Modal Dasar dan Aktor Ekonomi Kreatif
Modal Dasar dan Aktor Ekonomi Kreatif
Dosen Pengampu:
Disusun Oleh:
Kelompok 02
SEMESTER VI
PRODI MANAJEMEN ZAKAT DAN WAKAF 6B
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG
MARET 2023
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena telah memberikan kesempatan pada penulis
untuk menyelesaikan makalah ini, atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan
makalah ini dengan tepat waktu.
Makalah dengan judul “Modal Dasar dan Aktor Penggerak Ekonomi Kreatif” disusun guna
memenuhi tugas dosen pada mata kuliah Ekonomi Kreatif di UIN SATU Tulungagung. Selain itu,
penulis juga berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca tentang topik
modal dasar dan aktor penggerak ekonomi kreatif.
Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Anang Haris
Firmansyah, [Link] selaku dosen mata kuliah Ekonimi Kreatif, tugas yang telah diberikan ini dapat
menambah pengetahuan dan wawasan penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih pada
semua pihak yang telah membantu proses penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun akan penulis terima demi kesempurnaan makalah ini.
Penulis
2
DAFTAR ISI
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ekonomi kreatif merupakan salah satu konsep ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan
kreativitas serta Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi yang paling [Link]
dihasilkan dari ekonomi kreatif adalah produk yang memiliki ciri khas, unik, serta berbeda dari
yang lain. Produk yang dihasilkan dari1
Konsep modal berbasis kreatifitas yang dapat berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi di
suatu daerah. Indonesia sudah menyadari bahwa ekonomi kreatif beserta bagiannya, yaitu industri
kreatif, bisa menjadi harapan untuk bisa bangkit, bersaing dan meraih keunggulan dalam ekonomi
ASEAN dan global.
Kolaborasi antara para cendekiawan, pelaku bisnis, dan pemerintah menjadi dasar untuk
pengembangan ekonomi kreatif agar berjalan selaras dan saling tumpang-tindih. Bentuk
kolaborasi disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan, prosedur dan realitas politik yang
ada. Kolaborasi dapat meralisasikan pergerakan ekonomi kreatif ke arah sasaran yang dituju secara
lingkup nasional.
Ekonomi kreatif adalah suatu konsep untuk merealisasikan pembangunan ekonomi yang
berkelanjutan berbasis kreativitas. Pemanfaatan sumber daya yang bukan hanya terbarukan,
bahkan tidak terbatas, yaitu ide, gagasan, bakat atau talenta dan kreativitas. Nilai ekonomi dari
suatu produk atau jasa di era kreatif tidak lagi ditentukan oleh bahan baku atau sistem produksi
seperti pada era industri, tetapi lebih kepada pemanfaatan kreativitas dan penciptaan inovasi
melalui perkembangan teknologi yang semakin maju. Industri tidak dapat lagi bersaing di pasar
global dengan hanya mengandalkan harga atau kualitas produk saja, tetapi harus bersaing
berbasiskan inovasi, kreativitas dan imajinasi. 2
1
Jurnal; Nur Fadhilah S. PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF BERBASIS INDUSTRI RUMAH TANGGA DALAM
MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT. Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Makasar.
2
Aldy Purnomo, S.E., [Link] Kreatif : Pilar Pembangunan Indonesia, Cet. 1 –Surakarta: 2016. Hlm7
4
Berdasarkan latar belakang masalah di atas,maka dalam penelitian ini dirumuskan masalah
sebagai berikut :
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
5
BAB II
PEMBAHASAN
Modal Dasar Ekonomi Kreatif Perkembangan ekonomi kreatif sangat bergantung pada
berbagai faktor dan komponen,seperti faktor modal, komponen inti, komponen pendukung, aktor
penggerak, dan faktor pendukung.
Kekurangan modal material dan modal intelektual dapat menyebabkan perusahaan kecil dan
menengah ketergantungan pada berbagai aspek, seperti bahan baku, bahan penolong, teknologi,
desain, dan pemasaran. semua aspek yang dibutuhkan oleh usaha kecil dan menengah tersebut
dimiliki pengusaha besar. Modal yang diperlukan untuk memiliki bahan baku dan teknologi
biasanya dimiliki oleh pengusaha besar yang memiliki akses modal, menguasai pasar, dan
memiliki teknologi. Pemilik modal menguasai informasi pasar sehingga pengusaha kecil dan
menengah ketergantungan kepada pemilik modal yang menguasai pasar. Harga bahan baku dan
harga produk hasil industri kecil dan menengah kedua-duanya sangat bergantung dan ditentukan
3
oleh pemilik modal.
Demikian juga, desain dan teknologi ditentukan oleh pemilik modal yang menguasai pasar,
sedangkan pengusaha kecil mengikuti kemauan pemilik modal, baik bahan baku, teknologi, desain
3
Suryana. 2013. Ekonomi Kreatif. Jakarta : Salemba Empat
6
pasar, harga jual produk, maupun harga beli bahan baku. Akibatnya, pengusaha kecil dan
menengah menjadi ketergantungann dan hanya menerima manfaat ekonomi sesuai denhan selisih
antara harga jual dan harga beli yang kedua-duanya ditentukan oleh pemilik modal. Dengan pola
seperti itu, maka pengusaha kecil tidak akan berkembang, dan lama-kelamaan menjadi pekerja dan
bekerja dengan “sistem maklon”. Maklon adalah mengerjakan barang milik orang lain, dengan
besarnya upah ditentukan oleh pengusaha dan bergantung pada banyaknya barang yang dapat
dikerjakan atau dihasilkan.
Modal nonrill, seperti modal intelektual dan modal kreativitas ternyata sangat diperlukan oleh
para pengusaha serta industri kecil dan menengah untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing
yang selama ini masih relatif rendah. Untuk membangun usaha kecil modal rill, seperti uang tentu
saja penting, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah modal kekayaan intelektual.
Seperti dikemukakan Howkins (2001), modal kreativitas bukan merupakan modal material, tetapi
merupakan modal intelektual, modal budaya, modal sosial, dan modal struktural.
4
Modal kreatif (creative capital) adalah modal intelektual berupa kekayaan intelektual, seperti
desain produk, merek dagang, hak cipta, paten, dan royalti. Oleh sebab itu, agar kreatifitas
menghasilkan dan memberi dampak positif output an income (keluaran dan hasil), menurut Home
Affairs Bureau (2005:41); UNDP-UNCTAD (2008:10) diperlukan empat modal, sebagai berikut:
Modal insani
Modal social
Modal budaya
Modal struktur kelembagaan
Keterkaitan keempat faktor tersebut menurut UNCTAD (2008:10) digambarkan sebagai berikut: 5
4
R.A. Purnomo. 2013. Ekonomi Kreatif Pilar Pembangunan Indonesia. [Link]
5
Home Affairs Bureau (2005:41); UNDP-UNCTAD (2008:10)
7
Keempat jenis modal tersebut merupakan faktor yang sangat menentukan pertumbuhan kreativitas
dan dipandang sebagai modal ekonomi kreatif. Manifestasi dari kreativitas adalah output dan
outcomes yang terbentuk dari interelasi antarmodal insani, modal budaya, modal sosial, dan modal
kelembagaan.
1) Modal Isnani (Human Capital)
Salah satu modal insani dalam ekonomi kreatif yang terpenting adalah modal intelektual
yaitu berupa kecakapan, pengetahuan, keterampilan, dan motivasi untuk menghasilkan
kekayaan intelektual, seperti paten, merek dagang, royalti, dan desain. Menurut David Parrish
(2009:77), “Kekayaan intelektual merupakan modal pokok industri kreatif yang menciptakan
aktivitas-aktivitas, keterampilan dan bakat individual, yang bepotensi untuk menciptakan
lapangan kerja dan kekayaan secara turun-temurun melalui kekayaan intelektual. Sementara
itu menurut Stewart, T.A. (1997), modal intelektual merupakan gabungan dari modal
kompetensi, ilmu pengetahuan, kemampuan, keterampilan, komitmen, dan tanggungjawab. 6
Ada lima macam keterampilan (skill) dan kecakapan yang membentuk ekonomi kreatif, yaitu:
a) Keterampilan konspetual
b) Keterampilan mengorganisir
c) Keterampilan manajerial
d) Keterampilan kewirausahaan
e) Keterampilan personal dalam berelasi.
2) Modal Sosial (Social Capital)
Modal sosial adalah modal kepercayaan dan kejujuran serta etika dalam menjalankan usaha.
3) Modal budaya (Cultural Capital)
6
Stewart, T.A. (1997)
8
Modal budaya dimiliki oleh setiap bangsa bahkan perusahaan secara turun-temurun. Modal
ini terdiri dari nilai-nilai, orientasi, kebiasaan, adat-istiadat dan bentuk lain dari budaya. Dilihat
dari berbagai aspek budaya, kekayaan alam, dan kebinekaan yang dimiliki, Indonesia memiliki
modal ekonomi kreatif yang potensi, sebagai berikut:
a) Modal seni, budaya, dan warisan budaya
b) Modal sumber daya dan kekayaan alam
c) Modal kebinekaan suku bangsa, budaya, bahasa, dan agama
4) Modal Kelembagaan dan Struktural
Modal kelembagaan dan struktural merupakan modal yang diperlukan oleh industri kreatif
yang berasal dari pemerintahan dalam bentuk kebijakan yang dapat mengakomodasi dan
melindungi industri kreatif. Modal struktural atau kadang dikenal dengan modal infrastruktur
oleh Howkins (2001:210) didefinisikan sebagai alat yang Diperlukan dan dipandang sebagai
modal sumber daya manusia bagi organisasi yang meliputi: 7
a) Kebijakan rekrutmen organisasi
b) Pelatihan dan remunerisasi
c) Sistem informasi manajemen dan sistem manajemen ilmu pengetahuan
d) Arahan kerja tim
e) Sikap dalam pekerjaan
f) Manajemen hak kekayaan intelektual
g) Nama
h) Perlindungan merek dagang
i) Lisensi
j) Hak paten
k) Perlindungan hak cipta
7
Howkins (2001:210)
9
B. Komponen Inti dan Pendukung Ekonomi Kreatif
Komponen inti dan pendukung merupakan mesin pendorong perkembangan (engine of growth)
kegiatan ekonomi kreatif Komponen inti adalah komponen utama pelaku ekonomi kreatif, yang
meliputi individu, kelompok, dan perusahaan yang menghasilkan produk.
Sementara itu, komponen pendukung adalah komponen yang mendukung terciptanya iklim
ekonomi kreatif, seperti lingkungan geografis manyarakat,lingkungan industri, dan organisasi
budaya. Salah satu model komponen inti dan pendukung yang terkenal dalam ekonomi kreatif
adalah model New England's Creative Economy. Menurut Mt. Auburn yang dikutip oleh
Departemen Perdagangan (2008), terdapat tiga komponen inti dan tiga komponen pendukung
dalam ekonomi kreatif yang terdapat di suatu daerah, yang meliputi : 8
1. the creative cluster (kelompok kreatif), yaitu perusahaan, kelompok, dan individu yang secara
langsung maupun tidak langsung menghasilkan produk kultural.
2. the creative workforce (tenaga kerja kreatif), yaitu orang-orang pemikir dan pelaksanan yang
dilatih secara khusus dalam keterampilan budaya dan artistik yang mendorong kepemimpinan
industri yang tidak hanya terbatas pada budaya dan seni.
3. the creative commurity (komunitas kreatif), yaitu tempat konsentrasi area geografis dari
pekerjaan kreatif, bisnis kreatif, dan organisasi budaya. (Mt. Auburn:5)
Setiap domain dari kegiatan ekonomi saling berhubungan di mana creative cluster merujuk
pada pengertian industri, baik komersial maupun nonkomersial. Creative workforce merujuk pada
pekerjaan, dan creative community merujuk pada wilayah dimana creative cluster berada. 9
8
Mt. Auburn: Departemen Perdagangan (2008)
9
R.A. Purnomo. 2013. Ekonomi Kreatif Pilar Pembangunan Indonesia. [Link]
10
C. Aktor Penggerak Ekonomi Kreatif
Cepat atau lambatnya perkembangan ekonomi kreatif sangat bergantung pada peran aktor.
Aktor utama penggerak ekonomi kreatif terdiri atas:
1. cendekiawan (intellectuals),
2. bisnis (business), dan
3. pemerintah (government)
Ketiga aktor tersebut disebut sistem t-iple helix. Teori ini awalnya dipopulerkan oleh Henry
Etzkowitz dan Loet Leydesdorf (2000:29) dalam bukunya The Dinamics of Innovation From
National Systems and "Mode 2" to a Triple Helix of University-Industry-Government Relations,
dan dikutip juga oleh Departemen Perdagangan (2008: 57), bahwa triple helix sebagai metode
pembangunan kebijakan berbasis inovasi. Teori ini mengungkapkan yaitu akademisi, bisnis, dan
pemerintah tentang pentingnya penciptian sinergitga kutıb,yaitu akademisi, bisnis, dan
pemerintah.
Di Indonesia dikenal dengan konsep ABG (Akademisi, Bisnis, dan Government) atau IBG
(Intellectuals, Business, and Government), dengan tujuan pembangunan ekononmi berkelanjutan
berbasis pengetahuan. Sinergi dari ketiga kutub ini diharapkan terjadi sirkulasi pengetahuan yang
berujung pada inovasi, yaitu inovasi yang memiliki potensi ekonomi atau knowledge capital
(modal pengetahuan).10
Di ruang ini, individu dalam berbagai disiplin ilmu berpartisipasi dalam pertukaran informasi, ide-
ide, dan gagasan-gagasan, wacana-wacana, dan konsepsi-konsepsi baru.
2) Ruang konsensus
3) Ruang inovasi
10
Rochmat Aldy Purnomo, S.E., [Link]. EKONOMI KREATIF:Pilar Pembangunan Indonesia; Aktor dan Peranannya dalam
Ekonomi Kreatif di Indonesia. Hlm 53
11
Disini inovasi tercipta menjadi modal pengetahuan (knowledge capital)berupa munculnya realisasi
bisnis, realisasi produk baru, dan partisipasi dari kelembagaan keuangan. Dalam ruang tersebut,
akan terjadi interaksi dan komunikasi yang dinamis antara Intellectual, Business, dan Government
(IBG) sebagai berikut.11
a. Cendekiawan (intellectuals)
Intelektual atau cendekiawan berhubungan dengan penciptaan hal baru yang memiliki daya
tawar kepada pasar serta pembentukan insan kreatif.
Cendekiawan adalah orang-orang yang perhatian utamanya mencari kepuasan dalam mengolah
seni, ilmu pengetahuan atas renungan metafisika dan hendak mencari tujuan praktis. Mereka
adalah para ilmuwan, filsuf, seniman, ahli metafisika yang menemukan kepuasan dalam penerapan
ilmu-bukan dalam penerapan hasil-hasilnya. (Departemen Perdagangan RI, 2008: 54).
Dalam ekonomi kreatif, yang terkait dalam industri, meliputi cendekiawan, budayawan,
seniman, punakawan, begawan, para pendidik di lembaga pendidikan, para pelopor, kelompok
studi, peneliti, penulis, dan tokoh lainnya yang terkait dengan industri kreatif. Mereka merupakan
salah satu anggota berstrata "inti super kreatif", yaitu pekerjaan dari para cendekiawan. Beberapa
nama cendekiawan terkenal dari dunia barat diantaranya adalah Thomas Aquinas, Roger Bacon,
Galileo, Rene Descartes, Pascal, Kepler, Newton, Voltaire, dan Motesque. Sementara itu, beberapa
nama cendekiawan dari Indonesia di antaranya, Nurcholish Madjid, Emha A. Najib, Romo
Mangun, Harry Roesli, Rendra, Iwan Fals, dan para begawan ekonomi, seperti Sumitro
Djojohadikusumo, Emil Salim, dan [Link].
b. Pembisnis (business)
Tugas pembisnis adalah berinterelasi dalam rangka perubahan ekonomi serta transformasi
kreativitas menjadi nilai ekonomi. Aktor bisnis merupakan pelaku usaha, investor, dan pencipta
teknologi-teknologi baru, serta merupakan konsumen industri kreatif.
c. Pemerintah (government)
11
Marie Elka Pangestu. 2014. Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Menuju 2025. Jakarta: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif RI.
12
Tugas pemerintah adalah mengatur mekanisme program, seperti pemberian insentif,
pengendali iklim usaha, dan pemberi arahan kreatif untuk mendukung pengembangan industri
kreatif. Peran utama pemerintah dalanı pengembangan industri kreatif, yaitu sebagai berikut.
1. Cendekiawan (intellectuals)
Cendekiawan bertugas melakukan riset dan melakukan pengembangan, mengajarkan, serta
menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peran utama cendekiawan adalah sebegai
agen yang mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi, serta
sebagai agen yang membentuk nilai- nilai yang konstruktif bagi pengembangan industri
kreatif. Kontribusi akademis dari cendekiawan diwujudkan dalam bentuk peran Tri Darma
Perguruan Tinggi, yang meliputi:
1) pendidikan dan pengajaran
2) penelitian dalam rangka pengembangan ilmu, teknologi, dan seni,
3) pengabdian pada masyarakat dengan cara menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan
teknologi hasil-hasil rise. tersebut kepada masyarakat.
2. Pembisnis (business)
Peran pembisnis dalam pengembangan industri kreatif meliputi hal-hal berikut.
1) Pencipta, yaitu sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dari kreator
produk dan jasa kreatif, pasar-pasar baru yang dapat menyerap produk dan jasa yang
dihasilkan, serta pencipta lapangan pekerjaan bagi individu-individu
kreatif ataupun individu pendukung lainnya.
2) Pembentuk komunitas dan entrepreneur kreatif, yaitu sebagai "motor" yang
membentuk ruang publik tempat terjadinya tukar pemikiran (sharing) mentoring yang
dapat mengasah kreativitas dalam melakukan industri kreatif, pelatihan bisnis (business
coaching) atau pelatihan manajemen pengelolaan usaha di industri kreatif.
13
3. Pemerintah (government)
Peran utama pemerintah dalanı pengembangan industri kreatif, yaitu sebagai berikut.
1) Katalisator
Peran pemerintah adalah sebagai fasilitator, dan advokasi, yang memberi rangsangan,
tantangan, dorongan agar ide-ide bisnis bergerak ke tingkat kompetensi yang lebih tinggi.
Dukungan itu bisa berupa finansial, insentif, proteksi, dan komitmen pemerintah untuk
menggunakan kemauan politiknya secara proporsional, dan memberikan pelayanan
administrasi publik dengan baik.
2) Regulator
Pemerintahlah yang menghasilkan kebijakan-kebijakan untuk menciptakan iklim usaha yang
kondusif yang berkaitan dengan orang, industri,intermediasi, sumber daya, dan teknologi.
3) Konsumen, investor, dan entrepreneur
Pemerintah sebagai investor harus dapat memberdayakan aset negara untuk lebih produktif
dalam lingkup industri kreatif. Sebagai konsumen peinerintah harus mengambil kebijakan
untuk penggunaan produk-produk industri kreatif. Sebagai entrepreneur, pemerintah berperan
serta secara tidak langung dan memiliki otoritas dalam pengelolaan Badan Usaha Milik
Pemerintah (BUMN)
4) Urban planner (perencana perkotaan)
Pemerintah harus merencanakan kota-kota kreatif. Kreativitas akan tumbuh di kota-kota
yang memiliki iklim kreatif. Beberapa contoh kota kreatif di dunia misalnya, Silicon Valley di
San Jose Amerika, Mumbai dan Bangalore di India, dan Shanghai di Repubik Rakyat Cina.
Kota-kota kreatif sangat penting terutama untuk menarik minat investor.
Peran utama para aktor dalam triple helix adalah bagainana menciptakan masyarakat yang
kreatif, riset dan pengembangan yang menciptakan inovasi, desain, produktivitas, dan kinerja
bisnis. Peran akademisi, pembisnis, dan pemerintah harus bergerak sinergis dan kooperatif,
tidak bergerak dan berpikir untuk kepentingan masing-masing secara parsial dan sendiri-
14
sendiri. Pemerintah harus berperan mendorong sektor-sektor kreatif dan mendorong orang-
orang pembisnis lokal, seperti halnya para pemimpin di kota-kota di Cina.
Akademisi berkontribusi dalam pemikiran dan gagasan-gagasan kreatif, sesuai dengan
tugasnya, yaitu mendidik, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menyebarluaskan ilmu
pengetahuan kepada masyarakat-pembisnis. Sementara, pembisnis menyerap dan menerapkan
penemuan-penemuan, ide-ide, dan pemikiran-pemikiran yang berasal dari para akademisi.
Sinergi ketiga peran tersebut tentu saja sangat bergantung pada kemauan politik pemerintah
dan kemampuan manajemen dalam merancang desain program ekonomi kreatif,
mengorganisir, mengoordinasikan, memotivasi masing masing tugas dari triple helix. 12
Tugas masing-masing pemegang kepentingan ekonomi kreatif dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Pemerintah
12
Marie Elka Pangestu. 2014. Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Menuju 2025. Jakarta: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif RI.
15
2. Perusahaan
3. Masyarakat
Selain peran aktor, dalam ekonomi kreatif perlu adanya faktor pendorong yang dapat memperluas
ekonomi kreatif. Menurut UNDP dan UNCTAD dalam creative economy report (2008:22:23) ada
tiga faktor pendorong ekonomi kreatif, yang meliputi:
3. Turis, semakin banyak turis maka semakin tinggi permintaan terhadao produk maka semakin
cepat perluasan ekonomi kreatif.
Kinerja bisnis sangat bergantung pada tingkat produktivitas. Produktivitas bisnis adalah
kemampuan bisnis untuk menghasilkan barang dan jasa yang memuaskan pelanggan yang
dicirikan oleh selalu mengingat, dan terus loyal berlangganan. Kepuasan pelanggan itu sendiri
terjadi apabila: 13
2. Sesuai standar
13
Suryana. 2013. Ekonomi Kreatif. Jakarta : Salemba Empat
16
3. Bernilai atau memiliki manfaat Untuk mengembangkan produktivitas bisnis, kelas kreatuf
berperan melakuka riset dan pengembangan. pentingnya kreativitas dalam kinerja bisnis, Tether
(2005) yang dikutip oleh Departemen Pedagangan (2008:58), mengemukakan hubungan antara
kreativitas dan desain ke dalam kinerja bisnis sebagai berikut:
Pada gambar 3.8 terdapat empat domain dalam kinerja bisnsi yang perlu diperhatikan yaitu:
2. Inovasi, bergantung pada berapa banyak desain dikembangkan dan riset-riset dilakukan oleh
kelas kreatif.
3. Produktivitas bisnsi, sangat bergantung pada seberapa banyak inovasi dilakukan dan desain
dikembangkan.
4. Kinerja bisnis, sangat bergatung pada banyak faktor seperti iklim kreatif, produktivitas, dan
ragam desain yang dikembangkan secara terus-menerus.
5. Iklim bisnis, ini yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam menciptakan kinerja bisnis.
17
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Modal Dasar Ekonomi Kreatif Perkembangan ekonomi kreatif sangat bergantung pada
berbagai faktor dan komponen,seperti faktor modal, komponen inti, komponen pendukung,
aktor penggerak, dan faktor pendukung.
Ekonomi kreatif adalah suatu konsep untuk merealisasikan pembangunan ekonomi yang
berkelanjutan berbasis kreativitas. Pemanfaatan sumber daya yang bukan hanya terbarukan,
bahkan tidak terbatas, yaitu ide, gagasan, bakat atau talenta dan kreativitas. Nilai ekonomi dari
suatu produk atau jasa di era kreatif tidak lagi ditentukan oleh bahan baku atau sistem produksi
seperti pada era industri, tetapi lebih kepada pemanfaatan kreativitas dan penciptaan inovasi
melalui perkembangan teknologi yang semakin maju. Industri tidak dapat lagi bersaing di pasar
global dengan hanya mengandalkan harga atau kualitas produk saja, tetapi harus bersaing
berbasiskan inovasi, kreativitas dan imajinasi
Sementara itu, komponen pendukung adalah komponen yang mendukung terciptanya iklim
ekonomi kreatif, seperti lingkungan geografis manyarakat,lingkungan industri, dan organisasi
budaya.
18
B. Saran
Kami sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, baik dari
susunan, tulisan, maupun bahasa yang kami sajikan. Sehingga setelah membaca makalah ini,
pembaca disarankan untuk membaca sumber lain yang relefan. Semoga makalah ini bisa
bermanfaat bagi kita semua untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai modal
dasar dan aktor penggerak ekonomi kreatif.
19
DAFTAR PUSTAKA
Rochmat Aldy Purnomo, S.E., [Link]. Ekonomi Kreatif : Pilar Pembangunan Indonesia, Cet. 1 –
Surakarta: 2016
Marie Elka Pangestu. 2014. Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Menuju 2025. Jakarta:
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.
20
PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF BERBASIS INDUSTRI RUMAH
TANGGA DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT
(Studi Pada Kelompok Usaha Rumah Tangga Binaan Yayasan
EcoNatural Society di Kabupaten Kepulauan Selayar)
Nur Fadhilah S
PENDAHULUAN
Ekonomi kreatif merupakan kreativitas serta Sumber Daya
salah satu konsep ekonomi baru yang Manusia (SDM) sebagai faktor
mengintensifkan informasi dan produksi yang paling utama. Produk
yang dihasilkan dari ekonomi kreatif Subsektor industri kreatif
adalah produk yang memiliki ciri merujuk kepada Departemen
khas, unik, serta berbeda dari yang Perdagangan Republik Indonesia
lain. Produk yang dihasilkan dari tahun 2010, terdapat 14 subsektor
ekonomi kreatif bisa juga berupa antara lain: periklanan, arsitektur,
sebuah pengembangan dari produk pasar dan barang seni, kerajinan,
yang sudah pernah ada sebelumnya. desain, fashion, film, permainan
Kreativitas di dalam interaktif, musik, seni pertunjukan,
Ekonomi kreatif merupakan sesuatu penerbitan dan percetakan, layanan
yang sangat berharga. Ekonomi komputer, televisi dan radio, riset dan
kreatif dapat digunakan untuk pengembangan.
mempertahankan usaha yang dimiliki Home Industry atau Industri
dengan cara menciptakan inovasi dan Rumah Tangga dalam suatu
kreasi atas produk yang dipasarkan. perekonomian merupakan salah satu
Setidaknya produk yang dihasilkan kunci yang memiliki peranan selain
memilki ciri khas yang dapat diingat mampu dalam meningkatkan
oleh konsumen ketika berkunjung ke perekonomian suatu negara, Industri
suatu daerah atau kota tertentu. kecil juga mampu menyerap Sumber
Ekonomi kreatif merupakan Daya Manusia (SDM) yang lebih
era perekonomian yang telah besar. Kegiatan usaha kecil Industri
memasuki gelombang ekonomi Rumah tangga secara tidak langsung
keempat setelah gelombang ekonomi membuka lapangan pekerjaan untuk
pertama yaitu gelombang ekonomi sanak saudara atau tetangga para
pertanian, kedua gelombang ekonomi pelaku industri rumah tangga.
industri, dan ketiga gelombang Kabupaten Kepulauan
ekonomi informasi. Gelombang Selayar merupakan salah satu
Ekonomi kreatif diprediksi akan Kabupaten yang terletak di Provinsi
membantu pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai
Indonesia di mana kebanyakan pelaku sebuah kabupaten yang terpisah dari
dalam Ekonomi kreatif adalah pelaku daratan Provinsi Sulawesi Selatan,
usaha kecil dan menengah. Kabupaten Kepulauan Selayar
diberkahi oleh potensi sumber daya peserta kelak diharapkan jadi
alam yang melimpah. Namun, tidak pemprakarsa lahirnya ide penempatan
sedikit pula masyarakat yang menjual lokasi usaha tepat guna di Kabupaten
berbagai potensi lokal tanpa dikelola Kepulauan Selayar.
terlebih dahulu. Hal tersebut dapat Yayasan EcoNatural Selayar
disebabkan oleh kurangnya kreatifitas sendiri telah banyak menghasilkan
yang dimiliki oleh masyarakat. berbagai jenis produk yang dibuat
Perkembangan Ekonomi melalui kreativitas yang berasal dari
kreatif di Kabupaten Kepulauan potensi lokal diantaanya Abon Sehat,
Selayar mulai diperhatikan oleh Mete Aneka Rasa, Keripik Pisang,
pemerintah. Salah satu wujud dalam Kerajinan Nentu, Kerajinan Limbah
mengembangan ekonomi kreatif di Plastik, Virgin Coconut Oil (VCO),
Kabupaten Kepulauan Selayar adalah Silajara Oil (Minyak Kelapa), Kunyit
dengan adanya Yayasan EcoNatural Bubuk Khas Selayar, Cabe Rawit
Society dalam mengembangkan Bubuk, Terasi Udang dan Juku’
pengelolaan potensi berbagai Kalotoro (Ikan Kering).
komoditas yang ada di Kabupaten Yayasan EcoNatural Society
Kepulauan Selayar. merupakan salah satu yayasan yang
Yayasan EcoNatural Society memberikan peluang kepada
merupakan yayasan yang bergerak masyarakat untuk berinovasi bersama.
dalam bidang sosial. Yayasan ini Pengembangan pengetahuan dan
memiliki konsep pengembangan kreativitas melalui pembinaan dengan
wirausaha muda berbasis ekonomi memanfaatkan aset lokal yang
kreatif yang diharapkan mampu dimiliki. Melalui pembinaan yang
menfasilitasi lahirnya ide-ide dilakukan oleh Yayasan EcoNatural
wirausaha di desa dan kecamatan Society, akan memberikan lapangan
yang ada di Kabupaten Kepulauan pekerjaan kepada masyarakat yang
Selayar. Kegiatan melibatkan peserta, sebelumnya tidak memiliki pekerjaan
baik dalam unsur warga masyarakat atau pengangguran.
Selayar maupun peserta dari luar Penelitian ini dilakukan
daerah berusia 15-30 tahun. Para untuk mengetahui pengembangan
ekonomi kreatif berbasis industri pemanfaatan daya kreatif dan
rumah tangga yang dilakukan oleh kreativitas individu”.
Yayasan EcoNatural Society, Industri kreatif adalah
mengetahui dampaknya terhadap industri yang mengandalkan talenta,
masyarakat yang berpartisipasi dalam keterampilan, dan kreativitas yang
pembinaan, serta mengetahui faktor merupakan elemen dasar setiap
pendukung dalam pengembangan individu (Ananda dan Susilowati,
ekonomi kreatif berbasisi industri 2018). Menurut Rakib, Yunus, dan
rumah tangga oleh Yayasan Amin (2018), Elemen utama dari
EcoNatural Society. industri kreatif adalah kreativitas,
TINJAUAN PUSTAKA keahlian, dan bakat yang memiliki
1. Konsep Ekonomi Kreatif potensi untuk meningkatkan
kesejahteraan melalui penawaran
Menurut Hasanah (2015),
ciptaan intelektual.
bahwa “Ekonomi Kreatif adalah
Berdasarkan uraian para ahli
sebuah konsep di era baru yang
di atas maka dapat disimpulkan
mengintensifkan informasi dan
bahwa unsur utama industri kreatif
kreativitas dengan mengandalkan ide
adalah kreativitas, keahlian, dan
dan pengetahuan dari sumber daya
talenta yang berpotesi meningkatkan
manusianya sebagai faktor produksi
kesejahteraan melalui penawaran
yang utama”.
kreasi intelektual.
Studi pemetaan industri
2. Sektor-sektor dalam Ekonomi
kreatif yang dilakukan oleh
Kreatif
Kementerian Perdagangan Republik
Klasifikasi industri kreatif
Indonesia (2007), memberikan
yang ditetapkan oleh setiap Negara
definisi industri kreatif, yaitu
berbeda-beda. Pengklasifikasian
"Industri yang berasal dari
industri kreatif tergantung pada
pemanfaatan kreativitas,
tujuan analitik dan potensi suatu
keterampilan dan bakat individu
negara. Industri kreatif yang
untuk menciptakan kesejahteraan dan
dikembangkan oleh pemerintah
pekerjaan melalui penciptaan dan
Indonesia telah ditetapkan sebanyak
14 (empat belas) subsektor industri Menuju 2025, kelima pilar ekonomi
kreatif. kreatif tersebut dapat dijabarkan
sebagai berikut:
Menurut Akhmad dan Hidayat (2015),
a. Sumber Daya Pendukung
bahwa: Sumber daya yang dimaksud
di sini adalah input yang
dibutuhkan dalam proses
Ada 14 subsektor Ekonomi penciptaan nilai tambah, selain
Kreatif, yaitu: (1) Periklanan; ide atau kreativitas yang dimiliki
(2) Arsitektur; (3) Pasar oleh sumber daya insani yang
Barang Seni; (4) Kerajinan; bisa menjadi landasan dari
(5) Desain; (6) Fesyen industri kreatif karena sumber
(Fashion); (7) Video, Film, daya alam maupun ketersediaan
dan Fotografi; (8) Permainan lahan yang menjadi input
Interaktif (Game); (9) Seni penunjang dalam industri kreatif.
Pertunjukan (Showbiz); (10) Baik sumber daya alam
Penerbitan dan Percetakan; maupun sumber daya budaya
(11) Layanan Komputer dan merupakan input yang
Piranti Lunak (Software); dibutuhkan dalam proses
(12) Televisi dan Radio penciptaan nilai tambah karya
(Broadcasting); (13) Riset kreatif. Banyak sumber daya
dan Pengembangan (R&D); alam khas Indonesia yang dapat
(14) Kuliner. menjadi input karya kreatif,
seperti rotan, kayu, dan serat
3. Pilar Ekonomi Kreatif di nanas. Sumber daya budaya
Indonesia pun juga sangat
Indonesia
beragam.
Seperti halnya sebuah rumah b. Industri
Industri merupakan bagian
yang membutuhkan pilar untuk bisa
dari kegiatan masyarakat yang
tetap berdiri tegak, ekonomi kreatif terkait dengan produksi,
distribusi, pertukaran, serta
memiliki 5 pilar yang perlu terus
konsumsi produk atau jasa.
diperkuat sehingga industri kreatif Pengembangan industri kreatif
tidak hanya meliputi industri
dapat tumbuh dan berkembang
utamanya saja, dalam hal ini 15
mencapai visi dan misi ekonomi industri kreatif yang menjadi
fokus pengembangan ekonomi
kreatif Indonesia 2025.
kreatif, tetapi juga industri
Menurut Kementerian pendukungnya, seperti industri
pengolahan produk kayu bagi
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
industri kerajinan. Selain itu,
(2014), dalam buku Ekonomi lingkungan pengembangan juga
perlu mendapatkan perhatian,
Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia
seperti dunia pendidikan yang
akan menumbuhkembagkan ataupun alat bantu yang sifatnya
orang kreatif, serta media yang berwujud, tetapi teknologi ini
dapat mendorong distribusi termasuk kumpulan teknik atau
pengetahuan dan informasi metode-metode, atau aktivitas
kepada masyarakat. yang membentuk dan mengubah
c. Pembiayaan budaya. Teknologi bias dipakai
Lembaga pembiayaan dalam berkreasi, memproduksi,
berperan dalam penyaluran berkolaborasi, mencari informasi,
pendanaan kepada pelaku distribusi dan sarana
industri yang membutuhkan, baik bersosialisasi. Tantangan yang
dalam bentuk modal maupun tidak kalah pentingnya adalah
pinjaman. Lembaga keuangan penyediaan infrastruktur, tidak
baik konvensional, seperti hanya infrastruktur fisik seperti
perbankan maupun jalan, tetapi juga infrastruktur
nonkonvensional merupakan nonfisik seperti akses internet.
elemen penting dalam
menjembatangi kebutuhan Dari uraian di atas dapat
keuangan orang kreatif dan
disimpulkan bahwa, dalam
pemilik modal.
d. Pemasaran mengembangkan industri kreatif yang
Karya kreatif akan bernilai
ada di dalam suatu negara maka
ekonomi bila menemukan
pasarnya. Untuk menemukan dibutuhkan sumber daya pendukung,
pasar bagi industri kreatif
industri, pembiayaan, pemasaran,
diperlukan riset pasar tentang
selera pasar dan teknik serta teknologi dan informasi sebagai
pemasaran yang efektif sehingga
pilar yang akan mendukung
karya kreatif tersebut dapat
diterima pasar dengan nilai yang pertumbuhan dan perkembangan
tinggi. Peluang pasar karya
industri kreatif tersebut.
kreatif Indonesia terbuka lebar
tidak hanya di dalam negeri tetapi 4. Indikator Keberlangsungan
juga di luar negeri. Merupakan
Ekonomi Kreatif
tantangan bagi pemerintah untuk
membantu orang kreatif Dalam memulai suatu usaha,
memperluas akses pasar baik di
tentu terdapat beberapa faktor yang
dalam maupun di luar negeri.
e. Teknologi dan Infrastruktur akan mempengaruhi keberlangsungan
Teknologi dapat usaha tersebut. Sama halnya dalam
didefinisikan sebagai suatu ekonomi kreatif yang memiliki
entitas baik material dan
nonmaterial, yang merupakan beberapa indikator yang dapat
aplikasi penciptaan dari proses mempengaruhi keberlangsungan
mental atau fisik untuk mencapai
nilai tertentu. Dengan kata lain, usaha.
teknologi bukan hanya mesin
Dalam penelitian yang menengah atau usaha besar
yang memiliki kekayaan
dilakukan oleh Hartomo dan
bersih lebih dari
Cahyadin (2013: 225), bahwa: Rp50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah) sampai
Ada beberapa indikator
dengan paling banyak
keberlangsungan usaha
Rp500.000.000,00 (lima
ekonomi kreatif, yaitu: (1)
ratus juta rupiah) tidak
Produksi, (2) Pasar dan
termasuk tanah dan
Pemasaran, (3) Manajemen
bangunan tempat usaha; atau
dan Keuangan, (4)
mememiliki hasil penjualan
Kebijakan Pemerintah, (5)
tahunan lebih dari
Kondisi Ekonomi, (6)
Rp.300.000.000,00(tiga
Lingkungan, (7) Kemitraan
ratus juta rupiah) sampai
Usaha, (8) Keluarga.
dengan paling banyak
Rp2.500.000.000,00 (dua
5. Industri Rumah Tangga
milyar lima ratus juta rupiah).
Usaha kecil mempunyai
6. Pendapatan Masyarakat
peranan penting dalam pertumbuhan
Pendapatan dapat
ekonomi suatu negara. Zuhri (2013),
didefinisikan sebagai penerimaan
menjelaskan bahwa, “Industri Rumah
yang didapat seseorang dari kegiatan
Tangga merupakan rumah usaha
yang dilakukan, yang mana kegiatan
produk barang atau perusahaan kecil.
yang dimaksud dapat berupa hasil
Dikatakan perusahaan kecil karena
dari penjualan barang atau jasa yang
jenis kegiatan ekonomi ini dipusatkan
diproduksi kepada pelanggan.
di rumah”.
Reksoprayinto (2004),
Pengertian mengenai Usaha
mendefinisikan bahwa, “Pendapatan
Kecil menurut Undang- Undang
(revenue) merupakan total
Nomor 20 tahun 2008, adalah:
penerimaan yang diperoleh pada
Usaha ekonomi produktif
yang berdiri sendiri, yang periode tertentu”.
dilakukan oleh orang
Menurut Rosyidi dalam
perorangan atau badan usaha
yang bukan merupakan anak Tulusan dan Londa (2014), bahwa:
perusahaan atau bukan
Pendapatan masyarakat
cabang perusahaan yang
adalah arus uang yang
dimiliki, dikuasai, atau
mengalir dari pihak dunia
menjadi bagian baik
usaha kepada masyarakat
langsung maupun tidak
dalam bentuk upah dan gaji,
langsung dari usaha
bunga, sewa, dan laba, dan
bahwa pendapatan Menurut Noor (2011), bahwa:
perseorangan (personal
Pemberdayaan masyarakat
income) terdiri atas sewa
dilakukan oleh pemerintah
upah dan gaji, bunga, laba
untuk memfasilitasi
perusahaan bukan perseroan,
masyarakat lokal dalam
dividen, dan pembayaran
merencanakan, memutuskan,
transfer.
dan mengelola sumberdaya
yang dimiliki sehingga pada
Dengan demikian dapat akhirnya masyarakat dapat
memiliki kemampuan dan
disimpulkan bahwa pendapatan
kemandirian secara ekonomi,
masyarakat adalah jumlah ekologi, dan sosial secara
berkelanjutan.
penghasilan yang diterima oleh para
masyarakat untuk jangka waktu Berdasarkan penjelasan di
tertentu sebagai balas jasa atau faktor- atas dapat disimpulkan bahwa
faktor produksi yang telah pemberdayaan masyarakat
disumbangkan. merupakan upaya yang dilakukan
7. Pemberdayaan Masyarakat oleh pemerintah untuk meningkatkan
Konsep utama yang harkat dan martabat masyarakat
terkandung dalam pemberdayaan dengan cara memfasilitasi masyarakat
adalah bagaimana memberikan dalam mengelola sumberdaya yang
kesempatan yang luas bagi ada sehingga masyarakat memiliki
masyarakat untuk menentukan sendiri kemampuan dan terlepas dari
arah kehiupan dalam komunitasnya kemiskinan.
(Rakib dan Syam, 2016). Menurut METODE PENELITIAN
Kartasasmita dalam Andriyani, Metode penelitian yang
Martono, dan Muhamad (2017), digunakan pada penelitian ini adalah
bahwa “Pemberdayaan Masyarakat dekriptif kualitatif. Subjek penelitian
adalah upaya untuk meningkatkan adalah informan atau orang yang
harkat dan martabat lapisan bersedia untuk memberikan informasi
masyarakat yang dalam kondisi yang berkaitan dengan kondisi dari
sekarang tidak mampu melepaskan latar penelitian. Pengumpulan data
diri dari perangkap kemiskinan dan dilakukan melalui observasi,
keterbelakangan”. wawancara, dan dokumentasi
terhadap objek penelitian kemudian tim Yayasan EcoNatural Society
dianalisis menggunakan analisis dalam megonsepkan produk yang
deskriptif. akan dibuat nantinya. Seperti yang
HASIL DAN PEMBAHASAN diungkapkan oleh saudara
1. Pengembangan Ekonomi Muhammad Yusran yang merupakan
Kreatif Berbasis Industri
pendamping Program Kelapa
Rumah Tangga yang dilakukan
oleh Yayasan EcoNatural Society Terpadu (Wawancara pada 17 Juni
di Kabupaten Kepulauan
2019): “Inovasi produk yang akan
Selayar
Untuk melihat dibuat nantinya bersama dengan
pengembangan ekonomi kreatif kelompok masyarakat telah
berbasis industri rumah tangga yang dikonsepkan sebelumnya. Kelompok
dilakukan oleh Yayasan EcoNatural diajak bermusyawara guna
Society dalam menghasilkan produk menyampaikan ide yang telah
kreatif yang berasal dari potensi lokal, dikonsepkan itu”.
dapat dilihat dengan: Informan menjelaskan
a. Desain dan Perencanaan Produk bahwa semua produk yang telah
Kreatif berdasarkan Potensi diproduksi selama ini merupakan
Lokal hasil diskusi bersama dengan tim
Mendesain dan Yayasan EcoNatural Society sebelum
merencanakan produk dilakukan turun langsung kemasyarakat guna
setelah hasil pengkajian secara detail. menyampaikan ide yang telah
Metode yang umum digunakan dalam dirancang sebelumnya.
pengkajian secara detail itu adalah b. Membentuk Kelompok Usaha
dengan melakukan survey terhadap Rumah Tangga
kebutuhan masyarakat serta potensi Industri rumah tangga
yang terdapat di setiap desa yang merupakan suatu kegiatan produksi
dijadikan lokasi kegiatan. yang dipusatkan dirumah. Yayasan
Setelah megetahui EcoNatural Society telah
kebutuhan masyarakat dan potensi menyediakan rumah sebagai tempat
lokal yang dimiliki oleh suatu desa. untuk memproduksi produk kreatif
Maka, selanjutnya menjadi tugas dari oleh masyarakat yang dibina. Hal ini
sesuai dengan konsep industri rumah 2) Simulasi Pembuatan Produk
tangga menurut Zuhri (2013), bahwa, Kreatif
“Industri Rumah Tangga merupakan Simulasi secara sederhana
rumah usaha produk barang atau dapat diartikan sebagai proses
perusahaan kecil. Dikatakan peniruan. Simulasi merupakan bagian
perusahaan kecil karena jenis terakhir dari pembelajaran. Pada
kegiatan ekonomi ini dipusatkan di pembelajaran ini, produk yang telah
rumah”. direncanakan akan diproduksi dan
Beberapa tahapan yang dikemas. Tujuan dilakukan tahap
dilakukan oleh Yayasan EcoNatural simulasi adalah agar kelompok yang
Society dalam membentuk kelompok dibentuk nantinya dapat mengetahui
usaha rumah tangga, adalah: tahapan-tahapan dalam proses
1) Melakukan Pendekatan produksi. Tugas fasilitator adalah
Langkah awal yang perlu membantu individu di dalam
dipahami dalam memberdayakan kelompok menemukan skill-nya.
masyarakat adalah dengan 2. Dampak Pengembangan
Ekonomi Kreatif Berbasis
mengetahui kebutuhan masyarakat
Industri Rumah Tangga
yang diberdayakan. Dengan begitu Terhadap Pendapatan
Masyarakat yang dilakukan
perlu adanya pendekatan yang
oleh Yayasan EcoNatural Society
dilakukan oleh tim Yayasan Dengan adanya
EcoNatural Society baik pendekatan pemberdayaan masyarakat yang
secara formal maupun informal. dilakukan oleh Yayasan EcoNatural
Pendekatan formal berarti mencari Society, selain dapat meningkatkan
informasi tentang kebutuhan keterampilan yang dimiliki, juga
masyarakat melalui pertemuan formal dapat meningkatkan pendapatan
seperti pada rapat pimpinan desa, masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah
pertemuan dengan masyarakat, serta tangga yang tidak memiliki pekerjaan
kegiatan yang diadakan oleh sehingga dapat membantu suami
pemerintah. Sedangkan pendekatan dalam menambah penghasilan.
informal dapat dilakukan dengan cara Menurut Kartasasmita dalam
berbaur dengan obrolan masyarakat. Andriyani, Martono, dan Muhamad
(2017), bahwa “Pemberdayaan dan bakat masyarakat dalam
Masyarakat adalah upaya untuk mengembangkan ekonomi kreatif
meningkatkan harkat dan martabat yaitu dengan terciptanya
lapisan masyarakat yang dalam kesejahteraan masyarakat yang dibina
kondisi sekarang tidak mampu melalui upah yang diberikan oleh
melepaskan diri dari perangkap Yayasan EcoNatural Society. Hal ini
kemiskinan dan keterbelakangan”. sesuai dengan konsep industri kreatif
Secara singkat, untuk menurut Kementrian Perdagangan
mengetahui pendapatan yang diterima Republik Indonesia (2007), bahwa
oleh masyarakat dalam memproduksi industri yang berasal dari
Abon Sehat, Minyak Kelapa, VCO, pemanfaatan kreativitas,
dan Nata, dapat dilihat pada tabel keterampilan dan bakat individu
berikut: untuk menciptakan kesejahteraan dan
Tabel 1. Pendapatan Masyarakat pekerjaan melalui penciptaan dan
Pendapatan pemanfaatan daya kreatif dan
Produk
Sekali Produksi
kreativitas individu.
Abon Sehat Rp 300.000
Minyak Kelapa Rp 50.000 Pendapatan yang diterima
Nata de Silajara Rp 60.000 oleh kelompok usaha rumah tangga
VCO Rp 86.000
Sumber: Kumpulan hasil wawancara binaan Yayasan EcoNatural Society
dengan Informan (2019) dalam sekali produksi masih belum
Kesadaran bahwa kebutuhan signifikan dalam memenuhi
rumah tangga yang semakin banyak kebutuhan rumah tangga selama
serta kurangnya kegiatan yang sebulan. Proses produksi yang tidak
dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga menentu dalam setiap bulan akan
menjadi salah satu faktor dalam berdampak pada pendapatan
meningkatkan minat masyarakat masyarakat, karena pendapatan
untuk ikut serta dalam kelompok yang masyarakat hanya akan meningkat
dibina oleh Yayasan EcoNatural apabila telah melakukan kegiatan
Society. produksi.
Dampak yang diperoleh 3. Faktor-faktor yang Mendukung
dalam Pengembangan Ekonomi
melalui pemanfaatan keterampilan Kreatif berbasis Industri
Rumah Tangga di Yayasan mendapingi kelompok usaha rumah
EcoNatural Society
tangga dalam kegiatan produksi
Berikut adalah faktor-faktor
2. Kekuatan Financial
yang mendukung dalam
Faktor internal kedua yang
pengembangan ekonomi kreatif
menjadi faktor pedukung dalam
berbasis industri rumah tangga di
pengembangan ekonomi kreatif di
Yayasan EcoNatural Society:
Yayasan EcoNatural adalah kekuatan
Faktor Internal
finansial.
1. Tim Work Yayasan EcoNatural
Selain melakukan kegiatan
Society
yang besifat non-profit, Yayasan
Tim kerja dalam Yayasan
EcoNatural juga melakukan kegiatan
EcoNatural Society merupakan salah
yang yang bersifat profit yang dapat
satu faktor penentu yang sangat
membantu kondisi keuangan di dalam
penting bagi keefektifan berjalannya
Yayasan EcoNatural Society agar
suatu kegiatan.
tetap stabil.
Sebuah organisasi dituntut
Kekuatan finansial dalam
untuk mampu meningkatkan kualitas
melakukan kegiatan pengembangan
sumber daya manusia yang ada.
ekonomi kreatif merupakan aspek
Kualitas sumber daya manusia
yang perlu untuk diperhatikan.
banyak ditentukan oleh sejauh mana
Dengan kondisi keuangan dan sumber
sistem yang ada di organisasi atau
daya yang baik maka kegiatan
perusahaan dalam meningkatkan
pengembangan dapat terlaksana.
kualitas tersebut.
Faktor Eksternal
Informan menjelaskan apabila
1. Kemitraan
anggota tim di dalam Yayasan
Dalam mempertahankan suatu
EcoNatural Society telah berhasil
organisasi atau perusahaan, tentunya
melalui pembelajaran yang berkaitan
perlu menjalin kemitraan. Kemitraan
dengan personality mereka dengan
dilakukan oleh pelaku bisnis skala
baik, maka anggota tersebut akan
besar dengan pelaku usaha skala
dipercaya dan diberikan proyek
menengah atau kecil. Kemitraan
pengembangan. Dengan begitu,
dilakukan karena adanya hubungan
anggota tersebut akan bertugas dalam
kerjasama yang saling profit maupun non-profit. Hal ini
menguntungkan dan membutuhkan sesuai dengan konsep kemitraan
oleh pihak yang melakukan kemitraan. menurut Hendro (2011), bahwa salah
Selama didirikan sejak 18 satu untuk mengembangkan bisnis
tahun yang lalu, Yayasan EcoNatural bila sebuah bisnis sudah cukup besar
Society telah melakukan kemitraan dan ingin mengembangkan bisnisnya
dengan beberapa perusahaan besar adalah dengan cara mengembangkan
bahkan pemerintah baik tingkat skala organisasinya.
provinsi maupun desa. Badan Amil 2. Perubahan Pola Pikir
Zakat Nasional (BAZNAS) Masyarakat
merupakan salah satu badan yang Mindset berpikir dalam
membentuk kemitraan dengan penyelesaian masalah akan berubah
Yayasan EcoNatural Society. jika menggunakan pola berpikir
Kemitraan yang dilakukan antara mengambil pada sisi-sisi yang lainnya
Yayasan EcoNatural Society dengan dari sebuah masalah yang dihadapi.
BAZNAS dapat membantu Yayasan Seperti yang diketahui bahwa, dari
EcoNatural dalam kegiatan sebuah masalah dapat juga diartikan
pengembangan ekonomi kreatif. sebagai sebuah proses dalam
Dalam mejalin kemitraan, menjalani hidup. Tidak ada proses
selain saling memberikan keuntungan yang instan. Maka, dari situ manusia
dan manfaat antara pihak yang satu perlu untuk berpikir.
dengan yang lain, bermitra juga harus Salah satu faktor yang dapat
saling memercayai dan amanah mendukung program pengembangan
dengan komitmen yang telah ekonomi kreatif yang dilakukan oleh
disepakati. Yayasan EcoNatural Society adalah
Kemitraan yang dilakukan dengan mengubah pola pikir
oleh Yayasan EcoNatural Society masyarakat yang akan dibina.
berupa kerjasama dengan perusahaan Informan menjelaskan dengan
maupun organisasi pemerintah, dalam mengubah pola pikir masyarakat
mengerjakan suatu program kegiatan bahwa tidak ada proses yang
pemberdayaan baik yang bersifat mengecewakan serta menjalin
komitmen dengan masyarakat akan ekonomi ke bawah yang
mendorong masyarakat agar lebih sebelumnya tidak memiliki
giat untuk bekerja. Dapat pekerjaan namun, ingin
menghasilkan produk yang luar biasa mempunyai penghasilan.
yang bahkan belum pernah dipikirkan 3. Pengembangan ekonomi kreatif
sebelumnya oleh masyarakat menjadi berbasis industri rumah tangga di
salah satu bukti bahwa dengan Yayasan EcoNatural Society dapat
menghargai proses maka semua yang terlaksana dengan baik karena
diinginkan akan tercapai bahkan beberapa faktor yang
untuk hal yang belum pernah mempengaruhi, baik faktor
dibayangkan sekalipun. internal maupun faktor eksternal.
KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA
1. Kegiatan pengembangan oleh tim Akhmad, Sabarudin; Hidayat,
Rachmad. 2015. Pemetaan
Yayasan EcoNatural yaitu dengan
Potensi Industri Kreatif
mendesain dan merencanakan Unggulan Madura. Jurnal
Sains, Teknologi dan Industri.
produk kreatif yang akan
12 (2): 155-165.
diproduksi berdasarkan potensi Ananda, AD & Susilowati D. 2018.
Pengembngan Usaha Mikro
lokal masing-masing desa.
Kecil dan Menengah (UMKM)
Selanjutnya, pengembangan Berbasis Industri Kreatif di
Kota Malang. Jurnal Ilmu
dilakukan dengan membentuk
Ekonomi. X (X): 120-142.
kelompok usaha rumah tangga Andriyani, AAI; Matono, Edhi;
Muhamad. 2017.
yang dibina untuk meningkatkan
Pemberdayaan Masyarakat
skill yang dimiliki oleh masyarakat melalui Pengembangan Desa
Wisata dan Implikasinya
dalam menghasilkan produk
Terhadap Ketahanan Sosial
kreatif. Budaya Wilayah (Studi di
Desa Wisata Penglipuran
2. Produk yang dihasilkan melalui
Bali). Jurnal Ketahanan
pemanfaatan keterampilan dan Nasional. 23 (1): 1-16.
Hartomo, Deni Dwi; Cahyadin, Malik.
bakat masyarakat berdampak pada
2013. Pemeringkatan Faktor
peningkatan pendapatan Keberlangsungan Usaha
Industri Kreatif di Kota
masyarakat khususnya pada ibu-
Surakarta. Jurnal Ekonomi
ibu rumah tangga dari golongan
dan Kebijakan Publik. 4 (2): Nomor 20 tahun 2008 tentang
225. Usaha Mikro, Kecil, dan
Hasanah, L.L.N.E. 2015. Menengah. Sekretariat Negara:
Pengembangan Wirausaha Jakarta.
Muda Ekonomi Kreatif Tulusan, FMG & Londa, VY. 2014.
Berbasis Budaya di Daerah Peningkatan Pendapatan
Istimewa Yogyakarta. Jurnal Masyarakat Melalui
Studi Pemuda. 4 (2): 268-280. Program Pembardayaan di
Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Desa Lolah II Kecamatan
Kreatif RI. 2014. Ekonomi Tombariri Kabupaten
Kreatif: Kekuatan Baru Minahasa. Jurnal LPPM
Indonesia Menuju 2025. Bidang EkoSosBudKum. 1 (1):
Kementrian Perdagangan Republik 92-105.
Indonesia. 2007. Studi Zuhri, Saifuddin. 2013. Analisis
Industri Kreatif Indonesia. Pengembangan Usaha Kecil
Jakarta: Kementrian Home Industri Sangkar Ayam
Perdagangan RI. Dalam Rangka Pengentasan
Noor, Munawar. 2011. Kemiskinan. Jurnal
Pemberdayaan Masyarakat. Manajemen dan Akuntansi. 2
Jurnal Ilmiah CIVIS. 1 (2): (3): 46-65.
87-99.
Rakib, Muhammad; Syam, Agus.
2016. “Pemberdayaan
Masyarakat Melalui Program
Life Skills Berbasis Potensi
Lokal untuk Meningkatkan
Produktivitas Keluarga di
Desa Lero Kecamatan Suppa
Kabupaten Pirang”. Jurnal
Administrasi Publik. 6 (1): 96-
108.
Rakib, Muhammad; Yunus, Muchtar;
Amin, Nur. 2018. Creative
Industry Development Based
on Entrepreneurship Training
in Developing Local Economy
in Parepare City. Oikos:
Jurnal Kajian Pendidikan
Ekonomi dan Ilmu Ekonomi.
2 (1): 32-45.
Reksoprayitno. 2004. Sistem
Ekonomi dan Demokrasi
Ekonomi. Bina Grafika:
Jakarta.
Rupublik Indonesia. 2008. Undang-
undang Republik Indonesia