0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan6 halaman

Drama Pendidikan: Bullying di Sekolah

Teks drama ini menceritakan tentang seorang siswi pindahan bernama Ana yang menjadi korban bullying oleh beberapa siswa lain. Walaupun ada teman yang mendukungnya, guru dan kepala sekolah tidak bisa membantu karena tekanan orang tua siswa pelaku bullying. Akhirnya karma datang pada pelaku bullying setelah salah satu dari mereka bangkrut, membuat mereka menyadari perbuatan mereka dan bertobat.

Diunggah oleh

nophille
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan6 halaman

Drama Pendidikan: Bullying di Sekolah

Teks drama ini menceritakan tentang seorang siswi pindahan bernama Ana yang menjadi korban bullying oleh beberapa siswa lain. Walaupun ada teman yang mendukungnya, guru dan kepala sekolah tidak bisa membantu karena tekanan orang tua siswa pelaku bullying. Akhirnya karma datang pada pelaku bullying setelah salah satu dari mereka bangkrut, membuat mereka menyadari perbuatan mereka dan bertobat.

Diunggah oleh

nophille
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Teks drama Pendidikan

Suatu hari SMK NEGERI AWAN kedatangan siswa baru yang berasal dari Luar kota.
Guru : Selamat Pagi anak anakku, Gimana kabarnya?. Hari ini kita kedatangan murid
baru dari luar kota, ada yang tahu?
Siswa 1 2 3 : Pagi Bu, Alhamdulillah kabar baik bu. Gak tahu bu!!!!!!!
Guru : *Sini Nak, Coba kamu perkenalkan diri
SP : *masuk, Halo selamat pagi semuanya, perkenalkan saya Uswatun Hasanah kalian b
isa panggil Ana, Saya berasal dari Kediri, Salam kenal semuanya!
Siswa 123 : *tidak ada yang respon
Guru : oke ana, kamu bisa duduk di sana (samping aya)
Cayo : *Tarik bangku
GUBRAK
Ana terjatuh saat akan mendudukan dirinya di bangku.
Cayo : “Ups sorry”
Ana diam, pandangannya menunduk. Dia bangkit dari posisinya lalu menepuk rok untuk
membersihkan debu di roknya.
Ana : “Tidak apa-apa…”
Guru : “Heh Cayo, kamu ga boleh begitu sama teman baru kamu. Cepat minta maaf!”
Cayo : “Dih, ngapain amat”
Guru : “Cayo, cepat minta maaf atau kamu keluar dari kelas ibu sekarang?!”
Cayo : “Ck, iya deh! Ana sorry yah~”
Ana : “Iya…”
Setelah Cayo meminta maaf kepada Ana pembelajaranpun dimulai. Guru mulai menerangk
an pelajaran di depan. Saat sedang fokus menerangkan, suara dering ponsel menghent
ikan pembelajaran di kelas.
Guru : “Kalian kerjakan hal 100, ibu keluar sebentar karna ada urusan.”
Semua siswa : “Baik bu~!”
Melihat dan memastikan guru sudah benar-benar keluar dari kelas, Cayo melirik Dafi
dengan senyum jahat. Dafi yang pahampun merobek kertas dari bukunya dan membuatnya
menjadi sebuah bola kertas. Cayo mengangguk lalu Dafi melemparkan bola kertas itu
ke kepala Ana.
Dafi : "Maaf, gue kira tong sampah"
Ana : “I-itu sakit”
Cayo : "Lebay banget jadi anak"
Nari : "Apaan sih berisik banget?!"
Cayo : "Biasa anak kesayangan mommy kalo kena bola kertas ngadu sakit"
Nari : "Lebay banget deh, kek anak kecil tau ga?!"
Dafi mendorong kursi Ana menggunakan kakinya.
Dafi : "Eh anak baru, adab mana adab. Baru masuk harusnya spik spik minta kenalan lah, ini apaan
main nyelonong aja! Emang lo kira kita angin lalu?!"
Nisa : "Maaf menyela, kalian taukan dia itu baru datang masa udah digituin dan siapa juga yang mau
ngajak kenalan kalau kalian seperti itu?"
Nai : "Dia itu ga ngajak kenalan sama kita, bahkan sama temen sebangkunya juga enggak. Malah
diem aja lagi, dikira patung kali ya?"
Ana : "Ma-maaf, gue tidak bermaksud seperti itu. G-gue bukannya tidak mau berkenalan sana kalian,
ta-tapi gue hanya terlalu malu dan gugup untuk memperkenalkan diri secara pribadi ke kalian.. "
Nari : "Klasik banget alasannya!"
Bel istirahat pun berbunyi, semua anak-anak yang berada di dalam kelas mulai berhamburan keluar
menuju ke kantin. Nisa berdiri dari duduknya dan menghampiri meja Ana.
Nisa : "Mau ke kantin bareng?"
Ana : "Bareng?"
Nisa : "Iya, bareng, berdua"
Ana sejenak diam untuk berpikir sebelum mengangguk, mengiyakan ajakan dari Nisa.
Ana : "Baiklah!"
Baru beberapa langkah Ana dan Nisa berjalan mereka berdua sudah di cegat oleh Cayo, Dafi, Nai dan
Nari di depan pintu.
Nari : "Heh anak baru maen nyelonong aja!"
Ana : "A-ada apa ya?"
Dafi : "Nitip dong, lo mau ke kantinkan?"
Cayo : " Nah pas banget nih, beliin kita roti sana air dingin di kantin"
Dafi : "Pake uang lo dulu, nanti di ganti"
Cayo : "Kalau inget,bwahahahaha!"
Dalam perjalanan menuju kantin, Nisa menepuk pundak Ana mencoba menguatkan.
Nisa : "Sabar ya, mereka emang seperti itu, anak berandal ga jelas"
Ana : "Iya gapapa kok"
Begitu sampai di kantin Ana dan Nisa langsung membeli jajanan mereka, tak butuh waktu lama
mereka untuk memilih jajanan disana, setelah selesai Ana dan Nisa kembali ke kelas lagi. Ana
menghampiri keempat anak yang sedang asik mengobrol di belakang lalu menyodorkan roti di
tangannya.
Ana : "Ini.."
Dafi : "Lah cuma satu doang???"
Cayo : "Lo ga tuli kan? Udah jelas tadi gue bilangnya 'BELIIN KITA ROTI' yang berarti harus
beliin kita berempat bukan cuma satu!"
Nai : "Dibeliinnya yang seribuan lagi, ck.."
Dafi : "Miskin banget"
Nari : "Dia tuh ingetnya sama lo doang Cay, beliinnya cuma buat lo doang. Sepertinya dia naksir
sama lo Cay.
Cayo : "Dih najis banget"
Ana : "Ma-maaf, sisa uang gue hanya cukup untuk membeli itu saja. Kalau gue membelikan kalian
berempat, gue tidak bisa membeli makan buat gue sendiri"
Dafi : "Eh kalo miskin seenggaknya bawa bekel dari rumah biar bisa makan"
Aya : "Kalian berempat ngapain berisik banget dari tadi, lagian kan kalian bisa beli pake uang sendiri
ga perlu pake uang dia"
Nari : "Woah lo bisa ngomong panjang juga?"
Cayo : "Dari dulu kerjaan lo itu diem sama bengong doang, gue fikir lo gagu kids"
Aya tak menjawab, dia memilih untuk diam dan kembali memfokuskan perhatiannya pada ponsel di
tangan. Tapi bukan berarti dia tidak mendengarkan perkataan kasar mereka untuk Ana.
Waktu pun berlalu dengan cepat, bel pulang sekolah berbunyi. Saat Ana akan keluar dari kelas,
dirinya di cegat oleh Cayo, Dafi, Nai, dan Nari.
Cayo : "Heh lo mau ga bantuin kita?!"
Dengan nada keras cayo berkata seperti itu terhadap ana
Ana : "B-Bantu apa?"
Dafi : "Kita tuh harusnya piket hari ini tapi berhubung kita males, gimana kalo lo aja yang piket?
Maukan?"
Nai : "Pasti maulah, kan bantu temen yang kesusahan tuh perbuatan terpuji"
Nari : "Bener tuh, kalo gamau gue bayar deh. Lo butuh duit kan????"
Cayo : "Gosah gengsi, nunggu apa lagi??? Ayo ambil"
Mendengar perkataan mereka Ana sempat tersentak, namun ia tidak berani menolak suruhan mereka,
alhasil Ana piket sendirian menggantikan mereka berempat.

ESOKNYA
Keesokan harinya Abil dan Nisa mendatangi guru untuk memberitahu perbuatan tercela yang Cahyo,
Dafi, Narisa, dan Naila lakukan terhadap Ana.

Tok Tok Tok


Aya : "Permisi bu, kami ingin berbicara apakah ibu ada waktu sebentar?"
Bu Chin : "Masuk saja, kalian mau bicara apa?"
Nisa : "Ini bu mengenai sifat Cayo dan teman temannya yang memperlakukan Ana dengan
keterlaluan, apakah ibu gabisa memberi mereka hukuman?"
Bu Chin : "Kalian sudah tau sifat mereka seperti apa karna kalian adalah teman sekelas. Saya sebagai
guru ingin menghentikan ini tapi tidak bisa. Orang tua Dafi dan Narisa sangat berpengaruh di sekolah
ini, hingga kepala sekolah mau melindung mereka berdua. Jika salah langkah saja, itu bisa membuat
kalian maupun saya sendiri di keluarkan dari sini."
Aya dan Nisa terdiam, perkataan Bu Chintya ada benarnya. Orang tua Dafi dan Narisa sangat
berpengaruh di sekolah dan kepala sekolah melindungi mereka berdua. Jika ada yang mengusik
keduanya kepala sekolah tak segan mengeluarkan anak yang bersangkutan.
Mereka tak bisa menyangkal kenyataan itu. Sebuah kenyataan yang pahit untuk di terima.
Dengan berat hati Aya dan Nisa izin pamit undur diri dari sana.
Aya : "Kalau begitu, kami izin kembali ke kelas bu."
Sembari berjalan menelusuri lorong untuk menuju ke kelas Abil dan Nisa pun berbincang.
Nisa : "Bagaimana ini, kalo gak ada yang bisa bantu sampai kapan Ana dibuli sama mereka?"
Abil : "Aku juga gak tau Nis."

Hari demi hari berlalu, Ana terus menjadi korban buli hingga ada sebuah berita heboh yakni salah satu
dari mereka berempat mengalami kebangkrutan.
Nari : "Heh Chani gue denger denger keluarga lo bangkrut ya?"
Cayo : "Duh kalo gitu jangan mimpi bisa main lagi sama kita deh"
Nai : "Hah? Apa maksud kalian?"
Dafich : "Emangnya lo gasadar?"
Cayo : "Tau, lo gasadar kalo selama ini lo tuh cuma kita jadiin kacung"
Mendengar hal itu kini ia hanya bisa berdiam diri, sekarang dia sudah bukan siapa siapa dan hanya
seorang diri. Tidak ada teman disisinya .
Tidak lama setelah Naila ditinggal teman temannya Aya menghampiri Biasa dan mengajaknya bicara.
Aya : "Chan lo tau gasi kalo ini karma?"
Nai : "Dih"
Aya : "Sebelum karma lo makin parah, mending lo bantuin gue sama Nisa buat bikin mantan temen lo
itu tobat."
Nai : "Hah? Apaan?"
Abil : "Gue tau selama ini lo selalu ngerekam kejadian setiap kali kalian ngebuli Ana, gimana kalo lo
kasih video itu ke gue sekarang?"
Nai : "Hah?"
Nisa : "Hah hah mulu , nih lo gaada niat minta maaf ke Ana?"
Nai : "Ada kok, Ana maafin gue ya. Kayaknya ini emang karma buat gue. Tapi buat apa kalian minta
video itu? Mau di sebar ke sosmed? Atau ke forum sekolah? Kalian taukan mereka itu orang kaya, ga
sampe sejam video itu bakal ilang tanpa jejak karna pengaruh duit mereka."
Nisa : "Udah gosah bacot dulu, kita udah punya rencana. Lagi pula Ana belom jawab dia maafin lo
apa kagak."
Ana : "Aku udah maafin kamu kok, santai aja."

Kini mereka memulai rencananya, video pembulian itu tidak dikirim ke sosial media, kepala sekolah,
ataupun situs forum sekolah. Video itu langsung dikirimkan ke orangtua mereka dan grupchat satu
angkatan. Sehingga dengan terpaksa dan rasa malu para pembuli ini di pindahkan kesekolah lain
untuk menutup kasusnya. Sehingga sekolah bebas dari para pembuli dan kehidupan sekolah Ana
membaik.
Bagaimana dengan Naila? Dia memutuskan untuk berhenti sekolah, selain karena sudah tidak ada
uang untuk menutupi kasus bulinya, keluarganya juga tidak ada biaya untuk menyekolahkan dia di
smk awan, nilainya juga tidak bagus untuk ikut program biasiswa. Jadi dia memutuskan untuk
membantu kedua oragtuanya bekerja.
Drama ini selesai...

Ana : "Nah temen temen tau gak si pesan moral dari drama kita ini???"
Chintya : "Pesannya itu tidak semua kekejaman ialah dalam bentuk memar secara fisik, melainkan
terluka dalam hatinya dan keadaan itu sungguh berbahaya."
Abil : "Bener banget kita harus mikirin perasaan orang lain, bisa aja mereka udah gak kuat terus
ngelakuin bunuh diri. Kalo mereka sampe bunuh diri kalian yang bakalan ketakutan karena merasa
bersalah lohhhhh."
Dafich : "Bener banget, untungnya mental protagonis kita kuat jadi gasampe ada adegan bunuh
dirinya."
Nai : "Jangan lupa ada ganjaran berupa karma yang bakal balik ke kita kalo kita ngelakuin hal buruk."
Ambar : "Loh tapi dicerita tadi kok cuma 1 orang yang kena karma, sisanya enggak?"
Cayo : "Bukan enggak tapi itu belum, biasanya kan yang paling jahat karmanya paling lama sekaligus
paling sadis."
Nisa : "Nah kalo kita abis ngelakuin hal buruk sama temen langsung buru buru minta maaf ya biar
dianya juga ga kesinggung dan ga ngejauh dari kita."
Nari : "Yang paling penting jangan cuma manfaatin temen aja nih."

SEKIAN DRAMA KAMI KURANG LEBIHNYA MOHON MAAF DAN TERIMAKASIH!!!!


-TAMAT

Anda mungkin juga menyukai