0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan12 halaman

Model Pembelajaran Terpadu Nested

Model nested adalah model pembelajaran terpadu yang mengintegrasikan berbagai keterampilan ke dalam satu unit pembelajaran untuk mencapai tujuan materi pelajaran. Model ini melibatkan berbagai keterampilan seperti berpikir, sosial, dan mengorganisir dalam satu kegiatan pembelajaran untuk memperkaya pemahaman siswa. Langkah-langkah pembelajaran nested meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan menentukan k

Diunggah oleh

Isna Putri Azizah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan12 halaman

Model Pembelajaran Terpadu Nested

Model nested adalah model pembelajaran terpadu yang mengintegrasikan berbagai keterampilan ke dalam satu unit pembelajaran untuk mencapai tujuan materi pelajaran. Model ini melibatkan berbagai keterampilan seperti berpikir, sosial, dan mengorganisir dalam satu kegiatan pembelajaran untuk memperkaya pemahaman siswa. Langkah-langkah pembelajaran nested meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan menentukan k

Diunggah oleh

Isna Putri Azizah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Definisi Model Nested


Model nested (Sarang) adalah model pembelajaran terpadu yang target
utamanya adalah materi pelajaran yang dikaitkan dengan keterampilan berpikir
dan keterampilan mengorganisasi. Model ini merupakan pemaduan berbagai
bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran.
Misalnya, pada jam-jam tertentu seorang guru memfokuskan kegiatan
pembelajaran pada pemahaman tentang bentuk kata, makna kata, dan ungkapan
dengan saran pembuahan keterampilan dalam mengembangkan daya imajinasi,
daya berpikir logis, menentukan ciri bentuk dan makna kata-kata dalam puisi,
membuat ungkapan dan menulis puisi. Pembelajaran berbagai bentuk penguasaan
konsep dan keterampilan tersebut keseluruhannya tidak harus dirumuskan dalam
tujuan pembelajaran. Keterampilan dalam mengembangkan daya imajinasi dan
berpikir logis dalam hal ini disikapi sebagai bentuk keterampilan yang tergarap
saat siswa memakai kata-kata, membuat ungkapan dan mengarang puisi. Untuk
mengetahui telah dikuasainya keterampilan tersebut ditunjukkan oleh kemampuan
mereka dalam membuat ungkapan dan mengarang puisi.
Pembelajaran terpadu tipe nested (tersarang) merupakan pengintegrasian
kurikulum di dalam satu disiplin ilmu secara khusus meletakkan fokus
pengintegrasian pada sejumlah keterampilan belajar yang ingin dilatihkan oleh
seorang guru kepada peserta didiknya dalam suatu unit pembelajaran untuk
ketercapaian materi pelajaran (content). Keterampilan-keterampilan belajar itu
meliputi keterampilan berpikir (thinking skill), keterampilan sosial (social skill),
dan keterampilan mengorganisir (organizing skill) (Julianti, Atmojo, & Usodo,
2014). Contohnya : guru merencanakan pembelajaran fotosintesis dengan
dilakukan diskusi/untuk mendapat persetujuan umum (keterampilan sosial),
mengurutkan proses terjadinya fotosintesis (keterampilan berfikir), dan siklus
hidup tanaman (konten sains). Perlu diketahui bahwa tujuan utama dari aktivitas
tersebut adalah kita sebagai pendidik melaksanakan prinsip membawa dunia
mereka (peserta didik) ke dunia kita dan antarkan dunia kita (pendidik) ke dunia
mereka (Kamdi, 2007).
B. Tujuan Pembelajaran Terpadu Nested
Pembelajaran terpadu model nested mempunyai tujuan yaitu mengutamakan
peserta didik dalam keterampilan berpikir, keterampilan sosial, dan keterampilan
mengorganisir. Dengan memadukan keterampilan-keterampilan sekaligus dalam
pembelajaran satu mata pelajaran, pembelajaran akan semakin berkembang dan
diperkaya dengan menjaring dan mengumpulkan sejumlah tujuan dalam
pengalaman belajar peserta didik. Selain itu, pembelajaran model nested juga
memberikan perhatian pada berbagai bidang penting dalam satu saat sehingga
tidak memerlukan penambahan waktu sehingga pendidik dapat memadukan
kurikulum secara luas.

C. Karakteristik Pembelajaran Terpadu Nested


Di bawah ini diuraikan beberapa karakteristik pembelajaran terpadu nested,
antara lain:
a. Holistik
Pembelajaran terpadu memungkinkan peserta didik untuk memahami
suatu fenomena dari segala sisi, yang akan membuat peserta didik menjadi
lebih arif dan bijaksana di dalam menyikapi atau menghadapi kejadian yang
ada di depan mereka.
b. Bermakna
Pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek,
memungkinkan terbentuknya jalinan antar konsep-konsep yang berhubungan
(skemata), sehingga berdampak kepada kebermaknaan dari materi yang
dipelajari, sehingga peserta didik mampu menerapkan perolehan belajarnya
untuk memecahkan masalah-masalah yang muncul di dalam kehidupannya.
c. Otentik
Pembelajaran terpadu juga memungkinkan peserta didik memahami
secara langsung prinsip dan konsep yang ingin dipelajarinya melalui kegiatan
belajar secara langsung. Mereka memahami dari hasil belajarnya sendiri,
bukan sekedar pemberitahuan guru. Informasi dan pengetahuan yang
diperoleh sifatnya menjadi lebih otentik, misalnya, hukum pemantulan cahaya
diperoleh peserta didik melalui kegiatan eksperimen. Guru lebih banyak
bersifat sebagai fasilitator dan katalisator, sedang peserta didik bertindak
sebagai aktor pencari informasi dan pengetahuan (Sanjaya, 2008). Tidak
seperti pandangan yang sudah berlangsung lama yaitu penempatan guru
sebagai satu- satunya sumber informasi (Aunurrahman, 2008). Guru
memberikan bimbingan ke arah mana yang dilalui dan memberikan fasilitas
seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan tersebut.

d. Aktif
Pembelajaran terpadu menekankan keaktifan peserta didik dalam
pembelajaran baik secara fisik, mental, intelektual, maupun emosional guna
tercapainya hasil belajar yang optimal dengan mempertimbangkan hasrat,
minat, dan kemampuan peserta didik sehingga mereka termotivasi untuk terus
menerus belajar. Minat peserta didik untuk menyelesaikan sesuatu yang
berasal dari dalam diri sendiri akan membuatnya menyelesaikan apapun yang
dia inginkan lebih cepat karena tidak ada paksaan (Sanjaya, 2008). Disamping
itu pembelajaran terpadu menyajikan beberapa keterampilan dalam suatu
proses pembelajaran. Selain mempunyai sifat luwes, pembelajaran terpadu
memberikan hasil yang dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan
anak.

Karakteristik mata pelajaran menjadi pijakan untuk sebuah kegiatan awal.


Seperti yang dicontohkan Fogarty untuk jenis mata pelajaran sosial dan bahasa
dapat dipadukan keterampilan berpikir (thingking skill) dengan keterampilan
sosial (social skill). Sedangkan untuk mata pelajaran lainnya dapat dipadukan
keterampilan berpikir (thingking skill) dan keterampilan mengorganisir
(organizing skill).
Sub-sub keterampilan yang dapat dilakukan melalui model nested yang
dikutip oleh Trianto dalam Model Pembelajaran Terpadu dari Forgaty dapat
dilihatkan pada tabel dibawah ini.

D. Kelemahan dan Kelebihan Pembelajaran Terpadu Nested


a. Kelebihan Model Nested
Dengan menumpuk dan mengelompokkan sejumlah keterampilan dan
standar dalam pengalaman belajar, guru memperkaya dan meningkatkan
pembelajaran peserta didik. Biasanya berpusat pada konten, strategi berpikir,
keterampilan sosial, dan ide-ide yang secara tidak sengaja ditemukan lainnya,
satu pembelajaran dengan beberapa dimensi keterampilan.
Di era informasi yang berkembang pesat ini, kurikulum yang terlalu
padat, banyak, adanya standar, dan jadwal yang ketat, guru yang
berpengalaman harus mencari metode yang tepat untuk menjadi dasar
pembelajaran dalam bidang yang beragam. Saat model nested memberikan
perhatian yang diperlukan ke beberapa bidang minat sekaligus, hal ini tidak
akan menambah beban untuk menemukan waktu dalam bekerja dan membuat
perencanaan dengan guru lain. Dengan model ini, seorang guru dapat
memberikan integrasi kurikulum secara luas. Tentu saja, jika guru membuat
perencanaan atau bekerja bersama, model ini menawarkan banyak kesempatan
untuk menggabungkan berbagai keterampilan dan konsep yang beragam
untuk mencapai lebih banyak kerumitan dan kedalaman dalam pelajaran.
b. Kelemahan Model Nested
Menumpuk dua, tiga, atau empat sasaran pembelajaran dan/atau
standar pembelajaran dalam satu pelajaran dapat membingungkan peserta
didik jika model bersarang tidak dilaksanakan dengan hati-hati dan jika
kombinasi tersebut tidak terkait satu sama lain. Konsep utama dari pelajaran
dapat menjadi tidak jelas karena peserta didik diminta untuk melakukan
banyak tugas belajar sekaligus. Salah satu kelemahan lain dari model nested
adalah bahwa guru mungkin tidak eksplisit tentang berbagai lapisan
pembelajaran, sehingga akan sedikit konsep yang akan didapatkan peserta
didik atau penerapan keterampilan dan konsep yang sebenarnya tidak akan
maksimal.

E. Langkah-Langkah Pembelajaran Terpadu Nested


Model ini untuk mengintegrasikan kurikulum dalam satu disiplin atau subjek
kelas.

Dalam template fokus pada sasaran atau target. Dimulai dengan standard
pembelajaran, tempatkan fokus pelajaran yang ditargetkan di tengah template. Hal
ini penting karena menjadi inti pembelajaran. Kemudian tambahkan setidaknya
dua lingkaran luar dan bersarang dalam beberapa standar proses untuk
mengilustrasikan secara grafis bagaimana kita dapat melapisi, mengelompokkan
dan menggabungkan sejumlah standar ke dalam sebuah pengalaman belajar yang
kuat. Standar-standar proses ini dapat berupa keterampilan berpikir, keterampilan
kooperatif, kecerdasan ganda, kebiasaan pemikiran, alat teknologi atau pada
subjek area sederhana seperti membaca, menulis, berbicara, atau mendengarkan.
Berikut ini adalah contoh dari model ‘bersarang’ untuk IPA tentang materi dan
energi:
1. Keterampilan berpikir : Membandandingkan dan membedakan tipe-tipe energi
2. Keterampilan sosial : Mencapai kesepakatan tentang jenis energi yang
paling efisien
3. Kecerdasan ganda :Jasmani-kinestetik → gunakan percobaan laboratorium
untuk memeriksa hipotesis
4. Keterampilan teknologi: Menulis laporan hasil laboratorium menggunakan
Microsoft Word dan mengunggahnya ke internet atau mengirim lewat surel.
5. Kebiasaan pemikiran : keingintahuan → merefleksikan bagaimana rasa ingin
tahu adalah sesuatu yang dapat mempercepat / memperlambat penemuan
ilmiah.

Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran terpadu tipe nested (tersarang)


mengikuti tahap-tahap yang dilalui dalam setiap pembelajaran terpadu yang
meliputi tiga tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap
evaluasi.

1. Tahap Perencanaan
a. Menentukan jenis mata pelajaran dan jenis keterampilan yang dipadukan.
Karakteristik mata pelajaran menjadi pijakan untuk kegiatan awal.
Seperti contoh yang diberikan Fogarty untuk jenis mata pelajaran sosial
dan bahasa dapat dipadukan keterampilan berpikir dengan keterampilan
sosial. Sedangkan untuk semua mata pelajaran dapat dipadukan
keterampilan berpikir dan keterampilan mengorganisir.
b. Memilih kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan
indikator.
Langkah ini akan mengarahkan pendidik untuk menentukan sub
keterampilan dari masing-masing keterampilan yang dapat diintegrasikan
dalam suatu unit pembelajaran.
c. Menentukan sub keterampilan yang dipadukan
Secara umum katerampilan-keterampilan yang harus dikuasai ada tiga,
yaitu: (1) keterampilan berpikir, (2) keterampilan sosial, dan (3)
keterampilan mengorganisasi.
d. Merumuskan tujuan pembelajaran khusus (indikator)
Berdasarkan kompetensi dasar dan sub kterampilan yang telah dipilih
dirumuskan tujuan pembelajaran khusus (indikator). Setiap indikator
dirumuskan berdasarkan kaidah penulisan tujuan pembelajaran khusus
(indikator) yang meliputi; audience, baehaviour, condition dan degree.
e. Menentukan langkah-langkah pembelajaran
Langkah ini diperlukan sebagai strategi pendidik untuk
mengintegrasikan setiap sub keterampilan yang telah dipilih pada setiap
langkah pembelajaran.

2. Tahap Pelaksanaan
Prinsip-prinsip pelaksanaan pembelajaran terpadu, meliputi :
a. Guru hendaknya tidak menjadi single actor yang mendominasi dalam
kegiatan pembelajaran. Peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran
memungkinkan siswa menjadi pelajar mandiri (Sanjaya, 2008).
b. Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam
setiap tugas yang menuntut adanya kerja sama kelompok
c. Guru perlu akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak
terpikirkan dalam proses perencanaan.
3. Tahap Evaluasi
Evaluasi adalah suatu proses yang terus menerus, bukan hanya pada akhir
(Hamalik, 2002). Tahap evaluasi dapat berupa evaluasi proses pembelajaran
dan evaluasi hasil pembelajaran.
a. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di
samping bentuk evaluasi lainnya
b. Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar
yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan
yang akan dicapai.

F. Tahap Pembelajaran Terpadu Nested dalam Mata Pelajaran MTK


Tahapan pembelajaran pemecahan masalah matematika dengan menggunakan
model pembelajaran tipe nested sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah
disusun oleh Ekawati (2010), yang mencakup:
1. Orientasi Peserta Didik Terhadap Masalah
Dimulai dengan peserta didik di bagi menjadi beberapa kelompok
untuk menumbuhkan kesadaran akan masalah yang harus di pecahkan.
2. Merumuskan Masalah
Rumusan masalah berhubungan dengan kejelasan dan kesamaan
persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan datadata yang harus
[Link] peserta didik dapat menentukan prioritas masalah.
3. Merumuskan Hipotesis
Peserta didik diharapkan dapat menentukan sebab akibat dari masalah
yang ingin diselesaikan dan dapat menentukan berbagai kemungkinan
penyelesaian masalah.
4. Mengumpulkan Data
Peserta didik didorong untuk mengumpulkan data yang relevan.
Kemampuan yang diharapkan adalah peserta didik dapat mengumpulkan data
dan memetakan serta menyajikan dalam berbagai tampilan yang sudah
dipahami. Dengan cara memadukan keterampilan keterampilan yang
dimilikinya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
5. Mempresentasikan Hasil
Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi dari data yang sudah
dikumpulkan, melalui interaksi peserta didik diajak membahas permasalahan
yang disajikan.
6. Refleksi
Peserta didik menyimpulkan hasil pembelajaran.

G. Implementasi Pembelajaran Terpadu Nested dalam Mata Pelajaran IPS


Model nested di sekolah dasar dapat diterapkan khususnya di kelas tinggi
(kelas 3 sampai kelas 6), yang sudah pasti semuanya disesuaikan dengan tingkat
perkembangan pemahaman siswa. Dalam implementasinya, diawali dengan
menentukan konten yang ingin dicapai dalam satu mata pelajaran dan jenis
keterampilan yang dipadukan. Dengan menggunakan pokok bahasan/sub pokok
bahasan sebagai bingkai untuk menyarang keterampilan, konsep dan perilaku
yang diharapkan tercapai.
Kemudian menentukan keterampilan-keterampilan lain yang akan
dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setelah hal ini dilakukan
maka ditentukan langkah-langkah pembelajaran yang diperlukan sebagai strategi
pembelajaran dengan mengintegrasikan setiap keterampilan yang akan
dikembangkan. Oleh karena itu, pendidik harus menyusun langkahlangkah
pembelajaran secara sistematis sehingga pembelajaran terpadu yang diterapkan
tidak membingungkan peserta didik ketika belajar di sekolah. Dalam
implementasinya perlu adanya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Berikut ini adalah contoh RPP pembelajaran terpadu model nested pada mata
pelajaran IPS di Sekolah Dasar kelas 3 :
DAFTAR PUSTAKA

Armin, Aan. 2020. Penerapan Model Pembelajaran Terpadu Tipe Nested Dalam
Pembelajaran Pemecahan Masalah Matematika Pada Materi Induksi Matematika.
JES-MAT, Vol. 6 No.2. Kuningan

Ilmi, Miftakhul. 2018. Implementasi Pembelajaran IPA Terpadu Berbasis Model


Nested untuk Meningkatkan Respon Belajar Mahasiswa UNIPDU Jomban.
Pendidikan dan Keislaman Vol. 7 No. 1. Mojokerto
[Link]

Setiawan, Andrianus. 2018. Pembelajaran Terpadu Nested. Pendidikan Guru Sekolah


Dasar, Universitas Esa Unggul
[Link]

Anda mungkin juga menyukai