0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
923 tayangan110 halaman

Pembangunan Berwawasan Kependudukan

Modul ini membahas konsep dasar pembangunan berwawasan kependudukan, yang mencakup pengertian pembangunan berwawasan kependudukan, prinsip-prinsipnya, dan tujuan pembangunan berwawasan kependudukan."

Diunggah oleh

blacksugar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
923 tayangan110 halaman

Pembangunan Berwawasan Kependudukan

Modul ini membahas konsep dasar pembangunan berwawasan kependudukan, yang mencakup pengertian pembangunan berwawasan kependudukan, prinsip-prinsipnya, dan tujuan pembangunan berwawasan kependudukan."

Diunggah oleh

blacksugar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL 2

PEMBANGUNAN
BERWAWASAN
KEPENDUDUKAN

Revisi
2022

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana


BKKBN 2022
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

Tahun 2022
Hak Cipta @ 2022

PERANGKAT
TRAINING OF TRAINER (ToT)
PELATIHAN FUNGSIONAL DASAR (LFD)
PENYULUH KELUARGA BERENCANA

Edisi Tahun 2022

PEMBANGUNAN BERWAWASAN KEPENDUDUKAN

Tim Penyusun Pejabat Fungsional :


Dr. Wendy Hartanto, MA
Achmad Sopian, MPd
Iwan Tri Haryanto, SPd

Pengarah :
Dr. Drs. Lalu Makripuddin, [Link]
Dr. Dadi Ahmad Roswandi, [Link]
Uswatun Nisa, [Link], MAPS

Pelaksana Teknis :
Desnita Ekaratri Wulandari, SS., MPH
Iwan Tri Hariyanto, SPd

Tim Editor :
Tri Aryadi, [Link]
Sri Agustien, SE

Diterbitkan oleh :
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPENDUDUKAN DAN KB
BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL
Jl. Permata No. 1 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur 13650
Undang - Undang nomor : 52 tahun 2009 tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga
adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta
masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan
kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga dan peningkatan
kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil yang
bahagia dan sejahtera. Saat ini program Kependudukan, KB dan
Pembangunan Keluarga masih menjadi perhatian dan komitmen Pemerintah RI, sehingga
program ini masih tercantum dan diamanatkan pula dalam Peraturan Presiden RI tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024.

Dalam rangka untuk meningkatkan partisipasi pemerintah daerah dalam pelaksanaan


program Kependudukan dan Keluarga Berencana, maka dikeluarkanlah Undang - Undang
nomor : 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah dimana pada pasal 12 ayat 2
menyebutkan bahwa pengendalian penduduk dan keluarga berencana merupakan salah
satu pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Pada lampiran Undang -
Undang nomor : 23 tahun 2014 dalam urusan pemerintahan bidang pengendalian penduduk
dan keluarga berencana dicantumkan pada sub urusan keempat tentang standarisasi
pelayanan KB yang harus disiapkan oleh pemerintah pusat.

Berdasarkan Undang - Undang Nomor : 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah


semakin mempertegas kewenangan tersebut, dimana pada lampiran Undang - Undang
Nomor : 23 tahun 2014 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Konkuren antara
Pemerintah Pusat, daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten dan Kota pada huruf N
(Pembagian Urusan Pemerintah Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana)
menegaskan kewenangan dalam pelaksanaan urusan Pengendalian Penduduk dan Keluarga
Berencana yang harus dilaksanakan oleh masing-masing tingkatan pemerintah yaitu: (1)
sub urusan Pengendalian Penduduk, (2) sub urusan Keluarga Berencana, (3) sub urusan
Keluarga Sejahtera, dan (4) sub urusan Sertifikasi dan Standarisasi.

i
Penyusunan perangkat Pelatihan Fungsional Dasar (LFD) Penyuluh Keluarga Berencana
yang berkualitas di lingkungan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) dalam rangka mendukung program Banggakencana, maka diperlukan suatu
pelatihan yang secara sistematis dirancang untuk mencapai tujuan penyusunan tersebut.
Selanjutnya, Pelatihan yang dilaksanakan di BKKBN peruntukkannya oleh tenaga Fasilitator
yang akan membentuk Penyuluh KB di lapangan menjadi lebih profesional.

Saya sangat menyambut baik diterbitkannya perangkat pelatihan ; Modul dan media/Bahan
Tayang Pelatihan Fungsional Dasar sebagai upaya Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional sesuai dengan kebutuhan dalam mendukung program Banggakencana
di lingkungan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan
perkembangan terkini.

Akhirnya kepada semua pihak diucapkan terima kasih atas partisipasi, kontribusi, masukan,
saran dan koreksi, hingga tersusunnya Perangkat pelatihan ini. Semoga Tuhan Yang Maha
Esa meridhoi upaya kita dalam mendukung dan mengelola Program Kependudukan,
Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga secara profesional, hingga terwujudnya
Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera. Berencana itu Keren.

Jakarta, 30 Maret 2022


Deputi Bidang Pelatihan,
Penelitian dan Pengembangan,

Prof. drh. Muhammad Rizal Damanik, MrepSc., PhD.

ii
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha
Esa, karena atas rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, kami telah
menyelesaikan penyusunan Paket Perangkat Pelatihan
Fungsional Dasar dengan tepat dan berkualitas guna
kepentingan menjaga mutu penyelenggaraan dan memenuhi
standarisasi program pelatihan yang disyaratkan.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana – Badan


Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah secara berkesinambungan
mengembangkan Perangkat Pelatihan Fungsional Dasar yang dirancang khusus untuk
meningkatkan kompetensi bagi Penyuluh Keluarga Berencana/PLKB. Dengan demikian, para
fasilitator, pengelola dan pelaksana dapat melakukan Pengelolaan program Bangga Kencana
sesuai dengan standar dari pelaksanaan sampai dengan di tingkat Lini Lapangan.

Pelatihan Fungsional Dasar ini khususnya untuk memantapkan keterampilan peserta dalam
pelaksanaan Pengelolaan yang terkini dalam rangka mendukung program Banggakencana.

Perangkat pelatihan ini adalah acuan untuk menyelenggarakan Pelatihan Fungsional Dasar.
Tujuan pedoman pelatihan teknis ini adalah menciptakan panduan yang layak mengenai
tahapan pelaksanaan dan evaluasi yang harus dikerjakan oleh penyelenggara pelatihan yang
dimasud untuk mewujudkan good governance.

Untuk tercapainya tujuan pelatihan sebagaimana yang diharapkan, maka kurikulum dan bahan
pembelajaran Pelatihan Fungsional Dasar dilengkapi dengan berbagai media antara lain
handout slide, dan video yang secara terus menerus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
lapangan. Media pembelajaran tersebut diharapkan dapat menguatkan proses belajar
mengajar dan meningkatkan kompetensi kepada peserta Pelatihan Fungsional Dasar bagi
Penyuluh KB.

iii
Penyempurnaan dan pengembangan perangkat pelatihan kekinian tentunya akan terus
dilakukan dan ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan wilayah, masyarakat, serta
perkembangan program, ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerbitan Paket Perangkat)
Pelatihan Fungsional Dasar ditujukan untuk lebih memantapkan Sumber Daya Manusia dalam
pelaksanaan program Bangga kencana.

Semoga dengan diterbitkannya paket pembelajaran Pelatihan Fungsional Dasar bagi Penyuluh
KB di Kabupaten dan Kota, dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan Pengelolaan program
Banggakencana.

Akhir kata, penghargaan dan apresiasi yang setingi-tingginya serta ucapan terima kasih
disampaikan kepada berbagai pihak yang telah membantu penyusunan Paket Perangkat
Pelatihan ini. Semoga paket pelatihan ini bermanfaat untuk menjamin terlaksananya
penyelenggaraan Pelatihan Fungsional Dasar yang berkualitas.

Jakarta, 25 Maret 2022


Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Kependudukan dan Keluarga Berencana,

Dr. Drs. Lalu Makripuddin, [Link]

iv
KATA SAMBUTAN ............................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................................ 1
A. Latar belakang ...............................................................................................................................1
B. Deskripsi Singkat ..........................................................................................................................2
C. Manfaat Modul ..............................................................................................................................3
D. Tujuan Pembelajaran ..................................................................................................................3
E. Materi Pokok dan Submateri Pokok ......................................................................................3
F. Petunjuk Belajar ............................................................................................................................4
BAB II KONSEP DASAR PEMBANGUNAN BERWAWASAN KEPENDUDUKAN................... 6
A. Pengertian.......................................................................................................................................6
B. Aspek penting pembangunan berwawasan kependudukan ........................................7
C. Sejarah Konsep Pembangunan Berwawasan Kependudukan ................................... 11
D. Interelasi Kependudukan dalam Pembangunan: Integrasi Penduduk dalam
pembangunan ............................................................................................................................ 19
E. Kontribusi Program Bangga Kencana dalam Pembangunan Berwawasan
Kependudukan ........................................................................................................................... 25
F. Rangkuman .................................................................................................................................. 28
G. Latihan .......................................................................................................................................... 29
H. Tes Formatif ................................................................................................................................ 30
I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................................................ 32
BAB III KONDISI KEPENDUDUKAN INDONESIA SAAT INI DAN MENDATANG ............... 33
A. Situasi Kependudukan Indonesia dari berbagai Aspek ............................................... 33
B. Dampak situasi kependudukan Indonesia dari berbagai aspek (politik, ekonomi,
lingkungan, sosial dan hankam) ........................................................................................... 38
C. Refleksi isu nasional ke dalam isu lokal ............................................................................. 46
D. Rangkuman .................................................................................................................................. 48
E. Latihan .......................................................................................................................................... 48
F. Tes Formatif ................................................................................................................................ 49
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................................................ 51

v
BAB IV PENDUDUK SEBAGAI PUSAT RUJUKAN DALAM PEMBUATAN KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN ..................................................................................................................... 52
A. Jenis dan Sumber Data Kependudukan ........................................................................... 53
B. Pemanfaatan data kependudukan...................................................................................... 62
C. Rangkuman .................................................................................................................................. 64
D. Latihan .......................................................................................................................................... 65
E. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................................................ 66
BAB V PENYUSUNAN BAHAN DASAR ADVOKASI DAN KIE BERTEMAKAN
KEPENDUKAN SESUAI DENGAN SITUASI DAN KONDISI KEPENDUDUKAN
SETEMPAT................................................................................................................................67
A. Mengidentifikasi sasaran ........................................................................................................ 72
B. Penyusunan Materi Kependudukan.................................................................................... 79
C. Pemilihan media yang akan digunakan ............................................................................. 81
D. Forum yang dapat dimanfaatkan ........................................................................................ 82
E. Rangkuman .................................................................................................................................. 85
F. Latihan .......................................................................................................................................... 86
G. Tes Formatif ................................................................................................................................ 86
H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ............................................................................................ 87
BAB VI PENUTUP ............................................................................................................................. 88
A. Kesimpulan .................................................................................................................................. 88
B. Evaluasi Sumatif......................................................................................................................... 89
C. Kunci Jawaban ........................................................................................................................... 95
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 96

vi
A. Latar belakang
Berbagai kalangan sepakat bahwa isu kependudukan adalah salah satu isu yang sangat
krusial di Indonesia saat ini, namun seringkali muncul ketidaksepakatan mengenai apa
sebenarnya akar persoalan dan
kesepakatan mengenai solusi alternatif
yang tepat. Berbagai ketidaksepakatan ini
menunjukkan adanya disparitas dalam
perbedaan cara pandang dan interpretasi
terhadap fakta-fakta. Misalnya ada
sebagian kalangan yang berpendapat bahwa persoalan kependudukan di Indonesia
semata-mata adalah mengontrol tingkat fertilitas dan mortalitas yang tinggi. Namun
sebagian kalangan lain berpendapat bahwa permasalahan kependudukan menjadi
multiplier effect bagi berbagai permasalahan politik, ekonomi, lingkungan, sosial
budaya bahkan pertahanan dan keamanan. Oleh karenanya ada yang berpendapat
bahwa kebijakan kependudukan harus komprehensif dan tidak bersifat tambal sulam.

Ironisnya, di era globalisasi, demokrasi dan desentralisasi ini justru muncul


disinsentif dalam mengadopsi kebijakan kependudukan sebagai suatu isu kebijakan
yang strategis. Isu kependudukan seringkali hanya dipolitisasi namun jarang sekali
muncul kebijakan yang dapat mempengaruhi karakteristik kependudukan suatu
masyarakat. Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya disinsetif kebijakan
ini:

1. Seringkali intervensi kebijakan kependudukan baru akan bekerja dalam jangka


panjang untuk dapat mempengaruhi karakteristik kependudukan

1
2. Isu kebijakan kependudukan biasanya muncul melalui pertimbangan jangka
pendek, namun hasilnya masih dalam jangka panjang.
3. Kriteria keberhasilan suatu kebijakan kependudukan seringkali ambigu (misalnya
menekan pertumbuhan justru akan menyebabkan problem ageing seperti di
Jepang).
4. Intervensi kependudukan didesain untuk merubah perilaku individual, namun
evaluasi dampaknya diukur secara nasional. Seringkali biaya dan manfaat politik
dari kebijakan kependudukan ini tidak sepadan.
5. Tidak ada konsistensi dalam kebijakan kependudukan mengingat isu
kependudukan sering kali bukan suatu isu yang dapat membangun dukungan
politik.
6. Kelompok-kelompok target dalam intervensi kependudukan seringkali
merupakan kelompok yang sulit untuk dimobilisasi.

Oleh karenanya penting memahami argumentasi mengapa harus dilakukan


pembangunan kependudukan di Indonesia, dalam koridor paradigma pembangunan
berwawasan kependudukan. Pertama adalah argumentasi mengapa penting
mengintegrasikan penduduk dalam pembangunan. Kedua adalah isu yang terkait
dengan mandat yang diamanatkan oleh regulasi. Ketiga, kebutuhan untuk merumuskan
acuan kebijakan pembangunan kependudukan yang terintegrasi berdasarkan konteks
Indonesia.

B. Deskripsi Singkat
Modul ini membahas konsep dasar paradigma pembangunan berwawasan
kependudukan, isu strategis kependudukan, serta praktik empiris penduduk sebagai
pusat rujukan dalam pembuatan kebijakan pembangunan. Mata Pelatihan disajikan
dalam diskusi interaktif dan contoh penerapan dalam pembangunan.

2
C. Manfaat Modul
Modul ini bermanfaat sebagai bahan ajar peserta pelatihan diklat fungsional dasar
bagi Penyuluh KB. Dengan mempelajari modul ini peserta akan semakin peka terhadap
ha-hal yang terkait dengan kependudukan dan akan menjadikan isu dan situasi
kependudukan sebagai landasan dalam melakukan advokasi pembangunan
kependudukan.

D. Tujuan Pembelajaran
1. Hasil Belajar

Setelah mengikuti mata diklat ini peserta diharapkan mampu menerapkan


Pembangunan Berwawasan Kependudukan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi
Penyuluh KB.

2. Indikator Hasil Belajar

Setelah mengikuti mata diklat ini peserta diharapkan dapat:

a. Menjelaskan konsep dasar paradigma pembangunan berwawasan


kependudukan
b. Menjelaskan isu strategis kependudukan Indonesia saat ini dan mendatang
c. Menjelaskan pemanfaatan data kependudukan bagi perencanaan
pembangunan
d. Menyusun bahan dasar advokasi dan KIE paradigm pembangunan
berwawasan kependudukan sesuai dengan situasi dan kondisi
kependudukan setempat

E. Materi Pokok dan Submateri Pokok


1. Konsep dasar pembangunan berwawasan kependudukan

1.1. Pengertian Pembangunan berwawasan


1.2. Sejarah munculnya konsep Pembangunan Berwawasan Kependudukan
1.3. Aspek penting pembangunan berwawasan kependudukan

3
1.4. Interelasi kependudukan dengan pembangunan
1.5. Kontribusi program Bangga Kencana dalam pembangunan berwawasan
kependudukan
2. Isu-isu kependudukan

2.1. Situasi kependudukan di Indonesia saat ini dari aspek kualitas, kuantitas,
mobilitas dan persebaran penduduk, data kependudukan serta kualitas
hubungan di dalam keluarga dan antar generasi
2.2. Dampak situasi kependudukan Indonesia dari berbagai aspek (politik,
ekonomi, lingkungan, sosial dan hankam
2.3. Refleksi isu nasional ke dalam isu lokal
3. Penduduk sebagai pusat rujukan dalam pembuatan kebijakan pembangunan

3.1. Jenis data dan sumber data kependudukan

3.2. Pemanfaatan data kependudukan

4. Menyusun bahan dasar advokasi dan KIE bertemakan kependukan sesuai


dengan situasi dan kondisi kependudukan setempat

4.1. Mengidentifikasi sasaran

4.2. Pemilihan media yang akan digunakan

4.3. Forum yang dapat dimanfaatkan

F. Petunjuk Belajar
Agar pemebelajaran modul ini dapat lebih optimal, maka disarankan untuk;

1. Membaca dengan seksama indikator hasil belajar dari pembelajaran ini.


2. Berdiskusi dan curah pendapat baik dengan fasilitator maupun dengan peserta
lainnya.
3. Membuat catatan-catatan kecil dari setiap bab nya dengan mengambil poin-
poin pentingnya.

4
4. Mengerjakan soal-soal yang diberikan untuk mengukur pemahaman materi.
5. Mencari sumber-sumber lain yang relevan untuk mendukung pemahaman
terhadap isi materi bahan ajar ini.

5
A. Pengertian
Secara sederhana pembangunan berwawasan kependudukan mengandung dua
makna sekaligus, yaitu:
1. Pembangunan berwawasan kependudukan adalah pembangunan yang disesuaikan
dengan potensi dan kondisi penduduk yang ada. Penduduk harus dijadikan titik
sentral dalam proses pembangunan. Penduduk harus dijadikan subjek dan objek
dalam pembangunan.
Pembangunan adalah oleh
penduduk dan untuk penduduk.

2. Pembangunan berwawasan kependudukan adalah pembangunan sumberdaya


manusia. Pembangunan lebih menekankan pada peningkatan kualitas sumber daya
manusia dibandingkan dengan pembangunan fisik semata-mata.
Dengan pengertian di atas maka penduduk merupakan titik sentral
pembangunan. Disatu sisi penduduk harus dibangun agar mampu menjadi pelaku
atau sumberdaya pembangunan. Dalam hal ini menjadi hak bagi penduduk untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan dalam arti luas termasuk

6
pendidikan keagamaan, moral dan etika sehingga yang bersangkutan memiliki
kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Disisi lain maka penduduk
memiliki persamaan hak untuk menikmati hasil pembangunan. Untuk mencapai hal
tersebut, maka strategi pembangunan harus benar-benar memperhatikan kondisi
kependudukan sehingga hasil pembangunan tersebut dapat dirasakan oleh
sebagian besar penduduk yang ada.

B. Aspek penting pembangunan berwawasan kependudukan


Mengacu pada kedua makna tersebut, maka dalam mewujudkan pembangunan
berwawasan kependudukan terdapat beberapa aspek penting pembangunan
berwawasan kependudukan yang meliputi prinsip atau asas pengelolaan
pembangunan berwawasan kependudukan serta dimensi pembangunan
berwawasan kependudukan.
1. Prinsip atau asas pengelolaan pembangunan berwawasan kependudukan
meliputi;
a. Mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar
manusia
sebagai hak yang secara kodrati melekat pada dan tidak terpisahkan dari
penduduk, yang harus dilindungi, dihormati, dan ditegakkan demi
peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan
kecerdasan serta keadilan penduduk saat ini dan generasi yang akan
datang,
b. Setiap penduduk dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat serta hak
asasi manusia yang sama dan sederajat untuk hidup, memiliki kebebasan
dan keamanan serta dapat berpatisipasi dan menikmati hasil pengelolaan
perkembangan kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan
keluarga tanpa adanya diskriminasi atas dasar suku, jenis kelamin, agama,
bahasa sehari-hari yang dipakai, strata sosial, nomor urut kelahiran, dan
status lainnya,

7
c. Penduduk pada seluruh dimensinya harus menjadi titik sentral
pembangunan berkelanjutan agar setiap penduduk dan generasinya
mendatang dapat hidup sehat, sejahtera, produktif, dan harmonis dengan
lingkungannya serta menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas bagi
pembangunan. Penduduk mempunyai hak dan kewajiban untuk memenuhi
kebutuhan dasar hidup bagi dirinya dan keluarganya, termasuk kecukupan
pangan, sandang, papan, air dan sanitasi lingkungan,
d. Hak untuk pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga berencana
dan pembangunan keluarga sebagai bagian dari pembangunan adalah
bagian dari hak asasi manusia secara universal yang menempatkan manusia
sebagai titik sentral pembangunan agar terjadi pemerataan kebutuhan
penduduk, pembangunan, dan lingkungan secara adil bagi generasi
sekarang dan mendatang,
e. Kunci keberhasilan pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga
berencana dan pembangunan keluarga tidak terlepas dari upaya
peningkatan kesetaraan dan keadilan gender serta pemberdayaan
perempuan, termasuk penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap
perempuan dan menjamin kemampuan agar setiap perempuan dapat
melaksanakan serta mengatur proses reproduksinya,
f. Pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga merupakan bagian integral dari pembangunan
budaya, sosial-ekonomi bangsa dalam rangka meningkatkan kualitas hidup
untuk semua penduduk,
g. Pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan
memerlukan partisipasi semua pihak dengan menjamin terwujudnya
keseimbangan antara penduduk, sumberdaya, dan lingkungan yang
diperlukan dalam pembangunan,

8
h. Pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga harus memberikan perhatian pada pengurangan
kemiskinan sebagai prasarat terwujudnya pembangunan berkelanjutan.
Upaya pengurangan kemiskinan sebagai mana dimaksud pada ayat (1)
memerlukan kerjasama semua bangsa didunia dan seluruh masyarakat
Indonesia agar tidak terjadi ketimpangan kebutuhan dasar hidup antar
penduduk dan semakin banyaknya penduduk yang terpenuhi kebutuhan
dasar kehidupannya,
i. Keluarga sebagai bagian pokok masyarakat perlu diberdayakan dengan
memberikan perlindungan secara menyeluruh dan dukungan oleh semua
pihak agar mampu mengembangkan dirinya dan anggota keluarganya
sehingga dapat berperan dalam pengelolaan perkembangan
kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga
j. Setiap penduduk berhak memperoleh pendidikan yang diperlukan untuk
menjadi sumberdaya yang berkualitas dengan harkat dan martabat yang
tinggi, terutama bagi wanita dan anak-anak perempuan sehingga mampu
berperan dalam pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga
berencana dan pembangunan keluarga,
k. Keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus memberikan prioritas kepada
anak dan remaja oleh karenanya mereka harus dijamin haknya untuk hidup
layak, hidup sehat secara prima dan memperoleh informasi, pendidikan dan
pelatihan tanpa diskriminasi,
l. Penduduk yang pindah ke daerah baru dan keluarganya berhak memperoleh
perlakuan dan jaminan kesejahteraan yang sama dengan penduduk
sekitarnya serta memperoleh jaminan kemananan fisik dan keselamatan
hidupnya sesuai dengan kemampuan daerah tujuan,
m. Pengelolaan perkembangan kependudukan, keluarga berencana dan
pembangunan keluarga harus memberikan perhatian dan memberikan
perlindungan secara khusus kepada penduduk “indegenous” dengan

9
membantu untuk mempertahankan indentitas aslinya, budaya dan aspirasi
mereka dalam pembangunan kependudukan dengan memberikan
kesempatan yang sama dalam pembangunan seperti penduduk lainnya.

Implikasinya adalah perlunya jaminan tentang:


a. Persamaan dalam menikmati hak-hak ekonomi, sosial dan budaya;
negara dapat melakukan batasan-batasan terhadap pelaksanaan hak ini
melalui pengaturan dalam undang-undang sejauh tidak bertentangan
dengan hakekatnya dan sematamata demi tujuan memajukan
kesejahteraan umum dalam masyarakat demokratis;
b. Mengakui hak untuk bekerja, mendapatkan nafkah yang layak dari
pekerjaan itu yang melakukan pekerjaan yang secara bebas dipilih,
melakukan perlindungan terhadapnya;
c. Negara menyelenggarakan dan menjamin hak setiap orang atas jaminan
sosial, termasuk asuransi sosial; dan
d. Memberikan jaminan kepada setiap orang atas standar penghidupan
yang layak, bebas dari kelaparan dan menikmati standar hidup yang
memadai yang dapat dicapai untuk kesehatan jasmani dan rohani.

2. Dimensi kependudukan dan pembangunan berwawasan kependudukan.


Bentuk konkrit dari penerapan prinsip atau asas pengelolaan pembangunan
berwawasan kependudukan dapat dilihat dalam 2 sisi yaitu meliputi;
a. Integrasikan aspek kependudukan ke dalam perencanaan pembangunan
nasional. Sisi ini merupakan usaha penjabaran dari pembangunan
berwawasan kependudukan. Secara sederhana pembangunan berwawasan
kependudukan merujuk pada konsep agar perencanaan pembangunan
(baca pembangunan ekonomi) harus memperhatikan dinamika
kependudukan yang ada.

10
b. Pembangunan kependudukan. Sisi ini merujuk pada bagaimana
membangun penduduk dengan segala matranya agar dapat menjadi
pelaku-pelaku pembangunan yang handal melalui mengendalikan
pertumbuhan penduduk, mengarahkan mobilitas penduduk, meningkatkan
kualitas penduduk dan didukung dengan sistem informasi kependudukan
yang handal.

C. Sejarah Konsep Pembangunan Berwawasan Kependudukan


Dalam pembahasan tentang sejarah Konsep Pembangunan Berwawasan
Kependudukan, akan dibahas tentang perkembangan konsep pembangunan
berwawasan kependudukan beserta payung hukum penerapan Paradigma
Pembangunan Berwawasan Kependudukan.
1. Sejarah
Jargon pembangunan berwawasan kependudukan sudah lama didengar
dalam bentuk atau format yang berbeda-beda. Hal itu misalnya tampak dari
beberapa konsep misalnya didengung-dengungkannya penduduk sebagai
subyek dan obyek pembangunan, jargon pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya, atau pembangunan bagi segenap rakyat. Konsep "pembangunan
manusia seutuhnya", yang tidak lain adalah konsep "pembangunan
kependudukan", mulai diterapkan dalam perencanaan pembangunan Indonesia
yang sistematis dan terarah sejak Repelita I pada tahun 1969.
Sampai sedemikian jauh, walaupun pada tataran kebijaksanaan telah secara
sungguh-sungguh mengembangkan konsep pembangunan yang berwawasan
kependudukan, pemerintah tampaknya belum dapat secara optimal
mengimplementasikan dan mengintegrasikan kebijaksanaan tersebut dalam
berbagai program sektoral. Banyak sekali hambatan yang masih terjadi dalam
mengimplementasikan pembangunan berwawasan kependudukan. Ada
indikasi bahwa Indonesia masih kurang serius dalam menangani pembangunan
berwawasan kependudukan. Salah satu penjelasannya adalah bahwa seperti

11
halnya di banyak negara berkembang, perhatian utama pemerintah adalah
memacu pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi, kemudian, dijadikan
ukuran keberhasilan pembangunan nasional yang pokok. Walaupun Indonesia
memiliki wawasan trilogi pembangunan yaitu pertumbuhan, pemerataan, dan
stabilitas, namun pada kenyataannya pertumbuhan senantiasa mendominasi
strategi pembangunan nasional.
Strategi pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan tanpa melihat
potensi penduduk yang ada nyatanya tidaklah berlangsung secara
berkesinambungan (sustained). Jika dikaitkan dengan krisis ekonomi dewasa
ini, terjadinya krisis tersebut tidak lepas dari kebijaksanaan ekonomi yang
kurang mengindahkan dimensi kependudukan. Strategi ekonomi makro yang
tidak dilandasi pada situasi/kondisi ataupun potensi kependudukan yang ada
menyebabkan pembangunan ekonomi tersebut menjadi sangat rentan
terhadap perubahan. Belum terjadi strategi pembangunan yang berorientasi
serius pada aspek kependudukan selama ini. Pembangunan kependudukan
adalah pembangunan sumberdaya manusia. Berbagai studi dan literatur
memperlihatkan bahwa kualitas sumberdaya manusia memegang peranan
penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dalam jangka
pendek investasi dalam sumberdaya manusia nampak sebagai suatu upaya
yang ‘sia-sia’. Namun dalam jangka panjang investasi tersebut justru
mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kesehatan dan pendidikan dalam arti luas sangat berperan dalam


peningkatan sumberdaya manusia. Pendidikan yang diperlukan dalam suatu
masyarakat adalah pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan sosial ekonomi
dalam masyarakat tersebut. Saat ini untuk membangun masyarakat Indonesia
yang adil dan makmur, diperlukan sumberdaya manusia yang mampu bersaing
secara global. Oleh karena itu agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi
yang mampu berdaya saing secara global, maka diperlukan pendidikan yang
memenuhi standar mutu internasional.

12
Dalam hal mengintegrasikan dimensi kependudukan dalam perencanaan
pembangunan daerah maka manfaat paling mendasar yang diperoleh adalah
besarnya harapan bahwa penduduk yang ada di daerah tersebut menjadi
pelaku pembangunan dan penikmat hasil pembangunan. Itu berarti
pembangunan berwawasan kependudukan lebih berdampak besar pada
peningkatan kesejahteraan penduduk secara keseluruhan dibandingkan
dengan orientasi pembangunan ekonomi yang berorientasi pada
pertumbuhan(growth). Dalam pembangunan berwawasan kependudukan ada
suatu jaminan akan keberlangsungan proses pembangunan itu sendiri.
Pembangunan berwawasan kependudukan menekankan pada pembangunan
lokal, perencanaan berasal dari bawah (bottom up planning), disesuaikan
dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat lokal, dan yang lebih penting adalah
melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan.

Sebaliknya orientasi pembangunan pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi


akan membawa pada peningkatan ketimpangan pendapatan. Industrialisasi
dan liberalisasi yang terlalu cepat memang akan meningkatkan efisiensi dan
produktivitas namun sekaligus juga meningkatkan pengangguran dan setengah
menganggur, sebagaimana yang terlihat selama ini di Indonesia. Demikian pula
dalam pertumbuhan (growth) ada yang dinamakan dengan ‘limit to growth’.
Konsep ini mengacu pada kenyataan bahwa suatu pertumbuhan ada batasnya.
Jika batas dari terlampaui maka yang kemudian terjadi adalah terjadinya
‘pemusnahan’ atas hasil-hasil pembangunan tersebut. Nampaknya ini yang
sedang berlangsung di Indonesia dengan terjadinya krisis ekonomi sekarang
ini. Jika diingat beberapa tahun yang lalu selalu ada peringatan bahwa
perekonomian kita terlalu memanas dan lain sebagainya. Itu tidak lain adalah
kata lain bahwa pertumbuhan ekonomi kita sedang memasuki apa yang
disebut dengan '‘limit to growth’. Bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut tidak
dapat dipacu lebih tinggi lagi dengan melihat pada kondisi fundamental yang
ada.

13
Ada beberapa kritik lagi yang ditujukan kepada konsep pembangunan yang
berorientasi pada pertumbuhan yaitu

a. prakasa biasanya dimulai dari pusat dalam bentuk rencana formal,


b. proses penyusunan program bersifat statis dan didominasi oleh pendapat
pakar dan teknokrat,
c. teknologi yang digunakan biasanya bersifat ‘scientific’ dan bersumber dari luar,
d. mekanisme kelembagaan bersifat ‘top-down’,
e. pertumbuhannya cepat namun bersifat mekanistik,
f. organisatornya adalah para pakar spesialis, dan
g. orientasinya adalah bagaimana menyelesaikan program/proyek secara cepat
sehingga mampu menghasilkan pertumbuhan.

Dengan melihat pada kriteria di atas nampak bahwa peranan penduduk lokal
dalam proses pembangunan sangat sedikit. Kritik para ahli terhadap orientasi
pembangunan yang mengutamakan pada pertumbuhan tersebut telah
berlangsung pada paruh waktu pertama tahun 1980-an. Para cendekiawan dari
Massachuset Institute of Technology dan Club of Rome pada kurun waktu
tersebut secara gencar mengkritik orientasi pembangunan ekonomi tersebut. Dari
berbagai kajian dan diskusi tersebut kemudian muncullah perspertif
pembangunan yang kemudian dikenal dengan konsep pembangunan
berkelanjutan (sustainable development).

Konsep pembangunan berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai


pembangunan untuk memenuhi kebutuhan pada saat ini tanpa mengorbankan
kebutuhan generasi mendatang. Dalam konsep pembangunan berkelanjutan
penduduk merupakan pusat pelaksanaan pembangunan. Pertanyaan mendasar
kemudian adalah apa yang dimaksud dengan pembangunan kependudukan
tersebut?. Kependudukan adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah, struktur,
pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, dan kondisi
kesejahteraan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial budaya, agama serta

14
lingkungan penduduk setempat (UU No. 52/2009). Jelaslah kiranya secara konsep
hal-hal yang dapat dikategorikan secara operasional ke dalam bidang
kependudukan adalah amat luas.

Salah satu konsep yang muncul di UU No 10/1992 sebelum direvisi adalah


dimensi penduduk. Di dalamnya disebutkan bahwa penduduk memilki 5 dimensi,
yaitu sebagai (a) diri pribadi, (b) anggota keluarga, (c) anggota masyarakat, (d)
warga negara, dan (e) himpunan kuantitas, yang bertempat tinggal di suatu tempat
dalam batas wilayah negara pada waktu tertentu. Dimensi ini mengandung
engertian yang mendalam yang jika diterjemahkan dalam konsep pembangunan
kependudukan maka dapat mencakup keseluruhan aspek yang harus menjadi
fokus dalam pembangunan kependudukan.

Penduduk sebagai diri pribadi atau individu. Ini menyangkut hak pribadi seperti:
memilih pekerjaan yang sesuai keinginan dan kemampuan individu, hak untuk
menikah (membentuk rumah tangga) dan memilih pasangan hidup, kedudukan
yang diakui sama dengan semua orang lain meskipun anak angkat atau punya
kerentanan/cacat fisik, hak untuk pindah, dsb. Pengaturan tentang kewajiban
individu agar tidak merugikan orang banyak. Penduduk sebagai keluarga. Ini
menyangkut hak keluarga untuk menentukan jumlah anak dan tidak punya anak,
untuk menentukan jenis kelamin anak (ataukah kewajiban untuk menjaga
keseimbangan?), melakukan adopsi. Juga pengaturan tentang struktur keluarga
(bolehkah keluarga batih atau nuclear?) dan lain-lain untuk menjaga tanggung
jawab terhadap orang tua, tanggung jawab terhadap anak, dsb.

Penduduk sebagai anggota kelompok, golongan daerah (termasuk kelompok


budaya atau etnik) dan agama. Termasuk hak berserikat, mengembangkan
kekayaan budaya, mengembangkan kemampuan bersama, penduduk asli (klausal
tentang prioritas, hak atau keterkaitan dengan tanah/wilayah/lahan).

15
Penduduk sebagai warga negara. Mencantumkan hal yang belum diatur UU lain,
misalnya hak untuk ruang hidup, namun tidak pula boleh mengalahkan hak
penduduk asli (misalnya hak ulayat). Bagaimana dengan masalah institusi
kependudukan guna mendapatkan kewarganegaraan?

Penduduk sebagai himpunan kuantitas. Hak/Kewajiban untuk dicatat, kewajiban


pemerintah untuk melakukan penyeimbangan. Dengan demikian, penduduk tidak
hanya dilihat secara kuantitatif sebagai angka, bagian dari agregat atau jumlah
makro. Perincian ini penting, karena dalam setiap matra tersebut, penduduk
memainkan peranan yang berbeda-beda. Kebutuhan dan perilaku kependudukan
setiap orang dalam berbagai peran tersebut dapat berbeda, sehingga rincian
tersebut memungkinkan analisis dan pemenuhan yang lebih sesuai. Sebagai
contoh, perilaku diri pribadi akan berbeda dalam kuantitas dan kualitasnya
dari perilaku keluarga, misalnya dalam hal konsumsi (energi, dsb).

Kelima matra ini berkaitan pula dengan hak dan kewajiban setiap penduduk dan
harus menjadi bagian integral dalam pembangunan kependudukan. Dalam UUD
1945, penduduk dilihat sebagai warga negara yang mempunyai hak
kewarganegaraan dan kedudukan penduduk yang dipunyai seluruh penduduk.
Implisit tercantum pula hak untuk hidup layak sebagai manusia, serta konsep
penduduk sebagai golongan dan rakyat daerah, anggota masyarakat, dan
kelompok budaya yang dinamakan UUD sebagai hak penduduk juga lebih luas dari
konsep demografis, yaitu termasuk kemerdekaan berserikat, berkumpul,
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan.

2. Payung Hukum Dalam Penerapan Paradigma Pembangunan Berwawasan


Kependudukan

Salah satu payung hukum penting yang dijadikan dasar dalam penyusunan
kebijakan kependudukan di Indonesia adalah Undang-undang No 52/2009
tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Undang-
undang ini merupakan hasil revisi dari UU No 10/1992 tentang Perkembangan

16
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Terdapat perubahan
yang cukup mendasar dari UU No 10/1992 menjadi UU No 52/2009. Salah satu
diantaranya adalah huruf “K” pertama dalam BKKBN berubah dari Koordinasi
menjadi Kependudukan. Perubahan tersebut membawa konsekuensi penting,
terutama menyangkut mandat yang diemban oleh BKKBN. Mandat tersebut
tertuang di dalam Pasal 56, ayat 1 UU 52/2009 yang menyebutkan bahwa
”BKKBN bertugas melaksanakan pengendalian penduduk dan
menyelenggarakan keluarga berencana”. Hal ini dipertegas lagi dalam pasal 43
Perpes No. 3/2013 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional.

Turunan UU No 52/2009 menjelaskan bahwa kebijakan pengendalian


kuantitas hanya merupakan salah satu diantar tiga pilar utama yang tercakup
dalam kebijakan perkembangan kependudukan. Hal tersebut tercantuk secara
tegas di dalam Peraturan Pemerintah No 87 tahun 2014 tentang Perkembangan
Kependudukan, Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, dan Sistem
Informasi Keluarga. Pasal 8 ayat 1 menyebutkan bahwa tiga pilar utama
kabijakan perkembangan pendudukan terdiri dari (1) pengendalian kuantitas
penduduk; (2) pengembangan kualitas penduduk; dan (3) pengarahan
mobilitas penduduk.

Sementara itu di dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 153/2014 tentang


Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK), pasal 4 disebutkan bahwa
strategi pelaksanaan GDPK dilakukan melalui 5 kulster, yaitu (1) pengendalian
kuantitas penduduk; (2) peningkatan kualitas penduduk; (3) pembangunan
keluarga; (4) penataan persebaran dan pengarahan mobilitas penduduk; dan
(5) penataan administrasin kependudukan. Tiga regulasi ini secara jelas
menunjukkan bahwa kebijakan perkembangan kependudukan mencakup
aspek yang sangat luas, bukan hanya pengendalian kuantitas penduduk dan
atau keluarga berencana.

17
Gambar 1 memeperlihatkan posisi atau kedudukan masing-masing kluster
yang dimandatkan oleh GDPK. Data kependudukan dan keluarga merupakan
fondasi dari bangunan rumah yang menopang tiga kluster lainnya, yaitu
pengendalian kuantitas, pengarahan mobilitas penduduk, dan pembangunan
keluarga. Sementara itu pengembangan kualitas penduduk merupakan tujuan
dari keseluruhan 4 kluster yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan
menggunakan cara berpikir sebagaimana terlihat dalam Gambar 1, maka
pembangunan kependudukan di Indonesia paling tidak harus melibatkan lima
kluster tersebut. Tetapi tetap membuka kemungkinan untuk
mengembangkannya lebih luas.

Gambar 1.
Hubungan Antar Lima Kluster GDPK

Peraturan Pemerintah (PP) No 87 tahun 2014 tentang Perkembangan


Kependudukan, Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana dan Sistim Informasi
keluarga, pasal 5 menyebutkan bahwa arah kebijakan nasional perkembangan
kependudukan adalah (a) menjamin tercapainya bonus demografi; (b)
meningkatkan kualitas penduduk untuk memanfaatkan bonus demografi; (c)
memberdayakan penerapan fungsi-fungsi keluarga; dan (d) memperkuat

18
semangat gotong royong berbasis keluarga. Keempat arah kebijakan nasional
tersebut secara eksplisit maupun implisit menunjukkan bahwa kebijakan
kependudukan bukan variable yang berdiri sendiri tetapi memiliki keterkaitan erat
dengan sektor yang lain.

Pencapaian bonus demografi, misalnya tidak hanya berhenti pada menurunnya


angka ketergantungan, sebagai salah satu indicator bonus demografi, tetapi juga
bagaimana memanfaatkan bonus demografi agar dapat secara optimal
memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi. Pemanfaatan bonus
demografi sangat terkait dengan arah yang ke 2 yaitu peningkatan kualitas
penduduk agar penduduk usia produktif dapat memperoleh pekerjaan dengan
upah yang layak.

Isu mengenai bonus demografi merupakan isu strategis yang secara langsung
menghubungkan antara kebijakan kependudukan dan kebijakan pembangunan
pada umumnya. Keberhasilan mencapai momentum periode bonus demografi
akan menjadi salah satu fondasi dalam mengembangkan kebijakan di bidang
pendidikan, diversifikasi kegiatan ekonomi, serta kebijakan ketenagakerjaan. Hal ini
merupakan argumentasi penting mengapa dibutuhkan penerapan paradigm
pembangunan berwawasan kependudukan dalam kebijakan pembangunan.

D. Interelasi Kependudukan dalam Pembangunan: Integrasi Penduduk dalam


pembangunan
Integrasi penduduk dalam pembangunan secara konseptual tertuang dalam
paradigma Pembangunan Berwawasan Kependudukan (PBK) atau people centered
development. Pentingnya melakukan integrasi penduduk dalam pembangunan
dapat dilacak sejak PBB menyelenggarakan konferensi kependudukan sedunia
pada tahun 1974 di Bucharest dan dilanjutkan di Mexico City tahun 1984. Hal itu
dipertegas lagi ketika people centered development menjadi salah satu prinsip
diantara 15 prinsip pembangunan yang tercantum dalam ICPD Plan of Action 1994.

19
Konsep PBK juga menjadi isu penting dalam berbagai konferensi internasional
misalnya Earth Summit tahun 1992 dan the Summit of Social Development tahun
1995 serta di pertegas dalam kerangka pembangunan global baik di dalam
Millenium Development Goals (MDGs) maupun Sustainable development goals
(SDGs) dewasa ini yang mencantumkan sederet indikator kependudukan yang
menjadi sasaran pembangunan global. Dari sisi konsep ketahanan nasional, secara
eksplisit dan sangat terang disebutkan keadaan dan kemampuan penduduk
(kependudukan/demografi) sebagai bagian dari astagatra ketahanan nasional akan
sangat mempengaruhi kondisi ketahanan nasional.

Di dalam Undang-undang 52/2009 tentang Perkembangan Kependudukan


dan Pembangunan Keluarga, pasal 3 menyebutkan bahwa dua diantara tujuh
prinsip pembangunan kependudukan merupakan adopsi terhadap konvensi
internasional yang telah disebutkan sebelumnya. Dua prinsip tersebut adalah (a)
kependudukan sebagai titik sentral kegiatan pembangunan; dan (b)
pengintegrasian kebijakan kependudukan ke dalam pembangunan sosial
budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup. Hal ini menegaskan bahwa pembangunan
dan perencanaan kependuduka harus diintegrasikena ke dalam pembangunan
nasional.

Ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan untuk menjawab pertanyaan
mengapa diperlukan integrasi penduduk dan pembangunan1. Pertama, dari sisi
yang paling esensial terdapat suatu prinsip bahwa di dalam konsep integrasi
penduduk dan pembangunan, penduduk tidak hanya diperlakukan sebagai “obyek”
akan tetapi juga “subyek” pembangunan. Paradigma lama yang meletakkan
penduduk hanya sebagai obyek pembangunan telah mengeliminir atau bahkan
menafikan partisipasi penduduk dalam pembangunan. Penduduk dianggap tidak
memahami pembangunan dan mereka tinggal menerima atau menikmati saja hasil
pembangunan. Hal semacam ini jelas menggambarkan proses pembuatan

1
Pembahsan ini dikutip dari Laporan Penelitian Indeka Pembangunan Berwawasan Kependudukan Tahun 2014, oleh
BKKBN Pusat dan PSKK-UGM.

20
kebijakan yang “top down” dan akan mengakibatkan persoalan di kemudian hari.
Penduduk tidak memiliki ownership terhadap aktivitas pembangunan sehingga
cenderung pasif. Pandangan ini sejalan dengan kosepsi pembangunan sosial yang
mensyaratkan adanya keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap proses
pembangunan, baik dari perencanaan pembangunan, pelaksanaan hingga evaluasi
terhadap suatu proses pembangunan.

Kedua, ketika peran sebagai subyek pembangunan dituntut maka diperlukan


upaya pemberdayaan untuk menyadarkan hak penduduk dan meningkatkan
kapasitas penduduk dalam pembangunan. Hal ini menyangkut pembangunan
sumber daya manusia untuk mencapai manusia yang berkualitas dalam rangka
mengembangkan mekanisme “bottom up” dalam perencanaan pembangunan.
Penduduk harus berperan aktif dan berpartisipasi dalam pembangunan.

Untuk Indonesia, secara konseptual telah ada pergeseran yang cukup signifikan
sejak Deklarasi Bali dan juga Programme of Action of the International Conference
on Population and Development. Fokus pembangunan kependudukan telah
bergeser dari pendekatan yang sangat sempit menekankan pada aspek demografi
ke cakupan yang lebih luas yaitu pembangunan penduduk dan keluarga. Disamping
itu juga terjadi perubahan sikap terhadap isu kesehatan reproduksi, kualitas
pelayanan untuk mencapai kesejahteraan kesejahteraan keluarga. Namun sampai
sejauh ini hasil yang diperoleh masih belum memuaskan, karena masih banyak
agenda yang harus diselesaikan menyangkut integrasi penduduk dan
pembangunan.

Ketiga, jika variabel penduduk diabaikan dalam perencanaan pembangunan


maka sangat mustahil pembangunan berkelanjutan dapat dicapai (Scherr, 1997).
Contoh yang paling sederhana adalah kebijakan yang berkaitan dengan jumlah
penduduk. Ketika jumlah penduduk sudah terlalu banyak (melebihi kapasitas daya
dukung wilayah) dan tidak ada kebijakan untuk mengendalikannya, maka degradasi
lingkungan akan terjadi, sumber daya alam akan rusak dan generasi berikutnya

21
akan dirugikan. Pada tataran teknis, misalnya perencanaan sektoral, variabel
penduduk berfungsi untuk memperkirakan demand yang kemudian dimanfaatkan
untuk menciptakan supply. Perencanaan pembangunan pendidikan misalnya,
sangat membutuhkan data penduduk usia sekolah untuk menentukan jumlah
sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Perencanaan kesempatan kerja
membutuhkan data jumlah angkatan kerja yang hanya dapat diperkirakan apabila
tersedia perkiraan jumlah penduduk menurut kelompok umur. Demikian juga
halnya dengan perencanaan kesehatan, perkiraan jumlah sarana dan prasarana
kesehatan hanya dapat dilakukan jika perkiraan jumlah penduduk.

Integrasi penduduk ke dalam pembangunan bukan hanya demi pembangunan


itu sendiri, sebab ada satu prinsip bahwa terdapat tiga kepentingan yang harus
diperhatikan dalam kebijakan pembangunan, yaitu kepentingan negara,
masyarakat dan individu. Ketiga kepentingan ini mutlak harus diakomodasikan ke
dalam integrasi tersebut. Konsekuensinya adalah bahwa mekanisme
pembangunan harus “bottom up” dan partisipatif, sehingga pembangunan akan
bersifat inklusif yang memberikan kesempatan bagi semua warga masyarakat
untuk memperoleh hak dan kebutuhan yang paling dasar seperti kebutuhan fisik,
status sosial, bebas dari tekanan dan ketakutan serta hak-hak dasar sebagai
manusia untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan sebagai warga masyarakat

Pada tingkat agregat pelaksanaan desentralisasi akan sangat membantu


proses “bottom up”. Hal itu disebabkan karena pemerintah pusat telah
mendelagasikan sebagian besar kewenangannya dalam perencanaan maupun
pelaksanaan pembangunan ke tingkat kabupaten/kota bahkan sampai ke tingkat
desa seiring dengan lahirnya Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Kabupaten/kota saat ini memiliki kewenangan yang lebih besar untuk menyusun
perencanaan pembangunan dan menentukan apa yang terbaik untuk wilayahnya.
Bahkan dengan kebijakan dana desa, maka desa juga diberikan otonomi yang luas
dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Akan tetapi belum terlihat

22
perbedaan yang mendasar dalam pelaksanaan di lapangan, dimana beberapa
evaluasi menunjukkan bahwa mekanisme perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan yang berlangsung di tingkat kabupaten/kota maupun desa belum
berbasis pada data penduduk maupun partisipasi masyarakat secara aktif.

Berdasarkan argumentasi tersebut, tuntutan untuk melakukan pemaduan dan


sinkronisasi kebijakan kependudukan dalam pembangunan penting bukan hanya
di tingkat nasioal dan provinsi, tetapi juga di tingkat kabupaten/kota hingga desa.
Hanya persoalannya sekarang ini, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya,
masih terdapat disparitas cara pandang dan interpretasi oleh pemerintah
kabupaten/kota terhadap isu maupun masalah kependudukan. Dikhawatirkan
seandainya hal ini berlangsung terus, pembangunan berkelanjutan yang dicita-
citakan bersama tidak pernah akan terwujud. Meskipun disadari sepenuhnya
bahwa pencapaian pembangunan berkelanjutan bukan semata-mata tergantung
kepada kebijakan kependudukan. Tetapi, peranan yang dimainkan sangatlah besar
untuk diabaikan.

Ada dua mekanisme yang dapat ditempuh dalam menjadikan penduduk


sebagai pusat dalam pembangunan baik dalam bentuk pasif dalam data dan
agregasinya maupun dalam bentuk aktif dalam bentuk partisipasi secara aktif
dalam kegiatan pembangunan. Pertama, menjadikan kependudukan sebagai basis
dalam merumuskan tujuan pembangunan. Dalam konteks ini, variabel
kependudukan diperlakukan sebagai variabel independen berdasarkan asumsi
bahwa setiap perubahan pada variabel kependudukan akan memiliki dampak
terhadap tercapainya tujuan kebijakan pembangunan. Kedua, memperlakukan
variabel kependudukan sebagai sasaran yang akan diubah melalui pembangunan
sosial, budaya dan ekonomi. Hal ini mengandung arti bahwa perubahan variabel
kependudukan dipandang sebagai suatu keniscayaan karena dikhawatikan akan
memiliki dampak terhadap kinerja pembangunan. Apapun pendekatan yang akan
digunakan, maka pemahaman terhadap pertanyaan apakah kondisi kependudukan

23
pada saat ini dan perkiraan kecenderungan di masa yang akan datang memberikan
kontribusi atau justru menjadi masalah pembangunan, merupakan suatu
keharusan.

Konsep yang telah dikembangkan di dalam ICPD kemudian ditindaklanjuti


dengan sasaran pembangunan milenium (Millenium Development Goals/MDGs).
Fokus Program Aksi ICPD adalah pada upaya terkait kependudukan dan
pembangunan, seperti peningkatan akses ke layanan kesehatan reproduksi,
mempromosikan kesetaraan gender, dan memelihara pemahaman yang lebih baik
tentang hubungan antara dinamika kependudukan, pembangunan dan kemiskinan
merupakan prasyarat untuk pencapaian tujuan pembangunan yang lebih besar
dari MDGs, seperti pengentasan kemiskinan dan kelaparan. Ada keterkaitan antara
ICPD dan MDGs. Baik Program Aksi ICPD dan MDGs menetapkan target untuk
menyediakan pendidikan dasar universal, mempromosikan kesetaraan gender dan
pemberdayaan perempuan, mengurangi kematian anak, meningkatkan kesehatan
ibu dan memerangi HIV / AIDS dan penyakit lainnya. Program Aksi ICPD sejalan
dengan fokus MDGs dalam memastikan kelestarian lingkungan dengan mengakui
hubungan antara lingkungan dan migrasi internal dan internasional, tingkat
pertumbuhan penduduk, dan konsumsi sumber daya.

Bahkan, dalam MDGs target pembangunan secara eksplisit memasukkan


indikator kependudukan. Target MDGs yang terkait dengan indikator
kependudukan adalah tartet 4b, 5a dan 5b. Sampai dengan berakhirnya MDGS,
Indonesia masih belum mampu mencapai target MDGs. Salah satunya adalah
angka kematian maternal.

Kompleksitas integrasi kependudukan dalam pembangunan tergambar dalam


laporan United Nations Expert Panel on “Integrating population issues into
sustainable development, including in the post-2015 development agenda” (UN,
2015). Ada dua bagian pokok yang dibahas dalam laporan tersebut, yaitu (a)

24
hubungan antara dinamika penduduk, pembangunan ekonomi dan kemiskinan, dan
(b) penduduk, sumber daya, lingkungan dan perubahan iklim.

Implikasi penting terhadap hal tersebut adalah bahwa pembangunan


kependudukan merupakan usaha untuk menjamin keberlangsungan hidup seluruh
manusia pada tingkat individu ataupun agregat dengat tidak terbatas pada
dimensi lokal atau nasional, akan tetapi juga internasional. Hal ini membawa
pengertian bahwa pembangunan kependudukan tidak hanya sebagai usaha untuk
mempengaruhi pola dan kecenderungan (trend) demografi semata, tetapi
sasarannya jauh lebih luas, yaitu untuk mencapai kesejahteraan masyarakat
sebagai ultimate goal dari pembangunan.

E. Kontribusi Program Bangga Kencana dalam Pembangunan Berwawasan


Kependudukan
Berdasarkan uraian di atas Program Bangga Kencana memberikan kontribusi
dalam pembangunan berwawasan kependudukan. Agar kontribusi yang diberikan
dapat berlangsung secara optimal, maka diperlukan kebijakan kependudukan yang
dapat mempengaruhi kondisi (dinamika) penduduk. serta proses pembangunan
harus meningkatkan partisipasi penduduk sehingga mampu mensejahterakan
penduduk.
Berikut ini Kontribusi program Bangga Kencana dalam pembangunan
berwawasan kependudukan antara lain:
RPJMN memberikan target untuk TFR 2, 28 (SUPAS 2015) turun menjadi 2,1
pada tahun 2024, kemudian CPR (Pemakaian Kontrasepsi Modern) dai data SDKI
2017 sebesar 57,2 persen menjadi 63,4 persen di tahun 2024. Selanjutnya untuk
Unmet Need RPJMN menargetkan penurunan dari 10,6 (SDKI 2017) menjadi 7,4
pada tahun 2024
Dalam Renstra BKKBN 2020-2024 ditetapkan Sasaran Strategis yang harus
dicapai sebagai berikut: 1) Menurunnya Angka Kelahiran Total/Total Fertility Rate
(TFR) dapat mencapai 2,26 pada tahun 2020 dan ditargetkan menjadi 2,1 pada

25
2024. 2) Meningkatnya Angka Prevalensi Pemakaian Kontrasepsi Modern/Modern
Contraceptive Prevalence Rate (mCPR) 61,78 persen pada tahun 2020 dan
ditargetkan menjadi 63,41 persen pada tahun 2024. 3). Menurunnya kebutuhan
ber-KB yang tidak terpenuhi/Unmet Need 8,6 persen pada tahun 2020 dan
ditargetkan menjadi 7,4 persen pada 2024. 4) Menurunnya Angka Kelahiran
Menurut Kelompok Umur 15-19 tahun/Aged Specific Fertility Ratio (ASFR) 15-19
tahun, dengan target 25 per-1.000 perempuan usia 15-19 tahun pada tahun 2020
dan ditagetkan menjadi 18 per 1.000 kelahiran (seharusnya perempuan usia 15-19
tahun) pada 2024. 5) Meningkatnya Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga)
sebesar 53,57 pada tahun 2020 serta ditargetkan menjadi 61,00 pada tahun 2024.
6) Meningkatnya Median Usia Kawin Pertama (MUKP) dari 21,9 tahun pada 2020
dan menjadi 22,1 tahun pada 2024. Bagaimana menurunkan TFR atau angka
kelahiran tidak akan terlepas dari pemakaian kontrasepsi, perkawinan, kematian ibu
dan kematian bayi serta migrasi.

Visi BKKBN dengan pengendalian penduduknya adalah menuju menuju PTS


dengan TFR harus sama dengan 2,1 anak per wanita selama usia suburnya. PTS atau
Pengertian Penduduk Tumbuh Seimbang diterjemahkan menjadi Struktur Umur
Penduduk Seimbang ideal untuk melaksanakan pembangunan sosial ekonomi.
Dengan konsep baru ini, maka PTS dapat lebih mudah dimengerti dan lebih mudah
pelaksanaannya di lapangan.

Kalau TFR 2,1 per wanita tercapai maka ada perubahan struktur umur penduduk
dimana proporsi anak-anak dibawah usia 15 tahun mengecil, proporsi penduduk
usia kerja membesar karena yang lahir hidup terus menjadi penduduk usia kerja,
dan proporsi penduduk lansia mulai membesar. Keadaan ini dapat dikatakan idela
untuk pemerintah atau Pemda melakukan investasi pembangunan manusia dan
meningkatkan kualitas penduduknya. Oleh karenanya, penduduk tumbuh
seimbang dapat diterjemahkan menjadi Struktur Umur Penduduk Seimbang
(SUPS).

26
Struktur Umur Penduduk Seimbang (SUPS) ideal untuk melakukan
pembangunan manusia karena persentase anak dibawah 15 tahun kecil, persentase
penduduk usia kerja yang tinggi dan persentase lansia yang tidak terlalu besar.
Disebut ideal karena kondisi ini mendukung upaya pembangunan sosial dan
ekonomi yang mensejahterakan bangsa. Mengapa ideal? Persentase anak usia 15
tahun mengecil (karena TFR rendah) meringankan orangtua membiayai anaknya
sampai menjadi remaja yang berkualitas dan siap bekerja. Di sisi pemerintah
(pusat, provinsi dan kabupaten dan kota), anggaran untuk menyiapkan pelayanan
pendidikan dan kesehatan yang berkualitas akan lebih kecil jikadibandingkan jika
persentase anak-anak besar karena TFR tinggi. Persentase penduduk usia kerja
yang tinggi memberikan peluang untuk meningkatkan produk domestik bruto
(PDB). Ini mungkin bisa menjelaskan mengapa PDB Indonesia terbesar ke-16 di
dunia atau 1.074,97 milliar dolar US tahun 2018 . Namun, tatkala PDB yang besar itu
dibagi jumlah penduduk untuk menghitung pendapatan per kapita, ranking
Indonesia merosot ke urutan 116, karena jumlah penduduk yang amat besar. Oleh
karenanya, saat ini masih diperlukan upaya pengendalian penduduk yang serius,
yakni menurunkan TFR hingga mencapai 2,1 pada tahun 2025.

Secara makro PDB yang besar meningkatkan kesejahteraan masyarakat,


apabila disertai dengan kebijakan yang tepat, antara lain penciptaan lapangan kerja
serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pekerja yang berkualitas akan
memiliki produktivitas dan penghasilan yang tinggi, sehingga dapat memenuhi
hak-hak dasar keluarganya seperti pendidikan dan kesehatan berkualitas serta
asupan makanan yang bergizi. Penghasilan yang tinggi akan meningkatkan
konsumsi domestik yang pada gilirannya menggerakkan roda perekonomian.
Bersama dengan bebarapa negara ASEAN, Indonesia telah berhasil bertahan dari
krisis finansial global tahun 2008 karena dukungan konsumsi domestik tersebut .
Namun, dari sisi mikro ekonomi, yakni sisi penawaran (sisi supply) tenaga kerja,
produktivitas tenaga kerja Indonesia dirasa belum cukup memadai karena kualitas
angkatan kerja yang rendah. Artinya, bonus demografi tidak otomatis bisa dipetik

27
untuk mensejahterakan bangsa. Diperlukan kebijakan dan intervensi yang tepat
untuk membangun penduduk usia kerja menjadi produktif, berdaya saing,
berkarakter dan mempunyai kesempatan kerja yang layak. Dalam era industri 4.0
ada karakteristik tambahan yang diperlukan, yakni kemampuan mengadaptasi diri
dengan perubahan lingkungan ketenagakerjaan, inovatif dan kreatif untuk
kemudian bisa membangun kesempatan kerja sendiri, antara lain melalui start-ups.

Oleh karenanya, persentase anak yang mengecil harus dimanfaatkan untuk


meningkatkan kualitas manusia, yakni membangun kualitas manusia sejak usia dini.
Bahkan, sejak seribu hari pertama kehidupan yang dikawal sampai menjadi remaja
yang siap kerja, sehat, cerdas, berkarakter dan berdaya saing. Terlebih lagi, apabila
disertai dengan pola asuh untuk mengembangkan karakter dan kecakapan hidup
(life skill) yang menjadi bekal mengarungi kehidupan yang kompetitif. Struktur
Umur Penduduk Seimbang (SUPS) yang dicapai melalui bonus demografi dengan
berpatokan pada tercapainya TFR=2,1 menjadi landasan kuat yang mendukung
pemerintah untuk melaksanakan pembangunan yang mensejahterakan bangsa.
Kebijakan yang tepat untuk memanfaatkan bonus demografi akan membantu
meningkatkan kesejahteraan dan memutus rantai kemiskinan antar generasi.

F. Rangkuman
Pembangunan berwawasan kependudukan mengandung dua makna yaitu
pembangunan yang disesuaikan dengan potensi dan kondisi penduduk yang ada.
Penduduk harus dijadikan titik sentral dalam proses pembangunan serta
pembangunan lebih menekankan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia
dibandingkan dengan pembangunan fisik semata-mata.
Dalam mewujudkan pembangunan berwawasan kependudukan Kita harus
memperhatikan beberapa aspek penting pembangunan berwawasan
kependudukan yang meliputi prinsip atau asas pengelolaan pembangunan

28
berwawasan kependudukan serta dimensi pembangunan berwawasan
kependudukan.
Konsep pembangunan berwawasan kependudukan bukanlah konsep baru
namun telah lama digunakan di Indonesia walaupun dalam bentuk format yang
berbeda-beda contohnya penggunaan konsep penduduk sebagai subyek dan
obyek pembangunan, manusia Indonesia seutuhnya, atau pembangunan bagi
segenap rakyat. Konsep "pembangunan manusia seutuhnya" Konsep mulai
diterapkan dalam perencanaan pembangunan Indonesia yang sistematis dan
terarah sejak Repelita I pada tahun 1969. Sayangnya konsep pembangunan
berwawasan kependudukan masih berada dalam tataran kebijakan belum dapat
secara optimal mengimplementasikan dan mengintegrasikan kebijaksanaan
tersebut dalam berbagai program sektoral. Perhatian utama pemerintah adalah
memacu pertumbuhan ekonomi.
Integrasi penduduk dalam pembangunan secara konseptual tertuang dalam
paradigma Pembangunan Berwawasan Kependudukan (PBK) atau people centered
development.
Program Bangga Kencana memberikan kontribusi dalam pembangunan
berwawasan kependudukan. Agar kontribusi yang diberikan dapat berlangsung
secara optimal, maka diperlukan kebijakan kependudukan yang dapat
mempengaruhi kondisi (dinamika) penduduk. serta proses pembangunan harus
meningkatkan partisipasi penduduk sehingga mampu mensejahterakan penduduk.

G. Latihan
Untuk mendalami BAB ini kerjakakan latihan berikut!
1. Carilah artikel tentang analisis kependudukan dari zaman ke zaman!

2. Temui para tokoh formal di daerah Anda, bagaimana isu kependudukan


mewarnai perencanaan pemabngunan!

3. Buatlah sebuah profil kependudukan di daerah Anda berdasarkan usia!

29
4. Carilah desa/kelurahan yang pembangunan wilayahnya memperhitungkan
jumlah penduduk, berikan contohnya!

5. Lakukan wawancara terhadap tokoh informal di lingkungan Anda, sebaiknya


program apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat!

H. Tes Formatif
a. Petunjuk Pengerjaan soal
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dari pertanyaan yang diberikan
dengan meng-klik abjad A, B, C, D atau E pada pilihan yang tersedia!

b. Uraian Soal
1. Dalam konsep Pembangunan Berwawasan Kependudukan, penduduk merupakan…

A. Sentral pembangunan
B. Beban pembangunan
C. Tujuan pembangunan
D. Objek pembangunan
E. Bahan pembangunan

2. Perhatikan prinsip atau asas pengelolaan pembangunan berwawasan


kependudukan di bawah ini:
(1) Mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar
manusia
(2) Setiap penduduk dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat serta hak
asasi
manusia yang sama
(3) Penduduk pada seluruh dimensinya harus menjadi titik sentral
pembangunan berkelanjutan
(4) Memerlukan kepastian hukum yang menguntungkan kelompok

30
(5) Memiliki kepentingan dalam melakukan pembangunan di segala bidang

Prinsip atau asas pengelolaan pembangunan berwawasan kependudukan


meliputi;
A. (1), (4), (4)
B. (2), (3), (4)
C. (1),(3),(4)
D. (1), (2), (5)
E. (1), (2), (3)

3. Dari pernyataan Integrasi kependudukan dengan pembangunan di bawah ini…

(1) penduduk tidak hanya diperlakukan sebagai “obyek” akan tetapi juga

“subyek” pembangunan.
(2) Penduduk memerlukan perekonomian yang stabil

(3) mengembangkan mekanisme “bottom up” dalam perencanaan

pembangunan.
(4) jika variabel penduduk diabaikan dalam perencanaan pembangunan maka

sangat mustahil pembangunan berkelanjutan dapat dicapai


(5) Penduduk merupakan bagian dari tujuan politik tertentu
Yang merupakan Integrasi kependudukan dengan pembangunan yang sangat
penting yaitu…
A. (1), (2), (5)
B. (2), (4), (5)
C. (1), (3), (5)
D. (1), (2), (3)
E. (1), (3), (4)

4. Kondisi jumlah dan struktur umur penduduk Indonesia yang didominasi penduduk
muda saat ini menjadi peluang di bidang ekonomi, yaitu…
A. Mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri
B. Membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya

31
C. Memberikan bantuan yang meringankan penduduk
D. Menjadi pekerja yang tidak professional
E. Menjadi beban negara

5. Dampak lingkungan dari pertambahan penduduk yang tidak terkendali dan perbuatan
manusia yang di luar kontrol, terjadinya kerusakan lingkungan, di antaranya;
(1) Perambahan hutan yang sembarangan
(2) Pembuangan air limbah ke laut dan sungai
(3) Pembangunan pemukiman di lahan pertanian
(4) Naiknya jual beli masyarakat di pedesaan
(5) Kurangnya penyerapan air hujan
(6) Pertumbuhan sentra-sentra ekonomi di pesisir pantai
Yang menyebabkan kerusakan lingkungan adalah..
A. (1), (2), (3), (4)
B. (1), (3), (5), (6)
C. (1), (2), (3), (5)
D. (1), (2, (3), (6)
E. (1), (3), (4), (6)

I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Setelah mengerjakan Tes Formatif pada BAB II ini, coba Bapak/Ibu nilai tes
tersebut dan cocokkan dengan kunci jawaban yang tersedia dalam modul ini,
berapa nilai yang diperoleh. Jika Bapak/Ibu dapat menjawab 5 soal dengan benar
maka Bapak/Ibu dianggap menguasai Pokok Bahasan ini, dan Bapak/Ibu dapat
melanjutkan ke BAB berikutnya akan tetapi jika jawaban benar Bapak/Ibu belum
mencapai 4 soal, berarti Bapak/Ibu perlu mengulang mempelajari Pokok Bahasan ini
kembali dengan lebih baik.

32
Indikator Hasil Belajar:
Setelah mengikuti mata diklat ini peserta diharapkan dapat Menjelaskan kondisi penduduk
Indonesia saat ini dan masa yang akan datang.
.

A. Situasi Kependudukan Indonesia dari berbagai Aspek


Berikut ini akan diuraikan
tentang situasi
kependudukan di Indonesia
saat ini dari aspek kualitas,
kuantitas, mobilitas dan
persebaran penduduk, data
kependudukan serta kualitas
hubungan di dalam keluarga
dan antar generasi
Pembangunan di
Indonesia telah mengalami
kemajuan yang signifikan
selama 50 tahun terakhir, dalam memerangi kemiskinan dan menangani tujuan
pembangunan lain yang disepakati secara internasional, seperti meningkatkan
kesetaraan gender, menurunkan angka kematian anak, membesarkan pencapaian
pendidikan dan peningkatan sanitasi dan akses ke air minum bersih. Namun, tidak
dapat dipungkiri bahwa kemajuan tersebut tidak merata di seluruh wilayah.

33
Demikian juga manfaat kemajuan sosial dan ekonomi belum tercapai secara rata.
Pada saat yang sama, ada bukti yang berkembang bahwa pertumbuhan dan jumlah
penduduk, dikombinasikan dengan pembangunan ekonomi, peningkatan standar
kehidupan dan tingkat konsumsi yang lebih tinggi telah mengakibatkan persoalan
lingkungan, misalnya perubahan pola penggunaan lahan, peningkatan penggunaan
energi dan menipisnya sumber daya alam, dengan tanda-tanda perubahan iklim
dan degradasi lingkungan lebih terlihat daripada sebelumnya

Secara nasional kebijakan kependudukan di Indonesia selama ini telah


memperlihatkan hasilnya. Misalnya, pertumbuhan penduduk telah menurun secara
konsisten dan signifikan selama tiga dasa warsa terakhir. Pada periode 1971-1980
pertumbuhan penduduk di Indonesia tercatat 2,32 persen per tahun dan kemudian
menurun menjadi 1,97 persen per tahun pada periode 1980-1990. Angka ini
menjadi 1,5 persen pada periode 1990-2000 dan 1,49 persen pada periode 2000-
2010. Akan tetapi pencapaian per propinsi sangat bervariasi. Demikian juga halnya
pada tingkat kabupten/kota. Hal inilah yang kemudian menyebabkan distribusi
penduduk tidak merata. Pada tahun 2010 misalnya penduduk Indonesia yang tingal
di Jawa lebih kurang 59 persen. Angka ini hanya menurun sebesar 10 persen selama
70. Melihat gejala ini, tampaknya persoalan distribusi ini merupakan persoalan yang
sangat sulit untuk dipecahkan. Diperkirakan konsentrasi ini masih akan terjadi pada
dekade mendatang jika tidak ada kebijakan yang mampu menstimulasi atau
mengarahkan terjadinya persebaran penduduk ke daerah kurang padat.

Penurunan pertumbuhan penduduk secara nasional tidak lepas dari kenyataan


bahwa angka kelahiran total (TFR) juga mengalami penurunan yang signifikan dan
konsisten. Pada awal Orde Baru rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang ibu
selama usia suburnya adalah 5,6 dan angka ini menurun separuh lebih menjadi 2,3
pada akhir Orde Baru dan pada periode 2005-2010 akan mencapai replacement
level. Meskipun demikian perlu juga dicatat bahwa ada indikasi angka fertilitas di
Indonesia mengalami stagnasi, atau justru mengalami peningkatan. Sebagai contoh

34
hasil sensus Penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa TFR di indonesia adalah
2,414. Angka ini lebih tinggi dari hasil SDKI tahun 2007, yaitu 2,3.

Perubahan demografis yang diproyeksikan sampai dengan tahun 2045 akan


membentuk dan mengubah struktur penduduk serta akan menimbulkan persoalan
dan tantangannya sendiri. Tantangan terbesar dan paling mendasar adalah untuk
menyesuaikan diri dengan jumlah penduduk Indonesie yang diperkirakan
mencapai 319 juta orang pada tahun 2045 (Bappenas, BPS dan UNFPA, 2018 :51),
ketika Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke 100. Jumlah penduduk yang
cukup besar tersebut akan menuntut terpenuhinya kebutuhan dan peningkatan
taraf hidup. Jika tidak diantisipasi dengan baik, maka akan menimbulkan banyak
masalah baik secara ekonomi, seperti kemiskinan, atau Kesehatan (kematian
maternal, bayi dan balita), degradasi lingkungan, dan juga sosial (konflik). Harus ada
kesepakatan tentang berapa sebenarnya jumlah penduduk yang “optimum” di
Indonesia.

Pada waktu yang bersamaan struktur penduduk mengalami perubahan yang


sangat pesat, terutama terkait dengan capaian “demographic dividend”. Dengan
masuknya Indonesia ke dalam tahap ke dua bonus demografi, tiga kelompok umur
penduduk harus memperoleh perlakuan yang berbeda. Sampai dengan tahun
2045 pertumbuhan penduduk usia lanjut diperkirakan akan jauh lebih besar
dibandingkan dengan penduduk usia kurang dari 15 tahun dan usia produktif, 15-
64 tahun. Isu tentang anak, penduduk produktif dan lansia perlu direspon secara
tepat agar bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal.

Perubahan struktur penduduk tersebut dapat menjadi dorongan atau


tantangan tambahan untuk pencapaian pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan
berkelanjutan. Migrasi dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan
dengan memperluas peluang ekonomi, mengurangi kemiskinan, menangani pasar
tenaga kerja ketidakseimbangan dan mempercepat difusi ide dan teknologi baru.
Selain itu, kepadatan penduduk yang semakin tinggi sejalan dengan penambahan

35
jumlah penduduk, dan juga terkait dengan urbanisasi, memberikan kesempatan
bagi pemerintah untuk memberikan layanan dasar dengan cara yang lebih hemat
biaya untuk lebih banyak orang.

Perubahan pola migrasi risen yang meskipun lambat mulai bergeser ke


Indonesia bagian Timur, merupakan pertanda yang baik dalam konteks distribusi
penduduk. Rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur, merupakan
kebijakan yang langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi arah dan arus
migrasi di Indonesia. Perubahan inilah yang seharusnya menjadi salah satu dasar
pertimbangan dalam merumuskan kebijakan di bidang mobiitas penduduk. Pada
saat yang sama, kebijakan mobilitas penduduk belum terilihat secara tegas dan
jelas sebagaimana kebijakan di bidang fertilitas maupun mortalitas.

Perubahan jumlah anak dalam keluarga membawa implikasi ekonomi dan


sosial. Dari sisi ekonomi, jumlah anak yang sedikit barangkali menyebabkan
kesempatan keluarga untuk saving jauh lebih besar. Dengan asumsi bahwa jumlah
anak yang sedikit menyebabkan pendapatan yang dikeluarkan untuk biaya anak
juga sedikit. Dari sisi ini maka jumlah anak yang sedikit akan menyebabkan kondisi
ekonomi keluarga semakin membaik. Apabila dikaitkan dengan kesejahteraan
keluarga, paling tidak secara ekonomis, kesempatan keluarga untuk mencapai
keluarga sejahtera akan lebih tinggi. Masalah sosial yang berkaitan dengan
penurunan angka kelahiran muncul ketika dikaitkan dengan masalah penduduk
lanjut usia dan masalah sosial lainnya. Perubahan struktur rumah tangga dapat
diamati dari perubahan rata-rata anggota rumah tangga.

Berdasarkan anggota keluarganya, ada beberapa karakteristik keluarga yaitu a)


Nuclear family (keluarga inti), keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak, b)
dyad family, Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup
bersama dalam satu rumah. c) keluarga lansia, Keluarga yang terdiri dari suami dan
istri yang sudah tua dengan anak yang sudah memisahkan diri. d) childless family
keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak

36
terlambat waktunya yang disebabkan karena mengejar karier/pendidikan yang
terjadi pada wanita. e) extended family Keluarga yang terdiri dari dari tiga generasi
yang hidup bersama dalam satu rumah, seperti nuclear family disertai: paman,
tante, orang tua (kakek-nenek), keponakan, f) single parent family Keluarga yang
terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya
melalui perpisahan (perceraian atau ditinggal mati).

Keluarga berubah sejalan dengan perubahan jaman. Perubahan yang diinginkan


biasanya adalah kesejahteraan dan kebahagiaan. Untuk mencapainya banyak
upaya yang dilakukan, diantaranya dengan meningkatkan pendidikan untuk
mendapatkan pekerjaan yang baik. Mencari pendidikan yang tinggi dan masuk
dalam pasar kerja berarti mengubah orientasi siklus tradisional ke modern.
Meningkatkan pendidikan berarti menunda perkawinan, utamanya bagi
perempuan. Artinya ukuran keluarga menjadi lebih kecil. Perubahan ukuran ini
membawa perubahan antara lain dengan rata-rata jumlah anggota keluarga yang
mengecil mengakibatkan bentuk keluarga extended family menjadi nuclear family.
Menurut Singarimbun (1983)2, perubahan struktur keluarga selain disebabkan oleh
penurunan fertilitas, juga disebabkan oleh kecenderungan orang untuk hidup
sendirian (unmarried). Faktor ini pada akhirnya akan menyebabkan munculnya
keluarga tidak lengkap atau keluarga tunggal (single beaded household) dalam arti
bahwa unsur ayah, ibu, dan anak tidak lagi terpenuhi. Tidak tertutup kemungkinan
bahwa pada masa depan proporsi kelompok tersebut akan meningkat.

Salah satu isu penting yang lain adalah tentang data kependudukan dan
keluarga. Pemerintah telah melakukan investasi yang sangat besar dalam
membenahi data administrasi kependudukan. Undang-undang No 24/2013
tentang Perubahan Atas Undang-undang No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi
Kependudukan, dengan berbagai regulasi turunannya, merupakan basis yang kuat

2
Singarimbun, Masri. 1983. "Struktur rumah tangga", dalam Peter F. Donald, Pedoman analisa data Sensus
Indonesia 1971-1980. Canberra: Australian Universities International Development Program

37
dalam menata ulang dan memperbaiki data kependudukan di Indonesia. Meskipun
masih banyak kekurangan, data kependudukan di Indonesia telah menuju arah
yang benar dan perlu disempurnakan. Hal itu diperkuat dengan terbitnya Peraturan
Presiden No 39 tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia. Basis data yang presisi,
akurat, serta real time dengan up date reguler yang dilakukan melalui kelembagaan
yang solid dengan definisi permasalahan yang tepat dan mencerminkan usaha
perbaikan kesejahteraan masyarakat, merupakan kunci bagi sinergisitas kegiatan
pembangunan di Indonesia.

B. Dampak situasi kependudukan Indonesia dari berbagai aspek (politik, ekonomi,


lingkungan, sosial dan hankam)
Isu utama kependudukan pada dasarnya adalah dampak sosial dan ekonomi
yang akan dihadapi dunia dengan meningkatnya jumlah penduduk yang mendekati
skala eksponensial. Pada laporan PBB 2015 yang berjudul “Integrating Population
Issues into Sustainable Development” (Mengintegrasikan Permasalahan Populasi
Penduduk terhadap Pembangunan Berkelanjutan), diproyeksi bahwa menjelang
2030 hanya Eropa yang akan mengalami penurunan jumlah penduduk sebesar
kurang dari 1%, sementara belahan dunia lain akan mengalami kenaikan hingga 10%,
sementara Afrika akan mengalami peningkatan penduduk hingga 40%.

Usaha menghadapi pertumbuhan penduduk dan dampak luas yang akan


ditimbulkannya menghasilkan isu dan agenda kependudukan global yang juga akan
dihadapi oleh Indonesia sebagai berikut:

1) Angka Fertilitas

Peningkatan jumlah kelahiran pada beberapa daerah berimplikasi langsung


pada kondisi masyarakat. Kondisi menjadi semakin signifikan pada daerah
dengan penghasilan yang rata-rata rendah, tingkat kemiskinan dan kasus
malnutrisi/stunting tinggi, tingkat capaian pendidikan dan ketersediaan

38
layanan pendidikan yang rendah, layanan kesehatan minim, dan tingkat
kematian bayi yang tinggi. Permasalahan paling serius adalah bahwa
masyarakat dengan kemampuan ekonomi rendah, cenderung lebih cepat
menikah dan merencanakan memiliki keturunan dibandingkan dengan mereka
yang berpenghasilan tinggi; proses yang berdampak kesejahteraan keluarga
dan berpotensi meningkatkan kemiskinan dan mewariskan kemiskinan kepada
generasi berikutnya.

2) Peningkatan Kualitas Penduduk

Pendidikan merupakan salah satu indikator yang berkorelasi langsung


mempengaruhi indeks pembangunan manusia (IPM) serta menjadi syarat
mutlak dalam merubah dari keunggulan kuantitas jumlah masyarakat yang
besar menjadi keunggulan kualitas angkatan kerja, yang pada gilirannya akan
meningkatkan produktivitas ekonomi. Dalam pelaksanannya, proses ini
menitikberatkan pada terpenuhinya jaminan layanan pendidikan bagi anak-
anak usia sekolah.

Ada dua dampak yang harus diperhatikan dan dimitigasi dengan baik.
Pertama, meningkatnya angka kelahiran akan berbanding lurus dengan
penyediaan layanan pendidikan, sehingga akan mendorong meningkatnya
pengeluaran/anggaran pemerintah dalam bidang pendidikan. Pengendalian
dampak ini sangat penting terutama pada daerah-daerah dengan kondisi
anggaran dan layanan pendidikan yang kurang memadai, mereka dituntut
untuk membuat perhitungan yang matang dalam penyediaan sarana-
prasarana pendidikan dan skema jaminan pendidikan bagi kelompok umur
sekolah. Kedua, usaha mengkonversi jumlah penduduk yang besar akibat
tingkat kelahiran tinggi menjadi keunggulan kualitas sumber daya manusia
yang berdaya saing di era sekarang ini dimana membutuhkan peningkatan
sekolah dengan spesifikasi teknik dan vokasional. Usaha mengkapitalisasi
struktur umur penduduk menjadi modal pembangunan yang berkualitas ini

39
akan berimplikasi pada meningkatnya daya saing ekonomi daerah. Namun
demikian, kegagalan mengelolanya juga akan menimbulkan berbagai
dampak yang sangat berat, meningkatnya beban fiskal daerah,
meningkatnya tekanan sosial, tekanan ekonomi, serta keamanan yang
berbanding lurus dengan tekanan penduduk.

3) Penduduk Muda

Kelompok muda merepresentasikan premis penting dalam pertumbuhan


ekonomi, inovasi teknologi, dan perubahan sosial pada sebuah masyarakat
maupun negara. Kelompok muda dan remaja ini menjadi penting sebab pada
periode ini merupakan waktu dimana terjadi perubahan fisik, psikologis, dan
relasi sosial bagi individu; dimana mereka akan mulai berperan secara mandiri
pada satu sisi, dan pada saat yang sama membentuk beragam perilaku yang
akan mempengaruhi perjalanan hidup mereka selanjutnya. Fase ini membuka
peluang bagi kelompok muda dalam mengembangkan diri yang dapat
mempengaruhi karir mereka, relasi dalam keluarga dan masyarakat, serta pola
kehidupan seksual dan reproduktif yang baik untuk kelangsungan hidup antar-
generasi. Namun fase ini juga membuka kemungkinan beragam perilaku negatif
seperti konsumsi rokok, konsumsi minuman beralkohol, konsumsi narkoba,
budaya kekerasan, hingga seks bebas dan beragam perilaku yang memiliki
implikasi negatif lainnya baik bagi kesehatan maupun aspek sosial ekonomi
mereka.

Dalam menangani berbagai isu pada kelompok muda dengan demikian tidak
hanya membutuhkan strategi yang spesifik, namun juga pemahaman yang tepat
tentang kondisi kelompok muda tersebut. Terutama perilaku yang disebabkan
pengaruh eksternal keluarga seperti media sosial dan masyarakat lingkungan
sekitar. Usaha edukasi budaya hidup sehat, perilaku reproduksi yang sehat, dan
peningkatan kemampuan yang berhubungan dengan potensi kerja menjadi
skema strategis yang perlu dibangun. Catatan penting yang perlu diperhatikan

40
juga adalah kemampuan daerah dalam menyerap kelompok muda dalam dunia
kerja; sebab salah satu potensi terbesar yang dapat mengganggu proyeksi
pertumbuhan daerah adalah migrasi yang dilakukan oleh kelompok muda dalam
usaha mencari penghidupan yang lebih baik.

4) Bonus Demografi

Jendela peluang bonus demografi, mulai terbuka apabila jumlah dan


proporsi penduduk usia muda mengalami penurunan serta akan akan berakhir
pada saat proporsi penduduk usia tua tumbuh lebih cepat. Peluang bonus
demografi akan terealisasi menjadi bonus demografi apabila entitas negara
melakukan berbagai kebijakan investasi yang tepat menyangkut kualitas
penduduk, sehingga tidak hanya dengan kebijakan pengendalian kuantitas
penduduk melalui program Keluarga Berencana (KB), namun juga dengan
kebijakan peningkatan derajat kesehatan penduduk (baik laki-laki maupun
perempuan) serta investasi di bidang pendidikan (laki-laki maupun perempuan)
untuk meningkatkan kualitasnya. Namun demikian berbagai investasi di bidang
kependudukan tersebut tidak akan berarti apa-apa apabila tidak diikuti dengan
penyediaan lapangan kerja (baik secara kualitas maupun kuantitasnya) bagi
angkatan kerja baru tersebut.

Manfaat dari periode bonus demografi tidak hanya semata-mata


bergantung pada struktur umur penduduk. Terdapat berbagai faktor yang
menjadi prasyarat untuk merealisasikannya, dan yang cukup strategis adalah
lanskap pekerjaan yang variatif, produktif dan menampung seluruh karakteristik
pekerja, serta strategi investasi yang tepat.

5) Usia Reproduksi dan Kesetaraan Gender

Peningkatan kualitas dan peran perempuan merupakan hal penting bagi


pembangunan dalam aspek kependudukan. Meningkatnya kemampuan
perempuan dalam pendidikan dan skill yang berorientasi pada pekerjaan yang

41
baik menjadi bagian dalam proses pembangunan ekonomi. Masuknya
perempuan dalam dunia kerja berarti menambah jumlah angkatan kerja dan
kualitas tenaga kerja perempuan merupakan tambahan tenaga profesional yang
dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Pada sisi lain, meningkatnya
pendidikan dan pemberdayaan perempuan dalam lingkungan kerja berkorelasi
positif terhadap kemampuan mereka dalam merencanakan pernikahan, waktu
memiliki anak, gaya hidup dan reproduksi yang sehat, dan memperkecil potensi
kekerasan pada perempuan. Inilah yang menyebabkan isu pemberdayaan
perempuan bukan hanya strategis bagi daerah, namun juga bagian dari menjaga
kuantitas dan meningkatkan kualitas penduduk.

6) Pengasuhan Anak, Stunting dan Gizi Buruk

Isu pembangunan keluarga juga menjadi isu tersendiri yang berkembang di


Indonesia. Isu pembangunan keluarga dititikberatkan pada isu kualitas dan pola
asuh anak. Tingginya angka stunting yang ditemui dewasa ini disamping karena
masalah kemiskinan pada keluarga tetapi juga akibat pola pemberian makanan
pada anak yang tidak memperhatikan asupan gizi. Hal ini diakibatkan oleh
rendahnya pengetahuan orang tua terhadap bahan makanan dan nilai gizi pada
bahan makanan, pola makan yang menitikberatkan pada makanan cepat saji
juga menjadi permasalahan tersendiri dalam memenuhi asupan gizi pada anak.
Hilangnya pengetahuan orang tua pada bahan pangan akan menjadi ancaman
terhadap kualitas generasi yang akan datang serta secara lebih jauh akan
berpengaruh pada ketahanan pangan masyarakat.

7) Penduduk Lanjut Usia

Peningkatan kualitas hidup dan angka harapan hidup secara efektif


menjadikan kelompok lansia menjadi bagian dalam struktur umur dengan
pertumbuhan yang paling pesat. Proses ini setidaknya membawa tiga isu
penting: pertama, adalah jaminan hari tua bagi kelompok lansia. Jaminan hari
tua terutama berhubungan dengan skema pensiun yang akan diberikan kepada

42
kelompok lansia. Kedua, adalah layanan kesehatan dan layanan publik bagi
lansia. Meningkatnya umur menciptakan kondisi degeneratif (transisi
epidemologis) bagi individu, hal ini menuntut pemerintah mengambil langkah
kebijakan dalam memastikan kelompok penduduk berusia lanjut mampu
mendapatkan kualitas hidup yang baik dengan tidak kehilangan aktivitasnya di
ruang publik. Selain itu ketersediaan layanan publik yang ramah terhadap lansia
juga menjadi tantangan penting dalam memastikan kesejahteraan lansia. Dan
ketiga, adalah skema pemberdayaan lansia. Pada berbagai kasus, kita dapat
melihat bahwa banyak lansia yang masih mampu produktif secara ekonomi. Hal
ini turut menjadi tantangan, bagaimana menciptakan skema menjaga
produktivitas lansia yang berarti memperpanjang masa kerja dan ketersediaan
angkatan kerja.

8) Tata Ruang Wilayah

Dampak kependudukan yang paling signifikan dalam pertumbuhan


penduduk adalah meningkatnya kebutuhan akan perumahan. Hal ini disebabkan
terbatasnya lahan perumahan yang dapat disediakan tanpa merusak
ketersediaan alam. Kebutuhan akan menjaga daya tampung lingkungan dalam
bentuk lahan produktif dan ruang terbuka hijau, selalu memaksa terbatasnya
ruang bagi perumahan. Pada sisi lain kebutuhan akan perumahan didukung oleh
konsepsi masyarakat akan rumah yang memiliki halaman, dan sulitnya
membangun kesadaran rumah dalam bentuk vertikal seperti apartemen dan
rumah susun. Terlebih konteks kultural yang kerap memaksa keluarga baru untuk
memiliki rumah sendiri, yang secara langsung meningkatkan kebutuhan
perumahan.

Kondisi ini memaksa untuk diambilnya model kebijakan yang mampu


membuat proyeksi akan tingkat pertumbuhan penduduk terhadap penyediaan
sarana perumahan pada satu sisi namun pada saat yang sama menjaga

43
kemampuan lingkungan dengan tidak melakukan pembukaan wilayah bagi
perumahan secara berlebihan.

9) Pola Migrasi

Migrasi menjadi isu yang serius, bukan hanya migrasi lokal antar daerah
terlebih migrasi internasional antar negara. Jika pada migrasi lokal faktor
ekonomi dan rekonstruksi pasca bencana menjadi faktor dominan, maka
meningkatnya konflik pada beberapa negara menjadi faktor pendorong migrasi
internasional antar negara. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara tujuan
migrasi internasional yang disebabkan karena konflik.

Migrasi sebagai bentuk mobilitas penduduk, pada dasarnya dapat menjadi


faktor transformatif bagi suatu wilayah, yang dapat menjadi pendorong
pembangunan. Namun hal ini dapat terjadi dengan syarat jika proses ini
terencana dalam skema kebijakan yang efektif. Hal ini disebabkan migran
merupakan kelompok paling inovatif dalam masyarakat, yang dapat
memperkaya transfer pengetahuan dan kebudayaan pada suatu daerah.
Kehadiran migran dapat meningkatkan angkatan kerja hingga membuka
lapangan pekerjaan baru, sesuai dengan kualitas migran yang masuk ke dalam
suatu daerah. Meski pada saat yang sama pengalaman Indonesia juga
mengajarkan migrasi yang tidak terencana dengan baik dapat menjadi potensi
konflik bagi suatu wilayah.

Pola migrasi juga berpengaruh terhadap persebaran penyakit. Wabah


pandemi Covid-19 dewasa ini memperlihatkan bagaimana signifikasi mobilitas
penduduk terhadap proses maupun kecepatan peningkatan penularan Covid-
19. Oleh karena itu perlu dilakukan usaha pengarahan mobilitas dan migrasi
penduduk dalam kerangka penekanan wabah penyakit.

44
10) Pekerja Migran Indonesia

Isu pekerja migran Indonesia fokus pada bagaimana perlindungan di negara


tujuan serta perlindungan sosial terhadap keluarga di daerah asal, terutama
menyangkut kepada pengasuhan anak, pemanfaatan remitensi, serta ketahanan
keluarga. Isu kedua menyangkut pekerja migran (diaspora Indonesia) adalah
pengembangan jejaring dalam rangka optimalisasi periode bonus demografi.

11) Lingkungan Hidup

Peningkatan jumlah penduduk, peningkatan standar hidup, dan komsumsi


energi yang tinggi secara langsung berpengaruh terhadap berubahnya kondisi
lingkungan. Pemanasan global sebagai dampak dari meningkatnya efek rumah
kaca secara global, dan pada tingkat lokal kita juga menghadapi dampak
kerusakan lingkungan dan ambang batas daya tampung lingkungan. Perubahan
lingkungan sebagai akibat dari perilaku masyarakat inilah yang perlu mendapat
perhatian penting.

Isu lingkungan yang patut mendapat perhatian dalam hal ini diantaranya
adalah meningkatnya limbah industri dan rumah tangga, kerusakan lingkungan,
ketersediaan pangan, serta ketersediaan air bersih merupakan isu strategi yang
perlu diperhatikan. Sebab meningkatnya populasi dan kegiatan untuk memenuhi
kebutuhan mereka tanpa mengindahkan ketersediaan lingkungan pada akhirnya
akan berdampak pada kehidupan masyarakat itu sendiri.

12) Bencana

Pertumbuhan penduduk yang tinggi dapat dianalogikan sebagai pisau


bermata dua, pada ujung yang pertama, pertumbuhan penduduk yang tinggi
merupakan penanda dan kontributor perputaran perekonomian yag tinggi,
namun pada ujung yang satu lagi pertumbuhan penduduk yang tinggi
merupakan potensi ancaman bencana lingkungan yang sangat mungkin
terjadi, kerap kali dalam kasus-kasus bencana lingkungan yang terjadi

45
bersamaan dengan pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Ada dua
faktor yang secara kasat mata dapat dijelaskan mengenai fenomena ini, yang
pertama, tingginya laju urbanisasi di Indonesia membentuk wajah kota yang
relatif rentan terhadap bahaya lingkungan. Kondisi ini menjadikan risiko
bencana serta dampak yang ditimbulkannya menjadi semakin besar (baik
secara kuantitas (banyaknya kejadian bencana) dan jumlah masyarakat yang
terdampak). Yang kedua, adalah permasalahan infrastruktur pendukung
wilayah perkotaan. Pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak diikuti dengan
kemampuan pembangunan infrastruktur perkotaan yang memadai maka
daya dukung dan daya tampung kawasan perkotaan semakin menurun.
Kondisi kota yang mampat ini akan melahirkan bencana-bencana baru
dengan korban baik materiil maupun non materiil yang lebih besar
dibandingkan dengan bencana sebelumnya.

13) Kemitraan dalam Mengatasi Persoalan Kependudukan

Persoalan strategis dalam penyelesaian dampak kependudukan juga


terikat dengan kemampuan struktural yang dimiliki. Luasnya cakupan wilayah
dan dimensi dari dampak kependudukan memerlukan model kemitraan yang
lintas sektoral dalam berbagai jenjang kewenangan. Integrasi berbagai pihak
dalam satu model kebijakan yang komprehensif menjadi jalan prasyarat utama.
Dimana kebutuhan ini hanya dapat terpenuhi ketika terbentuk pembagian kerja
sektoral yang jelas, ketersediaan data yang baik terhadap masalah yang
dihadapi, serta analisis stakeholder yang terpadu.

C. Refleksi isu nasional ke dalam isu lokal


Dalam kerangka pembangunan pada level lokal baik itu pada tingkatan
kabupaten/Kota ataupun Desa, tentu saja merefleksikan isu-isu nasional dalam
kerangka lokal menjadi suatu kebutuhan yang sangat penting dan mendesak,
mengingat hakikat dari pembangunan kependudukan itu sendiri.

46
Refleksi itu tentu saja diawali dengan memahami kerangka isu nasional secara
menyeluruh kemudian dilakukan pemadu padanan dengan fenomena-fenomena yang
bersifat lokal. Refleksi ini juga menuntut kemampuan dalam memahami data-data yang
sudah tersedia di tingkat lokal. Pemahaman data yang baik disertai dengan
pengetahuan kondisi sosio demografis, serta tata laksana pemerintahan akan
menggiring pada analisis isu strategis yang bersifat lokal yang presisi.

Berikut beberapa contoh refelksi isu nasional ke dalam isu lokal:

1) Isu angka fertilitas penduduk kemudian dianalisis dengan fenomena pernikahan


dini yang kemungkinan marak terjadi serta cakupan kesertaan ber-KB yang
kemungkinan masih rendah, berdasarkan isu ini maka ditelaah bagaimana
kondisi pelayanan Keluarga Berencana di Puskesmas atau klinik-klinik bidan
swasta, ditelaah efektivitas kelompok kegiatan seperti PIK-Remaja atau Bina
Keluarga Remaja kemudian disusun rencana advokasinya.
2) Isu Peningkatan Kualitas Penduduk kemudian dianalisis tentang cakupan
layanan pendidikan maupun kesehatan beserta dengan efektivitasnya, yang
kemudian menghasilkan rencana advokasi dan penanganannya.
3) Isu Bonus Demografi, kemudian dianalisis tentang struktur penduduk secara
lebih mikro baik di level desa maupun kabupaten kota, yang kemudian disusun
rencana advokasi dan penanganannya.
4) Isu Pandemi Covid kemudian ditelaah tentang perilaku masyarakat dalam
menjalankan protocol kesehatan yang kemudian disusun rencana advokasi dan
penanganannya.
5) Isu Migrasi Penduduk, kemudian di telaah mengenai apa alasannya terjadi
migrasi penduduk di daerahnya, kemudian dilakukan analisis kebijakannya
sebagai bahan advokasi dan penanganannya.
6) Isu keterpaduan penanganan isu kependudukan, dapat diangkat menjadi isu
pelaksanaan program di Kampung KB sebagai bentuk sinergitas ditingkat yang

47
paling mikro, kemudian dilakukan analisis kebijakannya sebagai bahan advokasi
dan penanganannya.

Sekiranya itulah yang harus dilakukan oleh petugas lapangan dalam melihat
fenomena di level nasional yang kemudian dilakukan analisis kembali dalam level lokal
supaya menjadi lebih operasional dan dapat tertangani permasalahannya.

D. Rangkuman
Kebijakan kependudukan secara nasional di Indonesia selama ini telah
memperlihatkan hasilnya yaitu dengan adanya perubahan kondisi kependudukan
Indonesia antara lain; pertumbuhan penduduk telah menurun secara konsisten
dan signifikan selama tiga dasa warsa terakhir, adanya perubahan demografis yang
bergerak cepat yang diproyeksikan sampai dengan tahun 2045 akan membentuk
dan mengubah struktur penduduk dan perubahan pola migrasi risen yang
meskipun lambat mulai bergeser ke Indonesia bagian Timur. Kondisi
kependudukan yang berkembang saat ini dan masa depan menghadirkan peluang
dan tantangan tersendiri dari berbagai aspek (politik, ekonomi, lingkungan, sosial
dan hankam) yang perlu diantisipasi dan dicarikan solusi terbaiknya. Isu strategis
nasional perlu direfleksikan dalam isu lokal untuk mendapatkan gambaran nyata
tentang kondisi kependudukan yang berada di wilayah binaannya. Manfaatnya
adalah sebagai pondasi dalam menetapkan strategi operasional dan penanganan
permasalah yang terjadi di wilayahnya secara konkrit

E. Latihan
Untuk mendalami BAB III ini kerjakan latihan berikut ini!
1) Amati perkembangan penduduk di wilayah Anda. Buatlah analisis isu strategis
situasi kependudukan diwilayah desa saudara dari berbagai dimensi.
2) Buatlah rencana kerja advokasi program berdasarkan situasi yang ada.

48
3) Lakukan advokasi kepada tokoh formal maupun kepada masyarakat untuk
mengintervensi situasi yang ada!
4) Diskusikan dengan teman Anda, bagaimana caranya untuk mengantisipasi
perubahan kependudukan di lingkungan Anda!
5) Lakukan wawancara terhadap 3 orang penduduk di lingkungan Anda, bagaimana
tanggapan mereka ketika terjadi penyempitan lahan di wilayahnya akibat
pesatnya pembangunan perumahan!

F. Tes Formatif
Petunjuk Pengerjaan soal
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dari pertanyaan yang diberikan
dengan memilih A, B, C, D atau E pada pilihan yang tersedia!
1. Berikut ini adalah manfaat dari data kependudukan bagi Penyusunan Program
Bangga Kencana, kecuali…..
A. Sebagai sumber data yang terkini, akurat dan terpercaya untuk dijadikan
sebagai dasar perencanaan dan kebijakan program Bangga Kencana
B. Sebagai pusat data dan intervensi permasalahan pembangunan keluarga
kependudukan dan Keluarga Berencana yang sesuai dengan tujuan dari
Program Bangga Kencana
C. Sebagai sarana bagi penduduk untuk mendapatkan hak-hak yang dimiliki
sebagai penduduk resmi di suatu negara
D. Sebagai bahan evaluasi pencapaian program Bangga Kencana
E. Sebagai bahan acuan tahun berikutnya

2. Jenis data kependudukan di bawah ini yang merupakan jenis data yang
menunjukkan kuantitas penduduk adalah…..
A. laju pertumbuhan penduduk
B. status kesehatan,

49
C. angka kematian,
D. tingkat pendidikan
E. Migrasi penduduk

3. Berikut ini merupakan dokumen kependudukan yang dihasilkan melalui Sistem


Informasi Administrasi Kependudukan, kecuali..
A. Nomor Induk Kependudukan
B. Kartu Keluarga
C. Kartu kepemilikan tanah
D. Akta nikah
E. PBB

4. Berikut ini adalah poin-poin penting yang dapat dirumuskan dalam


penyusunan bahan advokasi terkait pembangunan berwawasan kependukan,
kecuali …

A. menjadikan isu kependudukan sebagai isu strategis lintas sektor.


B. Menjadikan isu kependudukan sebagai sentral dari pembangunan
C. meyakinkan bahwa dengan mengelola penduduk secara baik Kita berperan
dalam menyelamatkan bumi, menyelamatkan peradaban umat manusia dan
menyelamatkan bangsa

D. meyakinkan seluruh pemangku kebijakan bahwa terdapat keterkaitan yang


sangat erat antara antara program Bangga Kencana dengan pencapaian
tujuan pembangunan berkelanjutan

E. Implementasi Program kependudukan melalui program Bangga Kencana)


terutama dalam mengendalikan jumlah penduduk dapat menurunkan
kualitas penduduk Indonesia.

50
5. Manakah langkah-langkah di bawah ini yang bukan merupakan langkah dalam
penyusunan materi Kependudukan ke dalam bahan advokasi dan KIE bertemakan
kependudukan

a. Identifikasi dan pelajari kondisi kependudukan Indonesia secara nasional dan


temukan isu strategis dari pembangunan berwawasan kependudukan yang
terjadi pada saat ini dan beberapa waktu ke depan.
b. Selaraskan dengan kondisi kependudukan pada skala lokal.
c. Gunakan profil tentang kondisi kependudukan nasional secara langsung
sebagai bahan KIE dan advokasi
d. Setelah mendapat gambaran secara nyata kondisi kependudukan yang
terjadi di wilayah binaannya kita susun bahan advokasi dan KIE
penangananya.
e. Identifikasi dan pelajari kondisi kependudukan Indonesia secara nasional dan
temukan isu strategis dari pembangunan berwawasan kependudukan yang
terjadi pada saat ini dan beberapa waktu ke depan

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Setelah mengerjakan Tes Formatif pada BAB III ini, coba Bapak/Ibu nilai tes tersebut
dan cocokkan dengan kunci jawaban yang tersedia dalam modul ini, berapa nilai
yang diperoleh. Jika Bapak/Ibu dapat menjawab 5 soal dengan benar maka
Bapak/Ibu dianggap menguasai Pokok Bahasan ini, dan Bapak/Ibu dapat melanjutkan
ke BAB berikutnya akan tetapi jika jawaban benar Bapak/Ibu belum mencapai 4 soal,
berarti Bapak/Ibu perlu mengulang mempelajari Pokok Bahasan ini kembali dengan
lebih baik.

51
Pembangunan berwawasan kependudukan secara sederhana memiliki makna yaitu
menjadikan penduduk sebagai episentrum
pembangunan atau fokus utama
pembangunan. Penduduk memiliki
kedudukan yang penting dan strategis
dalam pembangunan yaitu sebagai subyek
sekaligus obyek pembangunan. Kedudukan strategis yang dimiliki oleh penduduk
ini menjadikan data dan informasi yang benar dan utuh tentang siapa dan
bagaimana kondisi penduduk di suatu negara mutlak dibutuhkan sebagai bahan
rujukan dalam pembuatan kebijakan pembangunan.

Data dan informasi apa sajakah yang berkaitan dengan penduduk yang perlu
diketahui sehingga Kita akan mendapatkan gambaran yang utuh tentang
penduduk?
Berikut ini Kita akan pelajari satu persatu data dan informasi kependudukan yang
dibutuhkan.

52
A. Jenis dan Sumber Data Kependudukan
1. Jenis Data Kependudukan
Data kependudukan dapat diartikan sebagai kumpulan informasi berupa
fakta-fakta yang menggambarkan
tentang kondisi penduduk di suatu
negara baik secara kuantitas maupun
kualitas penduduk di suatu negara.
Data dan informasi tentang penduduk
yang dibutuhkan yaitu pertama
berkaitan dengan kuantitas penduduk meliputi jumlah, struktur dan
komposisi penduduk, laju pertumbuhan penduduk, serta persebaran
penduduk. Kedua, berkaitan dengan kualitas penduduk yang meliputi status
kesehatan, angka kematian, tingkat pendidikan dan angka kemiskinan serta
kondisi sosial budaya penduduk. Ketiga adalah mobilitas penduduk, seperti
tingkat migrasi yang mempengaruhi persebaran penduduk antar wilayah,
baik antar pulau maupun antara perkotaan dan perdesaan. .

Ketiga jenis data dan informasi yang menggambarkan kondisi penduduk


tersebut perlu terdata dengan baik, terpercaya, utuh dan diperbaharui terus
menerus sesuai dengan perkembangan dari kondisi kependudukan
setempat serta tidak tumpang tindih sehingga dapat dimanfaatkan secara
optimal demi kepentingan pembangunan.

2. Sumber Data Kependudukan


Mengingat begitu pentingnya arti dari data dan informasi penduduk yaitu
sebagai dasar penentuan kebijakan dan pertimbangan dan penentuan
sasaran pembangunan, maka data dan informasi tentang penduduk ini
harus diperoleh dari sumber data yang terpercaya baik dari proses
pengumpulan data, pengolahan data serta proses analisis data haruslah

53
memenuhi kaidah dan aturan ilmiah yang telah ditetapkan sehingga mampu
memberikan gambaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi sebenarnya
dari penduduk di wilayah negara setempat.

Bagaimana cara memperoleh data kependudukan yang benar?


Jawabannya adalah melalui sumber data kependudukan yang terpercaya
dan dapat dipertanggungjawabkan. Setidaknya ada 5 sumber data
kependudukan yang dapat Kita manfaatkan yaitu sistem registrasi vital,
sensus dan survey penduduk, sistem informasi keluarga serta rumah data
kependudukan.

Kita akan bersama-sama mempelajari kelima sumber data kependudukan


satu persatu.

a. Registrasi Vital
Sumber data kependudukan pertama yang akan kita bahas adalah
registrasi vital atau data dasar kependudukan.

Registrasi vital atau data kependudukan yang berasal dari sistem


administrasi kependudukan yang berlaku secara nasional di suatu negara
dengan melakukan kegiatan pencatatan mengenai kelahiran hidup,
kelahiran mati, kematian, perkawinan, perceraian, adopsi, termasuk
pengakuan pengesahan, pembatalan, dan perpisahan serta perpindahan
penduduk yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan.
Data ini mencatat perubahan status kependudukan, misalnya ada

anggota keluarga yang melahirkan atau meninggal maka keluarga


tersebut harus melaporkan perubahan status kependudukannya
kepada petugas yang berasal dari instansi berwenang yang ditunjuk
oleh negara. Instansi yang berwenang ini akan mengeluarkan sertifikat

54
berkaitan dengan adanya perubahan kondisi kependudukan yang
dilaporkan.

Di Indonesia, sistem registrasi vital dilaksanakan melalui suatu sistem


informasi administrasi kependudukan (SIAK) dengan memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi pengelolaan
informasi administrasi kependudukan di tingkat Penyelenggara dan
Instansi Pelaksana sebagai satu kesatuan. Landasan hukum mengenai
Sistem administrasi kependudukan ini yaitu Undang Undang No. 13 tahun
2013 tentang administrasi kependudukan.

Dokumen kependudukan yang dihasilkan melalui SIAK antara lain adalah


Nomor Induk Kependudukan, Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk, Akta
nikah, Akta Kelahiran, dan Akta Kematian.

Di Indonesia, sistem registrasi vital merupakan wewenang Direktorat


Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam
Negeri Republik Indonesia. Jika Kita ingin memanfaatkan data
kependudukan yang dihasilkan oleh kasil registrasi vital dapat diakses di
Portal Sistem Informasi Geografis Direktorat Jenderal Kependudukan
dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia di
[Link]

b. Sensus Penduduk
Sumber Data Kependudukan kedua yang dapat dijadikan rujukan dalam
memberikan gambaran tentang kondidisi kependudukan di Indonesia
yaitu Sensus Penduduk.

55
Sensus Penduduk (SP) adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui
pencacahan semua penduduk di seluruh wilayah (negara) secara
serentak dan secara berkala untuk memperoleh data kependudukan
pada waktu tertentu. SP biasanya dilakukan setiap 10 tahun sekali oleh
Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan Undang-Undang No. 16 tahun
1997 tentang Statistik. Data kependudukan yang diperoleh melalui SP
meliputi semua penduduk baik penduduk de jure maupun penduduk de
facto.

Data kependudukan utama yang dihasilkan berdasarkan SP antara lain


adalah jumlah, distribusi umur dan jenis kelamin, persebaran, tingkat
kelahiran, tingkat kematian, dan tingkat migrasi penduduk. Hasil SP dapat
diakses di laman (website) BPS [Link]

C. Survei Penduduk

Sumber Data kependudukan ketiga yang dapat dijadikan sebagai bahan


rujukan dalam memberikan gambaran tentang kondisi kependudukan di
Indonesia yaitu survey penduduk. Survei Penduduk adalah pengumpulan
data yang dilakukan melalui pencacahan sebagian dari penduduk (sampel)
untuk memperoleh data kependudukan yang lebih terperinci pada waktu
tertentu baik penduduk de jure dan penduduk de facto. Survei juga
dilaksanakan secara berkala dengan rentang waktu yang lebih pendek
daripada SP.

Keunggulan survei adalah informasi kependudukan yang dikumpulkan lebih


terperinci dan terkini. Sebagai contoh, informasi tentang jenis kelamin anak
yang lahir dalam lima tahun terakhir dikumpulkan dalam survei demografi
dan kesehatan, sementara informasi tentang pengeluaran dan konsumsi
dikumpulkan dalam survei sosial dan ekonomi.

56
Ada beberapa survei kependudukan yang dilaksanakan secara berkala di
Indonesia. Tiga survei dilaksanakan oleh BPS yaitu SUPAS,SUSENAS dan SDKI.

Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) dilaksanakan setiap lima (5) tahun
sekali setelah SP terakhir untuk menghasilkan data kependudukan antara
dua SP. Indonesia sudah melaksanakan SUPAS sebanyak lima (5) kali, yaitu
pada tahun 1976, 1985, 1995, 2005, dan 2015. Data kependudukan yang
dihasilkan berdasarkan SUPAS sebagian besar sama dengan yang dihasilkan
berdasarkan SP. Akan tetapi, data yang terperinci tentang migrasi dan
administrasi kependudukan tersedia dalam SUPAS.

Sejak tahun 1963 Indonesia melaksanakan Survei Sosial Ekonomi Nasional


(SUSENAS). Selama periode 1990–2010 SUSENAS diselenggarakan setiap
tahun. Mulai tahun 2011 SUSENAS dilaksanakan setiap tiga bulan (triwulan).
Informasi terperinci tentang kependudukan, kesehatan, pendidikan,
keluarga berencana, perumahan, serta konsumsi dan pengeluaran
dikumpulkan dalam SUSENAS untuk menghasilkan data kependudukan,
sosial, ekonomi, dan pemenuhan kebutuhan hidup. Hasil SUSENAS
digunakan untuk mengevaluasi pencapaian pembangunan, termasuk
program pengentasan kemiskinan dan tujuan pembangunan milenium
(millennium development goals/MDGs), seperti persentase rumah tangga
dengan sumber air minum yang layak dan persentase rumah tangga dengan
tempat pembuangan akhir tinja yang layak.

Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) merupakan survei khusus untuk


menghasilkan data ketenagakerjaan, seperti tingkat partisipasi angkatan
kerja, tingkat kesempatan kerja, tingkat pengangguran terbuka, pendapatan,
dan jam kerja. SAKERNAS pertama kali dilaksanakan pada tahun 1976. Sejak

57
tahun 2012 SAKERNAS dilaksanakan setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan
November. Hasil SAKERNAS digunakan untuk mengevaluasi pencapaian
pembangunan ketenagakerjaan. Sekarang SAKERNAS dilaksanakan dua kali
dalam setahun, yaitu pada bulan Februari dan Agustus.

Biro Pusat Statistik juga melaksanakan survei kependudukan lain bekerja


sama dengan kementerian/lembaga dan lembaga internasional. Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) diselenggarakan bersama
dengan Kementerian Kesehatan, Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) dan ICF International. SDKI telah dilaksanakan
sebanyak delapan (8) kali, yaitu pada tahun 1987, 1991, 1994, 1997, 2002-
2003, 2007, 2012, dan 2017. Data kependudukan terperinci yang berkaitan
dengan fertilitas, perkawinan dan kegiatan seksual, mortalitas bayi dan anak,
keluarga berencana (KB), kesehatan reproduksi, preferensi fertilitas,
kesehatan anak, pemberian makanan anak, pengetahuan, sikap dan perilaku
HIV/AIDS, pemberdayaan perempuan, partisipasi laki-laki dalam perawatan
kesehatan keluarga, serta kematian maternal dan orang dewasa dihasilkan
dari SDKI.

Hasil SDKI digunakan untuk mengevaluasi pencapaian pembangunan,


termasuk tujuan pembangunan milenium (millennium development
goals/MDGs) 1990–2015 dan tujuan pembangunan berkelanjutan
(sustainable development goals/SDGs) 2015–2030, seperti angka kematian
bayi, angka kematian anak usia bawah lima tahun, cakupan imunisasi
campak pada anak usia satu tahun, angka prevalensi kontrasepsi, feritlitas
pada perempuan remaja (usia 15–19 tahun), kebutuhan ber-KB yang tidak
terpenuhi, persentase persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan
terlatih, dan rasio kematian maternal.

58
Survei tentang kesehatan penduduk di Indonesia dilaksanakan oleh
Kementerian Kesehatan. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
dilaksanakan pada tahun 1986, 1995, 2001, dan 2004. Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) diselenggarakan pada tahun 2007, 2010, 2013, dan 2018. Hasil
RISKESDAS digunakan untuk mengevaluasi pencapaian pembangunan
kesehatan dan MDGs dan SDGs bidang ekonomi, yaitu prevalensi anak usia
bawah lima tahun yang kurang gizi. Hasil SKRT dan Riskesdas juga
mengungkapkan tentang transisi epidemiologi di Indonesia dimana
dominasi penyakit menular sebagai penyebab kematian utama telah
digeser oleh penyakit tidak menular.

c. SIGA (Sistem Informasi Keluarga)


Selain ketiga sumber data kependudukan yang telah dibahas di atas
sebagai sumber data yang dapat dijadikan rujukan dalam memberikan
gambaran tentang kondisi kependudukan di Indonesia, Kita juga dapat
memanfaatkan data kependudukan yang berasal dari Sistem Informasi
Keluarga yang dikelola oleh BKKBN sebagai sumber data kependudukan

Sistem Informasi Keluarga selanjutnya disingkat SIGA berdasarkan


Peraturan Kepala BKKBN Nomor 481/PER/G4/2016 tentang SIGA adalah
seperangkat tatanan yang meliputi data, informasi, indikator, prosedur,
perangkat, teknologi dan sumber daya manusia yang saling berkaitan dan
dikelola secara terpadu untuk mengarahkan tindakan atau keputusan yang
berguna dalam mendukung pembangunan keluarga. Data dan informasi
keluarga, yang dikumpulkan melalui pengelolaan data rutin (pendataan
keluarga, pelayanan KB dan pengendalian lapangan dan nonrutin (Data
khusus dan data luar biasa)..

59
d. Rumah Data Kependudukan dan Informasi Keluarga
Rumah Data Kependudukan dan Informasi Keluarga adalah kelompok
kegiatan (Poktan) masyarakat yang melaksanakan kegiatan pengumpulan,
verifikasi, analisis, penyajian serta pemanfaatan data kependudukan dan
keluarga serta pembangunan di tingkat desa/kelurahan. Seiring dengan
kebijakan dana desa, maka desa juga diberikan otonomi yang luas dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

Rumah Data Kependudukan dan Informasi Keluarga dibentuk dan


dikembangkan sebagai pusat data dan informasi kependudukan di level
mikro dengan basis partisipasi masyarakat, yang secara implisit menjadikan
data-data yang dihasilkan sebagai sebuah artikulasi kepentingan dari

masyarakat secara luas.

Fungsi dari Rumah Data Kependudukan dan Informasi Keluarga yaitu


sebagai pusat data kependudukan dan informasi keluarga di level
desa/kelurahan, penyedia data basis bagi intervensi pembangunan
kependudukan, sebagai instrumen pendidikan kependudukan dan keluarga
bagi masyarakat serta meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan
kesadaran masyarakat tentang tentang pentingnya aspek kependudukan
dan keluarga dalam pembangunan.

Data yang termuat dalam Rumah Data

1) Kuantitas penduduk yang meliputi jumlah dan komposisi penduduk,


jumlah keluarga, jumlah anak per keluarga, Jumlah pasangan usia subur
(PUS), jumlah kesertaan ber-KB dan lain-lain yang menggambarkan
kuantitas penduduk

60
2) Kualitas penduduk yang meliputi jumlah anak sekolah, jumlah anak putus
sekolah, jumlah anak stunting dan lain-lain yang menggambarkan
kualitas penduduk
3) Data Mobilitas Penduduk yang meliputi jumlah penduduk yang masuk,
jumlah penduduk yang keluar, jumlah komuter, jumlah penduduk
musiman dan lain-lain yang menggambarkan kondisi mobilitas
penduduk.

4) Data Pembangunan Keluarga yang meliputi jumlah Tribina (BKB, BKR, BKL)
dan UPPKS, Jumlah posyandu, jumlah PAUD, Jumlah Kelompok Usaha
Bersama (KUBE) dan lain-lain

5) Data Administrasi Kependudukan yang meliputi jumlah Nikah, talak,


Cerai, Rujuk (NTCR), jumlah pasangan yang memiliki akta nikah c. jumlah
penduduk yang memiliki akta lahir, jumlah penduduk yang memiliki Kartu
Tanda Penduduk (KTP), jumlah keluarga yang memiliki Kartu Keluarga
(KK), data kematian, jumlah anak yang memiliki Kartu Identitas Anak (KIA)
dan lain lain yang menggambarkan data administrasi kependudukan.

6) Data Perlindungan Sosial yang meliputi data penerima Keluarga


Sejahtera (KKS), data penerima Kartu Indonesia Sehat (KIS)/ Penerima
Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI-JKN). data penerima
Kartu Indonesia Pintar (KIP)/ Bantuan Siswa Miskin (BSM), data penerima
Program Keluarga Harapan (PKH, data penerima Beras Sejahtera
(Rastra)/Beras Miskin (Raskin), data Kesertaan BPJS Kesehatan, data
Kesertaan BPJS Ketenagakerjaan, data pencari kerja dan lain-lain

7) Potensi Desa/ Kelurahan yang meliputi jumlah sekolah, jumlah tempat


ibadah, jumlah puskesmas, jumlah pasar,jumlah balai warga, jumlah
poskamling, jumlah rumah tidak layak huni, data jalan yang belum diaspal,
data bencana dan korban dan lain-lain.

61
B. Pemanfaatan data kependudukan
Data Kependudukan merupakan data yang sangat penting dan strategis.
Manfaatnya sangat banyak baik dari aspek individu maupun bagi
pemerintah. Manfaat data kependudukan adalah:
1. Manfaat Data Kependukan bagi penduduk
Apa manfaat data kependudukan tersebut bagi Kita sebagai penduduk? Data
kependudukan terutama data dasar kependudukan yang meliputi kelahiran,
kematian dan perpindahan dapat kita pakai untuk mendapatkan hak-hak
yang kita miliki sebagai penduduk resmi di suatu negara. . Akta kelahiran
dapat kita pakai untuk mendapatkan identitas diri seperti Kartu Tanda
Penduduk (KTP). Akta kelahiran juga diperlukan untuk pendaftaran sekolah
(hak mendapatkan pendidikan) dan lain sebagainya. Demikian pula akta
kematian diperlukan untuk pengurusan pemakaman. Akta perpindahan
diperlukan untuk mendapatkan identitas diri di tempat yang baru.

2. Manfaat Data Kependudukan bagi Pemerintah


Bapak dan Ibu PKB, mengapa Kita harus bersusah payah untuk
mengumpulkan data kependudukan, memastikan data kependudukan yang
Kita dapatkan itu adalah data yang benar dan terpercaya?

Jawabannya adalah karena data kependudukan yang benar dan terpercaya


adalah sangat penting. Data Kependudukan tersebut akan dipergunakan
menjadi acuan atau dasar dalam membuat perencanaan pembangunan.
Dengan data kependudukan yang benar dan terpercaya, pemerintah
memiliki gambaran yang nyata tentang situasi kondisi kependudukan
yang sebenarnya, maka pemerintah dapat membuat analisis yang rinci
dalam berbagai bidang sesuai dengan kebutuhan penyusunan
program pembangunan, sehingga perencanaan dapat lebih berkualitas

62
dan tepat sasaran. Berikut ini Kita akan mempelajari beberapa manfaat
data kependudukan sebagai berikut :
e. Dasar dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas.
Contohnya penerbitan SIM, izin usaha, pelayanan wajib pajak,
jaminan kesehatan masyarakat, jaminan sosial tenaga kerja,
pembangunan fasilitas publik (jalan, perumahan, sekolah, RS,
pusat rekreasi, dsb.
f. Perencanaan pembangunan
Dasar dalam menyusun perencanaan pembangunan nasional
seperti pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, kesejahteraan sosial /
pengentasan kemiskinan, tenaga kemiliteran, perumahan,
pertanian, perpajakan dan lain sebagainya.

g. Penentuan alokasi anggaran


Data Kependudukan dibutuhkan sebagai dasar penentuan Dana
Alokasi Umum (DAU), perhitungan potensi perpajakan.
h. Dasar dalam proses pembangunan demokrasi
Penyiapan data agregat kependudukan per kecamatan (DAK2) dan
penyiapan data penduduk potensial pemilih pemilu (DP4)
i. Penegakan hukum dan pencegahan kriminal.
j. Dasar perencanaan kebutuhan produksi barang dan jasa.

3. Manfaat Data Kependudukan bagi Penyusunan Program Bangga


Kencana
Data Kependudukan sangat bermanfaat dalam penyusunan program Bangga
Kencana. Manfaat tersebut yaitu sebagai berikut :
a. Sebagai sumber data yang terkini, akurat dan terpercaya untuk dijadikan
sebagai dasar perencanaan dan kebijakan program Bangga Kencana

63
b. Sebagai dasar atau rujukan utama dalam penetapan prioritas, sasaran
dan program Bangga Kencana
c. Sebagai pusat data dan intervensi permasalahan pembangunan keluarga
kependudukan dan Keluarga Berencana yang sesuai dengan tujuan dari
Program Bangga Kencana
d. Sebagai bahan evaluasi pencapaian program Bangga Kencana
e. Sebagai sarana dalam meningkatkan sinergitas komponen badan
kependudukan dan keluarga berencana nasional dan mitra kerja dalam
penyediaan dan pemanfaatan data dan informasi untuk intervensi
berbagai permasalahan kependudukan, KB, pembangunan keluarga
ataupun pembangunan sektor lainnya,

C. Rangkuman
Pembangunan berwawasan kependudukan secara sederhana memiliki makna
yaitu menjadikan penduduk sebagai episentrum pembangunan atau fokus utama
pembangunan. Penduduk memiliki kedudukan yang penting dan strategis dalam
pembangunan yaitu sebagai subyek sekaligus obyek pembangunan. Kedudukan
strategis yang dimiliki oleh penduduk ini menjadikan data dan informasi yang benar
dan utuh tentang siapa dan bagaimana kondisi penduduk di suatu negara mutlak
dibutuhkan sebagai bahan rujukan dalam pembuatan kebijakan pembangunan.
Untuk mendapatkan informasi yang benar tentang kondisi kependudukan yang
tepat,sehingga dapat dihasilkan kebijakan yang tepat sasaran, maka dibutuhkan
sumber data kependudukan yang valid dan terpercaya contohnya adalah Registrasi
Vital,Sensus Penduduk dan Survey Penduduk. Untuk menajamkan dan memperkuat
informasi kependudukan yang berada di wilayah binaannya dapat ditambahkan
dengan data SIGA dan Rumah Data.
Data Kependudukan merupakan data yang sangat penting dan strategis.
Manfaatnya sangat banyak baik dari aspek individu maupun bagi

64
pemerintahdalam menyusun perencanaan pembangunan yang tepat sasaran
dan sesuai kebutuhan.

D. Latihan
Untuk mendalami BAB IV kerjakan latihan berikut ini!
1. Berdasarkan sumber data kependudukan yang diuraikan di atas, manakah
sumber data yang paling sering digunakan? Jelaskan alasannya!
2. Buatlah suatu analis situasi kependudukan yang berada dalam wilayah
binaan dengan menggunakan minimal 2 sumber data kependudukan!
3. Gambarkan rumah data kependudukan di wilayah Anda!
4. Contohkan pemanfaatan data SIGA dalam pekerjaan Anda!
5. Bagaimana Anda memanfaatkan data hasil survei penduduk pada lingkup
wilayah Anda!

B. Tes Formatif
Pilihlah jawaban a, b, c, d, atau e pada jawaban yang paling tepat!
1. Data kependudukan yang dibutuhkan meliputi berikut ini, kecuali...
a. Jumlah
b. Struktur
c. Persebaran
d. Komposisi
e. Barang mewah
2. Sensus Penduduk dilakukan dalam...
a. 10 tahun sekali
b. 9 tahun sekali
c. 8 tahun sekali
d. 7 tahun sekali
e. 6 tahun sekali
3. Jenis Survei Penduduk di antaranya...

65
a. SUPAD
b. SIPAD
c. SUPAS
d. SAPAD
e. SUPAK
4. Pemanfaatan data kependudukan bagi pemerintah untuk...
a. Perencanaan pembangunan
b. Keuntungan negara
c. Bantuan rakyat
d. Kebutuhan pokok
e. Kestabilan politik
5. Data kependudukan untuk memberikan pelayanan publik yang
berkualitas, contohnya adalah...
a. Pemberian makanan
b. Pengurusan SIM
c. Pembelian makanan
d. Penjualan produk
e. Penyaluran iuran

E. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Setelah mengerjakan Tes Formatif pada BAB IV ini, coba Bapak/Ibu nilai tes tersebut
dan cocokkan dengan kunci jawaban yang tersedia dalam modul ini, berapa nilai
yang diperoleh. Jika Bapak/Ibu dapat menjawab 5 soal dengan benar maka
Bapak/Ibu dianggap menguasai Pokok Bahasan ini, dan Bapak/Ibu dapat melanjutkan
ke BAB berikutnya akan tetapi jika jawaban benar Bapak/Ibu belum mencapai 4 soal,
berarti Bapak/Ibu perlu mengulang mempelajari Pokok Bahasan ini kembali dengan
lebih baik.

66
Pengantar
Penempatan penduduk sebagai titik sentral dalam pembangunan merupakan
program nasional. Apa artinya pernyataan tersebut? Artinya, aspek penduduk
merupakan titik utama yang menjadi perhatian dan titik sentral dalam pembangunan
baik sebagai pelaku maupun obyek pembangunan. Penduduk memiliki hak untuk
dikembangkan seluruh potensi yang dimilikinya sehingga mampu berpartisipasi aktif
dalam pembangunan. Sedangkan penduduk juga memiliki hak untuk menikmati hasil
dari pembangunan.
Agar penduduk dapat berperan secara optimal sebagai titik sentral pembangunan,
maka dibutuhkan kebijakan kependudukan yang tepat yang sesuai dengan situasi dan
kondisi kependudukan saat ini. Permasalahan kependudukan yang dihadapi oleh
Indonesia sangat kompleks, dilihat dari aspek kuantitas, jumlah penduduk Indonesia
yang besar dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memberikan beban yang
berat kepada wilayah yang bersangkutan termasuk masalah lingkungan (environmental
stress) seperti kerusakan hutan (termasuk bakau), kerusakan terumbu karang, masalah
air bersih (water management), sampah, terumbu karang, pendangkalan sungai, serta
polusi udara apabila tidak dikendalikan dengan baik dan seimbang serta diimbangi

67
dengan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Sedangkan dari aspek kualitas, kita harus mengakui bahwa kualitas penduduk Indonesia
yang masih relatif rendah, baik dari sisi kesehatan, pendidikan maupun ekonomi. Fakta
ini dapat temukan salah satunya dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia
yang masih berada ditataran bawah, yaitu nomor 108 dari 188 negara di dunia.
Permasalahan kependudukan lainnya yang dihadapi Indonesia yaitu berkaitan
dengan masalah Pencatatan atau registrasi penduduk berkenaan dengan kelahiran,
kematian, kedatangan, dan kepergian belum bisa dilakukan dengan tertib, disiplin, serta
cermat sesuai ketentuan. Oleh karena itu, persoalan kependudukan perlu dikelola dan
ditangani dengan baik, antara lain melalui program keluarga berencana dan
Pembangunan Keluarga.

Melalui
Program Pembangunan Keluarga dan Keluarga Berencana, diharapkan setiap keluarga
memiliki peran dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas gizi dan pendidikan anak-
anaknya, mampu meningkatkan public saving, private saving, serta mampu
meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan orangtua dalam memberikan
stimulus yang tepat yang dapat meningkatkan kecerdasan dan kematangan mental
dan sosial anak sesuai dengan tahapan perkembangannya dengan harapan di masa
depan anak-anak akan tumbuh dan siap menjadi tenaga kerja yang potensial yang siap

mewarnai pasar kerja internasional.

68
Secara umum ada empat (4) area yang menjadi fokus kependudukan di Indonesia.
Pertama berkaitan dengan pengendalian kuantitas atau jumlah penduduk sehingga
berada pada kondisi tumbuh seimbang. Langkah yang diambil melalui pengaturan
kehamilan dan kelahiran serta penurunan kematian penduduk melalui program
peningkatan kesehatan masyarakat. Kedua adalah peningkatan kualitas atau mutu
penduduk melalui program keagamaan, pendidikan, keterampilan, kesejahteraan sosial.
Ketiga adalah pengarahan mobiltas penduduk melalui program transmigrasi serta
pembangunan dan pemekaran wilayah. Keempat yaitu berkaitan dengan
penyempurnaan sistem informasi kependudukan baik dari sisi pengumpulan dan
pengolahan data yang telah valid, terpercaya, maupun dari aspek pemanfaatan data
dan informasi kependudukan sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal dan
menjadi rujukan dalam pembangunan oleh seluruh pejabat pemerintahan baik di pusat
maupun di daerah. Kualitas data dan informasi kependudukan salah satunya sangat
bergantung pada peran aktif seluruh penduduk untuk mau dan mampu melaporkan
seluruh peristiwa kependudukan yang terjadi pada diri dan keluarganya baik secara
aktif dengan melakukan registrasi vital pada dinas kependudukan dan catatan sipil
setempat maupun tanggap dan bertanggungjawab ikut memberikan informasi yang
benar dan sesuai kondisi nyata pada saat dilakukan sensus maupun survey
kependudukan.
Penanganan masalah kependudukan Indonesia yang sangat kompleks tersebut
memerlukan kerjasama dan peran aktif dari seluruh penduduk Indonesia, sinergitas
antara pihak swasta dan pemerintah serta kesinambungan dan kesatuan langkah yang
sama dan selaras dalam antara pemerintah pusat dan daerah untuk menyukseskan
kebijakan kependudukan di Indonesia di empat area tersebut.
Sayangnya dalam mengimplementasikan kebijakan kependudukan masih terdapat
kendala dalam mengintegrasikan kebijakan kependudukan dalam berbagai program
sektoral. Kendala yang dihadapi dapat Kita lihat dari dua aspek yaitu pertama dari
aspek pejabat pemerintahan baik pusat maupun daerah. Kendala yang dihadapi antara
lain masalah-masalah kependudukan masih dipecah-pecah menjadi bagian kecil-kecil

69
atau sektoral yang belum dianggap sebagai kesatuan dan terintegrasi, fokus
pembangunan masih terfokus pada pertumbuhan ekonomi semata, isu kependudukan
masih menjadi isu sensitif untuk beberapa wilayah. Kedua dari aspek penduduk yaitu
penduduk belum memiliki informasi yang cukup, benar dan menyeluruh berkaitan
dengan isu-isu kependudukan yang terjadi saat ini dan di masa mendatang serta
dampak dari isu kependudukan tersebut bagi diri, keluarga dan masyarakatnya di
berbagai bidang kehidupan. Serta peran apa saja yang bisa dilakukan Kita sebagai
penduduk untuk membantu pemerintah dalam mensukseskan kebijakan
kependudukan yang telah disusun oleh pemerintah.
Disinilah, Kita sebagai tenaga Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) memiliki peran
dan tugas yang sangat penting dan strategis untuk meramu dan menjadikan
permasalahan kependudukan menjadi fokus pemikiran bersama dan ditangani secara
bergotongroyong bersama-sama seluruh komponen masyarakat. dalam bentuk bahan
advokasi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi atau disingkat dengan KIE dengan
mengangkat isu-isu kependukan yang terjadi di wilayah kerja Kita.
Bahan dasar advokasi ditujukan kepada para pemangku kebijakan baik pusat
maupun daerah serta KIE untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap
dari penduduk terhadap isu-isu kependudukan yang terjadi pada saat ini maupun di
masa mendatang sehingga penduduk mampu bersikap tanggap, responsif dan
bertanggungjawab terhadap isu–isu kependudukan yang terjadi di sekeliling mereka.
Apakah terdapat perbedaan ataukah persamaan antara bahan dasar
kependudukan yang Kita buat jika diperuntukkan sebagai bahan dasar advokasi dan
KIE?
Jawabannya adalah berbeda antara bahan dasar kependudukan yang
diperuntukkan sebagai advokasi dan bahan untuk KIE.
Dimanakah letak perbedaannya? Pertama kita lihat dari tujuan masing-masing
antara advokasi dan KIE. Bahan dasar advokasi disusun dengan tujuan agar isu-isu
kependukan dapat menjadi isu yang penting dan dapat dijadikan rujukan utama dalam
menyusun perencanaan kebijakan dan strategi serta program pembangunan di wilayah

70
kerja maupun bidang garapan yang menjadi tanggungjawab dari pejabat pemerintah
tersebut baik di pusat maupun di daerah. Outputnya terlihat dari besarnya alokasi
anggaran, manusia, kecakapan, fasilitas, dan lain–lain untuk mendukung program
kependudukan dari pejabat pemerintah tersebut ataupun dapat juga dilihat dari
dukungan pejabat pemerintah berupa keluarnya kebijakan dan strategi untuk
mendukung penerapan kebijakan kependudukan secara nasional untuk diturunkan ke
dalam kebijakan berskala daerah sesuai dengan peran dan wewenang pejabat daerah
di wiayah kerjanya masing-masing.
Sedangkan bahan dasar kependudukan yang akan dipergunakan sebagai bahan KIE
bertujuan untuk merubah mind set masyarakat agar mampu berpikir tepat dan
tanggap terhadap isu-isu kependudukan yang terjadi saat ini sampai beberapa waktu
ke depan sehingga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap tantangan kependudukan
yang terjadi saat ini sampai masa mendatang dan yang sangat penting yaitu memiliki
sikap responsif dalam mempersiapkan diri beserta keluarganya berupa peningkatan
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tepat dalam menghadapi kondisi
kependudukan tersebut dengan baik.
Penyusunan bahan dasar kependudukan yang baik, tepat sasaran dan efisien perlu
dilakukan secara cermat, sistematis dan sistemis agar tepat sasaran. Belajar dari
pengalaman yang lalu, salah satu kegagalan kegiatan advokasi dan KIE ditingkat
lapangan yang kurang berhasil berdasarkan informasi yang tertuang dalam Buku
Strategi Komunikasi dan Advokasi BKKBN Tahun 2017umumnya disebabkan karena
Sasaran advokasi dan KIE yang salah, karena tidak mampu memetakan sasaran
advokasi dan KIE dengan akurat. Akibatnya sasaran advokasi tersebut tidak bisa
mengambil keputusan yang diharapkan.
Oleh karena itu langkah pertama yang harus kita lakukan yaitu mengidentifikasi
dengan tepat siapa sasaran peruntukan bahan dasar kependudukan yang akan Kita
susun baik peruntukannya sebagai bahan dasar advokasi maupun KIE.

71
A. Mengidentifikasi sasaran
1. Sasaran Advokasi
Bahan dasar kependudukan yang kita susun sebagai bahan advokasi
peruntukannya ditujukan untuk pihak yang memiliki wewenang untuk mengambil
keputusan yang mengikat masyarakat yang berada dalam daerah wewenangnya
secara hukum dan atau memiliki status, kedudukan dan peran penting di
masyarakat baik secara keilmuan, garis keturunan maupun terpilih secara
musyawarah dan mufakat berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat
setempat. Sasaran advokasi adalah sebagai berikut:
a. Pimpinan daerah (Gubernur, Bupati, Walikota, Camat. Kepala Desa atau Kepala
Kelurahan)
b. Pimpinan lembaga (Menteri dan Kepala Badan)
c. Tokoh masyarakat (Kepala RW, Kepala RT, Kepala Karang Taruna)
d. Tokoh agama (Agama Islam (Ustad, Kiyai, ustadzah), Agama Kristen (pendeta,
pastur), Agama Hindu (Pedanda), Agama Budha (Biksu untuk laki-laki dan Bikuni
(perempuan) Konghuchu O Xue Shi

Setelah kita mengetahui sasaran advokasi langkah yang kita lakukan yaitu
melakukan pemetaan dari sasaran advokasi/pengambil keputusan/kebijakan kita
dengan melakukan pemetaan sebagai berikut
a. Latar belakang, minat perhatian, nilai yang diyakini (Misalnya pendidikan,
kesehatan , kesejahteraan masyarakat, pertanian, teknik dan pembangunan dan
lain-lain)
b. Pengetahuannya terkait Program Bangga Kencana
c. Pernyataan-pernyataan Program Bangga Kencana, apakah mendukung atau
menentang
d. Siapa saja lingkungan sosial dan politiknya. Terhadap pernyataan siapa yang
paling berpengaruh atau menjadi perhatiannya.
e. Apakah ada keinginan untuk bertindak

72
Poin penting dalam keberhasilan advokasi yang perlu dilakukan adalah pertama
bagaimana caranya menjadikan isu kependudukan sebagai isu strategis lintas
sektor.
Apa artinya? Artinya adalah keberhasilan dalam program kependudukan akan
memberikan fundamental kuat untuk mencapai target pembangunan di sektor lain.
Permasalahan dari sisi pengelolaan program Kependudukan ini akan berdampak
pada situasi dan capaian program Kependudukan baik secara regional maupun
nasional dan pada gilirannya, akan memberi dampak pada sektor pembangunan
lain.
Selain itu poin penting lainnya adalah bagaimana Kita dapat meyakinkan bahwa
dengan mengelola penduduk secara baik Kita berperan dalam menyelamatkan
bumi, menyelamatkan peradaban umat manusia dan menyelamatkan bangsa.
Implementasi Program kependudukan yaitu melalui program Bangga Kencana
yang menjadi program yang diusung oleh Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) terutama dalam mengendalikan jumlah penduduk
Indonesia serta meningkatkan kualitas penduduk Indonesia.
Kedua meyakinkan seluruh pemangku kebijakan bahwa terdapat keterkaitan
yang sangat erat antara antara program Bangga Kencana dengan pencapaian
tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu 10 dari 18 tujuan pembangunan
berkelanjutan sangat erat kaitannya dengan Program Bangga Kencana yaitu
mengentaskan segala bentuk kemiskinan, menghentikan kelaparan, meningkatkan
ketahanan pangan dan nutrisi serta mempromosikan pertanian yang berkelanjutan,
menjamin kehidupan yang sehat dan mempromosikan kesejahteraan bagi semua
penduduk dalam segala usia, menjamin pendidikan inklusif dan merata serta
mempromosikan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua, mencapai
kesetaraangender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan,
menjamin ketersediaan dan manajemen air bersih serta sanitasi yang berkelanjutan
untuk semua,mempromosikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif
dan berkelanjutan, kesempatan kerja yang produktif dan menyeluruh serta

73
pekerjaan yang layak bagi semua, membangun infrastruktur yang tangguh,
mempromosikan industri yang inklusif dan berkelanjutan serta mendorong inovasi,
mengambil aksi nyata untuk menghadapi perubahan iklim dan dampaknya,
melindungi, mengembalikan, mempromosikan pemanfaatan ekosistem yang
berkelanjutan. Manajemen hutan yang berkelanjutan. Memerangi kekeringan,
menghentikan dan mengembalikan degradasi lahan serta menghentikan kehilangan
keanekaragaman hayati
(Sumber: Deputi KementerianPPN/Bappenas, Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan
Kebudayaan)

Ketiga memberikan wawasan pengetahuan tentang tantangan dan ancaman


yang ditimbulkan apabila Program Bangga Kencana tidak mendapatkan dukungan
dari pemangku kebijakan daerah. Tantangan dan ancaman yang timbul antara lain
dari segi kesehatan, pemerintah daerah harus mengeluarkan biaya kesehatan yang
lebih besar bagi pejabat pemerintahan dalam bidang kesehatan serta semakin
sering seorang ibu melahirkan akan menyebabkan peningkatan resiko kematian
ibu dan bayi. Dalam bidang sosial,pendidikan dan kebudayaan dan kebudayaan
tantangan yang ditimbulkan apabila laju pertumbuhan penduduk tidak terkendali
memberikan tantangan dalam penyediaan lapangan kerja harus sesuai dengan
tingkat pertumbuhan penduduk. Anak yang putus sekolah akan masuk bursa
tenaga kerja lebih awal (tanpa keterampilan dan kompetensi), menurunkan
kesempatan perempuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan serta potensi
permasalahan sosial semakin tinggi yang mengakibatkan terganggunya stabilitas
keamanan. Upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan menjadi sulit tercapai.
Kualitas layanan umum, tingkat kemakmuran, indeks kebahagiaan, dan lain-lain
menjadi tantangan yang harus dipertimbangkan secara seksama.

2. Sasaran KIE
Ada tiga sasaran dari KIE yaitu individu, kelompok dan masyarakat. Masing-
masing sasaran memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya. Berikut
Kita akan bahas satu persatu sasaran KIE

74
a. Individu
KIE Individu, adalah kegiatan penyuluhan yangdilakukan oleh perorangan antara
lain tokoh masyarakat/agama, bidan di desa/petugas medis, PLKB (Petugas
Lapangan Keluarga Berencana), Kader PKK, dan tenaga penggerak masyarakat
tingkat desa (PPKBL, sub PPKBD, kelompok akseptor), dalam memberikan
penjelasan tentang program Banga Kencana kepada keluarga. Sasaran KIE
individu adalah sasaran utama Program Bangga Kencana yaitu Pasangan Usia
Subur (PUS) dan remaja sebagai calon PUS
Karakteristik Sasaran
1) Remaja calon PUS
Kondisi jasmani dan ruhani yang berada dalam kondisi prima. Usia produktif.
Contoh Pesan Kependudukan
a) Menjadi remaja yang utuh dan paripurna yaitu remaja religius (remaja
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dengan totalitas
pemikiran sikap dan perilaku), remaja sehat (sehat jasmani dengan
menghindari perilaku berisiko dengan menjauhi NAPZA dan seks bebas
sehat pemikiran cerdas mampu berpikir tepat, memiliki Jiwa Leadership
dan Enterpreneurship Kreatif, sehat sosial dengan mennjukkan kepekaan
dan jiwa sosial yang tinggi mampu berinteraksi, sosialisasi, dan
komunikasi dengan masyarakat dengan baik bukan remaja yang suka
menyendiri, egois, tidak suka kerjasama & kebersamaan dan sehat
psikologis mampu mengendalikan pikirannya, berkarakter, berani
menggali potensi, minat, bakat diri, Pikiran lebih fokus untuk melakukan
yang terbaik di masa kini, memiliki keseriusan untuk menghasilkan karya
terbaiknya terutama untuk kemaslahatan masyarakat.
b) Menyadari pentingnya membuat perencanaan keluarga dengan baik dan
terprogram (usia ideal menikah), persiapan moril dan materiil untuk
membentuk keluarga

75
2) Pasangan pengantin baru
Beberapa masalah yang umum dihadapi pasangan pengantin baru adalah
penetapan peran dalam hidup berkeluarga, keuangan, dan hubungan
dengan mertua/keluarga pasangan. Pengantin baru sering dihadapkan
dengan berbagai perbedaan yang ketika belum menikah tidaklah penting
atau bahkan tidak ada, tapi kini justru menjadi masalah utama.
Contoh Pesan Kependudukan
Para konselor perlu memberi edukasi bagi suami dan anggota keluarga
lainnya perihal merencanakan jumlah anak dan Ikut Program KB, waktu dan
pemberian jarak kelahiran.
3) Pasangan yang baru pertama kali memiliki anak
Pasangan yang masih ingin memiliki anak adalah kelompok sasaran yang
penting dan sejalan dengan pendekatan siklus kehidupan/gaya hidup
secara keseluruhan.
Contoh Pesan Kependudukan
Strategi pesan yang digunakan disini adalah mengingatkan calon ibu bahwa
bahwa Usia Ideal untuk Melahirkan yaitu 20 – 34 tahun, jarak kehamilan yang
ideal antara dua kehamilan adalah 2-5 tahun. Ibu membutuhkan waktu
untuk memulihkan kesehatan dan kekuatannya begitu juga dengan bayi
yang baru dilahirkan akan membutuhkan ibu menyusui dengan eksklusif dan
pemberian ASI hingga 2 tahun. Keinginan ibu untuk menjarangkan kehamilan
perlu ditekankan, dan ibu perlu sudah memahami bahwa saat persalinan
mereka akan ditanya perihal preferensi KB mereka, dan membuat keputusan
ber-KB adalah hal yang biasa dilakukan. Aspek Kesehatan dan Gizi yang
perlu diperhatikan sebelum dan selama kehamilan seperti anemia.
Pemeriksanaan Rutin Kesehatan bagi bayi dan anak termasuk imunisasi dan
aspek kehatan gizi bayi dan anak. Selain kesehatan orangtua diharapkan
mampu mendidik anak dengan baik sehingga mampu menjadi generasi yg
tangguh dan trenginas

76
4) Pasangan yang tidak menginginkan anak lagi
Kelompok pasangan yang ketiga ini umumnya berusia di atas 35 tahun. Mirip
seperti kelompok lainnya, pengetahuan mereka tentang keluarga berencana
juga terbatas, tergantung pada pengalaman masing-masing pasangan
dengan anak-anak sebelumnya. Informasi umumnya diperoleh dari teman
atau tetangga, yang tidak selalu tepat atau relevan dengan kebutuhan dan
situasi mereka. Data ICMM (Improving Contraceptive Methods Mix)
menunjukkan bahwa informasi khusus seperti metode mana yang paling
tepat untuk tujuan kesuburan tertentu, dan berapa lama sebuah metode
tertentu dapat mencegah kehamilan juga tidak umum diketahui.
Contoh Pesan Kependudukan
Pemberian informasi khusus seperti metode mana yang paling tepat untuk
tujuan kesuburan tertentu, dan berapa lama sebuah metode tertentu dapat
mencegah kehamilan juga

b. Kelompok
Sasaran KIE kedua yaitu KIE Kelompok kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh
tim/perorangan dalam memberikan penyuluhan tentang program Bangga
Kencana kepada kelompok masyarakat yang terdiri antara 2-15 maksimum 20
orang seperti kelompok kegiatan keluarga yang memiliki anak balita (BKB),
keluarga yang memiliki anak remaja (BKR), keluarga yang memiliki lansia (BKL)
serta kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS)
serta kelompok – kelompok yang ada di masyarakat lainnya seperti kelompok
pengajian, komunitas yang memiliki hobi tertentu dan lain sebagainya. Berikut
ini akan diuraikan contoh uraian karakterik KIE kelompok
1) Keluarga yang memiliki anak balita
Contoh Pesan Kependudukan
Anak balita merupakan potensi dan investasi SDM Bangsa di masa depan

77
Negara dapat menjadi sangat kuat dan kaya bila dikelola oleh SDM yang
berkualitas. Lima tahun pertama sangat menentukan perkembangan
kepribadian manusia.
2) Keluarga yang memiliki anak remaja
Contoh Pesan Kependudukan
Mendampingi anak remaja dalam merencanakan kehidupan berkeluarga,
mendorong untuk mengenali seluruh potensi remaja yang dimilikinya serta
mengoptimalkan seluruh ptensi yang dimilikinya
3) Keluarga yang memiliki lansia.
Contoh pesan kependudukan
Perencanaan Hari Tua yang Dilakukan Sejak Dini antara lain Perencanaan
Ekonomi, Sosial, dan Psikologis sehingga mampu menjadi lansia idaan yaitu
lansia yang sehat fsisik, sehat sosial, psikologis dan mandiri secara ekonomi

c. Masyarakat/massa
KIE Massa adalah kegiatan penerangan yang dilakukan oleh
tim/perorangan kepada masyarakat tentang program Bangga Kencana
dalam jumlah yang besar. KIE massa merupakan suatu proses KIE yang dapat
dilakukan secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat
dalam jumlah yang besar. PKB/PLKB bisa berkoordinasi dengan OPDKB untuk
minta bantuan mobil penerangan (Mupen) untuk menayangkan film program
KKB dan mobil pelayanan (Muyan) untuk melakukan pelayanan KB di saat
kegiatan-kegiatan momentum.

Poin penting dalam keberhasilan KIE yang perlu dilakukan adalah


bagaimana merubah pola pikir masyarakat sehingga memiliki perilaku yang
adaptif (berpikir tepat) & responsif (peka/ tanggap) dengan persoalan
kependudukan melalui keikutsertaan mereka secara aktif dalam kelompok
kegiatan yang dikelola oleh BKKBN.

78
B. Penyusunan Materi Kependudukan
Dalam penyusunan materi Kependudukan ada beberapa langkah yang harus
dilakukan
1. Identifikasi dan pelajari kondisi kependudukan Indonesia secara nasional dan
temukan isu strategis dari pembangunan berwawasan kependudukan yang
terjadi pada saat ini dan beberapa waktu ke depan. Kita dapat melihat data
kependudukan secara nasional seperti data Sensus Penduduk dan Berbagai
Jenis Hasil Survey kependudukan yang berskala nasional yang terbaru
dengan fokus analisisnya terletak pada gambaran kependudukan nasional.
Penjelasan tentang hal ini telah dijelaskan pada bab III.
2. Selaraskan dengan kondisi kependudukan pada skala lokal. Manakah dari
kondisi kependudukan Indonesia secara nasional yang selaras dengan
kondisi kependudukan secara lokal. Kita lakukan identifikasi secara cermat.
Sebagai sumber Data Kependudukan, Kita masih bisa menggunakan sensus
penduduk ataupun berbagai survey kependudukan, namun yang kita
fokuskan pada data provinsi ataupun wilayah yang lebih kecil. Disarankan kita
tambahkan dengan data SIGA maupun rumah data sehingga diperoleh data
kependudukan yang benar-benar menggambarkan kondisi kependudukan
yang nyata dari wilayah binaan Kita. Pada tahapan ini Kita akan mendapatkan
fokus pada situasi kependudukan yang terjadi pada wilayah binaan Kita. Bisa
saja kondisi kependudukan yang terjadi secara nasional juga di temui pada
kondisi lokal bisa juga tidak. Tidak menutup kemungkinan Kita akan
mendapatkan isu strategis baru yang tidak ditemukan dalam skala nasional.
3. Refleksikan isu strategis nasional ke dalam tema lokal yang benar-benar
dirasakan oleh penduduk di wilayah binaan. Beberapa contohnya antara lain
Isu angka fertilitas penduduk kemudian dianalisis dengan fenomena
pernikahan dini yang kemungkinan marak terjadi serta cakupan kesertaan
ber-KB yang kemungkinan masih rendah, berdasarkan isu ini maka ditelaah

79
bagaimana kondisi pelayanan Keluarga Berencana di Puskesmas atau klinik-
klinik bidan swasta, ditelaah efektivitas kelompok kegiatan seperti PIK-
Remaja atau Bina Keluarga Remaja, Isu Peningkatan Kualitas Penduduk
kemudian dianalisis tentang cakupan layanan pendidikan maupun kesehatan
beserta dengan efektivitasnya, Isu Bonus Demografi, kemudian dianalisis
tentang struktur penduduk secara lebih mikro baik di level desa maupun
kabupaten kota, yang kemudian disusun rencana advokasi dan
penanganannya, Isu Migrasi Penduduk, kemudian di telaah mengenai apa
alasannya terjadi migrasi penduduk di daerahnya, Isu keterpaduan
penanganan isu kependudukan, dapat diangkat menjadi isu pelaksanaan
program di Kampung KB sebagai bentuk sinergitas ditingkat yang paling
mikro.
Tahapan ini bertujuan agar petugas lapangan dapat melihat gambaran
kondisi kependudukan yang sesuai wilayah binaannya dan membuatnya agar
menjadi menjadi lebih operasional dan dapat tertangani permasalahannya.
4. Setelah mendapat gambaran secara nyata kondisi kependudukan yang
terjadi di wilayah binaannya kita susun bahan advokasi dan KIE
penangananya.
5. Selain kita mencermati gambaran tentang isu strategis dan rencana bahan
advokasi dan KIE penangannya yang bersifat kuratif Kita juga perlu
mempersiapkan bahan advokasi dan KIE yang bersifat preventif yaitu
dengan cara membuat profil yang memuat kondisi kependudukan dari
penduduk yang berada di wilayah binaan yang meliputi kuantitas (jumlah,
struktur umur, persebaran) serta kuaitas ( kondisi ekonomi, sosial dan
budaya).
6. Buat list potensi dan tantangan terhadap masing-masing aspek. Contohnya
jika jumlah penduduk besar, maka potensi dan tantangan yang dihadapi apa.
Begitu pula sealiknya jika jumlah penduduk kita kecil buat list apa tantangan
dan potensi yang akan perlu dipersiapkan dan difasiitasi. Profil

80
kependudukan serta list potensi dan tantangan kependudukan juga perlu
kita persiapkan sebagai bahan advokasi dan KIE yang kita bisa usulkan dalam
forum-forum strategis yang ada di wilayah binaan kita, sehingga aspek
kependudukan dapat menjadi rujukan utama dalam penyusunan program
pada berbagai lintas sektor

C. Pemilihan media yang akan digunakan


Media /Saluran KIE Bangga Kencana adalah alat bantu/wadah yang digunakan
untuk menyampaikan informasi/pesan Program Bangga Kencana kepada
khalayak.
1. Media audio-visual, berupa video, iklan layanan masyarakat untuk televisi,
iklan layanan masyarakat untuk media sosial (Youtube, Instagram, Facebook,
Twitter dan lain-lain), iklan layanan masyarakat untuk media videotron dan
media - media lainnya yang sejenisnya.
2. Media audio, berupa iklan layanan masyarakat untuk radio
3. Media cetak, berupa poster, iklan di surat kabar, iklan di majalah
4. Media luar-ruang/outdoor, berupa spanduk, baliho, billboard, dan lain-lain
5. Media digital, berupa iklan banner baik statis maupun yang bergerak untuk
di website/portal, media sosial, dan lain-lain

Pemilihan media yang akan digunakan sebagai media KIE harus dilakukan
secara cermat dan tepat tidak boleh hanya karena suka atau ketidaksukaan
terhadap media ataupun hanya melihat aspek kecanggihan media semata.
melainkan harus mempertimbangkan karakteristik dari sasaran advokasi dan KIE
serta pada ketersediaan sarana dan prasarana yang tersedia dalam membuat,
memanfaatkan serta menayangkan pesan kependudukan yang kita rumuskan.
Keselarasan media yang digunakan dengan karakterisistik sasaran dan
ketersediaan sarana dan prasarana akan membuat penggunaan media menjadi
lebih efektif dan efisien.

81
Kita harus mendapatkan gambaran secara utuh siapa dan bagaimana
karakteristik sasaran advokasi maupun KIE Kita. Informasi yang kita kumpulkan
berkaitan dengan karakteristik sasaran seperti usia, minat, kondisi sosial budaya
dan kebutuhan informasi sasaran menjadi acuan dalam pemilihan media
Sarana dan prasarana juga perlu kita pertimbangkan dalam menentukan
media apa yang akan kita gunakan. Contohnya apabila wilayah binaan kita
menyukai pementasan budaya media yang kita gunakan adalah media yang
dapat menayangkan pementasan budaya ini serta mengintegrasikan isu
kependudukan ke dalam pementasan budaya.
Media advokasi maupun KIE ada yang memiliki jenis media yang bisa
langsung kita pergunakan karena telah tersedia ada juga yang kita rancang
sendiri secara khusus sesuai dengan kondis dan situasi yang ada di wilayah
binaan kita.
Bisa saja Kita hanya menggunakan 1 jenis media, namun bisa juga lebih.
Terkadang kita hanya membutuhkan satu media saja tetapi kadang kita
membutuhkan lebih dari satu media. Pemilihan media juga bergantung pada
dimana sasaran KIE Kita sebagian besar berada Misalnya, jika kita ingin
memasang spanduk pastikan lokasinyamerupakan pusat keramaian atau
banyak orang yang lalu lalang di lokasi tersebut. Memilih lokasi yang tepat adalah
cara kita memperbesarkesempatan materi KIE kita terpapar ke lebih banyak
orang. Begitu juga sebelum kita memilih media apakah melalui radio, televisi
ataupun media sosial, pilihlah media yang banyak diamnfaatkanoleh sasaran KIE
Kita.

D. Forum yang dapat dimanfaatkan


Setelah Kita menentukan sasaran, menyusun bahan, langkah berikutnya adalah
menyampaikan ke dalam forum-forum straegis yang tersedia di wilayah binaan.
Di dalam Undang-undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga dan Pembangunan Keluarga, pasal

82
17 terdapat pesan penting bagi pemerintah untuk mengembangkan wawasan
kependudukan penduduk dengan cara meningkatkan pemahaman mengenai
pembangunan kependudukan yang berkelanjutan dalam rangka mewujudkan
penduduk yang berkualitas. Berikut akan diuraikan forum-forum yang bisa
dimanfaatkan dalam menyampaikan isu strategis kependudukan kepada
sasaran advokasi maupun KIE.
1. Forum musyawarah dan perencanaan penganggaran di wilayah binaan
contohnya musyawarah desa khususnya musyawarah perencanaan
pembangunan desa menghasilkan kesepakatan perencanaan pembangunan
desa.

2. Forum pendidikan
Salah satu pendekatan yang dianggap efektif untuk membentuk pola pikir,
sikap dan perilaku melalui pendekatan pendidikan.
a. Jalur Pendidikan formal
Jalur Pendidikan Formal adalah jalur pendidikan yang berstruktur dan
berjenjang mulai dari pendidikan dasar (SD/MI), pendidikan menengah
(SLTP/MTS dan SLTA/MA) dan pendidikan tinggi
b. PendidikanNon Formal
Jalur Pendidikan NonFormal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan
formal yang dapat dilaksanakan secara berstruktur dan berjenjang
c. Pendidikan Informal
Jalur Pendidikan InFormal adalah jalur pendidikan keluarga, lingkungan,
kelompok, masyarakat serta media massa
3. Forum Keagamaan dan Sosial Kemasyarakatan
a. Forum Keagamaan
Penduduk Indonesia merupakan penduduk yang terkenal sebagai
penduduk beragama yaitu penduduk yang mengakui keberadaan dan

83
kebesaran Tuhan Yang Maha Esa serta taat menjalankan ajaran agama
serta kepercayaan yang dianutnya masing-masing.

Dalam rangka meningkatkan ketakwaan maing-masing umat beragama


kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memperdalam pengetahuan dan
pemahaman terhadap ajaran agama masing-masing, terbentuklah
forum-forum yang berlatar belakang keagamaan seperti pengajian,
sekolah minggu serta forum agama lainnya. Forum-forum berlatar
belakang agama tersebut merupakan forum yang sangat strategis untuk
membantu pemerintah menyosialisasikan program-program
pembangunan salah satunya dalam rangka mengembangkan wawasan
kependudukan penduduk dengan cara meningkatkan pemahaman
mengenai pembangunan kependudukan yang berkelanjutan dalam
rangka mewujudkan penduduk yang berkualitas.

Strategi yang digunakan dalam mengkomunikasikan pesan


kependudukan ini ke dalam forum keagamaan yaitu dengan mengawinkan
dan mengintegrasikan pesan-pesan kependudukan dengan muatan
keagamaan masing-masing agama dan kepercayaan. Oleh karena itu
dibutuhkan kerjasama yang baik dan erat antara pemerintah dan para
pemuka agama.

b. Forum Sosial Kemasyarakatan


Selain Forum pendidikan dan keagamaan, forum yang tidak kalah strategis
dalam mengembangkan wawasan kependudukan penduduk dengan cara
meningkatkan pemahaman mengenai pembangunan kependudukan yang
berkelanjutan dalam rangka mewujudkan penduduk yang berkualitas
kepada masyarakat yaitu forum sosial kemasyarakatan seperti forum
arisan, karang taruna, paguyuban, komunitas dan lain-lain. Forum –forum

84
tersebut tumbuh subur karena sesuai dengan karakteristik penduduk
Indonesia yang guyub, senang berkumpul, suka bergotong royong.

E. Rangkuman
Pembangunan berwawasan kependudukan adalah pembangunan yang
disesuaikan dengan potensi dan kondisi penduduk yang ada. Penduduk harus
dijadikan titik sentral dalam proses pembangunan. Penduduk harus dijadikan
subjek dan objek dalam pembangunan. Pembangunan adalah oleh penduduk
dan untuk penduduk. Untuk menjadikan penduduk sebagai titik sentral dalam
proses pembangunan dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh untuk
meyakinkan para pemangku kebijakan baik di tingkat nasional maupun daerah
untuk memasukan unsur kependudukan sebagai pondasi utama dalam
membuat perencanaan pembangunan serta proses untuk memberikan
wawasan pengetahuan yang dapat merubah pemahaman, keterampilan serta
sikap masyarakat sehingga peka terhadap isu-isu kependudukan yang terjadi di
sekelilingnya, mampu berpikir tepat dan tanggap terhadap isu-isu
kependudukan yang terjadi dan yang sangat penting yaitu memiliki sikap
responsif dalam mempersiapkan diri beserta keluarganya berupa peningkatan
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tepat dalam menghadapi kondisi
kependudukan tersebut dengan baik.
Penyusunan bahan dasar kependudukan yang baik untuk tujuan advokasi
dan KIE yang tepat sasaran dan efisien perlu dilakukan secara cermat, sistematis
dan sistemis agar tepat sasaran. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi
mengidentifikasi sasaran dengan tepat, penyusunan materi, pemilihan media
yang akan digunakan serta memilih forum yang strategis yang dapat digunakan
dalam kegiatan advokasi dan KIE bertemakan kependudukan

85
F. Latihan
Untuk mendalami BAB V ini kerjakan latihan berikut ini!
1. Identifikasi isu kependudukan yang berskala nasional yang selaras dengan
kondisi kependudukan di wilayah binaan!
2. Pilih satu (1) isu kependudukan dan buatkan bahan advokasi dan KIE dengan
menggunakan salah satu media yang cocok dengan karakteristik sasaran!
3. Ceritakan pengalaman Anda mengadvokasi isu kependudukan kepada tokoh
formal!
4. Diskusikan dengan teman Anda, bagaimana cara melakukan Advokasi isu
kependudukan kepada Bapak Bupati/Walikota!
5. Buatlah policy brief isu kependudukan di wilayah Anda!

G. Tes Formatif
Jawablah pertanyaan berikut dengan memilih pada jawaban a, b, c, d atau e pada
jawaban yang paling tepat!
1. Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam melakukan advokasi adalah...
a. Dana advokasi
b. Sasaran advokasi
c. Tempat advokasi
d. Wilayah advokasi
e. Alat advokasi
2. Salah satu sasaran advokasi yang akan dituju adalah pimpinan daerah, karena...
a. Pengambil kebijakan
b. Penyedia anggaran
c. Penyalur bantuan
d. Pendapatnya penting
e. Keuntungan masyarakat
3. Contoh pesan KIE terhadap remaja adalah...
a. Berkumpul bersama

86
b. Bermain game kesukaan
c. Menikah usia ideal
d. Belanja di market place
e. Jalan-jalan ke mall
4. Penyusunan materi kependudukan, hal utama harus memperhatikan...
a. Keindahan tulisan
b. Kegunaan gambar
c. Peletakan huruf
d. Warna huruf
e. Data kependudukan yang akurat
5. Media sosial yang dapat digunakan dalam penyampaian isu kependudukan
seperti...
a. Mobile legend
b. Game pesawat
c. Game teka-teki
d. Youtube, instagram, facebook
e. Akun demo masak

H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Setelah mengerjakan Tes Formatif pada BAB IV ini, coba Bapak/Ibu nilai tes
tersebut dan cocokkan dengan kunci jawaban yang tersedia dalam modul ini,
berapa nilai yang diperoleh. Jika Bapak/Ibu dapat menjawab 5 soal dengan
benar maka Bapak/Ibu dianggap menguasai Pokok Bahasan ini, dan Bapak/Ibu
dapat melanjutkan ke BAB berikutnya akan tetapi jika jawaban benar Bapak/Ibu
belum mencapai 4 soal, berarti Bapak/Ibu perlu mengulang mempelajari Pokok
Bahasan ini kembali dengan lebih baik.

87
Selamat! Anda telah mempelajari mata pelatihan “Pembangunan Berwawasan
Kependudukan” dengan sukses. Selanjutnya, untuk mengakhiri modul ini, kami
persilahkan untuk mencermati sekali lagi rangkuman yang merupakan intisari
Pembahasan Topik Pembangunan Berwawasan Kependudukan.

A. Kesimpulan
Pembangunan berwawasan kependudukan mengandung makna bahwa
pembangunan harus disesuaikan dengan potensi dan kondisi penduduk yang ada.
Artinya penduduk harus dijadikan titik sentral dalam proses pembangunan yaitu
sebagai subjek dan objek dalam pembangunan. Pembangunan adalah oleh
penduduk dan untuk penduduk. Selain itu Pembangunan berwawasan
kependudukan juga pembangunan sumberdaya manusia. Artinya pembangunan
yang dilakukan harus lebih menekankan pada peningkatan kualitas sumber daya
manusia dibandingkan dengan pembangunan fisik semata-mata.
Kedudukan strategis yang dimiliki oleh penduduk ini menjadikan data dan
informasi yang benar dan utuh tentang siapa dan bagaimana kondisi penduduk di
suatu negara mutlak dibutuhkan sebagai bahan rujukan dalam pembuatan
kebijakan pembangunan.
Untuk mendapatkan informasi yang benar tentang kondisi kependudukan yang
tepat, sehingga dapat dihasilkan kebijakan yang tepat sasaran, maka dibutuhkan
sumber data kependudukan yang valid dan terpercaya
Untuk menjadikan penduduk sebagai titik sentral dalam proses pembangunan
dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh untuk meyakinkan para pemangku
kebijakan baik di tingkat nasional maupun daerah untuk memasukan unsur

88
kependudukan sebagai pondasi utama dalam membuat perencanaan
pembangunan serta proses untuk memberikan wawasan pengetahuan yang dapat
merubah pemahaman, keterampilan serta sikap masyarakat sehingga peka
terhadap isu-isu kependudukan yang terjadi di sekelilingnya, mampu berpikir tepat
dan tanggap terhadap isu-isu kependudukan yang terjadi dan yang sangat penting
yaitu memiliki sikap responsif dalam mempersiapkan diri beserta keluarganya
berupa peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tepat dalam
menghadapi kondisi kependudukan tersebut dengan baik.
Penyusunan bahan dasar kependudukan yang baik untuk tujuan advokasi dan
KIE yang tepat sasaran dan efisien perlu dilakukan secara cermat, sistematis dan
sistemis agar tepat sasaran. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi
mengidentifikasi sasaran dengan tepat, penyusunan materi, pemilihan media yang
akan digunakan serta memilih forum yang strategis yang dapat digunakan dalam
kegiatan advokasi dan KIE bertemakan kependudukan.

B. Evaluasi Sumatif
1. Essay
Kerjakan Evaluasi berikut dengan seksama!
1. Jelaskan menurut bahasa sendiri makna dari pembangunan berwawasan
kependudukan!
2. Jelaskan dua (2) contoh Interalasi kependudukan dengan pembangunan!
3. Jelaskan tiga (3) bentuk kontribusi Program KKBPK dalam Pembangunan
Berwawasan Kependudukan
4. Jelaskan kondisi kependudukan yang terjadi di Indonesia saat ini dari
berbagai aspek!
5. Jelaskan Jenis Data dan sumber data yang diketahui!
6. Jelaskan manfaat data kependudukan bagi penduduk itu sendiri,
pemerintah maupun bagi penyusunan Program Bangga Kencana!

89
7. Jelaskan langkah-langkah dalam menyusun bahan advokasi dan KIE
bertemakan kependudukan!

2. Pilihan Ganda
a. Petunjuk Pengerjaan soal
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dari pertanyaan yang
diberikan dengan meng-klik abjad A, B, C, D atau E pada pilihan yang
tersedia!

b. Uraian Soal
1. Dalam konsep Pembangunan Berwawasan Kependudukan, penduduk
merupakan…
A. Sentral pembangunan
B. Beban pembangunan
C. Tujuan pembangunan
D. Objek pembangunan
E. Bahan pembangunan

2. Perhatikan prinsip atau asas pengelolaan pembangunan berwawasan


kependudukan di bawah ini:
(1) Mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan
dasar manusia
(2) Setiap penduduk dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat serta
hak asasi manusia yang sama
(3) Penduduk pada seluruh dimensinya harus menjadi titik sentral
pembangunan berkelanjutan
(4) Memerlukan kepastian hukum yang menguntungkan kelompok
(5) Memiliki kepentingan dalam melakukan pembangunan di segala
bidang

90
Prinsip atau asas pengelolaan pembangunan berwawasan kependudukan
meliputi;

A. (1), (4), (4)


B. (2), (3), (4)
C. (1),(3),(4)
D. (1), (2), (5)
E. (1), (2), (3)

3. Dari pernyataan Integrasi kependudukan dengan pembangunan di bawah


ini…
(1) penduduk tidak hanya diperlakukan sebagai “obyek” akan tetapi juga
“subyek” pembangunan.
(2) Penduduk memerlukan perekonomian yang stabil
(3) mengembangkan mekanisme “bottom up” dalam perencanaan
pembangunan.
(4) jika variabel penduduk diabaikan dalam perencanaan pembangunan
maka sangat mustahil pembangunan berkelanjutan dapat dicapai
(5) Penduduk merupakan bagian dari tujuan politik tertentu
Yang merupakan Integrasi kependudukan dengan pembangunan yang
sangat penting yaitu…
A. (1), (2), (5)
B. (2), (4), (5)
C. (1), (3), (5)
D. (1), (2), (3)
E. (1), (3), (4)

91
4. Kondisi jumlah dan struktur umur penduduk Indonesia yang
didominasi penduduk muda saat ini menjadi peluang di bidang
ekonomi, yaitu…
A. Mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri
B. Membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya
C. Memberikan bantuan yang meringankan penduduk
D. Menjadi pekerja yang tidak professional
E. Menjadi beban negara

5. Dampak lingkungan dari pertambahan penduduk yang tidak terkendali


dan perbuatan manusia yang di luar kontrol, terjadinya kerusakan
lingkungan, di antaranya;
(1) Perambahan hutan yang sembarangan
(2) Pembuangan air limbah ke laut dan sungai
(3) Pembangunan pemukiman di lahan pertanian
(4) Naiknya jual beli masyarakat di pedesaan
(5) Kurangnya penyerapan air hujan
(6) Pertumbuhan sentra-sentra ekonomi di pesisir pantai
Yang menyebabkan kerusakan lingkungan adalah..
A. (1), (2), (3), (4)
B. (1), (3), (5), (6)
C. (1), (2), (3), (5)
D. (1), (2, (3), (6)
E. (1), (3), (4), (6)

6. Berikut ini adalah manfaat dari data kependudukan bagi Penyusunan


Program Bangga Kencana, kecuali…..
A. Sebagai sumber data yang terkini, akurat dan terpercaya untuk dijadikan
sebagai dasar perencanaan dan kebijakan program Bangga Kencana

92
B. Sebagai pusat data dan intervensi permasalahan pembangunan
keluarga kependudukan dan Keluarga Berencana yang sesuai dengan
tujuan dari Program Bangga Kencana
C. Sebagai sarana bagi penduduk untuk mendapatkan hak-hak yang
dimiliki sebagai penduduk resmi di suatu negara
D. Sebagai bahan evaluasi pencapaian program Bangga Kencana
E. Sebagai bahan acuan tahun berikutnya

7. Jenis data kependudukan di bawah ini yang merupakan jenis data yang
menunjukkan kuantitas penduduk adalah …..
A. Laju pertumbuhan penduduk
B. status kesehatan,
C. angka kematian,
D. tingkat pendidikan
E. Migrasi penduduk

8. Berikut ini merupakan dokumen kependudukan yang dihasilkan melalui


Sistem Informasi Administrasi Kependudukan, kecuali..
A. Nomor Induk Kependudukan
B. Kartu Keluarga
C. Kartu kepemilikan tanah
D. Akta nikah
E. PBB

9. Berikut ini adalah poin-poin penting yang dapat dirumuskan dalam


penyusunan bahan advokasi terkait pembangunan berwawasan
kependukan, kecuali …

A. menjadikan isu kependudukan sebagai isu strategis lintas sektor.


B. Menjadikan isu kependudukan sebagai sentral dari pembangunan

93
C. meyakinkan bahwa dengan mengelola penduduk secara baik Kita
berperan dalam menyelamatkan bumi, menyelamatkan peradaban
umat manusia dan menyelamatkan bangsa
D. meyakinkan seluruh pemangku kebijakan bahwa terdapat keterkaitan
yang sangat erat antara antara program Bangga Kencana dengan
pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan
E. Implementasi Program kependudukan melalui program Bangga
Kencana) terutama dalam mengendalikan jumlah penduduk dapat
menurunkan kualitas penduduk Indonesia.

10. Manakah langkah-langkah di bawah ini yang bukan merupakan langkah


dalam penyusunan materi Kependudukan ke dalam bahan advokasi
dan KIE bertemakan kependudukan

A. Identifikasi dan pelajari kondisi kependudukan Indonesia secara


nasional dan temukan isu strategis dari pembangunan berwawasan
kependudukan yang terjadi pada saat ini dan beberapa waktu ke
depan.
B. Selaraskan dengan kondisi kependudukan pada skala lokal.
C. Gunakan profil tentang kondisi kependudukan nasional secara
langsung sebagai bahan KIE dan advokasi
D. Setelah mendapat gambaran secara nyata kondisi kependudukan yang
terjadi di wilayah binaannya kita susun bahan advokasi dan KIE
penangananya.
E. Identifikasi dan pelajari kondisi kependudukan Indonesia secara
nasional dan temukan isu strategis dari pembangunan berwawasan
kependudukan yang terjadi pada saat ini dan beberapa waktu ke
depan

94
C. Kunci Jawaban

BAB II BAB III BAB IV BAB V Evaluasi


Sumatif

1. A 1. C 1. E 1. B 1. A
2. E 2. A 2. A 2. A 2. E
3. C 3. C 3. C 3. C 3. C
4. B 4. E 4. A 4. E 4. B
5. C 5. C 5. B 5. D 5. C
6. C
7. A
8. C
9. E
10. C

95
1. Bappenas. 2018. Penduduk Sebagai Modal Pembangunan. Jakarta : Bappenas
2. Bappenas. 2019. Transisi Demografi dan Epidemiologi : Permintaan Pelayanan
Kesehatan di Indonesia. Jakarta : Bappenas
3. BPS, 2016. Profil Penduduk Hasil SUPAS 2015. Jakarta : BPS.
4. BPS. 2018. Kajian Migrasi Internasional, Hasil Sensus Penduduk 2010 dan SUPAS
[Link] : BPS.
5. BPS. 2020. Profil Kemiskinan di Indonesia, Maret 2020. Berita Resmi Statistik, No.
56/07/Th. XXIII, 15 Juli 2020.
6. BPS. 2020. Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2020. Berita Resmi
Statistik, No.86/11/Th. XXIII, 05 November 2020
7. BPS. 2020. Indeks Pembangunan Manusia 2019. Jakarta : BPS
8. BPS. 2020. Indeks Pembangunan Manusia 2019. No. 21/02/Th. XXIII, 17 Februari
2020 Berita Resmi Statistik.
9. Brodjonegoro, Bambang, P. 2011. Demographic Dividend. Jakarta : Fiscal Policy,
Ministry
of Finance, Republic of Indonesia.
10. Salim, Emil., Sri Murtiningsih Adioetomo, Evi Nurvidya Anwar, Nizam, and Alvin
Pratama. 2015, Populatioin Dynamcs and Sustainable Development in Indonesia.
Jakarta : UNFPA
11. SMERU. 2017. “Dari MDGs ke SDGs : Memetik Pelajaran dan Menyiapkan Langkah
Kongkrit”. Buletin No 2/2017. Jakarta : SMERU.
12. Sukamdi dan Ghazy Mujahid. 2015. Internal Migration in Indonesia. Jakarta:
UNFPA.
13. Sukamdi. 2018. Dinamika Migrasi Internal dan Internasional di Indonesia. Paper
disiapkan untuk Bappenas dan UNFPA (Unpublished Paper)

96
14. UNDP. 2011. People Centered Dvelopment. Empowered Lives, Resilient Nations.
Newyork: UNDP.
15. World Bank. 2009. Indonesia Economic Quarterly. Jakarta : The World Bank
16. Adioetomo, Sri Moertiningsih. 2017. ‘Regional Development in the Era of
Demographic Changes: the Case of Indonesia’. In Pratomo, Devanto Shastra,
Dias Satria, Budy P. Resosudarmo, D.S. Priayarsono, Hefrizal Handra eds.
Demographic Changes and Regional Development in Indonesia. IRSA Book
Series on Regional Development no 15. Pp15-40.
17. Prijono Tjiptoherijanto, Dimensi Kependudukan Dalam Pembangunan
Berkelanjutan, disajikan pada acara inagurasi Forum Parlemen Indonesia untuk
Pembangunan dan Kependudukan dan seminar Sehari “Kependudukan dan
pembangunan Berkelanjutan”, 2002
18. Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, “Pembangunan
Ketahanan Keluarga”, 2016
19. BAPPENAS, Rancangan Teknikratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah
2020-2024, Juli 2019
20. Widaryatmo, (2009). Karakteristik Pekerja Pelaku Mobilitas Non Permanen
Indonesia 2007. Tesis. Depok: Program Studi Pasca Sarjana Kajian
Kependudukan dan Ketenagakerjaan Program Pascasarjana Universitas
Indonesia.
21. United Nation, World Population Prospects, Volume 1 comprehensive Tables,
2017 Revised,
22. Bappenas Oktober 2018. Indonesia 2045. Berdaulat, Maju, Adil, Makmur.
23. Bappenas, BPS dan UNFPA 2018. Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045.
Jakarta. BPS.
24. Omas Bulan Samosir, PhD, BKKBN dan LD UI 2020 Modul 1 Demografi : Suatu
Pengantar
25. Pusdiklat KKB BKKBN 2018, Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran di tingkat Desa/kelurahan

97
26. [Link]
berwawasan-kependudukan/. Diakses 2 Oktober 2020.
27. [Link]
28. [Link]
masalah-kependudukan-diindonesia. Diakses 2 Oktober 2020.
29. [Link]
[Link]://[Link]/read/detail/327330-hari-populasi-dunia-ini-6-
masalah-kependudukan-di-indonesia. diakses 2 Oktober 2020.
31. Prijono Tjciptoherijato, Menuju Pembangunan Berwawasan Kependudukan,
Jurnal Populasi 2000, Volume 11 (1).
32. [Link]
indonesia-8187/ diakses 23 Desember 2020.
33. [Link]
Diakses 23 Desember 2020.
34. [Link]
semakin-meningkat diakses 23 Desember 2020.
35. Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIM) Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Unsyiah Volume 1 Nomor 1, Agustus 2016. Hal.56-65
36. [Link]
garuh-pertumbuhan-penduduk-terhadap-perkembangan-sosial-dan-
kebudayaan diakses 28 Desember 2020.
37. [Link]
pertumbuhan-penduduk-terhadap-pertahanan-negara-dalam-lima-tahun-
[Link] diakses 28 Desember 2020.
38. [Link] diakses 28 Desember 2020.
39. [Link] diakses tanggal 28
Desember 2020.
[Link]: [Link]
ini-6-masalah-kependudukan-di-indonesia diakses 28 Desember 2020.

98
41. [Link]
[Link] diakses 28 Desember 2020.
42. Foto Sampul buku [Link]
anonymous-people-walking-city-
street_5144344.htm#query=people%20population&position=8&from_view=s
earch#position=8&query=people%20population

99
100
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
Jl. Permata No. 1 Halim Perdanakusuma, Jakarta

BERENCANA ITU KEREN


@BKKBNofficial

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kependudukan dan Keluarga Berencana


BKKBN 2022

Common questions

Didukung oleh AI

The demographic dividend represents a period when the proportion of the working-age population is higher relative to dependents, potentially boosting economic growth through heightened productivity. In Indonesia, economic planning must account for this by creating sufficient quality job opportunities and improving population quality through education and health investments . Successfully leveraging the demographic dividend requires a shift towards inclusive, sustainable economic growth, accommodating diverse age group needs to avoid future socio-economic issues like poverty and health disparities .

Population data is crucial for informed policy-making as it provides insights into demographic trends and conditions, directly impacting development planning. Essential data types include quantitative measures like population size, distribution, and growth rates, as well as qualitative aspects such as health, education levels, and socio-cultural conditions. Accurate data enables tailored policy interventions, ensuring they effectively address current and projected demographic challenges in alignment with national development goals .

Indonesia's population is projected to reach 319 million by 2045, posing economic and environmental challenges, like resource scarcity and increased demand for services. However, this growth also offers opportunities to leverage human capital through strategic education and employment initiatives, contributing to economic resilience and sustainability. Effective planning must address age-structured changes, accommodating an increasingly aging population while optimizing the younger workforce's potential to enhance inclusive economic growth .

Changes in fertility rates in Indonesia impact the socio-economic landscape by altering population structure and dependency ratios. A declining fertility rate can reduce the economic burden on families, potentially increasing savings and improving living standards. However, it also requires adjustments in policies to support an aging population and ensure sustainable pension systems. Over time, managing fertility rates becomes vital to maintain demographic balance and foster economic stability .

Urbanization trends significantly influence the development of demographic policies in Indonesia by concentrating population growth in urban areas, creating challenges like infrastructure strain and service provision. Policymakers must address these issues by promoting balanced regional development, reducing migration pressure on urban centers, and enhancing rural livelihoods. Urbanization also presents opportunities for economic progress and improved living standards if managed through strategic investments in sustainable infrastructure and services .

Incorporating gender equality in education and employment is significant for Indonesia's demographic and economic strategies as it enhances workforce quality and economic productivity. Empowering women through education correlates with better family planning, healthier lifestyles, and economic contributions, all vital for harnessing the demographic dividend. Increasing female participation in the labor force expands the talent pool and drives equitable economic growth, making gender equality a strategic priority for achieving sustainable development .

The concept of 'people-centered development' is a development approach that places the population as both the subject and object of development. It emphasizes integrating population policies into broader social, cultural, economic, and environmental policies. In Indonesia, this integration is guided by the national demographic development policies, which include ensuring demographic bonus achievement, improving population quality, empowering family functions, and strengthening community-based family resilience . The approach is rooted in ensuring that the population's abilities and conditions are central to development planning and implementation, as reinforced by principles from international conventions such as the ICPD Plan of Action and Sustainable Development Goals (SDGs).

Migration contributes to sustainable development by expanding economic opportunities, alleviating poverty, addressing labor market imbalances, and accelerating the diffusion of new ideas and technologies. In Indonesia, strategic policy adaptation, such as relocating the capital to East Kalimantan, influences migration patterns and supports sustainable urban development by optimizing population distribution and reducing pressure on densely populated areas . Correctly managed migration policies are integral to achieving inclusive growth and aligning with broader sustainability objectives .

Strategic employment policies crucially impact the realization of Indonesia's demographic dividend by providing young, productive-age individuals with opportunities to contribute economically. Creating diverse and inclusive job markets that cater to varying skills and educational backgrounds ensures effective workforce absorption, fostering economic stability and growth. Such policies must align with educational improvements and health advancements to fully capitalize on the demographic dividend potential .

Integrating family planning with health initiatives is essential for optimizing Indonesia's demographic dividend by ensuring a healthy, well-educated workforce. Comprehensive health policies that provide access to family planning services help manage population growth and improve maternal and child health outcomes. Combined with educational initiatives, these efforts enhance human capital quality, essential for sustaining economic growth during the demographic dividend period .

Anda mungkin juga menyukai