Kehidupan Sosial di Perkampungan Melayu Riau
Kehidupan Sosial di Perkampungan Melayu Riau
Sumber tulisan ini berasal dari penelitian Dr. Elmustian Rahman, MA.,
Pantun dalam Peristiwa Keekonomian Tradisional Melayu Riau, 2018.
Program Pascasarjana Unri. Alamat: elmustian@[Link]
1
kekuasaan adat di bagian hulu sungai” (kekuasaan di hulu) dan “raja di
[Link] bahagian hilir sungai” (kekuasaan kerajaan di hilir).
Hulu adalah sebutan untuk sesuatu yang melawan arus air
sungai. Perjalanan ke hulu disebut dengan mudik. Sesuatu yang terkait [Link]
dengan kawasan hulu adalah simbol asal-muasal, berhubungan Kampung Melayu, --istilah sementara untuk menyebutkan
dengan adab sopan, santun, terkait dengan hukum adat semula jadi, sebuah komunitas yang memenuhi kelaziman kelompok tradisi
cenderung juga disebut wilayah sakral atau daya supranatural. Ulu atau (folklore) suatu masyarakat--, biasanya cenderung mengelompok,
hulu berarti pangkal atau kekuasaan, yang menyiratkan kejernihan. memiliki saujana (landskape) yang bagi mereka memiliki fungsional
Hulu dalam kaitan itu menjadi oposisi binari dari hilir. Dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan adat atau budaya. Kampung Melayu lazimnya
masyarakat Tiga Lorong hulu adalah salah satu arah selain hilir, darat, terletak di antara teluk dan tanjung hingga ke tanjung dan teluk
dan baruh, sesuatu yang berhubungan dengan sungai. Kawasan Tiga berikutnya yang disebut dengan rantau. Jadi, penduduk Melayu
Lorong adalah wilayah perbatasan (frontier area), perhubungan antara biasanya berdiam dalam satu hamparan rantau.
hulu (Inderagiri) dengan hilir (Rantau Kuantan) memainkan peranan Pada kawasan saujana kampung seperti itu, biasanya
dalam politik orang Melayu Tiga Lorong. memenuhi syarat kampung Melayu. Kampung adalah suatu pemukiman
Di Batang Kuantan atau Sungai Indragiri misalnya untuk masyarakat Melayu yang memiliki ciri-ciri tradisi dan terdiri dari rumah-
kasus ini menjadi, asas pengeksporan hasil hutan dari kawasan rumah yang mengelompok. Ada rumah yang baru dibangun dan ada
pedalaman yang ditukarkan dengan kain dan garam dari hilir. Ibukota juga rumah tua lebih dari seratusan tahun. Kampung memiliki fasilitas
bagi negeri berdekatan sungai didirikan di kawasan yang strategik yaitu umum yang dipakai bersama-sama seperti surau atau masjid, sekolah
kuala sungai. Hal ini memudahkan urusan pengawasan terhadap atau madrasah, ada kepuk atau belubur, ada perkuburan, dll. Dalam
semua pergerakan antara hulu hingga hilir sungai. sebuah kampung Melayu lazimnya terdapat seorang tetua adat seperti
Bagi masyarakat Tiga Lorong misalnya, istilah 'hulu' dan penghulu atau batin yang menjadi kepala kampung, ada imam mesjid,
'orang hulu' ialah dua perkataan yang mengandung imaji. Yakni orang- bidan atau dukun, dan tetua-tetua kampung, dll. Kampung bersama
orang yang kuat memegang adat namun masih menjalankan ritual-ritual datuk-datuk adat yang ada di kampung tersebut. Di kawasan ini lahir
kepercayaan nenek moyang. Hal ini bertentangan dengan anggapan teks-teks inisiasi kehidupan masyarakat Melayu, mulai dari melahirkan
terhadap ‘hilir’ atau ‘orang hilir' yang dikatakan sebagai orang yang hingga kematian dan ritual dan upacara pasca kematian.
mempunyai prinsip agama itu adalah adat itu sendiri. Imaji ini sedikit Perkembangan berikutnya di kawasan kampung ini adalah
membuka dan menggeser, sejak lintas perdagangan ekonomi antara kampung baru. Yakni kampung yang baru didirikan, biasanya setelah
Hulu dan Hilir. Kawasan Hulu bagi masyarakat Tiga Lorong di meninggalkan tempat lama atau kampung sebelumnya. Wujud pula
penghujung dekade terakhir menjadi tempat sumber ilmu bela diri kampung dalam, yakni sebuah kompleks pemukiman yang ada di
seperti silat Pangean. dalam benteng kerajaan Melayu, tempat istana raja dan rumah kaum
Berkaitan dengan gelar, terutama istilah yang berhubungan bangsawan berada. Selain istana, di dalamnya juga terdapat balai
dengan ‘hulu’, seperti halnya gelar penghulu atau datuk adat yang kerapatan dan masjid kerajaan. Dan untuk istilah-istilah berikutnya ada
biasanya digunakan kepada seseorang ketua negeri atau tetua adat pula Kampung lama dan kampung tua. Kampung lama. Kampung yang
yang mengelola sesuatu negeri atau kawasan. Perkataan hulu telah lama ditinggalkan karena penduduknya telah pindah ke kampung
menunjukkan peranannya sebagai seorang ketua. yang baru. Kampung tua. Kampung yang telah berusia tua dan pernah
Istilah hulu adalah sebutan umum untuk menyebutkan menjadi kampung yang besar di masa lalu, namun sekarang mulai sepi
jabatan pangkat khusus yang disandang oleh seseorang, misalnya; dan ditinggalkan orang.
penghulu, datuk, ninik mamak, panglima, ketua; pengetua, induk
semang, tuan guru, dll. Oleh karenanya, bagi orang Melayu sebutan [Link]
hulu itu diterjemahkan bagi pemimpin yang menjadi pilihan seseorang. Kawasan dusun, yakni sebuah kawasan perkampungan
Tidaklah setiap orang mampu menjadi pemimpin bagi orang banyak yang dihuni oleh penduduknya secara menetap. Jumlah penduduknya
Sebutan ini sejalan pula dengan istilah yang selalu disebut dengan lebih kecil jika dibandingkan dengan kawasan kampung. Dusun dapat
gagang, ulu parang atau ulu lembing, dll., sesuatu yang dapat dipegang dikatakan merupakan cikal bakal dari kampung. Di kawasan ini berdiri
dan menjadi bersahabat karena tidak sakit memakai alat tersebut. rumah-rumah pondok dan hingga semipermanen. Dusun dilengkapi
dengan tanam-tanaman palawija dan bumbu-bumbuan, seperti serai,
[Link] kunyit, lengkuas, temu, lio (helia), cekur, berbagai jenis lado (cabe),
Sesuatu yang bertentangan dengan hulu atau bagian wilayah sirih, bawang, pandan harum, dll. Berbagai-bagai jenis buah-buahan
sungai yang mengarah ke tempat rendah, seperti halnya ke pantai. budaya, seperti nangka dan cempedak, berbagai-bagai jenis pisang.
Simbolisasi dengan keterbukaan, kawasan yang menganggap adat Pelbagai jenis limau, seperti limau nipis, limau sundai, jeruk purut,
yang dianggap mulai berubah, imaji-imaji kelonggaran atau masuknya kesturi, limau kesik. Ada juga gambir, kulit manis, cengkeh, daun
pengaruh, kecenderungan profane, atau massal, persoalan-persoalan salam, buah pala, dan buah keras atau kemiri. Di kawasan tersebut
nafsu-nafsi, dan selalu menjadi kawasan bandar, cenderung diartikan selain rumah juga ditanam tanam-tanaman multikultur untuk keperluan
heterogenitas. Berhimpunnya beberapa suku. Di Hilir Inderagiri sehari-hari, seperti kelapa, rambutan, nangka, dan cempedak. Ditanam
misalnya berhimpun suku Banjar, Bugis, dan bahkan China. Meskipun juga mempelam, pauh, embacang, kuini, tayas, limos, dan mangga.
kecenderungan ini bergeser kepada kota dan pusat-pusat pertumbuhan Ada tanaman seperti buah-buahan seperti kemang dan binjai. Untuk
ekonomi. Seperti halnya hulu, maka hilir adalah jenis salah satu arah, tanaman yang seperti ini ditanam yang diniatkan untuk disedekahkan.
selain hulu, darat, dan baruh, sesuatu yang berhubungan dengan Setelah menghasilkan dapat dinikmati bersama dalam satu dusun
sungai. Hilir selalu disandingkan dan sekaligus ditandingkan dengan tersebut. Sehingga tidak terjadi masalah sosial kelak di kemudian hari.
hulu. Keduanya istilah ini bagi masyarakat Tiga Lorong mewakili Penanaman kelapa bahkan bisa dengan menumpang di tanah orang
perbedaan karakteristik geografi, linguistik, dan budaya mereka. lain dengan hasil yang dibagikan.
Kawasan hilir sungai biasanya dipenuhi pohon nipah, bakau, Di dalam kawasan yang berhampiran dengan dusun dan
dan pohon tropis lainnya yang biasa tumbuh di tepi laut. Sebagian lagi kampung juga ada tanam-tanaman keras, seperti durian dengan
wilayah pertanian misalnya menanam padi dan hulu merupakan tempat berbagai-bagai jenisnya, durian Belanda (sirsak), rambutan, buah
bersembunyi perbukitan dan gunung-ganang. Kedua kawasan ini juga kuduk biawak, arampara, rambutan utan, nangka, cempedak, pelbagai
masuk dalam imaji bahasa yang berbeda, yakni hulu yang mengarah ke jenis duku seperti duku turak dan duku beluluk, langsat, derendan,
Melayu Minangkabau sedangkan hilir mengarah ke Melayu inti, rambai, manggis, kelapa, buah bedaro (mata kucing), mempelam, kuini,
kerajaan Inderagiri untuk kasus sungai Indragiri atau Batang Kuantan, embacang, limoih (limos), tayas, pauh, mangga, petai, alai, kabau, petai
Kampar, yang berbeda dengan Rokan yang berhulu di Tapanuli Selatan belando, rumbia, dan pinang.
dan Minangkabau. Perbedaan ini juga menjadi bagian dari perbedaan
karakter adat-istiadat, seperti yang dijelaskan pada hulu. Kebanyakan [Link] Larangan
negeri Melayu membentuk pusat kerajaan di hilir, yang berdekatan Sungai bagi masyarakat Melayu menjadi kawasan bermain
sungai utama yang menghubungkannya dengan hulu sungai. dalam pelbagai aspek kehidupan. Pengelompokan kawasan di atas pun
Sepanjang sejarah Melayu, salah satu masalah yang sering terjadi memperlihatkan, bahwa tanah dusun, kampung, sawah-ladang, hutan
adalah hilir berusaha untuk menguasai hulu. Dalam sejarah, banyak produksi, rimba kepungan sialang dan kawasan hutan simpanan,
kerajaan di sepanjang sungai bertolak-angsur dengan “datuk atau dengan mempertimbangkan sungai. Dan, tampaklah bagaimana sungai
2
menjadi semacam episentrum kebudayaan Melayu. Dan, adalah bermakna: sesuatu yang dilakukan menurut adat atau kebiasaan yang
persoalan marwah, bagi sesiapa saja yang merusak kawasan sungai, lazim.
sawah ladang, hutan rimba seperti terangkum dalam pantang larang Dari sekian banyak tempat pada saujana dalam alam Melayu
terekspresikan dalam pantun-pantun dan syair. Kawasan saujana di atas, memungkinkan banyak lahir tempat atau kawasan yang
sebagai sesuatu yang dijaga-pulihara dengan cermat dan penuh kehati- melahirkan ritual dan upacara-upacara yang masing-masing tempat
hatian. Kawasan yang sengaja dijaga-pulihara dengan ketentuan adat atau kawasan itu melahirkan genre sastra.
yang ketat, agar terhindar dari kerusakan. Dari sikap seperti ini maka
lahirlah apa yang disebut dengan sungai larangan, danau atau tasik
larang dan rimba larangan. 13. Sawah
Sungai larangan yakni sebuah sebutan untuk kawasan yang Orang Melayu membedakan antara huma basah (sawah)
satu atau beberapa ruang sungai yang memiliki aturan adat yang mesti atau berair dengan huma kering (umo ladang) karena banyak sebab
diikuti oleh masyarakat. Aturan itu antara lain tidak boleh menahan atau penangannya juga berbeda. Sawah adalah kawasan penting berupa
menagan pekarangan, dianjurkan untuk menjaga dan memelihara tanah basah yang diolah untuk dijadikan tempat menanam padi.
sungai tersebut dari gangguan hewan atau manusia lainnya. Sanksi Pengairannya dari air tadah hujan atau berasal dari tanah rawa. Sawah
adat dan pantang larang diberlakukan, antara lain dengan memberikan bagi masyarakat Melayu terbagi dalam petak-petak dengan pembatas
hukuman berat terhadap siapa saja yang merusak kawasan ini. Orang berupa tanah yang ditinggikan yang disebut bato. Bato adalah
yang mengambil biasanya akan kena tulah, sebutan untuk penyakit pembatas tanah yang keras. Bato semua dari balun, yakni tumpukan
perut buncit tanpa sebab dan kemudian mati tanpa pertolongan yang jerami yang disusun membujur sesuai keinginan, yang lama kelamaan
semestinya karena dikhawatirkan orang yang menolongnya juga akan balun ini ditinggikan dan ditinggikan terus dan menjadi keras dan bisa
kena tulah. Kawasan larangan, seperti di atas merupakan kebijakan dilalui dan diinjak menjadi keras dan menjadi tanah yang kemudian
lokal menjaga lingkungan danau atau tasik, sungai, dan rimba. disebut dengan bato. Istilah lainnya disebut pematang. Fungsi
Lubuk Larangan di Kampar Kiri, di sungai Rokan, antara lain utamanya sebagai pembatas sawah dan jalan lalu-lalang orang, juga
di kampung Kubang Buayo (Rokan 4 Koto), Rokan Hilir. Menjadi tradisi dijadikan tempat menanam tanaman palawija. Tanaman yang ditanam
dari dahulu masyarakat kenegerian Baturijal dan Cerenti sekali setahun antara lain seperti kacang-kacangan (kacang pancang, kacang bulu
melaksanakan merawang basamo. Mereka bersatu atau bergabung atau kacang kuning, kacang ijau, kacang belimbing, kacang tanah),
untuk merawang atau mencari ikan bersama-sama di tempat ini. Lubuk jagung, terung, kenulo, peghio, dan lain-lain.
larangan yang paling banyak di Batang Kumu sungai Rokan. Sebelum sawah ditanami padi, biasanya sawah terlebih
dahulu digemburkan dengan mencangkul dan melumatkan tanahnya.
9. Tanjung Benih padi yang diambil dari kepuk disemai dulu. Baru setelah berumur
Sebutan tanjung selalu dipasangkan dengan teluk. Tanjung dua hingga tiga minggu padi dianggua (dianggur). Dianggur sebutan
adalah suatu keadaan tanah yang menjorok atau menonjol atau wilayah memindahkan padi ke lumpur yang berada di tepi sawah. Setelah itu
kelokan tebing sungai yang berhadapan dengan teluk. Tanjung di padi yang sudah dianggua tadi baru ditanami dengan jarak yang
kawasan sungai biasanya dijadikan penduduk sebagai tempat bermain ditentukan, hingga berbuah.
dan tempat menahan pekarangan. Pekarangan adalah istilah yang Di kawasan sawah hidup tumbuhan yang bisa dimakan,
digunakan untuk suatu usaha tempat memasang alat perangkap ikan, berupa tanaman air, seperti seroja yang menjadi simbol Melayu purba,
seperti lukah gedang, tajur, jantang, dll. Tebing di kawasan tanjung pelayau atau genjer, kemangi, pampung, galinggang sayur, buah
cenderung airnya deras dan tebingnya selalu runtuh atau abrasi. Di kumbuh, dll. Di daratannya sedikit ada ubi kayu, ubi jalar, daun katu,
tanjung pula mempunyai wilayah pandangan yang sempit karena pepaya, sawi, taruk, labu, kundur, kacang, terung, terung rimbang,
dibatasi oleh sungai. Di kawasan tanjung ini pula lahir teks-teks sastra berbagai-bagai jenis lado, perio (peria), mentimun mencit, mentimun,
yang berhubungan dengan aktivitas masyarakat seperti teks-teks yang betik, kemikai (sejenis semangka). Dalam kawasan ini pula sawah
berhubungan dengan perikanan. hidup ikan air darat atau ikan sawah-rawa, seperti ikan tuman, ruan
(anak-anak, anak bocek, anak kedak, ruan), jalai, pelumpung, sianget,
10. Teluk puyu, sepat ghatuis, sepat nasi, sepat buto, sepat siam, kepa,
Sebutan teluk dalam masyarakat Melayu adalah sebutan pateghung, ikan tangkaghelik ukuran kecil dan ikan singkat jika sudah
untuk bahagian sungai yang berbentuk menjorok ke darat. Di seberang besar, kepalo timah, pawas, belut, limbat (limbat kalang, limbat aka),
tanjung kerap disebut dengan teluk seperti yang dikatakan pada bagian berbagai-bagai jenis ciput pinang atau ciput sawah.
tanjung di atas. Wilayah kelokan batang atau sungai biasanya
berhadapan dengan tanjung. Masyarakat Melayu lebih menyukai teluk 14. Ladang (Umo Renah)
sebagai tempat mandi selain pulau. Arus air di teluk biasanya Kawasan yang berhampiran dengan sawah, atau dibuat
berkunak-kunak atau berpusar dan tebingnya selalu terjadi runtuh bersendirian karena dibuat di ladang kasang. Merupakan kawasan
(abrasi). penting lainnya setelah sawah. Sebutan untuk umo kasang atau
ladang, yakni lahan tanam untuk tanaman padi atau jenis tanaman
11. Padang jangka pendek lainnya yang terletak di dataran tinggi atau bukit.
Pada umumnya, di kampung-kampung Melayu disertai Tanaman padi yang ditanam di ladang atau umo kasang ini adalah padi
dengan padang, yakni kawasan tempat masyarakat Melayu darat atau padi bukit. Dibuat dengan membuka hutan dengan
memelihara hewan ternak seperti lembu, kerbau, dan kambing. Usaha menebang pohon-pohonnya, membersihkan, dan meratakan tanahnya.
beternak selain untuk keperluan konsumsi keluarga sendiri juga untuk Penanaman padi di ladang dilakukan dengan cara bergotong royong,
dapat diperdagangkan kepada masyarakat di kampung itu, sehingga seperti batoboh atau pelaghien atau perharian. Ada tradisi menugal
kebutuhan konsumsi protein hewani dapat terpenuhi tanpa harus dengan menu utama cindul tugal. Masyarakat Tiga Lorong karena
diimpor dari negeri lain. Di kawasan padang ini melahirkan teks-teks tanahnya yang luas tidak memerlukan pupuk, namun demikian
yang berhubungan dengan hewan ternak dan imajinasi-imajinasi kesuburan tanah penting, karena itu menanam padi di darat sering
tentang beternak seperti simbol-simbol keberuntungan masyarakat berpindah-ranah lokasi untuk mencari kawasan ladang yang baru. Cara
terhadap hewan ternak lainnya. seperti ini dilarang dihentikan oleh kebijakan pemerintah Indonesia
pada masa orde baru melalui PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) yang
12. Alur mendapat pendidikan yang tidak memahami tradisi pertanian Melayu.
Sungai yang biasanya mengalirkan arus air dari bencah dan Padahal, kalaupun ladangnya berpindah-pindah, tetapi tidak boleh
sawah. Pelangai perairan dari lahan gambut dan sejenisnya. Di bagian keluar dari kawasan yang sudah ditetapkan itu. Sesuai dengan
darat, alur merupakan tempat mencari ikan rawa atau sawah dan di ungkapan adatnya mengatakan: “walau berpindah, di sana juga; walau
bagian muara mencari ikan sungai. Lazimnya ikan yang diperoleh pada beralih tetap di situ”.
kawasan ini antara lain ikan puyu, ikan singkat atau tangkerelik, kepa,
pawas, dan sejenisnya paling banyak diperoleh. 15. Danau dan Tasik
Alur sering berbentuk anak sungai, semacam lekuk yang Sebutan danau dan tasik dalam alam Melayu, memiliki
memanjang pada tanah, atap, alur air, dll. Alur menjadi simbol pengertian yang berbeda. Danau memiliki ukuran yang lebih luas,
keteraturan adat istiadat. Aturan adat, yang baik dan benar yang diikuti sedangkan tasik lebih kecil, dan lebih besar dari lekuk. Suatu tempat
masyarakat. Dikenal peribahasa alur bertempuh, jalan berturut dengan genangan air yang luas atau panjang, arusnya tenang, memiliki
3
kedalaman dan luas tertentu untuk dapat dikatakan sebagai danau. pematang dijadikan tempat pondok atau permukiman. Pematang atau
Danau terjadi secara alamiah. Sebuah genangan air yang luas namun Selunak menjadi salah satu wilayah Tiga Lorong.
tidak cukup dalam maka tidak dapat disebut sebagai danau.
Danau di kawasan Tiga Lorong dan Rokan bagian hilir 17. Kepungan Sialang dan Hutan Simpanan
merupakan bentuk lingkungan danau perairan tawar yang tidak Kawasan yang penting yang letaknya berhampiran dengan
bergerak (lactic). Merupakan salah satu alternatif tempat mencari ikan sawah-ladang dan hutan simpanan, ada kawasan khusus yang disebut
selain sungai dan sawah atau rawa-rawa. Lazimnya, masyarakat yang dengan kawasan kepungan sialang. Tumbuh dan hidupnya pohon-
ingin mengadakan kenduri cukup pergi menyinang aau menyuluh, pohon “sialang”, yakni tempat lebah bersarang. Berhampiran dengan
menyerampang, dan menjaring ke danau. Ikan pun dapat dalam waktu kawasan kepungan sialang, adalah kawasan perkebunan karet yang
tak berapa lama. dalam beberapa dekade pernah menjadi primadona dan
Di antara banyak danau yang ada di Tiga Lorong, Rawang mensejahterakan kehidupan masyarakat Tiga Lorong yang disebut
Landai merupakan rawang larangan yang awalnya adalah danau. dengan “Zaman Kupon”.
Rawang ini dilarang siapa saja mengambil ikannya kecuali dengan Selain karet, di kawasan ini juga tumbuh pohon enau yang
waktu yang sudah ditentukan, yakni sekali setahun pada pun musim beberapa bagian batangnya dapat dijadikan beberapa peralatan dapur,
kemarau. Mampu menghasilkan ikan memenuhi keperluan masyarakat sapi ijuk, sapu lidi, dan lain-lain. Tandan buahnya yang muda diolah
Tiga Lorong dan rantau Cerenti. dengan ritual dan menghasilkan air nira dan gula. Ada pula pohon
Menurut riwayat masyarakat, danau tersebut dahulunya ada kemang dan binjai yang dapat dimakan atau dijadikan asam sambal.
tapah besar, yang ukurannya lebih dari orang dewasa, paling besar dan Ada pohon jenis asam lainnya seperti asam kandis, gelugur, asam
sudah memakan daging carnivore. Namun rawang tersebut sekarang paya, buah lakum. Kawasan ini hidup buah-buahan seperti salak buah
tak lagi berfungsi seperti dulu. Ikan yang ada punah karena sempitnya nam, pohon tampang keras (kemiri), buah berang, sukun, buah tampui,
tempat kehidupan mereka. Padahal melihat dari potensinya dulu, danau tupak, kulum tunjuk, buah aramparo, buah tungau, berenai, buah kayu
ini berhubungan dengan rawa-rawa yang airnya memiliki potensi kelat, kayu salam, buah keduduk, rukam, seletup, rembut jala atau
persawahan lebih dari 500 ha. seletup jala (rambutan menjalar), buah pua (sejenis lengkuas hutan),
Pada zaman lampau masyarakat Cerenti Rantau Kuantan buah ribu-ribu, buah lakum, buah biduk-biduk, buah lengkanang,
dan masyarakat Baturijal Tiga Lorong, kerap kali terjadi perselisihan, mengkudu, buah kasiak, rotan yang di samping batangnya dijadikan
perkelahian dan menurut cerita lisan bahkan terjadi peperangan, berbagai keperluan, juga buahnya menjadi makanan yang
namun sikap sportifitas dan memaafkan selalu datang dari Baturijal. menyehatkan.
Hal ini terakulasi dari upacara tahunan merawang (panen ikan) ikan Kawasan hutan atau rimba simpanan, yakni kawasan yang
bersama. Masyarakat Baturijal terlebih dahulu mengambil inisiatif mengandung mitos-mitos kuasa supranatural atau mahluk ghaib.
mengundang bersama merawang ikan. Rawang yang wujud awalnya Rimba yang tidak boleh dirusak dan dibinasakan. Di sanalah tempat
adalah danau dari sungai yang genting ini. Rawang Landai ini hak milik kehidupan berbagai jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan. Hewan yang
masyarakat adat Baturijal. Peristiwa merawang ikan di Rawang Landai bisa dimakan seperti napuh, pelanduk, kancil, rusa, kijang, landak,
ini ditanamkan kuasa mitos, jika ada hati yang tidak bersih di antara lunjo. Pelbagai jenis unggas, seperti ayam utan, muwou, kuwau, burung
kedua belah pihak dan terjadi perselisihan maka kedua belah pihak penyiul, balam, punai, puyuh, ruak-ruak, burung pucung-pucung,
masyarakat tidak memperoleh ikan. Oleh karenanya, mereka saling belibis, barau-barau, burung tangkaleso dengan mitos yang beristerikan
memaafkan dengan hati yang bersih. Dari peristiwa ini wujud dengan ikan kahyangan, burung ular.
bagaimana arus bergerak terus dan saat masanya dia akan bergerak Dalam rimba simpanan hidup kayu-kayan, seperti merpui,
tenang dan kembali bergerak deras. pelangas, kulim, sarang kumbang, merantih rambai, merantih kunyit,
Danau-danau bisa berubah menjadi paya, rawa, rawang, merantih sisik buayo, merantih bungo, merantih batu, medang perawas,
odang, calong atau lupak. Danau bisa saja ditumbuhi oleh kiambang, medang pelahang, merbau, punti kayu, balam merah, balam gaing,
semak, bento, kumpai, rumbai, dll. sehingga vegetasi tersebut menutupi tambesu, singkawang putih, singkawang merah, napal, perupuk
permukaanya. Bila demikian halnya maka disebut dengan rao (rawa- rawang, terentang biasa, terentang manuk, kayu kelat, kayu kelat
rawa). Danau yang telah tertutup permukannya oleh tumbuhan rawa- samak, kayu kelat jambu, kayu kelat putih, nyatuh, seminai, mersawa,
rawa kemudian tumbuh pula pohon-pohon di dalamnya, meskipun air tenam, balau, rengas, kempas, cempedak ayek, jelutung, pulai,
masih tergenang sepanjang tahun di tempat tersebut maka disebut keruwing, ramin, sungkai, daru-daru, bungo, tampui kakugho, buluh-
dengan rawang. Danau yang berukuran kecil menjorok ke darat, airnya buluh, pudu, kundo, celucus, pisang-pisang, arang-arang, sudu-sudu,
mengalir ke sungai disebut lupak. Danau yang telah menjadi rawang benio, samak tampurung.
kemudian airnya kering di musim kemarau disebut dengan odang. Kawasan ini melahirkan banyak sekali teks-teks sastra dan
Danau berukuran kecil di tepi sungai disebut [Link] tempat ini ikan imajinasi yang berhubungan dengannya. Ritual mengambil madu
bersarang orang Melayu dan menjadi tempat bersama mencari ikan sialang misalnya, dari awal hingga menghadirkan mantra-mantra dan
dan pada saatnya menjadi ajang mencari jodoh pula. nyanyian dan mitos-mitos pohon sialang.
Danau sangat jarang ditemui di daerah hulu Sungai Rokan
karena kontur tanahnya yang miring, meskipun demikian danau-danau 18. Tanah Tinggi
tersebut berukuran kecil atau sedang. Danau yang terbentuk dalam Tanah tinggi kawasan yang kerap dijadikan tempat kediaman
jalur sungai mati banyak ditemukan di bagian hulu, bentuknya penduduk, jika berhampiran dengan sungai yang disebut dengan
memanjang mengikuti jalur sungai. Sungai Rokan bagian hilir terdiri dari sungai dan selalu disebut dengan tebing tinggi. Karena strategisnya
banyak danau-danau besar, panjang-panjang, bahkan danau-danau tempat ini karena dianggap aman bagi banjir orang Melayu menjadikan
yang ada saling berhubungan antara satu dengan yang lain. Hal itu tempat ini sebagai tempat mendirikan fasilitas umum seperti masjid,
disebabkan karena kontur tanah bagian pesisir pantai timur Sumatra surau atau madrasah. Kawasan ini melahirkan teks-teks upacara siklus
adalah wilayah dataran rendah yang luas. Dalam hitungan masa yang kehidupan manusia dan ritual pengobatan, mitos-mitos. Pantun menjadi
panjang telah terjadi perubahan pada topografi permukaan tanah teks yang dipentingkan karena lahir di kawasan ini.
karena surutnya ketinggian air laut sehingga muncul tanah baru yang
disebut dengan istilah tanah timbuo (tanah timbul). Di atas tanah timbul 19. Kampung Terpulau
itulah terbentuk danau-danau dan sungai-sungai yang mempunyai Sebuah kawasan yang awalnya adalah kampung yang
karakteristik yang berbeda dengan danau dan sungai di pedalaman dikelilingi sungai, dan kemudian gentingnya dibuat terusan atau
Sumatra. diputuskan dengan dibuat parit atau alur, maka lama kelamaan, terusan
tersebut abrasi dan membesar. Kampung terpulau misalnya di Tiga
16. Pematang Lorong bernama Pulau Baru. Dulu penduduk kenegerian Baturijal Hulu
Sebutan untuk permukaan tanah yang tinggi dari tanah Tiga Lorong berkampung di Kampung Pulau ini. Kawasan ini
sekelilingnya berair atau renah. Berisikan tanaman keras, kopi, durian, melahirkan teks-teks yang berhubungan dengan syair dan senandung
jambu sentil, inai, bunga rayo, puding berbagai-bagai jenis, temu lawak, lagu profan anak-anak hingga remaja.
temu kunci, temu pauh, kunyit putih, merica, ubi belando, ubi darah
unggaih, tebu dengan berbagai-bagai seperti tebu gagak, tebu kapur, 20. Pulau, Pasir Luas
tebu telo yang bunganya bisa dimakan atau digulai. Labu air juga Pulau adalah timbunan pasir atau beting di bantaran sungai.
ditanam sebagai wadah air sebelum ember diciptakan. Kawasan Disebut juga dengan pasir luas. Biasanya sifat pulau ini selalu hanyut,
4
tetapi ada juga yang maju ke hulu, seperti yang terjadi di Pulau Jambu tertumpu pada terusan yang telah menjadi sungai tersebut sedangkan
Baturijal Hulu. Terhadap pulau yang seperti itu ditanamkan mitos-mitos aliran sungai di bagian tanjung menjadi lebih tenang, kemudian
antara lain pulau yang bertuah, diramalkan negeri itu akan maju, dll. endapan lumpur dan sampah hanyut menumpuk di mulut danau,
Karakter tumpukan atau pulau ini di kenegerian Baturijal demikianlah terjadi dalam masa yang panjang sehingga dalam
terdiri dari dari pulau pasir dan pulau batu. Sebagai mana kebiasaan beberapa kasus danau itu pun bisa berubah menjadi daratan.
orang kenegerian Baturijal, pulau-pulau tersebut diberi nama, seperti Kebanyakan terusan-terusan di daerah hilir Sungai Rokan
Pulau Kecik, Pulau Baru, Pulau Jambu, dan Pulau Raman. Pulau Baru diberi nama seperti kebiasaan orang Melayu memberi nama untuk
terdiri dari tumpukan pasir, sedangkan Pulau Raman lebih banyak batu. sebuah sungai atau menggunakan nama orang yang menggali parit
Pulau ini memberikan kehidupan bagi masyarakat kenegerian Baturijal, terusan tersebut. Di Sungai Rokan bagian hilir, muara pertemuan aliran
selain mengambil pasir atau batunya, yang tidak akan pernah habis. torusan disebut dengan istilah kualo terusan (torusan disebut dengan
Pembangunan lebuh raya di Indragiri Hulu pada tahun 1970-an istilah terusan untuk dialek Melayu di Rokan Hilir), bukan muao terusan.
merupakan batu yang diperoleh dari Pulau Raman, juga batubara yang Terusan tersebut dimiliki oleh orang yang membuatnya bila
dibawa hanyut oleh arus dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga. sengaja digali untuk keperluan menangkap ikan, ada juga terusan yang
Hingga tahun 1970-an di beberapa pulau justru tempat penyu (seghak terjadi secara alamiah disebabkan banjir besar, kemudian air meluap di
dan tuntung) bertelur dan dikonsumsi oleh masyarakat. Di tepi sungai tengah-tengah tanjung sehingga terbentuklah jalur aliran air, ketika
Inderagiri atau Batang Kuantan, Pulau yang secara evolusi menjadi kejadian itu berulang-ulang maka berubahlah jalur aliran air tadi
daratan dijadikan ladang padi, jagung dan tanaman palawija lainnya. menjadi terusan dan menjadi sumber penghidupan masyarakat Melayu.
5
27. Rimba Larangan atau Rimba Simpanan dimiliki sejak nenek moyang mereka secara turun temurun. Hutan yang
Dalam alam Melayu Riau ada ungkapan Melayu kuno yang kemudian oleh pemerintah Indonesia disebut dengan hutan belantara
berdimensi hukum sebagai berikut: yang dilindungi hukum adat sejak nenek moyang mereka. Hutan
simpanan merupakan kawasan tempat hidup beraneka ragam, pohon
Ke hutan berbunga kayu serta hewan, yang mana pohon ini mendatangkan hasil seperti: rotan,
Ke ladang berbunga padi damar, gaharu serta hewan buruan, siapa yang merusaknya dikenakan
Ke sungai berbunga pasir hukuman atau tulah.
Ke laut berbunga karang
28. Rawang
Secara ringkas dapat dikatakan, Riau bukanlah wilayah kosong tanpa Rawang adalah sebutan untuk kawasan yang berair. Di Tiga
tuan. Apa pun yang berada di alam Melayu di Riau ada pemilik. Lorong ada rawang yang bernama Rawang Panjang, Rawang Siampo,
Masyarakat Petalangan misalnya mengenal sistem pengolahan tanah Rawang Raduri dan lain-lain. Nama suatu tempat atau lahan pertanian
secara berpindah-pindah tetapi masih dalam wilayah pebatinannya yang berada di negeri Baturijal Hulu. Rawang ini juga digunakan warga
sendiri. UU Hamidy (1987) dalam bukunya Rimba Kepungan Sialang, untuk mencari ikan. Dinamakan rawang panjang karena kawasan rawa
menuliskan bagaimana hutan rimba yang menghasilkan berbagai rupa, ini termasuk rawa yang sangat panjang dari rawang yang lain di
di Petalangan sebagai contoh. Hasil yang diperoleh seperti rotan, kenegerian Baturijal Tiga Lorong. Panjang rawa ini sekitar 1.000 meter
damar, getah sondeh, jelutung dan berbagai jenis kayu seperti seminai, lebih.
tembusu, meranti, kulim, medang, punak, mentangur kuras, dan
sebagainya. Disebut rimba simpanan, karena hasil-hasil hutan tanah 29. Bencah
tersebut merupakan simpanan atau cadangan bagi kehidupan Bencah adalah kawasan sawah yang berawa-rawa yang
penduduk dan fauna di sekeliling rimba tersebut. Sebagai simpanan telah dikeringkan. Bencah adakalanya adalah lekukan tadah hujan.
atau cadangan, hasilnya boleh diambil, asal menurut ketentuan adat Kawasan ini dijadikan sawah yang sangat subur.
yang berlaku:
30. Lebuh
“tebas tidak merusak, Jalan raya yang dilalui oleh berbagai macam hal, seperti
tebang tidak membinasakan, mobil, sepeda motor, sepeda angin, hewan, dll. Tradisi lebuh ini dalam
rimba ditebang diganti rimba; alam Melayu baru mulai berkembang sejak abad ke-19. Jalan raya
pohon ditebang diganti pohon.” yang melewati Baturijal dibangun pada masa penjajahan Belanda, baru
pada tahun 1970-an jalan tersebut bisa digunakan sebagai mana
Ungkapan rangkai kata yang berbunyi "Tebas tidak merusak, mestinya. Pada tahun 1980-an jalan tersebut diaspal setelah Indonesia
tebang tidak membinasakan" mengandung ketentuan terhadap merdeka lebih dari 50 tahun. Pengaspalan jalan tersebut meskipun di
kelestarian alam lingkungan. Kalau ada beberapa kayu rimba simpanan satu sisi menguntungkan masyarakat setempat dari isolasi, namun di
yang akan ditebang untuk diambil hasilnya, maka tindakan itu sisi lain menjadi malapetaka bagi sistem kemasyarakatan orang
hendaklah dalam keadaan tidak melampaui batas. Kalau rotan dan Melayu. Hutan ulayat seperti rimba simpanan, hutan simpanan, kebun,
berbagai jenis akar hendak diambil, maka seyogyanya hanya ditebas persawahan, perladangan, dan harmonisasi kampung dan dusun
rotan dan akar yang sudah tua saja, sehingga tidak merusak kepada terancam.
rotan dan akar yang muda yang akan menjadi rotan dan akar yang Pembukaan jalan dan pembangunan jembatan memberikan
baru, menggantikan kelak yang telah dipotong itu. Begitu pula kayu peluang kepada pemilik modal untuk menggarap tanah ulayat yang
yang ditebang. Menurut adat hendaklah kayu yang berguna saja, yaitu dilalui oleh jalan aspal. Persoalan ini ditambah lagi dengan regulasi
kayu yang telah sampai umurnya. Kayu-kayu yang muda jangan kepemilikan perkebunan yang tidak berpihak kepada adat istiadat
sampai rusak oleh penebangan kayu tua. Sebab kayu yang muda itulah Melayu.
yang akan menggantkan kayu yang telah ditebang itu. Di sisi lain, masyarakat Melayu berlomba-lomba pindah ke
Dengan demikian ada semacam ketentuan atau adat yang lebuh raya dan meninggalkan kampung halaman. Bagi yang masih
memberikan pembatasan dan pengendalian dalam pengambilan hasil- tetap bertahan di tepi sungai, sekali-sekali pindah ke lebuh raya dan
hasil hutan. Ketentuan itu diharapkan menjadi cara membatasi hawa membangun pondok di tepi jalan. Setiap pagi dia bangun lalu duduk di
nafsu terhadap alam, sehingga kerusakan alam lingkungan (hutan muka pondok, kemudian melihat iring-iringan mobil hilir mudik, maka
rimba) oleh perbuatan itu masih dalam batas-batas kemampuan alam kepalanya pun mengekori kendaraan itu hilir mudik. Seperti orang yang
itu memperbaikinya. Karena semua hasil rimba simpanan hanya sedang meratip dengan menggeleng-gelengkan kepalanya mengikuti
diambil sekedar yang perlu saja, serta dilakukan dengan cara yang hati- irama mobil. Mereka lama kelamaan tergiur pula hendak seperti pemilik
hati (wajar) berdasarkan keadaan untuk keselamatan hutan itu sendiri, mobil itu. Apa yang dilakukannya? Para pemilik modal biasanya
maka wajah alam asli relatif dapat bertahan. Itulah sebabnya dikatakan tangan-tangan kapitalis juga menyodorkan bantuan kredit riba. Jalan
dalam ketentuan itu melalui unngkapan berikut: lain juga disodorkan dengan menjual tanah yang ada dikiri-kanan jalan
aspal. Mereka beranggapan bahwa hutan simpanan itu tidak dimiliki
"Rimba ditebang diganti rimba, siapa-siapa. Bagian lain lagi lahan rimba itu “dijual” oleh bupati seperti
pohon ditebang diganti pohon". kasus lahan PT Bintang.
Masyarakat yang bertahan di kampung lama, mereka
Masalah kelestarian rimba simpanan itu, bukan hanya dalam disodorkan dengan berbagai hiburan, antara lain orgen tunggal dengan
pertimbangan peranannya bagi kepentingan manusia di sekitarnya penyanyi erotis dari luar. Semua masyarakat tumpek-blek menyaksikan
saja. Rimba simpanan itu juga dicadangkan untuk kepentingan hidup pertunjukan itu. Tua muda, anak-anak dan dewasa. Hingga kepada
fauna, seperti berjenis hewan, ikan dan serangga berada di dalamnya. pemangku adat. Selain pertunjukan yang hampir mirip striptease itu,
Binatang, Burung, ikan dan serangga mempunyai kaitan yang erat juga dilengkapi dengan minuman keras dan seksualitas. Para remaja
dengan hutan rimba. Keduanya -- rimba dan fauna -- saling putri seperti mendapat dasar legalitas mereka untuk keluar bersama
membutuhkan. Sedang maknanya amat besar terhadap keseimbangan teman-temannya. Namun, di jalan mereka sudah mempunyai pasangan
sistem lingkungan hidup. Tak dapat di bayangkan bagaimana nasib masing-masing. Mungkin saja mereka akan menonton musik tersebut
binatang, burung ikan dan serangga jika hutan rimba telah punah di sejenak, namun kemudian mereka menghilang di balik rimbunan
tempat itu bersandar kehidupan mereka. Ekologi akan terganggu yang semak-semak yang memang tersedia di kampung tersebut. Bagi yang
pada gilirannya akan mengganggu kelestarian hidup umat manusia. tidak memiliki pasangan, mereka menenggak minuman keras dan
Masyarakat Melayu Riau mengenal sistem pengolahan tanah sebagian lagi ada yang menyediakan narkoba. Selepas permainan itu,
secara berpindah-pindah tetapi masih dalam wilayah pebatinannya besok paginya mereka kembali seperti kehilangan arah, dengan beban
sendiri. Masyarakat petalangan mengenal adanya tiga wilayah ekonomi yang semakin memberat. Jika sebagian sudah menjual tanah
kehidupan, yaitu Pertama, rimba peladangan, Kedua, rimba simpanan, rimba simpanan, namun hasilnya masih kekurangan, jalan lain masih
hutan rimba yang menghasilkan berbagai rupa, Ketiga. rimba kepungan dipikirkan lagi, yakni menjual tanah perkebunan. Dan begitu
sialang. seterusnya, hingga mereka menjual tanah sawah ladang.
Rimba larangan disebut juga dengan rimba simpanan. Kasus-kasus pembangunan perkebunan di Riau terlebih
Seperti yang diketahui, bahwa semua kawasan dikampung sudah dahulu lebih mirip. Mereka memperoleh HGU kemudian HGU nya
6
diawali dengan mengambil kayu. Kayu-kayannya dijual. Hasil hingga ke rawa-rawa. Akibatnya, batu yang ada di dalam tanah kini
keuntungan penjualan kayu itu dijadikan modal untuk membangun terbongkar ke atas, dengan meninggalkan lapangan batu yang tandus.
perkebunan. PT Bintang salah satu contohnya. Dalam perjanjian Statusnya menurun dari jalan negara yang pembangunannya
mereka membangun kebun plasma terlebih dahulu baru membangun dibiayai oleh pemerintah pusat menjadi jalan provinsi yang dibiayai
kebun inti, seperti yang diatur dalam peraturan pemerintah, namun Provinsi Riau. Jalan ini semakin tidak terurus setelah pemekaran
kenyataannya, mereka membangun kebun inti. Jika tuntutan dari Kabupaten Indragiri Hulu, menjadi Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi.
masyarakat terjadi, biasanya pihak perusahaan menyanggahnya
dengan berlindung dibalik konsensi izin yang diberikan pemerintah. Jika 31. Bukit
awalnya pihak pemerintah memberi izin 6000 hektar, namun kenyataan Dataran tanah yang berada di suatu kawasan.
lahannya berkurang, maka pihak perusahaan membebankannya Bukit merupakan suatu bentuk wujud alam wilayah bentang alam yang
kepada masyarakat, mereka siap membangun kebun plasma jika memiliki permukaan tanah yang lebih tinggi dari permukaan tanah di
lahannya sudah tersedia. Dan tidak ada satu pun perkebunan yang sekelilingnya namun dengan ketinggian lebih rendah dibandingkan
diukur ulang dengan saksi masyarakat adat, baik masyarakat adat di gunung. Bukit yang berjejer atau membentuk suatu rangkaian di suatu
bawahnya hingga di atas, seperti Lembaga Adat Melayu Riau. daerah yang luas di sebut perbukitan. Struktur bukit terdiri dari puncak
Buruknya penanganan dan perhatian yang dilakukan bukit, tebing puncak bukit, pinggang bukit, dan kaki bukit.
pemerintah ditambah lagi dengan jalan lempang... Tahun 1980an Di dalam pemaknaan umum, bukit juga sering disebut
“kiblat” pembangunan tidak lagi mengarah kepada sungai. Sungai yang gunung. Misalnya bukit yang dianggap terlalu tinggi dari bukit yang lain,
semula menjadi kawasan permainan, kini menjadi ladang pelimbahan atau untuk menunjukan sebuah bukit yang sangat tinggi. Banyak
pelbagai industri. Pada tahun Juli 2010 ketika dilakukan ekspedisi ungkapan menggunakan simbol bukit, misalnya pribahasa bukit jadi
kebudayaan Sungai Indragiri, Tim ekspedisi menemukan penambangan paya, paya jadi bukit bermakna orang kaya menjadi miskin dan
emas ilegal (PETI) lebih dari 1000 buah dompeng (mesin pengeruk sebaliknya. Pribahasa ini mengingatkan bahwa nasib manusia tidak
pasir) sepanjang sungai Tiga Lorong, PETI tersebut atau Dompeng bisa ditentukan atau tidak ada yang tahu oleh manusia; bukitlah tinggi,
tersebut tidak hanya membor ke dasar sungai tetapi mata bor sudah lurahlah dalam bermakna seseorang yang telah tua dan tidak dapat ke
diarahkan ke tebing sungai. Kini, PETI meruyak, tidak hanya di sungai sana-sini lagi; bukit di balik pendakian ungkapan untuk lepas dari
Indragiri atau Batang Kuantan, tetapi sudah masuk ke paya-paya kesusahan dan mendapat lagi kesulitan atau kesukaran. Ada juga
kampung yang menggunakan nama bukit adalah Bukitbatu.
Konsep alur dalam kepercayaan adat Melayu penting karena melambangkan keteraturan dan kepatuhan terhadap adat. Pada tingkat praktis, alur menjadi panduan untuk mencari ikan dan melaksanakan kegiatan pertanian, serta menetapkan aturan-aturan adat. Masyarakat percaya bahwa mengikuti alur dan aturan yang sejalan dengan adat menjaga kehidupan sosial dan lingkungan tetap harmonis, seperti tercermin dalam peribahasa 'alur bertempuh, jalan berturut', yang menekankan pentingnya melakukan kegiatan sesuai dengan kebiasaan tradisional .
Perubahan orientasi dari sungai ke lebuh raya membawa implikasi luas bagi masyarakat Melayu, termasuk erosi identitas kultural dan integritas adat. Kini, masyarakat lebih tertarik pada kemudahan dan peluang ekonomi modern yang disediakan oleh akses lebuh raya, meninggalkan praktik-praktik tradisional yang berpusat pada sungai. Perubahan ini menyebabkan masyarakat terjebak dalam kapitalisme dan konsumerisme, merusak hubungan harmonis dengan lingkungan dan struktur adat yang sebelumnya dijaga melalui ketergantungan pada sumber daya alam lokal di sekitar sungai .
Posisi geografis kampung Melayu, sering terletak di antara teluk dan tanjung hingga ke rantau, memengaruhi struktur sosial dan ekonomi dengan menyesuaikan pemukiman dan kegiatan masyarakat terhadap lingkungan geografis tersebut. Kampung-kampung biasanya memiliki akses langsung ke sungai, memfasilitasi pertukaran sosial dan ekonomi seperti perdagangan dan ritual adat. Struktur sosial terbentuk berdasarkan tata letak geografis yang mendukung keharmonisan adat dan interaksi antar penduduk. Kehadiran rumah adat, surau, dan fasilitas umum lainnya menegaskan pentingnya integrasi komunitas dalam kehidupan sehari-hari .
Industri dan penambangan telah mengubah fungsi tradisional sungai di Riau sebagai pusat kehidupan sosial dan budaya menjadi kawasan yang terdegradasi secara ekologis. Penambangan ilegal, seperti PETI, menimbulkan kerusakan ekosistem sungai dengan mengeruk dasar dan tebing sungai, menyebabkan abrasi dan pengerusakan habitat ikan. Praktik ini mengubah sungai menjadi lahan tandus dan mengancam keberlanjutan lingkungan yang sebelumnya dijaga oleh tradisi lokal .
Perkembangan jalan raya mengubah dinamika sosial dan ekonomi masyarakat Melayu Riau. Dibangun sejak era kolonial, jalan-jalan ini mendekatkan komunitas yang terisolasi, tetapi juga meruntuhkan struktur sosial tradisional dengan masuknya budaya eksternal dan kapitalis. Pembangunan infrastruktur membuka peluang komersial namun sekaligus mendorong masyarakat untuk menjual tanah ulayat, kehilangan tanah, dan identitas adat sebagai akibat pengaruh kapitalisme dan pergeseran ekonomi. Hal ini mengakibatkan keretakan sosial dan degradasi lingkungan seiring dengan hilangnya tanah ulayat .
Kampung berperan sebagai pusat pemeliharaan tradisi dan upacara adat dalam budaya Melayu di Riau. Setiap kampung memiliki fasilitas seperti surau atau masjid, yang digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Adanya tetua adat seperti penghulu dan batin memperkuat fungsi kampung sebagai penjaga tradisi melalui ritual kelahiran, pernikahan, dan kematian. Kampung juga menjadi tempat tersebarnya teks-teks inisiasi kehidupan dari kelahiran hingga kematian, memastikan kontinuitas adat dan budaya antar generasi .
Hutan simpanan dianggap penting dalam kebudayaan Melayu Riau karena fungsinya tidak hanya sebagai lingkungan penopang kehidupan dengan keanekaragaman hayati, tetapi juga sebagai bagian dari hukuman adat yang melindungi hutan dari eksploitasi. Hutan ini menyediakan sumber daya seperti kayu untuk bangunan publik dan hasil hutan seperti rotan dan damar untuk kebutuhan ekonomi masyarakat lokal. Keberadaan dan pemeliharaan hutan simpanan juga mencerminkan nilai dan kepercayaan adat yang menekankan keseimbangan dengan alam dan konservasi tradisional .
Sungai dalam kehidupan masyarakat Melayu di Riau kuno memegang peranan penting sebagai ruang inti kampung, tempat terjadinya interaksi sosial, dan perayaan ritual. Sungai digunakan sebagai tempat untuk upacara tradisional seperti bersunat dan mandi limau, serta menjadi tempat pelaksanaan ritual-ritual buang sial. Aktivitas mencari dan menangkap ikan juga dipandang sebagai bagian dari teks-teks kehidupan sakral dan profan di masyarakat Melayu .
Jika pantangan adat terkait 'lubuk larangan' dilanggar, masyarakat percaya akan terjadi tulah, yaitu penyakit tak beralasan yang bisa mengancam nyawa. Ketakutan terkena tulah berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk menjaga kelestarian lingkungan, seperti sungai dan rawa. Tradisi menjaga 'lubuk larangan' juga mencakup peraturan adat yang memberikan sanksi pada pelanggar untuk mencegah kerusakan ekosistem dan mempertahankan praktik berburu dan menangkap ikan secara berkelanjutan .
Kawasan 'darat' dalam budaya Melayu adalah area yang menjauh dari sungai atau laut, sering digunakan untuk kegiatan pertanian, perkebunan, dan konstruksi bangunan seperti masjid dan rumah adat. Posisi darat memiliki nilai religius dan terkait dengan teks-teks sakral. Sedangkan 'baruh' adalah area yang mendekati sungai atau laut dan menjadi pusat pemukiman serta aktivitas sosial, ekonomi, dan seni. Baruh bertindak sebagai epicentrum peradaban kampung Melayu, dengan kemunculan teks-teks berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan ritual adat .