Pembangunan Berwawasan Kependudukan
Pembangunan Berwawasan Kependudukan
PEMBANGUNAN
BERWAWASAN
KEPENDUDUKAN
Revisi
2022
Tahun 2022
Hak Cipta @ 2022
PERANGKAT
TRAINING OF TRAINER (ToT)
PELATIHAN FUNGSIONAL DASAR (LFD)
PENYULUH KELUARGA BERENCANA
Pengarah :
Dr. Drs. Lalu Makripuddin, [Link]
Dr. Dadi Ahmad Roswandi, [Link]
Uswatun Nisa, [Link], MAPS
Pelaksana Teknis :
Desnita Ekaratri Wulandari, SS., MPH
Iwan Tri Hariyanto, SPd
Tim Editor :
Tri Aryadi, [Link]
Sri Agustien, SE
Diterbitkan oleh :
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPENDUDUKAN DAN KB
BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL
Jl. Permata No. 1 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur 13650
Undang - Undang nomor : 52 tahun 2009 tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga
adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta
masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan
kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga dan peningkatan
kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil yang
bahagia dan sejahtera. Saat ini program Kependudukan, KB dan
Pembangunan Keluarga masih menjadi perhatian dan komitmen Pemerintah RI, sehingga
program ini masih tercantum dan diamanatkan pula dalam Peraturan Presiden RI tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024.
i
Penyusunan perangkat Pelatihan Fungsional Dasar (LFD) Penyuluh Keluarga Berencana
yang berkualitas di lingkungan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) dalam rangka mendukung program Banggakencana, maka diperlukan suatu
pelatihan yang secara sistematis dirancang untuk mencapai tujuan penyusunan tersebut.
Selanjutnya, Pelatihan yang dilaksanakan di BKKBN peruntukkannya oleh tenaga Fasilitator
yang akan membentuk Penyuluh KB di lapangan menjadi lebih profesional.
Saya sangat menyambut baik diterbitkannya perangkat pelatihan ; Modul dan media/Bahan
Tayang Pelatihan Fungsional Dasar sebagai upaya Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional sesuai dengan kebutuhan dalam mendukung program Banggakencana
di lingkungan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan
perkembangan terkini.
Akhirnya kepada semua pihak diucapkan terima kasih atas partisipasi, kontribusi, masukan,
saran dan koreksi, hingga tersusunnya Perangkat pelatihan ini. Semoga Tuhan Yang Maha
Esa meridhoi upaya kita dalam mendukung dan mengelola Program Kependudukan,
Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga secara profesional, hingga terwujudnya
Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera. Berencana itu Keren.
ii
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha
Esa, karena atas rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, kami telah
menyelesaikan penyusunan Paket Perangkat Pelatihan
Fungsional Dasar dengan tepat dan berkualitas guna
kepentingan menjaga mutu penyelenggaraan dan memenuhi
standarisasi program pelatihan yang disyaratkan.
Pelatihan Fungsional Dasar ini khususnya untuk memantapkan keterampilan peserta dalam
pelaksanaan Pengelolaan yang terkini dalam rangka mendukung program Banggakencana.
Perangkat pelatihan ini adalah acuan untuk menyelenggarakan Pelatihan Fungsional Dasar.
Tujuan pedoman pelatihan teknis ini adalah menciptakan panduan yang layak mengenai
tahapan pelaksanaan dan evaluasi yang harus dikerjakan oleh penyelenggara pelatihan yang
dimasud untuk mewujudkan good governance.
Untuk tercapainya tujuan pelatihan sebagaimana yang diharapkan, maka kurikulum dan bahan
pembelajaran Pelatihan Fungsional Dasar dilengkapi dengan berbagai media antara lain
handout slide, dan video yang secara terus menerus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
lapangan. Media pembelajaran tersebut diharapkan dapat menguatkan proses belajar
mengajar dan meningkatkan kompetensi kepada peserta Pelatihan Fungsional Dasar bagi
Penyuluh KB.
iii
Penyempurnaan dan pengembangan perangkat pelatihan kekinian tentunya akan terus
dilakukan dan ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan wilayah, masyarakat, serta
perkembangan program, ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerbitan Paket Perangkat)
Pelatihan Fungsional Dasar ditujukan untuk lebih memantapkan Sumber Daya Manusia dalam
pelaksanaan program Bangga kencana.
Semoga dengan diterbitkannya paket pembelajaran Pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh
KB di Kabupaten dan Kota, dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan Pengelolaan program
Banggakencana.
Akhir kata, penghargaan dan apresiasi yang setingi-tingginya serta ucapan terima kasih
disampaikan kepada berbagai pihak yang telah membantu penyusunan Paket Perangkat
Pelatihan ini. Semoga paket pelatihan ini bermanfaat untuk menjamin terlaksananya
penyelenggaraan Pelatihan Fungsional Dasar yang berkualitas.
iv
KATA SAMBUTAN ............................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................................ 1
A. Latar belakang ...............................................................................................................................1
B. Deskripsi Singkat ..........................................................................................................................2
C. Manfaat Modul ..............................................................................................................................3
D. Tujuan Pembelajaran ..................................................................................................................3
E. Materi Pokok dan Submateri Pokok ......................................................................................3
F. Petunjuk Belajar ............................................................................................................................4
BAB II KONSEP DASAR PEMBANGUNAN BERWAWASAN KEPENDUDUKAN................... 6
A. Pengertian.......................................................................................................................................6
B. Aspek penting pembangunan berwawasan kependudukan ........................................7
C. Sejarah Konsep Pembangunan Berwawasan Kependudukan ................................... 11
D. Interelasi Kependudukan dalam Pembangunan: Integrasi Penduduk dalam
pembangunan ............................................................................................................................ 19
E. Kontribusi Program Bangga Kencana dalam Pembangunan Berwawasan
Kependudukan ........................................................................................................................... 25
F. Rangkuman .................................................................................................................................. 28
G. Latihan .......................................................................................................................................... 29
H. Tes Formatif ................................................................................................................................ 30
I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................................................ 32
BAB III KONDISI KEPENDUDUKAN INDONESIA SAAT INI DAN MENDATANG ............... 33
A. Situasi Kependudukan Indonesia dari berbagai Aspek ............................................... 33
B. Dampak situasi kependudukan Indonesia dari berbagai aspek (politik, ekonomi,
lingkungan, sosial dan hankam) ........................................................................................... 38
C. Refleksi isu nasional ke dalam isu lokal ............................................................................. 46
D. Rangkuman .................................................................................................................................. 48
E. Latihan .......................................................................................................................................... 48
F. Tes Formatif ................................................................................................................................ 49
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................................................ 51
v
BAB IV PENDUDUK SEBAGAI PUSAT RUJUKAN DALAM PEMBUATAN KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN ..................................................................................................................... 52
A. Jenis dan Sumber Data Kependudukan ........................................................................... 53
B. Pemanfaatan data kependudukan...................................................................................... 62
C. Rangkuman .................................................................................................................................. 64
D. Latihan .......................................................................................................................................... 65
E. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................................................ 66
BAB V PENYUSUNAN BAHAN DASAR ADVOKASI DAN KIE BERTEMAKAN
KEPENDUKAN SESUAI DENGAN SITUASI DAN KONDISI KEPENDUDUKAN
SETEMPAT................................................................................................................................67
A. Mengidentifikasi sasaran ........................................................................................................ 72
B. Penyusunan Materi Kependudukan.................................................................................... 79
C. Pemilihan media yang akan digunakan ............................................................................. 81
D. Forum yang dapat dimanfaatkan ........................................................................................ 82
E. Rangkuman .................................................................................................................................. 85
F. Latihan .......................................................................................................................................... 86
G. Tes Formatif ................................................................................................................................ 86
H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................................................ 87
BAB VI PENUTUP ............................................................................................................................. 88
A. Kesimpulan .................................................................................................................................. 88
B. Evaluasi Sumatif......................................................................................................................... 89
C. Kunci Jawaban ........................................................................................................................... 95
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 96
vi
A. Latar belakang
Berbagai kalangan sepakat bahwa isu kependudukan adalah salah satu isu yang sangat
krusial di Indonesia saat ini, namun seringkali muncul ketidaksepakatan mengenai apa
sebenarnya akar persoalan dan
kesepakatan mengenai solusi alternatif
yang tepat. Berbagai ketidaksepakatan ini
menunjukkan adanya disparitas dalam
perbedaan cara pandang dan interpretasi
terhadap fakta-fakta. Misalnya ada
sebagian kalangan yang berpendapat bahwa persoalan kependudukan di Indonesia
semata-mata adalah mengontrol tingkat fertilitas dan mortalitas yang tinggi. Namun
sebagian kalangan lain berpendapat bahwa permasalahan kependudukan menjadi
multiplier effect bagi berbagai permasalahan politik, ekonomi, lingkungan, sosial
budaya bahkan pertahanan dan keamanan. Oleh karenanya ada yang berpendapat
bahwa kebijakan kependudukan harus komprehensif dan tidak bersifat tambal sulam.
1
2. Isu kebijakan kependudukan biasanya muncul melalui pertimbangan jangka
pendek, namun hasilnya masih dalam jangka panjang.
3. Kriteria keberhasilan suatu kebijakan kependudukan seringkali ambigu (misalnya
menekan pertumbuhan justru akan menyebabkan problem ageing seperti di
Jepang).
4. Intervensi kependudukan didesain untuk merubah perilaku individual, namun
evaluasi dampaknya diukur secara nasional. Seringkali biaya dan manfaat politik
dari kebijakan kependudukan ini tidak sepadan.
5. Tidak ada konsistensi dalam kebijakan kependudukan mengingat isu
kependudukan sering kali bukan suatu isu yang dapat membangun dukungan
politik.
6. Kelompok-kelompok target dalam intervensi kependudukan seringkali
merupakan kelompok yang sulit untuk dimobilisasi.
B. Deskripsi Singkat
Modul ini membahas konsep dasar paradigma pembangunan berwawasan
kependudukan, isu strategis kependudukan, serta praktik empiris penduduk sebagai
pusat rujukan dalam pembuatan kebijakan pembangunan. Mata Pelatihan disajikan
dalam diskusi interaktif dan contoh penerapan dalam pembangunan.
2
C. Manfaat Modul
Modul ini bermanfaat sebagai bahan ajar peserta pelatihan diklat fungsional dasar
bagi Penyuluh KB. Dengan mempelajari modul ini peserta akan semakin peka terhadap
ha-hal yang terkait dengan kependudukan dan akan menjadikan isu dan situasi
kependudukan sebagai landasan dalam melakukan advokasi pembangunan
kependudukan.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Hasil Belajar
3
1.4. Interelasi kependudukan dengan pembangunan
1.5. Kontribusi program Bangga Kencana dalam pembangunan berwawasan
kependudukan
2. Isu-isu kependudukan
2.1. Situasi kependudukan di Indonesia saat ini dari aspek kualitas, kuantitas,
mobilitas dan persebaran penduduk, data kependudukan serta kualitas
hubungan di dalam keluarga dan antar generasi
2.2. Dampak situasi kependudukan Indonesia dari berbagai aspek (politik,
ekonomi, lingkungan, sosial dan hankam
2.3. Refleksi isu nasional ke dalam isu lokal
3. Penduduk sebagai pusat rujukan dalam pembuatan kebijakan pembangunan
F. Petunjuk Belajar
Agar pemebelajaran modul ini dapat lebih optimal, maka disarankan untuk;
4
4. Mengerjakan soal-soal yang diberikan untuk mengukur pemahaman materi.
5. Mencari sumber-sumber lain yang relevan untuk mendukung pemahaman
terhadap isi materi bahan ajar ini.
5
A. Pengertian
Secara sederhana pembangunan berwawasan kependudukan mengandung dua
makna sekaligus, yaitu:
1. Pembangunan berwawasan kependudukan adalah pembangunan yang disesuaikan
dengan potensi dan kondisi penduduk yang ada. Penduduk harus dijadikan titik
sentral dalam proses pembangunan. Penduduk harus dijadikan subjek dan objek
dalam pembangunan.
Pembangunan adalah oleh
penduduk dan untuk penduduk.
6
pendidikan keagamaan, moral dan etika sehingga yang bersangkutan memiliki
kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Disisi lain maka penduduk
memiliki persamaan hak untuk menikmati hasil pembangunan. Untuk mencapai hal
tersebut, maka strategi pembangunan harus benar-benar memperhatikan kondisi
kependudukan sehingga hasil pembangunan tersebut dapat dirasakan oleh
sebagian besar penduduk yang ada.
7
c. Penduduk pada seluruh dimensinya harus menjadi titik sentral
pembangunan berkelanjutan agar setiap penduduk dan generasinya
mendatang dapat hidup sehat, sejahtera, produktif, dan harmonis dengan
lingkungannya serta menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas bagi
pembangunan. Penduduk mempunyai hak dan kewajiban untuk memenuhi
kebutuhan dasar hidup bagi dirinya dan keluarganya, termasuk kecukupan
pangan, sandang, papan, air dan sanitasi lingkungan,
d. Hak untuk pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga berencana
dan pembangunan keluarga sebagai bagian dari pembangunan adalah
bagian dari hak asasi manusia secara universal yang menempatkan manusia
sebagai titik sentral pembangunan agar terjadi pemerataan kebutuhan
penduduk, pembangunan, dan lingkungan secara adil bagi generasi
sekarang dan mendatang,
e. Kunci keberhasilan pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga
berencana dan pembangunan keluarga tidak terlepas dari upaya
peningkatan kesetaraan dan keadilan gender serta pemberdayaan
perempuan, termasuk penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap
perempuan dan menjamin kemampuan agar setiap perempuan dapat
melaksanakan serta mengatur proses reproduksinya,
f. Pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga merupakan bagian integral dari pembangunan
budaya, sosial-ekonomi bangsa dalam rangka meningkatkan kualitas hidup
untuk semua penduduk,
g. Pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan
memerlukan partisipasi semua pihak dengan menjamin terwujudnya
keseimbangan antara penduduk, sumberdaya, dan lingkungan yang
diperlukan dalam pembangunan,
8
h. Pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga harus memberikan perhatian pada pengurangan
kemiskinan sebagai prasarat terwujudnya pembangunan berkelanjutan.
Upaya pengurangan kemiskinan sebagai mana dimaksud pada ayat (1)
memerlukan kerjasama semua bangsa didunia dan seluruh masyarakat
Indonesia agar tidak terjadi ketimpangan kebutuhan dasar hidup antar
penduduk dan semakin banyaknya penduduk yang terpenuhi kebutuhan
dasar kehidupannya,
i. Keluarga sebagai bagian pokok masyarakat perlu diberdayakan dengan
memberikan perlindungan secara menyeluruh dan dukungan oleh semua
pihak agar mampu mengembangkan dirinya dan anggota keluarganya
sehingga dapat berperan dalam pengelolaan perkembangan
kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga
j. Setiap penduduk berhak memperoleh pendidikan yang diperlukan untuk
menjadi sumberdaya yang berkualitas dengan harkat dan martabat yang
tinggi, terutama bagi wanita dan anak-anak perempuan sehingga mampu
berperan dalam pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga
berencana dan pembangunan keluarga,
k. Keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus memberikan prioritas kepada
anak dan remaja oleh karenanya mereka harus dijamin haknya untuk hidup
layak, hidup sehat secara prima dan memperoleh informasi, pendidikan dan
pelatihan tanpa diskriminasi,
l. Penduduk yang pindah ke daerah baru dan keluarganya berhak memperoleh
perlakuan dan jaminan kesejahteraan yang sama dengan penduduk
sekitarnya serta memperoleh jaminan kemananan fisik dan keselamatan
hidupnya sesuai dengan kemampuan daerah tujuan,
m. Pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga harus memberikan perhatian dan memberikan
perlindungan secara khusus kepada penduduk “indegenous” dengan
9
membantu untuk mempertahankan indentitas aslinya, budaya dan aspirasi
mereka dalam pembangunan kependudukan dengan memberikan
kesempatan yang sama dalam pembangunan seperti penduduk lainnya.
10
b. Pembangunan kependudukan. Sisi ini merujuk pada bagaimana
membangun penduduk dengan segala matranya agar dapat menjadi
pelaku-pelaku pembangunan yang handal melalui mengendalikan
pertumbuhan penduduk, mengarahkan mobilitas penduduk, meningkatkan
kualitas penduduk dan didukung dengan sistem informasi kependudukan
yang handal.
11
halnya di banyak negara berkembang, perhatian utama pemerintah adalah
memacu pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi, kemudian, dijadikan
ukuran keberhasilan pembangunan nasional yang pokok. Walaupun Indonesia
memiliki wawasan trilogi pembangunan yaitu pertumbuhan, pemerataan, dan
stabilitas, namun pada kenyataannya pertumbuhan senantiasa mendominasi
strategi pembangunan nasional.
Strategi pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan tanpa melihat
potensi penduduk yang ada nyatanya tidaklah berlangsung secara
berkesinambungan (sustained). Jika dikaitkan dengan krisis ekonomi dewasa
ini, terjadinya krisis tersebut tidak lepas dari kebijaksanaan ekonomi yang
kurang mengindahkan dimensi kependudukan. Strategi ekonomi makro yang
tidak dilandasi pada situasi/kondisi ataupun potensi kependudukan yang ada
menyebabkan pembangunan ekonomi tersebut menjadi sangat rentan
terhadap perubahan. Belum terjadi strategi pembangunan yang berorientasi
serius pada aspek kependudukan selama ini. Pembangunan kependudukan
adalah pembangunan sumberdaya manusia. Berbagai studi dan literatur
memperlihatkan bahwa kualitas sumberdaya manusia memegang peranan
penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dalam jangka
pendek investasi dalam sumberdaya manusia nampak sebagai suatu upaya
yang ‘sia-sia’. Namun dalam jangka panjang investasi tersebut justru
mendorong pertumbuhan ekonomi.
12
Dalam hal mengintegrasikan dimensi kependudukan dalam perencanaan
pembangunan daerah maka manfaat paling mendasar yang diperoleh adalah
besarnya harapan bahwa penduduk yang ada di daerah tersebut menjadi
pelaku pembangunan dan penikmat hasil pembangunan. Itu berarti
pembangunan berwawasan kependudukan lebih berdampak besar pada
peningkatan kesejahteraan penduduk secara keseluruhan dibandingkan
dengan orientasi pembangunan ekonomi yang berorientasi pada
pertumbuhan(growth). Dalam pembangunan berwawasan kependudukan ada
suatu jaminan akan keberlangsungan proses pembangunan itu sendiri.
Pembangunan berwawasan kependudukan menekankan pada pembangunan
lokal, perencanaan berasal dari bawah (bottom up planning), disesuaikan
dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat lokal, dan yang lebih penting adalah
melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan.
13
Ada beberapa kritik lagi yang ditujukan kepada konsep pembangunan yang
berorientasi pada pertumbuhan yaitu
Dengan melihat pada kriteria di atas nampak bahwa peranan penduduk lokal
dalam proses pembangunan sangat sedikit. Kritik para ahli terhadap orientasi
pembangunan yang mengutamakan pada pertumbuhan tersebut telah
berlangsung pada paruh waktu pertama tahun 1980-an. Para cendekiawan dari
Massachuset Institute of Technology dan Club of Rome pada kurun waktu
tersebut secara gencar mengkritik orientasi pembangunan ekonomi tersebut. Dari
berbagai kajian dan diskusi tersebut kemudian muncullah perspertif
pembangunan yang kemudian dikenal dengan konsep pembangunan
berkelanjutan (sustainable development).
14
lingkungan penduduk setempat (UU No. 52/2009). Jelaslah kiranya secara konsep
hal-hal yang dapat dikategorikan secara operasional ke dalam bidang
kependudukan adalah amat luas.
Penduduk sebagai diri pribadi atau individu. Ini menyangkut hak pribadi seperti:
memilih pekerjaan yang sesuai keinginan dan kemampuan individu, hak untuk
menikah (membentuk rumah tangga) dan memilih pasangan hidup, kedudukan
yang diakui sama dengan semua orang lain meskipun anak angkat atau punya
kerentanan/cacat fisik, hak untuk pindah, dsb. Pengaturan tentang kewajiban
individu agar tidak merugikan orang banyak. Penduduk sebagai keluarga. Ini
menyangkut hak keluarga untuk menentukan jumlah anak dan tidak punya anak,
untuk menentukan jenis kelamin anak (ataukah kewajiban untuk menjaga
keseimbangan?), melakukan adopsi. Juga pengaturan tentang struktur keluarga
(bolehkah keluarga batih atau nuclear?) dan lain-lain untuk menjaga tanggung
jawab terhadap orang tua, tanggung jawab terhadap anak, dsb.
15
Penduduk sebagai warga negara. Mencantumkan hal yang belum diatur UU lain,
misalnya hak untuk ruang hidup, namun tidak pula boleh mengalahkan hak
penduduk asli (misalnya hak ulayat). Bagaimana dengan masalah institusi
kependudukan guna mendapatkan kewarganegaraan?
Kelima matra ini berkaitan pula dengan hak dan kewajiban setiap penduduk dan
harus menjadi bagian integral dalam pembangunan kependudukan. Dalam UUD
1945, penduduk dilihat sebagai warga negara yang mempunyai hak
kewarganegaraan dan kedudukan penduduk yang dipunyai seluruh penduduk.
Implisit tercantum pula hak untuk hidup layak sebagai manusia, serta konsep
penduduk sebagai golongan dan rakyat daerah, anggota masyarakat, dan
kelompok budaya yang dinamakan UUD sebagai hak penduduk juga lebih luas dari
konsep demografis, yaitu termasuk kemerdekaan berserikat, berkumpul,
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan.
Salah satu payung hukum penting yang dijadikan dasar dalam penyusunan
kebijakan kependudukan di Indonesia adalah Undang-undang No 52/2009
tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Undang-
undang ini merupakan hasil revisi dari UU No 10/1992 tentang Perkembangan
16
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Terdapat perubahan
yang cukup mendasar dari UU No 10/1992 menjadi UU No 52/2009. Salah satu
diantaranya adalah huruf “K” pertama dalam BKKBN berubah dari Koordinasi
menjadi Kependudukan. Perubahan tersebut membawa konsekuensi penting,
terutama menyangkut mandat yang diemban oleh BKKBN. Mandat tersebut
tertuang di dalam Pasal 56, ayat 1 UU 52/2009 yang menyebutkan bahwa
”BKKBN bertugas melaksanakan pengendalian penduduk dan
menyelenggarakan keluarga berencana”. Hal ini dipertegas lagi dalam pasal 43
Perpes No. 3/2013 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional.
17
Gambar 1 memeperlihatkan posisi atau kedudukan masing-masing kluster
yang dimandatkan oleh GDPK. Data kependudukan dan keluarga merupakan
fondasi dari bangunan rumah yang menopang tiga kluster lainnya, yaitu
pengendalian kuantitas, pengarahan mobilitas penduduk, dan pembangunan
keluarga. Sementara itu pengembangan kualitas penduduk merupakan tujuan
dari keseluruhan 4 kluster yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan
menggunakan cara berpikir sebagaimana terlihat dalam Gambar 1, maka
pembangunan kependudukan di Indonesia paling tidak harus melibatkan lima
kluster tersebut. Tetapi tetap membuka kemungkinan untuk
mengembangkannya lebih luas.
Gambar 1.
Hubungan Antar Lima Kluster GDPK
18
semangat gotong royong berbasis keluarga. Keempat arah kebijakan nasional
tersebut secara eksplisit maupun implisit menunjukkan bahwa kebijakan
kependudukan bukan variable yang berdiri sendiri tetapi memiliki keterkaitan erat
dengan sektor yang lain.
Isu mengenai bonus demografi merupakan isu strategis yang secara langsung
menghubungkan antara kebijakan kependudukan dan kebijakan pembangunan
pada umumnya. Keberhasilan mencapai momentum periode bonus demografi
akan menjadi salah satu fondasi dalam mengembangkan kebijakan di bidang
pendidikan, diversifikasi kegiatan ekonomi, serta kebijakan ketenagakerjaan. Hal ini
merupakan argumentasi penting mengapa dibutuhkan penerapan paradigm
pembangunan berwawasan kependudukan dalam kebijakan pembangunan.
19
Konsep PBK juga menjadi isu penting dalam berbagai konferensi internasional
misalnya Earth Summit tahun 1992 dan the Summit of Social Development tahun
1995 serta di pertegas dalam kerangka pembangunan global baik di dalam
Millenium Development Goals (MDGs) maupun Sustainable development goals
(SDGs) dewasa ini yang mencantumkan sederet indikator kependudukan yang
menjadi sasaran pembangunan global. Dari sisi konsep ketahanan nasional, secara
eksplisit dan sangat terang disebutkan keadaan dan kemampuan penduduk
(kependudukan/demografi) sebagai bagian dari astagatra ketahanan nasional akan
sangat mempengaruhi kondisi ketahanan nasional.
Ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan untuk menjawab pertanyaan
mengapa diperlukan integrasi penduduk dan pembangunan1. Pertama, dari sisi
yang paling esensial terdapat suatu prinsip bahwa di dalam konsep integrasi
penduduk dan pembangunan, penduduk tidak hanya diperlakukan sebagai “obyek”
akan tetapi juga “subyek” pembangunan. Paradigma lama yang meletakkan
penduduk hanya sebagai obyek pembangunan telah mengeliminir atau bahkan
menafikan partisipasi penduduk dalam pembangunan. Penduduk dianggap tidak
memahami pembangunan dan mereka tinggal menerima atau menikmati saja hasil
pembangunan. Hal semacam ini jelas menggambarkan proses pembuatan
1
Pembahsan ini dikutip dari Laporan Penelitian Indeka Pembangunan Berwawasan Kependudukan Tahun 2014, oleh
BKKBN Pusat dan PSKK-UGM.
20
kebijakan yang “top down” dan akan mengakibatkan persoalan di kemudian hari.
Penduduk tidak memiliki ownership terhadap aktivitas pembangunan sehingga
cenderung pasif. Pandangan ini sejalan dengan kosepsi pembangunan sosial yang
mensyaratkan adanya keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap proses
pembangunan, baik dari perencanaan pembangunan, pelaksanaan hingga evaluasi
terhadap suatu proses pembangunan.
Untuk Indonesia, secara konseptual telah ada pergeseran yang cukup signifikan
sejak Deklarasi Bali dan juga Programme of Action of the International Conference
on Population and Development. Fokus pembangunan kependudukan telah
bergeser dari pendekatan yang sangat sempit menekankan pada aspek demografi
ke cakupan yang lebih luas yaitu pembangunan penduduk dan keluarga. Disamping
itu juga terjadi perubahan sikap terhadap isu kesehatan reproduksi, kualitas
pelayanan untuk mencapai kesejahteraan kesejahteraan keluarga. Namun sampai
sejauh ini hasil yang diperoleh masih belum memuaskan, karena masih banyak
agenda yang harus diselesaikan menyangkut integrasi penduduk dan
pembangunan.
21
akan dirugikan. Pada tataran teknis, misalnya perencanaan sektoral, variabel
penduduk berfungsi untuk memperkirakan demand yang kemudian dimanfaatkan
untuk menciptakan supply. Perencanaan pembangunan pendidikan misalnya,
sangat membutuhkan data penduduk usia sekolah untuk menentukan jumlah
sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Perencanaan kesempatan kerja
membutuhkan data jumlah angkatan kerja yang hanya dapat diperkirakan apabila
tersedia perkiraan jumlah penduduk menurut kelompok umur. Demikian juga
halnya dengan perencanaan kesehatan, perkiraan jumlah sarana dan prasarana
kesehatan hanya dapat dilakukan jika perkiraan jumlah penduduk.
22
perbedaan yang mendasar dalam pelaksanaan di lapangan, dimana beberapa
evaluasi menunjukkan bahwa mekanisme perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan yang berlangsung di tingkat kabupaten/kota maupun desa belum
berbasis pada data penduduk maupun partisipasi masyarakat secara aktif.
23
pada saat ini dan perkiraan kecenderungan di masa yang akan datang memberikan
kontribusi atau justru menjadi masalah pembangunan, merupakan suatu
keharusan.
24
hubungan antara dinamika penduduk, pembangunan ekonomi dan kemiskinan, dan
(b) penduduk, sumber daya, lingkungan dan perubahan iklim.
25
2024. 2) Meningkatnya Angka Prevalensi Pemakaian Kontrasepsi Modern/Modern
Contraceptive Prevalence Rate (mCPR) 61,78 persen pada tahun 2020 dan
ditargetkan menjadi 63,41 persen pada tahun 2024. 3). Menurunnya kebutuhan
ber-KB yang tidak terpenuhi/Unmet Need 8,6 persen pada tahun 2020 dan
ditargetkan menjadi 7,4 persen pada 2024. 4) Menurunnya Angka Kelahiran
Menurut Kelompok Umur 15-19 tahun/Aged Specific Fertility Ratio (ASFR) 15-19
tahun, dengan target 25 per-1.000 perempuan usia 15-19 tahun pada tahun 2020
dan ditagetkan menjadi 18 per 1.000 kelahiran (seharusnya perempuan usia 15-19
tahun) pada 2024. 5) Meningkatnya Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga)
sebesar 53,57 pada tahun 2020 serta ditargetkan menjadi 61,00 pada tahun 2024.
6) Meningkatnya Median Usia Kawin Pertama (MUKP) dari 21,9 tahun pada 2020
dan menjadi 22,1 tahun pada 2024. Bagaimana menurunkan TFR atau angka
kelahiran tidak akan terlepas dari pemakaian kontrasepsi, perkawinan, kematian ibu
dan kematian bayi serta migrasi.
Kalau TFR 2,1 per wanita tercapai maka ada perubahan struktur umur penduduk
dimana proporsi anak-anak dibawah usia 15 tahun mengecil, proporsi penduduk
usia kerja membesar karena yang lahir hidup terus menjadi penduduk usia kerja,
dan proporsi penduduk lansia mulai membesar. Keadaan ini dapat dikatakan idela
untuk pemerintah atau Pemda melakukan investasi pembangunan manusia dan
meningkatkan kualitas penduduknya. Oleh karenanya, penduduk tumbuh
seimbang dapat diterjemahkan menjadi Struktur Umur Penduduk Seimbang
(SUPS).
26
Struktur Umur Penduduk Seimbang (SUPS) ideal untuk melakukan
pembangunan manusia karena persentase anak dibawah 15 tahun kecil, persentase
penduduk usia kerja yang tinggi dan persentase lansia yang tidak terlalu besar.
Disebut ideal karena kondisi ini mendukung upaya pembangunan sosial dan
ekonomi yang mensejahterakan bangsa. Mengapa ideal? Persentase anak usia 15
tahun mengecil (karena TFR rendah) meringankan orangtua membiayai anaknya
sampai menjadi remaja yang berkualitas dan siap bekerja. Di sisi pemerintah
(pusat, provinsi dan kabupaten dan kota), anggaran untuk menyiapkan pelayanan
pendidikan dan kesehatan yang berkualitas akan lebih kecil jikadibandingkan jika
persentase anak-anak besar karena TFR tinggi. Persentase penduduk usia kerja
yang tinggi memberikan peluang untuk meningkatkan produk domestik bruto
(PDB). Ini mungkin bisa menjelaskan mengapa PDB Indonesia terbesar ke-16 di
dunia atau 1.074,97 milliar dolar US tahun 2018 . Namun, tatkala PDB yang besar itu
dibagi jumlah penduduk untuk menghitung pendapatan per kapita, ranking
Indonesia merosot ke urutan 116, karena jumlah penduduk yang amat besar. Oleh
karenanya, saat ini masih diperlukan upaya pengendalian penduduk yang serius,
yakni menurunkan TFR hingga mencapai 2,1 pada tahun 2025.
27
untuk mensejahterakan bangsa. Diperlukan kebijakan dan intervensi yang tepat
untuk membangun penduduk usia kerja menjadi produktif, berdaya saing,
berkarakter dan mempunyai kesempatan kerja yang layak. Dalam era industri 4.0
ada karakteristik tambahan yang diperlukan, yakni kemampuan mengadaptasi diri
dengan perubahan lingkungan ketenagakerjaan, inovatif dan kreatif untuk
kemudian bisa membangun kesempatan kerja sendiri, antara lain melalui start-ups.
F. Rangkuman
Pembangunan berwawasan kependudukan mengandung dua makna yaitu
pembangunan yang disesuaikan dengan potensi dan kondisi penduduk yang ada.
Penduduk harus dijadikan titik sentral dalam proses pembangunan serta
pembangunan lebih menekankan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia
dibandingkan dengan pembangunan fisik semata-mata.
Dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kependudukan Kita harus
memperhatikan beberapa aspek penting pembangunan berwawasan
kependudukan yang meliputi prinsip atau asas pengelolaan pembangunan
28
berwawasan kependudukan serta dimensi pembangunan berwawasan
kependudukan.
Konsep pembangunan berwawasan kependudukan bukanlah konsep baru
namun telah lama digunakan di Indonesia walaupun dalam bentuk format yang
berbeda-beda contohnya penggunaan konsep penduduk sebagai subyek dan
obyek pembangunan, manusia Indonesia seutuhnya, atau pembangunan bagi
segenap rakyat. Konsep "pembangunan manusia seutuhnya" Konsep mulai
diterapkan dalam perencanaan pembangunan Indonesia yang sistematis dan
terarah sejak Repelita I pada tahun 1969. Sayangnya konsep pembangunan
berwawasan kependudukan masih berada dalam tataran kebijakan belum dapat
secara optimal mengimplementasikan dan mengintegrasikan kebijaksanaan
tersebut dalam berbagai program sektoral. Perhatian utama pemerintah adalah
memacu pertumbuhan ekonomi.
Integrasi penduduk dalam pembangunan secara konseptual tertuang dalam
paradigma Pembangunan Berwawasan Kependudukan (PBK) atau people centered
development.
Program Bangga Kencana memberikan kontribusi dalam pembangunan
berwawasan kependudukan. Agar kontribusi yang diberikan dapat berlangsung
secara optimal, maka diperlukan kebijakan kependudukan yang dapat
mempengaruhi kondisi (dinamika) penduduk. serta proses pembangunan harus
meningkatkan partisipasi penduduk sehingga mampu mensejahterakan penduduk.
G. Latihan
Untuk mendalami BAB ini kerjakakan latihan berikut!
1. Carilah artikel tentang analisis kependudukan dari zaman ke zaman!
29
4. Carilah desa/kelurahan yang pembangunan wilayahnya memperhitungkan
jumlah penduduk, berikan contohnya!
H. Tes Formatif
a. Petunjuk Pengerjaan soal
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dari pertanyaan yang diberikan
dengan meng-klik abjad A, B, C, D atau E pada pilihan yang tersedia!
b. Uraian Soal
1. Dalam konsep Pembangunan Berwawasan Kependudukan, penduduk merupakan…
A. Sentral pembangunan
B. Beban pembangunan
C. Tujuan pembangunan
D. Objek pembangunan
E. Bahan pembangunan
30
(5) Memiliki kepentingan dalam melakukan pembangunan di segala bidang
(1) penduduk tidak hanya diperlakukan sebagai “obyek” akan tetapi juga
“subyek” pembangunan.
(2) Penduduk memerlukan perekonomian yang stabil
pembangunan.
(4) jika variabel penduduk diabaikan dalam perencanaan pembangunan maka
4. Kondisi jumlah dan struktur umur penduduk Indonesia yang didominasi penduduk
muda saat ini menjadi peluang di bidang ekonomi, yaitu…
A. Mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri
B. Membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya
31
C. Memberikan bantuan yang meringankan penduduk
D. Menjadi pekerja yang tidak professional
E. Menjadi beban negara
5. Dampak lingkungan dari pertambahan penduduk yang tidak terkendali dan perbuatan
manusia yang di luar kontrol, terjadinya kerusakan lingkungan, di antaranya;
(1) Perambahan hutan yang sembarangan
(2) Pembuangan air limbah ke laut dan sungai
(3) Pembangunan pemukiman di lahan pertanian
(4) Naiknya jual beli masyarakat di pedesaan
(5) Kurangnya penyerapan air hujan
(6) Pertumbuhan sentra-sentra ekonomi di pesisir pantai
Yang menyebabkan kerusakan lingkungan adalah..
A. (1), (2), (3), (4)
B. (1), (3), (5), (6)
C. (1), (2), (3), (5)
D. (1), (2, (3), (6)
E. (1), (3), (4), (6)
32
Indikator Hasil Belajar:
Setelah mengikuti mata diklat ini peserta diharapkan dapat Menjelaskan kondisi penduduk
Indonesia saat ini dan masa yang akan datang.
.
33
Demikian juga manfaat kemajuan sosial dan ekonomi belum tercapai secara rata.
Pada saat yang sama, ada bukti yang berkembang bahwa pertumbuhan dan jumlah
penduduk, dikombinasikan dengan pembangunan ekonomi, peningkatan standar
kehidupan dan tingkat konsumsi yang lebih tinggi telah mengakibatkan persoalan
lingkungan, misalnya perubahan pola penggunaan lahan, peningkatan penggunaan
energi dan menipisnya sumber daya alam, dengan tanda-tanda perubahan iklim
dan degradasi lingkungan lebih terlihat daripada sebelumnya
34
hasil sensus Penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa TFR di indonesia adalah
2,414. Angka ini lebih tinggi dari hasil SDKI tahun 2007, yaitu 2,3.
35
jumlah penduduk, dan juga terkait dengan urbanisasi, memberikan kesempatan
bagi pemerintah untuk memberikan layanan dasar dengan cara yang lebih hemat
biaya untuk lebih banyak orang.
36
terlambat waktunya yang disebabkan karena mengejar karier/pendidikan yang
terjadi pada wanita. e) extended family Keluarga yang terdiri dari dari tiga generasi
yang hidup bersama dalam satu rumah, seperti nuclear family disertai: paman,
tante, orang tua (kakek-nenek), keponakan, f) single parent family Keluarga yang
terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya
melalui perpisahan (perceraian atau ditinggal mati).
Salah satu isu penting yang lain adalah tentang data kependudukan dan
keluarga. Pemerintah telah melakukan investasi yang sangat besar dalam
membenahi data administrasi kependudukan. Undang-undang No 24/2013
tentang Perubahan Atas Undang-undang No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi
Kependudukan, dengan berbagai regulasi turunannya, merupakan basis yang kuat
2
Singarimbun, Masri. 1983. "Struktur rumah tangga", dalam Peter F. Donald, Pedoman analisa data Sensus
Indonesia 1971-1980. Canberra: Australian Universities International Development Program
37
dalam menata ulang dan memperbaiki data kependudukan di Indonesia. Meskipun
masih banyak kekurangan, data kependudukan di Indonesia telah menuju arah
yang benar dan perlu disempurnakan. Hal itu diperkuat dengan terbitnya Peraturan
Presiden No 39 tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia. Basis data yang presisi,
akurat, serta real time dengan up date reguler yang dilakukan melalui kelembagaan
yang solid dengan definisi permasalahan yang tepat dan mencerminkan usaha
perbaikan kesejahteraan masyarakat, merupakan kunci bagi sinergisitas kegiatan
pembangunan di Indonesia.
1) Angka Fertilitas
38
layanan pendidikan yang rendah, layanan kesehatan minim, dan tingkat
kematian bayi yang tinggi. Permasalahan paling serius adalah bahwa
masyarakat dengan kemampuan ekonomi rendah, cenderung lebih cepat
menikah dan merencanakan memiliki keturunan dibandingkan dengan mereka
yang berpenghasilan tinggi; proses yang berdampak kesejahteraan keluarga
dan berpotensi meningkatkan kemiskinan dan mewariskan kemiskinan kepada
generasi berikutnya.
Ada dua dampak yang harus diperhatikan dan dimitigasi dengan baik.
Pertama, meningkatnya angka kelahiran akan berbanding lurus dengan
penyediaan layanan pendidikan, sehingga akan mendorong meningkatnya
pengeluaran/anggaran pemerintah dalam bidang pendidikan. Pengendalian
dampak ini sangat penting terutama pada daerah-daerah dengan kondisi
anggaran dan layanan pendidikan yang kurang memadai, mereka dituntut
untuk membuat perhitungan yang matang dalam penyediaan sarana-
prasarana pendidikan dan skema jaminan pendidikan bagi kelompok umur
sekolah. Kedua, usaha mengkonversi jumlah penduduk yang besar akibat
tingkat kelahiran tinggi menjadi keunggulan kualitas sumber daya manusia
yang berdaya saing di era sekarang ini dimana membutuhkan peningkatan
sekolah dengan spesifikasi teknik dan vokasional. Usaha mengkapitalisasi
struktur umur penduduk menjadi modal pembangunan yang berkualitas ini
39
akan berimplikasi pada meningkatnya daya saing ekonomi daerah. Namun
demikian, kegagalan mengelolanya juga akan menimbulkan berbagai
dampak yang sangat berat, meningkatnya beban fiskal daerah,
meningkatnya tekanan sosial, tekanan ekonomi, serta keamanan yang
berbanding lurus dengan tekanan penduduk.
3) Penduduk Muda
Dalam menangani berbagai isu pada kelompok muda dengan demikian tidak
hanya membutuhkan strategi yang spesifik, namun juga pemahaman yang tepat
tentang kondisi kelompok muda tersebut. Terutama perilaku yang disebabkan
pengaruh eksternal keluarga seperti media sosial dan masyarakat lingkungan
sekitar. Usaha edukasi budaya hidup sehat, perilaku reproduksi yang sehat, dan
peningkatan kemampuan yang berhubungan dengan potensi kerja menjadi
skema strategis yang perlu dibangun. Catatan penting yang perlu diperhatikan
40
juga adalah kemampuan daerah dalam menyerap kelompok muda dalam dunia
kerja; sebab salah satu potensi terbesar yang dapat mengganggu proyeksi
pertumbuhan daerah adalah migrasi yang dilakukan oleh kelompok muda dalam
usaha mencari penghidupan yang lebih baik.
4) Bonus Demografi
41
baik menjadi bagian dalam proses pembangunan ekonomi. Masuknya
perempuan dalam dunia kerja berarti menambah jumlah angkatan kerja dan
kualitas tenaga kerja perempuan merupakan tambahan tenaga profesional yang
dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Pada sisi lain, meningkatnya
pendidikan dan pemberdayaan perempuan dalam lingkungan kerja berkorelasi
positif terhadap kemampuan mereka dalam merencanakan pernikahan, waktu
memiliki anak, gaya hidup dan reproduksi yang sehat, dan memperkecil potensi
kekerasan pada perempuan. Inilah yang menyebabkan isu pemberdayaan
perempuan bukan hanya strategis bagi daerah, namun juga bagian dari menjaga
kuantitas dan meningkatkan kualitas penduduk.
42
kelompok lansia. Kedua, adalah layanan kesehatan dan layanan publik bagi
lansia. Meningkatnya umur menciptakan kondisi degeneratif (transisi
epidemologis) bagi individu, hal ini menuntut pemerintah mengambil langkah
kebijakan dalam memastikan kelompok penduduk berusia lanjut mampu
mendapatkan kualitas hidup yang baik dengan tidak kehilangan aktivitasnya di
ruang publik. Selain itu ketersediaan layanan publik yang ramah terhadap lansia
juga menjadi tantangan penting dalam memastikan kesejahteraan lansia. Dan
ketiga, adalah skema pemberdayaan lansia. Pada berbagai kasus, kita dapat
melihat bahwa banyak lansia yang masih mampu produktif secara ekonomi. Hal
ini turut menjadi tantangan, bagaimana menciptakan skema menjaga
produktivitas lansia yang berarti memperpanjang masa kerja dan ketersediaan
angkatan kerja.
43
kemampuan lingkungan dengan tidak melakukan pembukaan wilayah bagi
perumahan secara berlebihan.
9) Pola Migrasi
Migrasi menjadi isu yang serius, bukan hanya migrasi lokal antar daerah
terlebih migrasi internasional antar negara. Jika pada migrasi lokal faktor
ekonomi dan rekonstruksi pasca bencana menjadi faktor dominan, maka
meningkatnya konflik pada beberapa negara menjadi faktor pendorong migrasi
internasional antar negara. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara tujuan
migrasi internasional yang disebabkan karena konflik.
44
10) Pekerja Migran Indonesia
Isu lingkungan yang patut mendapat perhatian dalam hal ini diantaranya
adalah meningkatnya limbah industri dan rumah tangga, kerusakan lingkungan,
ketersediaan pangan, serta ketersediaan air bersih merupakan isu strategi yang
perlu diperhatikan. Sebab meningkatnya populasi dan kegiatan untuk memenuhi
kebutuhan mereka tanpa mengindahkan ketersediaan lingkungan pada akhirnya
akan berdampak pada kehidupan masyarakat itu sendiri.
12) Bencana
45
bersamaan dengan pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Ada dua
faktor yang secara kasat mata dapat dijelaskan mengenai fenomena ini, yang
pertama, tingginya laju urbanisasi di Indonesia membentuk wajah kota yang
relatif rentan terhadap bahaya lingkungan. Kondisi ini menjadikan risiko
bencana serta dampak yang ditimbulkannya menjadi semakin besar (baik
secara kuantitas (banyaknya kejadian bencana) dan jumlah masyarakat yang
terdampak). Yang kedua, adalah permasalahan infrastruktur pendukung
wilayah perkotaan. Pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak diikuti dengan
kemampuan pembangunan infrastruktur perkotaan yang memadai maka
daya dukung dan daya tampung kawasan perkotaan semakin menurun.
Kondisi kota yang mampat ini akan melahirkan bencana-bencana baru
dengan korban baik materiil maupun non materiil yang lebih besar
dibandingkan dengan bencana sebelumnya.
46
Refleksi itu tentu saja diawali dengan memahami kerangka isu nasional secara
menyeluruh kemudian dilakukan pemadu padanan dengan fenomena-fenomena yang
bersifat lokal. Refleksi ini juga menuntut kemampuan dalam memahami data-data yang
sudah tersedia di tingkat lokal. Pemahaman data yang baik disertai dengan
pengetahuan kondisi sosio demografis, serta tata laksana pemerintahan akan
menggiring pada analisis isu strategis yang bersifat lokal yang presisi.
47
paling mikro, kemudian dilakukan analisis kebijakannya sebagai bahan advokasi
dan penanganannya.
Sekiranya itulah yang harus dilakukan oleh petugas lapangan dalam melihat
fenomena di level nasional yang kemudian dilakukan analisis kembali dalam level lokal
supaya menjadi lebih operasional dan dapat tertangani permasalahannya.
D. Rangkuman
Kebijakan kependudukan secara nasional di Indonesia selama ini telah
memperlihatkan hasilnya yaitu dengan adanya perubahan kondisi kependudukan
Indonesia antara lain; pertumbuhan penduduk telah menurun secara konsisten
dan signifikan selama tiga dasa warsa terakhir, adanya perubahan demografis yang
bergerak cepat yang diproyeksikan sampai dengan tahun 2045 akan membentuk
dan mengubah struktur penduduk dan perubahan pola migrasi risen yang
meskipun lambat mulai bergeser ke Indonesia bagian Timur. Kondisi
kependudukan yang berkembang saat ini dan masa depan menghadirkan peluang
dan tantangan tersendiri dari berbagai aspek (politik, ekonomi, lingkungan, sosial
dan hankam) yang perlu diantisipasi dan dicarikan solusi terbaiknya. Isu strategis
nasional perlu direfleksikan dalam isu lokal untuk mendapatkan gambaran nyata
tentang kondisi kependudukan yang berada di wilayah binaannya. Manfaatnya
adalah sebagai pondasi dalam menetapkan strategi operasional dan penanganan
permasalah yang terjadi di wilayahnya secara konkrit
E. Latihan
Untuk mendalami BAB III ini kerjakan latihan berikut ini!
1) Amati perkembangan penduduk di wilayah Anda. Buatlah analisis isu strategis
situasi kependudukan diwilayah desa saudara dari berbagai dimensi.
2) Buatlah rencana kerja advokasi program berdasarkan situasi yang ada.
48
3) Lakukan advokasi kepada tokoh formal maupun kepada masyarakat untuk
mengintervensi situasi yang ada!
4) Diskusikan dengan teman Anda, bagaimana caranya untuk mengantisipasi
perubahan kependudukan di lingkungan Anda!
5) Lakukan wawancara terhadap 3 orang penduduk di lingkungan Anda, bagaimana
tanggapan mereka ketika terjadi penyempitan lahan di wilayahnya akibat
pesatnya pembangunan perumahan!
F. Tes Formatif
Petunjuk Pengerjaan soal
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dari pertanyaan yang diberikan
dengan memilih A, B, C, D atau E pada pilihan yang tersedia!
1. Berikut ini adalah manfaat dari data kependudukan bagi Penyusunan Program
Bangga Kencana, kecuali…..
A. Sebagai sumber data yang terkini, akurat dan terpercaya untuk dijadikan
sebagai dasar perencanaan dan kebijakan program Bangga Kencana
B. Sebagai pusat data dan intervensi permasalahan pembangunan keluarga
kependudukan dan Keluarga Berencana yang sesuai dengan tujuan dari
Program Bangga Kencana
C. Sebagai sarana bagi penduduk untuk mendapatkan hak-hak yang dimiliki
sebagai penduduk resmi di suatu negara
D. Sebagai bahan evaluasi pencapaian program Bangga Kencana
E. Sebagai bahan acuan tahun berikutnya
2. Jenis data kependudukan di bawah ini yang merupakan jenis data yang
menunjukkan kuantitas penduduk adalah…..
A. laju pertumbuhan penduduk
B. status kesehatan,
49
C. angka kematian,
D. tingkat pendidikan
E. Migrasi penduduk
50
5. Manakah langkah-langkah di bawah ini yang bukan merupakan langkah dalam
penyusunan materi Kependudukan ke dalam bahan advokasi dan KIE bertemakan
kependudukan
51
Pembangunan berwawasan kependudukan secara sederhana memiliki makna yaitu
menjadikan penduduk sebagai episentrum
pembangunan atau fokus utama
pembangunan. Penduduk memiliki
kedudukan yang penting dan strategis
dalam pembangunan yaitu sebagai subyek
sekaligus obyek pembangunan. Kedudukan strategis yang dimiliki oleh penduduk
ini menjadikan data dan informasi yang benar dan utuh tentang siapa dan
bagaimana kondisi penduduk di suatu negara mutlak dibutuhkan sebagai bahan
rujukan dalam pembuatan kebijakan pembangunan.
Data dan informasi apa sajakah yang berkaitan dengan penduduk yang perlu
diketahui sehingga Kita akan mendapatkan gambaran yang utuh tentang
penduduk?
Berikut ini Kita akan pelajari satu persatu data dan informasi kependudukan yang
dibutuhkan.
52
A. Jenis dan Sumber Data Kependudukan
1. Jenis Data Kependudukan
Data kependudukan dapat diartikan sebagai kumpulan informasi berupa
fakta-fakta yang menggambarkan
tentang kondisi penduduk di suatu
negara baik secara kuantitas maupun
kualitas penduduk di suatu negara.
Data dan informasi tentang penduduk
yang dibutuhkan yaitu pertama
berkaitan dengan kuantitas penduduk meliputi jumlah, struktur dan
komposisi penduduk, laju pertumbuhan penduduk, serta persebaran
penduduk. Kedua, berkaitan dengan kualitas penduduk yang meliputi status
kesehatan, angka kematian, tingkat pendidikan dan angka kemiskinan serta
kondisi sosial budaya penduduk. Ketiga adalah mobilitas penduduk, seperti
tingkat migrasi yang mempengaruhi persebaran penduduk antar wilayah,
baik antar pulau maupun antara perkotaan dan perdesaan. .
53
memenuhi kaidah dan aturan ilmiah yang telah ditetapkan sehingga mampu
memberikan gambaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi sebenarnya
dari penduduk di wilayah negara setempat.
a. Registrasi Vital
Sumber data kependudukan pertama yang akan kita bahas adalah
registrasi vital atau data dasar kependudukan.
54
berkaitan dengan adanya perubahan kondisi kependudukan yang
dilaporkan.
b. Sensus Penduduk
Sumber Data Kependudukan kedua yang dapat dijadikan rujukan dalam
memberikan gambaran tentang kondidisi kependudukan di Indonesia
yaitu Sensus Penduduk.
55
Sensus Penduduk (SP) adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui
pencacahan semua penduduk di seluruh wilayah (negara) secara
serentak dan secara berkala untuk memperoleh data kependudukan
pada waktu tertentu. SP biasanya dilakukan setiap 10 tahun sekali oleh
Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan Undang-Undang No. 16 tahun
1997 tentang Statistik. Data kependudukan yang diperoleh melalui SP
meliputi semua penduduk baik penduduk de jure maupun penduduk de
facto.
C. Survei Penduduk
56
Ada beberapa survei kependudukan yang dilaksanakan secara berkala di
Indonesia. Tiga survei dilaksanakan oleh BPS yaitu SUPAS,SUSENAS dan SDKI.
Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) dilaksanakan setiap lima (5) tahun
sekali setelah SP terakhir untuk menghasilkan data kependudukan antara
dua SP. Indonesia sudah melaksanakan SUPAS sebanyak lima (5) kali, yaitu
pada tahun 1976, 1985, 1995, 2005, dan 2015. Data kependudukan yang
dihasilkan berdasarkan SUPAS sebagian besar sama dengan yang dihasilkan
berdasarkan SP. Akan tetapi, data yang terperinci tentang migrasi dan
administrasi kependudukan tersedia dalam SUPAS.
57
tahun 2012 SAKERNAS dilaksanakan setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan
November. Hasil SAKERNAS digunakan untuk mengevaluasi pencapaian
pembangunan ketenagakerjaan. Sekarang SAKERNAS dilaksanakan dua kali
dalam setahun, yaitu pada bulan Februari dan Agustus.
58
Survei tentang kesehatan penduduk di Indonesia dilaksanakan oleh
Kementerian Kesehatan. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
dilaksanakan pada tahun 1986, 1995, 2001, dan 2004. Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) diselenggarakan pada tahun 2007, 2010, 2013, dan 2018. Hasil
RISKESDAS digunakan untuk mengevaluasi pencapaian pembangunan
kesehatan dan MDGs dan SDGs bidang ekonomi, yaitu prevalensi anak usia
bawah lima tahun yang kurang gizi. Hasil SKRT dan Riskesdas juga
mengungkapkan tentang transisi epidemiologi di Indonesia dimana
dominasi penyakit menular sebagai penyebab kematian utama telah
digeser oleh penyakit tidak menular.
59
d. Rumah Data Kependudukan dan Informasi Keluarga
Rumah Data Kependudukan dan Informasi Keluarga adalah kelompok
kegiatan (Poktan) masyarakat yang melaksanakan kegiatan pengumpulan,
verifikasi, analisis, penyajian serta pemanfaatan data kependudukan dan
keluarga serta pembangunan di tingkat desa/kelurahan. Seiring dengan
kebijakan dana desa, maka desa juga diberikan otonomi yang luas dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.
60
2) Kualitas penduduk yang meliputi jumlah anak sekolah, jumlah anak putus
sekolah, jumlah anak stunting dan lain-lain yang menggambarkan
kualitas penduduk
3) Data Mobilitas Penduduk yang meliputi jumlah penduduk yang masuk,
jumlah penduduk yang keluar, jumlah komuter, jumlah penduduk
musiman dan lain-lain yang menggambarkan kondisi mobilitas
penduduk.
4) Data Pembangunan Keluarga yang meliputi jumlah Tribina (BKB, BKR, BKL)
dan UPPKS, Jumlah posyandu, jumlah PAUD, Jumlah Kelompok Usaha
Bersama (KUBE) dan lain-lain
61
B. Pemanfaatan data kependudukan
Data Kependudukan merupakan data yang sangat penting dan strategis.
Manfaatnya sangat banyak baik dari aspek individu maupun bagi
pemerintah. Manfaat data kependudukan adalah:
1. Manfaat Data Kependukan bagi penduduk
Apa manfaat data kependudukan tersebut bagi Kita sebagai penduduk? Data
kependudukan terutama data dasar kependudukan yang meliputi kelahiran,
kematian dan perpindahan dapat kita pakai untuk mendapatkan hak-hak
yang kita miliki sebagai penduduk resmi di suatu negara. . Akta kelahiran
dapat kita pakai untuk mendapatkan identitas diri seperti Kartu Tanda
Penduduk (KTP). Akta kelahiran juga diperlukan untuk pendaftaran sekolah
(hak mendapatkan pendidikan) dan lain sebagainya. Demikian pula akta
kematian diperlukan untuk pengurusan pemakaman. Akta perpindahan
diperlukan untuk mendapatkan identitas diri di tempat yang baru.
62
dan tepat sasaran. Berikut ini Kita akan mempelajari beberapa manfaat
data kependudukan sebagai berikut :
e. Dasar dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas.
Contohnya penerbitan SIM, izin usaha, pelayanan wajib pajak,
jaminan kesehatan masyarakat, jaminan sosial tenaga kerja,
pembangunan fasilitas publik (jalan, perumahan, sekolah, RS,
pusat rekreasi, dsb.
f. Perencanaan pembangunan
Dasar dalam menyusun perencanaan pembangunan nasional
seperti pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, kesejahteraan sosial /
pengentasan kemiskinan, tenaga kemiliteran, perumahan,
pertanian, perpajakan dan lain sebagainya.
63
b. Sebagai dasar atau rujukan utama dalam penetapan prioritas, sasaran
dan program Bangga Kencana
c. Sebagai pusat data dan intervensi permasalahan pembangunan keluarga
kependudukan dan Keluarga Berencana yang sesuai dengan tujuan dari
Program Bangga Kencana
d. Sebagai bahan evaluasi pencapaian program Bangga Kencana
e. Sebagai sarana dalam meningkatkan sinergitas komponen badan
kependudukan dan keluarga berencana nasional dan mitra kerja dalam
penyediaan dan pemanfaatan data dan informasi untuk intervensi
berbagai permasalahan kependudukan, KB, pembangunan keluarga
ataupun pembangunan sektor lainnya,
C. Rangkuman
Pembangunan berwawasan kependudukan secara sederhana memiliki makna
yaitu menjadikan penduduk sebagai episentrum pembangunan atau fokus utama
pembangunan. Penduduk memiliki kedudukan yang penting dan strategis dalam
pembangunan yaitu sebagai subyek sekaligus obyek pembangunan. Kedudukan
strategis yang dimiliki oleh penduduk ini menjadikan data dan informasi yang benar
dan utuh tentang siapa dan bagaimana kondisi penduduk di suatu negara mutlak
dibutuhkan sebagai bahan rujukan dalam pembuatan kebijakan pembangunan.
Untuk mendapatkan informasi yang benar tentang kondisi kependudukan yang
tepat,sehingga dapat dihasilkan kebijakan yang tepat sasaran, maka dibutuhkan
sumber data kependudukan yang valid dan terpercaya contohnya adalah Registrasi
Vital,Sensus Penduduk dan Survey Penduduk. Untuk menajamkan dan memperkuat
informasi kependudukan yang berada di wilayah binaannya dapat ditambahkan
dengan data SIGA dan Rumah Data.
Data Kependudukan merupakan data yang sangat penting dan strategis.
Manfaatnya sangat banyak baik dari aspek individu maupun bagi
64
pemerintahdalam menyusun perencanaan pembangunan yang tepat sasaran
dan sesuai kebutuhan.
D. Latihan
Untuk mendalami BAB IV kerjakan latihan berikut ini!
1. Berdasarkan sumber data kependudukan yang diuraikan di atas, manakah
sumber data yang paling sering digunakan? Jelaskan alasannya!
2. Buatlah suatu analis situasi kependudukan yang berada dalam wilayah
binaan dengan menggunakan minimal 2 sumber data kependudukan!
3. Gambarkan rumah data kependudukan di wilayah Anda!
4. Contohkan pemanfaatan data SIGA dalam pekerjaan Anda!
5. Bagaimana Anda memanfaatkan data hasil survei penduduk pada lingkup
wilayah Anda!
B. Tes Formatif
Pilihlah jawaban a, b, c, d, atau e pada jawaban yang paling tepat!
1. Data kependudukan yang dibutuhkan meliputi berikut ini, kecuali...
a. Jumlah
b. Struktur
c. Persebaran
d. Komposisi
e. Barang mewah
2. Sensus Penduduk dilakukan dalam...
a. 10 tahun sekali
b. 9 tahun sekali
c. 8 tahun sekali
d. 7 tahun sekali
e. 6 tahun sekali
3. Jenis Survei Penduduk di antaranya...
65
a. SUPAD
b. SIPAD
c. SUPAS
d. SAPAD
e. SUPAK
4. Pemanfaatan data kependudukan bagi pemerintah untuk...
a. Perencanaan pembangunan
b. Keuntungan negara
c. Bantuan rakyat
d. Kebutuhan pokok
e. Kestabilan politik
5. Data kependudukan untuk memberikan pelayanan publik yang
berkualitas, contohnya adalah...
a. Pemberian makanan
b. Pengurusan SIM
c. Pembelian makanan
d. Penjualan produk
e. Penyaluran iuran
66
Pengantar
Penempatan penduduk sebagai titik sentral dalam pembangunan merupakan
program nasional. Apa artinya pernyataan tersebut? Artinya, aspek penduduk
merupakan titik utama yang menjadi perhatian dan titik sentral dalam pembangunan
baik sebagai pelaku maupun obyek pembangunan. Penduduk memiliki hak untuk
dikembangkan seluruh potensi yang dimilikinya sehingga mampu berpartisipasi aktif
dalam pembangunan. Sedangkan penduduk juga memiliki hak untuk menikmati hasil
dari pembangunan.
Agar penduduk dapat berperan secara optimal sebagai titik sentral pembangunan,
maka dibutuhkan kebijakan kependudukan yang tepat yang sesuai dengan situasi dan
kondisi kependudukan saat ini. Permasalahan kependudukan yang dihadapi oleh
Indonesia sangat kompleks, dilihat dari aspek kuantitas, jumlah penduduk Indonesia
yang besar dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memberikan beban yang
berat kepada wilayah yang bersangkutan termasuk masalah lingkungan (environmental
stress) seperti kerusakan hutan (termasuk bakau), kerusakan terumbu karang, masalah
air bersih (water management), sampah, terumbu karang, pendangkalan sungai, serta
polusi udara apabila tidak dikendalikan dengan baik dan seimbang serta diimbangi
67
dengan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Sedangkan dari aspek kualitas, kita harus mengakui bahwa kualitas penduduk Indonesia
yang masih relatif rendah, baik dari sisi kesehatan, pendidikan maupun ekonomi. Fakta
ini dapat temukan salah satunya dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia
yang masih berada ditataran bawah, yaitu nomor 108 dari 188 negara di dunia.
Permasalahan kependudukan lainnya yang dihadapi Indonesia yaitu berkaitan
dengan masalah Pencatatan atau registrasi penduduk berkenaan dengan kelahiran,
kematian, kedatangan, dan kepergian belum bisa dilakukan dengan tertib, disiplin, serta
cermat sesuai ketentuan. Oleh karena itu, persoalan kependudukan perlu dikelola dan
ditangani dengan baik, antara lain melalui program keluarga berencana dan
Pembangunan Keluarga.
Melalui
Program Pembangunan Keluarga dan Keluarga Berencana, diharapkan setiap keluarga
memiliki peran dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas gizi dan pendidikan anak-
anaknya, mampu meningkatkan public saving, private saving, serta mampu
meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan orangtua dalam memberikan
stimulus yang tepat yang dapat meningkatkan kecerdasan dan kematangan mental
dan sosial anak sesuai dengan tahapan perkembangannya dengan harapan di masa
depan anak-anak akan tumbuh dan siap menjadi tenaga kerja yang potensial yang siap
68
Secara umum ada empat (4) area yang menjadi fokus kependudukan di Indonesia.
Pertama berkaitan dengan pengendalian kuantitas atau jumlah penduduk sehingga
berada pada kondisi tumbuh seimbang. Langkah yang diambil melalui pengaturan
kehamilan dan kelahiran serta penurunan kematian penduduk melalui program
peningkatan kesehatan masyarakat. Kedua adalah peningkatan kualitas atau mutu
penduduk melalui program keagamaan, pendidikan, keterampilan, kesejahteraan sosial.
Ketiga adalah pengarahan mobiltas penduduk melalui program transmigrasi serta
pembangunan dan pemekaran wilayah. Keempat yaitu berkaitan dengan
penyempurnaan sistem informasi kependudukan baik dari sisi pengumpulan dan
pengolahan data yang telah valid, terpercaya, maupun dari aspek pemanfaatan data
dan informasi kependudukan sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal dan
menjadi rujukan dalam pembangunan oleh seluruh pejabat pemerintahan baik di pusat
maupun di daerah. Kualitas data dan informasi kependudukan salah satunya sangat
bergantung pada peran aktif seluruh penduduk untuk mau dan mampu melaporkan
seluruh peristiwa kependudukan yang terjadi pada diri dan keluarganya baik secara
aktif dengan melakukan registrasi vital pada dinas kependudukan dan catatan sipil
setempat maupun tanggap dan bertanggungjawab ikut memberikan informasi yang
benar dan sesuai kondisi nyata pada saat dilakukan sensus maupun survey
kependudukan.
Penanganan masalah kependudukan Indonesia yang sangat kompleks tersebut
memerlukan kerjasama dan peran aktif dari seluruh penduduk Indonesia, sinergitas
antara pihak swasta dan pemerintah serta kesinambungan dan kesatuan langkah yang
sama dan selaras dalam antara pemerintah pusat dan daerah untuk menyukseskan
kebijakan kependudukan di Indonesia di empat area tersebut.
Sayangnya dalam mengimplementasikan kebijakan kependudukan masih terdapat
kendala dalam mengintegrasikan kebijakan kependudukan dalam berbagai program
sektoral. Kendala yang dihadapi dapat Kita lihat dari dua aspek yaitu pertama dari
aspek pejabat pemerintahan baik pusat maupun daerah. Kendala yang dihadapi antara
lain masalah-masalah kependudukan masih dipecah-pecah menjadi bagian kecil-kecil
69
atau sektoral yang belum dianggap sebagai kesatuan dan terintegrasi, fokus
pembangunan masih terfokus pada pertumbuhan ekonomi semata, isu kependudukan
masih menjadi isu sensitif untuk beberapa wilayah. Kedua dari aspek penduduk yaitu
penduduk belum memiliki informasi yang cukup, benar dan menyeluruh berkaitan
dengan isu-isu kependudukan yang terjadi saat ini dan di masa mendatang serta
dampak dari isu kependudukan tersebut bagi diri, keluarga dan masyarakatnya di
berbagai bidang kehidupan. Serta peran apa saja yang bisa dilakukan Kita sebagai
penduduk untuk membantu pemerintah dalam mensukseskan kebijakan
kependudukan yang telah disusun oleh pemerintah.
Disinilah, Kita sebagai tenaga Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) memiliki peran
dan tugas yang sangat penting dan strategis untuk meramu dan menjadikan
permasalahan kependudukan menjadi fokus pemikiran bersama dan ditangani secara
bergotongroyong bersama-sama seluruh komponen masyarakat. dalam bentuk bahan
advokasi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi atau disingkat dengan KIE dengan
mengangkat isu-isu kependukan yang terjadi di wilayah kerja Kita.
Bahan dasar advokasi ditujukan kepada para pemangku kebijakan baik pusat
maupun daerah serta KIE untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap
dari penduduk terhadap isu-isu kependudukan yang terjadi pada saat ini maupun di
masa mendatang sehingga penduduk mampu bersikap tanggap, responsif dan
bertanggungjawab terhadap isu–isu kependudukan yang terjadi di sekeliling mereka.
Apakah terdapat perbedaan ataukah persamaan antara bahan dasar
kependudukan yang Kita buat jika diperuntukkan sebagai bahan dasar advokasi dan
KIE?
Jawabannya adalah berbeda antara bahan dasar kependudukan yang
diperuntukkan sebagai advokasi dan bahan untuk KIE.
Dimanakah letak perbedaannya? Pertama kita lihat dari tujuan masing-masing
antara advokasi dan KIE. Bahan dasar advokasi disusun dengan tujuan agar isu-isu
kependukan dapat menjadi isu yang penting dan dapat dijadikan rujukan utama dalam
menyusun perencanaan kebijakan dan strategi serta program pembangunan di wilayah
70
kerja maupun bidang garapan yang menjadi tanggungjawab dari pejabat pemerintah
tersebut baik di pusat maupun di daerah. Outputnya terlihat dari besarnya alokasi
anggaran, manusia, kecakapan, fasilitas, dan lain–lain untuk mendukung program
kependudukan dari pejabat pemerintah tersebut ataupun dapat juga dilihat dari
dukungan pejabat pemerintah berupa keluarnya kebijakan dan strategi untuk
mendukung penerapan kebijakan kependudukan secara nasional untuk diturunkan ke
dalam kebijakan berskala daerah sesuai dengan peran dan wewenang pejabat daerah
di wiayah kerjanya masing-masing.
Sedangkan bahan dasar kependudukan yang akan dipergunakan sebagai bahan KIE
bertujuan untuk merubah mind set masyarakat agar mampu berpikir tepat dan
tanggap terhadap isu-isu kependudukan yang terjadi saat ini sampai beberapa waktu
ke depan sehingga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap tantangan kependudukan
yang terjadi saat ini sampai masa mendatang dan yang sangat penting yaitu memiliki
sikap responsif dalam mempersiapkan diri beserta keluarganya berupa peningkatan
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tepat dalam menghadapi kondisi
kependudukan tersebut dengan baik.
Penyusunan bahan dasar kependudukan yang baik, tepat sasaran dan efisien perlu
dilakukan secara cermat, sistematis dan sistemis agar tepat sasaran. Belajar dari
pengalaman yang lalu, salah satu kegagalan kegiatan advokasi dan KIE ditingkat
lapangan yang kurang berhasil berdasarkan informasi yang tertuang dalam Buku
Strategi Komunikasi dan Advokasi BKKBN Tahun 2017umumnya disebabkan karena
Sasaran advokasi dan KIE yang salah, karena tidak mampu memetakan sasaran
advokasi dan KIE dengan akurat. Akibatnya sasaran advokasi tersebut tidak bisa
mengambil keputusan yang diharapkan.
Oleh karena itu langkah pertama yang harus kita lakukan yaitu mengidentifikasi
dengan tepat siapa sasaran peruntukan bahan dasar kependudukan yang akan Kita
susun baik peruntukannya sebagai bahan dasar advokasi maupun KIE.
71
A. Mengidentifikasi sasaran
1. Sasaran Advokasi
Bahan dasar kependudukan yang kita susun sebagai bahan advokasi
peruntukannya ditujukan untuk pihak yang memiliki wewenang untuk mengambil
keputusan yang mengikat masyarakat yang berada dalam daerah wewenangnya
secara hukum dan atau memiliki status, kedudukan dan peran penting di
masyarakat baik secara keilmuan, garis keturunan maupun terpilih secara
musyawarah dan mufakat berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat
setempat. Sasaran advokasi adalah sebagai berikut:
a. Pimpinan daerah (Gubernur, Bupati, Walikota, Camat. Kepala Desa atau Kepala
Kelurahan)
b. Pimpinan lembaga (Menteri dan Kepala Badan)
c. Tokoh masyarakat (Kepala RW, Kepala RT, Kepala Karang Taruna)
d. Tokoh agama (Agama Islam (Ustad, Kiyai, ustadzah), Agama Kristen (pendeta,
pastur), Agama Hindu (Pedanda), Agama Budha (Biksu untuk laki-laki dan Bikuni
(perempuan) Konghuchu O Xue Shi
Setelah kita mengetahui sasaran advokasi langkah yang kita lakukan yaitu
melakukan pemetaan dari sasaran advokasi/pengambil keputusan/kebijakan kita
dengan melakukan pemetaan sebagai berikut
a. Latar belakang, minat perhatian, nilai yang diyakini (Misalnya pendidikan,
kesehatan , kesejahteraan masyarakat, pertanian, teknik dan pembangunan dan
lain-lain)
b. Pengetahuannya terkait Program Bangga Kencana
c. Pernyataan-pernyataan Program Bangga Kencana, apakah mendukung atau
menentang
d. Siapa saja lingkungan sosial dan politiknya. Terhadap pernyataan siapa yang
paling berpengaruh atau menjadi perhatiannya.
e. Apakah ada keinginan untuk bertindak
72
Poin penting dalam keberhasilan advokasi yang perlu dilakukan adalah pertama
bagaimana caranya menjadikan isu kependudukan sebagai isu strategis lintas
sektor.
Apa artinya? Artinya adalah keberhasilan dalam program kependudukan akan
memberikan fundamental kuat untuk mencapai target pembangunan di sektor lain.
Permasalahan dari sisi pengelolaan program Kependudukan ini akan berdampak
pada situasi dan capaian program Kependudukan baik secara regional maupun
nasional dan pada gilirannya, akan memberi dampak pada sektor pembangunan
lain.
Selain itu poin penting lainnya adalah bagaimana Kita dapat meyakinkan bahwa
dengan mengelola penduduk secara baik Kita berperan dalam menyelamatkan
bumi, menyelamatkan peradaban umat manusia dan menyelamatkan bangsa.
Implementasi Program kependudukan yaitu melalui program Bangga Kencana
yang menjadi program yang diusung oleh Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) terutama dalam mengendalikan jumlah penduduk
Indonesia serta meningkatkan kualitas penduduk Indonesia.
Kedua meyakinkan seluruh pemangku kebijakan bahwa terdapat keterkaitan
yang sangat erat antara antara program Bangga Kencana dengan pencapaian
tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu 10 dari 18 tujuan pembangunan
berkelanjutan sangat erat kaitannya dengan Program Bangga Kencana yaitu
mengentaskan segala bentuk kemiskinan, menghentikan kelaparan, meningkatkan
ketahanan pangan dan nutrisi serta mempromosikan pertanian yang berkelanjutan,
menjamin kehidupan yang sehat dan mempromosikan kesejahteraan bagi semua
penduduk dalam segala usia, menjamin pendidikan inklusif dan merata serta
mempromosikan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua, mencapai
kesetaraangender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan,
menjamin ketersediaan dan manajemen air bersih serta sanitasi yang berkelanjutan
untuk semua,mempromosikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif
dan berkelanjutan, kesempatan kerja yang produktif dan menyeluruh serta
73
pekerjaan yang layak bagi semua, membangun infrastruktur yang tangguh,
mempromosikan industri yang inklusif dan berkelanjutan serta mendorong inovasi,
mengambil aksi nyata untuk menghadapi perubahan iklim dan dampaknya,
melindungi, mengembalikan, mempromosikan pemanfaatan ekosistem yang
berkelanjutan. Manajemen hutan yang berkelanjutan. Memerangi kekeringan,
menghentikan dan mengembalikan degradasi lahan serta menghentikan kehilangan
keanekaragaman hayati
(Sumber: Deputi KementerianPPN/Bappenas, Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan
Kebudayaan)
2. Sasaran KIE
Ada tiga sasaran dari KIE yaitu individu, kelompok dan masyarakat. Masing-
masing sasaran memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya. Berikut
Kita akan bahas satu persatu sasaran KIE
74
a. Individu
KIE Individu, adalah kegiatan penyuluhan yangdilakukan oleh perorangan antara
lain tokoh masyarakat/agama, bidan di desa/petugas medis, PLKB (Petugas
Lapangan Keluarga Berencana), Kader PKK, dan tenaga penggerak masyarakat
tingkat desa (PPKBL, sub PPKBD, kelompok akseptor), dalam memberikan
penjelasan tentang program Banga Kencana kepada keluarga. Sasaran KIE
individu adalah sasaran utama Program Bangga Kencana yaitu Pasangan Usia
Subur (PUS) dan remaja sebagai calon PUS
Karakteristik Sasaran
1) Remaja calon PUS
Kondisi jasmani dan ruhani yang berada dalam kondisi prima. Usia produktif.
Contoh Pesan Kependudukan
a) Menjadi remaja yang utuh dan paripurna yaitu remaja religius (remaja
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dengan totalitas
pemikiran sikap dan perilaku), remaja sehat (sehat jasmani dengan
menghindari perilaku berisiko dengan menjauhi NAPZA dan seks bebas
sehat pemikiran cerdas mampu berpikir tepat, memiliki Jiwa Leadership
dan Enterpreneurship Kreatif, sehat sosial dengan mennjukkan kepekaan
dan jiwa sosial yang tinggi mampu berinteraksi, sosialisasi, dan
komunikasi dengan masyarakat dengan baik bukan remaja yang suka
menyendiri, egois, tidak suka kerjasama & kebersamaan dan sehat
psikologis mampu mengendalikan pikirannya, berkarakter, berani
menggali potensi, minat, bakat diri, Pikiran lebih fokus untuk melakukan
yang terbaik di masa kini, memiliki keseriusan untuk menghasilkan karya
terbaiknya terutama untuk kemaslahatan masyarakat.
b) Menyadari pentingnya membuat perencanaan keluarga dengan baik dan
terprogram (usia ideal menikah), persiapan moril dan materiil untuk
membentuk keluarga
75
2) Pasangan pengantin baru
Beberapa masalah yang umum dihadapi pasangan pengantin baru adalah
penetapan peran dalam hidup berkeluarga, keuangan, dan hubungan
dengan mertua/keluarga pasangan. Pengantin baru sering dihadapkan
dengan berbagai perbedaan yang ketika belum menikah tidaklah penting
atau bahkan tidak ada, tapi kini justru menjadi masalah utama.
Contoh Pesan Kependudukan
Para konselor perlu memberi edukasi bagi suami dan anggota keluarga
lainnya perihal merencanakan jumlah anak dan Ikut Program KB, waktu dan
pemberian jarak kelahiran.
3) Pasangan yang baru pertama kali memiliki anak
Pasangan yang masih ingin memiliki anak adalah kelompok sasaran yang
penting dan sejalan dengan pendekatan siklus kehidupan/gaya hidup
secara keseluruhan.
Contoh Pesan Kependudukan
Strategi pesan yang digunakan disini adalah mengingatkan calon ibu bahwa
bahwa Usia Ideal untuk Melahirkan yaitu 20 – 34 tahun, jarak kehamilan yang
ideal antara dua kehamilan adalah 2-5 tahun. Ibu membutuhkan waktu
untuk memulihkan kesehatan dan kekuatannya begitu juga dengan bayi
yang baru dilahirkan akan membutuhkan ibu menyusui dengan eksklusif dan
pemberian ASI hingga 2 tahun. Keinginan ibu untuk menjarangkan kehamilan
perlu ditekankan, dan ibu perlu sudah memahami bahwa saat persalinan
mereka akan ditanya perihal preferensi KB mereka, dan membuat keputusan
ber-KB adalah hal yang biasa dilakukan. Aspek Kesehatan dan Gizi yang
perlu diperhatikan sebelum dan selama kehamilan seperti anemia.
Pemeriksanaan Rutin Kesehatan bagi bayi dan anak termasuk imunisasi dan
aspek kehatan gizi bayi dan anak. Selain kesehatan orangtua diharapkan
mampu mendidik anak dengan baik sehingga mampu menjadi generasi yg
tangguh dan trenginas
76
4) Pasangan yang tidak menginginkan anak lagi
Kelompok pasangan yang ketiga ini umumnya berusia di atas 35 tahun. Mirip
seperti kelompok lainnya, pengetahuan mereka tentang keluarga berencana
juga terbatas, tergantung pada pengalaman masing-masing pasangan
dengan anak-anak sebelumnya. Informasi umumnya diperoleh dari teman
atau tetangga, yang tidak selalu tepat atau relevan dengan kebutuhan dan
situasi mereka. Data ICMM (Improving Contraceptive Methods Mix)
menunjukkan bahwa informasi khusus seperti metode mana yang paling
tepat untuk tujuan kesuburan tertentu, dan berapa lama sebuah metode
tertentu dapat mencegah kehamilan juga tidak umum diketahui.
Contoh Pesan Kependudukan
Pemberian informasi khusus seperti metode mana yang paling tepat untuk
tujuan kesuburan tertentu, dan berapa lama sebuah metode tertentu dapat
mencegah kehamilan juga
b. Kelompok
Sasaran KIE kedua yaitu KIE Kelompok kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh
tim/perorangan dalam memberikan penyuluhan tentang program Bangga
Kencana kepada kelompok masyarakat yang terdiri antara 2-15 maksimum 20
orang seperti kelompok kegiatan keluarga yang memiliki anak balita (BKB),
keluarga yang memiliki anak remaja (BKR), keluarga yang memiliki lansia (BKL)
serta kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS)
serta kelompok – kelompok yang ada di masyarakat lainnya seperti kelompok
pengajian, komunitas yang memiliki hobi tertentu dan lain sebagainya. Berikut
ini akan diuraikan contoh uraian karakterik KIE kelompok
1) Keluarga yang memiliki anak balita
Contoh Pesan Kependudukan
Anak balita merupakan potensi dan investasi SDM Bangsa di masa depan
77
Negara dapat menjadi sangat kuat dan kaya bila dikelola oleh SDM yang
berkualitas. Lima tahun pertama sangat menentukan perkembangan
kepribadian manusia.
2) Keluarga yang memiliki anak remaja
Contoh Pesan Kependudukan
Mendampingi anak remaja dalam merencanakan kehidupan berkeluarga,
mendorong untuk mengenali seluruh potensi remaja yang dimilikinya serta
mengoptimalkan seluruh ptensi yang dimilikinya
3) Keluarga yang memiliki lansia.
Contoh pesan kependudukan
Perencanaan Hari Tua yang Dilakukan Sejak Dini antara lain Perencanaan
Ekonomi, Sosial, dan Psikologis sehingga mampu menjadi lansia idaan yaitu
lansia yang sehat fsisik, sehat sosial, psikologis dan mandiri secara ekonomi
c. Masyarakat/massa
KIE Massa adalah kegiatan penerangan yang dilakukan oleh
tim/perorangan kepada masyarakat tentang program Bangga Kencana
dalam jumlah yang besar. KIE massa merupakan suatu proses KIE yang dapat
dilakukan secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat
dalam jumlah yang besar. PKB/PLKB bisa berkoordinasi dengan OPDKB untuk
minta bantuan mobil penerangan (Mupen) untuk menayangkan film program
KKB dan mobil pelayanan (Muyan) untuk melakukan pelayanan KB di saat
kegiatan-kegiatan momentum.
78
B. Penyusunan Materi Kependudukan
Dalam penyusunan materi Kependudukan ada beberapa langkah yang harus
dilakukan
1. Identifikasi dan pelajari kondisi kependudukan Indonesia secara nasional dan
temukan isu strategis dari pembangunan berwawasan kependudukan yang
terjadi pada saat ini dan beberapa waktu ke depan. Kita dapat melihat data
kependudukan secara nasional seperti data Sensus Penduduk dan Berbagai
Jenis Hasil Survey kependudukan yang berskala nasional yang terbaru
dengan fokus analisisnya terletak pada gambaran kependudukan nasional.
Penjelasan tentang hal ini telah dijelaskan pada bab III.
2. Selaraskan dengan kondisi kependudukan pada skala lokal. Manakah dari
kondisi kependudukan Indonesia secara nasional yang selaras dengan
kondisi kependudukan secara lokal. Kita lakukan identifikasi secara cermat.
Sebagai sumber Data Kependudukan, Kita masih bisa menggunakan sensus
penduduk ataupun berbagai survey kependudukan, namun yang kita
fokuskan pada data provinsi ataupun wilayah yang lebih kecil. Disarankan kita
tambahkan dengan data SIGA maupun rumah data sehingga diperoleh data
kependudukan yang benar-benar menggambarkan kondisi kependudukan
yang nyata dari wilayah binaan Kita. Pada tahapan ini Kita akan mendapatkan
fokus pada situasi kependudukan yang terjadi pada wilayah binaan Kita. Bisa
saja kondisi kependudukan yang terjadi secara nasional juga di temui pada
kondisi lokal bisa juga tidak. Tidak menutup kemungkinan Kita akan
mendapatkan isu strategis baru yang tidak ditemukan dalam skala nasional.
3. Refleksikan isu strategis nasional ke dalam tema lokal yang benar-benar
dirasakan oleh penduduk di wilayah binaan. Beberapa contohnya antara lain
Isu angka fertilitas penduduk kemudian dianalisis dengan fenomena
pernikahan dini yang kemungkinan marak terjadi serta cakupan kesertaan
ber-KB yang kemungkinan masih rendah, berdasarkan isu ini maka ditelaah
79
bagaimana kondisi pelayanan Keluarga Berencana di Puskesmas atau klinik-
klinik bidan swasta, ditelaah efektivitas kelompok kegiatan seperti PIK-
Remaja atau Bina Keluarga Remaja, Isu Peningkatan Kualitas Penduduk
kemudian dianalisis tentang cakupan layanan pendidikan maupun kesehatan
beserta dengan efektivitasnya, Isu Bonus Demografi, kemudian dianalisis
tentang struktur penduduk secara lebih mikro baik di level desa maupun
kabupaten kota, yang kemudian disusun rencana advokasi dan
penanganannya, Isu Migrasi Penduduk, kemudian di telaah mengenai apa
alasannya terjadi migrasi penduduk di daerahnya, Isu keterpaduan
penanganan isu kependudukan, dapat diangkat menjadi isu pelaksanaan
program di Kampung KB sebagai bentuk sinergitas ditingkat yang paling
mikro.
Tahapan ini bertujuan agar petugas lapangan dapat melihat gambaran
kondisi kependudukan yang sesuai wilayah binaannya dan membuatnya agar
menjadi menjadi lebih operasional dan dapat tertangani permasalahannya.
4. Setelah mendapat gambaran secara nyata kondisi kependudukan yang
terjadi di wilayah binaannya kita susun bahan advokasi dan KIE
penangananya.
5. Selain kita mencermati gambaran tentang isu strategis dan rencana bahan
advokasi dan KIE penangannya yang bersifat kuratif Kita juga perlu
mempersiapkan bahan advokasi dan KIE yang bersifat preventif yaitu
dengan cara membuat profil yang memuat kondisi kependudukan dari
penduduk yang berada di wilayah binaan yang meliputi kuantitas (jumlah,
struktur umur, persebaran) serta kuaitas ( kondisi ekonomi, sosial dan
budaya).
6. Buat list potensi dan tantangan terhadap masing-masing aspek. Contohnya
jika jumlah penduduk besar, maka potensi dan tantangan yang dihadapi apa.
Begitu pula sealiknya jika jumlah penduduk kita kecil buat list apa tantangan
dan potensi yang akan perlu dipersiapkan dan difasiitasi. Profil
80
kependudukan serta list potensi dan tantangan kependudukan juga perlu
kita persiapkan sebagai bahan advokasi dan KIE yang kita bisa usulkan dalam
forum-forum strategis yang ada di wilayah binaan kita, sehingga aspek
kependudukan dapat menjadi rujukan utama dalam penyusunan program
pada berbagai lintas sektor
Pemilihan media yang akan digunakan sebagai media KIE harus dilakukan
secara cermat dan tepat tidak boleh hanya karena suka atau ketidaksukaan
terhadap media ataupun hanya melihat aspek kecanggihan media semata.
melainkan harus mempertimbangkan karakteristik dari sasaran advokasi dan KIE
serta pada ketersediaan sarana dan prasarana yang tersedia dalam membuat,
memanfaatkan serta menayangkan pesan kependudukan yang kita rumuskan.
Keselarasan media yang digunakan dengan karakterisistik sasaran dan
ketersediaan sarana dan prasarana akan membuat penggunaan media menjadi
lebih efektif dan efisien.
81
Kita harus mendapatkan gambaran secara utuh siapa dan bagaimana
karakteristik sasaran advokasi maupun KIE Kita. Informasi yang kita kumpulkan
berkaitan dengan karakteristik sasaran seperti usia, minat, kondisi sosial budaya
dan kebutuhan informasi sasaran menjadi acuan dalam pemilihan media
Sarana dan prasarana juga perlu kita pertimbangkan dalam menentukan
media apa yang akan kita gunakan. Contohnya apabila wilayah binaan kita
menyukai pementasan budaya media yang kita gunakan adalah media yang
dapat menayangkan pementasan budaya ini serta mengintegrasikan isu
kependudukan ke dalam pementasan budaya.
Media advokasi maupun KIE ada yang memiliki jenis media yang bisa
langsung kita pergunakan karena telah tersedia ada juga yang kita rancang
sendiri secara khusus sesuai dengan kondis dan situasi yang ada di wilayah
binaan kita.
Bisa saja Kita hanya menggunakan 1 jenis media, namun bisa juga lebih.
Terkadang kita hanya membutuhkan satu media saja tetapi kadang kita
membutuhkan lebih dari satu media. Pemilihan media juga bergantung pada
dimana sasaran KIE Kita sebagian besar berada Misalnya, jika kita ingin
memasang spanduk pastikan lokasinyamerupakan pusat keramaian atau
banyak orang yang lalu lalang di lokasi tersebut. Memilih lokasi yang tepat adalah
cara kita memperbesarkesempatan materi KIE kita terpapar ke lebih banyak
orang. Begitu juga sebelum kita memilih media apakah melalui radio, televisi
ataupun media sosial, pilihlah media yang banyak diamnfaatkanoleh sasaran KIE
Kita.
82
17 terdapat pesan penting bagi pemerintah untuk mengembangkan wawasan
kependudukan penduduk dengan cara meningkatkan pemahaman mengenai
pembangunan kependudukan yang berkelanjutan dalam rangka mewujudkan
penduduk yang berkualitas. Berikut akan diuraikan forum-forum yang bisa
dimanfaatkan dalam menyampaikan isu strategis kependudukan kepada
sasaran advokasi maupun KIE.
1. Forum musyawarah dan perencanaan penganggaran di wilayah binaan
contohnya musyawarah desa khususnya musyawarah perencanaan
pembangunan desa menghasilkan kesepakatan perencanaan pembangunan
desa.
2. Forum pendidikan
Salah satu pendekatan yang dianggap efektif untuk membentuk pola pikir,
sikap dan perilaku melalui pendekatan pendidikan.
a. Jalur Pendidikan formal
Jalur Pendidikan Formal adalah jalur pendidikan yang berstruktur dan
berjenjang mulai dari pendidikan dasar (SD/MI), pendidikan menengah
(SLTP/MTS dan SLTA/MA) dan pendidikan tinggi
b. PendidikanNon Formal
Jalur Pendidikan NonFormal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan
formal yang dapat dilaksanakan secara berstruktur dan berjenjang
c. Pendidikan Informal
Jalur Pendidikan InFormal adalah jalur pendidikan keluarga, lingkungan,
kelompok, masyarakat serta media massa
3. Forum Keagamaan dan Sosial Kemasyarakatan
a. Forum Keagamaan
Penduduk Indonesia merupakan penduduk yang terkenal sebagai
penduduk beragama yaitu penduduk yang mengakui keberadaan dan
83
kebesaran Tuhan Yang Maha Esa serta taat menjalankan ajaran agama
serta kepercayaan yang dianutnya masing-masing.
84
tersebut tumbuh subur karena sesuai dengan karakteristik penduduk
Indonesia yang guyub, senang berkumpul, suka bergotong royong.
E. Rangkuman
Pembangunan berwawasan kependudukan adalah pembangunan yang
disesuaikan dengan potensi dan kondisi penduduk yang ada. Penduduk harus
dijadikan titik sentral dalam proses pembangunan. Penduduk harus dijadikan
subjek dan objek dalam pembangunan. Pembangunan adalah oleh penduduk
dan untuk penduduk. Untuk menjadikan penduduk sebagai titik sentral dalam
proses pembangunan dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh untuk
meyakinkan para pemangku kebijakan baik di tingkat nasional maupun daerah
untuk memasukan unsur kependudukan sebagai pondasi utama dalam
membuat perencanaan pembangunan serta proses untuk memberikan
wawasan pengetahuan yang dapat merubah pemahaman, keterampilan serta
sikap masyarakat sehingga peka terhadap isu-isu kependudukan yang terjadi di
sekelilingnya, mampu berpikir tepat dan tanggap terhadap isu-isu
kependudukan yang terjadi dan yang sangat penting yaitu memiliki sikap
responsif dalam mempersiapkan diri beserta keluarganya berupa peningkatan
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tepat dalam menghadapi kondisi
kependudukan tersebut dengan baik.
Penyusunan bahan dasar kependudukan yang baik untuk tujuan advokasi
dan KIE yang tepat sasaran dan efisien perlu dilakukan secara cermat, sistematis
dan sistemis agar tepat sasaran. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi
mengidentifikasi sasaran dengan tepat, penyusunan materi, pemilihan media
yang akan digunakan serta memilih forum yang strategis yang dapat digunakan
dalam kegiatan advokasi dan KIE bertemakan kependudukan
85
F. Latihan
Untuk mendalami BAB V ini kerjakan latihan berikut ini!
1. Identifikasi isu kependudukan yang berskala nasional yang selaras dengan
kondisi kependudukan di wilayah binaan!
2. Pilih satu (1) isu kependudukan dan buatkan bahan advokasi dan KIE dengan
menggunakan salah satu media yang cocok dengan karakteristik sasaran!
3. Ceritakan pengalaman Anda mengadvokasi isu kependudukan kepada tokoh
formal!
4. Diskusikan dengan teman Anda, bagaimana cara melakukan Advokasi isu
kependudukan kepada Bapak Bupati/Walikota!
5. Buatlah policy brief isu kependudukan di wilayah Anda!
G. Tes Formatif
Jawablah pertanyaan berikut dengan memilih pada jawaban a, b, c, d atau e pada
jawaban yang paling tepat!
1. Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam melakukan advokasi adalah...
a. Dana advokasi
b. Sasaran advokasi
c. Tempat advokasi
d. Wilayah advokasi
e. Alat advokasi
2. Salah satu sasaran advokasi yang akan dituju adalah pimpinan daerah, karena...
a. Pengambil kebijakan
b. Penyedia anggaran
c. Penyalur bantuan
d. Pendapatnya penting
e. Keuntungan masyarakat
3. Contoh pesan KIE terhadap remaja adalah...
a. Berkumpul bersama
86
b. Bermain game kesukaan
c. Menikah usia ideal
d. Belanja di market place
e. Jalan-jalan ke mall
4. Penyusunan materi kependudukan, hal utama harus memperhatikan...
a. Keindahan tulisan
b. Kegunaan gambar
c. Peletakan huruf
d. Warna huruf
e. Data kependudukan yang akurat
5. Media sosial yang dapat digunakan dalam penyampaian isu kependudukan
seperti...
a. Mobile legend
b. Game pesawat
c. Game teka-teki
d. Youtube, instagram, facebook
e. Akun demo masak
87
Selamat! Anda telah mempelajari mata pelatihan “Pembangunan Berwawasan
Kependudukan” dengan sukses. Selanjutnya, untuk mengakhiri modul ini, kami
persilahkan untuk mencermati sekali lagi rangkuman yang merupakan intisari
Pembahasan Topik Pembangunan Berwawasan Kependudukan.
A. Kesimpulan
Pembangunan berwawasan kependudukan mengandung makna bahwa
pembangunan harus disesuaikan dengan potensi dan kondisi penduduk yang ada.
Artinya penduduk harus dijadikan titik sentral dalam proses pembangunan yaitu
sebagai subjek dan objek dalam pembangunan. Pembangunan adalah oleh
penduduk dan untuk penduduk. Selain itu Pembangunan berwawasan
kependudukan juga pembangunan sumberdaya manusia. Artinya pembangunan
yang dilakukan harus lebih menekankan pada peningkatan kualitas sumber daya
manusia dibandingkan dengan pembangunan fisik semata-mata.
Kedudukan strategis yang dimiliki oleh penduduk ini menjadikan data dan
informasi yang benar dan utuh tentang siapa dan bagaimana kondisi penduduk di
suatu negara mutlak dibutuhkan sebagai bahan rujukan dalam pembuatan
kebijakan pembangunan.
Untuk mendapatkan informasi yang benar tentang kondisi kependudukan yang
tepat, sehingga dapat dihasilkan kebijakan yang tepat sasaran, maka dibutuhkan
sumber data kependudukan yang valid dan terpercaya
Untuk menjadikan penduduk sebagai titik sentral dalam proses pembangunan
dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh untuk meyakinkan para pemangku
kebijakan baik di tingkat nasional maupun daerah untuk memasukan unsur
88
kependudukan sebagai pondasi utama dalam membuat perencanaan
pembangunan serta proses untuk memberikan wawasan pengetahuan yang dapat
merubah pemahaman, keterampilan serta sikap masyarakat sehingga peka
terhadap isu-isu kependudukan yang terjadi di sekelilingnya, mampu berpikir tepat
dan tanggap terhadap isu-isu kependudukan yang terjadi dan yang sangat penting
yaitu memiliki sikap responsif dalam mempersiapkan diri beserta keluarganya
berupa peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tepat dalam
menghadapi kondisi kependudukan tersebut dengan baik.
Penyusunan bahan dasar kependudukan yang baik untuk tujuan advokasi dan
KIE yang tepat sasaran dan efisien perlu dilakukan secara cermat, sistematis dan
sistemis agar tepat sasaran. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi
mengidentifikasi sasaran dengan tepat, penyusunan materi, pemilihan media yang
akan digunakan serta memilih forum yang strategis yang dapat digunakan dalam
kegiatan advokasi dan KIE bertemakan kependudukan.
B. Evaluasi Sumatif
1. Essay
Kerjakan Evaluasi berikut dengan seksama!
1. Jelaskan menurut bahasa sendiri makna dari pembangunan berwawasan
kependudukan!
2. Jelaskan dua (2) contoh Interalasi kependudukan dengan pembangunan!
3. Jelaskan tiga (3) bentuk kontribusi Program KKBPK dalam Pembangunan
Berwawasan Kependudukan
4. Jelaskan kondisi kependudukan yang terjadi di Indonesia saat ini dari
berbagai aspek!
5. Jelaskan Jenis Data dan sumber data yang diketahui!
6. Jelaskan manfaat data kependudukan bagi penduduk itu sendiri,
pemerintah maupun bagi penyusunan Program Bangga Kencana!
89
7. Jelaskan langkah-langkah dalam menyusun bahan advokasi dan KIE
bertemakan kependudukan!
2. Pilihan Ganda
a. Petunjuk Pengerjaan soal
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dari pertanyaan yang
diberikan dengan meng-klik abjad A, B, C, D atau E pada pilihan yang
tersedia!
b. Uraian Soal
1. Dalam konsep Pembangunan Berwawasan Kependudukan, penduduk
merupakan…
A. Sentral pembangunan
B. Beban pembangunan
C. Tujuan pembangunan
D. Objek pembangunan
E. Bahan pembangunan
90
Prinsip atau asas pengelolaan pembangunan berwawasan kependudukan
meliputi;
91
4. Kondisi jumlah dan struktur umur penduduk Indonesia yang
didominasi penduduk muda saat ini menjadi peluang di bidang
ekonomi, yaitu…
A. Mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri
B. Membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya
C. Memberikan bantuan yang meringankan penduduk
D. Menjadi pekerja yang tidak professional
E. Menjadi beban negara
92
B. Sebagai pusat data dan intervensi permasalahan pembangunan
keluarga kependudukan dan Keluarga Berencana yang sesuai dengan
tujuan dari Program Bangga Kencana
C. Sebagai sarana bagi penduduk untuk mendapatkan hak-hak yang
dimiliki sebagai penduduk resmi di suatu negara
D. Sebagai bahan evaluasi pencapaian program Bangga Kencana
E. Sebagai bahan acuan tahun berikutnya
7. Jenis data kependudukan di bawah ini yang merupakan jenis data yang
menunjukkan kuantitas penduduk adalah …..
A. Laju pertumbuhan penduduk
B. status kesehatan,
C. angka kematian,
D. tingkat pendidikan
E. Migrasi penduduk
93
C. meyakinkan bahwa dengan mengelola penduduk secara baik Kita
berperan dalam menyelamatkan bumi, menyelamatkan peradaban
umat manusia dan menyelamatkan bangsa
D. meyakinkan seluruh pemangku kebijakan bahwa terdapat keterkaitan
yang sangat erat antara antara program Bangga Kencana dengan
pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan
E. Implementasi Program kependudukan melalui program Bangga
Kencana) terutama dalam mengendalikan jumlah penduduk dapat
menurunkan kualitas penduduk Indonesia.
94
C. Kunci Jawaban
1. A 1. C 1. E 1. B 1. A
2. E 2. A 2. A 2. A 2. E
3. C 3. C 3. C 3. C 3. C
4. B 4. E 4. A 4. E 4. B
5. C 5. C 5. B 5. D 5. C
6. C
7. A
8. C
9. E
10. C
95
1. Bappenas. 2018. Penduduk Sebagai Modal Pembangunan. Jakarta : Bappenas
2. Bappenas. 2019. Transisi Demografi dan Epidemiologi : Permintaan Pelayanan
Kesehatan di Indonesia. Jakarta : Bappenas
3. BPS, 2016. Profil Penduduk Hasil SUPAS 2015. Jakarta : BPS.
4. BPS. 2018. Kajian Migrasi Internasional, Hasil Sensus Penduduk 2010 dan SUPAS
[Link] : BPS.
5. BPS. 2020. Profil Kemiskinan di Indonesia, Maret 2020. Berita Resmi Statistik, No.
56/07/Th. XXIII, 15 Juli 2020.
6. BPS. 2020. Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2020. Berita Resmi
Statistik, No.86/11/Th. XXIII, 05 November 2020
7. BPS. 2020. Indeks Pembangunan Manusia 2019. Jakarta : BPS
8. BPS. 2020. Indeks Pembangunan Manusia 2019. No. 21/02/Th. XXIII, 17 Februari
2020 Berita Resmi Statistik.
9. Brodjonegoro, Bambang, P. 2011. Demographic Dividend. Jakarta : Fiscal Policy,
Ministry
of Finance, Republic of Indonesia.
10. Salim, Emil., Sri Murtiningsih Adioetomo, Evi Nurvidya Anwar, Nizam, and Alvin
Pratama. 2015, Populatioin Dynamcs and Sustainable Development in Indonesia.
Jakarta : UNFPA
11. SMERU. 2017. “Dari MDGs ke SDGs : Memetik Pelajaran dan Menyiapkan Langkah
Kongkrit”. Buletin No 2/2017. Jakarta : SMERU.
12. Sukamdi dan Ghazy Mujahid. 2015. Internal Migration in Indonesia. Jakarta:
UNFPA.
13. Sukamdi. 2018. Dinamika Migrasi Internal dan Internasional di Indonesia. Paper
disiapkan untuk Bappenas dan UNFPA (Unpublished Paper)
96
14. UNDP. 2011. People Centered Dvelopment. Empowered Lives, Resilient Nations.
Newyork: UNDP.
15. World Bank. 2009. Indonesia Economic Quarterly. Jakarta : The World Bank
16. Adioetomo, Sri Moertiningsih. 2017. ‘Regional Development in the Era of
Demographic Changes: the Case of Indonesia’. In Pratomo, Devanto Shastra,
Dias Satria, Budy P. Resosudarmo, D.S. Priayarsono, Hefrizal Handra eds.
Demographic Changes and Regional Development in Indonesia. IRSA Book
Series on Regional Development no 15. Pp15-40.
17. Prijono Tjiptoherijanto, Dimensi Kependudukan Dalam Pembangunan
Berkelanjutan, disajikan pada acara inagurasi Forum Parlemen Indonesia untuk
Pembangunan dan Kependudukan dan seminar Sehari “Kependudukan dan
pembangunan Berkelanjutan”, 2002
18. Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, “Pembangunan
Ketahanan Keluarga”, 2016
19. BAPPENAS, Rancangan Teknikratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah
2020-2024, Juli 2019
20. Widaryatmo, (2009). Karakteristik Pekerja Pelaku Mobilitas Non Permanen
Indonesia 2007. Tesis. Depok: Program Studi Pasca Sarjana Kajian
Kependudukan dan Ketenagakerjaan Program Pascasarjana Universitas
Indonesia.
21. United Nation, World Population Prospects, Volume 1 comprehensive Tables,
2017 Revised,
22. Bappenas Oktober 2018. Indonesia 2045. Berdaulat, Maju, Adil, Makmur.
23. Bappenas, BPS dan UNFPA 2018. Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045.
Jakarta. BPS.
24. Omas Bulan Samosir, PhD, BKKBN dan LD UI 2020 Modul 1 Demografi : Suatu
Pengantar
25. Pusdiklat KKB BKKBN 2018, Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran di tingkat Desa/kelurahan
97
26. [Link]
berwawasan-kependudukan/. Diakses 2 Oktober 2020.
27. [Link]
28. [Link]
masalah-kependudukan-diindonesia. Diakses 2 Oktober 2020.
29. [Link]
[Link]://[Link]/read/detail/327330-hari-populasi-dunia-ini-6-
masalah-kependudukan-di-indonesia. diakses 2 Oktober 2020.
31. Prijono Tjciptoherijato, Menuju Pembangunan Berwawasan Kependudukan,
Jurnal Populasi 2000, Volume 11 (1).
32. [Link]
indonesia-8187/ diakses 23 Desember 2020.
33. [Link]
Diakses 23 Desember 2020.
34. [Link]
semakin-meningkat diakses 23 Desember 2020.
35. Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIM) Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Unsyiah Volume 1 Nomor 1, Agustus 2016. Hal.56-65
36. [Link]
garuh-pertumbuhan-penduduk-terhadap-perkembangan-sosial-dan-
kebudayaan diakses 28 Desember 2020.
37. [Link]
pertumbuhan-penduduk-terhadap-pertahanan-negara-dalam-lima-tahun-
[Link] diakses 28 Desember 2020.
38. [Link] diakses 28 Desember 2020.
39. [Link] diakses tanggal 28
Desember 2020.
[Link]: [Link]
ini-6-masalah-kependudukan-di-indonesia diakses 28 Desember 2020.
98
41. [Link]
[Link] diakses 28 Desember 2020.
42. Foto Sampul buku [Link]
anonymous-people-walking-city-
street_5144344.htm#query=people%20population&position=8&from_view=s
earch#position=8&query=people%20population
99
100
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Jl. Permata No. 1 Halim Perdanakusuma, Jakarta
The demographic dividend represents a period when the proportion of the working-age population is higher relative to dependents, potentially boosting economic growth through heightened productivity. In Indonesia, economic planning must account for this by creating sufficient quality job opportunities and improving population quality through education and health investments . Successfully leveraging the demographic dividend requires a shift towards inclusive, sustainable economic growth, accommodating diverse age group needs to avoid future socio-economic issues like poverty and health disparities .
Population data is crucial for informed policy-making as it provides insights into demographic trends and conditions, directly impacting development planning. Essential data types include quantitative measures like population size, distribution, and growth rates, as well as qualitative aspects such as health, education levels, and socio-cultural conditions. Accurate data enables tailored policy interventions, ensuring they effectively address current and projected demographic challenges in alignment with national development goals .
Indonesia's population is projected to reach 319 million by 2045, posing economic and environmental challenges, like resource scarcity and increased demand for services. However, this growth also offers opportunities to leverage human capital through strategic education and employment initiatives, contributing to economic resilience and sustainability. Effective planning must address age-structured changes, accommodating an increasingly aging population while optimizing the younger workforce's potential to enhance inclusive economic growth .
Changes in fertility rates in Indonesia impact the socio-economic landscape by altering population structure and dependency ratios. A declining fertility rate can reduce the economic burden on families, potentially increasing savings and improving living standards. However, it also requires adjustments in policies to support an aging population and ensure sustainable pension systems. Over time, managing fertility rates becomes vital to maintain demographic balance and foster economic stability .
Urbanization trends significantly influence the development of demographic policies in Indonesia by concentrating population growth in urban areas, creating challenges like infrastructure strain and service provision. Policymakers must address these issues by promoting balanced regional development, reducing migration pressure on urban centers, and enhancing rural livelihoods. Urbanization also presents opportunities for economic progress and improved living standards if managed through strategic investments in sustainable infrastructure and services .
Incorporating gender equality in education and employment is significant for Indonesia's demographic and economic strategies as it enhances workforce quality and economic productivity. Empowering women through education correlates with better family planning, healthier lifestyles, and economic contributions, all vital for harnessing the demographic dividend. Increasing female participation in the labor force expands the talent pool and drives equitable economic growth, making gender equality a strategic priority for achieving sustainable development .
The concept of 'people-centered development' is a development approach that places the population as both the subject and object of development. It emphasizes integrating population policies into broader social, cultural, economic, and environmental policies. In Indonesia, this integration is guided by the national demographic development policies, which include ensuring demographic bonus achievement, improving population quality, empowering family functions, and strengthening community-based family resilience . The approach is rooted in ensuring that the population's abilities and conditions are central to development planning and implementation, as reinforced by principles from international conventions such as the ICPD Plan of Action and Sustainable Development Goals (SDGs).
Migration contributes to sustainable development by expanding economic opportunities, alleviating poverty, addressing labor market imbalances, and accelerating the diffusion of new ideas and technologies. In Indonesia, strategic policy adaptation, such as relocating the capital to East Kalimantan, influences migration patterns and supports sustainable urban development by optimizing population distribution and reducing pressure on densely populated areas . Correctly managed migration policies are integral to achieving inclusive growth and aligning with broader sustainability objectives .
Strategic employment policies crucially impact the realization of Indonesia's demographic dividend by providing young, productive-age individuals with opportunities to contribute economically. Creating diverse and inclusive job markets that cater to varying skills and educational backgrounds ensures effective workforce absorption, fostering economic stability and growth. Such policies must align with educational improvements and health advancements to fully capitalize on the demographic dividend potential .
Integrating family planning with health initiatives is essential for optimizing Indonesia's demographic dividend by ensuring a healthy, well-educated workforce. Comprehensive health policies that provide access to family planning services help manage population growth and improve maternal and child health outcomes. Combined with educational initiatives, these efforts enhance human capital quality, essential for sustaining economic growth during the demographic dividend period .