HUBUNGAN ANTARA GEGAR BUDAYA DAN
KETERBUKAAN DIRI DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA
MAHASISWA RANTAU
Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I
pada Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi
Oleh:
FITRIANNA RAHMADANI
F100160202
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2021
HALAMAN PERSETUJUAN
HUBUNGAN ANTARA GEGAR BUDAYA DAN KETERBUKAAN DIRI
DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA RANTAU
PUBLIKASI ILMIAH
Oleh:
FITRIANNA RAHMADANI
F100160202
Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji oleh:
Dosen
Pembimbing
Dr. Usmi Karyani, [Link], [Link]
NIK/NIDN:659/0631056702
i
HALAMAN PENGESAHAN
HUBUNGAN ANTARA GEGAR BUDAYA DAN KETERBUKAAN DIRI
DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA RANTAU
oleh :
FITRIANNA RAHMADANI
F100160202
Telah Dipertahankan Didepan Dewan Penguji
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada Hari Kamis, 11 Februari 2021
Dan Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat
Dewan Penguji:
1. Dr. Usmi Karyani, S. Psi, [Link] ( )
(Ketua Dewan Penguji)
2. Dra. Partini, [Link] ( )
(Anggota I Dewan Penguji)
3. Santi Sulandari, [Link], [Link] ( )
(Anggota II Dewan Penguji)
Dekan,
Susatyo Yuwono, [Link], [Link], Psi
NIK/NIDN: 838/0629037401
ii
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam publikasi ilmiah ini tidak
terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu
perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali secara tertulis
diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila kelak terbukti ada ketidakbenaran dalam pernyataan saya di atas,
maka akan saya pertanggungjawabkan sepenuhnya.
Surakarta, 3 Februari 2021
Penulis
FITRIANNA RAHMADANI
F 100 160 202
iii
HUBUNGAN ANTARA GEGAR BUDAYA DAN KETERBUKAAN DIRI
DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA RANTAU
Abstrak
Penyesuaian diri merupakan fenomena yang dibutuhkan mahasiswa rantau di
lingkungan barunya. Tujuan untuk menguji hubungan antara gegar budaya dan
keterbukaan diri dengan penyesuaian diri pada mahasiswa rantau. Subjek
penelitian yaitu mahasiswa aktif yang merantau dan sedang menempuh
pendidikan perguruan tinggi di Surakarta. Jumlah responden dalam penelitian ini
berjumlah 425 orang. Penelitian ini menggunakan teknik sampling purposive
sampling dengan alat pengumpulan data yaitu skala gegar budaya, skala
keterbukaan diri, dan skala penyesuaian diri. Analisis data korelasi menggunakan
regresi berganda. Hasil analisis data menunjukkan taraf signifikansi 0,000 < 0,05
artinya terdapat hubungan sangat signifikan antara variabel gegar budaya,
keterbukaan diri dengan penyesuaian diri, sehingga hipotesis peneliti terbukti.
Berdasarkan analisis data korelasi antara variabel gegar budaya dengan
penyesuaian diri diperoleh nilai (rxy) = ─ 0, 503 dengan sig, p = 0.000 (p < 0,05)
yang berarti adanya hubungan negatif antara gegar budaya dengan penyesuaian
diri, maka semakin rendah gegar budaya maka semakin tinggi penyesuaian diri.
Korelasi antara variabel keterbukaan diri dengan penyesuaian diri diperolah nilai
koefisien (rxy) = 0, 519 dengan sig, p = 0.000 (p < 0,05) yang berarti adanya
hubungan positif antara keterbukaan diri dengan penyesuaian diri, maka semakin
tinggi keterbukaan diri maka semaki tinggi penyesuaian diri.
Kata kunci : gegar budaya, keterbukaan diri, dan penyesuaian diri
Abstract
Adjustment is a phenomenon that overseas students need in their new
environment. The aim was to determine the relationship between cultural shock
and self-disclosure with oneself among overseas students in Surakarta. Research
subjects are active students who have migrated and are currently pursuing higher
education in Surakarta. The number of respondents in this study may be 425
people. The research used purposive sampling technique with data aids, namely
the scale of cultural shock, the scale of self-disclosure, and the scale of self. Data
analysis using multiple regression. The results of data analysis showed a
significance level of 0.000 <0.05, which means that there is a very significant
relationship between the variables of cultural shock, self-disclosure and self, so
that the researcher's hypothesis is proven. Based on the data analysis between the
variable of cultural shock and self, it was found that the value (rxy) = ─ 0.503 with
sig, p = 0.000 (p <0.05) which means that there is a negative relationship between
cultural shock and oneself, the lower the culture shock, the higher self. The
correlation between self-disclosure and self-disclosure is obtained by a coefficient
value (rxy) = 0.519 with sig, p = 0.000 (p <0.05) which means that there is a
1
positive relationship between self-disclosure and self, the higher self-openness, the
self-openness is high self.
Keywords: cultural concussion, self-openness, and self-adjustment
1. PENDAHULUAN
Siswa yang telah menyelesaikan pendidikan menengah atas biasanya akan
melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, ketersediaan perguruan
tinggi dan juga pilihan jurusan yang tidak merata di setiap daerah menyebabkan
mereka merantau untuk melanjutkan perguruan tinggi di tempat yang mereka
inginkan. Sehingga mereka harus menyesuaikan diri pada lingkungan barunya.
Tetapi hal itu bukanlah hal yang mudah, karena dari primari studies yang
dilakukan Sharma & Wavare (2013) mengatakan bahwa 60% mahasiswa pada
ajaran baru banyak yang mengalami stress, salah satunya penyebabnya adalah
gegar budaya. Hasil penelitian tersebut didukung Sandhu & Asrabadi (1994) yang
mengatakan bahwa mahasiswa kelas internasional mengalami diskriminasi,
kerinduan rumah, ketakutan, rasa bersalah, kebencian, yang dirasakan, dan stress
karena perubahan budaya. Ditemukan juga pada hasil wawancara Siregar &
Kustanti (2018) terhadap mahasiswa suku minang yang merantau dan mengaku
sulit menyesuaikan diri di lingkungan baru karena banyaknya perbedaan yang ia
rasakan baik dari segi makanan, budaya, bahasa, nilai dan norma.
Fenomena serupa juga ditemukan pada oleh Nadlyfah & Kustanti (2018)
pada mahasiswa rantau di Universitas Diponogoro menunjukkan terdapat
mahasiswa yang merasa kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan
kampus maupun tempat tinggalnya sekarang. Hal itu dikarenakan perbedaan
budaya dan bahasa yang membuatnya sulit untuk berkomunikasi dengan teman-
temannya yang mayoritas menggunakan bahasa jawa. Menurut Lestari (2016)
untuk menyesuaikan diri di lingkungan baru, sangat penting seseorang melakukan
interaksi di lingkungannya. Karena lingkungan merupakan wadah seseorang
untuk berinteraksi. Fenomena lain yang menimpa mahasiswa Riau di Yogyakarta
dimana mereka masih terbiasa dengan budaya asli sehingga mereka dituntut untuk
2
terbuka tentang dirinya di lingkungan baru. Mereka juga menemukan kesulitan
dan memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri di lingkungan barunya.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan Jamaluddin (2020) bahwa
beberapa mahasiswa mengalami kesulitan dalam fungsi belajar, adaptasi
lingkungan baru, proses belajar, hingga kegiatan barunya. Banyak dari mereka
merasa tertekan sehingga berdampak pada menurunnya motivasi ataupun prestasi
belajarnya. Terbukti dari hasil studi yang tidak memuaskan. Mahasiswa tersebut
berpendapat bahwa hal ini dikarenakan kurang mampunya mereka dalam
menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Fenomena-fenomena di atas
menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa rantau yang kesulitan dalam
penyesuaian diri, padahal hal tersebut sangat dibutuhkan mahasiswa rantau agar ia
mampu berperan dengan baik di lingkungan barunya. sehingga ia merasa betah
meskipun berada di tempat yang berbeda dengan tempat asalnya tersebut.
Menurut Naim (1979) mahasiswa rantau adalah seseorang yang pergi
mencari ilmu di luar daerah asalnya dalam waktu tertentu. Alasan mahasiswa
perantau adalah untuk mendapatkan fasilitas pendidikan terbaik dan lengkap yang
kebanyakan berada di pulau Jawa ([Link] 2016). QS World
University Ranking dan Times Higher Education 9 juga telah merangking bahwa
universitas terbaik di Indonesia berada di pulau Jawa. Terhitung data terakhir
survey pada tahun 2019 di Surakarta terdapat 6 perguruan tinggi dan sebanyak
18.961 mahasiswa ([Link] 2020).
Penelitian terdahulu mengenai penyesuaian diri yaitu penelitian pertama,
hasil penelitian Siregar & Kustanti (2018) tentang hubungan antara gegar budaya
dengan penyesuaian diri pada mahasiswa bersuku minang di Universitas
Diponogoro ini membuktikan hipotesis yang menyatakan bahwa mahasiswa
minang pada tahun pertama memiliki hubungan negatif antara gegar budaya
dengan penyesuain diri. Dimana pada penelitian ini mahasiswa minang memiliki
nilai gegar budaya yang rendah dan memiliki penyesuaian diri yang tinggi. Hasil
penelitian lainnya pun yang telah dilakukan Nadlyfah & Kustanti (2018) dapat
disimpulkan bahwa mahasiswa rantau di semarang memiliki hubungan positif
antara keterbukaan diri dengan penyesuaian diri. Hubungan ini membuktikan
3
bahwa semakin tinggi pengungkapan diri maka tingkat penyesuaian diri
mahasiswa akan semakin tinggi. Selain itu penelitian terdahulu lainnya juga
mengatakan Lestari (2016) bahwa keterbukaan diri berpengaruh dalam
penyesuaian diri dengan bukti survey dimana sebanyak 8,2% dalam yang
memiliki keterbukaan diri dengan kategori tinggi, lalu 91,8% masuk dalam
kategori sedang yang memiliki keterbukaan diri, dan 0% pada kategori rendah.
Penelitian ini menarik untuk dilakukan karena melihat gegar budaya dan
keterbukaan diri menjadi salah satu faktor penyesuaian diri pada mahasiswa.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka peneliti mengajukan
rumusan masalah penelitian sebagai berikut, yang pertama adalah “apakah ada
hubungan antara gegar budaya dan keterbukaan diri dengan penyesuaian diri
pada mahasiswa rantau?”. Manfaat Teoritis dari penelitian ini yaitu untuk
memberi bukti empiris mengenai hubungan antara gegar budaya dan keterbukaan
diri dengan penyesuaian diri pada mahasiswa rantau. Manfaat praktis dari
penelitian ini yaitu agar dapat membantu dalam penyesuaian diri mahasiswa
dengan memperhatikan faktor gegar budaya dan keterbukaan diri.
Hipotesis yang diajukan peneliti ada mayor dan minor. Hipotesis mayor
pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara gegar budaya dan
keterbukaan diri dengan penyesuaian diri pada mahasiswa rantau. Selanjutnya,
Hipotesis minor dalam penelitian ini yang pertama, terdapat hubungan negatif
antara gegar budaya dengan penyesuaian diri. Kedua, terdapat hubungan positif
antara keterbukaan diri dengan penyesuaian diri.
2. METODE
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif, khususnya penelitian
korelasi untuk menguji hubungan antara 2 atau lebih variabel. . Teknik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan alat
pengumpulan data yaitu skala gegar budaya, skala keterbukaan diri dan skala
penyesuaian diri. Analisis data korelasi menggunakan regresi berganda. Peneliti
menyebarkan data selama 3 hari yaitu dari tanggal 6-8 Januari 2021 sejumlah 425
4
mahasiswa aktif yang merantau dan sedang menempuh pendidikan perguruan
tinggi.
Skala penyesuaian diri yang digunakan dalam penelitian ini dibuat
peneliti dengan menggunakan teori dari Schneiders (dalam Sasmita & Rustika,
2015) yang terdiri dari aspek mampu mengendalikan emosi berlebih, mempunyai
sistem pertahanan diri yg rendah, mempunyai rasa putus asa yang rendah, dapat
berpikir matang sehingga mampu mengarahkan diri, mampu meningkatkan
kualitas diri dengan kompetensi belajar, mampu menerapkan pengalaman masa
lalu, berpikir objektif dan logis. Skala penyesuaian diri berjumlah 30 aitem
(Jumlah sebelum melakukan expert judgment yaitu 40 item).
Skala gegar budaya dibuat peneliti dengan menggunakan teori dari Ward
(2001) yang terdiri dari aspek affective, behavior, dan cognitive skala gegar
budaya berjumlah 26 aitem (Jumlah sebelum melakukan expert judgment yaitu
39 item).
Skala keterbukaan diri dibuat peneliti dengan menggunakan teori
Altman & Taylor (dalam Gainau, 2009) yang terdiri dari aspek ketepatan,
motivasi, waktu, keintensifan, dan kedekatan keakraban. Skala keterbukaan diri
berjumlah 15 aitem (Jumlah sebelum melakukan expert judgment yaitu 29 item) .
Setelah semua aitem dibuat, aitem di review oleh rater expert judgment
agar dapat mengukur konstruk yang hendak diukur, setelah melihat skor dari
masing-masing rater dan juga melihat validitas dari setiap aitem. Setelah
dilakukan expert judgment, peneliti menganilisis hasil expert judgment
menggunakan koefisien validitas isi aiken’s V dengan menggunakan program
Ms. Excel. Aiken telah merumuskan formula aiken’s V untuk menghitung
content validity coefficient yang didasarkan pada hasil penilaian rater judgment
sebanyak 5 orang terhadap suatu aitem mengenai sejauh mana aitem tersebut
mewakili konstruk yang dikur. Hasil yang menunjukkan bahwa nilai V ≥ 0,80
maka aitem tersebut valid dan apabila V < 0,80 maka aitem tersebut gugur.
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling
dengan alat pengumpulan data yaitu skala gegar budaya, skala keterbukaan diri
dan skala penyesuaian diri. Analisis data korelasi menggunakan regresi berganda.
5
Peneliti membagikan link google form melalui whatsapp dari grup ke
grup yaitu grup fakultas dan juga organisasi kampus serta meminta bantuan
kepada teman- teman peneliti untuk share ke grup-grup mereka maupun
akun pribadi mereka. . Peneliti menyebarkan data selama 3 hari yaitu dari tanggal
6-8 Januari 2021 sejumlah 425 mahasiswa aktif yang merantau dan sedang
menempuh pendidikan perguruan tinggi.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis data menggunakan analisis Regresi Berganda,
hubungan antara gegar budaya dan keterbukaan diri dengan penyesuaian diri
pada mahasiswa rantau menggunakan analisis Regresi Berganda, memiliki nilai
Fhitung (F) = 130, 616 dengan sig. p = 0.000 (p < 0,05), sehingga terdapat
hubungan antara gegar budaya dan keterbukaan diri dengan penyesuaian diri
pada mahasiswa rantau ketika diuji bersama-sama. Hal ini sejalan dengan
faktor-faktor penyesuaian diri yang dikatakan oleh Susanto (2018) bahwa ada
lima faktor yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri. Dari lima faktor ada
dua faktor yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya yaitu yang pertama
faktor kebudayaan yakni budaya yang membentuk watak dan tingkah laku
individu untuk menyesuaikan diri dengan baik dan faktor keadaan psikologis
berupa dorongan internal yaitu keterbukaan diri dimana individu yang memiliki
mental yang sehat menjadi syarat tercapainya penyesuaian diri. hal yang
mendorong individu untuk memberikan respon yang sejalan dengan internal
adalah dengan adanya keadaan mental yang baik dari dirinya. Dorongan
internal tersebut dimulai dengan terbukanya diri pada lingkungan baru.
“ Pada variabel gegar budaya dengan penyesuaian diri diperoleh nilai
Pearson Correlation (rxy) = ─ 0, 503 dengan sig, p = 0.000 (p < 0,05) yang berarti
adanya hubungan negatif yang signifikan antara gegar budaya dengan
penyesuaian diri. Hal ini memiliki makna bahwa arah antara gegar budaya dan
penyesuaian diri berlawanan yang artinya apabila semakin rendah gegar budaya
maka semakin tinggi penyesuaian diri seseorang, begitu pula sebaliknya semakin
tinggi gegar budaya maka semakin rendah penyesuaian diri seseorang. Hal ini
6
sesuai dengan penelitian yang dilakukan Siregar & Kustanti (2018) bahwa
mahasiswa yang merantau dituntut untuk menyesuaikan diri di lingkungan
barunya namun apabila mengalami gegar budaya maka ia akan mengalami
kesulitan dalam menyesuaikan diri.
“ Pada variabel keterbukaan diri dengan penyesuaian diri diperoleh nilai
Pearson Correlation (rxy) = 0, 519 dengan sig, p = 0.000 (p < 0,05) yang berarti
adanya hubungan positif yang signifikan antara keterbukaan diri dengan
penyesuaian diri. Dari hasil tersebut memiliki makna bahwa, individu yang
mampu membuka diri di lingkungan barunya maka individu tersebut mampu
menyesuaikan diri di lingkungan barunya. Hal ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Nadlyfah & kustanti (2018) mengemukakan
bahwa keterbukaan diri adalah hal pertama saat seorang mahasiswa melakukan
penyesuaian diri. Penyesuaian diri merupakan suatu cara beradaptasi di
lingkungannya. Penelitian lainnya yang dikemukakan oleh Lestari (2016) bahwa
keterbukaan diri berpengaruh dalam penyesuaian diri dengan bukti survey dimana
sebanyak 8,2% dalam yang memiliki keterbukaan diri dengan kategori tinggi, lalu
91,8% masuk dalam kategori sedang yang memiliki keterbukaan diri, dan 0%
pada kategori rendah.”
“ Sumbangan efektif nilai R2 pada tabel measures of association variabel
gegar budaya sebesar 25,3% dan nilai R2 pada tabel measures of association
keterbukaan diri sebesar 27% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang
tidak diteliti sebesar 47,7%. Hal ini menunjukan bahwa pengaruh gegar budaya
lebih kecil daripada keterbukaan diri terhadap penyesuaian diri. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan Al-Hattami & Al-Ahdal (2014) mengatakan
bahwa siswa Arab yang pindah ke Amerika menimbulkan berbagai masalah yang
disebabkan oleh perbedaan budaya, bahasa, dan nilai kepercayaan. Hal ini yang
menyebabkan mereka mengalami kesulitan saat melakukan penyesuaian. Selain
gegar budaya terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri pada
mahasiswa rantau yaitu keterbukaan diri dimana hasil penelitian Kagnici (2012)
mengatakan bahwa keterbukaan diri merupakan salah satu faktor dari keberhasilan
seseorang dalam melakukan penyesuaian dirinya di perguruan tinggi. Seseorang
7
yang mampu menyampaikan informasi pribadi tentang dirinya ke orang lain,
merupakan faktor keberhasilan seseorang dalam melakukan keterbukaan diri.
Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan maka dapat
disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini dapat diterima. Diterimanya
hipotesis ini yang mana adanya keterkaitan antar 3 variabel dalam penelitian ini
dapat dilihat dari aspek gegar budaya, keterbukaan diri dan penyesuaian diri.
Menurut Schneiders (dalam Susanto, 2018) penyesuaian diri dipengaruhi oleh
faktor keadaan fisik, perkembangan dan kematangan, kondisi psikologis, kondisi
lingkungan, tingkat religiusitas, dan kebudayaan. Peneliti menggunakan dua
faktor yaitu faktor kebudayaan dan kondisi psikologis.
Faktor kebudayaan dalam masyarakat berperan dalam membentuk watak
dan tingkah laku individu. Saat individu memutuskan merantau biasanya mereka
mengalami gegar budaya karena perbedaan budaya antara lingkungan yang
sebelumnya dengan lingkungan yang baru. Gegar budaya dapat dilihat dari aspek
Affective, dimana mempunyai korelasi dengan perasaan dan emosi yang mampu
menghasilkan reaksi positif maupun negatif. Affective ini dapat dilihat dari
bagaimana individu tersebut merespon di lingkungan barunya. Contoh respon saat
individu mengalami gegar budaya yang mempengaruhi individu dalam
menyesuaikan diri yaitu merasa bimbang, merasa cemas, mengalami homesick,
maupun mengalami krisis identitas. Aspek gegar budaya selanjutnya yaitu
Behavior dimana Perilaku individu yang tidak tepat secara budaya dapat
menimbulkan kesalahpahaman dan mengakibatkan suatu masalah. Hal ini juga
mungkin dapat membuat kehidupan personal dan professional kurang efektif.
Biasanya seseorang akan menghadapi kesukaran tidur, selalu ingin buang air
kecil, fisik mudah lelah, nafsu makan berkurang. Lalu aspek selanjutnya adalah
Cognitive, aspek ini adalah hasil dari aspek affective dan behavior yaitu
perubahan persepsi individu dalam identifikasi etnis dan nilai-nilai akibat kontak
budaya. Saat terjadi kontak budaya, hilangnya hal-hal yang dianggap benar oleh
individu tidak dapat dihindarkan. Individu akan memiliki pandangan negatif,
kesulitan bahasa karena berbeda dari negara asal, pikiran individu hanya terpaku
pada satu ide saja, dan memiliki kesulitan dalam interaksi sosial. Padahal interaksi
8
merupakan sarana individu seseorang menyesuaikan diri di lingkungan barunya.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Siregar & Kustanti (2018) bahwa
mahasiswa yang merantau dituntut untuk menyesuaikan diri di lingkungan
barunya. Apabila mengalami gegar budaya maka ia akan mengalami kesulitan
dalam menyesuaikan diri.
Faktor keterbukaan diri adalah kompetensi individu untuk mengutarakan
informasi pribadi kepada orang asing yang mengarah untuk memperoleh relasi
yang baik. Untuk membuka diri kepada orang lain dapat dilihat dari aspek
ketepatan dimana mengarah pada apakah individu mampu mengutarakan
informasi pribadinya dengan tepat dan apakah untuk momen dimana seseorang
tersebut dapat berperan baik atau tidak di lingkungannya. Disaat individu sudah
mampu berperan dengan baik di lingkungan barunya maka individu tersebut
sudah mengetahui keadaan lingkungan tersebut dan tepat dalam memberikan
respon atau informasi. Aspek selanjutnya adalah motivasi, dimana berhubungan
dengan keinginan individu untuk mengungkapkan dirinya kepada orang lain.
Keinginan ini pun bisa timbul dari dalam maupun luar. Keinginan yang berasal
dari dalam berhubungan dengan hasrat atau tujuan individu melakukan
pengungkapan dirinya. Sedangkan keinginan yang berasal dari luar dipengaruhi
lingkungan sosialnya, baik keluarga maupun teman. Saat individu menyesuaikan
diri, maka individu tersebut memiliki keinginan membuka diri ke lingkungan
barunya. Aspek selanjutnya dari keterbukaan diri yaitu waktu, dimana seseorang
mampu menentukan waktu yang cocok untuk melakukan percakapan dengan
orang lain. Saat seseorang sedang merasa senang atau bahagia, ini adalah waktu
yang tepat karena seseorang biasanya akan lebih memiliki minat berinteraksi
apabila sedang merasa bahagia. Aspek selanjutnya yaitu keintensifan ini
merupakan bagaimana hubungan individu dengan individu lainnya yang mana
apakah antar individu sudah saling kenal sebelumnya atau sering berjumpa dan
menyapa sehingga memiliki hubungan yang erat. Aspek yang terakhir dari
keterbukaan diri yaitu kedekatan dan keakraban, aspek ini mengetahui apakah
individu memiliki hubungan yang hangat dengan individu lainnya atau
sebaliknya. Apabila individu bertemu dengan individu yang hubungannya belum
9
begitu hangat, maka ia akan hanya menceritakan informasi umum saja. Namun,
apabila individu memiliki hubungan yang baik dan hangat atau mereka memiliki
hubungan yang akrab, maka ia akan menceritakan informasi lebih dalam
tentangnya. Semakin individu memiliki hubungan yang akrab dengan individu
lainnya, maka semakin ia akan terbuka kepada orang tersebut. Saat individu
merasa dekat dengan lingkungannya maka individu tersebut akan memberikan
informasi khusus pribadinya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Lestari (2016) bahwa keterbukaan diri berpengaruh dalam penyesuaian diri
dengan bukti survey dimana sebanyak 8,2% dalam yang memiliki keterbukaan
diri dengan kategori tinggi, lalu 91,8% masuk dalam kategori sedang yang
memiliki keterbukaan diri, dan 0% pada kategori rendah.
Berdasarkan penjelasan tersebut, gegar budaya dan keterbukaan diri dapat
mempengaruhi mahasiswa rantau. Pada variabel gegar budaya adanya hubungan
negatif yang signifikan dengan penyesuaian diri yang memiliki makna, apabila
mahasiswa rantau mengalami gegar budaya maka ia akan mengalami kesulitan
untuk menyesuaikan diri di lingkungan barunya. hal ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya yang dikemukakan oleh Pramudiana & Setyorini (2019) mengatakan
bahwa ketidakjelasan peran sosial yang dijalankan oleh siswa di Papua membuat
siswa mengalami shock peran, hal ini yang membuat sulit menyesuaikan diri.
Pada variabel keterbukaan diri ada hubungan positif dengan penyesuaian diri yang
memiliki makna, apabila mahasiswa rantau mampu membuka diri dengan baik di
lingkungan barunya maka ia mampu menyesuaikan diri di lingkungan barunya.
Hal ini sesuai dengan penelitian Cozby (1972) mengatakan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara keterbukaan diri dengan penyesuaian diri. Individu harus
membuka diri untuk bertukar informasi sehingga mampu menyesuaikan diri
dengan baik (Trepte, 2015).
4. PENUTUP
Kesimpulan dari hasil dan pembahasan diatas menunjukkan bahwa sesuai dengan
hipotesis yang telah diajukan oleh peneliti yaitu ada hubungan antara gegar
budaya dan keterbukaan diri dengan penyesuaian diri pada mahasiswa rantau.
10
Selain itu terdapat hubungan negatif antara gegar budaya dengan penyesuaian
diri pada mahasiswa rantau yang mana jika semakin tinggi gegar budaya maka
penyesuaian diri mahasiswa akan semakin rendah, begitupun sebaliknya. Dalam
penelitian ini juga terdapat hubungan positif antara keterbukaan diri dengan
penyesuaian diri pada mahasiswa rantau yang memiliki makna apabila semakin
tinggi keterbukaan diri seseorang maka akan semakin tinggi juga penyesuaian
dirinya.
Berdasarkan pemaparan diatas peneliti akan mengajukan beberapa saran
sebagai berikut : bagi mahasiswa rantau disarankan saling mendukung antar
teman di lingkungannya karena mampu membantu dalam proses beradaptasi
dengan budaya baru. Selain itu bisa mengikuti komunitas berbasis daerah
seperantauan sehingga meningkatkan peran seseorang. Komunitas tersebut pun
dapat membuat acara-acara untuk mengembangkan diri di lingkungannya dan
bisa sebagai wadah untuk sharing dan memberikan dukungan antar anggotanya.
Selain itu, mahasiswa rantau bersikap positif terhadap orang lain ketika sedang
komunikasi. Untuk penelitian selanjutnya disarankan memperhatikan faktor-
faktor lain yang mempengaruhi penyesuaian diri seperti faktor fisik,
perkembangan dan kematangan, lingkungan, dan religiusitas.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hattami, A. A., Al-Ahdal, A. A. (2014). Academic and social adjustment of
arab fulbright student in american universities: a case study.
International Journal of Humanities and Social Science,4(5), 220.
Cozby, P. C. (1972). Self-disclosure, reciprocity, and liking.
Sociometry,35(1),151-160.
Gainau, M. B. (2009). Keterbukaan diri (self-disclosure) siswa dalam perspektif
budaya dan implikasinya bagi konseling. Jurnal widya warta,1-18.
Jamaluddin, M. (2020). Model penyesuaian diri mahasiswa baru. Indonesian
Psychological Research,2(2),109-118.
[Link] (2020). Jumlah perguruan tinggi, mahasiswa, dan tenaga pendidik
(negeri dan swasta) di bawah kementerian agama menurut
kabupaten/kota di provinsi jawa tengah, 2018 dan 2019. Diunduh dari.
[Link]
tinggi-mahasiswa-dan-tenaga-pendidik-negeri-dan-swasta-di-bawah-
11
kementerian-agama-menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-jawa-tengah-
[Link]
Lestari, O. S. (2016). Hubungan keterbukaan diri dengan penyesuaian diri
mahasiswa riau di Yogyakarta. Jurnal bimbingan dan konseling,75-85.
Nadlyfah, A. K., & Kustanti, E. R. (2018). Hubungan antara pengungkapan diri
dengan penyesuaian diri pada mahasiswa rantau di Semarang. Jurnal
Empati,133-144.
Naim, Mochtar. (1984). Merantau : Pola migrasi suku minagkabau. Yogyakarta
: Gadjah Mada University Press.
Pramudiana, I. D., & Setyorini, T. D. (2019). Hubungan antara gegar budaya
dengan penyesuaian sosial siswa Papua di Magelang. Jurnal
Praxis,1(2),125-138.
Sandhu, D. S., & Asrabadi, B. R. (1994). Development of an acculturative stress
scale for international students: preliminaryfindings. Psychological
Reports,75(1),435-448.
Sasmita, I. A.G. H. D., & Rustika, I. M. (2015). Peran efikasi diri dan dukungan
sosial teman sebaya terhadap penyesuaian diri mahasiswatahun pertama
program studi pendidikan dokter fakultas kedokteran universitas
udayana. Jurnal Psikologi Udayana,2,280-28.
Siregar, A. O., & Kustanti, E. R. (2018). Hubungan antara gegar budaya dengan
penyesuaian diri pada mahasiswa bersuku minang di universitas
diponogoro. Jurnal Empati,48-65.
Sharma, B., & Wavare, R. (2013). Academic stress due to depression among
medical and para-medical students in an indian medical college: health
initiatives cross sectional study. Journal of Health Sciences,3(5),29-38.
Tribun.(2017).Selandia Baru,partner terbaru Indonesia dalam dunia pendidikan.
Diunduh dari[Link]
baru-partner-indonesia-terbaru-di-bidang-pendidikan.
Trepte, S. (2015). Social media, privacy, and self-disclosure: The turbulence
caused by social media’s affordances. Social media + society,1-2.
Ward, C., Bochner, S., & Furnham, A. (2001). The Psychology of Culture Shock.
London: Routledge.
12