STRATEGI PELAKSANAAN
RISIKO PERILAKU KEKERASAN
Nama : Ruly Ramadana
Pertemuan : Ke 1 (satu)
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien
Klien tenang, kooperatif, klien mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan.
2. Diagnosa Keperawatan
Risiko perilaku kekerasan
3. Tujuan Khusus
a. Pasien dapat mengidentifikasi PK
b. Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda PK
c. Pasien dapat menyebutkan jenis PK yang pernah dilakukannya
d. Pasien dapat menyebautkan akibat dari PK yang dilakukannya.
e. Pasien dapat menyebutka cara mencegah / mengendalikan PKny
4. Tindakan Keperawatan
SP 1 Klien :
Membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi penyebab marah, tanda dan
gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, akibat dan cara
mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara fisik pertama ( latihan nafas dalam).
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Fase Orientasi :
“ Assalamu’alaikum, selamat pagi Pak, perkenalkan nama saya Ruly Ramadana,
saya biasa dipanggil Ruly. Saya perawat yang dinas diruang Binuas ini, saya dinas
diruangan ini selama 2 minggu. Hari ini saya dinas pagi dari jam 7 sampai jam 1
siang, jadi selama 2 minggu ini saya yang merawat Bapak.
Nama Bapak siapa? Dan senang nya dipanggil apa?”
“ Bagaimana perasaan Bapak G saat ini?”
“masih ada perasaan kesal atau marah?
“ Baiklah sekarang kita akan berbincang-bincang tentang perasaan marah yang
bapak rasakan,”
“ Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang ? bagaimana kalau 10 menit“
“Dimana kita akan bincang-bincang?
“Bagaimana kalau diruang ini aja ya?”
2. Fase Kerja :
“ apa yang menyebabkan Bapak G marah?
Apakah sebelumnya Bapak G pernah marah?
Terus penyebabnya apa?
Samakah dengan yang sekarang?
Pada saat penyebab marah itu ada, seperti rumah yang berantakan, makanan yang
tidak tersedia, air tak tersedia ( misalnya ini penyebab marah klien), apa yang
Bapak G rasakan?“
1
Apakah Bapak G merasa kesal, kemudian dada Bapak berdebar-debar, mata
melotot, rahang terkatup rapat, dan tangan mengepal?”“ apa yang Bapak lakukan
selanjutnya”
“ Apakah dengan Bapak G marah-marah, keadaan jadi lebih baik?
“ Menurut Bapak adakah cara lain yang lebih baik selain marah-marah?
“maukah Bapak belajar mengungkapkan marah dengan baik tanpa menimbulkan
kerugian?
” ada beberapa cara fisik untuk mengendalikan rasa marah, hari ini kita belajar satu
cara dulu,
“ begini bu, kalau tanda- marah itu sudah ibu rasakan Bapak berdiri lalu tarik nafas
dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan secara perlahan-lahan dari mulut seperti
mengeluarkan kemarahan, coba lagi bu dan lakukan sebanyak 5 kali. Bagus sekali
Bapak G sudah dapat melakukan nya.
“ nah sebaiknya latihan ini Bapak G lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-
waktu rasa marah itu muncul Bapak G sudah terbiasa melakukannya”.
3. Fase Terminasi :
“ Bagaimana perasaan Bapak G setelah berbincang-bincang tentang kemarahan
Bapak? ”
“ Coba bapak G sebutkan penyebab Bapak marah dan yang Bapak rasakan dan apa
yang Bapak lakukan serta akibatnya.
“Baik, sekarang latihan tadi kita masukkan ke jadual harian ya pak”
” berapa kali sehari bapak mau latihan nafas dalam ?” Bagus..
“Nanti tolong bapak tulis M, bila bapak melakukannya sendiri, tulis B, bila bapak
dibantu dan T, bila ibu tidak melakukan”
“baik Pak, bagaimana kalau besok kita latihan cara lain untuk mencegah dan
mengendalikan marah bapak G.
”Dimana kita akan latihan, bagaimana kalau tempatnya disini saja ya Pak?”
“Berapa lama kita akan lakukan, bagaimana kalau 10 menit saja”
“[Link]…Assalamu’alaikum.”
Pertemuan : Ke 2 (dua)
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien
Klien tenang, kooperatif, ada kontak mata saat berbicara.
2. Diagnosa Keperawatan
Risiko perilaku kekerasan
3. Tujuan khusus
a. Melatih cara mencegah/ mengontrol perilaku kekerasan secara fisik
kedua
b. Mengevaluasi latihan nafas dalam
c. Melatih cara fisik ke 2: pukul kasur dan bantal
d. Menyusun jadwal kegiatan harian cara kedua
4. Tindakan Keperawatan
SP 2 klien :
Membantu klien latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara fisik ke
dua (evaluasi latihan nafas dalam, latihan mengendalikan perilaku kekerasan
dengan cara fisik ke dua : pukul kasur dan bantal), menyusun jadwal kegiatan
harian cara ke dua.
2
B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Fase Orientasi
“ Assalamu’alaikum Bapak G, masih ingat nama saya” bagus Pak,,,ya saya
Ruly”
“sesuai dengan janji saya kemarin, sekarang saya datang lagi.
“Bagaimana perasaan Bapak saat ini, adakah hal yang menyebabkan Bapak
marah?”
“Baik, sekarang kita akan belajar cara mengendalikan perasaan marah
dengan kegiatan fisik untuk cara yang kedua.”
“ mau berapa lama? Bagaimana kalau 10 menit?”
“ Dimana kita bicara? Bagaimana kalau di ruang ini ya pak”
2. Fase Kerja
“ Kalau ada yang menyebabkan Bapak marah dan muncul perasaan kesal,
selain nafas dalam Bapak dapat memukul kasur dan bantal.”“ Sekarang mari
kita latihan memukul bantal dan Kasur pak? Jadi kalau nanti Bapak kesal atau
marah, Bapak langsung kekasur dan lampiaskan marah bapak tersebut dengan
memukul bantal dan kasur. Nah coba bapak lakukan memukul bantal dan
kasur, ya bagus sekali bapak melakukannya!”“ Nah cara ini pun dapat
dilakukan secara rutin jika ada perasaan marah, kemudian jangan lupa
merapikan tempat tidur Ya pak!”
3. Fase Terminasi
“ Bagaimana perasaan Bapak setelah latihan cara menyalurkan marah tadi?”“
Coba bapak sebutkan ada berapa cara yang telah kita latih? Bagus!”
“ Mari kita masukkan kedalam jadwal kegiatan sehari-hari Pak. Pukul berapa
bapak mau mempraktikkan memukul kasur/bantal?
Bagai mana kalau setiap bangun tidur? Baik jadi jam 5 pagi dan jam 3 sore,
lalu kalau ada keinginan marah sewaktu-waktu gunakan kedua cara tadi ya
Pak.“ sekarang Bapak istirahat, 2 jam lagi kita ketemu ya Pak, kita akan
belajar mengendalikan marah dengan belajar bicara yang baik. Sampai
Jumpa!” Assalamu’alaikum