0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan10 halaman

Pembelajaran Bahasa Inggris Anak: Reading & Speaking

Makalah ini membahas pembelajaran bahasa Inggris untuk anak yang menekankan pada keterampilan reading dan speaking secara integratif. Pembelajaran reading bertujuan untuk menambah pengetahuan dan kesenangan, sedangkan speaking digunakan untuk berkomunikasi. Metode pembelajaran yang tepat dipilih berdasarkan tujuan dan materi pelajaran.

Diunggah oleh

BAAK STB
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan10 halaman

Pembelajaran Bahasa Inggris Anak: Reading & Speaking

Makalah ini membahas pembelajaran bahasa Inggris untuk anak yang menekankan pada keterampilan reading dan speaking secara integratif. Pembelajaran reading bertujuan untuk menambah pengetahuan dan kesenangan, sedangkan speaking digunakan untuk berkomunikasi. Metode pembelajaran yang tepat dipilih berdasarkan tujuan dan materi pelajaran.

Diunggah oleh

BAAK STB
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH BAHASA INGGRIS

“PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK ANAK SECARA


INTEGRATIF YANG MENEKANKAN PADA READING DAN SPEAKING”

Dosen Pengampu :
Nur Innayah Ganjarjati, M.A

Disusun oleh:
1. Hatta Mu’izz Zubaedi
2. Karinna Nugrahawati

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH

(STIT) TUNAS BANGSA BANJARNEGARA


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan nikmat berupa kesehatan dan keselamatan sehingga makalah yang
berjudul “Pembelajaran bahasa inggris untuk anak secara integratif yang
menekankan pada reading dan speaking” ini dapat terselesaikan dengan baik..

Tidak lupa saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen
Nur Innayah Ganjarjati, M.A yang telah memberikan arahan kepada saya untuk
membuat makalah ini.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini
banyak sekali kekurangan, oleh sebab itu saya dengan kerendahan hati
mengharapkan kritik dan saran demi sempurnanya makalah ini.

Saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan
mahasiswa sekalian. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii

PENDAHULUAN
A. Latar belakang.................................................................................................1
PEMBAHASAN
A. Proses Belajar & Mengajar..............................................................................2
B. Pembelajaran Reading.....................................................................................2
C. Pembelajaran Speaking....................................................................................4
PENUTUP
A. Kesimpulan......................................................................................................6

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................7

ii
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pada hakikatnya, bahasa termasuk Bahasa Inggris adalah alat untuk
berkomunikasi diantara warga masyarakat. Berkomunikasi mengandung
pengertian mengungkapkan informasi, pikiran, dan perasaan. Kegiatan
komunikasi terwujud dalam tindak memahami dan mengungkapkan nuansa
makna baik melalui medium lisan maupun tulisan yang dipengaruhi antara lain
oleh situasi, orang yang terlibat dalam komunikasi, topik, dan kondisi psikologis
orang yang terlibat dalam komunikasi. Melalui bahasa sebagai alat komunikasi
utama, utamanya melalui bahasa Inggris sebagai bahasa global, kita dapat
mengembangkan ilmu pengetahun, teknologi, serta budaya dengan menggunakan
bahasa tersebut. Dalam konteks pendidikan, bahasa ini berfungsi sebagai alat
berkomunikasi guna mengakses, menyimpan dan berbagi informasi. Dalam
keseharian, ia berfungsi sebagai alat untuk menjalin hubungan interpersonal,
bertukar informasi dan menikmati aspek keindahan bahasa tersebut. (lihat
Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Inggris tahun 2004).
Berpijak pada fungsinya, maka tujuan pengajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris
dalam Kurikulum yang berlaku saat ini mencakup :
(1) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa tersebut baik lisan
maupun tulis. Kemampuan tersebut meliputi mendengarkan (listening), berbicara
(speaking), membaca (reading), dan menulis (writing).
(2) Menumbuhkan kesadaran akan hakikat dan pentingnya bahasa Inggris sebagai
salah satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar.
(3) mengembangkan pemahaman keterkaitan antara bahasa dan budaya serta
memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian siswa memiliki wawasan lintas
budaya dan melibatkan diri dalam keragaman budaya.
Untuk mencapai tujuan pengajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris
diperlukan saling keterkaitan antar komponen dalam kurikulum, yakni tujuan
pengajaran yang dalam konteks kurikulum saat ini dan sejalan dengan Standar Isi
yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No.19, dinyatakan dalam bentuk
rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang selanjutnya dirumuskan
secara spesifik dalam bentuk indikator-indikator yang digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam memlih dan mengembangkan komponen kurikulum lainnya,
yakni bahan ajar, kegiatan pemelajaran, dan evaluasi pemelajaran. Keempat
komponen utama kurikulum ini dalam Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Inggris
yang berlaku saat ini harus secara eksplisit dicakup dalam silabus mata pelajaran
Bahasa Inggris yang dikembangkan baik untuk kepentingan pemelajaran di kelas
maupun untuk pengembangan bahan ajar. Dalam petunjuk guru ini keempat
komponen tersebut dicoba dipetakan dengan mengacu kepada kurikulum tersebut.

1
PEMBAHASAN

A. Proses Belajar & Mengajar

Proses belajar-mengajar secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses


dimana terdapat perubahan tingkah laku pada diri siswa baik dari aspek
pengetahuan, sikap dan psikomotor. Proses belajar-mengajar merupakan interaksi
antara komponen-komponen pembelajaran sehingga tercipta situasi belajar-
mengajar yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan.
Adapun komponen-komponen pembelajaran terdiri dari tujuan, bahan, metode
dan media evaluasi.
Sejalan dengan uraian diatas proses pembelajaran menurut Rooijakkers
(1991:114): “Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan belajar mengajar
menyangkut kegiatan tenaga pendidik, kegiatan peserta didik, pola dan proses
interaksi tenaga pendidik dan peserta didik dan sumber belajar dalam suatu
lingkungan belajar dalam kerangka keterlaksanaan program pendidikan”.
Tujuan pembelajaran harus dirumuskan secara jelas operasional.
Kemudian ditentukan materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan
[Link] itu metoda dan alat ditentukan atas dasar tujuan dan bahan yang
telah ditetapkan sehinga betul-betul penggunaannya dapat efektif dan efisien.

B. Pembelajaran Reading
Reading merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa.
Membaca adalah sebuah komponen dasar seseorang bisa memiliki pemahaman
atau suatu pengetahuan yang lebih, karena dengan membaca, seseorang akan
menjadi semakin kaya akan pengetahuannya. Membaca adalah merupakan suatu
kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh informasi atau
pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui oleh pembaca. Banyak cara yang
dapat dilakukan manusia agar dapat membaca untuk memperkaya
pengetahuannya. Membaca buku adalah suatu cara untuk dapat memperkaya
vocabulary atau kosakata, dan yang paling penting adalah menciptakan suasana
membaca yang nyaman agar kegiatan membaca dapat berjalan secara efektif
(Scott dan Ytreberg :2003).
Menurut Linse (2005:71) pada prinsipnya tujuan reading adalah sebagai berikut:
1. Reading for information, yaitu membaca yang dilakukan untuk mendapatkan
informasi yang berguna untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan

2
2. Reading for pleasure, yaitu membaca yang dilakukan untuk mencari
kesenangan semata atau sebuah hobi.
Dari uraian diatas kegiatan reading memiliki banyak manfaat terutama
bagi peserta didik dalam mencari dan memahami pengetahuan selama proses
pembelajaran maupun di luar proses pembelajaran.
Reading Comprehension yang dapat diartikan sebagai serangkaian proses
yang dilakukan pembaca untuk menemukan informasi ,memahami informasi yang
terkandung dalam sebuah teks bacaan dan mengintegrasikan dengan apa yang
sudah diketahui pembaca.. Linse (2005: 71) menyatakan bahwa “reading
comprehension refers to reading for meaning, understanding, and entertainment.”
Hal ini berarti dalam membaca pemahaman terdapat serangkaian proses
yang dilakukan pembaca untuk menemukan makna, memahami informasi yang
terkandung dalam sebuah teks bacaan, dan hiburan. Dalam membaca pemahaman,
para ahli sependapat bahwa skemata (pengetahuan awal yang dimiliki) pembaca
menjadi penentu keberhasilan dalam membaca pemahaman. Peregoy dan Boyle
(Linse, 2005: 69) menyatakan bahwa ada tiga hal yang membedakan siswa dalam
membaca diantaranya: pengetahuan awal yang dimiliki siswa, pengetahuan
berbahasa siswa, dan strategi atau teknik membaca yang digunakan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi siswa belajar membaca dalam
bahasa Inggris sebagai bahasa asing adalah bahasa pertama siswa, pengalaman
keberwacanaan sebelumnya dalam bahasa pertama, pengetahuan siswa atas
bahasa asing yang dipelajari serta usia.
Bahasa pertama berpengaruh karena setiap bahasa memiliki struktur yang
berbeda sehingga pemaknaannya pun berbeda. Ketika kita belajar bahasa pertama,
otak kita bekerja layaknya seperti bagaimana bahasa pertama bekerja dan kita
memperhatikan makna mana yang paling bermanfaat. Ketika mempelajari bahasa
baru, otak kita menerapkan pengalamannya dengan bahasa pertama dan mencari
pemarkah makna yang paling bermanfaat. Salah satu bagian dari belajar bahasa
asing adalah mengembangkan pemahaman baru mengenai pemarkah makna baru
tertentu yang dimiliki bahasa baru tersebut. Ini berlaku juga dalam bentuk tulisan.
Pengalaman keberwacanaan bahasa pertama yang dialami siswa juga
berpengaruh atas pembelajaran membaca dalam bahasa Inggris sebagai bahasa
asing. Jika hanya sebagian kecil saja pengetahuan dan keterampilan
keberwacanaan dalam bahasa pertama yang berkembang, kemungkinannya hanya
ada beberapa aspek saja yang dapat ditransfer sehingga hanya sebagian pula yang
dikuasai. Ada pula kemungkinan siswa akan mencapuradukkan pengetahuan,
keterampilan dan strategi kedua bahasa itu .aspek sosial keberwacanaan dalam
bahasa pertama juga berpengaruh atas belajar membaca dalam bahasa asing.
Misalnya, bila siswa tidak memiliki bahasa tulis pada bahasa pertamanya atau

3
ketika bahasa pengantar dalam dunia pendidikannya bukan bahasa yang ia kuasai,
siswa tidak akan memilki pengalaman keberwacaan dalam bahasa pertama.
Keterampilan lisan dalam bahasa yang sedang dipelajari merupakan faktor
yang penting. Kepekaan dalam bahasa asing, kemampuan menyimak bunyi
individual dan suku kata yang membentuk kata, akan berkembang dari kegiatan
bahasa lisan seperti mengucapkan rima atau senandung lirik lagu. Pengetahuan
mengenai kosakata juga sangat penting terutama ketika: 1) bahasa tulis diucapkan
atau disusun dari komponen huruf, bunyi morfem dan mengetahui kata itu akan
mempercepat pengenalan kata, 2) ketika kalimat dibacakan, kata yang dikenal
akan lebih mudah diingat di dalam ingatan jangka pendek ketika makna
dikembangkan. Pada tahap awal, siswa hanya boleh menjumpai kata tertulis yang
telah mereka ketahui lisannya. Jika sebuah teks berisi kata yang belum dikenal,
makna harus dijelaskan sebelumnya atau makna itu harus benar-benar jelas dari
konteks yang ada.
Faktor lain yang mempengaruhi pembelajaran membaca adalah usia siswa.
Anak kecil mungkin masih sedang belajar bagaimana teks tertulis berfungsi
sehingga ada kemungkinan belum bisa mentransfer konsep mengenai teks dan
tulisan paling umum sekalipun. Mereka masih berusaha menguasai keterampilan
motorik untuk merangkai huruf sehingga untuk menghasilkan sebuah kalimat saja
memerlukan banyak waktu dan karena kemampuan mereka juga terbatas, yang
mereka tulispun terbatas pula. Selain itu, karena keterbatasan daya ingat, ketika
mereka menulis kalimat, mungkin saja mereka lupa apa awal kalimat yang mereka
tulis sebelum keseluruhan kalimat itu selesai dituliskan. Oleh karena itu, kalaupun
anak balita belajar menulis haruslah sesederhana mungkin seperti menuliskan
namanya, membaca kata atau kalimat sederhana sekitar obyek di dalam kelas.

C. Pembelajaran Speaking
Keterampilan berbicara (speaking skill) dalam bahasa Inggris merupakan
suatu keterampilan seseorang untuk menyampaikan pemikirannya kepada siapa
saja melalui lisan, akan tetapi, keterampilan berbicara sulit berkembang kalau
tidak dilatih secara terus [Link] untuk memperlancar keterampilan
berbicara, memperkaya penggunaan kosa kata, memperbaiki tatanan berbahasa,
menyempurnakan ucapan kosa kata, kalimat bahasa Inggris, dan melatih
pendengaran sehingga mudah menangkap pesan dari lawan bicara
Keterampilan berbicara dalam bahasa Inggris merupakan suatu
keterampilan bahasa yang perlu dikuasai dengan baik, karena keterampilan ini
merupakan suatu indikator terpenting bagi keberhasilan siswa dalam belajar
[Link] dalam kenyataan, pembelajaran speaking memiliki berbagai
hambatan dikarenakan belum begitu menguasai pronounciation (pelafalan) dan

4
vocabulary dalam bahasa Inggris. Selain itu, siswa juga merasa kurang percaya
diri untuk mencoba berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris.
Menurut Finnochiaro dan Bonomo (1973: 110), untuk menumbuhkan
minat dan mendorong komunikasi, percakapan sederhana harus diikutsertakan
pada awal pembelajaran, lagu harus diajarkan, cerita harus diperkenalkan
sehingga siswa dapat meresponnya. Tetapi, pada waktu yang bersamaan juga
harus diajarkan tentang unsur-unsur bahasa yang lainnya, seperti grammar dan
[Link] Robinett (1978) menjelaskan bahwa aktifitas lisan akan
lebih bisa dikendalikan, atau dengan kata lain lebih bebas. Dia juga menyatakan
bahwa harus diperhatikan juga masalah yang berkaitan dengan pengucapan pada
waktu mengajarkan [Link], pembelajaran speaking (berbicara)
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari terutama berkaitan dengan
komunikasi yang dilakukan setiap hari. Untuk mencapai pembelajaran speaking
yang efektif, proses pembelajaran harus berhubungan dengan percakapan yang
autentik. Selain itu guru juga harus bisa mendorong siswa untuk mengekspresikan
gagasannya dalam kelas. Dalam pembelajaran speaking, grammar (termasuk
kosakata dan structure) sebaiknya diajarkan selangkah demi selangkah sehingga
siswa dapat mengikuti dengan baik dan akan tercapai hasil sesuai yang
diharapkan.
Tidak kalah penting komponen yang harus dikuasai agar terampil
berbicara adalah fluency. Menurut Byrne (1997: 90), speaking fluency is the
ability to express oneself intelligibly, reasonably, accurately, and without too
much hesitation (kelancaran dalam speaking adalah kemampuan
mengekrepresikan kecerdasan, logis, akurat dan tanpa keragu-raguan). Richard
(2006: 14-16) berpendapat “fluency is natural language used occurring when a
speaker enganges in meaningful interaction and maintains comprehensible and
ongoing communication despite limitations in his or her communicative
competence” (fluency adalah bahasa alami yang terjadi ketika pembicara
menggunakan sebuah interaksi berarti dan dapat dipahami, komunikasi
berlangsung secara terus menerus meski tanpa dibatasi oleh kemampuannya
berkomunikasi).
Guru dianjurkan untuk menyeimbangkan antara fluency (kelancaran) dan
accurary (ketepatan). Fokus pada fluency namun mengabaikan accuracy,
menyebabkan siswa lancar berbicara tapi pengucapannya tidak benar, struktur
bahasa yang salah dan pemilihan kata yang kurang tepat. Terlalu menekankan
pada accuracy menyebabkan siswa takut lebih banyak diam karena takut membuat
kekeliruan, akibatnya siswa tidak akan pernah memiliki kepercayaan diri
berbicara menggunakan bahasa Inggris.

5
PENUTUP

A. Kesimpulan
Proses belajar-mengajar secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses
dimana terdapat perubahan tingkah laku pada diri siswa baik dari aspek
pengetahuan, sikap dan psikomotor yang dihasilkan dari pentransferan dengan
cara pengkondisian situasi belajar serta bimbingan untuk mengarahkan siswa
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Proses belajar-mengajar merupakan
interaksi antara komponen-komponen pembelajaran sehingga tercipta situasi
belajar-mengajar yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah
direncanakan. Adapun komponen-komponen pembelajaran terdiri dari tujuan,
bahan, metode dan media evaluasi
Reading merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa.
Membaca adalah sebuah komponen dasar seseorang bisa memiliki pemahaman
atau suatu pengetahuan yang lebih, karena dengan membaca, seseorang akan
menjadi semakin kaya akan pengetahuannya. Membaca adalah merupakan suatu
kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh informasi atau
pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui oleh pembaca
Keterampilan berbicara (speaking skill) dalam bahasa Inggris merupakan
suatu keterampilan seseorang untuk menyampaikan pemikirannya kepada siapa
saja melalui lisan, akan tetapi, keterampilan berbicara sulit berkembang kalau
tidak dilatih secara terus menerus

6
DAFTAR PUSTAKA

Didharianti Kusuma, Manajemen Pembelajaran Bahasa


Inggris,[Link]
[Link] ,di akses pada 23 September
2022,20:32
Dudu Suhandi Saputra, Interactive Learning Dalam Pembelajaran Speaking Di
Kelas V Sekolah Darsar,
[Link] ,di akses pada 23
September 2022,23:12
Sigit Vebrianto Susilo, Cooperative Learning Make A Match Dalam
PEMBELAJARAN READING COMPREHENSION Di Kelas IV Sekolah
Dasar, [Link]
[Link] , diakses pada 23 September
2022, 22:45
Didi Sukyadi,PEMBELAJARAN MENYIMAK DAN BERBICARA,
[Link]
6706091994031-DIDI_SUKYADI/
Pembelajaran_menyimak_dan_berbicara.pdf , diakses pada 22 September
2022,20:54
Hartin ,Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah
Dasar,[Link]
%20(1).pdf ,diakses pada 23 September 2022,21:22

Anda mungkin juga menyukai