkan pada sebuah
penelitian. Metode/tekhnik kumpulkan data dilakukan melalui komunikasi
langsung yaitu dengan mengajukan pertanyaan melalui kuesioner secara
tertulis bagi para siswa/siswi yang menjadi sampel penelitian. Penelitian ini
ialah sebuah penelitian kuantitatif yang dilakukan melalui teknik menyusun
data penelitian dengan memperhatikan kaidah-kaidah penelitian yang berlaku
salah satunya ialah skala penelitian.
Skala ukur yang dipakai pada penelitian ini disesuaikan menurut variabel
yang ada, dimana akan dijabarkan sebagai berikut:
1. Skala Pola Asuh Otoriter
Skala pengukuran yang dipakai dalam menilai pola asuh otoriter ialah
menggunakan skala pola asuh otoriter yang terdiri dari 20 aitem, dimana
51
dalam hal ini responden hanya dihadapkan dengan dua pilihan “setuju dan
tidak setuju” saja sehingga lebih memudahkan responden menjawab skala
dan memudahkan peneliti dalam mengelompokkan pola asuh otoriter
menjadi dua yaitu pola asuh otoriter atau tidak otoriter.
Tabel 3.2
Blueprint Pola Asuh Otoriter Sebelum Tryout
Aspek Indikator Favorable Unfavo Jumlah
rable
Over protection Memberikan 9, 12, 13 15,16 5
bantuan terus
menerus pada
remaja
Mengawasi Memaksakan 1,7,11 6,10 5
kegiatan remaja kehendak berlebihan
secara berlebihan
Dominasi, Mendominasi anak 4, 14, 17 5,8 5
Terlalu disiplin Mudah memberikan 2, 3, 18 19,20 5
hukuman/disiplin
secara keras
Total 12 8 20
Skala pola asuh otoriter telah diuji coba terhadap 285 siswa dan
diperoleh nilai koefisiensi reliabilitas dengan menggunakan KR-20 yaitu
sebesar 0,65882.
2. Skala Perilaku Bullying
Skala pengukuran yang digunakan dalam menilai perilaku bullying
ialah menggunakan skala perilaku bullying yang terdiri dari 21 aitem,
dimana dalam hal ini responden hanya dihadapkan dengan dua pilihan
“pernah dan tidak pernah” saja sehingga lebih memudahkan responden
menjawab kuesioner dan memudahkan peneliti dalam mengelompokkan
perilaku bullying ke dalam dua kategori yakni “melakukan perilaku
52
bullying” dan “tidak melakukan perilaku bullying”. Skala yang digunakan
untuk menyusun kategori disesuaikan berdasarkan teori aspek perilaku
bullying menurut Widayanti (2009) dan disajikan dalam bentuk peryataan
yang tersusun atas 21 item peryataan dengan nilai reliabilitas 0,893 dengan
penyusun item: 12 item pernyataan favorable dan 9 pernyataan unfavorable.
Tabel 3.3
Blueprint Perilau Bullying Sebelum Tryout
Aspek Indikator Favorable Unfavorable Jumlah
Verbal Mengeluarkan kata-kata 10, 13, 9, 16, 18 7
negatif atau bermakna 15, 17
negatif terhadap orang lain
untuk tujuan diri sendiri
(seperti: memaki,
menggosip, atau mengejek).
Fisik Melakukan aksi fisik dengan 3, 14, 20, 2,6, 8 7
tujuan mencelakai/melukai 21
orang lain
(seperti: memukul, mencubit,
menampar, meminta dengan
paksa).
Psikologis Melakukan kegiatan dengan 1, 4, 11, 5, 7, 19 7
tujuan memberikan efek 12
negatif terhadap psikologis
pihak lain
(seperti: mengintimidasi,
meneror, meremehkan dan
deskriminasi)
Total 12 9 21
Skala perilaku bullying telah diuji coba terhadap 285 siswa. Hasil
analisis reliabilitas dengan menggunakan KR-20 diperoleh nilai reliabilitas
sebesar 0,558.
53
F. Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Uji validitas merupakan sebuah pengukuran yang dipakai guna
menilai ketangguhan kuesioner dalammengukur apa yang ingin diukur atau
dalam hal ini ialah variabel penelitian (Notoatmodjo, 2012).
Skala yang digunakan dalam penelitian ini tidak diuji validitasnya
karena telah dilakukan engujian validitas isi oleh peneliti sebelumnya,
dimana semua aitem telah dinyatakan valid sehingga bisa dipakai menjadi
instrumen untuk kumpulkan data.
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas merupakan sebuah pengukuran terhadap instrumen
ukur dalam menilai keandalan alat ukur penelitian (Notoatmodjo, 2012).
Selanjutnya jika poin pernyataan disebutan valid, maka tahap lanjutannya
ialah pengujian reliabilitas.
Kita melakukan reliabilitas terhadap setiap aspek pernyataan bertujuan
guna mengetahui sejauh mana aspek tersebut bisa menunjukkan nilai yang
relatif sama jika dianalisis ulang menggunakan aspek yang sama. Adapun
metode uji reliabilitas yang dugunakan adalah melalui pendekatan pengujian
pernyataan tunggal diaman analisis statistik yang digunakan adalah analisis
KR-20.
Rumus : KR-20 = (k/(k-1)*(1-∑p(1-p))
Sx2
54
G. Metode Analisis Data
1. Uji normalitas
Uji Normalitas merupakan suatu penilaian yang bertujuan dalam
menilai sebaran data dalam suatu kelompok data atau variabel, benarkah
penyebaran data yang dimaksud tersebar dengan normal atau tidak. Uji
Normalitas dimanfaatkan untuk tentukan apakah data yang terkumpul
tersebar secara normal atau diambil dari populasi normal.
Dengan kata lain, uji normalitas dipilih guna mengetahui normal atau
tidaknya sebaran data. Untuk menghitung uji normalitas maka kita memakai
program SPSS (Statistical Package for Sicial Science) 22.00 for windows.
Untuk mengetahui normal atau tidaknya sebuah data penelitian maka
kita dapat mengamati nilai p, dikatakan sebaran normal jika tidak ada beda
yang mencolok pada frekuensi yang diamati dengan frekuensi teoritis kurva.
Pedoman yang digunakan ialah jika p (nilai Z pada Kolmogorov-Smirnov)
>0,05 maka dikatakan tersebar dengan normal, sebaliknya jika p<0,05 maka
data tersebar dengan tidak normal.
2. Uji linieritas
Uji linearitas dilakukan guna mencari tahu apakah ada korelasi yang
linear atau tidak pada dua variabel secara signifikan. Perlakuan uji
menggunakana SPSS melalui Test for Linearity dengan pada taraf
signifikansi 0,05, dengan ketentuan dua variabel disebut memiliki hubungan
yang linear jika signifikansi (Linearity) kurang dari 0,05. Perhitungan uji
55
linieritas memakai program SPSS (Statistical Package for Social Science)
22.00 for windows.
Arah dari penelitian ini apakah positif atau negatif dilihat dari grafik
linearitas. Bila grafik membentuk garis lurus yang condong ke arah kanan
maka terdapat koreksi yang memiliki arah positif antara variabel x dan y, ini
berarti bila variabel x menurun maka variabel y juga turun, sebaliknya jika
variabel x naik maka variabel y juga naik.
Apabila grafik membentuk garis lurus dan condong ke kiri jadi disebut
ada hubungan negatif antara variabel x dan y, maksudnya bila mana variabel
x naik maka variabel y akan turun, sebaliknya jika variabel x turun maka
variabel yakan naik.
3. Uji hipotesis
Bila mana uji asumsi yang tersusun atas uji normalitas dan linearitas
telah dilakukan sehingga langkah seterusnya ialah lakukan uji hipotesis.
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa penelitian ini bertujuan untuk
mencari tahu adanya hubungan pola asuh otoriter dengan perilaku bullying,
maka teknik statistik yang dipakai dalam penelitian ini adalah teknik
analisis product moment dari pearson, yang bertujuan untuk mengetahui
suatu hubungan variabel “x” terhadap suatu variabel “y” melalui pengujian
bila mana korelasi yang dimaksud signifikan atau tidak signifikan.
Penyelesaian analisis dilakukan menggunakan program SPSS (Statistical
Package for Social Science) 22.00 for windows.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. (2016). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setya.
Anthony, E. (2014). Relationship between Parenting Styles and Tendency to
Bullying Behaviour among Adolescents. Journal of Education & Human
Development. 3 (1), 507-521
Arisandi, D. (2011). Pengertian Disiplin dan Penerapannya Bagi
[Link]/pengertian-disiplin-dan-penerapannya-bagi-siswa/. diakses 28
Januari 2020
Astuti, P.R. (2016). Meredam Bullying. Jakarta: Grasindo,
Coloroso, B. (2009). The Bully, The Bullied, and The Bystander. New York:
HarperCollins.
Dariyo, A. (2011). Psikologi perkembangan remaja. Bogor : Ghalia Indonesia.
Depdiknas. (2015). Bullying di lingkungan sekolah. Jakarta: Dirjend Dikdasmen.
Djuwita, R. (2006). Bullying: Kekerasan Terselubung Di Sekolah. Jakarta: Bumi
Aksara
Fernando. (2019). Siswi SMP di Pekanbaru Riau alami bully dan pelecehan
seksual oleh temannya, area sensitif dipegang.
[Link]
alami-bully-dan-pelecehan-seksual-oleh-temannya-area-sensitif- dipegang?
page=all. Artikel online diakses 10 Desember 2019
Gunarsa, S. (2010). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Jakarta: Gunung
Mulia
Heineman. (2010). Understanding and managing bullying. Oxford: Heinemann
School Management.
Hertinjung, W. S., & Karyani, U. (2015). Profil pelaku dan korban bullying di
sekolah dasar (University Reaserach Coloqium). Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah, Surakarta.
Hibana S, R. (2002). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta:
Penerbit Galah.
Husaini, A.N. (2013). Hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua
terhadap risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat.
(Skripsi) Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta: Jakarta
73
74
Irawan. (2019). Panduan Praktis Mendidik anak Cerdas. Yogyakarta: Lugong
Pustaka
Jalaludin. (2016). Pendidikan Remaja. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
KBBI. (2010). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). (online)
[Link] diakses 11 Desember 2019
Kementerian Kesehatan RI. (2014). INFODATIN Pusat Data dan Informasi
Kementerian Kesehatan RI Perundungan Pada Remaja. Jakarta Selatan
King, L.A. (2010). Psikologi Umum (Sebuah Pandangan Apresiatif). Jakarta:
Salemba Humanika.
Kozier, B., E, G., Berman, A., Snyder, S. J. (2010). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan (Konsep, Proses dan Praktik). Jakarta: EGC.
KPAI. (2019). KPAI: 3 Bulan 12 Anak Jadi Korban Kekerasan Psikis dan
Bullying. [Link]
korban-kekerasan-psikis-dan-bullying. Artikel (Online).Diakses tanggal 2
Januari 2020.
. (2019). KPAI: Angka perundungan di Sekolah masih tinggi.
[Link]
di-lingkungan-sekolah-masih-tinggi. Artikel (Online).Diakses tanggal 2
Januari 2020
Annisa. (2008). Adolesence. Edisi 6. Jakarta : Erlangga.
Manjilala, A. (2012). Hubungan Antara Pola Asuh Ibu Dengan Perilaku Bullying
Remaja (Skripsi tidak dipublikasikan). Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia, Depok.
Marlinda. (2014). Pola asuh orang tua yang otoriter dengan perilaku bullying di
sekolah. (Skripsi). FKIP Universitas Lampung: Tidak dipublikasi
Nabilah, A.F. (2018). Hubungan antara pola asuh otoriter orang tua dan perilaku
perundungan pada siswa sekolah menengah atas. Fakultas Psikologi dan
Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia: Yogyakarta
Noorlizah, C.H. (2015). Relationship between Bully’s Behaviour and Parenting
Styles amongst Elementary School Students. International Journal of
Education and Training (InjET), 1 (1), 1-12
Notoatmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka
Cipta.
75
Ntobuo, F. (2018). Hubungan pola asuh orang tua terhadap perilaku bullying di
SMA N 1 Bolangitan. (Skripsi). Universitas Muhammadiyah Gorontalo
Nur,R, & Putri, R. (2017). Pola asuh ibu dengan perilaku bullying pada siswa
SMK. Artikel STIKes Indonesia Maju, 1, 171-180
Nurhalijah, Y . (2010). Psikologi Perkembangan. Kencana Prenadamedia Group.
Jakarta.
Octariaty, E. (2014). Profil kecakapan problem solving siswa kelas X SMA Plus
Muthahhari Bandung Tahun Ajaran 2012/2013 berdasarkan pola asuh
orang tua. Universitas Pendidikan Indonesia.
Olweus, D. (2009). “Bully/Victim Problems in School: Facts and Intervention,”,
European Journal of Psychology of Education, 12, 75-78
Olweus, D. (2012). Bullying at School: What We Know and What We Can Do.
Australia: Blackwell Publishing. V
Pratiwi. (2014). Hubungan Perilaku Bullying dengan Kemampuan Interaksi
Sosial Siswa Kelas III Sekolah Dasar Negeri Minomartani 6 Ngaglik
Sleman Yogyakarta. Di unduh dari [Link] Pada tanggal 20
Februari 2020
Priyatna, A. (2010). Let’s End Bullying : Memahami, Mencegah & Mengatasi
Bullying. Jakarta : PT. Gramedia
Putri, H. N., Nauli, F.A., & Novayelinda, R. (2015). Faktor-faktor yang
berhubungan dengan perilaku bullying pada remaja. Jurnal JOM, 2(2),
1149-1159
Putri, W.K. (2017). Hubungan pola asuh permisif dengan perilaku bullying di
SMPN 5 Samarinda.(Skripsi). Fakultas Psikologi 17 Agustus 1945
Samarinda. Tidak dipublikasikan
Ramadia, A. (2019). Analisis pola asuh orang tua terhadap kejadian perilaku
bullying pada remaja di SMK Negri Kota Bukit Tinggi. Menara Ilmu Vol.
XIII no. 3 Januari 2019
Riauskina, I. I., Djuwita R., Soesetio, S.R. (2005). Gencet-gencetan di mata
siswa/siswi kelas I SMA : naskah kognitif tentang arti skenario, dan dampak
gencet-gencetan. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 4-6
Rigby, K dan Thomas. (2010). How School Counter Bullying Policies and
Procedures in Selected Australian Schools. Camberwell: Australian Council
for Education Research Limited. Vol. 131
76
Rigby, K. (2013). Bullying in Australian school: Multiple perception of bullying.
National Centre against Bullying Conference, Crown Conference Centre,
Melbourne
Saifullah, F. (2016). Hubungan antara konsep diri dengan bullying pada
siswasiswi SMP. Journal Psikologi, 4 (2), 200-204
Santrock, J. W. (2007). Perkembangan Anak jilid [Link] 11. Jakarta :
Erlangga Shochib, M. (2010). Pola Asuh Orang Tua. Jakarta: Rineka Cipta
Sindo, W. 2017. Indonesia tempati posisi perundungan tertinggi di Asean.
[Link]
tertinggi-perundungan-di-asean. Artikel (Online).Diakses tanggal 2 Januari
2020
Smith, [Link]. (2012). “Self Report of Short and Longterm Effect of Bullying in
Children Who Stammer”. British Journal Social and Personality
Relationship, 23 (41).23-43
Soedjatmiko, Budi, S. dkk. (2013). Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo
Persada. Jakarta
Sulivan, K., Clearly, M., dan Sullivan G. (2011). Bullying In Secondary Schools.
London: SAGE Publication.
Surbakti, E.B. (2009). Kenali Anak Remaja Anda. Jakarta : Elek Media
Komputido.
Susilo, F.N. (2015). Pola asuh otoriter orang tua dan sikap terhadap bullying pada
siswa kelas XI. Jurnal empati. 4 (4), 78-83
Thoha, C. (1996). Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Trevi. (2010). ”Sikap siswa SMK terhadap bullying”. Skripsi; Fakultas Psikologi
Universitas Esa Unggul.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
Usman, I. (2013). Kepribadian, komunikasi, kelompok teman sebaya, iklim
sekolah dan perilaku bullying. Jurnal Humanitas, 10(1), 51-60.
WHO (World Health Organization). (2014). Health Topics; Adolescent Health.
Unpublished
77
Widayanti, C. G. (2009). Fenomena Bullying di Sekolah Dasar Negeri di
Semarang:Sebuah Studi Deskriptif. Semarang : Universitas Diponegoro
Wiyani, N. A. (2014). Save our children from school bullying. Jogjakarta: Ar-
Ruzz Media.
Wong. et. al. (2009). School Bullying Adolescent In The United States: Physical,
Verbal, Relational, and Cyber. Journal Of Adolescent Health.
Yuniantun, W. (2009). Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kecenderungan
Perilaku Caring pada Mahasiswa Program A Angkatan 2008/2009 PSIK
UGM. Skripsi. UGM. Yogyakarta
Yusuf, S. (2010). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: Remaja
Rosdakarya.