BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Peneliti terdahulu
2.1.1 Ikka Muldiana (2016) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Faktor-
faktor Yang Mempengaruhi Duplikasi Penomoran Rekam Medis Di
Rumah Sakit Atma Jaya 2016”
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai faktor-faktor yang
mempengaruhi duplikasi penomoran rekam medis di rumah sakit atma jaya
dengan menggunakan rancangan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif,
yaitu metode yang bertujuan mendeskripsikan atau memberi gambaran pada suatu
objek penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan cara wawancara dan
[Link] terjadinya duplikasi nomor rekam medis di rumah sakit atma
jaya dikarenakan kurangnya pemahaman petugas mengenai standart operating
procedure (SOP) penomoran pada pendaftaran pasien. Sebagian besar beban kerja
petugas tidak sesuai dengan pendidikan petugas rekam medis, karena sebagian
besar petugas adalah sarjana atau diploma namun dari sarjana atau diploma rekam
medis.
2.1.2 Lilis Fitrianingsih (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis
Faktor-faktor Penyebab Duplikasi Nomor Rekam Medis Tempat
Penerimaan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Daerah Balung Jember
Periode 2012”
Penelititian ini bertujuan untuk mengetahui factor-faktor penyebab
terjadinya duplikasi nomor rekam medis pasien rawat inap dirumah sakit daerah
balung jember dengan metode fishbone. Jenis penelitian yang digunakan adalah
deskriptif. Sampel pada peneliti ini yaitu 1 kepala rekam medis dan 3 petugas
penerimaan pasien rawat inap dengan instrument pedoman wawancara dan
observasi. Teknik penyajian data dalam penelitian ini yaitu texture dan
menggunakan teknik analisis kualitatif. Rumah sakit daerah balung jember sudah
ada Standart Operational Procedur (SOP) penomeran rekam medis. Berdasarkan
7
8
penelitian petugas pendaftran berjumlah 3 orang dan di bagi dalam 3 sift,
duplikasi nomor rekam medis disebabkan oleh beberapa factor yaitu terdapat pada
factor man meliputi: (jenis kelamin, pendidikan, beban kerja), methods
(pemahaman standart operasional procedure), material (kelengkapan sarana
prasarana). Rumah sakit daerah balung jember sebaiknya lebih memperhatikan
latar belakang pendidikan pegawai, perlu mengadakan pelatihan dan sosialisasi
standart operational procedur (sop) penomoran serta melengkapi sarana prasarana
pada penerimaan pasien rawat inap.
2.2 State Of The Art
Berdasarkan karya ilmiah diatas, maka Skripsi yang berjudul “Analisis Sistem
Penomoran Pasien Rawat Inap dan Rawat Jalan di Puskesmas Gladak Pakem Jember
Tahun 2017” memiliki persamaan dan perbedaan sebagai berikut :
No Materi Lilis Fitrianingsih Ikka Muldiana Diananda Wegi
(2013) (2016) Putri (2017)
1 Judul Faktor-faktor penyebab Analisis yang Analisis Sistem
terjadinya duplikasi di mempengaruhi aplikasi Penomoran Rawat
RSUD Balung Jember penomoran rekam Inap dan Rawat
2012 medis di rumah sakit Jalan Di Puskesmas
atma jaya 2016 Gladak Pakem
jember 2017
2 Tempat RSUD Balung Jember Rumah Sakit Atma Puskesmas Gladak
Penelitian Jaya Pakem
3 Metode Penelitian deskriptif penelitian rancangan Kualitatif dengan
kualitatif kualitatif dengan menggunakan teori
metode ABC
deskriptif
4 Objek Penomoran, petugas Penomoran dan Petugas Penomoran, Petugas
pendaftaran, SOP Pendaftaran Pendaftaran, Kartu
penomoran, dan KIB
sarana dan
prasarana dalam
pendaftaran pasien
rawat inap
9
2.3 Puskesmas
2.3.1 Pengertian Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan perseorangan tingkat
pertama dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk
mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah
kerjanya. (Kemenkes, 2014)
Tiga fungsi yang harus diperankan oleh Puskesmas, yaitu :
1. Puskesmas merupakan pusat penggerak pembangunan berwawasan
kesehatan
2. Puskesmas merupakan pusat pemberdayaan masyarakat
3. Puskesmas merupakan pusat pelayanan kesehatan individu dan pelayanan
kesehatan masyarakat (Bambang, 2010)
Peraturan Dinas Kesehatan jawa Timur mengenai standart puskesmas
menyebutkan bahwa Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) di Puskesmas
bagian rawat jalan terdiri dari penanggung jawab:
1. Poli Umum
2. Poli KIA/KB
3. Poli Gigi
4. Klinik Gigi
5. Ambulan
6. Unit Gawat Darurat
7. Radiologi
8. Laboratorium
9. Kamar Obat/ Apotik dan Gedung Oab
10. Puskesmas Keliling
Puskesmas Gladak Pakem berlokasi di Jl. Wolter Monginsidi No.25,
Kranjingan, Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur merupakan puskesmas
yang melayani layanan kesehatan masyarakat, khususnya melayani pasien yang
10
berada di wilayah Pakem dan daerah setempat yang masih masuk dalam wilayah
kabupaten Jember.
2.3.2 Tujuan Puskesmas
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75
tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat pasal 2, penyelenggaraan
pembangunan kesehatan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan msyarakat
yang :
a. memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat.
b. mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu
c. hidup dalam lingkungan sehat dan
d. memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat.
2.3.3 Tugas dan Fungsi Puskesmas
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75
tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat pasal 4, Puskesmas mempunyai
tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan
kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan
yang sehat. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana yang dimaksud dalam pasal
4, Puskesmas menyelenggarakan fungsi :
a. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya
b. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya
2.4 Rekam Medis
2.4.1 Pengertian Rekam Medis
Pengertian Rekam Medis (Kemenkes, 2008) adalah berkas yang
berisikan cacatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien
11
selama dirawat di rumah sakit atau sarana pelayanan kesehatan lainnya yang
dilakukan di unit-unit rawat jalan termasuk unit gawat darurat dan rawat inap.
2.4.2 Tujuan Rekam Medis
Menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya
peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tanpa didukung suatusistem
pengelolaan rekammedis yang baik dan benar, tidak akan tercipta tertib
administrasi rumah sakit sebagaimana yang diharapkan. Sedangkan tertib
administrasi merupakan salah satu faktor yang menetukan di dalam upaya
pelayanan kesehatan di rumah sakit (Depkes, 2006).Kegunaan Rekam Medis.
2.4.3 Kegunaan Rekam Medis
Menurut (Hatta, 2010) Kegunaan rekam medis dapat dilihat dari beberapa
aspek, antara lain:
1. Aspek Administrasi
Karena isi rekam medis menyangkut tindakan berdasarkan wewenang dan
tanggung jawab sebagai tenaga medis, para medis dan tenaga kesehatan
lainnya dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan
2. Aspek Medis
Karena catatan/rekaman tersebut di pergunakan sebagai dasar untuk
merencanakan pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada
seorang pasien
3. Aspek Hukum
Menyangkut masalah adanya jaminan kepastian hokum atas dasar
keadilan, dalam rangka usaha menegakkan hokum serta penyediaan bahan
tanda bukti untuk menegakkan keadilan
4. Aspek Keuangan
Mengandung data/informasi yang dapat dipergunakan sebagai dasar
pembiayaan.
5. Aspek penelitian
Menyangkut data/informasi yang dapat dipergunakan sebagai dasar
penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan
12
6. Aspek Pendidikan
Menyangkut data/informasi tentang perkembangan kronologis dan
kegiatan pelayanan medic yang diberikan kepada pasien. Informasi
tersebut dapat dipergunakansebagai bahan referensi penjajaran di bidang
kesehatan.
7. Aspek Dokumentasi
Menyangkut sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai
sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan rumah sakit.
2.4.4 Isi Rekam Medis
Menurut Formulir dan cara pengisisan rekam medis rawat jalan dan rawat
inap sesuai dengan permenkes 269/Menkes/Per/III/2008
1. Isi Rekam Medis rawat jalan sekurang kurangnya memuat:
a. Identitas pasien
b. Tanggal dan waktu
c. Hasil anamnesis, mencangkup sekurang-kurangnya keluhan dan
riwayat penyakit
d. Hasil Pemeriksaan fisik dan penunjang medic
e. Diagnosis
f. Rencana penatalaksanaan
g. Pengobatan dan/atau tindakan
h. Pelayanan lain yang telah diberikan
i. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik
j. Persetujuan tindakan bila diperlukan
2. Isi rekam medis rawat inap perawatan satu hari sekurang-kurangnya
memuat
a. Identitas pasien
b. Tanggal dan waktu
c. Hasil anamnesis, mencangkup sekurang-kurangnya keluhan dan
riwayat penyakit
d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medic
e. Diagnosis
13
f. Rencana penata laksanaan
g. Pengobatan dan/atau tindakan
h. Persetujuan tindakan bila diperlukan
i. Catatan observasi klinis dan hasil pengobatan
j. Ringkasan pulang (discharge summary)
k. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi, atau tenaga kesehatan
tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan.
l. Pelayanan lain yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu, dan
untuk pasien gigi di lengkapi dengan odontogram klinik
3. Isi rekam medis pasien gawat darurat, sekurang-kurangnya memuat:
a. Identitas pasien
b. Kondisi saat pasien tiba disarana pelayanan kesehatan
c. Identitas pengantar pasien
d. Tanggal dan waktu
e. Hasil anamnesis, mencangkup sekurang-kurangnya keluhan dan
riwayat penyakit
f. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik
g. Diagnosis
h. Pengobatan dan/atau tindakan
i. Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan unit
gawat darurat dan rencana tindak lanjut.
j. Nama atau tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan
tentang yang memberikan pelayanan kesehatan
k. Sarana transportasi yang digunakan bagi pasien yang akan di
pindahkan ke sarana pelayanan kesehatan lainnya
l. Pelayanan lain yang telah di berikan kepada pasien
2.4.5 Unit Rekam Medis
Unit rekam medis sebagai alah satu gerbang terdepan dalam pelayanan
kesehatan, dapat sebagai salah satu ukuran kepuasan pasien dalam menerima
pelayanan. Ruang lingkup unit rekam medis mulai dari penerimaan pasien sampai
dengan penyajian informasi kesehatan. Tugas unit rekam medis mulai dari
14
pengumpulan data, pemrosesan data, dan penyajian informasi kesehatan. Data
yang di kumpulkan berupa data sosial dan data medis. Data sosial didapatkan
ketika pasien mendaftar sebagai pasien, sedangkan data medis didapatkan setelah
pasien mendapat pemeriksaan dari tenaga kesehatan (Budi, 2011).
2.5 Penerimaan Pasien
2.5.1 Definisi Penerimaan pasien
Tempat penerimaan pasien merupakan gerbang pelayanan pertama di
suatu fasilitas pelayanan [Link] fasilitas yang mendukung, petugas
penerimaan pasien harus menguasai alur pasien, alur berkas rekam medis, dan
prosedur penerimaan pasien, sehingga petugas dapat memberikan pelayanan dan
informasi yang cepat dan tepat. Alur pasien menggambarkan tentang bagan,
tahapan, pelayanan, dari awal pasien datang sampai pelayanan berakhir atau
pulang dari suatu fasilitas pelayanan [Link] penerimaan pasien terdiri
dari beberapa subsistem, yaitu subsistem penerimaan pasien rawat jalan, rawat
darurat dan rawat inap.
a. Pasien Rawat Jalan
Pelayanan rawat jalan adalah pelayanan yang diberikan kepada pasien
yang tidak mendapatkan pelayanan rawat inap difasilitas pelayanan kesehatan.
Kegiatan penerimaan pasien, sebaiknya prosedur diletakkan di tempat yang
mudah dibaca oleh petugas penerimaan pasien. Hal ini dilakukan untuk
mengontrol pekerjaan yang telah dilakukan sehingga pekerjaan yang dilakukan
dapat konsisten dan sesuai aturan.
b. Pasien rawat Inap
Penerimaan pasien rawat inap adalah penerimaan pasien untuk
mendapatkan pelayanan lanjutan setelah mendapatkan surat pengantar dirawat
dari pihak yang berwenang. Dalam hal ini pihak yang member surat pengantar
adalah dokter dari klinik atau pelayanan rawat darurat di fasilitas pelayanan
kesehatan yang lain.
15
c. Pasien Gawat Darurat
Pasien rawat darurat merupakan pasien yang datang ke tempat penerimaan
pasien rawat darurat yang dibuka selama 24 jam pelayanan,disini pasien ditolong
terlebih dahulu setelah itu kemudian menyelesaikan administrasinya. Pasien yang
diterima di pelayanan rawat darurat berasal dari rujukan fasilitas pelayanan
kesehatan atau pasien datang sendiri. Pasien rujukan adalah pasien yang dikirim
atau diambil dari fasilitas pelayanan kesehatan yang lain untuk dirawat di fasilitas
pelayanan kesehatantersebut disertai surat permintaan merawat dari fasilitas
pelayanan kesehatan yang meminta merujuk pasien. Sedangkan yang dimaksud
dengan pasien datang sendiri adalah pasien yang datang ke fasilitas pelayanan
pelayanan kesehatan tanpa adanya surat pengantar dari fasilitas pelayanan
kesehatan yang lain.
Kegiatan pelayanan disetiap bagian (penerimaan rawat jalan, rawat
darurat, dan rawat inap) harus dicatat dalam sebuah register. Register ini
merupakan bukti kinerja yang telah dilkukan di masing-masing bagian. Register
yang berada pada tempat penerimaan pasien disebut dengan register penerimaan
pasien. (Budi, 2011)
2.5.2 Sistem penomoran
Menurut (Budi, 2011) Sistem penomoran dalam pelayanan rekam medis
yaitu tata cara penulisan nomor yang diberikan kepada pasien yang datang berobat
sebagai bagian dari identitas pribadi pasien yang bersangkutan. Sistem penomoran
terbagi menjadi 3 sistem penomoran yaitu :
a. Pemberian Nomor Unit (Unit Numbering System)
Pada sistem ini setiap pasien yang berkunjung ke fasilitas pelayanan
kesehatan akan mendapatkan satu nomor rekam medis (berkas rekam medis)
ketika pasien tersebut pertama kali datang dan tercatat sebagai pasien di
fasilitas pelayanan kesehatan tersebut.
Kekurangan menggunakan unit numbering sistem adalah untuk pelayanan
pasien lama akan lebih lama dibanding dengan sistem penomoran seri. Hal ini
karena pada pasien lama akan dicarikan berkas rekam medisnya yang lama
setelah ketemu baru pasien akan mendapatkan pelayanan.
16
b. Pemberian Nomor Seri (Serial Numbering Sistem)
Pada sistem ini, petugas pendaftaran memberikan nomor baru (berkas
baru) pada setiap kali pasien datang berkunjung ke fasilitas pelayanan
kesehatan.
Kekurangan menggunakan serial numbering sistem adalah untuk pasien
lama tidak perlu membutuhkan waktu untuk mencari berkas rekam medis
sebelumnya, karena 1 pasien dapat memperoleh lebih dari 1 nomor rekam
medis (berkas), informasi pelayanan yang pernah disapatkan pasien menjadi
tidak berkesinambungan sehingga dapat merugikan pasien.
c. Pemberian Nomor Seri Unit (Serial Unit Numbering Sistem)
Sistem ini merupakan perpaduan antara sistem seri dan unit yaitu dengan
memberikan nomor baru (berkas rekam medis baru) kepada seluruh pasien
yang berkunjung tetapi kemudian untuk pasien lama akan dicarikan berkas
rekam medisnya.
Kekurangan menggunakan Seri Unit Numbering Sistem adalah petugas
akan mencari berkas pasien lama dan menggabungkan dengan berkas yang
baru. Informasi klinis pada saat pelayanan tidak disertakan, sehingga petugas
pelayanan tidak dapat melihat pelayanan yang telah diberikan kepada pasien
pada kunjungan sebelumnya.
2.6 Duplikasi
Berdasarkan penelitian (Rokaiyah & Setijaningsih, 2015) duplikasi nomor
rekam medis adalah satu nomor rekam medis ganda yang dimiliki pasien maupun
satu nomor rekam medis dimiliki oleh beberapa pasien.
Duplikasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah
perangkapan,perulangan, dan keadaan merangkap. Penyebab adanya duplikasi
nomor rekam medis dengan nama pasien yang berbeda dikarenakan kurangnya
petugas admisi menanyakan informasi pasien, keterbatasan jumlah petugas,
kurang telitinya petugas pendaftaran, dan proses identifikasi yang kurang tepat
17
sehingga menyebabkan seorang pasien mendapat lebih dari satu nomor rekam
medis (Muldiana & Widjaja, 2016)
2.7 Perilaku
2.7.1 Definisi Perilaku
Skinner (1938) perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap
stimulus (rangsangan dari luar). Dengan demikian perilaku manusia terjadi
melalui proses: Stimulus Organisme Respons, sehingga teori
Skin-ner ini disebut teori “ S-O-R” (stimulus-organisme-respon). Berdasarkan
teori “S-O-R” tersebut, maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi
dua, yakni”
a. Perilaku Tertutup (covert behavior)
Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih
belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respons seseorang masih
terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap
terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk “unobservable
behavior”atau“covert behavior” yang dapat diukur adalah pengetahuan dan
sikap.
b. Perilaku terbuka (Overt Behavior)
Perilaku terbuka ini terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut sudah
berupa tindakan atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar atau
“observable behavior”.(Notoatmodjo, 2007).
2.7.2 Faktor Pembentuk perilaku
Perilaku terbentuk didalam diri seseorang dari dua faktor yakni stimulus
merupakan faktor dari luar diri seseorang tersebut (faktor eksternal), dan respon
yang merupakan faktor dari dalam diri seseorang yang bersangkutan (faktor
internal). Faktor eksternal atau stimulus adalah merupakan faktor lingkungan,
baik lingkungan fisik, dan non fisik dalam bentuk sosial, budaya, ekonomi, politik
dan [Link] penelitian-penelitian yang sudah ada faktor eksternal
yang paling besar perannya dalam membentuk perilaku manusia adalah faktor
social budaya dimana seseorang tersebut [Link] faktor internal yang
menetukan seseorang itu merespon stimulus dari luar adalah perhatian,
18
pengamatan, persepsi, motivasi, fantasi, sugesti dan sebagainya (Notoatmodjo,
2014).
2.7.3 Domain Perilaku
Meskipun perilaku dibedakan antara perilaku tertutup (covert), dan
perilaku terbuka (overt) seperti telah di uraikan sebelumnya, tetapi sebenarnya
perilaku adalah totalitas yang terjadi pada orang yang bersangkutan. Dengan
perkataan lain, perilaku adalah keseluruhan (totalitas) pemahaman dan aktivitas
seseorang yang merupakan hasil bersama antara faktor internal dan faktor
eksternal. Perilaku seseorang adalah sangat kompleks, dan mempunyai bentangan
yang sangat luas. Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan,
membedakan adanya 3 ares, wilayah, ranah atau domain perilaku ini, yaitu
kognitif (cognitive), afektif (affective), dan psikomotor (psychomotor). Kemudian
oleh ahli pendidikan di Indonesia, ke tiga domain ini diterjemahkan ke dalam
cipta (kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotor), atau peri cipta, peri rasa,
peri tindak.
Dalam pengembangan selanjutnya, berdasarkan pembagian domain oleh
Bloom ini, dan untuk kepentingan pendidikan praktis, dikembangkan menjadi 3
tingkat ranah perilaku sebagai berikut:
1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan
sebaginya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan
pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh instensitas perhatian dan persepsi
terhadap objek. Secara garis besarnya dibagi menjadi 6 tingkat pengetahuan,
yaitu:
a. Tahu (know)
Tahu adanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
b. Memahami (comprehension)
19
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak
sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat
menginterprestasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang
dimaksud dapat menggunakan atau meng-aplikasikan prinsip yang
diketahui tersebut pada situasi yang lain.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen
yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi
bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis
adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan,
mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas
objek tersebut.
e. Sintesi (synthesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau
meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen
pengertahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi
yang telah ada.
2.8 Teori Perilaku “ABC” Sulzer, Azarof,Mayer
Teori ABC atau lebih dikenal dengan metode ABC ini mengungkapkan
bahwa perilaku adalah merupakan suatu proses dan sekaligus hasil interaksi
antara: AntacedenBehaviorConcequencest (Notoadmodjo, 2014)
ANTECEDENT-BEHAVIOR-COSEQUENCES
GAMBAR 2.1 ABC model (Notoadmodjo, 2014)
20
2.8.1 Antecedent
Suatu pemicu (trigger) yang menyebabkan seorang berperilaku, yakni
kejadian dilingkungan kita. Antecedent ini dapat berupa alamian (hujan, angina,
cuaca, dan sebagainya), dan buatan manusia atau “man made” (interaksi dan
komunikasi dengan orang lain).
a. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi
melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang
sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).
b. Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang
terhadap stimulus atau objek. Newcomb, salah seorang ahli psikologis sosial,
menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak,
dan bukan merupakan pelaksaan motif tertentu. Sikap belum merupakan
pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau
aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku (Soekidjo
Notoatmodjo, 2007)
c. Persepsi
proses yang digunakan individu untuk mengelola dan menafsirkan kesan
indera mereka dalam rangka memberikan makna kepada lingkungan mereka.
Meski demikian, apa yang dipersepsikan seseorang dapat berbeda dari
kenyataan obyektif. Tidak selalu berbeda, namun sering terdapat ketidak
sepakatan (Sito Meiyanto, 2012)
2.8.2 Behavior
Reaksi atau tindakan terhadap adanya “antecedent” atau pemicu tersebut
yang berasal dari lingkungan.
21
a. SOP
Pedoman yang berisi prosedur-prosedur operasional yang ada dalam suatu
organisasi yang digunakan untuk memastikan, bahwa semua keputusan dan
tindakan serta penggunaan fasilitasfasilitas proses yang dilakukan oleh orang-
orang di dalam organisasi berjalan secara efektif, konsisten, standard dan
sistematis.
b. Pelatihan
Upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pelatihan
membantu karyawan dalam memahami suatu pengetahuan praktis dan
penerapannya, guna meningkatkan keterampilan, kecakapan, dan sikap yang
diperlukan oleh organisasi dalam usaha mencapai tujuan. Pelatihan berkaitan
dengan keahlian dan kemampuan pegawai untuk melaksanakan pekerjaan saat ini.
Pelatihan memiliki orientasi saat ini dan membantu pegawai untuk mencapai
keahlian dan kemampuan tertentu agar berhasil dalam melaksanakan
pekerjaannya
2.8.3 Concequences
Kejadian selanjutnya yang mengikuti perilaku atau tindakan tersebut
(konsequensi) (Notoadmodjo, 2014)
Consequence ialah sesuatu yang mengikuti perilaku atau dengan kata lain
akibat dari perilaku yang dilakukan (Anonim, 2010)
a. Reward
Reward yaitu ganjaran, hadiah atau memberi penghargaan. Hadiah adalah
sesuatu yang menyenangkan yang diberikan setelah seseorang melakukan
tingkah laku yang diinginkan. Tujuan reward adalah membangkitkan atau
mengembangkan minat.
b. Punishment
Punisment (hukuman) adalah suatu perbuatan, dimana kita secara sadar
dan sengaja menjatuhkan nestapa kepada orang lain, yang baik dari segi
kejasmanian maupun dari segi kerohanian orang lain itu mempunyai
kelemahan bila dibandingkan dengan diri kita. Suatu hukuman itu pantas,
22
bilamana nestapa yang ditimbulkan itu mempunyai nilai positif, atau
mempunyai nilai paedagogis.
2.8.4 Pengukuran dan Indikator Perilaku Kesehatan
Seperti telah diuraukan sebelumnya, bahwa perilaku mencangkup 3
domain, yakni: pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan tindakan atau
praktik (practice). Oleh sebab itu, mengukur perilaku dan perubahannya,
khususnya perilaku kesehatan juga mengacu kepada 3 domain tersebut. Secara
rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Pengetahuan kesehatan (health knowledge)
Pengetahuan tentang kesehatan adalah mencangkup apa yang
diketahui oleh seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan.
Oleh sebab itu untuk mengukur pengetahuan kesehatan dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung (wawancara) atau
melalui pertanyaan-pertanyaan tertulis atau angket. Indikator
pengetahuan kesehatan adalah “tingginya pengetahuan” responden
tentang kesehatan, atau besarnya persentase kelompok responden atau
masyarakat tentang variabel-variabel atau komponen-komponen
kesehatan
b. Sikap terhadap kesehatan (health attitude)
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun
tidak langsung. Pengukuran sikap secara langsung dapat dilakukan
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang stimulus atau
objek yang bersangkutan. Misalnya: bagaimana pendapat responden
tentang imunisasi pada anak balita, bagaimana pendapat responden
tentang keluarga berencana, dan sebaginya. Pertanyaan secara
langsung juga dapat dilakukan dengan cara memberikan pendapat
dengan menggunakan kata “setuju” atau “tidak setuju” terhadap
pernyataan–pernyataan terhadap objek tertentu, dengan menggunakan
skala Lickert.
Misalnya: beri pendapat anda tentang pernyataan-pernyataan di
bawah ini dengan memberikan penilaian sebagai berikut:
23
5 : Bila sangat setuju
4 : Bila Setuju
3 : Bila biasa saja
2 : Bila tidak setuju
1 : Bila sangat tidak setuju
Sikap juga dapat diukur dari pertanyaan-pertanyaan secara tidak
langsung, misalnya:
1. Apakah anda diundang untuk mendengarkan ceramah tentang
Napza, apakah anda mau hadir?
2. Seandainya akan dibangun Polindes di desa ini, apakah anda
mau membantu dana?, dan sebagainya.
c. Praktek kesehatan (health practice)
Praktek kesehatan atau tindakan untuk hidup sehat adalah semua
kegiatan atau aktivitas orang dalam rangka memelihara kesehatan.
Pengukuran atau cara mengamati perilaku dapat dilakukan melalui
dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pengukuran
perilaku yang paling baik adalah secara langsung, yakni dengan
pengamatan (observasi), yaitu mengamati tindakan subjek dalam
rangka memelihara kesehatan.
24
2.9 Kerangka Konsep
Berdasarkan permasalahan yang terdapat pada latar belakang serta tinjauan
pustaka, maka kerangka konsep penelitian sebagai berikut :
Antecenden Behavior Concequences
a. Pengetahuan a. Pelatihan a. Punishmen
b. Sikap b. SPO b. Reward
c. Persepsi
Analisis Sistem Penomoran
rawat jalan dan rawat inap di
Puskesmas Gladak Pakem
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
Kerangka konsep menjelaskan bahwa penyebab terjadinya duplikasi
nomor rekam medis rawat inap dan rawat jalan adalah perilaku petugas
pendaftaran pasien rawat jalan dan pasien rawat inap. Teori yang digunakan
adalah teori ABC (Antacedent, Behavior, Concequnces).
A. Antecedent,
Suatu pemicu yang menyebabkan seseorang berperilaku yakni meliputi
pengetahuan dan sikap. Pengetahuan yang kurang tentang penomoran
membuat petugas kurang memahami sistem penomoran, sikap petugas
yang kurang teliti dalam bertugas dan persepsi petugas terhadap adanya
sistem penomoran pendaftaran
B. Behavior
Reksi atau tindakan terhadap adanya “antecedent” atau pemicu tersebut
yang berasal dari lingkungan yaitu pembuatan SPO (Standart Procedure
Operational) untuk di jadikan pedoman tentang penomoran dikarenakan
25
di puskesmas Gladak Pakem tidak memiliki SPO tentang penomoran
berkas rekam medis dan adanya pelatihan untuk meningkatkn
pengetahuan dan sikap petugas pendaftaran agar wawasan lebih luas.
C. Concequences
Kejadian selanjutnya yang mengikuti perilaku atau tindakan tersebut
(concequences) yaitu petugas pendaftaran rawat jalan dan rawat inap
akan mendapat teguran dari petugas lainnya, seperti perawat yang
melayani pasien dan (reward) akan mendapatkan pujian jika petugas
pendaftaran bekerja dengan baik.
Berdasarkan beberapa faktor identifikasi sistem penomoran rekam
medis sehingga mengakibatkan terjadinya duplikasi nomor rekam medis dan
melakukan upaya penyusunan sistem penomoran rawat jalan dan rawat inap
(Notoadmodjo, 2014)