0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan2 halaman

SOP Penanganan Diabetes Melitus

Dokumen ini membahas tentang prosedur diagnosis dan penatalaksanaan diabetes melitus di Puskesmas Cipunagara. Prosedur meliputi anamnesa gejala klasik, pemeriksaan gula darah, penetapan diagnosis berdasarkan hasil laboratorium dan gejala, serta penatalaksanaan awal meliputi terapi gizi, obat hipoglikemik oral atau suntikan insulin, dan edukasi kesehatan bagi pasien.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
68 tayangan2 halaman

SOP Penanganan Diabetes Melitus

Dokumen ini membahas tentang prosedur diagnosis dan penatalaksanaan diabetes melitus di Puskesmas Cipunagara. Prosedur meliputi anamnesa gejala klasik, pemeriksaan gula darah, penetapan diagnosis berdasarkan hasil laboratorium dan gejala, serta penatalaksanaan awal meliputi terapi gizi, obat hipoglikemik oral atau suntikan insulin, dan edukasi kesehatan bagi pasien.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DIABETES MELITUS

No. Dokumen :SOP/ /UKP/PKM-


CPGR/2022
No. Revisi : 00
SOP Tanggal Terbit : 03 Januari 2022
Halaman : 1/2

[Link]
s

Cipunagara Tarmi, SKM, [Link]


NIP : 19690415 199103
2 005

1. Pengertian Diabetes melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai


kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan
berbagai komplikasi kronik pada mata, saraf, ginjal dan pembuluh
darah.
2. Tujuan Agar petugas dapat menegakkan diagnosis diabetes melitus(DM) dan
melakukan pengobatan dan penyuluhan untuk pencegahan diabetes
melitus.
3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas Ciounagara Nomor 440/ 384/ PKM-
CPG/I/2017
Tentang Kebijakan Pelayanan Klinis di UPTD Puskesmas Cipunagara

4. Referensi Pedomam Pengobatan Dasar di Puskesmas Tahun 2002 Hal 26-27,


Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 1, FKUI.
Panduan praktis klinis bagi Dokter di FKTP Permenkes No.5 Tahun
2014.

5. Prosedur/
1. Petugas memanggil pasien sesuai nomor urut.
Langkah-
Langkah 2. Petugas menulis identitas pasien di buku register
3. Petugas melakukan anamnesa pada pasien apakah pasien
mengeluhkan gejala klasik DM yang berupa poliuria (sering kencing),
polidipsi (sering haus) dan polifagi (serng lapar).
4. Petugas menanyakan pada pasien apakah terdapat keluhan lain
seperti berat badan turun tanpa penyebab yang jelas, kesemutan,
gatal, mata kabur, impotensi pada pria, pruritus vulva pada wanita,
serta adakah luka yang tidak kunjung sembuh.
5. Petugas melakukan pemeriksaan tekanandarah
6. Petugas melakukan pemeriksaan nadi
7. Petugas melakukan pemeriksaan uhu
8. Petugas melakukan pemeriksaan fisik termasuk ekstremitas atas dan
bawah termasuk jari.
9. Bila diperlukan petugas membuatp ermintaan pemeriksaan gula darah
atau urin ke laboratorium.
[Link] menyerahkan surat permintaan kepada pasien
untukselanjutnya pasien kelaboratorium
[Link] menerima hasil laboratorium dari pasien
[Link] membaca hasil laboratorium dan menegakan diagnose
berdasarkanhasil lab dananamnesis, yaitu:
a. Gejala klasik DM +Glukosa darah sewatu ≥ 200 mg/dl (darah
kapiler)

b. Gejala klasik DM +Glukosa darah puasa ≥ 100 mg/dl (darah


kapiler)

c. Tanpa gejala kasik DM + kadar GDS ≥ 200 mg/dl atau GDP ulang
≥ 100 mg/dl (darah kapiler)
[Link] memberikan penatalaksanaan awal DM berupa terapi gizi
medis (TGM) dan latihan jasmani selama 2 – 4 minggu. Apabila kadar
gula darah belum mencapai sasaran dilakukan intervensi farmakologi
dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin.
a. Obat hipoglikemik oral (OHO) dimulai dengan dosis kecil dan
ditingkatkan secara bertahap sesuai respons kadar glukosa darah,
dapat diberikan sampai dosis hampir maksimal. Pemberian OHO
bersamaan dengan pengaturan diit dan latihan jasmani, bila
diperlukan dapat dilakukan pemberian OHO tunggal atau OHO
kombinasi. Terapi OHO kombinasi harus dipilih dua macam obat
dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda
b. Golongan Biguanid: Metformin, dosis awal 500 mg dosis maksimal
2500 mg diberikan 1-3 kali/hari
c. Golongan Sulfonilurea: Glibenklamid dosis awal 2.5 mg dosis
maksimal 15 mg/hr diberikan 15 – 30 menit sebelum makan, 1-2
kali/hari.
[Link] mengedukasi pasien tentang penyakit DM, perlunya
pengendalian dan pemantauan gula darah, penyulit DM dan resikonya
serta bagaimana mengatasi sementara keadaan gawat darurat akibat
DM (rasa sakit dan hipoglikemia).
[Link] mengedukasi pasien tentang terapi gizi medis
(TGM)makanan yang seimbang sesuai dengan kebutuhan kalori dan
zat gizi masing-masing individu. Pentingnya keteraturan makan dalam
hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan.
[Link] mengedukasi pasien tentan latihan jasmani secara teratur 3 –
4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit.
[Link] menulis resep.
[Link] menyerahkan resep kepadapasien
[Link] menulis hasil pemeriksaan fisik, laboratorium,diagnose dan
terapi kedalam rekam medic pasien
7. Hal Yang Perlu
Diperhatikan
8. Unit Terkait

9. Dokumen Terkait

[Link] No Yang diubah Isi Perubahan Tanggal Mulai


Historis diberlakukan
Perubahan

Anda mungkin juga menyukai