Process Control
Proses kontrol perlu diperhatikan guna memberikan hasil proses yang baik serta
menghemat biaya produksi. Tujuan dari kontrol pada pemprosesan adalah mampu
menghasilkan kualitas produk yang baik, biaya produksi yang lebih murah, peningkatan
keselamatan personil dan peralatan serta pengurangan polusi lingkungan dari bahan
limbah hasil proses. Berikut ini terdapat bebrapa process control, yaitu:
1. Flow Controller (FC)
Flow control digunakan untuk mengatur aliran. Pada gambar 1. dapat dilihat
simbol (FC) yang biasa digunakan untuk melambangkan flow control.
Gambar 1. Simbol Flow Control (FC)
Flow control valve merupakan katup yang mengatur aliran cairan melalui
sirkuit hidrolik. Flow control valve secara akurat membatasi laju volume cairan dari
pompa pemindahan tetap ke atau dari sirkuit cabang. Pada gambar 2. dapat dilihat
simbol untuk Flow control valve.
Gambar 2. Simbol Flow Control Valve
Flow control valve memiliki beberapa fungsi, diantaranya: mengatur
kecepatan aktuator linier dan rotari, mengatur daya yang tersedia ke sub-sirkuit
dengan mengendalikan aliran ke arahnya, dan secara proporsional membagi atau
mengatur aliran pompa ke berbagai cabang rangkaian. Flow control valve dapat
dibagi menjadi 2 klasifikasi yaitu:
a. Non-pressure compensated
b. Pressure compesented
Pada gambar 3. Dapat dilihat diagram proses yang menjelaskan
mekanisme flow control. Berikut ini dapat dilihat secara skematik dari mekanisme
flow control.
Gambar 3. Sistem Pengendalian Flow
Alur proses yang terjadi pada gambar 3. Yaitu:
Flow indicator akan mengukur laju alir aliran F
Nilai F akan dibandingkan dengan set point Fsp, yaitu kecepatan aliran
yang diinginkan.
Controller akan memutuskan atau mengoreksi kesalahan (error)
dengan mengirimkan sinyal ke pengendali akhir.
Berdasarkan sinyal ini control valve akan membuka atau menutup
sampai keadaan mantap tercapai.
Mekanisme kontrol yang tepat adalah apabila F naik, maka control
valve akan menutup, sebaliknya apabila F turun maka control valve
akan membuka.
Mekanisme kontrol ditunjukkan oleh kotak yang bergaris putus-putus. Pada
bagian inilah terjadi proses pengendalian.
2. Temperature Controller (TC)
Temperature control digunakan untuk mengatur suhu pada nilai set point nya.
Pada gambar 4. Dapat dilihat simbol (TC) yang biasa digunakan untuk
melambangkan temperature control.
Gambar 4. Simbol Temperature Control
Pada gambar 5. Dapat dilihat diagram proses yang menjelaskan
mekanisme temperature control. Berikut ini dapat dilihat secara skematik dari
mekanisme temperature control.
Gambar 5. Sistem pengendalian Temperature
Alur proses yang terjadi pada gambar 5. Yaitu:
Temperature indicator berupa termokopel mengukur temperatur T
aliran.
Nilai T akan dibandingkan dengan set point Tsp, yaitu temperatur yang
diinginkan.
Controller akan memutuskan atau mengoreksi kesalahan (error)
dengan mengirimkan sinyal ke pengendali akhir.
Berdasarkan sinyal ini control valve akan membuka atau menutup
sampai keadaan mantap tercapai.
Mekanisme kontrol yang tepat adalah apabila T naik (turun), maka
control valve akan menutup (membuka).
3. Pressure Controller (PC)
Pressure control digunakan untuk mengontrol tekanan pada nilai set point
nya. Pada gambar 6. Dapat dilihat simbol (PC) yang biasa digunakan untuk
melambangkan pressure control.
Gambar 6. Simbol Pressure Control (PC)
Pada gambar 7. Dapat dilihat diagram proses yang menjelaskan
mekanisme pressure control. Berikut ini dapat dilihat secara skematik dari
mekanisme pressure control.
Gambar 7. Sistem Pengendalian Tekanan
Alur proses yang terjadi pada gambar 7. yaitu:
Pressure indicator berupa diferential pressure cell mengukur tekanan
P di dalam tangki.
Nilai P akan dibandingkan dengan set point Psp, yaitu tekanan yang
diinginkan.
Controller akan memutuskan atau mengoreksi kesalahan (error)
dengan mengirimkan sinyal ke pengendali akhir.
Berdasarkan sinyal ini control valve akan membuka atau menutup
sampai keadaan mantap tercapai.
Mekanisme kontrol yang tepat adalah apabila T naik (turun), maka
control valve akan membuka (menutup).
4. Level Controller (LC)
Keseimbangan material atau bahan yang terdapat pada kolom perlu dijaga.
Material atau bahan akan masuk sebagai umpan dan hasil akhirnya berupa
produk. Jika ini tidak seimbang maka persediaan dalam proses akan berubah. Hal
ini tercermin dari perubahan level pada basis kolom. Dengan mengendalikan level
ini, maka keseimbangan material di dalam kolom akan terjaga (King, 2011). Pada
gambar 8. Dapat dilihat simbol (LC) yang melambangkan level control.
Gambar 8. Simbol Level Control
Prinsip kerja dari level control ini dapat dilihat pada salah satu kasus yang
paling sering ditemui, yaitu swell. Air di dalam drum uap berisi gelembung uap
yang akan melebar jika tekanan di dalam drum berkurang, sehingga
meningkatkan tingkat cairan. Jadi, jika terjadi peningkatan uap yang
menyebabkan penurunan sementara pada tekanan drum, level control akan
mengurangi aliran air untuk memperbaiki kenaikan level yang nyata (King, 2011).
Pada gambar 9. Dapat dilihat diagram proses yang menjelaskan
mekanisme pressure control. Berikut ini dapat dilihat secara skematik dari
mekanisme pressure control.
Gambar 9. Sistem Pengendalian Level
Alur proses yang terjadi pada gambar 9. yaitu:
Level indicator mengukur ketinggian h di dalam tangki.
Nilai h akan dibandingkan dengan set point hsp, yaitu ketinggian yang
diinginkan.
Controller akan memutuskan atau mengoreksi kesalahan (error)
dengan mengirimkan sinyal ke pengendali akhir.
Berdasarkan sinyal ini control valve akan membuka atau menutup
sampai keadaan mantap tercapai.
Mekanisme kontrol yang tepat adalah apabila h naik (turun), maka
control valve akan membuka (menutup).
5. Ratio Controller
Ratio control banyak digunakan untuk mengontrol rasio laju alir pada dua
aliran. Laju alir dari kedua aliran diukur, namun hanya satu dari mereka yang di
kontrol. Ada beberapa contoh aplikasi dari ratio control, yaitu (King, 2011)
a. Ratio control bahan bakar-udara dalam pembakaran
b. Control ratio pada 2 reaktan yang memasuki reaktor dengan rasio yang
diinginkan.
c. Mempertahankan rasio dari dua aliran campuran konstan untuk
mempertahankan komposisi campuran pada nilai yang diinginkan.
Terdapat 2 skema untuk mencapai ratio control. Skema pertama dapat
dilihat pada Gambar 1 dibawah ini. Pada konfigurasi ini rasio laju alir dua aliran
diukur dan dibandingkan dengan rasio yang diinginkan. Kesalahan diumpankan
ke controller dan output pengontrol digunakan untuk mengendalikan laju alir
pada stream B (King, 2011).
Gambar 1. Ratio Control
Skema kedua untuk ratio control ditunjukkan pada Gambar 2. Pada skema
ini, laju alir fluida A dikalikan dengan rasio yang diinginkan yang memberikan
laju alir yang diinginkan pada fluida B. Ini dibandingkan dengan laju alir aktual
pada fluida B dan diumpankan ke controller yang mengoperasikan control valve
(King, 2011).
Gambar 2. Ratio Control
Ketika kedua skema diatas digunakan untuk mengontrol rasio bahan
bakar-udara dalam pembakaran dimana laju aliran udara (fluida B) di kontrol.
Tetapi, rasio yang diinginkan juga tergantung pada temperatur udara (King,
2011).