Memahami Jenis Menu Restoran
Memahami Jenis Menu Restoran
PENGETAHUAN MENU
Pokok Materi
a. Gambaran umum tentang menu
b. Dasar menu (static menu, single –use menu,dan cycle menu).
c. Table D’hote Menu, dan Penampilan Ala Carte Menu.
d. Rancangan pembuatan Table D’hote menu dan A la Carte Menu
e. Desain Menu
Uraian Materi
A. Gambaran Umum tentang menu dan dasar menu
Menu dalam Restoran diibaratkan sebagai posisi pintu pembuka bagi
tamu memasuki ruang makanan yang memberikan informasi tentang
makanan apa saja yang ada dan dijual di tempat itu. Bagi pramusaji,menu
sebagai kendaraan yang membawa dia bisa mengunjungi tamu dengan
santun dan percaya diri menawarkan makanan dan minuman yang dijual.
Dengan Menu tamu bisa membangun imajinasi makanan yang akan tersaji
dan bagi pramusaji bisa menjadi alat bantu untuk memberikan deskripsi
bahan bahan makanan yang ada dalam item makanan, teknik memasak
yang digunakan serta tampilan dalam piring makanan yang akan tersaji,
termasuk standar suhu makanan yang berkaitan dengan kualitas produk
makanan,serta keunikan dari item makanan. Bagi perusahaan secara
umum,menu menggambarkan image “merek dagang” dari perusahaan
dengan manajamen yang baik. Efek dari tampilan menu bagi perusahaan
menggambarkan reputasi dari usaha jasa boga yang dikelolanya.
Pada bagian paparan berikut pembaca modul ini harus mampu
mengidentifikasi sampai melakukan analisis aturan aturan dalam penulisan
menu dan menampilkan menu secara menarik sesuai dengan aturan
penulisan menu.
Menu bagi perusahaan jasa boga identik dengan “ proposal” dalam
sebuah rancangan perhelatan, yang akan diajukan kepada pihak konsumen.
Di dalamnya memuat informasi tentang makanan yang bisa dibeli. Susunan
makanannya bisa sudah ditentukan oleh pihak manajemen perusahaan
dalam bentuk paketan ,ataupun dirancang sendiri berdasarkan pilihan
konsumen secara mandiri atau pilihan dari daftar yang sudah disediakan
yang disiapkan pihak perusahaan. Oleh karena itu, menu harus dibuat bisa
menarik perhatian konsumen, memberikan informasi yang dibutuhkan
konsumen, dan menstimuli keputusan pilihan konsumen menjadi kebutuhan
konsumen sehingga terjadi transaksi jual-beli, maka dampaknya muncul
aktivitas pelayanan jasa dari pihak perusahaan/ usaha jasa boga.
Cousin at all (2014: 89) menulis : “Originally the bill of fare (English)
or menu (French) was not presented at the table. Banquets generally
consisted of two courses, each made up of a variety of dishes, anything
from 10 to 40 in number. The first set of dishes were placed on the table
before the diners entered – hence the word ‘entrée’ – and, when consumed,
these dishes were removed or relieved by another set of dishes – hence the
words ‘relevés’ or ‘removes’. This style of service was referred to as service
à la française.”
The word ‘menu’ dates back to the eighteenth century, although the
custom of making a list of the courses for a meal is much older. Modern
menus first appeared during the early nineteenth century, in the Parisian
restaurants of the Palais-Royal. At this time, France, and later other
countries, adopted the style of service referred to as service à la russe. In
this system of service one course is served after another throughout the
meal. The menu is primarily a selling aid. The design of the menu should
be appealing and interesting to the customer so it encourages them to view
its contents. Clear information that is easily found and followed will make
the customer feel more at home and will assist in selling the Menu.
Mariam C Spears dan Allene G Varden (1985;109) mendeskripsikan
terkait “menu adalah daftar item makanan yang ditawarkan untuk “dijual”
wujud benda dalam bentuk kartu atau lainnya yang berisi tulisan daftar
item makanan yang mudah dibaca dan dipahami oleh tamu.” Beberapa
kasus lain “menu” dalam konteks makanan bisa disebar melalui posting di
media sosial atau media surel ( e-mail), atau bentuk papan nama yang bisa
terbaca dari jarak pandang 10 meter.
Terminologi tentang Menu memiliki dua makna yang berbeda. Makna
pertama; menu berarti informasi yang menunjukkan kumpulan beberapa
macam nama kuliner untuk satu kali waktu makan, berarti cetak biru dalam
bentuk lembaran “Kartu”atau ” atau lembaran yang terhimpun dalam wujud
Buku”, atau “papan menu/papan lampu”, dimana di dalamnya tertulis nama
nama kuliner yang tersaji di restoran tersebut.
Makna kedua adalah menunjukkan sebuah benda atau material yang
bisa dipegang dan diangkat oleh tangan,”Handy”, atau papan nama yang
mudah terbaca tamu restoran; berisi informasi tulisan nama nama makanan
yang mudah terbaca berikut harga. Menu sebagai alat dari pemasaran. Oleh
karena itu efek dari menu sangat diharapkan terjadinya transaksi jual beli,
terjadi aktivitas pelayanan jasa dari perusahaan , dan berujung pada
kepuasan tamu yang terkait.
Tampilan menu harus selalu terjaga rapi bersih dengan tulisan yang
menggunakan hurup hurup mudah terbaca ,tidak membuat mata “silau”
bisa dibuat dari material bisa yang eklusif /mahal atau bisa unik lokalistik
memadukan tema tema yang diusung restoran atau makanan yang dijual
di restoran [Link] dapat menggunakan mesin tulis dicetak, atau
tulisan manual tulis tangan.
Jadi intinya “menu” di dalam kepentingan ruang makan usaha
restoran, adalah sebagai bagian dari perangkat tata hidang, berwujud
“cetak biru/blue print”, berisi informasi tentang nama nama makanan (“item
menu”) secara terpisah per item, atau secara mengelompok dalam satu
kesatuan disertai harga . Menu sebagai alat penjualan jasa pelayanan
makan. Keberadaan “Menu”bagi staf kitchen atau ruang produksi makanan
berarti sebuah “proposal” dan “program” membuat produk makanan yang
dipesan oleh konumen atas intruksi pimpinan yang berwenang”.
Pengadaan produk berdasar pada “proposal” yang diajukan konsumen, di
kabulkan oleh pramusaji, dibuat wujud nya oleh staf dapur produksi,
disajikan melalui tangan trampil dan keramah tamahan pramusaji ke
hadapan konsumen, dikonsumsi oleh konsumen pemesan atau konsumen
yang dijamu pemesan (yang punya hajat). Staf Restoran “ruang makan”
memiliki kewajiban menyampaikan makanan kehadapan pemesan. Dengan
menu komunikasi kerja antara staf ruang makan dan staf ruang produksi
saling mengisi sebagai sebuah tim kerja, dalam memberikan pelayanan jasa
kuliner pada konsumen atau tamu restoran.
Nama makanan yang muncul dalam “tampilan menu” , sebagai hasil
sebuah keputusan dari proses panjang berdasarkan pertimbangan
pertimbangan manajemen perusahaan untuk memunculkan ikon produk
makanan perusahaan yang ditawarkan kepada konsumennya. Nama nama
makanan yang tertulis dalam kartu atau dalam board disebut item menu.
LOGO
NAMA PERUSAHAAN
PERUSAHAA
ALAMAT PERUSAHAN
N
LUNCH
SALAD
(Rusian Salad)
SOUP
(Pumkin Soup)
MAIN-COURSE
(CHICKEN SAUTE CHASEUR, DAUPHINE POTATOES
AND JARDINIERE VEGETABLES)
DESSERT
(BLACK FOREST CAKE)
Rp. 75.000,00
Catatan:
Harga Termasuk satu cangkir; Coffee atau Tea
Harga belum termasuk Pajak = 15%
[Link]
Catatan yang harus menjadi dasar keputusan merancang “kartu menu”
Table d’hote adalah:
1. Head Line ; jangan mencantumkan informasi tentang periode waktu
setelah menulis kata tanggal, nama kota, tulisan waktu makan
(Lunch – Dinner). Misalnya: tidak menulis Lunch 30 minuttee . Tidak
menulis nama makanan dengan disingkat. Jadi tulis item menu
dengan nama kuliner yang sesuai apa adanya. Misalnya tidak
menulis; Chick-G = untuk Chicken Grill .
2. Body of Menu
a) Penulisan untuk satu giliran hidangan ke giliran hidangan yang
lain diberi jarak beberapa spasi yang lebih lebar, sedangkan nama
makanan yang mengelompok dalam salah satu giliran
hidangan,karena panjang membutuhkan dua baris maka;
ditampilkan dalam ketikan yang merapat nampak terkumpul satu
kesatuan. Jarak spasi satu kespasi ke dua menggunakan ukuran
1 spasi. Jarak satugiliran hidangan ke 1 ke tulisan yang
menunjukkan giliran hidangan ke dua diberi jarak 3 spasi atau
lebih.
b) Penulisan item menu yang menunjukkan giliran pertama ke
giliran selanjutnya dipisah dengan tanda asteriks / tanda bintang,
yang ditata estetis
c) Penulisan item menu dalam kartu tabled’hote berakhir sampai
dessert atau sampai kopi/tea. Tidak boleh hanya sampai main-
course. Kemudian cantumkan harga makanan dalam paket, bisa
ada keterangan apakah harga termasuk salad atau tanpa salad.
Atau apakah harga termasuk kopi atau tanpa kopi. Apakah harga
sudah termasuk pajak dan service atau belum, semuanya harus
dikomunikasikan melalui tulisan yang mudah dipahami oleh
konsumen. Jangan sekali kali menjebak konsumen dengan tidak
mencantumkan informasi harga makanan, dan tidak memberikan
informasi harus ada tambahan pajak serta service.
d) Berikan penjelasan dengan membuat deskripsi dari makanan
yang akan disantap oleh konsumen; makanan terbuatdari apa
bahan dan bumbunya, kenampakan makanan seperti apa
sensorinya ( warna aroma,rasa,[Link]) dan platingnya.
e) Konsumen jangan dibingungkan dengan istilah yang
kemungkinan tidak semua konsumen paham. Gunakan pedoman
kerangka menu yang standar dalam mencantumkan item menu
untuk giliran makan dalam satu course menu lengkap.
Misalnya “Entree” dalam kuliner Francis berarti kuliner untuk
appettizer; makanan yang dimakan sebelum makanan utama,
dimana pilihan hidangannya bisa hot appetizer atau cold
appetizer. Dalam kuliner Inggris “Entree” berarti hidangan untuk
santapan utama,dimakan setelah appettizer.
Variasi penulisan table d’hote menu bisa dalam satu kertas terdiri
dari dua atau tiga set menu lengkap. Disebut “Tasting Menu”,
sering digunakan untuk Flight menu” menu dalam pesawat
terbang. ,dalam set yang sama bisa ditawarkan wine yang
berbeda atau minuman yang berbeda sebagai pilihan, sehingga
ditulis duakali item menu yang sama dengan minuman yang
berbeda. Dalam beberapa kasus di lapangan , pihak manajmen
memberikan pilihan minuman yang berbeda untuk set menu yang
sama.
D. Tipe Menu
1. Breakfast Menu;
Ditawarkan sebagai menu makan pagi ;
a) Continental breakfast terdiri atas hot beverages (coffee, tea,
milk,cocoa) breads (yeast bread atau quick bread) honey and butter .
b) American atau English Breakfast terdiri atas pilihan lebih terbatas dari
continental breakfast ditambah dengan pilihan masakan telur ,daging
dan ikan.
c) Indonesian breakfast; terdiri atas pilihan nasi goreng, bubur ayam.
d) Orientasl Breakfast seperti dim sumdanlainnya tergantung tradisi
negara yang ada di Asia.
2. Coffee Shop, Cafetaria dan Snack Menu
Karakter menu coffee shop adalah ; ada banyak pilihan makanan agar
bisa mengakomodasi banyak customer. Makanan yang ditawarkan
bermacam macam seperti salad, soup, sanwiches, dan masakan
casserole serta grilled steaks dan dessert. Selain banyak pilihan
makanan di coffee shop harus mudah untuk disajikan dan sebelumnya
disiapkan dalam bentuk makanan siap pemanasan atau makanan
makanan yang sudah diproses tinggal sentuhan akhir saja. Konsep
penyajian makanan untuk cafetaria,dan snacks menu adalah pelayanan
cepat dimana tamu dikondisikan bisa dengan mudah membaca dulu
daftar nama makanan sebelum sampai di conter makanan. Artinya tamu
sudah punya keputusan pilihan makanan yang akan
disantapsebelumdia sampai di counter makanan.
3. Room Service Menu
Terutama di Hotel Hotel,banyak yang menawarkan makanan dan
minuman diantar ke kamar tamu. Tamu tamu Indonesia pada umumnya
sering meminta makan pagi diantar ke kamarnya, tidak mengantri ke
ruang makan coffee shop untuk breakfast. Pada dasarnya menu
breakfast dengan room service menu sama dengan breakfast yang di
coffee shop.
4. Banquets Menu
Banquets menu biasanya ditawarkan bersamaan dengan pemasaran
penjualan ruang perhelatan acara, seperti yang tercover dalam MICE
(Meeting insentive conference dan excibition) . Harga sudah dihitung
perpaket per orang kebutuhan kursi meja dan dekorasi ruang dengan
makanannya. Pilihan menu disiapkan secara fixed menu oleh pihak
manajemen yang berkepentingan. Bagian bangquet menu harus
kerjasama dan koordinasi dengan bagian pemasaran kegiatan MICE
yang diselenggarakan di Hotel atau restoran tertentu.
5. Dining Room Menu
Menu untuk di Dinning room harus dibuat sebaik mungkin. Di tempat
ini makanan terbaik yang ada di [Link] dibuat secara
sempurna dari kenampakan makanan dalam piring saji baik plate
service maupun service yang lain. Pilihan makanan yang ditawarkan
banyak dan harga makanan biasanya relatif lebih mahal dibandingkan
dengan di coffee shop atau tempat lainnya. Untuk Hotel yang menjual
produknya dengan “Americam Plan” menu yang ditawarkan
menggunakan Table d’hote menu,yang berubah setip hari (Cycle
Menu).Sedangkan Dinning room yang menawarkan dengan Ala Carte
lebih banyakmemberikan tawaran pilihan sehingga bisadibuat sejenis “
buku menu”.
6. Grill Room Menu
Grill Room menu sama dengan Dinning Room [Link] dari
menu di tempat ini adalah banyak pilihan makanan yang di Grill,baik
daging sapi, daging ayam , sea food, dan ikan. Makanan yang di Grill
dibuat langsung di restoran itu, makanan lainnya disiapkan di dapur
yang lain.
E. Desain Menu
1. Redaksi Dalam Penulisan Menu
Masalah yang sering ditemui oleh perancang menu adalah :
a) Bagaimana spelling yang tepat untuk istilah asing dalam nama
makanan
b) Bagaimana menggunakan terminologi yang tepat
c) Bagaimana memberikan deskripsi tentang culiner dari namanya
d) Bagaimana atauran penggunaan hurup kapital atau hurup kecil
e) Bagaimana aturan penggunaan kana “ a la”
Berikut beberapa penjelasan untuk menjawab masalah umum di atas.
a) Spelling yang tepat untuk istilah “kata asing” . Kata asing dalam nama
makanan yang sesuai dengan penamaan awal bahasa ibunya memiliki
makna spesifik. Oleh karena itu nama makanan tidak perlu
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Apalagi kalau akan
mengubah makna dan sejarah dari nama itu sendiri. Misalnya “Roast
Chicken of Bresse”. Bresse adalah bagian wilayah di Francis yang
menghasilkan daging ayam khusus dengan kualitas terbaik yang
berbeda dengan daging ayam yang diternakan di wilayah lain. Oleh
karena itu, ketika menulis nama makanan Roast Chicken of Bresse,
maka yang akan ditemui konsumen adalah benar benar harus daging
ayam jenis itu bukan yang lain. (Pusat Pendidikan Perhotelan dan
Pariwisata Bandung).
b) Terminologi yang tepat
Setiap produk makanan memiliki nama yang unik yang telah dikenal
secara tradisi,atau diperkenalkan untuk tradisi baru dimasa yang akan
datang dari yang menciptakannya. Nama makanan yang telah menjadi
tradisi akan memberikan gambaran deskripsi kenampakan dan cita rasa
makanan sesuai tradisinya,tidak boleh ada perubahan formula dan
prosedur pembuatannya, selama nama yang terpakai sama dengan
terdahulu yang diturunkan sebagai sebuah “warisan”. Ketika menulis
“Roast chicken of bresse” maka konsumen harus mendapatkan
masakan tersebut dengan daging ayam orisinal dari daerah Bresse
bukan ayam lokal. Oleh karena itu harus sangat dihormati aturan seperti
ini. Aturan ini berlaku untuk semua nama makanan dari manapun letak
geografis dan benuanya. Diharuskan sejujurnya terkait penulisan nama
makanan dalam menu maka yang akan tersaji adalah yang sebenarnya
orisinil seperti dari daerah asalnya terutama dalam penggunaan ;bahan
makanan - bumbu dan metoda serta teknik memasak. Penulisan nama
masakan yang ditawarkan bermakna menjual kepercayaan dan
membeli kepercayaan. Pada posisi ini Manajmen Jasa dirterapkan.
Bahwa ciri usaha jasa itu diantaranya adalah “Jual Beli Kepercayaan
pada sesuatu produk yang tidak langsung secara visual bisa diamati
namun hasilnya dirasakan oleh konsumen yang berujung adanya
kepuasan”.
c) Penjelasan atas sebuah nama makanan yang tertulis dalam Menu
Nama makanan asing tidak boleh diterjemahkan atau alih bahasa.
Misalnya nama makanan Francis tidak boleh ditulis dalam terjemahan
berbahasa Indonesia. Begitupun sebaliknya. Yang boleh adalah
memberikan deskripsi yang menggambarkan kenampakan sensory dan
cita rasa makanan dalam pembahasaan yang mudah dipahami oleh
konsumen.
Berikan deskripsi dari nama makanan dengan pembahasaan yang bisa
menstimuli selera makan melalui imajinasi yang tercipta dalam pikiran
konsumen segera setelah membaca uraiannya. Konsumen dibawa pada
selancar imajinasi terkondisikan melalui bacaan tafsiran nama
makanan, dan kebenaran akan segera menghampiri manakala
makanan itu ada di depan piring makan yang dia pesan. Bermain kata
untuk hal ini sangat dibutuhkan,disertai dengan kata pilihan kata yang
menggambarkan kejujuran terhadap masakan yang tersaji.
Contoh : Chicken Saute Chaseur ; (masakan dari daging ayam pilihan ,
dipanggang berwarna keemasan, diselesaikan dalam saus chaseur
beraroma jamur yang gurih umami,tersaji dalam sentuhan taburan
hijau taragon).
d) Pertimbangan penggunaan hurup capital atau hurup kecil
Penulisan kata berorientasi gaya Bahasa Ingris lebih sederhana
dibandingkan dengan penulisan gaya Bahasa Francis. Penulisan dalam
bahasa apapun harus benar benar sesuai dengan ketentuannya.
Misalnya dalam menulis kata Bresse, dimanapun letak kata itu awal
kata harus ditulis dengan hurup kapital. Dalam bahasa Indonesia kata
yang menunjukkan tempat , selalu harus ditulis dengan awal hurup
kapital. Dalam nama makanan, ketika ada bahan makanan yang
digunakan dari tempat tertentu maka ditulis dengan hurup
kapitaldiawalkata yang menunjukkan tempat . Hurup kecil digunakan
untuk menulis kata kata yang bersifat umum dan sesuai dengan aturan
yang ditetapkan dalam ketata bahasaan.
Dalan aturan penulisan menu gaya Francis, makanan yang memiliki
nama dua kata atau lebih, maka penulisannya menggunakan hurup
kapital pada awal katanya, tidak ditulis menggunakan hurup kapital
untuk seluruh hurup yang digunakan nama itu. Kata yang menunjukkan
tempat dan nama orang juga ditulis dengan hurup kapital di awal
katanya.
Contoh : ( Pusat Pendidikan Perhotelan dan Pariwisata Bandung)
Soup Leopard
***
Blue Trout
Clarified Butter
***
Roast Chicken of Bresse
CreamedMushrooms
Mignonettes Potatoes
Bouquetierre of Mixed Vegetables
***
Charlotte Montreuil
e) Pleonasm (Pengulangan kata)
Pleonasm adalah pengulangan dengan kata yang berbeda namun
memiliki makna yang sama atau tertuju pada bahan makanan yang
sama. Keadaan seperti ini harus dihindari dalam menulis nama
makanan. Misalnya Cream dalam makanan tertuju pada soup ada
unsurbahan kepala susu.
Cream of tomato soup. Pada kasus ini Soup sama dengan cream. Maka
menulisnya ; pertama tulis Tomato soup, atau tulis cream of tomato.
Tidak menulis Cream of Tomato Soup.
f) Menggunakan- form; “ a la”
Dalam bahasa Francis ; “ a la” berarti; “ style”. Contoh : “Petits pois a la
Francaise”, adalah “ Green Peas French Style”.
Tidak dianjurkan untuk menggunakan; “ a la” , dalam penulisan menu
gaya English kemudian diterjemahkan menjadi “ Style”.
Penulisan nama makanan dalam menu pada dasarnya harus mengikuti
atauran ejaan bahasa darimana nama makanan itu berasal. Nama
makanan Indonesia maka ditullis dengan aturan menulis ejaan bahasa
Indonesia yang benar, begitupun nama makanan dalam bahasa asing
harus ditulis sesuai dengan dari mana asal negara makanan tersebut
ditulis sesuai dengan gaya bahasa yang seharusnya sesuai dengan
bahasa makanan negaranya berasal.
Menu harus ditulis dengan jujur. Artinya menulis nama makanan
terutama yang klasik harus tetap klasik tidak ada modifikasi bahan dan
teknik pembuatannya. Makanan klasik ditulis sesuai tradisinya,
sehingga akan menampikan makanan tradisi yang orisinal. Misalnya
Soto Bandung secara tradisi itu ; makanan berkuah banyak dengan
kaldu sapi yang bening diberi isi potongan dading sapi yang dipotong
dadu 1 – 2 Cm, dengan garnis lobak “slice”, kacang kedele goreng,
taburan bawang goreng dan seledri cincang. Aroma kaldu sapi berbaur
dengan sereh “ lemongrass” yang kuat.
Penulisan nama makanan dalam menu baik; A la Carte,maupun Table
d’hote, harus diberikan deskripsi yang jelas sehingga konsumen bisa
membaca dan memperkirakan penampakan sensori serta cita rasa dari
masakan.
Penulisan kata; “a la” tidak bermakna “ Style” dalam bahasa Ingris. Kata
“ a la”, hurup a terpisah satu ketukan dari la = a la; ketentuan di
dalam tata bahasa Francis”, ditulis apabila nama makanan itu berasal
dari Francis. Kata “ a la” tidak digunakan untuk nama makanan yang
berasal dari luar Negara Francis. Penulisan “ a la”, berbeda maknanya
dengan “ala” dalam kata bahasa Indonesia. Ala yang a disatukan
dengan la menjadi ala, dalam bahasa Indonesia bermakna”gaya”
pembuatnya atau versi penciptanya,bukan versi orang lain.
[Link]