0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan39 halaman

Teori Pendidikan dalam Demokrasi

Paragraf tersebut merangkum landasan teori pendidikan demokratis dan hubungannya dengan filsafat pendidikan menurut John Dewey. Dewey meyakini bahwa (1) pendidikan berperan dalam merekonstruksi budaya menuju yang lebih baik, (2) pertumbuhan individu dan masyarakat adalah tujuan pendidikan, dan (3) pendidikan harus dibangun berdasarkan konsep pengalaman. Dewey juga berpandangan bahwa pendidikan berperan dalam mewar

Diunggah oleh

Roy barmadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan39 halaman

Teori Pendidikan dalam Demokrasi

Paragraf tersebut merangkum landasan teori pendidikan demokratis dan hubungannya dengan filsafat pendidikan menurut John Dewey. Dewey meyakini bahwa (1) pendidikan berperan dalam merekonstruksi budaya menuju yang lebih baik, (2) pertumbuhan individu dan masyarakat adalah tujuan pendidikan, dan (3) pendidikan harus dibangun berdasarkan konsep pengalaman. Dewey juga berpandangan bahwa pendidikan berperan dalam mewar

Diunggah oleh

Roy barmadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Definisi Pendidikan Demokratis

Filsafat Pendidikan dengan Demokrasi adalah berhubungan seperti sebuah


sikap, seperti membuat seseorang hampir tidak dapat dibedakan dari yang lain,
seperti siapa saja yang telah mempelajari demokrasi dan filsafat pendidikan akan
dibuktikan. Dalam arti yang ideal, demokrasi merupakan jalan menuju
kebahagiaan, nilai individual dan sekaligus nilai sosial bagi komunitas manusia.
Esensi sebuah komunitas yang demokratis adalah adanya partisipasi individu
dalam mengawasi dan membentuk aktivitas-aktivitas dan nilai-nilai. Pada
dasarnya demokratis itu eksis pada asosiasi manusia pada tingkat lokal.
Demokrasi tidak dimulai pada tingkat negara, tetapi demokrasi harus dimulai dari
rumah. Dan rumah tersebut merupakan tetangga komunitas/masyarakat.
Penekatan proses pendidikannya sebagai sebuah transaksi antara person dengan
lingkungannya.

Secara etimologis “demokrasi” terdiri dari dua kata Yunani yaitu “demos”
yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan “cratein” atau “cratos” yang
berarti kekuasaan atau kedaulatan. Gabungan dua kata demos-cratein atau demos-
cratos (demokrasi) memiliki arti suatu keadaan negara dimana dalam sistem
pemerintahannya kedaulatan berada di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada
dalam keputusan bersama rakyat, Rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan
kekuasaan oleh rakyat. Sedangkan pengertian demokrasi secara istilah atau
terminologi adalah seperti yang dinyatakan oleh para ahli sebagai berikut:

 Joseph A. Schmeter mengatakan demokrasi merupakan suatu perencanaan


institusional untuk mencapai keputusan politik dimana individu-individu
memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif
atas suara rakyat.

5
 Sidney Hook berpendapat demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana
keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak
langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara
bebas dari rakyat dewasa.

Istilah pendidikan asal katanya adalah didik yang apabila diberi imbuhan
me- menjadi mendidik yang artinya memelihara, member latihan, tuntunan,
pengajaran dan pimpinan mengenai akhlaq dan kecerdasan intelektual.
Pendidikan adalah proses mendidik yaitu proses pengubahan sikap dan tingkah
laku seorang individu atau kelompok melalui pemberihan latihan, tuntunan,
pimpinan, dan ajaran dalam usaha mendewasakan manusia.
Pendidikan yang demokratik adalah pendidikan yang memberikan kesempatan
yang sama kepada setiap anak untuk mendapatkan pendidikan di sekolah sesuai
dengan kemampuannya. Demokrasi pendidikan dalam pengertian luas patut selalu
dianalisis sehingga memberikan manfaat dalam praktik kehidupan dan pendidikan
yang mengandung tiga hal sebagai berikut:

1. Rasa hormat terhadap harkat sesama manusia Demokrasi pada prinsip ini
dianggap sebagai pilar pertama untuk menjamin persaudaraan dan hak
manusia dengan tidak memandang jenis kelamin, umur, warna kulit,
agama dan bangsa. Dalam pendidikan, nilai-nilai inilah yang ditanamkan
dengan tidak memandang perbedaan antara satu dengan yang lainnya, baik
hubungan antara sesama peserta didik, atau hubungan antara peserta didik
dengan gurunya yang saling menghargai dan menghormati.

2. Setiap manusia memiliki perubahan ke arah pemikiran yang sehat Dari


acuan prinsip inilah, timbul pandangan bahwa manusia itu harus dididik,
karena dengan pendidikan itu manusia akan berubah dan berkembang ke
arah yang lebih sehat, baik dan sempurna Sikap dalam pendidikan yang
mengajak setiap orang untuk berpikir lebih sehat seperti ini akan
melahirkan warga negara yang demokratis di pemerintahan yang
demokrasi.

6
3. Rela berbakti untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama Kesejahteraan
dan kebahagiaan hanya akan dapat tercapai, apabila setiap warga negara
atau anggota masyarakat dapat mengembangkan tenaga atau pikirannya
untuk memajukan kepentingan bersama. Kebersamaan dan kerja sama
inilah pilar penyangga demokrasi, yang selalu menggunakan dialog dan
musyawarah sebagai pendekatan sosialnya dalam setiap mengambil
keputusan untuk mencapai tujuan kesejahteraan dan kebahagiaan tersebut.

B. Demokrasi dan Filsafat Pendidikan

Salah satu kesulitan dalam mencoba untuk menyaring pengertian-


pengertian yang terpisah antara demokrasi dengan filsafat pendidikan yang
ditempatkan oleh John Dewey adalah kedua istilah tersebut adalah
sepenuhnya saling berhubungan. Demokrasi adalah mustahil tanpa filsafat
pendidikan, dan filsafat pendidikan hampir mustahil tanpa demokrasi.
Dengan demikian, perlu untuk menganalisis setiap individu untuk
mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang hubungan keduanya.
Gambaran demokrasi menerima pembebasan yang sangat besar dengan
sebuah pandangan tentang tujuan demokrasi dan bagaimana karakteristik
anggota-anggota dalam masyarakat yang demokratis, demikian juga
dengan asosiasi, komunikasi, kebebasan dan persamaan, yang membawa
pengaruh pada tujuan.

Selanjutnya, bagi Dewey, filsafat pendidikan dan demokrasi adalah


berhubungan seperti sebuah sikap seperti membuat seseorang hampir tidak
dapat dibedakan dari yang lain, seperti siapa saja yang telah mempelajari
demokrasi dan filsafat pendidikan akan dibuktikan. Berikut ada tiga isu kritis
tentang filsafat pendidikan yang muncul dalam karya Dewey, yaitu :

a) pendidikan atau filsafat pendidikan adalah sebuah alat transformasi


budaya yang mendasar, menuju sebuah rekonstruksi budaya yang lebih
hebat.

7
b) perkembangan/pertumbuhan adalah sebuah tujuan pendidikan
yang mendasar, menuju kepada pengembangan individu dan masyarakat pada
akhirnya.

c) membangun sebuah sistem pendidikan sekitar konsep pengalaman


adalah lebih penting bagi individu dan berikutnya bagi masyarakat.

1. Pewarisan Budaya (Transmission of Culture)

Benjamin Franklin mengatakan, pendidikan pemuda yang baik


menghargai dengan bijaksana semua manusia tanpa membedakan usia, sebagai
landasan yang jelas dari kebahagian-kebahagian, baik keluarga pribadi
maupun persemakmuran (Benjamin Franklin, 1749: 324). John Dewey tentu
setuju dengan pernyataan tersebut. Franklin mengamanatkan dua perhatian
utama bahwa John Dewey memperdebatkan esensi terhadap masyarakat
demokrasi, baik individual maupun warga. Bahwa Franklin
menyebutkan kebahagiaan masyarakat adalah mirip dengan keyakinan Dewey
bahwa pendidikan adalah pewarisan dan rekonstruksi masyarakat.

Argument pertama ditemukan dalam Democracy and Education, adalah


bahwa tanpa mengorganisir sebuah alat pewarisan budaya, masyarakat yang
mana saja akan jatuh kembali ke masa/budaya biadab. Tidak hanya beberapa
jenis sistem pendidikan yang memerlukan untuk menopang kehidupan
individual, tetapi juga budaya. Isi adalah bersifat elementer. Pendidikan adalah
alat-alat yang memberikan anggota-anggota yang belum dewasa/ matang dari
sebuah budaya sampai tingkat yang sama dengan anggota-anggota yang telah
dewasa/matang.

Lebih dari itu, Dewey percaya bahwa proses ini membawa


ketidakdewasaan kepada kedewasaan berhubungan dengan masyarakat dewasa
adalah jauh melebihi dari apa yang dikatakan dalam teori rekapitulasi budaya,
dimana lebih murni artinya adalah sirkuler secara alami. Menurut Dewey,
idealnya pemuda tidak mudah mengalami tahap-tahap perkembangan dari
sepecies hanya untuk mengakhiri kondisi yang sama sebagai anggota-anggota
yang telah dewasa dalam masyarakat, tetapi melebihi apa yang telah

8
dibangun oleh anggota- anggota yang telah dewasa dalam masyarakat.
Dewey mengatakan bahwa urusan-urusan pendidikan adalah agak
membebaskan pemuda dari menyandarkan dan menggariskan lagi masa lalu
dari membimbing mereka ke sebuah rekapitulasi tentangnya (John Dewey,
1964)

Sebenarnya, dia berjalan dengan baik pada teori rekapitulasi sebagaimana


dia berargumen, sekarang adalah tidak hanya sesuatu yang datang setelah
masa lalu; jauh lebih sedikit sesuatu yang diproduksikannya. Ini adalah
jenis kehidupan dalam kehidupan masa lalu yang ada dibelakangnya (John
Dewey, 1964).

Berbicara tentang masyarakat secara umum, pendidikan sebagai


kebutuhan adalah diwariskan pada institusi-institusi formal (sekolah), seperti
budaya menjadi sangat sukar untuk berinteraksi secara informal diantara
anggota-anggota masyarakat untuk mewariskan bagian terbesar dari warisan
budayanya. Dewey percaya bahwa sekolah-sekolah tidak hanya mewariskan
budaya, tetapi juga sebanarnya cermin budaya sebagaimana mereka dapatkan
”a chance to be a miniature community, an embryonic society” (Jo Ann
Boydston, 1976-1983).

Namun demikian, miniatur masyarakat itu adalah lebih idealistik


sebagaimana dia mengindentifikasikan tiga peranan sekolah. Pertama, mereka
menyederhanakan lingkungan-lingkungan sosial kedalam porsi-porsi ukuran
potongan untuk lebih mudah dan cermat dicerna oleh pelajar-pelajar. Kedua,
sekolah-sekolah memurnikan dan mengidealiskan keberadaan kebiasaan-
kebiasaan sosial. Pencerahan memerlukan barang-barang yang pasti untuk
bergerak dari kesadaran-kesadaran sosial. Ketiga, sekolah- sekolah harus
mempersiapkan kesempatan kepada pelajar- pelajar untuk mengalami sebuah
pengalaman yang lebih luas dari seseorang dimana mereka lahir. Dalam
padangan ini, peranan pedidikan sebagai pewarisan budaya dalam sebuah
masyarakat yang demokratis bahkan menjadi lebih kritis sebagaimana pada
sesen-sesen berikut memperhatikan pendirian-pendirian Dewey tentang

9
tempat berkembang dan mengalami dalam pendidikan dan bagian yang
mereka mainkan dalam demokrasi yang kekal.

2. Perkembangan (Growth)

Kunci konsep peningkatan masyarakat adalah perhatian pendidikan


Dewey pada penempatan Perkembangan (Growth). Tujuan pendidikan
adalah untuk mewariskan dan memperbaiki budaya dan individu. Menurut
Dewey, pergerakan tindakan secara kumulatif menuju sebuah hasil
berikutnya adalah apa yang dimaksudkan dengan perkembangan, (John
Dewey, 1964: 41). dan tujuan setiap tahapan pendidikan adalah menambah
kapasitas perkembangan. Pendidikan sebuah proses yang tidak berakhir
dimana potensi untuk berkembang dan peningkatan adalah tidak terbatas,
akhrinya menuju kepada potensi yang lebih besar bagi kehidupan yang
sempurna, itulah tujuan dari demokrasi.

Cara lain untuk mempertimbangkan konsep ini adalah dengan


memperhatikan pandangan Dewey tentang ketidakmatangan
/ketidakdewasaan. Adalah tidak luar biasa bahwa pandangan
ketidakdewasaan adalah sama dengan menjadi tidak lengkap, sebuah
ungkapan dimana individu-individu kurang berkualitas secara pasti. Bagi
Dewey, ketidakdewasaan kelihatan seperti sebuah kesempatan untuk
berkembang, bukan sebuah ungkapan menjadikannya butuh kepada
penyelesaian. Ketidakdewasaan adalah dinamik. Lagi pula, implikasinya adalah
bahwa semua individu, tanpa memperhatikan usia, adalah beberapa derajat,
dalam beberapa kapasitas, ketidakdewasaan dan tergantung pada anggota-
anggota masyarakat yang lain untuk menolong perkembangan mereka.
Sebenarnya, dari sebuah perspektif sosial saling ketergantungan adalah positif,
sebagaimana catatan Dewey :

... (self-reliance) often makes an individuals so intensive in his relations to


others as to develop an illusion of being really able to stand alone – an
unnamed form of insanity which is responsble for a large part of the remediable
suffering of the world (John Dewey, 1964).

10
Proses kematangan/kedewasaan, oleh karena itu diperlukan
perkembangan dan peningkatan kesempurnaan kehidupan dengan konstant.
Campbell meringkas argumen Dewey sebagai berikut:

With improvements in our systems of education and communication, we


colud reach a point at which process and emergence are accepted – and even
championed – as essestial elements of human life. At that point, we would be
able to recognize that the values that we hold dear – such as equality, democracy,
and justice – are not externally derived eternal ideals that pre-existed humans.
They are rather goods that we are creating as we go along, failing and learning,
testing and rethinking, in our attemts to build better lives for ourselves and for
our children (James Campbell, 1995)

Perubahan ketidakmatangan/ketidakdewasaan dari pertanggung jawaban


kepada sebuah kemungkinan untuk berkembang dalam proses kehidupan. Itu
bukan sebuah tujuan final untuk mencapai sebuah ungkapan yang pasti untuk
menjadi anggota-anggota masyarakat yang belum matang/dewasa sebagaimana
yang diinginkan. Tujuan tersebut adalah melanjutkan kapasitas
perkembangan. Sebagaimana Dewey menyimpulkan bahwa konsep proses dan
perkembangan adalah hanya taksiran-taksiran/ perkiraan-perkiraan untuk
tujuan akhir yang tidak berubah yang merupakan kelemahan terakhir dari
pikiran dalam masa transisi dari sebuah pemahaman kehidupan yang kaku
kepada pemahaman kehidupan yang dinamis (John Dewey, 1964).

3. Pengalaman (experience)

Ada cara yang mudah untuk memahami pandangan Dewey tentang


peranan pengalaman dalam pendidikan. Bagi Dewey, pendidikan adalah
pengalaman, dan pengalaman adalah pendidikan. Seseorang tidak bisa
mengharapkan pelajarnya untuk menangkap sebuah konsep yang tidak ada
sesuatu untuk melakukan dengan pengalaman personalnya. Sebagaimana
Dewey mengatakan bahwa ada hubungan yang penting dan intim diantara
proses aktualisasi pengalaman dan pendidikan (John Dewey, 1938: 20). The
School and Society, sebuah karya Dewey yang merupakan dasar

11
eksperimennya, pengalamanan berdasarkan sekolah yang dikembangkan
ketika dia berada pada Universitas Chicago, menyiapkan berbagai contoh
tentang bagaimana seseorang dapat membangun kurikulum seputar
pengalaman pelajar. Dia merasakan sangat kuat tentang peranan pengalaman
dalam pendidikan, dimana dia mengatakan bahwa kecendrungan untuk belajar
dari kehidupan itu sendiri dan untuk membuat kondisi-kondisi kehidupan
seperti semua orang akan belajar dengan proses kehidupan yang merupakan
produk sekolah yang sangat bagus (John Dewey, 1964: 51).

Kerumitan muncul ketika seseorang mempertimbangkan apa yang


membentuk pengalaman dan bagaimana hubungan dengan demokrasi. Boisvert,
mendifinisikan pengalaman sebagai sesuatu yang inklusif, berbagai rupa,
yaitu untuk menyatakan sangat manusiawi, model, bereaksi, dan interaksi
dengan sekeliling kita (R.D. Boisvert, 1998: 14). Bagaimanapun, definisi ini
mempunyai kualitas sebagai hubungan dengan pendidikan. Tidak semua model
prehending, bereaksi, dan interaksi dengan sekeliling kita mempunyai
kekuatan pendidikan yang positif. Dewey membantah bahwa sebuah kriteria
terhadap teori pengalaman sumbu/poros konsep perkembangan/pertumbuhan.
Tidak semua pengalaman menuju perekembangan, atau sebaiknya menuju
perkembangan yang bukan berhubungan dengan pendidikan. Seseorang tidak
mengusahakan melakukan sesuatu yang dia senangi, yang memanggil
pendidikan dengan nama pengalaman. Sebuah pertimbangan terhadap
konsekuensi-konsekuensi sosial adalah benar- benar perlu menjadi
pertimbangan perkembangan, dan titik tolak sekolah-sekolah adalah untuk
mengembangkan keberlanjutan perkembangan pelajar. Dewey mengatakan, dari
sini persoalan utama sebuah pendidikan yang berdasarkan pengalaman adalah
untuk memilih jenis pengalaman-pengalaman sekarang langsung kreatif dan
berhasil dalam pengalaman-pengalaman berikutnya (John Dewey, 1938).

Di samping itu, pengalaman menuju kepada perkembangan individu,


salah satu kualitas lainnya untuk menganggap kurikulum adalah
perkembangan. Bagaimana melakukan pengalaman-pengalaman pelajar
berdasarkan pada pengalaman-pengalaman masyarakat dan menuju kepada

12
peningkatan masyarakat secara umum? Dewey mengatakan, setiap
langkah dari kebuasan/kekejaman menuju peradaban adalah tergantung pada
penemuan media yang memperluas/ memperbesar jarak dari pengalaman
langsung yang murni dan memberinya ketergantungan demikian juga makna
yang luas (John Dewey, 1964: 232). Pendeknya, ini bukan sebuah barang
mewah yang sederhana bagi pelajar untuk belajar atau tidak belajar dari
pengalaman, tetapi lebih dari sebuah pertanggungjawaban terhadap
masyarakat bagi kemajuannya. Mengingat ide-idenya tentang perkembangan,
seseorang akan menyimpulkan bahwa tidak ada sebuah puncak yang
final dalam peradaban. Kemajuan adalah keberlanjutan dan
kedinamisan, tidak kaku. Ketika Boisvert berargumen bahwa Dewey
mempercayai pengalaman sebagai unsur-unsur yang integratis dalam
overarching whole, (R.D. Boisvert, 19985) kesimpulannya adalah tidak
hanya berdasarkan pada ide Dewey tentang integrasi pengalaman bagi pelajar
secara individu, tetapi juga tentang integrasi pengalaman dalam masyarakat
secara keseluruhan. Sebuah masyarakat yang demokratis menghidupkan
asosiasi dan komunikasi. Komunikasi jenis apa selama berasosiasi dengan
anggota yang lain dari masyarakat adalah pengalaman, yaitu sebuah akumulasi
menuju kemajuan masyarakat, tidak hanya individu.

Kesimpulan final bahwa Dewey menggambarkan dari analisisnya


tentang pewarisan budaya, perkembangan, dan pengalaman adalah bahwa
pendidikan merupakan reorganisir dan rekonstruksi pengalaman yang tetap
bagi individu. Dia mengatakan bahwa:

Infancy, youth, adult life, - all stand on the same educative level in the sense
that what is really learned at any and every stage of experience constitutes the
value of that experience, and in the sense that is the chief business life at every
point to make living thus contribute to an enrichment of its own perceptible
meaning (emphasis added) (John Dewey, 1964: 76).

13
Ini kembali menuju kepada sebuah rekonstruksi dan reorganisir yang
tetap dari masyarakat seperti setiap anggota dari masyarakat tersebut
menerima pertanggungjawaban individu, masyarakat/warga, dan manusia
dalam sebuah demokrasi.

C. Demokrasi dan Sekolah

Dewey memandang sekolah sebagai salah satu tempat dimana


siswa dapat mempergunakan praktek- praktek demokrasi diatas terhadap
individu, kebebasan, dan persamaan, dan juga hubungan-hubungan sosial
yang berubah-rubah, tidak hanya untuk ditanamkan pada masyarakat yang
demokratis, tetapi juga untuk memupuk keberlanjutan perkembangan dan
belajar. Sebagai pelajar, untuk melanjutkan kebutuhan-kebutuhan mereka
dan juga kebutuhan-kebutuhan kelompok, mereka akan memecahkan masalah
dan mengevaluasi hasil-hasil, menggunakan strategi-strategi dan mencari
jawaban- jawaban, yang akan memberi kontribusi terhadap pengalaman pelajar
tersebut. Karakteristik-karakteristik demokrasi tentu telah didiskusikan,
diterjemahkan kedalam sebuah sistem reformasi pendidikan dan Dewey
percaya dan akan memfasilitasi penemuan kembali ide- ide demokrasi kita
melalui pendidikan masyarakat yang berkelanjutan.

Dewey menghubungkan keberadaan demokrasi yang berkelanjutan


dengan pendidikan pada saat penerimaan generasi baru, karena seperti ide-ide
demokratis harus di perbaharui secara berkelanjutan dengan merubah setiap
wajah generasi baru. Dalam ungkapannya

It is because the conditions of life change, that the problem of


maintaining a democracy becomes new and the burden that is put upon the
school, upon the educational system is not that of stating merely the ideas of the
men who made this country, their hopes and their intentions, but of teaching
what democratic society means under existing conditions.

Dewey menghargai sekolah-sekolah sebagai tempat untuk menjamin


regenerasi dari demokrasi dan bagaimana mendidik anak-anaknya dalam
masyarakat yang demokratis. Para pelajar tidak hanya membutuhkan

14
kesempatan untuk mempraktekkan prinsip-prinsip demokrasi dalam kelas,
mereka juga butuh untuk mendemontrasikan kepada yang lain sebagai model-
model yang punya peranan. Model penggunaan prinsip- prinsip demokrasi
untuk pemuda, pelajar-pelajar yang sedikit pengalaman dengan mengamati,
memberikan kesempatan para pelajar untuk berpartisipasi dan berpendapat
dalam proses demokrasi. Campbell menjelaskan bahwa perhatian Dewey
tertuju pada metode pendidikan yang cocok untuk hidup dalam sebuah
masyarakat yang demokratis. Dia mengatakan, ”sekolah-sekolah dimana
semua keputusan-keputusan itu dibuat untuk para pelajar, dimana
tanggung jawab para pemuda baik individu maupun kolektif adalah tidak
dikembangkan, tidak akan membantu perkembangan sebuah penyelidikan,
masyarakat yang demokratis.

Lebih dari mendukung para pendidik untuk mengajarkan prinsip-prinsip


demokrasi di sekolah, Dewey mendesak bahwa para pendidik harus komit
untuk membangun sebuah atmosfir demokrasi di dalam kelas. Para pelajar
membutuhkan kesempatan-kesempatan untuk membuat pilihan dalam
kehidupannya dan menunjang hasil-hasil dari pilihan tersebut, untuk sebuah
derajat tertentu yang mereka butuh untuk belajar yang otonomi. Membuat
pilihan tidak hanya membangkitkan sebuah rasa tanggung jawab dan komitmen
terhadap apa yang dilakukan oleh para pelajar-pelajar, dan akan membolehkan
pelajar untuk mempraktekkan serta membuat pilhan yang tepat melalui
pengalaman langsung, kadang-kadang Dewey mendukung kehidupan dan
belajar dalam sebuah lingkungan yang demokratis, menurut standar Dewey,
apakah yang terbaik untuk melanjutkan ide-ide demokrasi, dari pada membuat
pelajar hanya belajar sejarah secara detail dari struktur pemerintahan untuk
mendapatkan sebuah pemahaman praktis yang demokratis.

Boisvert mengidentifikasikan karya Dewey berikut ”proposisi-proposisi

untuk reformasi pendidikan” yang berhubungan dan mendukung keberlanjutan


ide-ide demokrasi:

15
a. sebuah sistem pendidikan dalam masyarakat demokrasi tidak
semestinya terbuka terhadap semua penduduknya, tetapi
semsetinya membuat sebuah usaha yang dikonsepnya untuk
mensukseskan pendidikan yang baik.

b. sistempendidikanharusmembantumeningkatkan kebebasan sebagai


kekuatan untuk memilih dan membangun kegiatan dan aktivitas
kehidupan yang memadai. Yaitu membantu perkembangan
individualitas. Sekolah dapat melakukan ini dengan membangun
sebuah masyarakat yang menekankan pada tujuan-tujuan dan kegiatan
serta aktivitas kelompok yang sama.

c. pendidikan yang demokratis harus lebih luas menjangkau keinginan


pelajar. Memahami sejarah, sains, melukis, music, dan literatur adalah
sebagai prasyarat-prasyarat untuk mematahkan rintangan-rintangan
antara kelas-kelas dan membangun sebuah keadaan untuk
membagi keinginan-keinginan yang lebih luas.

d. Pendidikan dalam masyarakat yang demokratis harus juga


menanamkan kebiasaan-kebiasaan memperhatikan yang lain sebelum
membuat keputusan-keputusan. Pandangan/cara hidup yang
demokratis adalah tidak didominasi oleh sikap-sikap yang
disimpulkan dalam slogan ” tinggal saya sendiri”, ”lakukan sesuatu
sendiri”, atau ”itu terserah pada individu”. Ini adalah kehidupan
demokratis bukan hadiah. Pratek- praktek yang demokratis adalah
ditandai dengan memperhatikan yang lain dan mempertimbangan
konsekuensi-konsekuensi, dan bagaimana mereka mempengaruhi
mereka secara langsung yang keuntungannya dirasakan oleh wakilnya.

Empat dalil/pernyataan diatas merangkul beberapa kepercayaan-


kepercayaan para pendidik dewasa ini yang menjadi pegangan sebagai ide-
ide pendidikan. Ide- ide tersebut mempromosikan pendidikan bagi semua
masyarakat yang baik dengan kepercayaan bahwa semua anak-anak dapat
belajar, memperluas ruang lingkup keinginan-keinginan pelajar dalam

16
memahami sejarah, sains, seni, dan membuat anak-anak bekerjasama
mengenai hal ihwal pembelajaran dan aktivitas- akativitasnya. Namun
demikian, dalam beberapa cara, ide-ide di atas merintangi peranan kaum
tradisionalis pada sekolah kita. Seperti: sistem pendidikan sekarang tidak
selalu memberi wewenang para peserta didik dengan mengizinkan mereka untuk
memilih atau menyelesaikan kegiatan-kegiatan/tugas-tugas kehidupan, tetapi
melanjutkan untuk menentukan pelajaran-pelajaran dan kebutuhan-kebutuhan
kelas yang menggunakan sebuah model otoriter. Dalam masalah yang sama,
mereka juga mengecilkan keunikan-keunikan para peserat didik dimana
mendorong keseragaman diantara mereka melalui harapan-harapan dalam kelas
dan rumusan-rumusan berkelompok. Lagi pula, para pelajar sering
bekerja dan berpikir secara terpisah, dari pada berpartisipasi secara bebas
dalam pertukaran ilmu pengetahuan dan memperhatikan terhadap yang lain
disekelilingnya.

Sebaliknya, Alexander menjelaskan bahwa inti konsep demokrasi


Dewey adalah saling berhubungan atau bersangkut-paut antara ide-ide
masyarakat dengan kreativitas individu. Dewey tidak menilai salah satu yang
diatas lebih tinggi terhadap yang lain, mereka berdua adalah bagian-bagian
yang diperlukan secara keseluruhan. Dewey mendukung perkembangan
sebagai sebuah yang bersifat individual supaya menambah jumlah masyarakat
yang kurang. Dari pandangan Dewey, kekuatan-kekuatan/ tenaga-tenaga unik
kita dapat mempertinggi masyarakat secara keseluruhan. Hubungan sangkut-
paut/saling berhubungan ini butuh dan peduli terhadap satu sama lain
adalah menciptakan demokrasi.

D. Makna Filsafat dan Demokrasi Dewey


1. Filsafat

Ketika berbicara tentang filsafat, dalam hal ini dari perspektif


Dewey, maka ada dua aspek yang harus diperbincangkan, yaitu seputar
pengertian filsafat itu sendiri dan pragmatisme yang merupakan aliran
pemikiran filsafat Dewey.

17
a. Makna filsafat Dewey

Berbicara tentang filsafat atau teori filsafat adalah bukan berbicara


tentang lampu Aladin untuk memanggil nilai-nilai yang ada secara langsung,
tetapi filsafat membutuhkan kepada pengembangan secara intelektual. Ketika
dipahami bahwa berfikir filosofis menangkap pembelajaran kejadian-kejadian
yang aktual, yang memiliki panduan menuju kepada isu-isu yang makmur,
persoalan-persoalan akan menghadirkan mereka secara berlebih-lebihan.
Tetapi filsafat bukan menyelesaikan persoalan-persoalan seperti ini, karena
filsafat adalah visi, imajinasi, refleksi, dan fungsi-fungsinya adalah bagian dari
tindakan, memodifikasi yang belum ada dan bahkan menyelesaikan yang
belum ada. Dalam kata yang lebih komplek, tindakan yang tidak diberitahu
dengan visi, imajinasi, dan refleksi adalah lebih mungkin untuk meningkatkan
konflik dan kebingungan dari pada untuk mempertahankan sesuatu yang lain.

Di Amerika, filsafat akan hilang diantara mengunyah sejarah yang


panjang sejak dikurangi terhadap serabut hutan rimba, atau sebagai
apologetic untuk kasus-kasus yang hilang, atau sebuah sekolastik, sekematic,
formalisme, jika tidak, bagaimanapun juga, dapat memberikan kesadaran-
kesadaran kebutuhan Amerika itu sendiri, dan prinsip-prinsip tindakan yang
sukses itu sendiri secara implisit. Jadi, apakah filsafat tidak menyadarinya
tanpa mengetahuinya atau menginginkannya, dan juga untuk berbicara,
harus mulai dari sekarang untuk lebih terbuka dan penuh pertimbangan.
Ketika mengakuinya, dengan penyamaran hubungannya dengan realitas
langsung, filsafat sibuk degan nilai-nilai berharga yang ditanamkan dalam
tradisi-tradisi sosial, yaitu melepaskan diri dari sebuah kelas sosial dan dari
konflik dari institusi-institusi yang melekat dengan kecendrungan-
kecendrungan kontemporer yang bertentangan. Maka akan terlihat bahwa
tugas filsafat pada masa yang akan datang adalah untuk menjelaskan ide-ide
manusia sebagai perselisihan- perselisihan sosial dan moral dari mereka
sendiri. Ini bertujuan untuk menjadi lebih jauh lagi adalah secara
manusiawi mungkin sebuah organ berhubungan dengan konflik-konflik ini.

18
Pelayanan yang berbeda, persoalan-persoalan dan subyek
matter filsafat meninggalkan ketegangan- ketegangan dalam kehidupan
masyarakat dimana sebuah bentuk filsafat yang diberikan muncul, dan sesuai
dengan persoalan-persoalan khusus yang berbeda dengan perubahan dalam
kehidupan manusia, yaitu selalu berkelanjutan dan pada waktu itu
membentuk sebuah krisis dan sebuah titik/ujung secara bergilir dalam sejarah
manusia. Dengan demikian, filsafat hari ini tidak banyak yang memamerkan
kepercayaan tentang kemampuannya secara kompetensi berhubungan dengan
isu-isu serius sekarang. Kekurangan kepercayaan adalah mewujudkan
perhatian terhadap teknik-teknik perkembangan, dan menebar sistem-sistem
yang lalu. Kedua perhatian ini adalah dapat dibenarkan menurut
aturan. Tetapi dengan respek kepada yang pertama, cara rekonstruksi adalah
tidak melalui pemberian perhatian pada bentuk biaya materi/isi yang
substansial, seperti kasus cara- cara yang hanya digunakan untuk
mengembangkan dan memperhalus adalah masih lebih murni dari ketrampilan-
ketrampilan yang formal. Dengan respek pada yang kedua, cara tersebut adalah
tidak melalui peningkatan beasiswa pelajar mengenai masa lalu yang
melepaskan cahaya bukan pada isu-isu sekarang yang merusak kemanusiaan.
Adalah tidak terlalu banyak untuk menyatakan bahwa sejauh perhatian pada
dua topik yang disebutkan tadi, penarikan dari pandangan sekarang, makin
bertambah bukti filosofis, yaitu filsafat itu sendiri adalah sebuah tanda
perluasan gangguan dan goncangan yang sekarang menandakan aspek-aspek
lain dari kehidupan manusia.

Tentu saja, kita boleh pergi lebih jauh dan berkata bahwa penarikan
kesimpulan seperti itu adalah salah satu perwujudan yang merusak sistem-
sistem masa lalu, yang memberikan mereka sedikit nilai untuk pengurusan-
pengurusan yang rusak pada masa sekarang. Yaitu, keinginan untuk
menemukan sesuatu adalah sangat jelas dan pasti sebagaimana
menyediakan sebuah tempat perlindungan yang aman. Persoalan-persoalan
filsafat yang relevan untuk masa sekarang harus berhungan dengan
pertumbuhan dan perkembangan perubahan- perubahan secara berkelanjutan

19
dengan terjadi peningkatan yang sangat cepat, melebihi peningkatan batas
geografis manusia, dan terjadi ketergantungan yang penekanannya sangat kuat.

Filsafat modern, berpandangan adalah dipengaruhi oleh kemunculan


ilmu alam yang baru, yang terdapat didalamnya sebagai sebuah pembagian
dari dalam. Berusaha untuk mengkombinasikan penerimaan terhadap
kesimpulan-kesimpulan penemuan ilmiah sebagaimana dunia secara alami
menerima doktrin ilmu pengetahuan alam yang asli sebelum ada sesuatu
seperti penemuan eksperimen secara sistematis. Diantara keduanya ada
sebuah perselisihan yang melekat. Dengan demikian, filsafat adalah bukan
sebuah jalan khusus menuju sesuatu yang terasing bagi kepercayaan-
kepercayaan yang biasa, ilmu pengetahuan, tindakan, kenikmatan, dan
penderitaan. Tetapi lebih dari itu adalah sebuah kritisisme, sebuah pandangan
yang kritis yang berasal dari kritisisme yang lain hanya untuk mencoba
membawa lebih jauh dan untuk mengejar metodologinya. Pemikiran orang
sebelum berfikir logis, dan mereka menghakimi kebenaran dan kesalahan,
baik dan buruk, sebelum adanya etika. Sebelum ada sesuatu yang
berkenaan dengan metafisika orang bersahabat dengan perbedaan- perbedaan
pengalaman yang nyata dan tidak nyata, dengan fakta yang memproses
apakah bersifat fisik atau manusia secara alami dapat menyimpulkan, dan hasil-
hasil yang diharapkan dan diinginkan itu sering tidak terjadi karena beberapa
proses telah berlalu yang diseberangi oleh beberapa kejadian yang lain. Tetapi
ada konflik dan kebingungan, ambigiutas dan ketidakkonsistensi dalam
pengalaman kita tentang obyek-obyek yang kita kenal dan dalam
kepercayaaan kita dan aspirasi-aspirasi yang berhubungan dengan mereka.
Segera berusaha untuk memperkenalkan keterbatasan, kejelasan dan
memesan dalam sekala besar, memasuki jalan yang menuju kepada filsafat
(Ralph B. Winn, 1959).

b. Pragmatisme Dewey

Pragmatisme terjadi pada saat sains dan industri telah membuat


sebuah masyarakat teknologi baru, secara garis besar adalah masih muncul
dan fleksibel. Pada abad ke-19 menuju kepada abad ke-20, tabiat ilmiah

20
telah diagungkan sebagai sebuah kekuatan positif untuk membuat kehidupan
dibumi ini lebih baik. Pragmatisme menyatakan kecendrungan-kecendrungan
masyarakat Amerika untuk membuang filsafat spekulatif yang murni sebagai
sebuah kekosongan metafisika yang berliku-liku. Formulasi pragmatisme juga
serupa dengan periode sosial, politik yang energik, dan reformasi pendidikan
yang dikenal dengan gerakan progresifisme. Yang dimulai pada tahun 1890-an
di Amerika pada saat memasuki perang dunia I dan II tahun 1917. Pandangan
pragmatisme yang diperdebatkan bahwa persoalan-persoalan, jika mampu
didefinisikan, adalah juga mampu memberi solusi, kelayakan sikap progresif
para reformis sosial Amerika.

Pragmatisme dalam bahasa lain Dewey adalah experimentalisme dan


juga Instrumentalisme. Bagi Dewey, metode filsafat adalah seperti metode
ilmu pengetahuan dan sains, yaitu bersifat eksperimen. Ide-ide kita adalah alat-
alat yang digunakan dalam memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan.
Dan Dewey adalah seorang filosof yang berkonsentrasi pada usahanya
mengenai persoalan-persoalan pendidikan. Hasil-hasil dari kerja kerasnya
memberikan implikasi-implikasi pada pendidikan. Seperti telaahnya tentang
dasar filosofis eksperimentalisme dan implikasi pada pendidikan.

Dasar filosofis eksperimentalisme Dewey merupakan relevansi khusus


terhadap pendidikan. Yaitu berkenaan dengan penolakan Dewey terhadap
absolutisme metafisika, organisme dan lingkungan, epistemologis eksperim,
kelengkapan seni berfikir, dan aksiologi sebagai entalisme penilaian
eksperimentalisme. Melalui tulisannya Dewey menolak konsep dualisme
alam semesta, demikian juga dengan konsep dualisme realitas. Dewey
menekankan sebuah perubahan dan evolusi alam semesta dimana persoalan
kemanusiaan adalah bukan untuk melampaui pengalaman, tetapi lebih
dari itu, yaitu menggunakan pengalaman untuk mengotrol kejadian-kejadian
yang muncul dari tujuan- tujuan kemanusian. Lebih dari pencarian untuk lari
dari pengalaman, Dewey berpendapat bahwa filsafat harus
mengakui/mengenal, membangun, dan menggunakan pengalaman untuk
meningkatkan keadaan manusia. Dalam sebuah rekonstruksi pengalaman

21
seperti, teori dan praktek telah menggabungkan dan menggunakan
aktivitas manusia. Berdasarkan pengalaman, teori adalah terasa dalam
tindakan. Meskipun dualisme antara keabadian dan yang beruabah-rubah,
pengalaman adalah sebuah kesinambungan dimana individu dan kelompok
berhubungan dengan rangkaian kesuksesan dari situasi- situasi yang
problematis.

Dengan kata lain, teori berasal dan terasa dalam praktik, yaitu
pikiran adalah sebuah proses sosial dari penyelesaian persoalan-persoalan
dengan intelegensi dari pada sebuah katagori sebelumnya dan bersifat
transenden. Yaitu pendidikan adalah bersifat liberal, atau membebaskan,
seperti kebebasan manusia dengan memberikan mereka sebuah metode untuk
berhubungan dengan semua jenis persoalan-persoalan, termasuk kejuruan dan
sosial. Perbedaan antara seni-seni yang baik dan berguna adalah tidak
diselesaikan oleh integrasi antara fungsi dan keindahan. Dengan demikian, bagi
Dewey, eksistensi adalah tidak dapat ditentukan. Eksis maksudnya terlibat
dalam sebuah dunia yang berubah. Penyelidikan manusia adalah bukan
untuk kepastian tetapi lebih dari itu adalah untuk sebuah makna, atau
sebuah cara mengontrol dan mengarahkan proses perubahan yang paling akhir
seperti telah berakhir dalam sebuah dunia yang tidak sempurna (Gerald L.
Gutek,1988).

c. Demokrasi

Dalam masyarakat modern mendefinisikan demokrasi dengan kebebasan


intelegensi untuk keefektifan kebebasan, yaitu kebebasan pikiran sebagai
sebuah organ individu untuk melakukan pekerjaannya. Secara alamiah,
demokrasi diasosiasikan dengan kebebasan berkehendak, tetapi kebebasan
bertindak tanpa membebaskan kemampuan berfikir dibelakangnya adalah
hanya kekacauan. Dengan demikian, tak dapat dielakkan bahwa demokrasi
membawa respeknya pada individu sebagai individu, kesempatan yang besar
untuk kebebasan, kebebasan, dan adanya inisiatif untuk melakukan dan
berfikir, dan tuntutan sesuai untuk kebersamaan dan dorongan pribadi dan
secara suka rela dilahirkan untuk bertanggungjawab.

22
Bagi Dewey, demokrasi tidak sekedar dan lebih luas maknanya dari
pada sebuah bentuk politik yang khusus, atau sebuah metode melakukan
pemerintahan tentang membuat hukum-hukum dan menjalankan
administrasi pemerintahan dengan makna mempunyai hak pilih yang populer
dan jabatan-jabatan yang dipilih. Tetapi makna demokrasi itu adalah sesuatu
yang lebih luas dan lebih dalam dari itu, untuk merealisasikan tujuan-tujuan
dalam aspek yang lebih luas mengenai hubungan-hubungan sesama manusia
dan mengembangkan kepribadian manusia. Sering kita katakan, yaitu lebih
dulu tanpa apresiasi terhadap semua yang terlibat dalam perkataan, a way of
life, baik sosial maupun bersifat individual. Makna a way of life disini adalah
perlu partisipasi dari setiap informasi manusia yang belum dewasa tentang
nilai-nilai yang mengatur kehidupan manusia secara bersama-sama.

Demokrasi sebagai a way of life dikontrol oleh suatu keyakinan


pekerjaan dalam kemungkinan-kemungkinan alami manusia. Keyakinan
Common Man adalah sebuah benda yang bersahabat dalam kepercayaan yang
demokratis. Kepercayaan itu adalah tanpa dasar dan kepentingan yang aman
seperti makna keyakinan pada potensi alami manusia adalah yang dipamerkan
pada setiap manusia terlepas dari ras, warna, jenis kelamin, kelahiran, dan
keluarga, tentang materi atau kekayaan budaya. Keyakinan ini boleh jadi
terjadi pada status, tetapi keyakinan itu hanya pada kertas kecuali kalau
meletakkan kekuatan pada sikap dimana manusia memamerkan pada satu
sama lain dalam semua kejadian-kejadian dan hubungan-hubungan kehidupan
sehari-hari. Dengan demikian, fondasi demokrasi disini adalah kepercayaan
pada kemampuan alami manusia, intelegensi manusia dan pada kekuatan
cadangan dan pengalaman bekerja sama ( Ralph B. Winn, 1959).

23
E. Demokrasi Dalam Proses Pendidikan

1. Pendidikan dan masyarakat yang demokratis

Dalam menelaah masyarakat, para warga bebas dari rintangan-


rintangan yang dilakukan pemerintahan yang absolut atau filsafat-filsafat yang
a priori. Karena institusi- institusi pendidikan telah mensosialisasikan para
pemuda dalam nilai-nilai kelompok, pada dasarnya, pendidikan yang
demokratis terjadi dalam lingkungan sekolah yang bersifat eksperimen atau
berorientasi pada penyelidikan. Dalam kontek sosiologi, masyarakat
demokratis ala Dewey adalah salah satu dimana anggota-anggotanya saling
berbagi kemungkinan kepentingan-kepentingan yang berbeda-beda secara lebih
luas. Setiap rintangan dan halangan dalam interaksi kelompok, seperti ras,
agama, atau pemisahan yang bersifat ekonomis, turut bergabung dengan
pembagian kelompok. Setiap bentuk eksploitasi manusia berakhir dengan
saling membagi percobaan perangai dari masyarakat demokratis secara murni.
Kapan saja para individu terlibat dalam aktivitas yang eksklusif tanpa berbagi,
artinya itu telah terjadi beberapa bentuk eksploitasi.

Dewey menekankan kerja sama secara alami mengenai pembagian


pengalaman manusia. Kerja sama yang lebih terjadi diantara individu secara
besar-besaran adalah kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang dan
berinteraksi sesama manusia. Dengan demikian, ada tiga unsur kunci asosiasi
manusia. Yaitu: the common, communication, dan community (Gerald L.
Gutek, 1988:101-103). Common, mempresentasikan saling membagi objek-
objek, instrumen-instrumen, nilai-nilai, dan ide-ide yang muncul dalam
konteks pengalaman kelompok. Communication, terjadi ketika orang
membentuk dan mengekpresikan pengalaman bersama mereka dalam
rumus-rumus secara simbolik dengan sebuah bahasa yag sama.
Sedangkan community, asosiasi manusia yang menghasilkan individu-
individu secara bersama untuk mendiskusikan pengalaman bersama
mereka dan persoalan-persoalan melalui alat komunikasi bersama. Meskipun
semua asosiasi manusia mempunyai karakteristik yang biasa membagi

24
objek-objek sosial dan instrumen-instrumen dengan komunikasi bersama.
Dewey lebih suka kebebasan, terbuka, dan aturan-aturan yang humanis dari
masyarakat yang demokratis dimana proses percobaan dioperasikan tanpa turut
campur struktur-struktur yang atoriter dan absolut.

Meskipun Dewey menekankan pentingnya masyarakat yang terbuka


yang ditandai dengan saling membagi pengalaman seperti sebuah
masyarakat yang tidak hanya terhenti pada suatu penegasan. Sebuah
masyarakat demokratis yang murni mengorbankan pluralisme budaya dan
perbedaan dalam sebuah konteks bersama. Maka bagi Dewey, pendidikan
membantu untuk membentuk rasa bermasyarakat.

Dewey menempatkan kepentingan yang sangat penting tentang


peranan pendidikan pada kelompok manusia. Partisipasi dalam aktivitas
kelompok telah memberi kontribusi dalam pengembangan intelegensi sosial.
Sekolah dan ruangan Dewey telah disusun sebagai embrio masyarakat dimana
para pelajar bekerja bersama untuk menyelesaikan persoalan-persoalan
bersama secara bersama. Dengan mendiskusikan tujuan-tujuan bersama,
aspirasi-aspirasi, dan projek-projek, para pelajar telah mentransformasikan
mereka sendiri dari berpisah- pisah, ketidak berpisahnya individu dalam
sebuah masyarakat yang anggota-anggotanya saling membagi aktivitas-
aktivitas dan konsern-konsern secara bersama. Dengan demikian, pandangan
demokrasi Dewey, telah dipengaruhi oleh pembentukan pengalamannya
sendiri di Vermont. Visi kehidupan masyarakat Amerika dimana Dewey dan
kebanyakan asosiasinya saling menopang pada pertemuan konsep pribadi,
saling membagi demokrasi. Walaupun pengalaman persoanal secara
langsung pada kota kecil Amerika telah dikikis oleh munculnya
industrialisasi, teknologi dan masyarakat urban tentang hubungan yang
bukan pribadi. Dewey memimpikan pendidikan akan diperbaharui dan
mengembangkan rasa kemasyarakatan. Sebagai anak-anak yang bekerjsama
dalam kegiatan-kegiatan kelompok, dia telah mendahului bahwa sosialisasi
kelompok proses problem-solving akan ditransfer pada masyarakat secara lebih
luas.

25
Dewey memimpikan sebuah komunitas yang hebat atau masyarakat
yang hebat yang meliputi komunikasi yang paling bebas dan terlengkap
antara orang-orang. Komunitas yang baik tersebut tergantung pada sebuah
perluasan komunitas-komunitas lokal dimana mayoritas orang-orang yang baik
telah mempunyai panduan pengalaman pribadi dalam menyelesaikan
persoalan- persoalan kehidupan secara umum. Menurut aspek ini, Dewey
benar menjalani politiknya dalam masyarakat Amerika yang berfikir
progresif pada awal abad ke-20. Masyarakat Amerika yang progresif pada
waktu itu secara umum melihat reformasi dimulai secara lokal dan kemudian
diperluas pada unit-unit politis yang lebih luas seperti pergerakan-
pergerakan pada negara bagian dan federal. Demokrasi komunitas yang baik
menurut Dewey telah merangkul sebuah derajat perkoperasian. Tidak
seperti bisnis koperasi yang telah ada dan bertahan dalam ekonomi
kapitalis karena ia beruntung, perkoperasian-perkoperasian pada komunitas
yang baik akan menyediakan pelayanan-pelayanan yang diperlukan untuk
anggota-anggotanya.

1. Learning by doing

Kata “learning by doing” telah menjadi lusuh dan tidak mempunyai arti
bahwa persetujuan secara umum pada persetujuan yang lalu jarang
digunakan. Tetapi dalam filsafat pendidikan Dewey, istilah tersebut akan
lebih bermakna dan bersifat instruktif. Istilah ini juga hanya kata jadian dan
kedua yang merujuk kepada perolehan ketrampilan-ketrampilan manual
dengan mencoba trial dan error, yang diikuti oleh sebuah peningkatan
tambahan. ”Learning by doing” merujuk kepada proses pada manusia untuk
menilai diri mereka sendiri mengenai kekuatan yang sempurna, kepentingan,
dan kebijaksanaan/masuk akal tentang setiap penggunaan yang bersifat
teoritis hanya sejauh mereka menemukan teori itu dalam praktek.
Kesimpulannya adalah bahwa belajar adalah tidak hanya belajar bagaimana
melakukan sesuatu. Asosiasi binatang kita saling membagi bahkan dengan
hewan yang tidak bertulang belakang. Kita juga belajar apa yang sedang kita
lakukan. Praktek seperti itu tidak membatasi pelajaran itu sendiri untuk

26
memanipulasi buku pedoman. Seperti, kembali kepada superioritas keterlibatan
pelajar-pelajar dalam perjalanan pelajar berhadapan dengan prinsip- prinsip
demokrasi. Prinsip-prinsip tersebut menekankan tidak hanya bekerja mengenai
sains dilaboratorium, tetapi juga membuat koordinasi yang kuat mengenai
percoabaan dengan teori yang dipamerkan. Artinya dalam ungkapan yang
abstrak tidak ada nilai belajar tanpa belajar tentang nilai. Dan nilai seperti itu
tidak diperoleh dengan sebuah seri dari preposisi-preposisi yang verbal. Dan
itu juga artinya sebagaimana kita lihat, pertemuan sosial dengan pengetahuan
dan keberhasilan masyarakat.

Di samping itu, para pelajar duduk bersama dalam kelas, yang secara
institusional terisolasi dari satu sama lain kecuali pada perhatian bersama
pada figur guru sebelum mereka. Sekarang, supaya menjadi dewasa, mereka
duduk bersama dan secara baik terisolasi oleh ketidak berpartisipasinya,
kecuali ada fakta bahwa mereka memandu perhatian mereka menuju pada
layar telivisi. Kondisi model keberadaan ini pada awalnya, cermat dan sangat
efektif. Dan kondisi seperti ini tidak gagal untuk memperoleh hasil-hasil
yang signifikan secara statistik. Pendidikan awal anak-anak secara fisik
dekat dengan anak-anak yang lain, tetapi secara sosial terasing dari mereka
dalam praktek yang mendukungnya menuju kedewasaan. Mata ajar
dipresentasikan sebagai pemisahan dari bahan ajar yang lain dan dengan
sangat sedikit tentang kehidupannya yang diberikan secara signifikan. Dalam
keadaan yang minimal ini, hanya ada satu kemungkinan sumber perhatian.
Anak yang pandai mendapat nilai yang lebih bagus, dengan pemisahan yang
kompetitif, dari pada anak berikutnya. Dan ini dalam sebuah subyek untuk
memiliki sedikirt penggunaan, adalah sangat berguna mempunyai dengan
sangat susah yang terjadi secara nyata padanya.

Kemudian, situasi yang sama juga terjadi pada orang dewasa. Dalam
kelasnya dia mempunyai sebuah mesin iklan. Ketika menghadirkannya,
mengambil keadilan yang baik tentang waktunya yang membuatnya merasa
berkompetisi tentang penempatan sesuatu yang dia tidak mempunyai alasan
untuk membutuhkan. Tetapi guru pada masa remaja telah menyiapkannya

27
untuk patuh sebelum muncul motivasinya. Kita seharusnya tidak memberi
kejutan pada para remaja yang sangat terlatih dan sangat dipelihara,
seharusnya menjaga dari pada untuk kehormatan/gengsi, untuk kekuatan
dan untuk penempatan dari pada untuk satu sama lain sebagai manusia.
Dewey meletakkan caranya: ”we repeat over and over that man is a social
animal, and then confine the significance of this statement to the sphere in
which sociality usually seems least evident, politics. The heart of the sociality of
man is in education” (Dewey, 1957: 185).

Sebutan politik mendidik kesimpulan lain yang hanya dapat


disentuh pada saat lewat. Bahkan siapa yang memproyeksikan
kewaspadaan pada media masa komunikasi kadang-kadang dilakuan secara
berlawanan baik pada saat mengutuk tentang politik di TV atau pada
penerimaan pendidikan melalui TV. Kita akan melakukan dengan baik untuk
menanyakan diri kita lebih tepat tentang perangkap dan keuntungan setiap
orang sejak keduanya nampak pada ketentuan untuk mengatakan.

Kembali lagi kepada pertanyaan kita yang asli, saya mendukung cara
berbicara yang sangat simpel tentang belajar sambil bekerja adalah untuk
mengatakan bahwa itu adalah sebuah pertanyaan tentang bagaimana kuat
praktek dan aspek sosial pengetahuan harus terjadi dalam sebuah masyarakat
yang mengancam untuk menguasai individualitas secara keseluruhan.
Dan pertanyaan ini tentang individualitas dan masyarakat pada saat
meningkat kompleksitas sosial dimana subyek akhir bagi setiap orang
yang tertarik pada filsafat pendidikan (Charles W. Hendel, 1959: 50-53).

2. ”Democratic ideal” dalam Pendidikan

Untuk menemukan demokrasi yang ideal, maka beberapa pandangan yang


membawa implikasi terhadap pendidikan. Pandangan-pandangan tersebut
diantaranya adalah:

28
a. demokrasi berusaha untuk mewujudkan hubungan sosial kita
prinsip yang menghargai setiap individu sebagai tempat nilai
internal dan harkat/martabat. Dewey berargumen bahwa prinsip ini
dapat diinterpretasikan termasuk anak-anak dan orang dewasa.
Bagi anak-anak dia berpendapat adalah sebuah perkembangan
seseorang dan bukan hanya sebuah potensi pribadi yang ideal.
Implikasi bagi pendidikan adalah menghadirkan pengalaman anak
yang unik dan merasa butuh dan tertarik untuk memainkan bagian
mereka yang telah ditentukan pada program pendidikan. Untuk
menemukan persyaratan tentang demokrasi yang ideal, maka sekolah
harus dilengkapi dan berhubungan dengan setiap anak sebagai
individu dan tidak hanya sebagai alat di kelas atau dalam kelompok.

b. Konsep demokrasi mengandung arti sebuah masyarakat dimana


setiap individu menikmati berakhirnya jabatan dan institusi-
institusi yang kaya jabatan. Masyarakat tidak baik jika masyarakat
tersebut tidak baik pada anggotanya. Individu yang nyata adalah
satu-satunya pusat pengalaman dan bahkan tempat akhir dari
semua nilai. Dewey percaya perkembangan aktual setiap individu
merupa ujian pengaturan sosial yang sangat tinggi, dan tujuan akhir
dari semua aktivitas pendidikan.

c. Prinsip yang demokratis adalah setiap individu dilayani sebagai


sebuah tujuan yang berarti bahwa individu harus sangat terdidik
yang mempunyai kompetensi untuk menentukan nilai-nilai. Cerdas
mengenai nilai-nilai individu harus mengetahui kondisi-kondisi
kehidupan dan institusi- institusi ilmiah, teknologi, ekonomi,
politik, domestik, budaya dan agama. Jika dia menyadari
kemungkinan-kemungkinan dan keterbatasan aturan-aturan
institusi, dia membutuhkan pengetahuan masa lalu dari mana dia
datang, pengetahuan tentang kondisi-kondisi aktual yang sekarang
dia laksanakan, dan masa depan yang belum terbentuk. Hanya
seperti yang telah dia pelajari untuk menggambarkan

29
pengalamannya dan kawan-kawannya dalam acuan teknologi ini dan
kondisi-kondisi sosial dapat menjadi cerdas mengenai keinginannya
dan mampu membagi perkembangan dari tujuan-tujuannya dan
masyarakatnya.

d. Sebuah masyarakat yang demokratis adalah respek pada individu


yang juga akan menghadiahi keunikan-keunikan dan perbedaan-
perbedaan individu. Ini bertujuan untuk menyediakan kesempatan
yang maksimal bagi setiap individu untuk berinisiatif memperhatikan
kelompok- kelompok dan asosiasi-asosiasi. Sejak ”perbedaan simulasi
dimaksudkan dengan kesenaan baru, dan kesenangan baru
bermakna tantangan untuk berfikir” (John Dewey, 1964: 98),
maka sebuah masyarakat yang demokratis akan mencari
dorongan sebuah kesehatan yang berbeda, keterbatasannya hanya
ketika memerlukan keamanan yang koordinasinya butuh kepada
pemeliharaan kesejahateraan semua. Jadi, sebuah masyarakat yang
demokratis mengandung arti sebuah pluralitas kelompok dan distribusi
kekuatan, yaitu tidak cocok dengan ungkapan totaliter dimana
semua bentuk asosiasi dan kekuatan terkonsentrasi pada satu partai
politik saja. ”Since a democratis society repudiates the principle of
external authority, it must find a substitute in voluntary
disposition and interest these can be created only by education”.

e. Dewey tertarik pada demokrasi juga menekankan pentingnya metode


pendidikan. Sebuah masyarakat adalah menggugah banyak perbedaan
keinginan kelompok-kelompok, dan salah satu kekuatan adalah
didistribusikan diantara semua anggotanya, sebuah masyarakat
dengan konflik interes dan nilai adalah loncatan untuk bangun.
Konflik-konflik ini akan muncul tidak hanya antara kelompok-
kelompok, tetapi juga dalam kelompok yang sama kapan saja
kemungkinan- kemungkinan baru berkompetisi dengan rutinitas yang
lebih tua. Dengan demikian, demokrasi membutuhkan kepada sebuah
metode untuk menyelesaikan konflik. Untuk mengorganisasikan

30
sekolah juga sebagai pemberian pengalaman aktual kepada yang muda
dalam proses ini membuat keputusan-keputusan dengan metode
konferensi dan take and give secara bersama.

f. Kondisi-kondisi sekarang di Amerika, menurut Dewey, seperti


membuat sebuah ancaman nyata terhadap warisan demokrasi kita.
Keberadaan aturan-aturan legal dan ekonomis telah dikonsentrasikan
kekayaan pada kekuasan- kekuasan kelas-kelas yang kecil yang
mempunyai kesempatan yang sama telah dirusak kelompok ekonomis.
Kelas yang memiliki hak istimewa juga mencari untuk memelihara
posisinya dengan membatasi mengekpresikan kebebasan berfikir, dan
ujicoba tersebut menggunakan kecerdasan yang secara mendasar
dalam sebuah masyarakat yang demokratis (Paul Arthur Schilpp,
1951).

Dari beberapa implikasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa


demokrasi dan pendidikan memerlukan kepada sebuah masyarakat yang
memprogramkan dan mengontrol hasil pendidikan demi kebaikan bersama.
Jadi, tugas yang sangat penting adalah menghasilkan sebuah transformasi
sosial yang dicapai melalui kerja sama, politik dan ekonomi yang damai,
menyediakan pendidikan gratis untuk meneruskan fungsi-fungsinya yang
kritis dan konstruktif.

F. Nilai-Nilai Demokrasi Dalam Proses Pembelajaran

1. Aspek Pendidik

Salah satu yang sangat menentukan dalam proses internalisasi


nilai adalah sang pembawa berita. Terinternalisasi atau tidak terinternalisasi
nilai-nilai tersebut adalah sangat ditentukan kepribadian dan integritas
pemberi khabar tersebut. Dengan demikian, keberhasilan internalisasi nilai-
nilai demokrasi dalam pendidikan Islam ditentukan seorang guru dalam konteks
sekolah, orang tua dalam konteks keluarga dan pemimpin atau tokoh-tokoh
masyarakat dalam konteks masyarakat.

31
Dalam konteks pembelajaran, maka gurulah sebagai pemeran penting.
Secara konvensional, guru paling tidak harus memiliki tiga kualifikasi dasar,
yaitu: menguasai materi, antusiasme, dan penuh kasih sayang dalam mengajar
dan mendidik. Misi utama seorang guru adalah memberi pencerahan,
mencerdaskan bangsa (bukan sebaliknya), mempersiapkan subyek didik
sebagai individu yang bertanggungjawab dan mandiri, bukan menjadikannya
manja dan menjadi beban masyarakat. Maka proses internalisasi di sini
adalah harus mencerdaskan dan mencerahkan yang berangkat dari pandangan
filosofis guru bahwa subyek didik adalah individu yang memiliki beberapa
kemampuan dan keterampilan.

Dalam perspektif humanisme religius, guru tidak dibenarkan


memandang subyek didik dengan mata sebelah, tidak sepenuh hati, bahkan
memandang rendah kemampuan yang dimiliki oleh subyek didik. Karena alasan
budaya, maka biasanya seorang guru/pendidik sering terjerat dalam pandangan
yang salah. Dalam kasus Indonesia mungkin karena kita terlalu lama
dipegang kendali oleh kolonialisme yang sangat berperang tidak manusia
dalam membentuk sikap pendidik/guru yang sok berkuasa dan menindas.

Dalam pendidikan Islam, seorang pendidik/guru, paling tidak memiliki


beberapa sifat berikut, yaitu: seorang pendidik/guru memiliki sifat zuhud,
dan mengajar karena mencari ridha Allah; guru harus suci dan bersih; guru
ikhlas dalam melaksanakan tugas; guru bersikap murah hati; guru memiliki
sikap tegas dan terhormat; guru memiliki sikap kebapakan sebelum menjadi
guru; guru memahami karakteristik murid; dan guru harus menguasai materi
pelajaran. Sedangkan al-Ghazali, memandang posisi dan profesi guru sebagai
tugas utama dan mulia. Dia mengatakan bahwa ”makhluk di atas bumi
yang paling utama adalah manusia, bagian manusia yang paling utama adalah
hatinya. Seorang guru sibuk menyempurnakan, membersihkan, dan
mengarahkan dirinya agar dekat kepada Allah SWT. Dengan demikian,
mengajarkan ilmu merupakan ibadah dan pemenuhan tugas sebagai
khalifah Allah SWT. Bahkan merupakan tugas kekhalifahan yang paling
utama”.

32
Dari penjelasan di atas, jelas menunjukkan pentingnya seorang guru dan
betapa pentingnya fungsi seorang guru dalam mengemban amanah sebagai
pemberi informasi yang mengandung nilai-nilai kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, dapat pula dikatakan bahwa guru atau pendidik adalah
sebagai model bagi subyek didik dalam rangka mewariskan nilai-nilai terpuji
kepada subyek didiknya.

2. Aspek Subyek didik

Subyek didik adalah pihak yang menerima informasi atau pihak yang
menerima pewarisan nilai-nilai atau sebagai pihak yang menjadi sasaran dalam
internalisasi nilai. Maka subyek didik juga harus diperhatikan perkembangan
dan pertumbuhannya. Karena kesesuaian informasi atau nilai-nilai yang akan
diinternalisasikan kepada mereka itutersalurkan atau tidak tersalurkansangat
besar pengaruhnya dari aspek perkembangan mereka. Supaya nilai-nilai tersebut
ketika diinternalisasikan tidak sisa-sia, maka perlu memperhatikan hak-haknya
sebagai subyek didik.

Di antara hak-hak subyek didik adalah diperolehnya kemudahan-


kemudahan untuk memperoleh fasilitas pendidikan agar proses internalisasi bisa
berlangsung lebih mudah dalam setiap saat dan kesempatan belajar tanpa
harus dibedakan antara si kaya dengan si miskin. Sebelum belajar, seorang
subyek didik hendaknya memulai dengan mensucikan hatinya dari sifat-sifat
kehinaan, sebab proses belajar mengajar termasuk ibadah dalam Islam.
Keabsahan ibadah di antaranya harus berakhlak mulia, seperti jujur, ikhlas,
tawakkal, rendah hati dan sifat-sifat terpuji lainnya. Kemudian, orientasi
belajar mengajar adalah dalam rangka memperbaiki dan menghiasi jiwanya
dengan sifat-sifat yang mulia.

Menurut al-Ghazali, subyek didik memiliki beberapa tugas di antaranya


adalah: belajar itu adalah sebagai sarana ibadah kepada Allah; semampu
mungkin subyek didik hendaknya menjauhkan diri dari urusan dunia dan
mengurangi ketergantungan dirinya; bersifat rendah hati; mempelajari
33
ilmu pengetahuan yang terpuji; belajar sesuai dengan tingkat
perkembangannya; dan subyek perlu mengetahui nilai pengetahuan dari
segi manfaat yang ia peroleh.

Dalam konteks internalisasi nilai-nilai demokrasi kepada subyek didik,


maka harus diperhatikan kepribadian yang dimiliki oleh subyek didik sebagai
penerus generasi berikutnya. Nilai-nilai demokrasi adalah nilai-nilai universal
yang mesti diinternalisasikan kepada subyek didik dalam rangka
pengembangan kapasitas baik intelektual, sikap dan tingkah laku, maupun
kapasitas ketrampilan yang dimiliki subyek didik. Supaya nilai-nilai demokrasi
tersebut terinternalisasi kepada subyek didik dalam konteks proses
pembelajaran. Maka perlu diperhatikan aspek perkembangannya, khususnya
perkembangan sikap dan tingkah lakunya. Untuk itu, dalam pendidikan
Islam, kepribadian subyek didik meliputi: kepribadian kemanusiaan dan
kepribadian kewahyuan (samawi).

Kepribadian kemanusiaan, di bagi kepada kepribadian individu dan


kepribadian ummah. Kepribadian individu yang meliputi ciri khas seseorang
dalam bentuk sikap dan tingkah laku serta intelektual yang dimiliki masing-
masing secara khusus sehingga ia berbeda dengan orang lain. Dalam
pandangan Islam, manusia memiliki potensi yang berbeda yang meliputi aspek
fisik dan psikis. Sedangkan kepribadian ummah meliputi ciri khas
kepribadian muslim sebagai suatu ummah (bangsa/negara) muslim yang
meliputi sikap dan tingkah laku ummah muslim yang berbeda dengan
ummah lainnya, yang mempunyai ciri khas kelompok dan memiliki
kemampuan untuk mempertahankan identitas tersebut dari pengaruh luar,
baik ideologi maupun lainnya yang dapat memberikan dampak negatif.

Kepribadian samawi (kewahyuan), adalah corak kepribadian yang


dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci( Al-Qur’an). Kepribadian
muslim sebagai individu dan sebagai ummah terintegrasi dalam suatu pola
yang sama. Jadi terjadi dikotomi antara individu dan ummah. Cuma dalam

34
segi pembagiannya saja yang terlihat adanya dikotomi, tetapi dalam dasar dan
tujuan pembentukan keduanya terintegrasi kepada dasar yang sama, yaitu al-
Qur’an dan Hadits, dan tujuannya adalah menjadi hamba Allah swt yang ta’at
9QS. Al-Zriyat: 51). Dengan demikian, hasil dari internalisasi nilai-nilai
demokrasi dapat membentuk kepribadian secara individu dan juga sebagai
ummah.

3. Aspek Materi

Aspek yang sangat menentukan dalam internalisasi nilai, di samping


pembawa berita/pendidik dan yang menerima berita/subyek didik, adalah isi
dari berita yang dibawa oleh pembawa berita/pendidik/guru. Dalam
Pendidikan Islam, materi yang dibawa atau diwariskan dari generasi ke
generasi adalah hal-hal yang berkenaan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri
seperti nilai-nilai ketauhidan, nilai-nilai syar’yah, dan nilai-nilai akhlak. Dan
nilai-nilai demokrasi sesuai dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh
pendidikan Islam, walaupun ada perbedaan dari sudut terminologi dan
ontologi, seperti kebebasan, dan kata dari demokrasi itu sendiri. Tetapi
secara essensial, nilai-nilai demokrasi adalah nilai-nilai yang sudah dianggap
universal dan demikian juga dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, nilai-
nilai demokrasi dapat diinternalisasikan dalam proses pembelajaran nilai
Islami dengan perombakan sedikit atau penjelasan yang memadai pada tataran
ontologinya.

a. Kebebasan

Ada tiga jenis nilai-nilai kebebasan yang harus diinternalisasikan, yaitu:


kebebasan berkarya, kebebasan mengembangkan potensi, dan kebebasan
berpendapat. Pertama, yang dimaksud dengan kebebasan berkarya di sini
adalah mendidik harus membiaskan subyek didiknya untuk berpegang teguh
pada kemauan dirinya sendiri dan diberi kebebasan dalam berpikir tanpa
terpaku pada pendapat orang lain, sehingga subyek didik bisa menentukan
secara bebas masa depannya sendiri berdasarkan kemampuan yang ada pada
dirinya. Kebebasan seperti ini dapat membiasakan subyek didik menjadi

35
manusia yang berani mengemukakan pendapat dengan penuh tanggung
jawab.

Kedua, kebebasan dalam mengembangkan potensi. Artinya, membagi


fitrah menjadi dua dimensi, yaitu: fitrah al-gharizah, yaitu potensi dalam diri
manusia yang dibawanya sejak lahir yang meliputi akal, nafsu dan hati nurani.
Dan fitrah al-munazalah, yaitu potensi luar yang membimbing dan
mengarahkan fitrah yang pertama untuk berkembang sesuai dengan
fitrahnya melalui proses pendidikan. Pengembangan potensi subyek didik
adalah dilakukan melalui proses pendidikan yang mampu mengantar subyek
didik menjadi hamba Allah dan khalifah Allah di muka bumi ini dengan
tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ilahiyah.

Ketiga, kebebasan dalam mengeluarkan pendapat. Setiap


pendidik/guru dituntut untuk menghargai pendapat subyek didik dan
subyek didik juga dituntut untuk menghargai pendapat pendidik/guru dan
sesama subyek didik. Karena menghargai pendapat orang lain adalah salah
satu kebutuhan dalam melaksanakan pendidikan. Dan setiap individu yang
merasa tidak bebas melakukan sesuatu apa yang diinginkannya, maka dia akan
mencari jalan untuk dapat melepaskan kungkungan agar ia merasa bebas
dalam hidupnya. Maka peran pendidik/ guru dalam hal ini adalah membimbing
dan mengarahkan subyek didik untuk mengemukakan isi hatinya dengan cara
yang wajar, bermoral dan terpuji serta diridhai oleh Allah swt sesuai dengan
tahap-tahap perkembangan jiwanya. Pendidik/guru bukan menekan kebebasan
pendapat pada subyek didik yang mengakibatkan jiwanya tergoncang dan
terbelenggu seperti adanya rasa cemas, gelisah dan kecewa selama
berlangsungnya proses belajar mengajar.

b. Persamaan

Dalam Islam, setiap individu diberikan kesempatan yang sama dalam


mendapatkan pendidikan. Subyek didik yang belajar pada lembaga
pendidikan tidak ada perbedaan derajat atau martabat, karena penyelenggaraan

36
pendidikan dilaksanakan dalam suatu ruang kelas dengan tujuan untuk
mendapatkan pengetahuan dari pendidik/ guru. Maka pendidik/guru
mengajarkan subyek didik yang tidak mampu dengan yang mampu secara
bersama atas dasar penyediaan kesempatan belajar yang sama bagi semua
subyek didik. Maka dalam pendidikan Islam tidak mengenal model sekolah
unggul atau elit karena hal tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai
demokrasi sebab bersifat diskriminatif terhadap subyek didik. Tetapi yang ada
hanya sistem atau model pelayanan unggul, di mana setiap subyek didik
dibimbing mengembangkan potensinya secara maksimal.

c. Persaudaraan

Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan yang didukung oleh sikap penuh


penghormatan, persaudaraan, dan penuh kasih sayang pemberi berita dengan
penerima berita atau antara pendidik/guru dengan subyek didik. Bukan
pekerjaan yang penuh dengan kecurigaan, keterpaksaan, penuh kebencian.
Karena proses internalisasi nilai butuh kepada suasana yang kondusif dan
suasana yang harmonis antara pendidik/guru dengan subyek didik. Dengan
demikian, nilai persaudaraan sebagai salah satu nilai-nilai demokrasi harus
terjadi dalam proses pembelajaran.

Dalam Islam, antara satu muslim dengan muslim yang lain adalah
saudara. Bahkan bukan saja antara sesama muslim harus dibina persaudaraan,
tetapi antar sesama manusia yang hidup di dunia ini, dan demikian juga
dengan akhlak Allah lainnya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Apabila nilai atau sikap persaudaraan ini sudah terinternalisasi dalam
kepribadian subyek didik, maka akan tercipta suatu fenomena atau suasana
pembelajaran yang menyenangkan, demokratis, dan saling menghargai
antar sesama subyek didik, pendidik, dan semua yang terlibat dalam proses
pembelajaran secara umum.

Internalisasi ketiga nilai-nilai tersebut di atas sebagai materi atau bahan


ajar dalam rangka pelaksanaan sistem pembelajaran yang demokratis di
lingkungan pendidikan, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

37
3. Aspek Metode

Metode adalah cara yang harus ditempuh secara teratur, terpola, dan
terpikirkan dengan baik untuk mencapai tujuan pendidikan. Maka suatu

metode memiliki empat kriteria, yaitu: seleksi, gradasi, presentasi, dan repetisi.
Dengan seleksi, bagaimana sebuah metode membuat seleksi atas bahan
yang akan diajarkan. Dengan gradasi, bagaimana bahan yang sudah
diseleksi itu diatur dalam urutan. Dengan presentasi, bahan yang sudah
diseleksi diurut dengan tingkat kesukaran agar bisa disajikan. Dan dengan
repetisi, bagaimana metode itu membuat ulangan atas bahan yang telah
disajikan agar subyek didik dapat menguasainya dengan baik. Dengan demikian,
ada banyak metode yang dipergunakan dalam pembelajaran nilai-nilai. Di
antaranya adalah: metode ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas,
demonstrasi, dan eksperimen.

Metode ceramah adalah suatu cara penyampaian informasi melalui


penuturan secara lisan oleh pendidik kepada subyek didik. Metode tanya
jawab, suatu cara mengajar di mana seorang pendidik mengajukan beberapa
pertanyaan kepada subyek didik tentang bahan ajar yang telah diajarkan atau
bacaan yang telah mereka baca. Sedangkan subyek didik memberikan jawaban
berdasarkan fakta. Metode diskusi, suatu cara penyampaian bahan ajar di mana
pendidik memberikan kesempatan kepada subyek didik membicarakan dan
menganalisis secara ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan
atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas sesuatu masalah. Dan
berbagai jenis metode lainnya.

Selain metode-metode di atas, ada metode lainnya yang sangat


berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Metode tersebut adalah metode
berpikir reflektif. Metode ini adalah suatu cara berpikir yang dimulai dari
adanya problema yang dihadapkan kepadanya untuk dipecahkan. Problema ini
yang oleh para ahli filsafat dipandang sebagai problema berat yang cara
pemecahannya disarankan sebagai berikut:

38
a. Pertama sekali menganalisa situasi secara hati- hati dan
kemudian mengumpulkan semua fakta yang relevan. Dan harus
adil dan tidak memihak serta tanpa prejudis (prasangka) dalam
mengobservasi fakta-fakta itu.

b. setelah melakukan observasi pendahuluan terhadap fakta-fakta


itu maka pemecahan apa yang diusulkan, ditetapkan. Inilah
yang disebut dengan ”sugesti” dan juga dapat disebut ”hypothesa”
atau ”teori provisional” (persiapan).

Kadang-kadang dalam menyelesaikan problema yang dihadapi muncul


inspirasi semacam ilham dari dalam hati nurani, yaitu intuisi. Inspirasi
tersebut muncul dalam proses berpikir. Dan intuisi ini menuntun proses
berpikir manusia ke arah pemikiran logis melalui penalaran yang bersifat
deduktif, induktif dan reflektif.

Proses berpikir reflektif berlangsung seperti proses berpikirnya


seorang dokter, yaitu melakukan diagnosa terhadap pasiennya yang
menderita suatu penyakit. Untuk mengetahui penyakit yang diderita oleh
pasiennya secara tepat, ia menghadapi suatu problema. Ia melakukan observasi
pendahuluan terhadap fakta-fakta, mengajukan pertanyaan kepada pasiennya,
menguji tekanan urat nadi dan temperatur badannya, kemudian timbullah
sugesti pada dirinya di mana penyakit yang diderita pasiennya adalah
typhes. Bila penyakitnya itu benar-benar typhes, maka ada gejala yang
akan dapat menjelaskan tentang apa obat-obat yang harus dipergunakan
untuk menyembuhkannya. Inilah contoh berpikir reflektif dan metode inilah
yang pantas dipergunakan dalam penelitian ilmiah pada umumnya. Tetapi
timbul pertanyaan, apakah metode ini dapat dipergunakan dalam semua
bidang keilmuan? Bagaimana cara menerapkan dalam pemecahan problema
hidup yang berkaitan dengan masalah ketuhanan dan jiwa manusia, dan
seterusnya. Dalam kasus ini, maka metode di atas tidak mutlak dapat
dipergunakan dengan beberapa metode lain, seperti metode analisa logis dan
sintesis didasarkan atas pendekatan historis, kultural, filosofis, dan scientifik.

39
Proses berpikir dengan menggunakan cara apapun bila dilihat dari segi
psikologis merupakan proses penggunaan simbol-simbol untuk memecahkan
problema tentang hubungan obyek satu sama lain yang secara material tidak
terlihat oleh panca indera. Dengan demikian, hubungan antara satu obyek
dengan obyek lainnya bersifat abstrak, yang berupa bayang-bayang pikiran
yang berproses secara psikologis untuk memecahkan problema yang dihadapi.
Proses ini berlangsung berturut-turut sebagai berikut: pertama, menetapkan
permasalahan apa yang dianggap paling sulit. Kedua, mempertimbangkan
aspek-aspek yang relevan. Ketiga, merumuskan hipotesis. Dan keempat,
melakukan verifikasi.

Dengan yang pertama, problema tersebut dicari mana yang paling


relevan dengan rangkaian konsep yang telah dimiliki dalam pikirannya. seperti
ketika kita mengenal sistem kependidikan dengan sub sistemnya sampai pada
bagian-bagiannya yang terperinci, seperti kurikulum, metode dan lain-lain.
Maka kita telah mempunyai konsep dasar tentang pendidikan. Konsep ini
dihubung- hubungkan dengan pengalaman yang lampau yang tersusun
dalam kaitannya dengan kondisi masyarakat dan kebudayaan di mana
sistem kependidikan tersebut dibentuk. Dengan melalui proses ini maka kita
baru melangkah ke proses berikutnya.

Dengan yang kedua, setelah konsep-konsep pikiran telah memulai


mulai terbentuk, kita mulai dengan menghilangkan segi-segi yang tidak
relevan. Kemudian mengingat ingat hal-hal yang mengandung persamaan-
persamaan dalam rangka mencari pemecahan problema. Kemudian dengan
yang ketiga, di mana konsep-konsep pikiran telah terbentuk dan berkembang
menurut konteksnya dalam kaitannya dengan berbagai segi yang relevan,
maka kita membentuk hipotesis mengenai konsep-konsep mana yang menjadi
kunci pemecahannya. Hipotesis ini yang dipergunakan untuk mencoba
memecahkan problema yang dihadapi. Dan yang terakhir adalah melakukan
verifikasi, di mana hipotesis tersebut diperkokoh dengan testing dan diperiksa
langsung pada kenyataan sebenarnya. Kalau ilmu kealaman di lakukan dengan
eksperimen atau melakukan penelitian kembali yang tujuannya adalah untuk

40
mengecek kembali apakah hipotesis yang telah dirumuskan berdasarkan
konsep pikiran yang saling berkaitan satu sama lain tentang pemecahan
problema yang sedang dihadapi.

Dengan demikian, untuk memecahkan problema ada beberapa tahap


yang dilalui: pertama, memperhatikan terhadap problema yang dihadapi.
Kedua, mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan problema.
Ketiga, mencoba menarik sejumlah pemecahan yang dianggap mungkin.
Keempat, menilai pemecahan yang disarankan oleh pikiran. Dan kelima,
mencoba lagi dan kemudian memperbaiki pola pemecahan secara obyektif.

Di samping itu, diberikan kebebasan untuk mencari dan


menginternalisasi nilai-nilai hidup seperti nilai-nilai demokrasi dengan
melibatkan subyek didik secara langsung untuk menemukan nilai-nilai
tersebut, di mana peserta didik/guru memberikan pendampingan dan

pengarahan kepada mereka.26 Kemudian diberikan kesempatan yang sama


bagi subyek didik untuk menanggapi pendapat- pendapat dan memberikan
juga penilaian secara bebas terhadap nilai-nilai yang telah ditemukan.
Pendidik/guru tidak perlu bersikap sebagai pemberi khabar satu-satunya dalam
menemukan nilai-nilai yang dihayatinya. Tetapi pendidik/guru hanya
berperan sebagai pemandu atau pengawas atau sebagai penjaga garis dalam
penemuan nilai-nilai demokrasi tersebut. Dengan demikian, subyek didik
merasa dihargai dan dihormati hak-haknya dalam mengemukakan dan
mencari alternatif-alternatif model dan cara penghayatan nilai-nilai demokrasi
tersebut.

Sebuah metode internalisasi dapat dikatakan berhasil, apabila subyek


didik dapat menghayati dan memecahkan segala problema yang dihadapi
dengan pikiran tidak dikukung dan dipaksakan untuk menerapkan satu metode
tertentu. Sehingga subjek didik seolah-olah seperti dalam penjara, merasa
diintimidasi, dibelenggu pikirannya dan sebagainya. Maka, hasil yang
diinginkan adalah tidak seperti yang diharapkan.
4. Aspek Evaluasi 41

Evaluasi berhubungan erat dengan tujuan pendidikan. Evaluasi berusaha


menentukan apakah tujuan pendidikan tercapai atau tidak tercapai. Selama ini
evaluasi pembelajaran atau evaluasi terhadap subyek didik hanya terfokus pada
ranah kognisi saja kurang memperhatikan ranah-ranah yang lain seperti ranah
afeksi dan psikomotor. Padahal perubahan yang diinginkan pada subyek didik
adalah mencakup ketiga ranah tersebut yang meliputi rahah kognisi
(pengetahuan), afeksi (sikap dan tingkah laku) dan psikomotor
(ketrampilan/gerakan ragawi).

Dalam pendidikan Islam, tujuan pendidikan Islam bukan sekedar


mencari kerja, tetapi lebih-lebih untuk berbakti kepada Allah, maka kriteria
yang dipakai juga harus berlainan, misalnya meletakkan kebijaksanaan
(wisdom), budi mulia (virtue) dan lain-lain sebagai kriteria tanpa meletakkannya
kriteria ini pendidikan Islam sendiri akan kehilangan ciri-cirinya yang khas.
Dengan demikian, evaluasi pendidikan Islam, di antaranya adalah: pertama,
memilih orang-orang berdasarkan kesanggupannya untuk mencapai tujuan-
tujuan pendidikan. Kedua, sebagai alat peneguhan (reintrocement) bagi
subyek didik-subyek. Didik. Artinya, peneguhan di sini adalah ganjaran bagi
pekerjaan yang telah dilakukannya. Karena pendidikan pada dasarnya adalah
untuk mengekalkan tingkah laku yang baik dan menghilangkan tingkah laku
yang tidak baik. Maka ganjaran tersebut ada bermacam-macam, ada yang
bersifat material, seperti hadiah uang atau lain-lain, ada juga yang bersifat non
material, seperti tepuk tangan sesudah orang berpidato, atau ada kalanya
senyuman diberi kepada subyek didik yang selalu datang tepat pada waktunya.
Dengan demikian, penilaian yang baik adalah yang berulang kali dan terus
menerus, sehingga hidup itu tidak membosankan. Sebagai peneguhan, penilaian
dalam pendidikan Islam tidak semestinya bersifat materialistis. Artinya,
ganjaran materi itu jangan terlalu diutamakan, kalaupun dipergunakan harus
ditunjukkan bahwa ia hanyalah sebagai alat bukan tujuan.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka evaluasi dalam proses
42
internalisasi adalah bersifat afektif dan membutuhkan waktu yang lama untuk
melihat hasil yang diinginkan. Artinya, penilainya bersifat afektif tidak bisa
dicapai waktu dekat. Seperti menilai tingkah laku dan sikap subyek didik
suka atau tidak suka pada suatu mata ajar, melihat indikator keberhasilan
yang telah dicapai oleh subyek didik butuh kepada waktu yang lama pula.
Karena, penilainya bersifat kualitatif, maka untuk melihat apakah nilai-nilai
demokrasi sudah terinternalisasi dalam sikap dan tingkah laku si subyek
didik? Maka seorang pendidik tidak hanya evaluasinya diadakan di sekolah
saja, tetapi butuh juga memperhatikan bagaimana subyek didik bersikap
ketika berada di lingkungan keluarga dan demikian juga ketika mereka
berada di lingkungan masyarakat.

43

Anda mungkin juga menyukai