Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Bab III Perencanaan Perkerasan Kaku
Dengan Metode PCA
BAB III
PERENCANAAN PERKERASAN KAKU
DENGAN METODE PCA
3.1. UMUM
Perencanaan yang digunakan mengacu pada Portland Cement Association
(PCA). Langkah-langkah praktis, prosedur, parameter-parameter perencanaan
diberikan sebagai berikut dibawah ini. Bagan alir prosedur perencanaan
diperlihatkan seperti pada Gambar 3.1.
3.2. TRAFFIC
Parameter lalu-lintas untuk perencanaan :
Umur rencana (20 tahun).
Volume lalu-lintas rencana.
Faktor distribusi arah = 0,50 (untuk lalu-lintas 2 arah).
Faktor distribusi lajur (DL) : mengacu pada Tabel 1.
Jenis kendaraan : hanya kendaraan niaga yang dianalisis.
1. Volume Lalu-lintas Rencana (VLLR)
Volume lalu-lintas rencana (VLLR) diperhitungkan dari data lalu-lintas yang
ada dan mencakup selama masa layan atau umur rencana.
VLLR = LHR x 365 x ( 1 + i )n
VLLR = Volume Lalu-lintas Rencana (kendaraan)
LHR = Lintas Harian Rata-rata (kendaraan per hari)
i = Faktor pertumbuhan lalu-lintas (%)
n = Umur rencana atau masa layan (tahun)
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III-1
Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Bab III Perencanaan Perkerasan Kaku
Dengan Metode PCA
BAGAN ALIR PROSEDUR PERENCANAAN RIGID PAVEMENT CARA PCA
Umur rencana
Faktor distribusi arah
Faktor distribusi lajur
Konfigurasi sumbu dan roda
Traffic Jumlah Kendaraan Niaga Harian
JKN selama umur rencana
Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga Harian
JSKN selama umur rencana
Persentase konfigurasi sumbu
Jumlah repetisi selama umur rencana Tebal pelat
Beban sumbu rencana
Ya
Modulus reaksi tanah dasar Tegangan
yang terjadi
Perbandingan Jumlah repetisi % Fatique
Coba tebal pelat tegangan beban ijin < 100
Flexural
strength
Tidak
Gambar 3.1.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III-2
Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Bab III Perencanaan Perkerasan Kaku
Dengan Metode PCA
2. Konfigurasi sumbu dan roda
Konfigurasi sumbu kendaraan :
Sumbu Tunggal Roda Tunggal (STRT).
Sumbu Tunggal Roda Ganda (STRG1).
Sumbu Tandem Roda Ganda (STRG2).
Konfigurasi sumbu dan gandar (tonase) : ambil dari sumber Petunjuk
Perencanaan Perkerasan Kaku, Departemen Pekerjaan Umum, Badan
Penelitian dan Pengembangan PU, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Jalan. Dan Standard Operation Procedure Perencanaan Perkerasan Dinas
Pekerjaan Umum DKI Jakarta.
3. Jumlah Kendaraan Niaga
Jumlah Kendaraan Niaga (JKN) selama umur rencana :
JKN = JKNH x 365 x R
di mana :
JKNH = Jumlah Kendaraan Niaga Harian pada saat jalan dibuka.
R = Faktor pertumbuhan lalu-lintas.
4. Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga Harian
Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga Harian (JSKNH) :
JSKNH LHR n Sn
dimana :
LHRn = Lalu-lintas harian rata-rata kendaraan jenis n.
Sn = Jumlah sumbu kendaraan jenis n.
5. Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga
Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga (JSKN) selama umur rencana :
JSKN = JSKNH x 365 x R
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III-3
Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Bab III Perencanaan Perkerasan Kaku
Dengan Metode PCA
6. Persentase konfigurasi sumbu
Persentase konfigurasi sumbu kendaraan (PKSn) :
LHR n
PKSn
JSKNH
7. Jumlah repetisi selama umur rencana
Jumlah repetisi setiap jenis kendaraan (JRn) pada jalur rencana selama umur
rencana :
JRn = JSKN x PKSn x DL
8. Faktor keamanan
Untuk jalan tol = 1,2
Untuk jalan arteri = 1,1
Untuk jalan kolektor = 1,0
3.3. MODULUS REAKSI TANAH DASAR
Modulus of subgrade reaction (k) menggunakan gabungan formula dan grafik
penentuan modulus reaksi tanah dasar berdasar ketentuan CBR tanah dasar.
MR = 1.500 x CBR
MR
k
19,4
MR = Resilient modulus.
Koreksi Effective Modulus of Subgrade Reaction, menggunakan Grafik pada
Figure 3.6. (diambil dari AASHTO 1993 halaman II-42) : lihat Gambar 3.2.
Faktor Loss of Support (LS) mengacu pada Tabel 3.1. (diambil dari AASHTO 1993 hal
II-27).
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III-4
Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Bab III Perencanaan Perkerasan Kaku
Dengan Metode PCA
Tabel 3.1 Loss of Support Factors (LS).
No. Tipe material LS
1. Cement Treated Granular Base ( E = 1.000.000 – 2.000.000 psi ) 0–1
2. Cement Aggregate Mixtures ( E = 500.000 – 1.000.000 psi ) 0–1
3. Asphalt Treated Base ( E = 350.000 – 1.000.000 psi ) 0–1
4. Bituminous Stabilized Mixtures ( E = 40.000 – 300.000 psi ) 0–1
5. Lime Stabilized ( E = 20.000 – 70.000 psi ) 1–3
6. Unbound Granular Materials ( E = 15.000 – 45.000 psi ) 1–3
7. Fine grained / Natural subgrade materials ( E = 3.000 – 40.000 psi ) 2–3
Effective Modulus of Subgrade Reaction, k (pci)
Correctioan of Effective modulus of Subgrade Reaction for Potensial Loss Subbase Support
Gambar 3.2.
Pendekatan nilai modulus reaksi tanah dasar dari referensi /
literartur :
Pendekatan nilai Modulus Reaksi Tanah Dasar (k) dapat menggunakan
hubungan nilai CBR dengan k seperti yang ditunjukkan pada Gambar
3.3. Diambil dari literartur Highway Engineering (Teknik Jalan Raya),
Clarkson H Oglesby, R Gary Hicks, Stanford University & Oregon State
University, 1996.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III-5
Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Bab III Perencanaan Perkerasan Kaku
Dengan Metode PCA
Modulus reaksi tanah dasar : k (psi/in)
100 150 200 250 300 400 500 600
700 800
California Bearing Ratio (CBR)
2 3 4 5 6 7 8 9 10 15 20 25 30 40 50 60 70 80
100
Gambar 3.3. Hubungan antara (k) dan (CBR), sumber : Portland Cement Assocoation.
Penentuan nilai modulus reaksi tanah dasar dari referensi :
Petunjuk Perencanaan Perkerasan Kaku, Bina Marga.
3
Hubungan CBR (%) dengan Modulus reaksi tanah dasar (kg/cm ) diperlihatkan
seperti pada Gambar 3.4.
Pada dasarnya lapis pondasi bawah bukan bagian dari struktur perkerasan jalan
kaku, tetapi jika lapis pondasi yang digunakan merupakan bound subbase atau
perancangan memperhitungkan lapis pondasi maka perlu dicari nilai k
gabungan. Grafik untuk menentukan nilai k gabungan diperlihatkan pada
Gambar 3.5.
3.4. TEGANGAN YANG TERJADI
Tegangan yang terjadi (Te) pada pelat beton mengacu pada Nomogram yang
tersedia (lihat Gambar 3.6), dengan parameter sebagai berikut :
Beban sumbu.
Modulus reaksi tanah dasar (k).
Taksiran tebal pelat.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III-6
Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Bab III Perencanaan Perkerasan Kaku
Dengan Metode PCA
3.5. KUAT LENTUR TARIK BETON
Keruntuhan perkerasan akibat repetisi beban. Parameter kekuatan beton
dinyatakan dalam kekuatan lentur (flexural strength). Kekuatan ini didapat dari
pengujian Three point test (ASTM C-78) untuk beton berumur 28 hari.
Secara teoritis kuat lentur beton dapat dihitung dari kuat tekan beton bk*, yaitu :
*bk
Mr = +9
11
di mana :
2
Mr = Modulus retak atau kuat lentur (kg/cm )
2
bk* = Kuat tekan beton pada umur 28 hari (kg/cm )
Nilai minimum Mr sebaiknya digunakan min. 40 kg/cm2. Untuk kondisi tertentu
2
dapat digunakan sampai 30 kg/cm . Dan biasanya kuat lentur tarik beton : Mr = 45
2
kg/cm .
3.6. PERBANDINGAN TEGANGAN
Perbandingan tegangan (Pteg) :
T
Pteg e
Mr
3.7. JUMLAH REPETISI BEBAN YANG DIIJINKAN &
PERSENTASE FATIQUE
Jumlah pengulangan beban yang diijinkan (JPBi) untuk perbandingan tegangan
Pteg 0,51 : mengacu pada Tabel 3.3.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III-7
Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Bab III Perencanaan Perkerasan Kaku
Dengan Metode PCA
Tabel 3.3 Perbandingan tegangan dan jumlah pengulangan
beban yang diijinkan.
Perbandingan Jumlah Perbandingan Jumlah
pengulangan pengulangan
tegangan beban yang tegangan beban yang
diijinkan diijinkan
0,51 400.000 0,69 2.500
0,52 300.000 0,70 2.000
0,53 240.000 0,71 1.500
0,54 180.000 0,72 1.100
0,55 130.000 0,73 850
0,56 100.000 0,74 650
0,57 75.000 0,75 490
0,58 57.000 0,76 360
0,59 42.000 0,77 270
0,60 32.000 0,78 210
0,61 24.000 0,79 160
0,62 18.000 0,80 120
0,63 14.000 0,81 90
0,64 11.000 0,82 70
0,65 8.000 0,83 50
0,66 6.000 0,84 40
0,67 4.500 0,85 30
0,68 3.500
Perbandingan tegangan Pteg < 0,51 : jumlah pengulangan beban yang
diijinkan adalah tak terhingga ().
Persentase fatique (Pf) :
JR n
Pf
JPB i
Jumlah kumulatip persentase fatique harus 100 %.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III-8
Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Bab III Perencanaan Perkerasan Kaku
Dengan Metode PCA
3.8. PROSEDUR PERANCANGAN
Tahapan perancangan sebagai berikut :
Langkah 1 :
Tentukan nilai k, jika memperhitungkan lapis pondasi bawah maka digunakan k
gabungan.
Langkah 2 :
Merubah data lalu-lintas dalam kendaraan menjadi data lalu-lintas dalam sumbu :
Jenis kendaraan
Komposisi sumbu per
LHR
(1 i) n 1
365 LHR
kendaraan ln(1 i)
Kend.
penumpang
Bus ringan
Bus berat
Truk ringan
Truk berat
Trailer
Jumlah A B
A : Total volume lalu-lintas sebelum jalan dibuka (data awal).
B : Total volume lalu-lintas selama umur rencana atau masa layan.
Jumlah
No. Jenis sumbu Berat (ton)
(akhir umur rencana)
1 STRT 1 ton
2 STRT 2 ton Disesuaikan
dengan data
3 …….. yang ada
4 STRG 6 ton
5 STRG 8 ton
6 ……..
7 SGRG 14 ton
8 ……..
Langkah 3 :
Asumsikan tebal pelat beton, tebal minimal 17 cm.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III-9
Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Bab III Perencanaan Perkerasan Kaku
Dengan Metode PCA
Langkah 4 :
Jumlah untuk setiap berat sumbu dikalikan dengan Faktor Keamanan, yang
tergantung pada fungsi jalan.
Langkah 5 :
Tentukan tegangan yang terjadi untuk tiap jenis sumbu dengan menggunakan
nomogram. Nilai tegangan tergantung pada beban sumbu, nilai k (atau k
gabungan), dan tebal pelat beton.
Langkah 6 :
Tentukan perbandingan antara tegangan yang terjadi dengan Mr untuk
mendapatkan jumlah repetisi ijin.
Langkah 7 :
Bandingkan repetisi ijin dengan jumlah sumbu untuk tiap berat sumbu (dalam %).
Total jumlah persentase seluruhnya harus lebih kecil atau sama dengan 100 %.
Jenis Berat Jumlah Beban Tegangan Repetisi %
No. /Mr
sumbu (ton) total sb yang terjadi ijin fatigue
rencana
(a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) (i)
1 STRT 1 (d) * FK Dari (f) / Mr Tabel 3. (d) / (h) (%)
nomogram
2 STRT 2 tergantung
3 …….. jenis
sumbu,
4 STRG 6 berat, nilai
k,
5 STRG 8 tebal pelat
6 ……..
7 SGRG 14
8 ……..
Jumlah X
Harus lebih kecil atau
Sama dengan 100 %
Jika X lebih besar dari 100 % maka tebal pelat diperbesar, yang berarti
mengulang proses perhitungan dari langkah 3 dan atau dengan
meningkatkan mutu beton, dalam hal ini meningkatkan nilai Mr, berarti
mengulang proses perhitungan dari langkah 6.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III-10
Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Rangkuman
RANGKUMAN
Jenis perkerasan jalan terdiri atas perkerasan lentur dan perkerasan kaku.
Perencanaan perkerasan lentur dapat dilakukan dengan metode AASHTO dan
perencanaan perkerasan kaku dapat dilakukan dengan metode AASHTO atau metode
PCA.
Data dan parameter lalu-lintas yang digunakan untuk perencanaan tebal perkerasan
lentur meliputi :
Jenis kendaraan.
Volume lalu-lintas harian rata-rata.
Pertumbuhan lalu-lintas tahunan.
Damage factor.
Umur rencana
Faktor distribusi arah.
Faktor distribusi lajur.
Equivalent Single Axle Load, ESAL selama umur rencana (traffic design).
Parameter reliability dapat ditentukan sebagai berikut :
Berdasar parameter klasifikasi fungsi jalan
Berdasar status lokasi jalan urban / rural
Penetapan tingkat Reliability (R)
Penetapan standard normal deviation (ZR)
Penetapan standar deviasi (So)
Kehandalan data lalu-lintas dan beban kendaraan
Perencanaan mengacu pada AASHTO Guide for Design of Pavement
Structures 1993. Langkah-langkah praktis, prosedur dan parameter-parameter
perencanaan diberikan sebagai berikut dibawah ini.
Parameter perencanaan perkerasan kaku terdiri dari 13 parameter :
Umur rencana
Equivalent Single Axle Load
Terminal serviceability index
Initial serviceability
Serviceability loss
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) R-1
Modul RDE 11 : Perencanaan Perkerasan Jalan Rangkuman
Reliability
Standar normal deviasi
Standar deviasi
Modulus reaksi tanah dasar
Modulus elastisitas beton
Flexural strength
Drainage coefficient
Load transfer coefficient
Data dan parameter lalu-lintas yang digunakan untuk perencanaan tebal perkerasan kaku
meliputi :
Jenis kendaraan.
Volume lalu-lintas harian rata-rata.
Pertumbuhan lalu-lintas tahunan.
Damage factor.
Umur rencana
Faktor distribusi arah.
Faktor distribusi lajur.
Equivalent Single Axle Load, ESAL selama umur rencana (traffic
design).
Perencanaan yang digunakan mengacu pada Portland Cement Association
(PCA). Langkah-langkah praktis, prosedur, parameter-parameter perencanaan
diberikan sebagai berikut dibawah ini.
Parameter lalu-lintas untuk perencanaan kaku :
Umur rencana (20 tahun).
Volume lalu-lintas rencana.
Faktor distribusi arah = 0,50 (untuk lalu-lintas 2 arah).
Faktor distribusi lajur (DL) : mengacu pada Tabel 1.
Jenis kendaraan : hanya kendaraan niaga yang dianalisis.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) R-2
Modul RDE 11 Perencanaan Geometrik Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
1 AASHTO, American Association of State Highway and Transportation
Officials Guide for Design of Pavement Structures 1993, Washington DC, 1993
2 Sri Harto, Analisa Hidrologi, , Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993.
3 Hinarko, S., Ir., Drainase Perkotaan.
4 Chow, Ven Te, Hidrolika Saluran Terbuka, Erlangga, Jakarta, 1992.
5 --------------------------, Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 74 tahun 1990
tentang Angkutan Peti Kemas di Jalan.
6 PT. Jasa Marga (Persero), Kriteria Desain, 2004.
7 Direktorat Jenderal Bina Marga, Manual Kapasitas Jalan Indonesia, Tahun
1997.
8 Suryawan, Ari, Perkerasan Jalan Beton Semen Portland (Rigid Pavement),
Beta Offset, Yogyakarta, 2005.
9 -------------------------------------, Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur
Jalan Raya dengan Metode Analisa Komponen SNI No : 173 – 1989-F, SKB –
23.26.1987.
10 -------------------------------------, Tata Cara Perencanaan Drainase Permukaan
Jalan (SNI 03-3414-1994).
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) DP-1