0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan9 halaman

Fungsi dan Kerusakan Sensor CKP Mobil

Tugas ini membahas empat sensor utama pada sistem manajemen mesin mobil, yaitu sensor crankshaft position, camshaft position, lambda sensor, dan throttle position sensor. Sensor-sensor tersebut berfungsi untuk memantau posisi poros engkol, poros senggama, kandungan oksigen pada gas buang, dan sudut bukaan katup bensin, serta mengirimkan sinyal ke ECU untuk mengontrol kerja mesin secara optimal. Kerusakan pada sensor-sensor tersebut dapat men
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan9 halaman

Fungsi dan Kerusakan Sensor CKP Mobil

Tugas ini membahas empat sensor utama pada sistem manajemen mesin mobil, yaitu sensor crankshaft position, camshaft position, lambda sensor, dan throttle position sensor. Sensor-sensor tersebut berfungsi untuk memantau posisi poros engkol, poros senggama, kandungan oksigen pada gas buang, dan sudut bukaan katup bensin, serta mengirimkan sinyal ke ECU untuk mengontrol kerja mesin secara optimal. Kerusakan pada sensor-sensor tersebut dapat men
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS 2

EMS SENSOR

Ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Manajemen Engine

Dosen Pengampu : Drs. Gunawan, M. T.

Disusun oleh :

DANANG ADI WIBOWO

20021010

TRO A

PROGRAM STUDI D4 TEKNOLOGI REKAYASA OTOMOTIF

POLITEKNIK KESELAMATAN TRANSPORTASI JALAN

TEGAL

2023
1. Crankshaft Position Sensor (CKP Sensor)
a. Rangkaian Kabel ke ECU

b. Akibat jika sensor CKP rusak


 Mesin tidak bisa distarter
Sensor CKP bertugas untuk memantau posisi dan kecepatan poros
engkol. Parameter inilah yang sangat mempengaruhi kemampuan
mesin mobil untuk distarter.
 Akselerasi mobil tidak merata
Sensor CKP rusak juga mengakibatkan akselerasi mobil yang tidak
merata saat dijalankan. Unit kontrol mesin jadi tidak bisa
menyesuaikan percikan pada pengapian dan injeksi bahan bakar
ketika kecepatan mobil meningkat.
 Mesin mobil mulai macet dan bergetar
Sensor CKP yang tidak menginformasikan secara akurat mengenai
gerakan piston bisa menyebabkan tabung mesinnya macet.
 Idle mesin terasa kasar atau bergetar
Komponen ini tidak bisa memantau posisi poros engkolnya.
Akibatnya, mobil pun ikut bergetar, sehingga tidak bisa mendeteksi
jarak tempuh yang sudah dilalui oleh mesin.
 Bensin cepat habis
Sensor CKP juga mendeteksi timing sehingga injektor bahan bakar
bisa memompa bensin ke seluruh mesin. Kalau rusak, berarti
bensin tidak bisa dipompa secara efisien. Akibatnya, banyak sekali
bensin yang terbuang.

c. Cara Kerja
 Type Inductive / Variable Reluctance Sensor 
Pada tipe ini tegangan yang dihasilkan adalah tegangan bolak -
balik (AC) rendah. Naik dan turunnya tegangan ini sangat
dipengaruhi oleh kecepatan putaran pada piringan rotor. Tegangan
yang diperoleh murni berasal dari gaya induksi magnet yang terjadi
pada pick up coil sensor tersebut ketika rotor berputar.
Tegangan variatif inilah dikirim oleh CKPS ke ECU dan
dengan mudah ECU mengetahui kondisi putaran mesin dari jumlah
tegangan yang dikirim. Semakin cepat putaran mesin maka
tegangan induksi yang terjadi semakin besar. Rata - rata tegangan
yang dihasilkan berkisar 1 sampai 2 volt.
 Type Hall Effect Sensor
Umumnya CKP sensor type hall effect menggunakan tiga
kabel. Hal ini dikarenakan sensor jenis ini membutuhkan tegangan
input 5 Volt agar dapat bekerja. Tiga terminal yang digunakan
yaitu tegangan input (VC +) ground atau massa (VC -), dan
tegangan output. Selain itu, crankshaft position sensor tipe hall
effect membutuhkan amplifier untuk memperkuat sinyal tegangan
yang dihasilkan.
d. Spesifikasi Teknis
Pada piringan rotor poros engkol memiliki jumlah gigi yang lebih
banyak yaitu 34 yang ditempatkan setiap 10 ° Crank Angle (CA) dan
ditambah dua gigi yang hilang untuk mendeteksi Titik Mati Atas ( Top
Dead Centre ) yang diletakkan disekitar diameter luar rotor.
Crankshaft Position Sensor Tipe Induktif memiliki Tahanan gulungan
sensor ini berkisar antar 500 – 1500 ohm. Tahanan terendah 200 ohm dan
tahanan tertinggi mencapai 2500 ohm. Adapun Tegangan output yang
dihasilkan berkisar antara 1 – 2 volt pada saat mesin distarter, namun pada
saat putaran tinggi tegangan yang dihasilkan bisa lebih tinggi lagi.
Crankshaft Position Sensor Tipe Hall Effect biasanya tegangan suplai
( Vcc ) sebesar 5 Volt namun pada beberapa sistem ada yang memakai
tegangan suplai 12 Volt
2. Camshaft Position Sensor (CMP Sensor)
a. Rangkaian Kabel ke ECU

b. Akibat jika sensor CMP rusak


 Mesin mobil sulit hidup dan tidak bisa hidup baik pada mesin
bensin ataupun pada mesin diesel commonrail atau engine bisa
hidup tetapi beberapa injektor tidak bekerja.
 Terjadi sentakan ketika mobil dinyalakan.
 Pada mobil dengan transmisi otomatis biasanya kesulitan untuk
memindahkan gigi dan transmisi terkunci.
 Bahan bakar menjadi lebih boros dari yang seharusnya.
 Akselerasi menurun drastis bahkan pada beberapa jenis mobil
akselerasinya hanya mencapai 30 km/jam.

c. Cara Kerja
Sensor Camshaft bekerja dengan memanfaatkan prinsip induksi
elektromagnet. Dalam komponen ini, terdapat dua bagian utama, yaitu
stator yang terbuat dari magnet permanen dan rotor dengan satu tonjolan
yang terbuat dari logam.
Saat mesin mobil berputar, kondisi tersebut menimbulkan putaran pada
camshaft, kemudian pada rotor. Ketika tonjolan rotor memotong medan
magnet dari stator, maka akan timbul sinyal PWM berupa tegangan yang
timbul dari pick up coil. Selanjutnya, tegangan ini dikirimkan ke ECU
sebagai informasi mengenai posisi Top 1. Lalu, saat tonjolan mendekati
kutub magnet atau stator, akan terjadi perubahan medan magnet pada
gulungan coil. Akibat perubahan tersebut, gulungan coil menghasilkan
tegangan induksi yang besarnya disesuaikan dengan kekuatan dan
kecepatan perubahan pada medan magnet. Semakin cepat mesin berputar,
maka akan semakin cepat tonjolan tersebut memotong medan magnet pada
stator. Alhasil, sinyal tegangan yang dihasilkan pun akan semakin cepat
pula.

d. Spesifikasi Teknis
Tahanan terdapat di dalam komponen sensor mulai dari 200 ohm
sampai maksimal 2500 ohm. Jenis sensor tersebut sama sekali tidak
memerlukan tegangan input sehingga mampu menghasilkan tegangan
output sampai 1 atau 2 volt. Sensor jenis Hall Effect Sensor memerlukan
tegangan input 5 volt atau 12 volt.

3. Lamda Sensor (Oxygen Sensor)


a. Rangkaian Kabel ke ECU

b. Akibat jika sensor Oxygen Sensor rusak


 ECM salah menerima sinyal
 Penggunaan bahan bakar yang semakin boros
 Terjadi kerusakan pada mesin
 Meningkatnya emisi gas buang
 Campuran bahan bakar dengan udara tidak sesuai
 Lampu check engine menyala
c. Cara Kerja
Oksigen sensor akan membandingkan jumlah kandungan O₂ dari sisa
pembakaran dengan O₂ udara luar, kandungan oksigen dalam gas buang
(0,3 – 3 %) dibandingkan dengan kandungan oksigen pada udara atmosfir
(20,8 %). Kemudian hasil perbandingan O₂ ini di konversikan oleh ZrO₂
(Zirconia electrolyte) menjadi arus listrik. Jika kandungan oksigen dalam
gas buang sekitar 3 % (campuran kurus), menghasilkan tegangan 0,1 volt.
Jika kandungan oksigen dalam gas buang sekitar 0,3 % (campuran kaya),
menghasilkan tegangan 0,9 volt.
Tegangan listrik inilah yang nantinya disebut sinyal output yang akan
di kirimkan ke ECU sebagai informasi hasil pembakaran yang terjadi pada
ruang bakar yg dideteksi melalui gas buang. O₂ sensor secara konstan
akan memberikan sinyal setiap ada perubahan campuran bahan bakar.
ECU akan menjaga campuran bahan bakar mendekati campuran ideal
dengan melakukan kebalikan dari apa yang dilaporkan oleh O₂ sensor.
Jika O₂ sensor memberikan sinyal bahwa campuran bahan bakar terlalu
gemuk, maka ECU akan memperpendek waktu kerja injektor agar
campuran menjadi lebih kurus, begitupun sebaliknya. Pengaturan terus
menerus seperti ini akan menjaga mesin bekerja dengan campuran bahan
bakar mendekati campuran ideal.

d. Spesifikasi Teknis
Dalam keaadan standar, O2 sensor membaca rentang angka 0,2 – 0,9
volt. Dalam keadaan idle di 1.400 rpm dan Throttle Position Sensor 0,468
volt.
4. Throttle Position Sensor (TPS Sensor)
a. Rangkaian Kabel ke ECU

b. Akibat jika sensor TPS rusak


 Mesin akan sulit untuk menjaga kecepatan idle stabil, sehingga
terjadi gangguan pada pengaturan.
 Terjadinya delay saat akselerasi
 Kendala pada saat posisi idle
 RPM mesin meningkat dengan sendirinya
 Transmisi sulit dipindahkan
 Kendaraan susah di stater
 Tanda check engine menyala
c. Cara Kerja
Throttle Position Sensor (TPS) diletakan pada throttle body. Dimana
sensor ini akan mengkonversi sudut bukaan dari katup throttle menjadi
sinyal tegangan listrik. Ketika klep gas (throttle) membuka maka sinyal
tegangan akan meningkat. Sama seperti fungsi sensor yang lain pada
kendaraan dengan sistem EFI, TPS hanya melakukan pendeteksian dan
hasil deteksinya akan dikonversi menjadi sinyal tagangan yang akan
menjadi input bagi ECU/ECM untuk kemudian melakukan pembacaan
mengenai posisi katup gas. Sensor throttle menggunakan potensiometer
sebagai pendeteksi sudut bukaan katup throttle. Potensiometer ini
merupakan salah satu variabel resistor (resistor yang dapat diubah ubah
nilai tahanannya).
Pada saat mobil dihidupkan, seketika ECU akan mengirim tegangan output
atau tegangan referensi senilai 5 V yang kemudian akan diterima oleh
sensor analog VREF. Kemudian dari sensor analog ini, tegangan akan
kembali ke ECU melalui TP signal dan kembali ke ECU.
d. Spesifikasi Teknis
Pada saat berputar stasioner/idle sinyal tegangan yang dikonversi oleh
sensor Throttle Position Sensor (TPS) adalah sekitar 0.6 sampai 0.9 Volt.
Sebaliknya jika klep gas terbuka penuh sinyal tegangan yang dihasilkan
akan berkisar 3.5 sampai 4.7 volt.

5. Mass Air Flow Sensor (MAF Sensor)


a. Rangkaian Kabel ke ECU

b. Akibat jika sensor MAF rusak


 Pembacaan asupan udara dan bahan bakar akan kacau, sehingga
rasionya tidak sesuai dengan kebutuhan mesin.
 Putaran Mesin Akan Mengayun
 Saat Digas Tenaga Mesin Agak Hilang atau RPM mentok 2500
 Mesin Bergetar

c. Cara Kerja
Fungsi MAF sensor disokong oleh kawat thermistor dan hot wire.
Thermistor adalah kawat dengan ketahanan variatif, mengikuti suhu di
sekitarnya. Kawat inilah yang digunakan untuk mengetahui suhu udara
pada IAT sensor. Sementara itu, hot wire adalah kawat panas. Panas pada
kawat dihasilkan dari arus listrik yang mengalir terus menerus. Dengan
memanfaatkan panas inilah MAF sensor dapat mengetahui perubahan
aliran udara.
Pada saat kontak mobil dalam posisi ON, arus listrik akan mulai
mengalir menuju hot wire. Aliran listrik ini kemudian membuat suhu hot
wire meningkat. Lalu, saat mesin dinyalakan, maka aliran udara akan
masuk dari filter melalui IAT sensor. Aliran udara ini menyebabkan suhu
hot wire turun. Dengan begitu, bisa diketahui berapa besaran udara yang
masuk ke ruang bakar mobil.
d. Spesifikasi Teknis
Saat kecepatan idle, maka listrik yang mengalir lebih besar dari listrik
awal yang hanya 3 volt. Bisa mencapai 5 volt. Semakin tinggi putaran
mesin maka akan semakin naik juga tegangan sinyal MAF yang dikirim ke
ECU. Semakin cepat aliran udara, maka semakin banyak pula massa udara
yang masuk kedalam mesin dan semakin banyak pula arus listrik yang
dibutuhkan oleh hot wire. Arus listrik output yang menuju hot wire inilah
yang dijadikan ECU untuk menentukan berapa massa udara yang masuk
ke dalam mesin.

Anda mungkin juga menyukai