0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
154 tayangan10 halaman

Laporan Risiko Bunuh Diri di RS Madani

Laporan ini membahas kasus resiko bunuh diri di rumah sakit dengan mendefinisikan bunuh diri, menjelaskan manifestasi klinis dan faktor-faktor yang berkaitan, serta merincikan pendekatan diagnosis dan perencanaan perawatan untuk menangani masalah tersebut."

Diunggah oleh

Lucky Arisandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
154 tayangan10 halaman

Laporan Risiko Bunuh Diri di RS Madani

Laporan ini membahas kasus resiko bunuh diri di rumah sakit dengan mendefinisikan bunuh diri, menjelaskan manifestasi klinis dan faktor-faktor yang berkaitan, serta merincikan pendekatan diagnosis dan perencanaan perawatan untuk menangani masalah tersebut."

Diunggah oleh

Lucky Arisandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN KASUS

RESIKO BUNUH DIRI DI RUANGAN MANGGIS


RS MADANI KOTA PALU

DISUSUN OLEH :

INDAH UTARI, [Link]

2021032037

CI LAHAN CI INSTITUSI

Lusiana Tangko, [Link].,Ns Ns. Ahmil, [Link]

PROGRAM STUDI NERS PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIDYA NUSANTARA PALU
2022
LAPORAN PENDAHULUAN

“RESIKO BUNUH DIRI”

A. Definisi

Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami risiko untuk

menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam nyawa.

Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh seseorang

untuk mengakhiri kehidupannya.

Perilaku destruktif diri yang mencakup setiap bentuk aktivitas bunuh diri,

niatnyaadalah kematian dan individu menyadari hal ini sebagai sesuatu yang

diinginkan.

B. Manifestasi Klinis

Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien masuk kerumah
sakit adalah p[erilaku kekerasan di rumah.
Dapat dilakukan pengkajian dengan cara :
1. Observasi
Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara ynag tinggi,
berdebat. Sering pula tampak klien memaksakan kehendak : merampas
makanan, memukul jika tidak senang
2. Wawancara
3. Diarahkan pada penyebab marah, perasaan marah. Tanda-tanda marah yang
dirasakan klien.
a. Mempunyai ide untuk bunuh diri
b. Mengungkapkan keinginan untuk mati
c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
d. Implusif
e. Menunjukkanperilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat
patuh)
f. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
g. Verbal terselubung (bicara tentang kematian, menanyakan tentang obat
dosis mematikan)
h. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah,
dan mengasingkan diri)
i. Kesehatan mental (secara klinis, klien tyerlihatsebagai orang yang
depresi, psikotis, dan menyalahgunakan alkohol)
j. Kesehatan fisik (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami
kegagalan dalam karier)
k. Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan)
l. Konflik interpersonal
m. Latarbelakang keluarga
n. Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil

C. Rentang Respon

Rentang respon protektif diri

Respon Adaptif Respons Maladaptif

Peningkatan Berisiko Destruktif diri Pencederaan Bunuh diri


diri destruktif tidak langsung diri
Gambar 1. rentang respon protektif diri

1. Peningkatan diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara
wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan [Link]
contoh seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda
mengenai loyalitas terhadap pimpinan di tempat kerjanya.
2. Berisiko deskruktif
Seseorang memiliki kecenderungan atau berisiko mengalami perilaku
destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang segharusnya
dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat
bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal
sudah melakukan pekerjaan secara optimal.

3. Deskruktif diri tidak langsung


Seseorang tidak mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptive)
terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri.
Misalnya, karena apandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal,
maka seorang karyawan menjadi tidak masuk kantor atau bekerja
seenaknya dan tidak optimal
4. Pencederaan diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri
akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
5. Bunuh diri
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang.

D. Faktor Predisposisi

Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan faktor


preidisposisi, artinya mungkin terjadi/mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan
jika faktor berikut dialami oleh individu :
1. Psikologis
Kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat
timbul agresif atau [Link] kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu
perasaan ditolak, dihina, dianiya atau saksi penganiayaan.
2. Perilaku
Reinforcement yang dietrima pada saat melakukan kekerasan, sering
mengobservasi kekerasan dirumah atau di luar rumah, semua aspek ini
menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan.
3. Sosial budaya
Budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan control sosial
yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasaan akan menciptakan seolah-olah
perilaku kekerasan diterima (premisive).
4. Bioneurolggis, banyak pendapat bahwa kerusakan system limbic, lobus
frontal, lobus temporal dan ketidakseimbangan neurotransmitter turut
berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan.
E. Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi


dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik),
keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri yang kurang dapat menjadi
penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula dengan situasi lingkungan yang
rebut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang
dicintai/pekerjaan dan kekerasaan merupakan faktor penyebab yang lain.
Interkasi sosial yang provokatif dan konflik dapat pula memicu perilaku
kekerasan.

F. Mekanisme Koping

Seorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping yang


berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial, rasionalization, dan
magical [Link] pertahanan diri yang ada seharusnya tidak
ditentang tanpa memberikan koping allternatif.
Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme [Link]
bunuh diri mungkin menujukkan upaya terakhir upaya terkahir untuk
mendapatkan pertolongan agar dapat mengatsi [Link] diri yang terjadi
merupakan kegagalan koping dan mekanisme adaptif pada diri seseorang.
G. Pohon Masalah

Effect Bunuh diri

Core problem Risiko bunuh diri

Causa isolasi sosial

Harga diri rendah kronis


Gambar 2. Pohon risiko bunuh diri
H. Masalah Keperawatan Yang Mungkin Muncul

1. Resiko bunuh diri


2. Bunuh diri
3. Isolasi sosial
4. Harga diri rendah kronis

I. Data Yang Perlu Dikaji

Masalah Keperawatan Data Yang Perlu Dikaji


Resiko bunuh diri Subjektif :
 Mengungkapkan keinginan bunuh diri
 Mengungkapkan keinginan untuk mati
 Mengungkapkan rasa bersalah dan
keputusasaan
 Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri
sebelumnya dari keluarga
 Berbicara tentang kematian, menanyakan
tentang dosis obat yang mematikan
 Mengungkapkan adanya konflik
interpersonal
 Mengungkapkan telah menjadi korban
perilaku kekerasaan saat kecil.

Objektif :
 Implusif
 Menujukkan perilaku yang mencurigakan
(biasanya menjadi sangat patuh)
 Ada riwayat penyakit mental (depresi),
psikosis, dan penyalahgunaan alcohol
 Ada riwayat penyakit fisik (penyakit
kronis, atau penyakit terminal)
 Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan
pekerjaan, atau kegagalan dalam karier 0
 Status perkawinan yang tidak haromins

Faktor-faktor yang berhubungan dengan maslah perilaku kekerasan antara


lain sebagai berikut :
1. Ketidakmanpuan mengendalikan dorongan marah
2. Stimulus lingkungan
3. Konflik interpersonal
4. Status mental
5. Putus obat
6. Penyalahgunaan narkoba/alkohol

J. Diagnosa Keperawatan

Resiko bunuh diri

K. Rencana Asuhan Keperawatan

[Link] Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi


Resiko bunuh Pasien mampu : Setelah ……x SP 1
diri  Mengidentifikas pertemuan, pasien  Identifikasi
Ds : i penyebab dan mampu : penyebab, tanda
1. memberikan tanda perilaku  Menyebutkan dan gejala serta
ancaman akan kekerasan penyebab akibat perilaku
melakukan  Menyebutkan tanda, gejala, kekerasan
bunuh diri jenis perilaku akibat perilaku  Latih secara fisik
2. Mengungkap kekerasan yang kekerasan 1 : tari nafas
kan ingin mati pernah  Memperagaka dalam
3. mengungkap dilakukan n cara fisik 1  Masukkan dalam
kan rencana  Menyebutkan untuk jadwal harian
ingin akibat dari dari mengontrol pasien
mengakhiri perilaku perilaku
hidup kekerasan yang kekerasan
Do : dilakukan Setelah …….x SP 2
1. Menyiapkan  Menyebutkan pertemuan, pasien  Evaluasi
alat untuk cara mengontrol mampu : kegiatan yang
melakukan perilaku  Menyebutkan lalu (SP1)
rencana bunuh kekerasan kegiatan yang  Latih cara fisik 2
diri  Mengontrol sudah : pukul kasur
2. banyak diam perilaku dialkukan /bantal
[Link] kekerasannya  Memperagaka  Masukkan dalam
n kepala dengan cara : n cara fisik jadwal harian
4. menjatuhklan - Fisik untuk pasien
kepala dari - Sosial/verbal mengontrol
tempat tinggi - Spiritual perilaku
- Terapi kekerasan
- Psikofarmaka Setelah …….x SP 3
(obat) pertemuan, pasien  Evaluasi
mampu : kegiatan yang
 Meneybutkan lalu (SP 1dan 2)
kegiatan yang  Latih secara
sudah sosial/verbal
dilakukan  Menolak dengan
 Memperagaka baik
n cara  Meminta dengan
sosial/verbal baik
untuk  Mengungkapkan
mengontrol dengan baik
perilaku  Masukkan dalam
kekerasan. jadwal harian
pasien
Setelah …….x SP 4
pertemuan, pasien  Membuat
mampu : rencana masa
depan yang
 Membuat realistis bersama
rencana masa klien
depan yang  Mengidentifikasi
realistis dan cara mencapai
mampu rencana masa
melakukan depan yang
kegitan realistis
 Memberi
dorongan klien
melakukan
kegiatan dalam
rangka meraih
masadepan yang
realistis
 Menganjurkan
klien
memasukan
dalam jadwal
kegiatan harian
DAFTAR PUSTAKA

Balitbang. 2020. Workshop Standar Proses Keperawatan Jiwa. Bogor


Direja Surya Herman Ade. 2019. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta:
Nuha Medika
Direktorat kesehatan jiwa, Ditjen. 2017. Teori dan tindakan keperawatan jiwa.
Jakarta: Yankes RI Keperawatan Jiwa
Fitria, Nita. 2017. Aplikasi Dasar Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan da
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta: Salemba
Medika
Keliat, B.A. 2018. Proses Kesehatan [Link] 1. Jakarta
Marimas, F, W. 2019. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga
University Press.
Tim Direktorat Keswa. 2017. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. Edisi 1. Bandung:
RSJP

Anda mungkin juga menyukai