0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan96 halaman

Surveilans KLB Difteri di Puskesmas Beji

Laporan ini membahas pelaksanaan surveilans kejadian luar biasa (KLB) difteri di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok tahun 2017. Pelaksanaan surveilans meliputi penemuan kasus, pencatatan, penyelidikan epidemiologi, dan pelaporan. Terdapat 3 suspek difteri dan 2 kasus positif. Pelaksanaan surveilans masih terdapat kekurangan karena belum adanya pelatihan khusus. Perlu advokasi pelatihan surveilans ke Dinas Ke

Diunggah oleh

alvi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan96 halaman

Surveilans KLB Difteri di Puskesmas Beji

Laporan ini membahas pelaksanaan surveilans kejadian luar biasa (KLB) difteri di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok tahun 2017. Pelaksanaan surveilans meliputi penemuan kasus, pencatatan, penyelidikan epidemiologi, dan pelaporan. Terdapat 3 suspek difteri dan 2 kasus positif. Pelaksanaan surveilans masih terdapat kekurangan karena belum adanya pelatihan khusus. Perlu advokasi pelatihan surveilans ke Dinas Ke

Diunggah oleh

alvi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

GAMBARAN PELAKSANAAN SURVEILANS KEJADIAN LUAR

BIASA DIFTERI DI PUSKESMAS KECAMATAN BEJI

KOTA DEPOK TAHUN 2017

LAPORAN MAGANG

Oleh:

Fadhilah Rizky Ningtyas

NIM : 11141010000034

PEMINATAN EPIDEMIOLOGI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA

2018 M/1439 H
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
EPIDEMIOLOGI

FADHILAH RIZKY NINGTYAS, NIM : 11141010000034

Gambaran Pelaksanaan Surveilans Kejadian Luar Biasa Difteri di Puskesmas


Kecamatan Beji Kota Depok Tahun 2017

viii + 56 halaman, 8 tabel, 7 gambar, 10 lampiran

ABSTRAK

Pada tahun 2017, terjadi kejadian luar biasa (KLB) difteri di Indonesia yang
tersebar di 95 Kabupaten/Kota dari 20 provinsi, salah satunya adalah provinsi Jawa
Barat yang menempati posisi kedua dengan jumlah 123 kasus dan 13 kematian yang
tersebar di 18 Kabupaten/Kota, dimana Kota Depok merupakan salah satu wilayah
yang dinyatakan KLB. Jumlah kasus difteri yang ditemukan di Kota Depok pada KLB
tahun 2017 sebanyak 12 kasus. Dari jumlah tersebut, Puskesmas Kecamatan Beji
menyumbang sebanyak 3 suspek dan 2 di antaranya positif difteri.
Berdasarkan analisis situasi pada saat kegiatan magang, pelaksanaan surveilans KLB
difteri di Puskesmas Kecamatan Beji meliputi penemuan kasus, pencatatan kasus,
penyelidikan epidemiologi, serta pelaporan hasil penanggulangan KLB. Penemuan kasus
dilakukan secara pasif, yaitu dengan menunggu laporan adanya kasus dari dokter atau dari
Dinas Kesehatan Kota Depok. Pencatatan kasus dilakukan oleh petugas surveilans ke dalam
form W1, yaitu laporan adanya kejadian luar biasa (KLB). Kemudian petugas surveilans
melakukan penyelidikan epidemiologi sebagai upaya penanggulangan KLB. Selain itu,
penyuluhan mengenai difteri, penyebarluasan leaflet, dan Outbreak Response Immunization
(ORI) juga dilaksanakan sebagai tindakan terhadap instruksi yang diberikan oleh Dinas
Kesehatan Kota Depok.
Pada pelaksanaan surveilans KLB difteri di Puskesmas Kecamatan Beji, masih
terdapat beberapa kekurangan yang secara garis besar disebabkan oleh belum adanya
pelatihan secara khusus kepada petugas surveilans terkait penyelenggaraan surveilans KLB.
Oleh karena itu, sebaiknya Kepala Puskesmas melakukan advokasi kepada Dinas Kesehatan
Kota Depok untuk mengadakan pelatihan surveilans kepada para petugas surveilans di
tingkat puskesmas agar pelaksanaannya dapat lebih baik.

Kata Kunci: Surveilans, Kejadian Luar Biasa, Difteri


Daftar bacaan : 12 (2010 – 2017)

i
ii
iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan
Rahmat dan Karunia-Nya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan magang yang berjudul “Gambaran Pelaksanaan Surveilans Kejadian
Luar Biasa Difteri di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok Tahun 2017”
dengan baik meskipun masih banyak kekurangan di dalamnya. Penyelesaian laporan
didasarkan untuk memenuhi kewajiban sebagai penilaian tugas akhir pada Mata
Kuliah Magang Semester VIII Peminatan Epidemiologi Program Studi Kesehatan
Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama penyelesaian laporan penelitian
ini, penulis mendapat banyak bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, maka dari
itu penulis ingin berterima kasih kepada:
1. Bapak Dr. H. Arif Sumantri, SKM, [Link] sebagai Dekan Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Fajar Ariyanti, Ph.D selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Ibu Meilani Anwar, [Link], MT selaku dosen pembimbing fakultas yang
telah membimbing penulis mulai dari awal hingga akhir magang, serta
memberikan masukan dalam penulisan laporan ini.
4. Ibu dr. Intan Dewi Abraham selaku pembimbing lapangan yang telah
membimbing penulis selama magang di Puskesmas Kecamatan Beji Kota
Depok.
5. Ibu Mamah, Bidan Denis, dan Pak Sugeng yang telah memberikan ilmu serta
pengalaman kepada penulis selama magang di Puskesmas Kecamatan Beji
Kota Depok.
6. Orang tua penulis, yang senantiasa memberikan doa dan dukungan, baik
moral maupun materiil demi kelancaran penyelesaian laporan magang ini.
7. Nurizka dan Alfiana selaku teman satu tempat magang yang selalu
memberikan semangat dan dukungan, serta menemani hari-hari penulis
selama magang.
Penulis menyadari laporan magang ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun penulis harapkan demi perbaikan
selanjutnya. Demikian yang dapat penulis sampaikan. Semoga laporan magang ini
dapat dengan mudah dipahami dan bermanfaat bagi pihak yang membacanya.

Jakarta, Mei 2018

Penulis

iv
DAFTAR ISI

Abstrak ..................................................................................................................... i

Lembar Persetujuan ................................................................................................ ii

Lembar Panitia Sidang ........................................................................................... iii

Kata Pengantar ....................................................................................................... iv

Daftar Isi ................................................................................................................. v

Daftar Tabel .......................................................................................................... vii

Daftar Gambar...................................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1

1.2 Tujuan ........................................................................................................ 4

1.3 Manfaat ....................................................................................................... 5

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 7

2.1 Gambaran Umum Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok ...................... 7

2.2 Gambaran Pelaksanaan Surveilans KLB Difteri di Puskesmas

Kecamatan Beji Kota Depok..................................................................... 15

2.2.1 Registrasi dan Antropometri ............................................................... 17

2.2.2 Pemeriksaan Pasien ............................................................................. 18

2.2.3 Rekam Medik ...................................................................................... 19

2.2.4 Surveilans ............................................................................................ 21

2.2.5 Laboratorium Litbangkes Jakarta dan Dinas Kesehatan Kota

Depok .................................................................................................. 32

2.3 Kebijakan Surveilans KLB di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok.. 34

v
2.4 Kesesuaian Pelaksanaan Surveilans KLB Difteri di Puskesmas

Kecamatan Beji dengan Pedoman Nasional Kementerian Kesehatan ...... 37

BAB III SIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 51

3.1 Simpulan ................................................................................................... 51

3.2 Saran ......................................................................................................... 53

Daftar Pustaka ....................................................................................................... 55

Lampiran ............................................................................................................... 57

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Jumlah Pegawai di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok ............... 10

Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur ................................. 14

Tabel 2.3 Input Registrasi dan Antropometri di Puskesmas Kecamatan Beji ...... 17

Tabel 2.4 Input Pemeriksaan Pasien di Puskesmas Kecamatan Beji .................... 18

Tabel 2.5 Input Rekam Medik di Puskesmas Kecamatan Beji ............................. 20

Tabel 2.6 Input Surveilans KLB Difteri ............................................................... 21

Tabel 2.7 Input Pengambilan dan Pemeriksaan Spesimen Kasus KLB Difteri .... 32

Tabel 2.8 Kesesuaian Pelaksanaan Surveilans KLB Difteri di Puskesmas

Kecamatan Beji dengan Pedoman Pencegahan dan

Pengendalian Difteri Kementerian Kesehatan Tahun 2017 ................. 39

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Batas Wilayah Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok .................... 7

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Puskesmas Kecamatan Beji .............................. 11

Gambar 2.3 Kepadatan Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan

Beji Kota Depok Tahun 2015-2017 ................................................. 12

Gambar 2.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ................................. 13

Gambar 2.5 Alur Data pada Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di

Puskesmas Kecamatan Beji ............................................................. 16

Gambar 2.6 Pencatatan Kasus pada Form W1 ...................................................... 24

Gambar 2.7 Pencatatan pada Form Daftar Kasus Difteri Individu ....................... 25

viii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Difteri merupakan salah satu penyakit menular yang dapat dicegah dengan

imunisasi. Difteri disebabkan oleh adanya infeksi bakteri Corynebacterium

diphtheriae yang sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan

kematian akibat terjadinya obstruksi larings atau miokarditis akibat aktivasi

eksotoksin (IDAI, 2015). Komplikasi yang dapat ditimbulkan apabila kasus difteri

tidak ditangani dengan segera adalah masalah pernapasan, kerusakan jantung, dan

kerusakan saraf (Harrison, 2008).

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), jumlah kasus difteri di

dunia mengalami peningkatan tiap tahun, dimulai dari tahun 2012 sampai 2014.

Jumlah kasus difteri di dunia tahun 2012 sebanyak 4490 kasus dan tahun 2013

sebanyak 4680 kasus. Pada tahun berikutnya terjadi peningkatan yang signifikan,

yaitu menjadi 7321 kasus. Sementara itu, kasus difteri di Asia Tenggara pada tahun

2008 sebanyak 4398 kasus, tahun 2009 sebanyak 4019 kasus, tahun 2010 sebanyak

3750 kasus, dan tahun 2011 sebanyak 4425 kasus. Pada tahun 2010 dan 2011

Indonesia menduduki peringkat kedua setelah India dengan jumlah kasus difteri

masing-masing sebanyak 432 kasus dan 806 kasus (WHO, 2012).

Di Indonesia, jumlah kasus difteri pada tahun 2013, yaitu 778 kasus dengan

case fatality rate (CFR) sebesar 5,01%. Pada tahun 2014 dan tahun 2015 kasus

difteri di Indonesia mengalami penurunan, yaitu 396 kasus dan 252 kasus. Akan

1
2

tetapi, pada tahun 2016 terjadi peningkatan kembali menjadi 340 kasus dengan case

fatality rate (CFR) sebesar 6,5% (Profil Kesehatan Indonesia). Dari 34 provinsi di

Indonesia, provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama dengan kasus difteri

tertinggi pada tahun 2013 dan tahun 2014 dimana masing-masing berjumlah 610 dan

295 kasus. Kemudian pada tahun 2015, provinsi Sumatera Barat menempati urutan

pertama dengan jumlah kasus difteri sebanyak 110 kasus, urutan kedua berada di

Provinsi Jawa Timur dengan jumlah 67 kasus difteri, dan urutan ketiga adalah Jawa

Barat dengan jumlah 21 kasus difteri (Profil Kesehatan Indonesia).

Pada tahun 2017 terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Indonesia yang

tersebar di 95 Kabupaten/Kota dari 20 Provinsi dengan jumlah keseluruhan kurang

lebih sebanyak 622 kasus dan 32 di antaranya meninggal dunia. Dari 20 provinsi

yang dinyatakan KLB difteri, Jawa Barat merupakan provinsi kedua dengan jumlah

kasus difteri tertinggi setelah Jawa Timur, yaitu 123 kasus dengan 13 kematian yang

tersebar di 18 kabupaten/kota, dimana Kota Depok merupakan salah satu wilayah

yang dinyatakan KLB difteri.

Berdasarkan Profil Kesehatan Kota Depok tahun 2016, kasus difteri pada

tahun 2013 ditemukan sebanyak 1 kasus dan pada tahun 2014 sampai 2015 tidak

ditemukan kasus. Akan tetapi, terjadi peningkatan kasus pada tahun 2016, yaitu

sebanyak 8 kasus. Kemudian pada KLB difteri yang terjadi tahun 2017 lalu,

ditemukan 12 kasus difteri di Kota Depok (Dinkes Depok, 2017). Difteri sering kali

menjadi penyebab kematian pada anak karena mudahnya menular dan komplikasi

yang ditimbulkan dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan segera.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501 Tahun 2010, difteri merupakan

salah satu jenis penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah/KLB, sehingga
3

satu suspek difteri dalam satu wilayah sudah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa

(KLB).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 45 Tahun 2014, setiap unit

kesehatan diharuskan menyelenggarakan surveilans. Surveilans penyakit menular

termasuk ke dalam sasaran penyelenggaraan dan salah satunya terdiri atas surveilans

penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Surveilans penyakit yang dapat

dicegah dengan imunisasi mempunyai peran dalam menentukan daerah rawan atau

risiko tinggi, memantau kemajuan penanggulangan, dan memberikan rekomendasi

kegiatan penanggulangan dengan strategi pelaksanaan program imunisasi, fokus

terhadap eradikasi polio, eliminasi campak, dan surveilans difteri dan tetanus

neonatorum (Profil Dinas Kesehatan Kota Depok, 2016).

Puskesmas sendiri merupakan pelayanan kesehatan primer yang dibentuk

untuk penanggulangan masalah kesehatan berbasis operasional dengan ruang lingkup

preventif, promotif, serta kuratif. Oleh karena itu, penting bagi sebuah Puskesmas

menjalankan kegiatan surveilans. Surveilans epidemiologi diartikan sebagai kegiatan

analisis yang dilakukan secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau

masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan

dan penularan penyakit atau masalah kesehatan tersebut, agar dapat dilakukan

tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan

data, pengolahan, dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara

program kesehatan (Imari, 2011). Penyelenggaraan surveilans merupakan prasyarat

program kesehatan dan bertujuan untuk terselenggaranya informasi tentang situasi,

kecenderungan penyakit, dan faktor risikonya serta masalah kesehatan masyarakat

dan faktor-faktor yang mempengaruhinya sebagai bahan pengambil keputusan,


4

terselenggaranya kewaspadaan dini terhadap kemungkinan terjadinya KLB/wabah

dan dampaknya, terselenggaranya investigasi dan penanggulangan KLB/wabah, serta

dasar penyampaian informasi kesehatan kepada para pihak yang berkepentingan

sesuai dengan pertimbangan kesehatan (PMK No. 45 tahun 2014).

Berdasarkan hasil wawancara sebelumnya, dari 12 kasus difteri yang ada di

Kota Depok, ditemukan 3 suspek difteri dan 2 di antaranya merupakan kasus positif

difteri di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Beji tahun 2017 lalu. Adanya suspek

dan kasus positif difteri tersebut dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB)

difteri (Kemenkes, 2017). Selain itu, Puskesmas Kecamatan Beji merupakan salah

satu puskesmas di Kota Depok yang sudah menjalani penilaian akreditasi dari

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada April 2017. Maka dari itu, penulis

tertarik untuk melihat pelaksanaan surveilans kejadian luar biasa (KLB) difteri di

Puskesmas Kecamatan Beji.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Diketahuinya pelaksanaan surveilans kejadian luar biasa (KLB) difteri di

Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok tahun 2017.

1.2.2 Tujuan Khusus

1. Diketahuinya gambaran umum Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok

tahun 2017.

2. Diketahuinya gambaran pelaksanaan surveilans kejadian luar biasa (KLB)

difteri di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok tahun 2017.

3. Diketahuinya kebijakan dalam pelaksanaan surveilans kejadian luar biasa

(KLB) difteri di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok tahun 2017.


5

4. Diketahuinya kesesuaian pelaksanaan surveilans kejadian luar biasa

(KLB) difteri di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok tahun 2017

dengan Pedoman Nasional Kementerian Kesehatan.

1.3 Manfaat

1.3.1 Bagi Mahasiswa

1. Sebagai wadah untuk mendapatkan pengalaman bekerja dalam tim (team

work) dan memahami masalah kesehatan secara nyata di masyarakat

sebagai kesiapan dalam menghadapi dunia kerja.

2. Mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah

diperoleh selama kuliah.

3. Mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi diri serta

adaptasi dunia kerja.

1.3.2 Bagi Fakultas

1. Terlaksananya nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu akademik,

penelitian, dan pengabdian masyarakat.

2. Sebagai jembatan untuk menjalin kerja sama antara FKIK UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta dengan Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok

3. Meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan dengan melibatkan

tenaga terampil dari instansi terkait.

4. Sebagai sarana evaluasi kompetensi akademik.


6

1.3.3 Bagi Instansi Magang

1. Menjalin kerja sama antara institusi pendidikan, dalam hal ini FIK UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Puskesmas Kecamatan Beji Kota

Depok.

2. Memperoleh informasi yang dapat digunakan sebagai pemecahan masalah

dalam pelaksanaan surveilans KLB di puskesmas


BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Umum Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok

1) Profil Puskesmas

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Kecamatan Beji merupakan

salah satu fasilitas pelayanan kesehatan primer yang berada di bawah

koordinasi Dinas Kesehatan Kota Depok. Puskesmas Kecamatan Beji

merupakan Puskesmas Rawat Jalan dan termasuk Puskesmas yang

menyediakan pelayanan 24 jam dan PONED (Pelayanan Obstetri

Neonatal Emergensi Dasar) di antara 11 Puskesmas lainnya di Kota

Depok (Pemerintah Kota Depok, 2017). Visi yang dimiliki oleh

Puskesmas Kecamatan Beji adalah “Terwujudnya Kecamatan Beji Sehat,

Unggul, Nyaman, dan Religius dengan Layanan Kesehatan Berkualitas”.

Alamat Puskesmas yang berada di Jalan Bambon Raya No. 7B RT 001

RW 001 Kelurahan Beji Timur Kecamatan Beji Kota Depok memiliki

batas-batas wilayah sebagai berikut:

Gambar 2.1 Batas Wilayah Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok

7
8

- Batas Utara : Kelurahan Kukusan

- Batas Selatan : Kecamatan Pancoran Mas

- Batas Barat : Kelurahan Tanah Baru

- Batas Timur : Kelurahan Kemiri Muka

Puskesmas Kecamatan Beji membawahi dua Puskesmas Kelurahan,

yaitu Puskesmas Kemiri Muka dan Puskesmas Tanah Baru. Adapun

dalam kegiatannya, Puskesmas Kecamatan Beji bertanggung jawab

menyelenggarakan pembangunan kesehatan di dua wilayah kelurahan,

yaitu Kelurahan Beji dan Kelurahan Beji Timur dengan luas wilayah

kerja 2,93 km2.

Penyelenggaraan pembangunan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas

Kecamatan Beji meliputi upaya kesehatan masyarakat dan upaya

kesehatan perseorangan pada pelayanan kesehatan tingkat pertama. Jenis

pelayanan tersebut adalah sebagai berikut:

A. Upaya Kesehatan Masyarakat

 Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial meliputi Pelayanan

Promosi Kesehatan, Pelayanan Kesehatan Lingkungan, Pelayanan

KIA dan KB, dan Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian

Penyakit.

 Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan meliputi Upaya

Kesehatan Olahraga, Upaya Kesehatan Jiwa, Upaya Kesehatan

Kerja, Upaya Kesehatan Indera, Upaya Kesehatan Gigi

Masyarakat, Upaya Kesehatan Sekolah, Pelayanan Perawatan


9

Kesehatan Masyarakat (Perkesmas), Upaya Kesehatan

Tradisional, dan Upaya Kesehatan Lansia.

B. Upaya Kesehatan Perseorangan

Upaya Kesehatan Perseorangan meliputi Layanan Umum,

Layanan Bayi-Balita (MTBS), Layanan Lansia, Layanan Gigi,

Layanan KIA – KB, Layanan TB Paru, Layanan Konseling Gizi,

Layanan Konseling Sanitasi, Layanan Akupresure, Layanan VCT

HIV/AIDS, Layanan Gawat Darurat 24 Jam, Layanan Persalinan

(PONED) 24 Jam, Layanan Pemeriksaan Jemaah Calon Haji, Layanan

Kefarmasian, Laboratorium, dan Radiologi

Puskesmas Kecamatan Beji memiliki kendaraan operasional untuk

menunjang kegiatan pelayanan kesehatan di luar gedung yang terdiri dari

2 Pusling; 1 Pusling dalam kondisi kurang baik dan 1 Pusling dalam

kondisi baik, 2 ambulans siaga dalam kondisi baik, dan 3 motor; 2 motor

dalam kondisi baik dan 1 motor dalam kondisi kurang baik. Kemudian

Puskesmas Kecamatan Beji juga memiliki 1 Puskesmas Pembantu

(Pustu).

Pada tahun 2016 tenaga pelaksana di Puskesmas Kecamatan Beji

terdiri dari pegawai negeri sipil dan tenaga purnabakti sebagai berikut:
10

Tabel 2.1

Jumlah Pegawai di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok

No Jenis tenaga Jumlah


1 Kepala Puskesmas 1
2 Kepala Tata Usaha 1
3 Dokter Umum 8
4 Dokter Gigi 1
5 Apoteker 1
6 Asisten Apoteker 4
7 Perawat 10
8 Bidan 13
9 Perawat Gigi 1
10 Tenaga Gizi 1
11 Tenaga Sanitasi 1
12 Tenaga Laboratorium 4
13 Tenaga Radiologi 1
14 Administrasi dan Simpus 4
15 Supir Siaga 2
16 Keamanan/Penjaga Malam 5
17 Petugas Kebersihan 6
18 Administrasi TU 1
19 Juru Masak 1

Adapun struktur organisasi Puskesmas Kecamatan Beji tahun 2017

adalah sebagai berikut:


11

Kepala UPT Puskesmas Beji

Kepala Sub Bagian Tata Usaha

Kepegawaian Keuangan Sistem Informasi Operasional


Bendahara APBD Pendaftaran/Kebersihan
Simpus
Bendahara BOK 24 jam
P-Care Kebersihan
Bendahara BLUD PKP & Profil Keamanan

Penanggung jawab Upaya Penanggung jawab Upaya Penanggung jawab Jaringan


Kesehatan Masyakarakat Kesehatan Perseorangan, Pelayanan Puskesmas, Jejaring
Kefarmasian, Laboratorium, Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan
Promosi Kesehatan dan dan Radiologi Sistem Rujukan
UKS
Layanan Umum Puskesmas Pembantu
Kesehatan Lingkungan
Bidan Koordinator
Layanan Bayi-Balita(MTBS)
KIA-KB
Pembina Wilayah
Layanan Lansia

Gizi Ambulans 24 Jam


Layanan Gigi

Pencegahan dan
Layanan KIA-KB Jejaring Puskesmas
Pengendalian Penyakit

Perkesmas Layanan TB Paru

Layanan Konseling Gizi


Kesehatan Gigi

Layanan Konseling Sanitasi


Kesehatan Jiwa

Layanan Akupresure
Kesehatan Olahraga

Layanan VCT HIV/AIDS


Kesehatan Indera
Layanan Pemeriksaan
Kesehatan Lansia Jemaah Calon Haji

Layanan Gawat Darurat 24


Penanganan Kekerasan
terhadap anak/Perempuan
Layanan Persalinan
(PONED) 24 Jam
Pelayanan Kesehatan Peduli
Remaja (PKPR) Layanan Kefarmasian

Laboratorium
Puskesmas dengan Pelayanan
Ramah Anak (PRA)
Radiologi

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Puskesmas Kecamatan Beji


12

2) Kepadatan Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Beji

Kepadatan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Beji

mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir, yaitu sebagai berikut:

25500 25261

25000
24383
24500
Jumlah jiwa/km2

24000
23558
23500

23000

22500
2015 2016 2017

Tahun

Gambar 2.3
Kepadatan Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Beji
Kota Depok Tahun 2015-2017

Peningkatan kepadatan penduduk di wilayah kerja Puskesmas

Kecamatan Beji disebabkan terjadinya pertambahan jumlah penduduk

disetiap tahunnya, yaitu pada tahun 2015 berjumlah 69.024 jiwa, tahun

2016 berjumlah 71.440 jiwa, dan tahun 2017 berjumlah 74.015 jiwa.

Menurut Notoatmodjo (2007) dalam Izza dan Soenamatalina (2015),

penyakit yang ditularkan melalui kontak langsung pada umumnya terjadi

pada masyarakat yang hidup di wilayah dengan tingkat kepadatannya

tinggi dan adanya migrasi seumur hidup yang cukup besar antar

kabupaten/kota (BPS Provinsi Jawa Timur, 2012).


13

3) Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin

Adapun jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja

Puskesmas Kecamatan Beji adalah sebagai berikut:

37500
37000
36500
36000
Jumlah (orang)

35500

37039
36976
35000 Laki-laki

36020
34500

35420
Perempuan
34592

34000
34432

33500
33000
2015 2016 2017

Tahun

Sumber: Profil Puskesmas Kecamatan Beji 2015-2016 dan BPS Kota Depok
Gambar 2.4
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan grafik di atas, terlihat bahwa selama tiga tahun terakhir

penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Beji didominasi oleh

laki-laki. Pada dua kasus positif difteri yang ditemukan di Puskesmas

Kecamatan Beji, masing-masing berjenis kelamin 1 laki-laki dan 1

perempuan.

4) Jumlah Penduduk berdasarkan Kelompok Umur

Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur diklasifikasikan pada

kelompok umur balita (0-4 tahun), anak-anak (5-9 tahun), remaja (10-19

tahun), dewasa (20-54 tahun), dan lansia (>54 tahun). Berikut adalah
14

jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur pada tiga tahun terakhir di

wilayah Puskesmas Kecamatan Beji:

Tabel 2.2
Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur
Tahun
No. Kelompok Umur
2015 2016 2017
1 Balita (0 – 4 tahun) 6485 7096 7096
2 Anak-anak (5 – 9 tahun) 5675 6193 6193
3 Remaja (10 – 19 tahun) 10651 11722 11722
4 Dewasa (20 – 54 tahun) 38919 41681 41681
5 Lansia (>54 tahun) 7294 7323 7323

Berdasarkan analisis insidens difteri pada tahun 2017, kelompok umur

yang menjadi kasus adalah kelompok umur anak-anak dan remaja. Kasus

difteri yang pertama adalah seorang anak laki-laki berumur 9 tahun dan

kasus difteri kedua adalah seorang anak perempuan berumur 15 tahun.

Menurut jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas

Indonesia (2006), kasus difteri lebih sering menyerang anak berumur 2-10

tahun. Sementara untuk bayi berumur di bawah 6 bulan jarang ditemukan

karena terdapat kekebalan yang diperoleh dari plasenta ibunya. Kasus

difteri juga jarang terjadi pada orang dewasa yang berumur di atas 15

tahun. Sedangkan, pada penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2012)

faktor umur tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian

difteri.
15

2.2 Gambaran Pelaksanaan Surveilans Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri

di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok

Difteri merupakan salah satu jenis penyakit menular tertentu yang dapat

menimbulkan wabah atau KLB sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri

Kesehatan Nomor 1501 Tahun 2010. Kejadian luar biasa (KLB) merupakan

timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna

secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan

keadaan yang dapat mengarah pada terjadinya wabah (Kemenkes, 2010). Suatu

wilayah dapat dikatakan KLB difteri jika ditemukan minimal 1 suspek difteri

(Kemenkes, 2017). Pada tahun 2017, wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Beji

dinyatakan mengalami KLB difteri karena ditemukan 3 suspek difteri dan 2 di

antaranya positif difteri setelah dilakukan uji laboratorium. Adapun pelaksanaan

surveilans kejadian luar biasa (KLB) difteri di Puskesmas Kecamatan Beji adalah

sebagai berikut:
16

Registrasi Antropometri Pemeriksaan


Rekam Medik
Pasien

Surveilans

Kepala
RSUD
Puskesmas

Pasien dari Luar


Puskesmas

Litbangkes Jakarta
(Uji Laboratorium) Dinas Kesehatan
Kota Depok Keterangan:
: Alur Data
: Umpan balik
: Tidak terkait
langsung dengan
surveilans

Gambar 2.5 Alur Data pada Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Puskesmas Kecamatan Beji
17

2.2.1 Registrasi dan Antropometri

 Input

Komponen masukan (input) dalam kegiatan registrasi dan

antropometri di Puskesmas Kecamatan Beji adalah sebagai berikut:

Tabel 2.3
Input Registrasi dan Antropometri di Puskesmas Kecamatan Beji
Input Pelaksanaan
Man Petugas registrasi dan perawat
Material Registrasi: Kartu identitas pasien, kartu berobat.
Antropometri: thermometer, sphygmomanometer,
mikrotois, timbangan.
Machine Perangkat komputer, jaringan internet, akun SIMPUS
Method Pendataan identitas pasien di bagian registrasi untuk
pengambilan berkas rekam medik, kemudian dilanjutkan
dengan pengukuran antropometri

 Proses

Pasien yang datang ke puskesmas terlebih dahulu mengambil nomor

antrian untuk melakukan registrasi di loket pendaftaran. Petugas bagian

registrasi akan mendata identitas pasien yang meliputi nama, umur, alamat,

Nomor KTP, Nomor Induk Kependudukan (NIK), serta mendata jenis

pembayaran yang digunakan, baik berupa BPJS atau non BPJS berdasarkan

kartu identitas dan kartu berobat pasien. Pendataan pasien dilakukan

menggunakan perangkat komputer yang terhubung dengan jaringan internet

ke dalam Sistem Informasi Puskesmas (SIMPUS). Setelah melakukan

registrasi, pasien akan dipanggil untuk pengukuran antropometri yang terdiri

dari pengukuran suhu tubuh dengan menggunakan thermometer, pengukuran


18

tekanan darah dan denyut nadi dengan alat sphygmomanometer digital,

pengukuran tinggi badan dengan mikrotois, dan pengukuran berat badan

dengan timbangan. Hasil pengukuran tersebut dicatat oleh perawat ke dalam

rekam medik pasien untuk diserahkan kepada dokter yang akan memeriksa

pasien.

 Output

Berkas rekam medik yang berisi data pengukuran antropometri untuk

diserahkan kepada dokter yang akan memeriksa pasien.

2.2.2 Pemeriksaan Pasien

 Input

Komponen masukan (input) dalam kegiatan pemeriksaan pasien di

Puskesmas Kecamatan Beji adalah sebagai berikut:

Tabel 2.4
Input Pemeriksaan Pasien di Puskesmas Kecamatan Beji
Input Pelaksanaan
Man Dokter
Material Berkas rekam medik, stetoskop, senter medis, ranjang
pasien, alat tulis.
Method Dokter akan menanyakan keluhan dan memeriksa gejala
yang dialami pasien untuk diagnosis penyakit

 Proses

Pada saat pemeriksaan, dokter menanyakan keluhan utama dan

keluhan tambahan serta lamanya keluhan tersebut dirasakan oleh pasien.

Setelah itu, dokter melakukan pemeriksaan fisik dengan memeriksa tanda dan

gejala yang dialami oleh pasien. Untuk kasus difteri, keluhan dan gejala yang
19

biasanya dialami oleh pasien adalah demam, nyeri menelan, dan nyeri

tenggorok. Jika diketahui adanya keluhan dan gejala tersebut, dokter akan

memeriksa bagian tenggorok pasien dengan menggunakan senter medis,

apakah terjadi pembengkakkan tonsil dan adanya selaput (pseudomembran)

putih keabu-abuan yang tidak mudah lepas. Apabila ditemukan tanda-tanda

tersebut yang mengarah kepada kasus difteri, dokter akan berdiskusi dengan

rekan sejawat untuk meminta second opinion. Ketika pasien dicurigai

merupakan suspek difteri, dokter segera memanggil petugas surveilans secara

langsung agar menuju ke ruang pemeriksaan atau poli untuk memberitahu

dan melihat adanya pasien suspek difteri sehingga dapat dilakukan

penatalaksanaan kasus. Setelah itu, dokter akan menuliskan diagnosis di

dalam berkas rekam medik berupa peritonsil abses dengan differential

diagnosis yaitu difteri.

 Output

Berkas rekam medik yang berisi suatu diagnosis penyakit yang

dialami oleh pasien.

2.2.3 Rekam Medik

 Input

Komponen masukan (input) dalam rekam medik di Puskesmas

Kecamatan Beji adalah sebagai berikut:


20

Tabel 2.5
Input Rekam Medik di Puskesmas Kecamatan Beji
Input Pelaksanaan
Man Perawat
Material Berkas rekam medik
Machine Perangkat komputer, jaringan internet, akun SIMPUS
Method Perawat akan menginput data yang ada di dalam berkas
rekam medik ke dalam SIMPUS

 Proses

Setelah dokter memeriksa pasien dan mencatat diagnosis penyakit di

dalam rekam medik, perawat akan mengambil berkas rekam medik dari ruang

pemeriksaan atau poli dan menginputnya ke dalam SIMPUS secara online.

Data-data dalam berkas rekam medik yang diinput ke dalam SIMPUS, yaitu

nama dokter yang memeriksa, nama pasien, umur, keluhan dan gejala, hasil

pengukuran antropometri berupa suhu tubuh, tekanan darah, denyut nadi,

tinggi badan, berat badan, serta diagnosis penyakit difteri berdasarkan kode

ICD. Setelah data-data tersebut berhasil tercatat dalam SIMPUS, berkas

rekam medik disimpan kembali ke dalam ruang penyimpanan rekam medik.

 Output

Informasi pasien dan diagnosis penyakit difteri yang akan digunakan

sebagai database bagi petugas surveilans untuk melakukan tindakan

penatalaksanaan dan penanggulangan kasus.


21

2.2.4 Surveilans

 Input

Komponen masukan (input) di bagian surveilans pada KLB difteri di

Puskesmas Kecamatan Beji adalah sebagai berikut:

Tabel 2.6
Input Surveilans KLB Difteri
Input Pelaksanaan
Man Petugas surveilans, Petugas Kesehatan Lingkungan,
Petugas Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM)
Material Penemuan kasus: Informasi dari dokter, Berkas rekam
medik.
Penanggulangan KLB: Hasil uji laboratorium suspek
difteri, Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan
sarung tangan, media transport Amies atau slicagel
packed media, cotton swab, dan cool box, form daftar
kasus difteri individu, serta alat tulis.
Umpan balik: Instruksi dari Dinas Kesehatan Kota Depok
Machine Telepon selular pribadi petugas surveilans, Kamera untuk
dokumentasi, Perangkat komputer, Software Ms. Word,
printer.
Method Informasi adanya suspek difteri segera dilaporkan oleh
petugas surveilans kepada Kepala Puskesmas serta
petugas surveilans mengirimkan dokumentasi tanda dan
gejala pasien kepada RSUD untuk meminta pertimbangan
rujukan. Pasien yang dirujuk ke RSUD akan diambil
spesimen untuk diuji laboratorium. Berdasarkan hasil uji
laboratorium tersebut, petugas surveilans akan melakukan
penyelidikan epidemiologi. Kemudian hasil penyelidikan
epidemiologi akan dilaporkan kepada Dinas Kesehatan
Kota Depok.
22

 Proses

A. Penemuan Kasus

1) Informasi dari Dokter

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter, ketika

ditemukan pasien yang dicurigai suspek difteri, dokter akan

memanggil petugas surveilans ke ruang pemeriksaan atau poli untuk

memberitahu dan melihat secara langsung pasien tersebut, serta

melakukan verifikasi informasi, salah satunya dengan melihat gejala

suspek difteri. Kemudian petugas surveilans segera menemui Kepala

Puskesmas untuk melaporkan adanya pasien terduga difteri. Pelaporan

kepada Kepala Puskesmas dilakukan tanpa menunggu dokter

menyelesaikan pencatatan pada berkas rekam medik.

Setelah mendapatkan laporan, Kepala Puskesmas menghubungi

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) melalui telepon untuk meminta

pertimbangan rujukan terhadap pasien terduga difteri. Petugas

surveilans mengambil dokumentasi berupa foto tanda dan gejala

pasien tersebut yang diambil dari bagian samping kanan, kiri dan

depan untuk tanda berupa bullneck, serta foto tenggorok untuk tanda

berupa pseudomembran putih keabu-abuan menggunakan kamera

handphone, kemudian mengirimkannya kepada pihak RSUD untuk

dijadikan bahan pertimbangan rujukan.

Apabila pihak RSUD memutuskan bahwa pasien tidak perlu

dirujuk, maka dokter akan menuliskan resep obat, yaitu eritromisin

yang harus diminum sebanyak 4 kali dalam sehari dan pasien akan
23

dipantau selama 3 hari untuk melihat perkembangan gejala difteri

yang dialami pasien menghilang atau tidak. Jika gejala difteri pada

pasien menghilang, maka pasien tersebut bukan merupakan suspek

difteri. Akan tetapi, jika pemberian profilaksis tidak menghilangkan

gejala difteri, maka pasien merupakan suspek difteri dan akan dirujuk

ke Rumah Sakit. Sementara jika sejak awal pihak RSUD

menyarankan untuk merujuk pasien berdasarkan dokumentasi gejala

yang dikirimkan oleh petugas surveilans, pihak puskesmas akan

mengantar pasien dengan menggunakan ambulans dan pasien akan

didampingi oleh perawat. Pasien suspek difteri, perawat yang

mendampingi, dan supir ambulans yang mengantar mengenakan

masker N95 untuk mencegah penularan.

Di samping itu, petugas surveilans segera menghubungi pihak

Dinas Kesehatan Kota Depok melalui telepon untuk melaporkan

adanya suspek difteri dan kronologi penemuan kasus yang ditemukan

di Puskesmas Kecamatan Beji.

2) Berkas Rekam Medik

Selain informasi yang diperoleh dari dokter secara langsung,

petugas surveilans juga akan melihat informasi mengenai pasien

suspek difteri dari berkas rekam medik yang telah diinput ke dalam

SIMPUS. Informasi yang dimanfaatkan oleh petugas surveilans

adalah identitas pasien dan diagnosis penyakit untuk database dalam

melakukan tindakan penatalaksanaan dan penanggulangan kasus.


24

B. Penanggulangan KLB Difteri

1) Informasi Dinas Kesehatan Kota Depok dan Pelaksanaan

Penyelidikan Epidemiologi

Setelah hasil uji laboratorium suspek difteri diperoleh dan

menunjukkan hasil positif, Dinas Kesehatan Kota Depok akan

menghubungi petugas surveilans melalui telepon dan

menginstruksikan petugas surveilans untuk segera melakukan

penyelidikan epidemiologi. Informasi mengenai kasus difteri yang

telah dikonfirmasi positif akan dicatat oleh petugas surveilans ke

dalam form W1 sebagai berikut:

Gambar 2.6
Pencatatan Kasus pada Form W1

Penyelidikan epidemiologi kasus difteri di wilayah Puskesmas

Kecamatan Beji dilakukan oleh petugas surveilans, petugas kesehatan

lingkungan, dan petugas Ahli Teknologi Laboratorium Medik

(ATLM). Penyelidikan epidemiologi dimulai dengan mendatangi


25

tempat tinggal pasien. Petugas surveilans dan petugas kesehatan

lingkungan menanyakan status imunisasi penderita, kapan penderita

mengalami gejala, dan mobilitas penderita sebelum sakit. Informasi

mengenai penderita dicatat oleh petugas surveilans ke dalam form

daftar kasus difteri individu seperti berikut:

Gambar 2.7
Pencatatan PE pada Form Daftar Kasus Difteri Individu

Kemudian ditanyakan pula apakah dalam keluarga tersebut ada

yang mengalami sakit selain penderita yang dinyatakan positif dan

mendata jumlah anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut.

Selain itu, petugas surveilans juga menanyakan tentang status

imunisasi difteri dari masing-masing anggota keluarga. Hasil

wawancara tersebut tidak dicatat secara khusus, tetapi hanya

informasi lisan yang diingat oleh petugas surveilans. Tidak adanya

pencatatan khusus mengenai status imunisasi dan riwayat penyakit

dari anggota keluarga menjadi kelemahan dalam pengumpulan data

saat penyelidikan epidemiologi. Hal ini disebabkan tidak adanya

kepastian daya ingat seseorang akan bertahan dalam jangka waktu

yang lama. Akan lebih baik jika petugas surveilans mencatat secara
26

tertulis dalam lembar khusus mengenai informasi apa saja yang

diperoleh dari hasil wawancara dengan keluarga penderita. Hasil

tersebut akan bermanfaat untuk analisis kasus KLB difteri yang lebih

maksimal.

Langkah selanjutnya, petugas ATLM akan mengambil sampel

swab tenggorok dari orang yang melakukan kontak erat dengan

penderita atau anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah

dengan penderita. Pada saat pengambilan swab, petugas ATLM

menggunakan masker dan sarung tangan, serta media transport

Amies atau slicagel packed media, cotton swab, dan cool box sebagai

wadah penyimpanan. Sebelum pengambilan swab, petugas surveilans

terlebih dahulu memberikan label pada media Amies dan swab yang

terdiri atas nama dan umur dari spesimen yang akan diambil.

Kemudian petugas ATLM mengambil usap tenggorok dari kontak

erat. Pengusapan pada lokasi spesimen dilakukan dengan cotton swab

secara cepat pada daerah faring dan tonsil kanan kiri. Setelah itu,

petugas ATLM segera memasukkan cotton swab ke dalam media

Amies sampai terendam media agar dan ditutup rapat. Setelah

dipastikan telah tertutup rapat, media Amies dimasukkan ke dalam

cool box untuk menjaga kualitas spesimen yang diambil. Selanjutnya

spesimen dari anggota keluarga penderita difteri diserahkan kepada

Dinas Kesehatan Kota Depok yang telah menunggu di Puskesmas dan

akan dibawa oleh pihak Dinas Kesehatan Kota Depok ke


27

Laboratorium Litbangkes Jakarta sebelum 24 jam untuk dilakukan uji

laboratorium.

Satu hari setelah penyelidikan epidemiologi, petugas surveilans

akan datang kembali ke rumah penderita untuk memberikan

profilaksis berupa eritromisin kepada seluruh anggota keluarga dan

tetangga yang tempat tinggalnya sangat berdekatan dengan rumah

penderita, yaitu sebanyak 5 rumah terdekat. Eritromisin yang

diberikan harus diminum sebanyak 4 kali dalam sehari selama 5 hari.

Pemberian profilaksis bertujuan sebagai upaya pencegahan terhadap

kontak erat agar tidak terjadi penularan kasus difteri. Petugas

surveilans juga berpesan kepada setiap anggota keluarga untuk saling

mengingatkan meminum obat tersebut, namun tidak ada pengawasan

yang dilakukan oleh petugas surveilans itu sendiri. Hal ini disebabkan

tingkat kesibukan petugas surveilans di dalam gedung puskesmas

yang cukup tinggi sehingga tidak berkesempatan melakukan

pengawasan secara langsung terhadap kontak erat kasus dalam

meminum obat eritromisin. Tidak adanya pengawasan oleh petugas

surveilans dapat mengakibatkan peluang kontak erat lupa untuk

meminum obat dan menurunkan efektivitas obat tersebut untuk

mencegah penularan. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh

petugas surveilans untuk memastikan kontak erat tidak melewatkan

waktu minum obat adalah dengan menunjuk pengawas minum obat

(PMO) selain kontak erat penderita, seperti kader yang tempat

tinggalnya tidak terlalu jauh dengan rumah penderita. Pengawas


28

minum obat (PMO) akan mengingatkan dan mengawasi kontak erat

secara langsung saat meminum obat.

Selain mendatangi tempat tinggal dan tetangga penderita,

penyelidikan epidemiologi juga dilakukan ke sekolah penderita untuk

memperoleh data yang diperlukan dalam proses analisis. Petugas

surveilans mendata jumlah siswa dan guru di sekolah tersebut,

termasuk siswa yang duduk di sebelah penderita. Dari data tersebut,

petugas surveilans akan menanyakan apakah di antara mereka ada

yang mengalami sakit atau gejala yang mengarah pada difteri. Data

yang diperoleh oleh petugas surveilans tidak dilakukan pencatatan

khusus. Hal ini mengakibatkan kemungkinan petugas surveilans akan

lupa dengan informasi yang diperoleh dari sekolah tersebut.

Sebaiknya, informasi yang diperoleh saat penyelidikan epidemiologi

dicatat untuk bahan masukan dalam proses analisis. Ketika melakukan

penyelidikan epidemiologi di sekolah, petugas surveilans tidak

mengambil sampel spesimen dari teman maupun guru yang

melakukan kontak dengan penderita. Keputusan petugas surveilans

untuk tidak mengambil sampel spesimen atas dasar situasi di lapangan

yang dikhawatirkan akan menimbulkan kepanikan orang tua siswa,

sementara pengambilan sampel spesimen dari teman sekolah perlu

dipertimbangkan untuk mendeteksi adanya penularan atau tidak di

lingkungan sekolah. Untuk mengatasi hambatan tersebut, petugas

surveilans sebelumnya dapat memberikan sosialisasi kepada siswa,

para guru, dan para orang tua siswa mengenai difteri dan pentingnya
29

pengambilan sampel spesimen untuk mengetahui penularan kasus

sedini mungkin. Upaya tersebut dapat menimbulkan pemahaman,

terutama pada orang tua siswa jika pengambilan spesimen dilakukan

terhadap anaknya.

Di samping kegiatan penyelidikan epidemiologi dengan

mendatangi kontak erat penderita, petugas surveilans juga mencari

informasi mengenai cakupan imunisasi di sekitar wilayah tempat

tinggal kasus yang diperoleh dari pemegang program imunisasi

Puskesmas Kecamatan Beji. Data cakupan imunisasi tersebut

ditanyakan secara langsung kepada pemegang program imunisasi

sebagai informasi untuk mengidentifikasi kelompok risiko tinggi yang

dapat terkena difteri.

2) Pelaporan Penyelidikan Epidemiologi

Laporan penyelidikan epidemiologi KLB difteri dibuat secara

tertulis oleh petugas surveilans 2 hari setelah PE dilakukan untuk

diberikan kepada Dinas Kesehatan Kota Depok. Penulisan laporan

penyelidikan epidemiologi disusun dalam bentuk narasi dan memuat

informasi tentang kasus difteri berdasarkan jenis kelamin, usia, tempat

tinggal, status imunisasi, tanggal mulai sakit, tanggal berobat, serta

pelaksanaan penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan KLB

yang telah dilakukan berdasarkan data dalam form daftar kasus difteri

individu dan form W1. Laporan tersebut akan ditinjau terlebih dahulu

oleh Kepala Puskesmas sebelum ditandatangani. Apabila laporan

telah disetujui oleh Kepala Puskesmas, maka petugas surveilans akan


30

menyerahkan laporan tersebut kepada Dinas Kesehatan Kota Depok

dalam bentuk hardcopy. Namun, jika Kepala Puskesmas tidak dapat

ditemui, petugas surveilans akan menunggunya untuk melakukan

tinjauan terhadap laporan penyelidikan epidemiologi. Hal tersebut

akan berdampak pada keterlambatan pelaporan kepada Dinas

Kesehatan Kota Depok. Salah satu alternatif solusi yang dapat

dilakukan adalah petugas surveilans mengirimkan laporan tersebut

dalam bentuk softcopy melalui e-mail kepada Kepala Puskesmas agar

segera dilakukan peninjauan terhadap laporan.

Sementara itu, pencatatan yang dilakukan dalam form W1 dan

form daftar kasus difteri individu tidak diserahkan kepada Dinas

Kesehatan Kota Depok, hal ini disebabkan Dinas Kesehatan Kota

Depok telah memiliki data tersebut yang diperoleh pada saat

penyelidikan epidemiologi sehingga kedua form tersebut tetap

disimpan oleh petugas surveilans sebagai arsip jika sewaktu-waktu

dibutuhkan.

3) Umpan Balik

Laporan hasil penyelidikan epidemiologi dari pihak puskesmas

akan menjadi informasi bagi Dinas Kesehatan Kota Depok mengenai

gambaran epidemiologi kasus di wilayah Puskesmas Kecamatan Beji.

Umpan balik yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kota Depok

kepada puskesmas adalah instruksi untuk melakukan penyuluhan

kepada masyarakat di sekitar tempat tinggal kasus mengenai difteri,

imunisasi, dan Outbreak Response Immunization (ORI) serta


31

pemberian leaflet yang berisi informasi mengenai penyebab difteri

dan cara penularannya, gejala dan akibat yang ditimbulkan, serta cara

pencegahan difteri. Petugas surveilans menerima instruksi dari Dinas

Kesehatan Kota Depok dan segera melaksanakan instruksi tersebut.

Petugas surveilans dibantu oleh bidan melakukan penyuluhan ke

posyandu, majelis ta’lim, sekolah, dan di dalam puskesmas kepada

pasien yang datang. Pada saat penyuluhan, petugas surveilans juga

menyebarluaskan leaflet yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kota

Depok. Adanya penyuluhan dan pemberian leaflet tersebut akan

memberikan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat mengenai

difteri. Kemudian diadakan pula Outbreak Response Immunization

(ORI) di seluruh posyandu dan sekolah untuk anak usia 1 sampai 19

tahun di wilayah Puskesmas Kecamatan Beji sebagai bentuk upaya

preventif agar tidak adanya peningkatan jumlah kasus difteri.

Pelaksanaan ORI dilakukan sebanyak 3 putaran dengan jarak antara

dosis pertama-kedua adalah 1 bulan dan antara dosis kedua-ketiga

adalah 6 bulan.

 Output

Dari koordinasi yang dilakukan oleh dokter, petugas surveilans,

Kepala Puskesmas dan pihak RSUD, petugas surveilans akan memperoleh

data pasien suspek difteri untuk tindakan selanjutnya.

Kemudian dari kegiatan penyelidikan epidemiologi, petugas

surveilans memperoleh informasi cakupan imunisasi, status imunisasi kontak

erat penderita, serta spesimen swab tenggorok dari anggota keluarga yang
32

tinggal serumah dengan penderita untuk dilakukan uji laboratorium sebagai

upaya penemuan kasus lain dan mengetahui kepastian terjadinya penularan

agar dapat ditangani dengan segera dan tidak memperluas penyebaran kasus

difteri. Informasi yang diperoleh dari penyelidikan epidemiologi disusun

menjadi laporan KLB difteri di wilayah Puskesmas Kecamatan Beji untuk

diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kota Depok.

Berdasarkan laporan tersebut, umpan balik yang diterima oleh petugas

surveilans dari Dinas Kesehatan Kota Depok dilaksanakan dalam bentuk

kegiatan penyuluhan, penyebarluasan leaflet, dan Outbreak Response

Immunization (ORI).

2.2.5 Laboratorium Litbangkes Jakarta dan Dinas Kesehatan Kota Depok

 Input

Komponen masukan (input) dalam kegiatan pengambilan dan

pemeriksaan spesimen kasus KLB difteri di Puskesmas Kecamatan Beji

adalah sebagai berikut:

Tabel 2.7
Input Pengambilan dan Pemeriksaan Spesimen Kasus KLB Difteri
Input Pelaksanaan
Man Petugas P2P Dinas Kesehatan Kota Depok dan Petugas
ATLM Laboratorium Litbangkes Jakarta
Material Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan sarung
tangan, media transport Amies atau slicagel packed
media, cotton swab, cool box, alat tulis, serta seperangkat
alat di Laboratorium Litbangkes Jakarta
Method Dinas Kesehatan Kota Depok akan mengambil spesimen
dari kasus dan mengirimkannya ke Laboratorium
33

Litbangkes Jakarta

 Proses

Dinas Kesehatan Kota Depok yang telah menerima laporan adanya

suspek difteri yang ditemukan dan dirujuk ke RSUD akan mendatangi pasien

tersebut untuk dilakukan pengambilan spesimen oleh petugas yang telah

terlatih. Spesimen yang diambil dari suspek difteri berasal dari dua lokasi,

yaitu usap hidung dan usap tenggorok. Alat yang digunakan untuk

pengambilan spesimen tersebut antara lain Alat Pelindung Diri (APD) berupa

sarung tangan dan masker bedah, media transport Amies atau slicagel packed

media, cotton swab, spatula/penekan lidah, cairan desinfektan, wadah 33lastic

infeksius, dan peralatan tulis. Selanjutnya, spesimen suspek difteri yang telah

dikemas dikirim ke Laboratorium Pusat Penyakit Infeksi – Pusat Biomedis

dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbangkes, Kemenkes, Jakarta

dalam kurun waktu kurang dari 24 jam sejak pengambilan spesimen.

Laboratorium Litbangkes yang telah menerima spesimen suspek

difteri akan mengkultur bakteri tersebut selama kurang lebih dua minggu

untuk mengeluarkan hasil uji laboratorium. Periode untuk mengkultur bakteri

tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat karena harus

melalui proses pemberian makan terhadap bakteri sampai bakteri tersebut

tumbuh dan dapat dilakukan uji laboratorium. Periode waktu selama dua

minggu dinilai cukup untuk memperoleh hasil yang valid mengenai bakteri

yang terdapat di dalam spesimen, apakah bakteri tersebut positif

Corynebacterium diphteriae atau tidak.


34

Setelah dua minggu sejak pengiriman spesimen, Dinas Kesehatan

Kota Depok akan menghubungi pihak Laboratorium Litbangkes Jakarta

untuk mengkonfirmasi hasil uji spesimen. Setelah memperoleh hasil uji

spesimen, baik positif maupun negatif Corynebacterium diphteriae, pihak

Dinas Kesehatan Kota Depok segera menghubungi petugas surveilans

Puskesmas Kecamatan Beji. Apabila hasil uji spesimen positif, petugas

surveilans diinstruksikan oleh Dinas Kesehatan Kota Depok untuk segera

melakukan penyelidikan epidemiologi ke tempat tinggal pasien difteri dan

lingkungan sekitar tempat pasien melakukan aktivitas sehari-hari, seperti

sekolah dan tempat mengaji.

 Output

Hasil uji laboratorium spesimen suspek difteri apakah positif atau

negatif Corynebacterium diphteriae. Hasil tersebut akan menentukan

perlunya dilakukan penyelidikan epidemiologi atau tidak.

2.3 Kebijakan Surveilans KLB di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok

Dalam menyelenggarakan kegiatan surveilans yang dilakukan secara terus

menerus dan menjadi sistem dalam memantau perkembangan penyakit yang ada di

masyarakat, Puskesmas Kecamatan Beji memiliki Standar Operasional Prosedur

(SOP) yang berpedoman pada Buku Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular,

Keracunan Makanan, Bencana, dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Tahun

2002. Tujuan pembuatan SOP surveilans adalah sebagai pedoman petugas surveilans

dalam pengambilan data sesuai dengan SK 445/P12/KPTS/I/2017 Kepala Puskesmas


35

Kecamatan Beji tentang Surveilans. Adapun prosedur pelaksanaan surveilans yang

dimuat dalam SOP tersebut adalah sebagai berikut:

1. Petugas mengumpulkan data dari poli umum, kebidanan, pustu, dan

posyandu.

2. Petugas meregistrasi semua kasus penyakit.

3. Petugas merekap dan mencatat ke dalam format W2 maupun Laporan

bulanan

4. Petugas menganalisa hasil pencatatan untuk mengambil suatu tindakan jika

ada kelurahan yang bermasalah.

5. Petugas melaporkan hasil W2 ke Dinas Kesehatan.

6. Petugas melapor dan meminta tanda tangan ke pimpinan.

7. Setelah ditanda tangani, di kirim ke Dinas Kesehatan Kota Depok.

Selain itu, untuk penyakit menular yang berpotensi dapat menimbulkan

Kejadian Luar Biasa (KLB), seperti difteri, Puskesmas Kecamatan Beji juga

memiliki kebijakan khusus terkait SOP pada saat terjadi KLB yang bertujuan:

- Sebagai pedoman petugas dalam pelaksanaan/penanganan penanggulangan

KLB

- Agar KLB tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat

- Menurunkan jumlah kasus pada setiap KLB

- Menurunkan jumlah kematian pada setiap KLB

- Memendekkan periode KLB

- Mencegah penyebarluasan wilayah KLB.

Adapun langkah-langkah atau prosedur saat terjadi KLB adalah sebagai berikut:

1. Penanganan penderita/korban.
36

2. Pencarian kasus baru/lain.

3. Pengendalian dan pengurangan sumber infeksi.

4. Pengurangan kerentanan penjamu.

5. Penyuluhan/sosialisasi.

6. Penanganan penderita:

- Berikan pengobatan/perawatan penderita sesuai dengan gejala atau

penyakit yang diderita.

- Ambil spesimen darah/urin/swab tenggorok/hidung pada wabah penyakit

dan sampel makanan, minuman, atau muntahan korban pada KLB

keracunan makanan minuman.

- Cari kasus baru/kasus lain dengan mendata kontak erat penderita yang

mempunyai gejala klinis sama dengan penderita.

7. Pengendalian dan pengurangan sumber infeksi, seperti:

a. Larvasidasi

b. Pengasapan/fogging

c. Chlorinasi

8. Pengurangan kerentanan penjamu, seperti:

a. Vaksinasi

b. Pengobatan/profilaksis

c. Isolasi orang-orang atau komunitas tak terpapar

9. Penjagaan jarak sosial (meliburkan sekolah, membatasi kumpulan massa),

seperti: Penyuluhan/sosialisasi dan Sosialisasi/pelatihan terkait program

tertentu pada tenaga-tenaga kesehatan dijajaran Puskesmas, misalnya

Sosialisasi MTBS.
37

2.4 Kesesuaian Pelaksanaan Surveilans KLB Difteri di Puskesmas

Kecamatan Beji dengan Pedoman Nasional Kementerian Kesehatan

Berdasarkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Difteri Tahun 2017

yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan, kebijakan dalam penanggulangan

KLB difteri terdiri dari:

1. Satu suspek difteri dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan harus

dilakukan penyelidikan dan penanggulangan sesegera mungkin untuk

menghentikan penularan dan mencegah komplikasi dan kematian.

2. Dilakukan tatalaksana kasus di Rumah Sakit dengan menerapkan prinsip

kewaspadaan standar, seperti menjaga kebersihan tangan, penempatan kasus

di ruang isolasi, dan mengurangi kontak kasus dengan orang lain.

3. Setiap suspek difteri dilakukan pemeriksaan laboratorium.

4. Setiap suspek difteri dilakukan ORI (respon pemberian imunisasi pada KLB)

sesegera mungkin pada lokasi kejadian dengan sasaran sesuai kajuan

epidemiologi.

5. Laporan kasus difteri dilakukan dalam 24 jam secara berjenjang ke Ditjen

P2P cq. Subdit Surveilans.

Adapun langkah-langkah dalam penanggulangan difteri adalah sebagai berikut:

1. Setiap suspek Difteri dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE) dan mencari

kasus tambahan dan kontak.

2. Dilakukan rujukan segera kasus Difteri ke Rumah Sakit untuk mendapatkan

pengobatan dan perawatan.

3. Pemberian profilaksis pada kontak dan karier.


38

4. Melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) sesegera mungkin di

lokasi yang terjadi KLB \Difteri dengan sasaran sesuai dengan kajian

epidemiologi sebanyak tiga putaran dengan interval waktu 0-1-6 bulan tanpa

memandang status imunisasi.

5. Meningkatkan dan mempertahankan cakupan imunisasi rutin Difteri (baik

imunisasi dasar maupun lanjutan) agar mencapai minimal 95%.

6. Edukasi mengenai difteri, berupa penegakkan diagnosis, tatalaksana, dan

pencegahan kepada tenaga kesehatan dan pemerintah daerah, serta

bekerjasama dengan media masa untuk melakukan edukasi pada masyarakat

mengenai difteri.

7. Edukasi kepada masyarakat untuk segera ke pelayanan kesehatan bila ada

tanda dan gejala nyeri tenggorok, serta menggunakan masker termasuk di

tempat umum bila mengalami tanda dan gejala infeksi saluran pernafasan.

Di samping langkah-langkah penanggulangan difteri di atas, Kementerian

Kesehatan telah merumuskan kegiatan surveilans epidemiologi pada saat terjadi KLB

difteri secara terperinci. Kesesuaian pelaksanaan surveilans KLB difteri di

Puskesmas Kecamatan Beji dengan Pedoman Nasional Pencegahan dan

Pengendalian Difteri yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan dapat dilihat pada

tabel di bawah ini:


39

Tabel 2.8
Kesesuaian Pelaksanaan Surveilans KLB Difteri di Puskesmas Kecamatan Beji
dengan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Difteri Kementerian Kesehatan Tahun 2017
No. Pedoman Nasional Pelaksanaan di Puskesmas Kesesuaian
1 Penyelidikan Epidemiologi Penyelidikan Epidemiologi
a) Setiap laporan tentang adanya kasus yang datang Pada saat penyelidikan epidemiologi, petugas  Sudah Sesuai
dari masyarakat, petugas kesehatan, Rumah Sakit, surveilans pertama kali akan memverifikasi gejala dan Poin a, b, c, d, dan f
Puskesmas bahkan media, harus secepatnya tanda yang terlihat pada pasien terduga difteri dan sudah sesuai dengan
ditindaklanjuti dengan melakukan verifikasi memberikan dokumentasi gejala dan tanda tersebut pedoman.
informasi. kepada pihak RSUD untuk memperoleh konfirmasi
b) Verifikasi informasi diantaranya dengan perlunya rujukan terhadap pasien.
menanyakan kembali informasi yang lebih lengkap Kemudian petugas surveilans mengumpulkan data  Belum Sesuai
ke petugas surveilans tentang gejala, jumlah kasus, mengenai umur, jenis kelamin, alamat, riwayat penyakit, - Poin e: Pada
waktu sakit dan tempatnya dan lain-lain. kontak dan risiko penularan ke dalam form daftar kasus pelaksanaan di
c) Dilakukan kunjungan kepada kasus difteri untuk difteri individu. Akan tetapi, data pada kolom Nomor Puskesmas Kecamatan
pengumpulan data riwayat penyakit, faktor risiko, Epidemiologi tidak terisi sesuai dengan ketentuan tata Beji, petugas surveilans
kontak dan risiko penularan dan penyebaran cara pemberian nomor epidemiologi pada kasus difteri. yang melakukan
dengan menggunakan format daftar kasus difteri Setelah itu petugas surveilans akan mengisi form W1 penyelidikan
individu (lampiran 1). yang merupakan laporan kejadian luar biasa. Data yang epidemiologi belum
d) Setelah adanya kepastian bahwa informasi tersebut dilengkapi di dalam form W1 adalah waktu kejadian mendapatkan pelatihan
akurat terjadi KLB penyakit difteri, secepatnya (tanggal, bulan, tahun), RT/RW, desa/kelurahan, khusus.
40

form W1 dilengkapi dengan daftar kasus difteri kecamatan, kabupaten/kota, jumlah kasus yang - Poin g: Pada daftar
individu dilaporkan secara berjenjang ke tingkat ditemukan, gejala-gejala, serta tindakan yang telah kasus difteri individu,
yang lebih tinggi. diambil. Pada pelaksanaannya, petugas surveilans tidak petugas surveilans
e) Petugas yang melaksanakan penyelidikan melengkapi tanggal kejadian kasus difteri sehingga data tidak menuliskan
epidemiologi adalah petugas yang terlatih (dari yang dilaporkan pada form W1 kurang lengkap. nomor epidemiologi
Pustu, Puskesmas, Dinkes Kab/Kota, Dinkes Pada saat terjadi KLB difteri di wilayah Puskesmas sesuai dengan
Propinsi, dan Kementerian Kesehatan) Kecamatan Beji, petugas surveilans belum memperoleh pedoman.
f) Petugas yang melakukan penyelidikan kompetensi khusus mengenai penyelidikan epidemiologi - Poin h: Hasil
epidemiologi harus menggunakan APD, yaitu KLB sehingga pengetahuan yang dimiliki oleh petugas wawancara yang
minimal masker bedah, penutup kepala dan sarung surveilans hanya berdasarkan pembelajaran secara diperoleh petugas
tangan. mandiri dan mengikuti prosedur yang diberikan. Petugas surveilans belum
g) Setiap kasus Difteri yang ditemukan, diberi nomor surveilans dan tim yang melakukan penyelidikan meliputi seluruh
epidemiologi. Tatacara pemberian nomor epid pada epidemiologi menggunakan alat pelindung diri (APD), komponen yang ada
kasus Difteri, sebagai berikut: yaitu masker dan sarung tangan sebagai tindakan dalam pedoman, seperti
- Huruf D : Kode Kasus Difteri preventif untuk mencegah penularan dari kasus maupun peta lokasi KLB dan
- Digit ke 1-2 : Kode Propinsi kontak erat kasus. orang yang kontak
- Digit ke 3-4 : Kode Kab/ Kota Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi, dengan kasus
- Digit ke 5-6 : Kode Tahun Kejadian informasi yang diperoleh petugas surveilans berupa berdasarkan golongan
- Digit ke 7-9 : Kode Penderita (dimulai dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan umur.
nomor 001 pada setiap tahun) penderita, status imunisasi, waktu pertama kali gejala
Contoh : D-132917001 (artinya : Kasus pertama pada penderita muncul, dan siapa saja yang berpeluang
41

di tahun 2017 dari Kabupaten Bangkalan, telah kontak dengan penderita. Pada saat penyelidikan
Provinsi Jawa Timur ) epidemiologi, belum diketahui sumber kasus berawal dan
h) Catatan Hasil wawancara diupayakan agar bisa arah penyebaran penyakit difteri yang ada di wilayah
diketahui: tersebut. Peta lokasi KLB juga belum dibuat sehingga
- Indeks kasus atau paling tidak dari mana prediksi untuk kemungkinan terjadinya penyebaran kasus
kemungkinan kasus berawal. difteri kurang maksimal
- Kasus-kasus tambahan yang ada di sekitarnya.
- Cara penyebaran kasus.
- Waktu penyebaran kasus.
- Arah penyebaran penyakit.
- Siapa, dimana, berapa orang yang kemungkinan
telah kontak (hitung pergolongan umur). Untuk
mempermudah kemungkinan penyebaran kasus,
sebaiknya dibuat peta lokasi KLB dan
kemungkinan mobilitas penduduknya
- Persiapan pemberian profilaksis dan imunisasi
(ORI).
42

2 Data Record Review Data Record Review


Pada waktu penyelidikan epidemiologi KLB, Data sekunder yang digunakan oleh petugas  Sudah Sesuai
diperlukan data sekunder untuk mendukung analisis surveilans saat melakukan PE antara lain jumlah Poin a, d, e, f, dan g
dan kesimpulan hasil penyelidikan. Data sekunder yang penduduk berisiko di sekitar kasus, status imunisasi sudah sesuai dengan
diperlukan antara lain: individu dan jumlah petugas imunisasi. Puskesmas pedoman.
a) Jumlah penduduk berisiko sekitar kasus, kalau Kecamatan Beji memiliki data cakupan imunisasi setiap
kasus dimaksud anak sekolah maka data murid dan tahunnya, akan tetapi data tersebut harus dimusnahkan
guru sekolah perlu diketahui. dalam periode 2 tahun. Adapun data tersebut dapat dilihat  Belum Sesuai
b) Cakupan imunisasi DPT3, DT dan Td di wilayah kembali pada tabel master yang tersimpan di Dinas - Poin b: Cakupan
KLB, paling tidak 5 tahun terakhir. Kesehatan Kota Depok. Dalam pelaksanaannya, petugas imunisasi yang
c) Peta wilayah untuk mempermudah melihat surveilans tidak mengumpulkan informasi dari tabel diperoleh hanya 3
penyebaran kasus. master yang berada di Dinas Kesehatan Kota Depok, tahun terakhir.
d) Kondisi cold chain dan permasalahannya. melainkan hanya dari pemegang program imunisasi, - Poin c: Peta wilayah
e) Manajemen pengelolaan vaksin dan yaitu data cakupan imunisasi selama 3 tahun terakhir. tidak digunakan oleh
permasalahannya. Alternatif lain dalam pengumpulan informasi petugas surveilans pada
f) Jumlah petugas imunisasi, Bidan Desa setempat, cakupan imunisasi pada kasus yang telah berusia waktu melakukan PE.
Posyandu, dll dan permasalahannya. sekolah dapat dilihat pada data Bulan Imunisasi - Poin h: Petugas
g) Data kasus Difteri, kasus serupa Diphteri (ISPA) surveilans tidak
Anak Sekolah (BIAS) yang ada di puskesmas.
di Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). melihat data kematian
Jumlah penduduk berisiko di sekitar kasus tidak
h) Data kematian di STP dan PD3I Terintegrasi. di STP dan PD3I
dicatat secara menyeluruh, melainkan hanya dicatat pada
Terintegrasi.
saat melakukan penyelidikan epidemiologi. Petugas
43

surveilans mendatangi keluarga, tetangga, dan sekolah


penderita.
Peta wilayah juga tidak digunakan pada saat
penyelidikan epidemiologi sehingga titik tepat lokasi
kasus ditemukan belum diletakkan untuk melihat
penyebarannya.
Kemudian untuk data kondisi cold chain dan
manajemen pengelolaan vaksin sudah diperoleh karena
bertepatan dengan adanya pemeriksaan dari pihak
Kemenkes setelah ditemukan kasus difteri di wilayah
Puskesmas Kecamatan Beji. Sementara untuk data kasus
difteri, kasus serupa difteri (ISPA), petugas surveilans
melihatnya dari SIMPUS. Sedangka data kematian di
STP belum diperoleh petugas surveilans untuk
mendukung analisis dan hasil penyelidikan secara
maksimal.
3 Identifikasi Faktor Risiko Identifikasi Faktor Risiko
a) Faktor risiko tertular difteri antara lain status Petugas surveilans mengidentifikasi faktor risiko  Sudah Sesuai
imunisasi dan intensitas kontak dengan kasus dan pasien dapat tertular difteri dengan menanyakan status Poin a dan b sudah
karier. imunisasinya yang dibuktikan dengan Kartu Menuju sesuai dengan
b) Faktor risiko terjadinya KLB, yaitu cakupan Sehat (KMS). Selain itu intensitasi kontak dengan kasus pedoman.
44

imunisasi yang rendah dan endemisitas terhadap dan karier dinilai juga tidak ada. Hal ini disebabkan pada
difteri. dua tahun terakhir, wilayah Puskesmas Kecamatan Beji
tidak ditemukan kasus difteri serta pasien tidak  Belum Sesuai
melakukan perjalanan ke luar kota yang memungkinkan -
terjadinya penularan.
Faktor risiko dari sisi cakupan imunisasi juga telah
diidentifikasi oleh petugas surveilans. Dalam 3 tahun
terakhir, cakupan imunisasi difteri di wilayah Puskesmas
Kecamatan Beji, yaitu:
2014 2015 2016
DPT-HB-HiB DPT-HB-HiB DPT-HB-HiB
1: 99,2% 1: 99,1% 1: 96,9%
2: 98,4% 2: 98,8% 2: 97,1%
3: 94,5% 3: 98,5% 3: 97,4%
Persentase cakupan imunisasi difteri di atas selalu
mencapai target nasional, yaitu 95%, kecuali pada
imunisasi DPT ketiga tahun 2014 yang tidak
mencapai 95%.
Kemudian Kota Depok, khususnya Kelurahan Beji
dan Beji Timur bukan merupakan daerah endemis
penyakit difteri.
45

4 Identifikasi Populasi (Kelompok) Risiko Tinggi. Identifikasi Populasi (Kelompok) Risiko Tinggi.
a) Populasi Risiko tinggi adalah populasi yang tidak Petugas surveilans tidak mengumpulkan informasi  Sudah Sesuai
mempunyai kekebalan herediter maupun kekebalan mengenai populasi yang tidak mempunyai kekebalan Poin b
buatan. herediter maupun kekebalan buatan.
b) Kelompok masyarakat yang berdomisili di wilayah Akan tetapi, petugas surveilans mengumpulkan
dengan cakupan imunisasi rendah (<90%). informasi mengenai cakupan imunisasi di masing-masing  Belum Sesuai
wilayah Puskesmas Kecamatan Beji dan tidak ada Poin a: Petugas
cakupan imunisasi yang berada di bawah 90%. surveilans belum
melaksanakannya.
5 Pengambilan Spesimen Pengambilan Spesimen
a) Spesimen pertama pada kasus Difteri diambil dari Pengambilan spesimen pada kasus difteri dilakukan  Sudah Sesuai
dua lokasi yaitu usap hidung dan usap tenggorok, di RSUD oleh petugas dari Dinas Kesehatan Kota Depok. Poin b, c, dan e sudah
demikian juga dengan kontak erat yang dicurigai Spesimen yang diambil berasal dari dua lokasi, yaitu sesuai dengan
menjadi karier. usap hidung dan usap tenggorok. Sedangkan pada kontak pedoman.
b) Pengambilan spesimen dilakukan sebelum sasaran erat kasus, pengambilan spesimen dilakukan pada saat
tersebut mendapatkan profilaksis dengan penyelidikan epidemiologi terhadap anggota keluarga
Eritromisin. yang tinggal satu rumah dengan kasus. Pengambilan  Belum Sesuai
c) Pengambilan spesimen dilakukan untuk konfirmasi spesimen kontak erat kasus dilakukan oleh petugas - Poin a: Pada
kasus dan mengetahui kepastian terjadinya ATLM Puskesmas Kecamatan Beji dan hanya berasal pelaksanaan, spesimen
penularan/penyebaran. dari satu lokasi, yaitu usap tenggorok. Pengambilan dari kontak erat hanya
d) Spesimen diambil secukupnya. Keterwakilan spesimen dari kasus maupun kontak erat dilakukan diambil dari satu
46

kelompok dalam pengambilan spesimen perlu sebelum pemberian profilaksis. lokasi, yaitu usap
dipertimbangkan. Misal, KLB Diphteri pada anak Spesimen dari kasus dan kontak erat dikirim ke tenggorok.
TK (usia 6 th). Spesimen yang diambil adalah Laboratorium Litbangkes Jakarta untuk mendapatkan - Poin d: Spesimen
seluruh kontak serumah (keluarga), beberapa konfirmasi apakah spesimen tersebut positif mengandung hanya berasal dari
kontak bermain (tetangga), beberapa kontak Corynebacterium diphteriae. Pada spesimen kontak erat, kontak serumah,
sekolah (TK), beberapa kontak TPA (pengajian), hasil uji laboratorium akan menunjukkan adanya sedangkan kontak
dll. penularan kasus atau tidak. bermain, kontak
e) Pada saat pengambilan spesimen perlu diperhatikan Spesimen yang diambil oleh petugas puskesmas pada sekolah, dan kontak
APD merupakan perlengkapan utama TGC dalam saat penyelidikan epidemiologi hanya berasal dari TPA tidak diambil.
melaksanakan penyelidikan epidemiologi penyakit anggota keluarga, sedangkan teman sekolah dan teman - Poin f: Petugas ATLM
yang menular khususnya Difteri. APD yang mengaji yang berpeluang kontak dengan penderita tidak hanya menggunakan
digunakan adalah masker bedah, hand sanitasi, diambil spesimen. Hal tersebut dapat meningkatkan masker bedah dan
sarung tangan. kemungkinan adanya karier difteri yang tidak terdeteksi sarung tangan saat
f) Khusus untuk petugas laboratorium yang dan dapat menjadi sumber penularan untuk kasus mengambil spesimen
mengambil spesimen, APD : masker bedah, baju berikutnya. kontak erat.
pelindung, sarung tangan, kaca mata pelindung, Petugas ATLM yang mengambil spesimen hanya
pelindung kepala, hand sanitasi. menggunakan APD berupa masker dan sarung tangan.
Hal tersebut dinilai cukup untuk melindungi diri dari
penularan difteri yang ada di lingkungan tempat tinggal
penderita.
47

6 Identifikasi dan Tatalaksana Kontak Identifikasi dan Tatalaksana Kontak


a) Siapapun yang kontak erat dengan kasus, dalam 7 Petugas surveilans akan mendatangi orang-orang di  Sudah Sesuai
hari terakhir dianggap berisiko tertular. sekitar kasus yang berpeluang melakukan kontak erat Poin a, b, f, dan g
b) Kontak erat penderita dan karier meliputi : dengan kasus, yaitu anggota keluarga serumah, tetangga, sudah sesuai dengan
 Anggota keluarga serumah teman di sekolah, dan teman mengaji. Petugas surveilans pedoman.
 Teman, kerabat, pengasuh yang secara teratur akan melihat kondisi kontak erat tersebut apakah mereka
mengunjungi rumah menunjukkan gejala difteri. Status imunisasi dari masing-
 Kontak cium / seksual masing kontak erat juga ditanyakan.  Belum Sesuai
 Teman di sekolah, teman les, teman mengaji, Penatalaksanaan terhadap kontak erat dilakukan - Poin c: Pengawasan
teman sekerja dengan pemberian profilaksis. Akan tetapi, petugas terhadap kontak erat

 Petugas kesehatan di lapangan dan di RS surveilans memberikan profilaksis kepada kontak erat tidak dilakukan setiap

c) Semua kontak erat harus diperiksa adanya gejala hanya untuk 5 hari, sedangkan anjuran dalam pedoman hari selama 7 hari.

difteri serta diawasi setiap hari selama 7 hari dari selama 7 hari. Hal ini disebabkan karena petugas belum - Poin d: Status

tanggal terakhir kontak dengan kasus. mengetahui sebelumnya. imunisasi kontak hanya

d) Status imunisasi kontak ditanyakan dan dicatat. Oleh karena dosis eritromisin yang harus diminum ditanyakan secara lisan

e) Profilaksis dilakukan antibiotika oleh kontak erat adalah 4 kali dalam sehari, maka petugas
dengan tanpa adanya

Erytromisin (etyl suksinat) dengan dosis 50 surveilans berpesan kepada setiap anggota keluarga pencatatan khusus oleh

mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali pemberian untuk saling mengingatkan meminum obat. petugas surveilans.

selama 7 hari. - Poin e: Pemberian

f) Tunjuk pengawas minum obat (PMO) selama eritromisin hanya

periode pemberian tersebut (orang tua, kader, diberikan untuk 5 hari.


48

bidan, tokoh masyarakat)


g) Bila kontak yang positif (karier) dan setelah
diberikan prophilaksis selama 7 hari kemudian
diperiksa laboratorium kembali ternyata masih
positif maka pemberian prophilaksis dilanjutkan
kembali selama 7 hari. Jika masih positif maka
dilakukan test resistensi dengan mengganti jenis
antibiotika yang sensitif.

7 Tatalaksana pada Karier Tatalaksana pada Karier


Langkah-langkah berikut harus dilakukan: Kegiatan tatalaksana pada karier tidak dilakukan  Sudah Sesuai
a) Karier harus menghindari kontak dekat dengan karena hasil uji laboratorium dari spesimen kontak erat -
orang yang tidak mendapat imunisasi/ imunisasi menunjukkan hasil negatif.
tidak lengkap, menghindari penularan droplet  Belum Sesuai
dengan menggunakan masker bedah. -
b) Catat kontak dekat dari karier dan beri penyuluhan
cara mencegah penularan. Pengobatan pencegahan
bagi orang kontak dengan karier dapat dilakukan
namun dengan prioritas lebih rendah daripada
untuk yang kontak dengan penderita.
c) Pemeriksaan dengan kultur diulangi setelah 1
49

minggu selesai pemberian Erytromisin 40-50


mg/kgBB/hari setiap 6 jam selama 7-10 hari maks
1 gram/hari. Bila orang tersebut tetap positive
setelah pengobatan selama 1 minggu maka harus
dilakukan tambahan pengobatan ulang selama 1
minggu lagi dan seterusnya diambil swab untuk
kultur ulang.

8 Penilaian cakupan imunisasi secara cepat (Rapid Penilaian cakupan imunisasi secara cepat (Rapid
Convenience Assessment) Convenience Assessment)  Sudah Sesuai
a) Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi Status imunisasi orang di sekitar kasus difteri Poin a sudah sesuai
status imunisasi balita sekitar kasus, apakah ditanyakan pada saat penyelidikan epidemiologi oleh dengan pedoman.
mereka menjadi kelompok rentan atau bukan. petugas surveilans dan dibuktikan oleh buku KIA dari
b) Melakukan kunjungan ke minimal 20 rumah balita di sekitar kasus.
disekitar kasus yang memiliki sasaran Balita untuk Rumah yang dikunjungi oleh petugas surveilans pada  Belum Sesuai
ditanya riwayat imunisasi DPT dan alasannya saat penyelidikan epidemiologi tidak mencapai 20 rumah, Poin b: Rumah yang
apabila belum lengkap yaitu hanya 5 rumah terdekat dari rumah penderita. dikunjungi oleh
petugas surveilans
tidak mencapai 20
rumah di sekitar kasus.
50

9 Pelaporan Pelaporan
Pelaporan dalam penanggulangan KLB, antara lain : Ketika kasus ditemukan, petugas surveilans segera  Sudah Sesuai
a) Laporan W1 memberitahu kepada Kepala Puskesmas dan Dinas Poin c sudah sesuai
Merupakan Laporan cepat <24 jam, dapat Kesehatan Kota Depok. Laporan tersebut dilakukan dengan pedoman.
didahului dengan melaporkan langsung secara melalui telepon dan SMS. Informasi yang disampaikan
berjenjang dengan telepon/ SMS/ WA dan tetap meliputi jenis kelamin, usia, dan gejala yang dialami  Belum Sesuai
harus dilanjutkan dengan mengisi dan oleh penderita. Pengisian form W1 dilakukan setelah - Poin a: Petugas
mengirimkan form W1. hasil uji laboratorium suspek difteri menunjukkan hasil surveilans sudah
b) Laporan Penanggulangan Sementara KLB. positif. Akan tetapi, petugas surveilans tidak mengisi form W1,
c) Laporan lengkap penanggulangan KLB mengirimkan form W1 kepada Dinas Kesehatan Kota namun tidak
Depok. Hal ini disebabkan pihak Dinas Kesehatan Kota mengirimkan form W1
Depok sudah memiliki data tersebut sehingga form W1 kepada Dinas
disimpan oleh petugas surveilans untuk dijadikan arsip. Kesehatan Kota Depok.
Kemudian laporan penanggulangan sementara KLB - Poin b: Petugas
tidak dibuat oleh petugas surveilans. Namun petugas surveilans tidak
surveilans membuat laporan lengkap penanggulangan membuat laporan
KLB setelah melakukan PE, yang dibuat dalam bentuk tersebut karena tidak
narasi sesuai dengan instruksi Dinas Kesehatan Kota ada instruksi dari Dinas
Depok. Kesehatan Kota Depok.
BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan

1. Gambaran umum Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok

a) Puskesmas Kecamatan Beji menyelenggarakan pembangunan

kesehatan di dua wilayah kelurahan, yaitu Kelurahan Beji dan

Kelurahan Beji Timur.

b) Kepadatan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Beji

mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir.

c) Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Beji didominasi

oleh laki-laki.

d) Semua kelompok umur pada tahun 2016 mengalami peningkatan dari

tahun sebelumnya, sementara pada tahun 2017 jumlah semua

kelompok umur tidak mengalami perubahan.

2. Gambaran pelaksanaan surveilans kejadian luar biasa (KLB) difteri di

Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok

a) Pada tahap registrasi dan antropometri, petugas registrasi mendata

identitas pasien sesuai dengan informasi yang dibutuhkan dalam

SIMPUS dan perawat melakukan pengukuran antropometri dengan

menggunakan alat-alat yang sesuai dengan fungsinya untuk

memperoleh data antropometri

51
52

b) Pada tahap pemeriksaan pasien, dokter melakukan pemeriksaan dan

hasil diagnosis penyakit dicatat dalam berkas rekam medik. Penemuan

pasien terduga difteri segera diberitahu kepada petugas surveilans.

c) Pada tahap rekam medik, perawat menginput data yang ada dalam

berkas rekam medik ke dalam SIMPUS.

d) Pada tahap surveilans, informasi dari dokter dan berkas rekam medik

diverifikasi oleh petugas surveilans untuk ditindaklanjuti. Petugas

surveilans segera melapor kepada Kepala Puskesmas dan Dinas

Kesehatan Kota Depok.

e) Pada tahap penyelidikan epidemiologi KLB difteri, petugas surveilans

melakukan identifikasi terhadap kelompok berisiko di sekitar kasus

dan pengambilan spesimen kontak erat kasus untuk mengetahui

adanya penularan kasus.

f) Pada tahap pelaporan penyelidikan epidemiologi KLB difteri, petugas

surveilans mengisi form W1 dan daftar kasus individu difteri, namun

tidak mengirimkannya kepada Dinas Kesehatan Kota Depok. Laporan

yang diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kota Depok berupa narasi

yang berisi penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan KLB

difteri secara lengkap.

3. Kebijakan dalam pelaksanaan surveilans kejadian luar biasa (KLB) difteri

di Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok

Puskesmas Kecamatan Beji telah memiliki Standar Operasional

Prosedur (SOP) dalam pelaksanaan penanggulangan Kejadian Luar Biasa


53

(KLB), akan tetapi kebijakan mengenai pencatatan dan pelaporan data

ketika terjadi KLB belum dimiliki oleh Puskesmas.

4. Kesesuaian pelaksanaan surveilans Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di

Puskesmas Kecamatan Beji Kota Depok dengan Pedoman Pencegahan

dan Pengendalian Difteri Kementerian Kesehatan, yaitu beberapa poin

sudah sesuai dan masih terdapat beberapa poin yang belum sesuai.

Ketidaksesuaian pelaksanaan surveilans KLB dengan pedoman nasional

secara umum disebabkan belum adanya pelatihan khusus mengenai

penanggulangan KLB difteri kepada petugas surveilans.

3.2 Saran

1. Sebaiknya Kepala Puskesmas Kecamatan Beji melakukan advokasi

kepada Dinas Kesehatan Kota Depok untuk mengadakan pelatihan terkait

penyelenggaraan surveilans KLB kepada para petugas surveilans di

tingkat puskesmas. Hal ini disebabkan latar belakang pendidikan petugas

surveilans bukan pada bidang epidemiologi atau kesehatan masyarakat

yang menjadi dasar kegiatan surveilans. Oleh karena itu, pelatihan terkait

penyelenggaraan surveilans KLB diperlukan sehingga petugas surveilans

akan memiliki kompetensi dan keterampilan mengenai pelaksanaan

surveilans KLB yang lebih mumpuni.

2. Sebaiknya Kepala Puskesmas Kecamatan Beji membuat kebijakan terkait

pencatatan, pengolahan, dan pelaporan surveilans yang lebih spesifik.

Kebijakan berupa Standar Operasional Prosedur (SOP) mengenai


54

surveilans yang berisi pengumpulan data sampai dengan pelaporan pada

format W2 dan laporan bulanan sudah tersedia, namun untuk pencatatan

sampai dengan pelaporan pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB) belum

tercantum dalam SOP tersebut. Kebijakan tersebut diperlukan sebagai

pedoman bagi petugas surveilans untuk melaksanakan kegiatan

pencatatan, pengolahan, dan pelaporan KLB sehingga analisis dan

kesimpulan mengenai KLB yang terjadi di wilayah Puskesmas

Kecamatan Beji dapat lebih optimal.

3. Sebaiknya petugas surveilans dapat melakukan pencatatan pada kegiatan

surveilans KLB lebih lengkap dan lebih teliti di dalam form W1 dan form

daftar kasus difteri individu pada saat penyeledikan epidemiologi sesuai

dengan petunjuk pengisian, seperti tanggal penemuan kasus, nomor

epidemiologi, alamat, status imunisasi, tanggal pengambilan spesimen,

serta riwayat kontak erat sehingga data yang diperoleh dapat diolah dan

dianalisis dengan lebih maksimal.

4. Sebaiknya petugas surveilans dapat memetakan kasus KLB difteri

berdasarkan wilayah RT dan RW untuk analisis penyebaran kasus

sehingga dapat dilakukan tindakan preventif pada sasaran yang tepat,

serta untuk melihat kecenderungan penyebaran kasus jika terjadi KLB

selanjutnya.
55

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, Nancy Dian dkk. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Difteri.


Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2017.

Dinas Kesehatan Kota Depok. Profil Kesehatan Kota Depok Tahun 2016. Depok:
Dinas Kesehatan Kota Depok, 2017.

Imari, Sholah. Surveilans Epidemiologi Prinsip, Aplikasi, Manajemen


Penyelenggaraan dan Evaluasi Sistem Surveilans. FETP: Kementerian
Kesehatan RI, 2011.

Izza, Nailul dan Soenamatalina. Analisis Data Spasial Penyakit Difteri di Provinsi
Jawa Timur Tahun 2010 dan 2011. Surabaya: Badan Litbang Kesehatan,
2015.

Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta:


Kementerian Kesehatan RI, 2014.

Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. Jakarta:


Kementerian Kesehatan RI, 2015

Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. Jakarta:


Kementerian Kesehatan RI, 2016.

Lestari, Kusuma Scorpia. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Difteri


di Kabupaten Sidoarjo. Tesis S2 Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Indonesia, 2012.

Pemerintah Kota Depok. Tingkatkan Pelayanan Kesehatan, Puskesmas 24 Jam


Bertambah. Diakses dari [Link]
depok/tingkatkan-pelayanan-kesehatan-puskesmas-24-jam-bertambah pada 6
Februari 2018 pukul 9.37 WIB, 2017.
56

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1501/MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang
Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI, 2010.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2014 tentang


Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI,
2014.

Santoso, Hari dkk. Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar
Biasa Penyakit Menular dan Keracunan Pangan (Pedoman Epidemiologi
Penyakit). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2011.
57

LAMPIRAN
58

Lampiran 1
59
60
61
62

Lampiran 2

FORM 2
LOG BOOK KEGIATAN HARIAN

Nama Mahasiswa : Fadhilah Rizky Ningtyas


NIM : 11141010000034

Rencana Realisasi Keterangan jika rencana


No. tidak dapat
Hari/tanggal Kegiatan Hari/tanggal Kegiatan direalisasikan
1 Senin, 5-02-2018  Memperkenalkan diri kepada Senin, 5-02-2018  Memperkenalkan diri kepada Kepala Puskesmas tidak
Kepala Puskesmas dan Pembimbing Lapangan. berada di tempat
Pembimbing Lapangan.  Menjabarkan isi buku pedoman
 Menjabarkan isi buku pedoman magang dan menyerahkan
magang kepada Pembimbing proposal magang kepada
Lapangan dan menyerahkan Pembimbing Lapangan
proposal magang.

2 Selasa, 6-02-2018  Mempelajari profil puskesmas Selasa, 6-02-2018 Mempelajari profil puskesmas Pemegang program
 Mempelajari sistem surveilans di surveilans belum bisa
Puskesmas Kec. Beji ditemui

3 Rabu, 7-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Rabu, 7-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Pemegang program
puskesmas. puskesmas imunisasi belum bisa
 Wawancara dengan pemegang ditemui
program imunisasi.
63

4 Kamis, 8-02-2018 Mempelajari laporan STP Kamis, 8-02-2018 Menemui pemegang program Pemegang program
imunisasi surveilans belum bisa
ditemui
5 Jumat, 9-02-2018 Input data W1 dan W2 difteri tahun Jumat, 9-02-2018  Wawancara dengan pemegang Data W2 tidak tercatat
2015 sampai 2017 program surveilans di form, namun
 Merekap data W1 difteri yang dilaporkan melalui SMS
tersedia ke SKDR Pusat sehingga
mahasiswa belum bisa
mengaksesnya
6 Sabtu, 10-02-2018 Analisis data STP khusus difteri Sabtu, 10-02-2018  Wawancara dengan pemegang Data STP belum bisa
program imunisasi diakses
 Merekap cakupan imunisasi
tahun 2014 sampai 2017

7 Senin, 12-02-2018 Wawancara dengan pemegang Senin, 12-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Pemegang program
program surveilans terkait puskesmas surveilans belum bisa
kebijakan surveilans di Puskesmas ditemui
Beji, Depok
8 Selasa, 13-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Selasa, 13-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Pemegang program
perekapan data data surveilans menginput data rekam medik ke surveilans belum bisa
difteri Januari sampai Februari 2018 SIMPUS ditemui
9 Rabu, 14-02-2018 Wawancara dengan pemegang Rabu, 14-02-2018 Berpartisipasi dalam kegiatan Pemegang program
program surveilans terkait input puskesmas ke posyandu surveilans belum bisa
surveilans difteri di Puskesmas Beji, ditemui
Depok
10 Kamis, 15-02-2018 Bimbingan dengan pembimbing Kamis, 15-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Pembimbing lapangan
lapangan untuk mendapatkan saran puskesmas ke posyandu tidak berada di
dan arahan  Merekap data W2 bulan Januari- puskesmas
Juni 2017 dari SMS ke Form W2
64

11 Sabtu, 17-02-2018 Wawancara dengan pemegang Sabtu, 17-02-2018 Merekap data W2 bulan Juli-
program surveilans terkait alur Desember 2017
pelaksanaan surveilans difteri di
Puskesmas Beji, Depok
12 Senin, 19-02-2018 Melakukan analisis data surveilans Senin, 19-02-2018  Menyicil laporan magang Pemegang program
difteri berdasarkan orang (usia dan  Mengolah data W2 surveilans sedang Dinas
jenis kelamin)  Membuat laporan kegiatan Luar sampai dengan hari
harian. Jumat
13 Selasa, 20-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Selasa, 20-02-2018  Mengolah data W2 tahun 2017
puskesmas  Menyicil laporan magang
 Melakukan rencana komunikasi
ke-2
14 Rabu, 21-02-2018 Menginput data surveilans difteri Rabu, 21-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan
puskesmas ORI difteri di SDN Beji Timur 3
 Membuat laporan kegiatan
harian.
15 Kamis, 22-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Kamis, 22-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan
puskesmas ORI difteri di SMK Farmasi dan
 Analisis data surveilans Pariwisata Harapan Massa
 Membuat laporan kegiatan
harian.
16 Jumat, 23-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Jumat, 23-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan
puskesmas ORI difteri di SMPN 5 Depok
 Melakukan rencana komunikasi  Membuat laporan kegiatan
ke-3 harian.

17 Sabtu, 24-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Sabtu, 24-02-2018  Merekap dan mengolah data W2 Tidak ada kegiatan turun
puskesmas tahun 2016 lapangan dari pemegang
 Pengumpulan data surveilans  Membuat laporan kegiatan program surveilans.
65

difteri berdasarkan wilayah harian.


RT/RW
18 Senin, 26-02-2018 Analisis data difteri berdasarkan Senin, 26-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan
karakteristik tempat ORI difteri di SMP Harapan
Massa
 Merekap data cakupan ORI diferi
di SMP Harapan Massa
 Wawancara dengan pemegang
program surveilans terkait
kebijakan, input, dan alur
pelaksanaan surveilans difteri di
Puskesmas Beji
 Melaksanakan komunikasi ke-1
 Menganalisis data difteri
berdasarkan karakteristik tempat
berdasarkan form investigasi
epidemiologi
 Membuat laporan kegiatan
harian.
19 Selasa, 27-02-2018 Wawancara dengan pemegang Selasa, 27-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan
program surveilans terkait ORI difteri di SDN Beji 5
hambatan dalam pelaksanaan  Merekap data cakupan ORI
program surveilans difteri di difteri di SDN Beji 5
Puskesmas Beji  Wawancara dengan pemegang
program terkait hambatan
pelaksaan surveilans difteri di
Puskesmas Beji
 Bertemu dengan pembimbing
lapangan untuk pemantauan
mingguan ke-3
66

 Membuat laporan kegiatan


harian.
20 Rabu, 28-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Rabu, 28-02-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan
puskesmas ORI difteri di SMP
 Melaksanakan rencana Muhammadiyah
komunikasi ke-4  Membuat catatan wawancara
dengan pemegang program
surveilans
 Melaksanakan rencana
komunikasi ke-2
 Menyicil laporan magang
 Membuat laporan kegiatan
harian.
21 Kamis, 01-03-2018 Bimbingan laporan dengan Kamis, 01-03-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Pembimbing lapangan
pembimbing lapangan ORI difteri di SMKF Sari Farma tidak masuk karena sakit
 Menyicil laporan magang
 Membuat laporan kegiatan
harian.
22 Jumat, 02-03-2018 Pengumpulan data dan persiapan Jumat, 02-03-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan
laporan ORI difteri di MI Muhammadiyah
 Mengumpulkan data proyeksi
penduduk di wilayah kerja
Puskesmas Beji
 Membuat laporan kegiatan
harian.
23 Sabtu, 03-03-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Sabtu, 03-03-2018  Melengkapi proyeksi penduduk
puskesmas di wilayah kerja Puskesmas Beji
 Pengumpulan data untuk tahun 2017 yang belum
melengkapi laporan diperoleh
67

 Menyusun saran untuk rencana


komunikasi selanjutnya
 Menyicil laporan magang
 Membuat laporan kegiatan
harian.

24 Senin, 5-03-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Senin, 5-03-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Pemegang program
puskesmas puskesmas ke posyandu surveilans belum bisa
 Pengumpulan data untuk  Membuat laporan kegiatan ditemui
melengkapi laporan harian

25 Selasa, 6-03-2018 Melakukan rencana komunikasi ke- Selasa, 6-03-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan
5 ORI difteri di TK Indria
 Melakukan rencana komunikasi
ke-3
 Membuat laporan kegiatan
harian

26 Rabu, 7-03-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Rabu, 7-03-2018  Wawancara dengan penanggung
puskesmas jawab layanan laboratorium
 Pengumpulan data untuk untuk menanyakan pelaksanaan
melengkapi laporan pengambilan spesimen kasus
difteri
 Membuat catatan hasil
wawancara
 Membuat laporan kegiatan
harian
68

27 Kamis, 8-03-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Kamis, 8-03-2018  Melakukan konfirmasi data
puskesmas penduduk terkait adanya
 Pengumpulan data untuk perbedaan data kepada staf
melengkapi laporan bagian Tata Usaha
 Menyusun saran untuk rencana
komunikasi selanjutnya
 Menyicil laporan magang
 Membuat laporan kegiatan
harian.

28 Jumat, 9-03-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Jumat, 9-03-2018  Wawancara dengan pemegang
puskesmas program surveilans untuk
 Pengumpulan data untuk melengkapi data
melengkapi laporan  Melaksanakan rencana
komunikasi ke-4
 Membuat laporan kegiatan
harian

29 Sabtu, 10-03-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Sabtu, 10-03-2018  Mengumpulkan bukti fisik yang
puskesmas digunakan dalam pelaksanaan
 Pengumpulan data untuk surveilans
melengkapi laporan  Membuat peta distribusi kasus
difteri tahun 2017
 Menemui pembimbing lapangan
untuk melakukan pemantauan
ke-4
 Membuat laporan kegiatan
harian.
69

30 Senin, 12-03-2018  Berpartisipasi dalam kegiatan Senin, 12-03-2018  Mengumpulkan data untuk
puskesmas melengkapi laporan
 Pengumpulan data untuk  Melaksanakan komunikasi ke-5
melengkapi laporan kepada Kepala Bagian TU
 Bimbingan dengan pembimbing  Bimbingan dengan pembimbing
lapangan lapangan

…………………………………, 2018
Menyetujui,
Pembimbing Lapangan

(……….………………………)
70

Lampiran 3
71
72
73
74
75

Lampiran 4
FORM 4

LOG BOOK 1

RESUME KEBERHASILAN KOMUNIKASI

Resume keberhasilan komunikasi yang telah dilakukan pada kegiatan magang:


Form W2 yang ada di puskesmas untuk mencatat laporan surveilans mingguan kosong
karena petugas surveilans langsung melaporkannya melalui SMS ke SKDR Pusat setiap
minggunya. Hal tersebut dapat menjadi kelemahan pada sistem pencatatan data. Laporan
W2 atau mingguan yang dikirim melalui SMS dari ponsel pribadi petugas surveilans dan
tidak adanya perekapan data secara tertulis pada form W2 dapat menyulitkan pihak yang
membutuhkan data tersebut untuk mengetahui data penyakit setiap minggunya. Saran
yang diajukan oleh pemagang adalah sebaiknya petugas surveilans terlebih dahulu
mencatat data mingguan penyakit di dalam form W2 sebelum melaporkannya melalui
SMS ke SKDR Pusat sebagai arsip puskesmas. Saran tersebut diterima dengan baik oleh
petugas surveilans dan selanjutnya akan dibuat pencatatan W2 secara tertulis.
Komunikasi ini disampaikan kepada pemegang program surveilans.
76

FORM 4

LOG BOOK 2

RESUME KEBERHASILAN KOMUNIKASI

Resume keberhasilan komunikasi yang telah dilakukan pada kegiatan magang:


Adanya perbedaan data jumlah kasus difteri pada Profil Puskesmas Kecamatan Beji
tahun 2016 dengan laporan W2 yang dikirimkan melalui SMS ke SKDR Pusat. Pada
Profil Puskesmas, jumlah kasus yang tertulis sebanyak 0 kasus, sedangkan pada
laporan W2, jumah kasus yang dilaporkan sebanyak 2 kasus. Setelah di konformasi,
ternyata pada tahun 2016 tidak ada kasus difteri di Puskesmas Kecamatan Beji.
Maka dari itu pemagang menyarankan sebaiknya petugas surveilans lebih teliti dan
berhati-hati dalam melaporkan jumlah kasus difteri agar tidak ada perbedaan data
antara data sebenarnya yang ada di Profil Puskesmas dengan kasus yang dilaporkan
ke SKDR Pusat. Saran pemagang diterima dengan baik oleh pemegang program
surveilans dan untuk pelaporan selanjutnya petugas surveilans akan lebih berhati-
hati lagi untuk menghindari kesalahan saat mengetik di ponsel.
77

FORM 4

LOG BOOK 3

RESUME KEBERHASILAN KOMUNIKASI

Resume keberhasilan komunikasi yang telah dilakukan pada kegiatan magang:


Belum adanya penyajian data dalam bentuk peta sebaran kasus difteri untuk melihat
pola pendistribusian kasus pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB). Pemagang
menyarankan sebaiknya data kasus maupun suspek difteri yang termasuk di dalam
wilayah Puskesmas Kecamatan Beji dipetakan untuk mempermudah melihat
penyebaran kasus, seperti yang dijelaskan dalam Pedoman Pencegahan dan
Pengendalian Difteri. Saran tersebut diterima oleh pemegang program surveilans
dan akan dipelajari lebih lanjut mengenai cara pembuatan peta distribusi kasus.
78

FORM 4

LOG BOOK 4

RESUME KEBERHASILAN KOMUNIKASI

Resume keberhasilan komunikasi yang telah dilakukan pada kegiatan magang:


Form W1 yang digunakan untuk melaporkan kejadian luar biasa (KLB) dalam kurun
waktu 24 jam, ditemukan keterangan tanggal kejadian tidak ditulis, namun hanya
bulan dan tahun. Kemudian pada lembar kasus difteri individu yang digunakan saat
melakukan penyelidikan epidemiologi, pada kolom Nomor Epidemiologi, Status
Vaksinasi, dan Kontak tidak dilengkapi. Pemagang menyarankan sebaiknya petugas
surveilans melengkapi keterangan tersebut yang ada di masing-masing form supaya
analisis terhadap kasus dan KLB difteri dapat lebih maksimal. Saran tersebut
diterima dengan baik oleh pemegang program surveilans dan akan diusahakan
selanjutnya dapat melakukan pencatatan lebih lengkap.
79

FORM 4

LOG BOOK 5

RESUME KEBERHASILAN KOMUNIKASI

Resume keberhasilan komunikasi yang telah dilakukan pada kegiatan magang:


Berdasarkan hasil wawancara dengan pemegang program surveilans, adanya
kelemahan dan kurang maksimalnya pelaksanaan surveilans pada saat KLB difteri
lalu salah satunya disebabkan belum adanya pelatihan secara khusus untuk petugas
surveilans. Oleh karena itu, pemagang menyarankan kepada Kepala Puskesmas
yang diwakili oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha untuk melakukan advokasi
kepada Dinas Kesehatan Kota Depok untuk mengadakan pelatihan mengenai
surveilans, termasuk surveilans pada saat terjadi KLB yang meliputi penemuan
kasus, pencatatan, pengolahan, penyajian, dan analisis data kepada para petugas
surveilans sehingga penyelenggaraan surveilans serta data dan informasi yang
dihasilkan di Puskesmas Kecamatan Beji dapat lebih baik lagi. Saran tersebut
diterima dengan baik oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan akan ditindaklanjuti
dengan usulan ke Dinas Kesehatan Kota Depok atau menganggarkan pada kegiatan
BLUD Puskesmas Kecamatan Beji.
80

Lampiran 5

Lembar W1 – Kasus Pertama


81

Lembar W1 – Kasus Kedua


82

Lampiran 6

Lembar Penyelidikan Epidemiologi


83

Lampiran 7

Standar Operasional Prosedur Puskesmas Kecamatan Beji


84
85

Lampiran 8

LEAFLET DIFTERI
86

GRAFIK KASUS DIFTERI DI UPT PUSKESMAS KECAMATAN BEJI


MENURUT WAKTU KEJADIAN
TAHUN 2017

4
Jumlah Kasus

2 Kasus

Bulan

GRAFIK KASUS DIFTERI DI UPT PUSKESMAS KECAMATAN BEJI


MENURUT UMUR
TAHUN 2017

4
Jumlah kasus

2 Kasus

0
0 - 4 th 5 - 9 th 10 - 19 th 20 - 54 th >54 th
Umur (tahun)
87

Anda mungkin juga menyukai