100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
194 tayangan17 halaman

DAS Limboto: Lokasi dan Karakteristik

DAS Limboto terletak di Gorontalo dengan luas 90,000 ha. Terdiri dari pegunungan, dataran, dan Danau Limboto sebagai pusatnya. Ada 23 sungai yang mengalir ke danau. Kualitas air sungai dan danau bervariasi dari memenuhi baku mutu hingga cemar sedang. Sedimentasi danau diperkirakan 3-12 meter akibat erosi dan longsor.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
194 tayangan17 halaman

DAS Limboto: Lokasi dan Karakteristik

DAS Limboto terletak di Gorontalo dengan luas 90,000 ha. Terdiri dari pegunungan, dataran, dan Danau Limboto sebagai pusatnya. Ada 23 sungai yang mengalir ke danau. Kualitas air sungai dan danau bervariasi dari memenuhi baku mutu hingga cemar sedang. Sedimentasi danau diperkirakan 3-12 meter akibat erosi dan longsor.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA DAS : LIMBOTO

WILAYAH SUNGAI : LIMBOTO-BOLANGO-BONE


NAMA DANAU : DANAU LIMBOTO
1. Lokasi DAS Limboto secara Administratif
DAS Limboto terletak di Provinsi Gorontalo. DAS Limboto terletak pada 122° 42’
0.24” – 123° 03’ 1.17” BT dan 00° 30’ 2.035” – 00° 47’ 0.49” LU. Berdasarkan SK. 328
/Menhut -II/2009, DAS Limboto dikategorikan sebagai salah satu dari 108 DAS Prioritas di
Indonesia. DAS Limboto merupakan bagian dari Wilayah Pengelolaan DAS Bone-Bolanga.
Ada dua wilayah administrasi pemerintah yang terdapat di dalam kawasan eksositem DAS
Limboto, yaitu Kabupaten Gorontalo dan sebagai kecil kota Gorontalo. DAS ini memiliki
luas ±90,000 Ha dan tersebar di 9 kecamatan dan 70 desa. Delapan kecamatan berada di
Kabupaten Gorontalo, dan 1 kecamatan ada di Kota Gorontalo. DAS Limboto di sebelah
Utara berbatasan dengan DAS Poso Atinggola, sebelah Selatan dengan DAS Batudaa-Bone
Pantai, sebelah Barat dengan DAS Paguyaman, dan sebelah Timur dengan DAS Bolanga.
Rincian luas wilayah tiap kecapatan dapat dilihat pada tabel berikut:
2. Morfometri DAS Limboto
2.1 Luas, Panjang, Lebar dan Kemiringan DAS Limboto
Daerah Aliran Sungai (DAS) Danau Limboto terletak di bagian tengah Semenanjung
Minahasa dengan luas total 875,89 km2, dan panjang DAS Limboto adalah 32,16 Km
sedangkan untuk lebar DAS Limboto adalah . DAS Limboto didominasi (70%) wilayah
dengan kemirigan lereng lebih dari 40%.

2.2 Bentuk dan Pola DAS Limboto


Daerah Aliran Sungai (DAS) Danau Limboto memiliki pola airan sungai radial sentripetal
dalam bentuk menjari menuju ketitik pusat yang mana danau limboto menjadi pusatnya,
sedangkan untuk bentuk DAS Limboto berbentuk radial.

2.3 Jaringan Sungai DAS Limboto


Di dalam kawasan DAS Limboto terdapat Lebih kurang ada 23 anak sungai mengalir
ke dalam Danau Limboto. Danau Limboto merupakan cekungan rendah atau laguna tempat
sungai-sungai bermuara. Empat sungai besar yang mengalir di DAS ini terdiri dari S. Bionga,
S. Molalahu, S. Pohu, dan S. Meluupo. Sungai-sungai kecil dari sisi selatan diantaranya
Olilumayango, Ilopopala, Huntu,Hutakiki, Langgilo. Dari seluruh sungai tersebut hanya S.
Biyonga yang mengalir sepanjang tahun. Sungai ini mengalir dari mata air permanen di
daerah pegunungan di sebelah utara danau. Perincian luas setiap sub das yang lainnya tersaji
tabel dibawah ini. Anak-anak sungai tersebut mengalirkan air hujan dengan cepat, sehingga
sangat sedikit air yang ditahan sebagai aliran dasar tanah. Anak Sungai yang terbesar adalah
sungai Alo– Molalahu (348 km2) dan sungai Pohu (156 km2) Berdasarkan daerah aliran
sungai tersebut, DAS limboto terbagi menjadi 12 Sub DAS. Wilayah Sub DAS paling besar
adalah Sub DAS Batulayar (16.9 %), selanjutnya Molamahu (14.32 %), Alo (12.61 %) dan
Pulubala (12.07 %). Perincian luas setiap sub das yang lainnya tersaji tabel di bawah ini.
No Luas
Sub DAS
. Ha %
1 Biyonga Bulota 8915.2 9.97
2 Payunga 4643.7 5.19
3 Tuladenggi 2832.1 3.17
4 Tabongo 2791.5 3.12
5 Pilolalenga 4537.2 5.08
6 Batulayar 15104.0 16.90
7 Pulubala 10784.0 12.07
8 Molamahu 12797.0 14.32
9 Alo 11270.0 12.61
10 Marisa 7539.3 8.43
11 Pone 3116.6 3.49
12 Talumelito 1582.6 1.77
Danau Limboto 3473.8 3.89
Jumlah 89393.1 100

3. Karakter Biofisik DAS Limboto


3.1. Topografi
Daerah Aliran Sungai Danau Limboto (DAS) terletak di bagian tengah Semenanjung
Minahasa dengan luas total 875,89 km2, yaitu DAS Limboto–Bolango–Bone (LBB).
Topografi daerah penelitian didominasi oleh orientasi timur-barat. Daerah penelitian terdiri
dari pegunungan yang memanjang dari timur ke barat di belahan selatan-utara dan merupakan
dataran datar di tengahnya. DAS Limboto terletak di bagian barat, utara, timur dan selatan
Danau Limboto. Semua sungai mengalir melalui tengah dataran dan akhirnya memasuki
danau dan bermuara di Teluk Tomini.
Bentuk wilayah DAS Limbotobervariasi dari datar (03%) sampai bergunung (>
50%). Masing-masing bentukwilayah mempunyai lahan datar sampai agak datar seluas
27.125 ha, lahan berombak sampai bergelombang 6.336 ha, lahan berbukit kecil sampai
berbukit 21.189 ha, dan lahan bergunung 7.551 ha.
Sungai Biyonga, Molamahu, Pohu, Marisa, Rintenga, Meluopo bergabung dengan
Sungai Topadu (output Danau Limboto), di ujung bawahnya mengalir ke Sungai Bone.
Sungai Bone mengalir dari timur dan bermuara ke laut setelah bertemu dengan Sungai
Bolango di dekat muaranya. Sungai diperas oleh pegunungan dan membawa sedimen ke
dataran rendah. Luas dataran banjir DAS Limboto sangat sempit, hanya 20% dari
keseluruhan DAS. Ketinggian medan di pegunungan utara danau berkisar dari ±700 hingga
±1000 dan di pegunungan selatan dari ±1000 hingga ±1500 dan di pegunungan barat
perbukitan dari ±100 hingga ±500. Di bagian tengah DAS Limboto, Ketinggian berkisar dari
±50 hingga ±100, sedangkan tepi Danau Limboto berkisar antara ±20 hingga ±50.

3.2. Kualitas Fisika-Kimia Perairan


Sumber sedimen datang dari penggundulan hutan dan lahan pertanian  pertanian
berupa limbah solid dan sampah dan lainnya lainnya yang diproduksi yang diproduksi
kegiatan kegiatan manusia. 1996 Sedimentasi di Danau Limboto juga disuplai dari angkutan
endapan dasar sungai (bed load) saat banjir, yang juga menyebabkan tebing sungai banyak
longsor. Ada juga sedimen longsor. Ada juga sedimen organik, termasuk bakteri organik,
termasuk bakteri phytoplankton, zooplankto phytoplankton, zooplankton, macrophyte detritus
dan kotoran dari ikan dan beberapa invertebrata. Ketebalan sedimen / endapan di Danau
Limboto diperkirakan 3-5 m di timur, 5,8 – 6,4 m sepanjang utara-barat, 8,8-10,2 m
sepanjang sisi selatan dan 12,4 m di tengah danau.

MATRIKS HASIL EVALUASI STATUS MUTU AIR

(STANDAR UJI KELAS II)

UNIT HKA BWS SUL. II

Status Mutu Air Tahun 2021

Status Mutu Air


No Lokasi Pengambilan Sampling
September November
1 Sungai Bone Talumolo (Jembatan Talumolo 2) Cemar Sedang Cemar Ringan
2 Sungai Bone Tulabolo (Hulu - Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Ringan
3 Sungai Bone Alale (Hilir – Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Ringan
4 Sungai Bolango Longalo (Hulu – Pos Duga Air) Cemar Ringan Cemar Sedang
5 Sungai Bolango Boidu (Tengah – Pos Duga Air) Cemar Ringan Cemar Sedang
6 Sungai Bolango Telaga (Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Sedang
7 Sungai Tamalate Moodu (Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Sedang
Status Mutu Air Tahun 2021

Status Mutu Air


No Lokasi Pengambilan Sampling
September November
8 Sungai Tamalate Moodu (Jembatan RSAS) Cemar Sedang Cemar Ringan
9 Sungai Alo Isimu (Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Sedang
10 Sungai Alopohu Limehu (Hilir – Pos Duga Air) Cemar Ringan Cemar Ringan
11 Sungai Bulota (Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Sedang
12 Sungai Biyonga (Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Sedang
13 Sungai Biyonga (Hulu) Cemar Ringan Cemar Sedang
14 Sungai Biyonga (Jembatan Belakang RS. Dunda) Cemar Sedang Cemar Sedang
15 Sungai Tapodu Tualango Cemar Ringan Cemar Ringan
16 Danau Limboto (Pos Duga Air) Cemar Ringan Cemar Ringan
17 Sungai Paguyaman Lakeya (Hulu – Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Ringan
18 Sungai Paguyaman Parungi (Hilir – Pos Duga Air) Cemar Ringan Cemar Ringan
19 Sungai Tilamuta Hungayonaa (Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Sedang
20 Sungai Marisa Taluduyunu (Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Ringan

Status Mutu Air Tahun 2020


No Lokasi Pengambilan Sampling Status Mutu Air
1 Sungai Bone Talumolo (Jembatan Talumolo 2) Memenuhi Baku Mutu
2 Sungai Bone Tulabolo (Hulu Pos Duga Air) Memenuhi Baku Mutu
3 Sungai Bone Alale (Hilir Pos Duga Air) Memenuhi Baku Mutu
4 Sungai Bolango Longalo (Hulu Pos Duga Air) Cemar Sedang
5 Sungai Bolango Boidu (Tengah Pos Duga Air) Cemar Ringan
6 Sungai Bolango Telaga (Pos Duga Air) Cemar Sedang
7 Sungai Tamalate Moodu (Pos Duga Air) Cemar Sedang
8 Sungai Tamalate Moodu (Jembatan RSAS) Cemar Sedang
9 Sungai Alo Isimu (Pos Duga Air) Cemar Ringan
10 Sungai Alopohu Limehu (Hilir Pos Duga Air) Cemar Sedang
11 Sungai Bulota (Pos Duga Air) Cemar Sedang
12 Sungai Biyonga (Pos Duga Air) Cemar Sedang
13 Sungai Biyonga (Hulu) Cemar Sedang
14 Sungai Biyonga (Jembatan Belakang RS. Dunda) Cemar Sedang
15 Sungai Tapodu Tualango Cemar Ringan
16 Danau Limboto (Pos Duga Air) Cemar Ringan
17 Sungai Paguyaman Lakeya (Hulu Pos Duga Air) Cemar Ringan
18 Sungai Paguyaman Parungi (Hilir Pos Duga Air) Cemar Ringan
19 Sungai Tilamuta Hungayonaa (Pos Duga Air) Cemar Ringan
20 Sungai Marisa Taluduyunu (Pos Duga Air) Cemar Ringan
STATUS MUTU AIR
No Nama Sungai 2019
Juni September November
Bone Talumolo (Jembatan Cemar
1 Cemar Sedang Cemar Ringan
Talumolo 2) Sedang
Bone Tulabolo (Hulu) (Pos Duga Memenuhi Baku Cemar
2 Cemar Ringan
Air) Mutu Sedang
Bone Alale (Hilir) (Jembatan Pos Cemar
3 Cemar Sedang Cemar Ringan
Duga Air) Ringan
Cemar
4 Bolango Longalo (Hulu) Cemar Sedang Cemar Sedang
Sedang
Cemar
5 Bolango Boidu (Tengah) Cemar Sedang Cemar Ringan
Sedang
Cemar
6 Bolango Telaga (Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Ringan
Ringan
Cemar
7 Tamalate Moodu (Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Sedang
Sedang
Tamalate Moodu (Jembatan RS Cemar
8 Cemar Ringan Cemar Sedang
Aloei Saboe) Ringan
Cemar
9 Alo Isimu (Belakang Pos Duga Air) Cemar Ringan Cemar Sedang
Sedang
Memenuhi Baku Cemar
10 Alopohu Limehu (Hilir) Cemar Sedang
Mutu Sedang
Cemar
11 Bulota (Jembatan Polres Limboto) Cemar Sedang -
Sedang
Cemar
12 Biyonga (Pos Duga Air) Cemar Sedang Cemar Sedang
Sedang
Cemar
13 Biyonga (Hulu) Cemar Sedang Cemar Ringan
Sedang
Biyonga (Jembatan Belakang RS. Cemar
14 Cemar Sedang Cemar Ringan
MM Dunda) Ringan
Cemar
15 Tapodu Cemar Sedang Cemar Ringan
Sedang
Memenuhi Baku Cemar
16 Danau Limboto (Dermaga) Cemar Ringan
Mutu Sedang
Memenuhi Baku Cemar
17 Paguyaman Lakeya (Hulu) Cemar Ringan
Mutu Ringan
Memenuhi Baku Cemar
18 Paguyaman Parungi (Hilir) Cemar Sedang
Mutu Ringan
Tilamuta Hungayonaa (Pos Duga Memenuhi Baku Cemar
19 Cemar Sedang
Air) Mutu Ringan
Cemar
20 Marisa Taluduyunu (Hilir) Cemar Sedang Cemar Ringan
Sedang

Catatan : Pada pengambilan ke-2 untuk Sungai Bulota kosong dikarenakan kondisi sungai
yang kering
STATUS MUTU AIR
No Nama Sungai 2018
2016 2017
April Oktober
Bone Alale (Pos
1 Cemar Ringan
AWLR)
Bone Talumolo (Pos Memenuhi Baku
2
AWLR) Mutu
Cemar
3 Bone Hilir Cemar Sedang
Sedang
Cemar
4 Bone Tengah
Sedang
Cemar Memenuhi Baku
5 Bone Hulu
Sedang Mutu
Bolango Telaga (Pos
6 Cemar Ringan
AWLR)
Cemar
7 Bolango Hilir Cemar Sedang
Sedang
Cemar
8 Bolango Tengah
Sedang
Cemar
9 Bolango Hulu Cemar Ringan
Sedang
Tamalate Moodu (Pos Cemar
10 Cemar Ringan Cemar Sedang
AWLR) Sedang
Cemar
11 Tamalate
Sedang
12 Alo Isimu Cemar Ringan
13 Pohu Tohupo Cemar Ringan
Cemar
14 Alopohu Limehu Cemar Ringan Cemar Ringan Cemar Ringan
Sedang
15 Biyonga (Pos AWLR) Cemar Sedang Cemar Ringan Cemar Ringan
Cemar
16 Biyonga Hulu
Sedang
Cemar
17 Biyonga Hilir
Sedang
Cemar
18 Bulota Cemar Sedang Cemar Ringan Cemar Sedang
Sedang
Cemar
19 Marisa Cemar Ringan
Sedang
Cemar
20 Meluopo
Sedang
Memenuhi Baku
21 Pulubala
Mutu
22 Paguyaman Parungi Cemar Ringan
23 Paguyaman Diloato Cemar Ringan
Cemar
24 Danau Limboto Cemar Ringan Cemar Ringan
Ringan
25 Tilamuta Hungayonaa Cemar Ringan
STATUS MUTU AIR
No Nama Sungai 2018
2016 2017
April Oktober
26 Paguyaman Lakeya Cemar Ringan
27 Marisa Taluduyunu Cemar Ringan

3.3. Jenis Tanah

Danau Limboto sebagai muara (outlet) DAS Limboto terus mengalami


pendangkalan sehingga luas perairan danau makin menciut. Selain itu, sebagian wilayah DAS
ini tertutup oleh endapan aluvium yang cukup sesuai untuk pengembangan pertanian,
memiliki permukaan air tanah yang dangkal, dan akifernya tergolong produktif sedang . Pada
wilayah yang relatif landai sampai berbukit banyak diusahakan tanaman pangan, terutama
jagung, dan perkebunan seperti kelapa. Lahan kering sangat berpotensi untuk pengembangan
berbagai komoditas andalan dan memberikan sumbangan cukup besar terhadap penyediaan
pangan nasional (Badan Litbang Pertanian 1998, tidak dipublikasikan). Berdasarkan Peta
ReProot skala 1: 250.000 (1988), untuk pertanian lahan kering, lahan yang sesuai didominasi
oleh tanah Inceptisol, Alfisol, dan Entisol. Hal ini didukung oleh laporan Puslittanak (1994)
dalam peta tanah tinjau skala 1 : 150.000, bahwa jenis tanah yang dominan di DAS Limboto
adalah Inceptisol (27.400 ha) dan Alfisol (43.849 ha).
3.4. Kondisi Iklim
Iklim pada DAS Limboto secara umum diklasifikasikan sebagai tropis basah. basah.
Pada Koppen klasifikasi klasifikasi area studi masuk ke dalam klas Af group. Iklim ini
didefinisikan sebagai iklim tropis yang mempunyai hujan dengan periode kering tidak teratur,
dengan temperatur lebih 18 o A. Variasi Hujan Tahunan C bulan terdingin.
3.5. Geologi
Sulawesi memperlihatkan bentukan oleh tumbukan dari benturan 2 lempengan
bumi. Lempengan Benua Australia bergerak ke arah Barat dengan mengalirkan magma dan
bertumbukan dengan lempengan Benua Asia. Tumbukan tersebut disertai dengan patahan dan
putaran fragmen pada lempengan utama. Lempengan Australia menyusup di bawah
lempengan Asia, dan hal tersebut menyebabkan pemunculan dan pemisahan fragmen
lempengan. Bagian Utara bersama bagian Selatan Sulawesi memisah sepanjang garis Selat
Makasar dari lempengan Asia pada bagian Barat Kalimantan yang menyebabkan proses
tektonik selama pertengahan jaman tersier. Batuan dasar tertua jaman pra tersier dari
metamorphik dan ultrabasic telah muncul di ujung Barat Daya pada Sulawesi Utara.
Berikutnya awal pertengahan jaman tersier  batuan  batuan volkanic volkanic antara dasar
dengan batuan sedimen sedimen tersebar tersebar menutupi menutupi batuan dasar. Granit
menyusup terjadi di tengah akhir jaman tersier dan tersebar secara luas di Sulawesi Utara,
mendekati gabungan mineralisasi. Batuan pasir, volkanic conglomerat dan dasar tipis batuan
kapur telah membentuk pada akhir jaman tersier. Batuan tersebut dapat diobservasi pada
bagian  bagian Utara dari Sulawesi Sulawesi Utara. Batuan volkanic volkanic dari andesit
andesit dan atau komposisi dacific telah masuk menerobos ke atas nebtuibes strata pada awal
jaman kuarter dan batuan tersebut membentuk pegu  jaman kuarter dan batuan tersebut
membentuk pegunungan tinggi diwilayah. ngan tinggi diwilayah. Relatif kurang konsolidasi
dan strata endapan ”celebes mollase”, yang terdiri dari konglomerat, kuarsa batuan pasir,
shales, marls, coral batuan kapur menurun menutup volkanic kuarter awal. Batas porsi dari
strata/ (lapisan) dapat diobsevasi pada kondisi terbuka. Endapan baru pasir, gravel dan coral
karang telah menyebar di atas seluruh strata (lapisan). Geologi pada area studi terdiri
utamanya jenis volkanic dan batuan sedimen pada pertengahan jaman tersier ke awal jaman
kuarter. Volkanic dan  batuan  batuan sedimen sedimen pembentuk pembentuk utama ke jenis
susupan susupan (intrusi) (intrusi) merupakan merupakan metamorphose ringan ke tinggi dan
kondisi asli dari batuan metamorphose tinggi sedikit tidak dapat dibedakan. Sebagian batuan
sedimen adalah ke granitan dan metamorphosean/lapukan. Strata (lapisan) awal ke tengah
jaman tersier tampak membentuk batuan dasar di area studi. Jenis – jenis batuan granit dan
granodiarites mudah dibedakan dari satu dengan lainnya : awal ke tengah lapisan tersier,
kemudian batuan tersebut dapat dipetakan secara terpisah pada peta geologi dari area studi.
Batuan sedimen dari akhir tersier tidak tampak ke permukaan pada area studi, akan tetapi
terdapat kondisi kristalisasi dari batuan kapur, yang dapat mengindikasikan penyebaran
batuan sedimen tersier mengutamakan ke volkanic terakhir kejadian dari awal kuarter.
Kondisi kristalisasi batuan kapur tampak dibentuk oleh aktifitas hidrothermal saat itu.
Aktifitas volkanic terakhir dari kuarter telah membentuk kerangka dari topographi saat ini di
dalam area studi. Andestic dan dacific lavas menyebar pada  puncak tinggi dari area. Tuft
puncak tinggi dari area. Tuft lepas (tidak terikat lepas (tidak terikat) juga dapat diobservasi
sepanj ) juga dapat diobservasi sepanjang tebing kanan Sungai Bone. Endapan tidak
terkonsolidasi dari gravel dan pasir tersebar luas pada lahan rendah pada DAS. Lereng dan
teras endapan juga tersebar pada kaki dataran tinggi dan area pegunungan menutup formasi
tua.
3.6. Penggunaan lahan
Penggunaan lahan eksisiting pada DAS Limboto telah mengindikasikan klasifikasi
rentan kekeringan terhadap DAS Limboto, yang tersebar dalam keseluruhan Sub DAS/ DAS
Kecil. Hal in kemudian yang mendasari perlu dilakukan simulasi arahan yang telah disusun.
Diperoleh penurunan persentasi luas DAS yang mengalami kekeringan, yakni sebesar 43,4
%. Pada sub DAS yang masih mengalami klasifikasi rentan kekeringan, diperlukan
penanganan intensif khususnya pada jenis tanah yang rentan terhadap kekeringan. Misalnya
terkait penerapan cara bercocok tanam yang mengedepankan asas konservasi tanah dan air.
mengingat penggunaan lahan yang bukan merupakan penyebab utama terjadinya tinggi
kekeringan. Berdasarkan hal ini maka diperlukan berbagai penerapan model dalam skenario-
skenario dengan penggunaan variabel jenis tanah dan jenis tutupan lahan. Hal ini dapat
dilakukan pada penelitian lanjutan yang insyaAllah akan saya teliti lebih lanjut.
4. Sosial Budaya
Danau Limboto sangat dibanggakan oleh masyarakat Gorontalo disamping sebagai
sumber mata pencaharian juga merupakan salah satu obyek wisata. Danau Limboto telah
dimanfaatkan sejak dulu oleh penduduk Gorontalo. Pemanfaatan Danau Limboto pada masa
penjajahan Belanda terlihat dengan adanya bangunan pelabuhan dan pasar ikan. Bangunan
pelabuhan dan pasar ikan didirikan tahun 1932 dan digunakan sebagai tempat pelelangan ikan
dari Danau Limboto.
Perkembangan Danau Limboto mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Adanya
proses geologi dan campur tangan manusia merupakan penyebabnya. Penurunan luas maupun
kedalaman danau terjadi pada periode 1930-an hingga Tahun 1970-an. Pada Tahun 70-an
luas danau diperkirakan sekitar 3.500 Ha. Luas danau relatif stabil hingga menjelang abad 20.
Luas danau berfluktuasi mengikuti musim.
Fluktuasi luas danau berpengaruh terhadap sikap penduduk di sekitarnya. Adanya
perubahan danau menimbulkan daerah bantaran danau yang berubahubah. Kecenderungan
masyarakat di sekitar danau memanfaatkan danau sebagai salah satu sumber mata
pencaharian ikan dan memiliki areal tersendiri, sehingga daerah bantaran danau menjadi
suatu daerah yang dimiliki secara individual.
1. Jumlah Penduduk
Secara administratif, Danau Limboto dikelilingi oleh tujuh kecamatan. Yaitu
Kecamatan Limboto, Limboto Barat, Telaga, Tilango, Telaga Biru dan Batudaa yang
merupakan wilayah Kabupaten Gorontalo serta Kecamatan Kota Barat yang merupakan
wilayah Kota Gorontalo. Berdasrkan laporan BPS Tahun 2009, jumlah Penduduk Tahun
2008 Kab. Gorontalo sekitar 339.620 Jiwa dengan kepadatan penduduk 160 jiwa/km2. Jumlah
Penduduk di Kota Gorontalo sekitar 65.175 jiwa dengan kepadatan penduduk 2.549
jiwa/km2. Kec. Limboto Tahun 2008 memiliki jumlah penduduk paling banyak, yaitu 68.314
jiwa.
2. Mata Pencarian Penduduk
Mata pencaharian sebagian besar penduduk di wilayah DAS Limbotoadalah petani
26.099 KK (74,49%), kemudian berturut-turut buruh 11.526 KK (34,63%),
pegawai/pensiunan ABRI 2.223 KK (15,46%), lain-lain 3.465 KK (9,64%), pedagang 2.842
KK (7,8%) dan yang paling kecil adalah pengrajin yang hanya mencapai 255 KK (1,07%).
Tingkat pendapatan petani rata-rata di wilayah DAS Limboto adalah sebesar Rp.
1.176.250,-/kapita/tahun.
Salah satu penyebab sedimentasi pada Danau Limboto adalah penggunaan area
konservasi hutan menjadi lahan pertanian. Sedangkan aktivitas penduduk di Kabupaten
Gorontalo ini sebagian besar adalah pertanian yang meliputi usaha tani tanaman pangan (padi
dan jagung), pekarangan dan peternakan. Hal ini menjadi sangat komplek karena akibat
sedimentasi tersebut dan pendangkalan di Danau Limboto, beberapa areal ladang jagung dan
persawahan tadah sering terendam banjir. Genangan banjir ini selain menimbulkan kerugian
secara material juga moril petani terganggu dalam melakukan usaha tani karena banjir dapat
datang sewaktu-waktu.
3. Penddikan
Sarana pendidikan baik secara kuantitas dan kualitas yang memadai tentunya sangat
diperlukan oleh suatu daerah dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusianya.
Fasilitas pendidikan tersedia sampai tingkat SMA walaupun berada didaerah perdesaan. Tiap
kecamatan mempunyai paling sedikit satu SMA dan lebih dari dua SMP. Distribusi
pengajar/guru berbeda antara kecamatan, tetapi statistik menunjukkan rasio murid/guru pada
umumnya antara 12 sampai16 murid perguru. Gambaran secara umum mengenai fasilitas
pendidikan untuk tingkat TK dan SD yang ada di Kabupaten Gotontalo disajikan pada tabel
di bawah ini.
No TK SD dan MI
Sub DAS
. Gedung Murid Guru Gedung Murid Guru
1 Batudaa 18 598 38 25 3806 180
2 Bongomeme 8 258 13 30 5344 192
3 Limboto B 13 408 21 19 2731 157
4 Limboto 25 865 42 30 5016 246
5 Pulubala 6 163 5 25 3475 149
6 Telaga 24 747 48 38 4423 302
7 Tibawa 13 410 14 31 5474 191
4. Kesehatan
Ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai dengan pelayanan yang terjangkau oleh
masyarakat merupakan prakondisi yang mutlak diperlukan dalam upaya meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat menuju sasaran peningkatan kualitas sumber daya manusia di
daerah ini. Gambaran mengenai ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan di desa-desa
daerah studi disajikan pada

5. Ekonomi

Penduduk yang berumur lebih 15 tahun adalah 448.000 orang di seluruh Provinsi
Gorontalo atau 66 % dari seluruh penduduk yang ada. Dari jumlah tersebut, sekitar 65 % atau
295.000 orang ikut di tenaga kerja pasar sebagai penduduk aktif. Dapat dicatat bahwa
261.000 orang bekerja di Kabupaten Gorontalo. Disamping sektor ekonomi yang mayoritas,
sektor pertanian menyerap sebanyak 160.000 orang atau 64 % dari total angkatan kerja dan
24 % kerja disektor jasa. Sektor industri menyerap hanya 12 %. Struktur tenaga kerja sedikit
berbeda dengan struktur nasional, yaitu 43 % pertanian, 18 % industri dan 39 % jasa.
Pendapatan regional per kapita GRDP (Gross Regional Domestik Product) dari Kabupaten
Gorontalo dan Kotamadya Gorontalo adalah sebesar Rp. 1.160.000,- hingga Rp.
2.390.000,-/orang/tahun, yang hanya 18-38 % terhadap ukuran nasional.
Kegiatan ekonomi dari Kabupaten Gorontalo adalah khusus produk pertanian dan Kota
Gorontalo khusus jasa dan perdagangan. Sektor sektor lain, seperti peternakan menyerap
angkatan kerja 10%, perikanan 7%, kehutanan 26%, pertanian bukan makanan 18%.
Lembaga dan Kelembagaan
Beberapa kelembagaan yang ada dan terlibat dalam kegiatan RHL maupun pengelolaan
DAS adalah sebagai berikut:
1. Forum DAS Limboto
Forum DAS ini secara khusus fokus dalam pengelolaan DAS Limboto guna kelestarian
Danau Limboto, dan secara umum mengkaji pengelolaan DAS di Provinsi Gorontalo.
Keanggotaan Forum DAS Limboto terdiri dari berbagai instansi pemerintah dan non
pemerintah yang khawatir terhadap pelestarian sumber daya alam berbasis DAS, seperti
unsur Pemerintah Provinsi Gorontalo, Pemerintah Kabupaten seProvinsi Gorontalo,
pengusaha, Perguruan Tinggi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang ada di Propinsi
Gorontalo.
2. Lembaga Pemerintahan
Lembaga pemerintahan yang berperan dalam pengelolaan DAS Limboto yang saat ini
bergerak dalam perencanaan, pelaksanaan maupun monitoring dan evaluasinya serta sharing
budget dalam rangka penanganan Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Peran nyata lembaga
pemerintah dalah pengelolaan DAS terutama dalam kegiatan fasilitasi dan penyediaan dana.
Lembaga pemerintahan tersebut antara lain:
 Bappeda Propinsi dan Kabupaten/Kota
 Bapedal Propinsi dan Kabupaten/Kota
 Dinas Kehutanan Propinsi dan Kabupaten /Kota
 Balai Pengelolaan DAS Bone Bolango
 Balai Besar Pengembangan Wilayah Sungai Bone Bolango
 PDAM Limboto
 Dinas Pertanian Kota dan Kab. Gorontalo
 Badan Lingkungan Hidup Propinsi dan Kabupaten/Kota

3. Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat


Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) banyak berfungsi sebagai
kontrol dan fasilitasi pengembangan sumberdaya manusia di wilayah pedesaan. Penguatan
sumberdaya manusia yang melalui penguatan peran individu masyarakat dan peran
kelompok-kelompok masyarakat pada kegiatan pengelolaan DAS. Perguruan Tinggi yang ada
adalah Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Gorontalo. Sedangkan LSM yang
cukup aktif dalam mendukung pelaksanaan kegiatan RHL adalah LSM yang peduli terhadap
kelestarian lingkungan hidup. LSM tersebut antara lain: Kompak, Japesda, Mutiara Hijau,
Sahabat Alam, dan lain-lain.
4. Kelompok Tani
Kelompok Tani yang ada umumnya dibentuk pada saat kegiatan pemerintah yang
memerlukan wadah kelompok masyarakat, seperti kegiatan reboisasi dan penghijauan
(kehutanan), pengembangan hortikultura (pertanian), pengembangan perkebunan
(perkebunan). Kelompok tani yang ada di DAS Limboto sebanyak 42 kelompok tani
penghijauan dengan jumlah anggota 442. Untuk kelompok tani non penghijauan terdapat 66
kelompok dengan jumlah 619 anggota.

Permasalahan DAS Limboto

Danau Limboto merupakan cekungan rendah atau laguna yang menampung air lima sungai
besar dan 23 anak sungai kecil. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2017 tentang
Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi Gorontalo, luas danau ini disebutkan sekitar
3.334,11 hektar.

Permasalahan besar yang dihadapi saat ini adalah sedimentasi, menyebabkan pendangkalan,
berkurangnya volume air dan luas genangan. Masalah lain adalah eutrofikasi, pertumbuhan
enceng gondok, cemaran limbah cair dan padat, meningkatnya laju erosi dari sungai, dan
masifnya aktifitas keramba jaring apung [KJA].

Data BPDASHL [Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung] Bone
Bolango, menjelaskan, sebagian besar DAS di Limboto rusak akibat perubahan tata guna
lahan, pertambahan jumlah penduduk, kurangnya kesadaran masyarakat, serta terbatasnya
anggaran rehabilitasi.
Kerusakan DAS mengakibatkan kuantitas [debit] air sungai fluktuatif, antara musim
penghujan dan kemarau. Gejala kerusakan dapat dilihat dari penyusutan kawasan lindung di
sekitar daerah aliran sungai.

Areal Danau Limboto berada di dua wilayah administrasi, 30 persen di Kota Gorontalo dan
70 persen di Kabupaten Gorontalo. Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Enceng Gondok
yang digelar di Jakarta, 14 Agustus 2019, Kepala Bapppeda Provinsi Gorontalo, Budiyanto
Sidiki, memaparkan kondisi terkini.

Menurutnya, pada 1932, rata-rata kedalaman danau 30 meter dengan luas 8.000 hektar. Pada
1955, kedalamannya 16 meter dan pada 1970 menjadi 15 meter dengan luasan 4.500 hektar.

Kurun waktu 2012 hingga 2018, kedalaman rata-rata hanya 2,5 meter dengan luas 2.537
hektar. Artinya, dalam 50 tahun, luasan danau berkurang 4.304 hektar atau 62,60 persen. Ini
yang mendasari prediksi Limboto akan berubah menjadi daratan pada 2025.

Selama ini, Limboto berperan sebagai sumber pendapatan nelayan, pencegah banjir, sumber
pengairan, dan bahkan objek wisata. Jika prediksi itu terjadi, kerugian besar bagi Gorontalo
dan masyarakat luas.

TINDAKAN DAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAS

Strategi pencapaian tujuan dalam pengelolaan DAS Limboto meliputi 3 faktor, yaitu :

1. Merumuskan faktor pemungkin dalam pengelolaan terpadu DAS Limboto, meliputi:

a. Kebijakan dan regulasi ditingkat stakeholder terkai, yang berwawasan lingkungan


lingkungan sehingga memiliki ke sehingga memiliki kekuatan huku kuatan hukum
yang mengikat. m yang mengikat.
b. Dukungan finans Dukungan finansial baik dari AP ial baik dari APBN, APBD ataup
BN, APBD ataupun dari s un dari sumber lain umber lain untuk menjamin
keberlangsungan program kegiatan konservasi dan rehabilitasi sumber daya air dan
lahan baik bersifat sumber daya air dan lahan baik bersifat fisik dan n fisik dan non
fisik. on fisik.

2. Merumuskan aturan kelembagaan, harus memiliki:


a. semacam organisasi / forum / lembaga yang bersifat lintas sektoral dan berperan
sebagai koordinator stakeholder yang ada dalam pengelolaan DAS jika belum ada.
Jika sudah ada, tinggal mereformasi organisasi / forum / lembaga yang ada dengan
meningkatkan kapasitas kelembagaan dan kapasitas sumberdaya manusia
sehingga dapat berperan lebih optimal dalam pengelolaan DAS Limboto secara
terpadu.
b. Melalui organisasi / forum / lembaga ini dapat ditetapkan aturan main bagi semua
stakeholder yang ada dalam DAS Limboto sehingga masing-masing stakeholder
yang berkepentingan dengan ekosistem DAS Limboto dapat berperan lebih jelas,
siapa berbuat apa, dimana dan kapan.

3. Merumuskan instrumen pengelolaan DAS Limboto, meliputi:

a. Penilaian sumber daya air dan lahan sebagai alat untuk memahami antara sumber
daya yang ada sumber daya yang ada dengan tingkat kebutuhannya
b. Perencanaan pengelolaan DAS terpadu yang mengkombinasikan rencana tata ruang
wilayah (RTRW), pengelolaan dan penilaian resiko lingkungan, ekonomi dan sosial
dengan partisipasi masyarakat dalam menentukan arah pembangunan.
c. Peningkatan efesiensi penggunaan air di setiap stakeholder melalui pengelolaan
permintaan dan pemasokan air lebih permintaan dan pemasokan air lebih optimal)
optimal)
d. Instrumen perubahan perilaku sosial melalui perumusan kurikulum pendidikan yang
berbasiskan pengelolaan DAS sehingga muncul kesadaran dari masyarakat sendiri
untuk menjaga ekosistem DAS sendiri untuk menjaga ekosistem DAS tetap lestari.
tetap lestari.
e. Instrumen Ekonomi, menjadikan DAS memiliki nilai secara ekonomi melalui
mekanisme jasa lingkungan dan memberlakukan subsidi, incentive  dan  punishment
f. Instrumen regulasi untuk mengontrol kualitas air, distribusi jumlah air, perencanaan
penggunaan lahan dan perlindungan lingkungan sehingga memiliki kekuatan hukum
yang mengikat bagi memiliki kekuatan hukum yang mengikat bagi semua pi semua
pihak.
g. Resolusi konflik melaui manajemen konflik dan kebiasaan membangun konsensus
konsensus untuk menyelesaikan permasalahan-permas menyelesaikan permasalahan-
permasalahan yang alahan yang ada. h. Pertukaran data dan informasi antar
stakeholder melalui satu sistem manajemen informasi yang berifat terbuka.

Strategi pencapaian tujuan berbasiskan kegiatan RHL yang digunakan di kawasan daerah
tangkap air D. Limboto, dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu kegiatan vegetatif, sipil
teknis berbasis lahan dan sipil teknis berbasis alur sungai. Penjelasan terhadap ketiga jenis
kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: lah sebagai berikut:

a. Kegiatan vegetatif;  merupakan su merupakan suatu bentuk kegiatan atu bentuk


kegiatan untuk meresap untuk meresapkan air hujan kan air hujan ke dalam tanah
melalui media tanaman (vegetasi) sehingga jumlah air yang menjadi limpasan
permukaan akan berkurang sampai dengan jumlah yang diinginkan. Kegiatan ini
dapat dilakukan jika tersedia lahan yang masih sesuai untuk dilakukan penanaman.
Termasuk dalam jenis kegiatan ini adalah penanaman vegetasi tetap, penghijauan,
agroforestry dan strip rumput, dan penghijauan di kanan-kiri su strip rumput, dan
penghijauan di kanan-kiri sungai.
b. Kegiatan sipil teknis berbasis lahan;  me rupakan ke rupakan kegiatan untuk giatan
untuk meresapkan meresapkan air hujan ke dalam tanah dan menampung air hujan di
atas permukaan tanah sebelum menjadi limpasan permukaan yang masuk ke dalam
aliran/sungai melalui bangunan-bangunan sipil teknis. Kegiatan ini dilakukan
ditujukan untuk meresapkan air hujan sampai dengan jumlah yang telah ditentukan.
Termasuk dalam kegiatan ini adalah pembuatan rorak di kawasan pemukiman,
pembuatan teras gulud, parit teras gulud, parit buntu/rorak, biopori dan embung.
buntu/rorak, biopori dan embung.
c. Kegiatan sipil teknis berbasis alur sungai terutama di ordo sungai di bagian hulu;
merupakan kegiatan untuk menahan/ menampung air di badan air untuk waktu
tertentu sehingga sedimen dan air mempunyai waktu untuk meresap, dan mengatur
kebutuhan air sesuai dengan kebutuhan air untuk kebutuhan masyarakat dengan cara
membuat bendung,  gully  plug, dam penahan, dan dam pengendali. Selain menahan/
menampung air, kegiatan ini juga dapat memperpanjang waktu tempuh aliran
sehingga dapat menurunkan debit puncak dari suatu sungai sehingga air tidak sampai
dalam waktu yang bersamaan ke tempat di bagian i bagian hilir.

Anda mungkin juga menyukai