0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan53 halaman

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar PAI

Bab 1 dokumen tersebut membahas latar belakang masalah rendahnya motivasi dan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran agama Islam jarak jauh. Hal ini menjadi tantangan bagi guru untuk meningkatkan pembelajaran tatap muka dengan model pembelajaran berdiferensiasi. Bab 2 membahas kajian pustaka tentang pengertian hasil belajar dan hipotesis tindakan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Diunggah oleh

muhammadazwaranas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan53 halaman

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar PAI

Bab 1 dokumen tersebut membahas latar belakang masalah rendahnya motivasi dan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran agama Islam jarak jauh. Hal ini menjadi tantangan bagi guru untuk meningkatkan pembelajaran tatap muka dengan model pembelajaran berdiferensiasi. Bab 2 membahas kajian pustaka tentang pengertian hasil belajar dan hipotesis tindakan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Diunggah oleh

muhammadazwaranas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab.
Sedangkan Pendidikan Islam adalah upaya rencana dalam menyiapkan
manusia untuk mengenal, memahami, menghayati dan mempercayai
ajaran agama Islam dengan dibarengi tuntutan untuk menghormati agama
lain dalam hubungan antar umat beragama untuk menciptakan persatuan
dan kesatuan bangsa.
Saat Indonesia di tetapkan sebagai negara darurat Covid 19, maka
keluar surat edaran Kemendibud nomor 36962 tahun 2020 tentang
pembelajaran secara Daring. Guru mengenal kata WFH dan WFO. Hal
tersebut menuntut guru untuk belajar IT sehingga mampu melaksanakan
pembelajaran jarak jauh. Guru dituntut kreatif dan inovatif agar peserta didik
tetap semangat, senang dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh.
Segala upaya dan Kerjasama orang tua, serta semua pihak sudah
dilakukan agar peserta didik bisa memahami materi pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dengan baik. Serta memperoleh hasil belajar
sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) yang telah ditetapkan
dalam KTSP sekolah.
Tetapi kenyataannya pembelajaran jarak jauh membuat peserta didik
memiliki motivasi yang rendah dalam belajar. Bahkan bisa dikatakan
mereka mengalami learning loss. Peserta didik merasa bosan dan tidak
semangat belajar, sehingga mereka tidak memiliki pengetahuan dan
ketrampilan yang cukup.
Tugas guru Pendidikan Agama Islam menjadi semakin berat, guru
kesulitan dalam menanamkan budi pekerti serta Pendidikan karakter, dalam

1
proses pembelajaran jarak jauh. Hasil belajar Pendidikan Agama Islam juga
menurun, seiring menurunnya semangat belajar pada pembelajaran jarak
jauh.
Padahal KTSP SMP Negeri 1 Ngaglik tertuang Kriteria Ketuntasan
Minimal ( KKM ) sebagai berikut :
Tabel 1
Daftar kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) tahun pelajaran 2021/2022

Kompetensi Pengetahuan Kompetensi Keterampilan


KKM Sem. 1 KKM Sem. 2 KKM Sem. 1 KKM Sem. 2
No Mata Pelajaran
VI VI
VII VIII IX VIII IX VII VIII IX VIII IX
I I
1 Pendidikan Agama 74 75 75 74 75 75 74 75 75 74 75 75
Pendidikan
2 74 75 75 74 75 75 74 75 75 74 75 75
Kewarganegaraan

3 Bahasa Indonesia 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73 73

4 Bahasa Inggris 71 71 72 71 71 72 71 71 72 71 71 72
5 Matematika 71 71 71 71 71 71 71 71 71 71 71 71
Ilmu Pengetahuan
6 71 71 72 71 71 72 71 71 72 71 71 72
Alam
Ilmu Pengetahuan
7 71 72 72 71 72 72 71 72 72 71 72 72
Sosial
8 Seni Budaya 71 73 73 71 73 73 71 73 73 71 73 73
Pendidikan Jasmani,
9 Olahraga dan 71 71 72 71 71 72 71 71 72 71 71 72
Kesehatan

10 Prakarya 71 71 72 71 71 72 71 71 72 71 71 72

Muatan Lokal Wajib


11 71 71 72 71 71 72 71 71 72 71 71 72
(Bahasa Jawa)

Berdasarkan Kriteria Ketuntusan Minimal yang telah ditetapkan


sekolah, kenyataannya masih banyak peserta didik yang memperoleh nilai
dibawah KKM. Dari hasil penilaian akhir semester ganjil tahun pelajaran

2
2021/2022, masih ada 45 % peserta didik mendapatkan nilai dibawah
KKM.
Sejak semester genap tahun pelajaran 2021/2022 pada bulan Januari
2022 telah dilaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas ( PTMT ).
Saat melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas, guru bisa bertemu
peserta didik secara langsung dengan protocol Kesehatan yang ketat.
Ternyata saat PTMT pun peserta didik masih belum memiliki motivasi
belajar dan belum bersemangat belajar Pendidikan Agama Islam. Melihat
kenyataan tersebut guru menjadi tertantang untuk meningkatkan proses
pembelajaran tatap muka terbatas, yang mampu menciptakan
pembelajaran yang menyenangkan, kreatif dan inovatif. Dengan
memperhatikan kebutuhan belajar peserta didik, minat dan gaya belajar
peserta didik, sehingga diharapkan hasil belajar peserta didik meningkat.
Mensikapi hal tersebut, selanjutnya perlu diadakan penelitian Tindakan
kelas dengan judul “ Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama
Islam dengan Pembelajaran Berdiferensiasi pada Peserta didik kelas IX D
SMP Negeri 1 Ngaglik tahun pelajaran 2021/2022”.

B. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas, maka dapat dibuat
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah pembelajaran berdiferensiasi dapat efektif dilaksanakan
sebagai salah satu model pembelajaran Pendidikan Agama Islam?
2. Apakah ada peningkatan hasil belajar peserta didik setelah mengikuti
pembelajaran berdiferensiasi?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk meningkatkan respon dan keaktifan peserta didik dalam proses
pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan pembelajaran
berdiferensiasi pada kelas IX D.
2. Untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan Pembelajaran
berdiferensiasi di kelas IX D.

3
D. Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat
kepada :
1. Peserta didik
a. Peserta didik diharapkan ada perubahan sikap serta bersemangat
dalam belajar Pendidikan Agama Islam. Dengan pembelajaran
berdiferensiasi diharapkan proses pembelajaran lebih menarik dan
menyenangkan bagi peserta didik.
b. Peserta didik dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama
Islam, serta mampu meningkatkan komunikasi dan literasi. Dengan
pembelajaran berdiferensiasi peserta didik dapat dilayani sesuai
kebutuhan, minat dan gaya belajar mereka.
2. Guru
a. Guru dapat meningkatkan kinerjanya dengan kreatifitas, inovasi
dan perbaikan kualitas proses pembelajaran dengan menggunakan
pembelajaran berdiferensiasi.
b. guru mampu melayani peserta didik sesuai dengan kebutuhan
belajar, minat belajar dan gaya belajar peserta didik melalui
pembelajaran berdiferensiasi.
c. Guru dapat memberikan strategi pembelajaran yang sesuai dengan
tes diagnostic, agar guru tepat dalam melayani proses
pembelajaran.
3. Sekolah
a. Sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan hasil belajar
peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
maupun mata pelajaran yang lain.
b. Sebagai bahan referensi dalam melaksanakan pembelajaran
berdiferensiasi dengan kurikulum paradigma baru pada mata
pelajaran yang lain.
c. Meningkatkan profesionalisme guru mata pelajaran dan
meningkatkan kinerja guru.

4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Hasil belajar
1. Pengertian belajar
Proses belajar yang dilakukan peserta didik di kelas bisa dimulai
dari adanya keinginan peserta didik untuk mempelajari hal-hal yang
belum diketahui. Dengan belajar diharapkan peserta didik dapat
menguasai berbagai kompetensi. Aktifitas kehidupan manusia
sebenarnya merupakan tempat untuk belajar, sesorang dapat
melakukan suatu kegiatan dengan baik melalui proses belajar yang
dialakukan secara terus menerus dan kontinyu. Menurut W.S Winkel
yang dikutip oleh Muhammad Fathurrohman ( 2017 : 3 ) belajar adalah
suatu aktifitas mental/psikis, yang langsung dalam interaksi aktif
dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, ketrampilam dan nilai sikap, perubahan itu
bersifat relative konstan dan berbekas.
Sedangkan menurut Hilgard dan Bower yang dikutip oleh
Baharudin & Esa Nurwahyuni ( 2010:13 ) belajar memiliki pengertian
memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui
pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman dan mendapatkan
informasi atau menemukan.
Belajar merupakan proses interaksi antara sesorang dengan
lingkungan yang melibatkan aktivitas mental/psikisnya sehingga terjadi
perubahan tingkah laku, baik pengetahuan, ketrampilan maupun sikap
ke arah yang lebih baik. Perubahan yang dihasilkan dari proses belajar
ini diperoleh melalui pengalaman dan Latihan.
Sudjana ( Muhammad Fathurrohman, 2017 : 4 ) berpendapat
bahwa belajar bukan menghafal dan bukan pula mengingat, belajar
adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri
seseorang. Dengan demikian belajar adalah suatu proses perubahan
kepribadian seseorang dimana perubahan tersebut dalam bentuk

5
peningkatan kualitas perilaku, seperti pengetahuan, ketrampilan, daya
pikir, pemahaman, sikap dan berbagai kemampuan lainnya.
Menurut Muhibbin Syah (1995 :132) ada 3 faktor yang dapat
mempengaruhi belajar peserta didik, yaitu :
a. Faktor internal, yaitu factor yang berasal dari peserta didik sendiri,
seperti : keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.
1) Kondisi jasmani, meliputi kesehatan yang bersifat fisik dari
peserta didik, seperi sakit kepala, sakit gigi dll.
2) Kondisi Rohani meliputi tingkat kecerdasan/ kognitif peserta
didik, seperti : sikap, gaya belajar, kebutuhan belajar, bakat
dan minat peserta didik.
b. Faktor Eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar peserta didik,
seperti lingkungan di sekitar peserta didik : keluarga,
masyarakat,dan lingkungan sosial.
c. Faktor pendekatan belajar ( approach to learning ) yaitu sebuah
upaya belajar peserta didik dengan pendampingan guru, meliputi
strategi dan metode yang digunakan dalam pembelajaran proses
pembelajaran.
Bedasarkan beberapa factor diatas, bahwa setiap peserta didik memiliki
bakat, minat dan gaya belajar yang berbeda-beda, maka perlu
diberikan proses pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan
kebutuhan peserta didik.
2. Hasil belajar
Hasil proses pembelajaran adalah perubahan perilaku individu.
Individu akan memperoleh perilaku yang baru, menetap,
fungsional,positif, disadari dsb. Perubahan perilaku sebagai hasil
belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan yang mencakup
aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
Menurut Ki Hajar Dewantara bahwa tujuan Pendidikan adalah
menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik
sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

6
Tugas guru menurut KHD adalah sebagai pamong yang bertugas
mendidik, mengajar serta proses memanusiakan manusia, sehingga
harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik
secara fisik, mental, jasmani dan rohani.
Dengan proses pembelajaran berdiferensiasi diharapkan peserta
didik mampu meraih kebahagiaan yang setinggi-tingginya, serta
mampu memotivasi diri agar peserta didik mampu
mengimplementasikan karakter profil pelajar Pancasila.

B. Pendidikan Agama Islam


1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan merupakan bimbingan secara sadar oleh pendidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju
terbentuknya kepribadian yang utama. Pendidikan memiliki peran
penting dalam mencetak generasi bangsa di masa depan.
Beberapa konsep atau istilah dalam Pendidikan antara lain
tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Sekarang ini yang istilah Pendidikan yang
sering digunakan adalah tarbiyah.
Jadi pengertian Pendidikan adalah membimbing, memperbaiki,
menguasai, memimpin, menjaga dan memelihara. Esensinya
Pendidikan ialah proses transfer nilai, pengetahuan, dan ketrampilan
dari generasi tua kepada generasi muda agar mereka mampu hidup.
Sedangkan Pendidikan agama islam mencakup 2 hal yaitu :
a. Mendidik peserta didik untuk berperilaku sesuai nilai-nilai atau
akhlak Islam.
b. Mendidik peserta didik untuk mempelajari materi ajaran agama
Islam.
Para ahli mengemukakan tentang Pendidikan agama Islam dengan
beragam rumusan, diantaranya :
a. Tayar Yusuf mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai usaha
sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan,

7
kecakapan dan ketrampilan kepada generasi muda agar menjadi
bertakwa kepada Allah.
b. Zuhairini, Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk
membimbing ke arah pembentukan kepribadian peserta didik
secara sistematis dan pragmatis, supaya hidup sesuai dengan
ajaran Islam, sehingga terjadinya kebahagiaan dunia dan akhirat.
c. Muhaimin dari kutipan GBPP PAI, Pendidikan agama Islam
adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam
menyakini, memahami, menghayati, mengamalkan ajaran Islam
melalui kegiatan, bimbingan, pengajaran dan Latihan dengan
memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam
hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat
untuk mewujudkan persatuan nasional.
Berdasarkan beberapa diatas diatas, dapat disimpulkan bahwa
pengertian Pendidikan agama islam adalah pembentukan perubahan
sikap dan tingkah laku sesuai dengan petunjuk ajaran agama islam.
Sedangkan karakteristik Pendidikan Agama Islam antara lain :
a. Pendidikan agama Islam merupakan bimbingan, Latihan,
pengajaran, secara sadar yang diberikan oleh pendidik terhadap
peserta didik.
b. Proses pemberian bimbingan dilaksanakan seseorang secara
sistematis, kontinyu dan berjalan setahap demi setahap sesuai
dengan perkembangan kematangan peserta didik.
c. Tujuan pemberian agar kelak seseorang berpola hidup yang dijiwai
oleh nila-nilai Islam.
d. Dalam pelaksanaan pemberian bimbingan tidak terlepas dari
pengawasan sebagi proses evaluasi.
2. Dasar Pendidikan Agama Islam
Terdapat dua hal yang menjadi dasar Pendidikan agama Islam, yaitu :
a. Dasar religious

8
Adalah dasar-dasar yang bersumber dari ajaran Islam yang
termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Sebagaimana firman
Allah SWT.

Artinya :” Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan


kepadamu : berlapang-lapanglah dalam majelis,maka
lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.
Dan apabila dikatakan : berdirilah kamu, maka berdirilah niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu,
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dan Allah maka mengetahuai apa yang kamu kerjakan.
b. Dasar Yuridis
Dasar pelaksanaan Pendidikan agama yang berasal dari
perundang-undangan, yang berlaku di Negara Indonesia yang
secara langsung atau tidak dapat dijadikan pegangan untuk
melaksanakan Pendidikan agama, antara lain :
a) Dasar Idiil
Adalah falsafah Negara Republik Indonesia yakni Pancasila.
Pancasila sebagai idiologi Negara berarti setiap warga Negara
Indonesia harus berjiwa Pancasila dimana sila pertama
keTuhanan Yang Maha Esa, menjiwai dan menjadi sumber
pelaksanaan sila yang lainnya.
b) Dasar Strukturil
Yang termaktub dalam UUD 1945 Bab XI pasal 29 ayat 1 dan
2 yang berbunyi : negara berdasarkan atas keTuhanan Yang
Maha Esa, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk
untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadat menurut agama dan kepercayaannya.
Dari UUD 1945 diatas, mengandung makna bahwa negara
Indonesia memberikan kebebasan kepada sesama warga

9
negaranya untuk beragama dengan mengamalkan semua
ajaran agama yang dianut.
c) Dasar Operasional
Adalah merupakan dasar yang secara langsung melandasi
pelaksanaan Pendidikan agama pada sekolah-sekolah di
Indonesia. Dalam UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dan bagaimana kejelasan konsep dasar
operasional ini, akan berkembang sesuai dengan
perkembangan kurikulum Pendidikan dan dinamisasi ilmu
pengetahuan dan teknologi.
3. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau
kegiatan selesai. Jika kita melihat Kembali pengertian Pendidikan
Agama Islam, akan terlihat dengan jelas sesuatu yang diharapkan
terwujud setelah orang mengalami Pendidikan Islam secara
menyeluruh, yaitu kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi
insan kamil dengan pola taqwa. Insan kamil artinya manusia utuh
rohani dan dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal
karena takwanya kepada Allah SWT. Sesuai dengan QS. Al-Imran ayat
102 berikut :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah


sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali
kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam “
4. Materi Pendidikan Agama Islam
Adapun materi pokok pendidikan agama Islam dapat diklasifikasikan
menjadi lima aspek kajian, yaitu :
a. Aspek Al-Quran dan Hadist

10
Dalam aspek ini menjelaskan beberapa ayat dalam Al-Quran dan
sekaligus juga menjelaskan beberapa hukum bacaannya yang terkait
dengan ilmu tajwid dan menjelaskan beberapa hadist Nabi
Muhammad Saw.
b. Aspek keimanan dan aqidah Islam
Dalam aspek ini menjelaskan tentang konsep iman yang meliputi
rukun iman dan rukun Islam.

c. Aspek Akhlak
Aspek ini menjelaskan berbagai sifat-sifat terpuji ( akhlak karimah )
yang harus diikuti dan menjauhi sifat-sifat tercela ( akhlak
mazdmumah ).
d. Aspek hukum Islam atau syari’ah islam
Aspek ini menjelaskan berbagai konsep keagamaan yang terkait
dengan masalah ibadah dan mu’amalah.
e. Aspek Tarikh Islam
Aspek ini menjelaskan sejarah perkembangan atau peradapan islam
yang bisa diambil manfaatnya untuk diterapkan di masa sekarang.

C. Pembelajaran berdiferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasai adalah sebuah pembelajaran yang
mampu mengakomodir berbagai perbedaan gaya belajar, kebutuhan
belajar, bakat dan minat minat belajar peserta didik. Guru harus mampu
merespon kebutuhan belajar peserta didik dan melayani diferensiasi
pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.
Pembelajaran berdiferensiasi pada hakikatnya adalah
pembelajaran yang meyakini bahwa peserta didik memiliki perbedaan
dalam gaya belajar, minat dan kebutuhan belajar. Maka sekolah harus
memiliki perencanaan tentang pembelajaran berdiferensiasi, antara
lain:
1. Mengkaji kurikulum yang sesuai dengan kekuatan dan
kelemahan peserta didik.

11
2. Merancang perencanaan dan strategi pembelajaran yang sesuai,
yaitu kurikulum merdeka yang mampu memenuhi kebutuhan
peserta didik.
Pembelajaran berdiferensiasi bisa dilaksanakan untuk kurikulum
2013 atau kurikulum merdeka, karena dalam kurikulum operasional
satuan Pendidikan (KOSP) dan KTSP memuat seluruh rencana
proses belajar berdiferensiasi yang diselenggarakan di satuan
Pendidikan.
Komponen dalam kurikulum operasional ini disusun untuk
membantu proses berpikir dan mengembangkan satuan Pendidikan.
Dalam pengembangannya , dokumen ini juga merupakan hasil refleksi
semua unsur pendidik di satuan Pendidikan yang kemudian dijadikan
pedoman dalam perubahan kurikulum di sekolah.
Perbedaan definisi pembelajaran kurikulum 2013 dengan
kurikulum merdeka, dapat dilihat dari tabel berikut :
TABEL 2
Definisi pembelajaran berdiferensiasai
Pembelajaran berdiferensiasi Pembelajaran tidak
berdiferensiasi
1. Fleksibel, siswa belajar dengan 1. Labeling, bahwa siswa tidak
teman sebaya baik yang sama disamakan dengan kemampuan
ataupun berbeda kemampuan kelompoknya
sesuai dengan kekuatan dan
minatnya.
2. Memberikan tugas belajar 2. Menganggap siswa tidak
sesuai dengan minat dan mampu mengerjakan tugas dan
kesiapan belajar siswa, namun berpikir tingkat tinggi.
tetap mengacu pada capaian
pembelajaran/ CP,TP dan ATP.
3. Pembelajaran dilakukan 3. Pembelajaran tidak didasarkan
berdasarkan hasil Asessmen pada asesmen awal dan
diagnostic/ tes awal agar dapat kebutuhan belajar mereka.

12
disesuaikan dengan kebutuhan Guru melayani proses
belajar mereka pembelajaran dengan
disamakan kebutuhannya.
4. Siswa belajar berdasarkan 4. Siswa belajar dengan tujuan
tujuan kurikulum yang sama, kurikulum yang sama dan
tetapi menggunakan strategi proses pembelajarannya juga
dan model pembelajaran yang sama
bervariasi
5. Siswa menentukan sendiri cara 5. Guru bertanggung jawab penuh
belajarnya, guru hanya menjadi dalam proses dan cara belajar
fasilitator bagi siswa siswa
6. Pembelajaran diakhiri dengan 6. Pembelajaran hanya diakhiri
projek, produk dan praktek dengan test.

Berdasarkan definisi pembelajaran berdiferensiasi diatas, maka pasti


proses pembelajaran dan situasi kondisi siswa di kelas, saat
pembelajaran mengalami perbedaan juga. Berikut perbedaan
tradisional dan kelas berdiferensiasi.
TABEL 3
Perbedaan kelas tradisional dan kelas berdiferensiasi
Kelas tradisional Kelas berdiferensiasi
1. Perbedaan siswa dianggap 1. Perbedaan siswa disikapi
sebagai masalah sebagai dasar perencanaan
proses pembelajaran
2. Penilaian dilakukan di akhir 2. Penilaian dilakukan diawal,
pembelajaran untuk mengetahui dan terus menerus, serta
siapa yang menguasai materi asesmen dilakukan untuk
merancang pembelajaran
yang akan dilakukan.
3. Lebih menonjolkan kecerdasan 3. Lebih mengakui adanya
intelektual kecerdasan yang majemuk.
4. Hanya ada satu definisi 4. Keunggulan diukur dari

13
unggulan pertumbuhan dan
perkembangan individu.
5. Minat siswa jarang diperhatikan 5. Siswa didampingi untuk
membuat pilihan gaya belajar
sesuai kebutuhannya.
6. Tidak memuat profil pelajar 6. Menunjukkan penerapan profil
pancasila pelajar pancasila
7. Pembelajaran mendominasi 7. Menggunakan banyak media
seluruh kelas pembelajaran
8. Materi dan kurikulum mencakup 8. Pembelajaran didasarkan
semua pembelajaran pada kesiapan, minat dan
profil belajar siswa
9. Penguasaan terhadap materi 9. Penggunaan ketrampilan
dan ketrampilan adalah focus penting untuk memahami
pembelajaran konsep dan prinsip utama
adalah pembelajaran berfokus
pada siswa.
10. Waktu tidak fleksibel 10. Waktu fleksibel berdasarkan
kebutuhan siswa
11. Guru yang memecahkan 11. Siswa yang memecahkan
masalah masalahnya sendiri
12. Guru mengatur standar 12. Siswa bekerjasama dengan
penilaian untuk seluruh kelas guru untuk menyelesaikan
capaian pembelajaran
13. Asesmen dilakukan secara 13. Asesmen dilakukan dengan
tunggal berbagai cara

A. Strategi pembelajaran berdiferensiasi dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :


1. Diferensiasi konten : berhubungan dengan materi atau apa yang
diajarkan pada peserta didik dengan mempertimbangkan pemetaan
kebutuhan belajar peserta didik, baik itu dalam aspek kesiapan

14
belajar, aspek minat peserta didik dan aspek profil belajar peserta
didik atau kombinasi dari ketiganya
2. Diferensiasi proses : menekankan pemahaman guru tentang proses
belajar peserta didik, apakah secara berkelompok atau mandiri.
Guru menetapkan jumlah bantuan yang akan diberikan pada
peserta didik. Siapa sajakah peserta didik yang membutuhkan
bantuan dan siapa sajakah peserta didik yang membutuhkan
pertanyaan pemandu yang selanjutnya dapat belajar secara
mandiri
3. Diferensiasi produk : keberagaman dalam hasil pekerjaan atau
unjuk kerja yang harus ditunjukkan pada guru bisa berbentuk
karangan, tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato,
rekaman, diagram, dan sebagainya.
B. Prinsip- prinsip pembelajaran berdiferensiasi :
1. Asesmen yang berkesinambungan dalam pembelajaran.
bagaimana guru secara terus menerus mengumpulkan informasi
tentang bagaimana peserta didik belajar sehingga dapat Menyusun
rencana pembelajaran/modul ajar sesuai dengan kebutuhan siswa.
2. Guru menjamin proses pembelajaran yang mengakui keberadaan
semua peserta didik. Peserta didik belajar berdasarkan kesamaan
minat dan kebutuhan mereka.
3. Pengelompokan peserta didik secara fleksibel, guru merancang
pembelajaran yang memungkinkan semua peserta didik
bekerjasama dengan berbagai teman sebaya pada waktu tertentu.
Peserta didik juga bekerjasama dengan teman sebaya yang
memiliki tingkat kesiapan sama dan berbeda dengan dirinya.
4. Adanya kolaborasi dan koordinasi yang terus menerus antara guru
dan peserta didik.
5. Guru dan peserta didik bekerjasama untuk membangun komitmen
untuk mewujudkan hasil belajar yang diharapkan.
6. Penggunaan waktu yang fleksibel dalam merespon proses dan
hasil belajar.

15
7. Strategi pembelajaran yang bervariasi, seperti pusat belajar, pusat
pengembangan bakat dan minat, pembelajaran dengan tutor
sebaya dll.
8. Peserta didik dinilai dengan berbagai cara sesuai dengan
pertumbuhan dan perkembangan setiap peserta didik.
Pada proses pembelajaran berdiferensiasi guru wajib
melaksanakan asesmen diagnostic, guna mengetahui kesiapan, minat
dan pilihan belajar.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah mengajar peserta didik
dengan cara berpikir yang berbeda-beda, hal ini menuntut guru
memahami peserta didik sebagai pembelajar. Guru harus bisa
membuat rencana pembelajaran, asesmen dan evaluasi yang berdaya
guna sehingga guru memiliki harapan tinggi terhadap kekuatan peserta
didik yang berbeda-beda.
Saat guru dan peserta didik bekerjasama untuk mengetahui
kesiapan pilihan belajar dan minat peserta didik, maka peserta didik
juga menjadi lebih mengenal dirinya sendiri. Peserta didik lebih
mengenal diri sendiri, mereka yakin untuk memilih bentuk-bentuk
diferensiasi yang ada. Masing-masing komponen tersebut sebagai
berikut :
1. Kesiapan Peserta didik
Pemahaman tentang kesiapan peserta didik dalam belajar
merupakan suatu konsep penting dalam pembelajaran
berdeferensiasi. Sebagai contoh ada peserta didik yang siap belajar
tentang materi yang sulit, namun ada juga peserta didik yang
membutuhkan waktu lama untuk mempelajari materi pelajaran. Jika
guru mengetahui kesiapan siswa dalam suatu konsep, maka guru
dapat mengenalkan dan melaksanakan konsep tersebut sesuai
dengan kebutuhan siswa. Guru dapat memberikan tugas yang
sesuai dengan kesiapan siswa dan mengkreasikan tugas yang
paling sesuai dengan ketrampilan siswa serta melaksanakan profil

16
pelajar Pancasila. Untuk memenuhi kesiapan siswa pada suatu
konsep,guru melakukan asesmen diagnostik.
2. Minat siswa
Bagian yang tidak kalah penting adalah mengenal minat
[Link] mengenali minat siswa, guru dapat merencanakan
pembelajaran yang menarik dan bermakna. Menentukan minat
siswa relative mudah, bisa dengan guru mengajukan pertanyaan
lisan saat awal pembelajaran. atau dengan cara survei meminta
siswa untuk menghubungkan minat mereka dengan suatu topik
yang akan dipelajari.
3. Pilihan belajar siswa ( preferensi )
Preferensi belajar adalah kecenderungan cara-cara tertentu yang
digunakan siswa dalam memproses apa yang harus dipelajari.
Preferensi belajar terdiri dari gaya belajar. Preferensi gaya belajar
adalah bagaimana siswa memilih, memperoleh,memproses dan
mengingat informasi baru. Preferensi gaya belajar terdiri dari
pembelajar visual, auditori dan kinestetik. Guru dapat memilih gaya
belajar yang berbeda untuk tugas yang berbeda. Guru harus
memikirkan bagaimana cara menyajikan informasi dan memberikan
kesempatan belajar bagi siswa dalam melayani proses
pembelajaran.
Karakteristik dari masing-masing gaya belajar tersebut sebagai
berikut:
Tabel 4
Karakteristik Gaya belajar siswa
Gaya belajar karakteristik
1. Visual 1. Mengingat apa yang dilihat, daripada
yang didengar
2. Suka mencoret-coret sesuatu,
terkadang tanpa ada artinya saat di
dalam kelas
3. Pembaca cepat dan tekun
4. Lebih suka membaca daripada

17
mendengar
5. Rapi dan teratur
6. Mementingkan penampilan, dalam hal
pakaian ataupun penampilan
keseluruhan
7. Teliti terhadap sesuatu dengan detail
8. Menggunakan warna dalam
mengorganisasikan informasi
9. Pengeja yang baik
[Link] memahami gambar daripada
instruksi langsung
2. Auditori 1. Lebih cepat menyerap dengan
mendengarkan
2. Menggerakkan bibir mereka dan
mengucapkan tulisan di buku ketika
membaca.
3. Senang membaca dengan keras dan
mendengarkan
4. Dapat mengulangi Kembali dan
menirukan nada, birama dan warna
suara.
5. Bagus dalam berbicara dan bercerita
6. Berbicara dengan irama yang terpola
7. Belajar dengan mendengarkan dan
mengingat apa yang didiskusikan
daripada yang dilihat.
8. Suka berbicara, suka berdiskusi, dan
menjelaskan sesuatu Panjang lebar
9. Lebih pandai mengeja dengan keras
daripada menuliskannya
[Link] musik dan bernyanyi
11. Tidak bisa diam dalam waktu lama
12. Suka mengerjakan tugas kelompok.
3. Kinestetik 1. Selalu berorentasi fisik dan banyak
bergerak

18
2. Berbicara dengan perlahan
3. Menanggapi perhatian fisik
4. Suka menggunakan berbagai peralatan
dan media
5. Menyentuh orang untuk mendapatkan
perhatian mereka
6. Berdiri dekat Ketika berbicara dengan
orang
7. Mempunyai perkembangan awal otot-
otot yang besar
8. Belajar melalui praktek
9. Menghafal dengan cara berjalan dan
melihat
[Link] jari sebagai petunjuk
Ketika membaca
11. Banyak menggunakan isyarat tubuh
12. Tidak dapat duduk diam untuk waktu
lama
13. Menyukai buku-buku yang berorentasi
pada cerita
14. Kemungkinan tulisannya jelek
15. Ingin melakukan segala sesuatu
16. Menyukai permainan dan olah raga

19
Preferensi Kecerdasan, didasarkan pada konsep kecerdasan
majemuk Howard Gardner dan konsep kecerdasan Triarkis Robert
Sternberg. Ada delapan jenis kecerdasan, dimana setiap orang memiliki
satu bahkan lebih jenis kecerdasan. Setiap jenis kecerdasan memiliki
karakteristik sebagai berikut.
Tabel 5
Karakteristik kecerdasan majemuk
No Jenis Kecerdasan Karakteristik

1 Verbal Lingual Kekuatan : suka membaca, menulis,


berbicara, mengingat.
Cara belajar terbaik : membaca,
mendengarkan, melihat kata, menulis,
berdiskusi dan debat.
2 Logika Matematika Kekuatan : suka mengerjakan soal
hitung menghitung, pola, teka
teki,pemecahan masalah
menggunakan logika dan
bereksperimen.
Cara belajar terbaik :
mengklasifikasikan, bermain angka,
membuat poin-poin materi.
3 Visual Spasial Kekuatan : menggambar, memetakan
dan menvisualisasikan benda atau
pikiran.
Cara belajar terbaik : menggunakan
gambar, warna dan mind mapping
4 Fisik Kinestetik Kekuatan : olah raga, menari, bermain
peran dan gerak fisik lainnya.
Cara belajar terbaik : belajar sambil
bergerak seperti bermain, atau

20
menari, atau dengan menyentuh
langsung objek yang dipelajari
5 Musikal Kekuatan : bernyanyi, bermain alat
music, mengingat nada
Cara belajar terbaik : secara auditori,
mendengar music, dengan
bersenandung.
6 Interpersonal Kekuatan : memahami orang lain,
memimpin, mengorganisasikan dan
mengkomunikasikan ide kepada
orang lain dengan baik, menjadi
mediator yang baik
Cara belajar terbaik : diskusi,
pemecahan masalah dengan
bekerjasama.
7 Intrapersonal Kekuatan : memahami diri sendiri,
mampu mengendalikan diri sendiri
Cara belajar terbaik : bekerja sendiri,
merenung
8 Naturalis Kekuatan : merawat tanaman,
menjaga kebersihan lingkungan
Cara belajar terbaik : belajar di alam
terbuka

Preferensi lingkungan melibatkan kondisi di mana peserta didik


belajar yang terbaik. Ada siswa lebih suka diam Ketika bekerja, yang
lain lebih suka bersuara. Ada peserta didik yang lebih suka lingkungan
yang terstruktur dan terang, ada yang suka santai di sudut dengan
pencahayaannya yang tenang.
Preferensi belajar lainnya, preferensi ini juga dapat dipengaruhi
oleh jenis kelamin atau budaya. Oleh karena itu, penting untuk
mengembangkan pemahaman peserta didik sehingga guru dapat
membuat ruang kelas yang cukup fleksibel bagi peserta didik untuk
bekerja dengan cara yang paling produktif.

21
C. Asesmen pembelajaran berdiferensiasi
Asesmen adalah proses pengumpulan, pencatatan, interprestasi,
penggunaan dan komunikasi informasi yang sedang berlangsung
tentang kemajuan peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan,
konsep, ketrampilan dan sikap.
Ada tiga tujuan utama asesmen yaitu : sumatif, formatif.
Diagnostik . Asesmen sumatif berkaitan dengan ujian dan tes,
digunakan untuk memberikan ringkasan pencapaian peserta didik.
Asesmen formatif adalah jenis penilaian yang sering dikaitkan dengan
kelas. Ini melibatkan penggunaan seluruh proses penilaian untuk
memberikan umpan balik kepada peserta didik tentang kemajuan
pembelajarannya sehingga dia dapat belajar lebih efektif. Sedangkan
asesmen diagnostic merupakan tes awal yang dilakukan guru untuk
mengetahui kebutuhan, minat dan gaya belajar siswa, sehingga
diharapkan guru mampu melayani proses pembelajaran dengan tepat.
Pembelajaran berdiferensiasi akan berhasil dengan baik jika
dimulai dari asesmen yang menyeluruh tentang kesiapan, minat dan
gaya belajar peserta didik. Guru menggunakan informasi asesmen ini
untuk mendeferensiasikan lingkungan belajar, menentukan strategi
pembelajaran dan penilaian. Jika guru memiliki informasi yang akurat,
tepat dan dapat diandalkan tentang kondisi peserta didik, serta tentang
kondisi optimal yang akan menumbuhkan dan mendukung
pembelajaran, maka guru dapat menyesuaikan proses pembelajaran
secara efektif dan menyenangkan.

D. Merancang pembelajaran berdiferensiasi


Merancang pembelajaran dapat membantu guru dalam :
a. Merencanakan tujuan akhir
b. Menentukan unsur-unsur pelajaran yang akan dideferensiasikan
c. Garis besar strategi, struktur dan proses pembelajaran.

22
Perencanaan pembelajaran terbagi pada tiga fase :
a. Fase awal, untuk menfokuskan dan melibatkan peserta didik
dengan mengaktifkan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya.
Terkadang dengan mengajukan pertanyaan dan menyelidiki
pemahaman saat ini ( minds on ). Bentuk kegiatan fase awal :
1. Membangun lingkungan belajar yang positif
2. Menghubungkan ke pembelajaran sebelumnya.
3. Mengajukan pertanyaan dan menyelidiki pemahaman saat ini.
b. Fase tengah, untuk memperkenalkan atau memperluas
pembelajaran, dan menyediakan peluang untuk Latihan dan umpan
balik ( aksi ).Bentuk kegiatan fase tengah :
1. Memperkenalkan pembelajaran paradigma baru
2. Memberikan kesempatan untuk Latihan ( misalnya, belajar
mandiri ), menerapkan pembelajaran dan umpan balik.
c. Fase akhir, untuk mengkonsolidasikan pembelajaran dan
memberikan peluang untuk refleksi ( konsolidasi dan koneksi ).
Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk merefleksikan
pembelajaran.

E. Memulai Pembelajaran Berdiferensiasi


1. Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi
Langkah pertama memulai pembelajaran berdiferensiasi adalah
melakukan penilaian terhadap pembelajaran yang dilakukan
selama ini. Tes diagnostic diperlukan untuk mengetahui apakah
siswa sudah diberikan tantangan, variasi belajar, mengidentifikasi
siapa yang paling terlayani dalam pembelajaran, dan memodifikasi
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
2. Menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran
berdiferensiasi.

23
Untuk menilai lingkungan belajar saat ini, guru dapat melakukan tes
awal/ tes diagnostic, guna menentukan strategi pembelajaran yang
mampu mempengaruhi prestasi peserta didik.

3. Menyediakan pilihan
Memberikan peserta didik berbagai pilihan untuk belajar secara
mandiri, cara yang dapat dilakukan untuk menginformasikan
berbagai pilihan belajar, adalah dengan :
a. Secara eksplisit mengajarkan peserta didik ketrampilan yang
diperlukan untuk bekerja secara efektif dalam kelompok atau
dengan pasangan.
b. Bantu peserta didik mengetahui kekuatan dan preferensi
belajar mereka
c. Mendorong dan memberikan kesempatan bagi peserta didik
untuk merefleksikan hasil pilihannya, sehingga mereka bisa
menjadi lebih baik dalam membuat pilihan.
d. Perkenalkan pilihan dengan cara-cara sederhana, dapat
dilakukan dengan cara :
1. Tanyakan apakah peserta didik lebih suka bekerja secara
individu atau pasangan
2. Biarkan mereka memutuskan urutan penyelesaian Ketika
beberapa tugas perlu dilakukan.
3. Mintalah mereka menjawab salah satu pertanyaan tes
dengan menulis atau menggambar.

24
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Ngaglik Kabupaten
Sleman. Adapun penelitian ini dilakukan pada bulan Februari s.d April tahun
2022.
Tabel 6
Jadwal Penelitan Tindakan kelas
NO Kegiatan Februari Maret April Tanggal
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Penyusunan v v 2-9
A Proposal Februari
2022
B Siklus 1
1. Perencanaan v
2. Tindakan
Pertemuan 1 v
Pertemuan 2 v
3. Refleksi v
C Siklus 2
1. Perencanaan v
2. Tindakan
Pertemuan 1 v
Pertemuan 2 v
3. Refleksi v
Penyusunan v v v
D
Laporan
Seminar v 30 April
E
2022

25
B. Subjek Penelitian
Penelitian Tindakan kelas ini dilakukan pada peserta didik kelas IX D
SMP Negeri 1 Ngaglik Kabupaten Sleman, dengan jumlah peserta didik
sebanyak 34 orang dan 1 guru yang mengampu mata pelajaran Pendidikan
agama islam. Penelitian Tindakan kelas ini menguji pelaksanaan
pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan agama
islam.

C. Prosedur penelitian
1. Rencana Tindakan
a. Pemilihan materi pelajaran
Dalam penelitian ini peneliti memilih materi yang memiliki cakupan
cukup luas, yaitu materi Iman kepada Qadha dan Qadar. Dari hasil
belajar peserta didik masih banyak yang mendapatkan nilai
dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM)
b. Penentuan strategi pembelajaran berdiferensiasi
Pembelajaran diferensiasi adalah sebuah pembelajaran yang
mampu mengakomodir berbagai perbedaan gaya belajar,
kebutuhan belajar, bakat dan minat minat belajar peserta didik.
Guru harus mampu merespon kebutuhan belajar peserta didik dan
melayani diferensiasi pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.
Kelebihan dari pembelajaran berdiferensiasai antara lain :
a) Tercipta lingkungan belajar yang mengundang peserta didik
untuk belajar kurikulum merdeka.
b) Guru mampu melayani dan merespon kebutuhan belajar
peserta didik.
c) Terciptanya managemen kelas yang efektif
d) Peserta didik dengan berbagai karakteristik merasa dihargai .
e) Ada kolaborasi antara guru dengan peserta didik
f) Kebutuhan belajar peserta didik terfasilitasi dan terlayani
dengan baik.

26
Pembelajaran berdiferensiasi pada penelian ini adalah dengan
strategi pembelajaran berdiferensiasi antara lain :
a. Deferensiasi Konten
b. Deferensiasi proses
c. Diferensiasi Produk
2. Penyusunan RPP berdeferensiasi
Langkah-langkah dalam menyusun RPP berdiferensiasi :
a. Menuliskan identitas mata pelajaran, antara lain : Satuan
Pendidikan, kelas/semester, mata pelajaran, materi pokok, alokasi
waktu.
b. Menuliskan Standar kompetensi
Strander kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal
peserta didik terhadap penguasaan pengetahuan, sikap dan
ketrampilan yang diharapkan tercapai pada setiap proses
pembelajaran suatu mata pelajaran.
c. Menuliskan Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah kemampuan yang harus dikuasai peserta
didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan
indicator kompetensi dalam suatu mata pelajaran.
d. Menuliskan Indikator Pencapaian Kompetensi
IPK adalah pencapaian yang dapat diukur dan/atau di observasi
untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang
menjadi dasar penilaian mata pelajaran.
e. Merumuskan tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran memberikan arah dan gambaran proses
pembelajaran yang diharapkan tercapai pada peserta didik sesuai
dengan kompetensi dasar.
f. Menuliskan materi ajar
Materi ajar memuat fakta, konsep dan prosedur yang relevan dan
ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator
pencapaian kompetensi.
g. Menentukan strategi pembelajaran berdeferensiasi.

27
Setelah guru melakukan tes diagnostic/tes awal maka guru
membuat media pembelajaran Google Site untuk melayani peserta
didik dengan berbagai kebutuhan dan gaya belajar. Google site
tersebut untuk menfasilitasi peserta didik yang visual, auditori dan
kinestetik, dengan video, buku teks, komik, serta powerpoint.
h. Merumuskan kegiatan pembelajaran
Kegiatan pembelajaran berdeferensiasi terdiri dari :
1) Kegiatan Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam proses
pembelajaran yang bertujuan untuk memotivasi dan
mengkodisikan peserta didik untuk fokus pada kegaiatn
pembelajaran yang akan dilaksanakan.
2) Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran deferensiasi
untuk mencapai KD yang telah disepakati. Pembelajaran
berdeferensiasi diharapkan membuat suasana kelas yang
interaktif, inspiratif, menantang dan menyenangkan. Pada
kegiatan inti peserta didik mendapatkan pelayanan sesuai
dengan minat, kebutuhan dan gaya belajarnya. Pada kegiatan
inti memuat deferensiasinya, baik deferensiasi konten,
deferensiasi proses maupun deferensiasi produk.
3) Kegiatan akhir
Kegiatan akhir merupakan kegiatan mengakhiri pembelajaran
berdeferensiasi dengan peserta didik dengan pendampingan
guru membuat kesimpulan, melaksanakan refleksi atas proses
pembelajaran yang baru saja dilakukan.
4) Menentukan media/ alat/ sumber belajar
Penentuan sumber belajar pada pembelajaran berdeferensiasi
menyesuaikan dengan gaya belajar peserta didik, antara lain
buku teks, video youtube, komik, poster dan powerpoint.
Sedangkan media yang digunakan adalah Google site.

28
5) Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrument penilaian proses dan hasil belajar
dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada
standar penilaian.
i. Penyusunan instrument Penilaian
Dalam menyusun instrument penilaian dilakukan beberapa
Langkah antara lain:
1) Menentukan indikator pencapaian kompetensi
2) Membuat kisi-kisi soal
3) Membuat Soal
4) Menentukan pedoman penilaian.
j. Refleksi pembelajaran
Salah satu ciri dari pembelajaran berdeferensiasi adalah refleksi
pembelajaran. kegiatan ini dilakukan dalam rangka mengetahui
bagaimana proses pembelajaran berdeferensiasi yang baru saja
dilakukan, ada umpan balik untuk memperbaiki proses
pembelajaran berikutnya.

29
Gambar 1.
Model Siklus Penelitian Tindakan kelas

Pelaksanaan
Tindakan

Perencanaan Siklus I Pengamatan

Refleksi

Pelaksanaan
Tindakan

Perencanaan Pengamatan
Siklus II

Refleksi

30
D. Tehnik Pengumpulan data
Proses pengumpulan data pada penelitian Tindakan kelas (PTK) ini ada 2
tehnik, yaitu:
1. Tes
Tes digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam
memahami materi Pendidikan agama Islam khususnya materi Iman
kepada Qadha dan qadar, setelah proses pembelajaran berdeferensiasi
ini dilaksanakan pada peserta didik kelas IX D SMP Negeri 1 Ngaglik
tahun pelajaran 2021/2022. Pada setiap siklus guru memberikan tes
tulis untuk mengukur hasil belajar peserta didik dalam menguasai
materi Pendidikan agama Islam.
2. Non tes
Tehnik non tes yang dipilih pada penelitian ini ada 3 jenis, yaitu
observasi, wawancara dan angket. Observasi digunakan untuk
mengetahui respon peserta didik dalam kelas tersebut, yang akan
membantu pengelompokan deferensiasinya. Wawancara digunakan
untuk mendapatkan informasi dari peserta didik tentang meningkatnya
hasil belajar setelah proses pembelajaran berdeferensiasi. Angket
digunakan untuk tes diagnostic/ tes awal dalam mengelompokkan
peserta didik, serta melayani sesuai dengan deferensiasinya.

E. Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan Tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus. Masing-masing
siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang dicapai. Untuk dapat
mengetahui perkembangan hasil belajar Pendidikan Agama Islam, maka
dilakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru
Pendidikan agama islam yang melakukan penelitian ini. Selain itu juga
dilakukan diskusi antara guru sebagai peneliti dan pengamat sebagai
kolaborator dalam penelitian ini.

31
Berdasarkan hasil angket dari peserta didik dan juga hasil diskusi
dengan kolaborator, maka langkah yang paling tepat adalah mengubah
strategi pembelajaran. Dalam rangka meningkatkan hasil belajar peserta
didik perlu perubahan strategi pembelajaran dari pembelajaran secara
umum dirubah menjadi pembelajaran berdiferensiasi. Dengan
memperhatikan kebutuhan peserta didik, minat peserta didik dan profil
belajar peserta didik, dalam melayani proses pembelajaran di kelas. Dari
hasil refleksi awal maka dijadikan pijakan oleh peneliti untuk pelaksanakan
penelitian Tindakan kelas dengan model pembelajaran berdiferensiasi.
Prosedur pelaksanaan Tindakan kelas ini meliputi :
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan Tindakan
3. Observasi
4. Refleksi pada setiap siklus
Secara terperinci prosedur Tindakan kelas ini dapat diuraikan
sebagai berikut :
SIKLUS 1
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini kegiatan yang dilakukan ialah :
1) Membuat angket yang diisi oleh peserta didik dalam rangka untuk
menentukan proses pembelajaran berdiferensiasinya. Membuat
rencana pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi, dengan
Menyusun RPP berdiferensiasi yang disusun mengggunakan
pedoman pada Permendikbud nomor 14 tahun 2019 yang berisi
kegiatan pendahuluan, kegiatan ini dan kegiatan penutup. Pada
kegiatan pendahuluan terdiri dari kegiatan orientasi, appersepsi,
motivasi dan memberikan petunjuk proses pembelajaran
berdiferensiasi. Kegiatan inti meliputi memberikan stimulus melalui
kegiatan mengamati,membaca, mendengar dan menyimak media
pembelajaran digital dengan Google Site pada materi Pendidikan
agama islam.

32
2) Menyusun lembar kerja peserta didik (LKPD) dan menyiapkan
sumber belajar berdeferensiasi dengan media digital Google Site.
3) Membuat media pembelajaran digital yang berdiferensasi dengan
Google site untuk menfasilitasi minat, kebutuhan dan gaya belajar
peserta didik.
4) Mendesain bentuk evaluasi.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan Tindakan ini dilakukan dengan
menggunakan panduan perencanaan pada RPP berdeferensiasi yang
dibuat, serta dalam pelaksanaan Tindakan kelas ini bersifat fleksibel
dan terbuka terhadap perubahan saat refleksi. Selama proses
pembelajaran berdiferensiasi berlangsung menggunakan RPP
berdiferensiasi yang telah disiapkan.
3. Observasi ( Pengamatan )
Kegaiatan yang dilakukan pada tahap observasi ini adalah
mengobservasi pelaksanaan kegiatan diskusi peserta didik pada
proses pembelajaran berdiferensiasi. Observasi yang dilaksanakan
selama proses pembelajaran berdiferensiasi yaitu menggunakan
lembar observasi : lembar observasi belajar, lembar obsevasi
pengelolaan kelas dalam guru mengajar dan instrument hasil belajar
peserta didik.
4. Tahap refleksi
Pada tahap ini dilakukan untuk mengetahui dampak dari Tindakan
yang telah diimplementasikan pada proses pembelajaran
berdeferensiasi. Dari hasil refleksi ini dilakukan Tindakan evaluasi
apakah Tindakan yang telah dilaksanakan berhasil atau tidak. Refleksi
berpedoman pada temuan selama dilakukan observasi di kelas. Data
dari lembar observasi yang telah diisi oleh kolaborator,
dikomunikasikan dengan guru peneliti sebagai bahan refleksi. Serta
dilakukan perbaikan pada proses pembelajaran berikutnya agar hasil
belajar peserta didik meningkat.

33
SIKLUS 2
Pada pelaksanaan siklus II sama seperti pada pelaksanaan siklus
I, hasil yang diperoleh pada siklus I digunakan sebagai refleksi untuk
menindaklanjuti pelaksanaan penelitian pada siklus II, dengan harapan
untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang terjadi pada siklus
I.
1. Perencanaan
Pada tahap ini Membuat perencanaan pelaksanaan pembelajaran
berdiferensiasi, dengan Menyusun RPP berdiferensiasi
berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan Tindakan pada siklus II pada dasarnya sama seperti
pada siklus I, yaitu dengan subyek penelitian sama seperti siklus I,
tetapi diperbaiki lagi proses pembelajaran berdeferensiasinya
berdasarkan hasil refleksi pada siklus I.
3. Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan pada siklus II sama dengan
pengamatan pada siklus I, pengamatan ini dilakukan untuk
mengamati sejauh mana aktifitas peserta didik dalam
melaksanakan pembelajaran berdeferensiasi melalui lembar
pengamatan yang telah disusun.
4. Refleksi
Refleksi pada siklus II digunakan untuk mengetahui apakah ada
peningkatan hasil belajar secara signifikan dengan pembelajaran
berdeferensiasi. Sebab proses pembelajaran berdeferensiasi guru
sudah melayani minat, kebutuhan dan gaya belajar sesuai dengan
keinginan peserta didik, sehingga harapannya peserta didik merasa
aman, nyaman dan senang mengikuti pembelajaran Pendidikan
agama Islam.

34
F. Data instrument penelitian dan analisis Data
1. Jenis Data
Data yang diambil berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif
berupa data nilai hasil belajar peserta didik saat diberikan tes tulis.
Sedangkan data kualitatif berupa data hasil observasi dan wawancara.
2. Intrumen penilaian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes dan non tes. Tes
yang digunakan pada proses pembelajaran berdeferensiasi ini adalah
berupa soal pilihan ganda 10 butir soal untuk siklus I dan 5 soal
pilihan ganda serta 5 soal uraian pada siklus II. Non tes berupa
pengamatan atau observasi.
3. Analisis data
Data dianalisis dengan secara kuantitatif diskriptif, data hasil belajar
secara individu dibandingkan dengan KKM yang telah ditentukan guru
mata pelajaran pada KTSP.

G. Indikator Keberhasilan Tindakan Penelitian


1. Tindakan dianggap berhasil bila dalam proses pembelajaran
berdiferensiasi 90% peserta didik terlibat aktif.
2. Tindakan dikatakan berhasil apabila hasil belajar peserta didik > KKM
dan secara klasikal dikatakan berhasil jika jumlah peserta didik dalam
kelas yang mendapat nilai > 75 ada 85%

35
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi pra Tindakan
Penelitian Tindakan kelas ini dilaksanakan di semester genap
tahun pelajaran 2021/2022, kegiatan ini berlangsung selama 3 bulan
yaitu bulan Februari sampai bulan April 2022. Penelitian Tindakan
kelas ini dilakukan di SMP Negeri 1 Ngaglik dengan judul “UPAYA
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DENGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA SISWA
KELAS IX D SMP NEGERI 1 NGAGLIK TAHUN PELAJARAN
2021/2022”. Diawali dengan mengadakan observasi serta hasil
analisis Ujian akhir semester ganjil tahun 2021/2022 dan ulangan
harian pertama sebelum Tindakan yang mencapai KKM baru 50 %.
Hal tersebut yang membuat peneliti mencari akar masalah dalam
proses pembelajarannya. Keprihatian peneliti melihat hasil belajar
peserta didik, membuat peneliti mencoba mengubah proses
pembelajaran biasa dengan proses pembelajaran berdeferensiasi.
Dalam pembelajaran berdeferensiasi guru harus mampu menfasilitasi
kebutuhan, minat dan gaya belajar peserta didik agar mereka merasa
senang dan bahagia saat mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama
Islam. Sehingga harapannya nilai hasil belajarnya meningkat minimal
sesuai KKM atau lebih.
Tabel 7
Hasil Observasi nilai peserta didik
Kelas Banyaknya peserta didik Banyaknya peserta didik yang
yang nilainya > KKM pada nilainya > KKM pada Ulangan
PAS semester gasal tahun harian 1, semester genap
pelajaran 2021/2022 tahun pelajaran 2021/2022
IX D 17 16

36
Penelitian Tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus, yang
terlaksankan dalam 4 minggu. Prosedur pelaksanaan pada setiap
siklus adalah perencanaan, pelaksanaan Tindakan, evaluasi dan
refleksi. Pada prosedur penelitian Tindakan kelas siklus 1 dipaparkan
secara lengkap, sedangkan pada prosedur penelitian siklus 2 relatif
sama dengan siklus 1. Dengan demikian pembahasannya lebih
difokuskan pada hasil observasi dan refleksi. Langkah yang akan
dilakukan pada siklus 2 adalah perbaikan dari temuan permasalahan
serta antipasinya dari siklus sebelumnya.
2. Hasil Penelitian Siklus 1
a. Perencanaan
Siklus 1 dilaksanakan dalam dua kali pertemuan,
pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal, 25 Februari 2022.
Kompetensi dasar ( KD ) yang dipelajari adalah KD. 3.4
memahami makna iman kepada Qadha dan qadar berdasarkan
pengamatan terhadap dirinya, alam sekitar dan makhluk cipatan-
Nya. Pada pertemuan pertama proses pembelajaran
berdiferensiasi dilaksanakan tes diagnostic/ tes awal untuk
menentukan strategi pembelajaran yang akan dilakukan. Materi
pokok yang dipelajari pada pertemuan pertama antara lain
mendiskripsikan pengertian iman kepada iman kepada qadha dan
qadar sebagai tes awal pada proses diferensiasi konten yang
akan dilaksanakan pada pertemuan berikutnya.
Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 4 Maret
2022, yaitu proses pembelajaran berdiferesiasi sesuai dengan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) yaitu dengan
membagi kelompok diskusi berdasarkan tes diagnostic yang telah
dilakukan pada pertemuan pertama, dan dengan media
pembelajaran Google sites guna mempelajari materi KD 3.4
memahami makna iman kepada Qadha dan qadar berdasarkan
pengamatan terhadap dirinya, alam sekitar dan makhluk cipatan-
Nya. Sesuai dengan kebutuhan, minat dan gaya belajar peserta

37
didik yang telah disepakati yaitu dengan : buku teks, Video
Youtube, Power point, dan komik. Serta menyelesaikan soal
materi iman kepada qadha dan qadar.
Perencanaan diawali dengan kegiatan menentukan
scenario Tindakan peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama
Islam dengan proses pembelajaran berdiferensiasi pada materi
memahami makna iman kepada Qadha dan qadar berdasarkan
pengamatan terhadap dirinya, alam sekitar dan makhluk ciptan-
Nya. Kegiatan tersebut dimulai dengan menyusun silabus,RPP
Berdiferensiasi, Media pembelajaran Google sites, penilaian,
lembar kerja peserta didik ( LKPD ), alat dan bahan yang
diperlukan, instrumen evaluasi baik kelompok atau individu.
Sebelum pelaksanaan penelitian Tindakan kelas dengan
pembelajaran berdiferensiasi perlu dilakukan sosialisasi kepada
peserta didik kelas IX D tentang “ Upaya meningkatkan hasil
belajar Pendidikan Agama Islam dengan pembelajaran
berdiferensiasi pada peserta didik kelas IX D materi Iman kepada
qadha dan Qadar.”
Persiapan yang harus dilakukan guru dalam kegiatan
pembelajaran berdiferensiasi antara lain : 1) membuat soal tes
diagnostic. 2) membuat media pembelajaran Google Sites yang
berisi materi berupa : buku teks, Video Youtube, Powerpoint, dan
komik. 3) guru membagi kelompok sesuai dengan hasil tes
diagnostic pada proses pembelajaran berdiferensiasi yang akan
dilakukan, ada kelompok buku teks, kelompok Video Youtube,
kelompok Powerpoint dan kelompok Komik, setiap kelompok
terdiri dari 4 atau 5 anak.
Siklus ini dilaksanakan pada materi iman kepada qadha
dan qadar yang meliputi : 1) menemukan pengertian pengertian
iman kepada qadha dan qadar. 2) mampu menganalisis
pembagian takdir mubram dan takdir muallaq. 3) menemukan

38
contoh kejadian dalam kehidupan sehari-hari terkait takdir
mubram dan takdir muallaq.
b. Pelaksanaan Tindakan
Siklus 1 dilaksanakan dua kali pertemuan, pertemuan
pertama pada tanggal 25 Februari 2022 dan pertemuan kedua
dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2022. Penelitian Tindakan
kelas dilaksanakan di kelas IX D yang terdiri dari 34 peserta didik,
pada siklus 1 pertemuan pertama banyaknya peserta didik yang
hadir ada 34, sedangkan pada perteuan kedua banyaknya siswa
yang hadir ada 34, dan observer sebagai kolaborator 1 orang.
Pada siklus 1 pada pertemuan pertama peneliti
melaksanakan proses pembelajaran berdiferensiasi dengan
membuat kelompok peserta didik berdasarkan tes diagnostic.
Materi yang akan dipelajari adalah iman kepada qadha dan qadar,
dengan Skenario pembelajaran berdiferensiasi menggunakan
media pembelajaran Google sites. Dengan harapan pembelajaran
tersebut mampu melayani semua gaya belajar dan kebutuhan
belajar peserta didik agar hasil prestasi belajar meningkat.
Tahap 1 : peserta didik dibentuk kelompok sesuai hasil tes
diagnostic, serta kebutuhan, minat dan gaya
belajarnya, menggunakan HP untuk mengakses
media pembelajaran Google Sites, peserta didik
melaksanakan diskusi kelompok, mengerjakan lembar
kerja peserta didik (LKPD ).
Tahap 2 : Peserta didik berkelompok sesuai pada pertemuan
pertama, setiap kelompok menyiapkan persentasi
sesuai dengan gaya belajar,bakat dan minat mereka,
boleh dengan Narasi, Video, Powerpoint dan komik
sesuai kesepakatan kelompok tersebut. Setelah
semua kelompok pesentasi maka peserta didik
membuat kesimpulan dan refleksi proses

39
pembelajaran. Evluasi dilaksanakan pada akhir
pertemuan kedua setiap siklusnya .
Kegiatan peserta didik pada siklus 1 pertemuan pertama
dankedua
Gambar 1 : Diskusi kelompok sesuai gaya belajar peserta
didik

Peserta didik
menyelesaikan LKPD
dengan sumber
belajar yang
berdiferensiasi

Gambar 2 : Media Pembelajaran Google site

Media pembelajaran Google site


untuk menfasilitasi gaya belajar
peserta didik

40
Pada kegiatan siklus 1 pertemuan pertama peserta didik
mengerjakan LKPD sebagai berikut :
1. Deskripsikan pengertian Qadha dan Qadar , Pengertian Iman
kepada Qadha dan Qadar dengan benar !
Jawab:……………………………………………………….
2. Menganalisis macam-macam takdir !
Jawab:……………………………………………………..
3. Menganalisis contoh takdir mubram dan takdir mualaq dalam
kehidupan sehari-hari yang dialami peserta didik!
Jawab:……………………………………………………….
Tahap 3 : peserta didik melaksanakan persentasi hasil kerja
kelompok, siswa yang lainnya memberikan tanggapan

Gambar 3 : Persentasi peserta didik

Persentasi
peserta
didik
dengan
melayani
gaya
belajar
Visual dan
auditori

Tahap 4 : Guru memberikan apresiasi pada kelompok yang


pesentasi sesuai dengan gaya belajar mereka.
Tahap 5 : Guru memberikan konfirmasi dan penguatan dari
materi yang dipelajari pada proses pembelajaran.
Tahap 6 : Peserta didik mengerjakan tugas mandiri
Tahap 7 : Peserta didik diarahkan untuk merangkum point point
penting pada pembelajaran.
Tahap 8 : Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari
minggu depan

41
Tahap 9 : Guru bersama peserta didik melakukan refleksi untuk
mengetahui tindak lanjut pada pembelajaran
berikutnya.

Tabel 8 : Tingkat keaktifan peserta didik belajar pada siklus 1


Kriteria Jumlah siswa Prosentasi keaktifan
Aktif 14 41, 17%
Belum aktif 20 58,8 %

Sedangkan pada siklus 1 pertemuan kedua peserta didik


menyelesaikan contoh soal tentang memahami makna iman
kepada Qadha dan qadar berdasarkan pengamatan terhadap
dirinya, alam sekitar dan makhluk cipatan-Nya dengan pertanyaan
lisan dari guru. Kemudian peserta didik mengerjakan latihan soal
yang bertujuan mengetahui tingkat pemahaman peserta didik
terkait materi tersebut.

Tabel 9 : Hasil belajar peserta didik pada siklus 1 dengan KKM


75
Kriteria Jumlah Prosentase Keterangan
Tuntas 22 64,70% Rata-rata……
Belum tuntas 12 35,26% Rata-rata……

c. Refleksi Tindakan
Berdasarkan pengamatan guru pada peserta didik saat
proses pembelajaran berdiferensiasi diperoleh hasil sebagai
berikut : 1) pada perlakuan/tindakan yang pertama masih ada
beberapa peserta didik terlihat belum aktif, serta masih bingung
bagaimana menggunakan sumber belajar Googlesite dari HP
mereka. 2) Saat peserta didik melakukan persentasi dengan
berbagai gaya belajar, antara lain dengan Powerpoint, Komik, teks
dll belum semua peserta didik mendengarkan dengan baik.

42
Sehingga masih ditemukan peserta didik yang belum memberikan
umpan balik atau pertanyaan kepada teman yang persentasi. 3)
Sebagian peserta didik hanya memperhatikan persentasi
kelompok lain, tetapi mereka belum memiliki kemandirian untuk
mencatat point-point penting dari hasil persentasi kelompok lain.4)
ada 6 kelompok yang sudah dapat membuat kontruksi materi
dengan benar sesuai dengan tujuan pembelajaran, tetapi masih
ada 2 kelompok kinestetik yang masih harus pendampingan guru.
5) Dari kemajuan hasil belajar belum memuaskan masih ada 12
peserta didik yang belum tuntas.
d. Simpulan Siklus 1 dan tindak lanjut
Dari hasil refleksi pada siklus 1 proses pembelajaran
berdiferensiasi masih harus ditingkatkan, misalnya : Perlu
dicermati efektifitas durasi waktu untuk pembagian kelompok
setelah tes diagnostic dilakukan, proses diskusi, persentasi,
evaluasi dan refleksi. Pada proses pembelajaran berdiferensiasi
guru sebagai fasilitator, karena proses pembelajaran ini berpihak
pada peserta didik. Guru perlu memastikan jaringan internet
sekolah di ruang kelas, supaya peserta didik dapat mengakses
Google site dengan mudah dari HP mereka. Hal-hal yang perlu
ditingkatkan dan diperbaiki pada siklus ke 2 adalah :

Tabel 10 : Hasil refleksi dan tindak lanjut


Hasil Refleksi siklus 1 Tindak lanjut pada siklus 2
58,8 % peserta didik belum 1. Menganalisis ketidakaktifan
aktif dalam pembelajaran peserta didik dalam
berdiferensiasi pembelajaran
berdiferensiasi
2. Memperbaiki proses
35,26% peserta didik belum 1. Menganalisis penyebab
tuntas KKM 75 peserta didik belum tuntas
hasil belajarnya

43
2. Memperbaiki proses

3. Hasil Penelitian Siklus 2


a. Perencanaan Tindakan
Siklus ke 2 dilaksanakan dengan 2 kali pertemuan,
pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2022.
Kopmpetensi dasar (KD ) yang dipelajari adalah KD 3.7
memahami makna tata krama, sopan santun dan rasa malu. Pada
siklus ke 2 pertemuan pertama mendiskripsikan pengertian tata
krama,sopan santun dan rasa malu, mengetahui dalil naqli tentang
tata krama, sopan santun dan rasa malu.
Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2022
proses pembelajarannya sesuai Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP ) yaitu mengetahui pengertian tata krama,
sopan santun dan rasa malu beserta dalil naqlinya yang telah
dipelajari pada pertemuan pertama, untuk menyelesaikan soal
terkait materi tersebut. Sebelum melaksanakan pembelajaran
berdiferensiasi guru melakukan persiapan antara lain :
1. Menyiapkan media pembelajaran Google Site sesuai KD. 3.7
tentang memahami makna tata krama, sopan santun dan rasa
malu.
2. Peserta didik dibuat menjadi 8 kelompok, dan duduk sesuai
dengan kelompoknya masing-masing sesuai hasil tes
diagnostic yang telah dilakukan pada siklus 1 pertemuan
pertama.
b. Pelaksanaan Tindakan
Peneliti melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi tentang
materi Tata krama, sopan santun dan rasa malu sesuai dengan
scenario pembelajaran yang dibuat dalam Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) dengan beberapa perubahan dari
pengalaman siklus 1 : 1) Efektifitas pembagian waktu saat
pembagian kelompok diferensiasinya.2) guru menyiapkan sumber

44
belajar dari Google site sesuai tema.3) Guru memberikan motivasi
kepada peserta didik agar lebih aktif dalam pembelajarannya.4)
guru melakukan refleksi untuk tindak lanjut.
Tahap 1 : peserta didik dibentuk kelompok sesuai hasil tes
diagnostic, sesuai kebutuhan, minat dan gaya
belajarnya. Peserta menggunakan HP untuk
mengakses media pembelajaran Google Sites
sebagai sumber belajar, peserta didik melaksanakan
diskusi kelompok, mengerjakan lembar kerja peserta
didik (LKPD ).
Tahap 2 : peserta didik berkelompok sesuai pada pertemuan
pertama, setiap kelompok menyiapkan persentasi
sesuai dengan gaya belajar,bakat dan minat
mereka, boleh dengan Narasi, Video, Powerpoint
dan komik sesuai kesepakatan kelompok tersebut.
Setelah semua kelompok pesentasi maka peserta
didik membuat kesimpulan dan refleksi proses
pembelajaran. Evluasi dilaksanakan pada akhir
pertemuan kedua setiap siklusnya .
Kegiatan peserta didik pada siklus 2 pertemuan pertama dan
kedua.

Gambar 4 : Guru memberikan penjelasan Skenario


pembelajaran berdiferensiasi secara klasikal

Guru
menyampa
ikan tujuan
pembelajar
an dan
scenario
pembelajar
an dari
hasil tes
diagnostik

45
Gambar 5 : Media pembelajaran Google site

Pada kegiatan siklus 2 pertemuan pertama peserta didik


mengerjakan LKPD sebagai berikut :
1. Mendiskripsikan pengertian tata krama, sopan santun dan
rasa malu….
2. Menjelaskan dalil naqli tentang perintah tata krama, sopan
santun dan rasa malu, dari Alqur’an maupun hadist….
3. Menganalisis dan mengelompokan perilaku dalam kehidupan
sehari-hari terkait dengan implementasi perilaku tata krama,
sopan santun dan rasa malu…

46
Gambar 6 : Guru memberikan pendampingan individu

Guru
mendampin
gi siswa
menggunak
an buku teks
sebagai
sumber
belajar
karena tidak
membawa
HP

Tahap 3 : Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi,

Peserta didik
persentasi
dengan
bentuk
komik, dan
peserta didik
lainnya
menanggapi

Tahap 4 : Guru memberikan apresiasi pada peserta didik yang


persentasi dan yang memberikan umpan balik,
tanggapan atau pertanyaan.
Tahap 5 : Guru memberikan penguatan dan mengkonfirmasi
materi yang belum jelas dipahami peserta didik.
Tahap 6 : Peserta didik mengerjakan soal Latihan secara
mandiri
Tahap 7 : Peserta didik diarahkan untuk merangkum point point
penting pada pembelajaran.

47
Tahap 8 : Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari
minggu depan
Tahap 9 : Guru bersama peserta didik melakukan refleksi untuk
mengetahui tindak lanjut pada pembelajaran
berikutnya.

Tabel 9 : tingkat keaktifan peserta didik belajar pada siklus 2


Kriteria Jumlah siswa Prosentasi keaktifan
Aktif 31 91,17%
Belum aktif 3 8,83 %

Sedangkan pada siklus 2 pertemuan kedua peserta didik


menyelesaikan contoh soal tentang perilaku tata krama, sopan
santun dan rasa malu dengan pertanyaan lisan dari guru.
Kemudian peserta didik mengerjakan latihan soal yang bertujuan
mengetahui tingkat pemahaman peserta didik terkait materi
tersebut.
Tabel 9 : Hasil belajar peserta didik pada siklus 1 dengan KKM 75
Kriteria Jumlah Prosentase Keterangan
Tuntas 30 88,23% Rata-rata……
Belum tuntas 4 11,77% Rata-rata……

c. Refleksi Tindakan
Selama proses pembelajaran berdiferensiasi berlangsung
dapat diamatai bahwa peserta didik sebagai berikut : 1) peserta
didik lebih aktif dalam pembelajaran dibuktikan jumlah peserta
yang aktif meningkat. 2) peserta didik sudah terbiasa bertanggung
jawab menggunakan HP dan media pembelajaran Google site
sebagai sumber belajar. 3) peserta didik merasa senang dalam
mengikuti pembelajaran, banyak peserta didik yang antusias
dalam mengerjakan tugas persentasi sesuai dengan model yang
mereka senangi. 4) kemampuan hasil belajar sudah ada

48
peningkatan, dari jumlah 34 peserta didik, 30 peserta didik telah
tuntas KKM atau 88,23 %.

d. Hasil refleksi Siklus 2


Dari hasil refleksi pada siklus 2 proses pembelajaran
berdiferensiasi berjalan dengan baik dan lancar , evaluasi terkait
efektifitas durasi waktu untuk pembagian kelompok setelah tes
diagnostic sudah dilakukan, proses diskusi, persentasi, evaluasi
dan refleksi. Pada proses pembelajaran berdiferensiasi guru
sebagai fasilitator, karena proses pembelajaran ini berpihak pada
peserta didik. Guru perlu memastikan jaringan internet sekolah di
ruang kelas, supaya peserta didik dapat mengakses Google site
dengan mudah dari HP mereka. Sehingga keaktifan peserta didik
mengalami peningkatan yang siknifikan dari yang aktif pada siklus
1 baru 14 peserta didik, maka pada siklus 2 jumlah peserta didik
yang meningkat keaktifannya ada 27 peserta didik.
e. Simpulan dan tindak lanjut
Tabel 11 : Simpulan siklus 2 dan tindak lanjut
Simpulan siklus 2 Tindaklanjut
91,17% peserta didik telah Guru harus mampu kreatif dan
aktif dalam pembelajaran , 31 inovatif dalam melayani
peserta didik aktif dari 34 peserta didik dengan
peserta didik pembelajaran berdiferensiasi
88,23% peserta didik telah Mempertahankan proses
berhasil tuntas sesuai KKM pembelajaran yang sudah baik

49
B. Pembahasan

Diagram 1

100%
90%
80%
70%
60%
PRESEN-
50%
TASE
40%
30%
20%
10%
0%
Category 1 Category 2
Siklus 1 = 43% Siklus 2 = 77%2

Dari hasil pengamatan kolaborator dan peneliti dari proses


pembelajaran berdiferensiasi siklus 1 dan siklus 2 terdapat peningkatan
hasil belajar. Pada siklus 1 dan 2 ada peningkatan peserta didik yang
mencapai KKM dari 22 peserta didik atau 64,70% menjadi 30 peserta
didik atau 88,23%.
Sedangkan dari keaktifan peserta didik pada proses pembelajaran di
siklus 1 dan siklus 2 juga mengalami kenaikan. Pada siklus 1 peserta
didik yang aktif ada 20 peserta didik atau 58,8 % naik pada siklus 2
menjadi 31 perserta didik atau 91,17%.

50
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian Tindakan kelas tentang “Upaya
meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam dengan
pembelajaran berdiferensiasi pada peserta didik kelas IX D SMP Negeri 1
Ngaglik tahun pelajaran 2021/2022”, diperoleh hal-hal sebagai berikut :
1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan proses
pembelajaran berdeferensiasi mampu meningkatkan pemahaman
peserta didik tentang materi pelajaran.
2. Peserta didik merasa senang mengikuti pembelajaran dengan
berbagai sumber belajar sesuai dengan dengan gaya belajar
mereka.
3. Terdapat peningkatan hasil belajar dari siklus 1 dan siklus 2, dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran
berdiferensiasi yang diterapkan pada kelas IX D SMP Negeri 1
Ngaglik, terbukti efektif membuat peserta didik termotivasi belajar
mandiri, sehingga prestasi belajarnya meningkat.

B. Saran
Ada beberapa saran yang perlu disampaikan sehubungan dengan hasil
penelitian ini, antara lain :
1. Keberhasilan proses pembelajaran berdiferensiasi sangat
dipengaruhi oleh guru dalam mengelola kelas dan bagaimana guru
mampu melayani gaya belajar, minat dan kebutuhan peserta didik.
2. Guru harus kreatif dalam membuat media pembelajaran yang
mampu melayani pembelajaran berdiferensiasi.

51
3. Pembelajaran berdiferensiasi harus dilaksanakan secara konsinten,
sehingga peserta didik merasa senang mengikuti pembelajaran
Pendidikan Agama Islam.

52
DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim.,dkk.2005. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya :UNESA – University
Press.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, [Link] Pelatihan
Guru Penggerak memenuhi kebutuhan belajar murid melalui
pembelajaran berdiferensiasi. Jakarta : Dirjen GTK
Marlina. 2019. Panduan Pelaksanaan Model Pembelajaran Berdiferensiasi di
sekolah inklusi.
Irwan.,2017. “Penerapan Model Pembelajaran Marketplace Activity Berbantuan
internet Dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI kelas VIII SMPN 3
Lembang “ Al Islah, Jurnal Studi [Link] XV no.1, Januari –
Juni 2017 : Lembang
Widi Hastuti. 2017 “ Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Multi Model
CTL ( Contextual Teaching Learning ) pada Siswa kelas IXE SMPN 2
Ngemplak tahun pelajaran 2017/2018. November 2017 : Sleman
Nuruhbiyati. 2013 Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta, Pustaka Setia
Sugiyono. 2007, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung, Alfabeta

53

Anda mungkin juga menyukai