PERCOBAAN 1
PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN
KERAPATAN GAS
A. TUJUAN PERCOBAAN
1. Dapat menentukan berat molekul suatu senyawa yang mudah menguap dengan
cara mengukur kerapatan uap dari suatu senyawa tersebut
2. Dapat mengaplikasikan persamaan gas ideal dalam suatu percobaan
B. DASAR TEORI
Gas mempunyai sifat bahwa molekul-molekulnya sangat berjauhan satu sama
lain sehingga hampir tidak ada gaya tarik menarik atau tolak menolak diantara
molekul-molekulnya sehingga gas akan mengembang dan mengisi seluruh ruang
yang ditempatinya, bagaimana pun besar dan bentuknya. Untuk memudahkan
mempelajari sifat-sifat gas ini baiklah dibayangkan adanya suatu gas ideal yang
mempunyai sifat-sifat :
1. Tidak ada gaya tarik menarik di antara molekul-molekulnya.
2. Volume dari molekul-molekul gas sendiri diabaikan.
3. Tidak ada perubahan energi dalam (internal energy = E) pada
pengembangan.
Sifat-sifat ini dimiliki oleh gas inert (He, Ne, Ar dan lain-lain) dan uap Hg dalam
keadaan yang sangat encer. Gas yang umumnya terdapat di alam (gas sejati)
misalnya: N2, O2, CO2, NH3 dan lain-lain sifat-sifatnya agak menyimpang dari gas
ideal. (Sukardjo, 1989).
Yang dimaksud dengan bobot jenis suatu zat menurut defenisi lama adalah
bilangan yang menyatakan berapa gram bobot 1 cm3 suatu zat atau berapa kg
bobot 1 cm3 air pada suhu 40 C. jadi bilangan yang menyatakan berapa kali bobot
1 dm3 suatu zat dengan bobot 1 cm3 air pada suhu 40 C disebut juga bobot jenis
(Taba dkk., 2010).
Suatu sifat yang besarnya tergantung pada jumlah bahan yang sedang
diselidiki disebut sifat ekstensif. Baik massa maupun volume adalah sifat-sifat
ekstensif. Suatu sifat yang tergantung pada jumlah bahan adalah sifat intensif.
Rapatan yang merupakan perbandingan antara massa dan volume, adalah sifat
intensif. Sifat-sifat intensif umumnya dipilih oleh para ilmuwan untuk pekerjaan
ilmiah karena tidak tergantung pada jumlah bahan yang sedang diteliti
(Petrucci,1987).
Kerapatan berubah dengan perubahan temperatur (dalam banyak kasus,
kerapatan menurun dengan kenaikan temperatur, karena hampir semua substansi
mengembang ketika dipanaskan). Konsekuensinya, temperatur harus dicatat
dengan nilai kerapatannya. Sebagai tambahan, tekanan gas harus spesifik.
Kerapatan padatan dan cairan sering dibandingkan dengan kerapatan air. Zat yang
kerapatannya lebih rendah (lebih ringan) dari air akan mengapung, dan zat yang
kerapatannya lebih besar (lebih berat) dari air akan tenggelam dalam air. Dengan
jalan yang saama. kerapatan gas dibandingkan dengan kerapatan udara. gas yang
kerapatannya lebih rendah (lebih ringan) akan naik dalam udara, dan gas yang
kerapatannya lebih besar (lebih berat) akan turun dalam udara. Untuk menghitung
kerapatan suatu zat, kita harus membuat dua pengukuran; pertama, menetapkan
massa zat tersebut, dan kedua menentukan volumenya (Stoker, 1993).
Bobot molekul suatu zat adalah jumlah bobot dari atom-atom yang
ditunjukkan dalam rumusnya. Penggunaan istilah bobot molekul suatu zat´ tidak
berarti bahwa zat tertentu itu terdiri dari molekul-molekul. Istilah molekul´
merujuk ke suatu partikel netral, tetapi banyak zat yang terbuat dari partikel
bermuatan yang disebut ion. Beberapa ahli kimia menggunakan istilah bobot
rumus´ untuk merujuk jumlah bobot atom yang tertunjuk dalam rumus suatu zat,
dan menggunakan istilah ³bobot molekul´ untuk merujuk zat-zat yang terdiri dari
molekul. Defenisi yang lebih umum mengenai istilah bobot molekul diterima
dengan luas karena memungkinkan penggunaan suatu konsep yang dikenal dalam
semua kasus, tanpa memaksa pemakai istilah itu mencari terlebih dahulu partikel
macam apa yang dikandung oleh zat tertentu itu (Keenan dkk, 1980).
Oleh karena molekul itu terdiri atas atom-atom, maka massa molekul harus
menyatakan massa rumus yaitu massa diperoleh dari penjumlahan massa atom
relatif dari unsur-unsur penyusun molekul tersebut, dengan demikian massa
molekul relatif (Mr) adalah bilangan yang menyatakan jumlah massa atom relatif
dari unsur-unsur penyusun rumus molekul tersebut (Tim dosen kimia, 2008).
Bila sifat termodinamika ekstensif dari sistem dibagi oleh sejumlah zat
(sebagai orang kimia biasanya digunakan mol), maka didapat sifat intensif.
Misalnya bila sistem terdiri dari zat murni, kemudian ukurannya diperbesar dua
kali, maka volumnya bertambah dua kali, tetapi volum molarnya tetap. Secara
teliti, harus digunakan lambing lain untuk volum dan volum molar, karena
besaran ini memiliki dimensi yang berbeda. Volum dapat dinyatakan dalam meter
kubik atau liter, tetapi volum molar dinyatakan dalam meter kubik per mol atau
liter per mol. Jadi hokum gas ideal ditulid sebagai PV = nRT, dengan V yang
menyatakan volum per mol (Farrington dan Daniels, 1992).
Percobaan ini merupakan cara lain disamping penentuan massa molekul gas
dengan alat Victor Meyer. Persamaan gas ideal dapat digunakan untuk
menentukan massa molekul zat mudah menguap.
PV = nRT
PV = W / M RT
PM = W / V RT
PM = ρ RT
M = ρRT
P
dimana:
M = massa molekul zat mudah menguap
ρ = densitas gas (g dm-3)
P = tekanan gas (atm)
V = volume (dm3)
T = suhu absolute (K)
R = tetapan gas (dm3 atm mol-1 K-1)
Hukum gabungan gas untuk suatu sampel gas menyetakan bahwa
perbandingan pV/T adalah konstan. Sebetulnya untuk gas-gas real (nyata) seperti
metana (CH3) dan oksigen dilakukan pengukuran secara cermat, ternyata hal ini
tidak benar betul. Gas hipotesis yang dianggap akan mengikuti hukum gabungan
gas pada berbagai suhu dan tekanan hukum gabungan gas pada berbagai suhu dan
tekanan disebut gas ideal. Gas nyata akan menyimpang dari sifat gas [Link]
tekanan yang relatif rendah termasuk pada tekanan atmosfer serta suhuyang
tinggi, semua gas akan menempati keadaan ideal sehingga hukum gas gabungan
dapat dipakai untuk segala macam gas yang digunakan (Brady, 1999).
Persamaan gas ideal bersama-sama dengan massa jenis gas dapat digunakan
untuk menentukan berat molekul senyawa volatil. Dalam hal ini menyarankan
konsep gas ideal, yakni gas yang akan mempunyai sifat sederhana yang sama
dibawah kondisi yang sama (Haliday dan Resnick, 1978)
Faktor koreksi:
Nilai BM hasil perhitungan akan mendekati nilai sebenarnya, tetapi masih
mengandung kesalahan. Ketika labu erlenmeyer kosong ditimbang, labu ini penuh
dengan udara. Setelah pemanasan dan pendinginan dalam desikator, tidak semua
uap cairan kembali ke bentuk cairannya, sehingga akan mengurangi jumlah udara
yang masuk kembali ke dalam labu erlenmeyer. Jadi massa labu erlenmeyer
dalam keadaan ini lebih kecil dari pada massa labu erlenmeyer dalam keadaan
semua uap cairan kembali kebentuk cairannya. Oleh karena itu massa cairan X
sebenarnya harus ditambahkan dengan massa udara yang tidak dapat masuk
kembali ke dalam labu erlenmeyer karena adanya uap cairan yang tidak
mengembun. Massa udara tersebut dapat dihitung dengan menganggap bahwa
tekanan parsial udara yang tidak dapat masuk sama dengan tekanan uap cairan
pada suhu kamar. (Buku Petunjuk Praktikum Kimia Fisika, TGP FTUI)
Hukum Keadaan Standar
Untuk melakukan pengukuran terhadap volume gas, diperlukan suatu keadaan
standar untuk digunakan sebagai titik acuan. Keadaan ini yang juga dikenal
sebagai STP (Standart Temperature and Pressure) yaitu keadaan dimana gas
mempunyai tekanan sebesar 1 atm (760 mmHg) dan suhu °C (273,15 K).
Satu mol gas ideal, yaitu gas yang memenuhi ketentuan semua hukum-hukum gas
akan mempunyai volume sebanyak 22,414 liter pada keadaan standar ini.
Hukum Gas Ideal
Definisi mikroskopik gas ideal, antara lain:
1. Suatu gas yang terdiri dari partikel-partikel yang dinamakan molekul.
2. Molekul-molekul bergerak secara serampangan dan memenuhi hukum-
hukum gerak Newton.
3. Jumlah seluruh molekul adalah besar
4. Volume molekul adalah pecahan kecil yang diabaikan dari volume yang
ditempati oleh gas tersebut.
5. Tidak ada gaya yang cukup besar yang beraksi pada molekul tersebut
kecuali selama tumbukan.
6. Tumbukannya elastik (sempurna) dan terjadi dalam waktu yang sangat
singkat.
Gambaran Gas Ideal
Apabila jumlah gas dinyatakan dalam mol (n), maka suatu bentuk persamaan
umum mengenai sifat-sifat gas dapat diformasikan. Sebenarnya hukum Avogadro
menyatakan bahwa 1 mol gas ideal mempunyai volume yang sama apabila suhu
dan tekanannya sama. Dengan menggabungkan persamaan Boyle, Charles dan
persamaan Avogadro akan didapat sebuah persamaan umum yang dikenal sebagai
persamaan gas ideal.
atau PV = nRT
R adalah konstanta kesebandingan dan mempunyai suatu nilai tunggal yang
berlaku untuk semua gas yang bersifat ideal. Persamaan di atas akan sangat
berguna dalam perhitungan-perhitungan volume gas.
Tekanan dan Suhu
Tekanan
Tekanan gas adalah gaya yang diberikan oleh gas pada satu satuan luas dinding
wadah. Torricelli (Gambar 1.17), ilmuan dari Italia yang menjadi asisten Galileo
adalah orang pertama yang melakukan penelitian tentang tekanan gas ia menutup
tabung kaca panjang di satu ujungnya dan mengisi dengan merkuri. Kemudian ia
menutup ujung yang terbuka dengan ibu jarinya, membalikkan tabung itu dan
mencelupkannya dalam mangkuk berisi merkuri, dengan hati-hati agar tidak ada
udara yang masuk. Merkuri dalam tabung turun, meninggalkan ruang yang nyaris
hampa pada ujung yang tertutup, tetapi tidak semuanya turun dari tabung. Merkuri
ini berhenti jika mencapai 76 cm di atas aras merkuri dalam mangkuk (seperti
pada gambar dibawah). Toricelli menunjukkan bahwa tinggi aras yang tepat
sedikit beragam dari hari ke hari dan dari satu tempat ke tempat yang lain, hal ini
terjadi karena dipengaruhi oleh atmosfer bergantung pada cuaca ditempat tersebut.
Peralatan sederhana ini yang disebut Barometer.
Barometer
Hubungan antara temuan Toricelli dan tekanan atmosfer dapat dimengerti
berdasarkan hokum kedua Newton mengenai gerakan, yang menyatakan bahwa:
Gaya = massa x percepatan
F=mxa
Dengan percepatan benda (a) adalah laju yang mengubah kecepatan. Semua benda
saling tarik-menarik karena gravitasi, dan gaya tarik mempengaruhi percepatan
setiap benda. Percepatan baku akibat medan gravitasi bumi (biasanya
dilambangkan dengan g, bukannya a) ialah g = 9,80665 m s -2. Telah disebutkan di
atas bahwa tekanan adalah gaya persatuan luas, sehingga :
Karena volume merkuri dalam tabung adalah
Suhu
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat merasakan panas atau dingin. Kita
bisa mendeskripsikan bahwa kutub utara mempunyai suhu yang sangat dingin
atau mendeskripsikan bahwa Surabaya atau Jakarta mempunyai suhu yang panas
pada siang hari. Ilustrasi diatas merupakan dua ekspresi dari suhu, akan tetapi
apakah kita tau definisi dari suhu itu sendiri? Definisi suhu merupakan hal yang
sepele tapi sulit untuk disampaikan tetapi lebih mudah untuk dideskripsikan.
Penelitian pertama mengenai suhu dilakukan oleh ilmuan Perancis yang bernama
Jacques Charles.
Campuran Gas
Pengamatan pertama mengenai perilaku campuran gas dalam sebuah wadah
dilakukan oleh Dalton (Gambar 1.19), ia menyatakan bahwa tekanan total, Ptol,
adalah jumlah tekanan parsial setiap gas. Pernyataan ini selanjutnya disebut
sebagai Hukum Dalton, hukum ini berlaku untuk gas dalam keadaan ideal.
Tekanan parsial setiap komponen dalam campuran gas ideal ialah tekanan total
dikalikan dengan fraksi mol komponen tersebut.
Kloroform adalah kimia relatif non-reaktif yang digunakan dalam berbagai
laboratorium untuk pekerjaan penelitian,industri seperti pewarna dan pestisida
serta obat-obatan. kepentingan mereka juga telah diwujudkan dalam Ventilasi
Pemanas dan penyejuk udara industri. Dalam rumah tangga, kloroform digunakan
terutama dalam hubungannya dengan bahan kimia lain seperti asam asetat dan
pelarut lain sebagai deterjen untuk membersihkan tujuan. Meskipun komponen-
komponen yang signifikan sekali terbentuk dalam pasta gigi, obat-obatan dan gel
atau balm, efek membahayakan mereka menyadari dan dilarang dari penggunaan
domestik. Menjadi kimia yang kuat, ketika dihirup, Kloroform bisa membuat
manusia dan hewan pingsan.
Terlepas dari efek yang merugikan mereka, Kloroform masih tetap
menggunakan mereka utuh tetapi hanya jika ditangani dengan sangat hati-hati dan
langkah-langkah keamanan. Hal ini bisa disiapkan dalam rumah tangga yang
menggunakan bahan baku seperti Bleach, aseton Murni dan banyak es. Produksi
rinci kloroform meliputi:
1. Lebih dari setengah liter pemutih dituangkan ke wadah kaca yang kuat dan
setumpuk potongan besar es ditambahkan ke dalamnya dan membiarkan
suhu yang lebih rendah.
2. Tambahkan aseton untuk ini, seperti bahwa rasio aseton untuk kloroform
adalah dengan perbandingan 1:50. Sebagai panas meningkat drastis dalam
reaksi ini, es harus ditambahkan dari waktu ke waktu dan diperiksa untuk
overheating.
3. Biarkan reaksi kimia akan berlangsung selama sekitar 20 sampai 30 menit.
Prosedur ini dapat dilakukan dengan bahan kimia lain seperti Butanon,
etanol, isopropil alkohol dan sebagainya.
4. Suatu zat murni berwarna putih mengendap di bagian bawah wadah yang
perlu hati-hati diekstrak. Pada saat yang sama, sisa pelarut harus dibuang
dengan hati-hati.
5. Sebagai tindakan keamanan, disarankan untuk memakai kloroform baru
dipersiapkan dalam waktu satu minggu. Bahkan, penyimpanan harus
dilakukan dalam botol gelap untuk menghindari reaksi dengan sinar
matahari. Selain itu menghindari ruang kosong antara bibir botol dan
kimia untuk mencegah oksidasi. (Respati, 1992)
C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
- Labu Erlenmeyer 150 mL
- Beaker glass 600 mL
- Aluminium foil
- Karet gelang
- Jarum
- Desikator
- Neraca analitik
- Barometer
2. Bahan
- Air
- Cairan volatile X
D. PROSEDUR PERCOBAAN
Diambil labu Erlenmeyer kemudian ditutup dengan menggunakan aluminium
foil dan karet gelang.
Ditimbang labu Erlenmeyer+aluminium foil+karet gelang dengan
menggunakan neraca analitik.
Dimasukkan kurang lebih 5 mL cairan volatile kedalam labu Erlenmeyer,
kemudian ditutup dengan menggunakan aluminium foil dan karet gelang
sehingga tutu ini bersifat kedap udara. Setelah itu dibuat lubang kecil pada
aluminium fail dengan menggunakan jarum.
Direndam labu Erlenmeyer didalam penangas air yang bersuhu kurang lebih
1000C, air kurang lebih 1 cm dibawah aluminium foil, kemudian direndam
hingga cairan volatile menguap seluruhnya. Dicatat temperatur penangas air.
Diangkat labu Erlenmeyer dari penangas setelah semua cairan volatip
menguap, kemudian dikeringkan air yang terdapat pada bagian luar labu
Erlenmeyer dengan menggunakan lap. Selanjutnya tempatkan labu Erlenmeyer
kedalam desikator.
Ditimbang labu Erlenmeyer yang sudah dingin dengan menggunakan neraca
analitik.
Ditentukan volume labu Erlenmeyer dengan mengisi labu Erlenmeyer dengan
menggunakan air hingga penuh dan ditimbang kembali dengan menggunakan
neraca analitik. Berlaku persamaan d=m/v
Diukur tekanan atmosfer dengan menggunakan barometer.
Faktor koreksi dihitung dengan persamaan log p=6,90328-1163,03/(227,4+T)
E. DATA
No Pengamatan Data
1 Massa Erlenmeyer kosong
115,09 gram
2 Massa erlenmeyer + aluminium foil + karet 115,71 gram
gelang
3 Massa Erlenmeyer + aluminium foil + karet 122,02 gram
gelang + cairan volatile
4 Massa cairan volatil 6,31 gram
5 Suhu air panas 97 o C=370 K
6 Suhu air panas saat cairan volatil menguap 97 o C=370 K
7 Massa Erlenmeyer + air 425,98 gram
8 Massa air 425,98-116,88=309,1 gram
9 Suhu air 24 o C=297 K
10 Suhu ruang 26 o C=299 K
11 Tekanan barometer 740 mmHg
12 Massa jenis air pada 28℃ 1 g/mL
13 Volume air dalam labu Erlenmeyer = V
Erlenmeyer 309,1 mL
Volume gas = volume erlenmeyer
14 Massa cairan volatil sesudah didesikator 116,88 gram
erlenmeyer
F. ANALISIS DATA
Percobaan dilakukan dengan menggunakan cairan volatil yaitu kloroform.
Pertama yang dilakukan adalah mengambil sebuah labu erlenmeyer berleher
kecilyang bersih dan kering, kemudia labu tersebut ditutup dengan aluminium foil
dan diikat dengan mengguanakan karet gelang. Setelah itu labu ditimbang dan
diperoleh data:
Massa erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang = 115,71 gram
Setelah itu, dimasukkan 5 ml cairan volatil ke dalam labu erlenmeyer dan
ditutup kembali. Bagian atas dari aluminium dilubangi kecil dengan menggunakan
jarum agar uap dapat keluar. Kemudian memanaskan penangas air dalam beaker
glass, sebelum dipanaskan uhu air dicatat.
Suhu awal air = 24oC=297 K
Setelah air dalam penangas hampir mendidih, labu erlenmeyer dimasukkan
dalam penangas. Labu erlenmeyer dibiarkan dalam penangas sampai larutan
kloroform di dalamnya menguap. Dicatat suhu penangas saat cairan volatil habis
seluruhnya.
Suhu penangas saat cairan volatil habis menguap = 97oC=370K
Setelah itu, labu erlenmeyer diangkat, dan penangas air dimatikan.
Kemudian bagian luar dari labu erlenmeyer dikeringkan dengan mengguankan lap
dan dimasukkan ke desikator hingga uap cairan dalam labu erlenmeyer kembali
menjadi cairan. Kemudian erlenmeyer ditimbang kembali.
Massa erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang + cairan volatil =
122,02 gram
Kemudian labu erlenmeyer diisi dengan akuades dengan penuh lalu
ditimbang.
Massa erlenmeyer kosong = 115,09 gram
Massa erlenmeyer + air = 425,98 gram
Kemudian tekanan udara diukur dengan menggunakan barometer.
Tekanan udara= 740 mmHg
Dari data diatas dapat dihitung sebagai berikut:
Massa cairan volatil = [Massa erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang+
cairan volatil] – [Massa erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang]
Massa cairan volatil = 122,02 gram-115,09 gram
= 6,31 gram
Massa air dalam erlenmeyer = [massa erlenmeyer+air] – [massa erlenmeyer
kosong ]
= 425,98 gram – 116,88 gram
= 309,1 gram
m
Volume air = ρ
309,1 gram
= g
1
ml
= 309,1ml
Volume gas = volume air dalam erlenmeyer
Volume gas = 309,1 ml
massa kloroform
Massa jenis cairan volatil =
volume gas
6,31 gram
=
309 ,1 mL
g
= 0,0204 ml
Suhu penangas saat cairan volatil menguap = 97oC = 370 K
740
Tekanan udara = 740 mmHg = atm = 0,974 atm
760
ρRT
Mr =
P
g l atm
0,0204 x 0,0821 x 3 70 K
= mL mol k
0,974
g
=
mol
Jika menggunakan faktor koreksi dalam percobaan ini:
1163,03
log p=¿6,90328− ¿
227,4+T
1163,03
log p=¿6,90328− ¿
227,4+26
log p=¿6,90328−4,59 ¿
log p=¿2,31 ¿
p=10 2,31
p=205,86 mmHg
205,86
p= atm=0,27 atm
760
Kemudian dihitung nilai berat molekulnya:
pxMrxV
M 2=
RxT
g
0,27 atm x 28,8 x 0,144 l
mol
M 2=
latm
0,0821 x 363
mol K
1,119744
M 2= =0,0376 gram
29,802
Massa total CHCl3 = massa uap + m2
= 0,2802 g + 0,0376 g
= 0,3184 g
Mr CHCl3 setelah diperhitungkan faktor koreksiny
Mtotal x R x T
Mr =
P XV
l atm
0,3184 g x 0,0821 x 363 K
mol K
Mr =
0,974 atm X 0,144 l
9,489 g g
Mr= =67,65
0,14025mol mol
Mr perhitungan
Persentase ketelitian= x 100 %
Mr teori
67,65
Persentase ketelitian= x 100 %=56,61 %
119,5
G. PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data, maka dapat dibahas sebagai berikut.
Praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan berat molekul senyawa
volatile berdasarkan pengukuran kerapatan gas dengan menggunakan persamaan
gas ideal. Pada percobaan kali ini sampel yang digunakan adalah
kloroform. Praktikum untuk menentukan berat molekul senyawa volatil
berdasarkan pengukuran kerapatan gas dengan menggunakan persamaan gas ideal
adalah salah satu alternatif lain dari metode penentuan massa jenis gas dengan alat
Viktor Meyer. Persamaan gas ideal bersama-sama dengan kerapatan gas dapat
digunakan untuk menentukan berat molekul senyawa volatile. Senyawa volatil
merupakan senyawa yang mudah menguap, apalagi jika dipanaskan pada suhu di
atas titik didih.
Langkah awal dari praktikum ini adalah menentukan massa erlenmeyer
kosong agar dapat menentukan massa cairan. Berat labu erlenmeyer ditambahkan
alumium foil dan karet gelang yakni 75,408 gram. Kemudian kloroform
dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer lalu dipanaskan sampai cairan volatile
menguap. Setelah semua cairan volatil menguap dan kemudian diukur suhu yang
dibutuhkan cairan untuk menguap seluruhnya, labu erlenmeyer diangkat,
kemudian diletakkan di dalam desikator. Desikator ini berfungsi sebagai
pengering dan pendingin dari alat laboratorium untuk percobaan. Berat labu
erlenmeyer ditambahkan alumium foil dan karet gelang yang didinginkan
yakni 75,8210 gram. Oleh karena itu didapatkan berat cairan kloroform
yakni sebanyak 0,2802 gram.
Penimbangan selanjutnya adalah mencari bobot dari Erlenmeyer yang
berisi air. Setelah ditimbang, bobot Erlenmeyer yang berisi air ini memiliki bobot
sebesar 217,9678 gram. Langkah selanjutnya adalah mencari nilai bobot dari
Erlenmeyer kosong, yang setelah ditimbang memiliki bobot sebesar 74,6985
gram. Dari data ini, maka dapat diketahui bobot dari air, yaitu sebesar 143,2693
gram yang didapatkan dari hasil pengurangan massa erlenmleyer kosong + air
dengan massa erlenmeyer kosong. Dari data ini, dapat dihitung nilai dari volume
air dengan cara membagi antara nilai bobot air dengan massa jenis air. Massa
jenis air dapat diketahui dari teori yang mendukung. Berdasarkan teori, massa
jenis air adalah sebesar 0,9963 g/mL, sehigga nilai volume air adalah sebesar
143,8013 mL. air ini memiliki sifat yang sama dengan udara, yaitu memiliki
kecenderungan untuk memenuhi ruangan secara keseluruhan(Tim KBK Kimia
Fisika,2018). Sehingga dapat dianggap bahwa nilai volume air bernilai sama
dengan nilai volume udara dalam Erlenmeyer, sehingga nilai volume udara dalam
Erlenmeyer adalah sebesar 143,8013 mL; atau bila dikonversikan ke satuan liter
menjadi 0,114 L.
Data dari volume gas ini, dapat digunakan untuk mencari nilai dari massa
jenis atau kerapatan gas kloroform, yaitu dengan cara membagi nilai bobot
kloroform dengan volume udara atau volume air. Dari perhitungan yang telah
g
dilakukan, didapatkan nilai massa jenis kloroform sebesar1,946 . Air yang
l
digunakan untuk percobaan ini memiliki suhu sebesar 280 C; atau saat
dikonversikan ke satuan Kelvin bernilai sebesar 401 K. tekanan udara pada saat
percobaan ini dilakukan sebesar 740 mmHg. Dari semua data ini dapat dicari nilai
ρRT
berat molekul dari kloroform, yaitu dengan rumus Mr = ; rumus ini
P
didapatkan dari persamaan gas ideal, dimana
P V = n R T ......................(1) (Persamaan Gas Ideal)
P V = (m/Mr) R T .....................(2) (n = m/Mr)
Dengan mengubah persamaan 2 akan diperoleh :
P (Mr) = (m/V) R T ,dengan ρ = m/V, maka
ρRT
Mr = ...........................(3)
P
Keterangan : P = tekanan gas R = tetapan gas ideal
V= volume gas ρ = massa jenis gas
T = Suhu Mr = Massa Molekul Relative
sehingga dengan rumus tersebut didapatkan nilai massa molekul relative senyawa
g
kloroform sebesar 59,54 Namun, terdapat perbedaan hasil antara berat
mol
molekul kloroform saat percobaan dengan teori. Berat molekul atau massa
g
molekul relatif kloroform saat percobaan sebesar 59,54 dan secara teoritis
mol
sebesar 119,5 g/mol. Hal ini dapat disebabkan karena tidak semua cairan
kloroform yang menguap, kembali mengembun setelah didinginkan akibatnya
akan mengurangi massa udara yang dapat masuk kembali, sehingga diperlukan
penghitungan faktor koreksi agar data yang didapat lebih akurat. Faktor koreksi
ini merupakan massa udara yang tidak dapat masuk, yang harus ditambahkan pada
massa cairan X setelah didinginkan dalam desikator. Ketika labu Erlenmeyer
kosong ini ditimbang, labu ini penuh dengan udara. Setelah pemanasan dan
pendinginan dalam desikator tidak semua uap cairan kembali ke bentuk cairnya.
Oleh karena itu massa sebenarnya X harus ditambah dengan massa udara yang
tidak dapat masuk kembali ke dalam labu Erlenmeyer karena adanya uap cairan
yang tidak mengembun. Massa udara tersebut dapat dihitung dengan
mengasumsikan bahwa tekanan parsial udara yang tidak dapat masuk tadi sama
dengan tekanan uap cairan X pada temperature kamar (KBK Kimia Fisika,2018) .
Setelah massa kloroform sudah ditambahkan dengan nilai factor koreksi, dapat
diperoleh nilai massa molekul relative dengan perhitungan gas ideal. Nilai massa
g g
molekul relative setelah adanya penambahan factor koreksi 59,54 +67,65
mol mol
g
adalah sebesar 127,19 . Nilai ini masih tidak sesuai dengan nilai massa
mol
molekul relative kloroform berdasarkan teori. Hal ini bisa disebabkan karena saat
melakukan percobaan masih terdapat cairan yang belum menguap atau masih
terisi di dalam erlenmeyer, maka akan dapat menyebabkan adanya kesalahan
penghitungan massa jenis gas dan akhirnya berdampak pada kesalahan dalam
penghitungan berat molekul.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Penentuan berat molekul senyawa volatil dapat dilakukan dengan mengukur
massa jenis senyawa dan menggunakan persamaan gas ideal.
2. Nilai massa cairan volatil berpengaruh terhadap berat molekul (BM). Dengan
demikian, semakin besar nilai dari massa cairan volatilnya maka semakin
besar pula nilai berat molekulnya.
3. Nilai BM (berat molekul) yang diperoleh pada percobaan untuk kloroform
g
adalah sebesar 67,65 , sedangkan nilai BM teoritisnya sebesar 119,5
mol
gr/mol.
4. Persentase ketelitian yang diperolehberdasarkan percoaan sebesar 56,61 %
Jawaban Pertanyaan
1. Apakah yang menjadi sumber utama kesalahan pada percobaan ini?
Setelah pemanasan dan pendinginan dalam desikator tidak semua uap cairan
kembali ke bentuk cairnya. Oleh karena itu, massa sebenarnya kloroform
dalam percobaan ini harus ditambah dengan massa udara yang tidak dapat
masuk kembali ke labu erlenmeyer karena adanya uap cairan yang tidak
mengembun. Jika massa tersebut tidak dihitung, tentu akan berpengaruh
terhadap nilai berat molekulnya. Massa udara tersebut dapat dihitung dengan
mengasumsikan bahwa tekanan parsial udara yang tidak dapat masuk tadi sama
dengan tekanan uap larutan kloroform.
2. Dari analisis penentuan berat molekul suatu cairan X yang bersifat volatile
diperoleh nilai = 120 g/mol. Hasil analisis menunjukkan bahwa senyawa
tersebut mengandung unsur karbon 10%, klor 89%, dan hidrogen 1%.
Tentukan rumus molekul senyawa tersebut.
Perbandingan antar unsur=
10 % 1 % 89 %
C : H : Cl = : :
Ar C Ar H Ar Cl
10 1 89
C : H : Cl = : :
12 1 35,5
C : H : Cl = 0,83 : 1 : 2,5
C : H : Cl = 1 : 1 : 3
(CHCl3)n = rumus empiris
Ar C x n + Ar H x n +3 Ar Cl n =120
12n+ 1n+3.35,5.n = 120
119,5n = 120
N = 1,008
jadi rumus molekulnya : CHCl3
DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Atastina Sri. 2003. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Fisika.
Laboratorium Dasar Proses Kimia: TGP FTUI.
Brady, James E. 1999. Kimia Universitas, Jilid 1, edisi kelima. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Halliday dan Resnick. 1978. Fisika Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Farrington, R.A., dan Daniels, A. 1992. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga
Keenan, C.W., Kleinfelter, D.C., dan Wood, J.H. 1980. Ilmu Kimia Untuk
Universitas. Jakarta: Erlangga.
Petrucci, R. H. 1985. Kimia Dasar Prinsipdan Terapan Modern. Jakarta:
Erlangga.
Respati. 1992. Dasar-Dasar Ilmu Kimia Untuk Universitas. Yogyakarta: Rineka
Cipta.
Stoker, H. S. 1993. Introduction to Chemical Principles. New York:
Macmillan Publishing Company.
Sukardjo. 1989. Kimia Fisik. Jakarta : PT. Rineka Cipta
Taba, P., Zakir, M., dan Fauziah, St. 2010. Penuntun Praktikum Kimia
Fisika. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Tim Dosen Kimia. 2008. Kimia Dasar. Makassar: UPT MKU Universitas
Hasanuddin.
Tim Kimia Fisika. 2014. Modul Praktikum Kimia Fisika 1. Padang : UNP
Lampiran
Foto alat dan pengamatan ketika praktikum