SATUAN ACARA PENYULUHAN TERAPI BERMAIN
BELAJAR MELIPAT KERTAS (ORIGAMI)
PADA ANAK USIA PRE SCHOOL (3 – 5 TAHUN)
Disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan umum
Keperawatan anak
Disusun oleh:
1. PUTU ADITYA S
2. BEBE HERNANDES
3. I KOMANG AGUS NOPIK
4. I PUTU DWIPAYANA
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN
2013
SATUAN ACARA PENYULUHAN TERAPI BERMAIN
Belajar Melipat Kertas (Origami)
Topik : Belajar Melipat Kertas (Origami)
Sasaran : Anak Usia Pre School (3-5 tahun)
Waktu : 30 menit
Tempat : Ruang pediatrik Stikes Ngudi Waluyo ungaran
Hari/tanggal : selasa 01 oktober 2013
A. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah diajak bermain diharapkan anak dapat melanjutkan tumbuh
kembangnya, mengembangkan aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman
bermain dan beradaptasi efektif
2. Tujuan Khusus
Setelah diajak bermain selama 30 menit anak diharapkan:
a. Melatih gerakan motorik halus dan motorik kasar agar lebih terarah
b. Dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman sebaya yang dirawat
diruang yang sama
c. Mengembangkan kreatifitas
d. Mengembangkan daya imajinasi
e. Mengurangi kejenuhan selama melakukan aktifitas sehari-hari
B. PERENCANAAN
1. Jenis Program Bermain
a. Belajar melipat kertas dengan kertas lipat (origami) pada anak usia 3-5 tahun
untuk mengembangkan aktifitas dan kreatifitas sesuai tumbang, terutama
untuk melatih kemampuan otaknya.
2. Karakteristik Permainan
a. Melatih motorik halus dan motorik kasar anak
b. Melatih imajinasi dan kreatifitas anak
c. Melatih kesabaran, keterampilan dan ketelitian
3. Karateristik Peserta
a. Usia 3-5 tahun
b. Jumlah peserta 1- 3 anak
c. Peserta kooperatif
4. Metode
Demontrasi
5. Alat – alat yang digunakan (Media)
a. Kertas lipat (origami)
b. Gunting
c. Jarum
d. benang
6. Setting tempat
Ruangan tenang, suhu dan cahaya cukup
C
L
F O
O
Keterangan:
: Leader
: Peserta anak usia 3-5 tahun
: Co. Leader
C
L
O
F :Fasilitator
O : observer
7. Pengorganisasian
a. Leader : I Komang Agus Nopik W
Tugas : Memimpin jalannya acara
b. Coleader : I Putu Dwipayana
Tugas : Membantu tugas leader
c. Fasilitator : Putu Aditya S
Tugas : Menyiapkan ruangan , alat-alat, dan peserta
d. Observer : Bebe Hernandes
Memantau jalannya permainan
C. STRATEGI PELAKSANAAN
Tahap Kegiatan Bermain Kegiatan Anak Metode
Pembukaan a. Perke a. Tersenyum
Ceramah
(5 menit) nalan dengan anak
b. Menj b. Memperhatikan
elaskan maksud, tujuan
dan kontrak waktu (pada
orang tua/yang
mendampingi)
Kegiatan a. Anak a. Anak
Demontrasi
aktif mengikuti
(20 menit) diminta mengambil instruksi
kertas lipat b. Anak
b. Bantu memperhatikan Demontrasi
anak untuk melipat
bentuk yang mudah c. Anak aktif mengikuti
c. Bantu instruksi Demontrasi
anak untuk melubangi d. Anak aktif mengikuti
hasil lipatannya dengan instruksi
jarum e. Anak aktif mengikuti
d. Poton instruksi Demontrasi
g benang ± 10 cm
e. Gantu Demontrasi
ng hasil lipatan anak
ditempat yang dapat
dijangkau olehnya
Penutup Memberikan reward pada Tertawa karena Ceramah
(5 menit) anak atas hasil karyanya gembira diajak bermain
D. EVALUASI YANG DIHARAPKAN
1. Struktur
a. Media yang digunakan kertas lipat (origami), gunting, benang,
jarum sudah disiapkan 1 hari sebelum pelaksanaan terapi bermain
b. Tempat yang akan digunakan sudah dipersiapkan 2 jam sebelum
terapi bermain dilaksanakan
c. Peserta sudah dipilih satu hari sebelum pelaksanaan
d. Kontrak waktu pelaksanaan sudah di diskusikan 1 hari sebelum
pelaksananaan yaitu selama 30 menit
2. Proses
a. Selama proses bermain anak usia 3 tahun dan 5 tahun mengikuti program
terapi bermain dengan baik.
b. Selama proses bermain anak usia 3 tahun dan 5 tahun mau bekerja sama
dengan mahasiswa.
c. Selama proses bermain mahasiswa mendampingi anak
3. Hasil
Untuk anak usia 3-5 tahun:
a. Anak mampu melatih gerakan motorik halus dan motorik kasar lebih terarah
b. Anak mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman sebaya yang di
TK atau sekolah yang sama.
c. Anak mampu menyelesaikan satu bentuk lipatan dan kemudian digantung
d. Anak merasa senang dan gembira
4. Antisipasi Kegiatan
a. Setiap mahasiswa memegang dan bertanggung jawab terhadap 1 peserta
b. Ketika tampak kebosanan pada peserta akan diisi dengan kegiatan menyanyi
c. Memberikan reward pada peserta atas keaktifannya
d. Tempat disetting semenarik mungkin untuk mencegah kebosanan pada
peserta
TERAPI BERMAIN
BERMAIN DI RUANG BERMAIN
A. LATAR BELAKANG
Aktifitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak
secara optimal. Sekarang ini, banyak sekali di jual bermacam-macam alat
permainan. Apabila orang tua tidak selektif dan kurang memahami fungsinya, alat
permainan yang di belinya tidak dapat berfungsi secara efektif.
Alat permaina pada anak hendaknya di sesuaikan dengan jenis kelamian dan
usia anak sehingga dapat merangsang perkembangan anak secara optimal. Pada
masa anak-anak, kebutuhan bermain tidak bisa dipisahkan dari dunianya dan
merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk dapat tumbuh kembang secara optimal.
Selain itu, dengan aktivitas bermain anak juga akan memperoleh stimulasi mental
yang merupakan cikal bakal dari proses belajar pada anak untuk pengembangan,
kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreativitas, agama, kepribadian, moral,
etika, dll.
B. MANFAAT
1) Melanjutkan tumbang anak
2) Anak mampu mengembangkan kreativitasnya
3) Anak mampu beradaptasi dengan lingkungan
4) Mengilangkan konflik internal dalam diri anak
5) Meningkatkan koping yang efektif terhadap lingkungan
C. PRINSIP BERMAIN
1) Perlu ekstra energi
Bermain memerlukan energi yang cukup sehingga anak dapat memerlukan
nutrisi yang memadai asupan (intake) yang kurang dapat menurunkan daerah
anak.
2) Waktu yang cukup
Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain sehingga stimulus yang di
berikan dapat optimal selain itu anak akan mempunyai kesempatan untuk
mengenal alat-alat permainan.
3) Alat permainan
Alat permainan yang di gunakan harus sesuai dengan usian dan tahap
perkembangan anak. Orang tua hendaknya memperhatikan hal ini sehingga alat
permainan yang diberikan dapat berfungsi dengan benar.
4) Ruang untuk bermain
Diperlukan suatu ruangan atau tempat khusus untuk bermain bila
memungkinkan, dimana ruangan tersebut juga dapat menjadi tempat untuk
menyimpan mainan
5) Pengetahuan cara bermain
Anak belajar bermain dari mencoba-coba sendiri meniru teman-temannya atau
di beri tahu oleh orang tuanya. Cara yang terakhir adalah yang terbaik, karena
anak lebih terarah dan berkembang pengetahuannya dengan menggunakan alat
permainan tersebut
6) Teman bermain
Dalam bermain, anak memerlukan teman, bias teman sebaya, atau orang tuanya
ada saat-saat tertentu anak bermain sendiri agar dapat memenuhi kebutuhannya
sendiri
KONSEP TERAPI BERMAIN
A. PENGERTIAN BERMAIN
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh
kesenangan atau kesenangan. Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik,
intelektual, emosional, dan social dan bermain merupakan media yang baik untuk
belajar karena dengan bermain, anak-anak akan berkata-kata (berkomunikasi),
belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat
dilakukannya dan mengenal waktu, jarak serta suara (Wong, 2000)
Menurut Champhell (1995) bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa
dan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara
yang paling efektif untuk menurunkan stres pada anak dan penting untuk
kesejahteraan mental dan emosional anak
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bermain adalah kegiatan yang
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain sama dengan
bekerja pada orang dewasa, yang dapat menurunkan stress anak, media yang baik
bagi anak untuk belajar berkomunikasi dengan lingkungannya, menyesuaikan diri
terhadap lingkungan, belajar mengenal dunia sekitar kehidupannya, dan penting
untuk meningkatkan kesejahteraan mental serta social anak.
B. FUNGSI BERMAIN PADA ANAK
Fungsi utama pada bermain adalah merangsang perkembangan sensoris motoris,
perkembangan intelektua\l, perkembangan social, perkembangan kreatifitas,
perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain sebagai terapi.
Dalam perkembangan kognitif aktivitas bermain bagi anak berfungsi untuk
belajar berhubungan dengan lingkungannya, belajar mengenai objek dan bagaimana
menggunakannya. Anak belajar berpikir abstrak, dapat meningkatkan kemampuan
bahasa dan dapat mengatasi masalah dan menolong anak membandingankan fantasi
dan realitas. Bermain juga berfungsi untuk menciptakan dan meningkatkan
kreativitas anak. Melalui bermain untuk menjadi kreatif, anak mencoba ide - ide
baru dalam bermain. Kalau anak merasa puas dari kreatifitas baru, maka anak akan
mencoba pada situai yang lain.
Dengan bermain akan mengembangkan dan memperluas sosialisasi anak
sehingga anak cepat mengatasi persoalan yang akan timbul dalam hubungan sosial.
Dengan sosialisasi akan berkembang nilai - nilai moral dan etik. Anak belajar yang
benar dan yang salah serta bertanggung jawab atas kehendaknya.
Bermain berfungsi juga sebagai alat untuk memupuk kesadaran diri anak
karena dengan bermain anak akan sadar tentang kemampuan, kelemahan dan
tingkah lakunya. Perkembanggan moral diperoleh dari guru dan orangtua serta
orang sekitarnya. Anak akan menunjukkan tingkah laku yang dapat diterima oleh
temannya.
Salah satu bentuk permainan adalah menggunakan simbol - simbol.
Penggunaan simbol - simbol ini mulai muncul pada anak umur satu tahun karena
anak mulai ikut dalam kegiatan keluarga seperti makan, minum bersama. Pada anak
pra sekolah penggunaan simbol ini lebih dominan, karena anak mulai berfantasi dan
belajar dari model keluarga, misalnya peran guru, ibu dan perawat.
Menurut H. Hetzer ( Jerman ), macam - macam permainan pada anak dapat
dibedakan menjadi lima macam, yaitu : permainan fungsi ( dengan gerakan gerakan
tubuh, anggota badan), permainan konstruktif ( mobil - mobilan dari tanah, kuda -
kudaan dari pelepah pisang,dll ), permainan reseptif ( mis, sambil mendengar cerita
atau melihat gambar, anak berfantasi dan menerima kesan - kesan yang membuat
jiwanya sendiri aktif), permainan peranan ( anak memegang peranan sebagai apa
yang sedang dimainkan, contoh bermain sebagai dokter ), permainan sukses ( yang
diutamakan adalah prestasi sehinggga diperlukan keberanian, ketangkasan,
kekuatan,dll. Contoh meniti jembatan, meloncati parit, memanjat pohon ). Berikut
ini akan diuraikan beberapa hal menentukan jenis permainan sesuai usia anak.
C. TUJUAN BERMAIN
Beberapa tujuan yang diperoleh seorang anak melalui bermain adalah:
1. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada saat
sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Walaupun demikian, selama anak dirawat di Rumah Sakit kegiatan stimulasi
pertumbuhan dan perkembangan masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga
kesinambungannya.
2. Menggekpresikan perasaannya, keinginan dan fantasi, serta ide-idenya. Pada
saat sakit dan dirawat di Rumah Sakit, anak mengalami berbangai perasaan
yang sangat tidak menyenangkan. Pada anak yang belum dapat
mengekspresikannya secara verbal, permainan adalah media yang sangat
efektif untuk mengekspresikannya.
3. Mengembangkan kreatifitas dan kemampuan memecahkan masalah.
Permainana akan menstimulasi daya piker, imajinasi, dan fantasinya, untuk
menciptakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya. Pada saat melakukan
permainannya, anak juga akan dihadapkan pada masalah dalam konteks
permainananya, semakin lama ia bermain dan semakin tertantnag untuk dapat
menyelesaikannya dengan baik.
4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat di
Rumah Sakit. Stress yang dialami anak saat dirawat di rumah sakit tidak dapat
dihindarkan sebagaimana juga yang dialami orang tuanya. Untuk itu yang
penting adalah bagaimana menyiapkan anak dan orang tua untuk dapat
beradaptasi dengan stressor yang dialaiminya di rumah sakit secara efektif.
Permainana adalah media yang efektif untuk beradaptasi karena telah terbukti
dapat menurunkan rasa cemas, takut, nyeri dan marah.
D. CIRI ALAT PERMAINAN UNTUK ANAK USIA TODLER DAN PRA
SEKOLAH
Usia 3-5 tahun atau usia toodler
* Tujuan :
Menyalurkan emosi dan perasaan
Mengembangkan keterampilan berbahasa
Melatih motorik halus - kasar
Meningkatkan kecerdasan
Melatih kerjasama mata – tangan
Meningkatkan daya imajinasi
Membedakan permukaan dan warna benda
* Karakteristik: Pararel Play & solitary play
Anak yang bermain dengan cara toodler adalah anak yang bermain
secara spontan, dan bebas bermain dan berhenti sesukanya. Disamping itu
karena Kondisi motorik masih kurang sehingga anak sering merusak alat -
alat permainannnya. Perlu diingatkan juga bahwa anak memilih autonomi
dan kemandirian, sehingga penting diperhatikan keamanan atau
keselamatannya antara lain alat - alat permainan yang runcing, tidak
menimbulkan keracunan (cat), karakteristik pada masa toodler adalah paralel
play dan solitary play
DAFTAR PUSTAKA
Nelson, 2002. Ilmu Kesehatan Anak. EGC, Jakarta.
Ngastiyah. 2003. Perawatan Anak Sakit. EGC, Jakarta.
Soetjiningsih.2003. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC
Supartini, Yupi. 2004. Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC