0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan22 halaman

Laporan Pendahuluan Depresi Jiwa

Dokumen ini membahas laporan pendahuluan asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan depresi. Dokumen ini menjelaskan konsep dasar depresi seperti definisi, penyebab, gejala klinis, dan pendekatan diagnosis depresi melalui pemeriksaan fisik, evaluasi psikiatri, dan tes laboratorium. Dokumen ini juga membahas klasifikasi dan faktor risiko depresi serta pendekatan diagnosis berdasarkan kriteria DSM.

Diunggah oleh

setyawati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan22 halaman

Laporan Pendahuluan Depresi Jiwa

Dokumen ini membahas laporan pendahuluan asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan depresi. Dokumen ini menjelaskan konsep dasar depresi seperti definisi, penyebab, gejala klinis, dan pendekatan diagnosis depresi melalui pemeriksaan fisik, evaluasi psikiatri, dan tes laboratorium. Dokumen ini juga membahas klasifikasi dan faktor risiko depresi serta pendekatan diagnosis berdasarkan kriteria DSM.

Diunggah oleh

setyawati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

PADA PASIEN DENGAN DEPRESI

OLEH :

NAMA :
NIM :
KELAS/PRODI : 3A/ [Link] KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2022/2023
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. DEFINISI
Depresi adalah suatu mood sedih (disforia) yang berlangsung lebih
dari empat minggu, yang disertai prilaku seperti perubahan tidur, gangguan
konsentrasi, iritabilitas, sangat cemas, kurang bersemangat, sering
menangis, waspada berlebihan, pesimis, merasa tidak berharga, dan
mengantisipasi kegagalan. (DSM-IV-TR, 2000 dalam Videbeck, 2008,
hal.388)
Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan
perasaan sedih dan berduka yang berlebihan dan berkepanjangan.
(Purwaningsih, 2009, hal. 130)
Depresi adalah keadaan emosional yang ditunjukkan dengan
kesedihan, berkecil hati, perasaan bersalah, penurunan harga diri,
ketidakberdayaan dan keputusasaan. (Isaacs, 2005)
Gangguan depresif adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan
mood sebagai masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni
gangguan episode depresif, gangguan distimik, gangguan depresif mayor
dan gangguan depresif unipolar serta bipolar.
Gangguan depresif masuk dalam kategori gangguan mood,
merupakan periode terganggunya aktivitas sehari-hari, yang ditandai
dengan suasana perasaanmurung dan gejala lainnya termasuk perubahan
pola tidur dan makan, perubahan berat badan, gangguan konsentrasi,
anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah, perasaan putus asa dan tak
berdaya serta pikiran bunuh diri. Jika gangguan depresif berjalan dalam
waktu yang panjang (distimia) maka orang tersebut dikesankan sebagai
pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan, karena ia kehilangan
minat hampir disemua aspek kehidupannya
Dari kelima pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa depresi
adalah gangguan alam perasaan yang disertai oleh komponen psikologik
dan komponen somatic yang terjadi akibat kesedihan yang panjang.
2. PENYEBAB/FAKTOR PREDISPOSISI
Penyebab utama depresi pada umumnya adalah rasa kecewa dan
kehilangan. Tak ada orang yang mengalami depresi bila kenyataan
hidupnya sesuai dengan keinginan dan harapannya.
a. Kekecewaan
Karena adanya tekanan dan kelebihan fisik menyebabkan seseorang
menjadi jengkel tak dapat berfikir sehat atau kejam pada saat – saat
khusus jika cinta untuk diri sendiri lebih besar dan pada cinta pada
orang lain yang menghimpun kita, kita akan terluka, tidak senang dan
cepat kecewa, hal ini langkah pertama depresi jika luka itu direnungkan
terus-menerus akan menyebabkan kekesalan dan keputusasaan.
b. Kurang Rasa Harga Diri
Ciri - ciri universal yang lain dari orang depresi adalah kurangnya rasa
harga diri, sayangnya kekurangan ini cenderung untuk dilebih –
lebihkan menjadi estrim, karena harapan – harapan yang realistis
membuat dia tak mampu merestor dirinya sendiri, hal ini memang benar
khususnya pada individu yang ingin segalanya sempurna yang tak
pernah puas dengan prestasi yang dicapainya.
c. Perbandingan yang tidak adil
Setiap kali kita membandingkan diri dengan seseorang yang
mempunyai nilai lebih baik dari kita dimana kita merasa kurang dan
tidak bisa sebaik dia maka depresi mungkin terjadi.
d. Penyakit
Beberapa faktor yang dapat mencetuskan depresi adalah organic contoh
individu yang mempunyai penyakit kronis kanker payudara dapat
menyebabkan depresi.
e. Aktivitas mental yang berlebihan
Orang yang produktif dan aktif sering menyebabkan depresi.
f. Penolakan
Setiap manusia butuh akan rasa cinta, jika kebutuhan akan rasa cinta itu
tak terpenuhi maka terjadilah depresi. (Keliat, B.A, 1998)
Menurut Nanda (2005 - 2006) adapun faktor–faktor yang
berhubungan dengan sedih kronis adalah:
a. Kematian orang yang dicintai
b. Pengalaman sakit mental/ fisik kronis, cacat (retardasi mental,
sklerosis multiple, prematuritas, spina bifida, kelainan persalinan, sakit
mental kronis, infertilitas, kanker, sakit Parkinson)
c. Pengalaman satu atau lebih kejadian yang memicu (krisis dalam
manajemen penyakit, krisis berhubungan dengan stase perkembangan,
kehilangan kesempatan yang dapat meningkatkan perkembangan,
norma social atau personal)
d. Ketergantungan tak henti pada pelayanan kesehatan dengan mengingat
kehilangan.

3. POHON MASALAH
Resiko tinggi terjadi kekerasan Yang diarahkan pada diri sendiri
(Resiko bunuh diri)

Sedih kronis

Harga diri rendah kronis

Koping individu tak efektif

Koping keluarga tak efektif

4. KLASIFIKASI
a. Depresi Ringan
Sementara, alamiah, adanya rasa pedih perubahan proses pikir
komunikasi social dan rasa tidak nyaman.
b. Depresi Sedang
1) Afek: murung, cemas, kesal, marah, menangis
2) Proses pikir: perasaan sempit, berfikir lambat, berkurang
komunikasi verbal, komunikasi non verbal meningkat.
3) Pola komunikasi: bicara lambat, berkurang komunikasi verbal,
komunikasi non verbal meningkat.
4) Partisipasi social: menarik diri tak mau bekerja/ sekolah, mudah
tersinggung.
c. Depresi Berat
1) Gangguan Afek: pandangan kosong, perasaan hampa, murung,
inisiatif berkurang
2) Gangguan proses piker
3) Sensasi somatic dan aktivitas motorik : diam dalam waktu lama, tiba-
tiba hiperaktif, kurang merawat diri, tak mau makan dan minum,
menarik diri, tidak peduli dengan lingkungan.

5. GEJALA KLINIS
Menurut Hawari (2001) secara lengkap gejala klinis depresi adalah
sebagai berikut:
a. Afek disforik, yaitu perasaan murung, sedih, gairah hidup menurun,
tidak semangat, merasa tidak berdaya;
b. Perasaan bersalah, berdosa, penyesalan;
c. Nafsu makan menurun;
d. Berat badan menurun;
e. Konsentrasi dan daya ingat menurun
f. Gangguan tidur: insomnia (sukar/tidak dapat tidur) atau sebaliknya
hipersomnia (terlalu banyak tidur). Gangguan ini sering kali disertai
dengan mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan, misalnya mimpi
orang yang telah meninggal;
g. Agitasi atau retardasi psikomotor (gaduh gelisah atau lemah tak
berdaya);
h. Hilangnya rasa senang, semangat dan minat, tidak suka lagi melakukan
hobi, kreativitas menurun, produktivitas juga menurun;
i. Gangguan seksual (libido menurun);
j. Pikiran-pikiran tentang kematian, bunuh diri.
6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC/PENUNJANG
a. Pemeriksaan fisik
Dokter Anda mungkin melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan
kesehatan Anda. Dalam beberapa kasus, depresi dapat dikaitkan dengan
masalah kesehatan fisik atau mungkin sudah menyebabkan masalah
kesehatan lain. Dilansir dari Mayo Clinic, depresi atau stres berat dapat
menyebabkan penyakit jantung, obesitas, atau penyakit diabetes. Itulah
sebabnya, dokter akan mengukur berat badan, tekanan darah, denyut
jantung, dan kadar gula dalam tubuh. Jika lewat pemeriksaan, terdeteksi
masalah kesehatan lain, Anda harus menjalani pengobatan kombinasi.
Ini dilakukan agar salah satu penyakit tidak bertambah parah dan
kualitas hidup pasien tetap membaik.
b. Evaluasi psikiatri
Pada tes depresi ini, dokter ahli kejiwaan akan mengenai gejala, pikiran,
perasaan, dan pola perilaku Anda. Anda juga mungkin akan diminta
untuk mengisi kuesioner. Beberapa gejala depresi yang mungkin
ditunjukkan dan perlu Anda laporkan pada dokter, di antaranya:
1) Terus merasakan sedih, menangis tanpa sebab, merasa hampa atau
putus asa.
2) Mudah marah dan tersinggung, bahkan karena hal-hal kecil.
3) Hilang minat atau kesenangan dalam sebagian besar atau semua
aktivitas normal, seperti seks, hobi, atau olahraga.
4) Timbul gangguan tidur, termasuk insomnia atau terlalu banyak
tidur.
5) Sering merasa kelelahan dan kekurangan energi, sehingga tugas-
tugas kecil membutuhkan usaha ekstra.
6) Depresi membuat berat badan menurun atau sebaliknya
meningkat karena nafsu makan berubah.
7) Kecemasan, agitasi atau kegelisahan.
8) Kemampuan berpikir, berbicara atau gerakan tubuh jadI melambat.
9) Terpaku pada kegagalan masa lalu atau menyalahkan diri sendiri
dan merasa tidak berharga.
10) Kesulitan berpikir, berkonsentrasi, mebuat keputusan, dan
mengingat sesuatu
11) Sering memikirkan kematian secara berulang, melukai diri
sendiri dan ada pikiran untuk bunuh diri.
12) Berbagai masalah fisik yang tidak dapat dijelaskan, seperti sakit
punggung atau sakit kepala.
13) Lewat tes depresi ini, dokter dapat menentukan keparahan
penyakit sekaligus pengobatan yang tepat.
c. Tes laboratorium
Beberapa gejala yang disebutkan di atas, tidak hanya mengarah pada
penyakit depresi saja. Gangguan pada suasana hati juga kerap kali
menyerang orang dengan masalah tiroid. Oleh karena itu, untuk
menyingkirkan masalah kesehatan ini dengan melakukan tes
laboratorium, yakni tes darah. Tes ini akan menghitung jumlah darah
atau menguji tiroid Anda untuk memastikannya berfungsi dengan baik.
d. Pengamatan gejala dengan PPDGJ
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (Manual
Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental/DSM) adalah pegangan
yang digunakan oleh para profesional perawatan kesehatan di Amerika
Serikat dan sebagian besar dunia sebagai panduan untuk mendiagnosis
penyakit mental. DSM berisi deskripsi, gejala, dan kriteria lain untuk
mendiagnosis gangguan kejiwaan. Indonesia sendiri memiliki Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) yang digunakan
sebagai buku panduan dalam mendiagnosis gangguan kejiwaan.

7. PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut (Tomb, 2003, hal.61) Semua pasien depresi harus
mendapatkan psikoterapi, dan beberapa memerlukan tambahan terapi fisik.
Kebutuhan terapi khusus bergantung pada diagnosis, berat penyakit, umur
pasien, respon terhadap terapi sebelumnya.
a. Terapi Psikologik
Psikoterapi suportif selalu diindikasikan. Berikan kehangatan,
empati, pengertian dan optimistic. Bantu pasien mengidentifikasi dan
mengekspresikan hal-hal yang membuatnya prihatin dan
melontarkannya. Identifikasi factor pencetus dan bantulah untuk
mengoreksinya. Bantulah memecahkan problem eksternal (misal,
pekerjaan, menyewa rumah), arahkan pasien terutama selama periode
akut dan bila pasien tidak aktif bergerak. Latih pasien untuk mengenal
tanda-tanda dekompensasi yang akan dating. Temui pasien sesering
mungkin (mula-mula 1-3 kali per minggu) dan secara teratur, tetapi
jangan sampai tidak berakhir atau untuk selamanya. Kenalilah bahwa
beberapa pasien depresi dapat memprovokasi kemarahan anda (melalui
kemarahan, hostilitas, dan tuntutan yang tak masuk akal, dll.).
psikoterapi berorientasi tilikan jangka panjang, dapat berguna pada
pasien depresi minor kronis tertentu dan beberapa pasien dengan
depresi mayor yang mengalami remisi tetapi mempunyai konflik.
Terapi Kognitif-Perilaku dapat sangat bermanfaat pada pasien
depresi sedang dan ringan. Diyakini oleh sebagian orang sebagai
“ketidakberdayaan yang dipelajari”, depresi diterapi dengan
memberikan pasien latihan keterampilan dan memberikan pengalaman-
pengalaman sukses. Dari perspektif kognitif, pasien dilatih untuk
mengenal dan menghilangkan pikiran-pikiran negative dan harapan-
harapan negative. Terapi ini mencegah kekambuhan.
Deprivasi tidur parsial (bangun mulai di pertengahan malam dan
tetap terjaga sampai malam berikutnya), dapat membantu mengurangi
gejala-gejala depresi mayor buat sementara. Latihan fisik (berlari,
berenang) dapat memperbaiki depresi, dengan mekanisme biologis
yang belum dimengerti dengan baik.
b. Terapi Fisik
Semua depresi mayor dan depresi kronis atau depresi minor yang
tidak membaik membutuhkan antidepresan (70 – 80 % pasien berespon
terhadap antidepresan), meskipun yang mencetuskan jelas terlihat atau
dapat diidentifikasi. Mulailah dengan SSRI atau salah satu antidepresan
terbaru. Apabila tidak berhasil, pertimbangkan antidepresan trisiklik,
atau MAOI (terutama pada depresi “atipikal”) atau kombinasi beberapa
obat yang efektif bila obat pertama tidak berhasil. Waspadalah terhadap
efek samping dan bahwa antidepresan “dapat” mencetuskan episode
manik pada beberapa pasien bipolar (10 % dengan TCA, dengan SSRI
lebih rendah, tetapi semua koonsep tentang “presipitasi manic” masih
diperdebatkan). Setelah semuh dari episode depresi pertama, obat
dipertahankan untuk beberapa bulan, kemudian diturunkan, meskipun
demikian pada beberapa pasien setelah satu atau lebih kekambuhan,
membutuhkan obat rumatan untuk periode panjang. Antidepresan saja
(tunggal) tidak dapat mengobati depresi psikosis unipolar.
Litium efektif dalam membuat remisi gangguan bipolar, mania
dan mungkin bermanfaat dalam pengobatan depresi bipolar akut dan
beberapa depresi unipolar. Obat ini cukup efektif pada bipolar serta
untuk mempertahankan remisi dan begitu pula pada pasien unipolar.
Antikonvulsan tampaknya juga sama baik dengan litium untuk
mengobati kondisi akut, meskipun kurang efektif untuk rumatan.
Antidepresan dan litium dapat dimulai secara bersama – sama dan
litium diteruskan setelah remisi. Psikotik, paranoid atau pasien sangat
agitasi membutuhkan antipsikotik, tunggal atau bersama – sama dengan
antidepresan, litium atau ECT – antidepresan antipikal yang baru saja
terlihat efektif. ECT mungkin merupakan terapi terpilih:
1) Bila obat tidak berhasil setelah satu atau lebih dari 6 minggu
pengobatan,
2) Bila kondisi pasien menuntut remisi segera (misal, bunuh diri yang
akut),
3) Pada beberapa depresi psikotik,
4) Pada pasien yang tidak dapat mentoleransi obat (misal pasien tua
yang berpenyakit jantung). Lebih dari 90 % pasien memberikan
respons.
8. KOMPLIKASI
Depresi adalah gangguan serius yang bisa berakibat fatal bagi
pengidap dan keluarga. Depresi sering kali menjadi lebih buruk bila tidak
diobati, serta mengakibatkan masalah emosional, perilaku dan kesehatan
yang memengaruhi setiap area kehidupan pengidap. Beberapa komplikasi
yang bisa terjadi akibat depresi, antara lain:
a. Kelebihan berat badan atau obesitas, yang bisa menyebabkan penyakit
jantung dan diabetes.
b. Penyakit fisik.
c. Pelarian berupa alkohol atau penyalahgunaan narkoba.
d. Kecemasan, gangguan panik atau fobia sosial.
e. Menimbulkan konflik keluarga, kesulitan hubungan, dan masalah
pekerjaan atau sekolah.
f. Isolasi sosial.
g. Muncul perasaan ingin bunuh diri, percobaan bunuh diri, atau bunuh
diri.
h. Keinginan untuk mutilasi diri.
i. Kematian dini akibat kondisi medis.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
a. Identitas pasien
b. Alasan dirawat
c. Riwayat penyakit
d. Riwayat kesehatan keluarga
e. Data-bio-psiko-sosio-spiritual
f. Pemeriksaan fisik
g. Pemeriksaan penunjang
h. Faktor Predisposisi
1) Faktor Genetik
Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan
melalui garis keturunan. Frekwensi gangguan alam perasaan
meningkat pada kembar monozigote dari dizigote.
2) Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri
Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah
yang dialihkan pada diri sendiri. Diawali dengan proses kehilangan
→ terjadi ambivalensi terhadap objek yang hilang → tidak mampu
mengekspresikan kemarahan → marah pada diri sendiri.
3) Teori Kehilangan
Berhubungan dengan factor perkembangan: misalnya kehilangan
orang tua pada masa anak, perpisahan yang bersifat traumatis
dengan orang yang sangat dicintai. Individu tidak berdaya
mengatasi kehilangan.
4) Teori kepribadian
Mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan
seseorang mengalami depresi atau mania.
5) Teori Kognitif
Mengemukakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang
dipengaruhi oleh penilaian negative terhadap diri sendiri,
lingkungan dan masa depan
6) Teori Belajar Ketidakberdayaan
Mengemukakan bahwa depresi dimulai dari kehilangan kendali diri,
lalu menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah.
Kemudian individu timbul keyakinan akan ketidakmampuan
mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak berupaya
mengembangkan respon yang adaptif.
7) Model perilaku
Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya pujian
(reinforcement) positif selama berinteraksi dengan lingkungan.
8) Model Biologis
Mengemukakan bahwa pada keadaan depresi terjadi perubahan
kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak berfungsi endokrin dan
hipersekresi kortisol.
i. Faktor Presipitasi
Stressor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi
factor biologis, psikologis dan social budaya. Factor biologis meliputi
perubahan fisiologis yang disebabkan oleh obat-obatan atau berbagai
penyakit fisik seperti infeksi, neoplasma dan ketidakseimbangan
metabolism. Factor psikologis meliputi kehilangan kasih saying,
termasuk kehilangan cinta, seseorang, dan kehilangan harga diri.
Factor social budaya meliputi kehilangan peran, perceraian,
kehilangan pekerjaan.
j. Perilaku dan Mekanisme koping
Perilaku yang berhubungan dengan depresi bervariasi. Pada keadaan
depresi kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi
agitasi. Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan
yang memanjang adalah denial dan supresi, hal ini untuk menghindari
tekanan yang hebat. Depresi, yaitu perasaan berduka yang belum
digunakan adalah represi, supresi, denial dan disosiasi.
k. Adapun perilaku yang berhubungan dengan depresi menurut
Purwaningsih (2009) adalah:
1) Afektif: sedih, cemas, apatis, murung, kebencian, kekesalan,
marah, perasaan ditolak, perasaan bersalah, merasa tak berdaya,
putus asa, merasa sendirian, merasa rendah diri, merasa tak
berharga.
2) Kognitif: ambivalen, bingung, ragu – ragu, tidak mampu
berkonsentrasi, hilang perhatian dan motivasi, menyalahkan diri
sendiri, pikiran merusak diri, rasa tidak menentu, pesimis.
3) Fisik: sakit perut, anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan,
konstipasi, lemas, lesu, nyeri, kepala pusing, insomnia, nyeri dada,
over acting, perubaha berat badan, gangguan selera makan,
gangguan menstruasi, impotensi, tidak berespon terhadap seksual.
4) Tingkah laku: agresif, agitasi, tidak toleran, gangguan tingkat
aktifitas, kemunduran psikomotor, menarik diri, isolasi social,
irritable (mudah marah, menangis, tersinggung), berkesan
menyedihkan, kurang spontan, gangguan kebersihan.
2. DIAGNOSIS KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
a. Risiko Bunuh Diri (D.0135)
Definisi: Berisiko melakukan upaya menyakiti diri sendiri untuk
mengakhiri kehidupan.
Faktor Resiko:
1) Gangguan perilaku (mis. Euphoria mendadak setelah depresi,
perilaku mencari senjata berbahaya, membeli obat dalam jumlah
banyak, membuat surat warisan)
2) Demografi (mis. Lansia, status perceraian, janda/duda, ekonomi
rendah, pengangguran)
3) Gangguan fisik (mis. Nyeri kronis, penyakit terminal)
4) Masalah sosial (mis. Berduka, tidak berdaya, putus asa, kesepian,
kehilangan hubungan yang penting, isolasi sosial)
5) Gangguan psikologis (mis. Penganiayaan masa kanak-kanak,
Riwayat bunuh diri sebelumnya, remaja homoseksual, gangguan
psikiatrik, penyakit psikiatrik, penyalahgunaan zat)
3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
.
1. Risiko bunuh diri dibuktikan Setelah dilakukan asuhan Intervensi Utama : Intervensi Utama :
dengan gangguan perilaku keperawatan selama …x… Pencegahan Bunuh Diri Pencegahan Bunuh Diri
(mis. euforia mendadak jam diharapkan Kontrol Diri (I.14538) (I.14538)
setelah depresi, perilaku (L.09076) meningkat dengan Observasi : Observasi :
mencari senjata berbahaya, kriteria hasil : 1. Identifikasi gejala risiko 1. Untuk mengetahui
membeli obat dalam jumlah 1. Verbalisasi ancaman bunuh diri (mis. gangguan adanya gejala yang dapat
banyak, membuat surat kepada orang lain mood, halusinasi, delusi, menyebabkan gejala
warisan), demografi (mis. menurun panik, penyalahgunaan zat, risiko bunuh diri.
lansia, status perceraian, 2. Verbalisasi umpatan kesedihan, gangguan 2. Untuk mengetahui
janda/duda, ekonomi rendah, menurun kepribadian) adanya keinginan atau
pengangguran), gangguan 3. Perilaku menyerang 2. Identifikasi keinginan dan pikiran rencana pasien
fisik (mis. nyeri kronis, menurun pikiran rencana bunuh diri dalam melakukan
penyakit terminal), masalah 4. Perilaku melukai diri 3. Monitor lingkungan bebas tindakan bunuh diri
sosial (mis. berduka, tidak sendiri/orang lain bahaya secara rutin (mis. 3. Untuk menghindari
berdaya, putus asa, kesepian, menurun barang pribadi, pisau cukur, kejadian berbahaya yang
kehilangan hubungan yang 5. Perilaku merusak jendela) tidak diinginkan
penting, isolasi sosial), lingkungan sekitar 4. Monitor adanya perubahan 4. Untuk mengetahui jika
gangguan psikologis (mis. menurun mood atau perilaku terjadinya perubahan
penganiayaan masa kanak- 6. Perilaku agresif/amuk Terapeutik mood atau perilaku pada
kanak, riwayat bunuh diri menurun 5. Libatkan dalam perencanaan pasien
sebelumnya, remaja 7. Suara keras menurun perawatan mandiri Terapeutik
homoseksual, gangguan 8. Bicara ketus menurun 6. Libatkan keluarga dalam 5. Agar pasien dapat
psikiatrik, penyakit psikiatrik, 9. Verbalisasi keinginan perencanaan perawatan merawat dirinya secara
penyalahgunaan zat) bunuh diri menurun 7. Lakukan pendekatan mandiri
10. Verbalisasi isyarat bunuh langsung dan tidak 6. Agar keluarga pasien
diri menurun menghakimi saat membahas terlibat dalam
11. Verbalisasi ancaman bunuh diri memberikan perawatan
bunuh diri menurun 8. Berikan lingkungan dengan kepada pasien
12. Verbalisasi rencana bunuh pengalaman ketat dan mudah 7. Agar pasien dapat
diri menurun dipantau (mis. tempat tidur percaya dan menjadi
13. Verbalisasi kehilangan dekat ruang perawat) lebih nyaman saat
hubungan yang penting 9. Tingkatkan pengawasan pada bercerita kepada perawat
menurun kondisi tertentu (mis. rapat 8. Agar pasien dapat selalu
14. Perilaku merencanakan staf, pergantian shift) dipantau oleh perawat
bunuh diri menurun 10. Lakukan intervensi untuk terhindar dari
15. Euforia menurun perlindungan (mis. tindakan yang tidak
16. Alam perasaan depresi pembatasan area, diinginkan
menurun pengekangan fisik), jika 9. Agar tidak terjadi
diperlukan tindakan yang tidak
11. Hindari diskusi berulang diinginkan
tentang bunuh diri 10. Agar tidak terjadi
sebelumnya, diskusi tindakan yang dapat
berorientasi pada masa membahayakan diri
sekarang dan masa depan pasien
12. Diskusikan rencana 11. Agar pasien tidak
menghadapi ide bunuh diri di memikirkan mengenai
masa depan (mis. orang yang bunuh diri kembali
dihubungi, ke mana mencari 12. Agar pasien dan keluarga
bantuan) mengetahui ke mana
13. Pastikan obat ditelan harus mencari bantuan
13. Agar pasien meminum
Edukasi obat secara disiplin dan
14. Anjurkan mendiskusikan tepat waktu
perasaan yang dialami kepada Edukasi
orang lain 14. Agar pasien bisa dapat
15. Anjurkan menggunakan membagi perasaan yang
sumber pendukung (mis. dialaminya kepada orang
layanan spiritual, penyedia lain
layanan) 15. Agar pasien menjadi
16. Jelaskan tindakan pencegahan lebih nyaman dan aman
bunuh diri kepada keluarga 16. Agar keluarga dapat
atau orang terdekat mengetahui bagaimana
17. Informasikan sumber daya cara mencegah tindakan
masyarakat dan program tersebut agar tidak terjadi
tersedia 17. Agar keluarga dan pasien
18. Latih pencegahan risiko mengetahui program
bunuh diri (mis. latihan yang bisa digunakan
asertif, relaksasi otot 18. Agar keluarga dan pasien
progresif) terlatih dalam mencegah
Kolaborasi tindakan bunuh diri yang
19. Kolaborasi pemberian obat tidak diinginkan
antiansietas, atau antipsikotik, Kolaborasi
sesuai indikasi 19. Membantu dalam proses
20. Kolaborasi tindakan pengobatan dan
keselamatan kepada PPA penyembuhan pasien.
21. Rujuk ke pelayanan 20. Untuk membantu
kesehatan mental, jika perlu menangani korban
kekerasan bagi
perempuan dan anak.
21. Untuk membantu
menangani kesehatan
mental yang memerlukan
penanganan multidisiplin
dan spesialistik serta
perawatan.
4. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Pelaksanaan atau implementasi merupakan realisasi dari rangkaian
dan penentuan diagnosa keperawatan. Tahap pelaksanaan dimulai setelah
rencana tindakan disusun untuk membantu pasien mencapai tujuan yang
diharapkan dan implementasi harus sesuai dengan rencana keperawatan
yang telah dibuat.

5. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi merupakan tahap akhir proses asuhan keperawatan. Pada
tahap ini kita melakukan penilaian terakhir terhadap kondisi pasien dan
disesuaikan dengan kriteria hasil sebelumnya yang telah dibuat.
a. Evaluasi formatif (merefleksikan observasi perawat dan analisi
terhadap pasien terhadap respon langsung pada intervendi
keperawatan)
b. Evaluasi sumatif (mereflesikan rekapitulasi dan sinopsi observasi dan
analisi mengenai status kesehatan pasien terhadap waktu.
Menggunakan metode SOAP. Dalam evaluasi asuhan keperawatan
menggunakan format SOAP seperti:
S: Subjective (pernyataan atau keluhan dari pasien)
O: Objective (data yang diobservasi oleh perawat)
A: Analisys (kesimpulan dari subjektif dan objektif)
P: Planning (rencana tindakan yang dilakukan berdasarkan analisis)
DAFTAR PUSTAKA
Ann Isaacs. (2005). Keperawatan Kesehatan Jiwa Psikiatri. Edisi 3. Jakarta:
EGC
Hawari, D. (2001). Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa
Skizofrenia. Jakarta: EGC.
Keliat, B.A. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta EGC.
Nanda. (2005-2006). Panduan Diagnosa Keperawatan. Prima Medika.
Purwaningsih, dkk. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jogjakarta: Nuha
Medika.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan
Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan
Pengurus PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia Definisi dan Implementasi Keperawatan. Jakarta:
Dewan Pengurus PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan
Indonesia Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta:
Dewan Pengurus PPNI.
Tomb, David A. (2003). Buku Saku Psikiatri. (Ed. 6). Jakarta: EGC.
Videbeck, Sheila L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa.
Jakarta : EGC.
LEMBAR PENGESAHAN

………….., …………………………
Nama Pembimbing/CI Nama Mahasiswa

( ) ( )
NIP. NIM

Nama Pembimbing/Dosen/CT

( )
NIP.

Anda mungkin juga menyukai