Optimalisasi Tata Letak Adiputro
Optimalisasi Tata Letak Adiputro
II. TINJAUAN PUSTAKA maka tata letak tersebut akan sia-sia. Berikut merupakan
faktor-faktor yang mempengaruhi ongkos material handling
A. Pengertian Tata Letak Pabrik
[3].
Tata letak pabrik dapat diartikan sebagai tata cara 1) Alat-alat yang digunakan
pengaturan fasilitas-fasilitas fisik dari suatu pabrik baik jasa Dalam suatu perusahaan yang besar alat yang digunakan
maupun manufaktur yang bertujuan untuk menunjang dalam pemindahan material seperti, forklift, crane, truck,
kelancaran dari proses produksi tersebut. Pengaturan kembali conveyor, handtruck, dan sebagainya.
tata letak suatu pabrik untuk memanfaatkan luas area, 2) Jarak yang ditempuh
penempatan mesin ataupun fasilitas lain yang akan digunakan, Untuk pengukuran jarak dapat digunakan metode-metode
kelancaran gerakan perpindahan material, penyimpanan pengukuran jarak yang ada dan disesuaikan dengan
material baik yang sementara ataupun permanen, para pekerja masalah tata letak yang dihadapi oleh perusahaan.
dan sebagainya [1]. 3) Biaya-biaya pendukung
Tujuan dari tata letak pabrik adalah untuk mengatur area Biaya yang dimaksud adalah seperti upah tenaga kerja,
tempat bekerja dan fasilitas-fasilitas yang ekonomis untuk biaya alat pengangkutan serta biaya perawatan dari alat
operasi proses produksi yang aman dan nyaman sehingga yang digunakan.
dapat meningkatkan produktivitas dari pekerja. 4) Frekuensi dan beban berat bahan
B. Peta Proses Operasi Hal yang dibutuhkan juga adalah frekuensi serta berat
beban yang diangkut oleh alat angkut dari satu fasilitas ke
Peta proses operasi atau yang lebih dikenal dengan
fasilitas lainnya.
operation process chart akan menunjukkan langkah-langkah
Berikut merupakan rumus perhitungan ongkos material
yang lebih mudah dipahami yang didalamnya terdapat semua
handling [4]:
proses operasi, inspeksi, waktu longgar dan bahan baku yang
digunakan didalam suatu proses manufaktur yaitu mulai dari
Total OMH = biaya peralatan/hari + gaji tenaga kerja/hari
kedatangan sampai pada proses penyimpanan atau pengiriman 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑂𝑀𝐻
[2]. OMH/m/hari =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘
Peta proses ini akan melukiskan bagaimana operasi dari
seluruh komponen dan sub assembly sampai menuju main E. Activity Relationship Chart
assembly. Untuk pembuatan sebuah peta proses operasi Aliran bahan dapat diukur dengan metode kualitatif
menggunakan simbol-simbol yang memiliki artinya masing- menggunakan tolak ukur seperti derajat kedekatan antar satu
masing. fasilitas dengan fasilitas yang lainnya. Dalam menentukan
derajat kedekatan kita harus mempertimbangkan alasan-alasan
C. From to Chart yang mendasari pembuatan suatu activity relationship chart
From to chart seringkali disebut sebagai trip frequency [5]. Berikut merupakan contoh pembuatan ARC:
chart dimana ini merupakan suatu metode konvensional yang
digunakan secara umum untuk perencanaan tata letak pabrik
dan pemindahan dalam suatu proses produksi. Teknik seperti
ini berguna untuk memudahkan dalam menentukan berapa
besar frekuensi yang dilakukan. Melalui frekuensi yang akan
didapatkan maka akan didapatkan suatu data untuk
menghitung ongkos material handling yang diperlukan[2].
Berikut merupakan prosedur pembuatan from to chart:
1) Mengumpulkan data “volume of handling” dan langkah-
langkah yang harus dilalui dalam proses produksi.
2) Berdasarkan data-data tersebut kemudian dibuatlah
“travel chart” berdasarkan jumlah ukuran handling
volume dengan asumsi bahwa jarak perpindahan bahan
disini untuk sementara adalah sama.
3) Buatlah tata letak pabrik secara awal dengan memakai
dasar volume travel chart dengan sebaik-baiknya.
4) Buatlah suatu “distance volume chart” dari preliminary
layout yang telah ditetapkan.
5) Melakukan peninjauan terhadap titik-titik kritis pada
volume distance chart dan penyimpangan dari basic flow
path.
Gambar 1. Activity Relationship Diagram [6]
D. Material Handling
F. Metode Pengukuran Jarak
Dalam sebuah perancangan tata letak hal yang paling
diperhatikan adalah bagaimana cara penanganan material Dalam mengukur suatu jarak dalam penentuan tata letak
handling yang baik. Apabila perancangan tata letak tidak fasilitas digunakan banyak metode pengukuran diantaranya
diimbangi dengan penanganan ongkos perpindahan material adalah sebagai berikut [7],
3
1) Euclidean Mulai
fasilitas lainnya yang dihitung berdasarkan nilai terbesar Analisis Pemilihan Tata
diantara jarak sumbunya. Letak Usulan
G. Algoritma CRAFT
Computerized Relative Allocation of Facilities Technique Gambar 2. Diagram Alir Metodologi Penelitian
atau CRAFT merupakan salah satu simbol dari algoritma tata Setiap tahap dalam penelitian dilakukan sesuai dengan
letak fasilitas yang ada yang dijalankan dengan bantuan metodologi yang telah ditentukan, yaitu sebagai berikut:
komputer. CRAFT merupakan suatu program perbaikan yang A. Pengamatan Pendahuluan
mencari perancangan secara optimum dengan melakukan
Sebelum melakukan penelitian, penulis melakukan
perhitungan secara bertahap dengan beberapa iterasi yang ada
pengamatan pada area proses produksi yang ada pada PT.
[2]. Salah satu aplikasi yang digunakan dalam pembuatan tata
letak dengan metode CRAFT adalah WinQSB 2.0. Adiputro Wirasejati Malang. Penulis melakukan observasi
Software QSB (Quantity System for Business) atau yang dengan ditemani oleh karyawan maintenance yang
lebih dikenal dengan WinQSB merupakan software yang menjelaskan semua alur produksi serta kondisi mesin di area
mengandung algoritma problem solving untuk riset operasi produksi.
dan untuk ilmu manajemen lainnya. Salah satunya terdapat B. Mengidentifikasi dan Merumuskan Masalah
facility location and layout yang meliputi algoritma untuk
mendesain dan menata layout dari suatu tempat ataupun Setelah melakukan pengamatan selama kurang lebih 2
pabrik dengan memperhatikan material handling, stasiun minggu, penulis mencoba mengidentifikasi masalah apa yang
kerja, kondisi lingkungan kerja dan faktor lainnya [8]. dialami oleh perusahaan terutama pada area produksi.
Berdasarkan hasil pengamatan, penulis melihat suatu masalah
terhadap penanganan material handling. Luas pabrik yang
III. METODE PENELITIAN lebih dari 7 Ha mengakibatkan jarak perpindahan material
Penulisan ini dilakukan setelah melakukan penelitian cukup jauh sehingga lokasi gudang dan departemen yang
kerja praktek pada PT. Adiputro Wirasejati Malang, Jawa berjauhan mengakibatkan pemborosan ongkos material
Timur. Adapun langkah pemecahan masalah yang diterapkan handling dan menganggu proses produksi yang sedang
secara umum seperti pada flowchart berikut. berjalan.
C. Studi Pustaka
Untuk mencari tahu bagaimana cara menangani masalah
yang ada dan mempermudah proses penelitian, maka
diperlukan studi pustaka untuk menentukan data-data yang
perlu diambil dan bagaimana metode yang tepat dalam
penyelesaian masalah yang ada sehingga penulis dapat
mengetahui tujuan apa yang harus dicapai. Studi pustaka yang
4
memudahkan kita untuk mengetahui letak tiap departemen dan dari pembuatan suatu produk. Proses tersebut nantinya akan
gudang. disajikan dalam bentuk Operation Process Chart (OPC)
sehingga memudahkan penulis dalam memahaminya. Melalui
peta ini kita dapat melihat:
1) Operasi yang akan dilakukan pada tiap departemen.
2) Lama proses pengerjaan di tiap departemen.
3) Urutan proses produksi pembuatan Bus.
4) Menunjukkan hubungan yang terjadi antar departemen.
Peta proses operasi pada karoseri bus PT. Adiputro
Wirasejati Malang dapat dilihat pada gambar 4.2.
PRESS SHOP &
ABS INTEGRAL SUB ASSY PERAKITAN
PEMERIKSAAN
I-1 KOMPONEN LAYAK
PERAKITAN
PAKAI O-3
RANGKA BODY
PEMASANGAN
O-5 BODY BUS
(PANELLING)
PENDEMPULAN
O-6
BODY BUS
PEWARNAAN BODY
O–7
I–2 BUS
euclidean.
Tabel 2 Titik Koordinat Departemen/Gudang STORAGE
Titik Kordinat
Kode Departemen/Gudang Gambar 4. Peta Proses Operasi
X Y
1 Gudang Bus 105 20
C. Pembuatan Peta Keterkaitan Proses Kegiatan
2 Gudang Kain & Cat 115 35
Dalam perancangan sebuah layout yang baru tingkat
3 Gudang Komponen 100 55
keterkaitan kegiatan merupakan suatu hal yang perlu
4 Gudang WIP 20 65
diperhatikan karena melalui tingkat keterkaitan kita dapat
5 Gudang Pipa & Kaca 70 95
mengetahui bagaimana keterkaitan antar satu
6 ABS & Integral 15 40
departemen/gudang. Berdasarkan hasil analisis dari penulis,
7 Fiber 20 170 tingkat keterkaitan kegiatan ditentukan karena suatu alasan
8 Dies Shop 50 95 yang mengharuskan mereka untuk didekatkan atau tidak.
9 Press Shop 50 65 Setelah melakukan suatu kajian, maka tingkat keterkaitan
A Sub Assy Bus 80 170 kegiatan dapat ditentukan berdasarkan faktor dan dan dibuat
B Rangka Bus 55 135 kedalam bentuk ARC berdasarkan tabel derajat kepentingan
C Panelling Bus 90 135 berikut.
D Putty Bus 115 150 Tabel 3 Tabel Derajat Kedekatan
E Painting Bus 140 150 Code Tingkat Kedekatan Code Tingkat Kedekatan
F Trimming Bus 170 150
A Mutlak Didekatkan O Biasa Didekatkan
G Finishing Bus 185 95
H Mekanik 190 135 E Khusus Didekatkan U Tidak Perlu
I Engineering 20 95 I Penting X Tidak Boleh
B. Pembuatan Peta Proses Operasi Pembuatan Bus Berdasarkan tabel di atas dapat dijadikan acuan dalam
Dalam merancang suatu layout yang baru, maka langkah membuat suatu ARC sebagai berikut,
yang diperlukan adalah dengan mengetahui bagaimana proses
6
Dari hasil perhitungan jarak rectilinear didapati bahwa Perhitungan yang sama juga berlaku kepada semua
jumlah total jarak dengan pengukuran rectilinear adalah gudang dan departemen sehingga dengan bantuan Microsoft
3.903.804 m. Hal ini dapat dikatakan wajar mengingat ukuran excel diperoleh hasil. Besarnya nilai dari OMH ditentukan
pabrik yang memiliki luas mencapai 7 Ha. dengan mengalikan Omh/m/hari dengan total jarak rectilinear.
2) Perhitungan Jarak Euclidean Hasil perhitungan total OMH adalah sebagai berikut,
Untuk menghitung jarak antar departemen dan gudang Tabel 6. Total OMH jarak rectilinear
menggunakan pengukuran euclidean maka digunakan rumus Dari
Omh/m/hari
Total
OMH (Rp)
– Ke Jarak
sebagai berikut.
1–F
Jarak Euclidean = {[(Xi - Xj)2 + (Yi – Yj)2]}1/2 124.40 55.250 6.873.100
Berdasarkan rumus tersebut maka untuk pengukuran 2–7 69.14 2.760 190.813,94
jarak yang pertama adalah 2–D 69.14 5.750 397.529,03
Jarak 1 – F = {[(105 – 170)2 + (20 – 150)2]}1/2
Jarak 1 – F = 145,34 Meter 2–E 69.14 7.000 483.948,39
Dengan cara yang sama maka dapat diterapkan ke semua 2–F 69.14 13.600 940.242,58
jarak antar departemen dan gudang sehingga melalui
3–A 26.15 40.635 1.062.801,87
pengolahan di Microsoft excel mendapatkan hasil perhitungan
jarak euclidean. Sama halnya dengan metode pengukuran 3–B 26.15 37.500 980.806,45
sebelumnya, jarak antar departemen dan gudang yang telah 3–C 26.15 27.000 706.180,65
dihitung di atas, maka dengan rumus jarak x frekuensi maka
3–F 26.15 37.125 970.998,39
didapatkan jarak total perpindahan menggunakan metode
pengukuran jarak euclidean adalah sebagai berikut, 3–H 26.15 85.680 2.240.946,58
Dari hasil perhitungan jarak euclidean diketahui bahwa 4–A 58.15 472.500 27.478.161,29
jumlah total jarak dengan pengukuran euclidean adalah
4–C 58.15 525.000 30.531.290,32
3.407.000 m. Berdasarkan hasil yang didapat dari kedua
pengukuran jarak ini, maka data total jarak akan digunakan 5–A 50.97 212.500 10.830.645,16
untuk menghitung total ongkos perpindahan material. Total 5–B 50.97 343.750 17.520.161,29
jarak ini juga nantinya akan digunakan sebagai bahan
5–F 58.15 34.875 2.028.150
perbandingan dengan tata letak usulan yang akan dicari
menggunakan CRAFT. 5–I 26.15 12,5 326,94
merupakan hasil perhitungan OMH tiap kendaraan: A–B 58.15 75.000 4.361.612,90
Tabel 5. Biaya OMH A–C 58.15 22.500 1.308.483,87
Kendaraan/Alat Biaya (Rp)
B–C 24.81 157.500 3.908.032,26
Forklift Truck 129.200
Truck 193.600 C–D 24.81 200.000 4.962.580,65
Total OMH = biaya peralatan/hari + gaji tenaga kerja/hari I–B 58.15 187.5 10.904,03
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑂𝑀𝐻
OMH/m/hari = I–C 58.15 44 2.558,81
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘
Untuk perhitungan dari gudang bus ke trimming bus I–6 58.15 43.75 2.544,27
dengan menggunakan bus dan dikerjakan oleh 2 orang pekerja I–7 24.81 0 0
mendapatkan hasil sebagai berikut: Total 175.302.182,2
Total OMH = Rp. 193.600 + (3 x Rp.96.150)
= Rp. 482.050
OMH/m/hari = Rp. 124,4 Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka didapatkan
hasil total OMH tata letak awal dengan pengukuran rectilinear
8
dengan menggunakan bus dan dikerjakan oleh 2 orang pekerja F–G 31,21 356.304,8 11.121.855,42
mendapatkan hasil sebagai berikut:
H–B 31,21 303.750 9.481.386,14
Total OMH = Rp. 193.600 + (3 x Rp.96.150)
= Rp. 482.050 I–B 73,16 132,8768 9.721,05
didapatkan ongkos material handling dalam satuan meter per TOTAL OMH 176.844.846
hari. Data tersebut yang nantinya akan digunakan untuk
menghitung besar dari total OMH dengan metode pengukuran Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka didapatkan
jarak euclidean. Besarnya nilai dari OMH ditentukan dengan hasil total OMH tata letak awal dengan pengukuran euclidean
mengalikan Omh/m/hari dengan total jarak euclidean. Hasil adalah sebesar Rp. 176.844.846. Artinya dalam satu hari
perhitungan total OMH adalah sebagai berikut: kegiatan produksi berlangsung, biaya yang dikeluarkan oleh
Tabel 7. Total OMH jarak euclidean perusahaan dalam memindahkan material adalah sebanyak
Dari –
Ke
Omh/m/hari Total Jarak OMH (Rp) Rp. 176.844.846.
1–F 156,49 41.180,92 6.444.576v,39
Berdasarkan total OMH dari kedua perhitungan dengan
metode jarak yang berbeda, didapati bahwa ongkos material
2–7 86,97 1.980,909 172.283,41
handling dari perusahaan sangat besar. Apabila tidak
2–D 86,97 5.750 500.088,44 dilakukan suatu perbaikan tata letak maka laba yang diterima
oleh perusahaan tidak optimal karena terjadi pembengkakan
2–E 86,97 5.884,301 511.768,87
anggaran pada penanganan material handling.
2–F 86,97 10.198,04 886.942,86
A
Office
A D E
dan OMH dalam satu hari proses produksi menggunakan 2
10'-0"
200 sq. ft. 25 sq. ft.
PIPA
SUB ASSY SUB ASSY PUTTY BUS PAINTING BUS
&KACA metode pengukuran jarak yaitu untuk jarak rectilinear jarak
F
TRIMMING BUS
yang ditempuh sejauh 3.903.804 m dan membutuhkan OMH
sebesar Rp. 175.302.182 dan untuk jarak euclidean jarak yang
Office
6 sq. ft.
75 sq. ft.
sebesar 509.143 m dari tata letak awal dan -305.283 m untuk
H DEPARTEMEN
I
ENGINEERING
Office
50 sq. ft.
4
GUDANG WIP
MEKANIK
Office
19 sq. ft.
MINIBUS G
FINISHING BUS
perhitungan euclidean. Selanjutnya untuk ongkos material
Office
50 sq. ft.
Office
13 sq. ft.
handling juga mengalami penurunan sebesar Rp. 27.464.715,2
8
untuk perhitungan rectilinear dan Rp. 13.350.835 untuk
9 Office
75 sq. ft.
K
DEPARTEMEN
B. Pada pengembangan selanjutnya, diharapkan untuk
MINIBUS
2
GUDANG
Office
93 sq. ft.
Office
menganalisis pengaturan tata letak pada seluruh departemen
KAIN &
CAT
264 sq. ft.
yang berproduksi termasuk minibus. Pada pengembangan
Office
20 sq. ft.
6
ABS & INTEGRAL selanjutnya juga, penulis mengharapkan agar membuat
1
K
DEPARTEMEN
rancangan untuk seluruh area yang mencakup kantor dan
GUDANG BUS
Office
MINIBUS
tempat parkir.
34 sq. ft.