MAKALAH KELOMPOK
ANALISIS RESTRAIN DALAM APLIKASI KEPERAWATAN JIWA
MATA KULIAH : KEPERAWATAN JIWA LANJUT III
Dosen Pengampu : Ns. M. Ali Sodikin, [Link]
Oleh:
KELOMPOK 3
Dyah Ayu Kartika W.S (156070300111007)
Rizka Yunita (156070300111009)
Wahidyanti Rahayu H. (156070300111030)
I Putu Gde Yudara (156070300111031)
Abdul Nasir (156070300111048)
PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN PEMINATAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perasaan marah normal bagi tiap individu, namun perilaku yang dimanifestasikan
oleh perasaan marah dapat berfluktuasi sepanjang rentang adaptif dan maladaftif. Untuk
itu perasaan marah harus diungkapkan, agar rasa kesal dalam diri individu bisa
tersalurkan. Namun seseorang dalam mengungkapkan perasaan marah sering
menggunakan kekerasan sehingga perilakunya tanpa terkendali yang menyebabkan
kegaduhan pada lingkungan sekitar yang berdampak pada upaya mencederai diri sendiri,
orang lain maupun lingkungan. Ann Isaacs (2004) mengatakan bahwa kekerasan
merupakan unjuk kekuatan fisik yang digunakan untuk menyerang atau merusak orang
lain, tindakan ini sering mengakibatkan cedera fisik. Perilaku kekerasan adalah suatu
keadaan dimana seseorang melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan
secara fisik baik kepada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan (Townsend, 1998).
Selain itu respon marah atau amuk berupa upaya menantang maupun melawan orang
lain. Hal ini tentunya membahayakan lingkungan sekitar.
Sedangkan marah yang konstruktif menghasilkan manfaat ganda, selain telah
mengungkapkan perasaan kesal, juga tidak terjadi kegaduhan sehingga tidak
mengganggu atau mencederai diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Sedangkan
marah yang destruktif akan menghabiskan energi tubuh hingga kehabisan tenaga dan
akan merusak dirinya sendiri, orang lain maupun lingkungan. Stuart dan Sundeen (2006)
menyebutkan bahwa ungkapan peraasaan kesal atau marah tersebut tidak konstruktif.
Peningkatan impuls motorik pada pasien marah distimulasi oleh berbagai macam.
Faktor biokimia sering menyebabkan seseorang menjadi marah. Kekurangan
neurotransmiter serotonin menstimulasi perilaku agresif atau amuk. Menurut Townsend,
1996 menyatakan bahwa berbagai neurotransmitter (a.l: epinefrin, norepinefrin,
dopamin, asetilkholin, dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi dan
menghambat impuls agresif yang menyebabkan emosinya tidak terkendali.
Pada pasien skizofrenia ungkapan perasaan marah sering menunjukkan perilaku
gelisah, tidak bisa diam, bertindak agresif sehingga sering melukai orang lain diri sendiri
maupun lingkungan. Ungkapan secara verbal maupun non verbal sering ditunjukkan
secara destruktif, sehingga oleh orang-orang dilingkungan sekitar maupun keluarga
sering melakukan pembatasan gerak pada pasien tersebut berupa pengekangan atau
restrain. Alasan keluarga melakukan pemasungan cukup beraneka ragam diantaranya
untuk mencegah klien melakukan tindak kekerasan yang dianggap membahayakan bagi
dirinya dan orang lain, mencegah klien meninggalkan rumah dan mengganggu orang
lain, mencegah klien menyakiti diri sendiri seperti melakukan bunuh diri, dan karena
ketidaktahuan serta ketidakmampuan keluarga menangani klien ketika sedang kambuh,
(Suharto B, 2014).
Penatalaksanaan atau penanganan perilaku kekerasan sangat diperlukan dan dapat
dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan isolasi dan atau restrein
(menurut kebijakan institusi). Restrain adalah aplikasi langsung kekuatan fisik pada
individu, tanpa ijin individu tersebut, untuk membatasi kebebasan geraknya. Kekuatan
fisik ini dapat menggunakan tenaga manusia, alat mekanis atau kombinasi keduanya.
Pengekangan fisik termasuk penggunaan pengekangan mekanik, seperti manset
untuk pergelangan tangan dan pergelangan kaki, serta sprei pengekangan.
Pembatasan gerak pada pasien marah atau amuk merupakan solusi yang terbaik
untuk menghentikan perilaku yang agresif atau perilaku yang tidak terkendali.
Pembatasan gerak bisa dilakukan dengan farmakologi maupun dengan fisik. Indikasi
pengekangan meliputi perilaku amuk yang membahayakan diri dan orang lain,
perilaku agitasi yang tidak dapat dikendalikan dengan pengobatan, ancaman terhadap
integritas fisik yang berhubungan dengan penolakan pasien untuk istirahat, makan, dan
minum, permintaan pasien untuk pengendalian perilaku eksternal, sehingga sebelum
melakukan pengekangan, pastikan bahwa tindakan ini telah dikaji dan berindikasi
terapeutik (Videbeck, 2008).
Untuk itu dalam pelaksanaan pengekangan atau restrain yang paling penting adalah
mengamankan perilaku pasiennya agar tidak membahayakan dirinya sendiri, orang lain
maupun lingkungan dan bukan mengamankan pasiennya oleh karena tidak senang
kepadanya. Sulistyowati dan Prihantini (2014), mengatakan bahwa restrain efektif
menurunkan perilaku kekerasan pada pasien Skizofrenia.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui penatalaksanaan tindakan restrain pada pasien gangguan jiwa
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mempelajari perilaku agresif pada pasien gangguan jiwa
2. Mempelajari indikasi pelaksanaan restrain pada pasien dengan gangguan jiwa
3. Melakukan tindakan restrain pada pasien gangguan jiwa yang mengalami
perilaku agresif atau amuk.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Restrain
2.1.1. Pengertian Restrain
Restrain adalah terapi dengan menggunakan alat-alat mekanik atau manual
untuk membatasi mobilitas fisik klien. Restrain (dalam psikiatrik) secara umum
mengacu pada satu bentuk tindakan menggunakan tali untuk mengekang atau
membatasi gerakan ekstremitas individu yang berperilaku di luar kendali yang
bertujuan memberikan keamanan fisik dan psikologis individu (Riyadi dan Purwanto,
2009).
Ada lima tipe restrain yang digunakan di US yaitu, restrain fisik, restrain kimia,
restrain mekanik, restrain teknologi dan restrain psikologi (Gallagher, 2011). Restrain
fisik seperti pengikatan tubuh pasien ke bedside rails, pemakaian vest, sabuk dan
sebagainya ini terlaporkan sebanyak 4-85% penggunaannya di seting komunitas.
Restrain mekanis adalah peralatan, biasanya restrain pada pergelangan tangan, kaki
yang diikatkan ke tempat tidur untuk mengurangi agresi fisik klien, seperti memukul,
menendang, menjambak rambut (Videbeck, 2008). Dari kelima tipe resrain tersebut,
yang paling sering digunakan adalah restrain fisik dan yang paling jarang digunakan
adalah restrain kimia (Gastmans & Milisen, 2006), mengingat kemudahan dalam
melakukannya.
2.1.2 Jenis restrain
Menurut Royal College of Nursing (2008) dalam Gallagher (2013) dikatakan
bahwa terdapat lima jenis restrain yang digunakan yaitu :
a) Restrain fisik
Restrain secara fisik merupakan suatu tindakan yang membatasi pergerakan ruang
bebas individu dengan menggunakan alat seperti kursi dan meja, sabuk yang
diikat pada kursi atau pengikatan yang dilakukan diatas tempat tidur
(Hantikainen, 1998 dalam Huizing, Hamers, Gulpers, & Berger 2006).
b) Restrain kimia
Restrain jenis kimia dilakukan dengan memberikan obat-obatan jenis penenang.
"Restrain Kimia" adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan metode
farmakologis yang digunakan semata-mata untuk membatasi gerakan atau
kebebasan klien. Restrain kimia melalui terlalu sering menggunakan obat
penenang, pada beberapa negara bukan bentuk restrain yang diterima.
Obat yang digunakan sebagai bagian dari rencana perawatan untuk mengelola
gangguan mental atau penyakit mental tidak dianggap sebgai restrain kimia.
Sedasi darurat atau tranquillisation cepat yang digunakan untuk mengelola
perilaku yang terganggu akibat gangguan jiwa tidak dianggap kimia sebagai
restrain. Obat penenang dapat tepat digunakan untuk pengelolaan perilaku
terganggu. Namun perlu diingat bahwa praktek ini aman dikelola dengan
kepatuhan terhadap pedoman berbasis bukti (Ministry of Health, NSW, 2012)..
c) Restrain mekanik
Jenis mekanik dengan menggunakan rompi “posey” yang diikatkan ke belakang
tubuh pasien pada bagian lengan rompi atau dengan cara membatasi gerak pasien
dengan menggunakan penghalang tempat tidur, atau menghalangi gerak pasien
dengan mendekatkan meja atau kursi ke tempat tidur.
Alat restrain mekanik meliputi sabuk, borgol, tali, kain dan item lainnya yang
digunakan untuk membatasi gerakan klien. Namun pada beberapa Negara borgol
tidak diterima sebagai bentuk pengekangan dalam fasilitas NSW Health. Alat
restrain mekanik tidak secara rutin digunakan dalam fasilitas kesehatan mental
dan bukan merupakan rekomendasi untuk meningkatkan penggunaan. Dalam
fasilitas yang menggunakan alat restrain mekanik, peralatan harus ditinjau dan
disetujui untuk digunakan oleh komite yang relevan kebijakan dan prosedur
tertentu yang berlaku dan harus diawasi dalam penggunaannya.
Staf harus diberi pelatihan dan pelatihan penyegaran khusus dalam prosedur
penggunaan peralatan. Semua restrain harus tetap bersih, bekerja dan aman
(termasuk tidak ada tepian tajam/ terlalu kuat/ keras). Penggunaan alat tersebut
harus dipantau hati-hati dan dicatat dalam Register.
Setiap klien dengan restrain mekanik yang melibatkan pembatasan semua
anggota badan akan diberikan 1: 1 asuhan keperawatan. Saat akan melakukan
restrain mekanik klien berada di ruang terkunci. Perawatan akan diambil untuk
melindungi privasi dan martabat setiap orang dalam penggunaan restrain mekanik
di daerah public (Ministry of Health, NSW, 2012).
d) Restrain teknologi
Restrain jenis teknologi dengan menggunakan alarm pada tempat tidur/pintu
kamar pasien atau penggunaan kamera pengintai.
e) Restrain psikologi
Sedangkan restrain jenis psikologi dengan cara memberitahu pasien atau
memberikan batasan kapan harus turun atau bergerak dari tempat tidur yang dapat
menyalahi hak kebebasan, martabat, dan otonomi pasien.
2.1.3 Indikasi Restrain
Adapun dari indikasi tindakan restrain adalah sebagai berikut:
a. Menurut Kontio, Raija, Valimaki, Maritta, [Link] (2010):
1. Restrain digunakan jika intervensi lainnya yang lebih tidak restriktif tidak
berhasil atau tidak efektif untuk melindungi pasien, staf, atau orang lain dari
ancaman bahaya-bahaya.
2. Perilaku agresif yang berpotensi membahayakan diri pasien sendiri atau orang
lain.
3. Gangguan mental yang serius.
b. Menurut Kontio, Raija, Jofe, Grigoriti, [Link] (2010):
1. Perilaku psikotik
2. Pengendalian agitasi dan disorientasi.
c. Menurut Bowers, Len, [Link] (2011):
1. Perilaku kekerasan pada benda-benda disekitarnya atau pada lingkungan.
2. Agresi verbal atau ancaman menyakiti dan atau secara aktual menyakiti
dirinya.
2.1.4 Kriteria pemilihan jenis restrain
Menurut Flammer, Erich & Steinert, Tilman (2015). Dalam memilih jenis restrain
perlu memenuhi 5 kriteria sebagai berikut :
a) Membatasi gerak klien sesedikit mungkin.
b) Paling masuk akal/bisa diterima oleh klien dan keluarga.
c) Tidak mempengaruhi proses perawatan klien.
d) Mudah dilepas/diganti.
e) Aman untuk klien.
2.1.5 Prinsip Restrain
Perlu juga dibuat perencanaan pendekatan dengan klien, penggunaan restrain
yang aman dan lingkungan restrain harus bebas dari benda-benda berbahaya. Hal-hal
yang penting diperhatikan pada restrain :
a) Pada kondisi gawat darurat, restraint atau seklusi dapat dilakukan tanpa order
dokter
b) Sesegera mungkin (< 1 jam) setelah melakukan restraint/seklusi, perawat
melaporkan pada dokter untuk mendapatkan legalitas tindakan baik secara verbal
maupun tertulis.
c) Intervensi restrain atau seklusi dibatasi waktu: 4 jam untuk klien berusia > 18
tahun, 2 jam untuk usia 9-17 tahun, dan 1 jam untuk umur < 9 tahun.
d) Evaluasi dilakukan 4 jam I untuk klien > 18 tahun, 2 jam I untuk anak-anak dan
usia 9-17 tahun.
e) Waktu minimal reevaluasi oleh dokter adalah 8 jam untuk usia > 18 tahun dan 4
jam untuk usia < 17 tahun.
f) Selama restrain atau seklusi klien diobservasi tiap 10-15 menit, dengan fokus
obsevasi :
Tanda-tanda cedera yang berhubungan dengan restraint/seklusi.
Nutirisi dan hidrasi.
Sirkulasi dan pergerakan ekstrimitas
Tanda-tanda vital pasien
Kebersihan dan eliminasi.
Status fisik dan psikologis.
Kesiapan klien untuk dibebaskan dari restraint dan seklusi
g) Alat yang diperlukan :
Baju restrain.
Tali.
Bantalan untuk melindungi tulang yang menonjol
Penggunaan restrain fisik/ manual dilakukan oleh tim staf yang terlatih,
restrain mekanis atau seklusi dapat digunakan untuk mengelola risiko bahaya
serius yang akan terjadi, hanya jika pilihan alternatif yang aman telah
dipertimbangkan dan diuji coba. Restrain manual ini hanya dapat digunakan
untuk periode singkat untuk memungkinkan klien mendapatkan kembali kontrol
dari perilaku mereka dengan aman.
Penggunaan restrain dan seklusi didasari oleh prinsip-prinsip berikut:
1. Keselamatan dan kesejahteraan orang itu penting
2. Keamanan dan kesejahteraan staf sangat penting
3. Seklusi atau restrain digunakan untuk periode waktu minimum
4. Semua tindakan yang dilakukan oleh staf dibenarkan dan sebanding dengan
perilaku klien
5. Setiap pengekangan yang digunakan harus yang paling ketat untuk memastikan
keamanan
6. Klien dimonitor dengan ketat sehingga setiap penurunan fisik mereka tercatat
dan dikelola dengan segera serta tepat
Health Care (2003) menetapkan durasi dilakukannya restrain tidak melebihi 12
jam. Perbedaan standar waktu ini mungkin terjadi mengingat belum adanya
kesepakatan dan standar baku dunia memilki kebijkan masing-masing (Kandar dan
Pambudi, 2013).
Menurut Australian Society for Geriatric Medicine (2012), sebelum memutuskan
untuk melakukan restrain fisik, sebaiknya didiskusikan dulu dengan staf yang lain dan
dokter penanggung jawab, dokumentasikan pelaksanaan restrain (alasan restrain,
alternatif lain selain restrain, dan waktu pelaksanaan), restrain fisik digunakan hanya
untuk situasi emergensi (perilaku pasien membahayakan orang lain/dirinya sendiri)
dan tidak ada alternatif lain yang dapat dilakukan, restrain dilakukan sesuai prosedur
dan oleh staf terlatih, dilakukan monitoring secara kontinu (cek setiap 30-60 menit,
longgarkan ikatan pada ekstremitas sedikitnya 1 jam sekali, monitoring status hidrasi,
eliminasi, kenyamanan, dan tetap lakukan interaksi periodik.
Prinsip restrain menurut beberapa peneliti adalah sebagai berikut:
a. Menurut Kontio, Raija, Valimaki, Maritta, [Link] (2010):
1. Restrain sebagai alternatif terakhir, jika benar-benar diperlukan untuk
melindungi pasien atau keselamatan orang lain.
2. Tindakan yang diberikan harus seaman mungkin.
3. Menghormati martabat pasien.
4. Tindakan tersebut harus di bawah pengawasan dokter.
b. Menurut Bowers, Len, [Link] (2011):
1. Bagi staf perawat yang melakukan restrain harus dibekali dengan keterampilan
bantuan hidup dasar.
2. Memiliki peralatan resusitasi
3. Hanya melakukan restrain sebagai alternatif “terakhir”.
4. Pasien harus diperlakukan dengan hormat.
5. Pasien harus diobservasi setiap 2 jam selama restrain dan hal tersebut
dimasukan ke dalam rencana keperawatan
c. Menurut Knox & Holloman (2010):
1. Penggunaan obat dalam pelaksanaan restrain juga dianggap bentuk
pengekangan bila digunakan sebagai pembatasan untuk mengatasi perilaku
pasien atau membatasi kebebasan pasien.
2. Observasi pada pasien selama restrain dilakukan setiap 1 jam oleh dokter atau
praktisi independen lain yang berlisensi atau perawat yang teregistrasi atau
asisten dokter yang telah memenuhi pelatihan requirements.
3. Memperhatikan hak-hak pasien, diantaranya:
Restrain hanya digunakan ketika intervensi awal telah dinyatakan tidak
efektif untuk melindungi pasien, tenaga kesehatan atau orang lain.
Semua pasien mempunyai hak untuk bebas dari restrain dan seklusi dalam
bentuk apapun yang dikenakan sebagai sarana pemaksaan, disiplin,
kenyamanan atau pembalasan
Restrain dan seklusi hanya dapat diterapkan untuk menjamin keselamatan
fisik langsung dari pasien, tenaga kesehatan ataupun oranglain disekitarnya.
Seklusi tidak akan digunakan:
Bila klien secara aktif merugikan diri
Sebagai prosedur rutin ketika konsumen kasar, mengancam atau merusak properti
Sebagai prosedur rutin setelah restrain
Sebagai stimulus lingkungan rendah - Pilihan lain harus diujicobakan dahulu
Untuk mencegah konsumen dari melarikan diri dari unit kesehatan mental
Sebagai hukuman atau ancaman.
Seorang klien dapat meminta sukarela untuk isolasi atau waktu tenang saja jika ini
adalah bagian dari rencana perawatan mereka. Isolasi ini tidak dianggap pengasingan
karena pintu tidak terkunci dan keluar tidak dibatasi.
Pembatasan penggunaan restrain mekanis:
Seorang pasien tidak dapat dibatasi dalam perangkat menahan diri mekanik di
dalam ruang terkunci setiap saat
Klien yang dilakukan restrain pada empat anggota tubuh tidak akan dirawat di
tempat umum
Perawatan akan diambil untuk melindungi privasi dan martabat setiap orang dalam
setiap jenis alat restrain mekanis pada pasien yang dirawat di daerah publik.
Yang perlu diperhatikan perawat:
Informasi dari setiap insiden yang melibatkan restrain/ seklusi sesegera
mungkin dilaporkan pada penanggung jawab klien setelah peristiwa. Mereka akan
diberitahu alasan mengapa intervensi ini digunakan, periode waktu itu diterapkan dan
konsekuensi dari intervensi.
Ketika tidak ada penanggung jawab, staf akan mempertimbangkan preferensi
klien tentang menghubungi keluarga mereka sebelum membuat kontak ini. Keluarga /
wali anak-anak dan remaja (di bawah 18 tahun) terlibat dalam episode restrain/
seklusi harus dihubungi sesegera mungkin selepas dari intervensi.
Ketika klien dilakukan restrain fisik/ manual, prinsip-prinsip berikut berlaku:
Tim pengelola insiden itu harus dipimpin oleh seorang perawat senior atau Medical
Officer (MO) yang akan mengkoordinasikan tim, detail peran setiap anggota tim,
perhatikan waktu penyelesaian setiap restrain fisik/ manual dan menjaga wajah
klien telungkup dalam batas 2-3 menit. Dokter ini juga akan meninjau insiden
dengan tim setelah itu.
Seorang perawat senior atau M.O. akan bertanggung jawab untuk melindungi dan
mendukung kepala dan leher setiap konsumen dilakukan restrain fisik/ manual,
untuk memastikan bahwa saluran napas dan pernapasan tidak terganggu, untuk
memantau tanda-tanda vital dan untuk mengkoordinasikan tanggapan darurat yang
mungkin diperlukan.
Jumlah yang cukup dari staf klinik harus ersedia untuk mengelola situasi dengan
aman dan efektif
Keamanan staf mungkin diperlukan jika ada keprihatinan keselamatan tertentu
Untuk melindungi staf dari tuduhan pelecehan dan untuk mempromosikan rasa
aman bagi klien, harus ada campuran jender staf selama intervensi dan selama
setiap keluar / masuk ke ruang seklusi, misalnya jika klien adalah perempuan, yang
terbaik adalah jika anggota staf perempuan yang masuk.
Staf harus dilatih di de-eskalasi dan manajemen / strategi agresi intervensi fisik.
Perawat senior yang bertugas bertanggung jawab untuk memastikan bahwa staf
mengamati klien dalam restrain mekanis atau seklusi secara teratur, sebaiknya
dengan tidak lebih dari satu jam di waktu tanpa istirahat.
Melakukan pengamatan selama intervensi terbatas seperti seklusi atau restrain
mekanis yang melibatkan pembatasan semua anggota badan adalah peran penting
yang memerlukan keterlibatan dan keterampilan penilaian dan harus diserahkan
kepada perawat berpengalaman bila memungkinkan.
Ketika menyerahkan tanggung jawab untuk observasi, seluruh klinisi akan
menandatangani catatan perawatan kesehatan klien yang merinci kondisi
konsumen pada saat itu.
Pada operan, jika klien berada dalam seklusi atau restrain mekanik yang
melibatkan pembatasan semua anggota badan, perawat senior atau M.O. dari setiap
shift akan melakukan kajian komprehensif dari klien (termasuk kondisi mental,
keadaan fisik dan penilaian risiko) untuk menentukan apakah episode restrain atau
seklusi bisa berhenti.
Setiap anggota staf baru yang bertanggung jawab untuk pengamatan akan
diperkenalkan kepada klien saat seklusi dan alasan untuk perubahan akan
dijelaskan.
2.1.6 Proses Restrain Secara Etik
Setiap pasien berhak untuk menerima segala bentuk pelayanan kesehatan dalam
kondisi yang aman baik untuk pasien dan tenaga kesehatan yang melakukan tindakan.
Keselamatan pasien, staf, atau orang lain merupakan dasar utama yang menjadi
panduan dalam penggunaan restrain. Semua pasien mempunyai hak untuk
mendapatkan kebebasan bergerak dan terbebas dari perilaku kekerasan baik secara
fisik maupun emosional. Suatu tindakan pembatasan ruang gerak yakni seperti
restraint ini hanya boleh diterapkan untuk menjamin keamanan fisik baik untuk
pasien, staf tenaga kesehatan, atau orang lain dan tindakan pengekangan tersebut
harus dihentikan sesegera mungkin jika kondisi pasien telah stabil dan aman. Dalam
memenuhi kebutuhan dari setiap staf tenaga kesehatan mengenai akan pentingnya
meminimalisir dari penggunaan tindakan restrain, saat ini telah dikembangkan suatu
strategi yang berkaitan dengan etika didalam mengambil keputusan untuk melakukan
tindakan restrain Canadian Nurses Association (2008).
Kontio et al, (2010) menjelaskan bahwa pada saat perawat mengambil keputusan
untuk melakukan tindakan restrain terdapat beberapa aspek yang harus menjadi
perhatian bagi perawat antara meliputi: a) pre restrain artinya sebelum perawat
memutuskan tindakan restrain, perawat harus melakukan pengkajian sebelumnya
terhadap konsekuensi yang didapatkan selama tindakan restrain berlangsung dimana
tindakan tersebut harus dapat diterima secara etis sehingga perawat dapat menganalisa
terhadap keuntungan dan kerugiannya, b) intra retrain artinya selama restrain
berlangsung perawat harus berpedoman kepada beberapa prinsip etik yang harus
diperhatikan antara lain meliputi 1) beneficence artinya tindakan restrain ini dilakukan
kepada pasien dengan tujuan untuk kepentingan pasien yakni melindungi tubuh pasien
agar pasien tidak menciderai tubuhnya sendiri, 2) non maleficence artinya tindakan
restrain harus dilakukan sesuai dengan SOP sehingga tidak membahayakan atau
merugikan pasien, 3) justice artinya selama tindakan restrain dilakukan, tenaga
kesehatan khususnya perawat harus tetap memperlakukan semua pasien dengan setara
dan adil, 4) autonomy artinya pasien yang dilakukan restrain memiliki hak untuk
mendapatkan kebebasannya kembali, c) post restrain artinya setelah tindakan restrain
dilakukan, perawat harus segera melakukan evaluasi terhadap tindakan restrain
dengan cara melakukan penilaian apakah tindakan ini sudah efektif atau belum,
menentukan apakah tindakan restrain ini dapat diterapkan kembali pada saat pasien
mengalami kekambuhan melakukan perilaku kekerasan, dan bersama-sama dengan
tim kesehatan lain menentukan tindakan selanjutnya.
2.1.7 Keuntungan dan Kerugian Restrain
Keuntungan dalam pemberian tindakan restrain pada pasien gangguan jiwa
dengan perilaku kekerasan adalah dapat mengontrol pasien dengan peningkatan
agresifitas sehingga pencederaan pada diri pasien itu sendiri, pencederaan pada orang
lain serta lingkungan disekitar pasien dapat dihindarkan. Keuntungan lainnya
menyatakan bahwa pemberian tindakan restrain yang dilakukan secara sistematis akan
menstimulasi pasien untuk mengontrol emosinya sehingga berpengaruh pada
penurunan ketegangan otot dan perubahan pada proses pikirnya (Stuart & Sundeen,
2006). Pernyataan ini dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suliswati dan
Prihantini (2014) dimana peneliti mengambil sampel sebanyak 30 pasien
schizophrenia yang mengalami perilaku kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Daerah
(RSJD) Surakarta, sampel diberikan tindakan restrain selama mengalami perilaku
kekerasan. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa penggunaan tindakan restrain
efektif terhadap penurunan perilaku kekerasan pada pasien Skizofrenia di RSJD
Surakarta, hal ini dibuktikan dengan penurunan respon perilaku, emosi, fisik dan
verbal setelah pemberian restrain.
Kerugian pemberian restrain pada pasien gangguan jiwa adalah tindakan ini
membatasi rentang gerak pasien, pasien juga dapat beresiko mengalami trauma, baik
trauma secara fisik maupun psikologis. Trauma secara fisik yang dimaksudkan adalah
terjadinya kecacatan akibat patah tulang saat dilakukan restrain, sedangkan trauma
psikologis yang ditimbulkan sebagai dampak dari tindakan restrain adalah cenderung
semakin mendorong pasien gangguan jiwa mengambil langkah untuk mengakhiri
hidupnya (suicide) (Haimowits, Urff & Huckshorn, 2006). Perawat dan orang-orang
yang memberikan restrain juga menjadi pihak yang dirugikan karena akan terjerat
masalah hukum apabila muncul efek samping yang tidak diinginkan pada pasien.
2.1
2.2
2.3
2.1.8 Strategi Perawat Untuk Tidak Mencederai/Dicederai
Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa 100% atau sebanyak
30 kali prosedur tindakan restrain yang dilakukan terdapat perawat perempuan dalam
pemasangannya. Hal ini terjadi karena mayoritas tenaga kesehatan di UPIP adalah
perawat perempuan. Ada tidaknya tenaga kesehatan perempuan dalam pelaksanaan
tindakan restrain berkaitan dengan terjadinya injury pada tenaga kesehatan selama
melakukan tindakan restrain. Dari 30 kali tindakan restrain yang dilakukan, 80% atau
sebanyak 24 kali prosedur tidak menimbulkan kejadian injury pada tenaga kesehatan.
Namun masih ada kejadian injury pada tenaga kesehatan selama melaksanakan
tindakan restrain yaitu sebesar 20% atau sebanyak 6 perawat. Kejadian injury yang
sering dialami perawat antara lain: dilidahi pasien, ditendang, dicakar, dan terkadang
juga ditarik bajunya (Guarsa, 2010).
Penelitian yang dilakukan oleh Wanda, K. (2003), menyebutkan bahwa
pelaksanaan restrain pada pasien dengan gangguan jiwa tidak hanya memberikan
dampak pada pasien, namun juga berisiko pada tenaga kesehatan yang melakukannya
mengalami cedera. Perawat perempuan dan laki-laki memang berbeda. Kekuatan
tenaga atau daya fisik laki-laki jauh lebih banyak dari pada teaga fisik perempuan.
Tubuh perempuan yang besar dan gemuk belum tentu menjamin adanya tenaga dan
daya fisik yang lebih dibandingkan dengan laki-laki yang mungkin jauh lebih kurus
(Gunarsa, 2010 ).
Strategi perawat untuk tidak mencederai/dicederai adalah dengan :
a. Menggunakan bantuan orang tua lebih disukai pasien apabila dibandingkan dengan
menggunakan bantuan tim medis, sebab pasien lebih merasa aman apabila dekat
dengan orang tuanya.
b. Lebih baik lima atau minimal empat orang harus digunakan untuk mengikat klien.
Pengikat kulit adalah jenis pengikatan yang paling aman dan paling menjamin.
c. Menjelaskan kepada pasien mengapa mereka akan diikat.
d. Seorang anggota keluarga harus selalu terlihat dan menetramkan pasien yang
diikat. Penentraman membantu menghilangkan rasa takut, ketidakberdayaan, dan
hilangnya kendali klien.
e. Klien harus diikat dengan kedua tungkai terpisah dan satu lengan diikat di satu sisi
dan lengan lain diikat diatas kepala pasien.
f. Pengikatan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga aliran darah klien tidak
tertekan/terhambat.
g. Kepala klien agak ditinggikan untuk menurunkan perasaan kerentanan dan untuk
menurunkan kemungkinan tersedak.
h. Pengikatan harus diperiksa secara berkala demi keamanan dan kenyamanan.
i. Setelah diikat, keluarga harus menenangkan klien dengan cara berkomunikasi.
j. Setelah klien dikendalikan, satu ikatan sekali waktu harus dilepas dengan interval
lima menit sampai klien hanya memiliki dua ikatan. Kedua ikatan lainnya harus
dilepaskan pada waktu yang bersamaan, karena tidak dianjurkan membiarkan klien
hanya dengan satu ikatan.
k. Memasung klien gangguan jiwa tidak dianjurkan, dimana klien diikat/dirantai,
tangan dan atau kakinya dipasang pada sebuah balok kayu agar tidak berbahaya
bagi dirinya sendiri ataupun orang lain dan lingkungan sekitarnya. Pemasungan
yang berlangsung lama akan mengakibatkan anggota tubuh yang dipasung menjadi
kecil dan tidak dapat berfungsi secara normal seperti biasanya.
l. Cara pemasungan lainnya yang tidak dianjurkan adalah pengandangan. Kandang
penderita dibangun diluar desa dan dikunci rapat dan diasingkan.
m. Perawat harus mengidentifikasi faktor pencetus apakah sesuai dengan indikasi
terapi, dan terapi ini hanya untuk intervensi yang paling akhir apabila intervensi
yang lain gagal mengatasi perilaku agitasi klien.
n. Kemungkinan mencederai klien dalam proses restrain sangat besar, sehingga perlu
disiapkan jumlah tenaga perawat yang cukup dan harus terlatih untuk
mengendalikan perilaku klien.
o. Perlu juga dibuat perencanaan pendekatan dengan klien, penggunaan restrain yang
aman dan lingkungan restrain harus bebas dari benda-benda berbahaya.
2.1.9 Tahap Evaluasi Restrain
Pasien perilaku kekerasan yang mendapatkan tindakan restrain, harus dilakukan
evaluasi untuk mengukur tujuan dan kriteria yang telah tercapai. Menurut Videbeck
(2008) menjelaskan bahwa terdapat dua indikator untuk mengukur evaluasi yaitu
meliputi :
1. Indikator pelepasan restrain
Pasien perilaku kekerasan akan terlepas dari restrain apabila telah berhasil
memenuhi indikasi berikut ini :
a. Kemampuan pemenuhan ADL
Pemenuhan ADL ini apabila pasien PK telah mampu untuk menjaga perawatan
diri: seperti kebersihan diri, berdandan, makan / minum, BAB / BAK
b. Kondisi fisik yang membaik
Pasien dikatakan memiliki kondisi fisik yang baik apabila tidak melakukan
aktivitas berikut ini yang mencakup tindakan mencakar, meludah, menjambak,
menendang, mencengkeram pakaian, mencekik, dan mendorong.
c. Kondisi psikologis yang membaik
Kondisi psikologis yang baik mencakup mampu mengidentifikasi marah,
mampu mengontrol marah (fisik, sosial, dan spiritual), kooperatif dengan
pengobatan, serta tidak memiliki tanda-tanda PK seperti agitasi verbal mapun
motorik, impulsive, serta marah-marah tanpa sebab.
Selain indikator diatas, menurut Stuart & Laraia (2005) menjelaskan terdapat
beberapa aspek yang menjadi indikasi dari pelepasan restrain pada pasien
perilaku kekerasan. Aspek tersebut mencakup pasien dapat mengekspresikan
marahnya dengan cara konstruktif, pasien telah mampu mengidentifikasi situasi
yang dapat membangkitkan kemarahannya, klien telah menyadari akibat dari
marah dan pengaruhnya pada yang lain, Klien telah mampu menggunakan
aktivitas secara fisik untuk mengurangi perasaan marahnya, klien mampu
mentoleransi rasa marahnya, konsep diri klien sudah meningkat, serta
kemandirian dalam berpikir dan aktivitas meningkat.
2. Indikasi pasien terpasang restrain kembali
Indikasi dipasang kembali restrain pada pasien perilaku kekerasan, apabila pasien
mengalami kekambuhan. Dengan indikasi klien melakukan perilaku kekerasan yang
membahayakan diri sendiri dan lingkungannya, perilaku agitasi yang tidak dapat
diatasi dengan obat-obatan, klien yang mengalami gangguan kesadaran, klien yang
membutuhkan bantuan untuk mendapatkan rasa aman dan pengendalian diri, serta
ancaman terhadap integritas tubuh berhubungan dengan penolakan klien untuk
istirahat, makan dan minum.
BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Analisis Perkembangan Restrain
Pasien dengan gangguan jiwa merupakan seseorang yang beresiko tinggi untuk
melakukan tindakan kekerasan baik pada diri sendiri, orang lain, maupun lingkungannya
(Aras, 2014). Penanganan yang sering dilakukan di rumah sakit jiwa adalah pengikatan
atau restrain (restraint). Restrain adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengekang
seseorang dengan menggunakan fisik atau alat lain (NMHCCF, 2012).
Perkembangan penelitian terakhir didapatkan dampak negatif dari restrain. Restrain
banyak memberikan dampak negatif baik itu dari segi biologis, psikologis maupun dari
segi sosial. Berdasarkan beberapa penelitian terkait didapatkan dampak penggunaan
restrain telah membuat 22 orang dari 26 kasus pasien gangguan jiwa meninggal
(Berzlanovich, et al., 2012). Efek secara fisik yang di terima oleh pasien sebagai dampak
negatif dilakukannya restrain adalah adanya cedera fisik, nyeri hebat dan luka. Pasien
juga merasa tangan dan kakinya yang di ikat terasa sangat sakit (Kontio, et al., 2012).
Selain itu, dampak negatif yang juga membuat pasien menjadi trauma oleh tindakan
perawatan maupun tidak ingin lagi dirawat oleh pelayanan keperawatan (U.S
Departement of Health and Human Sevices, 2010). Restrain yang juga menyebakan
trauma psikologis, dimana restrain dan seklusi membuat pasien gangguan jiwa
mengambil langkah untuk bunuh diri (suicide) (Haimowits, Urff, & Huckshorn, 2006).
Akibat selanjutnya dengan adanya restrain dan seklusi adalah pasien menjadi cedera
atau bahkan meninggal dunia. Hal ini menunjukkan bahwa restrain dianggap bukan
tindakan pertama yang harus ddiberikan kepada pasien gangguan jiwa.
Restrain merupakan tindakan terakhir yang harus di berikan kepada pasien
mengingat banyak nya dampak negatif yang didapat pasien. Hasil analisa dari negara
yang menjadi unit analisis beberapa penelitian didapatkan bahwa Amerika Serikat,
Inggris, Australia dan Kanada, menyatakan bahwa restrain merupakan tindakan terakhir
yang dilakukan kepada pasien gangguan jiwa. Sedangkan Afrika selatan menuliskan
bahwa restrain pada gangguan jiwa merupakan tindakan yang emegensi. Irlandia dan
New Zealand menuliskan bahwa restrain dilakukan jika pilihan alternatif non restriktif
tidak berhasil dilakukan. Jika dibandingkan dengan Indonesia, saat ini belum ditemukan
standar atau kebijakan yang menuliskan bahwa restrain merupakan tindakan terakhir
yang harus dilakukan pada pasien gangguan jiwa (Malfasari, Keliat & Daulima, 2013).
Persamaan negara diatas tentang pelaksanaan restrain yaitu merupakan tidakan
terakhir yang harus diberikan kepada pasien dengan gangguan jiwa. Kebijakan untuk
menjadikan restrain sebagai alternatif terakhir mejadi bahan kajian dalam penelitian
yang berjudul Re-Designing State Mental Health Policy to Prevent the Use of Seclusion
and Restraint (Huckshorn, 2006). Penelitian ini menyebutkan bahwa tindakan alternatif
terakhir merupakan salah satu cara untuk mengurangi melakukan tindakan restrain dan
seklusi di rumah sakit. Tentunya Huckshorn (2006) juga menyatakan bahwa lebih baik
untuk menjadikan restrain sebagai alternatif terakhir sebagai “do nothing” alternatif
untuk mengurangi resiko untuk mengurangi dampak negatif bagi pasien dan perawat.
3.2 Analisis Kebijakan Pelaksanaan Restrain
Peraturan dan Aspek legal restrain dan seklusi sudah ada di negara-negara
berkembang di dunia. Amerika Serikat merupakan negara yang mempunyai peraturan
mengenai restain pada pasien. Peraturan tentang restrain pada pasien ini ada pada
Federal Register Part IV Departement of Health and Human Services; Medicare and
Medicaid Programs; Hospital Conditions of Partisipation; Patients’ Right; Final Rule
tahun 2006. Peraturan tentang restrain dibahas secara umum. Peraturan tersebut
membahas restrain pada pasien umum dan pasien gangguan jiwa. Dalam peraturan ini
teradapat kriteria-kriteria restrain, pengaturan penggunaan restrain dan siapa yang berhak
melakukan restrain. Angka yang tinggi dalam pelaksaan restrain dan kematian yang
terjadi karena pelaksanaan restrain di Australia membuat National Mental Health
Consumer & Carer Forum (NMHCCF) Australia mencoba mengubah tentang peraturan
penggunaan restrain yang sudah ada yang diatur oleh Departemen Kesehatan mereka
(National Mental Health Consumer & Carer Forum, 2009). Tidak semua negara di dunia
mempunyai peraturan khusus mengenai restrain, begitu juga di Indonesia.
Indonesia telah mempunyai kebijakan tentang restrain. Pemasungan (restrain
dan seklusi) di Indonesia sebelumnya telah dilarang Surat Menteri Dalam Negeri Nomor
PEM.29/6/15 tahun 1977 berisi tentang pelarangan pasung pada pasien gangguan jiwa,
dan masyarakat diharapkan untuk membawa pasien dengan gangguan jiwa untuk
dilakukan perawatan di rumah sakit jiwa, sehingga pasien yang dianggap mencederai diri
sendiri dan lingkungannya bisa di tangani di rumah sakit. Saat ini di Indonesia juga
sudah ada penanganan restrain tersendiri untuk gawat darurat psikiatri, dimana sudah di
tuangkan dalam modul Psychiatric Intensive Care Unit (PICU).
Pelaksanaan restrain di masyarakat juga telah tertuang secara tersirat dalam
Undang-undang (UU) kesehatan No 36 tahun 2009 tentang kesehatan jiwa. Pasal-pasal
dalam UU tersebut telah tercantum hak-hak pasien dengan masalah kejiwaan bahwa
mereka punya hak yang sama dengan orang sehat lainnya. Ayat 149 dalam pasal tersebut
juga menyebutkan bahwa jika ada pasien dengan gangguan jiwa yang mengganggu,
mengancam diri sendiri dan orang lain berhak untuk mendapatkan perawatan yang layak.
Pada kenyataannya masih banyak pasien yang dilakukan restrain dan
mendapatkan berbagai dampak akibat dari restrain tersebut. Hal ini dapat disimpulkan
bahwa belum adanya peraturan khusus tentang standar-standar restrain. Perawat sebagai
tenaga kesehatan dengan kontak terlama dengan pasien dan pasien bisa menjadi korban
dalam pelaksanaan restrain karena tidak ada peraturan khusus yang menangangi tentang
restrain ini. Saat ini di Indonesia belum ada ditemukan peraturan, aspek legal, kebijakan
mengenai restrain untuk penanganan pasien yang amuk dan tidak terkontrol yang lebih
spesifik. Banyaknya kasus yang mengakibatkan pasien menjadi trauma karena tindakan
restrain dan peraturan restrain yang belum sesuai dengan standar. Restrain yang
mengakibatkan banyaknya dampak negatif jika tidak dilakukan sesuai standar maka
dampak tersebut secara tidak langsung juga melanggar Hak Asasi Manusia (HAM)
pasien itu sendiri. Hal ini dapat menyebabkan dilema ketika pasien dengan gangguan
jiwa harus dilakukan restrain tetapi mengalami cedera karena pasien tersebut melawan
restrain yang di berikan, secara tidak langsung perawat akan dirugikan karena peraturan
ini. Selain itu banyaknya dampak negatif pada pasien dan perawat serta tidak ada
peraturan, kebijakan atau legal aspek yang jelas dalam melakukan restain.
Perlindungan HAM berdasarkan hasil analisis pada beberapa penelitian terdapat
beberapa kategori yaitu adalah dengan memberikan informasi pada pasien dan keluarga
tentang pelaksaanaan restrain, pelaksanaan restrain bukan merupakan sebuah hukuman,
durasi restrain yang sesingkat-singkatnya, memberikan pakaian pada pasien, staff dan
pasien mempunyai jenis kelamin yang sama, memberikan kebutuhan pasien (makan,
minum dan toilet), mempertimbangkan budaya dalam pelaksanaan restrain dan tidak
membeda-bedakan pasien. Sedangkan perlindungan HAM juga di sebutkan dalam
kebijakan dan legal aspek di Indonesia bahwa adanyanya fasilitas untuk di restrain dan
seklusi, informed concent pada pasien dan keluarga, perlindungan kepada pasien,
pemenuhan kebutuhan dasar pasien dan membebaskan pasien gangguan jiwa yang di
pasung.
Persamaan dari semua unit analisis negara-negara yang mempunyai kebijakan
tentang restrain di luar negeri tentang perlindungan HAM bahwa pemberian informasi
kepada keluarga dan pasien pada saat sebelum dilakukan restrain hampir dilakukan oleh
semua negara. Negara tersebut adalah Australia, Amerika Serikat, Kanada, Afrika
Selatan, New Zealand. Negara-negara tersebut adalah negara yang menjunjung tinggi
HAM.
Perlindungan HAM pada pasien gangguan jiwa dalam pelaksaan restrain,
selanjutnya adalah menjadikan restrain bukan sebagai hukuman. Hampir setiap negara
menuliskan hal ini di dalam legal aspek dan kebijakan restrain. Setiap pasien berhak
untuk mendapatkan kebebasan dari adanya kekerasan mental dan tidak dibenarkan untuk
menjadikan restrain di rumah sakit sebagai hukuman. International Bill of Human Rights
menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk tidak mendapatkan kekerasan baik itu
kekerasaan fisik maupun mental. Jika restrain dilaksanakan karena alasan untuk
menghukum pasien, berarti perorangan atau sebuah organisasi tersebut sudah melanggar
Hak Asasi Manusia (HAM).
Perlindungan HAM lainnya pada pelaksanaan restrain pada pasien adalah
pelaksanaan restrain dalam durasi yang sesingkat-singkatnya. Setiap kebijakan dari
setiap negara mempunyai macam macam durasi dalam melaksanakan restrain di rumah
sakit jiwa. Pada dasarnya standar durasi belum ada secara internasional, tetapi prinsip
sesingkat-singkatnya dan dengan mempertimbangkan pengkajian klinis, efek obat dan
alasan keamanan (Bergk, Einsiedler, & Steinert, 2008). Perbedaan frekuensi dan durasi
dari pelaksanaan restrain di setiap negara karena adanya perbedaan kultur, nilai dan
sistem kesehatan jiwa di negara tersebut (Bowers et al., 2007). Jadi, pelaksanaan durasi
restrain di rumah sakit harus dilaksanakan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya
untuk menghargai HAM pasien. Hak pasien yang dilanggar jika pelaksanaan restrain dan
seklusi yang dilakukan dalam waktu yang lama adalah hak untuk mendapatkan
kebebasan.
HAM pasien yang harus dilindungi dalam pelaksanaan restrain adalah
melindungi privasi pasien dengan memberikan pakaian, memnberikan kebutuhan dasar
seperti makanan minuman dan toilet. Menghargai pasien dengan gangguan jiwa berarti
menghargai harkat dan martabat pasien sebagai manusia. Seperti yang terkandung dalam
dalam Undang-Undang Kesehatan no 36 Tahun 2009 pasal 148 ayat 1 yang menyatakan
bahwa pasein dengan gangguan jiwa mempunyai hak yang sama dengan manusia sehat
lainnya sebagai warga negara Indonesia. Begitu juga di jelaskan pada pasal 148 ayat 2
bahwa pasien dengan gangguan jiwa mendapatkan perlakuan yang sama untuk setiap
aspek kehidupan. Dengan demikian berarti pasien dengan gangguan jiwa yang di
resdtrain harus dihormati selayaknya manusia lain pada umumnya yang diberikan
pakaian, makan dan minum yang layak dan penggunaan toilet yang layak.
Hak pasien lainnya yang juga di dapatkan dari hasil analisis kebijakan luar
negeri bahwa pasien yang direstrain harus di intervensi oleh perawat atau staff lain
dengan jenis kelamin yang sama dengan pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
angka kecelakaan meningkat jika pasien perempuan ditangani oleh staff pria, berbanding
terbalik jika pasien laki-laki ditangani oleh staff wanita, sehigga angka kecelakaan
semakin meningkat. Begitu juga dengan resiko adanya kekerasan secara seksual.
Tentunya fakta ini memungkinkan bahwa pelaksanaan restrain dilakukan oleh pasien dan
staff atau perawat yang mempunyai gender sama diterapkan di Indonesia. Hal ini
dikarenakan sebelumnya memang belum ada pernyataan tertulis tentang gender sama
antara staff dan pasien sebelumnya.
HAM pasien yang harus dilindungi lainnya dalam pelaksanaan restrain adalah
menghormati budaya, spiritual, bahasa, suku bangsa dan tidak membeda-bedakan pasien.
Negara-negara yang mengusung adanya rasa hormat terhadap budaya, spiritual, bahasa,
suku bangsa dan tidak membeda-bedakan pasien adalah Inggris, Australia, Irlandia, New
Zealand, dan Amerika Serikat. Penyataan ini tidak tersurat secara langsung di legal aspek
dan kebijakan Indonesia pada pasien gangguan jiwa yang dilakukan restrain. Padahal
Indonesia adalah negara dengan berbagai macam budaya, suku dan bahasa.
Negara Australia dan New Zealand menyatakan sangat penting sekali untuk
menghormati budaya pasien. Hal ini karena Australia dan New Zealand mempunyai suku
bangsa Aborigin dan Maori yang masih kuat memegang budaya mereka (Ministry of
Health NSW, 2012), sehingga jika dilakukan restrain pada suku tersebut, suku aborigin
menganggap bahwa restrain adalah tindakan yang merendahkan derajat mereka sebagai
manusia, oleh karena itu masyarakat aborigin tidak mau membawa keluarga mereka ke
rumah sakit (Aubusson, 2013). Oleh karena itu faktor budaya menjadi hal yang penting
untuk di pertimbangkan dalam kebijakan dan legal aspek restrain.
3.3 Analisis Keselamatan Pasien dan Perawat dalam Pelaksanaan Restrain
Keselamatan pasien dan perawat dalam pelakasanaan restrain merupakan hal yang
krusial. Keselamatan pasien dan perawat merupakan dasar pertimbangan untuk
mempertahankan keselamaan fisik pada pasien, tidak melakukan restrain secaara
bersamaan, alat restrain tidak menyakiti pasien, memonitor dan mengobservasi
keselamatan pasien dan tersedianya alat-alat emergensi jika terjadi kegawatdaruratan
pada pasien di ruangan restrain di rumah sakit dan staf harus dilatih sebelum ditugaskan
dalam ruangan restrain. Keselamatan staff yang dalam hal ini perawat juga menjadi
perhatian beberapa negara untuk menjaga keselamatan staff dalam melaksanakan
restrain.
Keselamatan pasien adalah hal yang utama. Tingginya angka kematian pada pasien
yang dilakukan pada pasien gangguan jiwa menunjukkan bahwa pentingnya aspek
keselamatan pasien dalam pelaksaan restrain (Haimowits, Urff & Huckshorn, 2006) Oleh
karena itu pelaksanaan restrain harus memperhatikan keselamatan dimulai dengan
menjaga jalan napas, dada, perut yang jika salah dalam penanganannya akan
menyebabkan pasien meninggal dunia.
Keselamatan pasien dapat di tingkatkan dengan adanya pelatihan pada staff. Staff
yang berkompeten yang juga termasuk perawat dapat mengurangi resiko adanya
kecelakaan ketika terjadinya restrain (Bowers & Crowder, 2012). Keselamatan staf juga
harus menjadi hal yang penting, staff keperawatan khususnya adalah orang yang paling
beresiko terhadap keagresifan dan perilaku kekerasan pasien dengan gangguan jiwa
(Briner & Manser, 2013). Pelatihan staff juga menurunkan resiko kecelakaan kerja pada
perawat itu sendiri (Emde & Merkle, 2002). Dengan demikian keselamatan pasien dan
staff juga harus dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam kebijakan restrain yang ada di
Indonesia.
3.5 Review Penelitian Restrain
Berdasarkan review beberapa penelitian didapatkan hasil yang beragam mengenai
keefektifan retrain bagi klien dengan gangguan jiwa. Penggunaan restrain efektif
terhadap penurunan perilaku kekerasan pada pasien Skizofrenia di RSJD Surakarta
(Sulistyowati & Prihantini, 2014), Sejalan dengan penelitian diatas, Prosedur restrain
yang dilakukan di Unit Pelayanan Intensif Psikiatri (UPIP) sebagian besar kurang sesuai
dengan SOP yang telah ditetapkan oleh rumah sakit yaitu diikat dalam waktu lebih dari 4
jam. Pelaksanaan prosedur restrain yang dilakukan secara umum tidak memberikan efek
samping pada pasien, telah memenuhi indikator pelepasan restrain, tidak mengalami
kekambuhan perilaku kekerasan. Tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelaksanaan
restrain sebagian besar berjumlah lebih dari 2 dengan melibatkan tenaga kesehatan
perempuan dan tidak menimbulkan injuri sehingga terbukti efektif dalam mengurangi
perilaku kekerasan (Pambudi, P. S., 2014). Penelitian lain terkait pengetahuan perawat
tentang pelaksanaan restrain didapatkan pengetahuan perawat sebagian besar dalam
kategori tinggi, tindakan keperawatan teknik restrain perawat sebagian besar melakukan
tindakan keperawatan teknik restrain dengan baik dan terdapat hubungan yang signifikan
antara pengetahuan perawat dengan tindakan keperawatan teknik restrain perawat di
Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta (Permanasari, N., 2010).
Sistematik review oleh The National Collaborating Centre for Nursing and
Supportive Care (NCC-NSC) terhadap 36 penelitian tentang keselamatan dan efektivitas
restrain untuk intervensi jangka pendek klien perilaku kekerasan ditemukan bukti tidak
cukup kuat untuk menentukan apakah restrain efektif sebagai intervensi jangka pendek
perilaku kekerasan di unit rawat inap. Oleh karena itu intervensi tersebut harus
digunakan dengan hati-hati dan hanya sebagai pilihan terakhir untuk intervensi klien
dengan perilaku kekerasan (Nelstrop, Chandler‐Oatts, Bingley, Bleetman, Corr, Cronin‐
Davis, ... & Johnston, 2006).
Penelitian tentang restrain mengemukakan bahwa keperawatan jiwa gawat darurat,
karena pengobatan mereka terutama pasien akut, mungkin tidak dapat sepenuhnya
menghilangkan penggunaan restrain secara total, tetapi program ini dapat mengadopsi
strategi untuk mengurangi tingkat penggunaan restrain sebagai alternatif tindakan
terakhir (Knox, D. K., & Holloman, G. H., 2012). Sehingga memunculkan kebutuhan
untuk menemukan metode baru dalam intervensi pasien perilaku kekerasan di ruang
psikiatri, Penggunaan restrain tetap lazim digunakan sebagai pilihan terakhir, tapi ada
adalah program inovatif serveral yang telah berhasil mengendalikan dan mengurangi
penggunaan retsrain (Sailas & Wahlbeck, 2005). Lebih lanjut dalam menurunkan
penggunaan restrain menggunakan intervensi efektif lain seperti mengurangi waktu awal
restrain dan pendidikan staf berhasil menurunkan penggunaan restrain di rumah sakit di
New York (Hellerstein, Staub & Lequesne, 2007).
Literatur review tentang insiden penggunaan restrain dan seklusi di Rumah Sakit Jiwa
di beberapa negara didapatkan hampir keseluruhan negara pernah mempraktekkan
penggunaan restrain untuk pasien dengan gangguan jiwa, namun beberapa negara juga
telah memiliki kebijakan tentang pelarangan penggunaan restrain sebagai intervensi
gangguan jiwa (Steinert, Lepping, Bernhardsgrütter, Conca, Hatling, Janssen...&
Whittington, 2010). Tindak lanjut yang perlu dipertimbangkan adalah menggarisbawahi
pentingnya mengevaluasi berbagai faktor, termasuk persepsi keamanan dan kekerasan,
sebagai alasan latar belakang mengapa restrain dipilih sebagai intervensi (De Benedictis,
Dumais, Sieu, Mailhot, Létourneau, Tran,... & Lesage, 2011). Berdasarkan literatur
review didapatkan adanya penurunan penggunaan restrain di 36 negara namun bukti
standar masih belum kuat terkait efektifitas dan ketepatan prosedur restrain (Stewart,
Van der Merwe, Bowers, Simpson & Jones, 2010).
Penelitian tentang pengalaman perawat dalam melakukan restrain didapatkan perawat
mengalami distress emosi dalam melaksanakan restrain berhubungan dengan penolakan
pasien dan tekanan dalam intervensi restrain (Moran, A., Cocoman, A., Scott, P. A.,
Matthews, A., Staniuliene, V., & Valimaki, M., 2009).
Penelitian tentang persepsi klien tentang pengalamanya mendapatkan restrain dan
seklusi didapatkan hasil pasien cenderung setuju dengan pernyataan terkait dengan
kebutuhan kenyamanan dan keamanan pelaksanaan restrain. Mengenai dukungan,
mereka menyarankan hubungan relasi, obat, dan lingkungan intervensi untuk mencegah
pengasingan. Akhirnya, hampir semua pasien merasakan bahwa tim kesehatan tidak
menindaklanjuti atau memberikan follow-up dengan pasien setelah pengalaman restrain
yang pasien hadapi (Larue, Dumais, Boyer, Goulet, Bonin, & Baba, 2013).
BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Aras, H. I. (2014). Violence in Schizophrenia. Psikiyatride Guncel Yaklasimlar - Current
Approaches in Psychiatry, 6(1),
Ashcraft, L., & Anthony, W. (2015). Eliminating seclusion and restraint in recovery-oriented
crisis services. Psychiatric Services.
Aubusson, K. (2013). Fear of seclusion drives Indigenous from mental healthcare: experts.
Retrieved from [Link]
drives-indigenous-from-mental-health
Australian Society for Geriatric Medicine. (2012). Position statement no.2 physical restraint
use in older people. Revised September 2012
Bergk, J., Einsiedler, B., & Steinert, T. (2008). Feasibility of randomized controlled trials on
seclusion and mechanical restraint. Clinical Trials (London, England), 5(4), 356-363.
doi: 10.1177/1740774508094405
Berzlanovich, A., Schöpfer, J., & Keil, W. (2012). Deaths Due to Physical Restraint. Dtsch
Arztebl Int, 109(3), 27–32. doi: 10.3238/arztebl.2012.0027
Bowers, L., & Crowder, M. (2012). Nursing staff numbers and their relationship to conflict
and containment rates on psychiatric wards—A cross sectional time series Poisson
regression study. International Journal of Nursing Studies, 49(1), 15-20. doi:
[Link]
Bowers, L., & Crowder, M. (2012). Nursing staff numbers and their relationship to conflict
and containment rates on psychiatric wards—A cross sectional time series Poisson
regression study. International journal of nursing studies, 49(1), 15-20.
Bowers, L., van der Werf, B., Vokkolainen, A., Muir-Cochrane, E., Allan, T., & Alexander,
J. (2007). International variation in containment measures for disturbed psychiatric
inpatients: A comparative questionnaire survey. International Journal of Nursing Studies,
44(3), 357-364.
Briner, M., & Manser, T. (2013). Clinical risk management in mental health: a qualitative
study of main risks and related organizational management practices. BMC Health
Services Research, 13, 44-44. doi: 10.1186/1472-6963-13-44
Busch, A. B., & Shore, M. F. (2010). Seclusion and restraint: A review of recent literature.
Harvard review of psychiatry.
Canadian Nurses Association (2008). Code of ethics for registered nurses. Ottawa: Canadian
Nurses Association.
De Benedictis, L., Dumais, A., Sieu, N., Mailhot, M. P., Létourneau, G., Tran, M. A. M., ...
& Lesage, A. D. (2011). Staff perceptions and organizational factors as predictors of
seclusion and restraint on psychiatric wards. Psychiatric Services, 62(5), 484-491.
Emde, K., & Merkle, S. (2002). Reducing use of restraints in the emergency department: One
level III community hospital's experience. Journal of Emergency Nursing, 28(4), 320-
322. doi: [Link]
Flammer, Erich & Steinert, Tilman, (2015). Involuntary Medication, Seclusion, and Restraint
in German Psychiatric Hospitals after the Adoption of Legislation in 2013.
[Link]
Frueh, B. C., Knapp, R. G., Cusack, K. J., Grubaugh, A. L., Sauvageot, J. A., Cousins, V.
C., ... & Hiers, T. G. (2005). Special section on seclusion and restraint: Patients' reports
of traumatic or harmful experiences within the psychiatric setting. Psychiatric Services.
Gallagher, A. (2011). Ethical issues in patient restraint. Mental Health Ethics: The Human
Context, 107(9th), 18-20.
Gallagher, Ann. (2013). How to use the “four-quadrant” approach to analyse different
restraint situations Ethical issues in patient restraint. Nursing Times; 08.03.11 / Vol 107
No 9 / [Link]
Gaskin, C. J., McVilly, K. R., & McGillivray, J. A. (2013). Initiatives to reduce the use of
seclusion and restraints on people with developmental disabilities: a systematic review
and quantitative synthesis. Research in developmental disabilities, 34(11), 3946-3961.
Gastmans, C, & Milisen, K. (2006). Use of physical restraint in nursing homes: clinical-
ethical considerations. Journal Med Ethics 32, 148-152. doi: 10.1136
Goulet, M. H., & Larue, C. (2016). Post-Seclusion and/or Restraint Review in Psychiatry: A
Scoping Review. Archives of psychiatric nursing, 30(1), 120-128.
Guarsa (2010). Breakaway and physical restraint techniques in acute psychiatric nursing.
Journal of Forensic Psychiatry and Psychology, 16, 380-398.
Haimowits, S., Urff, J., & Huckshorn, K. A. (2006). Restraint and Seclusion – A Risk
Management Guide. Perspectives in psychiatric care, 48(1)
Haimowits, S., Urff, J., & Huckshorn, K. A. (2006). Restraint and seclusion – A Risk
Management Guide. Retrieved from [Link]
%20MGMT%[Link]
Hellerstein, D. J., Staub, A. B., & Lequesne, E. (2007). Decreasing the use of restraint and
seclusion among psychiatric inpatients. Journal of Psychiatric Practice®, 13(5), 308-317.
Huckshorn, K. A. R. N. M. S. N. C. A. P. I. (2006). Re-Designing State Mental Health Policy
to Prevent the Use of Seclusion and Restraint. Administration and Policy in Mental
Health and Mental Health Services Research, 33(4), 482-491. doi:
[Link]
Issac Ann. (2004). Keperawatan dan Kesehatan Jiwa Psikiatrik Edisi 3. Jakarta : EGC.
Kandar., Pambudi, Setyo Prabawati. (2013). Efektivitas tindakan restrain pada pasien
perilaku kekerasan yang menjalani perawatan di unit pelayanan intensif psikiatri (UPIP)
RSJ Daerah dr. Amino Gondohutomo Semarang tahun 2013. Prosiding Konferensi
Nasional Ii Ppni Jawa Tengah 2014.
Knox, D. K., & Holloman, G. H. (2012). Use and avoidance of seclusion and restraint:
consensus statement of the american association for emergency psychiatry project Beta
seclusion and restraint workgroup. Western Journal of Emergency Medicine, 13(1).
Kontio, R., Joffe, G., Putkonen, H., Kuosmanen, L., Hane, K., Holi, M., & Välimäki, M.
(2012). Seclusion and restraint in psychiatry: patients' experiences and practical
suggestions on how to improve practices and use alternatives. Perspectives in psychiatric
care, 48(1), 16-24.
Kontio, R., Maritta, Putkonen, H., Kuosmanen, L., Scott, A., & Joffe, G. (2010). Patient
restrictions: Are there ethical alternatives to seclusion and restraint? Journal of Nursing
Ethic, 17(1st), 65-76.
Kontio, R., Välimäki, M., Putkonen, H., Kuosmanen, L., Scott, A., & Joffe, G. (2010).
Patient restrictions: Are there ethical alternatives to seclusion and restraint?. Nursing
Ethics, 17(1), 65-76.
Larue, C., Dumais, A., Ahern, E., Bernheim, E., & MAILHOT, M. P. (2009). Factors
influencing decisions on seclusion and restraint. Journal of psychiatric and mental health
nursing, 16(5), 440-446.
Larue, C., Dumais, A., Boyer, R., Goulet, M. H., Bonin, J. P., & Baba, N. (2013). The
experience of seclusion and restraint in psychiatric settings: perspectives of patients.
Issues in mental health nursing, 34(5), 317-324.
Malfasari, E., Keliat, B. A., Daulima, N. H. C., & Indonesia, F. I. K. U. Analisis legal aspek
dan kebijakan restrain, seklusi dan pasung pada pasien dengan gangguan jiwa.
Martin, V., Bernhardsgrütter, R., Goebel, R., & Steinert, T. (2007). The use of mechanical
restraint and seclusion in patients with schizophrenia: A comparison of the practice in
Germany and Switzerland. Clinical Practice and Epidemiology in Mental Health, 3(1),
Ministry of Health, NSW. (2012). Aggression, seclusion and restraint: Preventing,
minimising and managing disturbed behaviour in declared mental health facilities in
NSW- Procedure.
Moran, A., Cocoman, A., Scott, P. A., Matthews, A., Staniuliene, V., & Valimaki, M. (2009).
Restraint and seclusion: a distressing treatment option?. Journal of psychiatric and
mental health nursing, 16(7), 599-605.
Nelstrop, L., Chandler‐Oatts, J., Bingley, W., Bleetman, T., Corr, F., Cronin‐Davis, J., ... &
Johnston, S. (2006). A Systematic Review of the Safety and Effectiveness of Restraint
and Seclusion as Interventions for the Short‐Term Management of Violence in Adult
Psychiatric Inpatient Settings and Emergency Departments. Worldviews on Evidence‐
Based Nursing, 3(1), 8-18.
NMHCCF. (2012). Ending Seclusion and Restraint in Australian Mental Health Services.
(Seclusion and Restraint in Mental Health Services). Retrieved from [Link]
Oster, C., Gerace, A., Thomson, D., & Muir-Cochrane, E. (2016). Seclusion and restraint use
in adult inpatient mental health care: An Australian perspective. Collegian, 23(2), 183-
190.
Pambudi, P. S. (2014). Efektivitas Tindakan Restrain Pada Pasien Perilaku Kekerasan Yang
Menjalani Perawatan Di Unit Pelayanan Intensif Psikiatri (UPIP) RSJ Daerah Dr. Amino
Gondohutomo Semarang Tahun 2013. In Prosiding Seminar Nasional (Vol. 2, No. 1).
Permanasari, N. (2010). Hubungan Pengetahuan Perawat Dengan Tindakan Keperawatan
Teknik Restrain Pada Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta
(Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Riyadi, S dan Purwanto, T. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Mantra Books.
Sailas, E., & Wahlbeck, K. (2005). Restraint and seclusion in psychiatric inpatient wards.
Current opinion in psychiatry, 18(5), 555-559.
Steinert, T., Lepping, P., Bernhardsgrütter, R., Conca, A., Hatling, T., Janssen, W., ... &
Whittington, R. (2010). Incidence of seclusion and restraint in psychiatric hospitals: a
literature review and survey of international trends. Social psychiatry and psychiatric
epidemiology, 45(9), 889-897.
Stewart, D., Van der Merwe, M., Bowers, L., Simpson, A., & Jones, J. (2010). A review of
interventions to reduce mechanical restraint and seclusion among adult psychiatric
inpatients. Issues in Mental Health Nursing, 31(6), 413-424.
Stuart and Sundeen (2006). Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Suharto, B., (2014). Budaya Pasung dan Dampak Yuridis Sosiologis (Studi Tentang Upaya
Pelepasan Pasung dan Pencegahan Tindakan Pemasungan di Kabupaten Wonogiri,
Indonesia. Journal Medical Science – Volume 1 No 2
Sulistyowati, D. A., & Prihantini, E. (2014). Keefektifan penggunaan restrain terhadap
penurunan perilaku kekerasan pada pasien skizofrenia. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan,
3(2)
Sulistyowati, DA, Prihantini, E., (2014). Keefektifan Penggunaan Restrain Terhadap
Penurunan Perilaku Kekerasan Pada Pasien Skizofrenia. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan,
Volume 3, No 2
Videbeck, Sheila L (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa; alih bahasa : Renata Komalasari,
Afrina Hany; editor edisi Bahasa indonesia, Pamilih Eko Karyuni. Jakarta: EGC.