0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan8 halaman

Risiko Bunuh Diri dalam Keperawatan Jiwa

Laporan pendahuluan ini membahas risiko bunuh diri pada pasien rumah sakit jiwa. Dokumen ini menjelaskan definisi, proses terjadinya, tanda-tanda, jenis, faktor risiko, masalah keperawatan, dan rencana tindakan keperawatan untuk menangani risiko bunuh diri pasien. Tujuan rencana tindakan adalah membantu pasien meningkatkan hubungan sosial, mengekspresikan perasaan, meningkatkan h

Diunggah oleh

Wahyu Trianggoro
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan8 halaman

Risiko Bunuh Diri dalam Keperawatan Jiwa

Laporan pendahuluan ini membahas risiko bunuh diri pada pasien rumah sakit jiwa. Dokumen ini menjelaskan definisi, proses terjadinya, tanda-tanda, jenis, faktor risiko, masalah keperawatan, dan rencana tindakan keperawatan untuk menangani risiko bunuh diri pasien. Tujuan rencana tindakan adalah membantu pasien meningkatkan hubungan sosial, mengekspresikan perasaan, meningkatkan h

Diunggah oleh

Wahyu Trianggoro
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DI RUANG


RUMAH SAKIT JIWA MENUR SURABAYA

Disusun Oleh :

ERLINA DWI JAYANTI

(183.0039)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA

TA. 2018-2019
LAPORAN PENDAHULUAN
RISIKO BUNUH DIRI

1. KASUS (MASALAH UTAMA)


Risiko Bunuh Diri

2. PROSES TERJADINYA MASALAH


2.1 Definisi
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhir kehidupan. Perilaku bunuh diri yang tampak pada seseorang
disebabkan karena stress yang tinggi dan kegagalan mekanisme koping yang
digunakan dalam mengatasi masalah (Damaiyanti & Iskandar, 2012).
2.2 Rentang Respon Protektif Diri

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Peningkatan Berisiko Destruktif Pencederaan Bunuh diri


diri destruktif diri tidak diri
langsung

Gambar 1.1 Rentang Respon Protektif Diri


Sumber: Damaiyanti & Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung:
PT Refikasi Aditama.
2.3 Etiologi
Menurut Damaiyanti & Iskandar (2012), penyebab terjadinya risiko bunuh diri
dapat dipengaruhi oleh:
a. Faktor predisposisi
1) Diagnosis psikiatrik
Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk
melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif,
penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
2) Sifat kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarkan risik
bunuh diri adalah antipasti, impulsive, dan depresi.
3) Lingkungan psikososial
Meliputi pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial,
kejadian negatif dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan, atau
perceraian.
4) Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan
faktor penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan
tindakan bunuh diri.
5) Faktor biokimia
Klien dengan risiko bunuh diri terjadi peningkatan zat-zat kimia yang
terdapat di dalam otak seperti serotonin, adrenalin, dan dopamine.
b. Faktor presipitasi
Perilaku destruktit diri dapat dtimbulkan oleh stress berlebihan yang
dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang
memalukan. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau
membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri.
Bagi individu yang emosinya labil, hal tersebut menjadi sangat rentan.
c. Perilaku koping
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan
dapat melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali dilakukan secara
sadar. Struktur sosial dan kehidupan bersosial dapat menolong atau
bahkan mendorong klien melakukan perilaku bunuh diri. Isolasi sosial
dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan keinginan seseorang
untuk melakukan bunuh diri.
d. Mekanisme koping
Mekanisme koping yang mungkin digunakan sehubungan dengan perilaku
bunuh diri, meliputi denial, rasionalization, regression, dan magical
thinking.
2.4 Proses Terjadinya Bunuh Diri
Setiap upaya percobaan bunuh diri selalu diawali dengan adanya motivasi
untuk bunuh diri dengan berbagai alasan, berniat melaksanakan bunuh diri,
mengembangkan gagasan sampai akhirnya melakukan bunuh diri. Oleh karena
itu, adanya percobaan bunuh diri merupakan masalah keperawatan yang harus
mendapatkan perhatian serius.
2.5 Tanda dan Gejala
Menurut Damaiyanti & Iskandar (2012), tanda dan gejala seseorang dengan
risiko bunuh diri, yakni:
a. Mempunyai ide untuk bunuh diri.
b. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
c. Mengungkapkan rasa bersalah atau keputusasaan.
d. Impulsive.
e. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya sangat patuh).
f. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.
g. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat
dosis mematikan).
h. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah,
dan mengasingkan diri).
i. Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi,
psikosis dan menyalahgunakan alkohol).
j. Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronik atau
terminal).
k. Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami
kegagalan dalam karir).
l. Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan).
m. Usia 15-19 tahun atau di atas 45 tahun.
n. Konflik interpersonal.
o. Pekerjaan.
p. Latar belakang keluarga.
q. Orientasi seksual.
r. Sumber-sumber personal.
s. Sumber-sumber sosial.
t. Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil.
2.6 Jenis
Menurut Yusuf, Fitriyasari, & Nihayati (2015), bunuh diri dibagi menjadi tiga
jenis, yaitu :
1. Bunuh diri egoistik
Akibat seseorang yang mempunyai hubungan sosial yang buruk.
2. Bunuh diri altruistik
Akibat kepatuhan pada adat dan kebiasaan.
3. Bunuh diri anomik
Akibat lingkungan tidak dapat memberikan kenyamanan bagi individu.
3. A. POHON MASALAH
Risikoperilaku kekerasan (pada diri sendiri,
orang lain, lingkungan, dan verbal)

Effect


Risiko bunuh diri

Core Problem


Harga diri rendah kronik

Causa

Gambar 2.1 Pohon Masalah Harga Diri Rendah Kronik


Sumber : Damaiyanti & Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT
Refikasi Aditama.

B. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI


1. Masalah Keperawatan
Berdasarkan pohon masalah, masalah keperawatan yang diangkat
menurut Damaiyanti & Iskandar (2012), diantaranya:
a. Risiko perilaku kekerasan pada diri sendiri, orang lain, lingkungan dan
verbal.
b. Risiko bunuh diri.
c. Harga diri rendah kronik.
2. Data Yang Perlu Dikaji
Menurut Yusuf, Fitriyasari & Nihayati (2015), data yang perlu dikaji
pada klien dengan risiko bunuh diri diantaranya:
a. Isyarat bunuh diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak
langsung ingin bunuh diri, misalnya dengan mengatakan “Tolong jaga
anak-anak saya karena saya akan pergi jauh!” atau “Segala sesuatu
akan lebih baik tanpa saya.” Pada kondisi ini klien mungkin sudah
memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, tetapi tidak disertai dengan
ancaman dan percobaan bunuh diri. Klien umumnya mengungkapkan
perasaan seperti rasa bersalah/sedih/ marah/putus asa/tidak berdaya.
Klien juga mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang
menggambarkan harga diri rendah.
b. Ancaman bunuh diri
Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh klien yang berisi
keinginan untuk mati disertai dengan rencana untuk mengakhiri
kehidupan dan persiapan alat untuk melaksanakan rencana tersebut.
secara aktif klien telah memikirkan rencana bunuh diri, tetapi tidak
disertai dengan percobaan bunuh diri.
c. Percobaan bunuh diri
Percobaan bunuh diri adalah tindakan klien mencederai atau melukai
diri untuk mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini, klien aktif
mencoba bunuh diri dengan cara gantung diri, minum racun,
memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.
d. Faktor risiko bunuh diri
1) Menurut SIRS (Suicidal Intention Rating Scale)
Score 0 : Tidak ad aide bunuh diri yang lalu dan sekarang.
Score 1 : Ad ide bunuh diri, tidak ada percobaan bunuh diri,
tidak mengancam bunuh diri.
Score 3 : Mengancam bunuh diri, misalnya, “Tinggalkan saya
sendiri atau saya bunuh diri.”
Score 4 : Aktif mencoba bunuh diri.
2) Menurut Stuart dan Sundeen (1987)

Tabel 1.1 Faktor Risiko Bunuh Diri Menurut Stuart dan Sundeen (Yusuf, Fitriyasari &
Nihayati, 2015).
Faktor Risiko Tinggi Risiko Rendah

Umur > 45 tahun atau remaja 25-45 tahun atau < 12 tahun

Jenis kelamin Laki-laki Perempuan

Status perkawinan Cerai, pisah, janda/duda Kawin

Jabatan Profesional Pekerja kasar

Pekerjaan Pengangguran Pekerja

Penyakit kronis Kronik, terminal Tidak ada yang serius

Gangguan mental Depresi, halusinasi Gangguan kepribadian


4. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Risiko Bunuh Diri

5. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Tujuan:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
2. Klien dapat mengekspresikan perasaannya.
3. Klien dapat meningkatkan harga diri.
4. Klien dapat menggunakan koping yang adaptif.
5. Klien dapat menggunakan dukungan sosial.
Tabel 1.2 Rencana Keperawatan Risiko Bunuh Diri (Damaiyanti & Iskandar, 2012)
KLIEN KELUARGA
SP1P SP1K
1. Mengide 1.
ntifikasi benda-benda yang dapat keluarga dalam merawat klien
membahayakan klien 2.
2. Mengam resiko bunuh diri dan jenis prilaku
ankan benda-benda yang dapat bunuh diri yang dialami klien beserta
membahayakan klien proses terjadinya menjelaskan cara-cara
3. Melakuk merawat klien resiko bunuh diri
an kontrak treatment 3.
4. Mengajar resiko bunuh diri
kan cara mengendalikan dorongan
bunuh diri
5. Melatih
cara mengendalikan dorongan bunuh
diri
SP2P SP2K
1. 1. Melatih keluarga mempraktikkan cara
2. merawat klien dengan resiko bunuh diri
positif terhadap diri 2. Melatih keluarga melakukan cara
3. merawat langsung kepada klien resiko
sebagai individu yang berharga dunuh diri

SP3P SP3K
1. Mengidentivikasi pola koping yang 1. Membantu keliarga membuat jadwal
biasa diterapkan klien aktivitas dirumah termasuk minum obat
2. Menilai pola koping yang biasa 2. Mendiskusikan sumber rujukan yang
dilakukan biasa dijangkau oleh keluarga
3. Mengidentifikasi pola koping yang
konstruktif
4. Mendorong klien memilih pola koping
yang konstruktif
5. Menganjurkan klien menerapkan pola
koping konstruktif dalam kegiatan
harian
SP4P
1. Membuat rencana masa depan yang
realistis bersama klien
2. Mengidentifikasi cara mencapai
rencana masa depan yang realistis
3. Memberi dorongan klien melakukan
kegiatan dalam rangka meraih masa
depan yang realistis

DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti, M. & Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika
Aditama.
Yusuf, Fitriyasari & Nihayati. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Anda mungkin juga menyukai