0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan21 halaman

Pengaruh Hara pada Pertumbuhan Jagung

Laporan praktikum ini membahas pengaruh pasokan hara terhadap sifat fisiologis, gejala kekurangan dan keracunan hara, serta pertumbuhan tanaman jagung. Tujuannya adalah mengetahui gejala kekurangan dan keracunan hara, pengaruhnya terhadap fisiologi dan pertumbuhan tanaman, serta perlakuan terbaik. Tanaman jagung akan menunjukkan gejala jika kekurangan hara sesuai dengan peran hara tersebut.

Diunggah oleh

Sri yuliah Maharani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan21 halaman

Pengaruh Hara pada Pertumbuhan Jagung

Laporan praktikum ini membahas pengaruh pasokan hara terhadap sifat fisiologis, gejala kekurangan dan keracunan hara, serta pertumbuhan tanaman jagung. Tujuannya adalah mengetahui gejala kekurangan dan keracunan hara, pengaruhnya terhadap fisiologi dan pertumbuhan tanaman, serta perlakuan terbaik. Tanaman jagung akan menunjukkan gejala jika kekurangan hara sesuai dengan peran hara tersebut.

Diunggah oleh

Sri yuliah Maharani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Praktikum

Nutrisi Tanaman

PENGARUH PASOKAN HARA TERHADAP SIFAT FISIOLOGIS,


GEJALA KEKAHATAN DAN KERACUNAN HARA SERTA
PERTUMBUHAN TANAMAN

NAMA : SRI YULIAH MAHARANI ISHAK


NIM : G011201043
KELAS : NUTRISI TANAMAN A
KELOMPOK : 5
ASISTEN : MOH. NUR FAIZ

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2022
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jagung merupakan makanan pokok kedua setelah padi di Indonesia. Jagung
secara spesifik merupakan tanaman pangan yang sangat bermanfaat bagi
kehidupan manusia ataupun hewan. Berdasarkan urutan bahan makanan pokok di
dunia, jagung menduduki urutan ketiga setelah gandum dan padi. Tanaman jagung
hingga kini dimanfaatkan oleh masyarakat dalam berbagai bentuk penyajian,
seperti tepung jagung (maizena), minyak jagung, bahan pangan, serta sebagai
pakan ternak dan lain-lainnya (Sagrim dan Sa’adiyah, 2020).
Produksi Jagung khususnya, jika dibandingkan dengan tahun 2015 produksi
jagung mengalami penurunan kurang lebih sebesar 1,09 persen dari 110.665 ton
menjadi 100.811 ton. Produksi tanaman jagung terus mengalami penurunan
dari tahun 2013 sampai dengan 2015. Penurunan produksi pada tahun 2015 terkait
dengan penurunan luas panen jagung menjadi 5.706 hektar dengan produksi
27.906 ton, produksi jagung pada tahun 2014 sebesar 28.202 ton dengan luas lahan
5.767 hektar, dibandingkan dengan produksi tahun 2015, terjadi penurunan
sebanyak 296 ton. Penurunan produksi jagung terkait dengan penurunan luas panen
jagung (Saleh dan Gufran, 2022).
Dari data tersebut, terlihat bahwa adanya faktor yang menjadi penghambat
peningkatan produksi jagung di Indonesia yaitu rendahnya ketersediaan unsur hara
dalam tanah. Tanaman menyerap makanan dari dalam tanah untuk proses
pertumbuhannya. Sehingga kesuburan tanaman tergantung pada kandungan unsur
hara dalam tanah. Unsur hara dapat diserap oleh tanaman dari dalam tanah adalah
unsur hara yang dalam bentuk tersedia. Ketersediaan unsur hara di dalam tanah
sangat mempengaruhi kondisi pertumbuhan dan perkembangan tanaman di
atasnya. Unsur N P K merupakan unsur hara esensial yang utama bagi tanaman.
Kekurangan unsur hara esensial akan menyebabkan tanaman tumbuh lambat dan
kerdil karena pembelahan sel terganggu (Purba et al., 2021).
Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi tanaman jagung adalah
penggunaan pupuk anorganik yaitu urea, SP36, dan KCl. Pupuk urea merupakan

2
pupuk nitrogen yang dibutuhkan oleh tanaman untuk merangsang pertumbuhan
khususnya batang, cabang, dan daun. Urea ialah pupuk tunggal yang mengandung
N tinggi yaitu sekitar 45-46%. Pupuk SP-36 mengandung 36% fosfor (P) dalam
bentuk P2O5. Aplikasi pupuk SP-36 mampu meningkatkan pH tanah, serapan
P tanaman, tinggi tanaman, berat kering akar tanaman, berat kering tajuk
tanaman. Pupuk KCl adalah unsur hara penting yang dibutuhkan tanaman berperan
sebagai pengatur tekanan turgor sel dalam proses membuka dan menutupnya
stomata. Pupuk KCl diperlukan oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur
hara Kalium (K). Pupuk KCl diperlukan oleh tanaman untuk memenuhi
kebutuhan unsur hara Kalium (K) (Setiawan et al., 2019).
Ketika tanaman mengalami kekurangan pasokan (kekahatan) hara, biasanya
tanaman tersebut menunjukkan gejala tertentu, sesuai dengan fungsi dari unsur
hara tersebut. Gejala visual kakahatan hara dapat beragam bentuk, seperti
pertumbuhan kerdil atau berkurangnya ukuran seluruh bagian tanaman, meskipun
warnanya masih hijau, daun- daun muda atau tua menguning pada atau antara
tulang-tulang daun, kematian jaringan pada bagian pinggir daun atau antara tulang
daun atau seluruh daun terutama pada daun tua, pertumbuhan lambat atau
kecil kerdil pada bagian pucuk tanaman, atau mati pucuk, dan daun daun yang
berwarna ungu kemerah merahan. Diagnosis kekahatan dan toksisitas hara
mineral bertujuan untuk menjelaskan bahasa tubuh dan status hara mineral dalam
tubuh tanaman (Nurhayati, 2021).
Tanaman secara umum akan menunjukkan gejala jika mengalami masalah
unsur hara yang merupakan respon tanaman akibat gangguan proses fisiologis.
Umumnya gejala yang timbul berupa perubahan morfologi yang tidak normal
seperti pertumbuhan yang melambat, perubahan bentuk dan warna daun. Oleh
karena itu, gejala kelainan nutrisi bisa menjadi panduan untuk mengidentifikasi
defisiensi ataupun toksisitas unsur hara pada tanaman karena gejala yang terlihat
pada tanaman ketika mengalami masalah nutrisi erat kaitannya dengan peranan
unsur hara tersebut bagi tanaman (Armita et al., 2022).
Berdasarkan uraian tersebut, maka dilaksanakan praktikum mengenai
pengaruh pasokan hara terhadap sifat fisiologis, gejala kekahatan dan keracunan

3
hara serta pertumbuhan tanaman untuk mengetahui bagaimana pengaruh unsur
hara terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum ini yaitu :
1. Mengetahui gejala kekahatan dan keracunan unsur hara makro dan mikro.
2. Mengetahui pengaruh kekahatan dan keracunan hara makro dan mikro
terhadapat sifat fisiologis serta pertumbuhan tanaman.
3. Mengetahui perlakuan terbaik pada percobaan pengaruh pasokan hara
terhadap sifat fisiologis tanaman.
Kegunaan dari praktikum ini yaitu sebagai sumber informasi untuk
mengetahui gejala kekahatan dan keracunan unsur hara makro dan mikro, sebagai
sumber informasi untuk mengetahui pengaruh kekahatan dan keracunan hara
makro dan mikro terhadapat sifat fisiologis serta pertumbuhan tanaman, dan
sebagai sumber informasi untuk mengetahui perlakuan terbaik pada percobaan
pengaruh pasokan hara terhadap sifat fisiologis tanaman.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perkembangan Reproduktif Tanaman Jagung
Pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L.) diawali fase pertumbuhan
vegetatif yaitu ketika mulai muncul daun pertama yang terbuka sempurna sampai
tasseling dan sebelum keluarnya bunga betina (silking). Saat tanaman berumur
antara 18-35 hari setelah berkecambah. jagung mengalami fase reproduktif
yaitu terjadi Pada fase reproduktif ini bakal bunga jantan (tassel) dan
perkembangan tongkol dimulai. Fase reproduktif pada jagung merupakan fase
pertumbuhan setelah keluarnya rambut tongkol/bunga betina (silking) sampai
masak fisiologis (Lubis, 2019).
Pada fase reproduktif, tanaman jagung mengalami fase R1 (silking), yaitu
diawali dengan munculnya rambut dari dalam tongkol yang terbungkus kelobot.
Penyerbukan (polinasi) terjadi ketika serbuk sari yang dilepas oleh bunga jantan
jatuh menyentuh permukaan rambut tongkol yang masih segar. Fase R2, rambut
tongkol sudah kering dan berwarna gelap. Ukuran tongkol, kelobot, hampir
sempurna, biji sudah mulai nampak dan berwarna putih melepuh. Fase R3,
pengisian biji semula dalam bentuk cairan bening, berubah seperti susu. Fase R4,
bagian dalam biji belum mengeras. Fase R5, seluruh biji sudah terbentuk
sempurna, embrio sudah masak, dan akumulasi bahan kering biji akan segera
terhenti. Fase R6 tanaman jagung memasuki tahap masak fisiologis dan biji yang
ada pada tongkolnya telah mencapai bobot kering maksimum (Widdani, 2018).
Pada fase reproduktif tidak seluruh karbohidrat dipergunakan untuk
perkembangan batang, daun, dan perakaran; sebagian disisakan untuk
perkembangan bunga, buah, dan biji. Kebutuhan unsur hara tanaman
jagung terpenuhi, maka tanaman akan lebih optimal dalam proses
metabolisme hidup dalam jaringan yaitu dalam meningkatkan proses
fotosintesis dan menghasilkan fotosintat yang sangat membantu pembelahan
sel dan pembesaran sel sehingga tanaman dapat tumbuh dan menghasilkan
produksi yang maksimal yang ditunjukkan dengan perkembangan
organ-organ reproduktif yang baik. Berimbangnya antara pertumbuhan vegetatif

5
dan generatif pada awal fase generatif dapat memperbaiki organ reproduktif
secara keseluruhan (Pelawi et al., 2020).
2.2 Adaptasi Tanaman Jagung Terhadap Kondisi Tanah Sub Soil
Tanah yang baik adalah tanah yang dapat memungkinkan proses aerasi dan
draenase baik, serta bebas dari patogen yang dapat merusak bibit dan tanaman.
Sub soil merupakan lapisan horizon B bagi tanah-tanah yang profilnya jelas,
sedang bagi yang belum berkembang berarti lapisan tanah di bawah tanah
permukaan dalam dimana terdapat pertumbuhan akar yang normal. Untuk
memperbaiki sifat fisik tanah sub soil perlu alternatif perlakuan sehingga
mendekati sifat top soil, antara lain dengan menambahkan kompos. Pada tanah
berpasir pun tanaman jagung bisa tumbuh dengan baik asalkan kandungan unsur
hara yang tersedia mencukupi. Pada tanah berat atau sangat berat misalnya tanah
grumosol, jagung masih dapat tumbuh dengan baik asalkan drainase ditata baik.
Tanah yang paling cocok ditanami jagung adalah tanah lempung berdebu,
lempung berpasir, atau lempung (Purba, 2020).
Lapisan tanah bagian bawah memiliki kesuburan tanah yang rendah,
sehingga perlu dilakukan upaya peningkatan kesuburan pada lapisan tanah bagian
bawah. Kesuburan tanah di lapisan tanah bawah memerlukan penambahan bahan
organik padat atau cair seperti penambahan biochar tetapi juga pupuk kandang
dan pupuk hayati. Penambahan bahan organik diharapkan dapat memperbaiki sifat
fisik, kimia dan biologi tanah yang dapat membuat tanah lebih produktif dan
meningkatkan pH tanah. Peningkatan jumlah dan aktivitas organisme tanah
memerlukan penambahan pupuk kandang, bahan organik, dan biologis seperti
biochar (Taisa et al., 2021).
Jagung mampu tumbuh baik pada berbagai jenis tanah asalkan mendapatkan
pengelolaan yang baik. Tanah dengan tekstur lempung berdebu adalah tanah yang
terbaik untuk pertumbuhan jagung. Untuk tanah yang bertekstur berat dapat
dilakukan pengolahan secara optimal sehingga aerasi dan ketersediaan air dalam
tanah berada dalam kodisi baik. Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara
lain andosol (berasal dari gunung berapi), latosol, dan grumosol. Pada tanah
bertekstur berat (grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik,

6
tetapi perlu pengolahan secara baik serta aerasi dan drainase yang baik. Tanah
bertekstur lempung atau liat berdebu (latosol) merupakan jenis tanah terbaik untuk
pertumbuhan tanaman jagung (Jasman, 2017).
2.3 Gejala Kekahatan Pada Tanaman Jagung
Jagung memerlukan hara tanaman (plant nutrient) untuk memenuhi siklus
hidupnya. Apabila tanaman jagung mengalami kekurangan suatu unsur hara,
maka akan menampakkan gejala tertentu yang spesifik dan biasa disebut gejala
kekahatan (gejala defisiensi). Gejala yang ditunjukan tanaman jika kekurangan
hara yaitu klorosis biasa terutama pada daun tua. Pada kasus yang parah, daun
menjadi kuning seluruhnya lalu agak kecoklatan saat mati. Gejala kekahatan
unsur hara ditunjukkan dengan beberapa pertumbuhan tanaman seperti tanaman
yang terganggung/kerdil, munculnya gejala spesifik pada daun selama periode
waktu pertumbuhan, penangguhan kemasakan atau kemasakan tidak normal dan
kualitas tanaman yang dapat menurun (Titah dan Purbopuspito, 2016).
Tanaman jagung yang kekurangan hara N ditandai dengan seluruh
permukaan daun berwarna hijau kekuningan. Pada tanaman muda, daun berwarna
kuning pada ujung daun dan melebar menuju tulang daun. Warna kuning
membentuk huruf V. Gejala nampak pada daun bagian bawah karena N sifatnya
mobil dalam tanaman, gejala kahat N ini berangsur-angsur akan merambah ke
daun-daun di atasnya. Daun tua akan mati dan tanaman yang kekurangan N akan
tumbuh kerdil (Fahmi, 2017).
Gejala yang ditunjukkan oleh tanaman jagung akibat kekurangan unsur P
dapat menghambat pertumbuhan tanaman, yaitu tanaman pendek, pada awal
pertumbuhan pinggir daun berwarna ungu kemerahan, mulai dari ujung hingga ke
pangkal daun. Gejala kekahatan P akan tampak jelas pada tanaman yang masih
muda. Tanaman jagung yang kekurangan hara K akan menunjukkan gejala berupa
daun berbintik kuning cokelat, batang tanaman mudah patah, kecil dan lemah,
daun mudah rontok. Bagian pinggir daun biasanya berwarna cokelat seperti
terbakar, tapi tulang daun tetap hijau (Romadhoni et al., 2018).

7
2.4 Gejala Toksisitas Pada Tanaman Jagung
Gejala-gejala toksik suatu unsur hara mempunyai bentuk yang khas dan
merupakan ciri dari gejala toksisitas suatu unsur hara seperti perubahan pada
warna daun, terbentuk bercak-bercak pada daun, atau tanaman mengalami
kelainan bentuk seperti kuncup yang tidak kembang, atau akar tanaman kerdil,
batang pendek, dan buah tidak normal. Gejala tanaman yang kelebihan unsur hara
akan menghasilkan tunas muda yang kurang baik atau lemah, produksi biji bijian
berkurang, menghambat permasakan, mengasamkan reaksi tanah, menurunkan pH
tanah dan merugikan tanaman (Wiraatmaja, 2017).
Tanaman jagung yang kelebihan nitrogen akan mengalami pertumbuhan
yang abnormal, karena daun yang dihasilkan akan mengalami hijau yang pekat,
tanaman akan banyak memproduksi daun dan batang akan menjadi muda patah.
Tanaman jagung yang mengalami kelebihan unsur hara N akan mengalami
kondisi fisiologis yang bertolak belakang dengan gejala kekurangan unsur
hara tetapi tetap saja menimbulkan kerugian. Apabila terjadi kelebihan N,
tanaman akan tampak terlalu subur, ukuran daun akan menjadi lebih besar, batang
menjadi lunak dan berair (sekulensi) sehingga mudah rebah dan mudah diserang
penyakit (Alfarisy, 2019).
Tanaman yang kelebihan unsur hara makro fosfor (P) pada tanaman tidak
terlihat jelas. Akan tetapi, kelebihan unsur hara fosfor akan mengganggu
penyerapan unsur hara yang pada tanaman. Sehingga tanaman akan mengalami
kekurangan unsur hara seperti, besi (Fe), tembaga (Cu) dan seng (Zn). Toksisitas
yang disebabkan oleh unsur hara kalium pada tanaman akan membuat tanaman
akan mengalami gangguan dalam proses penyerapan kalsium dan magnesium di
dalam tanah. Tanaman akan mengalami pertumbuhan yang terhambat, sehingga
sulit untuk berkembang (Purba et al., 2021).
2.5 Interaksi Antara Pupuk Organik Dan Pupuk Anorganik Terhadap
Pertumbuhan Tanaman Jagung
Di dalam pupuk terkandung berbagai unsur hara penting bagi
tanaman. Pemupukan tanaman dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk
sintetik dan pupuk organik. Pupuk sintetik sering digunakan petani adalah

8
pupuk urea dan NPK, sedangkan pemupukan menggunakan pupuk organik
masih jarang dilakukan. Salah satu tanaman yang respons terhadap pemupukan
adalah jagung. Tanaman jagung membutuhkan unsur hara makro dan mikro.
Unsur hara makro yang essensial untuk jagung antara lain nitrogen (N), fosfor (P)
dan kalium (K) (Rakshun et al., 2019).
Pupuk organik merupakan pupuk yang berperan meningkatkan aktifitas
biologi, kimia dan fisik tanah sehingga tanah menjadi subur dan baik untuk
pertumbuhan tanaman. Pada budidaya jagung, diperlukan bahan organik guna
memperbaiki daya olah tanah dan sebagai sumber makanan bagi jasad renik yang
akhirnya akan membebaskan unsur hara untuk pertumbuhan tanaman serta
menggemburkan tanah. Saat ini sebagian besar petani masih tergantung
pada pupuk anorganik karena mengandung beberapa unsur hara dalam
jumlah yang banyak, padahal jika pupuk anorganik digunakan secara
terus menerus akan menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi tanah.
Kombinasi pemberian pupuk organik yang dipadukan dengan pupuk
anorganik dapat menciptakan kondisi tanah (sifat fisik, kimia dan biologi)
terpelihara dengan baik sehingga meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan
tanaman (Mappanganro et al., 2018).
Upaya meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman, petani
cenderung memilih mengaplikasikan pupuk anorganik secara intensif dan terus
menerus. Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus dapat menurunkan
tingkat kesuburan tanah dan menyisakan residu yang jumlahnya melebihi daya
dukung lingkungan. Dengan demikian, penggunaan pupuk anorganik perlu
diminimalisasi. Salah satu upaya meminimalisasi penggunaan pupuk anorganik
tanpa mengurangi produktivitas tanaman adalah dengan mengkombinasikan
pupuk anorganik dengan pupuk organik (Sofyan et al, 2019).
2.6 Pengaruh Interaksi Hara Nitrogen, Fosfor, dan Kalium Terhadap
Tanaman
Tanaman dalam pertumbuhan dan produksinya membutuhkan makanan
seperti halnya makhluk yang lain. Pada umumnya tanggapan tanaman
terhadap suatu unsur hara bisa berubah-ubah tergantung pada status

9
ketersediaan unsur hara lainnya. Berdasarkan adanya saling keterkaitan yang
sifatnya interaksi positif ataupun negatif dari setiap unsur hara dengan unsur hara
lainnya serta adanya pengaruh dari lingkungan terhadap interaksi tersebut di
dalam tanah (Purba et al., 2021).
Nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K) merupakan unsur hara yang sangat
dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang besar. Nitrogen merupakan anasir
penting dalam pembentukan klorofil, protoplasma, protein, dan asam-asam
nukleat. Unsur ini mempunyai peranan yang penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan semua jaringan hidup. Fosfor merupakan komponen penting
penyusun senyawa untuk transfer energi (ATP dan nukleoprotein lain), untuk
sistem informasi genetik (DNA dan RNA), untuk membran sel (fosfolipid), dan
fosfoprotein (Rosadi et al., 2019).
Unsur hara K dan P yang terdapat dalam tanaman jagung memiliki sifat
saling ketergantungan. Unsur K berfungsi sebagai media transportasi yang
membawa hara-hara dari akar termasuk hara P ke daun dan mentranslokasi
asimilat dari daun ke seluruh jaringan tanaman. Kurangnya hara K dalam tanaman
dapat menghambat proses transportasi asimilat dalam tanaman. Oleh karena itu,
agar proses transportasi unsur hara maupun asimilat dalam tanaman dapat
berlangsung optimal maka unsur K dalam tanaman harus optimal. Meskipun
demikian, keseimbangan antar hara perlu diperhatikan, mengingat terdapat
hubungan antagonis berbagai jenis unsur hara bila berada pada kondisi tidak
seimbang (Tuhuteru, 2018).

10
BAB III
METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum hubungan status air tanah, kemampuan tanah dalam menyerap
nutrisi, sifat fisiologi dan pertumbuhan tanaman dilaksanakan di Plantation
Nursery, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi
Selatan. Praktikum ini dilaksanakan dari bulan September – November setiap hari
minggu.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu cangkul, meteran, alat tugal,
CCM 200+, kaca preparat, oven, alat dokumentasi, mikroskop, timbangan digital
mistar dan Soil tester, jangka sorong, dan papan penanda.
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu benih jagung
pulut, pupuk urea, pupuk KCl, pupuk SP36, furadan, pupuk kandang, patok, label,
plastik cetik.
3.3 Metode Percobaan
Praktikum ini disusun dalam percobaan menggunakan Rancangan Acak
Kelompok. Metode percobaan yang dilakukan menggunakan 4 taraf perlakuan
yang terdiri dari :
P0 : Urea 300 kg/ha, KCl 100 kg/ha, SP36 100 kg/ha
P1 : Urea 300 kg/ha, SP36 100 kg/ha, KCl 1/2 100 kg/ha
P2 : Urea 300 kg/ha, KCl 100 kg/ha, SP36 1/2 100 kg/ha
P3 : KCl 100 kg/ha, SP36 100 kg/ha, Urea 1/2 300 kg/ha
Dengan demikian terdapat 4 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 6
kali, setiap unit percobaan terdapat 1 tanaman sehingga terdapat 24 tanaman
3.4 Pelaksanaan Percobaan
3.4.1 Membuat dan Menanam Benih Jagung Pada Bedengan
Prosedur dalam membuat dan menanam benih jagung dilakukan dengan
cara sebagai berikut:
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Membuat bedengan masing-masing kelompok dengan ukuran

11
3. Menaburi furadan di lubang tanam.
4. Menanam benih jagung,
3.4.2 Pengaplikasian Perlakuan
Pengaplikasian perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali, pemupukan pertama
dilakukan pada minggu ke 2 setelah melakukan penanaman, pemupukan kedua
dilakukan pada minggu ke 3 dan pemupukan ketiga dilakukan pada minggu ke 5.
3.4.3 Pemeliharaan Tanaman
Prosedur dalam pemeliharaan tanaman dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
1. Pemeliharaan tanaman dilakukan penyiram air yang dilakukan 2 kali sehari
pagi dan sore hari.
2. Melakukan penyulaman pada tanaman yang tidak tumbuh
3. Melakukan penyiangan gulma dengan cara mekanik
3.5 Parameter Pengamatan
Parameter pengamatan yang digunakan pada percobaan penelitian yaitu:
1. Tinggi Tanaman (cm)
Pengamatan ini dilakukan dengan mengukur permukaan tanah sampai titik
tumbuh. Parameter ini dilakukan setiap minggu.
2. Jumlah Daun (helai)
Pengamatan ini dilakukan dengan menghitung jumlah helai daun yang telah
membuka dengan sempurna dan dilakukan setiap minggu.
3. Tinggi Tongkol (cm)
Pengamatan ini dilakukan dengan mengukur panjang tongkol. Parameter ini
dilakukan di akhir pengamatan.
4. Diameter Tongkol (mm)
Pengamatan ini dilakukan dengan mengukur diameter tongkol
menggunakan jangka sorong. Parameter ini dilakukan di akhir pengamatan.
5. Bobot 100 Biji (gr)
Pengamatan ini dilakukan dengan menimbang bobot setiap 100 biji.
Parameter ini dilakukan di akhir pengamatan.
Rumus menghitung bobot 1000 biji:

12
(100−𝐾𝐴)
Bobot 1000 biji = 1000−15) × bobot 1000 biji

6. Hasil Biji (kg/petak)


Pengamatan ini dilakukan dengan menghitung hasil biji setiap kg/perpetak.
Parameter ini dilakukan di akhir pengamatan.
3.6 Analisis Data
Data dikumpulkan kemudian ditabulasi dalam bentuk tabel. Data yang sudah
ditabulasi kemudian diolah dan dianalisis dengan Sidik Ragam (ANOVA).
Apabila berpengaruh nyata, maka akan diuji lanjut dengan menggunakan Uji
Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan taraf kepercayaan 95%.

13
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Tinggi Tanaman
Hasil uji BNJ α 0,05 menunjukkan bahwa rata-rata tinggi tanaman terbaik
terdapat pada perlakuan P0 (Pupuk lengkap) yaitu 188,23 cm. Perlakuan P0
(Pupuk lengkap) berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (Tabel 1).
Tabel 1. Rata-Rata Tinggi Tanaman (cm)

Perlakuan Pemupukan Tinggi Tanaman NP BNJ α = 0.05

P0 (Pupuk Lengkap) 188.23a


P1 (Kahat Hara K ) 184.50b
3.71
P2 (Kahat Hara P ) 184.30b
P3 (Kahat Hara N ) 172.30c
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom (a,b,c)
berbeda tidak nyata pada uji lanjut.

4.1.2 Jumlah Daun


Perlakuan pupuk lengkap (P0) menghasilkan rata-rata jumlah daun
tertinggi yaitu 10,2 helai. Rata-rata terendah terdapat pada perlakuan P3 yaitu
kahat N yaitu 8,5 helai.
10.5

10
Jumlah Daun (Helai)

9.5

8.5

7.5
P0 P1 P2 P3

Gambar 1. Grafik rata-rata jumlah helai daun.

14
4.1.3 Tinggi Tongkol
Hasil uji BNJ α 0,05 menunjukkan bahwa rata-rata tinggi tongkol terbaik
terdapat pada perlakuan P0 (Pupuk lengkap) yaitu 77,30 cm. Perlakuan P0 (Pupuk
lengkap) berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (Tabel 2).
Tabel 2. Rata-Rata Tinggi Tongkol (cm)

Perlakuan Pemupukan Tinggi Tongkol NP BNJ α = 0.05

P0 (Pupuk Lengkap) 77.30a

P1 (Kahat Hara K ) 76.50b


0.49
P2 (Kahat Hara P ) 76.00b

P3 (Kahat Hara N ) 75.50b


Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom (a,b)
berbeda tidak nyata pada uji lanjut.

4.1.4 Rata-Rata Diameter Tongkol


Hasil uji BNJ α 0,05 menunjukkan bahwa rata-rata diameter tongkol
terbaik terdapat pada perlakuan P0 (Pupuk lengkap) yaitu 7,20 mm. Perlakuan P0
(Pupuk lengkap) berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (Tabel 3).
Tabel 3. Rata-Rata Diameter Tongkol (mm)

Perlakuan Pemupukan Diameter Tongkol NP BNJ α = 0.05

P0 (Pupuk Lengkap) 7.20a


P1 (Kahat Hara K ) 6.70b
0.45
P2 (Kahat Hara P ) 6.40b
P3 (Kahat Hara N ) 5.50c
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom (a,b,c)
berbeda tidak nyata pada uji lanjut.

4.1.5 Rata-rata bobot 100 biji


Hasil uji BNJ α 0,05 menunjukkan bahwa rata-rata bobot 100 biji terbaik

15
terdapat pada perlakuan P0 (Pupuk lengkap) yaitu 30,25 gr. Perlakuan P0 (Pupuk
lengkap) berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (Tabel 4).
Tabel 4. Rata-Rata Bobot 100 Biji (gr)

Perlakuan Pemupukan Bobot 100 Biji NP BNJ α = 0.05

P0 (Pupuk Lengkap) 30.25a


P1 (Kahat Hara K ) 29.25b
0.92
P2 (Kahat Hara P ) 29.33b
P3 (Kahat Hara N ) 26.25c
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom (a,b,c)
berbeda tidak nyata pada uji lanjut.

4.1.6 Rata-Rata Hasil Biji


Hasil uji BNJ α 0,05 menunjukkan bahwa rata-rata hasil biji terbaik
terdapat pada perlakuan P0 (Pupuk lengkap) yaitu 7,86 kg/perpetak. Perlakuan P0
(Pupuk lengkap) berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (Tabel 5).
Tabel 5. Rata-Rata Hasil Biji (kg/perpetak)

Perlakuan Pemupukan Hasil Biji NP BNJ α = 0.05

P0 (Pupuk Lengkap) 7.86a


P1 (Kahat Hara K ) 6.17b
1.61
P2 (Kahat Hara P ) 6.24b
P3 (Kahat Hara N ) 5.23c
Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom (a,b,c)
berbeda tidak nyata pada uji lanjut.

4.2 Pembahasan
Berdasarkan tabel 1 dan tabel 2, yaitu pada tabel 1 rata-rata tinggi tanaman
menunjukkan bahwa hasil uji BNJ α 0,05 yang terbaik terdapat pada perlakuan P0
(Pupuk lengkap) Sedangkan pada tabel 2 yaitu rata-rata ringgi tongkol didapatkan
bahwa P0 (Pupuk lengkap) yang terbaik. Dimana perlakuan P0 (Pupuk lengkap)
memiliki angka tertinggi yang berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan tinggi
tongkol tanaman Jagung. Hal ini karena kebutuhan hara pada tanaman telah

16
tercukupi sehingga berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Hal ini sesuai dengan
pendapat Puspadewi et al., (2016) bahwa pemberian unsur hara secara akurat
harus sesuai dengan kebutuhan tanaman dan status hara dalam tanah untuk
mencapai tujuan peningkatan produktivitas, efisiensi dan kelestarian lingkungan.
Hara yang tidak diserap oleh tanaman akan terurai di dalam tanah.
Berdasarkan grafik rata-rata jumlah helain daun menunjukkan bahwa
jumlah daun yang tertinggi ialah P0 (Pupuk lengkap). Sedangkan rata-rata jumlah
daun terendah terdapat pada perlakuan P3 (Kahat N) yaitu 8,5 helai. Hal ini
karena faktor yang mempengaruhi yaitu faktor lingkungan yang baik dan unsur
hara yang tercukupi pada tanaman tersebut serta tidak ada persaingan unsur hara
di dalamnya. Hal ini sesuai demgan pendapat Missdiani et al., (2020) yang
menyatakan bahwa pemberian pupuk anorganik juga diperlukan selain pemberian
pupuk organik agar tersedianya unsur hara yang cukup dan seimbang didalam
tanah.
Berdasarkan tabel 3, yaitu rata-rata diameter tongkol menunjukkan bahwa
hasil uji BNJ α 0,05 yang terbaik terdapat pada perlakuan P0 (Pupuk lengkap).
Hal ini karena ketersedian unsur hara yang cukup dapat meningkatkan
fotosintesis. Hal ini sesuai dengan pendapat Nuryadin et al., (2016) bahwa proses
metabolism tanaman dapat mendukung pertumbuhan generatif dimulai dengan
pembentukan bunga, bunga kemudian berkembang menjadi buah, produksi
fotosintesis yang lebih besar memungkinkan membentuk seluruh organ termasuk
pembentukan tongkol.
Berdasarkan tabel 4 dan tabel 5, yaitu pada tabel 4 rata-rata bobot 100 biji
menunjukkan bahwa hasil uji BNJ α 0,05 yang terbaik terdapat pada perlakuan P0
(Pupuk lengkap). Sedangkan pada tabel 5 yaitu hasil biji didapatkan bahwa P0
(Pupuk lengkap) yang terbaik. Hal ini karena terpenuhinya kebutuhan hara
tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Su’ud dan Lestari (2018), yang
menyatakan bahwa tanaman tidak akan memberikan hasil yang maksimal apabila
unsur hara yang dibutuhkan tidak tersedia. Pemupukan dapat meningkatkan
pertumbuhan serta hasil panen secara kualitatif maupun kuantitatif.

17
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini yaitu:
1. Gejala yang ditunjukan tanaman jika kekurangan hara yaitu klorosis biasa
terutama pada daun tua. Pada kasus yang parah, daun menjadi kuning
seluruhnya lalu agak kecoklatan saat mati. Gejala tanaman yang kelebihan
unsur hara akan menghasilkan tunas muda yang kurang baik atau lemah,
produksi biji bijian berkurang, menghambat permasakan.
2. Gejala kekahatan unsur hara ditunjukkan dengan beberapa pertumbuhan
tanaman seperti tanaman yang terganggung/kerdil. Gejala tanaman
kelebihan unsur hara akan terbentuk bercak-bercak pada daun, akar
tanaman kerdil, batang pendek, dan buah tidak normal.
3. Perlakuan P0 (Pupuk lengkap) merupakan perlakuan terbaik dari semua
parameter pengamatan.
5.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan dalam praktikum ini adalah supaya lebih
berhati-hati dan teliti dalam melakukan percobaan, agar tidak terjadi kesalahan.

18
DAFTAR PUSKATA
Alfarisy, F. B. 2019. Perbedaan Perlakuan Berbagai Jenis Pupuk terhadap
Pertumbuhan Dua Klon Tebu (Saccharum officinarum L.) di Lahan
Kering. Skrpsi. Universitas Muhammadiyah Gresik.
Armita, D., Wahdaniyah, H., dan Al Amanah, H. 2022. Diagnosis Visual Masalah
Unsur Hara Esensial pada Berbagai Jenis Tanaman. Media Informasi Sains
dan Teknologi. 16(1): 139-150.
Fahmi, A., Utami, S. N. H., dan Radjagukguk, B. 2017. Pengaruh Interaksi Hara
Nitrogen dan Fosfor terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L)
pada Tanah Regosol dan Latosol. Berita Biologi. 10(3): 297-304.
Jasman, J. 2017. Pengaruh Jarak Tanam dan Jumlah Benih per Lubang terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays. Saccarata
Sturt L.). Universitas Teuku Umar Meulaboh, Aceh Barat.
Lubis, A. R., dan Sembiring, M. 2019. Berbagai Dosis Kombinasi Limbah Pabrik
Kelapa Sawit (LPKS) Dengan Limbah Ternak Sapi (LTS) terhadap
Pertumbuhan Vegetatif Jagung Manis (Zea mays Saccharata Struth).
Agrium: Jurnal Ilmu Pertanian. 22(2): 116-122.
Mappanganro, R., Kiramang, K., dan Kurniawan, M. D. 2019. Pemberian Pupuk
Organik Cair (Urin Sapi) terhadap Tinggi Pennisetum purpureum cv.
Mott. Jurnal Ilmu dan Industri Peternakan. 4(1): 23.
Missdiani, M., Lusmaniar, L., & Wahyuni, A. U. 2020. Pengaruh Pemberian
Pupuk Organik Cair dan Dosis Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan dan
Produksi Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) di
Polybag. AGRONITAS, 2(1), 19-33.
Nurhayati, D. R. (2021). Pengantar Nutrisi Tanaman. Surakarta: Unisri Press.
Nuryadin, A. K., Suprapti, E., dan Budiyono, A. 2016. Pengaruh Jarak Tanam dan
Dosis Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis (Zea
mays Saccharata Sturt L). Jurnal Ilmiah Agrineca, 16(2).
Pasta, A. E., & Barus, H. N. 2015. Tanggap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Jagung Manis (Zea mays L. Saccharata) pada Aplikasi Berbagai Pupuk
Organik (Doctoral dissertation, Tadulako University
Pelawi, L. A., Mapegau, M., dan Alia, Y. 2020. Respon Tanaman Jagung (Zea
mays. L) terhadap Pemberian Biochar Sabut Kelapa dan Pupuk Kandang
Sapi. Jurnal Media Pertanian, 5(2), 45-49.
Purba, T., Ningsih, H., Purwaningsih, P., Junaedi, A. S., Gunawan, B., Junairiah,
J., dan Arsi, A. 2021. Tanah Dan Nutrisi Tanaman. Medan: Yayasan Kita
Menulis.
Purba, J. H. 2020. Adaptasi Varietas dan Galur Jagung pada Lahan
Marginal. Jurnal Agrohita, 5(1): 82-93.

19
Puspadewi, S., Sutari, W., dan Kusumiyati, K. 2016. Pengaruh Konsentrasi Pupuk
Organik Cair (POC) dan Dosis Pupuk N, P, K terhadap Pertumbuhan dan
Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays L. var Rugosa Bonaf) Kultivar
Talenta. Kultivasi, 15(3).
Raksun, A., Japa, L., dan Mertha, I. G. 2019. Aplikasi Pupuk Organik dan NPK
untuk Meningkatkan Pertumbuhan Vegetatif Melon (Cucumis melon L.).
Jurnal Biologi Tropis. 19(1): 19-24
Romadhoni., Sholihah dan Nurhidayanti. 2018. Kaji Banding Pertumbuhan dan
Kadar Hara N, P dan K Tanaman Jagung (Zea mays L.) pada Tiga Macam
Pupuk Organik Berbeda Kualitas. Jurnal Folium. 1 (2): 54-65.
Rosadi, A. P., Lamusu, D., & Samaduri, L. 2019. Pengaruh Pemberian Pupuk
Kandang Sapi Terhadap Pertumbuhan Jagung Bisi 2 Pada Dosis Yang
Berbeda. Babasal Agrocyc. 1(1), 7-13.
Sagrim, M., dan Sa'adiyah, S. H. 2020. Studi Usahatani Jagung dan Hortikultura
pada Petani di Kampung Sumber Boga Distrik Masni. Sosio Agri Papua.
9(2): 96-104.
Saleh, S., dan Gufran, L. F. 2022. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Produksi Jagung (Zea Mays) di Desa Losso Kecamatan Sampaga
Kabupaten Mamuju. Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan. 10(1): 85-
92.
Setiawan, A., Umar, H., dan Hamzari, H. 2019. Pengaruh Pemberian Pupuk Urea
terhadap Pertumbuhan Semai Jati (Tectona Grandis Lf) pada Lahan Bekas
Tambang Poboya. Jurnal Warta Rimba, 7(1).
Su’ud, M., dan Lestari, D. A. 2018. Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Jagung (Zea mays L.) Terhadap Konsentrasi dan Interval Waktu
Pemberian Pupuk Organik Cair Bonggol Pisang. Agrotechbiz: Jurnal
Ilmiah Pertanian, 5(2), 36-52.
Sofyan, E. T., Machfud, Y., Yeni, H., dan Herdiansyah, G. 2019. Penyerapan
Unsur Hara N, P Dan K Tanaman Jagung Manis (Zea mays Saccharata
Sturt) Akibat Aplikasi Pupuk Urea, SP-36, KCl Dan Pupuk Hayati pada
Fluventic Eutrudepts Asal Jatinangor. Jurnal Agrotek Indonesia, 4(1):1-7.
Taisa, R., Purba, T., Sakiah, S., Herawati, J., Junaedi, A. S., Hasibuan, H. S., dan
Firgiyanto, R. 2021. Ilmu Kesuburan Tanah dan Pemupukan. Medan:
Yayasan Kita Menulis.
Titah, T., dan Purbopuspito, J. 2016. Respon Pertumbuhan Jagung Terhadap
Pemberian Pupuk-Pupuk NPK, Urea, SP-36, Dan KCl. Eugenia, 22(2).
Tuhuteru, S. 2018. Efektivitas Hara Makro dan Mikro terhadap Pertumbuhan
Tanaman Jagung (Zea mays L.). Jurnal Agroekoteknologi, 10(1).

20
Widanni, L. W. 2018. Evaluasi Variasi Genetik Dan Depresi Silang Dalam Pada
Persilangan Sendiri Dan Persilangan Saudara Beberapa Galur Jagung
Manis (Zea mays L. Var. Saccharata) (Doctoral dissertation, Universitas
Brawijaya).
Wiraatmaja, W. I. 2017. Defisiensi Dan Toksisitas Hara Mineral Serta Responnya
Terhadap Hasil. Bahan Ajar. Fakultas Pertanian. Universitas Udayana.
Bali.

21

Anda mungkin juga menyukai