Optimalisasi Produksi Batubara PT Bukit Asam
Optimalisasi Produksi Batubara PT Bukit Asam
SKRIPSI
Nindya Rismayanti
JAKARTA
2022 M/1444 H
KATA PENGANTAR
i
9. Bapak Eri Virnadi B. Saliman Selaku Manager Penambangan Air Laya PT
Bukit Asam Tbk.
10. Bapak Muhammad, selaku Asisten Manager Penambangan Air Laya 1 PT
Bukit Asam Tbk sekaligus pembimbing lapangan.
11. Seluruh Supervisor, Pengawas Lapangan, Staff dan Karyawan Satuan Kerja
Wasnamtor Grup A-D PT Bukit Asam Tbk.
12. Seluruh Staff dan Karyawan Satuan Kerja Penambangan & Satuan Kerja
Rencana Harian PT Bukit Asam Tbk.
13. Citra Zulmita Putri, teman seperjuangan, yang menyemangati serta
menyediakan tempat tinggal selama Penulis melaksanakan kegiatan
penelitian.
14. Teman-teman Teknik Pertambangan Angkatan 2017 yang telah menjadi
teman seperjuangan.
15. Keluarga besar Himpunan Tambang (HITAM) UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta yang selalu saya banggakan.
16. Desy Wulandari, kakak tercinta yang telah mendukung secara moril dan
materil serta selalu men-support dan memberikan motivasi.
17. Yuyun Khairunnisa aka Odeng aka my human diary.
18. Last but not least, I wanna thank me. I wanna thank me for believing in me,
I wanna thank me for doing all this hard work, I wanna thank me for never
quitting. My hard work and determination have finally paid off.
Akhir kata Penulis berharap semoga skripsi yang telah disusun ini dapat
memberikan manfaat bagi seluruh pembaca sekalian. Terimakasih.
Nindya Rismayanti
ii
ABSTRAK
iii
ABSTRACT
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK ..........................................................................................................iii
ABSTRACT ........................................................................................................iv
v
2.4.3 Pengangkutan dan Penimbunan Tanah Penutup..........................15
Angkut...................................................................................................18
vi
2.10 Distribusi Frekuensi ..............................................................................33
Angkut...................................................................................................51
vii
[Link] Waktu Edar Alat Muat.....................................................53
viii
5.1 Kesimpulan ...........................................................................................146
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.9 Pola Pemuatan Berdasarkan Posisi Alat Muat Terhadap Alat Angkut
............................................................................................................................... 19
Gambar 2.10 Pola Pemuatan Berdasarkan Jumlah Penempatan Alat Angkut .... 20
Gambar 4.2 Kondisi Front Kerja Coal Getting di Pit TSBC ............................ 51
Gambar 4.3 Metode Pemuatan Top Loading pada Kegiatan Coal Getting ....... 52
Gambar 4.7 Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Muat Skenario 1 ................... 118
Gambar 4.8 Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Angkut Skenario 1 ............... 119
Gambar 4.9 Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Muat Skenario 2 ................... 128
x
Gambar 4.10 Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Angkut Skenario 2 ............. 129
Gambar 4.11 Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Muat Skenario 3 ................. 139
Gambar 4.12 Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Angkut Skenario 3 ............. 139
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.3 Hubungan Keserasian Kerja Alat Muat dan Alat Angkut .................. 33
Tabel 4.1 Komposisi Alat Muat & Alat Angkut Coal Getting Pit TSBC .......... 49
Tabel 4.7 Waktu Hambatan Alat Muat yang Dapat Dihindari ........................... 60
Tabel 4.8 Waktu Hambatan Alat Muat yang Tidak Dapat Dihindari ................ 60
Tabel 4.9 Waktu Hambatan Alat Angkut yang Dapat Dihindari ....................... 62
Tabel 4.10 Waktu Hambatan Alat Angkut yang Tidak Dapat Dihindari ............. 63
xii
Tabel 4.15 Coal Getting Loader Unit Availability Index ..................................... 73
Tabel 4.23 Risk Assesment Matrix Hambatan Kegiatan Coal Getting ............... 101
Tabel 4.24 Matriks Sebab−Akibat dan Upaya Pengendalian Hambatan yang Dapat
Tabel 4.25 Waktu Hambatan Alat Muat yang Dapat Dihindari (Skenario 1) ..... 112
Tabel 4.26 Waktu Hambatan Alat Muat yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario 1)
............................................................................................................................. 112
Tabel 4.27 Waktu Hambatan Alat Angkut yang Dapat Dihindari (Skenario 1) . 115
Tabel 4.28 Waktu Hambatan Alat Angkut yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario 1)
............................................................................................................................. 115
Tabel 4.35 Waktu Hambatan Alat Muat yang Dapat Dihindari (Skenario 2) .... 122
xiii
Tabel 4.36 Waktu Hambatan Alat Muat yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario 2)
............................................................................................................................. 122
Tabel 4.37 Waktu Hambatan Alat Angkut yang Dapat Dihindari (Skenario 2) 124
Tabel 4.38 Waktu Hambatan Alat Angkut yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario
2) ......................................................................................................................... 125
Tabel 4.46 Waktu Hambatan Alat Muat yang Dapat Dihindari (Skenario 3) ..... 132
Tabel 4.47 Waktu Hambatan Alat Muat yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario 3)
............................................................................................................................. 133
Tabel 4.48 Waktu Hambatan Alat Angkut yang Dapat Dihindari (Skenario 3) . 135
Tabel 4.49 Waktu Hambatan Alat Angkut yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario 3)
............................................................................................................................. 135
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran G Simulasi Perbaikan Pola Kerja Ripping & Perhitungan Match Factor
xv
BAB I
PENDAHULUAN
1
Hal ini pun akan berdampak terhadap biaya produksi yang dikeluarkan
perusahaan. Untuk mencapai produksi yang ditargetkan perusahaan
diperlukan kajian teknis dan ekonomis untuk mengetahui efisien atau
tidaknya biaya produksi yang dikeluarkan berdasarkan nilai produksi yang
dihasilkan alat mekanis yang mana hal ini mengacu pada rencana kerja
perusaahan secara teknis yang berkaitan dengan rencana pencapaian kinerja
alat mekanis. Berdasarkan hal tersebut maka perlu adanya kajian dan
evaluasi serta strategi yang berkaitan dengan penghematan biaya produksi
agar dapat menekan biaya yang dikeluarkan serta diiringi dengan
ketercapaian rencana produksi yang ditargetkan perusahaan sehingga
terciptanya penghematan biaya produksi dengan output peningkatan
produksi dengan demikian didapatkan kondisi yang lebih efisien. Karena
apabila produksi menurun dari rencana yang ditargetkan, maka hal ini dapat
mengakibatkan biaya produksi menjadi tidak efisien.
Target produksi batubara Pit TSBC pada bulan November 2021
berdasarkan rencana kerja yang telah ditetapkan oleh PT Bukit Asam Tbk,
yaitu sebesar 420,000 ton. Adapun berdasarkan data produksi aktual
batubara bulan November 2021, target produksi batubara masih belum
tercapai. Hal ini dikarenakan produktivitas yang dihasilkan alat mekanis
menurun dari rencana yang ditargetkan. Oleh karena itu, dalam rangka
meningkatkan kinerja alat mekanis maka perlu adanya kajian secara teknis
maupun ekonomi sehingga dapat diketahui efisien atau tidaknya biaya
produksi yang dikeluarkan berdasarkan pencapaian kinerja alat mekanis.
Kajian secara teknis dilihat berdasarkan kinerja alat mekanis khususnya
pada alat muat dan alat angkut batubara dalam mencapai ketercapaian
produksi rencana setelah itu disusun langkah-langkah optimalisasi terhadap
kinerja alat mekanis agar terjadi peningkatan dari kondisi aktual sehingga
target produksi coal getting dapat tercapai. Adapun, kajian secara ekonomi
dilihat dari segi biaya kepemilikan (owning cost) serta biaya operasional
(operating cost) alat mekanis agar didapatkan penghematan biaya produksi
batubara berdasarkan kondisi paling efisien.
2
Penelitian revelan terdahulu terkait optimalisasi pun sudah pernah
dilakukan dan terdapat beberapa yang menjadi bahan referensi penelitian.
Berikut merupakan penjelasan penelitian relevan terdahulu dengan topik
terkait optimalisasi produksi sebagaimana Tabel 1.1
Tabel 1.1
Penelitian Relevan Terdahulu
3
1.2 Rumusan Masalah
4
Tujuan di atas dicapai melalui tujuan umum berikut:
i. Mengetahui ketercapaian produksi aktual batubara terhadap rencana
produksi yang ditargetkan.
ii. Mengetahui kinerja alat muat dan alat angkut terhadap kondisi
rencana dan aktual.
5
BAB II
TINJAUAN UMUM
6
c) Banko Barat
Tambang Banko Barat terbagi menjadi 3 Pit, yaitu Pit 1 Utara, Pit 1
Timur, dan Pit 3 Timur. Pekerjaan penambangan batubara dilakukan oleh
pihak swakelola dan kontraktor dengan menggunakan metode kombinasi
shovel-truck. Nilai kalori batubara yang terdapat di Banko Barat berkisar
antara 4,000-5,200 kkal/kg (AR).
Gambar 2.1
Peta Lokasi Kesampaian Daerah
7
Untuk menuju ke lokasi penelitian dapat ditempuh melalui rute
berikut:
1. Jakarta – Palembang
Perjalanan dari Jakarta menuju kota Palembang ditempuh melalui
jalur udara dengan menggunakan pesawat dengan waktu tempuh ±60
menit.
2. Palembang – Tanjung Enim
Dari kota Palembang menuju Tanjung Enim ditempuh melalui jalan
darat menggunakan kendaraan beroda empat dengan waktu tempuh ±
6 jam.
3. Tanjung Enim – Site Tambang PTBA
Perjalanan ke Tambang Air Laya dilanjutkan dengan menggunakan
mobil sarana LV PT Bukit Asam Tbk dengan waktu tempuh ± 25
menit.
8
terdiri dalam 2 (dua) kelompok, yaitu Kelompok Telisa dan Kelompok
Palembang. Kelompok Telisa terdiri dari Formasi Lahat, Formasi Talang
Akar, Formasi Baturaja dan Formasi Gumai. Kelompok Palembang terdiri
dari Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim dan Formasi Kasai.
Gambar 2.2
Peta Geologi Regional Tanjung Enim
(Sumber: Satuan Kerja Eksplorasi Rinci PT Bukit Asam Tbk)
9
menjadi laut dangkal, dengan ketebalan antara 100 m sampai 800 m.
Formasi ini diendapkan pada lingkungan neritik dan berangsur-angsur
menjadi laut dangkal dan prodelta diendapkan selaras di atas Formasi
Gumai pada Miosen Tengah hingga Miosen Akhir dengan ketebalan kurang
dari 600 meter.
3. Formasi Kasai
10
2. Lapisan Suban dibeberapa lokasi mengalami pemisahan menjadi dua
lapisan, yaitu B1 dan B2.
▪ Lapisan B2: ketebalan 2,0 – 4,4 meter, ditutupi lapisan batu
lempung lanauan berwarna abu-abu gelap, dengan ketebalan
antara 2 – 5 meter sebagai interburden lapisan B2 – B1.
▪ Lapisan B1: ketebalan 6 – 12 meter, ditutupi lapisan batu
lempung, lanau berwarna abu-abu gelap, terdapat lapisan tipis
batubara yang disebut Suban Marker, sebagai interburden
lapisan B1 – A2 dengan ketebalan 14 – 19 meter.
3. Lapisan Mangus di semua lokasi mengalami pemisahan menjadi dua
lapisan, yaitu:
▪ Lapisan A2: ketebalan 5 – 11 meter, ditutupi lapisan batupasir
tufa, batu lempung tuffaan berwarna putih keabu-abuan sebagai
interburden lapisan A2 – A1 dengan ketebalan 3 – 8 meter.
▪ Lapisan A1: ketebalan 4 – 9 meter, di atasnya ditutupi lapisan
batu lempung berwarna abu-abu gelap, bentonitan dengan
ketebalan 70 – 80 meter terhadap lapisan Gantung.
Di atas lapisan A1 masih ada tujuh lapisan lainnya, yang disebut
sebagai lapisan gantung. Lapisan gantung ini umumnya tipis
dan kualitasnya rendah, maka tidak ekonomis untuk ditambang.
11
Gambar 2.3
Penampang Litologi Daerah Tambang Air Laya
(Sumber: Satuan Kerja Eksplorasi Rinci PT Bukit Asam Tbk)
12
2.4 Aktivitas Penambangan Batubara
Kegiatan penambangan batubara PT Bukit Asam Tbk dilakukan
dengan metode open pit atau tambang terbuka dengan sistem penambangan
konvensional menggunakan kombinasi shovel-dump truck. Peralatan utama
yang digunakan untuk kegiatan produksi, yaitu excavator yang di-support
dengan alat penunjang bulldozer serta dan dump truck sebagai alat angkut.
Secara umum, aktivitas penambangan PT Bukit Asam Tbk terdiri dari
beberapa tahapan mulai dari pembersihan lahan hingga penimbunan
batubara di stockpile.
Gambar 2.4
Kegiatan Land Clearing
13
2.4.2 Pengupasan Lapisan Tanah Penutup (Overburden Removal)
Gambar 2.5
Kegiatan Penggalian Overburden
14
2.4.3 Pengangkutan dan Penimbunan Tanah Penutup
Gambar 2.6
Dumping Overburden di Disposal
15
dilakukan oleh Excavator Komatsu PC 400. Alat angkut yang digunakan
adalah Dump Truck HINO 500 dan SCANIA.
Gambar 2.7
Kegiatan Coal Getting
16
Gambar 2.8
Hauling Batubara ke Stockpile
17
tanah, endapan bijih, batuan untuk bangunan, dan lain-lain pada jarak dekat
dan sedang. Karena kecepatannya yang tinggi maka truk memiliki produksi
yang baik sehingga ongkos angkut per ton material menjadi rendah (Kadir,
2008).
2.5.3 Bulldozer
Produksi alat muat dan alat angkut dapat dilihat dari kemampuan alat
tersebut dalam penggunaannya di lapangan. Untuk menentukan kemampuan
produktivitas alat mekanis yang digunakan untuk pemuatan dan
pengangkutan perlu diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
kemampuan produktivitas alat mekanis tersebut. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi alat muat dan alat angkut, yaitu:
18
2.6.1 Kondisi Tempat Kerja
Kondisi tempat kerja akan mempengaruhi kinerja alat muat dan alat
angkut. Dalam kondisi lapangan yang baik, seperti kondisi jalan angkut
yang tidak berdebu pada musim kemarau atau tidak berlumpur pada musim
hujan, maka alat mekanis dapat bekerja secara optimal. Sebaliknya, dalam
kondisi lapangan yang buruk alat mekanis tidak dapat bekerja secara
optimal.
Gambar 2.9
Pola Pemuatan Berdasarkan Posisi Alat Muat Terhadap Alat Angkut
(Sumber: Indonesianto, 2012)
19
2) Pola pemuatan berdasarkan jumlah penempatan alat angkut
a. Single Back Up, yaitu alat angkut memposisikan diri untuk
dimuati pada satu tempat.
b. Double Back Up, yaitu alat angkut memposisikan diri untuk
dimuati pada dua tempat.
Gambar 2.10
Pola Pemuatan Berdasarkan Jumlah Penempatan Alat Angkut
(Sumber: Indonesianto, 2012)
20
2.6.3 Efisiensi Kerja (Job Efficiency)
b. Kondisi Cuaca
Kondisi cuaca yang panas dan berdebu sangat mengganggu
kinerja operator sehingga dapat mempengaruhi kelincahan gerak
peralatan mekanis. Pada waktu musim hujan, kondisi tempat kerja dan
jalan angkut yang menjadi berlumpur juga akan mempengaruhi
landasan kerja excavator dan medan jalan angkut bagi dump truck
akibatnya jam kerja efektif pada saat musim hujan pun terbatas
sehingga kondisi cuaca jelas sangat mempengaruhi efisiensi kerja
peralatan mekanis.
c. Faktor Manusia
Faktor manusia dalam hal ini keterampilan dan kedisiplinan
dalam bekerja merupakan faktor yang mempengaruhi efisiensi kerja.
Dengan bekerja pada waktu dan jadwal yang telah ditentukan, maka
efisiensi kerja akan meningkat sehingga sasaran produksi dapat
21
tercapai. Dan sebaliknya, apabila terdapat ketidakdisiplinan waktu
dalam bekerja maka dapat dipastikan efisiensi kerja akan menurun.
Peralatan mekanis juga akan menghasilkan persen pengisian yang
tinggi apabila alat tersebut dioperasikan operator yang terampil dan
berpengalaman.
d. Waktu Tunda
Waktu tunda meliputi hambatan yang terjadi selama kegiatan
operasi produksi penambangan. Hambatan yang terjadi dibedakan
menjadi hambatan yang dapat dihindari dan hambatan yang tidak
dapat dihindari. Hambatan yang dapat dihindari, seperti keterlambatan
alat dalam beroperasi dan ketidakdisiplinan dalam waktu bekerja.
Sedangkan, hambatan yang tidak dapat dihindari, seperti hambatan
cuaca dan kerusakan alat. Adanya hambatan yang terjadi selama jam
kerja akan mengakibatkan waktu kerja efektif semakin berkurang.
Keterangan:
22
Wkt : Waktu kerja yang tersedia (menit)
Keterangan:
23
repair hours, dan standby hours. Persamaan yang digunakan untuk
menghitung Physical Availability (PA) adalah:
𝑾+𝑺
𝑷𝑨 = (𝑾+𝑹+𝑺) 𝒙 𝟏𝟎𝟎% ………Persamaan 2.4
Keterangan:
PA : Physical Availability (%)
beroperasi (jam)
R : Repair hours atau jumlah waktu yang digunakan untuk
perbaikan alat (jam)
𝑾
𝑼𝑨 = (𝑾+𝑺) 𝒙 𝟏𝟎𝟎% ………Persamaan 2.5
Keterangan:
24
4) Effective Utilization (EU)
Effective Utilization merupakan faktor ketersediaan alat yang
menunjukkan persentase efektifitas penggunaan alat dari seluruh
waktu kerja yang tersedia. Persamaan yang digunakan untuk
menghitung Effective Utilization (EU) adalah:
𝑾
𝑬𝑼 = (𝑾+𝑹+𝑺) 𝒙 𝟏𝟎𝟎% ………Persamaan 2.6
Keterangan:
(jam)
𝑫𝒆𝒏𝒔𝒊𝒕𝒚 𝒍𝒐𝒐𝒔𝒆
𝑺𝑭 = ………Persamaan 2.7
𝑫𝒆𝒏𝒔𝒊𝒕𝒚 𝒃𝒂𝒏𝒌
Keterangan:
SF : Swell Factor (%)
Density loose : Berat jenis material loose (ton/m3)
Density bank : Berat jenis material bank (ton/m3)
25
Nilai swell factor dapat diperkirakan berdasarkan berat rata-rata
material pada saat kondisi belum dilakukan penggalian (average weight in
bank). Nilai swell factor berbeda-beda besarnya tergantung dari jenis
material itu sendiri yang diklasifikasikan pada Tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1
Average Material Weight, Estimated Swell Factor
26
2.6.6 Faktor Pengisian Bucket (Bucket Fill Factor)
𝑽𝒂
𝑩𝑭𝑭 = ( ) 𝒙 𝟏𝟎𝟎% ………Persamaan 2.8
𝑽𝒕
Keterangan:
BFF : Bucket Fill Factor (%)
Va : Volume bucket aktual (m3)
Vt : Volume bucket teoritis (m3)
Gambar 2.11
Bucket Fill Factor
(Sumber: Caterpillar, 2019)
Waktu edar (cycle time) merupakan total waktu yang diperlukan oleh
alat mekanis untuk melakukan satu siklus pekerjaan mulai dari melakukan
kerja sampai dengan selesai dan bersiap-siap untuk memulainya kembali.
Waktu edar pada alat muat dan alat angkut merupakan siklus pekerjaan
pemuatan dan pengangkutan yang mana kegiatan tersebut dilakukan
berulang-ulang.
27
[Link] Waktu Edar Alat Muat
Waktu edar alat muat adalah waktu yang dibutuhkan oleh alat muat
untuk melakukan satu siklus pekerjaan dimulai dari menggali material,
melakukan swing dengan bucket terisi, loading material ke dalam alat
angkut, dan melakukan swing dengan bucket kosong. Persamaan waktu edar
untuk alat muat, yaitu sebagai berikut:
𝑪𝑻𝒎 = 𝑻𝒎𝟏 + 𝑻𝒎𝟐 + 𝑻𝒎𝟑 + 𝑻𝒎𝟒 ………Persamaan 2.9
Keterangan:
CTm : Cycle time alat muat (detik)
Tm1 : Waktu menggali material (detik)
Tm2 : Waktu swing isi (detik)
Tm3 : Waktu loading material (detik)
Tm4 : Waktu swing kosong (detik)
Waktu edar alat angkut adalah waktu yang dibutuhkan alat angkut
untuk melakukan satu siklus pekerjaan dimulai dari mengambil posisi untuk
dimuati (manuver pada loading point), waktu diisi muatan (loading time),
mengangkut muatan, mengambil posisi untuk penumpahan muatan
(manuver pada dumping point), menumpahkan muatan (dumping time), dan
waktu kembali kosong. Persamaan waktu edar alat angkut, yaitu:
𝑪𝑻𝒂 = 𝑻𝒂𝟏 + 𝑻𝒂𝟐 + 𝑻𝒂𝟑 + 𝑻𝒂𝟒 + 𝑻𝒂𝟓 + 𝑻𝒂𝟔 ………Persamaan 2.10
Keterangan:
CTa : Cycle time alat angkut (menit)
Ta1 : Waktu manuver loading point (menit)
Ta2 : Waktu diisi muatan (menit)
Ta3 : Waktu hauling bermuatan (menit)
Ta4 : Waktu manuver dumping point (menit)
Ta5 : Waktu dumping (menit)
Ta6 : Waktu kembali kosong (menit)
28
2.7 Angle of Swing
Tabel 2.2
Standar Cycle Time Excavator
(Sumber: Komatsu Handbook Edisi 31)
29
2.8 Produktivitas Peralatan Mekanis Batubara (Coal Getting)
Keterangan:
Q : Produktivitas alat muat (bcm/jam)
q : Kapasitas bucket alat muat (m3)
k : Fill factor (%)
CTm : Cycle time alat muat (detik)
SF : Swell Factor
EK : Efisiensi kerja (%)
30
Keterangan:
Keterangan:
Dimana:
31
Area cross sectional dapat dihitung berdasarkan potongan penampang
segitiga oleh ripper.
Gambar 2.12
Triangular Cross Sectional Cut By Ripper
(Sumber: Sahu, 2012)
Dimana:
𝒏 𝒙 𝒏𝑯 𝒙 𝒄𝑳
𝑴𝑭 = ………Persamaan 2.16
𝒏𝑳 𝒙 𝒄𝑯
Keterangan:
MF : Match Factor
n : Jumlah curah isian alat muat
nH : Jumlah alat angkut (unit)
cL : Cycle time alat muat (menit)
nL : Jumlah alat muat (unit)
cH : Cycle time alat angkut (menit)
32
Hubungan keserasian kerja antara alat muat dan alat angkut dapat
dilihat pada Tabel 2.3 berikut.
Tabel 2.3
Hubungan Keserasian Kerja Alat Muat dan Alat Angkut
Nilai Match
Keterangan
Factor (MF)
Alat angkut bekerja penuh dan alat muat memiliki
MF<1
waktu tunggu
33
3. Menentukan banyak kelas, dengan menggunakan perumusan Sturges
berikut:
𝒌 = 𝟏 + 𝟑. 𝟑 𝒍𝒐𝒈 (𝒏) ………Persamaan 2.18
Dimana:
k : Banyak kelas
n : Jumlah data
Dengan:
I : Panjang kelas (Interval)
R : Jangkauan (Range)
k : Banyak kelas
Keterangan:
𝑥̄ : Rata-rata (Mean)
∑ : Jumlah data yang diamati
fi : Frekuensi nilai data
xi : Data ke-i
34
2.11 Analisis Risiko
35
1) Identifikasi Risiko (Risk Identification)
Identifikasi risiko dilakukan dengan cara menetapkan kejadian,
penyebab, maupun dampak risiko yang mungkin terjadi dan berpengaruh
terhadap pencapaian sasaran kegiatan.
Kemungkinan
Tingkat Risiko Keterangan Frekuensi
(Likelihood)
Hampir tidak pernah dan sangat Kurang dari sekali pada
Sangat Jarang
1 jarang terjadi; muncul hanya dalam periode tertentu
(Rare)
keadaan tertentu (practically impossible)
Paling sedikit atau
Jarang terjadi dan muncul hanya
Jarang setidaknya sekali pada
2 beberapa saat (happens
(Unlikely) periode tertentu (not
irregularly/almost never)
likely to occur)
Terjadi beberapa kali
Pada Kondisi Terjadi sesekali pada periode
pada saat kegiatan
3 Tertentu tertentu, kadang-kadang
berlangsung pada
(Possible) (occasionally)
periode tertentu
Sering terjadi dan muncul pada Hampir sangat sering
Sering Terjadi
4 kebanyakan situasi (happens terjadi pada periode
(Likely)
regularly/often) tertentu
Terjadi setiap saat kegiatan Setiap kali terjadi dan
Pasti Terjadi berlangsung, kejadian pasti terjadi berulang pada periode
5
(Almost Certain) pada setiap situasi (happens every tertentu (common or
time) repeating occurence)
Sumber: Risk Assesment Workbook For Mines (2009)
36
2) Menentukan dampak atau tingkat keparahan terjadinya risiko
(consequence/severity) yang dapat dilihat pada Tabel 2.4 berikut.
Tabel 2.5
Identifikasi Tingkat Risiko Berdasarkan Dampak Terjadinya Risiko
Dampak Risiko
Tingkat Keterangan
(Consequences)
Dampaknya dapat ditangani dan
Tidak Signifikan
1 kerugian tidak mempengaruhi kegiatan
(Insignificant)
atau pencapaian
Mengancam efisiensi dan efektivitas
2 Kecil (Minor) beberapa aspek; kerugiannya sedikit
mempengaruhi
3 Menengah (Moderate) Kerugian cukup mempengaruhi
Kerugian cukup besar dari segi efisiensi
4 Besar (Major)
biaya
Kerugian sangat besar, dampak sangat
Sangat Besar
5 fatal serta sangat mempengaruhi
(Catastrophic)
gagalnya kegiatan atau pencapaian
Sumber: Risk Assesment Workbook For Mines (2009)
37
Tabel 2.6
Risk Assesment Matrix
Dampak (Consequence)
Risk Rating
C1 C2 C3 C4 C5
Tidak Sangat
Likelihood x Consequence Kecil Moderat Besar
Signifikan Besar
L1 Sangat Sangat Cukup Cukup
Mudah
Kemungkinan Terjadinya
38
2.12.1 Biaya Kepemilikan (Owning Cost)
dimana:
1−(𝑛−1)(1−𝑟)
Faktor ∶
2𝑛
n : Umur ekonomis (life time) alat (tahun); r : Nilai sisa alat (%)
39
2.12.2 Biaya Operasi (Operating Cost)
Kebutuhan bahan bakar per jam berbeda untuk setiap alat atau merek
dari mesin. Data-data ini biasanya dapat diperoleh dari pabrik produsen alat
atau dealer alat yang bersangkutan atau dari data lapangan. Pemakaian
bahan bakar per jam akan bertambah bila mesin bekerja berat dan berkurang
bila bekerja ringan. Biaya bahan bakar dapat dihitung dengan rumus
(Tenriajeng, 2003):
𝑩𝒊𝒂𝒚𝒂 𝑩𝑩𝑴 = 𝑲𝒐𝒏𝒔𝒖𝒎𝒔𝒊 𝑩𝑩𝑴 (𝑳/𝑱𝒂𝒎) 𝒙 𝑯𝒂𝒓𝒈𝒂 𝑩𝑩𝑴 (𝑹𝒑/𝑳) ………Persamaan 2.25
40
𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝑭𝒊𝒍𝒕𝒆𝒓 𝒙 𝑯𝒂𝒓𝒈𝒂 𝑭𝒊𝒍𝒕𝒆𝒓
𝑩𝒊𝒂𝒚𝒂 𝑭𝒊𝒍𝒕𝒆𝒓 = ………Persamaan 2.27
𝑳𝒂𝒎𝒂 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒈𝒂𝒏𝒕𝒊𝒂𝒏 𝑭𝒊𝒍𝒕𝒆𝒓 (𝑱𝒂𝒎)
3) Ban (Tire)
Umur ban dari alat sangat dipengaruhi oleh medan kerjanya di
samping kecepatan dan tekanan angin. Selain itu, kualitas ban yang
digunakan juga berpengaruh. Umur ban biasanya diperkirakan sesuai
kondisi medan kerjanya. Biaya ban dihitung dengan menggunakan rumus
(Tenriajeng, 2003):
𝑯𝒂𝒓𝒈𝒂 𝑩𝒂𝒏 (𝑹𝒑)
𝑩𝒊𝒂𝒚𝒂 𝑩𝒂𝒏 = ………Persamaan 2.28
𝑼𝒎𝒖𝒓 𝑲𝒆𝒈𝒖𝒏𝒂𝒂𝒏 (𝑱𝒂𝒎)
Dimana:
Faktor perbaikan biasanya ditentukan berdasarkan pengalaman.
5) Upah Operator
Salah satu cara untuk menghitung upah operator per jam adalah
dengan menggunakan rumus (Tenriajeng, 2003):
𝑼𝒑𝒂𝒉 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒕𝒐𝒓 + 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒕𝒖 𝒑𝒆𝒓 𝑩𝒖𝒍𝒂𝒏 (𝑹𝒑)
𝑼𝒑𝒂𝒉 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒕𝒐𝒓 = ………Persamaan 2.30
𝑱𝒂𝒎 𝑶𝒑𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊 𝒑𝒆𝒓 𝑩𝒖𝒍𝒂𝒏 (𝑱𝒂𝒎)
41
kegiatan pemborosan dan berperilaku hemat. Adapun, ayat yang digunakan,
yakni:
1. Surah Al-Asr’ Ayat 1
شي ْٰط ُن ل َرب ٖه َكفُ ْو ًرا َّ ا َّن ْال ُم َبذريْنَ َكانُ ْْٓوا ا ْخ َوانَ ال
َّ ش ٰيطيْن َۗو َكانَ ال
42
Artinya: “Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada)
orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para
pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar
kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Isra [17]: 26-27)
43
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Tabel 3.1
Rincian Waktu Kegiatan Penelitian
Minggu ke-
No. Jenis Kegiatan November Desember
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Orientasi Lapangan
2. Pengambilan Data
3. Pengolahan dan Analisis Data
4. Penyusunan Laporan
5. Evaluasi dan Pengumpulan Laporan
44
dari jurnal, handbook maupun internet. Data tersebut kemudian selanjutnya
diolah dan dianalisa untuk mengetahui upaya optimasi yang dapat dilakukan
terhadap produksi coal getting.
45
Adapun data sekunder diperoleh tanpa melakukan observasi secara
langsung di lapangan, namun didapat dari dokumen perusahaan,
laporan/jurnal penelitian terkait, serta referensi literatur lainnya, baik yang
bersumber dari diktat, handbook maupun referensi dari internet. Data
sekunder yang digunakan dalam penelitian ini, meliputi:
a) Data produksi batubara bulanan dan harian
b) Data rencana kerja penambangan
c) Data curah hujan
d) Data spesifikasi alat mekanis
e) Jam jalan alat unit coal getting
f) Jam halangan operasi coal getting pit TSBC
g) Data Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) November 2021
h) Data Tarif Premi atau Asuransi kategori Industrial, Mining and
Commercial Machinery
i) Data harga alat berat
j) Data harga bahan bakar, oli, pelumas serta ban
k) Fuel consumption alat mekanis
l) Peta geologi dan stratigrafi regional
m) Peta kesampaian daerah
46
4. Menghitung produktivitas alat mekanis setelah dilakukan perbaikan
berdasarkan beberapa skenario efisiensi.
5. Menghitung faktor keserasian kerja (Match Factor) alat mekanis
setelah perbaikan.
6. Memperhitungkan biaya produksi batubara setelah perbaikan.
47
3.4 Diagram Alir Penelitian
Studi Literatur
Pengambilan Data
48
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 4.1
Komposisi Alat Muat & Alat Angkut Coal Getting Pit TSBC
49
Gambar 4.1
Aktivitas Kegiatan Coal Getting di Pit TSBC
Tabel 4.2
Produksi Batubara Rencana dan Aktual
50
4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Alat Muat dan Alat
Angkut
Gambar 4.2
Kondisi Front Kerja Coal Getting di Pit TSBC
51
4.3.2 Pola Pemuatan
Gambar 4.3
Metode Pemuatan Top Loading pada Kegiatan Coal Getting
52
4.3.3 Waktu Edar (Cycle Time)
Data waktu edar (cycle time) alat muat diambil langsung berdasarkan
pengamatan di lapangan pada bulan November. Data cycle time diambil
dengan mencatat waktu pada saat alat muat melakukan rangkaian gerakan,
seperti digging, swing loaded, loading, dan swing empty. Sehingga
didapatkan rata-rata cycle time Excavator Komatsu PC 400 LC-8 yang
melayani Dump Truck HINO 500 pada kegiatan coal getting sebagai
berikut:
Tabel 4.3
Cycle Time Excavator
Data waktu edar (cycle time) alat angkut juga diambil langsung
berdasarkan pengamatan di lapangan pada bulan November dengan cara
berkoordinasi dengan rekan dan membagi dua tugas lokasi pencatatan cycle
time, yaitu salah satu ada yang berada di lokasi loading point dan salah
satunya lagi ada yang berada di dumping point. Data cycle time diambil
dengan mencatat waktu pada saat alat angkut melakukan manuver di
loading point, loading, hauling bermuatan, manuver di stockpile, dumping,
serta hauling kosong dan delay. Adapun, jarak pengangkutan dari loading
point hingga menuju dumping point stockpile, yaitu sejauh 3.4 km dan alat
angkut yang digunakan sebanyak 26 unit. Berikut rata-rata cycle time Dump
Truck HINO 500 FM 350 PD pada kegiatan coal getting:
53
Tabel 4.4
Cycle Time Dump Truck
𝑉𝑎
𝐵𝐹𝐹 = ( ) 𝑥 100%
𝑉𝑡
2.14
𝐵𝐹𝐹 = ( ) 𝑥 100%
2.2
𝐵𝐹𝐹 = 97%
54
sifat fisik material PT Bukit Asam Tbk, nilai densitas batubara dalam
keadaan loose, yaitu 0.94 ton/m3 dan densitas dalam keadaan bank sebesar
1.26 ton/m3 sehingga perhitungan Swell Factor sebagai berikut:
𝐿𝑜𝑜𝑠𝑒 𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦
𝑆𝐹 =
𝐵𝑎𝑛𝑘 𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦
0.94
𝑆𝐹 =
1.26
𝑆𝐹 = 75%
55
b) Berhenti bekerja sebelum waktu istirahat
e) Menunggu Ripping
56
a) Hujan
Merupakan hambatan yang tidak dapat dikendalikan
(uncontrollable) sehingga mengakibatkan alat mekanis tidak dapat
beroperasi total. Rata-rata kehilangan waktu kerja yang disebabkan
oleh cuaca hujan pada bulan November sebesar 60.57 menit/hari.
b) Slippery
c) Refueling
e) Traffic Delay
57
f) Kerusakan dan Maintenance Alat
Tabel 4.5
Jumlah Jam Kerja Normal
Jumlah Waktu
Hari Shift Waktu Kerja
(Jam)
07.00-12.00
1 9.5
13.00-17.30
Senin
19.30-00.00
2 9.5
01.00-06.00
07.00-12.00
1 9.5
13.00-17.30
Selasa
19.30-00.00
2 9.5
01.00-06.00
07.00-12.00
1 9.5
13.00-17.30
Rabu
19.30-00.00
2 9.5
01.00-06.00
07.00-12.00
1 9.5
13.00-17.30
Kamis
19.30-00.00
2 9.5
01.00-06.00
07.00-11.30
1 8.5
13.30-17.30
Jum'at
19.30-00.00
2 9.5
01.00-06.00
Sabtu 1 07.00-12.00 9.5
58
13.00-17.30
19.30-00.00
2 9.5
01.00-06.00
07.00-12.00
1 9.5
13.00-17.30
Minggu
19.30-00.00
2 9.5
01.00-06.00
Jumlah Waktu Kerja Per Minggu 132
132 𝑗𝑎𝑚/𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑇𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 =
7 ℎ𝑎𝑟𝑖/𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢
Berdasarkan Tabel 4.5 di atas, waktu kerja tersedia per hari yang
digunakan untuk kegiatan operasi produksi penambangan adalah 18.9 jam
per hari. Waktu tersebut telah dikurangi dengan kehilangan waktu kerja (lost
time) yang direncanakan. PT Bukit Asam Tbk telah menetapkan rencana
waktu kerja berdasarkan satu hari kerja dimana pada setiap shift terdapat
kehilangan waktu yang direncanakan, seperti istirahat/hari, shift
change/hari, P5M & P2H/hari, serta Shalat Jum'at. Adapun rincian
kehilangan waktu yang direncanakan per harinya dapat dilihat pada Tabel
4.6.
Tabel 4.6
Lost Time yang Direncanakan per Hari
59
Efisiensi kerja dihitung berdasarkan waktu kerja efektif dibagi
dengan waktu kerja tersedia. Waktu kerja efektif didapat dari waktu kerja
tersedia dikurangi waktu hambatan-hambatan, baik hambatan yang dapat
dihindari maupun yang tidak dapat dihindari.
Tabel 4.7
Waktu Hambatan Alat Muat yang Dapat Dihindari
Tabel 4.8
Waktu Hambatan Alat Muat yang Tidak Dapat Dihindari
No. Hambatan yang tidak dapat dihindari EX-273 EX-278 EX-284 EX-285
1. Hujan 60.57 60.57 60.57 60.57
2. Slippery 74.42 74.42 74.42 74.42
3. Refueling 20.00 20.00 20.00 20.00
4. Pindah Lokasi Kerja 10.00 10.00 10.00 10.00
5. Kerusakan & Maintenance 25.00 75.40 36.00 75.20
Total waktu hambatan (menit) 189.99 240.39 200.99 240.19
60
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐸𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 − 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛
= 764.44 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
764.44 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 67.56%
= 712.04 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
712.04 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 62.93%
61
= 755.44 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
755.44 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 66.77%
= 724.24 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
724.24 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 64.01%
Tabel 4.9
Waktu Hambatan Alat Angkut yang Dapat Dihindari
62
3. Terlambat bekerja setelah waktu istrihat 14.00 22.00 18.00 22.00
4. Berhenti sebelum waktu shift berakhir 22.00 15.00 17.00 20.00
5. Menunggu Ripping 120.00 120.00 120.00 120.00
Total waktu hambatan (menit) 192.00 195.00 197.00 198.00
Tabel 4.10
Waktu Hambatan Alat Angkut yang Tidak Dapat Dihindari
No. Hambatan yang tidak dapat dihindari DT-01 DT-08 DT-15 DT-22
1. Hujan 60.57 60.57 60.57 60.57
2. Slippery 74.42 74.42 74.42 74.42
3. Refueling 20.00 20.00 20.00 20.00
4. Pindah Lokasi Kerja 10.00 10.00 10.00 10.00
5. Traffic Delay Bermuatan 1.88 1.88 1.88 1.88
6. Traffic Delay Kosongan 2.23 2.23 2.23 2.23
Total waktu hambatan (menit) 169.10 169.10 169.10 169.10
= 770.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
770.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 68.08%
63
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐸𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 − 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎𝑡𝑎𝑛
= 767.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
767.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 67.82%
= 765.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
765.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 67.64%
= 764.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
64
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑒𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎
764.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 67.55%
Hasil perhitungan efisiensi kerja pada alat muat dan alat angkut
dapat dilihat pada Tabel 4.11−4.12.
Tabel 4.11
Efisiensi Kerja Alat Muat
Tabel 4.12
Efisiensi Kerja Alat Angkut
Berdasarkan Tabel 4.11 dan Tabel 4.12, dapat dilihat bahwa efisiensi
kerja yang dihasilkan alat muat dan alat angkut dikategorikan rendah
mengingat nilai efisiensi kerja masih di bawah 80%. Hal ini dikarenakan
terdapat hambatan yang terjadi di lapangan pada saat kegiatan coal getting
sehingga menyebabkan waktu kerja efektif berkurang seperti terlambat
start, berhenti bekerja sebelum waktu istirahat, terlambat bekerja setelah
waktu istirahat, berhenti bekerja sebelum shift berakhir, serta menunggu
ripping. Selain itu faktor cuaca, refueling serta kerusakan pada alat muat
membuat rendahnya waktu kerja efektif yang berakibat pada rendahnya
efisiensi kerja alat. Kurangnya waktu kerja efektif yang dipakai alat untuk
beroperasi akan mengakibatkan nilai efisiensi kerja alat mekanis menjadi
rendah. Apabila nilai efisiensi kerja alat mekanis rendah, maka
produktivitas yang dihasilkan alat mekanis juga rendah atau dengan kata
lain kinerja yang dihasilkan alat mekanis belum optimal sehingga produksi
yang ditargetkan belum dapat tercapai.
65
4.3.8 Ketersediaan Alat Mekanis (Machine Availability)
Tabel 4.13
Data Ketersediaan Alat Muat
Minutes
Loader
Waktu Tersedia Working (W) Repair (R) Standby (S)
EX-273 1,131.43 764.44 25.00 341.99
EX-278 1,131.43 712.04 75.40 343.99
EX-284 1,131.43 755.44 36.00 339.99
EX-285 1,131.43 724.24 75.20 331.99
𝑊
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅
764.44
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
764.44 + 25
𝑀𝐴 = 96.83%
𝑊+𝑆
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅+𝑆
764.44 + 341.99
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
764.44 + 25 + 341.99
66
𝑃𝐴 = 97.79%
𝑊
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑆
764.44
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
764.44 + 341.99
𝑈𝐴 = 69.09%
𝑊
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅
712.04
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
712.04 + 75.40
𝑀𝐴 = 90.42%
𝑊+𝑆
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅+𝑆
712.04 + 343.99
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
712.04 + 75.40 + 343.99
𝑃𝐴 = 93.34%
𝑊
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑆
712.04
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
712.04 + 343.99
𝑈𝐴 = 67.43%
67
▪ Excavator Komatsu PC 400 LC-8 (EX-284)
1) Mechanical Availability (MA)
𝑊
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅
755.44
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
755.44 + 36
𝑀𝐴 = 95.45%
𝑊+𝑆
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅+𝑆
755.44 + 339.99
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
755.44 + 36 + 339.99
𝑃𝐴 = 96.82%
𝑊
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑆
755.44
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
755.44 + 339.99
𝑈𝐴 = 68.96%
68
▪ Excavator Komatsu PC 400 LC-8 (EX-285)
1) Mechanical Availability (MA)
𝑊
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅
724.24
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
724.24 + 75.20
𝑀𝐴 = 90.59%
𝑊+𝑆
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅+𝑆
724.24 + 331.99
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
724.24 + 75.20 + 331.99
𝑃𝐴 = 93.35%
𝑊
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑆
724.24
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
724.24 + 331.99
𝑈𝐴 = 68.57%
Tabel 4.14
Data Kesediaan Alat Angkut
Minutes
Hauler
Waktu Tersedia Working (W) Repair (R) Standby (S)
DT-01 1,131.43 770.33 0.00 361.10
DT-08 1,131.43 767.33 0.00 364.10
DT-15 1,131.43 765.33 0.00 366.10
DT-22 1,131.43 764.33 0.00 367.10
69
▪ Dump Truck HINO 500 FM 350 PD (DT-01)
1) Mechanical Availability (MA)
𝑊
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅
770.33
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
770.33 + 0
𝑀𝐴 = 100%
𝑊+𝑆
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅+𝑆
770.33 + 361.10
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
770.33 + 0 + 361.10
𝑃𝐴 = 100%
𝑊
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑆
770.33
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
770.33 + 361.10
𝑈𝐴 = 68.08%
𝑊
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅
767.33
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
767.33 + 0
𝑀𝐴 = 100%
70
2) Physical Availability (PA)
𝑊+𝑆
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅+𝑆
767.33 + 364.10
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
767.33 + 0 + 364.10
𝑃𝐴 = 100%
𝑊
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑆
767.33
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
767.33 + 364.10
𝑈𝐴 = 67.82%
𝑊
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅
765.33
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
765.33 + 0
𝑀𝐴 = 100%
𝑊+𝑆
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅+𝑆
765.33 + 366.10
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
765.33 + 0 + 366.10
𝑃𝐴 = 100%
71
3) Use Of Availability (UA)
𝑊
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑆
765.33
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
765.33 + 366.10
𝑈𝐴 = 67.64%
𝑊
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅
764.33
𝑀𝐴 = 𝑥 100%
764.33 + 0
𝑀𝐴 = 100%
𝑊+𝑆
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑅+𝑆
764.33 + 367.10
𝑃𝐴 = 𝑥 100%
764.33 + 0 + 367.10
𝑃𝐴 = 100%
𝑊
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
𝑊+𝑆
764.33
𝑈𝐴 = 𝑥 100%
764.33 + 367.10
𝑈𝐴 = 67.55%
72
digunakan untuk kegiatan coal getting pada unit alat muat dan alat angkut
bulan November 2021 pada Tabel 4.15−4.16.
Tabel 4.15
Coal Getting Loader Unit Availability Index
Machine Availability
Loader
PA MA UA
EX-273 97.79% 96.83% 69.09%
EX-278 93.34% 90.42% 67.43%
EX-284 96.82% 95.45% 68.96%
EX-285 93.35% 90.59% 68.57%
Tabel 4.16
Coal Getting Hauler Unit Availability Index
Machine Availability
Hauler
PA MA UA
DT-01 100.00% 100.00% 68.08%
DT-08 100.00% 100.00% 67.82%
DT-15 100.00% 100.00% 67.64%
DT-22 100.00% 100.00% 67.55%
73
Adapun pada alat angkut nilai Physical dan Mechanical Availability-
nya sudah sempurna, yaitu 100%. Hal ini berarti alat angkut dalam kondisi
mekanis yang bagus, tidak ada kerusakan dan siap digunakan. Sedangkan,
nilai Use of Availability (UA) alat angkut pun sama halnya dengan unit alat
muat yang masih rendah mengingat nilainya di bawah 80%. Hal ini
menunjukan bahwa waktu yang digunakan alat angkut untuk beroperasi
pada saat alat dalam kondisi available juga masih rendah atau dengan kata
lain terlalu banyak waktu standby pada alat.
Alat muat yang digunakan untuk kegiatan coal getting pada bulan
November, yaitu sebanyak 4 unit Excavator Backhoe Komatsu PC 400 LC-
8. Berikut merupakan perhitungan produktivitas masing-masing unit alat
muat:
Diketahui:
74
𝑄 = 230.13 𝑡𝑜𝑛/𝑗𝑎𝑚
Diketahui:
3600
𝑄 = 2.2 𝑥 97% 𝑥 𝑥 0.75 𝑥 62.93% 𝑥 1.26
20.34
𝑄 = 223.66 𝑡𝑜𝑛/𝑗𝑎𝑚
Diketahui:
75
3600
𝑄=𝑞𝑥𝑘𝑥 𝑥 𝑆𝐹 𝑥 𝐸𝐾 𝑥 𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐵𝑎𝑡𝑢𝑏𝑎𝑟𝑎
𝐶𝑇
3600
𝑄 = 2.2 𝑥 97% 𝑥 𝑥 0.75 𝑥 66.77% 𝑥 1.26
23.18
𝑄 = 208.21 𝑡𝑜𝑛/𝑗𝑎𝑚
Diketahui:
3600
𝑄 = 2.2 𝑥 97% 𝑥 𝑥 0.75 𝑥 64.01% 𝑥 1.26
20.51
𝑄 = 225.56 𝑡𝑜𝑛/𝑗𝑎𝑚
Gambar 4.4
Grafik Excavator Loss-Actual Production
76
Pada Gambar 4.4 memperlihatkan bahwa produktivitas aktual yang
dihasilkan excavator menurun dari produktivitas yang direncanakan.
Penurunan produktivitas tersebut diakibatkan oleh rendahnya nilai efisiensi
kerja alat. Selain itu, cycle time juga mempengaruhi produktivitas yang
dihasilkan dikarenakan excavator cenderung melakukan pengambilan
material dengan swing angle >90 ° sehingga cycle time excavator
mengalami perlambatan.
Diketahui:
77
b) Produktivitas Dump Truck HINO 500 FM 350 PD (DT-08)
Diketahui:
Diketahui:
78
60
𝑄 = 2.2 𝑥 97% 𝑥 𝑥 0.75 𝑥 67.64% 𝑥 1.26
23.68
𝑄 = 30.97 𝑡𝑜𝑛/𝑗𝑎𝑚
Diketahui:
60
𝑄 = 2.2 𝑥 97% 𝑥 𝑥 0.75 𝑥 67.55% 𝑥 1.26
23.58
𝑄 = 31.06 𝑡𝑜𝑛/𝑗𝑎𝑚
Gambar 4.5
Grafik Dump Truck Loss-Actual Production
79
Pada Gambar 4.5 memperlihatkan bahwa produktivitas aktual yang
dihasilkan dump truck menurun dari produktivitas yang direncanakan.
Penurunan produktivitas tersebut diakibatkan oleh rendahnya nilai efisiensi
kerja alat. Efisiensi kerja yang rendah disebabkan oleh kurangnya waktu
kerja efektif. Dengan demikian perlu adanya perbaikan waktu kerja agar
produksi meningkat. Hal ini dikarenakan peningkatan produksi berbanding
lurus dengan adanya perbaikan waktu kerja.
Diketahui:
80
Perhitungan area cross sectional cut by ripper:
𝐷𝑥𝑊
𝐴=
2
0.7 𝑥 1.2
𝐴= = 0.42 m2
2
𝑄𝑐 = 𝐴 𝑥 𝐿
𝑄𝑐 = 0.42 m2 𝑥 20 𝑚
𝑄𝑐 = 7.90 𝑡𝑜𝑛/𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒
𝑄𝑐 𝑥 60 𝑥 𝐸
𝑄ℎ =
𝐽 𝐽
𝐹+𝑅+𝑍
7.90 𝑥 60 𝑥 0.65
𝑄ℎ =
20 20
+ + 0.05
58.33 76.67
𝑄ℎ = 471.06 𝑡𝑜𝑛/𝑗𝑎𝑚
81
Tabel 4.17
Produksi Batubara Unit Alat Muat
Produktivitas
WKE Produksi (ton)
Loader (ton/jam)
(jam)
Rencana Aktual Harian Bulanan
EX-273 250 230.13 12.74 2,932.05 87,961.36
EX-278 250 223.66 11.87 2,654.26 79,627.83
EX-284 286 208.21 12.59 2,621.51 78,645.21
EX-285 286 225.56 12.07 2,722.61 81,678.40
Total 10,930.43 327,912.80
Tabel 4.18
Produksi Batubara Unit Alat Angkut
Produktivitas
WKE Produksi (ton)
Hauler (ton/jam)
(jam)
Rencana Aktual Harian Bulanan
DT-01 40 31.07 12.84 2,393.10 71,792.95
DT-08 40 31.07 12.79 2,384.35 71,530.37
DT-15 40 30.97 12.76 2,765.66 82,969.71
DT-22 40 31.06 12.74 2,769.84 83,095.21
Total 10,312.94 309,388.24
82
Oleh karena itu, kinerja alat mekanis pun kurang maksimal sehingga
mengakibatkan belum terpenuhinya ketercapaian rencana produksi.
Produksi yang dihasilkan unit alat angkut sebagaimana diperlihatkan
pada Tabel 4.18 masih belum mencapai target yang direncanakan, yakni
hanya 74% dari target 420,000 ton. Produksi yang dihasilkan seluruh unit
dump truck hanya sebesar 309,388.24 ton. Produktivitas yang dihasilkan
masing-masing unit dump truck kurang dari produktivitas rencana alat itu
sendiri, yakni 40 ton/jam. Rendahnya produktivitas yang dihasilkan alat
angkut ini dikarenakan nilai efisiensi kerja alat yang rendah. Efisiensi kerja
yang rendah diakibatkan kurangnya waktu kerja efektif. Kurangnya waktu
kerja efektif alat untuk beroperasi mengindikasikan adanya hambatan-
hambatan yang terjadi di lapangan selama kegiatan coal getting, baik dari
operator, gangguan cuaca maupun kondisi mekanis alat dan tempat kerja.
Oleh karena itu, kinerja alat mekanis pun kurang maksimal sehingga
mengakibatkan belum terpenuhinya ketercapaian rencana produksi.
Terdapat perbedaan nilai produksi yang dihasilkan antara alat muat
dan alat angkut. Produksi yang dihasilkan unit alat muat (Tabel 4.17) adalah
sebesar 327,912.80 ton. Sedangkan, nilai produksi yang dihasilkan oleh unit
alat angkut (Tabel 4.18), yaitu sebesar 309,388.24 ton. Maka, nilai produksi
yang digunakan menjadi patokan adalah produksi yang dihasilkan oleh unit
alat muat (excavator) karena lebih menunjukkan produksi yang
sesungguhnya akibat dari aktivitas penggalian (digging) yang dilakukan
oleh excavator itu sendiri (Rizco, 2021).
83
a) Fleet 1
1 unit Excavator Komatsu PC 400 LC-8 EX-273 dan 6 unit Dump
Truck HINO 500 FM 350 PD DT-01
Diketahui:
Jumlah curah isian (n) =9
Jumlah loader (nL) = 1 unit
Cycle time loader (cL) = 21.22 detik/0.35 menit
Jumlah hauler (nH) = 6 unit
Cycle time hauler (cH) = 23.76 menit
𝑛 𝑥 𝑛𝐻 𝑥 𝑐𝐿
𝑀𝐹 =
𝑛𝐿 𝑥 𝑐𝐻
9 𝑥 6 𝑥 0.35
𝑀𝐹 =
1 𝑥 23.76
𝑀𝐹 = 0.80
b) Fleet2
1 unit Excavator Komatsu PC 400 LC-8 EX-278 dan 6 unit Dump
Truck HINO 500 FM 350 PD DT-08
Diketahui:
Jumlah curah isian (n) =9
Jumlah loader (nL) = 1 unit
Cycle time loader (Cl) = 20.34 detik/0.34 menit
Jumlah hauler (nH) = 6 unit
Cycle time hauler (cH) = 23.66 menit
𝑛 𝑥 𝑛𝐻 𝑥 𝑐𝐿
𝑀𝐹 =
𝑛𝐿 𝑥 𝑐𝐻
9 𝑥 6 𝑥 0.34
𝑀𝐹 =
1 𝑥 23.66
𝑀𝐹 = 0.77
84
c) Fleet 3
1 unit Excavator Komatsu PC 400 LC-8 EX-284 dan 7 unit Dump
Truck HINO 500 FM 350 PD DT-15
Diketahui:
Jumlah curah isian (n) =9
Jumlah loader (nL) = 1 unit
Cycle time loader (Cl) = 23.18 detik/0.39 menit
Jumlah hauler (nH) = 7 unit
Cycle time hauler (cH) = 23.68 menit
𝑛 𝑥 𝑛𝐻 𝑥 𝑐𝐿
𝑀𝐹 =
𝑛𝐿 𝑥 𝑐𝐻
9 𝑥 7 𝑥 0.39
𝑀𝐹 =
1 𝑥 23.68
𝑀𝐹 = 1.03
d) Fleet 4
1 unit Excavator Komatsu PC 400 LC-8 EX-285 dan 7 unit Dump
Truck HINO 500 FM 350 PD DT-22
Diketahui:
Jumlah curah isian (n) =9
Jumlah loader (nL) = 1 unit
Cycle time loader (Cl) = 20.51 detik/0.34 menit
Jumlah hauler (nH) = 7 unit
Cycle time hauler (cH) = 23.58 menit
𝑛 𝑥 𝑛𝐻 𝑥 𝑐𝐿
𝑀𝐹 =
𝑛𝐿 𝑥 𝑐𝐻
9 𝑥 7 𝑥 0.34
𝑀𝐹 =
1 𝑥 23.58
𝑀𝐹 = 0.91
85
Dari perhitungan di atas, didapatkan nilai match factor aktual rata-
rata pada Tabel 4.19 berikut.
Tabel 4.19
Match Factor Aktual
86
4.7 Biaya Produksi Batubara Aktual
𝑅𝑝 10,201,552,480 − 𝑅𝑝 1,020,155,248
𝐷𝑒𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖 =
22,320
= 𝑅𝑝 411,352.92
87
suku bunga, pajak, dan asuransi yaitu sebesar 12.54%. Jam pemakaian
alat per tahun adalah 4,464 jam. Adapun perhitungan biaya suku bunga,
pajak, dan asuransi sebagai berikut:
dimana:
1−(5−1)(1−0.1)
Faktor ∶ = 0.64
2𝑥5
88
b. Biaya Transmission Oil
Konsumsi transmission oil Bulldozer Komatsu D375A-
6R adalah 0.15 liter/jam. Harga transmission oil sebesar Rp
24,339.71/liter. Sehingga perhitungan biaya transmission oil,
yaitu:
e. Biaya Grease
Konsumsi grease Bulldozer Komatsu D375A-6R adalah
0.04 kg/jam. Harga grease sebesar Rp 37,000/kg Sehingga
perhitungan biaya grease, yaitu:
89
f. Biaya Filters
Perhitungan biaya filters diambil 50% dari jumlah biaya
pelumas di luar bahan bakar. Perhitungan biaya filters Bulldozer
Komatsu D375A-6R adalah sebagai berikut:
3. Biaya Reparasi
Biaya reparasi memperhitungkan faktor perbaikan alat
mekanis dikalikan harga mesin dibagi dengan umur kegunaan
alat. Dimana faktor perbaikan yaitu 0.4 dan umur kegunaan alat
yaitu 22,320 jam. Perhitungan biaya reparasi Bulldozer Komatsu
D375A-6R adalah sebagai berikut:
4. Upah Operator
Berdasarkan data yang didapat, upah operator Bulldozer
Komatsu D375A-6R per jam adalah sebesar Rp 67,102.69.
90
𝑅𝑝 5,418,389,396 − 𝑅𝑝 541,838,939.60
𝐷𝑒𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖 =
23,520
= 𝑅𝑝 207,336.33
dimana:
1−(5−1)(1−0.1)
Faktor ∶ = 0.64
2𝑥5
91
2. Biaya Bahan Pelumas (Lubricants, Grease, dan Filters)
a. Biaya Engine Oil
Konsumsi engine oil Excavator Komatsu PC 400 LC-8
adalah 0.08 liter/jam. Harga engine oil sebesar Rp
25,813.40/liter. Sehingga perhitungan biaya engine oil, yaitu:
92
e. Biaya Grease
Konsumsi grease Excavator Komatsu PC 400 LC-8
adalah 0.12 kg/jam. Harga grease sebesar Rp 37,000/kg
Sehingga perhitungan biaya grease, yaitu:
f. Biaya Filters
Perhitungan biaya filters diambil 50% dari jumlah biaya
pelumas di luar bahan bakar. Perhitungan biaya filters
Excavator Komatsu PC 400 LC-8 adalah sebagai berikut:
3. Biaya Reparasi
Biaya reparasi memperhitungkan faktor perbaikan alat
mekanis dikalikan harga mesin dibagi dengan umur kegunaan
alat. Dimana faktor perbaikan yaitu 0.4 dan umur kegunaan alat
yaitu 23,520 jam. Perhitungan biaya reparasi Excavator Komatsu
PC 400 LC-8 adalah sebagai berikut:
4. Upah Operator
Berdasarkan data yang didapat, upah operator Excavator
Komatsu PC 400 LC-8 per jam adalah sebesar Rp 67,102.69.
93
▪ Biaya Unit Alat Angkut Dump Truck HINO 500 FM 350 PD
a) Biaya Kepemilikan (Owning Cost)
1. Depresiasi
Harga Dump Truck HINO 500 FM 350 PD adalah sebesar Rp
1,237,250,000 sudah termasuk PPn 10%. Harga total ban adalah
sebesar Rp 44,000,000. Nilai sisa alat atau trade in value yang
diterapkan sebesar 10% dari harga alat yang sudah dikurangi harga ban.
Umur kegunaan alat yaitu 23,520 jam. Sehingga perhitungan biaya
depresiasi per jam sebagai berikut:
dimana:
1−(5−1)(1−0.1)
Faktor ∶ = 0.64
2𝑥5
94
b) Biaya Operasional (Operating Cost)
1. Biaya Bahan Bakar
Konsumsi bahan bakar Dump Truck HINO 500 FM 350 PD
sebanyak 9 liter/jam. Harga bahan bakar yang digunakan berdasarkan
pada Harga Keekonomian BBM Pertamina Wilayah 1 kategori Solar
Tambang periode 1 − 14 November 2021, yaitu Rp 16,372.60/liter dan
sudah termasuk pajak. Perhitungan biaya bahan bakar Dump Truck
HINO 500 FM 350 PD sebagai berikut:
b. Transmission Oil
Konsumsi transmission oil Dump Truck HINO 500 FM
350 PD adalah 0.04 liter/jam. Harga transmission oil sebesar Rp
24,339.71/liter. Sehingga perhitungan biaya transmission oil,
yaitu:
𝑇𝑟𝑎𝑛𝑠𝑚𝑖𝑠𝑠𝑖𝑜𝑛 𝑂𝑖𝑙 = 0.04 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟/𝑗𝑎𝑚 𝑥 𝑅𝑝 24,339.71
= 𝑅𝑝 973.59
95
𝐹𝑖𝑛𝑎𝑙 𝐷𝑟𝑖𝑣𝑒 𝑂𝑖𝑙 = 0.04 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟/𝑗𝑎𝑚 𝑥 𝑅𝑝 22,822.97
= 𝑅𝑝 912.92
e. Biaya Grease
Konsumsi grease Dump Truck HINO 500 FM 350 PD
adalah 0.01 kg/jam. Harga grease sebesar Rp 37,000/kg Sehingga
perhitungan biaya grease, yaitu:
f. Biaya Filters
Perhitungan biaya filters diambil 50% dari jumlah biaya
pelumas di luar bahan bakar. Perhitungan biaya filters Dump
Truck HINO 500 FM 350 PD adalah sebagai berikut:
𝑅𝑝 44,000,000
𝑇𝑖𝑟𝑒𝑠 𝑅𝑒𝑝𝑙𝑎𝑐𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡 𝐶𝑜𝑠𝑡 =
5,000
= 𝑅𝑝 8,800.00
96
4. Biaya Reparasi
Biaya reparasi memperhitungkan faktor perbaikan alat
mekanis dikalikan harga mesin yang sudah dikurangi harga ban
kemudian dibagi dengan umur kegunaan alat. Dimana faktor
perbaikan yaitu 0.4 dan umur kegunaan alat yaitu 23,520 jam.
Perhitungan biaya reparasi Dump Truck HINO 500 FM 350 PD
adalah sebagai berikut:
5. Upah Operator
Berdasarkan data yang didapat, upah operator Dump
Truck HINO 500 FM 350 PD per jam adalah sebesar Rp
67.102.69.
Tabel 4.20
Biaya Produksi Batubara Aktual
Tarif
Jenis Alat
(Rp/ton)
Bulldozer Komatsu D375A-6R Rp 4,612.55
Excavator Komatsu PC 400 LC-8 Rp 4,485.35
Dump Truck HINO 500 FM 350 PD Rp 10,264.08
Total Biaya Produksi Rp 19,361.98
97
4,485.35/ton. Dan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pengangkutan
batubara menggunakan unit Dump Truck HINO 500 FM 350 PD adalah
sebesar Rp 10,264.08/ton. Sehingga didapatkan total biaya produksi
batubara (coal getting) aktual yaitu sebesar Rp 19,361.98/ton. Biaya
tersebut masih bisa diefisiensi mengingat terdapat kondisi di lapangan yang
menghambat kinerja alat mekanis sehingga menyebabkan biaya produksi
dan biaya per unit yang tinggi.
98
meningkat. Hal ini dikarenakan peningkatan produksi berbanding lurus
dengan adanya perbaikan jam kerja dengan melakukan pengoptimalan
waktu hambatan yang terjadi.
Perbaikan waktu hambatan pada kegiatan coal getting dilakukan
dengan cara mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi di lapangan yang
dapat mempengaruhi dan menghambat pencapaian produksi serta menekan
waktu hambatan yang terjadi dengan cara meminimalisir waktu hambatan.
Waktu hambatan yang diminimalisir, yaitu waktu hambatan yang dapat
dihindari sehingga waktu kerja efektif dapat bertambah dengan demikian
nilai efisiensi kerja alat pun meningkat.
Hambatan-hambatan yang menghambat kegiatan coal getting, yaitu
seperti terlambat memulai bekerja di awal shift; berhenti bekerja sebelum
waktu istirahat; terlambat bekerja setelah waktu istirahat; berhenti bekerja
sebelum shift berakhir; serta menunggu ripping. Hambatan-hambatan
tersebut seharusnya tidak terjadi pada saat kegiatan produksi dikarenakan
tidak terdapat dalam rencana kerja. Oleh karena itu, hambatan-hambatan
yang menghambat kegiatan coal getting tersebut harus diminimalisir atau
bahkan dihilangkan agar waktu kerja efektif tidak berkurang dan kegiatan
produksi tetap lancar. Adapun persentase rata-rata besaran hambatan coal
getting dapat dilihat pada Gambar 4.6 berikut.
Berhenti sebelum
waktu istirahat Hambatan Coal Getting
Terlambat start 7%
7% Menunggu Ripping
Terlambat bekerja
setelah istirahat Berhenti sebelum waktu
8% pulang
Gambar 4.6
Pie Chart Hambatan Coal Getting
99
Untuk memudahkan dalam cara mengatasinya, maka dibuat
identifikasi dan penilaian risiko berupa penyebab, frekuensi terjadinya
hambatan, serta dampak yang diakibatkan hambatan. Setelah itu dapat
diketahui risiko mana yang perlu ditangani terlebih dahulu karena risiko
tersebut dikategorikan sesuai dengan mudah atau tidaknya dalam mengatasi
risiko/hambatan yang terjadi. Kategori level mengatasi hambatan
didapatkan berdasarkan nilai Risk Rating. Risk Rating merupakan perkalian
antara frekuensi terjadinya hambatan (likelihood) dengan dampak yang
ditimbulkan akibat adanya hambatan (consequence). Adapun pada Tabel
4.21 dapat dilihat masing-masing hambatan berdasarkan nilai Risk Rating
berikut.
Tabel 4.21
Risk Rating Coal Getting Unit
Level
Frekuensi Dampak Risk
Kode Kejadian Risiko (Risk Event) Mengatasi
(Likelihood) (Consequence) Rating
Hambatan
H-01 Terlambat Start 3 3 9 Cukup Mudah
H-02 Berhenti sebelum waktu istirahat 2 2 4 Sangat Mudah
H-03 Terlambat bekerja setelah istirahat 3 2 6 Mudah
H-04 Berhenti sebelum waktu pulang 1 3 3 Mudah
H-05 Menunggu Ripping 4 4 16 Sulit
100
Tabel 4.22
Kriteria Manajemen Risiko Berdasarkan Level Risiko
Dampak (Consequence)
Risk Rating
C1 C2 C3 C4 C5
Tidak Sangat
Likelihood x Consequence Kecil Menengah Besar
Signifikan Besar
Kemungkinan Terjadinya Hambatan
Jarang (H-02)
L3 Cukup
Sangat Mudah
Mudah Sulit Sulit
Mudah (H-03)
Pada Kondisi Tertentu (H-01)
L4 Cukup Cukup Sulit
Mudah Sangat Sulit
Sering Terjadi Mudah Mudah (H-05)
L5 Cukup
Mudah Sulit Sangat Sulit Sangat Sulit
Pasti Terjadi Mudah
101
Pada tabel Risk Assesment Matrix di atas dapat diketahui jenis
hambatan yang harus diprioritaskan penanganannya berdasarkan dampak
yang ditimbulkan akibat adanya hambatan terhadap kegiatan coal getting.
Maka atas dasar tersebut perlu adanya upaya yang dilakukan dalam hal
menangani hambatan pada kegiatan coal getting. Adapun upaya yang dapat
dilakukan guna menangani hambatan pada kegiatan coal getting, yaitu
sebagai berikut:
▪ Menunggu Ripping
Ripping merupakan kegiatan yang setiap hari dilakukan
dengan rata-rata durasi sekitar 1−2 jam. Kegiatan ripping merupakan
kegiatan pembongkaran batubara guna memecah lapisan batubara
yang keras. Untuk menunjang kinerja excavator perlu dilakukan
pemberaian terlebih dahulu menggunakan Bulldozer Ripper Komatsu
D375A-6R yang bertugas membantu memberaikan lapisan material
sehingga memudahkan Excavator Komatsu PC 400 LC-8 untuk
melakukan penggalian dan pemuatan (loading) dengan demikian
ukuran batubara yang dimuat ke alat angkut tidak terlalu besar dan
diperkirakan sesuai dengan ukuran yang akan muat kedalam crusher.
Adapun, kriteria ukuran fragmentasi batubara yang ditetapkan pihak
PT Bukit Asam Tbk, yaitu berukuran 200 mm atau tidak lebih dari 20
cm sebagai persyaratan feeder ke hopper serta untuk memudahkan
proses loading.
Lamanya durasi ripping bergantung pada tingkat kekerasan
material, kondisi front mencakup luas dan lebar area yang akan di-
ripping, banyak atau tidaknya volume batubara yang di-ripping, serta
pola kerja ripping. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
proses kegiatan ripping, yaitu diantaranya (Juwita, 2018):
• Metode Ripping
Metode ripping atau pemberaian material disesuaikan
dengan kemampugaruan kondisi material. Kemampugaruan
dari suatu material tersebut dapat ditentukan melalui nilai uji
102
kuat tekan batuan (UCS). Nilai kekuatan batuan akan
mempengaruhi produktivitas bulldozer ripper, yang juga
berpengaruh terhadap produktivitas dan cycle time excavator.
Adapun metode ripping yang digunakan di lapangan adalah
metode straight ripping dan cross ripping. Durasi dan
fragmentasi ripping yang dihasilkan bergantung pada metode
ripping yang diterapkan.
• Fragmentasi
Fragmentasi hasil ripping dipengaruhi oleh spasi antar
ripping, cycle time bulldozer-ripper, kedalaman penetrasi
ripper, serta jarak ripping bulldozer.
• Spasi antar ripping
Spasi antar ripping perlu disesuaikan guna
menghasilkan ukuran fragmentasi batubara yang sesuai serta
untuk meningkatkan produktivitas excavator. Spasi atau jarak
ripping yang optimal membantu memaksimalkan produksi.
Semakin dekat jaraknya, semakin kecil ukuran fragmentasi
yang dihasilkan.
• Kedalaman ripping
Kedalaman ripping bergantung pada kondisi material,
seperti kekerasan material, ketebalan lapisan dan lain-lain.
Ripping adakalanya dilakukan pada kedalaman gali
maksimum ripper itu sendiri (Sahu, 2012).
103
target produksi dapat terpenuhi. Hal ini dikarenakan metode
ripping berpengaruh terhadap hasil ripping (Juwita, 2018).
Metode ripping dengan pola kerja ripping yang tepat
membantu meningkatkan produksi bulldozer-ripper dalam
mencapai target produksi batubara yang telah ditetapkan.
Adapun rekomendasi perbaikan pola kerja ripping yang dapat
diberikan yaitu diantaranya:
- Spasi ripping : direkomendasikan 1.2 meter;
- Kedalaman ripping: Max. digging depth ripper sekitar 1.5
meter (rekomendasi kisaran kedalaman penetrasi antara
1.0−1.45 meter);
- Panjang jalur kerja ripping disesuaikan dengan jarak dorong
dan kecepatan dozer serta luas front kerja.
Direkomendasikan pada jarak 20−30 meter;
- Kecepatan ripping : First Gear (Forward Speed maksimum
2.2 mph dan Reverse Speed maksimum 2.9 mph atau
Forward Speed ≤58.33 m/menit dan Reverse Speed ≤76.67
m/menit).
b) Untuk meningkatkan produktivitas ripping disarankan
mengganti tipe ripper yang memiliki kedalaman penetrasi
yang lebih dalam atau tipe ripper yang tetap namun dengan
melakukan penggantian tipe excavator dengan digging force
yang lebih besar (Toha et al, 2022).
c) Memperhatikan spasi ripping guna mengoptimalkan
produktivitas ripper bulldozer dan meningkatkan produksi
excavator sehingga bisa memaksimalkan hasil ripping dengan
fragmentasi <20 cm. Dengan mengurangi spasi ripping maka
fragmentasi yang dihasilkan ripper akan semakin kecil
sehingga akan mengurangi pekerjaan tambahan excavator
dalam memecah batubara menggunakan bucket. Hal tersebut
berdampak pada berkurangnya cycle time excavator dengan
demikian produktivitas excavator meningkat (Suyudi et al,
104
2018). Rekomendasi spasi ripping kurang dari 1 meter
diperlukan jika ingin menghasilkan fragmentasi batubara yang
lebih kecil dari 20 cm. Namun, pada perhitungan penelitian ini
digunakan spasi ripping kisaran 0.8 meter −1.45 meter.
d) Perlu menerapkan metode ripping yang dikombinasikan
dengan dozing. Penerapan metode ripping-dozing dapat
membantu mencapai target produksi batubara. Selain itu
kombinasi dozing membantu mengurangi pekerjaan excavator
ketika proses loading material dikarenakan material
pengumpan langsung didorong oleh bulldozer. Sehingga
aktivitas kombinasi ripping-dozing lebih efektif dalam
meningkatkan produktivitas excavator dan dump truck
dibandingkan hanya dengan aktivitas ripping saja.
e) Pada saat kegiatan coal cleaning, bulldozer sudah bersiap
untuk me-ripping batubara yang sudah dibersihkan sehingga
tidak ada lagi waktu tunggu bagi alat muat untuk menunggu
ripping dan batubara pun bisa langsung dimuat ke alat angkut.
Selain itu, ripping seharusnya dilakukan secara kontinyu dan
semaksimal mungkin agar setelah ripping excavator bisa
langsung melanjutkan kegiatan loading dengan begitu waktu
kerja efektif dapat meningkat.
105
tersebut juga seharusnya bisa dilakukan di antara waktu pergantian
shift atau setelah pergantian shift sehingga tidak mengganggu waktu
kerja produktif.
106
berakhir agar mendapatkan bonus upah atas pencapaian kerjanya
karena melebihi target ritase harian.
107
Tabel 4.24
Matriks Sebab−Akibat dan Upaya Pengendalian Hambatan yang Dapat Diminimalisir
108
• Untuk meningkatkan produktivitas ripping
disarankan mengganti tipe ripper yang memiliki
kedalaman penetrasi yang lebih dalam atau tipe
ripper yang tetap namun dengan melakukan
penggantian tipe excavator dengan digging force
yang lebih besar.
• Menyesuaikan kedalaman, spasi, dan panjang
jalur kerja ripping guna mengoptimalkan
produktivitas ripper bulldozer dan meningkatkan
produksi excavator.
• Perlu menerapkan metode ripping yang
dikombinasikan dengan dozing. Penerapan
metode ripping-dozing dapat membantu mencapai
target produksi batubara. Selain itu kombinasi
dozing membantu mengurangi pekerjaan
excavator ketika proses loading material.
Sehingga aktivitas kombinasi ripping-dozing
lebih efektif dalam meningkatkan produktivitas
excavator dan dump truck dibandingkan hanya
dengan aktivitas ripping saja.
• Ripping harus dilakukan secara kontinyu dan
semaksimal mungkin agar setelah ripping
excavator bisa langsung melanjutkan kegiatan
loading dengan begitu waktu kerja efektif dapat
meningkat.
109
Keterlambatan ini Waktu kerja efektif Sebelum memulai kegiatan produksi, seluruh pengawas
Terlambat akibat dari operator untuk kegiatan dan operator sudah melakukan persiapan awal. Keperluan
memulai terlambat melakukan produksi berkurang tersebut juga seharusnya bisa dilakukan di antara waktu
bekerja di awal start kegiatan sehingga efisiensi pergantian shift atau setelah pergantian shift sehingga
shift produksi karena kerja menjadi tidak menggangu waktu kerja produktif.
keperluan pribadi. rendah.
Biasanya
Kegiatan produksi
dikarenakan operator
yang seharusnya
Berhenti sudah mencapai Menerapkan sistem bonus bagi operator yang dapat
masih berjalan
bekerja target ritase harian melebihi target ritase harian sebelum waktu kerja
namun berakhir
sebelum shift sehingga mereka produktif berakhir agar mendapatkan bonus upah atas
karena operator
berakhir sudah berhenti pencapaian kerjanya karena melebihi target ritase harian.
sudah bersiap untuk
operasi untuk
pulang.
memparkirkan unit.
Kegiatan produksi Menentukan titik berkumpul (muster point) secara
Ketika mendekati
yang seharusnya spesifik di satu tempat.
Berhenti waktu istirahat
masih berjalan
bekerja 10−15 menit,
namun terhenti
sebelum waktu biasanya operator
karena operator
istirahat sudah berhenti
sudah bersiap untuk
beroperasi.
istirahat.
Terlambat Operator terlambat Mendisiplinkan operator dengan menegur dan memberi
Waktu kerja efektif
bekerja setelah sekitar 10−15 menit peringatan oleh pengawas.
menjadi berkurang
waktu istirahat setelah istirahat.
110
4.8.2 Skenario Efisiensi Unit Coal Getting
[Link] Skenario 1
111
kedalaman penetrasi ripper serta efisiensi kerja unit bulldozer yang mana
hal ini akan berdampak pada pengurangan durasi waktu tunggu ripping bagi
excavator dan dump truck. Perbaikan pada aspek efisiensi kerja dilakukan
dengan cara pengurangan waktu hambatan yang dapat dihindari dan tidak
dapat dihindari sebesar 75%. Hambatan yang dikurangi adalah hambatan-
hambatan yang dapat dihindari, seperti terlambat start, berhenti sebelum
waktu istirahat, terlambat bekerja setelah waktu istirahat, berhenti sebelum
waktu pulang, serta menunggu ripping. Adapun pada hambatan yang tidak
dapat dihindari, yang dikurangi hanya pada aspek hambatan refueling.
A. Alat Muat
Pada alat muat dilakukan pengurangan waktu hambatan yang dapat
dihindari sebesar 75% pada seluruh unit yang dapat dilihat pada Tabel 4.25
berikut.
Tabel 4.25
Waktu Hambatan Alat Muat yang Dapat Dihindari (Skenario 1)
Tabel 4.26
Waktu Hambatan Alat Muat yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario 1)
No. Hambatan yang tidak dapat dihindari EX-273 EX-278 EX-284 EX-285
1. Hujan 60.57 60.57 60.57 60.57
2. Slippery 74.42 74.42 74.42 74.42
3. Refueling 15.00 15.00 15.00 15.00
4. Pindah Lokasi Kerja 10.00 10.00 10.00 10.00
5. Kerusakan & Maintenance 25.00 75.40 36.00 75.20
Total waktu hambatan (menit) 184.99 235.39 195.99 235.19
112
Pada Tabel 4.25 terjadi pengurangan waktu sebesar 75% pada
hambatan alat muat yang dapat dihindari terhadap durasi hambatan aktual.
Adapun, pada Tabel 4.26 pengurangan waktu hambatan hanya dilakukan
pada aspek hambatan refueling dikarenakan refueling tidak direncanakan
pada rencana waktu kerja harian sehingga dapat dilakukan di luar waktu
kerja produktif, yaitu pada saat jam istirahat atau pada saat waktu pergantian
shift (shift change) sehingga tidak mengganggu waktu kerja produktif.
Sedangkan hambatan selain aspek hambatan refueling belum dapat
diminimalisir waktunya. Berdasarkan tabel di atas, maka dapat dihitung
besaran nilai efisiensi kerja alat muat setelah pengurangan waktu pada
hambatan yang dapat dihindari dan hambatan refueling sebesar 75% sebagai
berikut:
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
813.69 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 71.92 %
113
𝑊𝐾𝐸 = 761.79 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
761.79 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 67.33 %
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
804.19 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 71.08 %
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
770.99 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 68.14 %
114
B. Alat Angkut
Tabel 4.27
Waktu Hambatan Alat Angkut yang Dapat Dihindari (Skenario 1)
Tabel 4.28
Waktu Hambatan Alat Angkut yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario 1)
No. Hambatan yang tidak dapat dihindari DT-01 DT-08 DT-15 DT-22
1. Hujan 60.57 60.57 60.57 60.57
2. Slippery 74.42 74.42 74.42 74.42
3. Refueling 15.00 15.00 15.00 15.00
4. Pindah Lokasi Kerja 10.00 10.00 10.00 10.00
5. Traffic Delay Bermuatan 1.88 1.88 1.88 1.88
6. Traffic Delay Kosongan 2.23 2.23 2.23 2.23
Total waktu hambatan (menit) 164.10 164.10 164.10 164.10
115
diminimalisir waktunya. Berdasarkan tabel di atas, maka dapat dihitung
besaran nilai efisiensi kerja alat angkut setelah pengurangan waktu pada
hambatan yang dapat dihindari dan hambatan refueling sebesar 75% sebagai
berikut:
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
823.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 72.77 %
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
821.08 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 72.57 %
116
c) Efisiensi Kerja DT-15
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
819.58 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 72.44 %
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
818.83 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 72.37 %
117
Setelah dilakukan pengurangan aspek hambatan pada saat operasi
sebesar 75% maka terjadi peningkatan produktivitas alat muat dan alat
angkut pada kegiatan coal getting seiring dengan meningkatnya nilai
efisiensi kerja alat. Khusus pada hambatan menunggu ripping durasinya
dapat ditekan karena adanya perbaikan pada pola kerja atau geometri
ripping. Hasil dari simulasi perbaikan pola kerja ripping dengan mengubah
parameter kedalaman penetrasi ripper serta efisiensi kerja unit bulldozer
ripper menghasilkan nilai MF bulldozer-excavator sebesar 0.66, yang
artinya masih terdapat waktu tunggu ripping bagi unit excavator dan dump
truck dikarenakan kapasitas produksi bulldozer ripper masih di bawah
kapasitas produksi excavator. Adapun mengenai simulasi perbaikan pola
kerja ripping dan perhitungan nilai match factor bulldozer-excavator setelah
optimasi dapat dilihat pada Lampiran G. Perbandingan nilai efisiensi kerja
aktual dengan nilai efisiensi kerja skenario 1 dapat dilihat pada Gambar
4.6−4.7.
80.00%
Efisiensi Kerja
60.00%
40.00%
20.00%
0.00%
EX-273 EX-278 EX-284 EX-285
Aktual 67.65% 63.02% 66.86% 63.39%
Skenario 1 71.92% 67.33% 71.08% 68.14%
Gambar 4.7
Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Muat Skenario 1
118
Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Angkut
100.00%
80.00%
Efisiensi Kerja
60.00%
40.00%
20.00%
0.00%
DT-01 DT-08 DT-15 DT-22
Aktual 67.20% 66.94% 66.76% 66.67%
Skenario 1 72.77% 72.57% 72.44% 72.37%
Gambar 4.8
Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Angkut Skenario 1
Tabel 4.29
Produktivitas Excavator Skenario 1
Produktivitas (ton/jam) %
Loader
Rencana Aktual Skenario 1 Peningkatan
EX-273 250 230.13 244.96 6.44%
EX-278 250 223.66 239.29 6.99%
EX-284 286 208.21 221.65 6.45%
EX-285 286 225.56 240.12 6.46%
Tabel 4.30
Produktivitas Dump Truck Skenario 1
Produktivitas (ton/jam) %
Hauler
Rencana Aktual Skenario 1 Peningkatan
DT-01 40 31.07 33.20 6.88%
DT-08 40 31.07 33.25 7.00%
DT-15 40 30.97 33.17 7.09%
DT-22 40 31.06 33.28 7.13%
119
Tabel 4.31
Produksi Excavator Skenario 1
Tabel 4.32
Produksi Dump Truck Skenario 1
Tabel 4.33
Match Factor Skenario 1
Tabel 4.34
Perbandingan Biaya Produksi Batubara Skenario 1
Peningkatan produktivitas alat muat dan alat angkut dari hasil upaya
perbaikan waktu kerja dengan pengurangan waktu hambatan sebesar 75%
serta adanya peningkatan produktivitas bulldozer dari perbaikan pada aspek
pola kerja ripping dapat menurunkan biaya produksi batubara dengan
penghematan sebesar 10.67% sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4.34.
120
Peningkatan produktivitas rata-rata pada skenario 1 sebesar 6.59% untuk
unit excavator dan 7.03% untuk unit dump truck dari produktivitas rerata
aktual. Jumlah jam kerja meningkat menjadi 1,575.33 jam pada alat muat
dengan efisiensi kerja rata-rata sebesar 69.62% dan 2,666.92 jam pada alat
angkut dengan efisiensi kerja rata-rata sebesar 72.54%.
Peningkatan produksi terjadi sebesar 44,577.81 ton atau meningkat
14% dari produksi aktual. Peningkatan produksi secara keseluruhan sebesar
372,490.61 ton terjadi akibat adanya peningkatan nilai efisiensi kerja dari
kondisi efisiensi kerja aktual baik pada alat muat maupun alat angkut
walaupun peningkatan tidak terlalu signifikan seperti yang ditunjukkan
grafik pada Gambar 4.7−4.8. Peningkatan produksi juga dipengaruhi oleh
adanya perbaikan pola kerja atau geometri pada kegiatan ripping. Akan
tetapi, peningkatan produksi tersebut belum membuat target produksi
bulanan sebesar 420,000 ton tercapai. Efisiensi pada skenario 1 tidak
mengurangi atau menambah jumlah unit alat mekanis sehingga nilai match
factor tidak berubah dari kondisi match factor aktual.
[Link] Skenario 2
121
Adapun pada hambatan yang tidak dapat dihindari, yang dikurangi hanya
pada aspek hambatan refueling.
A. Alat Muat
Pada alat muat dilakukan pengurangan waktu hambatan yang dapat
dihindari sebesar 50% pada seluruh unit yang dapat dilihat pada Tabel 4.35
berikut.
Tabel 4.35
Waktu Hambatan Alat Muat yang Dapat Dihindari (Skenario 2)
No. Hambatan yang dapat dihindari EX-273 EX-278 EX-284 EX-285
1. Terlambat start 6.50 7.00 6.00 5.50
2. Berhenti sebelum waktu istirahat 5.00 5.00 7.50 7.00
3. Terlambat bekerja setelah waktu istrihat 9.00 9.50 5.00 5.00
4. Berhenti sebelum waktu shift berakhir 8.00 8.00 9.00 6.00
5. Menunggu Ripping 60.00 60.00 60.00 60.00
Total waktu hambatan (menit) 88.50 89.50 87.50 83.50
Tabel 4.36
Waktu Hambatan Alat Muat yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario 2)
No. Hambatan yang tidak dapat dihindari EX-273 EX-278 EX-284 EX-285
1. Hujan 60.57 60.57 60.57 60.57
2. Slippery 74.42 74.42 74.42 74.42
3. Refueling 10.00 10.00 10.00 10.00
4. Pindah Lokasi Kerja 10.00 10.00 10.00 10.00
5. Kerusakan & Maintenance 25.00 75.40 36.00 75.20
Total waktu hambatan (menit) 179.99 230.39 190.99 230.19
122
diminimalisir waktunya. Berdasarkan tabel di atas, maka dapat dihitung
besaran nilai efisiensi kerja alat muat setelah pengurangan waktu pada
hambatan yang dapat dihindari dan hambatan refueling sebesar 50% sebagai
berikut:
a) Efisiensi Kerja EX-273
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
862.94 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 76.27 %
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
811.54 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 71.73 %
123
Total waktu hambatan : 278.49 menit
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
852.94 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100% = 75.39 %
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
817.74 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100% = 72.28%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
B. Alat Angkut
124
Tabel 4.38
Waktu Hambatan Alat Angkut yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario 2)
No. Hambatan yang tidak dapat dihindari DT-01 DT-08 DT-15 DT-22
1. Hujan 60.57 60.57 60.57 60.57
2. Slippery 74.42 74.42 74.42 74.42
3. Refueling 10.00 10.00 10.00 10.00
4. Pindah Lokasi Kerja 10.00 10.00 10.00 10.00
5. Traffic Delay Bermuatan 1.88 1.88 1.88 1.88
6. Traffic Delay Kosongan 2.23 2.23 2.23 2.23
Total waktu hambatan (menit) 159.10 159.10 159.10 159.10
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
125
876.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 77.45 %
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
874.83 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 77.32 %
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
873.83 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 77.23 %
126
d) Efisiensi Kerja DT-22
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
873.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 77.19 %
Tabel 4.39
Standar Cycle Time Excavator
127
Setelah dilakukan pengurangan waktu hambatan yang dapat
diminimalisir pada saat operasi sebesar 50% dan minimum swing angle
yang digunakan pada salah satu unit excavator dalam kisaran <180° maka
terjadi peningkatan produktivitas alat muat dan alat angkut pada kegiatan
coal getting seiring dengan meningkatnya efisiensi kerja dan menurunnya
cycle time alat muat. Khusus pada hambatan menunggu ripping durasinya
dapat ditekan karena adanya perbaikan pada pola kerja atau geometri
ripping. Hasil dari simulasi perbaikan pola kerja ripping dengan mengubah
mengubah parameter kedalaman penetrasi ripper serta efisiensi kerja unit
bulldozer ripper menghasilkan nilai MF bulldozer-excavator sebesar 0.80,
yang artinya masih terdapat waktu tunggu ripping bagi unit excavator dan
dump truck dikarenakan kapasitas produksi bulldozer ripper masih di bawah
kapasitas produksi excavator. Adapun mengenai simulasi perbaikan pola
kerja ripping dan perhitungan nilai match factor bulldozer-excavator setelah
optimasi dapat dilihat pada Lampiran G. Perbandingan nilai efisiensi kerja
aktual dengan nilai efisiensi kerja skenario 2 dapat dilihat pada Gambar
4.9−4.10.
80.00%
Efisiensi Kerja
60.00%
40.00%
20.00%
0.00%
EX-273 EX-278 EX-284 EX-285
Aktual 67.65% 63.02% 66.86% 63.39%
Skenario 2 76.27% 71.73% 75.39% 72.28%
Gambar 4.9
Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Muat Skenario 2
128
Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Angkut
100.00%
80.00%
Efisiensi Kerja
60.00%
40.00%
20.00%
0.00%
DT-01 DT-08 DT-15 DT-22
Aktual 66.85% 67.02% 66.85% 66.67%
Skenario 2 77.45% 77.32% 77.23% 77.19%
Gambar 4.10
Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Angkut Skenario 2
Tabel 4.40
Produktivitas Excavator Skenario 2
Tabel 4.41
Produktivitas Dump Truck Skenario 2
Produktivitas (ton/jam) %
Hauler
Rencana Aktual Skenario 2 Peningkatan
DT-01 40 31.07 35.34 13.76%
DT-08 40 31.07 35.43 14.01%
DT-15 40 30.97 35.37 14.18%
DT-22 40 31.06 35.49 14.26%
129
Tabel 4.42
Produksi Excavator Skenario 2
Tabel 4.43
Produksi Dump Truck Skenario 2
Tabel 4.44
Match Factor Skenario 2
Tabel 4.45
Perbandingan Biaya Produksi Batubara Skenario 2
Peningkatan produktivitas alat muat dan alat angkut dari hasil upaya
perbaikan waktu kerja dengan penghilangan waktu hambatan sebesar 50%
dan minimum swing angle yang digunakan salah satu unit excavator dalam
kisaran <180 ° serta adanya peningkatan produktivitas bulldozer dari
perbaikan pada aspek pola kerja ripping dapat menurunkan biaya produksi
130
batubara dengan penghematan sebesar 20.08% sebagaimana ditunjukkan
pada Tabel 4.45. Peningkatan produktivitas rata-rata pada skenario 2
sebesar 16.48% untuk unit excavator dan 14.05% untuk unit dump truck dari
produktivitas rerata aktual. Jumlah jam kerja meningkat menjadi 1,672.58
jam pada alat muat dengan efisiensi kerja rata-rata sebesar 73.91% dan
2,842.13 jam pada alat angkut dengan efisiensi kerja rata-rata sebesar
77.30%.
Peningkatan produksi terjadi sebesar 104,530.93 ton atau meningkat
32% dari produksi aktual. Peningkatan produksi secara keseluruhan sebesar
432,443.73 ton terjadi akibat peningkatan nilai efisiensi kerja dari nilai
efisiensi kerja aktual baik pada alat muat maupun alat angkut serta adanya
penurunan cycle time pada salah satu unit excavator. Peningkatan produksi
juga dipengaruhi oleh adanya perbaikan pola kerja atau geometri pada
kegiatan ripping. Peningkatan efisiensi kerja cukup signifikan seperti yang
ditunjukkan grafik pada Gambar 4.9−4.10. Peningkatan tersebut mampu
membuat target produksi tercapai. Terjadi penurunan nilai match factor
sebesar 0.85 dari kondisi match factor aktual disebabkan karena cycle time
alat muat menurun sehingga membuat kinerja alat muat menjadi lebih
efisien namun tidak diiringi dengan jumlah alat angkut yang sesuai yang
akan menyebabkan semakin besar waktu tunggu pada alat muat. Dengan
demikian akan ada waktu tunggu pada alat muat dikarenakan kinerja alat
muat melebihi kinerja alat angkut.
131
[Link] Skenario 3
A. Alat Muat
Pada alat muat dilakukan pengurangan waktu hambatan yang dapat
dihindari sebesar 100% pada seluruh unit yang dapat dilihat pada Tabel 4.46
berikut.
Tabel 4.46
Waktu Hambatan Alat Muat yang Dapat Dihindari (Skenario 3)
132
Tabel 4.47
Waktu Hambatan Alat Muat yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario 3)
No. Hambatan yang tidak dapat dihindari EX-273 EX-278 EX-284 EX-285
1. Hujan 60.57 60.57 60.57 60.57
2. Slippery 74.42 74.42 74.42 74.42
3. Refueling 0.00 0.00 0.00 0.00
4. Pindah Lokasi Kerja 10.00 10.00 10.00 10.00
5. Kerusakan & Maintenance 25.00 75.40 36.00 75.20
Total waktu hambatan (menit) 169.99 220.39 180.99 220.19
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
133
961.44 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 84.98 %
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
911.04 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 80.52 %
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
950.44 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 84.00 %
134
d) Efisiensi Kerja EX-285
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
911.24 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 80.54 %
B. Alat Angkut
Pada alat angkut dilakukan pengurangan waktu hambatan yang dapat
dihindari sebesar 100% pada seluruh unit yang dapat dilihat pada Tabel 4.48
berikut.
Tabel 4.48
Waktu Hambatan Alat Angkut yang Dapat Dihindari (Skenario 3)
Tabel 4.49
Waktu Hambatan Alat Angkut yang Tidak Dapat Dihindari (Skenario 3)
No. Hambatan yang tidak dapat dihindari DT-01 DT-08 DT-15 DT-22
1. Hujan 60.57 60.57 60.57 60.57
2. Slippery 74.42 74.42 74.42 74.42
3. Refueling 0.00 0.00 0.00 0.00
135
4. Pindah Lokasi Kerja 10.00 10.00 10.00 10.00
5. Traffic Delay Bermuatan 1.88 1.88 1.88 1.88
6. Traffic Delay Kosongan 2.23 2.23 2.23 2.23
Total waktu hambatan (menit) 149.10 149.10 149.10 149.10
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
982.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 86.82 %
136
Total waktu hambatan : 149.10 menit
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
982.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 86.82 %
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
982.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 86.82 %
𝑊𝐾𝐸
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝑥 100%
𝑊𝐾𝑇
137
982.33 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 𝑥 100%
1,131.43 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
= 86.82 %
138
Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Muat
100.00%
80.00%
Efisiensi Kerja
60.00%
40.00%
20.00%
0.00%
EX-273 EX-278 EX-284 EX-285
Aktual 67.56% 62.93% 66.77% 64.01%
Skenario 3 84.98% 80.52% 84.00% 80.54%
Gambar 4.11
Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Muat Skenario 3
80.00%
Efisiensi Kerja
60.00%
40.00%
20.00%
0.00%
DT-01 DT-08 DT-15 DT-22
Aktual 68.08% 67.82% 67.64% 67.55%
Skenario 3 86.82% 86.82% 86.82% 86.82%
Gambar 4.12
Perbandingan Efisiensi Kerja Alat Angkut Skenario 3
Tabel 4.50
Produktivitas Excavator Skenario 3
139
Tabel 4.51
Produktivitas Dump Truck Skenario 3
Produktivitas (ton/jam) %
Hauler
Rencana Aktual Skenario 3 Peningkatan
DT-01 40 31.07 39.62 27.52%
DT-08 40 31.07 39.78 28.02%
DT-15 40 30.97 39.76 28.35%
DT-22 40 31.06 39.92 28.52%
Tabel 4.52
Produksi Excavator Skenario 3
Tabel 4.53
Produksi Dump Truck Skenario 3
Tabel 4.54
Match Factor Skenario 3
140
Tabel 4.55
Perbandingan Biaya Produksi Batubara Skenario 3
Peningkatan produktivitas alat muat dan alat angkut dari hasil upaya
perbaikan waktu kerja dengan penghilangan waktu hambatan sebesar 100%
dan minimum swing angle excavator yang digunakan dalam kisaran <90°
serta adanya peningkatan produktivitas bulldozer dari perbaikan pada aspek
pola kerja ripping terbukti dapat menurunkan biaya produksi batubara
dengan penghematan sebesar 34.10% sebagaimana ditunjukkan pada Tabel
4.55. Peningkatan produktivitas rata-rata pada skenario 3 sebesar 46.08%
untuk unit excavator dan 28.10% untuk unit dump truck dari produktivitas
rerata aktual. Jumlah jam kerja meningkat menjadi 1,867.08 jam pada alat
muat dengan efisiensi kerja rata-rata sebesar 82.51% dan 3,806.53 jam pada
alat angkut dengan efisiensi kerja rata-rata sebesar 86.82%.
Peningkatan produksi terjadi sebesar 277,430.54 ton atau meningkat
85% dari produksi aktual. Peningkatan produksi secara keseluruhan sebesar
605,343.54 ton terjadi akibat peningkatan nilai efisiensi kerja dari nilai
efisiensi kerja aktual baik pada alat muat maupun alat angkut serta adanya
penurunan cycle time excavator. Peningkatan produksi juga dipengaruhi
oleh adanya perbaikan pola kerja atau geometri pada kegiatan ripping.
Peningkatan efisiensi yang signifikan ditunjukkan grafik pada Gambar
4.11−4.12. Peningkatan tersebut mampu membuat target produksi tercapai.
Terjadi peningkatan nilai match factor sebesar 0.90 dari kondisi match
factor aktual disebabkan karena adanya penurunan cycle time excavator
serta penambahan pada jumlah unit dump truck tiap fleet.
141
4.9 Analisis Skenario Efisiensi Unit Coal Getting
142
Perbandingan Ketercapaian Produksi
700,000
Gambar 4.13
Perbandingan Ketercapaian Produksi Batubara
143
420,000 ton/bulan sudah tercapai sehingga dapat dikatakan skenario 2 sudah
optimal.
Produksi coal getting yang dapat dicapai dengan menggunakan
skenario 3, yaitu sebesar 605,343.54 ton atau meningkat sebesar 85% dari
produksi aktual. Produksi yang dihasilkan menggunakan skenario 3
menghasilkan ketercapaian rencana produksi. Hal ini berarti pengurangan
waktu hambatan sebesar 100% dan minimum swing angle excavator yang
digunakan dalam kisaran <90 ° mampu membuat produksi coal getting
tercapai. Hal ini dikarenakan terjadi peningkatan produktivitas yang
signifikan pada seluruh unit terhadap produktivitas rencana sehingga dapat
dikatakan skenario 3 paling efisien dan optimal, namun skenario 3 hanya
disarankan apabila masih dikehendaki tingkat produktivitas yang lebih
tinggi.
Produksi (ton/jam)
Rp20,000.00
300
Rp15,000.00
200
Rp10,000.00
100
Rp5,000.00
Rp- 0
Aktual Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3
Gambar 4.14
Grafik Efisiensi PC 400 − DT HINO 500
144
menyebabkan biaya coal getting menurun menjadi Rp 17,296.35/ton atau
dapat menurunkan biaya produksi batubara dengan penghematan sebesar
10.67% dengan biaya yang dihemat sebesar Rp 2,065.63/ton terhadap biaya
produksi aktual. Pada kondisi skenario 2 dengan mengefisiensi jam kerja
alat dan minimum swing angle excavator yang digunakan dalam kisaran
<180° pada alat muat serta mengatur pola kerja ripping menyebabkan biaya
coal getting menurun menjadi Rp 15,473.57/ton atau dapat menurunkan
biaya produksi batubara dengan penghematan sebesar 20.08% dengan biaya
yang dihemat sebesar Rp 3,888.41/ton terhadap biaya produksi aktual. Pada
kondisi skenario 3 dengan mengefisiensi jam kerja alat dan minimum swing
angle excavator yang digunakan dalam kisaran <90° pada alat muat serta
mengatur pola kerja ripping menyebabkan biaya coal getting menurun
menjadi Rp 12,759.53/ton atau dapat menurunkan biaya produksi batubara
dengan penghematan sebesar 34.10% dengan biaya yang dihemat sebesar
Rp 6,602.46/ton terhadap biaya produksi aktual. Dengan demikian
didapatkan biaya produksi batubara (coal getting) yang paling efisien yaitu
pada skenario 3 karena skenario 3 mampu mengefisiensi unit coal getting
secara keseluruhan dengan persentase penghematan biaya paling besar dan
saving cost yang paling hemat. Namun, skenario yang dipilih pada
penelitian ini adalah skenario 2 dikarenakan skenario ini sudah cukup
mampu membuat target produksi batubara sebesar 420,000 ton/bulan
tercapai sehingga dapat dikatakan skenario 2 sudah optimal. Adapun
skenario 3 hanya disarankan apabila perusahaan masih menghendaki tingkat
produktivitas yang lebih tinggi pada seluruh unit alat mekanis.
145
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
146
5.2 Saran
Diperlukan kajian teknis lebih lanjut mengenai kinerja bulldozer
yang mencakup evaluasi metode ripping antara straight ripping dan cross
ripping dalam hal keefisienannya dan evaluasi pola kerja ripping batubara
yang mencakup variasi pada spasi ripping, kedalaman penetrasi ripper dan
parameter ripping lainnya yang berpengaruh terhadap hasil ripping,
produktivitas ripping dan target produksi yang ingin dicapai.
Penerapan metode ripping-dozing juga diperlukan dalam rangka
meningkatkan produktivitas karena aktivitas kombinasi ripping-dozing
lebih efektif dalam meningkatkan produktivitas excavator dan dump truck
dibandingkan hanya dengan aktivitas ripping saja.
Berdasarkan risk assesment matrix, hambatan menunggu ripping
perlu perhatian serius serta harus diprioritaskan penanganannya karena
hambatan tersebut berada di level yang sulit untuk ditangani. Hal ini
dikarenakan hambatan menunggu ripping sering terjadi dan paling
berdampak dan berpengaruh terhadap kegiatan coal getting atau memiliki
risiko yang cukup berpengaruh terhadap pencapaian produksi. Adapun
rekomendasi upaya untuk menekan waktu menunggu ripping antara lain
yaitu menaikkan kapasitas ripping dengan menambah jumlah unit bulldozer
ripper, perbaikan sistem dan pola kerja ripping, serta perbaikan sistem
penjadwalan kegiatan ripping.
Sebagai saran untuk penelitian lebih lanjut, optimasi terhadap
penggunaan alat mekanis khususnya unit bulldozer ripper dalam
aktivitasnya melakukan kegiatan ripping serta pengaruhnya terhadap
produktivitas alat mekanis dan produksi coal getting, juga dapat dilakukan
dengan melakukan analisis sensitivitas (what-if analysis) dengan
pendekatan model matematika linear programming menggunakan software
berbasis linear programming. Variabel yang bisa dijadikan batasan atau
constraint pada analisis sensivitas, yaitu diantaranya seperti variasi pada
spasi ripping, kedalaman penetrasi ripper, panjang jalur kerja ripping,
kecepatan dozer ripper serta parameter ripping lainnya yang berkaitan.
147
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2009). Risk Assesment Workbook For Mines. NSW Mine Safety
Operations. The New South Wales Government, Australia.
Hustrulid, W., M. Kuchta dan R. Martin. (2013). Open Pit Mine Planning & Design
3rd Edition. Boca Raton: CRC Press.
Rizco. (2021). Studi Efisiensi Biaya Operasi Kegiatan Overburden Removal pada
Pit 1 PT. Jambi Prima Coal, Mandiangin, Sarolangun, Jambi [Skripsi].
Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
148
Sirait, M.N. & Aries. S. (2015). Analisis Risiko Operasional Berdasarkan
Pendekatan Enterprise Risk Management (ERM) Pada Perusahaan
Pembuatan Kardus di CV Mitra Dunia Palletindo. Semarang: Universitas
Diponegoro.
Suyudi, A., Toha, M.T, & Suwardi, F.R. (2018). Evaluasi Metode Ripping Untuk
Mengoptimalkan Fragmentasi Batubara Guna Meningkatkan Kinerja
Excavator Di Pit Muara Tiga Besar Utara PT Pamapersada Nusantara
Jobsite Tanjung Enim Sumatera Selatan. Jurnal Pertambangan, 2(4).
Toha, M. T., Juniah, R., & Yusuf, M. (2022). Optimalisasi Pemberaian Overburden
Dengan Metode Ripping dan Peledakan di Banko Barat PT Bukit Asam Tbk.
Jurnal Teknologi Mineral Dan Batubara, 18(1), 13−22.
Wardah, L. (2018). Konsep Waktu dalam al-Qur’an (Studi Tematik Terhadap Ayat-
ayat Waktu) [Skripsi]. Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas
Ushuluddin, Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Ponorogo.
149
LAMPIRAN
150
Lampiran A
Cycle Time Alat Muat
151
➢ Perhitungan Cycle Time Excavator Komatsu PC 400 LC-8 EX-273
• Banyak Data (𝑛) = 30
• Cycle Time Max. = 24.60
Cycle Time Min. = 18.00
Range (𝑅) = CT Max. – CT Min.
= 24.60 − 18.00
= 6.60
• Banyak Kelas (𝑘) = 1 + 3.3 log (𝑛)
= 1 + 3.3 log (30)
= 5.87
𝑅
• Panjang Kelas (𝑖) =
𝑘
6.60
=
5.87
= 1.12
• Tabel Distribusi Frekuensi
Interval 𝒇𝒊 𝒙𝒊 𝒇𝒊. 𝒙𝒊
18.00 - 19.12 4 18.56 74.24
19.12 - 20.25 4 19.69 78.74
20.25 - 21.37 10 20.81 208.10
21.37 - 22.49 5 21.93 109.65
22.49 - 23.62 3 23.06 69.17
23.62 - 24.74 4 24.18 96.72
∑ 30 636.62
• Rata-rata (Mean)
∑𝑓𝑖. 𝑥𝑖
𝒙̄ =
∑𝑓𝑖
636.62
𝒙̄ =
30
𝒙̄ = 21.22
152
Cycle Time Excavator Komatsu PC 400 LC-8 EX-278
Swing Swing Cycle
Digging Dumping
No. Loaded Empty Time
(detik) (detik)
(detik) (detik) (detik)
1. 00:07.5 00:05.1 00:02.6 00:04.5 00:19.7
2. 00:08.2 00:06.8 00:02.3 00:03.3 00:20.6
3. 00:06.9 00:04.1 00:02.6 00:05.3 00:18.9
4. 00:06.6 00:05.7 00:03.6 00:05.6 00:21.5
5. 00:08.6 00:04.0 00:03.9 00:06.7 00:23.2
6. 00:08.0 00:05.0 00:04.5 00:03.2 00:20.7
7. 00:06.1 00:04.0 00:04.1 00:04.2 00:18.4
8. 00:07.0 00:03.8 00:02.7 00:05.0 00:18.5
9. 00:05.2 00:04.8 00:02.9 00:05.8 00:18.7
10. 00:06.4 00:04.8 00:03.6 00:06.4 00:21.2
11. 00:07.9 00:06.5 00:05.4 00:06.3 00:26.1
12. 00:07.5 00:05.4 00:03.1 00:04.3 00:20.3
13. 00:06.3 00:03.7 00:03.9 00:04.8 00:18.7
14. 00:08.3 00:05.9 00:02.7 00:04.5 00:21.4
15. 00:08.1 00:03.7 00:02.9 00:05.6 00:20.3
16. 00:06.7 00:03.9 00:04.3 00:05.2 00:20.1
17. 00:08.1 00:04.3 00:03.6 00:04.2 00:20.2
18. 00:08.4 00:04.6 00:02.9 00:03.9 00:19.8
19. 00:07.8 00:04.9 00:03.7 00:04.1 00:20.5
20. 00:08.4 00:03.7 00:04.0 00:03.2 00:19.3
21. 00:07.0 00:04.3 00:03.7 00:04.4 00:19.4
22. 00:08.5 00:03.4 00:04.1 00:03.9 00:19.9
23. 00:06.9 00:04.9 00:04.8 00:04.0 00:20.6
24. 00:07.4 00:04.1 00:02.8 00:04.3 00:18.6
25. 00:08.5 00:04.8 00:03.5 00:04.1 00:20.9
26. 00:07.2 00:05.5 00:04.0 00:03.8 00:20.5
27. 00:07.5 00:04.1 00:02.8 00:03.9 00:18.3
28. 00:08.6 00:05.4 00:04.1 00:04.3 00:22.4
29. 00:06.7 00:04.8 00:04.3 00:04.1 00:19.9
30. 00:07.2 00:03.7 00:04.1 00:04.4 00:19.4
153
➢ Perhitungan Cycle Time Excavator Komatsu PC 400 LC-8 EX-278
• Banyak Data (𝑛) = 30
• Cycle Time Max. = 26.10
Cycle Time Min. = 18.30
Range (𝑅) = CT Max. – CT Min.
= 26.10 − 18.30
= 7.80
• Banyak Kelas (𝑘) = 1 + 3.3 log (𝑛)
= 1 + 3.3 log (30)
= 5.87
𝑅
• Panjang Kelas (𝑖) =
𝑘
7.80
=
5.87
= 1.33
• Tabel Distribusi Frekuensi
Interval 𝒇𝒊 𝒙𝒊 𝒇𝒊. 𝒙𝒊
18.30 - 19.63 10 18.97 189.65
19.63 - 20.96 14 20.30 284.13
20.96 - 22.28 3 21.62 64.86
22.28 - 23.61 2 22.95 45.89
23.61 - 24.94 0 24.28 0.00
24.94 - 26.27 1 25.61 25.61
∑ 30 610.14
• Rata-rata (Mean)
∑𝑓𝑖. 𝑥𝑖
𝒙̄ =
∑𝑓𝑖
610.14
𝒙̄ =
30
𝒙̄ = 20.34
154
Cycle Time Excavator Komatsu PC 400 LC-8 EX-284
Swing Swing Cycle
Digging Dumping
No. Loaded Empty Time
(detik) (detik)
(detik) (detik) (detik)
1. 00:09.4 00:06.2 00:05.1 00:04.1 00:24.8
2. 00:09.7 00:06.5 00:05.9 00:03.7 00:25.8
3. 00:08.9 00:08.2 00:04.3 00:03.8 00:25.2
4. 00:07.6 00:07.9 00:04.8 00:04.3 00:24.6
5. 00:10.5 00:07.3 00:04.3 00:03.4 00:25.5
6. 00:07.9 00:06.4 00:03.4 00:04.7 00:22.4
7. 00:08.7 00:05.7 00:04.1 00:04.2 00:22.7
8. 00:06.8 00:05.9 00:03.6 00:03.6 00:19.9
9. 00:10.1 00:07.2 00:04.8 00:03.5 00:25.6
10. 00:09.5 00:08.1 00:02.9 00:03.7 00:24.2
11. 00:08.4 00:04.8 00:03.5 00:03.6 00:20.3
12. 00:06.7 00:07.2 00:04.7 00:04.2 00:22.8
13. 00:07.8 00:06.5 00:05.0 00:03.6 00:22.9
14. 00:09.3 00:04.7 00:04.9 00:03.8 00:22.7
15. 00:07.1 00:08.2 00:03.5 00:04.1 00:22.9
16. 00:06.9 00:04.4 00:03.7 00:04.5 00:19.5
17. 00:07.8 00:04.2 00:03.6 00:03.8 00:19.4
18. 00:07.5 00:07.2 00:04.2 00:05.1 00:24.0
19. 00:10.7 00:04.7 00:03.6 00:04.3 00:23.3
20. 00:08.2 00:05.8 00:03.9 00:04.9 00:22.8
21. 00:10.8 00:05.3 00:04.4 00:04.7 00:25.2
22. 00:10.3 00:05.2 00:03.8 00:03.2 00:22.5
23. 00:09.6 00:04.3 00:04.9 00:03.3 00:22.1
24. 00:08.6 00:06.3 00:04.7 00:03.8 00:23.4
25. 00:10.0 00:05.8 00:04.3 00:04.4 00:24.5
26. 00:08.6 00:07.2 00:04.8 00:03.7 00:24.3
27. 00:08.7 00:06.8 00:03.7 00:03.2 00:22.4
28. 00:09.3 00:04.3 00:04.1 00:04.1 00:21.8
29. 00:10.1 00:05.6 00:04.7 00:04.5 00:24.9
30. 00:07.8 00:05.2 00:03.9 00:03.9 00:20.8
155
➢ Perhitungan Cycle Time Excavator Komatsu PC 400 LC-8 EX-284
• Banyak Data (𝑛) = 30
• Cycle Time Max. = 25.80
Cycle Time Min. = 19.40
Range (𝑅) = CT Max. – CT Min.
= 25.80 − 19.40
= 6.40
• Banyak Kelas (𝑘) = 1 + 3.3 log (𝑛)
= 1 + 3.3 log (30)
= 5.87
𝑅
• Panjang Kelas (𝑖) =
𝑘
6.40
=
5.87
= 1.09
• Tabel Distribusi Frekuensi
Interval 𝒇𝒊 𝒙𝒊 𝒇𝒊. 𝒙𝒊
19.40 - 20.49 4 19.95 79.78
20.49 - 21.58 1 21.04 21.04
21.58 - 22.67 5 22.13 110.63
22.67 - 23.76 8 23.22 185.72
23.76 - 24.85 6 24.31 145.83
24.85 - 25.94 6 25.40 152.37
∑ 30 695.36
• Rata-rata (Mean)
∑𝑓𝑖. 𝑥𝑖
𝒙̄ =
∑𝑓𝑖
695.36
𝒙̄ =
30
𝒙̄ = 23.18
156
Cycle Time Excavator Komatsu PC 400 LC-8 EX-285
Swing Swing Cycle
Digging Dumping
No. Loaded Empty Time
(detik) (detik)
(detik) (detik) (detik)
1. 00:06.7 00:05.4 00:03.4 00:03.7 00:19.2
2. 00:08.2 00:05.1 00:02.8 00:03.5 00:19.6
3. 00:07.8 00:04.3 00:03.0 00:04.4 00:19.5
4. 00:06.5 00:04.9 00:02.9 00:04.1 00:18.4
5. 00:07.2 00:06.2 00:02.5 00:05.2 00:21.1
6. 00:08.3 00:04.4 00:04.1 00:05.0 00:21.8
7. 00:06.7 00:04.7 00:04.4 00:04.7 00:20.5
8. 00:07.9 00:08.2 00:04.2 00:04.3 00:24.6
9. 00:07.2 00:05.8 00:03.8 00:03.9 00:20.7
10. 00:06.0 00:05.1 00:03.7 00:03.8 00:18.6
11. 00:09.6 00:04.9 00:04.6 00:05.1 00:24.2
12. 00:08.7 00:04.7 00:03.5 00:05.3 00:22.2
13. 00:05.6 00:05.5 00:03.2 00:04.7 00:19.0
14. 00:05.1 00:06.1 00:03.1 00:04.5 00:18.8
15. 00:08.4 00:06.3 00:02.8 00:03.6 00:21.1
16. 00:07.0 00:07.2 00:03.7 00:03.5 00:21.4
17. 00:06.5 00:05.5 00:04.0 00:03.7 00:19.7
18. 00:06.8 00:04.8 00:02.9 00:04.2 00:18.7
19. 00:06.1 00:05.6 00:02.5 00:04.9 00:19.1
20. 00:07.5 00:06.2 00:03.7 00:03.4 00:20.8
21. 00:07.7 00:06.7 00:03.5 00:04.7 00:22.6
22. 00:08.0 00:05.4 00:04.4 00:03.6 00:21.4
23. 00:06.9 00:06.2 00:03.8 00:04.2 00:21.1
24. 00:06.7 00:07.5 00:02.7 00:03.5 00:20.4
25. 00:05.9 00:06.3 00:03.3 00:03.7 00:19.2
26. 00:05.7 00:06.8 00:03.6 00:03.6 00:19.7
27. 00:06.1 00:07.6 00:02.6 00:03.8 00:20.1
28. 00:06.5 00:06.4 00:04.1 00:04.7 00:21.7
29. 00:06.0 00:05.3 00:03.9 00:03.4 00:18.6
30. 00:07.2 00:05.5 00:03.8 00:04.3 00:20.8
157
➢ Perhitungan Cycle Time Excavator Komatsu PC 400 LC-8 EX-285
• Banyak Data (𝑛) = 30
• Cycle Time Max. = 24.60
Cycle Time Min. = 18.40
Range (𝑅) = CT Max. – CT Min.
= 24.60 − 18.40
= 6.20
• Banyak Kelas (𝑘) = 1 + 3.3 log (𝑛)
= 1 + 3.3 log (30)
= 5.87
𝑅
• Panjang Kelas (𝑖) =
𝑘
6.20
=
5.87
= 1.06
• Tabel Distribusi Frekuensi
Interval 𝒇𝒊 𝒙𝒊 𝒇𝒊. 𝒙𝒊
18.40 - 19.46 9 18.93 170.37
19.46 - 20.51 7 19.99 139.90
20.51 - 21.57 8 21.04 168.32
21.57 - 22.62 4 22.10 88.38
22.62 - 23.68 0 23.15 0.00
23.68 - 24.73 2 24.21 48.41
∑ 30 615.38
• Rata-rata (Mean)
∑𝑓𝑖. 𝑥𝑖
𝒙̄ =
∑𝑓𝑖
615.38
𝒙̄ =
30
𝒙̄ = 20.51
158
Lampiran B
Cycle Time Alat Angkut
159
➢ Perhitungan Cycle Time Dump Truck HINO 500 FM 350 PD DT-01
• Banyak Data (𝑛) = 30
• Cycle Time Max. = 26.14
Cycle Time Min. = 22.12
Range (𝑅) = CT Max. – CT Min.
= 26.14 − 22.12
= 4.02
• Banyak Kelas (𝑘) = 1 + 3.3 log (𝑛)
= 1 + 3.3 log (30)
= 5.87
𝑅
• Panjang Kelas (𝑖) =
𝑘
4.02
=
5.87
= 0.69
• Tabel Distribusi Frekuensi
Interval 𝒇𝒊 𝒙𝒊 𝒇𝒊. 𝒙𝒊
22.12 - 22.80 9 22.46 202.14
22.80 - 23.49 8 23.15 185.16
23.49 - 24.17 1 23.83 23.83
24.17 - 24.86 2 24.52 49.03
24.86 - 25.54 9 25.20 226.80
25.54 - 26.23 1 25.89 25.89
∑ 30 712.85
• Rata-rata (Mean)
∑𝑓𝑖. 𝑥𝑖
𝒙̄ =
∑𝑓𝑖
712.85
𝒙̄ =
30
𝒙̄ = 23.76
160
Cycle Time Dump Truck HINO 500 FM 350 PD DT-08
Cycle
Spotting Loading Hauling Manuver Dumping Returning
No. Time
(menit) (menit) (menit) (menit) (menit) (menit)
(menit)
1. 0.49 3.20 10 0.50 0.26 10 24.45
2. 0.45 3.17 11 0.46 0.24 9 24.32
3. 0.33 3.14 10 0.45 0.33 8 22.25
4. 0.39 3.20 10 0.37 0.25 9 23.21
5. 0.35 3.18 11 0.31 0.27 10 25.11
6. 0.39 3.17 10 0.31 0.30 9 23.16
7. 0.41 3.21 10 0.45 0.34 8 22.41
8. 0.29 3.00 12 0.31 0.24 8 23.83
9. 0.48 3.19 11 0.40 0.24 8 23.31
10. 0.37 3.30 10 0.33 0.26 8 22.26
11. 0.34 3.10 11 0.49 0.29 10 25.22
12. 0.34 3.11 11 0.53 0.24 8 23.21
13. 0.48 3.40 10 0.50 0.33 10 24.70
14. 0.45 3.20 10 0.40 0.22 10 24.26
15. 0.42 3.20 10 0.33 0.24 10 24.19
16. 0.30 3.16 11 0.45 0.24 9 24.14
17. 0.57 3.16 10 0.52 0.23 9 23.48
18. 0.45 3.01 10 0.44 0.32 9 23.22
19. 0.39 3.17 11 0.52 0.26 10 25.34
20. 0.26 3.00 11 0.50 0.26 9 24.01
21. 0.35 3.20 11 0.48 0.25 9 24.28
22. 0.35 3.20 12 0.47 0.36 9 25.37
23. 0.43 3.14 12 0.42 0.35 9 25.34
24. 0.43 3.30 10 0.46 0.38 8 22.57
25. 0.50 3.20 11 0.40 0.35 8 23.44
26. 0.43 3.30 10 0.41 0.35 8 22.49
27. 0.33 3.08 10 0.47 0.38 8 22.26
28. 0.28 3.10 11 0.50 0.35 9 24.23
29. 0.46 3.07 10 0.44 0.34 8 22.32
30. 0.37 3.03 10 0.53 0.35 8 22.29
161
➢ Perhitungan Cycle Time Dump Truck HINO 500 FM 350 PD DT-08
• Banyak Data (𝑛) = 30
• Cycle Time Max. = 25.37
Cycle Time Min. = 22.25
Range (𝑅) = CT Max. – CT Min.
= 25.37 − 22.25
= 3.11
• Banyak Kelas (𝑘) = 1 + 3.3 log (𝑛)
= 1 + 3.3 log (30)
= 5.87
𝑅
• Panjang Kelas (𝑖) =
𝑘
3.11
=
5.87
= 0.53
• Tabel Distribusi Frekuensi
Interval 𝒇𝒊 𝒙𝒊 𝒇𝒊. 𝒙𝒊
22.25 - 22.78 8 22.52 180.12
22.78 - 23.31 5 23.05 115.23
23.31 - 23.84 3 23.58 70.73
23.84 - 24.37 7 24.11 168.74
24.37 - 24.90 2 24.64 49.27
24.90 - 25.43 5 25.17 125.83
∑ 30 709.90
• Rata-rata (Mean)
∑𝑓𝑖. 𝑥𝑖
𝒙̄ =
∑𝑓𝑖
709.90
𝒙̄ =
30
𝒙̄ = 23.66
162
Cycle Time Dump Truck HINO 500 FM 350 PD DT-15
Cycle
Spotting Loading Hauling Manuver Dumping Returning
No. Time
(menit) (menit) (menit) (menit) (menit) (menit)
(menit)
1. 0.45 3.14 10 0.47 0.32 8 22.38
2. 0.42 3.20 10 0.50 0.29 8 22.41
3. 0.48 3.01 10 0.49 0.26 9 23.24
4. 0.57 3.10 11 0.34 0.34 10 25.35
5. 0.45 3.09 10 0.47 0.29 10 24.30
6. 0.49 3.29 10 0.50 0.28 9 23.56
7. 0.54 3.11 11 0.41 0.32 8 23.37
8. 0.62 3.44 10 0.50 0.40 9 23.96
9. 0.65 3.17 10 0.45 0.31 8 22.59
10. 0.62 3.20 11 0.46 0.38 10 25.66
11. 0.47 3.00 11 0.52 0.30 8 23.29
12. 0.46 3.00 11 0.52 0.28 9 24.25
13. 0.50 3.10 11 0.44 0.34 9 24.38
14. 0.48 3.11 10 0.49 0.38 9 23.46
15. 0.50 3.12 11 0.46 0.37 8 23.44
16. 0.46 3.00 10 0.44 0.37 8 22.27
17. 0.48 3.15 10 0.46 0.32 8 22.42
18. 0.45 3.12 11 0.42 0.31 9 24.30
19. 0.42 3.30 11 0.43 0.27 9 24.42
20. 0.41 3.20 11 0.43 0.25 10 25.29
21. 0.43 3.50 10 0.50 0.34 8 22.77
22. 0.42 3.46 10 0.48 0.30 8 22.66
23. 0.41 3.40 10 0.46 0.31 8 22.59
24. 0.52 3.11 11 0.43 0.41 8 23.46
25. 0.49 3.00 10 0.38 0.38 9 23.25
26. 0.46 3.10 10 0.49 0.36 9 23.41
27. 0.47 3.11 10 0.39 0.35 9 23.32
28. 0.50 3.09 10 0.50 0.38 9 23.47
29. 0.48 3.08 11 0.41 0.32 10 25.30
30. 0.45 3.00 11 0.48 0.36 10 25.28
163
➢ Perhitungan Cycle Time Dump Truck HINO 500 FM 350 PD DT-15
• Banyak Data (𝑛) = 30
• Cycle Time Max. = 25.66
Cycle Time Min. = 22.27
Range (𝑅) = CT Max. – CT Min.
= 25.66 − 22.27
= 3.39
• Banyak Kelas (𝑘) = 1 + 3.3 log (𝑛)
= 1 + 3.3 log (30)
= 5.87
𝑅
• Panjang Kelas (𝑖) =
𝑘
3.39
=
5.87
= 0.58
• Tabel Distribusi Frekuensi
Interval 𝒇𝒊 𝒙𝒊 𝒇𝒊. 𝒙𝒊
22.27 - 22.85 8 22.56 180.48
22.85 - 23.43 6 23.14 138.84
23.43 - 24.00 6 23.72 142.29
24.00 - 24.58 5 24.29 121.45
24.58 - 25.16 0 24.87 0.00
25.16 - 25.74 5 25.45 127.25
∑ 30 710.31
• Rata-rata (Mean)
∑𝑓𝑖. 𝑥𝑖
𝒙̄ =
∑𝑓𝑖
710.31
𝒙̄ =
30
𝒙̄ = 23.68
164
Cycle Time Dump Truck HINO 500 FM 350 PD DT-22
Cycle
Spotting Loading Hauling Manuver Dumping Returning
No. Time
(menit) (menit) (menit) (menit) (menit) (menit)
(menit)
1. 0.40 3.10 11 0.41 0.29 9 24.19
2. 0.40 3.12 10 0.34 0.27 9 23.13
3. 0.37 3.00 11 0.37 0.36 9 24.10
4. 0.32 2.91 10 0.42 0.34 8 21.99
5. 0.34 3.10 10 0.39 0.27 8 22.10
6. 0.35 3.50 10 0.33 0.25 8 22.44
7. 0.31 3.00 10 0.34 0.31 8 21.96
8. 0.41 3.60 10 0.43 0.35 9 23.79
9. 0.44 3.20 11 0.43 0.34 8 23.41
10. 0.30 3.10 11 0.42 0.26 8 23.08
11. 0.33 3.14 11 0.36 0.30 8 23.13
12. 0.39 3.20 10 0.42 0.24 10 24.26
13. 0.44 3.16 10 0.37 0.33 9 23.30
14. 0.41 3.21 11 0.45 0.31 10 25.38
15. 0.38 3.30 11 0.42 0.27 10 25.38
16. 0.36 3.17 12 0.42 0.34 10 26.29
17. 0.43 3.20 10 0.50 0.29 8 22.41
18. 0.32 3.12 13 0.45 0.31 9 26.19
19. 0.31 3.13 10 0.44 0.24 9 23.12
20. 0.35 3.11 11 0.47 0.32 10 25.25
21. 0.37 2.40 11 0.45 0.36 9 23.58
22. 0.36 3.00 12 0.49 0.41 9 25.25
23. 0.43 3.00 10 0.44 0.39 9 23.26
24. 0.40 2.94 10 0.42 0.29 9 23.05
25. 0.33 3.00 10 0.45 0.31 9 23.09
26. 0.34 3.00 11 0.42 0.33 10 25.09
27. 0.39 2.60 11 0.44 0.34 9 23.78
28. 0.38 2.47 10 0.46 0.36 8 21.66
29. 0.39 3.07 10 0.37 0.31 8 22.13
30. 0.31 3.08 11 0.41 0.28 8 23.07
165
➢ Perhitungan Cycle Time Dump Truck HINO 500 FM 350 PD DT-22
• Banyak Data (𝑛) = 30
• Cycle Time Max. = 26.29
Cycle Time Min. = 21.66
Range (𝑅) = CT Max. – CT Min.
= 26.29 − 21.66
= 4.63
• Banyak Kelas (𝑘) = 1 + 3.3 log (𝑛)
= 1 + 3.3 log (30)
= 5.87
𝑅
• Panjang Kelas (𝑖) =
𝑘
4.63
=
5.87
= 0.79
• Tabel Distribusi Frekuensi
Interval 𝒇𝒊 𝒙𝒊 𝒇𝒊. 𝒙𝒊
21.66 - 22.45 7 22.06 154.39
22.45 - 23.24 7 22.85 159.92
23.24 - 24.03 6 23.64 141.81
24.03 - 24.81 3 24.42 73.26
24.81 - 25.60 5 25.21 126.03
25.60 - 26.39 2 26.00 51.99
∑ 30 707.39
• Rata-rata (Mean)
∑𝑓𝑖. 𝑥𝑖
𝒙̄ =
∑𝑓𝑖
707.39
𝒙̄ =
30
𝒙̄ = 23.58
166
Lampiran C
Data Curah Hujan Tambang Air Laya
Jam
Rencana C. Hujan Rencana Rencana Frekuensi
Tgl % Hujan % %
(mm) (mm) (Jam) (Kali) (Kali)
(Jam)
1 8.75 14.5 1.66 1.18 2.37 2.01 1.02 8 7.83
2 23.56 16 0.68 1.97 0.80 0.41 1.53 3 1.96
3 6.53 9.8 1.50 2.12 3.83 1.81 1.02 5 4.89
4 2.61 69.5 26.65 1.03 1.32 1.28 1.28 2 1.57
5 6.09 0.4 0.07 0.81 0.17 0.21 1.53 1 0.65
6 25.36 31.3 1.23 1.36 7.00 5.13 1.02 1 0.98
7 10.91 0 0.00 0.94 0.00 0.00 2.56 0 0.00
8 11.37 0 0.00 2.63 0.00 0.00 2.04 0 0.00
9 31.61 22.5 0.71 2.35 2.38 1.01 2.94 7 2.38
10 6.75 79 11.70 1.73 5.58 3.23 1.66 1 0.60
11 4.50 0 0.00 3.11 0.00 0.00 1.92 0 0.00
12 3.23 0 0.00 1.21 0.00 0.00 1.41 0 0.00
13 16.40 34.5 2.10 3.55 1.58 0.45 1.53 4 2.61
14 29.54 2 0.07 4.45 0.33 0.07 3.32 4 1.20
15 15.51 2 0.13 2.48 0.33 0.13 1.15 4 3.48
16 1.35 0 0.00 0.79 0.00 0.00 2.04 0 0.00
17 9.14 0 0.00 1.11 0.00 0.00 0.51 0 0.00
18 4.52 16.5 3.65 1.09 0.95 0.87 1.02 6 5.87
19 1.20 1 0.84 1.29 0.17 0.13 0.51 2 3.91
20 17.30 0 0.00 0.92 0.00 0.00 1.41 0 0.00
21 19.97 4.5 0.23 3.77 0.40 0.11 1.79 3 1.68
22 15.59 1 0.06 1.43 0.17 0.12 2.43 2 0.82
23 22.41 0.5 0.02 3.38 0.08 0.02 2.81 1 0.36
24 15.26 27.5 1.80 3.35 2.37 0.71 3.83 2 0.52
25 5.01 4 0.80 2.19 0.12 0.05 2.17 1 0.46
26 7.62 2 0.26 4.63 0.25 0.05 2.81 2 0.71
27 4.66 0.5 0.11 2.01 0.08 0.04 0.89 1 1.12
28 12.29 0 0.00 3.28 0.00 0.00 2.30 0 0.00
29 4.08 0 0.00 0.13 0.00 0.00 0.89 0 0.00
30 19.68 0 0.00 4.46 0.00 0.00 1.53 0 0.00
∑ 339 64.74 30.28 60
167
Lampiran D
Perhitungan Kapasitas Bucket Excavator Aktual
168
Lampiran E
Perhitungan Match Factor Excavator−Dump Truck Setelah Optimasi
𝑛 𝑥 𝑛𝐻 𝑥 𝑐𝐿
𝑀𝐹 =
𝑛𝐿 𝑥 𝑐𝐻
9 𝑥 6 𝑥 0.35
𝑀𝐹 =
1 𝑥 23.76
𝑀𝐹 = 0.80
𝑛 𝑥 𝑛𝐻 𝑥 𝑐𝐿
𝑀𝐹 =
𝑛𝐿 𝑥 𝑐𝐻
9 𝑥 6 𝑥 0.34
𝑀𝐹 =
1 𝑥 23.66
𝑀𝐹 = 0.77
169
▪ Perhitungan Keserasian Alat Muat dan Alat Angkut Skenario 2
𝑛 𝑥 𝑛𝐻 𝑥 𝑐𝐿
𝑀𝐹 =
𝑛𝐿 𝑥 𝑐𝐻
9 𝑥 6 𝑥 0.35
𝑀𝐹 =
1 𝑥 23.76
𝑀𝐹 = 0.80
𝑛 𝑥 𝑛𝐻 𝑥 𝑐𝐿
𝑀𝐹 =
𝑛𝐿 𝑥 𝑐𝐻
9 𝑥 6 𝑥 0.34
𝑀𝐹 =
1 𝑥 23.66
𝑀𝐹 = 0.77
170
▪ Perhitungan Keserasian Alat Muat dan Alat Angkut Skenario 3
𝑛 𝑥 𝑛𝐻 𝑥 𝑐𝐿
𝑀𝐹 =
𝑛𝐿 𝑥 𝑐𝐻
9 𝑥 7 𝑥 0.31
𝑀𝐹 =
1 𝑥 23.76
𝑀𝐹 = 0.83
𝑛 𝑥 𝑛𝐻 𝑥 𝑐𝐿
𝑀𝐹 =
𝑛𝐿 𝑥 𝑐𝐻
9 𝑥 7 𝑥 0.30
𝑀𝐹 =
1 𝑥 23.66
𝑀𝐹 = 0.80
171
Dari perhitungan match factor di atas didapatkan rata-rata nilai match factor untuk
seluruh fleet pada ketiga skenario sebagai berikut:
Match Factor
Fleet
Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3
1 0.80 0.80 0.83
2 0.77 0.77 0.80
3 1.03 0.91 0.93
4 0.91 0.91 1.04
Rata-rata 0.88 0.85 0.90
172
Lampiran F
Perhitungan Biaya Kerugian (Loss Cost) Excavator
173
Lampiran G
Simulasi Perbaikan Pola Kerja Ripping & Perhitungan Match Factor
Bulldozer−Excavator
174
Lampiran H
Perhitungan Luas Area Kerja Ripping
175
Lampiran I
Spesifikasi Alat Mekanis
176
Working Range
▪ Max. Digging Height 10.915 mm
10. ▪ Max. Digging Depth 7.820 mm
▪ Max. Digging Reach 12.025 mm
▪ Min. Swing Radius 4.735 mm
177
2. Dump Truck HINO 500 FM 350 PD
178
3. Bulldozer Komatsu D375A-6R
179
Reverse Speed
▪ 1st 4.6 km/h
▪ 2nd 8.9 km/h
▪ 3rd L 9.7 km/h
▪ 3rd 15.8 km/h
180
Lampiran J
Owning & Operating Costs Alat Mekanis
181
2. Dump Truck HINO 500 FM 350 PD
182
3. Bulldozer Komatsu D375A-6R
183
Lampiran K
Biaya Produksi Batubara (Coal Getting)
▪ Aktual
Produktivitas OOC Tarif
Jenis Alat Kegiatan
ton/jam Rp/jam Rp/ton
D375 Gali 471.06 Rp 2,172,784.39 Rp 4,612.55
PC 400 Muat 221.89 Rp 995,253.72 Rp 4,485.35
DT HINO 500 Angkut 31.04 Rp 318,636.78 Rp 10,264.08
Total Rp 19,361.98
▪ Skenario 1
Produktivitas OOC Tarif
Jenis Alat Kegiatan
ton/jam Rp/jam Rp/ton
D375 Gali 621.18 Rp 2,172,784.39 Rp 3,497.85
PC 400 Muat 236.50 Rp 995,253.72 Rp 4,208.22
DT HINO 500 Angkut 33.22 Rp 318,636.78 Rp 9,590.28
Total Rp 17,296.35
▪ Skenario 2
Produktivitas OOC Tarif
Jenis Alat Kegiatan
ton/jam Rp/jam Rp/ton
D375 Gali 828.24 Rp 2,172,784.39 Rp 2,623.39
PC 400 Muat 258.46 Rp 995,253.72 Rp 3,850.69
DT HINO 500 Angkut 35.41 Rp 318,636.78 Rp 8,999.49
Total Rp 15,473.57
▪ Skenario 3
Produktivitas OOC Tarif
Jenis Alat Kegiatan
ton/jam Rp/jam Rp/ton
D375 Gali 1,295.82 Rp 2,172,784.39 Rp 1,676.76
PC 400 Muat 324.14 Rp 995,253.72 Rp 3,070.44
DT HINO 500 Angkut 39.77 Rp 318,636.78 Rp 8,012.33
Total Rp 12,759.53
184