Surveilans KLB Difteri di Puskesmas Beji
Surveilans KLB Difteri di Puskesmas Beji
LAPORAN MAGANG
Oleh:
NIM : 11141010000034
PEMINATAN EPIDEMIOLOGI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2018 M/1439 H
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
EPIDEMIOLOGI
ABSTRAK
Pada tahun 2017, terjadi kejadian luar biasa (KLB) difteri di Indonesia yang
tersebar di 95 Kabupaten/Kota dari 20 provinsi, salah satunya adalah provinsi Jawa
Barat yang menempati posisi kedua dengan jumlah 123 kasus dan 13 kematian yang
tersebar di 18 Kabupaten/Kota, dimana Kota Depok merupakan salah satu wilayah
yang dinyatakan KLB. Jumlah kasus difteri yang ditemukan di Kota Depok pada KLB
tahun 2017 sebanyak 12 kasus. Dari jumlah tersebut, Puskesmas Kecamatan Beji
menyumbang sebanyak 3 suspek dan 2 di antaranya positif difteri.
Berdasarkan analisis situasi pada saat kegiatan magang, pelaksanaan surveilans KLB
difteri di Puskesmas Kecamatan Beji meliputi penemuan kasus, pencatatan kasus,
penyelidikan epidemiologi, serta pelaporan hasil penanggulangan KLB. Penemuan kasus
dilakukan secara pasif, yaitu dengan menunggu laporan adanya kasus dari dokter atau dari
Dinas Kesehatan Kota Depok. Pencatatan kasus dilakukan oleh petugas surveilans ke dalam
form W1, yaitu laporan adanya kejadian luar biasa (KLB). Kemudian petugas surveilans
melakukan penyelidikan epidemiologi sebagai upaya penanggulangan KLB. Selain itu,
penyuluhan mengenai difteri, penyebarluasan leaflet, dan Outbreak Response Immunization
(ORI) juga dilaksanakan sebagai tindakan terhadap instruksi yang diberikan oleh Dinas
Kesehatan Kota Depok.
Pada pelaksanaan surveilans KLB difteri di Puskesmas Kecamatan Beji, masih
terdapat beberapa kekurangan yang secara garis besar disebabkan oleh belum adanya
pelatihan secara khusus kepada petugas surveilans terkait penyelenggaraan surveilans KLB.
Oleh karena itu, sebaiknya Kepala Puskesmas melakukan advokasi kepada Dinas Kesehatan
Kota Depok untuk mengadakan pelatihan surveilans kepada para petugas surveilans di
tingkat puskesmas agar pelaksanaannya dapat lebih baik.
i
ii
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan
Rahmat dan Karunia-Nya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan magang yang berjudul “Gambaran Pelaksanaan Surveilans Kejadian
Luar Biasa Difteri di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok Tahun 2017”
dengan baik meskipun masih banyak kekurangan di dalamnya. Penyelesaian laporan
didasarkan untuk memenuhi kewajiban sebagai penilaian tugas akhir pada Mata
Kuliah Magang Semester VIII Peminatan Epidemiologi Program Studi Kesehatan
Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama penyelesaian laporan penelitian
ini, penulis mendapat banyak bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, maka dari
itu penulis ingin berterima kasih kepada:
1. Bapak Dr. H. Arif Sumantri, SKM, [Link] sebagai Dekan Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Fajar Ariyanti, Ph.D selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Ibu Meilani Anwar, [Link], MT selaku dosen pembimbing fakultas yang
telah membimbing penulis mulai dari awal hingga akhir magang, serta
memberikan masukan dalam penulisan laporan ini.
4. Ibu dr. Intan Dewi Abraham selaku pembimbing lapangan yang telah
membimbing penulis selama magang di Puskesmas Kecamatan Beji Kota
Depok.
5. Ibu Mamah, Bidan Denis, dan Pak Sugeng yang telah memberikan ilmu serta
pengalaman kepada penulis selama magang di Puskesmas Kecamatan Beji
Kota Depok.
6. Orang tua penulis, yang senantiasa memberikan doa dan dukungan, baik
moral maupun materiil demi kelancaran penyelesaian laporan magang ini.
7. Nurizka dan Alfiana selaku teman satu tempat magang yang selalu
memberikan semangat dan dukungan, serta menemani hari-hari penulis
selama magang.
Penulis menyadari laporan magang ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun penulis harapkan demi perbaikan
selanjutnya. Demikian yang dapat penulis sampaikan. Semoga laporan magang ini
dapat dengan mudah dipahami dan bermanfaat bagi pihak yang membacanya.
Penulis
iv
DAFTAR ISI
Abstrak ..................................................................................................................... i
Depok .................................................................................................. 32
v
2.4 Kesesuaian Pelaksanaan Surveilans KLB Difteri di Puskesmas
Lampiran ............................................................................................................... 57
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jumlah Pegawai di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok ............... 10
Tabel 2.3 Input Registrasi dan Antropometri di Puskesmas Kecamatan Beji ...... 17
Tabel 2.7 Input Pengambilan dan Pemeriksaan Spesimen Kasus KLB Difteri .... 32
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Batas Wilayah Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok .................... 7
Gambar 2.5 Alur Data pada Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di
Gambar 2.7 Pencatatan pada Form Daftar Kasus Difteri Individu ....................... 25
viii
BAB I
PENDAHULUAN
Difteri merupakan salah satu penyakit menular yang dapat dicegah dengan
diphtheriae yang sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan
eksotoksin (IDAI, 2015). Komplikasi yang dapat ditimbulkan apabila kasus difteri
tidak ditangani dengan segera adalah masalah pernapasan, kerusakan jantung, dan
dunia mengalami peningkatan tiap tahun, dimulai dari tahun 2012 sampai 2014.
Jumlah kasus difteri di dunia tahun 2012 sebanyak 4490 kasus dan tahun 2013
sebanyak 4680 kasus. Pada tahun berikutnya terjadi peningkatan yang signifikan,
yaitu menjadi 7321 kasus. Sementara itu, kasus difteri di Asia Tenggara pada tahun
2008 sebanyak 4398 kasus, tahun 2009 sebanyak 4019 kasus, tahun 2010 sebanyak
3750 kasus, dan tahun 2011 sebanyak 4425 kasus. Pada tahun 2010 dan 2011
Indonesia menduduki peringkat kedua setelah India dengan jumlah kasus difteri
Di Indonesia, jumlah kasus difteri pada tahun 2013, yaitu 778 kasus dengan
case fatality rate (CFR) sebesar 5,01%. Pada tahun 2014 dan tahun 2015 kasus
difteri di Indonesia mengalami penurunan, yaitu 396 kasus dan 252 kasus. Akan
1
2
tetapi, pada tahun 2016 terjadi peningkatan kembali menjadi 340 kasus dengan case
fatality rate (CFR) sebesar 6,5% (Profil Kesehatan Indonesia). Dari 34 provinsi di
Indonesia, provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama dengan kasus difteri
tertinggi pada tahun 2013 dan tahun 2014 dimana masing-masing berjumlah 610 dan
295 kasus. Kemudian pada tahun 2015, provinsi Sumatera Barat menempati urutan
pertama dengan jumlah kasus difteri sebanyak 110 kasus, urutan kedua berada di
Provinsi Jawa Timur dengan jumlah 67 kasus difteri, dan urutan ketiga adalah Jawa
Pada tahun 2017 terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Indonesia yang
lebih sebanyak 622 kasus dan 32 di antaranya meninggal dunia. Dari 20 provinsi
yang dinyatakan KLB difteri, Jawa Barat merupakan provinsi kedua dengan jumlah
kasus difteri tertinggi setelah Jawa Timur, yaitu 123 kasus dengan 13 kematian yang
Berdasarkan Profil Kesehatan Kota Depok tahun 2016, kasus difteri pada
tahun 2013 ditemukan sebanyak 1 kasus dan pada tahun 2014 sampai 2015 tidak
ditemukan kasus. Akan tetapi, terjadi peningkatan kasus pada tahun 2016, yaitu
sebanyak 8 kasus. Kemudian pada KLB difteri yang terjadi tahun 2017 lalu,
ditemukan 12 kasus difteri di Kota Depok (Dinkes Depok, 2017). Difteri sering kali
menjadi penyebab kematian pada anak karena mudahnya menular dan komplikasi
yang ditimbulkan dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan segera.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501 Tahun 2010, difteri merupakan
salah satu jenis penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah/KLB, sehingga
3
satu suspek difteri dalam satu wilayah sudah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa
(KLB).
termasuk ke dalam sasaran penyelenggaraan dan salah satunya terdiri atas surveilans
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Surveilans penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi mempunyai peran dalam menentukan daerah rawan atau
terhadap eradikasi polio, eliminasi campak, dan surveilans difteri dan tetanus
preventif, promotif, serta kuratif. Oleh karena itu, penting bagi sebuah Puskesmas
analisis yang dilakukan secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau
dan penularan penyakit atau masalah kesehatan tersebut, agar dapat dilakukan
Kota Depok, ditemukan 3 suspek difteri dan 2 di antaranya merupakan kasus positif
difteri di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Beji tahun 2017 lalu. Adanya suspek
dan kasus positif difteri tersebut dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB)
difteri (Kemenkes, 2017). Selain itu, Puskesmas Kecamatan Beji merupakan salah
satu puskesmas di Kota Depok yang sudah menjalani penilaian akreditasi dari
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada April 2017. Maka dari itu, penulis
tertarik untuk melihat pelaksanaan surveilans kejadian luar biasa (KLB) difteri di
1.2 Tujuan
tahun 2017.
1.3 Manfaat
2. Sebagai jembatan untuk menjalin kerja sama antara FKIK UIN Syarif
1. Menjalin kerja sama antara institusi pendidikan, dalam hal ini FIK UIN
Depok.
1) Profil Puskesmas
7
8
yaitu Kelurahan Beji dan Kelurahan Beji Timur dengan luas wilayah
Penyakit.
kondisi baik, 2 ambulans siaga dalam kondisi baik, dan 3 motor; 2 motor
dalam kondisi baik dan 1 motor dalam kondisi kurang baik. Kemudian
(Pustu).
terdiri dari pegawai negeri sipil dan tenaga purnabakti sebagai berikut:
10
Tabel 2.1
Pencegahan dan
Layanan KIA-KB Jejaring Puskesmas
Pengendalian Penyakit
Layanan Akupresure
Kesehatan Olahraga
Laboratorium
Puskesmas dengan Pelayanan
Ramah Anak (PRA)
Radiologi
25500 25261
25000
24383
24500
Jumlah jiwa/km2
24000
23558
23500
23000
22500
2015 2016 2017
Tahun
Gambar 2.3
Kepadatan Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Beji
Kota Depok Tahun 2015-2017
disetiap tahunnya, yaitu pada tahun 2015 berjumlah 69.024 jiwa, tahun
2016 berjumlah 71.440 jiwa, dan tahun 2017 berjumlah 74.015 jiwa.
tinggi dan adanya migrasi seumur hidup yang cukup besar antar
37500
37000
36500
36000
Jumlah (orang)
35500
37039
36976
35000 Laki-laki
36020
34500
35420
Perempuan
34592
34000
34432
33500
33000
2015 2016 2017
Tahun
Sumber: Profil Puskesmas Kecamatan Beji 2015-2016 dan BPS Kota Depok
Gambar 2.4
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
perempuan.
kelompok umur balita (0-4 tahun), anak-anak (5-9 tahun), remaja (10-19
tahun), dewasa (20-54 tahun), dan lansia (>54 tahun). Berikut adalah
14
Tabel 2.2
Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur
Tahun
No. Kelompok Umur
2015 2016 2017
1 Balita (0 – 4 tahun) 6485 7096 7096
2 Anak-anak (5 – 9 tahun) 5675 6193 6193
3 Remaja (10 – 19 tahun) 10651 11722 11722
4 Dewasa (20 – 54 tahun) 38919 41681 41681
5 Lansia (>54 tahun) 7294 7323 7323
yang menjadi kasus adalah kelompok umur anak-anak dan remaja. Kasus
difteri yang pertama adalah seorang anak laki-laki berumur 9 tahun dan
Indonesia (2006), kasus difteri lebih sering menyerang anak berumur 2-10
difteri juga jarang terjadi pada orang dewasa yang berumur di atas 15
difteri.
15
Difteri merupakan salah satu jenis penyakit menular tertentu yang dapat
Kesehatan Nomor 1501 Tahun 2010. Kejadian luar biasa (KLB) merupakan
secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan
keadaan yang dapat mengarah pada terjadinya wabah (Kemenkes, 2010). Suatu
wilayah dapat dikatakan KLB difteri jika ditemukan minimal 1 suspek difteri
(Kemenkes, 2017). Pada tahun 2017, wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Beji
surveilans kejadian luar biasa (KLB) difteri di Puskesmas Kecamatan Beji adalah
sebagai berikut:
16
Surveilans
Kepala
RSUD
Puskesmas
Litbangkes Jakarta
(Uji Laboratorium) Dinas Kesehatan
Kota Depok Keterangan:
: Alur Data
: Umpan balik
: Tidak terkait
langsung dengan
surveilans
Gambar 2.5 Alur Data pada Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Puskesmas Kecamatan Beji
17
Input
Tabel 2.3
Input Registrasi dan Antropometri di Puskesmas Kecamatan Beji
Input Pelaksanaan
Man Petugas registrasi dan perawat
Material Registrasi: Kartu identitas pasien, kartu berobat.
Antropometri: thermometer, sphygmomanometer,
mikrotois, timbangan.
Machine Perangkat komputer, jaringan internet, akun SIMPUS
Method Pendataan identitas pasien di bagian registrasi untuk
pengambilan berkas rekam medik, kemudian dilanjutkan
dengan pengukuran antropometri
Proses
registrasi akan mendata identitas pasien yang meliputi nama, umur, alamat,
pembayaran yang digunakan, baik berupa BPJS atau non BPJS berdasarkan
rekam medik pasien untuk diserahkan kepada dokter yang akan memeriksa
pasien.
Output
Input
Tabel 2.4
Input Pemeriksaan Pasien di Puskesmas Kecamatan Beji
Input Pelaksanaan
Man Dokter
Material Berkas rekam medik, stetoskop, senter medis, ranjang
pasien, alat tulis.
Method Dokter akan menanyakan keluhan dan memeriksa gejala
yang dialami pasien untuk diagnosis penyakit
Proses
Setelah itu, dokter melakukan pemeriksaan fisik dengan memeriksa tanda dan
gejala yang dialami oleh pasien. Untuk kasus difteri, keluhan dan gejala yang
19
biasanya dialami oleh pasien adalah demam, nyeri menelan, dan nyeri
tenggorok. Jika diketahui adanya keluhan dan gejala tersebut, dokter akan
tersebut yang mengarah kepada kasus difteri, dokter akan berdiskusi dengan
Output
Input
Tabel 2.5
Input Rekam Medik di Puskesmas Kecamatan Beji
Input Pelaksanaan
Man Perawat
Material Berkas rekam medik
Machine Perangkat komputer, jaringan internet, akun SIMPUS
Method Perawat akan menginput data yang ada di dalam berkas
rekam medik ke dalam SIMPUS
Proses
dalam rekam medik, perawat akan mengambil berkas rekam medik dari ruang
Data-data dalam berkas rekam medik yang diinput ke dalam SIMPUS, yaitu
nama dokter yang memeriksa, nama pasien, umur, keluhan dan gejala, hasil
tinggi badan, berat badan, serta diagnosis penyakit difteri berdasarkan kode
Output
2.2.4 Surveilans
Input
Tabel 2.6
Input Surveilans KLB Difteri
Input Pelaksanaan
Man Petugas surveilans, Petugas Kesehatan Lingkungan,
Petugas Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM)
Material Penemuan kasus: Informasi dari dokter, Berkas rekam
medik.
Penanggulangan KLB: Hasil uji laboratorium suspek
difteri, Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan
sarung tangan, media transport Amies atau slicagel
packed media, cotton swab, dan cool box, form daftar
kasus difteri individu, serta alat tulis.
Umpan balik: Instruksi dari Dinas Kesehatan Kota Depok
Machine Telepon selular pribadi petugas surveilans, Kamera untuk
dokumentasi, Perangkat komputer, Software Ms. Word,
printer.
Method Informasi adanya suspek difteri segera dilaporkan oleh
petugas surveilans kepada Kepala Puskesmas serta
petugas surveilans mengirimkan dokumentasi tanda dan
gejala pasien kepada RSUD untuk meminta pertimbangan
rujukan. Pasien yang dirujuk ke RSUD akan diambil
spesimen untuk diuji laboratorium. Berdasarkan hasil uji
laboratorium tersebut, petugas surveilans akan melakukan
penyelidikan epidemiologi. Kemudian hasil penyelidikan
epidemiologi akan dilaporkan kepada Dinas Kesehatan
Kota Depok.
22
Proses
A. Penemuan Kasus
pasien tersebut yang diambil dari bagian samping kanan, kiri dan
depan untuk tanda berupa bullneck, serta foto tenggorok untuk tanda
yang harus diminum sebanyak 4 kali dalam sehari dan pasien akan
23
yang dialami pasien menghilang atau tidak. Jika gejala difteri pada
gejala difteri, maka pasien merupakan suspek difteri dan akan dirujuk
suspek difteri dari berkas rekam medik yang telah diinput ke dalam
Penyelidikan Epidemiologi
Gambar 2.6
Pencatatan Kasus pada Form W1
Gambar 2.7
Pencatatan PE pada Form Daftar Kasus Difteri Individu
yang lama. Akan lebih baik jika petugas surveilans mencatat secara
26
tersebut akan bermanfaat untuk analisis kasus KLB difteri yang lebih
maksimal.
Amies atau slicagel packed media, cotton swab, dan cool box sebagai
terlebih dahulu memberikan label pada media Amies dan swab yang
terdiri atas nama dan umur dari spesimen yang akan diambil.
secara cepat pada daerah faring dan tonsil kanan kiri. Setelah itu,
laboratorium.
yang dilakukan oleh petugas surveilans itu sendiri. Hal ini disebabkan
yang mengalami sakit atau gejala yang mengarah pada difteri. Data
para guru, dan para orang tua siswa mengenai difteri dan pentingnya
29
terhadap anaknya.
yang telah dilakukan berdasarkan data dalam form daftar kasus difteri
individu dan form W1. Laporan tersebut akan ditinjau terlebih dahulu
dibutuhkan.
3) Umpan Balik
dan cara penularannya, gejala dan akibat yang ditimbulkan, serta cara
adalah 6 bulan.
Output
erat penderita, serta spesimen swab tenggorok dari anggota keluarga yang
32
agar dapat ditangani dengan segera dan tidak memperluas penyebaran kasus
Immunization (ORI).
Input
Tabel 2.7
Input Pengambilan dan Pemeriksaan Spesimen Kasus KLB Difteri
Input Pelaksanaan
Man Petugas P2P Dinas Kesehatan Kota Depok dan Petugas
ATLM Laboratorium Litbangkes Jakarta
Material Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan sarung
tangan, media transport Amies atau slicagel packed
media, cotton swab, cool box, alat tulis, serta seperangkat
alat di Laboratorium Litbangkes Jakarta
Method Dinas Kesehatan Kota Depok akan mengambil spesimen
dari kasus dan mengirimkannya ke Laboratorium
33
Litbangkes Jakarta
Proses
suspek difteri yang ditemukan dan dirujuk ke RSUD akan mendatangi pasien
terlatih. Spesimen yang diambil dari suspek difteri berasal dari dua lokasi,
yaitu usap hidung dan usap tenggorok. Alat yang digunakan untuk
pengambilan spesimen tersebut antara lain Alat Pelindung Diri (APD) berupa
sarung tangan dan masker bedah, media transport Amies atau slicagel packed
infeksius, dan peralatan tulis. Selanjutnya, spesimen suspek difteri yang telah
difteri akan mengkultur bakteri tersebut selama kurang lebih dua minggu
tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat karena harus
tumbuh dan dapat dilakukan uji laboratorium. Periode waktu selama dua
minggu dinilai cukup untuk memperoleh hasil yang valid mengenai bakteri
Output
menerus dan menjadi sistem dalam memantau perkembangan penyakit yang ada di
2002. Tujuan pembuatan SOP surveilans adalah sebagai pedoman petugas surveilans
posyandu.
bulanan
Kejadian Luar Biasa (KLB), seperti difteri, Puskesmas Kecamatan Beji juga
memiliki kebijakan khusus terkait SOP pada saat terjadi KLB yang bertujuan:
KLB
Adapun langkah-langkah atau prosedur saat terjadi KLB adalah sebagai berikut:
1. Penanganan penderita/korban.
36
5. Penyuluhan/sosialisasi.
6. Penanganan penderita:
- Cari kasus baru/kasus lain dengan mendata kontak erat penderita yang
a. Larvasidasi
b. Pengasapan/fogging
c. Chlorinasi
a. Vaksinasi
b. Pengobatan/profilaksis
Sosialisasi MTBS.
37
1. Satu suspek difteri dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan harus
4. Setiap suspek difteri dilakukan ORI (respon pemberian imunisasi pada KLB)
epidemiologi.
lokasi yang terjadi KLB \Difteri dengan sasaran sesuai dengan kajian
epidemiologi sebanyak tiga putaran dengan interval waktu 0-1-6 bulan tanpa
mengenai difteri.
tempat umum bila mengalami tanda dan gejala infeksi saluran pernafasan.
Kesehatan telah merumuskan kegiatan surveilans epidemiologi pada saat terjadi KLB
Pengendalian Difteri yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan dapat dilihat pada
Tabel 2.8
Kesesuaian Pelaksanaan Surveilans KLB Difteri di Puskesmas Kecamatan Beji
dengan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Difteri Kementerian Kesehatan Tahun 2017
No. Pedoman Nasional Pelaksanaan di Puskesmas Kesesuaian
1 Penyelidikan Epidemiologi Penyelidikan Epidemiologi
a) Setiap laporan tentang adanya kasus yang datang Pada saat penyelidikan epidemiologi, petugas Sudah Sesuai
dari masyarakat, petugas kesehatan, Rumah Sakit, surveilans pertama kali akan memverifikasi gejala dan Poin a, b, c, d, dan f
Puskesmas bahkan media, harus secepatnya tanda yang terlihat pada pasien terduga difteri dan sudah sesuai dengan
ditindaklanjuti dengan melakukan verifikasi memberikan dokumentasi gejala dan tanda tersebut pedoman.
informasi. kepada pihak RSUD untuk memperoleh konfirmasi
b) Verifikasi informasi diantaranya dengan perlunya rujukan terhadap pasien.
menanyakan kembali informasi yang lebih lengkap Kemudian petugas surveilans mengumpulkan data Belum Sesuai
ke petugas surveilans tentang gejala, jumlah kasus, mengenai umur, jenis kelamin, alamat, riwayat penyakit, - Poin e: Pada
waktu sakit dan tempatnya dan lain-lain. kontak dan risiko penularan ke dalam form daftar kasus pelaksanaan di
c) Dilakukan kunjungan kepada kasus difteri untuk difteri individu. Akan tetapi, data pada kolom Nomor Puskesmas Kecamatan
pengumpulan data riwayat penyakit, faktor risiko, Epidemiologi tidak terisi sesuai dengan ketentuan tata Beji, petugas surveilans
kontak dan risiko penularan dan penyebaran cara pemberian nomor epidemiologi pada kasus difteri. yang melakukan
dengan menggunakan format daftar kasus difteri Setelah itu petugas surveilans akan mengisi form W1 penyelidikan
individu (lampiran 1). yang merupakan laporan kejadian luar biasa. Data yang epidemiologi belum
d) Setelah adanya kepastian bahwa informasi tersebut dilengkapi di dalam form W1 adalah waktu kejadian mendapatkan pelatihan
akurat terjadi KLB penyakit difteri, secepatnya (tanggal, bulan, tahun), RT/RW, desa/kelurahan, khusus.
40
form W1 dilengkapi dengan daftar kasus difteri kecamatan, kabupaten/kota, jumlah kasus yang - Poin g: Pada daftar
individu dilaporkan secara berjenjang ke tingkat ditemukan, gejala-gejala, serta tindakan yang telah kasus difteri individu,
yang lebih tinggi. diambil. Pada pelaksanaannya, petugas surveilans tidak petugas surveilans
e) Petugas yang melaksanakan penyelidikan melengkapi tanggal kejadian kasus difteri sehingga data tidak menuliskan
epidemiologi adalah petugas yang terlatih (dari yang dilaporkan pada form W1 kurang lengkap. nomor epidemiologi
Pustu, Puskesmas, Dinkes Kab/Kota, Dinkes Pada saat terjadi KLB difteri di wilayah Puskesmas sesuai dengan
Propinsi, dan Kementerian Kesehatan) Kecamatan Beji, petugas surveilans belum memperoleh pedoman.
f) Petugas yang melakukan penyelidikan kompetensi khusus mengenai penyelidikan epidemiologi - Poin h: Hasil
epidemiologi harus menggunakan APD, yaitu KLB sehingga pengetahuan yang dimiliki oleh petugas wawancara yang
minimal masker bedah, penutup kepala dan sarung surveilans hanya berdasarkan pembelajaran secara diperoleh petugas
tangan. mandiri dan mengikuti prosedur yang diberikan. Petugas surveilans belum
g) Setiap kasus Difteri yang ditemukan, diberi nomor surveilans dan tim yang melakukan penyelidikan meliputi seluruh
epidemiologi. Tatacara pemberian nomor epid pada epidemiologi menggunakan alat pelindung diri (APD), komponen yang ada
kasus Difteri, sebagai berikut: yaitu masker dan sarung tangan sebagai tindakan dalam pedoman, seperti
- Huruf D : Kode Kasus Difteri preventif untuk mencegah penularan dari kasus maupun peta lokasi KLB dan
- Digit ke 1-2 : Kode Propinsi kontak erat kasus. orang yang kontak
- Digit ke 3-4 : Kode Kab/ Kota Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi, dengan kasus
- Digit ke 5-6 : Kode Tahun Kejadian informasi yang diperoleh petugas surveilans berupa berdasarkan golongan
- Digit ke 7-9 : Kode Penderita (dimulai dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan umur.
nomor 001 pada setiap tahun) penderita, status imunisasi, waktu pertama kali gejala
Contoh : D-132917001 (artinya : Kasus pertama pada penderita muncul, dan siapa saja yang berpeluang
41
di tahun 2017 dari Kabupaten Bangkalan, telah kontak dengan penderita. Pada saat penyelidikan
Provinsi Jawa Timur ) epidemiologi, belum diketahui sumber kasus berawal dan
h) Catatan Hasil wawancara diupayakan agar bisa arah penyebaran penyakit difteri yang ada di wilayah
diketahui: tersebut. Peta lokasi KLB juga belum dibuat sehingga
- Indeks kasus atau paling tidak dari mana prediksi untuk kemungkinan terjadinya penyebaran kasus
kemungkinan kasus berawal. difteri kurang maksimal
- Kasus-kasus tambahan yang ada di sekitarnya.
- Cara penyebaran kasus.
- Waktu penyebaran kasus.
- Arah penyebaran penyakit.
- Siapa, dimana, berapa orang yang kemungkinan
telah kontak (hitung pergolongan umur). Untuk
mempermudah kemungkinan penyebaran kasus,
sebaiknya dibuat peta lokasi KLB dan
kemungkinan mobilitas penduduknya
- Persiapan pemberian profilaksis dan imunisasi
(ORI).
42
imunisasi yang rendah dan endemisitas terhadap dan karier dinilai juga tidak ada. Hal ini disebabkan pada
difteri. dua tahun terakhir, wilayah Puskesmas Kecamatan Beji
tidak ditemukan kasus difteri serta pasien tidak Belum Sesuai
melakukan perjalanan ke luar kota yang memungkinkan -
terjadinya penularan.
Faktor risiko dari sisi cakupan imunisasi juga telah
diidentifikasi oleh petugas surveilans. Dalam 3 tahun
terakhir, cakupan imunisasi difteri di wilayah Puskesmas
Kecamatan Beji, yaitu:
2014 2015 2016
DPT-HB-HiB DPT-HB-HiB DPT-HB-HiB
1: 99,2% 1: 99,1% 1: 96,9%
2: 98,4% 2: 98,8% 2: 97,1%
3: 94,5% 3: 98,5% 3: 97,4%
Persentase cakupan imunisasi difteri di atas selalu
mencapai target nasional, yaitu 95%, kecuali pada
imunisasi DPT ketiga tahun 2014 yang tidak
mencapai 95%.
Kemudian Kota Depok, khususnya Kelurahan Beji
dan Beji Timur bukan merupakan daerah endemis
penyakit difteri.
45
4 Identifikasi Populasi (Kelompok) Risiko Tinggi. Identifikasi Populasi (Kelompok) Risiko Tinggi.
a) Populasi Risiko tinggi adalah populasi yang tidak Petugas surveilans tidak mengumpulkan informasi Sudah Sesuai
mempunyai kekebalan herediter maupun kekebalan mengenai populasi yang tidak mempunyai kekebalan Poin b
buatan. herediter maupun kekebalan buatan.
b) Kelompok masyarakat yang berdomisili di wilayah Akan tetapi, petugas surveilans mengumpulkan
dengan cakupan imunisasi rendah (<90%). informasi mengenai cakupan imunisasi di masing-masing Belum Sesuai
wilayah Puskesmas Kecamatan Beji dan tidak ada Poin a: Petugas
cakupan imunisasi yang berada di bawah 90%. surveilans belum
melaksanakannya.
5 Pengambilan Spesimen Pengambilan Spesimen
a) Spesimen pertama pada kasus Difteri diambil dari Pengambilan spesimen pada kasus difteri dilakukan Sudah Sesuai
dua lokasi yaitu usap hidung dan usap tenggorok, di RSUD oleh petugas dari Dinas Kesehatan Kota Depok. Poin b, c, dan e sudah
demikian juga dengan kontak erat yang dicurigai Spesimen yang diambil berasal dari dua lokasi, yaitu sesuai dengan
menjadi karier. usap hidung dan usap tenggorok. Sedangkan pada kontak pedoman.
b) Pengambilan spesimen dilakukan sebelum sasaran erat kasus, pengambilan spesimen dilakukan pada saat
tersebut mendapatkan profilaksis dengan penyelidikan epidemiologi terhadap anggota keluarga
Eritromisin. yang tinggal satu rumah dengan kasus. Pengambilan Belum Sesuai
c) Pengambilan spesimen dilakukan untuk konfirmasi spesimen kontak erat kasus dilakukan oleh petugas - Poin a: Pada
kasus dan mengetahui kepastian terjadinya ATLM Puskesmas Kecamatan Beji dan hanya berasal pelaksanaan, spesimen
penularan/penyebaran. dari satu lokasi, yaitu usap tenggorok. Pengambilan dari kontak erat hanya
d) Spesimen diambil secukupnya. Keterwakilan spesimen dari kasus maupun kontak erat dilakukan diambil dari satu
46
kelompok dalam pengambilan spesimen perlu sebelum pemberian profilaksis. lokasi, yaitu usap
dipertimbangkan. Misal, KLB Diphteri pada anak Spesimen dari kasus dan kontak erat dikirim ke tenggorok.
TK (usia 6 th). Spesimen yang diambil adalah Laboratorium Litbangkes Jakarta untuk mendapatkan - Poin d: Spesimen
seluruh kontak serumah (keluarga), beberapa konfirmasi apakah spesimen tersebut positif mengandung hanya berasal dari
kontak bermain (tetangga), beberapa kontak Corynebacterium diphteriae. Pada spesimen kontak erat, kontak serumah,
sekolah (TK), beberapa kontak TPA (pengajian), hasil uji laboratorium akan menunjukkan adanya sedangkan kontak
dll. penularan kasus atau tidak. bermain, kontak
e) Pada saat pengambilan spesimen perlu diperhatikan Spesimen yang diambil oleh petugas puskesmas pada sekolah, dan kontak
APD merupakan perlengkapan utama TGC dalam saat penyelidikan epidemiologi hanya berasal dari TPA tidak diambil.
melaksanakan penyelidikan epidemiologi penyakit anggota keluarga, sedangkan teman sekolah dan teman - Poin f: Petugas ATLM
yang menular khususnya Difteri. APD yang mengaji yang berpeluang kontak dengan penderita tidak hanya menggunakan
digunakan adalah masker bedah, hand sanitasi, diambil spesimen. Hal tersebut dapat meningkatkan masker bedah dan
sarung tangan. kemungkinan adanya karier difteri yang tidak terdeteksi sarung tangan saat
f) Khusus untuk petugas laboratorium yang dan dapat menjadi sumber penularan untuk kasus mengambil spesimen
mengambil spesimen, APD : masker bedah, baju berikutnya. kontak erat.
pelindung, sarung tangan, kaca mata pelindung, Petugas ATLM yang mengambil spesimen hanya
pelindung kepala, hand sanitasi. menggunakan APD berupa masker dan sarung tangan.
Hal tersebut dinilai cukup untuk melindungi diri dari
penularan difteri yang ada di lingkungan tempat tinggal
penderita.
47
Petugas kesehatan di lapangan dan di RS surveilans memberikan profilaksis kepada kontak erat tidak dilakukan setiap
c) Semua kontak erat harus diperiksa adanya gejala hanya untuk 5 hari, sedangkan anjuran dalam pedoman hari selama 7 hari.
difteri serta diawasi setiap hari selama 7 hari dari selama 7 hari. Hal ini disebabkan karena petugas belum - Poin d: Status
tanggal terakhir kontak dengan kasus. mengetahui sebelumnya. imunisasi kontak hanya
d) Status imunisasi kontak ditanyakan dan dicatat. Oleh karena dosis eritromisin yang harus diminum ditanyakan secara lisan
e) Profilaksis dilakukan antibiotika oleh kontak erat adalah 4 kali dalam sehari, maka petugas
dengan tanpa adanya
Erytromisin (etyl suksinat) dengan dosis 50 surveilans berpesan kepada setiap anggota keluarga pencatatan khusus oleh
mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali pemberian untuk saling mengingatkan meminum obat. petugas surveilans.
8 Penilaian cakupan imunisasi secara cepat (Rapid Penilaian cakupan imunisasi secara cepat (Rapid
Convenience Assessment) Convenience Assessment) Sudah Sesuai
a) Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi Status imunisasi orang di sekitar kasus difteri Poin a sudah sesuai
status imunisasi balita sekitar kasus, apakah ditanyakan pada saat penyelidikan epidemiologi oleh dengan pedoman.
mereka menjadi kelompok rentan atau bukan. petugas surveilans dan dibuktikan oleh buku KIA dari
b) Melakukan kunjungan ke minimal 20 rumah balita di sekitar kasus.
disekitar kasus yang memiliki sasaran Balita untuk Rumah yang dikunjungi oleh petugas surveilans pada Belum Sesuai
ditanya riwayat imunisasi DPT dan alasannya saat penyelidikan epidemiologi tidak mencapai 20 rumah, Poin b: Rumah yang
apabila belum lengkap yaitu hanya 5 rumah terdekat dari rumah penderita. dikunjungi oleh
petugas surveilans
tidak mencapai 20
rumah di sekitar kasus.
50
9 Pelaporan Pelaporan
Pelaporan dalam penanggulangan KLB, antara lain : Ketika kasus ditemukan, petugas surveilans segera Sudah Sesuai
a) Laporan W1 memberitahu kepada Kepala Puskesmas dan Dinas Poin c sudah sesuai
Merupakan Laporan cepat <24 jam, dapat Kesehatan Kota Depok. Laporan tersebut dilakukan dengan pedoman.
didahului dengan melaporkan langsung secara melalui telepon dan SMS. Informasi yang disampaikan
berjenjang dengan telepon/ SMS/ WA dan tetap meliputi jenis kelamin, usia, dan gejala yang dialami Belum Sesuai
harus dilanjutkan dengan mengisi dan oleh penderita. Pengisian form W1 dilakukan setelah - Poin a: Petugas
mengirimkan form W1. hasil uji laboratorium suspek difteri menunjukkan hasil surveilans sudah
b) Laporan Penanggulangan Sementara KLB. positif. Akan tetapi, petugas surveilans tidak mengisi form W1,
c) Laporan lengkap penanggulangan KLB mengirimkan form W1 kepada Dinas Kesehatan Kota namun tidak
Depok. Hal ini disebabkan pihak Dinas Kesehatan Kota mengirimkan form W1
Depok sudah memiliki data tersebut sehingga form W1 kepada Dinas
disimpan oleh petugas surveilans untuk dijadikan arsip. Kesehatan Kota Depok.
Kemudian laporan penanggulangan sementara KLB - Poin b: Petugas
tidak dibuat oleh petugas surveilans. Namun petugas surveilans tidak
surveilans membuat laporan lengkap penanggulangan membuat laporan
KLB setelah melakukan PE, yang dibuat dalam bentuk tersebut karena tidak
narasi sesuai dengan instruksi Dinas Kesehatan Kota ada instruksi dari Dinas
Depok. Kesehatan Kota Depok.
BAB III
3.1 Simpulan
oleh laki-laki.
51
52
c) Pada tahap rekam medik, perawat menginput data yang ada dalam
d) Pada tahap surveilans, informasi dari dokter dan berkas rekam medik
sudah sesuai dan masih terdapat beberapa poin yang belum sesuai.
3.2 Saran
yang menjadi dasar kegiatan surveilans. Oleh karena itu, pelatihan terkait
sampai dengan pelaporan pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB) belum
surveilans KLB lebih lengkap dan lebih teliti di dalam form W1 dan form
serta riwayat kontak erat sehingga data yang diperoleh dapat diolah dan
selanjutnya.
55
DAFTAR PUSTAKA
Dinas Kesehatan Kota Depok. Profil Kesehatan Kota Depok Tahun 2016. Depok:
Dinas Kesehatan Kota Depok, 2017.
Izza, Nailul dan Soenamatalina. Analisis Data Spasial Penyakit Difteri di Provinsi
Jawa Timur Tahun 2010 dan 2011. Surabaya: Badan Litbang Kesehatan,
2015.
Santoso, Hari dkk. Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar
Biasa Penyakit Menular dan Keracunan Pangan (Pedoman Epidemiologi
Penyakit). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2011.
57
LAMPIRAN
58
Lampiran 1
59
60
61
62
Lampiran 2
FORM 2
LOG BOOK KEGIATAN HARIAN
2 Selasa, 6-02-2018 Mempelajari profil puskesmas Selasa, 6-02-2018 Mempelajari profil puskesmas Pemegang program
Mempelajari sistem surveilans di surveilans belum bisa
Puskesmas Kec. Beji ditemui
3 Rabu, 7-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Rabu, 7-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Pemegang program
puskesmas. puskesmas imunisasi belum bisa
Wawancara dengan pemegang ditemui
program imunisasi.
63
4 Kamis, 8-02-2018 Mempelajari laporan STP Kamis, 8-02-2018 Menemui pemegang program Pemegang program
imunisasi surveilans belum bisa
ditemui
5 Jumat, 9-02-2018 Input data W1 dan W2 difteri tahun Jumat, 9-02-2018 Wawancara dengan pemegang Data W2 tidak tercatat
2015 sampai 2017 program surveilans di form, namun
Merekap data W1 difteri yang dilaporkan melalui SMS
tersedia ke SKDR Pusat sehingga
mahasiswa belum bisa
mengaksesnya
6 Sabtu, 10-02-2018 Analisis data STP khusus difteri Sabtu, 10-02-2018 Wawancara dengan pemegang Data STP belum bisa
program imunisasi diakses
Merekap cakupan imunisasi
tahun 2014 sampai 2017
7 Senin, 12-02-2018 Wawancara dengan pemegang Senin, 12-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Pemegang program
program surveilans terkait puskesmas surveilans belum bisa
kebijakan surveilans di Puskesmas ditemui
Beji, Depok
8 Selasa, 13-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Selasa, 13-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Pemegang program
perekapan data data surveilans menginput data rekam medik ke surveilans belum bisa
difteri Januari sampai Februari 2018 SIMPUS ditemui
9 Rabu, 14-02-2018 Wawancara dengan pemegang Rabu, 14-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Pemegang program
program surveilans terkait input puskesmas ke posyandu surveilans belum bisa
surveilans difteri di Puskesmas Beji, ditemui
Depok
10 Kamis, 15-02-2018 Bimbingan dengan pembimbing Kamis, 15-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Pembimbing lapangan
lapangan untuk mendapatkan saran puskesmas ke posyandu tidak berada di
dan arahan Merekap data W2 bulan Januari- puskesmas
Juni 2017 dari SMS ke Form W2
64
11 Sabtu, 17-02-2018 Wawancara dengan pemegang Sabtu, 17-02-2018 Merekap data W2 bulan Juli-
program surveilans terkait alur Desember 2017
pelaksanaan surveilans difteri di
Puskesmas Beji, Depok
12 Senin, 19-02-2018 Melakukan analisis data surveilans Senin, 19-02-2018 Menyicil laporan magang Pemegang program
difteri berdasarkan orang (usia dan Mengolah data W2 surveilans sedang Dinas
jenis kelamin) Membuat laporan kegiatan Luar sampai dengan hari
harian. Jumat
13 Selasa, 20-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Selasa, 20-02-2018 Mengolah data W2 tahun 2017
puskesmas Menyicil laporan magang
Melakukan rencana komunikasi
ke-2
14 Rabu, 21-02-2018 Menginput data surveilans difteri Rabu, 21-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan
puskesmas ORI difteri di SDN Beji Timur 3
Membuat laporan kegiatan
harian.
15 Kamis, 22-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Kamis, 22-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan
puskesmas ORI difteri di SMK Farmasi dan
Analisis data surveilans Pariwisata Harapan Massa
Membuat laporan kegiatan
harian.
16 Jumat, 23-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Jumat, 23-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan
puskesmas ORI difteri di SMPN 5 Depok
Melakukan rencana komunikasi Membuat laporan kegiatan
ke-3 harian.
17 Sabtu, 24-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Sabtu, 24-02-2018 Merekap dan mengolah data W2 Tidak ada kegiatan turun
puskesmas tahun 2016 lapangan dari pemegang
Pengumpulan data surveilans Membuat laporan kegiatan program surveilans.
65
24 Senin, 5-03-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Senin, 5-03-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Pemegang program
puskesmas puskesmas ke posyandu surveilans belum bisa
Pengumpulan data untuk Membuat laporan kegiatan ditemui
melengkapi laporan harian
25 Selasa, 6-03-2018 Melakukan rencana komunikasi ke- Selasa, 6-03-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan
5 ORI difteri di TK Indria
Melakukan rencana komunikasi
ke-3
Membuat laporan kegiatan
harian
26 Rabu, 7-03-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Rabu, 7-03-2018 Wawancara dengan penanggung
puskesmas jawab layanan laboratorium
Pengumpulan data untuk untuk menanyakan pelaksanaan
melengkapi laporan pengambilan spesimen kasus
difteri
Membuat catatan hasil
wawancara
Membuat laporan kegiatan
harian
68
27 Kamis, 8-03-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Kamis, 8-03-2018 Melakukan konfirmasi data
puskesmas penduduk terkait adanya
Pengumpulan data untuk perbedaan data kepada staf
melengkapi laporan bagian Tata Usaha
Menyusun saran untuk rencana
komunikasi selanjutnya
Menyicil laporan magang
Membuat laporan kegiatan
harian.
28 Jumat, 9-03-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Jumat, 9-03-2018 Wawancara dengan pemegang
puskesmas program surveilans untuk
Pengumpulan data untuk melengkapi data
melengkapi laporan Melaksanakan rencana
komunikasi ke-4
Membuat laporan kegiatan
harian
29 Sabtu, 10-03-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Sabtu, 10-03-2018 Mengumpulkan bukti fisik yang
puskesmas digunakan dalam pelaksanaan
Pengumpulan data untuk surveilans
melengkapi laporan Membuat peta distribusi kasus
difteri tahun 2017
Menemui pembimbing lapangan
untuk melakukan pemantauan
ke-4
Membuat laporan kegiatan
harian.
69
30 Senin, 12-03-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Senin, 12-03-2018 Mengumpulkan data untuk
puskesmas melengkapi laporan
Pengumpulan data untuk Melaksanakan komunikasi ke-5
melengkapi laporan kepada Kepala Bagian TU
Bimbingan dengan pembimbing Bimbingan dengan pembimbing
lapangan lapangan
…………………………………, 2018
Menyetujui,
Pembimbing Lapangan
(……….………………………)
70
Lampiran 3
71
72
73
74
75
Lampiran 4
FORM 4
LOG BOOK 1
FORM 4
LOG BOOK 2
FORM 4
LOG BOOK 3
FORM 4
LOG BOOK 4
FORM 4
LOG BOOK 5
Lampiran 5
Lampiran 6
Lampiran 7
Lampiran 8
LEAFLET DIFTERI
86
4
Jumlah Kasus
2 Kasus
Bulan
4
Jumlah kasus
2 Kasus
0
0 - 4 th 5 - 9 th 10 - 19 th 20 - 54 th >54 th
Umur (tahun)
87