BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pembangunan ekonomi sebagai bagian dari pembangunan nasional,
yang pada saat ini menandakan aspek yang kian lebih berkaitan dengan
ekonomi regional dan internasional serta dapat menjunjung tinggi
pembangunan nasional. Hal tersebut merupakan dorongan untuk
mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan
Undang–Undang Dasar 1945. Dalam kehidupan sehari-hari kebutuhan akan
dana guna mencapai perkembangan pada bidang perekonomian dirasakan
semakin bertambah. Untuk mendorong roda perekonomian tersebut sudah
pasti dibutuhkan pembiayaan dan permodalan yang cukup besar. Dana
merupakan “jantung” bagi para kaum pembangunan seperti institusi
pemerintahan atau masyarakat, juga individu atau badan hukum. Layaknya
manusia yang tidak mampu hidup jika tidak memiliki jantung, maka para
kaum pembangunan juga tidak mungkin berkembang tanpa dana. Dengan
demikian, yang menjadi konsentrasi utama pada permasalahan ekonomi
adalah masalah pendanaan. Sebagai solusi untuk menanggulangi masalah
pendanaan tersebut maka hadirlah perjanjian utang piutang atau fasilitas
pemberian kredit.
Berdasarkan Pasal 1 angka 11 Undang – Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perubahan atas Undang–Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
1
Perbankan disebutkan bahwa kredit merupakan penyediaan uang atau
tagihan berdasarkan kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan
pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk membayar pemenuhan
terkait utangnya dengan kurun waktu tertentu disertai bunga. Dalam fasilitas
pemberian kredit juga bertujuan sebagai perlindungan kepada masyarakat
ekonomi lemah dalam peningkatan usahanya. Dunia pembiayaan kredit
termasuk satu di antara banyaknya media penyangga bagi masyarakat bisnis
dalam hal pemberian modal.
Pada umumnya fasilitas pemberian kredit diselenggarakan dengan
hadirnya suatu perjanjian. Dari perjanjian kredit yang telah disetujui antara
para pihak dalam perjanjian kredit wajib diwujudkan dalam bentuk
perjanjian yang termasuk pada konteks Perjanjian Kredit.1 Pihak yang
memberi kredit adalah yang berpiutang atau yang memberi kredit yang
biasanya dikenal juga dengan istilah kreditur. Sedangkan, pihak yang
menerima kredit adalah debitur. Fasilitas pemberian kredit ini berkaitan erat
dengan adanya jaminan. Oleh karena untuk memenuhi peraturan yang
berlaku, kreditur mewajibkan debitur untuk menyerahkan jaminan berupa
hak milik kebendaan yang diperlukan untuk menjamin kepastian
pembayaran utang tersebut. Hal ini dilakukan demi meminimalisir risiko
yang kerap terjadi apabila debitur tidak memenuhi prestasinya, sehingga
dengan penerapannya harus mengacu pada pemberian kredit yang stabil dan
terjaga.
1
Munir Fuady, Hukum Perkreditan Kontemporer, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2003), hal. 32
2
Berangkat dari pemikiran di atas, maka terbentuklah peraturan yang
mengatur tentang jaminan dalam kredit, yang dalam hal ini biasa disebut
dengan “Hukum Jaminan” yang merupakan suatu ketentuan hukum yang
melahirkan hubungan hukum antara debitur dan kreditur sebagai pengaruh
pembebanan utang tertentu dengan suatu jaminan dalam ruang lingkup
masyarakat.2 Hukum jaminan berasal dari terjemahan zakerheidestelling
atau security of law yang berarti hukum jaminan merupakan keutuhan dari
asas-asas hukum yang mengatur hubungan hukum antara pemberi dan
penerima jaminan dalam ikatannya dengan pembebanan jaminan untuk
memperoleh fasilitas kredit.3 Hukum jaminan juga bertujuan sebagai media
pemelihara untuk memberikan perlindungan kepentingan kepada kreditur
dalam hal kepastian atas pelunasan utang debitur.
Pada perkembangannya, awal mula hukum jaminan dalam tatanan
hukum perdata dapat dilihat pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(KUHPer). Dalam Pasal 1131 KUHPer mengatur bahwa segala kekayaan
debitur yang mendapat fasilitas kredit menjadi jaminan bagi ketertiban
pelunasan utangnya.4 Pasal tersebut juga menerangkan bahwa debitur secara
sukarela menyediakan barang-barang tertentu yang dipilih secara khusus
untuk dijadikan jaminan kredit. Fungsi jaminan disini ialah sebagai upaya
2
Clarissa Cevanie, “Perlindungan Hukum Terhadap Kreditor dan Debitor Atas Musnahnya Objek
Jaminan Fidusia Dalam Perjanjian Kredit”. Skripsi, Tangerang: Program Studi Hukum Fakultas
Hukum Universitas Pelita Harapan, 2016, hal. 12
3
H. Salim, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2017),
hal. 6
4
Kopong Paron Pius, “Bahan Kuliah Hukum Perbankan”. Program Pasca Sarjana, Jember: Program
Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Jember, 2007, hal. 15
3
pemenuhan kewajiban yang tertuju pada debitur untuk melakukan
pembayaran dengan tujuan melimpahkan kuasa kepada kreditur untuk
mendapatkan pemenuhan utang debitur. Sehingga piutang kreditur
bertumpu pada seluruh barang yang dijadikan jaminan yang dituangkan
dalam perjanjian oleh debitur.5 Adapun beberapa macam jaminan
kebendaan yang relevan dalam hukum jaminan yaitu: pertama, jaminan
dalam bentuk gadai yang merupakan jaminan dalam bentuk kebendaan
bergerak, yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara penyerahan
kebendaan bergerak tersebut pada kreditur; kedua, hipotek yang mana objek
benda yang dijaminkan ialah berupa benda tidak bergerak yang dibuat
dengan akta hipotek; ketiga, hak tanggungan yang mengatur mengenai
penjaminan atas hak tanah atau tanah beserta bangunan yang ada di
atasnya;6 dan keempat, jaminan fidusia yang merupakan salah satu sarana
untuk menjaminkan kebendaan bergerak, namun tidak dilakukan
penyerahan secara fisik dari benda tersebut. Kedudukan fidusia sebagai hak
kebendaan ialah sebagai suatu unsur yang melimpahkan kekuasaan
langsung terhadap suatu benda bagi setiap orang, khususnya memberikan
hak pendahuluan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya.
Kata “Fidusia” berasal dari Bahasa Belanda “fiducie” yang artinya
kepercayaan. Sedangkan dalam Bahasa Inggris, fidusia kerap dikenal
dengan istilah kalimat fiduciary transfer of ownership yang memiliki
5
Iswi Hariyani, Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet, (Jakarta: PT Elex Media
Komputindo, 2010), hal. 27
6
Gatot Supramono, Perjanjian Utang Piutang, (Jakarta: Kencana, 2014), hal. 61
4
pengertian ialah penyerahan hak milik berdasarkan atas kepercayaan yang
mana eksistensinya sebagai pranata jaminan diakui berdasarkan
yurisprudensi.7 Fidusia merupakan lembaga jaminan yang telah diatur
dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia,
yang diundangkan sejak tanggal 30 September 1999 dalam Lembaran
Negara Nomor 168, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3889, selanjutnya
disingkat UU Jaminan Fidusia.
Dalam Pasal 1 angka 1 UU Jaminan Fidusia bahwa yang dimaksud
dengan fidusia adalah “Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar
kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya
diadakan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda”. Adapun yang
dimaksud dengan jaminan fidusia berdasarkan Pasal 1 angka 2 UU Jaminan
Fidusia yaitu bahwa “Hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud
maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak, khususnya
bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan, sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai
agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang
diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya”.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fidusia merupakan satu
dari beberapa jenis jaminan yang lahir dari suatu perjanjian penyerahan hak
milik yang didasari atas kepercayaan terhadap suatu benda antara kreditur
7
H. Salim, [Link]., hal. 6
5
dan debitur karena hanya dengan aspek itulah kreditur dapat melimpahkan
kepercayaannya untuk dapat mengelola benda jaminan tersebut. Sebelum
dilakukan suatu perjanjian fidusia, maka akan didahului suatu perjanjian
pokok yang dapat berupa perjanjian kredit, perjanjian utang-piutang,
perjanjian jual-beli, dan sebagainya. Dalam hal ini ialah perjanjian utang
piutang antara kreditur dengan debitur yang menyerahkan penjaminan suatu
benda. Dengan ditandatanganinya suatu perjanjian pokok tersebut maka
akan diikuti suatu perjanjian fidusia.
Perjanjian fidusia bersifat accessoir (tambahan). Maksudnya adalah
perjanjian yang tidak berdiri sendiri atau sebagai pelengkap dari suatu
perjanjian pokok yang pada pembahasan ini perjanjian pokoknya adalah
perjanjian utang-piutang. Perjanjian fidusia melahirkan kewajiban bagi para
pihak untuk memenuhi suatu prestasi yang telah disepakati antara kedua
belah pihak.8 Dengan demikian apabila perjanjian pokok tidak sah, maka
perjanjian fidusia juga menjadi batal demi hukum.
Sebelum berlakunya UU Jaminan Fidusia, objek jaminan fidusia
diatur sebagai benda bergerak seperti kendaraan bermotor, peralatan
bengkel, inventaris perusahaan, bahan bangunan, benda dagangan, piutang,
dan peralatan mesin.9 Namun, setelah berlakunya UU Jaminan Fidusia,
maka objek dari jaminan fidusia diperluas menjadi benda bergerak dan
benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dibebani oleh hak
8
Iswi Hariyani, [Link]., hal. 24
9
Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, (Bandung: PT
Alumni, 2006), hal. 97
6
tanggungan. Adapun subjek dari jaminan fidusia adalah pemberi fidusia
atau lebih dikenal dengan sebutan debitur dan penerima fidusia atau
kreditur. Pemberi fidusia merupakan orang perseorangan atau korporasi
pemilik benda yang menjadi objek jaminan fidusia, sedangkan penerima
fidusia merupakan orang perseorangan atau korporasi yang memiliki
piutang atas pembayarannya yang dijamin dengan jaminan fidusia.
Hadirnya berbagai lembaga pembiayaan menghasilkan pengaruh
yang cukup berarti dalam jalannya perekonomian. Perihal menunaikan
kegiatan bisnisnya, suatu perusahaan perlu mendayagunakan suatu barang
sebagai modal dalam proses produksi seperti mesin-mesin produksi.
Termasuk juga tiap-tiap individu yang memerlukan barang lainnya untuk
menunjang kehidupannya seperti kendaraan bermotor. Kebutuhan akan
barang modal ini terkadang sulit diwujudkan karena tidak adanya dana tunai
yang cukup untuk membelinya. Dengan adanya leasing, maka modal yang
diperlukan oleh perusahaan atau individu yang memiliki kebutuhan
pembiayaan akan barang modal tersebut dapat diperoleh dengan cara
leasing.
Dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.
448/KMK.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan diperincikan bahwa
salah satu kegiatan lembaga pembiayaan adalah pembiayaan sewa guna
usaha (leasing). Berdasarkan Pasal 1 angka 5 Peraturan Presiden Nomor 9
Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan, menyatakan “Sewa Guna Usaha
(Leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang
7
modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (Finance Lease)
maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (Operating Lease) untuk
digunakan oleh penyewa guna usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu
berdasarkan pembayaran secara angsuran”. Pembiayaan disini diartikan
sebagai pemberian angsuran baik dalam jangka waktu panjang maupun
pendek yang mana dalam hal ini bukan pemberian uang secara tunai.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan tahun 2020, terdapat 180
(seratus delapan puluh) perusahaan pembiayaan dengan perjanjian leasing
dengan jumlah 1.484.768 (satu juta empat ratus delapan puluh empat ribu
tujuh ratus enam puluh delapan) nasabah yang tersebar di seluruh
Indonesia.10 Data tersebut divalidasi oleh Nurhamida Simatupang dalam
penelitiannya yang membuktikan bahwa leasing dengan hak opsi (finance
lease) merupakan preferensi dari pembiayaan yang lebih bermanfaat dari
pada kredit bank, karena pengurangan pajak yang diperoleh perusahaan
melalui leasing lebih besar jika dibandingkan dengan kredit bank, begitu
juga dari segi akomodasi, pada leasing akan lebih memudahkan masyarakat
dalam hal mendapatkan dana tanpa melalui prosedur yang berbelit.11 Hal ini
selaras dengan tujuan dari lembaga pembiayaan leasing itu sendiri ialah
untuk membantu orang perseorangan maupun perusahaan dalam memenuhi
10
Media Indonesia, “OJK: 1,48 Juta Nasabah Leasing Ajukan Keringanan Cicilan”.
[Link]
cicilanK: 1,48 Juta Nasabah Leasing Ajukan Keringanan Cicilan ([Link]), diakses
pada 12 Oktober 2022
11
Nurhamida Simatupang, “Evaluasi Peranan Leasing Sebagai Alternatif Pembiayaan Modal Pada
PT Jokotole Transport Surabaya”. Skripsi, Surabaya: Program Studi Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi Indonesia, 2014, hal. 18
8
kebutuhan para konsumennya. Namun, dalam pelaksanaan perjanjian
pembiayaan leasing tidak menutup kemungkinan di antara debitur dan
kreditur terjadi kendala seperti tidak terlaksananya hal yang telah disepakati
dengan baik, seperti wanprestasi yang dilakukan debitur sampai tindak
pidana penggelapan kendaraan yang melanggar ketentuan Pasal 372 Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Sehingga perbuatan tersebut
tidak hanya berada pada ranah perdata namun juga dapat menjadi perbuatan
pidana karena mengandung unsur kejahatan di dalamnya.
Salah satu objek pembiayaan yang kerap dijadikan objek jaminan
dalam perjanjian fidusia adalah berupa kendaraan bermotor. Penelitian ini
hendak berfokus pada pembahasan perjanjian pembiayaan leasing atas
kendaraan bermotor beroda 4 (empat).
Pelaksanaan perjanjian pembiayaan leasing dalam prakteknya
banyak terjadi permasalahan, seperti debitur yang nakal dengan melakukan
perbuatan tindak pidana secara sadar dengan itikad tidak baik. Adapun
perbuatan tersebut ialah pengalihan objek jaminan fidusia oleh debitur tanpa
seizin kreditur. Padahal perbuatan pengalihan telah dilarang dalam Pasal 23
ayat (2) UU Jaminan Fidusia yakni “Pemberi Fidusia dilarang mengalihkan,
menggadaikan, atau menyewakan kepada pihak lain benda yang menjadi
objek jaminan fidusia, yang tidak merupakan benda persediaan, kecuali
dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari pemberi fidusia”. Berkenaan
dengan itu jaminan fidusia tetap menyertai benda yang menjadi objek
jaminan fidusia dalam kuasa siapapun dimana benda itu berada dan
9
memberikan kepastian hukum. Kepastian hukum disini dimaksudkan atas
tujuan tersebut bukan saja pada objek jaminan fidusia masih terdapat pada
debitur bahkan ketika benda jaminan fidusia itu telah dilimpahkan pada
pihak ketiga. Berdasarkan Pasal 36 UU Jaminan Fidusia, perilaku tersebut
akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda
paling banyak sebesar Rp. 50.000.000.- (lima puluh juta rupiah).
Adapun unsur-unsur pidana yang harus dipenuhi agar pelaku dapat
dituntut berdasarkan pasal di atas, yaitu: pertama, pemberi fidusia, yang
mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan; kedua, benda objek
fidusia; ketiga, tanpa persetujuan tertulis; dan keempat penerima fidusia.12
Jika dari keempat unsur di atas terpenuhi, maka pelaku dapat dikenakan
hukuman penjara berikut dendanya sesuai dengan undang-undang yang
berlaku.
Berdasarkan ketentuan Pasal 372 KUHP, “Barangsiapa dengan
sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau
sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya
bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana
penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling banyak Rp.
900 (sembilan ratus rupiah)”. Dalam pasal tersebut, terdapat inti dari tindak
pidana penggelapan, yaitu: pertama, sengaja; kedua, melawan hukum;
ketiga, memiliki suatu barang; keempat, yang seluruhnya atau kepunyaan
orang lain; dan kelima, yang ada dalam kekuasaannya bukan karena
12
H. Salim, [Link]., hal. 93
10
kejahatan. Sehingga dalam hal ini, seseorang yang dapat dimintakan
pertanggungjawaban pidana adalah pemberi jaminan fidusia yang telah
terbukti melakukan pengalihan objek jaminan fidusia.
Sebelum penelitian ini dilakukan, Virginius Philomena Apthioman
dalam penelitiannya yang berjudul “Akibat Hukum Pengalihan Objek
Jaminan Fidusia Tanpa Persetujuan Tertulis dari Penerima Fidusia” telah
membahas tentang akibat hukum dari pengalihan objek jaminan fidusia dan
juga perlindungan hukumnya bagi kreditur. Hal ini tentu berbeda dengan
penelitian ini yang bertitik fokus pada pengaturan terhadap pengalihan
objek jaminan fidusia dalam perjanjian fidusia ditinjau dari UU Jaminan
Fidusia serta pertimbangan hakim terhadap pengalihan objek jaminan
fidusia oleh debitur dalam perjanjian pembiayaan leasing kendaraan roda
empat (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 2641 K/[Link]/2018).
Penelitian ini mengambil studi kasus Putusan Mahkamah Agung
Nomor 2641 K/[Link]/2018 yang terjadi antara Endang Rustanadi yang
dalam hal ini selaku debitur dan PT Adira Dinamika Multi Finance selaku
kreditur. Kasus ini terjadi pada wilayah Kecamatan Cilaku, Kabupaten
Cianjur, Jawa Barat. Kejadian tersebut bermula ketika Endang mengajukan
dan menandatangani perjanjian pembiayaan leasing kendaraan berupa 1
(unit) mobil Daihatsu Terios terhadap PT Adira Dinamika Multi Finance,
Tbk Cabang Cianjur pada bulan Mei 2016 dengan cicilan per bulannya
sebesar Rp. 2.630.000 (dua juta enam ratus tiga puluh ribu rupiah) selama
48 bulan. Setelah selama 7 (tujuh) bulan membayar angsuran dengan tepat
11
waktu, per tanggal 28 Januari 2017 Endang mengalihkan 1 (satu) unit
kendaraan Daihatsu Terios kepada Asep Hadi selaku pihak ketiga dan
menerima uang sebesar Rp. 25.000.000.- (dua puluh lima juta rupiah).
Adapun setelah menyerahkan kendaraan tersebut Endang tidak lagi
membayar angsuran kepada PT Adira Multi Finance sehingga timbul
kerugian sebesar Rp. 120.000.000.- (seratus dua puluh juta rupiah). Atas
perbuatan pengalihan objek jaminan fidusia tersebut, Majelis Hakim PN
Cianjur menjatuhkan hukuman berupa 1 (satu) tahun penjara dengan denda
sebesar Rp. 3.000.000.- (tiga juta rupiah) berdasarkan Pasal 36 UU Jaminan
Fidusia.
Sehubungan dengan pemaparan di atas, penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul: “Pengalihan Objek Jaminan Fidusia
oleh Debitur Dalam Perjanjian Pembiayaan Leasing Kendaraan Roda
Empat (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 2641
K/[Link]/2018)”
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana pengaturan pengalihan objek jaminan fidusia dalam perjanjian
jaminan fidusia ditinjau dari UU Jaminan Fidusia?
b. Bagaimana pertimbangan hakim terhadap pengalihan objek jaminan
fidusia oleh debitur dalam perjanjian pembiayaan leasing kendaraan roda
empat (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 2641 K/[Link]/2018)?
12
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk memecahkan persoalan hukum terkait pengaturan terhadap
pengalihan objek jaminan fidusia dalam perjanjian fidusia di Indonesia.
b. Untuk melakukan penemuan hukum terkait pertimbangan hakim terhadap
pengalihan objek jaminan fidusia oleh debitur dalam perjanjian
pembiayaan leasing terhadap kendaraan roda empat ditinjau dari UU
Jaminan Fidusia (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 2641
K/[Link]/2018).
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan dedikasi
serta masukan dalam pengembangan Ilmu Hukum Jaminan terutama
dalam hal pengaturan terhadap pengalihan objek jaminan fidusia di
Indonesia dan pertimbangan hakim terhadap pengalihan objek jaminan
fidusia dalam perjanjian pembiayaan leasing terhadap kendaraan roda
empat ditinjau dari UU Jaminan Fidusia.
b. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi para
praktisi hukum dalam bidang Hukum Jaminan khususnya dalam hal
Jaminan Fidusia. Selain itu, diharapkan juga dapat menjadi masukan serta
pemahaman apa saja yang menjadi pertimbangan hakim dalam memutus
13
perkara perbuatan melawan hukum pengalihan objek jaminan fidusia
apabila ditinjau dari UU Jaminan Fidusia.
1.5 Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini penulis membahas terkait latar belakang masalah
penulisan, isi hukum yang diangkat dan diuraikan dalam rumusan
masalah, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian, manfaat yang
diperoleh dari hasil penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini penulis menguraikan tinjauan teori dan tinjauan
konseptual yang berhubungan dengan isu topik penelitian. Adapun
sub bab pada tinjauan teori akan membahas perjanjian dan lembaga
pembiayaan. Sedangkan, sub bab pada tinjauan konseptual akan
membahas pembiayaan leasing, jaminan fidusia dan tindak pidana
khusus dalam UU Jaminan Fidusia.
BAB III : METODE PENELITIAN
Pada bab ini penulis menguraikan tentang jenis penelitian hukum,
jenis data, cara perolehan data, jenis pendekatan, serta analisa data.
Dalam metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah
penelitian hukum normatif dan judicial case study dengan
mengutamakan data sekunder, baik berupa bahan hukum primer,
sekunder, dan tersier. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah studi kepustakaan dengan menggunakan pendekatan
14
terhadap sistematika hukum dan pendekatan kasus serta
menggunakan teknik analisis data secara kualitatif yang dilakukan
dengan metode deduktif.
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
Pada bab ini penulis memberikan hasil penelitian terkait studi kasus
yang diuraikan serta jawaban atas rumusan masalah yang diteliti
yakni mengenai pengaturan terhadap pengalihan objek jaminan
fidusia dalam perjanjian fidusia dalam perjanjian fidusia ditinjau
dari UU Jaminan Fidusia serta pertimbangan hakim terhadap
pengalihan objek jaminan fidusia oleh debitur dalam perjanjian
pembiayaan leasing kendaraan roda empat (Studi Putusan
Mahkamah Agung Nomor 2641 K/[Link]/2018).
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini penulis memberikan kesimpulan dari hasil penelitian
dan analisis yang telah dibahas serta saran yang berkaitan terhadap
pokok permasalahan yang penulis kaji.
15