0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
126 tayangan3 halaman

Penafsiran Rajah dalam Al-Qur'an

Proposal penelitian ini membahas penggunaan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai rajah oleh masyarakat dan menganalisis simbolik pemaknaannya. Penelitian ini akan menjawab bagaimana praktik penggunaan rajah, simbolik pemaknaan ayat-ayat dalam rajah, dan penafsiran ayat-ayat rajah menurut ahli tafsir.

Diunggah oleh

Imam Lutfi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
126 tayangan3 halaman

Penafsiran Rajah dalam Al-Qur'an

Proposal penelitian ini membahas penggunaan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai rajah oleh masyarakat dan menganalisis simbolik pemaknaannya. Penelitian ini akan menjawab bagaimana praktik penggunaan rajah, simbolik pemaknaan ayat-ayat dalam rajah, dan penafsiran ayat-ayat rajah menurut ahli tafsir.

Diunggah oleh

Imam Lutfi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penafsiran Ayat-Ayat Rajah Dalam Al-Qur’an (Kajian Living Qur’an)

PROPOSAL PENELITIAN

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir

Dosen Pengampu : Dr. KH. Hasyim Muhammad, [Link]

Disusun oleh :

Nopriani Hasibuan (2004026012)

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

2022
A. LATAR BELAKANG MASALAH

Al-Qur’an turun sebagai respon atas realitas yang terjadi pada masyarakat Arab pada
saat itu. Al-Qur’an sebagai wahyu mempunyai hubungan yang erat dengan budaya lokal.
Budaya menjadi menjadi media Tuhan dalam mentransformasikan ajaran-Nya. Dialektika
yang terjadi antara Al-Qur’an dengan realitas budaya memunculkan berbagai resepsi
masyarakat atas Al-Qur’an. Sejarah resepsi masyarakat terhadap Al-Qur’an tidak hanya
dalam bentuk tafsir. Sejak masa nabi hingga saat ini ditemukan berbagai respon praktis
terhadap Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya menjadi kitab yang dibaca, tetapi Al-Qur’an
telah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri dan memperlakukan Al-Qur’an sebagai
sesuatu yang hidup. Dengan kata lain, Al-Qur’an telah menjadi bagian dari sistem
kebudayaan manusia dari masa ke masa.

Pada suatu sistem kebudayaan, gagasan-gagasan, simbol-simbol, dan nilai-nilai


kebudayaan merupakan inti dari sebuah kebudayaan. Simbol merupakan gambaran tentang
ide atau gagasan tertentu. Kehadiran Al-Qur’an yang merupakan kumpulan, jaringan, dan
susunan simbol-simbol huruf-huruf arab sebagai sebuah teks ditengah masyarakat amat
makna. Begitu pula interaksi antara manusia dengan Al-Qur’an juga merupakan sebuah
jaringan dan susunan simbol yang bermakna. Begitupun dalam pandangan kaum sufi, setiap
huruf, ayat, maupun surat dalam Al-Qur’an memiliki makna tertentu. Mereka mencoba
menafsirkan sebagiam ayat Al-Qur’an dengan suatu kiasan disetiap hurufnya. Dalam
berbagai dunia Islam, termasuk Indonesia, banyak ditemukan naskah mengenai simbolisme
mistik ini.1 Pemahaman masyarakat yang menganggap bahwa ayat Al-Qur’an memiliki
makna mistik, memunculkan berbagai resepsi terhadap Al-Qur’an terkadang bersifat magis.
Dalam suatu agama, anggapan manusia terhadap hal ghaib (mysterium) yaitu sesuatu yang
dianggap maha dahsyat (tremendum) dan keramat (sacer). Oleh karena itu, Al-Qur’an
diresepsi oleh masyarakat sebagai sesuatu yang sakral serta dianggap sebagai suatu kekuatan
yang dahsyat.

Salah satu sakralitas masyarakat terhadap Al-Qur’an adalah tertuang dalam bentuk
rajah.2 Rajah merupakan azimat yang ditulis dalam bahasa arab, dalam rajah juga tertulis
ayat-ayat Al-Qur’an dan angka-angka dalam tulisan arab yang diyakini memiliki kekuatan

1
Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik dalam Islam, terj. Sapardi Djoko Damono (dkk), (Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1986), hlm 424.
2
Rajah merupakan suratan, gambaran, atau tanda yang dipakai sebagai azimat (KBBI)
magis. Berbagai macam bentuk rajah dapat ditemukan diberbagai daerah di Indonesia.
Misalnya rajah penglaris, rajah mahabbah, rajah perlindungan diri, raja sebagai pagar rumah
serta jimat kekebalan.3

Rajah ditulis dengan adanya maksud dan tujuan tertentu, sehingga bentuknya pun
berbeda-beda. Perbedaan bentuk rajah merupakan bentuk ekspresi pemahaman ayat-ayat Al-
Qur’an dari penulisnya. Ayata-ayat Al-Qur’an yang biasanya digunakan dalam penulisan
rajah antara lain surat Al-Ikhlas, surat Mu’awwidatain, surat Al-Fatihah, ayat kursi, surat
AsSyuara’, surat Al-Nasr.4 Praktik pengamalan rajah pun berbeda, ada yang digunakan
sebagai sabuk atau kalung5 ditempel didinding rumah, serta dimasukkan kedalam air untuk
diminum.6

Kontemporer simbolik yang dialih fungsikan oleh orang-orang awam inilah yang akan
menjadi alasan penulis, untuk meneliti dan menganalisis rumusan masalah tersebut sebagai
bahan penelitian. Yang pada masanya hingga kini, masih banyak digunakan untuk
pengobatan, penangkal musibah, penglaris dagangan dan lain-lain. Mungkin sudah banyak
artikel atau jurnal yang sudah membahas masalah ini, namun penulis hanya ingin mengorek
ulang materi tersebut, untuk lebih memahami apa pentingnya mengetahui ilmu tentang
kontemporer simbolik dalam bentuk azimat/rajah.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana praktik penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai rajah yang
dilakukan masyarakat?
2. Bagaimana simbolik pemaknaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam rajah?
3. Bagaimana penafsiran ayat-ayat rajah dalam Al-Qur’an menurut ahli tafsir?

3
Anwar Mujahidin, “Analisis Simbolik penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai jimat dalam
kehidupan masyarakat Ponorogo”, Kalam : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, X, Juni 2016, hlm,50.
4
Anwar Mujahidin, “Analisis Simbolik penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai jimat dalam
kehidupan masyarakat Ponorogo”, hlm 50-54.
5
[Link] Zainul Mun’im, “Jimat Al-Qur’an dalam kehidupan Bakul Satu (sebuah penelusuran di
Yogyakarta)”, Jurnal Kontemplasi, I, November 2013, hlm, 341.
6
Anwar Mujahidin, “Analisis Simbolik penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai jimat dalam
kehidupan masyarakat Ponorogo”, hlm 53

Anda mungkin juga menyukai