REFLEKSI KASUS BENDUNGAN ASI PADA NY.
M USIA 26 TAHUN P1AOAH1
POSTPARTUM PERVAGINAM SPONTAN NORMAL DI
RUANG PERGIWATI RSUD BANTUL
Disusun Oleh :
Nurul Widyastuti
2210106105
PROGRAM STUDI PROFESI KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2022
Stase : Asuhan Kebidanan Nifas
Kasus : P1A0Ah1 post partum hari ke 2 dengan bendungan ASI
Nama : Nurul Widyastuti
NO KOMPONEN URAIAN
1 DESKRIPSI Seorang ibu Ny.M berusia 26 tahun, P1 A0 Ah1 postpartum 2
KASUS hari, di Ruang Pergiwati RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Ibu mengeluh payudara bengkak, terasa nyeri. Keluhan ini
sudah dirasakan pasien sejak 1 hari yang lalu. Pasien mengaku
saat ini sedang menyusui bayinya yang baru berumur 2 hari.
Menurut pengakuan pasien ia lebih sering menyusui anaknya
dengan payudara sebelah kiri. Hasil pemeriksaan nyeri tekan
pada payudara, TD 120/80 Mmhg, Nadi 80 x/m, suhu 36 0 C dan
RR 22 x/m.
2 EMOSI Perasaan menghadapi kasus tersebut ada rasa empati yaitu
PRIBADI memahami perasaan dan kondisi yang dialami pasien karena
ketika terjadi bendungan ASI akan mengalami kesulitan
menyusui bayinya dan rentan terhadap terjadinya infeksi.
3 EVALUASI Pada masa perawatan pasien diberikan terapi paracetamol untuk
mengurangi rasa nyeri, memberikan pijatan payudara yang
dilakukan dengan jari – jari yang dilumuri minyak atau krim
selama proses menyusui dari daerah sumbatan ke arah puting
sehingga dapat membantu melancarkan ASI. Memberikan
edukasi terkait teknik menyusui
4 ANALISIS Terjadinya bendungan ASI adanya penyumbatan saluran. Bila
KASUS ASI tidak segera dikeluarkan maka terjadi tegangan alveoli
yang berlebihan dan mengakibatkan sel epitel yang
memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan, sehingga
permeabilitas jaringan ikat meningkat. Beberapa komponen
(terutama protein kekebalan tubuh dan natrium) dari plasma
masuk ke dalam ASI dan selanjutnya ke jaringan sekitar sel
sehingga memicu respons imun. Stasis ASI, adanya respons
inflamasi, dan juga kerusakan jaringan memudahkan terjadinya
infeksi.
Pencegahan terhadap kejadian mastitis dapat dilakukan dengan
memperhatikan faktor risiko di atas. Bila payudara penuh dan
bengkak (engorgement), bayi biasanya menjadi sulit melekat
dengan baik, karena permukaan payudara menjadi sangat
tegang. Ibu dibantu untuk mengeluarkan sebagian ASI setiap 3
– 4 jam dengan cara memerah dengan tangan atau pompa ASI.
Sebelum memerah ASI pijatan di leher dan punggung dapat
merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang menyebabkan
ASI mengalir dan rasa nyeri berkurang.
5 KESIMPULAN Bendungan ASI terjadi karena adanya penyempitan duktus
laktiferi oleh kelenjar – kelenjar yang tidak dikosongkan dengan
sempurna atau karena kelainan pada puting susu. Beberapa
faktor risiko utama timbulnya bendungan ASI adalah puting
lecet, frekuensi menyusui yang jarang dan pelekatan bayi yang
kurang baik. Melancarkan aliran ASI merupakan hal penting
dalam tata laksana bendungan ASI. Selain itu ibu perlu
beristirahat, banyak minum, mengkonsumsi nutrisi berimbang
dan bila perlu mendapat analgesik dan antibiotik jika terjadi
peradangan dan merasakan sangat nyeri.
6 TINDAK ➢ Melakukan observasi apakah adanya tanda – tanda infeksi
LANJUT seperti panas tinggi, menggigil, payudara menjadi
kemerahan, tegang dan terasa sangat nyeri
➢ Tetap mengeluarkan ASI sesering yang diperlukan sampai
bendungan teratasi. Untuk mengurangi rasa sakit dapat
diberi kompres dingin.
➢ Selalu memberi informasi terkait teknik menyusui yang
benar
Pembimbing Lahan Mahasiswa Pembimbing Pendidikan
Sri Utami, [Link] Nurul Widyastuti Sri Lestari, [Link]., MMR