Bahasa dan Gender dalam Film Athirah
Bahasa dan Gender dalam Film Athirah
[Link]
BAHASA DAN GENDER DALAM FILM: ATHIRAH
(Sebuah Kajian Sosiolinguistik)
Rahma Salbiah
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta
20201012003@[Link]
Sumardi
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh
sumardi@[Link]
Abstrak
Film Athirah adalah film yang berfokus pada peran Athirah sebagai tokoh sentral dengan latar belakang kebudayaan
suku bangsa Bugis-Makassar. Penggunaan bahasa dalam film juga menjadi titik fokus dalam kajian ini. Tujuan
penelitian ini adalah mendeskripsikan bahasa dan gender yang dituturkan oleh tokoh yang berperan dalam film ini.
Menggambarkan faktor-faktor sosial dan budaya yang mempengaruhi penggunaan ciri kebahasaan mereka dan
menggambarkan representasi gender yang tercermin dalam film. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif
deskriptif. Data sumber penelitian ini adalah film Athirah yang dilihat secara random. Pengumpulan data dilakukan
dengan teknik observasi dan catat yang dikumpulkan. Hasil penelitian 1) menganalisis karakteristik kebahasaan tokoh
utama laki-laki dan perempuan pada film Athirah(2) mendeskripsikan faktor-faktor sosial yang memengaruhi
penggunaan karakteristik kebahasaan tersebut; dan (3) mendeskripsikan representasi gender yang tercermin dalam
film tersebut tentang karakteristik kebahasaan.
Abstract
Athirah's film is a film that focuses on Athirah's role as a central character with a cultural background of the Bugis-
Makassar ethnic group. The use of language in films is also a focal point in this study. The purpose of this study is to
describe the language and gender spoken by the characters who play a role in this film. Describe the social and
cultural factors that influence the use of their linguistic features and describe the gender representation that is
reflected in the film. This research is a descriptive qualitative research. The data source of this research is the film
Athirah which is viewed randomly. The data was collected by using observation techniques and collected notes. The
results of the study 1) analyze the linguistic characteristics of the main male and female characters in the film Athirah
(2) describe the social factors that influence the use of these linguistic characteristics; and (3) describe the gender
representation that is reflected in the film about linguistic characteristics.
A. PENDAHULUAN
Sebagai salah satu karya seni, film mejadi fenomena dalam kehidupan modern, saat ini
film tidak hanya menjadi sebuah karya yang di proyeksikan, melainkan dapat dikaji secara
mendalam. Menurut Sumarno, film adalah sebuah seni mutakhir dari abad 20 yang dapat
menghibur, mendidik, melibatkan perasaan, merangsang pemikiran, dan dapat memberikan
dorongan terhadap penontonnya. Film merupakan salah satu media yang sangat penting digunakan
untuk menyampaikan pesan dan ideologi ke masyarakat, film mampu merepresentasikan beberapa
kejadian di dunia nyata karena film memiliki realitas yang kuat (Nur Chici Paramita, 2018:1).
Film Athirah yang disutradarai oleh Riri Riza mengangkat latar belakang kebudayaan
Sulawesi Selatan yang kental sekali akan nuansa suku Bugis-Makassar. Sulawesi Selatan adalah
provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Sulawesi, beribukotakan Makassar yang juga
mempunyai identitas serta keunikan daerahya tersendiri. Marvin Harris mendefinisikan
kebudayaan sebagai sebuah konsep yang ditampakkan dalam berbagai pola tingkah laku yang
dikaitkan dengan kelompok masyarakat tertentu, seperti adat atau cara hidup masyarakat. Film ini
diadaptasi dari novel biografi Hajjah Athirah Kalla, dikenal sebagai ibunda dari Wakil Presiden
Indonesia Jusuf Kalla karya Alberthiene Endah, seorang penulis dan jurnalis Indonesia yang
terkenal akan karya-karya biografinya tentang tokoh-tokoh hiburan tanah air. Mengisahkan
tentang perjalanan hidup seorang wanita bernama Athirah, pada mulanya keluarga Athirah terlihat
harmonis membangun usaha bersama dari titik terbawah hingga besar dan sukses. Permasalahan
mulai mengerogoti keluarga ini ketika suaminya, Puang Aji tertarik oleh wanita lain. Film ini juga
memberikan gambaran kepada penonton tentang keindahan hati seorang perempuan serta peran
besarnya di tengah keluarga (Nur Chici Paramita, 2018:3).
Dalam film ini menceritakan seorang perempuan yang sangat sabar menghadapi sang suami yang
berpoligami. Dia sangat menghargai pilihan suaminya, banyak tetangga yang membicarakan
suaminya diluar, tapi Athirah tetap bertahan dengan rumah tangganya. Peran perempuan disini
menggambarkan mereka memiliki hati yang lembut dan penyabar. Setiap tuturan Athirah selalu
membuat anak-anaknya lebih kuat. Dia tidak memperlihatkan kesedihannya di depan anaknya.
Dalam hal lain, kontruksi dalam relasi gender tersusun dari agama, budaya, ekonomi,
politik, atau lingkaran fisik suatu tempat yang saling berkaitan. Sehingga jika tidak ada semua
unsur pembentuk relasi gender akan terjadi ketidakseimbangan pola relasi gender. Gender adalah
persoalan budaya yang mengatur konstruksi sosial lelaki, perempuan, dan hubungan-hubungan
sosial diantara mereka. Bahkan dari itu, persamaan gender telah menjadi salah satu isu yang
dipertambahkan dalam pembangunan berkelanjutan di mana kesetaraan gender merupakan
persyarat utama untuk mewujudkan dunia yang ada dan berkelanjutan (Nurul Mutia Diansyah,
2016: 354-355).
Pembicaraan tentang bahasa dan gender belakangan ini menjadi sesuatu yang menarik.
Dalam berbahasa, disadari atau tidak, antara laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan.
Perbedaan itu tentunya terjadi sebagai akibat dari faktor sosial dan budaya yang melingkupinya.
Dalam budaya yang patriakal, misalnya, laki-laki memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada
perempuan. Dalam kedudukan itu, tampak dominasi laki-laki atas perempuan. Laki-laki boleh
berkata secara terbuka, sedangkan perempuan tidak. Laki-laki boleh memotong pembicaraan,
menggunakan kata-kata yang cenderung kasar, sedangkan perempuan tidak. Perempuan dalam
konteks ini harus menunjukkan kesopanan dan kelamah lembutan (Wahyudi, 2016: 18).
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik mengangkat topik tentang bahasa dan gender
dalam film Athirah karya Riri Riza tersebut. Dengan menganalisis film tersebut, penulis berharap
dapat memahami penggunaan bahasa dan pemahaman tentang gender. Oleh karena itu, topik
penelitian adalah “Bahasa dan gender dalam film Athirah (kajian sosiolinguitik)”.
B. LANDASAN TEORI
Sosiolingusitik
Sosiolinguistik merupakan cabang dari ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa
Pada tahun 1975, Robin Lakoff seorang sosiolinguis terkemuka menulis buku Language
and Woman’s Place yang kemudian menjadi buku pelarap (best seller) di kalangan ilmuwan
bahasa. Di dalam buku tersebut, Lakoff telah membuat kajian terhadap isu bahasa dan gender.
Buku karya Lakoff telah menjadi inspirasi bagi para sosiolinguis untuk memulai meneliti
kebenaran pendapat tentang perbedaan bahasa perempuan dan laki-laki. Buku itu pun termasuk
buku yang paling banyak dikutip oleh peneliti lain dalam masalah gender dan bahasa (Ganjal
Harimansyah, 2011:145).
Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa
bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Sebagai gejala sosial bahasa
dan pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor linguistik, bahasa dipengaruhi oleh
faktor sosial dan situasional. Faktor sosial, misalnya, status sosial, tingkat pendidikan, umur,
tingkat ekonomi, jenis kelamin, dsb. Faktor situasional, misalnya, siapa yang berbicara, dengan
bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana, dan mengenai masalah apa. Aspek pembeda kebahasaan
yang tidak selalu ada dalam bahasa, yaitu jenis kelamin. Menurut penelitian memang ada sejumlah
masyarakat tutur pria dengan tutur wanita. Perbedaaan bahasa bukan berarti dua bahasa yang sama
233 | V o l . 2 , N O . 1 ( 2 0 2 2 ) E-ISSN: 2774-7808
D O I : [Link] P-ISSN: 2963-8402
An-Nahdah Al-'Arabiyah; Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
[Link]
sekali berbeda dan terpisah, tetapi bahasa mereka tetap satu, hanya saja dalam pemakaian bahasa
lelaki dan perempuan mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Wanita lebih mempertahankan bahasa
sedangkan laki-laki bersifat inovatisi dan pembaharuan (Hani Atus Sholikhah, 2015: 24).
Tentu saja perbedaan tempat, situasi dan budaya akan membuat perbedaan penggunaan
bahasa sehari-hari baik itu dituturkan oleh seorang perempuan maupun laki-laki. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bahasa yang digunakan laki-laki dan perempuan pada
penuturan tokoh yang dimainkan di Film: Athirah. Penelitian ini menganalisa perbedaan bahasa
yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan.
C. METODE PENELITIAN
Sumber data dalam penelitian ini adalah Film yang berjudul Athirah. Data penelitian
berupa ujaran atau dialog para tokoh dalam film tersebut yang mengungkapkan tindak tutur.
Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif mendefinisikan penelitian dengan suatu yang
bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Penelitian
kualitatif dapat merujuk terhadap penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku,
pergerakan- pergerakan sosial dan lain sebagainya.
Penelitian ini juga bersifat deskriptif yang bermakna bahwa data yang dikumpulkan dengan
menganalisa tanda-tanda berupa kata-kata tertulis dan lisan serta potongan gambar dari orang-
orang dan perilaku yang diamati. Metode deskriptif merupakan prosedur dari adanya problem
solving (pemecahan masalah) yang hendak diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau
objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta dan juga usaha untuk mengemukakan
tanda atau gejala secara lengkap dalam aspek yang akan dijadikan bahan penelitian.
Mengingat bahwa penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, maka data penelitian
ini dalam bentuk kebahasaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode simak dan catat. Metode simak ini diwujudkan dalam teknik untuk memperoleh
data, penulis menggunakan teknik simak bebas.
Teknik pemerolehan data berikutnya adalah teknik catat yang merupakan teknik lanjutan.
Data dikumpulkan melalui ujaran yang diucapkan dalam dialog para tokoh di film tersebut.
Analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini dirapikan dalam bentuk tabel. Hal ini
bertujuan untuk mempermudah dalam memverifikasi kesimpulan yang benar. Oleh sebab itu,
peneliti membuat sajian dalam bentuk tabel dari setiap adegan tokoh laki-laki dan perempuan
sesuai dengan kebahasaan yang dituturkan dalam film tersebut.
D. PEMBAHASAN
1. Bahasa dan Gender
Gender dan bahasa merupakan disiplin ilmu yang relatif masih langka dikaji dalam
linguistik modern. Namun, para ahli antropologi telah meneliti keragaman bahasa laki-laki dan
perempuan ini sejak abad ke-17. Pada penelitian-penelitian tersebut, diungkapkan karakteristik
perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki. Bahkan, Tannen membuat sebuah
spesifikasi yang jelas tentang perbedaan bahwa laki-laki dan perempuan memang secara
fundamental dalam cara mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi (Hani Atus Sholikhah,
2015: 26).
Tidak dapat disangkal, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, isu Gender
merupakan pengaruh gerakan wanita sekitar tahun 1970-an. Gerakan ini memicu berbagai
penelitian mengenai isu-isu wanita, terutama yang berkaitan dengan subordinasi wanita dalam
berbagai aspek: pendidikan, hukum, politik, dan sebagainya. Pada akhirnya, bahasa pun tidak luput
dari lahan analisis para linguis, sosiolog dan budayawan. Studi bahasa dan gender memusatkan
perhatian pada bagaimana pengaruh terhadap pemakaian bahasa. Gender merupakan faktor yang
berpengaruh terhadap variasi bahasa meskipun sama tapi saat ini studi bahasa pada umumnya
membiarkan perbedaan gender dalam pemakaian bahasa (Umi Hijriyah, 4).
Hubungan antara bahasa dan gender, menurut Goddard dan Patterson, merupakan
hubungan antara bahasa dan gagasan tentang laki-laki dan perempuan. Dapat dikatakan bahwa
Adapun secara substansi bahasanya, kaum hawa juga berbeda dengan pria yang
mengandalkan logika. Gray menyatakan bahwa wanita sangat melibatkan perasaan dalam berbagai
hal, bahkan seringkali meluapkan emosional terhadap tekanan yang ada di sekitar. Mereka tak
mampu menahan beban sendirian, butuh teman curhat untuk menceritakan keluhan yang dihadapi.
Meskipun demikian, wanita sangat kompatibel dengan beragam pekerjaan dan sering disebut
multitasking, bisa melakukan beragam pekerjaan padawaktu yang sama. Sementara itu, pria
cenderung mengutamakan ke logika. Secara naluriah, sisi kepriaannya mendukungnya untuk
berbicara terfokus, langsung, jelas, logis, dan berientasi sasaran setelah banyak berpikir dan
menimbang-nimbang. Artinya, secara substansi, pria menggunakan satu titik fokus untuk
menyelesaikan masalah dalam pembicaraannya. Dengan demikian, jelaslah bahwa muatan bahasa
pria dan wanita berbeda (Hani Atus Sholikhah, 2015: 27-28).
Perbedaan gender juga tercermin dalam penggunaan bahasa. beberapa peneliti seperti
Trudgill, Smith dan Hefner dan Mills menyatakan bahwa terdapat perbedaan berbahasa antara laki-
laki dan perempuan. O’barr dan Atkins dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa perilaku tutur
seseorang merupakan cermin status sosial mereka. Kecenderungan perempuan lebih banyak
menuturkan kata-kata tak berdaya dibanding laki-laki, disebabkan kecenderungan perempuan
menduduki posisi sosial yang relatif tak berdaya. Demikian juga pada laki-laki, kecenderungan
yang lebih besar untuk menggunakan varian yang lebih kuat (bahasa kuat) mungkin ada kaitannya
bahwa laki-laki cenderung menduduki posisi-posisi yang relatif kuat dalam masyarakat (Ayu
Candra Hamdah, 2016: 24-25).
Pembicaraan tentang bahasa dan gender belakangan ini menjadi sesuatu yang menarik.
Dalam berbahasa, disadari atau tidak, antara laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan.
Perbedaan itu tentunya terjadi sebagai akibat dari faktor sosial dan budaya yang melingkupinya.
Dalam budaya yang patriakal, misalnya, laki-laki memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada
perempuan. Dalam kedudukan itu, tampak dominasi laki-laki atas perempuan. Laki-laki boleh
berkata secara terbuka, sedangkan perempuan tidak. Laki-laki boleh memotong pembicaraan,
menggunakan kata-kata yang cenderung kasar, sedangkan perempuan tidak. Perempuan dalam
Dari contoh tersebut sangat jelas bahwa perempuan sangat jarang mengucapkan kata-kata
tersebut, sangat kelihatan aneh. Tetapi jika laki-laki memang sudah tepat mengucapkan kata
tersebut. Jelas disini pembicaraan diantara keduanya sangat berbeda jauh, setiap bahasa yang
diucapkan sudah menggambambarkan kebahasaan dari seseorang baik itu laki-laki maupun
perempuan.
Selanjutnya, kita dapat memahami bahasa perempuan dan bahasa laki-laki melalui apa
yang kita temukan dalam bahasa dan gender. Grimm berpendapat, bahwa kedua istilah ini
menyiratkan baik perempuan ataupun laki-laki memiliki kekhasan bahasa. Sebetulnya baik
perempuan ataupun laki-laki tidak sepenuhnya menggunakan kata-kata yang berbeda. Perbedaan
itu hanyalah terletak pada penggunaan “preferensi“ linguistik. Dalam kaitannya dengan bahasa
dan gender yang biasa kita dengar saat ini “bahasa laki-laki“ atau “bahasa perempuan” digunakan
sebagai bentuk generalisasi mengenai perilaku “bahasa laki-laki“ dan “bahasa perempuan” (Hani
Atus Sholikhah, 2015: 27)
Sementara itu (Pan, 2011)menyatakan bahwa terdapat faktor sosial dan faktor budaya yang
memengaruhi penggunaan kebahasaan pada gender yang berbeda. Secara sosial, kebahasaan
wanita dan pria terbentuk karena: (1) adanya status sosial yang melekat pada wanita yang
menyatakan bahwa secara ideologi dan pemikiran, pria lebih jelas dibandingkan wanita; dan (2)
adanya peran sosial yang berbeda antara kedua gender tersebut yang menyatakan bahwa wanita
dipandang sebagai makhluk yang lebih terancam, bergantung pada orang lain, dan lebih emosional
dibandingkan pria, dan mungkin saja faktor-faktor ini muncul karena cara pengasuhan yang
berbeda. Sementara itu faktor budaya yang memengaruhi penggunaan adalah (1) sistem gender
dalam masyarakat yang menyatakan bahwa pria lebih unggul dari pada wanita, pemimpin
keluarga, petarung politik, dll; (2) ideologi gender yang menyebabkan perbedaan pandangan
terhadap kedua gender, khususnya dari segi linguistik (Haira Rizka, 2017: 138).
Dalam kehidupan sosial, setiap manusia baik laki-laki ataupun perempuan tentunya ingin
berkomunikasi dengan baik. Salah satu alat komunikasi yang telah digunakan sejak dahulu adalah
bahasa. Menurut Chaer & Agustina, bahasa merupakan alat yang dipakai untuk menyampaikan
sesuatu yang terlintas di dalam hati. Lebih rinci lagi dikatakan bahwa bahasa adalah suatu alat
yang digunakan untuk beriteraksi yang berupa pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Selain itu,
dalam kajian sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi,
bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi (Said Iskandar Zulkarnain, 2018:
160).
Setiap penutur baik pria maupun wanita memiliki keahliannya dalam berbicara terutama
topik yang dikuasainya. Topik merupakan subjek yang dibahas di dalam percakapan. Para pria
dapat berbicara sangat fasih tentang topik yang kompetitif seperti tentang olah-raga dan politik.
Sementara itu, para wanita yang lebih kooperatif lebih suka membahas topik seputaran kehidupan
keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa para wanita lebih terbuka terhadap perasaannya sedangkan
para pria lebih memilih topik yang dapat menutupi perasaannya. Klein melalui penelitiannya pada
para pekerja di Inggris mengungkapkan bahwa laki-laki dalam lingkungannya lebih banyak
berbicara tentang pekerjaannya, kemudian olah-raga dan tidak pernah membahas tentang istrinya
atau keluarganya. Sementara itu, para perempuan juga membicarakan tentang pekerjaan-pekerjaan
mereka, hanya saja pekerjaan yang dibicarakan tersebut seputaran pekerjaan rumah dan kemudian
tentang keluarganya. Di samping itu, Hidayat mendapatkan bahwa penutur perempuan dan penutur
laki-laki memiliki bahasa yang berbeda karena asuhan, kedudukan dan peran mereka dalam
masyarakat jelas berbeda (Said Iskandar Zulkarnain, 2018: 162).
Laki-laki dan perempuan berbeda secara fundamental dalam cara mereka menggunakan
bahasa untuk berkomunikasi. Versi yang dipakai dalam perbedaan bahasa laki-laki dan perempuan
tersebut diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Bahasa Perempuan
Pada menit 08.47 Athirah: kaulah anak laki-laki yang tertua, kamu juga yang jaga
adik- adikmu jika terjadi sesuatu.
Dari perkataan Athirah menggambarkan perempuan selalu memiliki perhatian khusus yang
diberikannya terhadap anak-anaknya dan memikirkan kehidupannya kelak. Dari teks tersebut
menceritakan tentang seorang anak yang kehilangan kasih sayang seorang ayah karena sudah
memiliki keluarga baru. Sehingga ibunya mengingatkan anaknya kelak sebagai anak laki- laki
tertua agar bisa menyanyangi adik-adiknya kelak serta menjaga mereka
Byrd menyampaikan bahwa sebagian besar wanita menggunakan bahasa yang lebih lambat
dan lembut dibanding laki-laki. Selain itu, pengaruh budaya juga berperan dalam pembentukan
kemampuan berbahasa tersebut. Di samping itu, aspek pekerjaan dan pendidikan juga turut
mempengaruh kemampuan verbalistis ini (Hani Atus Sholikhah, 2015: 26). Dapat kita simpulkan
bahwa kasih saying seorang ibu dengan kelembutan hatinya.
Pada menit 14.08 Athirah: Yusuf, emma tidak bisa begini terus, tidak baik kalo emma
hanya memikirkan bapakmu. Emma harus memanfaatkan waktu luang emma untuk
hal- hal kreatif.
Dalam kutipan diatas memperlihatkan bahwa bahasa yang digunakan oleh Athirah
menunjukkan bahwa perempuan butuh tempat untuk mengadu, menceritakan kehidupan yang
Dalam adegan tersebut menceritakan Athirah sebagai seorang istri tidak mungkin berdiam
diri terus tanpa kegiatan, karena jika tidak ada kegiatan dia akan kepikiran terus dengan nasib
keluarganya yang sekarang tidak utuh lagi. Dia mencoba membicarakan mengenai kegiatan baru
yang ingin dikerjakan kepada anak laki-lakinya, yakni Yusuf.
Adapun secara substansi bahasanya, kaum hawa juga berbeda dengan pria yang
mengandalkan logika. Gray menyatakan bahwa wanita sangat melibatkan perasaan dalam berbagai
hal, bahkan seringkali meluapkan emosional terhadap tekanan yang ada di sekitar. Mereka tak
mampu menahan beban sendirian, butuh teman curhat untuk menceritakan keluhan yang dihadapi.
Meskipun demikian, wanita sangat kompatibel dengan beragam pekerjaan dan sering disebut
multitasking, bisa melakukan beragam pekerjaan pada waktu yang sama (Hani Atus Sholikhah,
2015: 27).
Pada menit 14.45, Tetangga Athirah: Tetangga Athirah: ibu Athirah kita tahu berapa
uang yang dikasih suamita ke istri keduanya.
Dalam kutipan diatas menggambarkan bahwa topik yang sering dibicarakan oleh para
perempuan adalah tentang keluarga. Mereka memiliki berbagai informasi terhadap sekitaran
mereka. Sehingga ketika ada suatu masalah yang sedang heboh, mereka mendapat info tersebut
dari berbagai pihak terdekat, missal tetangga. Seperti yang terekam dalam dialog Athirah dan
tetangganya yang membahas mengenai rumor bahwa suami Athirah memberi uang ke istri kedua.
Dia memberitahu kan kepada Athirah bahwa suaminya yang poligami itu memberi uang kepada
istri keduanya tanpa diketahui Athirah. Sehingga tetangganya memberi tahu ke Athirah, dia
penasaran terhadap jawaban Athirah yang dinilainya kurang perhatian terhadap suaminya di luar,
padahal Athirah sendiri mengetahui hal tersebut akan tetapi dirahasiakan karena tidak mau
Laki-laki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta, sedangkan perempuan lebih
banyak berbicara tentang orang, perasaan, dan hubungan antarmanusia (Hani Atus Shalikhah,
2015:32). Dari dialog peran pemain diatas sudah menggambarkan bahwa perempuan suka
membicarakan mengenai hubungan antar manusia. Mereka cenderung peduli dengan kehidupan
sekitar.
Pada menit 27.36, Mufidah: maaf, saya tidak mau lagi diikuti ke rumah.
Pada kutipan diatas menggambarkan bahwa perempuan memiliki sifat lemah lembut dan
sebagai pengguna kata sopan juga. Sehingga terlihat dalam dialog tersebut bahwa Mufidah
menolak diikuti oleh Yusuf, akan tetapi bahasa yang digunakan itu sangat sopan, menolak dengan
bahasa yang sopan agar tidak menyakiti hati Yusuf.
Pada dialog tersebut memperlihatkan Mufidah tidak ingin Yusuf mengikutinya sampai
rumah, karena keluarga Mufidah selalu memperingatinya agar tidak mendekati Yusuf dikarenakan
ayahnya yang berpoligami yang informasinya sudah tersebar di daerah mereka. Hal itu membuat
Mufidah menjauh dari Yusuf, dia tidak ingin Yusuf mengetahui rumahnya sehingga harus
menolaknya dengan bahasa yang sopan.
Menurut Duranti berpendapat bahwa ekspresi dan strategi linguistik yang melekat sebagai
identitas gender tertentu memiliki hubungan yang erat dengan hubungan sosial. Hal ini hanya
karena bahasa itu banyak digunakan oleh wanita. Begitu pula dengan penggunaan kata- kata sopan
yang langsung diasosiasikan dengan wanita dan kata-kata kasar dengan pria (Haira Rizka, 2017:
168).
Pada menit 28.58 , Athirah: Yusuf, bawalah cewek yang kau suka ke rumah, biar nanti
emma nilai baik atau tidaknya buat kamu nak. Kamu harus berjuang nak buat
perempuan yang kau cintai ketika sudah kau dapatkan, jaga dia sepanjang hayatmu.
Kisah keluarganya yang sudah tak seharmonis cukup berakhir di Athirah, ibunya tidak
ingin Yusuf memberikan perilaku tidak baik terhadap perempuan. selalu jaga orang yang dicintai
sepanjang hidupnya.
Secara rinci Pan menjabarkan ciri kebahasaan wanita antara lain: (1) cenderung
menggunakan pelafalan kata yang lebih benar dan standar dari pada pria, (2) biasanya berbicara
dengan nada yang lebih tinggi dari pada pria, (3) intonasi berbicara terdengar lebih emosional,
lembut, dan penuh kasih sayang (Haira Rizka, 2017: 137).
b. Bahasa Laki-Laki
Pada menit 13.49, Kalla: Yusuf, kamu harus banyak belajar tentang niaga karena
bukan hanya membantu bapak, tetapi kamu harus juga masuk kedalamnya.
Dalam kutipan tersebut menggambarkan bahwa laki-laki lebih sering menggunakan bahasa
mengenai tentang pekerjaan. Mereka lebih sering membahas mengenai hal-hal yang berhubungan
dengan keahlian, tenaga kerja dan perkerjaan untuk bisa memenuhi kebutuhan untuk kedepannya.
Biasanya mereka menggunakan bahasa lebih singkat dan langsung ke topik pembahasan.
Kalla ayah dari Yusuf, pada saat mereka sedang makan malam Kalla membicarakan
mengenai pekerjaan kepada Yusuf, karena Yusuf tidak lama lagi akan menyelesaikan sekolahnya.
Kalla ingin Yusuf juga ikut berpartisipasi dalam pekerjaannya.
Gray mengatakan bahwa pria di mata perempuan pada saat berbicara, mereka lebih
terkesan linear, sederhana, tidak komprehensif, tidak memperlihatkan emosi, biasanya dalam
Pada meni 22.46, Yusuf: Hey, itu dia, kamu lihat perempuan yang disana, yang duduk
dengan temannya, cantikkan?
Pada kutipan itu menggambarkan bahwa laki-laki terkesan sebagai makhluk visual, karena
mereka melihat sesuatu itu berawal dari mata. Dalam dialog tersebut menggambarkan bahwa
Yusuf melihat seseorang yang dia cintai pada pandangan pertama karena senyuman si Athirah
yang begitu mempesona. Dia melihatnya dengan penglihatannya sendiri, kemudian dia mengajak
kawannya untuk melihat perempuan tersebut.
Perempuan cenderung membahas tentang membuat hubungan dengan orang lain. Laki-
laki lebih banyak berbicara tentang data dan fakta (Hani Atus Sholikhah, 2015: 32). Seperti yang
tergambar dalam dialog diatas bahwa laki-laki yaitu Yusuf sedang membicarakan mengenai
kecantikan Mufidah dan itu merupakan suatu fakta.
Pada menit 28.31, Yusuf: saya tidak perlu bantuan kakak, saya bisa sendiri memikat
hatinya perempuan
Pada kutipan tersebut menggambarkan bahwa laki-laki adalah makhluk mandiri yang bisa
bekerja sendiri. Mereka dengan keberaniannya bisa mengatasi sendiri masalah yang mereka
hadapi. Dalam dialog tersebut menggambarkan bahwa Yusuf sendang berbicara dengan kakaknya
membicarakan tentang yang dialami oleh Yusuf, kakaknya berniat membantunya akan tetapi yusuf
menolak karena dia bisa menyelesaikan sendiri.
Pada menit 32.59, Yusuf: Mufidah, apakah aku boleh bertanya, apakah kamu sudah
punya kekasih?
Pada menit 34.37,Yusuf: Mufidah, aku ingin membicarakan sesuatu, kan saya sudah
mau lulus dari sekolah ini, aku hanya ingin kamu tahu kalau aku mencintaimu.
E. KESIMPULAN
Bahasa dan gender adalah suatu hal yang sangat sering dibicarakan baik itu dalam
kehidupan maupun dalam suatu penelitian. Dari hal tersebut kita mengetahui bahasa dan gender
sangat terpengaruh oleh faktor sosial seseorang. Berbeda gender maka berbeda pula bahasa yang
dituturkan. Kedua saling berhubungan. Setiap bahasa yang dituturkan memiliki karakteristik dan
kekhususan. Sehingga kita bisa bedakan yang mana penutur laki-laki dan yang mana penutur
perempuan. semua juga dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial dari seseorang penutur.
Ayu Candra Hamdah, Analisis Fitur Bahasa Pada Status Facebook: Kajian Bahasa dan Gender,
(Surabaya: Perpustakaan Universitas Airlangga, 2016)
Farida Nugrahani, Penggunaan Bahasa dalam Media Sosial dan Implikasinya Terhadap Karakter
Bangsa, Stalistika, Vol 3, No.1, 2017
Ganjal Harimansyah, Diksi Laki-Laki dan Perempuan “Dalam Puisi-Mutakhir Indonesia, Widyariset,
Vol.14, No. 1, 2011
Hani Atus Sholikhah, Bahasa Pria dan Wanita: Kajian Sosiolinguistis Pada Mahasiswa Universitas
PGRI Palembang, Lampung, Vol.2, 2015
Haira Rizka, Bahasa dan Gender dalam Film Kartun Go Diego Go dan Dora the Explorer: Sebuah
Kajian Sosiolinguistik, Cirebon, Vol.2, No.2, 2017
Huriyah Saleh, Bahasa dan Gender dalam Keragaman Pemahaman, (Jawa Barat: Edivison, 2017)
Nur Chici Paramita, Analisis Desain Artistik Sebagai Representasi Budaya Bugis-Makassar Dalam
Membentuk Watak Tokoh Sentral Pada Film “Athirah”, (Yogyakarta: Institut Seni Indonesia
Yogyakarta,2018)
Nurul Mutia Diansyah, Konstruksi Relasi Gender Suku Bugis pada karakter Emma, (Jawa Barat:
Jurnal Penelitian Pendidikan, 2016)
Nofianti Arina Fatimah, Interferensi dan Integrasi dalam Novel Genduk Karya Sundari Mardjuki
(Kajian Sosiolinguistik), Universitas Pamulang, 2020
Siti Rohmani, Analisis Alih Kode dan Campur Kode pada Novel Negeri 5 Menara Karya Ahmad
Fuadi, (Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 2012)
Said Iskandar Zulkarnain, Perbedaan Gaya Bahasa Laki-Laki dan Perempuan Pada Penutur Bahasa
Indonesia dan Aceh, Banda Aceh, Vol.4, No. 1, 2018, halm 160
Umi Hijriyah, Bahasa dan Gender, (Lampung: IAIN Raden Intan Lampung)
Wahyudi, Bahasa dan Gender dalam Pemakaian Bahasa Kanak-Kanak di Kota Padang, Salingka, Vol.
13, No. 1, 2016
Wahyuni, Bahasa dan Gender dalam Pemakaian Bahasa Kanak-Kanak di Padang, Salingka, Vol.13,
No.1, 2016