0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan15 halaman

Hukum Jaminan dalam Pemberian Kredit

Dokumen tersebut membahas tentang pendahuluan mengenai permasalahan pendanaan dalam pembangunan ekonomi dan solusi yang ditawarkan berupa fasilitas pemberian kredit. Dibahas pula berbagai jenis jaminan dalam kredit seperti gadai, hipotek, hak tanggungan, dan fidusia beserta pengaturannya dalam undang-undang. Fidusia dijelaskan sebagai pengalihan hak kepemilikan suatu benda berdasarkan kepercayaan ant

Diunggah oleh

nabila khoirunnisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan15 halaman

Hukum Jaminan dalam Pemberian Kredit

Dokumen tersebut membahas tentang pendahuluan mengenai permasalahan pendanaan dalam pembangunan ekonomi dan solusi yang ditawarkan berupa fasilitas pemberian kredit. Dibahas pula berbagai jenis jaminan dalam kredit seperti gadai, hipotek, hak tanggungan, dan fidusia beserta pengaturannya dalam undang-undang. Fidusia dijelaskan sebagai pengalihan hak kepemilikan suatu benda berdasarkan kepercayaan ant

Diunggah oleh

nabila khoirunnisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pembangunan ekonomi sebagai bagian dari pembangunan nasional,

yang pada saat ini menandakan aspek yang kian lebih berkaitan dengan

ekonomi regional dan internasional serta dapat menjunjung tinggi

pembangunan nasional. Hal tersebut merupakan dorongan untuk

mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan

Undang–Undang Dasar 1945. Dalam kehidupan sehari-hari kebutuhan akan

dana guna mencapai perkembangan pada bidang perekonomian dirasakan

semakin bertambah. Untuk mendorong roda perekonomian tersebut sudah

pasti dibutuhkan pembiayaan dan permodalan yang cukup besar. Dana

merupakan “jantung” bagi para kaum pembangunan seperti institusi

pemerintahan atau masyarakat, juga individu atau badan hukum. Layaknya

manusia yang tidak mampu hidup jika tidak memiliki jantung, maka para

kaum pembangunan juga tidak mungkin berkembang tanpa dana. Dengan

demikian, yang menjadi konsentrasi utama pada permasalahan ekonomi

adalah masalah pendanaan. Sebagai solusi untuk menanggulangi masalah

pendanaan tersebut maka hadirlah perjanjian utang piutang atau fasilitas

pemberian kredit.

Berdasarkan Pasal 1 angka 11 Undang – Undang Nomor 10 Tahun

1998 tentang Perubahan atas Undang–Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang

1
Perbankan disebutkan bahwa kredit merupakan penyediaan uang atau

tagihan berdasarkan kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan

pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk membayar pemenuhan

terkait utangnya dengan kurun waktu tertentu disertai bunga. Dalam fasilitas

pemberian kredit juga bertujuan sebagai perlindungan kepada masyarakat

ekonomi lemah dalam peningkatan usahanya. Dunia pembiayaan kredit

termasuk satu di antara banyaknya media penyangga bagi masyarakat bisnis

dalam hal pemberian modal.

Pada umumnya fasilitas pemberian kredit diselenggarakan dengan

hadirnya suatu perjanjian. Dari perjanjian kredit yang telah disetujui antara

para pihak dalam perjanjian kredit wajib diwujudkan dalam bentuk

perjanjian yang termasuk pada konteks Perjanjian Kredit.1 Pihak yang

memberi kredit adalah yang berpiutang atau yang memberi kredit yang

biasanya dikenal juga dengan istilah kreditur. Sedangkan, pihak yang

menerima kredit adalah debitur. Fasilitas pemberian kredit ini berkaitan erat

dengan adanya jaminan. Oleh karena untuk memenuhi peraturan yang

berlaku, kreditur mewajibkan debitur untuk menyerahkan jaminan berupa

hak milik kebendaan yang diperlukan untuk menjamin kepastian

pembayaran utang tersebut. Hal ini dilakukan demi meminimalisir risiko

yang kerap terjadi apabila debitur tidak memenuhi prestasinya, sehingga

dengan penerapannya harus mengacu pada pemberian kredit yang stabil dan

terjaga.

1
Munir Fuady, Hukum Perkreditan Kontemporer, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2003), hal. 32

2
Berangkat dari pemikiran di atas, maka terbentuklah peraturan yang

mengatur tentang jaminan dalam kredit, yang dalam hal ini biasa disebut

dengan “Hukum Jaminan” yang merupakan suatu ketentuan hukum yang

melahirkan hubungan hukum antara debitur dan kreditur sebagai pengaruh

pembebanan utang tertentu dengan suatu jaminan dalam ruang lingkup

masyarakat.2 Hukum jaminan berasal dari terjemahan zakerheidestelling

atau security of law yang berarti hukum jaminan merupakan keutuhan dari

asas-asas hukum yang mengatur hubungan hukum antara pemberi dan

penerima jaminan dalam ikatannya dengan pembebanan jaminan untuk

memperoleh fasilitas kredit.3 Hukum jaminan juga bertujuan sebagai media

pemelihara untuk memberikan perlindungan kepentingan kepada kreditur

dalam hal kepastian atas pelunasan utang debitur.

Pada perkembangannya, awal mula hukum jaminan dalam tatanan

hukum perdata dapat dilihat pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

(KUHPer). Dalam Pasal 1131 KUHPer mengatur bahwa segala kekayaan

debitur yang mendapat fasilitas kredit menjadi jaminan bagi ketertiban

pelunasan utangnya.4 Pasal tersebut juga menerangkan bahwa debitur secara

sukarela menyediakan barang-barang tertentu yang dipilih secara khusus

untuk dijadikan jaminan kredit. Fungsi jaminan disini ialah sebagai upaya

2
Clarissa Cevanie, “Perlindungan Hukum Terhadap Kreditor dan Debitor Atas Musnahnya Objek
Jaminan Fidusia Dalam Perjanjian Kredit”. Skripsi, Tangerang: Program Studi Hukum Fakultas
Hukum Universitas Pelita Harapan, 2016, hal. 12
3
H. Salim, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2017),
hal. 6
4
Kopong Paron Pius, “Bahan Kuliah Hukum Perbankan”. Program Pasca Sarjana, Jember: Program
Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Jember, 2007, hal. 15

3
pemenuhan kewajiban yang tertuju pada debitur untuk melakukan

pembayaran dengan tujuan melimpahkan kuasa kepada kreditur untuk

mendapatkan pemenuhan utang debitur. Sehingga piutang kreditur

bertumpu pada seluruh barang yang dijadikan jaminan yang dituangkan

dalam perjanjian oleh debitur.5 Adapun beberapa macam jaminan

kebendaan yang relevan dalam hukum jaminan yaitu: pertama, jaminan

dalam bentuk gadai yang merupakan jaminan dalam bentuk kebendaan

bergerak, yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara penyerahan

kebendaan bergerak tersebut pada kreditur; kedua, hipotek yang mana objek

benda yang dijaminkan ialah berupa benda tidak bergerak yang dibuat

dengan akta hipotek; ketiga, hak tanggungan yang mengatur mengenai

penjaminan atas hak tanah atau tanah beserta bangunan yang ada di

atasnya;6 dan keempat, jaminan fidusia yang merupakan salah satu sarana

untuk menjaminkan kebendaan bergerak, namun tidak dilakukan

penyerahan secara fisik dari benda tersebut. Kedudukan fidusia sebagai hak

kebendaan ialah sebagai suatu unsur yang melimpahkan kekuasaan

langsung terhadap suatu benda bagi setiap orang, khususnya memberikan

hak pendahuluan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya.

Kata “Fidusia” berasal dari Bahasa Belanda “fiducie” yang artinya

kepercayaan. Sedangkan dalam Bahasa Inggris, fidusia kerap dikenal

dengan istilah kalimat fiduciary transfer of ownership yang memiliki

5
Iswi Hariyani, Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet, (Jakarta: PT Elex Media
Komputindo, 2010), hal. 27
6
Gatot Supramono, Perjanjian Utang Piutang, (Jakarta: Kencana, 2014), hal. 61

4
pengertian ialah penyerahan hak milik berdasarkan atas kepercayaan yang

mana eksistensinya sebagai pranata jaminan diakui berdasarkan

yurisprudensi.7 Fidusia merupakan lembaga jaminan yang telah diatur

dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia,

yang diundangkan sejak tanggal 30 September 1999 dalam Lembaran

Negara Nomor 168, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3889, selanjutnya

disingkat UU Jaminan Fidusia.

Dalam Pasal 1 angka 1 UU Jaminan Fidusia bahwa yang dimaksud

dengan fidusia adalah “Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar

kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya

diadakan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda”. Adapun yang

dimaksud dengan jaminan fidusia berdasarkan Pasal 1 angka 2 UU Jaminan

Fidusia yaitu bahwa “Hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud

maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak, khususnya

bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan, sebagaimana

dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak

Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai

agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang

diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya”.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fidusia merupakan satu

dari beberapa jenis jaminan yang lahir dari suatu perjanjian penyerahan hak

milik yang didasari atas kepercayaan terhadap suatu benda antara kreditur

7
H. Salim, [Link]., hal. 6

5
dan debitur karena hanya dengan aspek itulah kreditur dapat melimpahkan

kepercayaannya untuk dapat mengelola benda jaminan tersebut. Sebelum

dilakukan suatu perjanjian fidusia, maka akan didahului suatu perjanjian

pokok yang dapat berupa perjanjian kredit, perjanjian utang-piutang,

perjanjian jual-beli, dan sebagainya. Dalam hal ini ialah perjanjian utang

piutang antara kreditur dengan debitur yang menyerahkan penjaminan suatu

benda. Dengan ditandatanganinya suatu perjanjian pokok tersebut maka

akan diikuti suatu perjanjian fidusia.

Perjanjian fidusia bersifat accessoir (tambahan). Maksudnya adalah

perjanjian yang tidak berdiri sendiri atau sebagai pelengkap dari suatu

perjanjian pokok yang pada pembahasan ini perjanjian pokoknya adalah

perjanjian utang-piutang. Perjanjian fidusia melahirkan kewajiban bagi para

pihak untuk memenuhi suatu prestasi yang telah disepakati antara kedua

belah pihak.8 Dengan demikian apabila perjanjian pokok tidak sah, maka

perjanjian fidusia juga menjadi batal demi hukum.

Sebelum berlakunya UU Jaminan Fidusia, objek jaminan fidusia

diatur sebagai benda bergerak seperti kendaraan bermotor, peralatan

bengkel, inventaris perusahaan, bahan bangunan, benda dagangan, piutang,

dan peralatan mesin.9 Namun, setelah berlakunya UU Jaminan Fidusia,

maka objek dari jaminan fidusia diperluas menjadi benda bergerak dan

benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dibebani oleh hak

8
Iswi Hariyani, [Link]., hal. 24
9
Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, (Bandung: PT
Alumni, 2006), hal. 97

6
tanggungan. Adapun subjek dari jaminan fidusia adalah pemberi fidusia

atau lebih dikenal dengan sebutan debitur dan penerima fidusia atau

kreditur. Pemberi fidusia merupakan orang perseorangan atau korporasi

pemilik benda yang menjadi objek jaminan fidusia, sedangkan penerima

fidusia merupakan orang perseorangan atau korporasi yang memiliki

piutang atas pembayarannya yang dijamin dengan jaminan fidusia.

Hadirnya berbagai lembaga pembiayaan menghasilkan pengaruh

yang cukup berarti dalam jalannya perekonomian. Perihal menunaikan

kegiatan bisnisnya, suatu perusahaan perlu mendayagunakan suatu barang

sebagai modal dalam proses produksi seperti mesin-mesin produksi.

Termasuk juga tiap-tiap individu yang memerlukan barang lainnya untuk

menunjang kehidupannya seperti kendaraan bermotor. Kebutuhan akan

barang modal ini terkadang sulit diwujudkan karena tidak adanya dana tunai

yang cukup untuk membelinya. Dengan adanya leasing, maka modal yang

diperlukan oleh perusahaan atau individu yang memiliki kebutuhan

pembiayaan akan barang modal tersebut dapat diperoleh dengan cara

leasing.

Dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

448/KMK.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan diperincikan bahwa

salah satu kegiatan lembaga pembiayaan adalah pembiayaan sewa guna

usaha (leasing). Berdasarkan Pasal 1 angka 5 Peraturan Presiden Nomor 9

Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan, menyatakan “Sewa Guna Usaha

(Leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang

7
modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (Finance Lease)

maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (Operating Lease) untuk

digunakan oleh penyewa guna usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu

berdasarkan pembayaran secara angsuran”. Pembiayaan disini diartikan

sebagai pemberian angsuran baik dalam jangka waktu panjang maupun

pendek yang mana dalam hal ini bukan pemberian uang secara tunai.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan tahun 2020, terdapat 180

(seratus delapan puluh) perusahaan pembiayaan dengan perjanjian leasing

dengan jumlah 1.484.768 (satu juta empat ratus delapan puluh empat ribu

tujuh ratus enam puluh delapan) nasabah yang tersebar di seluruh

Indonesia.10 Data tersebut divalidasi oleh Nurhamida Simatupang dalam

penelitiannya yang membuktikan bahwa leasing dengan hak opsi (finance

lease) merupakan preferensi dari pembiayaan yang lebih bermanfaat dari

pada kredit bank, karena pengurangan pajak yang diperoleh perusahaan

melalui leasing lebih besar jika dibandingkan dengan kredit bank, begitu

juga dari segi akomodasi, pada leasing akan lebih memudahkan masyarakat

dalam hal mendapatkan dana tanpa melalui prosedur yang berbelit.11 Hal ini

selaras dengan tujuan dari lembaga pembiayaan leasing itu sendiri ialah

untuk membantu orang perseorangan maupun perusahaan dalam memenuhi

10
Media Indonesia, “OJK: 1,48 Juta Nasabah Leasing Ajukan Keringanan Cicilan”.
[Link]
cicilanK: 1,48 Juta Nasabah Leasing Ajukan Keringanan Cicilan ([Link]), diakses
pada 12 Oktober 2022
11
Nurhamida Simatupang, “Evaluasi Peranan Leasing Sebagai Alternatif Pembiayaan Modal Pada
PT Jokotole Transport Surabaya”. Skripsi, Surabaya: Program Studi Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi Indonesia, 2014, hal. 18

8
kebutuhan para konsumennya. Namun, dalam pelaksanaan perjanjian

pembiayaan leasing tidak menutup kemungkinan di antara debitur dan

kreditur terjadi kendala seperti tidak terlaksananya hal yang telah disepakati

dengan baik, seperti wanprestasi yang dilakukan debitur sampai tindak

pidana penggelapan kendaraan yang melanggar ketentuan Pasal 372 Kitab

Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Sehingga perbuatan tersebut

tidak hanya berada pada ranah perdata namun juga dapat menjadi perbuatan

pidana karena mengandung unsur kejahatan di dalamnya.

Salah satu objek pembiayaan yang kerap dijadikan objek jaminan

dalam perjanjian fidusia adalah berupa kendaraan bermotor. Penelitian ini

hendak berfokus pada pembahasan perjanjian pembiayaan leasing atas

kendaraan bermotor beroda 4 (empat).

Pelaksanaan perjanjian pembiayaan leasing dalam prakteknya

banyak terjadi permasalahan, seperti debitur yang nakal dengan melakukan

perbuatan tindak pidana secara sadar dengan itikad tidak baik. Adapun

perbuatan tersebut ialah pengalihan objek jaminan fidusia oleh debitur tanpa

seizin kreditur. Padahal perbuatan pengalihan telah dilarang dalam Pasal 23

ayat (2) UU Jaminan Fidusia yakni “Pemberi Fidusia dilarang mengalihkan,

menggadaikan, atau menyewakan kepada pihak lain benda yang menjadi

objek jaminan fidusia, yang tidak merupakan benda persediaan, kecuali

dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari pemberi fidusia”. Berkenaan

dengan itu jaminan fidusia tetap menyertai benda yang menjadi objek

jaminan fidusia dalam kuasa siapapun dimana benda itu berada dan

9
memberikan kepastian hukum. Kepastian hukum disini dimaksudkan atas

tujuan tersebut bukan saja pada objek jaminan fidusia masih terdapat pada

debitur bahkan ketika benda jaminan fidusia itu telah dilimpahkan pada

pihak ketiga. Berdasarkan Pasal 36 UU Jaminan Fidusia, perilaku tersebut

akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda

paling banyak sebesar Rp. 50.000.000.- (lima puluh juta rupiah).

Adapun unsur-unsur pidana yang harus dipenuhi agar pelaku dapat

dituntut berdasarkan pasal di atas, yaitu: pertama, pemberi fidusia, yang

mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan; kedua, benda objek

fidusia; ketiga, tanpa persetujuan tertulis; dan keempat penerima fidusia.12

Jika dari keempat unsur di atas terpenuhi, maka pelaku dapat dikenakan

hukuman penjara berikut dendanya sesuai dengan undang-undang yang

berlaku.

Berdasarkan ketentuan Pasal 372 KUHP, “Barangsiapa dengan

sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau

sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya

bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana

penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling banyak Rp.

900 (sembilan ratus rupiah)”. Dalam pasal tersebut, terdapat inti dari tindak

pidana penggelapan, yaitu: pertama, sengaja; kedua, melawan hukum;

ketiga, memiliki suatu barang; keempat, yang seluruhnya atau kepunyaan

orang lain; dan kelima, yang ada dalam kekuasaannya bukan karena

12
H. Salim, [Link]., hal. 93

10
kejahatan. Sehingga dalam hal ini, seseorang yang dapat dimintakan

pertanggungjawaban pidana adalah pemberi jaminan fidusia yang telah

terbukti melakukan pengalihan objek jaminan fidusia.

Sebelum penelitian ini dilakukan, Virginius Philomena Apthioman

dalam penelitiannya yang berjudul “Akibat Hukum Pengalihan Objek

Jaminan Fidusia Tanpa Persetujuan Tertulis dari Penerima Fidusia” telah

membahas tentang akibat hukum dari pengalihan objek jaminan fidusia dan

juga perlindungan hukumnya bagi kreditur. Hal ini tentu berbeda dengan

penelitian ini yang bertitik fokus pada pengaturan terhadap pengalihan

objek jaminan fidusia dalam perjanjian fidusia ditinjau dari UU Jaminan

Fidusia serta pertimbangan hakim terhadap pengalihan objek jaminan

fidusia oleh debitur dalam perjanjian pembiayaan leasing kendaraan roda

empat (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 2641 K/[Link]/2018).

Penelitian ini mengambil studi kasus Putusan Mahkamah Agung

Nomor 2641 K/[Link]/2018 yang terjadi antara Endang Rustanadi yang

dalam hal ini selaku debitur dan PT Adira Dinamika Multi Finance selaku

kreditur. Kasus ini terjadi pada wilayah Kecamatan Cilaku, Kabupaten

Cianjur, Jawa Barat. Kejadian tersebut bermula ketika Endang mengajukan

dan menandatangani perjanjian pembiayaan leasing kendaraan berupa 1

(unit) mobil Daihatsu Terios terhadap PT Adira Dinamika Multi Finance,

Tbk Cabang Cianjur pada bulan Mei 2016 dengan cicilan per bulannya

sebesar Rp. 2.630.000 (dua juta enam ratus tiga puluh ribu rupiah) selama

48 bulan. Setelah selama 7 (tujuh) bulan membayar angsuran dengan tepat

11
waktu, per tanggal 28 Januari 2017 Endang mengalihkan 1 (satu) unit

kendaraan Daihatsu Terios kepada Asep Hadi selaku pihak ketiga dan

menerima uang sebesar Rp. 25.000.000.- (dua puluh lima juta rupiah).

Adapun setelah menyerahkan kendaraan tersebut Endang tidak lagi

membayar angsuran kepada PT Adira Multi Finance sehingga timbul

kerugian sebesar Rp. 120.000.000.- (seratus dua puluh juta rupiah). Atas

perbuatan pengalihan objek jaminan fidusia tersebut, Majelis Hakim PN

Cianjur menjatuhkan hukuman berupa 1 (satu) tahun penjara dengan denda

sebesar Rp. 3.000.000.- (tiga juta rupiah) berdasarkan Pasal 36 UU Jaminan

Fidusia.

Sehubungan dengan pemaparan di atas, penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul: “Pengalihan Objek Jaminan Fidusia

oleh Debitur Dalam Perjanjian Pembiayaan Leasing Kendaraan Roda

Empat (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 2641

K/[Link]/2018)”

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagaimana pengaturan pengalihan objek jaminan fidusia dalam perjanjian

jaminan fidusia ditinjau dari UU Jaminan Fidusia?

b. Bagaimana pertimbangan hakim terhadap pengalihan objek jaminan

fidusia oleh debitur dalam perjanjian pembiayaan leasing kendaraan roda

empat (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 2641 K/[Link]/2018)?

12
1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk memecahkan persoalan hukum terkait pengaturan terhadap

pengalihan objek jaminan fidusia dalam perjanjian fidusia di Indonesia.

b. Untuk melakukan penemuan hukum terkait pertimbangan hakim terhadap

pengalihan objek jaminan fidusia oleh debitur dalam perjanjian

pembiayaan leasing terhadap kendaraan roda empat ditinjau dari UU

Jaminan Fidusia (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 2641

K/[Link]/2018).

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan dedikasi

serta masukan dalam pengembangan Ilmu Hukum Jaminan terutama

dalam hal pengaturan terhadap pengalihan objek jaminan fidusia di

Indonesia dan pertimbangan hakim terhadap pengalihan objek jaminan

fidusia dalam perjanjian pembiayaan leasing terhadap kendaraan roda

empat ditinjau dari UU Jaminan Fidusia.

b. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi para

praktisi hukum dalam bidang Hukum Jaminan khususnya dalam hal

Jaminan Fidusia. Selain itu, diharapkan juga dapat menjadi masukan serta

pemahaman apa saja yang menjadi pertimbangan hakim dalam memutus

13
perkara perbuatan melawan hukum pengalihan objek jaminan fidusia

apabila ditinjau dari UU Jaminan Fidusia.

1.5 Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis membahas terkait latar belakang masalah

penulisan, isi hukum yang diangkat dan diuraikan dalam rumusan

masalah, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian, manfaat yang

diperoleh dari hasil penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini penulis menguraikan tinjauan teori dan tinjauan

konseptual yang berhubungan dengan isu topik penelitian. Adapun

sub bab pada tinjauan teori akan membahas perjanjian dan lembaga

pembiayaan. Sedangkan, sub bab pada tinjauan konseptual akan

membahas pembiayaan leasing, jaminan fidusia dan tindak pidana

khusus dalam UU Jaminan Fidusia.

BAB III : METODE PENELITIAN

Pada bab ini penulis menguraikan tentang jenis penelitian hukum,

jenis data, cara perolehan data, jenis pendekatan, serta analisa data.

Dalam metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah

penelitian hukum normatif dan judicial case study dengan

mengutamakan data sekunder, baik berupa bahan hukum primer,

sekunder, dan tersier. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini

adalah studi kepustakaan dengan menggunakan pendekatan

14
terhadap sistematika hukum dan pendekatan kasus serta

menggunakan teknik analisis data secara kualitatif yang dilakukan

dengan metode deduktif.

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

Pada bab ini penulis memberikan hasil penelitian terkait studi kasus

yang diuraikan serta jawaban atas rumusan masalah yang diteliti

yakni mengenai pengaturan terhadap pengalihan objek jaminan

fidusia dalam perjanjian fidusia dalam perjanjian fidusia ditinjau

dari UU Jaminan Fidusia serta pertimbangan hakim terhadap

pengalihan objek jaminan fidusia oleh debitur dalam perjanjian

pembiayaan leasing kendaraan roda empat (Studi Putusan

Mahkamah Agung Nomor 2641 K/[Link]/2018).

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini penulis memberikan kesimpulan dari hasil penelitian

dan analisis yang telah dibahas serta saran yang berkaitan terhadap

pokok permasalahan yang penulis kaji.

15

Anda mungkin juga menyukai