0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan8 halaman

Terapi Mewarnai Reduksi Kecemasan Anak

Artikel ini melakukan review terhadap penelitian-penelitian sebelumnya mengenai pengaruh terapi bermain mewarnai terhadap kecemasan pada anak dengan hospitalisasi. Beberapa penelitian menemukan bahwa terapi bermain mewarnai dapat menurunkan tingkat kecemasan anak selama dirawat di rumah sakit berdasarkan hasil uji statistik. Terapi bermain mewarnai efektif mengatasi stres dan trauma akibat hospitalisasi.

Diunggah oleh

rajayasmin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan8 halaman

Terapi Mewarnai Reduksi Kecemasan Anak

Artikel ini melakukan review terhadap penelitian-penelitian sebelumnya mengenai pengaruh terapi bermain mewarnai terhadap kecemasan pada anak dengan hospitalisasi. Beberapa penelitian menemukan bahwa terapi bermain mewarnai dapat menurunkan tingkat kecemasan anak selama dirawat di rumah sakit berdasarkan hasil uji statistik. Terapi bermain mewarnai efektif mengatasi stres dan trauma akibat hospitalisasi.

Diunggah oleh

rajayasmin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH TERAPI BERMAIN MEWARNAI TERHADAP KECEMASAN PADA ANAK

DENGAN HOSPITALISASI: STUDI LITERATURE REVIEW

Pendahuluan Banyak stressor yang dialami anak


ketika menjalani hospitalisasi menimbulkan
Hospitalisasi merupakan perawatan
dampak negatif yang mengganggu
yang dilakukan dirumah sakit dan dapat
perkembangan anak. Lingkungan rumah sakit
menimbulkan trauma dan stres pada klien
dapat merupakan penyebab stress dan
yang baru mengalami rawat inap di rumah
kecemasan pada anak. Kecemasan merupakan
sakit. Hospitalisasi pada anak merupakan
perasaan yang paling umum dialami oleh
proses karena suatu alasan yang berencana
pasien anak yang mengalami hospitalisasi.
atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal
Kecemasan yang sering dialami seperti
di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan
menangis, dan takut pada orang baru
sampai pemulangan kembali kerumah.
(Oktavia, 2016).
Hospitalisasi adalah suatu keadaan krisis pada
Lingkungan rumah sakit merupakan
anak, saat anak sakit dan dirawat di rumah
penyebab kecemasan bagi anak baik
sakit sehingga anak harus beradaptasi dengan
lingkungan sosial seperti sesama pasien anak
lingkungan rumah sakit (Fricilia, 2014).
serta interaksi dan sikap petugas kesehatan
Prevalensi anak yang menjalani
maupun lingkungan fisik rumah sakit seperti
hospitalisasi sekitar 84% dari jumlah anak di
bangunan atau ruang rawat, alat-alat rumah
dunia (UNICEF, 2012), sedangkan di
sakit, bau yang khas, pakaian putih petugas
Indonesia didapatkan data rata-rata anak yang
kesehatan. Apabila anak mengalami
menjalani hospitalisasi adalah 2,8% dari total
kecemasan tinggi saat dirawat di rumah sakit
jumlah anak 82.666 orang (Riskesdas, 2013).
maka besar sekali anak akan mengalami
Angka kesakitan anak di Indonesia
gangguan somatik, psikomotor dan
berdasarkan Survei Ekonomi Nasional
emosional. Selain itu, faktor penyebab
(SUSENAS) tahun 2010 di daerah perkotaan
kecemasan hospitalisasi pada anak antara lain
menurut kelompok usia 0-4 tahun sebesar
tingkat ketergantungan, takut terhadap cedera
25,8%, usia 5-12 tahun sebanyak 14,91%,
tubuh, berpisah dengan orang tua atau
usia 13-15 tahun sekitar 9,1%, usia 16-21
keluarga, dan pembatasan aktivitas (Rizka,
tahun sebesar 8,13% dan diperkirakan 35 per
2016).
100 anak menjalani hospitalisasi dan 35%
Salah satu fungsi bermain adalah
diantaranya mengalami kecemasan (Lisbet,
sebagai terapi dimana dengan melakukan
2019).
permainan anak akan terlepas dari ketegangan
dan stress yang dialaminya. Melalui kegiatan 2012 sampai 2020, artikel mempunyai judul
bermain, anak dapat mengalihkan rasa dan isi yang sesuai dengan tujuan penelitian
sakitnya pada permainannya (distraksi) dan dan full text. Hal ini bertujuan untuk
relaksasi melalui kesenangannya melakukan kemutakhiran hasil riset dan keterbaruan
permainan (Suryanti, 2012). pengambilan database. Kriteria eksklusi: (1)
Terapi bermain mewarnai sangat Artikel tidak memiliki struktur yang lengkap.
membantu anak mengatasi tingkat kecemasan (2) Berbentuk review artikel.
yang sangat berlebihan dan sangat baik untuk
beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dan
suasana teman baru bahkan dengan team
medis dalam pemberian obat. Terapi bermain
mewarnai sangat mudah untuk dilakukan dan
tidak terlalu banyak memerlukan biaya.
Dengan menggambar atau mewarnai gambar
juga dapat memberikan rasa senang karena
pada dasarnya anak usia pra sekolah sudah
sangat aktif dan imajinatif selain itu anak
masih tetap dapat melanjutkan perkembangan
kemampuan motorik halus dengan
menggambar meskipun masih menjalani
perawatan di rumah sakit (Boyoh, 2018). Gambar 1. PRISMA study flow diagram
Hasil
Metode Berdasarkan hasil pencarian literature
Tulisan ini merupakan literature melalui publikasi Google Scholar peneliti
review dari artikel penelitian. Review ini menemukan 227 jurnal. Jurnal penelitian
menggunakan metode eksperimen yang tersebut kemudian diskrining dan dikeluarkan
diawali dengan pertanyaan penelitian sesuai dengan keinginan peneliti yang berupa
“Bagaimana pengaruh terapi bermain tahun yang relevan, artikel yang full teks serta
mewarnai terhadap tingkat kecemasan anak disesuaikan pula dengan tujuan penelitian
dengan hospitalisasi?”. Penelusuran artikel yang ada.
melalui database Google Scholar dengan kata
kunci yang digunakan terapi bermain,
mewarnai, kecemasan dan anak hospitalisasi.
Kriteria artikel yang digunakan yaitu
dipublikasikan 5 tahun terakhir yaitu dari
Artikel Desain Sampel Pengumpulan data Hasil
Tabel 1. Review artikel
(Boyoh et Quasi eksperimen 15 anak Kuesioner Dari total keseluruhan jumlah
al., 2018) responden 15 anak usia prasekolah
yang dirawat di Rumah Sakit Advent
Bandar Lampung menunjukkan
bahwa nilai p value = 0,000 (<0,05)
sehingga ada pengaruh terapi
bermain pada anak usia prasekolah
akibat hospitalisasi di ruangan anak
Rumah Sakit Advent Bandar
Lmapung
(Fricilia., Pre experimental 30 anak Kuesioner Nilai p value = 0,000 (<0,05)
2014) designs sehingga terdapat pengaruh terapi
bermain mewarnai gambar terhadap
tingkat kecemasan pada anak usia
pra sekolah akibat hospitalisasi di
Ruangan Irina E BLU RSUP Prof.
Dr. R. [Link] Manado
(Siti Aisyah Pre experimental 31 anak Kuesioner Berdasarkan uji statistik didapatkan
et al., 2014) designs bahwa aktifitas mewarnai gambar
dapat menurunkan tingkat stres
hospitalisasi anak usia 4-6 tahun di
ruang anggrek RSUD Gambiran
Kota Kediri
(Suryanti et Pre experimental 30 anak kuesioner Dari hasil penelitian diperoleh nilai
al., 2012) designs p=0,0001 < α = 0,05, sehingga Ha
diterima (Ho ditolak) yang berarti
ada perbedaan tingkat kecemasan
sebelum dan sesudah dilakukan
terapi bermain dengan tehnik
mewarnai
maupun origami.
(Oktavia, Quasi eksperimen 20 orang Kuesioner Terapi bermain mewarnai gambar
2016) berpengaruh terhadap tingkat
kecemasan anak usia prasekolah
yang di hospitalisasi di RSKIA PKU
Muhammadiyah Kotagede
Yogyakarta
(Rizka, Quasi eksperimen 21 anak Kuesioner Ada pengaruh terapi bermain
2016) mewarnai terhadap tingkat
kecemasan pada anak usia
prasekolah akibat hospitalisasi di
ruang rawat
inap anak (Cempaka) RSUD Wates.
(Sepi., 2017) Quasi eksperimen 16 anak Kuesioner Ada pengaruh terapi bermain
terhadap kecemasan

(Lisbet et Experiment 32 anak Kuesioner Pemberian terapi bermain mewarnai


al, 2019) dapat menurunkan tingkat
kecemasan anak pada usia
prasekolah yang mengalami
hospitalisasi sehingga dapat
digunakan sebagai salah satu bentuk
intervensi keperawatan
(Sri Hartini, Quasi eksperimen 36 anak Kuesioner Hasil penelitian menunjukkan tingkat
2019) kecemasan sebelum dilakukan terapi
mewarnai 63,9% tidak cemas, 11,1%
cemas sedang dan 25% cemas
ringan. Sedangkan setelah terapi
mewarnai 86,1% tidak cemas dan
13,9% cemas ringan
(Muhamma Pre experimental 15 anak Kuesioner terapi bermain (mewarnai) efektif
d idris, designs terhadap penurunan kecemasan
2018) akibat hospitalisasi pada anak usia
pra sekolah (3-6 tahun) di ruang
melati RSUD dr. Chasbullah
Abdulmadjid Kota Bekasi. Setelah
diketahui adanya efektifitas terapi
bermain mewarnai terhadap
penurunan tingkat kecemasan akibat
hospitalisasi pada anak usia pra
sekolah (3-6 tahun)
Ulasan mengidentifikasi 10 artikel Berdasarkan hasil studi literature
membahas tentang pengaruh terapi bermain review yang didapatkan dari 10 artikel
mewarnai dengan tingkat kecemasan pada ditemukan bahwa sebelum dan sesudah terapi
anak dengan hospitalisasi. Dari 10 artikel bermain, terjadi perubahan kecemasan pada
ini,terdapat 5 penelitian yang menggunakan anak dengan hospitalisasi dimana sebelum
quasi eksperimen dan 4 penelitian diberikan terapi bermain mewarnai tingkat
menggunakan pre eksperimen. Selain itu, dari kecemasan anak adalah cemas sedang-berat
10 artikel yang diambil, sampel yang namun setelah dilakukan terapi bermain
digunakan bervariasi yaitu antara 15 anak mewarnai tingkat kecemasan ringan-tidak
sampai 30-an anak yang dijadikan sampel. ada.
Menurut hasil penelitian dari 10 artikel yang Tingkat Kecemasan Anak Sebelum
ada, semua artikel menyatakan bahwa terapi dilakukan Terapi Bermain Mewarnai
bermain sangat berpengaruh dalam Berdasarkan hasil observasi dan
menurunkan tingkat kecemasan anak dengan analisis peneliti sebelum melakukan terapi
hospitalisasi. Salah satunya adalah penelitian bermain mewarnai gambar tingkat kecemasan
yang dilakukan oleh Sri Hartini (2019) anak usia prasekolah disebabkan oleh karena
menyatakan bahwa tingkat kecemasan perpisahan dengan orangtua sehingga dapat
sebelum dilakukan terapi mewarnai 63,9% memicu terjadinya kecemasan pada anak.
tidak cemas, 11,1% cemas sedang dan 25% Kecemasan dan stress pada anak yang dialami
cemas ringan. Sedangkan setelah terapi saat hospitalisasi dipengaruhi oleh beberapa
mewarnai 86,1% tidak cemas dan 13,9% faktor anatara lain dari petugas kesehatan,
cemas ringan. Menurut tabel diatas dapat perawat, dokter, dan tenaga kesehatan
diketahui bahwa 10 jurnal tersebut sebagian lainnya. Kecemasan berat akibat hospitalisasi
besar menggunakan jenis desain penelitian menimbulkan traumatis dan dapat merusak
quasy eksperiment. Dari segi populasinya, kepribadian individu dan dapat menghambat
sebagian besar anak pre sekolah mapun perkembangan Tumbuh kembang anak
sekolah mengalami kecemasan yang cukup tersebut (Boyoh, 2018).
tinggi saat hospitalisasi, baik itu perempuan Usia prasekolah merupakan masa
maupun laki-laki. Secara tehnik sampling kanak-kanak awal yaitu pada usia 3-6 tahun.
diantaranya convenience sampling, purposive Pada usia ini, perkembangan motorik anak
sampling, consecutive sampling, simple berjalan terus-menerus, reaksi kecemasan
random sampling, dan total sampling. pada anak tersebut dapat ditunjukan dengan
Instrumen lain yang sering digunakan yaitu menolak makan, sering bertanya, menangis
dengan kuesioner tingkat kecemasan. walaupun secara perlahan dan tidak dapat
kooperatif terhadap petugas kesehatan dalam
Pembahasan
memberikan pelayanan. Maka dari itu peran
orangtua sangat dibutuhkan dalam Setelah diberikan terapi bermain
mendampingi anak selama proses perawatan mewarnai anak menjadi lebih terbuka dan
di rumah sakit dan dapat membantu dalam mau berkomunikasi dengan petugas
memenuhi kebutuhan dasar anak selama kesehatan, artinya anak mau diajak berbicara
proses perawatan. dengan perawat setelah diberikan terapi
Tingkat Kecemasan Anak Setelah dilakukan bermain. Perilaku tersebut ditunjukkan ketika
Terapi Bermain Mewarnai perawat mengajak berbicara dengan anak,
Berdasarkan hasil observasi dan anak merespon perawat dan tidak lagi diam.
analisis peneliti sesudah melakukan terapi Hal ini terjadi karena melalui mewarnai anak
bermain mewarnai gambar tingkat akan menjadi lebih akrab dengan petugas
kecemasana anak usia prasekolah terjadinya kesehatan hal ini dikarenakan penurunan
penurunan kecemasan dikarenakan dapat tingkat kecemasan anak. Hasil penelitian ini
mengalihkan perhatian anak akan suatu objek juga mendukung temuan Lisyorini (2006)
yang mencemaskan, bermain dapat dilakukan bahwa terapi bermain ternyata memberikan
terhadap anak yang sakit maupun anak yang pengaruh terhadap kemampuan sosialisasi
sehat. Walaupun anak sedang mengalami anak, dimana akan meningkat setelah
sakit, tetapi kebutuhan akan bermain tetap ada diberikan terpi bermain (Rizka, 2016).
(Boyoh, 2018). Setelah dilakukan terapi bermain anak
Bermain akan sangat disukai lebih menerima tindakan keperawatan yang
dikarenakan membuat anak senang pada saat diberikan oleh perawat ditunjukan dari reaksi
permainan mewarnai gambar, bermain juga anak yang tidak lagi meronta – ronta,
merupakan cerminan kemampuan fisik, mennagis, dan tidak lagimenakiti perawat saat
intelektual, emosional dan sosial dan bermain dilakukan tindakan keperawatan. Hal tersebut
merupakan media yang baik untuk belajar mendkung penelitian yang dilakukan
menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan Widyasari (2014) yang menyimpulkan ada
melakukan apa yang dapat dilakukan. Salah pengaruh terapi bermain terhadap penerimaan
satu permainan yang cocok dilakukan untuk tindakan invasif pada anak pra sekolah di
anak usia prsekolah yaitu mewarnai gambar, IRNA RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi, Blitar
dimana anak menyukai dan mengenal warna (Rizka, 2016).
serta mengenal bentuk-bentuk benda di Permainan yang disukai anak akan
sekelilingnya. membuat anak merasa senang melakukan
Pengaruh Terapi Bermain Mewarnai permainan tersebut. Sementara itu, jika anak
terhadap Tingkat Kecemasan Anak kurang menyukai terhadap jenis permaianan
Hospitalisasi tertentu mereka tidak akan menikmati
permainan yang mereka lakukan. Selama menurunkan tingkat kecemasan, hal ini karena
penelitian, peneliti menemukan tidak semua dengan mewarnai anak bisa mengekspresikan
anak mengalami penurunan skor kecemasan perasaannya melalui warna dan gambar.
karena mungkin mereka tidak menikmati Selama periode ini, mewarnai gambar juga
permainan yang dikerjakan. Responden tidak dapat menyeimbangkan koordinasi antara
mengalami penurunan skor kecemasan dapat otak kanan dan otak kiri juga melatih gerak
juga disebabkan oleh kondisi fisik anak akibat motorik anak ketika anak memberi warna
penyakit yang diderita, pola asuh dan terhadap sebuah objek sehingga bermain
dukungan keluarga yang kurang. Anak yang mewarnai dapat menurunkan kecemasan pada
terbiasa dimanjakan dan jarang diajak anak usia prasekolah yang mengalami
bermain dengan teman sebayanya akan sulit hospitalisasi.
bersosialisasi dan menerima keberadaan orang
Diskusi
lain di sekitarnya. Sementara itu, anak yang di
rumah kurang diperhatikan akan banyak Dari hasil review yang dilakukan terhadap 10
mencari perhatian dengan rewel dan artikel, semua artikel menggunakan tehnik
cenderung bertindak agresif (Pricilia, 2014). pre-post tes namun dalam pelaksanaan pre
Melalui permainan mewarnai, anak dan post yang dilakukan menggunakan
yang berada dalam kondisi stress, cemas sampel yang relatif sedikit, hal itu terkait
setelah mengalami sakit dapat lebih santai. dengan keterbatasan jumlah dan lama rawat
Permainan juga merupakan media komunikasi inap sehingga dalam pelaksanaan pre-post
antara anak dengan orang lain, termasuk terutama terkait dengan sampel kurang
dengan perawat atau petugas kesehatan di optimal. Selain itu, dari keefektifan terapi
rumah sakit. Perawat dapat mengkaji perasaan bermain mewarnai, hampir semua artikel
dan pikiran anak melalui ekspresi non verbal menyatakan bahwa terapi tersebut sangat
yang ditunjukkan selama melakukan efektif dalam menurunkan kecemasan pada
permainan atau melalui interaksi yang anak dengan hospitalisasi. Rekomendasi
ditunjukkan anak dengan orang tua dan teman untuk peneliti selanjutnya adalah dengan
kelompok bermainnya (Lisbet, 2019). menggunakan terapi bermain yang berbeda
dan juga menggunakan jumlah sampel yang
lebih banyak agar hasil penelitian lebih efektif
Kesimpulan dan akurat dalam mengurangi kecemasan
Dari studi literature review yang pada anak dengan hospitalisasi.
dilakukan pada 10 jurnal dengan karakteristik
Referensi
yang berbeda diperoleh hasil bahwa dengan
Boyoh. (2018). Pengaruh Terapi Bermain
diberikannya terapi bermain mewarnai dapat Mewarnai Gambar Terhadap Tingkat
Kecemasan Anak Usia Prasekolah Oktavia. (2016). Pengaruh Terapi Bermain
Akibat Hospitalisasi Di Ruangan Anak Mewarnai Gambar Terhadap Tingkat
Di Rumah Sakit Advent Bandar Kecemasan Anak Usia Prasekolah Yang
Lampung. Jurnal Skolastik Keperawatan. Dihospitalisasi Di Rskia Pku
Vol, 4, No. 2 Muhammadiyah Kotagede Yogyakarta.
Skripsi. Universitas‘Aisyiyah
Idris. (2018). Efektifitas Terapi Bermain Yogyakarta
(Mewarnai) Terhadap Penurunan
Kecemasan Akibat Hospitalisasi Pada
Anak Usia Prasekolah (3-6 Tahun) Di
Ruang Melati Rsud Kota Bekasi. Jurnal
Afiat. Vol.4 No.2
Aisyah. (2014). Upaya Menurunkan Tingkat
Stres Hospitalisasi Dengan Aktifitas
Mewarnai Gambar Pada Anak Usia 4-6
Tahun Di Ruang Anggrek Rsud
Gambiran Kediri. Efektor. Nomor 25
Volume 01
Suryanti. (2012). Pengaruh Terapi Bermain
Mewarnai Dan Origami Terhadap
Tingkat Kecemasan Sebagai Efek
Hospitalisasi Pada Anak Usia Pra
Sekolah Di Rsud Dr. R. Goetheng
Tarunadibrata Purbalingga. Jurnal
Kesehatan Samodra Ilmu
Fricilia. (2014). Pengaruh Terapi Bermain
Mewarnai Gambar Terhadap Tingkat
Kecemasan Pada Anak Usia Pra Sekolah
Akibat Hospitalisasi Di Ruangan Irina E
Blu Rsup. Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado. Skripsi. Universitas Sam
Ratulangi Manado
Lisbet. (2019). Terapi Bermain Mewarnai
Menurunkan Tingkat Kecemasan Anak
Usia Prasekolah Yang Mengalami
Hospitalisasi.
Hartini. (2019). Perbedaan Tingkat
Kecemasan Anak Usia Prasekolah Saat
Hospitalisasi Sebelum Dan Setelah
Dilakukan Terapi Bermain Mewarnai
Gambar Di Ruang Bogenvile Rsu
Kudus. Cendekia Utama. Vol. 8, No. 1
Rizka. (2016). Pengaruh Terapi Bermain
Mewarnai Terhadap Tingkat Kecemasan
Akibat Hospitalisasi Pada Anak Usia
Prasekolah Di Bangsal Cempaka Rsud
Wates. Skripsi. STIKES Achmad Yani
Yogyakarta

Common questions

Didukung oleh AI

Color therapy alleviates anxiety in hospitalized children by promoting distraction and relaxation through artistic expression . Drawing and coloring help reduce anxiety by allowing children to engage with familiar and enjoyable activities, thereby shifting focus away from stressors . These activities stimulate creativity, support fine motor skills, and balance brain hemisphere functions, contributing to lowering anxiety levels .

Limitations in studies evaluating coloring therapy include small sample sizes and the variability of pre- and post-therapy conditions which may affect generalizability . Constraints such as hospital resources and time limitations lead to short intervention durations, impacting the assessment of long-term efficacy. The reliance on parent-reported outcomes and questionnaires can introduce bias . Additionally, individual differences in children's enjoyment and engagement with the activity can alter effectiveness .

Healthcare personnel behavior plays a crucial role in managing childhood anxiety, as their interactions can either exacerbate or alleviate the child's stress . Patient-centered care that involves empathy and clear communication helps reduce anxiety and supports therapeutic interventions. Art-based therapies like coloring become more effective when healthcare providers cultivate a supportive environment, facilitating trust and openness in children .

Significant factors contributing to anxiety in hospitalized children include separation from parents, fear of injury, dependency, and restriction of activities . These factors cause emotional distress and can lead to somatic, psychomotor, and emotional disorders . The hospital environment, with its unfamiliar sights, sounds, and people, adds to the anxiety. Such anxiety can disrupt normal child development, causing trauma that affects personality and development .

The presence of parents significantly influences anxiety levels in hospitalized children as their absence is a primary stressor . Parents provide essential emotional support and act as a buffer against the unfamiliar hospital environment, facilitating better adaptation. Their involvement in interventions like coloring therapy enhances the child's comfort and reduces anxiety, suggesting that therapy efficacy improves with increased parental participation .

Quasi-experimental and pre-experimental designs allow for practical intervention testing in real-world settings but may limit causation insights due to potential confounders and lack of randomization . Such designs facilitate observation of therapy impact within natural environments, thereby enhancing ecological validity, yet they can introduce bias through selection and testing effects. These methodological limitations necessitate cautious interpretation and highlight the need for more rigorous, controlled studies to substantiate coloring therapy's efficacy .

Coloring therapy specifically targets visual and motor skills, making it particularly effective in children with high anxiety levels due to its engaging nature . It compares favorably with interventions like origami, which require more complex motor coordination and patience . The simplicity and creativity of coloring allow children to express emotions more freely and at their own pace, whereas other therapies may not fit every child's interests or abilities, making coloring a versatile and widely applicable method .

Recent studies consistently show that coloring therapy effectively reduces anxiety in hospitalized preschoolers. Various studies, using quasi-experimental and pre-experimental designs with sample sizes ranging from 15 to 36 children, demonstrated statistically significant decreases in anxiety levels after implementing coloring sessions . For example, a study found that anxiety levels significantly dropped post-therapy, with 86.1% of children showing no anxiety compared to 63.9% before therapy .

Reducing pediatric hospital-induced anxiety through interventions like coloring therapy could have significant long-term implications, such as improved mental health outcomes, enhanced coping strategies, and greater adherence to future medical regimens . Early positive experiences in healthcare settings foster trust and reduce resistance to medical care, promoting overall well-being and resilience. Lowering anxiety during critical developmental periods may also facilitate normal cognitive and emotional development, lessening the risk of chronic anxiety disorders .

Future research could expand by incorporating larger, more diverse sample sizes and employing randomized controlled trials to strengthen evidence of coloring therapy's efficacy . Exploring variations in therapy delivery, such as integration with digital platforms or inclusion of family members, could enhance engagement and outcomes. Longitudinal studies assessing the therapy's impact on future healthcare interactions and psychosocial development would provide deeper insight into its long-term benefits .

Anda mungkin juga menyukai