Pola dan Jenis Kalimat dalam Bahasa Indonesia
Pola dan Jenis Kalimat dalam Bahasa Indonesia
Dosen Pembimbing:
Salfayana Putri Arita, [Link].
Oleh:
Amlisa Mutiandini Sipahutar (190208032)
Cut Rika Ramadhani (190208088)
Dewi Kumala Sari (190208025)
Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha
penyayang, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta
ilmu pengetahuan yang tidak terhingga. Sehingga makalah ini yang berjudul
“Kalimat” sanggup kami selesaikan tepat pada waktunya.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa makalah yang kami buat
ini masih jauh dari kata sempurna, baik itu dari segi bahasanya maupun dari segi
tata cara penyusunan kalimatnya. Oleh sebab itu, kami berharap adanya masukan
ataupun kritikan terhadap makalah yang telah kami realisasikan ini agar
kedepannya dapat kami memperbaikinya kembali dengan benar dan tepat. Akhir
kata, kami mengucapkan terima kasih kepada ibu Salfayana Putri Arita, [Link].
Selaku dosen pembimbing mata kuliah Bahasa Indonesia.
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................ii
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.....................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................1
C. Tujuan..................................................................................................1
BAB II: PEMBAHASAN
A. Pengertian Kalimat...............................................................................2
B. Unsur-unsur Kalimat............................................................................3
C. Pola Kalimat Dasar...............................................................................4
D. Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya............................................6
E. Jenis Kalimat Berdasarkan Retorikanya...............................................8
F. Jenis Kalimat Berdasarkan Fungsinya..................................................9
G. Kalimat Efektif.....................................................................................11
BAB III: PENUTUP
A. Kesimpulan...........................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................15
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Satuan bahasa terkecil dan terlengkap maknanya disebut kalimat. Hal ini dikarenakan
pada sebuah kata terkadang tidak dapat mewakili sebuah konsep makna yang utuh.
Walaupun satuan bahasa terkecil, kalimat mempunyai makna yang utuh karena dapat berdiri
sendiri serta mempunyai pola intonasi akhir. Jenis kalimat dapat diklasifikasikan
berdasarkan berbagai kriteria atau sudut pandang, antara lain menurut struktur
gramatikalnya, menurut retorikanya dan menurut fungsinya.
Fungsi kalimat dalam bahasa Indonesia biasanya berpola subjek, predikat, objek,
pelengkap, dan keterangan. Penguasaan pola kalimat akan memudahkan pemakai bahasa
dalam membuat kalimat yang benar secara gramatikalnya. Selain itu, pola kalimat dapat
menyederhanakan kalimat sehingga mudah dipahami oleh orang lain. Kemudahan itu dapat
dirasakan oleh pemakai bahasa dalam mengekspresikan ide-idenya dan dalam memahami
informasi yang diungkapkan oleh orang lain sehingga dapat memperkecil kesalahpahaman
dalam berkomunikasi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kalimat ?
2. Bagaimanakah pola kalimat dasar ?
3. Apa saja jenis kalimat menurut struktur gramatikalnya ?
4. Apa saja jenis kalimat berdasarkan retorikanya ?
5. Apa saja jenis kalimat berdasarkan fungsinya
6. Apakah yang dimaksud dengan kalimat efektif ?
C. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan kita tentang kalimat yang
baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia, dan diharapkan dapat bermanfaat bagi kita
semua.
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran. Dalam bahasa
lisan kalimat diawali dan diakhiri dengan kesenyapan, dan dalam bahasa tulis diawali dengan
huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya.
Kalimat disusun berdasarkan unsur-unsur yang berupa kata, frasa, dan/ atau klausa. Jika
disusun berdasarkan pengertian diatas, unsur-unsur tersebut mempunyai fungsi dan pengertian
tertentu yang disebut bagian kalimat. Ada bagian yang tidak dapat dihilangkan, ada pula
bagian yang dapat dihilangkan. Bagian yang tidak dapat dihilangkan itu disebut inti kalimat,
sedangkan bagian yang dapat dihilangkan bukan inti kalimat. Bagian inti dapat membentuk
kalimat dasar, dan bagian bukan inti dapat membentuk kalimat luas.1
Contoh 1:
Buku ini baru terbit.
Isinya sungguh bagus!
Dimana buku ini dapat dibeli?
Contoh 2:
(1) Menulis ilmiah itu mudah. (2) Kemudahan menulis dapat dirasakan oleh setiap orang
yang mempelajarinya secara serius. (3) Kemudahan menulis itu dapat dikelompokkan
kedalam tiga hal, yaitu: menentukan ide, mengorganisasi ide, dan mengeksresikan ide tersebut
dengan kalimat efektif sehingga menjadi sebuah karangan yang utuh.
Paragraf tersebut terdiri atas tiga buah kalimat. Kalimat (1) berupa kalimat dasar terdiri
atas dua bagian kalimat inti, yakni: menulis ilmiah itu mudah. Kalimat (2) berupa kalimat luas
terdiri atas dua bagian inti dan satu bagian bukan inti: kemudahan menulis dapat dirasakan
1
Widjono Hs, Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi, (Jakarta:
PT Grasindo, 2007) hlm 146
2
oleh setiap orang yang mempelajarinya secara serius. Kalimat (3) berupa kalimat luas terdiri
dari dua bagian inti dan dua bukan bagian inti: kemudahan menulis itu dapat dikeolompokkan
ke dalam tiga hal yaitu menentukan ide, mengorganisasi ide, dan mengeksresikan ide tersebut
menjadi sebuah karangan yang lengkap.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa kalimat pertama berupa kalimat dasar, sedangkan
kalimat kedua dan ketiga berupa kalimat luas.
B. Unsur-unsur Kalimat
1. Subjek
Subjek atau pokok kalimat merupakan unsur utama kalimat, subjek menentukan
kejelasan makna kalimat. Penempatan subjek yang tidak tepat dapat mengaburkan
makna kalimat. Keberadaan subjek dalam kalimat berfungsi: (1) membentuk kalimat
dasar, kalimat dasar, kalimat luas, kalimat tunggal, kalimat majemuk, (2)
memperjelas makna, (3) menjadi pokok pikiran, (4) menegaskan (memfokuskan)
makna, (5) memperjelas pikiran ungkapan, dan (6) membentuk kesatuan pikiran.
2. Predikat
Seperti halnya dengan subjek, predikat kalimat kebanyakan muncul secara
eksplisit. Keberadaan predikat dalam kalimat berfungsi: (1) membentuk kalimat
dasar, kalimat tunggal, kalimat luas, kalimat majemuk, (2) menjadi unsur penjelas,
yaitu memperjelas pikiran atau gagasan yang diungkapkan dan menentukan kejelasan
makna kalimat, (3) menegaskan makna, (4) membentuk kesatuan pikiran, dan (5)
sebagai sebutan.
3. Objek
Subjek dan predikat cenderung muncul secara ekspisit dalam kalimat, namun
objek tidaklah demikian halnya. Kehadiran objek dalam kalimat bergantung pada
jenis predikat kalimat serta ciri khas objek itu sendiri. Predikat kalimat yang berstatus
transitif mempunyai objek. Biasanya, predikat ini berupa kata kerja berkonfiks me-
kan, atau me-i, misalnya: mengambilkan, mengumpulkan; me-i, misalnya:
mengambili, melempari, mendekati. Dalam kalimat, objek berfungsi: (1) membentuk
kalimat dasar pada kalimat berpredikat transitif, (2) memperjelas makna kalimat, dan
(3) membentuk kesatuan atau kelengkapan pikiran.
3
4. Pelengkap
Pelengkap adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi,
mengkhususkan objek, dan melengkapi struktur kalimat.
5. Keterangan
Keterangan kalimat berfungsi menjelaskan atau melengkapi informasi pesan-
pesan kalimat. Tanpa keterangan, informasi menjadi tidak jelas. Hal ini dapat
dirasakan kehadirannya terutama dalam surat undangan, laporan penelitian, dan
informasi yang terkait dengan tempat, waktu, sebab, dan lain-lain.
6. Konjungsi
Konjungsi adalah bagian kalimat yang berfungsi menghubungkan (merangkai)
unsur-unsur kalimat dalam sebuah kalimat (yaitu subjek, predikat, objek, pelengkap,
dan keterangan), sebuah kalimat dengan kalimat lain, dan (atau) sebuah paragraf
dengan paragraf yang lain.
7. Modalitas
Modalitas dalam sebuah kalimat sering disebut keterangan predikat. Modalitas
dapat mengubah keseluruhan makna sebuah kalimat. Dengan modalitas tertentu
makna kalimat dapat berubah menjadi sebuah pernyataan yang tegas, ragu, lembut,
pasti, dan sebagainya. Contoh penggunaan modalitas.
a. Adik saya kemungkinan besar seorang politikus.
b. Pekerjaan itu memang tidak kusukai.
C. Pola Kalimat Dasar
Pola kalimat dasar sekurang-kurangnya terdiri atas subjek (S) dan predikat (P).Pola
kalimat dasar mempunyai ciri-ciri:
1. Berupa kalimat tunggal (satu S, satu P, satu O, satu pel, satu K).
2. Sekurang-kurangnya terdiri dari satu subjek (S) dan satu predikat (P).
3. Selalu diawali dengan subjek.
4. Berbentuk kalimat aktif.
5. Unsur tersebut ada yang berupa kata dan nada yang berupa frasa, dan
4
6. Dapat dikembangkan menjadi kalimat luas dengan memperluas subjek, predikat,
objek, dan keterangan.2
Kalimat dasar ialah kalimat yang berisi informasi pokok dalam struktur inti, belum
mengalami perubahan. Perubahan itu dapat berupa penambahan unsur seperti penambahan
keterangan kalimat ataupun keterangan subjek, predikat, objek, ataupun pelengkap. Perubahan
itu dapat juga berupa perubahan urutan unsur atau berupa berupa perubahan bentuk dari aktif
ke pasif. Di samping itu, perubahan yang dimaksud itu termasuk perniadaan unsur tertentu,
seperti kalimat yang terdiri atas subjek saja, predikat saja, atau objek saja, bahkan keterangan
saja, seperti terlihat dibawah ini.
A: Saudara mencari siapa?
B: Guru bahasa Indonesia.
B: Apakah sudah datang, Bu?
A: Sudah
S P O K
Kita memasukkan prestasinya ke dalam buku catatan.
Diana mengirimkan makalah kepada panitia.
Anak itu melemparkan koran ke pintu rumah Ani.
Dia meletakkan sepedanya di teras depan.
Mel mengeluarkan kuitansi dari laci mejanya.
N/FN Verba dwitransitif N/FN FPrep
Tipe 1 itu adalah kalimat dasar yang mempunyai unsur subjek, predikat, objek, dan
keterangan. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba dwitransitif,
objek berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi.
S P O Pel
Semua itu memberi kita semangat.
2
Dendy Sugono, Mahir Berbahasa Indonesia Dengan Benar, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009)
hlm 111
5
Ratna meminjami saya sepeda.
Johan mengirimi ibunya uang.
Saya membayari dia semangkok bakso.
Martha membelikan adiknya kamus kecil.
Paman membuatkan anaknya rumah sederhana.
N/FN Verba dwitransitif N/FN N/FN
Tipe 2 itu adalah kalimat dasar yang mempunyai unsur subjek, predikat, objek, dan
pelengkap. Subjek berupa nomina atau frasa nomina, predikat berupa verba dwitransitif, objek
berupa nomina atau frasa nominal, dan pelengkap berupa nomina atau frasa nominal.
S P O
Dia mewakili wanita Indonesia.
Saya memperhatikan semua ini.
Manusia mengenal kebudayaan.
Hukum itu melindungi kebenaran.
Kita memerangi kemiskinan.
N/FN Verba transitif N/FN
Tipe 3 itu adalah kalimat dasar yang mempunyai unsur subjek, predikat, dan objek.
Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba transitif, dan objek berupa
berupa nomina atau frasa nominal.
3
Awaluddin, Pengantar Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Deepublish, 2017) hlm
69
6
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari satu klausa.
Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Berdasarkan bentuk
predikatnya, pola kalimat tunggal dapat dibedakan menjadi lima bagian:4
a) Kalimat Berpredikat Nomina
Kalimat berpredikat nomina adalah kalimat yang predikatnya
terdiri atas nomina (termasuk pronominal) atau frasa nominal. Kalimat
ini disebut juga kalimat ekuatif.
Contoh: Laki-laki itu pencurinya.
S P
b) Kalimat Berpredikat Verba
Kalimat berpredikat verba adalah kalimat yang predikatnya berupa
kata kerja (verba) atau frasa verbal.
Contoh: Mira menulis surat kepada kakaknya.
S P O Ket
c) Kalimat Berpredikat Adjektiva
Kalimat berpredikat adjektiva adalah kalimat yang predikatnya
berupa kata sifat (adjektiva) atau frasa adjektival.
Contoh: Adiknya sakit.
S P
d) Kalimat Berpredikat Numeralia
Kalimat berpredikat numeralia adalah kalimat yang predikatnya
berupa kata bilangan atau frasa bilangan.
Contoh: Uangnya banyak
S P
e) Kalimat Berpredikat Frasa Preposisional
Kalimat berpredikat frasa preposisional adalah kalimat yang
predikatnya berupa frasa preposisional, yaitu frasa keterangan.
Contoh: Ibu ke apotek
S P
4
Alfian Rokhmansyah, Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, (Semarang: UNNES PRESS, 2018)
hlm 39
7
2. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung dua pola
kalimat atau lebih. Kalimat majemuk dapat dibentuk dengan cara perluasan
kalimat tunggal, menggabungkan dua klausa atau lebih, dan menggabungkan
dua kalimat tunggal atau lebih. Kalimat majemuk dibedakan menjadi:
a) Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang bersifat
koordinatif sehingga tidak ada saling menerangkan. Kalimat majemuk
setara terjadi dari dua kalimat tunggal atau lebih. Kalimat majemuk
setara dikelompokkan menjadi empat jenis, sebagai berikut:
1) Kalimat majemuk setara gabungan
2) Kalimat majemuk setara pilihan
3) Kalimat majemuk setara perlawanan/pertentangan
4) Kalimat majemuk setara urutan
b) Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk yang terdiri atas perluasan kalimat tunggal,
bagian kalimat yang diperluas sehingga membentuk kalimat baru yang
disebut anak kalimat. Anak kalimat ditandai dengan penggunaan kata
penghubung dan apabila diletakkan mendahului induk kalimat, maka
dipisah dengan tanda koma. Sedangkan kalimat asal, yaitu bagian yang
tidak mengalami perubahan, disebut induk kalimat.
8
disebut melepas. Unsur anak kalimat ini seakan-akan dilepaskan saja oleh
penulisnya dan kalaupun unsur ini tidak diucapkan, kalimat itu sudah bermakna
lengkap.6
6
Agustinus Konda Malik, Jenis-jenis Kalimat, (NTT: Fapet Undana, 2011) hlm 10-11
7
Alfian Rokhmansyah, Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, (Semarang: UNNES PRESS, 2018)
hlm 47-51
9
bagian akhir kalimatnya ditandai dengan tanda titik. Bentuk kalimat berita
bermacam-macam, bisa berupa kalimat aktif atau pasif, positif atau negatif,
langsung atau tidak langsung, tunggal atau majemuk, dan sebagainya.
10
Selain ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat persilakan
ditandai juga oleh penambahan kata silakan yang diletakkan di awal
kalimat.
c) Kalimat Ajakan
Kalimat ajakan ini, berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi,
juga mengharapkan suatu tanggapan yang berupa tindakan.
Perbedaannya, tindakan itu bukan hanya dilakukan oleh orang yang
diajak berbicara, melainkan juga oleh orang yang berbicara atau
penuturnya. Dengan kata lain, tindakan itu dilakukan oleh kita. Di
samping ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat ini ditandai juga
oleh adanya kata-kata ajakan, yaitu kata mari dan ayo yang diletakkan
di awal kalimat.
d) Kalimat Larangan
Kalimat larangan ditandai oleh adanya kata jangan di awal
kalimat. Partikel –lah dapat ditambahkan pada kata tersebut untuk
memperhalus larangan.
4. Kalimat Seru (Interjektif)
Kalimat seru adalah kalimat yang mengungkapkan perasaan kagum.
Kalimat seru juga digunakan jika penutur ingin mengungkapkan perasaan yang
kuat atau hal yang mendadak. Kata seru yang digunakan antara lain adalah wah,
aduh, alangkah, dan aduhai.
G. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki satu gagasan pokok. Unsur-unsurnya
minimal terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat efektif didefinisikan sebagai kalimat yang
memiliki kemampuan untuk mengungkapkan gagasan penutur sehingga pendengar atau
pembaca dapat memahami gagasan yang dimaksud oleh penutur. Dapat disimpulkan bahwa
kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki potensi untuk menyampaikan pesan, ide,
11
gagasan, atau informasi secara utuh, jelas, dan tepat. Karakteristik kalimat efektif setidaknya
mencakup hal-hal sebagai berikut.8
1. Kesepadanan dan Kesatuan Gagasan
Karakteristik ini harus ada agar informasi yang disampaikan tidak
terpecah-pecah. Kesatuan kalimat ditandai dengan kesepadanan struktur dan
makna kalimat.
2. Hadirnya Subjek (S) dan Predikat (P)
Suatu kalimat harus memiliki S dan P yang jelas. Ketidakjelasan dapat
timbul karena danya kata depan yang terletak di depan subjek.
3. Tidak Hadirnya Subjek Ganda
Suatu kalimat atau kalimat tunggal hanya boleh memiliki satu subjek. Jika
lebih dari satu subjek, subjek yang lain harus dibuang.
8
Aninditya Sri Nugraheni, Bahasa Indonesia Perguruan Tinggi Berbasis Pembelajaran Aktif, (Jakarta:
PRENADAMEDIA GROUP, 2019) hlm 80-87
12
informasi. Ketegasan juga dapat dilakukan dengan menghilangkan keterangan
yang menggabungkan hubungan antara subjek dan predikat.
8. Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif adalah menggunakan kata, frasa, atau
bentuk lain yang dianggap tidak perlu, tetapi tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Hal ini dikarenakan oleh penggunaan kata yang berlebih.
9. Kelogisan
Kelogisan artinya hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki
hubungan yang logis atau masuk akal.
10. Kecermatan
Kecermatan artinya yang dihasilkan tidak menimbulkan penafsiran ganda
dan harus tepat dalam penggunaan diksi. Prinsip kecermatan adalah tepat
menggunakan diksi. Untuk itu penulis harus membedakan kata yang hampir
bersinonim, struktur idiomatik, kata yang berlawanan makna, ketepatan dan
kesesuaian, dan sebagainya
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran. Dalam bahasa
lisan kalimat diawali dan diakhiri dengan kesenyapan, dan dalam bahasa tulis diawali dengan
huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya.
13
Kalimat disusun berdasarkan unsur-unsur yang berupa kata, frasa, dan/ atau klausa. Jika
disusun berdasarkan pengertian diatas, unsur-unsur tersebut mempunyai fungsi dan pengertian
tertentu yang disebut bagian kalimat. Ada bagian yang tidak dapat dihilangkan, ada pula
bagian yang dapat dihilangkan. Bagian yang tidak dapat dihilangkan itu disebut inti kalimat,
sedangkan bagian yang dapat dihilangkan bukan inti kalimat. Bagian inti dapat membentuk
kalimat dasar, dan bagian bukan inti dapat membentuk kalimat luas.
DAFTAR PUSTAKA
14
Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Grasindo.
Konda Malik, Agustinus. (2011). Jenis-jenis Kalimat. NTT: Fapet Undana
Rokhmansyah, Alfian. (2018). Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Semarang:
UNNES PRESS.
Sri Nugraheni, Aninditya. (2019). Bahasa Indonesia Perguruan Tinggi Berbasis
Pembelajaran Aktif. Jakarta: PERNADAMEDIA GROUP.
Sugono, Dendy. (2009). Mahir Berbahasa Indonesia Dengan Benar. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
15