Manajemen Risiko Likuiditas Bank Syariah
Manajemen Risiko Likuiditas Bank Syariah
Disusun Oleh :
KELAS B
PERBANKAN SYARIAH
i
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami
tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Sholawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-
nantikan syafa’ atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik
itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah yang berjudul "Risiko Likuiditas" Makalah ini disusun untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Manajemen Risiko Perbankan Syariah dengan dosen pengampu
Bapak Dr. Ridwansyah, Se.,M.E.,Sy
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan di [Link] itu, penulis mengharapkan kritik serta
saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang
lebih baik [Link] apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon
maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada dosen
mata kuliah Manajemen Risiko Bank Syariah yang telah membimbing kami dalam menulis
makalah [Link], semoga makalah ini [Link] kasih.
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................3
KESIMPULAN..............................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................15
iii
BAB 1
PENDAHULUAN
Secara umum tugas utama bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan. Kemudian dana yang telah terkumpul tersebut disalurkan kembali kepada mas-yarakat
dalam bentuk pinjaman (kredit), serta memberikan jasa-jasa bank lainnya. Untuk bisa
menghimpun dana dari masyarakat, maka bank memiliki keharusan untuk meyakin-kan nasabah
bahwa uang yang mereka titipkan dijamin keamanannya.
Dengan demikian, agar bisa memberikan keamanan kepada para nasabah, maka bank
tersebut haruslah [Link] likuiditas di dunia perbankan, merupakan satu keharusan yang
harus dilakukan, baik itu oleh pihak perbankan, praktisi keuangan, ataupun pihak-pihak ketiga
yang berencana menitipkan dananya di bank. Pentingnya penilaian atas likuiditas suatu bank,
merupakan salah satu cara untuk bisa menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi yang
sehat, cukup sehat, kurang sehat, dan tidak sehat.
Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat bagi para pihak yang berkaitan dengan
perusahaan salah satunya adalah manajemen perusahaan yang membutuhkan alat untuk
mengukur kinerja keuangan perusahaan dan hasilnya digunakan untuk merancang perencanaan
bisnis perusahaan dimasa depannya dan juga untuk mengevaluasi kinerja manajemen dan
perusahaan dengan cara membandingkannya dengan rata ± rata industry, sedangkan bagi para
kreditur dapat digunakan untuk memperkirakan potensi resiko yang akan dihadapi dikaitkan
dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjamannya.
Analisa rasio juga bermanfaat bagi para investor dalam mengevaluasi nilai saham dan jaminan
atas keamanan dana yang akan ditanamkan pada suatu perusahaan. Dengan demikian analisa
rasio keuangan yang dapat diterapkan atau digunakan pada setiap model analisis, baik model
yang digunakan oleh manajemen untuk pengambilan keputusan jangka pendek maupun jangka
panjang, peningkatan efisiensi dan efektivitas operasi serta untuk mengevaluasi dan
meningkatkan kinerja (corporate financial management model), dan lain sebagainya.
1
Salah satu penyebab kebangkrutan suatu bank adalah karena ketidakmampuan dalam
memenuhi kebutuhan [Link] karena itu, likuiditas yang tersedia harus cukup
sehingga tidak mengganggu kebutuhan [Link] syariah memiliki kewajiban untuk
melunasi atau disebut juga dengan likuiditas. Likuiditas merupakan salah satu faktor penentu
sehatnya perbankan syariah dalam melunasi dana para deposannya yang ingin menarik kembali
kredit yang diberikan dengan menggunakan rasio. Rasio tersebut berbanding terbalik dengan
rasio profitabilitas karena rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan
untuk mendapatkan keuntungan, sehingga se-makin tinggi rasio pitabilitas maka rasio likuiditas
semakin kecil. Hal tersebut disebabkan karena dana yang diperlukan untuk membiayai kreditnya
semakin kecil . Namun semakin kecil rasio likuiditas akan ber-pengaruh pada naiknya tingkat
profitabilitas.1
1
Selvia Nuriasari. Analisa Rasio Likuiditas Dalam Mengukur Kinerja Keuangan. (Metro : 2018) hal 2
2
BAB 2
PEMBAHASAN
Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.11/25/2009, pengertian resiko likuiditas adalah risiko
bank akibat ketidakmampuan bank memenuhi kewajiban bank yang telah jatuh tempo dari
pendanaan arus kas dan atau aset yang likuid tanpa menggangu aktivas bank sehari-hari. Dari
pengertian tersebut berarti bank harus mampu menyediakan dana cadangan bilamana ada
penarikan dana nasabah yang bersifat mendadak dan aktiva yang diivestasikan bank juga cukup
likuid bila mana harus mencairkan untuk menutupi kebutuhan dana.
Dapat disimpulkan secara umum Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidak mampuan
bank syariah untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan
atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat digunakan, tanpa mengganggu aktifitas, dan kondisi
keuangan [Link] risiko likuiditas itu risiko yang timbul dari ketidak mampuan bank syariah
dalam memenuhi kewajibannya pada waktu yang telah ditentukan pada nasabah.2
Farag, Harland, dan Nixon, (2013) menjabarkan risiko likuiditas yang dihadapi bank
menjadi dua jenis,
2
A. Khoirul Anam, RISIKO LIKUIDITAS DAN DAMPAKNYA TERHADAP KINERJA PERBANKAN DI INDONESIA, (Jawa
Tengah,2013) hal 2-3
3
saat jatuh [Link] ini setara dengan kegagalan bank atau default, atau dapat
juga disebut sebagai kegagalan arus kas.
Secara umum risiko likuiditas mencakup dua hal yaitu kemampuan Bank dalam
memenuhi liabilitas atau jumlah dana simpanan nasabah yang akan ditarik kembali oleh para
nasabah, kemudian hal yang kedua adalah kemampuan Bank dalam mendapatkan dana baru,
dana baru yang dimaksud disini adalah akses atau sumber pendanaan yang bisa segera Bank
Islam dapatkan guna memenuhi kebutuhan jangka pendek yang telah jatuh tempo. Dengan
demikian Risiko Likuiditas Perbankan merupakan akibat dari interaksi antara aset dan liabilitas
yang Bank miliki.
Sehingga permasalahan Likuiditas pada Bank Islam dapat terjadi jika beberapa kejadian
berikut terjadi. (Imam Wahyudi, dkk : 2013)
1. Pada saat penarikan dana simpanan yang berjumlah besar, ini bisa menjadi penyebab
Bank Islam mengalami permasalahan likuiditas, karena jika saat nasabah melakukan penarikan
dana dari Bank dengan jumlah yang besar, akan tetapi pada saat yang bersamaan pihak Bank
tidak memiliki sumber yang mencukupi dan tidak bisa mencari sumber pendanaan lain dengan
cepat untuk bisa memenuhi kewajiban tersebut. Maka akan terjadinya kekosongan kas.
2. Ketika Bank Islam telah memiliki komitmen pembiayaan dalam jumlah besar yang
belum teralisasi dengan debitur dan pada saat realisasi Bank Islam tidak memiliki dana yang
cukup. Dalam kejadian seperti ini bisa diibaratkan seperti saat kita berjanji kepada orang lain,
3
Perminas Pangeran, RISIKO LIKUIDITAS DAN DETERMINANNYA: STUDI EMPIRIS PADA BANK SWASTA NASIONAL
DEVISA DI INDONESIA, (2017 : 68-82)
4
akan tetapi pada saat tiba waktunya untuk menepati janji, kita tidak bisa menepatinya. Hal ini
akan menyebabkan penurunan tingkat kepercayaan nasabah yang berakibat para nasabah akan
kabur dari Bank tersebut.
3. Terjadi penarikan simpanan yang cukup besar dan Bank Islam tidak memiliki asset
yang sapat segera dicairkan seperti sertifikat Bank Indonesia ataupun aset-aset yang lainnya yang
sejenis. Maka Bank Islam tidak bisa menyalurkan seluruh dana ataupun aset yang dimilikinya
untuk pendanaan ataupun jenis-jenis akas pembiayaan yang tidak bisa dicairkan dalam waktu
singkat.
4. Terjadi penuruan besar-besaran terhadap nilai aset yang Bank miliki, yang memicu
turunnya pula tingkat kepercayaan nasabah terhadap bank tersebut, jika tidak semua nasabah
yang menarik investasinya dan pihak Bank bisa memenuhi kewajibannya itu maka kondisi Bank
akan baik-baik saja, akan tetapi jika para nasabah melakukan penarikan dananya secara bersama-
sama tentu saja pihak Bank tidak akan sanggup untuk memenuhi kewajibannya tersebut. Dan
akibatnya Bank akan mengalami kebangkrutan.
5. Kondisi ekonomi dan moneter, sebagai bagian dari sistem perekonomian, kondisi
perekonomian secara umum sangat mempengaruhi kondisi likuiditas perbankan syariah.4
Perbedaan antara rumusan teoristis dan realita dari perbankan syariah dapat didefinisikan
dengan jelas. Secara teoritis, para ekonom muslim menjelaskan bahwa pada sisi liabilitas, Bank
Syariah hanya memiliki dan investasi (invesment deposit). Sedangkan pada sisi aset, dan
investasi ini selanjutnya akan disalurkan melalui bagi hasil (profit sharing). Berdasarkan sistem
ini, gejolak yang terjadi pada sisi aset, secara otomatis ditompang oleh konsep berbagi risiko
(risk sharing) sebagai karakteristik dari dana investasi. Dengan demikian, secara teoritis
perbankan syariah menawarkan alternatif yang lebih stabil dibandingkan sistem perbankan
[Link] karakteristik sistematik dari sistem ini adalah sebanding dengan risiko
yang melekat pada reksadana (mutual find).
4
Setiya Afandi,IMPLEMENTASI DAN SUPERVISI MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA, 2022 : 21-
32
5
Pada sisi aset, investasi dapat dilakukan melalui model pembiayaan berbasis pendapatan
tetap (fix incom), seperti murabahah (jual beli dengan mark-up), jual beli dengan cicilan
(murabahah jangka menengah/panjang), istishna/salam (penyerahan objek jual beli ditangguhkan
atau pembayaran dimuka) dan ijarah (sewa-menyewa).Dana hanya disediakan untuk membiayai
aktivitas bisnis yang sesuai dengan prinsip syariah.
Sementara disisi liabilitas, dana pihak ketiga dapat dihimpun dalam bentuk rekening giro
(current account) dan rekening investasi (invesrment account). Jenis danayang pertama dalam
bank syariah adalah qard hasan (pinjaman tanpa bunga) atau amanah (kontrak kepercayaan).
Dana tersebut harus dikembalikan secara penuh kepada deposan atas unjuk (giro). Sedang
deposan investasi akan menerima imbalan berdasarkan skema profit and loss sharing (PLS) dan
dana tersebut ikut berbagi dalam risiko operasional bank. Penerapan konsep bagi hasil kepada
deposan merupakan karakteristik unik bank syariah karakteristik ini bersama-sama dengan
variasi model pembiayaan dan kepatuhan pada prinsip-prinsip syariah, telah mengubah
karakteristik risiko yang dihadapi oleh Bank Syariah.5
Kerangka manajemen risiko likuiditas yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia telah
memasukkan prinsip-prinsip asesmen manajemen risiko likuiditas dari Basel Committee on
Banking Supervision. Berikut ini merupakan prinsipprinsip asesmen untuk manajemen risiko
bagi institusi perbankan:
2. Mengukur dan memantau kebutuhan pendanaan. Setiap bank harus membuat sebuah
proses untuk pengukuran dan pemantauan yang berkelanjutan atas kebutuhan pendanaan bersih.
5
Wiwin Winanti, Manajemen Risiko Likuiditas Pada Perbankan Syariah 2019 : 81-90
6
Selain itu bank harus menganalisis likuiditas yang menggunakan berbagai skenario
“seandainya.”
3. Mengelola akses pasar. Secara periodik, bank harus meninjau ulang upayanya untuk
membangun dan memelihara hubungannya dengan kreditor, untuk mempertahankan diversifikasi
utang, dan memastikan kemampuannya untuk menjual aset.
6. Pengendalian internal untuk manajemen risiko likuiditas. Bank harus memiliki sistem
pengendalian internal yang memadai atas proses manajemen risiko likuiditasnya. Komponen
dasar sistem pengendalian internalnya antara lain tinjau ulang dan evaluasi independen yang
rutin atas efektivitas sistem dan, jika diperlukan, memastikan bahwa perbaikan telah dilakukan
atas pengendalian internal tersebut.
6
Muhammad Doni, dkk. Manajemen Risiko Likuiditas Pada Perbankan Syariah 2018 : 39-47
7
2.6 Tujuan Risiko Likuiditas
[Link] kecukupan likuiditas bank untuk mendukung pertumbuhan aset bank yang
berkelanjutan.
[Link] likuiditas bank pada tingkat yang optimal sehingga biaya atas pengelolaan
likuiditas berada dalam batas yang dapat ditoleransi.
a. Internal :
4) Bank-bank ekspansi aset cepat melebihi dana yang tersedia di sisi kewajiban.
8
b. Eksternal :
Risiko likuditas pada umumnya berasal dari dana pihak ketiga, aset-aset dan kewajiban
kepada counter-parties. Komponenoff-balance sheet yang paling signifikan dalam likuidias bank
dan pemenuhan pendanaannya adalah komitmen nasabah. Oleh karena itu, bank mengelola risiko
likuiditas agar dapat memenuhi setiap kewajiban financial yang sudah disepakati dengan tepat
waktu, dan dapat memelihara tingkat likuiditas yang memadai dan optimal.
a. Kecermatan perencanaan arus kas (cash flow) atau arus dana (fund flow) berdasarkan
prediksi pembiayaan dan prediksi pertumbuhan dana, termasuk mencermati tingkat
fluktuasi dana (volatility of funds).
b. Ketepatan dalam mengatur struktur dana, termasuk kecukupan dana-dana non PLS
(profit and loss sharing).
d. Kemampuan menciptakan akses ke pasar antar bank atau sumber dana lainnya,
termasuk fasilitas lender of last resort.
7
Wiwin Winanti, MANAJEMEN RISIKO LIKUIDITAS PADA PERBANKAN SYARIAH ( Purwakarta : 2019 )
9
2.9 Penerapan Manajemen Risiko Likuiditas
(3) kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko serta
sistem informasi manajemen risiko,
(4) sistem pengendalian intern yang menyeluruh. Dalam menerapkan manajemen risiko
likuiditas, bank perlu mengevaluasi profil risiko likuiditasnya yang dikatikan dengan kecukupan
modal (capital requirement).
1. Proyeksi arus kas, yaitu proyeksi seluruh arus kas masuk dan arus kas keluar termasuk
kebutuhan pendanaan untuk memenuhi komitmen dan kontinjensi pada transaksi rekening
administratif.
3. Profil maturitas, yaitu pemetaan posisi aset, kewajiban, dan rekening administratif ke
dalam skala jangka waktu tertentu berdasarkan sisa jangka waktu sampai dengan jatuh tempo.
4. Stress testing, yaitu pengujian yang dilakukan dengan menggunakan skenario tertentu
terhadap posisi likuiditas bank dalam kondisi krisis.
Penerapan manajemen risiko pada perbankan syariah disesuaikan dengan ukuran dan
kompleksitas usaha serta kemampuan Bank. Bank Indonesia menetapkan aturan manajemen
10
risiko ini sebagai standar minimal yang harus dipenuhi oleh BUS dan UUS sehingga perbankan
syariah dapat mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi namun
tetap dilakukan secara sehat, istiqomah, dan sesuai dengan Prinsip Syariah.
Dalam manajemen risiko, pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi semua
risiko yang dihadapi, kemudian mengukur atau menentukan besarnya risiko dan barulah dapat
dicarikan jalan keluarnya untuk menghadapi atau menangani risiko itu.
Oleh karena itu pihak manajemen harus menyusun strategi untuk memperkecil atau
mengendalikan risiko yang dihadapinya Oleh karena itu, setiap bank Syariah harus dapat
mengidentifikasi setiap risiko yang akan dihadapi didalam proses berjalannya bank Syariah
tersebut.
11
a. Identifikasi risiko
b. Pengukuran
c. Pemantauan
d. Pengendalian
12
Di kantor cabang pengendalian transaksi dan operasional lainnya dilakukan oleh
manajer cabang. Bila ada permasalahan maka kantor cabang segera memberitahukan
kepada kantor pusat, manajer pusat melakukan rapat dengan pengurus untuk mengambil
keputusan.8
BAB 3
8
Tania Ananda Putri, dkk. Manajemen Risiko Likuiditas Pada Perbankan Syariah ( Sumatera Barat : 39-47
13
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidak mampuan bank syariah untuk memenuhi
kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan harus kas dan atau aset likuid berkualitas
tinggi yang dapat digunakan, tanpa mengganggu aktifitas, dan kondisi keuangan
[Link] analisis ini suatu bank sebaiknya harus mempelajari dan memahami
keutamaan dan risiko likuiditas itu sendiri untuk mengurangi kemungkinan bank untuk mengarah
pada kebangkrutan. Apabila suatu bank sudah bisa mengendalikan likuiditasnya, bank akan
mendapatkan kepercayaan dari nasabahnya dan bank tersebut akan menjadi lebih maju dan
berkembang.
Oleh karena itu, penting bagi bank untuk mengelola likuiditas yang cukup sehingga
mampu menghadapi perubahan-perubahan kondisi keuangan dan ekonomi [Link]
pengelolan likuiditas adalah masalah yang ber-hubungan dengan kemampuan suatu perusahaan
untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Jumlah alat-alat
pembayaran (alat likuid) yang dimiliki oleh suatu perusahaan pada suatu saat merupakan
kekuatan membayar dari perusahaan yang bersangkutan. Suatu perusahaan yang mempunyai
kekuatan membayar belum tentu dapat memenuhi. Jadi jika suatu bank atau perusahaan sudah
bisa mengelola dan memenuhi kewajiban finansalnya, mereka akansiap untuk mengatasi masalah
keuangan dan ekonomi yang akan datang kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
14
Afandi, S. (2022). IMPLEMENTASI DAN SUPERVISI MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN SYARIAH DI
INDONESIA. hal 21-32.
Doni, M., Putri, T. A., Juliansia, T. B., Mawadha, U., Sari, W. P., & Anina, R. (2018). Manajemen Risiko
Likuiditas Pada Perbankan Syariah. hal 39-47.
Nuriasari, S. (2018). Analisa Rasio Likuiditas Dalam Mengukur Kinerja Keuangan. hal 2.
Pangeran, P. (2017). RISIKO LIKUIDITAS DAN DETERMINANNYA: STUDI EMPIRIS PADA BANK SWASTA
NASIONAL DEVISA. Jurnal Manajemen , Vol.7 No.2, hal 68-82.
Winanti, W. (2019). ANAJEMEN RISIKO LIKUIDITAS PADA PERBANKAN SYARIAH. EKSISBANK , Vol. 3 No. 1,
hal 81-90.
15