PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH,
KOMPETENSI PROFESIONAL DAN MOTIVASI KERJA
TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA GURU
SMK NEGERI DI KOTA SAMARINDA
HUDA
NIM: 1405147009
Disertasi Diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas
Mulawarman dalam Rangka Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh
Gelar Doktor Manajemen Pendidikan
MANAJEMEN PENDIDIKAN PROGRAM DOKTOR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA 2020
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH,
KOMPETENSI PROFESIONAL DAN MOTIVASI KERJA
TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA GURU
SMK NEGERI DI KOTA SAMARINDA
HUDA
NIM: 1405147009
Disertasi Diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas
Mulawarman dalam Rangka Memenuhi Persyaratan untuk Memperoleh
Gelar Doktor Manajemen Pendidikan
MANAJEMEN PENDIDIKAN PROGRAM DOKTOR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA 2020
ii
ABSTRAK
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, KOMPETENSI
PROFESIONAL DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP EFEKTIVITAS
KERJA GURU SMK NEGERI DI KOTA SAMARINDA
Penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh signifikan
secara parsial dan simultan gaya kepemimpinan kepala sekolah,
kompetensi profesional dan motivasi kerja terhadap efektivitas kerja
guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) di kota Samarinda.
Penelitian digunakan metode survei dengan desain kausal. Analisis
data digunakan regresia linier berganda dengan uji t dan uji F. Hasil Uji
statistik diperoleh bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah
berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas kerja guru dengan
signifikansi lebih kecil dari taraf alpha 5% (0,000 < 0,05); kompetensi
profesional berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas kerja
guru dengan signifikansi lebih kecil dari taraf alpha 5% (0,001 < 0,05)
dan motivasi kerja berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas
kerja guru dengan signifikansi lebih kecil dari taraf alpha 5% (0,007 <
0,05). Begitu pula hasil uji F, gaya kepemimpinan kepala sekolah,
kompetensi profesional dan motivasi kerja, juga berpengaruh secara
siginifikan terhadap efektivitas kerja guru dengan angka signifikansi
lebih kecil dari taraf alpha 5% (0,000 < 0,05).
Kata kunci : gaya kepemimpinan, kompetensi profesional, motivasi
kerjaم, dan efektivitas kerja.
iii
ABSTRACT
INFLUENCE OF THE PRINCIPAL’S LEADERSHIP STYLE, PROFESSIONAL
COMPETENCE AND WORK MOTIVATION ON THE EFFECTIVINESS
OF THE TEACHER’S WORK OF PUBLIC VOCATIONAL
SENIOR HIGH SCHOOL IN SAMARINDA CITY
This research aimed to determined whether or not there of signifi-
cant influence partially and simultaneously of principals' leadership style,
professional competence and work motivation on the effectiveness of
the teacher's work of Public Vocational Senior High Schools in
Samarinda City. The research used survey method with causal design.
The method used in analyzing of data is multiple linear regression
analysis with t test and F test. The results of statistik test the princi-
pals’ leadership style has a significantly influences on the effectiveness
of the teacher's work with a significance smaller than the alpha 5%
(0,000 < 0,05); professional competence has a significantly influences
on the effectiveness of the teacher’s work with a significan-ce smaller
than alpha 5% (0.001 < 0.05, and work motivation has a significantly
influences on the effectiveness of the teacher’s work with a
significance smaller than alpha 5% (0.007 < 0.05). Similarly, the results
of the F test, there has a signifikant influences with simultan-eously
principal's leadership style, professional competence and work
motivation on the effectiveness of the teacher work with significance
smaller than the alpha 5% (0,000 < 0,05).
Keywords: leadership style, professional competence, work motivation
and work effectiveness.
iv
v
vi
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
MANAJEMEN PENDIDIKAN PROGRAM DOKTOR
Alamat : Jl. Ki Hajar Dewantara Gedung A3 Kampus Gunung Kelua Samarinda
Telp. 0541-743213 Email. doktormanajemenpendidikan@[Link]
LEMBAR PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa disertasi yang saya
susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Doktor Program Studi
Manajemen Pendidikan Program Doktor Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas mulawarman Samarinda ini merupakan hasil karya
saya sendiri. Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan disertasi yang
saya kutip dari hasil karya orang lain, telah dituliskan sumbernya secara jelas
sesuai dengan norma, etika dan kaidah penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian disertasi ini
bukan hasil dari karya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian
tertentu, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Samarinda, Januari 2020
Peneliti,
HUDA
vii
KATA PENGANTAR
مـــــــــــــــــــــــن الرَّحـــــــــــــي ِْم
ِ ْبِس ِْم هللاِ الرَّح
Al-Hamdulillah Rabbil ‘Alamin, segala puji bagi Allah, Tuhan Seru
sekalian alam yang Menganugerahkan rahmat-Nya kepada hamba-Nya.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan
kita, Nabi Muhammad Saw yang telah menuntun kepada kita menuju jalan
kebenaran dan yang diridhai Allah SWT.
Ucapan terima kasih kepada:
1. Rektor Unmul, Prof. Dr. H. Masjaya, [Link] yang memberikan kesempatan
bagi peneliti untuk menimba ilmu.
2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unmul, Prof. H. Muh. Amir
Masruhim, [Link]. yang memberikan kesempatan bagi peneliti untuk
menimba ilmu;
3. Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Proggram Doktor (P.S
MPPD) Unmul, Dr. Hasbi Sjamsir, [Link], selaku pengelola beserta para
dosen selaku pengajar;
4. Sekretaris Program Studi Manajemen Pendidikan Program Doktor (PS.
MPPD) Unmul, Dr. Laili Komariyah, [Link] beserta para staf yang memban-
tu terselesaikannya disertasi ini;
5. Promotor Prof. Dr. H. Rahmat Soe’oed, M.A yang telah berjuang keras
dalam membimbing penulisan disertasi ini;
6. Co-Promotor, Bapak Dr. H. Johansyah, [Link], [Link] yang telah berjuang
keras dalam membimbing penulisan disertasi ini;
7. Para penguji Prof. H. Muh. Amir Masruhim, [Link], Prof. Susilo, [Link], Dr.
Saraka, [Link] dan Dr. Hasbi Sjamsir, [Link] yang telah memberi
masukan guna perbaikan disertasi ini;
viii
8. Kepala SMK Negeri 16 Samarinda, Dr. Dra. Husniah Achamd, [Link] yang
memberi kesempatan peneliti untuk menyelesaikan disertasi ini;
9. Keluarga tercinta:
a. Anita Syahriani, [Link] (Isteri);
b. Riyadlus Solihin (Putra Pertama);
c. Hayat Al-Falah (Putra Kedua);
d. Akmal Assyifaul Qulubi (Putra Ketiga)
e. Ibnu ‘Aqil (Putra Keempat);
f. Rifa’atul Luthfiyah (Putri Kelima)
yang telah mendukung terselesaikannya penulisan disertasi ini.
10. Seluruh sahabat yang mendudukung terselesaikan penulisan disertasi ini.
Isi disertasi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, peneliti
berharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca guna perbaikan
karya ini.
Samarinda, Januari 2020
Peneliti,
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL BAGIAN LUAR .................................................................. i
JUDUL BAGIAN DALAM ............................................................... ii
ABSTRAK ...................................................................................... iii
ABSTRACT .................................................................................... iv
LEMBAR PERSETUJUAN KOMISI PROMOTOR .......................... v
LEMBAR PERSETUJUAN HASIL PERBAIKAN HASIL ................ vi
LEMBAR PERNYATAAN ............................................................... vii
KATA PENGANTAR ....................................................................... viii
DAFTAR ISI .................................................................................... x
DAFTAR TABEL ............................................................................. xv
DAFTAR GAMBAR/ILUSTRASI ..................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................... xviii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................... 8
C. Batasan Masalah ........................................................................ 8
D. Rumusan Masalah ..................................................................... 9
E. Tujuan Penelitian ........................................................................ 9
F. Manfaat Hasil Penelitian ............................................................. 10
BAB II LANDASAN TEORI
A. Efektivitas Kerja Guru
1. Pengertian Efektivitas Kerja Guru ............................................... 11
2. Faktor-Faktor Efektivitas Kerja .................................................... 13
3. Tugas Guru dalam Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah ........ 22
4. Mengukur Efektivitas Kerja .......................................................... 29
x
B. Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
1. Pengertian Kepemimpinan ......................................................... 35
2. Pengertian Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah ...................... 36
3. Dasar-Dasar Menjadi Pemimpin/Kepala Sekolah ........................ 38
4. Mengukur Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah ....................... 43
5. Peranan dan Fungsi Kepala Sekolah ......................................... 54
C. Kompetensi Profesional
1. Pengertian Kompetensi Profesional ........................................... 65
2. Aspek-Aspek Kompetensi Profesional Guru ............................... 69
3. Profesional sebagai Kompetensi Guru ........................................ 72
4. Pengukuran Kompetensi Profesional Guru .................................. 74
D. Motivasi Kerja Guru
1. Pengertian Motivasi Kerja .......................................................... 77
2. Fungsi Motivasi ........................................................................... 78
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja ...................... 79
4. Teknik Memotivasi ...................................................................... 87
5. Mengukur Motivasi Kerja Guru ................................................... 89
E. Hasil Penelitian yang Relevan ................................................. 90
F. Kerangka Teoritik ..................................................................... 99
1. Hubungan Gaya kepemimpinan Kepala Sekolah
dengan Efektivitas Kerja Guru .................................................... 99
2. Hubungan Kompetensi Profesional dengan Efektivitas
Kerja Guru ................................................................................... 100
3. Hubungan Motivasi Kerja dengan Efektivitas Kerja Guru ............ 101
4. Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kompetensi
Profesional dan Motivasi Kerja dengan Efektivitas Kerja ............. 101
G. Hipotesis Penelitian .................................................................. 102
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan, Metode dan Desain Penelitian ............................ 104
xi
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian .................................................................... 105
2. Sampel Penelitian ...................................................................... 106
C. Variabel Penelitin ...................................................................... 109
D. Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 109
E. Devinisi Konseptual dan Devinisi Operasional
1. Devinisi Konseptual Variabel Penelitian .................................... 110
2. Devinisi Operasional Variabel Penelitian ..................................... 111
F. Kisi-Kisi Instrumen
1. Kisi-Kisi Instrumen Efektivitas Kerja ............................................ 112
2. Kisi-Kisi Instrumen gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah ........... 116
3. Kisi-Kisi Instrumen Kompetensi Profesional ................................ 118
4. Kisi-Kisi Instrumen Motivasi Kerja .............................................. 122
G. Pengujian Instrumen
1. Uji Validitas dan Reliabilatas Instrumen Efektivitas Kerja Guru .. 125
2. Uji Validitas dan Reliabiltas Instrumen Gaya Kepemimpinan
Kepala sekolah ............................................................................ 126
3. Uji Validitas dan Reliabilitas Kompetetensi Profesional .............. 127
4. Uji Validitas dan Reliabelitas Instrumen Motivasi Kerja .............. 127
H. Analisis Deskriptif .................................................................... 128
I. Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas ............................................................................. 129
2. Uji Heteroskedastisitas ............................................................... 130
3. Uji Linieritas ................................................................................ 130
4. Uji Multikolinieritas ...................................................................... 130
J. Analisis Regresi Linier Berganda dan Uji Jenis Alat Uji
1. Analisis Regresi Linier Berganda ................................................. 131
2. Uji T (Uji Secara Parsial) ............................................................. 132
3. Uji F (Uji Secara Simultan) ......................................................... 132
xii
4. Koefisien Determinasi ................................................................. 132
K. Hipotesis Statistik dan Hipotesis Penelitian .......................... 133
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi SMK Negeri di Kota Samarinda .............................. 135
B. Waktu dan Tempat Penelitian .................................................. 136
C. Pengaktegorian Variabel Penelitian
1. Pengaktegorian Variabel Efektivitas Kerja Guru .......................... 137
2. Pengaktegorian Variabel Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah 142
3. Pengaktegorian Variabel Kompetensi Profesional ..................... 146
4. Pengaktegorian Variabel Motivasi Kerja ..................................... 150
D. Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas ............................................................................. 154
2. Uji Heteroskedastisitas Metode Uji Glejser ................................. 156
3. Uji Linieritas ................................................................................ 156
4. Uji Multikolinieritas ...................................................................... 157
E. Analisis Regresi Linier Berganda dan Uji Hipotesis
1. Model Dugaan Persamaan Regresi Linier Berganda................... 158
2. Uji Hipotesis ................................................................................ 160
3. Analisis Koefisien Determinasi .................................................... 166
F. Pembahasan Hasil Penelitian .................................................. 169
1. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap
Efektivitas Kerja Guru SMK Negeri di Kota Samarinda ............... 173
2. Pengaruh Kompetensi Profesional terhadap Efektivitas
Kerja Guru SMK Negeri di Kota Samarinda ................................ 179
xiii
3. Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Efektivitas Kerja Guru
SMK Negeri di Kota Samarinda ................................................... 185
4. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kompetensi
Profesional dan motivasi kerja terhadap Efektivitas Kerja Guru
SMK Negeri di Kota Samarinda ................................................... 191
G. Keterbatasan Penelitian ........................................................... 193
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ............................................................................... 194
B. Saran ......................................................................................... 200
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 203
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Daftar Jumlah Guru Negeri pada 7 SMK Negeri
di Kota Samarinda ....................................................... 106
Tabel 3.2 Sampel Guru setiap Sekolah ....................................... 108
Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Efektivitas kerja Guru .................... 112
Tabel 3.4 Kisi-Kisi Instrumen Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah 116
Tabel 3.5 Kisi-Kisi Instrumen Kompetensi Profesional ................ 118
Tabel 3.6 Kisi-Kisi Instrumen Motivasi Kerja Guru ....................... 122
Tabel 4.1 Daftar 7 SMK Negeri di Kota Samarinda ..................... 136
Tabel 4.2 Kategori Efektivtas Kerja Guru ..................................... 139
Tabel 4.3 Indikator Guru Merencanakan Pembelajaran Butir 4 ... 140
Tabel 4.4 Indikator Guru Merencanakan Pembelajaran Butir 5 ... 141
Tabel 4.5 Kategori Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah ........... 143
Tabel 4.6 Indikator Keterbukaan Gaya Kepempinan Butir 8 ........ 144
Tabel 4.7 Indikator Kebenaran dan Keterpercayaan Butir 4 ........ 145
Tabel 4.8 Kategori Kompetensi Profesional ................................. 147
Tabel 4.9 Indikator Guru memetakan standar kompetensi
dan kompetensi dasar mata pelajaran Butir 3 .................... 148
Tabel 4.10 Indikator Guru Memanfaatkan Bukti Gambaran
Kinerja Butir 17 ............................................................ 149
Tabel 4.11 Kategori Motivasi Kerja Guru ....................................... 152
Tabel 4.12 Indikator Perasaan Senang dalam Bekerja Butir 11 ... 152
Tabel 4.13 Indikator Melaksanakan tugas dengan target yang
jelas Butir 8 .................................................................. 153
Tabel 4.14 Hasil Uji Normalitas Metode Kolmogorov Smirnov ....... 155
Tabel 4.15 Hasil Uji Heteroskedastisitas Metode Uji Glejser ......... 156
Tabel 4.16 Hasil Uji Linieritas ........................................................ 157
Tabel 4.17 Hasil uji Multikolinearitas .............................................. 158
Tabel 4.18 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda ....................... 159
Tabel 4.19 Hasil uji t (uji secara parsial) ........................................ 161
Tabel 4.20 Hasil Uji F (Koefisien Regresi Secara Bersama-sama). 165
xv
Tabel 4.21 Hasil Analisis Koefisien Determinasi ............................ 167
xvi
DAFTAR GAMBAR
1. Gambar 2.1 Skema Kerangka Teoritik Variabel Penelitian .......... 102
2. Gambar 3.1 Skema Desain Penelitian Variabel X dan Y ........... 104
3. Gambar 3.2 Skema variabel Penelitian ...................................... 109
6. Gambar 4.1 Ringkasan Hasil Penelitian ..................................... 173
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Pendahuluan Instrumen Penelitian ......................... 213
Lampiran 2 Petunjuk Pengisian Instrumen Penelitian ................ 214
Lampiran 3 Angket I Variabel Efektivitas Kerja Guru ................... 215
Lampiran 4 Angket II Variabel Gaya Kepemimpinan
Kepala Sekolah ........................................................ 218
Lampiran 5 Angket III Variabel Kompetensi Profesional .............. 221
Lampiran 6 Angket IV Penelitain Variabel Motivasi Kerja ........... 223
Lampiran 7 Transkripsi wawancara P dengan R ......................... 225
Lampiran 8 Transkripsi Wawancara P dengan A ........................ 231
Lampiran 9 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
Variabel Efektivitas kerja ......................................... 236
Lampiran 10 Hasil Uji Validitas dan reliabilitas Instrumen Variabel
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah .................... 237
Lampiran 11 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Variabel
Kompetensi Profesional ............................................ 238
Lampiran 12 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
Variabel Motivasi Kerja ............................................. 239
Lampiran 13 Tabulasi data Hasil Uji Coba Instrumen
Variabel Efektivitas Kerja ......................................... 240
Lampiran 14 Tabulasi Data Hasil Uji Coba Intrumen Variabel
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah ..................... 241
Lampiran 15 Tabulasi Data Hasil Uji Coba Instrumen
Kompetensi Profesional ........................................... 242
Lampiran 16 tabulasi Data hasil Uji Coba Instrumen
Variabel Motivasi Kerja ............................................ 243
Lampiran 15 Tabulasi data Hasil Penelitian Variabel
Efektivitas Kerja ....................................................... 244
Lampiran 16 Tabulasi Data Hasil Penelitian Variabel
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah ..................... 248
Lampiran 17 Tabulasi Data Hasil Penelitian Variabel
Kompetensi Profesional ........................................... 252
xviii
Lampiran 18 Tabulasi Data Hasil Penelitian Variabel
Motivasi Kerja .......................................................... 256
Lampiran 19 Tbulasi 4 Kelompok Data Hasil Penelitian ................ 260
Lampiran 20 Output Hasil Uji Normalitas ....................................... 261
Lampiran 21 Output Hasil Uji Hetroskedastisitas........................... 261
Lampiran 22 Output Hasil Uji Linieritas ......................................... 262
Lampiran 23 Output Hasil Uji Multikolinieritas ............................... 263
Lampiran 24 Output Analisis Regresi dan Uji t .............................. 263
Lampiran 25 Output Uji F .............................................................. 263
Lampiran 26 Output Koefisien Determinasi Parsial ....................... 264
Lampiran 27 Rekomendasi Minta Izin Penelitian dari UNMUL ...... 265
Lampiran 21 Rekomendasi Pemberian Izin Penelitian dari Diknas 266
Lampiran 22 Surat Keterangan Kepala SMK Negeri 6 ................. 267
Lampiran 23 Surat Keterangan Kepala SMK Negeri 7
Samarinda Telah Melakukan Penelitian ................... 268
Lampiran 24 Surat Keterangan Kepala SMK Negeri 11
Samarinda Telah Melakukan Penelitian ................. 269
Lampiran 25 Surat Keterangan Kepala SMK Negeri 12
Samarinda Telah Melakukan Penelitian .................. 270
Lampiran 26 Surat Keterangan Kepala SMK Negeri 14
Samarinda Telah Melakukan Penelitian .................. 271
Lampiran 27 Surat Keterangan Kepala SMK Negeri 16
Samarinda Telah Melakukan Penelitian .................. 272
Lampiran 28 Surat Keterangan Kepala SMK Negeri 17
Samarinda Telah Melakukan Penelitian ................. 273
Lampiran 29 Surat Keterangan Kepala SMK Negeri 20
Samarinda Telah Melakukan Penelitian ................... 274
Lampiran 30 Foto Wawancara Peneliti dengan Responden
Rusito ....................................................................... 275
Lampiran 31 Foto Wawancara Peneliti dengan Responden
M. Arief .................................................................... 276
Lampiran 30 Daftar Riwayat Hidup ............................................... 277
xix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kontek Indonesia, upaya peningkatan kualitas pendidikan
sebagai langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia Indonesia agar negara mampu berdikari (berdiri
di atas kaki sendiri) sehingga dapat melepaskan diri dari ketergantu-
ngan kepada negara lain. Tanang dan Abu berkata “. ... the goverment
invests in education as a strategy to develop high quality human
resources”. 1 Menurut Tanang dan Abu, andil pemerintah dalam
pendidikan sebagai strategi untuk mengembangkan sumber daya
manusia.
Sumber daya manusia hanya mungkin akan berkembang bila
pendidikan didukung pengajaran yang berkualitas, Hadiya habib
(Kashmir, India) mengemukakan “... nothing is more fundamental to
achieving our goal of success for every student than high quality
teaching. That is why classroom first places the teacher at the centre of
our improvement efforts”.2 Inti dari pernyataan Habib adalah tidak ada
faktor yang lebih mendasar untuk mencapai keberhasilan pendidikan
1 Hasan Tanang & Baharin Abu, “Teacher Professionalism and Professional
Development Practices in South Sulawesi, Indonesia”, Education and Development,
Faculty of Education, Universiti Teknologi Malaysia, Johor, Malaysia, Journal of
Curriculum and Teaching, Vol. 3, No. 2, 2014, h. 25 – 40.
2 Hadiya Habib, “A study of teacher effectiveness and its importance”, Research
Scholar, Department of Education, Baba Ghulam Shah Badshah University, Rajouri,
Jammu, Jammu and Kashmir, India", National Journal of Multidisciplinary Research and
Development, Volume 2; Issue 3; 2017; h. 530 - 532.
1
2
kecuali tingginya kualitas mengajar. Karena itu faktor guru menjadi
pusat utama yang perlu ditingkatkan.
Pernyataan Habib tersebut mengisyaratkan bahwa pendidikan
yang bermutu adalah yang didukung pengajaran oleh guru yang
bermutu, karena itu guru menjadi faktor penting dalam pendidikan. Hal
itu diperkuat oleh pernyataan Brianto dalam Yusrizal dkk berikut:
. ... a teacher is a crucial component in the success of an
education, because he or she is spearhead that contacts
directly with students as subjects and objects of study. If teachers
have a good ability in teaching, it will bring the impact on the
climate of good teaching and learning.3
Brianto menjelaskan, seorang guru adalah komponen penting
dalam keberhasilan suatu pendidikan, karena ia adalah ujung tombak
yang berhubungan langsung dengan siswa sebagai subjek dan objek
pembelajaran. Jika guru memiliki kemampuan mengajar yang baik,
maka berdampak pada iklim belajar mengajar yang baik.
Dimensi pentingnya kualitas guru dalam pendidikan tampaknya
belum benar-benar menyentuh para pendidik di Indonesia, sehingga
kemampuan guru rendah. Rendahnya kemampuan guru didasarkan
atas hasil uji kompetensi guru (UKG) se-Indonesia yang dilaksanakan
pada bulan Nopember 2015 hanya mencapai nilai rata-rata 53,02 dan
separuh lebih dari 2,9 juta guru meraih nilai dibawah standar
kompetensi yang ditetapkan, yaitu 55.4
3 Yusrizal, ed al, “Performance Assessment of State Senior High School
Teachers Aged 56 Years and Above”, Evaluation of Education,Teacher Training and
Education Faculty,Syiah Kuala University, Daarussalam-Aceh, Indonesia, International
Journal of Instruction, Vol.11,No.1, 2018, P. 33 – 46.
[Link], “Tindak Lanjut Hasil UKG, Ini Jadwal dan Jenis Pelatihan
Guru Tahun 2016 Menurut Dirjen GKT Kemdikbud”, diakses dari
3
Senada dengan hasil UKG itu, hasil penelitian yang dilakukan
oleh Leonad terhadap 60 guru di Jakarta dengan judul “Kompetensi
Tenaga Pendidik di Indonesia: Analisis Dampak Rendahnya Kualitas
SDM Guru dan Solusi Perbaikannya” ditemukan masalah yang serius,
yaitu:
... hampir 75 persen guru tidak mempersiapkan proses
pembelajaran dengan baik. Para guru cenderung mempersiapkan
pembelajaran dengan mengutamakan materi yang akan diajarkan,
bukan pada tujuan pembelajaran. Fakta lain yang terungkap
adalah bahwa guru juga cenderung mengajar dengan metode
yang monoton, artinya tidak menggunakan metode-metode
pembelajaran yang kreatif dan menarik untuk membangkitkan
semangat siswa belajar di kelas.5
Rendahnya kualitas kinerja guru tersebut diatas juga berbanding
lurus dengan rendahnya keterpakaian lulusan salah satu satuan
pendidikan, yaitu sekolah menengah kejuruan (SMK). Berdasarkan
data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, ternyata
lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) paling banyak yang tidak
terserap di dunia kerja.
Tingkat pengangguran terbuka paling banyak adalah lulusan
sekolah menengah kejuruan (SMK), diploma, dan universitas.
Jumlah pengangguran lulusan SMK adalah 11,24 persen dari total
jumlah pengangguran. Pengangguran lulusan SMK ini naik tipis
dibandingkan Agustus 2013 yang mencapai 11,21 persen. 6
[Link]
[Link]. pada tanggal 3
Agustus 2017.
5 Leonad, “Kompetensi Tenaga Pendidik di Indonesia: Analisis Dampak
Rendahnya Kualitas SDM Guru dan Solusi Perbaikannya” Program Studi Pendidikan
Matematika, Fakultas Teknik, Matematika dan IPA Universitas Indraprasta PGRI, Jurnal
Formatif , Volume 5, Nomor 3, Tahun 2015, h. 192-201.
6
Agus Saefudin, “SMK: Sekolah Mencetak Kuli?”, diakses dari:
[Link]
kuli_55c818f5187b6183048b4567, pada tanggal 21 Maret 2018, pukul 22.51 Wite.
4
Tanpa terkecuali SMK di Kalimantan Timur, Menurut majalah
Surya Online “Jumlah pengangguran tertinggi di Kalimantan Timur
(Kaltim) berasal dari lulusan SMK, yakni mencapai 17,37 persen atau
sebanyak 28.564 orang dari total jumlah pengangguran yang mencapai
164.447 orang, demikian data Badan Statistik (BPS) Kaltim” 7 . Atas
dasar itulah pada tahun ajaran 2017/2018 ini anggota DPRD Kaliman-
tan Timur, Rita Artaty Barito, berharap agar siswa SMK kedepannya
bisa menurunkan angka pengangguran di Kaltim.8
Samarinda merupakan kota yang memiliki banyak SMK, terdapat
20 SMK Negeri dengan jumlah guru sebanyak 879.9 Berkaitan dengan
kinerja guru, peneliti menemukan sejumlah pemasalahan di sekitar
pembelajaran yang berakibat ketidakefektivan kerja guru.
Ketidakefektivan kerja guru tersebut diduga kuat dipengaruhi
atau setidaknya berhubungan dengan sejumlah faktor berikut ini:
1. Faktor Kepemimpinan
Menurut Hiller dalam Arimbi, “Kegagalan seseorang di dalam
suatu organisasi jarang diakibatkan oleh orang itu sendiri. Sering kali
terjadi akibat kepemimpinan, yang dapat dicegah”.10 Jika demikian, -
7SURYA Online , BPS: “Lulusan SMK Dominasi Pengangguran di Kaltim”,
diakses dari: [Link]
pengangguran-di-kaltim, pada Tanggal7 September 2017.
8 Humas DPRD Prov, “Lulusan SMK Diharapkan Turunkan Tingkat
Pengangguran” diakses dari: [Link]
[Link]/read/news/2017/5834/lulusan-smk-diharapkan-turunkan-tingkat-
[Link], pada 7 September 2017.
9 Sumber Data: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur
bagian Pembinaan Ketenagaan, Tanggal 17 Mei 2018.
10 Vela Miarri Nurma Arimbi, “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap
Kinerja Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri di Temanggung”, Skripsi,
(Yogyakarta: Universitas Negeri, 2011), h. 72.
5
mengacu dari pernyataan Hiller- ketidakefektivan kerja guru mungkin
saja karena ketidaktepatan faktor kepemimpinan kepala sekolah.
Oleh karena itu kepala sekolah harus mampu mengendalikan fungsi
kepemimpinannya antara lain mampu memobilitasi atau memberda-
yakan semua potensi dan sumber daya yang dimiliki, terkait dengan
berbagai program, proses, evaluasi, pengembangan, kurikulum,
pembelajaran di sekolah.11
2. Faktor Profesionalisme
Tanang dan Abu berpandangan bahwa “Quality education
must be supported by professional teachers to produce the people
who have life skills and strong self-confidence to be competitor
among other people in global life”. 12 Pendidikan yang berkualitas
harus didukung oleh guru profesional untuk menghasilkan orang-
orang yang memiliki kecakapan hidup dan rasa percaya diri yang
kuat untuk menjadi pesaing antara orang lain dalam kehidupan
global.
Selaras dengan Tanang dan Abu, Brianto berpendapat “If
teachers have a good ability in teaching, it will bring the impact on
the climate of good teaching and learning”. 13 Jika guru memiliki
11 Wahdjosumidjo, Kepemimpinan kepala sekolah: Tinjaun teoritik dan
permasalahannya, (Jakarta: RajaGrafindo, 2003), h. 109.
12 Hasan Tanang & Baharin Abu, “Teacher Professionalism and Professional
Development Practices in South Sulawesi, Indonesia”, Education and Development,
Faculty of Education, Universiti Teknologi Malaysia, Johor, Malaysia, Journal of
Curriculum and Teaching, Vol. 3, No. 2, 2014, h. 25 – 40.
13 Yusrizal, ed al, “Performance Assessment of State Senior High School
Teachers Aged 56 Years and Above”, Evaluation of Education,Teacher Training and
Education Faculty,Syiah Kuala University, Daarussalam-Aceh, Indonesia, International
Journal of Instruction, Vol.11,No.1, 2018, h. 33 – 46.
6
kemampuan mengajar yang baik, maka akan berdampak pada iklim
belajar mengajar yang bagus.
Pendapat dari Tanang dan Abu, dan Brianto tersebut meng-
inspirasikan bahwa kinerja berhubungan dengan kompetensi profe-
sional yang dimiliki oleh guru.
3. Faktor motivasi kerja
Menurut Strong dalam Aina dkk (Nigeria) “Effective teachers
are very important for students learning”.14 Guru yang efektif sangat
penting untuk pembelajaran siswa. Selanjutnya, Aina merinci faktor-
faktor yang berhubungan dengan efektivitas kerja guru “. ... it is
possible to measure some teachers’ attribute like interaction with
student, teaching strategy, motivation, ... . 15 Menurut Aina dkk,
efektivitas guru dimungkinkan untuk mengukur beberapa atribut guru
seperti interaksi dengan siswa, strategi mengajar, motivasi.
Pernyataan Aina mengisyaratkan bahwa efektivitas kerja guru
berhubungan dengan sejumlah faktor antara lain motivasi. Bahkan
motivasi menjadi komponen penentu atas keberhasilan kerja. Hal itu
diungkapkan oleh Husaini “... kinerja tergantung dari motivasi,
kemampuan dan lingkungannya”. 16 Melalui motivasi yang tinggi,
14Aina, Jacob Kola, ed al, “Teachers’ Effectiveness and its Influence on Students
Learning”, Physics Education Department, College of Education (Tech.) Lafiagi. Kwara
state, Nigeria”, Advances in Social Sciences Research Journal, Vol.2, No.4, 2015. h. 88 –
95.
15Aina, Jacob Kola, ed al, “Teachers’ Effectiveness and its Influence on Students
Learning”, Physics Education Department, College of Education (Tech.) Lafiagi. Kwara
state, Nigeria”, Advances in Social Sciences Research Journal, Vol.2, No.4, 2015. h. 88 –
95.
16 Husaini Usman, Manajemen, Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, Edisi 3,
(Jakarta Timur: PT. Bumi Aksara, 2011), h. 250.
7
keberhasilan yang diinginkan terwujud. Pepatah Arab mengatakan
“man yajtahid yanjah” (barang siapa yang bersungguh-sungguh
niscaya berhasil).
Berdasarkan pendapat dari para ahli tersebut dapatlah disintesa-
kan bahwa efektivitas kerja guru berhubungan dengan faktor kepemim-
pinan, kompetensi profesional dan motivasi kerja.
Sejumlah peneliti juga telah berusaha untuk menemukan penye-
bab ketidakefektivan kerja guru. Sumarno, “Pengaruh Kepemimpinan
Kepala Sekolah dan Profesionalisme Guru terhadap Kinerja Guru Se-
kolah Dasar Negeri di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes”.17
Riesminingsih melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kompe-
tensi dan Motivasi terhadap Kinerja Guru SMA Yadika 3 Karang
Tengah”. 18 Ismail juga melakukan penelitian dengan judul “Kepemim-
pinan, Kompensasi, Motivasi Kerja, dan Kinerja Guru SD Negeri”.19
Sejumlah penelitian terdahulu berhasil menunjukkan bahwa
variabel kinerja guru dipengaruhi oleh kepemimpinan, kompetensi
profesional dan motivasi kerja. Dengan demikian masalah yang peneliti
temukan didukung oleh hasil penelitain.
Walau peneliti terdahulu mampu menunjukkan faktor yang
mempengaruhi kinerja guru, namun bila diteliti dengan seksama
17 Sumarno, “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalisme
Guru terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Paguyangan
Kabupaten Brebes”, (Tesis, Universitas Negeri Semarang), 2009.
18 Riesminingsih, “Pengaruh Kompetensi dan Motivasi terhadap Kinerja Guru
SMA Yadika 3 Karang Tengah”, Jurnal MIX, Volume III, No. 3, 2013, h. 263 – 271.
19Taufik Ismail, “Kepemimpinan, Kompensasi, Motivasi Kerja, dan Kinerja Guru
SD Negeri”, Jurnal Administrasi Pendidikan, Vol. XXIV No.1, 2017, h. 60-69.
8
didapati bahwa keberhasilan penelitian terdahulu mengandung reseach
gap, yaitu para peneliti dalam mengukur variabel bebas terutama varia-
bel kepemimpinan kepala sekolah, dan variabel terikat indikator yang
digunakan berasal dari rumusan para ahli dalam kontek perusa-haan
barang dan jasa, sehingga belum dilakukan pengukuran yang tepat jika
indikator tersebut digunakan untuk mengukur variabel yang sama
dalam kontek pendidikan.
Mengingat pentingnya mengetahui faktor-faktor yang mempe-
ngaruhi efektivitas kerja guru sebagai upaya peningkatan mutu
pendidikan di Indonesia dengan menggunakan alat ukur yang tepat,
maka perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan judul “Pengaruh Gaya
Kepemimpinan, Kompetensi Profesional dan Motivasi Kerja terhadap
Efektivitas Kerja Guru” dengan menggunakan indikator dalam kontek
pendidikan.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil studi pendahuluan ditemukan, bahwa efektivi-
tas kerja guru masih bermutu rendah. Hal itu apakah disebabkan oleh
1) faktor gaya kepemimpinan kepala sekolah?; 2) faktor kompetensi
pfofesional ?; dan/atau 3) motivasi kerja ?
C. Batasan Masalah
1. Agar permasalahan tidak meluas tanpa batas, maka penelitian ini
hanya memfokuskan pada faktor teridentifikasi yang diduga kuat
mempengaruhi efektivitas kerja guru, yaitu faktor gaya kepemimpi-
nan kepala sekolah, kompetensi profesional dan motivasi kerja.
9
2. Populasi penelitian dibatasi hanya pada guru Negeri pada SMK
Negeri dengan ketentuan setiap satu kecamatan ditetapkan hanya
satu SMK Negeri.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah yang telah teridentifikasi, maka rumusan
masalahnya sebagai berikut:
1) Apakah terdapat pengaruh yang signifikan gaya kepemimpinan
kepala sekolah terhadap efektivitas kerja guru?
2) Apakah terdapat pengaruh yang signifikan kompetensi profesional
terhadap efektivitas kerja guru ?
3) Apakah terdapat pengaruh yang signifikan motivasi kerja terhadap
efektivitas kerja guru ?
4) Apakah terdapat pengaruh yang signifikan gaya kepemimpinan
kepala sekolah, kompetensi profesional dan motivasi kerja terhadap
efektivitas kerja guru ?.
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal sebagai
berikut:
1) Pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap efektivitas
kerja guru.
2) Pengaruh kompetensi profesional terhadap efektivitas kerja guru.
3) Pengaruh motivasi kerja terhadap efektivitas kerja guru.
4) Pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi
profesional dan motivasi kerja terhadap efektivitas kerja guru.
10
F. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat secara teoritis
dan manfaat secara praktis, yaitu:
1) Memberikan informasi pengetahuan dan wawasan tentang
manajemen pendidikan melalui kajian gaya kepemimpinan kepala
sekolah, kompetensi profesional dan motivasi kerja terhadap
efektivitas kerja guru.
2) Menambah kajian tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah,
kompetensi profesional, motivasi kerja dan efektivitas kerja guru
SMK Negeri di kota samarinda.
3) Memberikan bahan masukan bagi kepala sekolah dan guru SMK
Negeri di Samainda tentang pengaruh gaya kepemimpinan kepala
sekolah, kompetensi profesional dan motivasi kerja terhadap
efektivitas kerja guru.
4) Memberikan sumbangsih pemikiran bagi pemerintah daerah kota
Samarinda tentang pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah,
kompetensi profesional dan motivasi kerja guru terhadap efektivitas
kerja guru.
5) Memberikan bahan acuan bagi orang lain yang hendak melakukan
penelitian lanjutan tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah,
kompetensi profesional, motivasi kerja dan efektivitas kerja guru.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Efektivitas Kerja Guru
1. Pengertian Efektivitas Kerja Guru
Efektivitas berasal dari kata efektif dan bermula dari kata efek
yang bearti akibat (hasil pengaruh dari sesuatu). 1 Selanjutnya
efektivitas memiliki arti ada efeknya (pengaruhnya, akibatnya,
kesannya), manjur, mujarab, mempan.2
Pengertian efektivitas secara terminologi dikemukakan oleh
Ravianto:
Efektivitas adalah seberapa baik pekerjaan yang dilakukan,
sejauh mana orang menghasilkan keluaran sesuai dengan yang
diharapkan. Ini berarti bahwa apabila suatu pekerjaan dapat
diselesaikan dengan perencanaan, baik dalam waktu, biaya
maupun mutunya maka dapat dikatakan efektif. 3
Pendapat Revianto di atas dapat dimaknai bahwa efektivitas
memiliki pengertian tingkat kualitas dan kauntitas hasil kerja yang
diselesaikan sesuai waktu dan biaya yang telah direncanakan.
Menurut Komarudin, efektivitas sebagai berikut:
... suatu keadaan yang menunjukkan tingkat keberhasilan
kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan terlebih dahulu. Keberhasilan kegiatan manajemen
dapat dilihat dari hasil kerja pagawai. Hasil perkerjaan yang
1 W.J.S. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi ke-Tiga,
(Jakarta Timur, Balai Pustaka, 2015), h. 311.
2 Ibid., h. 311.
3 Ravianto, Produktivitas dan Seni Usaha, (Jakarta: PT Binaman Teknika Aksara,
1989), h. 113.
11
12
sesuai dengan ketentuan akan menunjukkan tingkat
keberhasilan kegiatan manajeman yang tinggi.4
Pendapat Komarudin di atas menjelaskan bahwa pengertian
efektivitas itu tingkat keberhasilan manajemen yang ditandai oleh
keberhasilan pegawai sesuai dengan yang ditentukan.
Sejalan dengan Komarudin, Hidayat berpendapat “Efektivitas
adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target
(kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin
besar presentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya.”5
Pendapat Hidayat di atas dapat diambil pengertian bahwa
efektivitas adalah tingkat ketercapaian target dengan jumlah tetentu
dan berkualitas serta diselesaikan tepat waktu.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapatlah
disintesakan bahwa yang dimaksud efektivitas kerja adalah tingkat
ketercapaian hasil kerja sesuai kuantitas dan kualitas yang telah
ditentukan dan dapat diselesaikan tepat waktu,
Selanjutnya pengertian kerja guru meliputi "Merencanakan
pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu,
serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran".6
4 Komarudin Sastradipoera, Asas-Asas Manajemen Perkantoran, (Bandung:
Kappa Sigma, 2001), h. 249.
5 Hidayat. Teori Efektifitas dalam Kinerja Karyawan, (Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1986), h. 8.
6Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab IV bagian
kedua Pasal 20 huruf a.
13
Hasil kajian dua istilah tersebut di atas -jika dirajut kembali-,
maka pengertian efektivitas kerja guru adalah tingkat ketercapaian
hasil kerja guru yang meliputi merencanakan pembelajaran,
melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan
mengevaluasi hasil pembelajaran.
2. Faktor-faktor Efektivitas Kerja
Pengertian faktor-faktor efektivitas kerja adalah faktor-faktor
yang mempengaruhi atau menyebabkan seseorang sehingga
pekerjaan yang dilakukan mencapai efektif. Terdapat banyak ahli
yang merumuskan faktor penyebab efektivitas kerja, antara lain
Stephen P. [Link] Sondang P. Siagian.
a. Stephen P. Robins.
Menurut Robins, terdapat 5 faktor yang mempengaruhi
kerja seseorang menjadi efektif, yaitu sikap/disiplin, minat, motif,
pengalaman masa lalu dan harapan (ekspektasi). 7 Faktor-faktor
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Sikap/Disiplin
Disiplin merupakan perasaan taat terhadap nilai-nilai
aturan yang terdapat dalam suatu kelompok masyarakat.
Disiplin sangat diperlukan dalam melaksanakan dan menyele-
saikan pekerjaan. Menurut Hodges dalam “. ... disiplin dapat
7 Stephen P. Robins, Teori Organisasi, Struktur, Desain dan Aplikasi, Terj. Jusuf
Udaya, Lic, Ec., (Jakarta: Arcan, 1990), h. 24.
14
diartikan sebagai sikap seseorang atau kelompok yag berniat
untuk mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan”. 8
Kaitannya dengan guru, maka pengertian disiplin adalah
suatu sikap dan tingkah laku yang menunjukkan ketaatan guru
terhadap peraturan sekolah.
2) Minat
Minat merupakan unsur penting sebelum sesorang
memulai melaksanakan pekerjaan. Minat diartikan sebagai
perasaan suka terhadap sesuatu dan ingin berperan terhadap
sesuatu itu. Menurut Winkel (1999 : 30) dalam Pratiwi, “minat
merupakan kecenderungan yang menetap dalam diri subjek
untuk merasa tertarik pada bidang tertentu dan merasa senang
berkecimpung dalam itu”.9
Suatu pekerjaan yang diminati, biasa peminatnya
berbakat dan berketampilan, sehingga hasil kerjanya mencapai
kuantitas dan kualitas yang optimal.
3) Motif
Motif merupakan dorongan dari dalam diri seseorang
dikarenakan kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh orang
tersebut. Menurut Colquitt, LePine, and Wesson (2009) dalam
8Avin Fadilla Helmi, “Disiplin Kerja”, Buletin Psikologi, Tahun IV, Nomor 2, Edisi
khusus Ulang Tahun XXXII, 1996, h. 32 – 42.
9 Noor Komari Pratiwi, “Pengaruh Tingkat Pendidikan, Perhatian Orang Tua,
dan Minat Belajar Siswa terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa SMK
Kesehatan di Kota Tangerang”, Jurnal Pujangga, Volume 1, Nomor 2, 2015, h. 175 –
105.
15
Tania dan Sutanto, “ motivasi adalah suatu kumpulan kekuatan
energik yang mengkoordinasi di dalam dan di luar diri seorang
pekerja, yang mendorong usaha kerja dalam menentukan arah
perilaku, tingkat usaha, intensitas, dan kegigihan”.10
Motif berfungsi sebagai pemicu sesorang untuk berninat,
semangat, gigih dan tahan lama dalam melaksanakan
pekerjaan. Dengan demikian semakin tinggi motif untuk
bekerja, maka semakin tinggi efektivitas kerjanya.
4) Pengalaman masa lalu
Pengalaman adalah “guru terbaik”. Begitulah ungkapan
lama yang masih relevan masa kini dan di masa datang. Istilah
pengalaman masa lalu dimaknai sebagai pengalaman kerja,
yakni seberapa lama seseorang telah berkecimpung dalam
suatu pekerjaan beserta berbagai persoalan yang dihadapi .
Menurut Supratmi (2013) dalam Riyadi “Pengalaman kerja
adalah proses pembentukan pengetahuan atau keterampilan
tentang metode suatu pekerjaan karena keterlibatannya dalam
pelaksanaan tugas pekerjaan.11
Pendapat Supratmi dapat dimaknai bahwa pengalaman
kerja merupakan proses pembentukan pengetahuan atau
10 Anastasia Tania dan Eddy M. Sutanto, “Pengaruh Motivasi Kerja dan
Kepuasan Kerja terhadap Komitmen Organisasional Karyawan PT Dai Knife di
Surabaya”, Jurnal Program Manajemen Bisnis, Vol. 1, No. 3, 2013, h. 1 - 9.
11Bagus Aries Riyadi, “Pengaruh Pengalaman Kerja terhadap Kinerja Karyawan
pada Toko Emas Semar Nganjuk”, Equilibrium, Vol. 3, No. 1, 2015, h. 49 – 61.
16
keterampilan. Hal ini bearti seseorang yang memiliki masa kerja
dengan baik, maka ia memiliki pemahaman tentang tugas-tugas
pekerjaan, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik
tentang penyelesaian pekerjaan, sehingga kegiatannya
menghasilkan keluaran yang optimal. Dengan demikian,
efektivitas kerja karyawan dapat dipengaruhi oleh faktor
pengalaman kerjanya.
5) Harapan (ekspektasi)
Harapan, istilah ini mengacu pada pandangan pegawai
bahwa upaya yang dilakukan adalah cara menyelesaikan
pekerjaan dan akan menghasilkan keluaran yang baik. Davis
dan Newstroom dalam Makmur (2008:183) dalam Ary
Sutrischastini menyatakan:
“Harapan (expectacy) adalah suatu kesempatan yang
diberikan terjadi karena perilaku untuk tercapainya tujuan.
Harapan adalah kadar kuatnya keyakinan bahwa upaya
kerja akan menghasilkan penyelesaian suatu tugas.
Harapan dinyatakan sebagai kemungkinan (probability)
perkiraan pegawai, tentang kadar sejauh mana prestasi
yang dicapai ditentukan oleh upaya yang dilakukan”. 12
Pendapat Davis dan Newstroom di atas dapat dimaknai
bahwa yang dimaksud harapan adalah keyakinan bahwa upaya
yang dilakukan pegawai dapat menyelesaikan tugas yang
12 Ary Sutrischastini, ‘Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Pegawai Kantor
Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul’, Jurnal Kajian Bisnis, Vol. 23, N0. 2, 2015,
h. 121 – 137.
17
diemban, dan prediksi pegawai akan pencapaian optimalnya
hasil keluaran yang didasarkan pada upaya yang dilakukan.
Apa yang dirumuskan oleh Robin diatas, dapatlah
disintesakan bahwa bila dalam diri seorang pegawai terdapat 5
faktor yang meliputi disiplin, minat, semangat, pengalaman dan
harapan dalam bekerja, maka pekerjaan yang dilakukan memiliki
peluang untuk terjadi efektivitas.
b. Sondang P. Siagian.
Terdapat 7 faktor yang menjadikan seorang bekerja
mencapai efektivitas, yaitu karakteristik individual, sikap, motif,
kepentingan, minat, pengalaman dan harapan. 13 Faktor-faktor
tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1). Karakteristik individual
Setiap individu memiliki ciri khas yang berbeda satu
dengan yang lain. Perbedaan inilah yang akan terbawa dalam
dunia kerja. Menurut Stoner dalam Sunuharyo, karakteristik
perorangan adalah “. ... minat, sikap, dan kebutuhan yang
dibawa oleh seseorang kedalam situasi kerja. Orang-orang
yang berbeda dalam karakteristik ini, dan oleh karenanya
motivasi kerja mereka akan berbeda pula”. 14 Pernyataan
13 Sondang P. Siagian 1995, Teory Motivasi dan aplikasinya, Cetakan kedua,
(Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 101.
14 Sella Selvia Ananda Bambang Swasto Sunuharyo, ‘Pengaruh Karakteristik
Individu dan Karakteristik Pekerjaan terhadap Kinerja Karyawan dengan Variabel
Mediator Motivasi Kerja Karyawan’, (Studi pada Karyawan PT Petrokimia Gresik), Jurnal
Administrasi Bisnis (JAB), Vol. 58 No. 12. 2018, H. 67 – 76.
18
tersebut sesuai dengan pendapat Don dan Slocum dalam
Sunuharyo “. ... perbedaan-perbedaan individual adalah
kebutuhan, nilai, sikap, minat, dan kemampuan pribadi yang
dibawa orang kepada pekerjaan mereka”. 15
Berdasarkan pendapat 2 ahli diatas, dapat disimpulkan
bahwa karakteristik individu merupakan perbedaan individual
yang terdapat dalam diri seseorang. Perbedaan individual
meliputi kemampuan, sikap, minat, dan kebutuhan. Hal inilah
yang akan terbawa saat individu tersebut berada didalam dunia
kerja.
2). Sikap
Kata lain dari sikap adalah disiplin, yaitu suatu perasaan
taat terhadap nilai-nilai aturan yang terdapat dalam suatu
kelmpok masyarakat. Menurut Hodges dalam Yuspratiwi
(1990), dalam Avin Fadilla, “. ... disiplin dapat diartikan sebagai
sikap seseorang atau kelompok yag berniat untuk mengikuti
aturan-aturan yang telah ditetapkan”. 16
Dalam kaitannya dengan pegawai, maka pengertian
disiplin adalah suatu sikap dan tingkah laku yang menunjukkan
ketaatan pegawai terhadap peraturan organisasi.
15 Ibid.
16 Avin Fadilla Helmi, Loc. Cit.
19
3). Motif
Motif merupakan alasan yang mendasari seseorang
untuk melakukan suatu perbuatan. Menurut Colquitt, LePine,
dan Wesson (2009) dalam Tania dan Sutanto, “ . ... motivasi
adalah suatu kumpulan kekuatan energik yang mengkoordinasi
di dalam dan di luar diri seorang pekerja, yang mendorong
usaha kerja dalam menentukan arah perilaku, tingkat usaha,
intensitas, dan kegigihan”.17
Motif berfungsi sebagai pemicu sesorang untuk berniat,
semangat, gigih dan tahan lama dalam melaksanakan
pekerjaan. Dengan demikian semakin tinggi motif untuk
bekerja, maka semakin tinggi efektivitas kerjanya.
4). Kepentingan
Kepentingan dimaknai sebagai perasaan atau anggapan
karyawan bahwa oragnisasi tempat ia bekerja harus dikelola
dengan baik dan harus tetap berlangsung dengan pencapaian
produktivitas yang tinggi. Kepentingan tersebut lazim disebut
dengan istilah komitmen pegawai. Komitmen pegawai menjadi
hal penting dalam menciptakan kelangsungan hidup sebuah
organisasi. Mathieu dan Zajac dalam Purida Kingkin dkk
mengemukakan:
17 Anastasia Tania dan Eddy M. Sutanto, Loc. Cit.
20
. ... bahwa dengan adanya komitmen yang tinggi dari
karyawan maka perusahaan akan mendapat dampak
positif. Dampak positif tersebut antara lain meningkatnya
produktifitas, kualitas kerja dan kepuasan kerja karyawan
serta menurunnya tingkat keterlambatan, absensi dan turn
over.18
Pendapat Mathieu dan Zajac tersebut di atas dengan
jelas bahwa kepentingan pegawai dapat meningkatkan
produktivitas, kualitas dan kepuasan kerja.
5) Minat
Minat merupakan ketertarikan seseorang terhadap
sesuatu untuk dimiliki, digeluti dan lain sebagainya. Menurut
Winkel (1999: 30) dalam Noor Komari Pratiwi, “minat
merupakan kecenderungan yang menetap dalam diri subjek
untuk merasa tertarik pada bidang tertentu dan merasa senang
berkecimpung dalam itu”.19
Suatu pekerjaan yang diminati, biasa peminatnya
berbakat dan berketampilan, sehingga hasil kerjanya mencapai
kuantitas dan kualitas yang optimal.
6) Pengalaman
Istilah pengalaman merujuk pada pengalaman kerja,
yakni seberapa lama seseorang telah berkecimpung dalam
suatu pekerjaan beserta berbagai persoalan yang dihadapi.
Menurut Supratmi (2013) dalam Bagus Aries Riyadi
18 Purida Kingkin dkk, ‘Kepuasan Kerja dan Masa Kerja sebagai Prediktor
Komitmen Organisasi pada Karyawan PT Royal Korindah di Purbalingga’, Jurnal
Proyeksi, Vol. 5 No. 1 , 2018, h. 17-32.
19 Noor Komari Pratiwi, Loc. Cit..
21
“Pengalaman kerja adalah proses pembentukan pengetahuan
atau keterampilan tentang metode suatu pekerjaan karena
keterlibatannya dalam pelaksanaan tugas pekerjaan.20
Pendapat Supratmi tersebut di atas bearti seseorang
yang memiliki pengalaman kerja dengan baik, maka ia memiliki
pemahaman tentang tugas-tugas pekerjaan, memiliki
pengetahuan dan keterampilan dengan baik tentang
penyelesaian pekerjaan, sehingga kegiatannya menghasilkan
keluaran yang optimal.
7) Harapan
Harapan, istilah ini mengacu pada pandangan pegawai
bahwa upaya yang dilakukan adalah cara menyelesaikan
pekerjaan dan akan menghasilkan keluaran yang baik. Davis
dan Newstroom dalam Makmur (2008:183) dalam Sutrischastini
mengemukakan:
“Harapan (expectacy) adalah suatu kesempatan yang
diberikan terjadi karena perilaku untuk tercapainya tujuan.
Harapan adalah kadar kuatnya keyakinan bahwa upaya
kerja akan menghasilkan penyelesaian suatu tugas.
Harapan dinyatakan sebagai kemungkinan (probability)
perkiraan pegawai, tentang kadar sejauh mana prestasi
yang dicapai ditentukan oleh upaya yang dilakukan”. 21
20Bagus Aries Riyadi, ‘Pengaruh Pengalaman Kerja terhadap Kinerja Karyawan
pada Toko Emas Semar Nganjuk’, Equilibrium, Vol. 3, No. 1, 2015, h. 49 – 61.
21 Ary Sutrischastini, “Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Pegawai Kantor
Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul”, Jurnal Kajian Bisnis, Vol. 23, N0. 2, 2015,
h. 121 – 137.
22
Pendapat Davis dan Newstroom di atas dapat dimaknai
bahwa yang dimaksud harapan adalah keyakinan bahwa upaya
yang dilakukan pegawai dapat menyelesaikan tugas yang
diemban, dan prediksi pegawai akan pencapaian optimalnya
hasil keluaran yang didasarkan pada upaya tersebut.
Pendapat Sondang di atas dapat disintesaakan bahwa
seorang pekerja efektif kerjanya bila ia memiliki 7 faktor, yaitu
karakteristik individu yang baik, sikap yang baik, motif yang tepat,
kepentingan dan minat serta pengalaman yang cukup dan
harapan yang besar.
Tampaknya faktor efektivitas kerja konsep Sondang ini
sebagai bentuk penyempurnaan dari faktor efektivitas kerja
konsep Robin. Lima faktor efektivitas kerja konsep Robin
semuanya terdapat dalam faktor efektivitas kerja konsep Son-
dang. Bentuk penyempurnaan konsep Sondang atas konsep
Robin adalah penambahan dua faktor efektivitas kerja, yaitu
karakteristik individu dan kepentingan pegawai.
3. Tugas Guru dalam Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah
Dalam proses pendidikan, guru tidak hanya berfungsi alih ilmu
pengetahuan (transfer of knowledge) melainkan juga berfungsi untuk
menanamkan nilai (value) serta membantu perkembangan karakter
(character development) peserta didik secara berkelanjutan dan
berkesinambungan.
23
Sebagai manifestasi dari fungsi guru, Undang-Undang
menjelaskan tugas utama guru, yaitu mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.22 Ketujuh tugas utama
guru tersebut diuraikan sebagai berikut:
a. Mendidik
Menurut Imam Ghazali, pendidik adalah orang yang
berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan, potensi
serta membersihkan hati peserta didik agar dekat dan
berhubungan dengan Allah SWT. 23 Senada dengan hal itu,
Hamdan Ihsan mengartikan pendidik sebagai orang dewasa yang
bertanggung jawab memberikan bimbingan dan bantuan kepada
anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar
mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya
sebagai makhluk Allah SWT, khalifah dipermukaan bumi, sebagai
makhluk sosial dan sebagai individu yang mampu berdiri sendiri.24
Berdasarkan pendapat Imam Ghazali dan Hamdan Ihsan
diatas, dapatlah digali unsur-unsur tugas pendidik, yaitu:
22 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Bab XI Pasal 39 Ayat 2.
23 Wahyuddin Nur Nasution, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Medan: Perdana
Publishing, 2011), h. 76.
24 Hamdani Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, [Link]-2, (Bandung: Pustaka Setia,
2001), h. 93.
24
1) Membantu siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki;
2) Menanamkan nilai-nilai agama agar dapat berhubungan
dengan Allah;
3) Membantu pertumbuhan jasmani dan rohani siswa, agar
dewasa, tunduk pada aturan Allah, sanggup membawa diri
sendiri dan mampu bermasyarakat.
b. Mengajar
Mengajar adalah menyampaikan ajaran agar siswa memiliki
pengetahuan dan berketerampilan. Menurut Wina sanjaya
“Mengajar artinya proses penyampaian informasi atau
pengetahuan dari guru kepada siswa”.25 Menurut Nana Syaodoh
mengajar atau pengajar artinya membantu pengembangan
intelektual, afeksi dan psikomotor melalui penyampaian
pengetahuan, pemecahan masalah, latihan-latihan afektif dan
keterampilan.26
Beradasarkan pendapat ahli diatas dapat dimaknai bahwa
mengajar bearti menyampaikan teori dan/atau memberi pelatihan
agar siswa memiliki pengethuan, keterampilan dan memahami
nilai-nilai.
25 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Prenada Media Grup, 2008), [Link]-5, h. 96.
26Nana Syaodih Sukmadinata, [Link]-4, Landasan psikologi Proses Pendidikan,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 253.
25
c. Membimbing
Guru tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan dan
mengajarkan keterampilan kepada siswa, melainkan juga
bertugas memberikan bimbingan. Kewajiban membimbing bagi
guru dan kebeartian bimbingan bagi siswa dijelaskan oleh Oemar
Hamalik berikut:
Guru berkewajiban memberikan bantuan kepada murid agar
mereka mampu menemukan masalahnya sendiri,
memecahkan masalahnya sendiri, mengenal diri sendiri, dan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Muruid-murid
membutuhkan bantuan guru dalam hal mengatasi kesulitan-
kesulitan pribadi, kesulitan pendidikan, kesulitan memilih
pekerjaan, kesulitan dalam hubungan sosial, dan
interpersonal.27
Mengacu pada pendapat Oemar Hamalik diatas, bimbingan
guru memiliki fungsi 1) membantu menemukan masalah siswa
dan memecahkannya; 2) Membantu mengatasi masalah
pribadinya dan masalah penyesuaian diri dengan lingkungan
sosial; 3) membantu siswa untuk mengatasai kesulitan dalam
masalah pendidikan dan masalah memilih pekerjaan.
d. Mengarahkan
Mengarahkan adalah komunikasi yang dilakukan oleh guru
agar peserta didik melakukan sesuatu kearah tercapainya tujuan.
Mengarahkan siswa dalam kontek pendidikan dapat dimaknai
sebagai memotivasi siswa untuk berbuat belajar. Tujuan
27 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Cet. Ke-1, (Jakarta: Bumi Aksara,
2001), h. 124.
26
memotivasi dalam pendidikan menurut Sardiman (2014:75-85)
dalam Siti Ulfiyani adalah “. ... mendorong siswa untuk berbuat,
menentukan arah perbuatan menuju tujuan yang akan dicapai dan
menyeleksi perbuatan yang sesuai dengan tujuan”.28
Dalam pendekatan psikologis, guru harus bisa
mengarahkan atau menggugah semangat siswa karena ia
organisme yang sedang tumbuh dan berkembang agar bakat,
minat, kebutuhan, sosial, emosional, personal, dan kemampuan
jasmaniahnya tergali atau tergugah imajinasinya.29
Berdasarkan dua teori tersebut diatas, maka dapatlah
disintesakan bahwa mengarahkan adalah 1) Membangkitkan
semangat siswa untuk berbuat, menentukan arah perbuatan, dan
menyeleksi perbuatan yang sesuai dengan tujuan; 2) Menggali
bakat, minat, kebutuhan, sosial, emosional, personal, dan
kemampuan jasmaniah siswa.
e. Melatih
Melatih dimaknai sebagai kegiatan untuk menerapkan dan
mempraktekkan teori kedalam perbuatan agar peserta didik
memiliki penguasaan keterampilan. Menurut Sarief (2008), melatih
pada hakekatnya adalah suatu proses kegiatan untuk membantu
28 Siti Ulfiyani, “Pemaksimalan Peran Guru dalam Pembelajaran Keterampilan
Berbicara di Sekolah”, Transformatika, Volume 12 , Nomer 2, 2016, h. 105 – 113.
29 Nunung Nurjanah, “Pentingnya Peran Guru dalam Memberikan Pengarahan
atau Menjadi Suri Tauladan”, Edukasi, diakses dari:
[Link]
guru-dalam-memberikan-pengarahan-atau-menjadi-suri-tauladan, pada 5 Mei 2019.
27
orang lain (atlet) mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya
dalam usahanya mencapai tujuan tertentu. 30 Dalam dunia
pendidikan tugas guru adalah melatih siswa terhadap fisik, mental,
emosi dan keterampilan atau bakat. Kegiatan melatih ini dapat
dilakukan melalui simulasi, praktek industri dan magang pada
industri.
f. Menilai
Setelah dilakukan pembelajara, maka perlu dilakukan
penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa. Penilaian adalah
proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur
pencapaian hasil belajar peserta didik. 31 Berdasarkan pada PP.
Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
bahwa Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah terdiri atas:
1) Penilaian hasil belajar oleh pendidik;
2) Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan;
3) Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.
Adapun aspek yang dinilai pada diri siswa adalah aspek
keterampilan, sikap dan pengetahuan. Tujuannya untuk mengukur
sejauh mana kompetensi siswa setelah proses belajar mengajar
selesai dilaksanakan.
30 Unknown, “Tugas Utama Guru Par 2, Bisnisku”, diakses dari:
[Link] pada: 6 Mei 2019.
31Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23
Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pendidikan, Pasal 2 Ayat 1.
28
Penilaian dapat dilakukan melalui ulangan harian, ulangan
tengah semester, ulangan akhir semester, dan dilengkapi dengan
tugas-tugas lain seperti pekerjaan rumah (PR), proyek,
pengamatan dan produk. Hasil pengolahan dan analisis nilai
tersebut digunakan untuk mengisi nilai rapor .
g. Mengevaluasi
Evaluasi adalah kegiatan untuk mengetahui apakah suatu
program telah efektif dan efisien atau tidak. Evaluasi digunakan
untuk mendapatkan data guna mengetahui taraf kemajuan,
perkembangan, dan pencapaian belajar siswa, serta keefektifan
pengajaran guru.
Menurut Wina Sanjaya, terdapat dua fungsi guru dalam
memerankan perannya sebagai evaluator, yaitu: 1) untuk
menentukan keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan
yang telah ditentukan atau menentukan keberhasilan peserta didik
dalam menyerap materi kurikulum, dan 2) untuk menentukan
keberhasilan guru dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang
telah dirancang dan diprogramkan.32
Jadi, evaluasi itu bertujuan selain untuk mengetahui
keberhasilan peserta didik dalam belajar juga untuk mengetahui
tingkat ketercapaian program pembelajaran yang telah dirancang.
32Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, [Link]-8 (Jakarta: Kencana, 2011), h.
31-32.
29
4. Mengukur Efektivitas Kerja
Mengukur efektivitas kerja bukanlah hal yang sederhana,
karena efektivitas dapat dikaji dari berbagai sudut pandang dan
tergantung pada siapa yang menilai serta menginterpretasikannya.
Bila dipandang dari sudut produktivitas, maka efektivitas berarti
kualitas dan kuantitas keluaran (output) barang dan jasa.
Efektivitas dapat diukur melalui berhasil tidaknya seorang
pegawai mencapai tujuan-tujuannya. Apabila seorang pegawai
berhasil mencapai tujuan, maka kerja seorang pegawai tersebut
efektif. Hal terpenting adalah efektifitas tidak menyatakan tentang
berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan
tersebut. Efektivitas hanya melihat apakah proses program atau
kegiatan tersebut telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan.33
Menurut Steers, untuk mengukur efektivitas kerja itu
meliputi:34
a. Kemampuan Menyesuaikan Diri
Kemampuan menyesuaikan diri merupakan proses
asimilasi seseorang terhadap lingkungan. Fatimah menjelaskan
penyesuaian diri merupakan suatu proses alamiah dan dinamis
33 Ulum Ihyaul MD, Akuntansi Sektor Publik, (Malang: UMM Press, 2004), h.
294.
34 Richard M. Steers, Efektivitas Organisasi, (Jakarta: Erlangga, 1985), h. 46.
30
yang bertujuan mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan
yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungannya. 35
Seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan
lingkungan teutama terhadap semua sumber daya organisasi
maka ia mudah untuk memanfaatkan sarana dan prasaran.
b. Prestasi Kerja
Prestasi kerja adalah suatu hasil kerja seseorang dalam
melaksankan tugasnya. Hasibuan menyatakan bahwa “Prestasi
kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam
melaksanakan tugas–tugas yang dibebankan kepadanya yang
didasarkan atas kecakapan , pengalaman, dan kesungguhan serta
waktu”. 36
Pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan
kecakapan, pengalaman, kesungguhan dan waktu yang dimiliki
oleh seorang pegawai maka tugas yang diberikan dapat
dilaksanakan sesuai dengan tanggung jawab yang dibebankan
kepadanya.
c. Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja yang dimaksud adalah tingkat kesenangan
yang dirasakan seseorang atas peranan atau pekerjaannya dalam
organisasi. Davis mengemukakan bahwa “job satisfaction is the
35 Enung Fatimah, Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik),
(Bandung: Pustaka Setia, 2006), h. 194.
36Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia. (Jakarta : Penerbit
Bumi Aksara, 2008), h 94.
31
favorableness or unfavorableness with employees view their
work”.37 (kepuasan kerja adalah perasaan menyokong atau tidak
menyokong yang dialami pegawai dalam bekerja).
Seorang pegawai yang merasa senang terhadap
pekerjaanya dimungkinkan akan tekun dalam bekerja.
d. Kualitas Kerja
Kualitas kerja adalah ketepatan unjuk kerja yang dilakukan
oleh pegawai. Lupiyoadi dan Hamdani mengemukakan, kualitas
kerja adalah kualitas kerja yang ditunjukkan pegawai dalam
rangka memberikan kinerja yang terbaik bagi organisasi.38
Kualitas kerja sangat penting bagi seorang pegawai dalam
menyelesaikan pekerjaan.
e. Penilaian Oleh Pihak Luar
Evaluasi kinerja adalah model penilaian untuk memban-
dingkan rencana masa lalu dan eksekusi strategi, kegiatan
operasi. Evaluasi kinerja menjadi bagian dari manajemen dan
sistem kontrol yang membantu organisasi untuk secara efektif
mengelola sumber daya dalam kaitannya dengan tujuan
organisasi.39
37 Keith Davis, William Frederick, Perilaku Dalam Organisasi,Edisi ketujuh, Jilid
kedua, (Jakarta: Erlangga, 2011), h. 117.
38Lupiyoadi A, Rambat dan Hamdani, Manajemen Pemasaran Jasa, (Jakarta:
2011, Salemba Empat), h. 162.
39Wu, S.I., Hung, J.M., A Performance Evaluation Model of CRM on Nonprofit
Organizations. Total Quality Management and Business Excellence, 19 (4), 2008, h. 321–
342.
32
Sedangkan menurut Duncan ukuran efektivitas ada tiga,
yaitu:40
a. Pencapaian Tujuan
Pencapaian adalah keseluruhan upaya pencapaian tujuan
harus dipandang sebagai suatu proses. Oleh karena itu, agar
pencapaian tujuan akhir semakin terjamin, diperlukan pentahapan,
baik dalam arti pentahapan pencapaian bagian-bagiannya
maupun pentahapan dalam arti periodisasinya. Pencapaian tujuan
terdiri dari beberapa faktor, yaitu kurun waktu dan sasaran yang
merupakan target kongkrit.
b. Integrasi
Integrasi yaitu pengukuran terhadap tingkat kemampuan
suatu organisasi untuk mengadakan sosialisasi, pengembangan
konsensus dan komunikasi dengan berbagai macam organisasi
lainnya. Integrasi menyangkut proses sosialisasi.
c. Adaptasi
Adaptasi adalah kemampuan organisasi untuk menyesu-
aikan diri dengan lingkungannya. Menurut Denison (1995), teori
adaptasi meletakkan penekanan pada kemampuan organisasi
untuk menerima, menafsirkan dan menerjemahkan gangguan dari
40 Richard M. Steers, [Link]., h. 53.
33
lingkungan luar ke norma internal yang mengarah pada kelangsu-
ngan hidup atau kesuksesan 41
Selanjutnya guna mengetahui efektivitas kerja guru, maka
dilakukan pengukuran melalui indikator-indikator penilaian kinerja
guru mata pelajaran yang telah dirumuskan oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan berikut ini:42
a. Perencanaan Pembelajaran
1) Guru memformulasikan tujuan pembelajaran dalam RPP
dengan kurikulum/silabus dan memperhatikan karakteristik
peserta didik.
2) Guru menyusun bahan ajar secara runut, logis, konstektual dan
mutakhir.
3) Guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang efektif.
4) Guru memilih sumber belajar/ media pembelajaran sesuai
dengan materi dan strategi pembelajaran.
b. Pelaksanaan Pembelajaran yang Aktif dan Efektif
5) Guru memulai pembelajaran dengan efektif.
6) Guru menguasai pembelajaran.
41 Denison, Daniel R. (1995). Toward a theory of organizational culture and
effectiveness. [Link] uploads/2012/07/denison-
[Link].
42 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber
daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Pusat
Pengembangan Profesi Pendidik, Buku 2, tentang Pedoman Pelaksanaan Penilaian
Kinerja Guru, 2012, h. 9.
34
7) Guru menerapkan pendekatan/strategi pembelajaran yang
efektif.
8) Guru memanfaatkan sumber belajar/media dalam pembelajaran
9) Guru memicu dan/atau memlihara ketertiban siswa dalam
pembelajaran.
10) Guru menggunakan bahasa yang benar dan tepat dalam
pembelajaran.
11) Guru mengakhiri pembelajaran.
c. Penilaian Pembelajaran
12) Guru merancang alat evaluasi untuk mengukur kemajuan dan
keberhasilan belajar peserta didik.
13) Guru menggunakan berbagai strategi dan metode penilaian
untuk memantau kemajuan dan hasil belajar peserta didik
dalam mencapai kompetensi tertentu sebagaimana yang
tertulis dalam RPP.
14) Guru memanfaatkan berbagai hasil penilaian unuk memberi-
kan umpan balik bagi peserta didik tentang belajarnya dan
bahan penyusunan rancangan pembelajaran selanjutnya.
14 indikator tersebut, penulis adopsi 11 indikator yang sesuai
dengan penelitian, yaitu indikator 2, 3, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, dan
14. untuk dikembangkan menjadi butir-butir instrumen pengukuran
efektivitas kerja guru.
35
B. Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
1. Pengertian Kepemimpinan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kepemim-
pinan diartikan sebagai perihal pemimpin; cara memimpin.43 Secara
etimologi, istilah “kepemimpinan” berasal dari kata “pemimpin”
dengan diberi prefiks (awalan) “ke” dan sufiks (akhiran) “an”. Hal itu
diperkuat oleh Saiful Sagala yang mengemukakan “Kata
kepemimpinan berasal dari akar kata pemimpin yang berarti
seseorang yang berusaha untuk mempengaruhi para pengikutnya
untuk merealisasikan apa yang menjadi visinya”.44
Penjelasan kamus dan ahli tersebut di atas dapat diketahui
bahwa istilah kepemimpinan berasal dari kata “pemimpin”. Saiful
dalam menjelaskan istilah kepemimpinan sangat terstruktur yang
meliputi subyek (orang), predikat (mempengaruhi), obyek (pengikut)
dan keterangan predikat (mewujudkan visi).
Weshler juga menjelaskan pengertian kepemimpinan yang
dikutip dalam karya Wahjosumidjo, katanya “Leadership is
interpersonal influence exercised in a situation and directed, through
the communication process, toward the attainment of a specified goal
43 Purwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi ke-Tiga. (Jakarta
Timur: Balai Pustaka, 2015), h. 217.
44 Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kepemimpinan,
Memberdayakan Guru, Tenaga Kependidikan dan Masyarakat dalam Manajemen
Sekolah, (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 214.
36
or goals”. 45 Menurutnya, kepemimpinan adalah pengaruh antar-
pribadi yang dilakukan dalam suatu situasi, diarahkan melalui proses
komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan.
Weshler ini, dalam menjelaskan pengertian kepemimpinan dengan
menunjukkan proses terjadinya pengaruh anatar pribadi seorang
pemimpin dengan bawahannya untuk mencapai tujuan.
Senada dengan Weshler, Hadari Nawawi menyatakan bahwa
“Kepemimpinan adalah proses mengarahkan, membimbing, mempe-
ngaruhi atau mengawasi fikiran, perasaan atau tindakan dan tingkah
laku orang lain”.46
Penjelasan Nawawi ini lebih jelas dari weshler, ia merinci sesuatu
yang dilakukan oleh pemimpin yang meliputi mengarahkan, mem-
bimbing, mempengaruhi atau mengawasi terhadap obyek pikiran,
perasaan atau tindakan dan tingkah laku bawahannya.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disintesakan
bahwa istilah kepemimpinan adalah segala upaya yang dilakukan
oleh seorang pemimpin terhadap aspek-aspek dalam diri anggotanya
agar mengikuti kehendak pempimpin guna mencapai suatu tujuan.
2. Pengertian Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
Gaya kepemimpinan, merupakan sebuah model atau pola
perilaku seorang pemimpin yang mewarnai kepemimpinannya. Pola
45 Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan Teoritis dan
Permasalahannya, (Jakarta: Rajawali Press, 1999), h.17.
46 Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam, (Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1993), h. 19.
37
perilaku seseorang pada dasarnya dipengaruhi oleh watak yang ia
miliki. Menurut Mulyasa “Gaya kepemimpinan merupakan suatu pola
perilaku seorang pemimpin yang khas pada saat mempengaruhi
yang dipimpinnya... “.47
Senada dengan pendapat Mulyasa, Heidjrachaman dan
Husnan mengemukakan “Gaya kepemimpinan adalah pola tingkah
laku yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi
dengan tujuan individu untuk mencapai tujuan tertentu”.48
Pendapat Heidjrachaman dan Husnan tidak jauh berbeda
dengan pendapat Mulyasa dalam mendevinisikan gaya kepemim-
pinan, yaitu mengacu pada pola tingkah laku. Perbedaanya adalah
Heidjrachaman dan Husnan menambahkan unsur perpaduan tujuan
organisasi dengan karakter pemimpin sebagai cara untuk mencapai
tujuan.
Pendapat terakhir dari Hasibuan, “... gaya kepemimpinan
pada hakikatnya bertujuan untuk mendorong gairah kerja, kepuasan
kerja, dan produktivitas kerja karyawan yang tinggi, agar dapat
mencapai tujuan organisasi yang maksimal”.49
Berdasarkan pendapat dari para ahli diatas, dapatlah
disintesakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku
47 Endang Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi dan
Implementasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), h. 108.
48 Heidjrachman dan Husnan Suad, Manajemen Personalia, (Yogyakarta: BPFE,
2002), h. 224.
49 Hasibuan Malayu S.P, Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 170.
38
seorang pemimpin yang mewarnai kepemimpinannya dalam
menjalankan tugas kepemimpinn untuk mencapai tujuan organisasi.
Selanjutnya, istilah kepala sekolah menurut Wahjosumidjo
adalah “Seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk
memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar
mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang
memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran”.50
Berdasarkan pengertian gaya kepemimpinan dan pengertian
kepala sekolah tersebut di atas -jika dirangkai kembali- maka gaya
kepemimpinan kepala sekolah adalah pola perilaku yang digunakan
oleh kepala sekolah dalam mempengaruhi tenaga pendidik dan
kependidikan agar menjalankan tugasnya demi tercapainya tujuan
pendidikan di sekolah.
3. Dasar-Dasar Menjadi Pemimpin/Kepala Sekolah
Pengalaman menunjukkan bahwa terdapat orang yang
tampak luar biasa kecakapannya namun ia tidak menjadi pemimpin.
Sebaliknya, terdapat orang yang tampak biasa saja kecakapannya
namun dia menjadi pemimpin. Lalu, atas dasar apa seseorang dapat
menjadi pemimpin atau kepala sekolah?. Ada tiga teori yang menarik
untuk dikaji sebagai dasar seseorang menjadi pemimpin.
50 Wahjohsumidjo, [Link]., h. 83.
39
a. Teori Genetis
Teori ini mengemukakan bahwa “leaders are born, and are
not made” 51 , yaitu seseorang menjadi pemimpin adalah karena
bakat sejak lahir dan bukan karena buatan (pengaruh dari luar).
Para pemimpin dianugrahi sifat yang lebih unggul dari orang lain,
oleh karena itu dimanapun ia berada ia kan menjadi pemimpin.
Teori ini juga sering disebut sebagai teori bakat karena mengang-
gap pemimpin itu dilahirkan bukan dibentuk.
Tampaknya teori ini meyakini adanya taqdir tuhan, yaitu
seseorang menjadi pemimpin karena bakat, dan bakat adalah
ketentuan tuhan.
b. Teori Sosial
Teori ini lahir sebagai anti tesis terhadap teori bakat, karena
menentang keras dengan menciptkan teori baru. Teori sosial
mengemukakan leader are made and not born. Penganut aliran ini
meyakini bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin jika menda-
pat pendidikan dan pengalaman yang cukup walaupun tidak
memiliki bakat.
Menurut Atmosoedirdjo “Lahirnya seorang pemimpin adalah
melalui evolosi sosial dengan memanfaatkan kemampuannya
51 Sudarwan Danim, Kepemimpinan Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), h.7
40
untuk berkarya dan bertindak mengatasi masalah-masalah yang
timbul pada situasi dan kondisi tertentu”.52
Teori sosial meyakini bahwa seseorang menjadi pemimpin
karena berusaha, belajar, berpendidikan dan pengalaman.
c. Teori Ekologi
Teori ekologi berpandangan bahwa seseorang dapat
menjadi pemimpin adalah karena bakat yang dimiliki dan
dikembangkan melalui pendidikan dan pengalaman. Menurut
Parmuji:
Faktor genetik memang perlu sekali, tetapi yang terpenting
adalah bagaimana karakter kepemimpinan dapat hadir
dalam sosok indvidu seorang pemimpin. Selain itu, kapasitas
dan kapabilitas kepemimpinan seseorang juga ditentukan
oleh seberapa besar pengalaman dan persentuhannya
dengan lingkungan .53
Teori bakat meyakini bahwa seorang menjadi pemimpin
karena bakat yang dibawa sejak dari lahir, dan teori sosial meyakini
bahwa seseorang menjadi pemimpin karena berkat usahanya.
Sedangkan teori ekologi mengintegrasikan 2 teori tersebut, yaitu
teori bakat dan teori sosial.
Jika dianalisis dengan seksama, maka teori ekologi adalah
yang paling dapat diterima akal dan sesuai dengan teori lain. Dalam
52 Tati Nurhayati, “Hubungan Kepemimpinan Transformasional dan Motivasi
Kerja” Jurnal Edueksos, Vol I No 2, 2012. h. 77- 92.
53 Daswati, “Implementasi Peran Kepemimpinan dengan Gaya Kepemimpinan
Menuju Kesuksesan Organisasi” Jurnal Academica Fisip Unpad, Vol. 04 No. 01, 2012, h.
782 - 798.
41
ajaran Islam setiap orang memang berposisi sebagai pemimpin
sebagaimana Nabi bersabda:
, والر ُج ُل راعٍ على أه ِل بيتِ ِه,ٍواألمير راع
ُ َ ُكلُّ ُك ْم َراعٍ َو ُكلُّ ُك ْم َم ْسئ ُ ْو ٌل
,ع ْن َرعيتِ ِه
ْ فكلكم راعٍ وكلكم مسئو ٌل,ِزوجها َو َولَ ِده
(متفق.عن َر ِعيَّتِ ِه ِ ِ والمرأة ُ َرا ِعيَّةٌ على بي
ت
)عليه
Terjemah:
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan
dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam
adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas
rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah
pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan
dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga
tersebut. (Muttafaqun alaih)54
Sebagaimana Rasulullah juga ditaqdirkan untuk menjadi
pemimpin, namun bukan serta merta beliau menjadi Nabi melainkan
dibina dengan pendidikan oleh Allah melalui malaikat jibril selama ±
23 tahun. Dengan demikian teori ekologi telah memenuhi teori dasar
kepemimpinan, yaitu bakat dan usaha usaha pendidikan.
Hersey dan Blanchard dalam Muhaimin dkk memiliki
pandangan lain, “... bahwa kepemimpinan adalah hasil dari tuntutan
situasional. Faktor-faktor situasional lebih menentukan siapa yang
54 Faldzata Ruhiy Mumtazah, “Hadis tentang Kepemimpinan” diakses dari
[Link] pada Tanggal 13 September
2017.
42
akan muncul sebagai seorang pemimpin dari pada warisan genetik
atau sifat yang dimiliki seseorang”.55
Titik pertemuan dari empat dasar menjadi pemimpin tersebut
di atas adalah bahwa semua pemimpin lahir berdasarkan bakat dan
adanya upaya untuk menjadi pemimpin melalui pendidikan dan
situasi yang memungkinkan untuk menjadi pemimpin.
Dasar-dasar menjadi pemimpin tersebut di atas sebagian atau
semuanya berlaku bagi seseorang sebelum menjabat sebagai
kepala sekolah. Seorang kepala sekolah yang cakap dalam menja-
lankan kepemimpinannya bearti ia memiliki bakat untuk menjadi
pemimpin (teori genetis). Seorang yang telah memiliki kualifikasi dan
kompetensi kepala sekolah, bearti ia telah memenuhi syarat untuk
menjadi kepala sekolah (teori sosial). Ada juga seorang kepala
sekolah yang mampu menerapkan peranan dan fungsi kepemim-
pinannya serta memiliki kompetensi yang luas dan mendalam,
sehingga organisasi sekolah yang dikelola mencapai efektivitas yang
gemilang (teori ekologi). Keadaan tertentu atau situasional, misal
karena masalah politik atau ketiadaan pimpinan pada sekolah
tertentu, sehingga seseorang menjadi kepala sekolah tanpa
mempetimbangkan dasar-dasar lain (tuntutan situasional).
55 Muhaimin, [Link]., Manajemen Pendidikan, Aplikasi dalam Penyusunan
Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, Edisi 1, Cet. Ke-3, (Jakarta: Pranada
Media Group, 2011), h. 29.
43
4. Mengukur Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
Beraneka ragam gaya kepmimpinan yang digunakan oleh
pemimpin dalam mengatur, mengarahkan dan mempengaruhi bawa-
han. Namun keanekaragaman gaya kepemimpinan tersebut dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu sifat kepribadian pemimpin pada
saat memimpin dan jenis kepemimpinan yang digunakan oleh
pemimpin.
Pembagian tersebut adalah hasil interpretasi dari pengertian
gaya kepemimpinan yang dikemukan oleh sejumlah ahli anatara lain
1) Mulyasa “Gaya kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku
pemimpin pada saat memepengaruhi bawahan”. 2). Hedjrachaman
dan Husnan “Gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang
dirancang untuk menintregrasikan tujuan organisasi dengan tujuan
individu untuk mencapai tujuan tertentu”
Frase “pola perilaku” dalam pengertian gaya kepemimpinan
oleh Mulyasa tersebut dapat diinterpretasikan bahwa dalam pola
perilaku terdapat dua faktor, yaitu sifat pola perilaku kepemimpinan
dan bentuk pola perilaku kepemimpinan. Begitu pula frase “pola
tingkah laku” dalam devinisi gaya kepemimpinan oleh
Haeidjarahaman dan Husnan, juga dapat dimaknai sifat pola tingkah
laku kepemimpinan dan bentuk pola tingkah laku kepemimpinan.
Sehubungan dengan pemaknaan gaya kepemimpinan terse-
but, maka gaya kepemimpinan kepala sekolah bearti mengacu pada
44
sifat gaya kepemimpinanya dan mengacu pada bentuk gaya
kepemimpinannya. Selanjutnya untuk mengetahui sifat gaya kepe-
mimpinan kepala sekolah, maka diukur melalui sifat gaya kepemim-
pinan Rasulullah SAW dalam Islam. Adapun untuk mengetahui
bentuk gaya kepemimpinan kepala sekolah, maka diukur melalui
jenis gaya kepemimpinan dalam path goal dari Robert House.
a. Sifat Gaya Kepemimpinan Rasulullah
1) Keteladanan
Rasulullah sebagai Nabi dan juga Rasul tidak saja
pemimpin umat Arab melainkan juga pemimpin umat dunia
yang ajarannya tak akan lapuk sepanjang masa. Sebagai
pemimpin umat, Rasulullah kehidupannya dihiasi dengan
akhlak mulia yang wajib dicontoh oleh setiap pengikutnya.
Allah berfirman:
َ ٱَّلل َو ۡٱليَ ۡو َم ۡٱألٓ ِخ
رو َذكَر َ ٱَّلل أ ُ ۡس َوة ٌ َح
َ َّ َْة ِل َمن َكانَ يَ ۡر ُجواٞ سن ُ لَّقَ ۡد َكانَ لَ ُك ۡم فِي َر
ِ َّ سو ِل
)21: (سورة أألحزاب.ٱَّلل َكثِ ٗيرا
َ َّ
Terjemah:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah.56 (QS. al-Ahzab: 21).
56 Qur’an In Word
45
Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini
adalah dalil yang paling utama dalam perintah meneladani
Rasulullah Saw, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun
keadaannya.57
Sehubungan dengan penafsiran ayat tersebut, maka
sifat gaya kepemimpinan Rasulullah SAW aspek keteladanan
terdiri:
a) Sifat ramah dan pemurah;
b) Sifat taat beribadah;
c) Sifat mengutamakan persaudaraan dan persatuan
2) Benar dan Terpercaya (Shiddiq wal-Amanah)
Istilah “benar” adalah terjemah dari kata “shiddiq”,
sebagai sifat pada diri Nabi. Nabi pasti benar apa yang
diucapkan, karena apa yang diucapkan bukanlah kemauannya
sendiri melainkan dari Allah.
)3-4: (ألنجم.ي يُو َحىٞ ِإ ۡن ه َُو ِإ َّّل َو ۡح.ع ِن ٱ ۡل َه َو ٓى
َ نط ُق
ِ َو َما َي
Artinya: Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran)
menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. an-Najm:
3 - 4)
57 Helmi Abu Bakar El-Langkawi, “Teladan Rasulullah Dalam Surat Al-Ahzab”,
Diakses dari: [Link]
surat-al-ahzab. Pada: 24 November 2019.
46
Benar bagi Nabi meliputi benar dalam emosinya,
pemikirannya, perkataannya dan perbuatannya. Nawawi berka-
ta:
Sifat ini berarti Rasulullah Muhammad saw. mencintai dan
berpihak pada kebenaran yang datangnya dari Allah SWT,
sehingga seluruh pikiran, sikap dan emosi yang ditampilkan
dalam perilaku dan sabdanya serta diamnya beliau
merupakan sesuatu pasti benar.58
Kebenaran Nabi tidak hanya bersifat teori, melainkan
terwujud dalam perbuatannya yang jujur tanpa kecurangan
sedikitpun, sehingga kebenaran Nabi adalah kejujurannya juga.
Kejujuran Nabi dapat dilihat sewaktu beliau memenangkan
peperangan, yaitu “Dalam peperangan, beliau tidak pernah
mangurangi harta rampasan untuk kepentingan sendiri, tidak
pernah menyebarkan aib seseorang yang datang meminta
nasihat dan petunjuknya dalam menyelesaikannya dan lain-
lain”.59
Sehubungan sifat Nabi yang pasti benar dalam ucapan
dan jujur dalam perbuatan, maka masyarakat Arab ketika itu
memberi gelar amanah (terpercaya). Jadi sifat terpercaya
adalah dampak dari pribadi Nabi yang selalu benar.
Berdasarkan kajian tentang dua sifat Nabi tersebut,
maka sifat gaya kepemimpinan Rasululullah SAW pada aspek
benar dan terpercaya terdiri:
58 Hadari Nawawi, [Link]., h. 274.
59 Hadari Nawawi, [Link].
47
a) Terdapat kesesuaian antara perkataan dengan perbuatan;
b) Tidak mengurangi hak umat;
c) Tidak memanfaatkan jabatan untuk urusan pribadinya;
d) Tidak semena-mena dalam membuat kebijakan.
3) Terbuka
Istilah terbuka adalah arti asimilasi dari kata “tabligh”
yang artinya menyampaikan. Nabi sebagai pemimpin umat
selalu menyampaikan apa yang datang dari Allah dan tidak
pernah menyembunyikan. Hal itu dinyatakan oleh Nawawi “....
dalam menunaikkan tugas kerasulan, dengan tidak menutup-
nutupi wahyu yang diturunkan, artinya Nabi tidak sekedar
menyampaikan yang menguntungkan dan tidak menyampaikan
yang merugikan diri beliau sendiri.60
Selain itu, Nabi juga menyampaikan ajaran Tuhan
berupa kedisiplinan, kejujuran, ketangguhan dan kesabaran
dalam bekerja. Allah berfirman:
.ع َد ًۢدا َ ْط بِ َما لَ َد ْي ِه ْم َوأَح
َ صى ُك َّل
َ ٍش ْىء َ ت َربِ ِه ْم َوأَ َحا
ِ َسل ۟ ُِليَ ْعلَ َم أَن قَ ْد أَ ْبلَغ
َ وا ِر
)28 :(ألجن
Artinya: Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-
rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang
(sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka,
60 Hadari Nawawi, Ibid.
48
dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.61 (QS. al-Jin:
28).
Berdasarkan penjelasan tentang sifat Nabi tersebut,
maka sifat gaya kepemimpinan Rasulullah SAW pada aspek
terbuka terdiri:
a) terbuka masalah anggaran pendapatan dan belanja organi-
sasi yang dipimpinnya;
b) mengajarkan kedisiplinan, kejujuran, ketangguhan dan
kesabaran dalam bekerja.
4) Berkompeten
Berkompeten adalah arti asimilasi dari kata “fathanah”
yang artinya cerdas atau pintar. Istilah fathanah adalah gelar
yang diberikan oleh masyarakat Arab kepada Nabi Muhamad
sehubungan dengan kepandaiannya menjalankan berbagai
kepemimpinan dan kepiawaian mengatasi masalah. Abdurrah-
man berkata:
Umat Islam memandang Muhammad saw bukan hanya
sebagai pembawa agama terakhir, tetapi juga sebagai
pemimpin umat, pemimpin agama, pemimpin negara,
komandan perang, qadi (hakim), suami yang adil, ayah
yang bijak sekaligus pemimpin bangsa Arab dan dunia.62
Berdasarkan kajian tersebut, maka sifat kepemimpinan
Nabi aspek berkompeten terdiri:
61 Qur’an in Wordl.
62 M. Abdurrahman, Dinamika Masyarakat Islam dalam Wawasan Fikih,
(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002), h. 33.
49
a) berilmu dan berwawasan luwas serta mendalam;
b) mampu mengatasi masalah dengan cepat dan bijak
Uraian 5 sifat gaya kepemimpinan Rasulullah tersebut
melahirkan 11 indikator untuk digunakan mengukur sifat gaya
kepemimpinan kepala sekolah.
b. Jenis Gaya Kepemimpinan Path Goal (Alur Tujuan)
Robert House mengidentifikasi jenis-jenis gaya kepemim-
pinan yang diberi nama model path goal (alur tujuan). House
dalam Robins (2006 : 448) yang dikutip Mahir Pradana membagi
jenis kepmimpinan menjadi 4 macam, yaitu kepemimpinan direk-
tif, kepemimpinan suportif, kepemimpinan partisipatif, dan
kepemimpinan berorientasi pada prestasi.63 Keempat macam jenis
kepemimpinan model path goal tersebut dijelaskan sebagi berikut:
1) Jenis Gaya Kepemimpinan Direktif
Kepemimpinan direktif ini pemimpin menerapkan aturan
dan pelaksanaan pekerjaan yang sangat ketat. Seluruh gerak
nafas kegiatan organisasi dibawah komando dan pengawasan
pemimpin, sedangkan bawahan hanya berstatus pelaksana.
63Mahir Pradana, “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Motivasi Karyawan
di Ganesha Operation, Bandung”, Jurnal Studi Manajemen dan Bisnis, Vol 2 No. 1
Tahun 2015, h. 24 – 39.
50
Menurut Wahjosumidjo dalam Windy Sitorus, bahwa
gaya kepemimpinan direktif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:64
a) Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan berkaitan
dengan seluruh pekerjaan menjadi tanggung jawab pemim-
pin dan ia hanya memberikan perintah kepada bawahannya
untuk melaksanakannya.
b) Pemimpin menentukan semua standar bagaimana bawahan
menjalankan tugas.
c) Pemimpin melakukan pengawasan kerja dengan ketat.
d) Pemimpin memberikan ancaman dan hukuman kepada
bawahan yang tidak berhasil melaksanakan tugas-tugas
yang tealah ditentukan.
e) Hubungan dengan bawahan rendah, tidak memberikan
motivasi kepada bawahannya untuk dapat mengembangkan
dirinya secara optimal, karena pemimpin kurang percaya
dengan kemampuan bawahannya.
Teori Wahjosumidjo diatas dapatlah dikongkritkan bahwa
ciri gaya kepemimpinan direktif adalah (a) pemimpin merinci
instruksi tugas yang diberikan kepada bawahan; (b) pemimpin
menjelaskan tekinis pelaksanaan tugas/jabatan yang diberikan
(c) pemimpin membimbing bawahan untuk penyelesaian
64 Windy Sitorus,”Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja terhadap
Kinerja Pegawai Kementrian PU Wilayah I Provinsi Lampung”, Tesis, Universitas
Lampung, 2016, h. 22.
51
pekerjaan; (d) pemimpin menarget hasil pekerjaan yang harus
dicapai; (e) pemimpin selalu mendikte pekerjaan yang
dilakukan bawahan; dan (f) hubungan pemimpin dengan
bawahan kurang harmonis.
2) Jenis Gaya Kepemimpinan Suportif
Gaya kepemimpinan suportif ini dimaknai bahwa
pemimpin mendukung berbagai persoalan pegawai dalam
hubungannya dengan pekerjaan dan kariernya. Menurut
Wirjana dan Supardo (2005, h. 49) yang dikutip Astria Khairizah
dkk, gaya kepmimpinan suportif ini bercirikan “Adanya hubu-
ngan yang baik antara pemimpin dengan kelompok dan
memperlihatkan kepekaan terhadap kebutuhan anggota”.65
Berdasarkan teori Wirjana dan Supardo di atas, dapatlah
dijelaskan bahwa gaya kepemimpinan suportif memiliki ciri-ciri
(a) pemimpin menciptakan hubungan yang harmonis antara
pemimpin dengan bawahan dan antar bawahan; (b) pemimpin
memberi pelayanan yang memuaskan terhadap kebutuhan
guru dalam rangka pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan;
(c) pemimpin melayani kebutuhan guru dalam rangka
peningkatan karier; (d) pemimpin menyediakan perlengkapan
kerja.
65 Astria Khairizah, dkk., “Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Kinerja
Karyawan” (Studi pada Karyawan di Perpustakaan Universitas Brawijaya Malang”, Jurnal
Administrasi Publik (JAP), Vol. 3, No. 7, Tahun 2015, h. 1268-1272.
52
3) Jenis Gaya Kepemimpinan Partisipatif
Kepemimpinan partisipatif sebagai gaya kepmimpinan
yang menonjolkan kerja sama yang baik antara pimpinan
dengan pegawai. Pemimpin meminta dan menggunakan saran-
saran bawahan dalam rangka mengambil keputusan. Dengan
demikian, bawahannya merasa lebih dihargai oleh atasannya
karena mereka dianggap mampu berperan dalam pengambilan
kebijakan. Thoha dalam Muhamad Sukma Utama mengemuka-
kan:
Gaya kepemimpinan partisipatif adalah pemimpin yang
mempunyai kepercayaan yang sempurna terhadap
bawahanya. Dalam setiap persoalan, selalu mengandalkan
untuk mendapatkan ide-ide atau pendapat-pendapat
lainnya dari bawahan, dan mempunyai niat untuk
mempergunakan pendapat bawahan secara konstruktif.66
Konsep dari Thoha di atas dapat dijelaskan bahwa gaya
kepemimpinan partisipatif memiliki ciri (a) pimpinan menghargai
pendapat yang disampaiakan pegawai; (b) pimpinan melibatkan
pegawai dalam mengatasi persoalan yang timbul dalam
organisasi; (c) ikut menjalankan tata tertib organisasi; (d)
pimpinan meminta pendapat dari bawahan sebelum mengambil
keputusan/ kebijakan.
66 Muhamad Sukma Utama, “Gaya Kepemimpinan Partisipatif dan Budaya
Organisasi Birokratis dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai pada Badan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (BPLH) Kabupaten Majalengka”, Jurnal Ilmiah Manajemen &
Akuntansi, Vol. 4 Nomor 1, Tahun 2017, h. 25 - 35.
53
4) Jenis Gaya Kepemimpinan Berorientasi pada Prestasi
Gaya kepemimpinan berorientasi pada prestasi ini
mengutamakan target tertentu yang harus dicapai oleh
organisasi, dan pegawai harus bekerja keras untuk
mencapainya. Guna memotivasi, pimpinan memberikan hadiah
(reward) bagi pegawai yang mencapai target tertentu yang
telah ditetapkan. Menurut Wirjana dan Supardo (2005: 49)
dalam Astria Khairizah dkk ”Pemimpin menghadapkan
anggota-anggota pada tujuan yang menantang, dan mendo-
rong kinerja yang tinggi, sambil menunjukkan kepercayaan
pada kemampuan kelompok”.67
Berdasarkan teori di atas, gaya kepmimpinan berorien-
tasi pada prestasi memiliki ciri-ciri (a) pemimpin mendorong/
membantu pegawai untuk meningkatkan profesionalismenya;
(b) pemimpin mendorong/ membantu agar pegawai bekerja
dengan kualitas yang tinggi; (c) pemimpin menggunakan
slogan-slogan untuk membakar semangat pegawai guna
mencapai tujuan oganisasi; dan (d) pemimpin menjelaskan
serangkaian tujuan organisasi yang harus dikerjakan oleh
pegawai; (e) pemimpin memberikan imbalan yang layak atas
beban pekerjaan yang diberikan
67 Astria Khairizah, dkk., Loc. Cit.
54
Path goal sebagai model kepemimpinan tampaknya paling
banyak diterapkan secara variatif oleh kepala sekolah dalam
menjalankan kepemimpinannya sehingga dapat dijadikan alat
untuk mengukur gaya kepemimpinan kepala sekolah.
5. Peranan dan Fungsi Kepala Sekolah
Kepala sekolah sebagai pemimpin organisasi sekolah,
memegang peranan penting dalam memajukan pendidikan di
sekolah. Berbagai riset menunjukkan bahwa faktor pemimpin
berperan dalam pengembangan organisasi. Oleh karena itu, baik
buruknya organisasi sebagian besar sering tergantung pada faktor
pemimpin.
Salah satu kunci keemimpinan yang efektif adalah apa bila
kepala sekolah mampu memfungsikan dirinya secara maksimal
sebagai edukator, sebagai manajer, sebagai administrator, sebagai
supervisor, sebagai leader, sebagai inovator, dan sebagai motivator
.68
a. Fungsi Edukator
Sebagai edukator, kepala sekolah berfungsi meningkatkan
profesionalisme tenaga kependidikan melalui pembinaan mental,
moral, fisik dan artistik. Untuk kepentingan tersebut, kepala
sekolah diharuskan mampu (1) membimbing guru, (2) memberi-
kan alternatif pembelajaran yang efektif, (3) membimbing tenaga
68 Endang Mulyasa, [Link]., h. 98.
55
kependidikan untuk lebih berkembang terkait pribadi dan
profesinya.69
Sebenarnya fungsi kepala sekolah sebagai edukator tidak
hanya terbatas pada pembimbingan guru dan tenaga kependi-
dikan, melainkan mendidik meliputi seluruh komponen manusia
yang terdapat dalam lingkungan sekolah, termasuk masyarakat
setempat. Mengingat tugas administratif dan manajerial begitu
banyak, maka sebagian besar waktu dan tenaga kepala sekolah
tercurah pada penyelesaian tugas yang terkait dengan masalah
administrasi dan manajerial tersebut. Hal itu diperkuat oleh hasil
penelitian Stronge dalam Daryanto (2011) dalam Endang
Herawan “. ... bahwa seluruh dari pekerjaan yang harus
dilaksanakan oleh kepala sekolah hanya 10% persen yang
dialokasikan untuk kepemimpinan pembelajaran.70
b. Fungsi Manajer dan Administrator
Manajer adalah orang yang melakukan kegiatan manaje-
men. Seseorang disebut manajer apabila dia mampu merencana-
kan, mengelola dan mengendalikan organisasi dengan baik.71
Kepala sekolah berfungsi sebagai manajer, harus mampu
merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin,
69 Marno & Triyo Supriyatno, Manajemen dan kepemimpinan pendidikan Islam,
(Bandung: PT. Refika Aditama, 2008), h. 37
70 Endang Herawan, “Kinerja Kepala Sekolah Sebagai Instructional Leader”,
Jurnal Ilmu Pendidikan (tidak diterbitkan), (Universitas Pendidikan Indonesia 2015), h.
259 – 265.
71 Marno & Triyo Supriyatno, [Link]. h. 50.
56
dan mengendalikan usaha anggota organisasi serta mendayagu-
nakan komponen organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.72
Tugas kepala sekolah sebagai manajer memiliki fungsi
yang serupa dengan tugasnya sebagai administrator, yaitu:
“. .. administrator pendidikan adalah melakukan perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan mengevaluasi seluruh
sumber daya organisasi yang dimiliki baik menyangkut
sumber daya manusia, sumber belajar (kurikulum), sumber
dana dan fasilitas dalam rangka mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.73
Tugas kepala sekolah sebagai administrator terlebih dulu
telah dijelaskan oleh Ngalim Purwanto yang meliputi “perencana-
an, pengorganisasian, pengkoordinasian, pengawasan, kepega-
waian dan pembiayaan. Kepala sekolah sebagai administrator
hendaknya mampu mengaplikasikan funsi-fungsi tersebut ke
dalam pengelolaan sekolah yang dipimpinnya”.74
Berdasarkan pendapat ahli tersebut ditas, dapat disintesa-
kan bahawa fungsi kepala sekolah sebagai manajer dan
administrator meliputi: 1) Merencanakan; 2) Mengorganisasikan;
3) Mengkoordinasikan; 4) Melaksanakan; 5) Memimpin; 6)
Mengendalikan; 7) Mendayagunakan; 8) Mengevaluasi; 9) Menga-
72 Endang Mulyasa, Menjadi kepala sekolah profesional. (Bandung: [Link]
Rosdakarya, 2005), h. 103.
73 Erdianti, “Strategi Kepala Sekolah sebagai Supervisor dalam Mengembangkan
Kompetensi Profesional Guru”, Jurnal Al-Ta’dib, Vol. 7 No. 1, 2014, h. 37 – 53.
74Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2012), h. 106.
57
wasi; 10) Mengelola kepegawaian; dan 11) Mengelola pembia-
yaan.
Perbedaan yang mencolok antara fungsi kepala sekolah
sebagai manajer dengan fungsi kepala sekolah sebagai adminis-
trator tampak jelas pada pelaksanaan tugas di sekolah. Fungsi
kepala sekolah sebagai administrator bidang yang ditangani
meliputi pengelolaan kurikulum, pengelolaan administrasi peserta
didik, pengelolaan admistrasi personalia, pengelolaan administrasi
sarana dan prasarana, pengelolaan administrasi kearsipan dan
pengegelola administrasi keuangan.
c. Fungsi Supervisor
Supervisor adalah orang yang melakukan pemantauan dan
pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh
guru. Supervisi ini adalah tugas kepala sekolah “. ... salah satu
tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu mensuper-
visi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.75 Adapun
pengertian supervisi adalah:
“. ... bantuan dan pelayanan yang diberikan kepada guru agar
mau terus menerus belajar, meningkatkan kualitas
pembelajarannya, menumbuhkan kreativitas guru memperbai-
ki bersama-sama dengan cara melakukan seleksi dan revisi
tujuan-tujuan pendidikan”. 76
75 Endang Mulyasa, Menjadi kepala sekolah ..., [Link]., h. 109.
76Saiful Sagala, Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan, (Bandung:
CV Alfabeta, 2010), h. 94.
58
Kegaiatan supervisi dalam lembaga pendidikan sangatlah
penting sebagai kontrol terhadap pengajaran dan pendidikan yang
dilakukan oleh guru. Menururt Piet Sahertia, supervisi bertujuan:77
1) membantu guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan;
2) membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar murid-
murid;
3) membantu guru menggunakan sumber-sumber pengalaman
belajar;
4) membantu guru dalam menggunakan metode-metode dan alat
pelajaran modern;
5) membantu guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid-
murid;
6) membantu guru dalam hal menilai kemajuan murid-murid dan
hasil pekerjaan guru itu sendiri;
7) membantu guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja
guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan mereka;
8) membantu guru baru di sekolah sehingga mereka merasa
gembira dengan tugas yang diperolehnya;
9) membantu guru agar lebih mudah mengadakan penyesuaian
terhadap masyarakat dan cara-cara menggunakan sumber-
sumber masyarakat dan setersusnya;
77 Piet Suhertia, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya: Usaha
Nasional, 1981), h. 24.
59
10) Membantu guru agar waktu dan tenaga tercurahkan sepenuh-
nya dalam pembinaan sekolah.
Tampaknya supervisi ini berfungsi sebagai pengendali kerja
guru agar pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah
tidak menyimpang.
d. Fungsi Leader
Kepala sekolah diharapkan mampu memberdayakan
semua sumber dan menggerakkan semua tenaga kependidikan.
Menurut Mulyasa “Kepala sekolah sebagai leader harus mampu
memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemam-
puan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah, dan
mendelegasikan tugas”. 78 Menurut Mahardhani, yang harus
dilakukan oleh kepala sekolah adalah:
Sebagai leader maka kepala sekolah harus mampu
menggerakkan orang lain agar secara sadar dan sukarela
melaksanakan kewajibannya secara baik sesuai dengan yang
diharapkan pimpinan dalam rangka mencapai tujuan.
Kepemimpinan kepala sekolah terutama ditujukan kepada
para guru karena merekalah yang terlibat secara langsung
dalam proses pendidikan. Namun demikian, kepemimpinan
kepala sekolah juga ditujukan kepada para tenaga
kependidikan dan administrator lainnya. 79
Apa yang dikemukakan Mulyasa tersebut diatas dilengkapi
oleh perkatataan Ardhana, sehingga kepala sekolah sebagai
leader harus mampu melakukan petunjuk dan pengawasan,
78 Endang Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, ... , [Link]., h. 114.
79Ardhana Januar Mahardhani, “Kepemimpinan Ideal Kepala Sekolah”, Jurnal
Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran, Vol. 3 No. 2, 2015, h. 1 – 4.
60
meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan, membuka
komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas serta memberi-
kan pengaruh agar bawahan melakukan pekerjaan yang diberikan
pemimpin.
e. Fungsi Inovator
Kepala sekolah berfungsi sebagai inovator, bearti ia harus
mampu membuat hal-hal yang bersifat baru atau pembaharuan
dalam pendidikan pada lembaga sekolah. Menurut Komariah dkk
(2005:23) dalam Jezi Adrian Putra “. ... inovator adalah para
pembaharu, perintis/pioner, atau orang yang paling cepat
membuka diri dan menerima inovasi, bahkan menjadi pencari
inovasi”.80
Dalam rangka mewujudkan fungsi inovator, kepala sekolah
hendaknya melakukan (pembaharuan) sistem pendidikan yang
dianggap masih bersifat monoton dan klasikal. Dengan adanya
inovasi diharapkan akan tercipta suasana pendidikan berkualitas
yang mampu beradaptasi dengan perkembangan jaman. Mulyasa
(2011:118) dalam Jezi menyarankan kepada kepala sekolah agar
memiliki dan melakukan sejumlah perbuatan sehubungan dengan
fungsinya sebagai inovator:
. ... kepala sekolah sebagai seorang inovator harus memiliki
strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis
80 Jezi Adrian Putra, “Peran Kepala Sekolah Sebagai Inovator di Sekolah
Menengah Pertama Negeri Kota Pariaman”, Jurnal Administrasi Pendidikan, Bahana
Manajemen Pendidikan, Volume 2 Nomor 1, 2014, h. 347 ‐ 831.
61
dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengimplementa-
sikan ide-ide baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, membe-
rikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah,
dan mengembangkan model-model pembelajaran yang
inovatif.81
Pendapat Mulyasa sehubungan dengan inovasi tersebut di
atas, sintesanya adalah kepala sekolah hendaknya mencari
gagasan baru, mengimplementasikan ide-ide baru, mengintergra-
sikan setiap kegiatan dan mengembangkan model pembelajaran
yang inovatif.
f. Fungsi Motivator
Motivasi sangat penting bagi tenaga kependidikan,
terutama guru karena dapat meningkatkan efektivitas kerja. Selain
itu, berbagai hasil penelitian, motivasi kerja guru selalu berpenga-
ruh terhadap hasil belajar siswa. Untuk memotivasi tenaga
pendidik, kepala sekolah hendaknya melakukan 1) pengaturan
lingkungan fisik; 2) menanamkan disiplin; 3) memberi dorongan/
motivasi; dan 4) memberi penghargaan.82
1) Pengaturan lingkungan fisik
Lingkungan fisik yang kondusif terutama dalam kantor
dan ruang pembelajaran .sangat penting untuk diciptakan.
Menurut Abdul Majid, lingkungan fisik mempunyai pengaruh
terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang mengun-
81 Ibid.
82 Endang Mulyasa, Menjadi kepala sekolah ..., [Link]., H. 120.
62
tungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkat-
nya intensitas proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh
positif terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Lingkungan
fisik yang dimaksud meliputi: (a) ruang tempat berlangsungnya
proses belajar mengajar, (b) pengaturan tempat duduk, (c)
ventilasi dan pengaturan cahaya, dan (d) pengaturan
penyimpanan barang-barang.83
Konsep lingkungan fisik menurut Majid di atas
menunjukkan bahwa lingkungan fisik yang aman, nyaman,
tertib dan rapi dapat meningkatkan intensitas dan
mempengaruhi hasil belajar.
2) Menanamkan Disiplin
Disiplin dimaknai sebagai ketaatan seseorang terhadap
tata tertib atau peraturan. Mulyasa berteori, dalam
meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah,
kepala sekolah harus berusaha menanamkan disiplin kepada
semua bawahannya. Melaui disiplin ini diharapkan dapat
tercapai tujuan secara efektif dan efisien, serta dapat mening-
katkan produktifitas sekolah.84
83 Abdul Majid, Perencanaan pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2008), h. 167.
84 Endang Mulyasa, Menjadi kepala sekolah ..., [Link]., h. 121 – 122.
63
Pendapat Mulyasa di atas merekomendasikan bahwa
profesionalisme guru, pencapaian tujuan peningkatan produkti-
vitas kerja dapat dilakukan melalui penanaman disiplin.
Pembinaan disiplin tenaga kependidikan menurut Calla-
han and Clark dalam Mulyasa bertujuan untuk:85
a) Membantu tenaga kependidikan mengembangkan pola
perilakunya; b) Membantu tenaga kependidikan meningkatkan
standar perilakunya; dan c) Menggunakan pelaksanaan aturan
sebagai alat.
3) Memberi Motivasi
Menurut Mulyasa, keberhasilan suatu organisasi
dipengaruhi oleh berbagai faktor, faktor yang datang dari
dalam maupun yang datang dari lingkungan. Dari berbagai
faktor tersebut, motivasi merupakan suatu faktor yang cukup
dominan dan dapat menggerakkan faktor-faktor lain ke arah
efektifitas kerja. Dalam hal tertentu motivasi sering disamakan
dengan mesin dan kemudi mobil, yang berfungsi seba-
gai penggerak dan pengarah.86
Mulayasa menjelaskan prinsip memotivasi tenaga
kependidikan agar meningkatkan kinerjanya yang meliputi: 87
85 Ibid., h. 141.
86 Ibid., h. 102.
87 Ibid., h. 121 – 122.
64
a) Tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila
kegiatan yang dilakukannya menarik, dan menyenangkan.
b) Tujuan kegiatan harus disusun dengan jelas dan diinfor-
masikan kepada tenaga kependidikan sehingga mereka
mengetahui tujuan dia bekerja. Tenaga kependidikan juga
dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut.
c) Para tenaga kependidikan harus selalu diberitahu tentang
hasil dari setiap pekerjaannya.
d) Pemberian hadiah lebih baik daripada hukuman, namun
sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan.
e) Manfaatkan sikap-sikap, cita-cita dan rasa ingin tahu tenaga
kependidikan.
f) Usahakan memperhatikan perbedaan individual tenaga
kependidikan, misalnya perbedaan kemampun, latar bela-
kang dan sikap mereka terhadap pekerjaannya.
4) Memberikan Penghargaan
Penghargaan merupakan suatu hadiah yang diberikan
oleh atasan terhadap bawahan. Penghargaan ini dapat memicu
profesionalisme dan efektivitas kerja pegawai. Menurut Mulyasa
(2005: 102-122) dalam Tawakal Setiadi:
pengahargaan (reward) ini sangat penting untuk
meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan dan
untuk mengurangi kegiatan yang kurang produktif. Melalui
penghargaan ini para tenaga kependidikan dapat
dirangsang untuk meningkatkan profesionalisme kerjanya
secara positif dan produktif. Kepala sekolah harus berusaha
65
menggunakan penghargaan ini secara tepat, efektif dan
efisien untuk menghindari dampak negatif yang bisa
ditimbulkannya.88
Adapun pemberian penghargaan dapat dilakukan
dengan cara-cara yang dikemukakan oleh Herzberg dalam
(Manullang dan Manullang, 2001:180) dalam Setiadi sebagai
berikut:89
a) Langsung menyatakan keberhasilan di tempat pekerjaan-
nya, lebih baik dilakukan sewaktu ada orang lain.
b) Memberi surat penghargaan.
c) Memberi hadiah berupa uang tunai.
d) Memberi medali, surat penghargaan dan hadiah uang tunai.
e) Memberi kenaikan gaji dan promosi.
C. Kompetensi Profesional
1. Pengertian Kompetensi Profesional
Menurut kamus Trans Tools Paradox Runtime, kompetensi
diartikan sebagai kemampuan/wewenang. Sedangkan menurut
kamus umum bahasa Indonesia karangan WJS Purwadarminto
“Kompetensi adalah kekuasaan untuk menentukan atau memutus-
kan suatu hal”.90
88 Tawakal Setiadi, “Pengaruh Kepala Sekolah Sebagai Pendidik, Manajer,
Motivator dan Supervisor terhadap Kinerja Guru di SMK Piri 1 Yogyakarta”, Skripsi,
Universitas Negeri Yogyakarta, 2013, h. 45.
89 Ibid., h. 46.
90 WJS Purwadarminto, [Link]., h. 405.
66
Muhaimin menjelaskan, “... kompetensi adalah seperangkat
tindakan inteligen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki sebagai
syarat untuk dianggap mampu dalam melaksanakan tugas-tugas
dalam bidang pekerjaan tertentu.”91
Menurut Stephen Robin, “... kompetensi sebagai ability, yaitu
kapasitas seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam
suatu pekerjaan”.92
Spancer, dalam Nia Dinar berpendapat “... competence is a
underlying characteristic of an individual that is causally related to
criterion – reference or/ and superior performance in a job
situation”.93 Kompetensi adalah karakteristik dasar yang dimiliki oleh
sesorang individu yang berhubungan dengan keunggulan kinerja
dalam situasi pekerjaan.
Dari beberapa pendapat diatas, dapatlah disintesakan bahwa
kompetensi adalah sejumlah kemampuan yang harus dimiliki oleh
seseorang guna menjalankan tugas pekerjaannya.
Adapun pengertian profesional, menurut Syahruddin adalah
bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan, keterampilan, kejujuran
91 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2004), h. 151.
92 Nia Dinar K., “Analisis Pengembangan Kompetensi Guru (studi pda Guru SMK
Rumpun Bisnis dan Manajemen Kelompok Bidang Studi Produktif di Kota Cimahi”, Tesis
Universitas Pajajaran Indonesia, 2007), h. 20.
93 Ibid. h. 21.
67
dan sebagainya. 94 Sedangkan menurut Doyle profesi menunjukkan
pada pekerjaan untuk mencapai suatu reputasi tingkat tinggi
berkenaan dengan pengetahuan, keterampilan, komitmen dan sifat-
sfat yang dapat dipercaya”. 95 Mnurut Undang-Undang nomor 14
tahun 2005:
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang
memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang
memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan
pendidikan profesi. 96
Sejumlah konsep tentang pengertian profesional tersebut di
atas, dapatlah disintesakan, bahwa profesional adalah suatu bidang
pekerjaan yang pengerjaannya membutuhkan pendidikan profesi,
pengetahuan dan keterampilan tingkat tinggi sesuai standar mutu.
Istilah profesional dalam tulisan ini, konteknya adalah
profesional guru atau pekerjaan yang dilakukan oleh guru, yakni
pengajaran.
Berdasarkan pengertian kompetensi dan pengertian profesi-
onal guru tersebut di atas -bila dirangkai kembali-, maka kompetensi
profesional guru adalah sejumlah kemampuan guru terhadap bidang
pengajaran yang membutuhkan pendidikan profesi, pengetahuan
dan keterampilan tingkat tinggi sesuai standar mutu.
94 Syahruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta:
Ciputat Press, 2002) h.15.
95 Sutarmanto, “Kompetensi dan profesionalisme Guru Pendidikan Anak Usia
Dini”, Jurnal Visi Ilmu Pendidikan, 1 (1), h. 16-31.
96 Undng-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen, Pasal 1 ayat 4.
68
Guna memahami pengertian kompetensi professional guru,
Hamzah B. Uno menjelaskan:
... kompetensi profsional guru adalah seperangkat kemampuan
yang harus dimiliki oleh guru agar ia dapat melaksanakan tugas
mengajar. Adapun kompetensi profesional mengajar yang harus
dimiliki oleh seorang guru yaitu meliputi kemampuan dalam
merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi sistem
pembelajaran, serta kemampuan dalam mengembangkan sistem
pembelajaran.97
Apa yang dinyatakan oleh Uno tersebut diatas, dapatlah
dipahami bahwa kompetensi profesional guru adalah seperangkat
kemampuan terhadap pengajaran dari seorang guru yang meliputi
kemampuan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembela-
jaran, evaluasi hasil pembelajaran dan pengembangan sistem
pembelajaran.
Menyangkut bidang-bidang dalam kompetensi profesional
yang harus dikuasi oleh guru, Suharsismi mengemukakan:
Guru harus memiliki pengetahuan yang luas serta dalam tentang
subject matter (bidang studi) yang akan diajarkan, serta
penguasaan metodologi dalam arti memiliki pengetahuan konsep
teoritik, mampu memilih metode yang tepat, serta mampu
menggunakan dalam proses belajar mengajar.98
Berdasarkan penjelasan Uno dan Suharsimi diatas, dapatlah
disintesakan bahwa kompetensi profesional guru adalah seperangkat
kemampuan bidang pengajaran yang harus dimiliki oleh guru yang
meliputi 1) penguasaan perencanaan pembelajaran; 2) penguasaan
97 Hamzah B, Uno, Profesi Kependidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,2007), h. 18-19.
98 Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusia. (Jakarta: Rineka
Cipta, 1993), h. 239.
69
pelaksanaan pembelajaran; 3) penguasaan evaluasi hasil pembe-
lajaran; 4) penguasaan pengembangan sistem pembelajaran; 5)
penguasaan bidang studi yang diajarkan; 6) penguasaan metodologi
keilmuan; dan 7) mampu memilih dan menerapkan metode dalam
pembelajaran.
2. Aspek-Aspek Profesionalisme Guru
Aspek-aspek profesionalisme guru mengacu pada obyek-
obyek yang harus dikuasai oleh guru sebakai alat yang digunakan
untuk melaksanakan kegiatan pengajaran.
Aspek-aspek profesionalisme guru menurut Uno, meliputi:99
a. Disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran.
b. Bahan ajar yang diajarkan.
c. Pengetahuan tentang karakteristik siswa.
d. Pengetahuan tentang filsafat dan tujuan pendidikan.
e. Pengetahuan serta penguasaan metode dan model mengajar.
f. Penguasaan terhadap prinsip-prinsip teknologi pembelajaran.
g. Pengetahuan terhadap penilaian, dan mampu merencanakan,
memimpin guna kelancaran proses pendidikan.
Rincian aspek-aspek profesionalisme guru juga dikemukakan
oleh Mulyasa sebagai berikut: 100
a. Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik
filosofi, psikologis, sosiologis, dan sebagainya.
99 Hamzah B. Uno, [Link]. h. 64-65.
100 E. Mulyasa, Sertifikasi Guru, Op. Cit. h. 135.
70
b. Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf
perkembangan peserta didik.
c. Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang
menjadi tanggung jawabnya.
d. Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang
bervariasi.
e. Mampu mengembangkan dan menggunakan alat, media dan
sumber belajar .
f. Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pembela-
jaran.
g. Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik;
h. Mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik.
Berdasarkan 2 pendapat Uno dan Mulyasa diatas, dapat kita
perbandingkan atas perbedaanya, yaitu:
a) Aspek profesionalisme guru fersi Uno yang tidak termaktup dalam
aspek profesionalisme guru fersi Mulyasa yaitu: aspek prinsip
teknologi pendidikan.
b) Aspek profesionalisme guru fersi Uno yang termaktup dalam
aspek profesionalisme guru fersi Mulyasa yaitu: aspek filsafat
pendidikan, karakteristik siswa, bidang studi/ bahan ajar, metode
dan penilaian/ evaluasi.
71
c) Aspek profesionalisme guru fersi Mulyasa yang tidak termaktup
dalam aspek profesionalisme guru fersi Uno adalah teori belajar,
dan alat belajar.
Menurut peraturan menteri pendidikan nasional nomor 16
tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi
guru, aspek profesional guru meliputi: 101
a. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampu.
b. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata
pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.
c. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara
kreatif.
d. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
melakukan tindakan reflektif.
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
berkomunikasi dan mengembangkan diri.
Aspek kompetensi profesional guru versi Mendiknas ini,
menitik beratkan pada 2 hal, yaitu 1) Penguasaan terhadap aspek-
aspek yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diajarkan,
dari sekedar penguasaan materi dan konsep sampai pengemba-
ngannya; 2) Melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan
(PKB) melalui tindakan reflektif dan pemanfaatan tekonolgi.
101 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16
Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Ademik dan Kompetensi Guru.
72
3. Profesionalisme sebagai Kompetensi Guru
Setiap pekerjaan yang membutuhkan keahlian dalam
penanganannya lazim disebut dengan istilah profesi. Mengajar
sebagai pekerjaan guru juga disebut profesi, karena membutuhkan
sejumlah keahlian yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan
pengahayatan yang diperoleh melalui pendidikan profesi serta upaya
pembelajaran yang dilakukan secara terus menerus dan berkelan-
jutan. Keahlian pengajaran tersebut merupakan komptensi yang
harus dikuasai oleh guru. Hal itu dinyatakan dalam Undang-Undang
RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8, bahwa
"Guru wajib memiliki ... kompetensi ... .”.102
Adapun kompetensi yang wajib dimiliki guru antara lain adalah
". ... kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan
profesi". 103 Yang dimaksud kompetensi profesional adalah “. ...
kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan
mendalam”.104
Berdasarkan bunyi Undang-Undang tersebut diatas, dapatlah
diulas kembali bahwa guru wajib memiliki kompetensi, dan kompe-
tensi yang harus dimiliki tersebut antara lain adalah kompetensi
102
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen pasal 8.
103 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen pasal 10 ayat 1.
104 Ibid. Penjelasan, Pasal 10 Ayat 1.
73
profesional. Hal ini mengisyaratkan bahwa profesionalisme pengaja-
ran adalah merupakan kompetensi guru.
Profesionalisme pengajaran menurut Permendiknas Nomor 16
Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi
Guru, terdiri lima aspek yang harus dikuasai oleh guru, yaitu:105
a. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampu.
b. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata
pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.
c. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara
kreatif.
d. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
melakukan tindakan reflektif.
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
berkomunikasi dan mengembangkan diri.
Lima aspek profesionalisme guru tersebut, 2 diantaranya
dijadikan alat penilaian aspek kompetensi profesional guru. Dua
aspek tersebut adalah:106
a. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampu;
b. Mengembangkan Keprofesian melalui tindakan reflektif.
105Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16
Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Ademik dan Kompetensi Guru,
106 Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu
Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Buku 2, Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja
Guru (Pk Guru), 2011, h. 55 – 56.
74
Berbagai uraian tentang kompetensi profesional tersebut di
atas, dapatlah ditegaskan kembalai bahwa 1) profesionalisme
pengajaran merupakan salah satu kompetensi yang wajib dimiliki
guru; 2); profesionalisme pengajaran merupakan salah satu
kompetensi guru; dan 3) profesionalisme pengajaran aspek-
aspeknya dikembangkan untuk dijadikan alat ukur kompetensi
profesional guru.
4. Pengukuran Kompetensi Profesional Guru
Seorang guru dikatakan memiliki kompetensi profesionali bila
ia mampu menguasai materi pembelajaran secara luas dan
mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik meme-
nuhi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan
dalam standar nasional pendidikan.107
Guna mengetahui kompetensi profesional yang dimiliki oleh
guru, maka Kemendiknas melalui buku 2 tahun 2011 tentang
Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru, mengembangkan 2
aspek kompetensi profesional guru menjadi sejumlah indikator
tersebut adalah: 108
a. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampu. Aspek kompetesni ini
memiliki tiga indikator sebagai berikut:
107 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan, Penjelasan Pasal 28.
108 Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu
Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru,
Buku 2, Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru (Pk Guru), 2011, h. 56 – 57.
75
1) Guru melakukan pemetaan standar kompetensi dan kompe-
tensi dasar untuk mata pelajaran yang diampunya, untuk
mengidentifikasi materi pembelajaran yang dianggap sulit,
melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, dan
memperkirakan alokasi waktu yang diperlukan.
2) Guru menyertakan informasi yang tepat dan mutakhir di dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.
3) Guru menyusun materi, perencanaan dan pelaksanaan pembe-
lajaran yang berisi informasi yang tepat, mutakhir, dan yang
membantu peserta didik untuk memahami konsep materi
pembelajaran.
b. Mengembangkan Keprofesian melalui tindakan reflektif. Aspek
kompetensi ini memiliki 6 indikator sebagai berikut:
1) Guru melakukan evaluasi diri secara spesifik, lengkap, dan
didukung dengan contoh pengalaman diri sendiri.
2) Guru memiliki jurnal pembelajaran, catatan masukan dari teman
sejawat atau hasil penilaian proses pembelajaran sebagai bukti
gambaran kinerjanya.
3) Guru memanfaatkan bukti gambaran kinerjanya untuk mengem-
bangkan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran selanjut-
nya dalam program pengembangan keprofesian berkelanjutan
(PKB).
76
4) Guru dapat mengaplikasikan pengalaman PKB dalam perenca-
naan, pelaksanaan, penilaian pembelajaran dan tindak
lanjutnya.
5) Guru dapat melakukan penelitian, mengembangkan karya
inovasi, mengikuti kegiatan ilmiah (misal seminar, konferensi),
dan aktif dalam melaksanakan PKB.
6) Guru dapat memnfaatkan TIK dalam berkomunikasi dan
pelaksanaan PKB.
Sembilan indikator dari dua kriteria tersebut, penulis kembang-
kan menjadi item-ietem pengukuran kompetensi profesional guru.
D. Motivasi Kerja Guru
Motivasi menduduki peranan yang sangat strategis pada diri
sesorang dalam melakukan kegiatan. Berbagai kenyataan dan teori
menunjukkan bahwa motivasi mampu menghantrarkan sesorang untuk
mencapai tujuan yang diinginkan. Husaini berkata “... kinerja tergantung
dari motivasi, kemampuan dan lingkungannya”.109 Melalui motivasi ini,
manusia bergerak untuk melakukan pekerjaan sesuai yang diiginkan
hingga mencapai tarap yang sangat tinggi.
109 Husaini Usman, Manajemen, Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, Edisi 3,
(Jakarta Timur: PT. Bumi Aksara, 2011), h. 250.
77
1. Pengertian Motivasi Kerja
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, motivasi adalah
“Dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak
sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu”. 110
Sedangkan menurut Hasibuan, motivasi adalah “... pemberian
daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar
mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan
segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan”.111
Robins dalam Kiki Cahyani Setiawan berpendapat “Motivasi
adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi
untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya
itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individu”. 112 Robin
menambahkan, bahwa “... motivasi sebagai proses yang menyebab-
kan intensitas (intensity), arah (direction), dan usaha terus-menerus
(persistence) individu menuju pencapaian tujuan”.113
Dari Kajian di atas, dapatlah diketahui bahwa istilah motivasi
kerja memiliki 5 devinisi yang bervariatif, yaitu: a) Motivasi sebagai
daya penggerak dari seseorang kepada orang lain agar gairah
110 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2008), h. 874.
111 Malayu Hasibuan S.P., Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi,
(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003), h. 143.
112Kiki Cahyanai Setiawan, “Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan
Level Pelaksana di Divisi Operasi PT. Pusri Palembang”, Psikis-Jurnal Psikologi Islami,
Vol. 1 No. 2, 2015, h. 43-53
113 Wibowo, Manajemen Kinerja, Edisi ketiga, (Jakarta: Rajawali Press. 2007), h.
378.
78
bekerja; b) Motivasi sebagai sesuatu yang dijadikan dasar
seseorang untuk berbuat; c) Motivasi sebagai dorongan atau hasrat
yang timbul dalam diri seseorang untuk berbuat; d) Motivasi sebagai
pengerahan upaya yang tinggi dalam berbuat; dan ; e) Motivasi
sebagai kegigihan dan stabilitas dalam berbuat.
2. Fungsi Motivasi
Kondisi jasmani dan rohani seorang pegawai tidak selalu fit
dalam dan antar waktu, terkadang normal dan terkadang melemah
sehingga semangat kerjanya menurun. Dalam kondisi demikian,
pegawai membutuhkan pemberian motivasi yang berfungsi sebagai
daya penggerak agar tercipta kegairahan kerja yang tinggi.
Secara rinci fungsi motivasi bagi pegawai adalah sebagai
berikut:114
a. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan;
b. Meningkatkan produktivitas kerja karyawan;
c. Mempertahankan kestabilan karyawan perusahaan;
d. Meningkatkan kedisiplinan karyawan;
e. Mengefektifkan pengadaan karyawan;
f. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik;
g. Meningkatkan loyalitas, kreativitas, dan partisipasi karyawan;
h. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan;
114 Malayu Hasibuan S.P., [Link]. h. 146.
79
i. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-
tugasnya;
j. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku.
Nawawi menjelaskan fungsi motivivasi, yaitu:115
a. Motivasi berfungsi sebagai pendorong atau penggerak bagi
manusia, ibarat bahan bakar pada kendaraan.
b. Motivasi merupakan pengatur dalam memilih alternatif di antara
dua atau lebih kegiatan yang bertentangan.
c. Motivasi merupakan pengarah pencapaian tujuan yang diinginkan
dalam melakukan aktivitas.
Berdasarkan pendapat Hasibuan dan Nawawi tersebut ditas,
dapatlah disintesakan bahwa fungsi motivasi itu pada dasarnya
bermuara pada tercapainya tujuan pelaksanaan pekerjaan atau
tercapainya tujuan organisasi.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja
Faktor motivasi kerja adalah segala sesuatu yang dijadikan
dasar atau dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang untuk
melakukan kegiatan.
Terdapat banyak teori yang membahas masalah faktor yang
mendorong seseorang sehingga timbul hasrat untuk melakukan
pekerjaan, diantaranya adalah teori Abraham Maslow, teori Clayton
Alderfer dan teori Herzberg.
115 Hadari Nawawi. Op. Cit., h. 359.
80
a. Teori Motivasi Abraham Maslow
Abraham Maslaw melahirkan teori hirarkhi kebutuhan
manusia dari kebutuhan yang terendah sampai kebutuhan paling
tinggi yang membuat seorang terdorong ingin melakukan suatu
perbuatan.116
Lima tingkat kebutuhan manusia tersebut adalah:
1) Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)
Kebutuhan fisiologis (physiological needs) adalah
sejumlah kebutuhan paling mendasar dan bertingkat yang
keberadaanya tidak bisa ditawar karena berhubungan dengan
kehidupan manusia. Husaini berkata:
Sebelum sesorang menginginkan kebutuhan
diatasnya, kebutuhan ini harus dipenuhi terlebih dahulu
agar dapat hidup secara normal. Contoh kebutuhan ini
adalah kubutuhan akan sandang, papan, pangan, istirahat,
rekreasi, tidur, dan hubungan seks. Untuk memenuhi
kebutuhan ini manusia biasanya berusaha keras untuk
mencari rereki.117
Jika kebutuhan fisiologis tidak terpenuhi, misalnya
makan yang tidak terjamin dan istirahat tidak cukup, maka
kondisi jasmani kurang segar dan hal ini dapat mengganggu
aktivitas sesorang.
2) Kebutuhan Rasa Aman (Safety Need)
Yang dimaksud dengan kebutuhan rasa aman ini adalah
suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh
116 Husaini Usman, [Link]., h. 254.
117 Husaini Usman, Ibid., h. 254.
81
ketentraman, kepastian dan keteraturan dari lingkungannya.
Menurut Husaini, kebutuhan rasa aman ini antara lain
menabung, mendapatkan tunjangan pensiun, memiliki asuransi,
memasang pagar, teralis pintu dan jendela.118
3) Kebutuhan akan Cinta, Memiliki dan Kasih Sayang (Love and
Belongingness Need)
Kebutuhan ini adalah suatu kebutuhan yang mendorong
individu untuk mengadakan hubungan efektif atau ikatan
emosional dengan individu lain, baik dengan sesama jenis
maupun lawan jenis, di lingkungan keluarga maupun kelompok
masyarakat. Menurut Husaini:
“Contoh kebutuhan ini antara lain membina keluarga,
bersahabat, bergaul, bercinta, menikah, dan mempunya
anak, bekerja sama, menjadi anggota organisasi. Untuk
kebutuhan ini, biasanya manusia berdoa dan berusaha
untuk memenuhinya”.119
4) Kebutuhan Harga Diri (Need Esteem)
Setelah kebutuhan berkelompok atau hubungan sosial
terpenuhi, maka kebutuhan berupa pengahargaan akan diri
(need for self esteem) akan muncul dan menuntut untuk dapat
terpuaskan. Menurut Maslow, kebutuhan ini meliputi dua hal,
“for self respect or self esteem, and for the esteem of others”.120
yaitu harga diri dan penghargaan dari orang lain. Harga diri
118 Ibid, h. 256.
119 Ibid. h. 257.
120 Abraham Maslow, Motivation and Personality, Third Edition, (America:
Longman, 1970), h. 21.
82
meliputi kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi,
penguasaan atau jabatan, ketidaktergantungan, dan kebeba-
san. Penghargaan dari orang lain meliputi nama baik, prestise,
gengsi, pengakuan, penerimaan, perhatian, kedudukan, nama
baik serta apresiasi.
5) Kebutuhan aktualisasi diri.
Kebutuhan menggunakan segala kemampuan untuk
mencapai apa yang diinginkan. Kebutuhan ini merupakan hirar-
khi kebutuhan dasar manusia yang paling tinggi dalam motivasi
Maslow. Menurut Mangkunegara, “Aktualisasi diri dapat
didefinisikan sebagai perkembangan dari individu yang paling
tinggi, mengembangkan semua potensi yang ia miliki dan
menjadi apa saja menurut kemampuannya.121
Dalam kebutuhan ini, seseorang dapat mengembangkan
sesuatu menurut bakat yang dimilikinya. Misal seseorang
mengembangkan seni musik, seni lukis, menciptakan lagu dan
sebagainya. Husaini memberikan penjelasan jenis-jenis yang
diinginkan dalam memenuhi kebutuhan aktualisasai diri ini,
yaitu:
“Contoh kebutuhan ini antara lain memiliki sesuatu hanya
bukan karena fungsi tetapi juga gengsi, mengoptimalkan
potensi dirinya secara kretaif dan inovatif, ingin mencapai
taraf hidup yang serba sempurna atau derajat yang
setinggi-tingginya, melakukan pekerjaan yang kreatif
121 Duane Schultz, Growth Psychology: Models of The Healthy Personality, terj.
Yustinus, Psikologi Pertumbuhan, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), h. 93.
83
(menulis buku dan artikel), ingin pekerjaan yang
menantang”.122
b. Teori Clayton Alderfer
Jika Maslow melahirkan teori hirarki kebutuhan, maka
Alderfer menciptakan teori tiga kebutuhan manusia, yaitu
Exsistence, Relatedness, Growth, yang disingkat ERG. Tiga
kebutuhan manusia model Clayton ini cakupannya sama dengan
kebutuhan model Maslow juga. Hal itu dijabarkan oleh
Mangkunegara sebagai berikut:123
1) Existence Needs (Kebutuhan Eksistensi)
Kebutuhan ini berhubungan dengan fisik dari eksistensi
pegawai, seperti makan, minum, bernafas, gaji, keamanan
kondisi kerja. Kebutuhan ini jika dihubungkan dengan teori
Hirearki Maslow dianggap sebagai kebutuhan fisiologis dan
kebutuhan keamanan.
2) Relatedness Needs (Kebutuhan Hubungan Sosial)
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan interpersonal, yaitu
kepuasan berinteraksi dalam lingkungan kerja. Kebutuhan ini
jika dihubungkan dengan teori Hirearki Maslow dianggap
sebagai kebutuhan sosial.
122 Husaini, [Link]. h. 258.
123Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya. Anwar Prabu, 2009), h. 98.
84
3) Growth Needs (Kebutuhan Pertumbuhan)
Kebutuhan untuk mengembangkan diri dan meningkat-
kan pribadi, hal ini berhubungan dengan kemampuan dan
kecakapan pegawai. Kebutuhan ini jika dihubungkan dengan
teori Hirearki Maslow dianggap sebagai kebutuhan pengakuan
dan kebutuhan aktualisasi diri.
c. Teori Motivasi Herzberg
Teori motivasi Herszberg yang dikenal dengan istilah teori
dua faktor ini mengemukakan bahwa terdapat dua faktor yang
mempengaruhi motivasi seorang pegawai untuk bekerja, yaitu
motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Menurut Husaini, dua
faktor tersebut adalah:124
1) Motivasi Intrinsik
a) Prestasi (achievement)
Prestasi (Achievement) artinya karyawan memperoleh
kesempatan untuk mencapai hasil yang baik (banyak dan
berkualitas) atau berprestasi.
b) Penghargaan (recognition)
Penghargaan artinya karyawan memperoleh penga-
kuan dari pihak perusahaan (manajer) bahwa ia adalah
orang yang berprestasi.
124 Husaini Usman, [Link]. h. 260.
85
c) Pekerjaan itu sendiri
Untuk mencapai hasil karya yang baik, diperlukan
kesesuaian antara pekerjaan dengan keahlian pegawai.
d) Tanggung jawab
Tanggung jawab adalah keterlibatan individu dalam
usaha-usaha di setiap pekerjaan, seperti kesanggupan dan
penguasaan diri sendiri dalam menyelesaikan pekerjaannya.
e) Pertumbuhan dan perkembangan
Pertumbuhan dan pengembangan adalah suatu usaha
untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoritis, konsep-
tual, dan moral karyawan sesuai dengan kebutuhan
pekerjaan/ jabatan melalui pendidikan dan latihan.
2) Motivasi Ekstrinsik
a) Supervisi
Supervisi merupakan suatu upaya pembinaan dan
pengarahan untuk meningkatkan gairah dan prestasi kerja.
b) Kondisi kerja
Kondisi kerja adalah situasi dan kondisi serta sarana
dan prasarana kerja yang mendukung dalam menyelesai-
kan tugas pekerjaan.
c) Hubungan interpersonal
Hubungan antar pribadi ini yaitu hubungan yang
bersifat manusiawi. Penting bagi manajer untuk mencegah
86
atau mengobati luka seseorang karena miss communication
(salah komunikasi) atau salah tafsir yang terjadi antar
pegawai, antar pegawai dengan pimpinan dan antara
pegawai dengan masyarakat luas.
d) Bayaran dan keamanan
Gaji dan merasa aman dalam melaksanakan kerja
akan berpengaruh untuk meningkatkan motivasi kerja yang
pada akhirnya secara langsung akan meningkatkan kinerja
individu.
e) Kebijakan perusahaan
Kebijaksanaan berfungsi untuk menandai lingkungan
di sekitar keputusan yang dibuat, sehingga memberikan
jaminan bahwa keputusan-keputusan itu akan sesuai dan
menyokong tercapainya arah atau tujuan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat dipetakan
bahwa faktor yang mempengaruhi motivasi kerja seseorang
dapat dikelompokkan menjadi 2, yaiti a) faktor motivasi kerja
berdasarkan kebutuhan seseorang dalam hidup, dari kebu-
tuhan dasar yang paling rendah sampai dengan kebutuhan
dasar yang paling tinggi. Faktor motivasi berdasarkan
kebutuhan ini dipelopori oleh Abraham Maslow dan Clayton
Alderfer; dan b) faktor motivasi kerja berdasarkan dorongan
yang timbul dari pekerja dan faktor pemberian daya penggerak
87
yang datang dari luar diri pekerja. Faktor mativasi kerja
berdasarkan adanya dorongan ini dipelopori oleh Herzberg.
4. Teknik Memotivasi
Acap kali terjadi perselisihan dan pertikaian antarindividu dan
antara individu dengan pimpinan yang disebabkan oleh adanya
kesalahpahaman atau kritikan ketika terjadi ketimpangan pelaksa-
naan pekerjaan dalam suatu organisasi. Akibatnya, bukan saja
ketidakberesan yang menjadi masalah, melainkan perselisihan dan
pertikaian itu sendiri yang malah menimbulkan masalah baru yang
lebih besar dan lebih komplek. Husaini memberikan teknik
memotivasi sesorang yang menyimpang dalam bekerja dengan
meminimalisir timbulnya masalah:125
a. Berpikiran positif
Ketika melihat seseorang melakukan sesuatu dengan cara
yang tidak tepat atau seseorang tidak melakukan sesuatu yang
seharusnya dia berbuat, maka berilah dorongan dengan cara yang
lembut dan berilah contoh pelaksanaannya agar dia terus maju.
Janganlah mengkritik kalau kita sendiri tidak mampu memberikan
contoh terlebih dahulu.
125 Husaini Usman, [Link]. h. 272.
88
b. Menciptakan perubahan yang kuat
Timbulkan kemauan untuk mengubah situasi oleh diri
sendiri. Berilah semboyan pada mereka “saya juga bisa”, hal ini
akan membantu meningkatkan motivasi berprestasi. Pemberian
dukungan melalui semboyan tersebut sering kali berdampak besar
yang dapat memicu seseorang menjadi teguh dan kukuh pendirian
untuk melakukan suatu pekerjaan dengan target yang istimewa.
c. Membangun harga diri
Sering sekali kelebihan orang lain tidak kita hargai, padahal
mereka membutuhkan penghargaan. Ucapkan kalimat “saya
mengharapkan bantuan anda”, hal itu dapat membangkitkan
kesediaan seseorang bergerak untuk berbuat.
d. Memantapkan pelaksanaan
Berilah bantuan pelaksaan kerja yang benar dengan tulus.
e. Membangkitkan orang lemah menjadi kuat
Buktikan bahwa mereka sudah berhasil. Katakan bahwa
anda telah mebantu apa yang mereka butuhkan.
f. Membasmi sikap suka me nda-nunda
Katakan dengan tegas tapi lembut “hilangkan sikap suka
menunda-nunda dengan alasan pekerjaan itu terlalu sulit dan
segeralah untuk memulai!”.
89
5. Mengukur Motivasi Kerja Guru
Motivasi kerja guru bearti upaya yang tinggi atau dorongan
yang timbul dalam diri guru untuk melakukan suatu pekerjaan yang
berhubungan dengn tugas pengajaran. Motivasi kerja tidak dapat
diukur secara langsung, melainkan melalui indikator-indikator yang
terdapat dalam tingkah laku kerjanya.
Uno merumuskan motivasi kerja yang dapat digunakan untuk
mengukur motivasi kerja guru, yaitu:126
a. Motivasi internal, indikatornya terdiri dari:
1, Tanggung jawab guru dalam melaksanakan tugas
2. Melaksanakan tugas dengan target yang jelas
3. Memiliki tuntutan yang jelas dan menantang
4. Ada umpan balik atas hasil pekerjaan
5. Memiliki perasaan senang dalam bekerja
6. Selalu berusaha untuk menggunguli orang lain
7. Diutamakan prestasi dari apa yang dikerjakannya
b. Motivasi eksternal, indikatornya terdiri dari:
1. Selalu berusaha untuk memenuhi nu
kebutuhan hidup dan kebutu-han kerjanya
2. Senang memperoleh pujian dari apa yang dikerjakannya
3. Bekerja dengan harapan ingin memperolah insentif
126 Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang
pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), h. 73.
90
4. Bekerja dengan harapan memperoleh perhatian dari teman dan
atasan
Berdasarkan indikator-indikator motivasi kerja rumusan Uno
tersebut, penulis kembangkan menjadi item-item pengukuran motiva-
si kerja guru.
E. Hasil Penelitian yang Relevan
Untuk menghindari duplikasi dan pengulangan penelitian
terdahulu dan untuk mengetahui letak perbedaannya dengan peneltian
yang sekarang, maka peneliti perlu melakukan telaah pustaka yang
berkaitan dengan penelitian yang sekarangn. Penelitian yang sekarang
berbunyi “Pengaruh Gaya Kepemimpinan kepala Sekolah, Kompetensi
Profesional dan Motivasi Kerja terhadap Efektivitas Kerja Guru SMK
Negeri di Kota Samarinda”. Adapun hasil penilitian terdahulu yang dikaji
adalah:
1. Sumarno, “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesi-
onalisme Guru terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri di
Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes”.127
Dalam abstraknya dijelaskan bahwa gaya kepemimpinan dan
kompetensi profesional secara bersama-sama berpengaruh positif
dan siginifikans terhadap kinerja guru sebesar 43,8%. Selain itu,
secara parsial gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan
signifikans terhadap kinerja guru sebesar 25,8%. Adapun
127
Sumarno, “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalisme
Guru terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Paguyangan
Kabupaten Brebes”, Tesis, Universitas Negeri Semarang, 2009, h. 4.
91
kompetensi profesional berpengaruh positif dan siginifikans terhadap
kinerja guru sebesar 39,4%.128
Penelitian Sumarno ini, melibatkan 2 variabel independen
yaitu gaya kepemimpinan dan profesionalisme. Selain itu, penelitian
ini juga melibatkan 1 variabel dependen, yaitu kinerja guru.
Berdasarkan 2 varaibel independen dan 1 variabel dependen
penelitian Sumarno tersebut diatas, dapatlah diselidiki persamaan
dan perbedaan dengan penelitian peneliti, yaitu:
a. Penelitian Sumarno hanya terdiri dari 2 variabel independen, yaitu
gaya kepemimpinan dan profesionalisme guru. Dua variabel
independen pada penelitian Sumarno tersebut juga berkedudukan
sebagai variabel independen dalam penelitian peneliti. Dalam
penelitian peniliti, terdapat tiga variabel independen, hal ini
mengisyaratkan bahwa terdapat 1 variabel independen dalam
penelitian peneliti yang tidak terdapat dalam variabel independen
dalam penelitian Sumarno, yaitu variabel motivasi kerja.
b. Penelitian Sumarno variabel dependennya berbunyi kinerja guru.
Hal ini terdapat relevansi dengan variabel dependen pada
penelitian peniliti yang berbunyi efektivitas kerja guru, karena
sama-sama membahas masalah kerja.
Walaupun kedua variabel dependen tersebut memiliki pokok
permasalahan yang sama, yaitu sama-sama masalah kerja,
128 Ibid.
92
namun istilah kinerja dan efektivitas kerja mimiliki perbedaan
makna yang bearti. Kinerja bearti penampilan kerja, pelaksanaan
kerja yang dilakukan secara benar. Adapun efektivitas kerja bearti
pelaksanaan kerja yang dilakukan secara benar, diselesaikan
tepat waktu serta memperoleh hasil dalam jumlah dan kualitas
sesuai dengan yang telah ditetapkan sebelumnya.
c. Penelitian Sumarno dilakukan untuk mengukur kinerja guru. Hal ini
senafas dengan penelitian peneliti yang bertujuan untuk mengukur
efektivitas kerja guru. Perbedaanya adalah, Sumarno mengukur
kinerja guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Paguyangan
Kabupaten Brebes, Jawa tengah, sedangkan penelitian peneliti
dilakukan untuk mengukur efektivitas kerja guru SMK Negeri di
Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Hal ini menjelaskan bahwa
jenjang satuan pendidikan sebagai tempat tugas guru dan
wilyahnya berbeda.
2. Kusdyah Rachmawati, “Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Disiplin
Kerja dan Motivasi Kepala Sekolah terhadap Etos Kerja Guru di SMP
Negeri 48 Palembang Sumatera Selatan.”129
Hasil penelitian Rachmawati ini dijelaskan bahwa gaya
kepemimpinan kepala sekolah, disiplin kerja dan motivasi kerja
129 Ike Kusdyah Rachmawati, “Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Disiplin Kerja dan
Motivasi Kepala Sekolah terhadap Etos Kerja Guru di Smp Negeri 48
Palembangsumatera Selatan”, Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA, Vol. 4 No. 2,
2010. h. 84-97.
93
berpengaruh terhadap etos kerjas kerja guru di SMP Negeri 48
Palembang sumatera Selatan.
Penelitian Rachmawati ini, melibatkan 3 variabel independen
yaitu gaya kepemimpinan, disiplin kerja dan motivasi kerja kepala
sekolah. Selain itu, penelitian ini juga melibatkan 1 variabel
dependen, yaitu etos kerja guru SMP Negeri 48 Palembang
Sumatera Selatan.
Berdasarkan 3 varaibel independen dan 1 variabel dependen
penelitian Rachmawati tersebut diatas, dapatlah diselidiki persamaan
dan perbedaan dengan penelitian peneliti, yaitu:
a. Penelitian Rahmawati terdiri dari 3 variabel independen, yaitu
gaya kepemimpinan, disiplin kerja dan motivasi kerja. 2 dari 3
variabel independen tersebut, yaitu gaya kepemimpinan dan
motivasi kerja berkedudukan sebagai variabel independen dalam
penelitian peneliti.
Dibalik persamaan tersebut, terdapat pula perbedaan yang
mendasar, yaitu: 1) Dalam penelitian Rachmawati, terdapat 1
variabel independen yang tidak terdapat dalam penelitian peneliti,
yaitu disiplin kerja. Begitu juga dalam penelitian peneliti, terdapat 1
variabel independen yang tidak terdapat dalam penelitian
Rachmawati, yaitu kompetensi profesional. 2) Perbedaan yang
kedua adalah, subyek dalam variabel independen dari penelitian
Rachmawati melibatkan kepala ekolah, sedangkan subyek dalam
94
variabel independen dari penelitian peneliti melibatkan kepala
sekolah dan guru.
b. Penelitian Rachmawati variabel depennya berbunyi etos kerja
guru. Hal ini terdapat relevansi dengan variabel dependen pada
penelitian peniliti yang berbunyi efektivitas kerja guru, karena
sama-sama membahas masalah kerja. Akan tetapi, walau kedua
variabel dependen tersebut memiliki permasalahan yang sama,
yaitu sama-sama membahas masalah kerja, namun istilah etos
kerja dengan efektifitas kerja memiliki perbedaan makna yang
bearti. Etos kerja bearti semangat kerja sebagai ciri khas suatu
golongan. Adapun efektivitas kerja bearti pelaksanaan kerja yang
dilakukan secara benar, diselesaikan tepat waktu serta
memperoleh hasil dalam jumlah dan kualitas sesuai dengan yang
telah ditetapkan sebelumnya.
c. Penelitian Rachmawati dilakukan untuk mengukur kinerja guru.
Hal ini senafas dengan penelitian peneliti yang bertujuan untuk
mengukur efektivitas kerja guru. Perbedaanya adalah,
Rachmawati mengukur etos kerja guru SMP Negeri 48 Palembang
sumatera Selatan, sedangkan penelitian peneliti dilakukan untuk
mengukur efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda,
Kalimantan Timur. Hal ini menjelaskan bahwa jenjang satuan
pendidikan sebagai tempat tugas guru dan wilyahnya berbeda.
95
3. Arini Yulianita, “Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Motivasi terha-
dap Kinerja Karyawan CV Cipta Nusa Sidoarjo”.130
Hasil penelitian Yulianita menunjukkan bahwa gaya kepemim-
pinan dan motivasi kerja berpengaruh secara simultan terhadap
kinerja karyawan dengan nilai Fhitung sebesar 163.208 dengan Ftabel
2.64. Begitu juga secara parsial, gaya kepemimpinan berpengaruh
terhadap kinerja karyawan dengan nilai thit sebesar 12.504 dan nilai
ttab 1.68. Adapun pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja karyawan
dengan nilai thitung sebesar 9.308.
Penelitian Yulianita ini, melibatkan 2 variabel independen yaitu
gaya kepemimpinan dan motivasi kerja karyawan serta melibatkan 1
variabel dependen, yaitu kinerja karyawan.
Berdasarkan 2 varaibel independen dan 1 variabel dependen
penelitian Yulianita tersebut diatas, dapatlah diselidiki persamaan
dan perbedaan dengan penelitian peneliti, yaitu:
a. Penelitian Yulianita hanya terdiri dari 2 variabel independen, yaitu
gaya kepemimpinan dan motivasi kerja. Dua variabel independen
pada penelitian Yulianita tersebut juga berkedudukan sebagai
variabel independen dalam penelitian peneliti. Dalam penelitian
peniliti, terdapat tiga variabel independen, hal ini mengisyaratkan
bahwa terdapat 1 variabel independen dalam penelitian peneliti
130 Arini Yulianita, “Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja terhadap
Kinerja Karyawan CV Cipta Nusa Sidoarjo”, Skripsi, Universitas Muhammadiyah,
Sidoarjo, 2017, h. 96.
96
yang tidak terdapat dalam variabel independen dalam penelitian
Yulianita, yaitu variabel kompetensi profesional.
b. Penelitian Yulianita variabel depennya berbunyi kinerja karyawan.
Hal ini terdapat relevansi dengan variabel dependen pada
penelitian peniliti yang berbunyi efektivitas kerja guru, karena
sama-sama membahas masalah kerja.
Walaupun kedua variabel dependen tersebut memiliki pokok
permasalahan yang sama, yaitu sama-sama masalah kerja,
namun istilah kinerja dan efektivitas kerja memiliki perbedaan
makna yang bearti. Kinerja bearti penampilan kerja, pelaksanaan
kerja yang dilakukan secara benar. Adapun efektivitas kerja bearti
pelaksanaan kerja yang dilakukan secara benar, diselesaikan
tepat waktu serta memperoleh hasil dalam jumlah dan kualitas
sesuai dengan yang telah ditetapkan sebelumnya.
c. Penelitian yulianita dilakukan untuk mengukur kinerja karyawan.
Hal ini senafas dengan penelitian peneliti yang bertujuan untuk
mengukur efektivitas kerja guru, karena sama-sama mengukur
masalah kerja. Perbedaanya adalah, Yulianita mengukur kinerja
karyawan yang memproduksi bahan makanan yang tidak
berhubungan dengan inteligenci dan moral, sedangkan penelitian
peneliti dilakukan untuk mengukur efektivitas kerja guru yang
mencerdaskan peserta didik SMK Negeri di Kota Samarinda,
97
Kalimantan Timur. Hal ini menjelaskan bahwa subyek penelitian,
lembaga penelitian dan wilyahnya berbeda.
4. Nurhafifah “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Budaya
Sekolah dan Kinerja Guru terhadap Efektivitas Sekolah di SMA
Negeri Kabupaten Pringsewu”.131
Hasil penelitian Nurhafifah menunjukkan bahwa: a) kepemim-
pinan kepala sekolah berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru;
b) Budaya sekolah berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru; c)
Ada hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan budaya
sekolah; d) Kepemimpinan kepala sekolah berpe-ngaruh langsung
terhadap efektivitas sekolah; e) Budaya sekolah berpengaruh lang-
sung terhadap efektivitas sekolah; f) Kinerja guru berpengaruh
langsung terhadap efektivitas sekolah.
Penelitian Nurhafifah ini, melibatkan 3 variabel independen
yaitu gaya kepemimpinan, budaya sekolah dan kinerja guru. Selain
itu, penelitian ini juga melibatkan 1 variabel dependen, yaitu efekti-
vvitas sekolah.
Berdasarkan bunyi 3 varaibel independen dan 1 variabel
dependen penelitian Nurhafifah tersebut diatas, dapatlah diselidiki
persamaan dan perbedaan dengan penelitian peneliti, yaitu:
131 Nurhafifah, “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Budaya Sekolah, dan
Kinerja Guru terhadap Efektivitas Sekolah di SMA Negeri Kabupaten Pringsewu”, Tesis,
Universitas Lampung Bandar Lampung, 2016, h. 136.
98
a. Penelitian Rahmawati terdiri dari 3 variabel independen, yaitu
kepemimpinan, budaya sekolah dan kinerj guru. 1 dari 3 variabel
independen tersebut, yaitu kepemimpinan kepala sekolah
berkedudukan sebagai variabel independen dalam penelitian
peneliti. Hal ini mengisyaratkan bahwa terdapat 2 variabel
independen dalam penelitian Nurhafifah yang tidak terdapat dalam
penelitian peneliti, yaitu budaya sekolah dan kinerja guru. Begitu
juga dalam penelitian peneliti, terdapat 2 variabel independen
yang tidak terdapat dalam penelitian Nurhafifah, yaitu variabel
kompetensi profesional dan motivasi kerja.
b. Penelitian Nurhafifah variabel depennya berbunyi efektivitas
sekolah. Hal ini terdapat relevansi dengan variabel dependen
pada penelitian peniliti yang berbunyi efektivitas kerja guru, karena
sama-sama membahas masalah efektivitas. Walau demikian,
namun terdapat perbedaaan yang mendasar, karena efektivitas
sekolah subyeknya adalah sekolah, sedangkan efektivitas kerja
guru, subyeknya adalah guru.
Perbedaan yang lain adalah lembaga dan lokasi penelitian,
Nurhafifah meneliti efektivitas sekolah di SMA Negeri Kabupaten
Pringsewu, sedangkan peneliti meneliti guru SMK Negeri di Kota
Samarinda. Hal ini menjelaskan bahwa jenis satuan pendidikan
dan lokasi penelitian adalah berbeda.
99
Berdasarkan kajian terhadap sejumlah hasil penelitian tersebut
diatas dapat diketahui bahwa terdapat beberapa kesamaan dan
perbedaan yang mendasar antara penelitian terdahulu dengan
penelitian peneliti yang berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan
Kepala Sekolah, Kompetensi Profesional dan Motivasi Kerja Guru
terhadap Efektivitas Kerja Guru SMK Negeri di Kota Samarinda”.
F. Kerangka Teoritik
Sekolah merupakan lembaga tempat pendidikan anak agar
menjadi manusia seutuhnya, cerdas, beriman sehat jasmani dan
rohani. Kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi dalam lembaga
pendidikan tersebut harus mampu berinteraksi dan menerapkan
kebijakannya dengan ciri khasnya terutama terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan guru.
1. Hubungan Gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Efektivitas
Kerja Guru
Keberhasilan tujuan pendidikan di sekolah antara lain ditandai
adanya efektivitas kerja guru di sekolah. Agar guru mencapai
efektivitas kerja, maka kepala sekolah hendaknya berupaya untuk
menerapkan fungsinya sebagai pempin yang mengarah pada
perbaikan dan peningkatan kinerja guru di sekolah. Karena diantara
tugas pemimpin adalah berupaya mendorong gairah kerja karyawan.
Hal itu dinyatakan oleh Hasibuan, “... gaya kepemimpinan pada
hakikatnya bertujuan untuk mendorong gairah kerja, kepuasan kerja,
100
dan produktivitas kerja karyawan yang tinggi, agar dapat mencapai
tujuan organisasi yang maksimal”.132
Kepala sekolah yang mampu menerapakan gaya kepemimpi-
nan guna meningkatkan gairah kerja guru, maka terjadilah efektivi-
tas kerja guru. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang kuat antara kepala sekolah dan efektivitas kerja guru di
sekolah.
2. Hubungan Kompetensi Profesional dengan Efektivitas Kerja Guru
Kompetensi profesional merupakan penguasaan pengeta-
huan, keterampilan dan perilaku guru terhadap mata pelajaran yang
diampu. Kompetensi tersebut wajib dikuasai oleh guru dalam rangka
mewujudkan efektivitas pengajaran di sekolah. Tanpa adanya
profesionalisme, adalah mustahil seorang guru dapat melaksanakan
pengajaran yang berkualitas.
Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 mengisyaratkan bahwa
kompetensi profesional merupakan salah satu dari 4 kompetensi
yang harus dimiliki oleh guru dalam rangka mewujudkan tujuan
pendidikan Nasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa kompetensi
profesional memiliki keterkaitan yang kuat dengan efektivitas kerja
guru.
132 Hasibuan Malayu S.P., [Link]., h. 170.
101
3. Hubungan Motivasi Kerja dengan Efektivitas Kerja Guru
Motivasi dimaknai sebagai suatu dorongan, keinginan, gairah
atau semangat kerja. Motivasi kerja adalah mutlak dibutuhkan bagi
seorang guru untuk mewujudkan efektivitas pengajaran di sekolah.
Adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi/berhasil suatu perbuatan
tanpa didasari oleh motivasi. Dalam kenyataanya hampir semua
keberhasilan karena didukung oleh motivasi. Orang Arab
mengemukakan “( ”من يجتهد بنجحbarang siapa yang bersungguh-
sungguh niscaya berhasil). Jadi keberhasilan kerja dengan motivasi
merupakan satu kesatuan yang tak mungkin dapat dipisahkan.
4. Hubungan Gaya kepemimpinan Kepala Sekolah, Kompetensi
Profesional dan Motivasi Kerja dengan Efektivitas Kerja Guru
Efektivitas kerja guru di sekolah bukan suatu hal yang terjadi
begitu saja, melainkan karena didasari oleh suatu sebab yang
mendahuli sebelumnya. Efektivitas kerja guru terjadi karena suatu
akibat dari dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal guru.
Dua faktor internal yang berhubungan dengan efektivitas kerja
adalah adanya keahlian dan motivasi kerja yang dimiliki oleh guru.
Seorang guru dengan kemampuan keahlian yang mumpuni dan
memiliki semangat kerja yang tinggi niscaya ketercapaian kerja
diperoleh. Selain itu, seorang guru dalam melaksanakan tugas
pengajaran tidaklah berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh faktor
eksternal guru, yaitu guru bekerja dibawah komando kepala sekolah
102
sebagai pimpinannya. Melalui kepala sekolah, guru melakukan
tugasnya dengan baik apa bila ia mendapat dukungan dari kepala
sekolah dalam berbagai hal, misal peningkatan kemampuan
pengajaran, keamanan dan kenyamanan kerja melalui pengaturan
lingkungan dan suasana sekolah.
Berdasarkan deskripsi tersebut di atas, dengan jelas bahwa
kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi profesional dan motivasi
kerja, memiliki hubungan yang sangat erat dengan efektivitas kerja
guru.
Gambar 2.1 Skema Kerangka Teoritik
G. Hipotesis Penelitian
1. Terdapat pengaruh yang signifikan gaya kepemimpinan kepala
sekolah terhadap efektivitas kerja guru SMK Negeri di kota
Samarinda.
103
2. Terdapat pengaruh yang signifikan kompetensi profesional terhadap
efektivitas kerja guru SMK Negeri di kota Samarinda.
3. Terdapat pengaruh yang signifikan motivasi kerja terhadap efekti-
vitas kerja guru SMK Negeri di kota Samarinda.
4. Terdapat pengaruh yang signifikan gaya kepemimpinan kepala
sekolah, kompetensi profesional dan motivasi kerja secara bersama-
sama terhadap efektivitas kerja.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan, Metode dan Desain Penelitian
Peneltian ini digunakan pendekatan kuantitatif karena permas-
alahan yang menjadi titik tolak penelitian sudah jelas dan peneliti ingin
mendapatkan data yang akurat berdasarkan fenomena yang empiris
dan terukur.1 Metode yang digunakan adalah survei karena data yang
dipelajari adalah data sampel yang diambil dari populasi.2 Selanjutnya
desain yang digunakan adalah kausal untuk menganalisis suatu
variabel mempengaruhi variabel lainny.3 Desain kausal dalam penelitian
ini digambarkan dengan skema berikut:
Gaya
Kepemimpinan
Kepala Sekolah
(X1)
Kompetensi
Profesional Efektivitas Kerja
(x2) Guru (Y)
Motivasi Kerja (X3)
Gambar 3.1. Desain Variabel Penelitian X1, X2, X3 terhadap Y
1
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Cet. Ke 18, (Ban-
dung: Alfabeta, 2013), h. 23-24.
2 Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2003) h. 7.
3 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif ... ., [Link] (Bandung: Alfabeta, 2009),
h. 73.
104
105
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian
Menurut Margono “Populasi adalah seluruh data yang menjadi
perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita
tentukan. Jadi, populasi berhubungan dengan data, bukan manusi-
anya”.4
Terdapat dua konsep populasi, yaitu populasi target dan
populasi terjangkau. Populasi target adalah keseluruhan entias yang
diidentifikasi sebagai representasi sesuatu yang akan diselidiki
dalam penelitian. Sedangkan populasi terjangkau adalah bagian
populasi yang dapat dijangkau oleh peneliti untuk diambil
sampelnya.5
Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah guru Negeri
pada satu SMK Negeri untuk setiap kecamatan yang ada di Kota
Samarinda.
Berdasarkan hasil survei terhadap 9 kecamatan yang ada di
Kota samarinda, didapati hanya 7 kecamatan yang memiliki SMK
Negeri. Dan terdapat beberapa kecamatan yang memiliki lebih dari
satu SMK Negeri, untuk ini peneliti memelih SMK Negeri tertentu
dengan cara acak.
4 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Cet. 8 (Jakarta, Rineka Cipta:
2010), h. 118.
5 Susilo, Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Poliyama Widya Pustaka, 2009), h. 73.
106
Berikut jumlah guru Negeri pada tujuh SMK Negeri di Kota
Samarinda:
Tabel 3.1 Daftar Jumlah Guru Negeri pada 7 SMK Negeri di Kota
Samarinda
No Nama SMK Jumlah Guru Kecamatan
1 SMK Negeri 7 30 Kecamatan Samarinda Kota
2 SMK Negeri 11 16 Kecamatan Palaran
3 SMK Negeri 12 18 Kecamatan Sungai Kunjang
4 SMK Negeri 14 21 Kecamatan Loajanan Ilir
5 SMK Negeri 16 12 Kecamatan Samarinda Utara
6 SMK Negeri 17 12 Kecamatan Samarinda Ulu
7 SMK Negeri 20 15 Kecamatan Sambutan
Jumlah 124 7
2. Sampel Penelitian
Sampel merupakan representasi dari keberadaan populasi
penelitian. Menurut Sugiyono “Sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”.6
Adapun teknik pengambilan sampel adalah suatu cara
memilih sampel untuk studi tertentu. 7 Teknik pengambilan sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah cluster sampling, yaitu
6 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, [Link]., (Bandung: Alfabeta, 2013), h.
81.
7 Sarwono J, Buku Pintar IBM SPSS Statistics 19, (Jakarta: PT Elex Media
Komputindo, 2006), h. 112.
107
teknik pengambilan sampel berdasarkan kelompok, daerah yang
secara alami berkumpul bersama.8
Guna mendapatkan jumlah sampel guru pada tujuh sekolah,
digunakan rumus Slovin:9
𝑁
𝑛=
𝑁 (𝑒)2 + 1
Keterangan
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
e = error term (0,05)
Hasil perolehan samplel adalah:
124
𝑛 = 124(0,05)2+1 = 94.65648855, ≈ 95.
Selanjutnya teknik pengambilan sampel guru untuk setiap
sekolah digunakan proportional cluster randem sampling, yaitu
teknik pengambilan subyek dari setiap strata atau setiap wilayah
ditentu-kan seimbang dan sebanding dengan banyaknya subyek
dalam masing-masing strata atau wilayah.10
Perhitungan sampel setiap sekolah dilakukan dengan
menggunakan rumus Slovin sebagai berikut:11
8 Jonathan Sarwono, Buku Pintar IBM SPSS Statistik 19, (Jakarta, PT Elex Media
Komputindo, 2006), h. 112.
9Husein Umar, Riset Sumber Daya Manusia dalam Organisasi, (Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Umum, 2003), h. 146.
10 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Edisi
Revisi v, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), h. 116.
11 Husein Umar, Loc. Cit..
108
𝑛
𝑁= 𝑋𝑛
𝑆
Keterangan:
𝑁 : jumlah sampel tiap sekolah
𝑛 : jumlah populasi tiap sekolah
𝑆 : jumlah total populasi di semua sekolah
𝑥𝑛 : sampel semua sekolah
Hasil sampel guru untuk masing-masing sekolah adalah
sebagai berikut:
Tabel 3.2 Sampel Guru setiap Sekolah
No Nama Sekolah Jumlah Guru Jumlah Sampel
30
1 SMK Negeri 7 30 𝑥 95 = 23
124
16
2 SMK Negeri 11 16 𝑥 95 = 12
124
18
3 SMK Negeri 12 18 x 95 = 14
124
21
4 SMK Negeri 14 21 x 95 = 16
124
12
5 SMK Negeri 16 12 x 95 = 9
124
12
6 SMK Negeri 17 12 x 95 = 9
124
15
7 SMK Negeri 20 15 x 95 = 12
124
JUMLAH 124 95
Bedasarkan perolehan sampel guru untuk setiap sekolah
tersebut, kemudian sampling dilakukan dengan cara acak untuk
menetapkan guru sebagai subyek penelitian.
109
C. Variabel Penelitian
Menurut Sugiono, Variabel penelitian adalah segala sesuatu
yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya.12
Dalam penelitian ini terdapat sejumlah variabel yang yang secara
teoritis terdiri tiga variabel bebas sebagai variabel pengaruh dan satu
variabel terikat sebagai variabel yang dipengaruhi.
X1
X2 Y
X3
Gambar 3.2 Skema variabel Penelitian
Keterangan:
X1 = variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah
X2 = variabel kompetensi professional
X3 = variabel motivasi kerja
Y = variabel efektivitas kerja guru
D. Teknik Pengumpulan Data
Guna memperoleh data utama, peniliti menyerahkan keusioner
kepada guru sebagai subyek penelitian yang berisi pernyataan untuk
12
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif... , [Link]. h. 38.
110
dijawab responden. Kata Sugiyono, “Kuesioner merupakan teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat
pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk
dijawabnya”.13
Angket ini digunakan untuk mendapatkan data melalui panda-
ngan atau sikap responden terhadap gaya kepemimpinan kepala
sekolah, kompetensi profesional, motivasi kerja dan efektivitas kerja
guru dengan menggunakan skala lima dengan alternatif jawababn a)
sangat setuju; b) setuju; c) netral; d) tidak setuju; dan e) sangat tidak
setuju.
Alternatif bobot jawaban untuk pernyataan positif adalah a) 5; b) 4; c)
3; d) 2; dan e) 1. Adapun alternatif bobot jawaban untuk pernyataan
negatif adalah a) 1; b) 2; c) 3; d) 4; dan d) 5.
Sebagai tindak lanjut dari hasil temuan penelitian, peneliti
mewancarai beberapa responden untuk mendapatkan informasi lebih
mendalam tentang sebab-sebab timbulnya gejala hasil hasil temuan
dan solusi yang ditawarkan sebagai perbaikan.
E. Devinisi Konseptual dan Devinisi Operasional Variabel Penelitian
1. Devinisi Konseptual Variabel Penelitian
a. Devinisi Konseptual Efektivitas Kerja Guru
Efektivitas kerja guru adalah ketercapaian hasil kerja guru
yang dilakukan dengan benar dan diselesaikan tepat waktu.
13 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif... , [Link]., h. 142.
111
b. Devinisi Konseptual Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
Gaya kepemimpinan kepala sekolah adalah karakteristik
individu kepala sekolah dan jenis kepemimpinan yang digunakan
agar bawahan melaksanakan pekerjaan sesuai tugas dan
jabatannya di sekolah.
c. Devinisi Konseptual Kompetensi Profesional
kompetensi profsional guru adalah seperangkat kemam-
puan bidang pengajaran yang harus dimiliki oleh guru.
d. Devinisi Konseptual Motivsi Kerja
Motivasi kerja adalah hasrat, keinginan, kegairahan dan
kegigihan seorang guru dalam melaksanakan tugas pokoknya di
sekolah.
2. Devinisi Operasional Variabel Penelitian
a. Devinisi Operasional Efektivitas Kerja Guru
Efektivitas kerja guru adalah keterlaksanaan indikator
penilaian kinerja guru mata pelajaran yang meliputi perencanaan
pembelajaran, pelaksanan proses pembelajaran dan penilaian
hasil belajar siswa.
b. Devinisi Operasional Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
Gaya kepemimpinan kepala sekolah adalah persepsi guru
terhadap sifat dan jenis kepemimpinan yang digunakan oleh
kepala sekolah dalam mempengaruhi guru agar melaksanakan
tugas pengajaran di sekolah.
112
c. Devinisi Operasional Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional adalah seperangkat kemampuan
guru terhadap bidang pengajaran di sekolah yang meliputi
penguasaan terhadap materi, struktur, konsep dan pola pikir
keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu dan
mengembangkan keprofesian melalui tindakan reflektif.
d. Devinisi Operasional Motivasi Kerja
Motivasi kerja adalah hasrat, gairah dan kegigihan guru
dalam menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan proses
pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran. Motivasi kerja guru
diukur melalui dimensi motivasi internal dan dimensi motivasi
eksternal.
F. Kisi-kisi Instrumen Penelitian
1. Kisi-Kisi Instrumen Efektivitas Kerja Guru
Tabel 3.4 Kisi-Kisi Instrumen Efektivitas kerja Guru
Dimensi Tugas
Indikator Butir
Pokok
Perencanaan 1) Guru menyusun bahan 1. Melakukan analisis kuri-
Pembelajaran ajar secara runut, logis, kulum/ silabus untuk me-
konstektual dan ngetahui jenis sumber
mutakhir belajar yang dibutuhkan
2 Melakukan analisis sum-
ber belajar berdasarkan
ketersediaan, kesesuaian
dan kemudahan sumber
tersebut.
113
Dimensi Tugas
Indikator Butir
Pokok
3. Membuat struktur bahan
ajar secara praktis.
2) Guru merencanakan 4. Melakukan penyusunan
kegiatan pembelaja- program tahunan dan pro-
ran yang efektif gram semester
5. Melakukan penyusunan
rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP)
6. Melakukan pemilihan
metode yang tepat untuk
pembelajaran
7. Melakukan persiapan
dan memperdalam mate-
ri pelajaran
8. Merencanakan strategi
pembelajaran.
3) Guru memulai pem- 9. Guru menata ruang pem-
belajaran belajaran, menata duduk-
nya siswa dan meminta
agar siswa mengeluarkan
buku pelajaran.
10. Guru menyinggung pem-
bahasan materi sebelum-
nya dan menghubung-
kan dengan materi yang
sedang dipelajari
11. Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran dan kom-
petensi yang harus diku-
asai
114
Dimensi Tugas
Indikator Butir
Pokok
4) Guru menguasai ma- 12. Mengorganisasikan se-
teri pelajaran cara sistematis materi
pelajaran
13. Menghubungkan materi
pelajaran dengan pe-
ngetahuan yang dimiliki
siswa dalam pembe-
lajaran
14. Mengaitkan materi pela-
jaran dalam pembela-
jaran dengan kenyataan
faktual
15. Menyampaikan pemba-
hasan materi pelajaran
secara luas dan menda-
lam
5) Guru menerapkan 16. Menerapkan model pem-
pendekatan/strategi belajaran sesuai kemam-
pembelajaran yang puan dan karakteristik
efektif siswa
17. Menerapakan metode
pembelajaran sesuai ka-
rakter materi dan tujuan
pembelajaran
18. Pembelajaran yang
menarik bagi siswa
6) Guru memicu dan/atau 19. Menerapkan berabagai
memelihara ketertiban strategi agar siswa ber-
siswa dalam pembelaja- peran aktif dalam pem-
ran belajaran
115
Dimensi Tugas
Indikator Butir
Pokok
20. Menerapkan berbagai
strategi agar suasana
dan ketertiban pembela-
jaran terjaga
7) Guru mengakhiri 21. Memberi umpan balik
[Link] kepada siswa tentang
efektif kompetensi yang telah
dibahas
22. Menyimpulkan kompe-
tensi yang telah dibahas
23. Menginformasikan
kepada siswa tentang
rencana pembelajaran
selanjutnya
Penilaian Hasil 8) Guru merancang alat 24. Melakukan penyusunan
Pembelajaran evaluasi untuk alat penilaian hasil
mengukur kemajuan belajar siswa
dan kberhasilan 25. Melakukan penyusunan
belajar peserta didik. program evaluasi hasil
pembelajaran
26. Melakukan penyusunan
program perbaikan dan
pengayaan
9) Guru menggunakan 27. Memiliki buku catatan pe-
berbagai strategi dan nilaian hasil belajar siswa
metode penilaian 28. Melakukan penilaian
untuk memantau dengan berbagai teknik
kemajuan dan hasil dan metode penilaian.
belajar peserta didik. 29. Melakukan penilaian
disetiap selesai satu
standar kompetensi
116
Dimensi Tugas
Indikator Butir
Pokok
10) Guru memanfaatkan 30. Melakukan analisis nilai
hasil penilaian unuk hasil belajar siswa untuk
memberikan umpan mengidentifikasi materi
balik bagi peserta yang sudah & belum di-
didik tentang belajar- kua-sai siswa
nya dan bahan pe- 31. Menyampaikan hasil be-
nyusunan rancangan lajar siswa untuk dilaku-
pembelajaran selan- kan perbaikan dan penga-
jutnya. yaan
32. Memanfaatkan nilai hasil
belajar siswa sebagai ba-
han rancangan pembela-
jaran selanjutnya
2. Kisi-Kisi Instrumen Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
Tabel 3.4 Kisi-Kisi Instrumen Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
1. Sifat Gaya Kepemimpinan
Sifat Gaya Kepemimpinan
Indikator
Rasulullah
1. Keteladanan 1. Ramah dan pemurah
2. Taat beribadah
3. Mengutamakan persaudaraan dan
persatuan
2. Benar dan terpercaya 4. Perkataan sesuai dengan perbuatan
5. Tidak memanfaatkan organisasi untuk
kepentingan individunya
6. Tidak mengurangi hak guru
7. Tidak semena-mena dalam membuat
kebijakan
117
1. Sifat Gaya Kepemimpinan
3. Terbuka 8. Terbuka masalah anggaran pendapatan
dan belanja sekolah
9. Mengajarkan kedisiplinan, kejujuran,
ketangguhan dan kesabaran dalam
bekerja.
4. Berkompeten 10. Berilmu dan berwawasan luas serta
mendalam
11. Mampu mengatasi masalah dengan
cepat dan bijak
B. Jenis Gaya Kepemimpinan
Bentuk Gaya Kepemimpi-
Indikator
nan Path Goal
1. Jenis kepemimpinan 12 Merinci instruksi tugas yang diberikan
direktif kepada guru
13. Menjelaskan tekinis pelaksanaan tugas/
jabatan
14. Menjelaskan hasil pekerjaan yang diha-
rapkan-nya
15. Membimbing guru dalam menyelesaikan
pekerjaan
2. Jenis kepemimpinan 16. Menciptakan hubungan yang harmonis
suportif antar guru/pegawai
17. Memberi pelayanan yang memuaskan
terhadap kebutuhan guru untuk melak-
sanakan dan menyelesaikan pekerjaan.
18. Pelayanan kebutuhan guru tidak rumit
19. Menyediakan perlengkapan kerja/
mengajar yang dibu-tuhkan guru
3. Jenis kepemimpinan 20. Menghargai pendapat yang disampaiakan
partisipatif oleh guru
118
B. Jenis Gaya Kepemimpinan
21. Melibatkan guru dalam mengatasi per-
soalan yang timbul dalam sekolah.
22. Meminta pendapat dari guru sebelum me-
ngam-bil keputusan/ kebijakan
23. Ikut menjalankan tata tertib sekolah
4. Jenis kepemimpinan 24. Mendukung/mendorong/ membantu guru
berorientasi pada untuk meningkatkan profesionalisme
prestasi 25. Mendorong/membantu agar guru bekerja
dengan kualitas yang tinggi
26. Menggunakan slogan-slogan untuk mem-
bakar semangat guru mencapai tujuan
sekolah
27. Menjelaskan serangkaian tujuan sekolah
yang harus dikerjakan oleh guru.
28. Memberikan imbalan yang layak atas
beban pekerjaan yang diberikan
3. Kisi-Kisi Instrumen Kompetensi Profesional
Tabel 3.5 Kisi-Kisi Instrumen Kompetensi Profesional
Dimensi Indikator Butir
1. Menguasai 1. Guru memetakan 1. Guru menyusun program
materi, struk- standar kompetensi tahunan dan program se-
tur, konsep, dan kompetensi da- mester mata pembelajaran
dan pola pikir sar mata pelajaran, 2. Guru menelaah konsep yang
keilmuan mengidentifikasi ma- dianggap sulit dari materi pe-
yang mendu- teri yang dianggap lajaran
kung mata sulit, merencanakan 3. Guru menyusun RPP de-
pelajaran dan melaksanakan ngan mengemabangkan pe-
yang diampu. pembelajaran. mikiran keilmuan yang dimi-
liki
119
Dimensi Indikator Butir
4. Guru melakukan pembela-
jaran dengan menggunakan
strategi jitu untuk mencipta-
kan pembe-lajaran yang
menarik
2. Guru menyertakan 5. Guru menyusun materi pem-
informasi yang tepat belajaran sesuai kemampu-
dan kekinian dalam an siswa agar mudah me-
rencana dan pelak- mahami materi pelajaran
sanaan pembelaja- 6. Guru merencanakan stra-
ran. tegi pembelajaran yang te-
pat agar siswa mudah me-
mahami materi pelajaran
3. Guru menyusun ma- 7. Guru mengutamakan aktivi-
teri, merencanakan tas pembelajaran pada as-
dan melaksanakan pek-aspek pokok dan pen-
pembelajaran yang ting dari materi pelaja-ran
berisi informasi yang 8. Guru membimbing siswa
tepat, mutakhir, yang untuk memahami materi
membantu peserta pelajaran
didik untuk memaha-
mi konsep materi
pembelajaran.
2. Mengem- 4. Guru melakukan 9. Guru melakukan evaluasi diri
bangkan ke- evaluasi diri yang untuk menemukan kelema-
profesian me- didukung contoh han dan kekurangan pem-
lalui tindakan pengalaman diri belajaran yang ia lakukan
reflektif. sendiri
10. Guru memiliki bukti cata-
tan evaluasi diri hasil
pembelajaraan
120
Dimensi Indikator Butir
11. Guru menemukan kelema-
han dan kekurangan da-
lam pembelajaran yang ia
lakukan.
5. Guru memiliki jurnal 12. Guru memiliki jurnal pem-
pembelajaran, cata- belajaran.
tan masukan dari 13. Guru mencatat setiap se-
teman gambaran lesai. pelaksanaan pem-
kinerjanya belajaran ke dalam jurnal
yang ia miliki.
14. Guru memiliki catatan dari
teman sejawat/ kepala se-
kolah tentang kelemahan-
nya dalam melaksanakan
proses pembelajaran.
6. Guru memanfaat- 15. Setelah dilakukan penilai-
kan bukti gambaran an kinerja, guru berusaha
kinerjanya untuk memperbaiki dan mengem-
mengembangkan bangkan perencanaan
perencanaan dan pembelajaran.
pelaksanaan pem- 16. Catatan tentang kekura-
belajaran selanjut- ngan kinerja, guru meng-
nya dalam program gunakan untuk perbaikan
pengembangan ke- pelaksanaan pembelaja-
profesian berkelan- ran berikutnya
jutan (PKB). 17. Setelah dilakukan penilaian
kinerja, guru tertarik dan
berinisiatif melakukan pene-
litian tindakan kelas/mem-
buat karya inovasi pembela-
jaran
121
Dimensi Indikator Butir
7. Guru dapat melaku- 18. Guru memiliki bukti lapo-
kan penelitian, me- ran hasil penelitian tinda-
ngembangkan karya kan kelas/karya inovasi
inovasi, mengikuti pemebalajaran.
kegiatan ilmiah dan 19. Guru dapat melakukan pe-
aktif dalam pelaksa- nelitian/ pembuatan karya
naan PKB inovasi pembelajaran.
20. Guru sering mengikuti ke-
giatan pendidikan dan pe-
latihan serta aktif dalam
MGMP.
8. Guru dapat meng- 21. Hasil dari PTK/Diklat, guru
aplikasikan penga- menerapkan dalam peren-
laman PKB dalam canaan dan pelaksaan
perencanaan, pe- proses pembe-lajaran.
laksanaan, penilai- 22. Hasil dari PTK/ karya ino-
an pembelajaran. vasi/ pendidikan dan pela-
dan tindak lanjut- tihan, guru merapkan da-
nya. lam me-lakukan penilaian
dan eva-luasi hasil belajar
siswa.
23. Guru melakukan program
perbaikan terhadap siswa
yang gagal belajar dan me-
lakukan pengayaan terha-
dap siswa yang pandai
9. Guru dapat meman- 24. Guru menggunakan inter-
faatkan TIK dalam net untuk mencari informa-
berkomunikasi dan si baru tentang pendidikan.
pelaksanaan PKB.
122
Dimensi Indikator Butir
25. Guru menggunakan internet
untuk mendapat pengeta-
huan penelitain pendidikan/
karya inovasi pembelajaran.
4. Kisi-Kisi Instrumen Motivasi Kerja Guru
Tabel 3.6 Kisi-Kisi Instrumen Motivasi Kerja Guru
Dimensi Indikator Butir
1. Motivasi 1. Tanggung 1. Bertanggung jawab sebagi penga-
internal ja-wab guru jar, pembimbing dan pengad-
dalam me- ministerasi belajar siswa.
laksanakan 2. Bertanggung jawab dalam meren-
tugas. canakan dan melaksanakan pe-
ngajaran.
3 Memberi bantuan dalam meme-
cahkan masalah yang dihadapi
siswa.
4. Merencanakan kegiatan belajar
siswa dalam mencapai pertumbu-
han dan perkembangan yang di-
inginkan.
5.. Melakukan pembinaan kepribadi-
an, watak dan jasmaniah siswa.
2. Melaksana- 6. Mengerahkan tenaga, waktu dan
nakan tugas pikiran agar siswa mampu mema-
dengan tar- hami secara mendalam pelajaran
get yang je- yang disampaikan.
las.
123
Dimensi Indikator Butir
7. Menyelidiki sebab-sebab terjadinya
penyimpangan yang dilakukan sis-
wa dalam pembelajaran dan beru-
saha membantu untuk mengatasi-
nya
8. Melakukan evaluasi diri untuk me-
ngetahui kelemahan dalam mela-
kukan tugas pembelajaran dan
memperbaikinya.
.3. Ada umpan ba- 9 Menyampaikan hasil penilaian
lik atas hasil pe- pembelajaran kepada siswa
kerjaan. 10. Memberi tahu kesalahan siswa
dalam menjawab soal yang dibe-
rikan
4. Memiliki pera- 11. Berantusias dalam melakukan
saan senang pekerjaan walau menemui kon-
dalam bekerja. disi sulit
12. optimistis selalu fokus mencari
solusi dari tiap masalah. Ia tidak
mau menghabiskan energi men-
cari-cari penyebab masalah atau
orang untuk dijadikan kambing
hitam.
13. Kreatif dan antusias dalam rapat
menyampaikan ide-ide baru un-
tuk memberikan output yang lebih
optimal dan menyegarkan.
5. Mengutamakan 14. Menyenangi pekerjaan
prestasi kerja 15. Mentaati peraturan
16. Kreatif dan gigih dalam
menyelesaikan pekerjaan
124
Dimensi Indikator Butir
2. Motivasi 1. Berusaha me- 17. Berja keras untuk memenuhi ke-
eksternal menuhi kebutu- butuhan hidup diri sendiri dan/ k-
han hidup dan eluarga.
kebutuhan ker- 18. Bekerja keras demi masa depan
janya. diri sendiri dan/keluarga
2. Senang mem- 19. Perasaan senang bila memper-
peroleh pujian oleh perhatian dari teman dan
dari apa yang atasan.
dikerjakannya. 20. Bekerja dengan baik agar atasan
dan teman menyu-kainya.
3. Bekerja dengan 21. Sering mendapat tugas tambahan
harapan ingin 22. Berharap mendapat imbalan
memperolah in- yang layak dari tugas tambahan.
sentif.
G. Pengujian Instrumen
Instrumen penelitian ini diujicobakan terhadap 22 responden
guru SMK Negeri 6 Samarinda. SMK Negeri 6 Samarinda ditetapkan
sebagai tempat uji coba instrumen berdasarkan pertimbangan bahwa
sekolah tersebut terletak diantara pinggiran dan pertengahan kota
Samarinda.
Hasil uji coba Instrumen penelitian tersebut perlu dilakukan uji
validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas “… merupakan dukungan bukti
dan teori terhadap penafsiran skor tes sesuai dengan tujuan
125
penggunaan tes. Oleh karena itu, validitas merupakan fundamen paling
dasar dalam mengembangkan dan mengevaluasi suatu tes”.14
Kriteria pengambilan keputusan dalam uji validitas adalah: Jika
sig. ≤ 0,05, berati item instrumen berkorelasi dengan skor total atau
valid. Dan jika sig. > 0,05), bearti item instrumen tidak berkorelasi
dengan skor total atau tidak valid.
Adapun uji reliabilitas dilakukan agar instrumen terpercaya,
sebagaimana pernyataan Suharsimi, “Suatu tes dikatakan memiliki
tingkat kepercayaan yang tinggi apabila tes tersebut dapat memberikan
hasil yang tetap.15
Kriteria uji reliabilitas: Jika nilai Cronbach’s Alpha ≥ 0.60,
maka dinyatakan reliabel. Dan jika nilai Cronbach’s Alpha < 0.60,
maka dinyatakan tidak reliabel.
Setelah dilakukan pengujian validitas dan reliabiltas, hasilnya
adalah:
1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilatas Instrumen Efektivitas Kerja Guru
Instrument efektivitas kerja guru yang diujicobakan ini terdiri
dari 32 butir. Bedasarkan hasil uji validitas, ke-32 butir instrumen
tersebut diperoleh nilai signifikansi lebih kecil dari taraf alpha (sig. <
0,05). Hal ini berarti semua butir instrumen efektivitas kerja guru
14
Djemari Mardapi, Pengukuran Penilaian & dan Evaluasi Pendidikan, Cet. Kesatu,
(Yokyakarta: Nuha Medika 2012), h. 37.
15 Ibid., h. 100.
126
tersebut adalah valid.16 Selanjutnya instrumen tersebut diujicobakan
lagi untuk memperoleh reliabilitas.
Berdasarkan hasil uji reliablitas diperoleh bahwa instrumen
efektivitas kerja guru memiliki nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0.960
> 0,60. Hal ini menunjukkan bahwa instrument efektivitas kerja guru
memiliki reliabiltas.17
2. Hasil Uji Validitas dan Reliabiltas Instrumen Gaya Kepemimpinan
Kepala sekolah
Instrument gaya kepemimpinan kepala sekolah yang
diujicobakan ini terdiri dari 28 item. Bedasarkan hasil uji validitas,
diperoleh bahwa item instrument tersebut memiliki nilai signifikansi
lebih kecil dari taraf alpha (sig. < 0,05), yang berarti semua item
instrumen adalah vaid.18
Berdasarkan hasil uji reliablitas diperoleh bahwa 28 instrumen
gaya kepemimpinan kepala memiliki nilai Cronbach’s Alpha sebesar
0.984 > 0,60. Hal ini menunjukkan bahwa instrument gaya kepemim-
pinan sekolah adalah reliabel.19
16Output Hasil Uji Valoditas Instrumen Variabel Efektivitas Kerja Guru di-Muat
dalam Lampiran.
17 Output Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel Efektivitas Kerja Guru di-Muat
dalam Lampiran.
18 Output Hasil Uji Valoditas Instrumen Variabel Gaya Kepemimpinan Kepala
Sekolah di-Muat dalam Lampiran.
19Output Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel Gaya Kepemimpinan Kepala
Sekolah di-Muat dalam Lampiran.
127
3. Hasil Uji Validitas dan Reliabiltas Instrumen Kompetensi Profesional
Instrument kompetensi profesional yang diujicobakan ini terdiri
dari 25 item. Berdasarkan hasil uji validitas, didapatkan 22 item
instrument yang memiliki nilai sig. lebih kecil dari taraf kritis (sig. <
0,05), yang bearti valid. Sedangkan 3 item instrumen yang lain yaitu
item 20, 24 dan 25 memiliki nilai sig. lebih besar dari taraf kritis (sig.
> 0,05), yang bearti tidak valid. Ke-3 Item instrumen yang tidak valid
tersebut peneliti perbaiki kemudian mengujicobakan kembali hingga
didapatkan instrumen yang shahih. 20 Pengulangan uji coba
instrumen tersebut selain bertujuan untuk mendapatkan validitas,
juga untuk memperoleh reliabilitas instrumen. Dengan demikian
instrumen yang perlu dilakukan uji reliabelitas adalah tetap sebanyak
25 item.
Berdasarkan hasil uji reliablitas diperoleh bahwa instrumen
kompetensi professional memiliki nilai Cronbach’s Alpha sebesar
.968 > 0,60. Hal ini menunjukkan bahwa instrument kompetensi
professional memiliki reliabiltas.21
4. Hasil Uji Validitas dan Reliabiltas Instrumen Motivasi Kerja
Instrument motivasi kerja yang diujicobakan ini sebanyak 22
item. Setelah dilakukan uji validitas, hasilnya terdapat 20 item yang
valid, karena memiliki nilai sig. lebih kecil dari taraf alpha (sig. <
20 Output Hasil Uji Valoditas Instrumen Variabel Kompetensi Profesional di-Muat
dalam Lampiran.
21Output Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel Kompetensi Profesional di-
Muat dalam Lampiran.
128
0,05). Terdapat 2 item instrumen yang tidak valid karena memilki
nilai signifikansi lebih besar dari taraf alpha 0,05 (sig. > 0,05). Dua
item instrumen tersebut adalah item 10 dan item 22. Terhadap dua
item instrumen yang tidak valid tersebut, peneliti memperbaiki,
kemudian mengujicobakan kembali. Hasil pengulangan uji coba
instrumen tersebut kemudian diuji lagi validitasnya, dan hasilnya 22
instrumen tersebut adalah valid. 22 Pengulangan uji coba instrumen
tersebut selain bertujuan untuk mendapatkan validitas, juga untuk
memperoleh reliabilitas instrumen.
Selanjutnya, berdasarkan hasil uji reliablitas instrument
motivasi kerja diperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0.952 >
0,60. Hal ini menunjukkan bahwa instrument motivasi kerja memiliki
reliabiltas.23
H. Analisis Deskriptif
Penelitian ini berjenis kuantitatif, sehingga data perlu dianalisis
melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan statistik deskriptif dan
pendekatan statistik inferensial.24
Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan keadaan
suatu gejala yang telah direkam melalui alat ukur kemudian diolah
22 Output Hasil Uji Valoditas Instrumen Variabel Motivasi Kerja di-Muat dalam
Lampiran.
23 Output Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel Motivasi Kerja di-Muat dalam
Lampiran.
24 Mabadik, “Amang Fahur’s Blog”, Tekinik Analisis Data Kuantitatif, diakses dari:
[Link] pada tanggal
03 Juni 2018.
129
sesuai dengan fungsinya. “Statistika deskriptif berkenaan dengan
deskripsi data misal dari menghitung rata-rata dan varian dari data
mentah, mendeskripsikan menggunakan tabel-tabel atau grafik
sehingga data mentah lebih mudah dibaca dan lebih bermakna”.25
Guna mendeskripsikan data penelitian maka digunakan skala
interval tabel pengkategorian untuk mengetahui kualitas masing-masing
variabel penelitian.
I. Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Sebaran data dikatakan baik jika data tersebut berdistribusi
normal. Untuk menguji kenormalan suatu data digunakan rumus chi-
kuadrat.26
Dalam penelitian ini, untuk menguji kenormalan suatu data
digunakan program SPSS 16.0 for Windows dengan taraf signifikansi
0,05. Kriteria uji yang digunakan adalah apabila Sig. lebih besar dari
nilai kritis 0,05 berarti data berasal dari populasi berdistribusi normal.
Dan apabila Sig. lebih kecil dari nilai kritis 0,05 berarti data berasal
dari populasi berdistribusi tidak normal.
25 Riyanto, “Definisi Statistika Deskriptif dan Statistika Inferensial”, diakses dari:
[Link] [Link], 16 April
2013.
26
Zulkifli Matondang, “Normalitas DataPenelitian Dengan Rumus Chi Kuadrat”, diakses
dari: [Link] pada 2
Januari 2014.
130
2. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskidastisitas adalah pengujian mengenai
sama tidaknya variansi-variansi dua buah atau lebih distribusi. Uji
heteroskidastisitas yang akan digunakan adalah uji gletser terhadap
empat kelompok data untuk mengetahui apakah data dalam variabel
X1, X2, X3, dan 𝑌̂ bersifat homogen atau tidak.
Kriteria uji yang digunakan adalah apa bila nilai signifikansi
lebih besar dari nilai kritis 0,05 berarti data sampel memiliki varian
yang sama. Dan apa bila nilai signifikansi < kritis 0,05 berarti data
sampel memiliki varian yang berbeda.
3. Uji Linieritas
Uji ini digunakan untuk melihat apakah terjadi hubungan yang
linier atau tidak antar variabel. Uji yang digunakan adalah uji Mean-
Test for Linearity menggunakan SPSS. Dua variabel dikatakan
mempunyai hubungan yang linier bila nilai signifikansi pada Linearity
kurang dari 0,05.27
Kriteria pengujiannya adalah kelinieran dipenuhi oleh data bila
angka signifikansi kurang dari 0,05. Angka signifikansi yang lebih
besar dari 0,05 menunjukkan kelinieran tidak dipenuhi.
4. Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas digunakan untuk menguji apakah pada model
regresi ditemukan adanya problem mutikolinearitas atau tidak. Model
27 Dwi Priyatno, SPSS 22 Pengolah Data Terpraktis, Edisi 1, (Yogyakarta: Andi,
2014), h. 40.
131
regresi dalam penelitian ini dapat memenuhi syarat apabila tidak
terjadi multikolinearitas atau tidak terjadi korelasi diantara variabel
bebas. Untuk mengetahui terjadai tidaknya gejala multikolinieritas,
maka dapat dilihat pada “. ... nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan
Tolerance. Apabila nilai VIF berada dibawah 10,00 dan nilai Tole-
rance lebih dari 0,100, maka diambil kesimpulan bahwa model
regresi tersebut tidak terdapat masalah multikolinearitas”.28
J. Analisis Regresi Linier Berganda dan Jenis Alat Uji
1. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda adalah suatu persamaan yang
menggambarkan pengaruh dua atau lebih variabel bebas terhadap
variabel terikat. Persamaan regresi linier berganda adalah sebagai
berikut:
𝑌 = 𝛼 + 𝛽1 𝑋1 + 𝛽2 𝑋2 + 𝛽3 𝑋3 + ᵋ
Keterangan:
𝑌 = efektivitas kerja guru
𝛼 = intersep/konstanta
𝛽1 = koefisien regresi 𝑋1 (gaya kepemimpinan kepala sekolah)
𝛽2 = koefisien regresi X2 (kompetensi profesional)
𝛽3 = koefisien regresi 𝑋3 (motivasi kerja)
𝑋1 = variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah
X2 = variabel kompetensi profesional
28Ibid., h. 103.
132
𝑋3 = variabel motivasi kerja
ᵋ = eror dari model
2. Uji t (Uji Parsial)
Uji ini untuk mengetahui apakah variabel bebas mempunyai
pengaruh sendiri-sendiri atau secara parsial terhadap variabel
terikat. Untuk menguji hipotesis digunakan uji signifikansi. Jika nilai
signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka terima hipotesis satu (H1) dan
menolak hipotesis nol (H0), demikian pula sebaliknya.
3. Uji Uji F (Uji Simultan)
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel
bebas berpengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat.
Untuk menguji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji
signifikansi. Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka tererima
hipotesis satu (H1) dan tolak hipotesis nol (H0), demikian pula
sebaliknya.
4. Koefisien Determinasi Berganda (R2)
Koefisien determinasi berganda digunakan untuk menghitung
kemampuan model regresi dalam menjelaskan perubahan variabel
tergantung akibat variasi variabel bebas. Bila R2 semakin mendekati
1 atau 100% berarti semakin baik model regresi tersebut dalam
menjelaskan variabilitas variabel tergantung.
133
K. Hipotesis Statistik dan Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan dugaan kebenaran yang bersifat semen-
tara. Berdasarkan kajian landasan teori dan kerangka teori yang telah
dibahas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Hipotesis Pertama
H0 : β 1 < 0 = Tidak terdapat pengaruh yang signifikan gaya
kepemimpinan kepala sekolah terhadap efektivitas
kerja guru SMK Negeri di kota Samarinda.
Ha : β 1 > 0 = Terdapat pengaruh yang signifikan gaya
kepemimpinan kepala sekolah terhadap efektivitas
kerja guru SMK Negeri di kota Samarinda.
2. Hipotesis ke-Dua
H0 : β 2 < 0 = Tidak terdapat pengaruh yang signifikan kompe-
tensi profesional terhadap efektivitas kerja guru
SMK Negeri di kota Samarinda.
Ha : β 2 > 0 = Terdapat pengaruh yang signifikan kompetensi
profesional terhadap efektivitas kerja guru SMK
Negeri di kota Samarinda.
3. Hipotesis ke-Tiga
H0 : β 3 < 0 = Tidak terdapat pengaruh yang signifikan motivasi
kerja terhadap efektivitas kerja guru SMK Negeri
di kota Samarinda.
134
Ha : β 3 > 0 = Terdapat pengaruh yang signifikan motivasi kerja
terhadap efektivitas kerja guru SMK Negeri di kota
Samarinda.
4. Hipotesis ke-Empat
H0 : β 4 < 0 = Tidak terdapat pengaruh yang signifikan gaya
kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi profe-
sional dan motivasi kerja secara bersama-sama
terhadap efektivitas kerja.
Ha : β 4 > 0 = Terdapat pengaruh yang signifikan gaya
kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi profe-
sional dan motivasi kerja secara bersama-sama
terhadap efektivitas kerja.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan disajikan deskripsi SMK Negeri di Kota Samarin-
da, waktu dan tempat penelitian, analisis deskriptif, uji asumsi klasik
analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis dilanjutkan pembahasan
hasil analisis data.
A. Deskripsi SMK Negeri di Kota Samarinda
Terdapat 20 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) yang
tersebar pada 7 kecamatan di Kota Samarinda. Setiap SMK Negeri di
Kota samarinda, menyediakan banyak jurusan, sedikitnya 3 jurusan
dan paling banyak 10 jurusan. SMK Negeri yang menyediakan hanya 3
jurusan yaitu SMK Negeri 7 Samarinda yang terletak di Jl. Aminah
Syukur No.82, Sungai Pinang Luar, Kec. Samarinda Kota, Kota Samari-
nda. Adapun sekolah yang menyediakan 10 jurusan yaitu SMK Negeri
2 yang terletak di Jl. A. Wahab Syahranie No.01, Air Hitam, Kec. Sama-
rinda Ulu, Kota Samarinda.
Umumnya antara SMKN yang satu dengan SMKN yang lain
memiliki jurusan yang berbeda, namun beberapa SMKN tetentu
menyediakan jurusan yang sama dengan SMKN yang lain. Jurusan
yang paling banyak tersedia pada SMKN di Kota Samarinda adalah
jurusan Multimedia yang terdapat pada 11 SMK Negeri, jurusan
Akuntansi dan Keuangan Lembaga yang terdapat pada 10 SMK Negeri,
jurusan Teknik Komputer dan Jaringan yang terdapat pada 8 SMK
135
136
Negeri, jurusan Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran yang terdapat
pada 8 SMK Negeri, dan jurusan Teknik Sepeda Motor terdapat pada 5
SMK Negeri. Jurusan lain yang tidak disebut, jumlahnya di bawah 5
dan umumnya jurusan tersebut hanya dimiliki oleh SMKN tertentu
namun tidak dimiliki oleh SMKN yang lain.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini memerlukan waktu kurang lebih satu bulan, yaitu
dari tanggal 2 Januari sampai dengan tanggal 31 Januari 2019. Adapun
penelitian dilakukan pada tujuh SMK Negeri yang terdapat pada 7
kecamatan di Kota Samarinda. Berikut 7 nama SMK Negeri sebagai
lokasi penelitian dan alamatnya:
Tabel 4.1 Daftar 7 SMK Negeri di Kota Samarinda
No Nama Sekolah Alamat Sekolah
1 SMK Negeri 7 Jl. Aminah Syukur No. 82, Kota Samarinda
75117. Telp. 0541-7777769.
2 SMK Negeri 11 Jl. Solo 3, RT 19, Blok B Kelurahan Simpang
Pasir, Kec. Palaran Kota Samarinda. 75243.
Telp. 0541-6213009.
3 SMK Negeri 12 Jl. Ekonomi No. 69, RT. 11 Kel. Loa Buah, Kec.
Sungai Kunjang, Kota samarinda 75130. Telp.
0541-6276164.
4 SMK Negeri 14 Jl. H.A.M.M Rifaddin, Loajanan Ilir, Kota Sama-
rinda. 75391. Telp. 0541-4114936.
5 SMK Negeri 16 Jl. Bengkuring Raya 2 Perumnas Bengkuring,
Sempaja Timur, Kec. Samarinda Utara, Kota
Samarinda 75119. Telp. 0541-7776466
137
No Nama Sekolah Alamat Sekolah
6 SMK Negeri 17 Kadrie Oning RT 17, Air Hitam, Samarinda Ulu,
Kota Samarinda 75124. Telp. 0541-738879.
7 SMK Negeri 20 Jl. Tatako - Sie. Kapih, Sungai Kapih, Kec.
Sambutan, Kota Samarinda 75117. Telp. 0541-
732938.
Sumber Data: Disdikbud Provinsi Kalimantan Timur, 2018.
C. Pengkategorian Variabel Penelitian
Analisis deskriptif ini bertujuan untuk mengetahui kualitas
masing-masing variabel penelitian melalui pengaktegorian dan untuk
mengetahui kualitas butir terntu melalui skala sikap dari variabel peneli-
tian yang bersangkutan.
1. Pengaktegorian Variabel Efektivitas Kerja Guru
Data hasil penelitian variabel efektivitas kerja guru ini, dijaring
melalui angket sebanyak 32 item pernyataan dengan menggunakan
skala 5. Secara teoritik, diperoleh skor minimum 32 sampai skor
maksimum 160, dan secara empirik data menyebar dari yang teren-
dah hingga yang tertinggi.
Guna mengetahui tingkat efektivitas kerja guru, maka dibuat-
lah tabel kategori dengan langkah sebagai berikut:1
a. Nilai Mean = (skor maks + skor minim) /2
= (160 +32) / 2 = 96
1 Saifudin Azwar, "Kelompok Subjek Ini Memiliki Harga Diri yang Rendah"; Kok,
Tahu...? Buletin Psikologi, 1993, No. 2, h. 13-17.
138
b. Nilai Standard Deviasi (SD) = jangkauan / 6
= 128/6 = 21.
c. Kategori Sangat Rendah = X < M - 1,5SD
= X < 96 - 1,5 x 21
= X < 96 - 31,5
= X < 64,5
d. Kategori Rendah = M - 1,5SD < X < M – 0,5SD
= 96 - 1,5 x 21 < X < 96 – 0,5 x 21
= 96 - 31,5 < X < 96 – 10,5
= 64,5 < X < 85,5
e. Kategori Sedang = M - 0,5SD < X < M + 0,5SD
= 96 - 0,5 x 21 < X < 96 + 0,5 x 21
= 96 - 10,5 < X < 96 + 10,5
= 85,5 < X < 106,5
f. Kategori Tinggi = M + 0,5SD < X < M + 1,5SD
= 96 + 0,5 x 21 < X < 96 + 1,5 x 21
= 96 + 10,5 < X < 96 + 31,5
= 106,5 < X 127,5
g. Kategori Sangat Tinggi = M + 1,5SD < X
= 96 + 1,5 x 21 < X
= 96 + 31,5 < X
= 127,5 < X
139
Setelah diketahui interval kategori tersebut, selanjutnya dibuat
tabel kategori efektivitas kerja guru.
Tabel 4.2 Kategori Efektivitas Kerja Guru
No Kategori Rentang Skor Frekuensi Persentase
1 Sangat Tinggi 127,5 < X 25 26,32%
2 Tinggi 106,5 < X < 127,5 23 24,21%
3 Sedang 85,5 < X < 106,5 19 20,00%
4 Rendah 64,5 < X < 85,5 18 18,95%
5 Sangat Rendah X < 64,5 10 10,53%
Jumlah 95 100%
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa terdapat 25 guru atau 26,32%
efektivitas kerja guru berkategori sangat tinggi, terdapat 23 guru atau
24,21% efektivitas kerja guru berkategori tinggi, terdapat 19 guru
atau 20,00% efektivitas kerja guru berkategori sedang, terdapat 18
guru atau 18,95% efektivitas kerja guru berkategori rendah, dan
terdapat 10 guru atau 10,53% efektivitas kerja guru berkategori
sangat rendah.
Hasil kategori tersebut menunjukkan bahwa terdapat 28 guru
atau 29,48% efektivitas kerja guru berada dalam kategori rendah dan
sangat rendah. Rendahnya efektivitas kerja guru ditunjukkan melalui
indikator guru merencanakan pembelajaran pada pernyataan angket
butir 4 dan 5 yang tertuang dalam tabel berikut ini:
140
Tabel 4.3 Indikator Guru Merencanakan Pembelajaran Butir 4
Saya menyusun program tahunan dan
No program semester setiap tahun Frekuensi Persentase
pelajaran
1 Sangat setuju 10 10,53%
2 Setuju 6 6,32%
3 Netral 18 18,95%
4 Kurang setuju 32 33,68%
5 Tidak setuju 29 30,53%
Jumlah 95 100,00%
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa terdapat 10 guru atau 10,53%
guru yang selalu menyusun program tahunan dan program semester
setiap tahun pelajaran. Terdapat 6 guru atau 6,32% guru yang sering
menyusun program tahunan dan program semester setiap tahun
pelajaran. Terdapat 18 guru atau 18,95% guru yang kadang-kadang
menyusun program tahunan dan program semester setiap tahun
pelajaran. Terdapat 32 guru atau 33,68% guru yang jarang menyu-
sun program tahunan dan program semester setiap tahun pelajaran.
Dan terdapat 29 guru atau 30,53% guru yang tidak pernah menyu-
sun program tahunan dan program semester setiap tahun pelajaran.
Melalui tabel 4.3 dapat ditegaskan, bahwa terdapat 61 guru
atau 64,21% guru yang jarang dan guru yang tidak pernah menyu-
sun program tahunan dan program semester setiap tahun pelajaran.
141
Tabel 4.4 Indikator Guru Merencanakan Pembelajaran Butir 5
Saya menyusun rencana pelaksanaan
No pembelajaran (RPP) pada awal tahun Frekuensi Persentase
pelajaran atau awal semester
1 Sangat setuju 4 4,21%
2 Setuju 18 18,95%
3 Netral 18 18,95%
4 Kurang setuju 26 27,37%
5 Tidak setuju 29 30,53%
Jumlah 95 100%
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa terdapat 4 guru atau 4,21%
guru yang selalu menyusun rencana pelaksanaan pemebelajaran
(RPP) sebelum tahun ajaran. Terdapat 18 guru atau 18,95% guru
sering menyusun rencana pelaksanaan pemebelajaran (RPP) sebe-
lum tahun ajaran. Terdapat 18 guru atau 18,95% guru yang kadang-
kadang menyusun rencana pelaksanaan pemebelajaran (RPP)
sebelum tahun ajaran. Terdapat 26 guru atau 27,372% guru yang
jarang menyusun rencana pelaksanaan pemebelajaran (RPP) sebe-
lum tahun ajaran. Dan terdapat 29 guru atau 30,53% guru yang tidak
pernah menyusun program tahunan dan program semester pembela-
jaran.
Melalui Tabel 4.4 dapat ditegaskan, bahwa terdapat 55 guru
atau 57,90% guru jarang dan guru yang tidak pernah menyusun
rencana pelaksanaan pemebelajaran (RPP) sebelum tahun ajaran.
142
2. Pengaktegorian Variabel Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
Data hasil penelitian dari variabel gaya kepemimpinan kepala
sekolah ini, dijaring melalui angket sebanyak 28 item pernyataan
dengan menggunakan skala 5. Secara teoritik, diperoleh skor mini-
mum 28 sampai skor maksimum 140, dan secara empirik data
menyebar dari yang terkecil hingga yang tertinggi.
Guna mengetahui tingkat ketepatan gaya kepemimpinan
kepala sekolah, maka dibuatlah tabel kategori dengan langkah seba-
gai berikut:2
a. Nilai Mean = (skor maksimum + skor minim) /2
= (140 + 28) / 2 = 84
b. Nilai Standard Deviasi (SD) = jangkauan / 6
= 112/6 = 19
c. Kategori Sangat Rendah = X < M - 1,5SD
= X < 84 - 1,5 x 19
= X < 84 - 28,5
= X < 55,5
d. Kategori Rendah = M - 1,5SD < X < M – 0,5SD
= 84 - 1,5 x 19 < X 84 – 0,5 x 19
= 84 - 28,5 < X < 84 – 9,5
= 55,5 < X < 74,5
2 Ibid.
143
e. Kategori Sedang = M - 0,5SD < X < M + 0,5SD
= 84 - 0,5 x 19 < X < 84 + 0,5 x 19
= 84 - 9,5 < X < 84 + 9,5
= 74,5 < X < 93,5
f. Kategori Tinggi = M + 0,5SD < X < M + 1,5SD
= 84 + 0,5 x 19 < X < 84 + 1,5 x 19
= 84 + 9,5 < X < 84 + 28,5
= 93,5 < X < 112,5
g. Kategori Sangat Tinggi = M + 1,5SD < X
= 84 + 1,5 x 19 < X
= 84 + 28,5 < X
= 112,5 < X
Setelah diketahui interval kategori tersebut, selanjutnya dibuat
tabel kategori gaya kepemimpinan kepala sekolah.
Tabel 4.5 Kategori Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
No Kategori Rentang Skor Frekuensi Persentase
1 Sangat Tinggi 127,5 < X 12 12,63%
2 Tinggi 106,5 < X < 127,5 23 24,21%
3 Sedang 85,5 < X < 106,5 19 20,00%
4 Rendah 64,5 < X < 85,5 24 25,26%
5 Sangat Rendah X < 64,5 17 17,89%
Jumlah 95 100%
Berdasarkan Tabel 4.5 diketahui bahwa variabel gaya kepe-
mimpinan kepala sekolah pada kategori sangat tinggi sebanyak 12
144
guru atau 12,63%, kategori tinggi sebanyak 23 guru atau 24,21%,
kategori sedang sebanyak 19 guru atau 20,00%, kategori rendah
sebanyak 24 guru atau 25,26%, dan sangat rendah sebanyak 17
guru atau 17,89%.
Hasil kategori tersebut menunjukkan bahwa terdapat 43,15%
gaya kepemimpinan kepala sekolah berada dalam kisaran rendah.
Rendahnya gaya kepemimpinan kepala sekolah tersebut ditunjukkan
melalui dimensi terbuka (tabligh) pada butir angket nomor 8 yang
dimuat dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.6 Indikator Keterbukaan Gaya Kepempinan Butir 8
Pimpinan tidak terbuka masalah
anggaran pendapatan dan belanja Frekuensi Persentase
No
sekolah
1 Sangat setuju 42 44,21%
2 Setuju 29 30,53%
3 Netral 16 16,84%
4 Kurang setuju 7 7,37%
5 Tidak setuju 1 1,05%
Jumlah 95 100%
Berdasarkan Tabel 4.6 diketahui bahwa terdapat 42 guru atau
44,21% guru sangat setuju bahwa pimpinan tidak terbuka masalah
anggaran pendapatan dan belanja sekolah, 29 guru atau 30,53%
guru setuju pimpinan tidak terbuka masalah anggaran pendapatan
dan belanja sekolah. Terdapat 16 guru atau 16,84% guru yang
antara iya dan tidak setuju bahwa pimpinan tidak terbuka masalah
anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Terdapat 7 guru atau
145
7,37% guru kurang setuju bahwa pimpinan tidak terbuka masalah
anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Terdapat 1 guru atau
1,05% guru yang tidak setuju bahwa pimpinan tidak terbuka masalah
anggaran pendapatan dan belanja sekolah.
Melalui Tabel 4.6 dapat ditegaskan, bahwa tedapat 71 orang
guru atau 74,74% guru setuju dan guru sangat setuju bahwa
pimpinan tidak terbuka masalah anggaran pendapatan dan belanja
sekolah.
Tabel 4.7 Indikator Kebenaran dan Keterpercayaan Butir 4
Perkataan pimpinan saya sesuai
No Frekuensi Persentase
dengan perbuatannya
1 Sangat setuju 2 2,11%
2 Setuju 11 11,58%
3 Netral 20 21,05%
4 Kurang setuju 23 24,21%
5 Tidak setuju 39 41,05%
Jumlah 95 100%
Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui bahwa terdapat 2 guru atau
2,11% guru sangat setuju bahwa perkataan pimpinan sesuai dengan
perbuatannya. Terdapat 11 guru atau 11,58 guru setuju bahwa
perkataan pimpinan sesuai dengan perbuatannya. Terdapat 20 guru
atau 21,05 % guru kadang-kadang setuju bahwa perkataan pimpinan
sesuai dengan perbuatannya. Terdapat 23 guru atau 24,21% guru
kurang setuju bahwa perkataan pimpinan sesuai dengan perbuatan-
146
nya. Terdapat 39 guru atau 41,05% guru tidak setuju bahwa
perkataan pimpinan sesuai dengan perbuatannya.
Melalui Tabel 4.7 dapat ditegaskan, bahwa tedapat 62 orang
guru atau 65,26% guru tidak setuju dan kurang setuju bahwa
perkataan pimpinan sesuai dengan perbuatannya.
3. Pengaktegorian Variabel Kompetensi Profesional
Data hasil penelitian dari variabel kompetensi profesional ini
dijaring melalui angket sebanyak 25 item pernyataan dengan
menggunakan skala 5. Secara teoritik, diperoleh skor minimum 25
sampai skor maksimum 125, dan secara empirik data menyebar dari
yang rendah hingga yang tertinggi.
Guna mengetahui tingkat kompetensi profesional guru, maka
dibuatlah tabel kategori dengan langkah sebagai berikut:3
1. Nilai Mean = (skor maks. + skor minim) /2
= (125 + 25) / 2 = 75
2. Nilai Standard Deviasi (SD) = jangkauan / 6
= 100/6 = 17
3. Kategori Sangat Rendah = X < M - 1,5SD
= X < 75 - 1,5 x 17
= X < 75 - 25,5
= X < 49,5
4. Kategori Rendah = M - 1,5SD < X < M – 0,5SD
= 75 - 1,5 x 17 < X 75 - 0,5 x 17
= 75 - 25,5 < X < 75 - 8,5
3 Ibid.
147
= 49,5 < X < 66,5
5. Kategori Sedang = M - 0,5SD < X < M + 0,5SD
= 75 - 0,5 x 17 < X < 75 + 0,5 x 17
= 75 – 8,5 < X < 75 + 8,5
= 66,5 < X < 83,5
6. Kategori Tinggi = M + 0,5SD < X < M + 1,5SD
= 75 + 0,5 x 17 < X < 75 + 1,5 x 17
= 75 + 8,5 < X < 75 + 25,5
= 83,5 < X < 105,5
7. Kategori Sangat Tinggi = M + 1,5SD < X
= 75 + 1,5 x 17 < X
= 75 + 25,5 < X
= 105,5 < X
Setelah diketahui interval kategori tersebut, selanjutnya dibuat
tabel kategori kompetensi profesional.
Tabel 4.8 Kategori Kompetensi Profesional
No Kategori Rentang Skor Frekuensi Persentase
1 Sangat Tinggi 105,5 < X 5 5,26%
2 Tinggi 83,5 < X < 105,5 37 38,95%
3 Sedang 66,5 < X < 83,5 16 16,84%
4 Rendah 49,5 < X < 66,5 23 24,21%
5 Sangat Rendah X < 49,5 14 14,74%
Jumlah 95 100%
Berdasarkan Tabel 4.8 diketahui bahwa variabel kompetensi
profesional pada kategori sangat tinggi sebanyak 5 guru atau 5,26%,
148
kategori tinggi sebanyak 37 guru atau 38,95%, kategori sedang
sebanyak 16 guru atau 16,84%, kategori rendah sebanyak 23 guru
atau 24,21%, dan kategori sangat rendah sebanyak 14 guru atau
14,74%.
Hasil kategori tersebut dapat ditegaskan bahwa terdapat 37
guru atau 38,95% kompetensi profesional guru berada dalam kisaran
rendah. Rendahnya kompetensi profesional guru diperlihatkan
melalui butir pernyataan nomor 3.
Tabel 4.9 Indikator Guru Memetakan Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Butir 3
RPP yang saya buat adalah hasil
No copy paste dari RPP orang lain yang Frekuensi Persentase
sudah jadi
1 Sangat setuju 23 24,21%
2 Setuju 22 23,16%
3 Netral 21 22,11%
4 Kurang setuji 22 23,16%
5 Tidak setuju 7 7,37%
Jumlah 95 100%
Berdasarkan Tabel 4.9 diketahui bahwa terdapat 23 guru atau
24,21% guru yang selalu bahwa RPP yang dibuat adalah hasil copy
paste dari RPP orang lain yang sudah jadi. Terdapat 22 guru atau
23,16% guru yang sering bahwa RPP yang dibuat adalah hasil copy
paste dari RPP orang lain yang sudah jadi. Terdapat 21 guru atau
22,11% guru yang kadang-kadang bahwa RPP yang dibuat adalah
hasil copy paste dari RPP orang lain yang sudah jadi. Terdapat 22
149
guru atau 23,16% guru yang jarang bahwa RPP yang dibuat adalah
hasil copy paste dari RPP orang lain yang sudah jadi. Dan terdapat 7
guru atau 7,37% guru yang tidak pernah bahwa RPP yang dibuat
adalah hasil copy paste dari RPP orang lain yang sudah jadi.
Hasil perhitungan sekala sikap tersebut dapat ditegaskan
bahwa terdapat 45 guru atau 47,37% guru yang selalu dan guru
yang sering bahwa RPP yang dibuat adalah hasil copy paste dari
RPP orang lain yang sudah jadi.
Tabel 4.10 Guru Memnfaatkan Bukti Gambaran Kinerja Butir 17
Setelah dilakukan penilaian kinerja,
guru berusaha memperbaiki dan
No Frekuensi Persentase
mengembangkan perencanaan pem-
belajaran
1 Sangat setuju 9 9,47%
2 Setuju 24 25,26%
3 Netral 15 15,79%
4 Kurang setuji 32 33,68%
5 Tidak setuju 15 15,79%
Jumlah 95 100%
Berdasarkan Tabel 4.10 diketahui bahwa terdapat 9 guru atau
9,47% guru selalu bahwa setelah dilakukan penilaian kinerja, guru
berusaha memperbaiki dan mengembangkan perencanaan
pembelajaran. Terdapat 24 guru atau 25,26% guru sering bahwa
setelah dilakukan penilaian kinerja, guru berusaha memperbaiki dan
mengembangkan perencanaan pembelajaran. Terdapat 15 guru atau
15,79% guru kadang-kadang bahwa setelah dilakukan penilaian
150
kinerja, guru berusaha memperbaiki dan mengembangkan perenca-
naan pembelajaran. Terdapat 32 guru atau 33,68% guru jarang
bahwa setelah dilakukan penilaian kinerja, guru berusaha memper-
baiki dan mengembangkan perencanaan pembelajaran. Terdapat 15
guru atau 15,79% guru tidak pernah bahwa setetelah dilakukan
penilaian kinerja, guru berusaha memperbaiki dan mengembangkan
perencanaan pembelajaran.
Hasil perhitungan sekala sikap tersebut dapat ditegaskan
bahwa terdapat 47 guru atau 49,47% guru yang jarang dan tidak
pernah bahwa setetelah dilakukan penilaian kinerja, guru berusaha
memperbaiki dan mengembangkan perencanaan pembelajaran.
4. Pengaktegorian Variabel Motivasi Kerja
Hasil penelitian variabel kompetensi profesional dijaring mela-
lui angket sebanyak 22 item dengan menggunakan skala 5. Secara
teoritik, skor minimum 22 dan skor maksimum 110, dan secara
empirik data menyebar dari yang terkecil hingga yang tertinggi.
Guna mengetahui tingkat motivasi kerja guru, maka dibuatlah
tabel kategori dengan langkah sebagai berikut:4
1. Nilai Mean = (skor maks. + skor minim) /2
= (110 + 22) / 2 = 66
2. Nilai Standard Deviasi (SD) = jangkauan / 6
= 88/6 = 15
4 Ibid.
151
3. Kategori Sangat Rendah = X < M - 1,5SD
= X < 66 - 1,5 x 15
= X < 66 - 22,5
= X < 43,5
4. Kategori Rendah = M - 1,5SD < X < M – 0,5SD
= 66 - 1,5 x 15 < X 66 - 0,5 x 15
= 66 - 22,5 < X < 66 - 7,5
= 43,5 < X < 58,5
5. Kategori Sedang = M - 0,5SD < X < M + 0,5SD
= 66 - 0,5 x 15 < X < 66 + 0,5 x 15
= 66 - 7,5 < X < 66 + 7,5
= 58,5 < X < 73,5
6. Kategori Tinggi = M + 0,5SD < X < M + 1,5SD
= 66 + 0,5 x 15 < X < 66 + 1,5 x 15
= 66 + 7,5 < X < 66 + 22,5
= 73,5 < X < 88,5
7. Kategori Sangat Tinggi = M + 1,5SD < X
= 66 + 1,5 x 17 < X
= 66 + 22,5 < X
= 88,5 < X
Setelah diketahui interval kategori tersebut, selanjutnya dibuat
tabel kategori kompetensi profesional.
152
Tabel 4.11 Kategori Motivasi Kerja Guru
No Kategori Rentang Skor Frekuensi Persentase
1 Sangat Tinggi 88,5 < X 17 17,89%
2 Tinggi 73,5 < X < 88,5 29 30,53%
3 Sedang 58,5 < X < 73,5 17 17,89%
4 Rendah 43,5 < X < 58,5 22 23,16%
5 Sangat Rendah X < 43,5 10 10,53%
Jumlah 95 100%
Tabel 4.11 diketahui bahwa variabel motivasi kerja guru pada
kategori sangat tinggi sebanyak 17 guru atau 17,89%, kategori tinggi
sebanyak 29 guru atau 30,53%, kategori sedang sebanyak 17 guru
atau 17,89%, kategori rendah sebanyak 22 guru atau 23,16%, dan
kategori sangat rendah sebanyak 10 guru atau 10,53%.
Kategori motivasi kerja guru menunjukkan bahwa terdapat 32
guru atau 33,69% motivasi kerja guru dalam kisaran rendah.
Rendahnya motivasi kerja guru dapat dilihat melalui indikator
perasaan senang dalam bekerja pada butir 16.
Tabel 4.12 Indikator Perasaan Senang dalam Bekerja Butir 11
No Saya berantusias dalam bekerja saat
Frekuensi Persentase
menghadapi kondisi sulit
1 Sangat setuju 16 16,84%
2 Setuju 17 17,89%
3 Netral 19 20,00%
4 Kurang setuju 27 28,42%
5 Tidak setuju 16 16,84%
Jumlah 95 100%
153
Berdasarkan Tabel 4.12 diketahui bahwa terdapat 16 guru
atau 16,94% guru sangat berantusias dalam bekerja saat mengha-
dapi kondisi sulit. Terdapat 17 guru atau 17,89% guru berantusias
dalam bekerja walau menghadapi kondisi sulit. Terdapat 19 guru
atau 20% guru kadang-kadang berantusias dalam bekerja saat
menghadapi kondisi sulit. Terdapat 27 guru atau 28,42% guru kurang
berantusias dalam bekerja saat menghadapi kondisi sulit. Dan
terdapat 16 guru atau 16,84% guru tidak berantusias bekerja saat
menghadapi kondisi sulit.
Hasil perhitungan sekala sikap tersebut dapat ditegaskan
bahwa terdapat 43 guru atau 46,24% guru kurang dan guru sangat
tidak berantusias dalam bekerja saat menghadapi kondisi sulit.
Tabel 4.13 Indikator Melaksanakan tugas dengan target yang
jelas Butir 8
No Saya melakukan evaluasi diri untuk
mengetahui kelemahan dalam mengajar Frekuensi Persentase
kemudian memperbaikinya.
1 Sangat setuju 10 10,53%
2 Setuju 29 30,53%
3 Netral 11 11,58%
4 Kurang setuju 36 37,89%
5 Tidak setuju 9 9,47%
Jumlah 95 100%
Berdasarkan Tabel 4.13 diketahui bahwa terdapat 10 guru
atau 10,53% guru selalu melakukan evaluasi diri untuk mengetahui
kelemahan dalam mengajar kemudian memperbaikinya. Terdapat 29
154
guru atau 30,53% guru sering melakukan evaluasi diri untuk
mengetahui kelemahan dalam mengajar kemudian memperbaiki-
[Link] 11 guru atau 11,58% guru kadang-kadang melakukan
evaluasi diri untuk mengetahui kelemahan dalam mengajar
kemudian memperbaikinya. Terdapat 36 guru atau 37,89% guru
jarang melakukan evaluasi diri untuk mengetahui kelemahan dalam
mengajar kemudian memperbaikinya. Terdapat 9 guru atau 9,47%
guru tidak pernah melakukan evaluasi diri untuk mengetahui
kelemahan dalam mengajar kemudian memperbaikinya.
Hasil perhitungan sekala sikap tersebut dapat ditegaskan
bahwa terdapat 45 guru atau 47,36% guru jarang dan guru tidak
melakukan evaluasi diri untuk mengetahui kelemahan dalam
mengajar guna memperbaikinya.
D. Uji Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik ini, dimaksudkan untuk memastikan
bahwa di dalam model regresi yang digunakan tidak terdapat multi-
kolinieritas dan heteroskedastisitas serta untuk memastikan bahwa data
yang dihasilkan berdistribusi normal dan linier.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas pada model regresi digunakan untuk menguji
apakah nilai residual berdistribusi secara normal atau tidak. Model
regresi yang baik adalah yang memiliki nilai residual berdistribusi
155
secara normal. Residual adalah nilai selisih antara variabel Y
sesungguhnya dengan variabel Y yang diprediksikan.
Cara untuk mendeteksinya adalah dengan uji statistik One
Sample Kolmogorov Smirnov.
Kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut:
- Jika nilai Signifikansi (Asym Sig 2 tailed) > 0,05, maka data residu-
al berdistribusi normal.
- Jika nilai Signifikansi (Asym Sig 2 tailed) ≤ 0,05, maka data residu-
al tidak berdistribusi normal.
Hasil uji normalitas sebagai berikut:
Tabel 4.14 Hasil Uji Normalitas Metode Kolmogorov Smirnov
Vriabel Asym. Sig. (2-tailed)
EfekKerjativitas 0,379
Gaya Kepemimpinan 0,766
Kompetensi Profesional 0, 117
Motivasi Kerja 0,205
Berdasarkan Table 4.14 diketahui bahwa nilai signifikansi
untuk masing-masing variabel (Asym. Sig. 2 tailed) lebih besar dari
0,05. Dengan demikian semua kelompok data dari variabel bebas
dan variabel terikat berdistribusi normal. Suatu variabel yang
berdistribusi normal dapat digunakan untuk memprediksi atau
diprediksi melalui statistik parametrik.
156
2. Uji Heteroskedastisitas Metode Uji Glejser
Guna mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas maka dapat
dilakukan dengan menggunakan uji Glejser, yang dilakukan dengan
meregresikan nilai absolut residual (ABS_RES) yang diperoleh dari
model regresi sebagai variabel dependen terhadap semua variabel
independen dalam model regresi. Apabila nilai koefisien regresi dari
masing-masing variabel bebas dalam model regresi ini tidak signifi-
kan secara statistik, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteros-
kedastisitas.5 Hasil uji heteroskedastisitas disajikan sebagai berikut:
Tabel 4.15 Hasil Uji Heteroskedastisitas Metode Uji Glejser
Variabel Sig.
Gaya kepemimpinan 0,629
Kompetensi profesional 0,841
Motivasi kerja 0,542
Berdasarkan Tabel 4.15 dapat diketahui bahwa ketiga variabel
bebas memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (tidak signifi-
kan). Jadi dapat disimpulkan pada model regresi tidak ada masalah
heteroskedastisitas.
3. Uji Linieritas
Uji ini digunakan untuk melihat apakah terjadi hubungan yang
linier atau tidak antar variabel. Uji yang digunakan adalah uji Mean-
Test for Linearity menggunakan SPSS. Dua variabel dikatakan
5 Ibid., h. 138.
157
mempunyai hubungan yang linier bila nilai signifikansi pada Linearity
kurang dari 0,05.6 Hasil uji linieritas sebagai berikut:
Tabel 4.16 Hasil Uji Linieritas
Vriabel Bebas Variabel Terikat Linierity/ Sig.
Gaya kepemimpinan 0,000
Efektivitas kerja
Kompetensi profesional 0,000
guru
Motivasi kerja 0,000
Berdasarkan Tabel 4.16 dapat diketahui sebagai berikut:
a. Variabel gaya kepemimpinan dengan efektivitas kerja guru dinya-
takan memiliki hubungan linier. Hal ini karena nilai signifikansi
kurang dari 0,05 (0,000 < 0,05).
b. Variabel kompetensi profesional dengan efektivitas kerja guru
dinyatakan memiliki hubungan linier. Hal ini karena nilai signifikan-
si kurang dari 0,05 (0,000 < 0,05).
c. Variabel motivasi kerja dengan efektivitas kerja guru dinyatakan
memiliki hubungan linier. Hal ini karena nilai signifikansi kurang
dari 0,05 (0,000 < 0,05).
4. Uji Multikolinearitas
Tujuan dari uji ini untuk mengetahui ada atau tidaknya multiko-
linearitas dalam sebuah model regresi. Pengujian ada tidaknya geja-
la multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai VIF (Variance
6 Dwi Priyatno, SPSS 22 Pengolah Data Terpraktis, Edisi 1, (Yogyakarta: Andi,
2014), h. 40.
158
Inflation Factor) dan Tolerance. Apabila nilai VIF berada dibawah
10,00 dan nilai Tolerance lebih dari 0,100, maka diambil kesimpulan
bahwa model regresi tersebut tidak terdapat masalah multikolinea-
ritas.7 Hasil uji multikolinearitas disajikan sebagai berikut:
Tabel 4.17 Hasil uji Multikolinearitas
Collinearity Statistics
Variabel
Tolerance VIF
Gaya kepemimpinan 0,438 2,284
Kompetensi profesional 0,247 4,054
Motivasi kerja 0,238 4,.205
Berdasarkan Tabel 4.17 dapat diketahui bahwa nilai VIF untuk
ketiga variabel independen kurang dari 10 dan Tolerance lebih dari
0,1. Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terjadi
masalah multikolinearitas.
E. Analisis Regresi Linier Berganda, Uji Hipotesis dan Analisis Koefi-
sien Deteminasi
1. Model Dugaan Persamaan Regresi Linier Berganda
Model dugaan persamaan regresi linier berganda yang
digunakan untuk uji hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
𝑌̂ = 𝑎 + 𝑏1 𝑋1 + 𝑏2 𝑋2 + 𝑏3 𝑋3
7 Duwi Priyatno, SPSS 22 Pengolah Data Terpraktis, Edisi 1, (Yogyakarta: Andi,
2014), H. 103.
159
Keterangan:
𝑌̂ = variabel terikat efektivitas kerja guru
𝑎 = intersep/konstanta
𝑏1 = koefisien regresi dari 𝑋1 (variabel gaya kepemimpinan
kepala sekolah)
𝑏2 = koefisien regresi dari 𝑋2 (variabel kompetensi profesional)
𝑏3 = koefisien regresi dari 𝑋3 (variabel motivasi kerja)
𝑋1 = variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah
X2 = vaiabel kompetensi profesional
𝑋3 = variabel motivasi kerja
Hasil yang diperoleh setelah data diolah dengan bantuan
program SPSS disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.18 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Variabel Koefisien Regresi
Konstanta 16,437
Gaya kepeimpinan 0,334
Kompetensi Profesonal 0,423
Motivasi kerja 0,399
Model dugaan persamaan regresinya sebagai berikut:
𝑌̂ = 16,437 + 0,334 + 0,423 + 0,399
160
Arti angka-angka tersebut adalah sebagai berikut:
a. Konstanta sebesar 16,437; artinya jika gaya kepemimpinan
sekolah, kompetensi profesional, dan Motivasi kerja nilainya
adalah 0, maka efektivitas kerja guru nilainya sebesar 16,437.
b. Koefisien regresi variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1)
sebesar 0,334; artinya setiap peningkatan gaya kepemimpinan
kepala sekolah sebesar 1 satuan, maka akan meningkatkan
efektivitas kerja guru sebesar 0,334 satuan, dengan asumsi
variabel independen lain nilainya tetap.
c. Koefisien regresi variabel kompetensi profesional (X2) sebesar
0,423; artinya setiap peningkatan kompetensi profesional sebesar
1 satuan, maka akan meningkatkan efektivitas kerja guru sebesar
0,423 satuan, dengan asumsi variabel independen lain nilainya
tetap.
d. Koefisien regresi variabel motivasi kerja (X3) sebesar 0,339;
artinya setiap peningkatan motivasi kerja sebesar 1 satuan, maka
akan meningkatkan Efektivitas kerja guru sebesar 0,339 satuan,
dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap.
2. Uji Hipotesis
a. Uji t terhdap koefisien regresi variabel secara parsial
Uji t ini digunakan untuk mengetahui apakah terdapat
pengaruh secara parsial variabel gaya kepemimpinan kepala
161
sekolah, kompetensi profesional dan motivasi kerja terhdap
efektivitas kerja guru SMK Negeri di kota Samarinda.
Setelah data diolah dengan uji t, hasilnya disajikan dalam
bentuk tabel berikut ini:
Tabel 4.19 Hasil uji t (uji secara parsial)
Variabel t-hitung Sig.
Gaya kepemimpinan 4,184 0,000
Kompetensi profesional 3,396 0,001
Motivasi kerja 2,741 0,007
1) Uji t terhadap koefisien regresi variabel gaya kepemimpinan
kepala sekolah (β1)
Variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah memiliki
koefisien sebesar 0,334. Untuk mengetahui berpengaruh
tidaknya koefisien tersebut terhadap efektifitas kerja, maka
perlu dilakukan pengujian dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a) Menulis hipotesis nol dan hipotesis alternatif
H0 : β1 < 0 = tidak terdapat pengaruh yang signifikan gaya
kepemimpinan kepala sekolah terhadap
efektivitas kerja guru SMK Negeri di kota
Samarinda.
H1 : β1 > 0 = terdapat pengaruh yang signifikan gaya
kepemimpinan kepala sekolah terhadap
162
efektivitas kerja guru SMK Negeri di kota
Samarinda.
b) Membuat kriteria pengambilan keputusan
Bila signifikansi lebih besar dari taraf kepercayaan
sebesar 5% (sig. > 0,05), maka terima H0 dan tolak H1.
Adapun bila signifikansi lebih kecil atau sama dengan taraf
alpha sebesar 5% (sig. < 0,05) bearti H0 ditolak dan H1
diterima.
c) Membandingkan angka sig. dengan taraf alpha (0,05) dan
memutuskan
Berdasarkan tabel hasil olah data uji t tersebut diatas,
didapatkan angka signifikansi gaya kepemimpinan kepala
sekolah sebesar 0,000. Angka ini lebih kecil dari taraf alpha
sebesar 5% (sig. < 0,05). Dengan demikian H0 ditolak dan H1
diterima yang menyatakan “terdapat pengaruh yang
signifikan gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap
efektivitas kerja guru SMK Negeri di kota Samarinda”.
2) Uji t terhadap koefisien regresi variabel kompetensi profesional
(β2)
Variabel kompetensi profesional memiliki koefisien
regresi sebesar 0,423. Untuk mengetahui berpengaruh tidaknya
koefisien tersebut terhadap efektifitas kerja, maka perlu dilaku-
kan pengujian dengan langkah-langkah sebagai berikut:
163
a) Menulis hipotesis nol dan hipotesis alternatif
H0 : β2 < 0 = tidak terdapat pengaruh yang signifikan
kompetensi profesional terhadap efektivitas
kerja guru SMK Negeri di kota Samarinda.
H1 : β2 > 0 = terdapat pengaruh yang signifikan kompeten-
si profesional terhadap efektivitas kerja guru
SMK Negeri di kota Samarinda.
b) Membuat kriteria pengambilan keputusan
Bila angka signifikansi lebih besar dari taraf alpha
sebesar 5% (sig > 0,05), maka terima H0 dan tolak H1.
Adapun bila signifikansi lebih kecil atau sama dengan taraf
alpha sebesar 5% (sig. < 0,05), maka tolak H0 dan terima H1.
c) Membandingkan angka signifikansi dengan taraf alpha (0,05)
dan memutuskan
Berdasarkan tabel regresi hasil olah data uji t tersebut
di atas, didapatkan angka signifikansi kompetensi profesional
sebesar 0,001. Angka signifikansi 0,001 ini adalah lebih kecil
dari taraf alpha sebesar 5% (sig. < 0,05). Dengan demikian
H0 ditolak dan H1 diterima yang menyatakan “terdapat
pengaruh yang signifikan kompetensi profesional terhadap
efektivitas kerja guru SMK Negeri di kota Samarinda”.
164
3) Uji t terhadap koefisien regresi variabel motivasi kerja (β3)
Variabel motivasi kerja memiliki koefisien regresi sebesar
0,399. Untuk mengetahui berpengaruh tidaknya koefisien
tersebut terhadap efektifitas kerja, maka perlu dilakukan
pengujian dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Menulis hipotesis nol dan hipotesis alternatif
H0 : β3 < 0 = tidak terdapat pengaruh yang signifikan
motivasi kerja terhadap efektivitas kerja guru
SMK Negeri di kota Samarinda.
H1 : β3 > 0 = terdapat pengaruh yang signifikan motivasi
kerja terhadap efektivitas kerja guru SMK
Negeri di kota Samarinda.
b) Membuat kriteria pengambilan keputusan
Bila angka signifikansi lebih besar dari taraf alpha
sebesar 5% (sig > 0,05), maka terima H0 dan tolak H1.
Adapun bila signifikansi lebih kecil atau sama dengan taraf
alpha sebesar 5% (sig. < 0,05), maka H0 ditolak dan H1
diterima.
c) Membandingkan angka signifikansi dengan taraf alpha (0,05)
dan memutuskan
Berdasarkan tabel hasil olah data uji t tersebut diatas,
didapatkan angka signifikansi motivasi kerja sebesar 0,007.
Angka ini lebih kecil dari taraf alpha sebesar 5% (sig. < 0,05).
165
Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima yang
menyatakan “terdapat pengaruh yang signifi-kan motivasi
kerja terhadap efektivitas kerja guru SMK Negeri di kota
Samarinda”.
b. Uji F (uji koefisien regresi secara bersama-sama)
Uji F digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh
secara bersama-sama variabel gaya kepemimpinan kepala
sekolah, kompetensi profesional dan motivasi kerja terhadap
efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda.
Hasil uji F yang diperoleh setelah data diolah disajikan
dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.20 Hasil Uji F
Variabel F-hitng Sig.
Gaya kepemimpinan
Kompetensi profesional 99,317 0,000
Motivasi kerja
Tahap-tahap untuk melakukan uji F sebagai berikut:
1. Menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif
H0 : β1, β2, β3 ≤ 0 = tidak terdapat pengaruh yang signifikan
gaya kepemimpinan kepala sekolah,
kompetensi profesional dan motivasi
kerja terhadap efektivitas kerja guru
SMK Negeri di kota Samarinda.
166
Ha : β1, β2, β3 > 0 = terdapat pengaruh yang signifikan gaya
kepemimpinan kepala sekolah, kompe-
tensi profesional dan motivasi kerja
secara bersama-sama terhadap efekti-
vitas kerja guru SMK Negeri di kota
Samarinda.
2. Menentukan kriteria pengambilan keputusan
Bila angka signifikansi lebih besar dari taraf alpha
sebesar 5% (sig > 0,05), maka terima H0 dan tolak H1. Adapun
bila signifikansi lebih kecil atau sama dengan taraf alpha
sebesar 5% (sig. < 0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterima.
3. Membandingkan angka signifikansi dengan taraf alpha 0,05
dan memutuskan
Berdasarkan tabel hasil olah data uji F, didapatkan angka
signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari taraf alpha sebesar 5%
(sig. < 0,05). Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima yang
menyatakan “terdapat pengaruh yang signifikan gaya kepemim-
pinan kepala sekolah, kompetensi profesional dan motivasi kerja
secara bersama-sama terhadap efektivitas kerja guru SMK Negeri
di kota Samarinda”.
3. Analisis koefisien determinasi (Adjusted R Square)
Nilai determinasi digunakan untuk menunjukkan seberapa
besar persentase kemampuan model regresi dalam menjelaskan
167
perubahan variabel dependen akibat variasi variabel bebas. Batas
nilai R2 adalah 0 ≤ R2 ≥ 1, sehingga apabila R2 sama dengan nol
(0) berarti variabel terikat tidak dapat dijelaskan oleh variabel
bebas secara serempak, sedangkan bila R2 sama dengan 1
berarti variabel bebas dapat menjelaskan variabel terikat secara
serempak.
Hasil analisis koefisien determinasi (Adjusted R2) yang
diperoleh disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.21 Hasil Analisis Koefisien Determinasi
Koefisien Koefisien
Variabel Determinasi Determinasi
Parsial Simultan
Gaya kepemimpinan 0,599
Kompetensi profesional 0,670 0,758
Motivasi kerja 0,662
Berdasarkan Tabel 4.21 diketahui bahwa koefisien determi-
nasi simultan diperoleh nilai sebesar 0,758. Hal ini menunjukkan
bahwa variasi variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah,
kompetensi profesional dan motivasi kerja mampu menjelaskan
sebesar 75,8% variasi variabel efektivitas kerja guru SMK Nege-
ri di Kota Samarinda, dan sisanya sebesar 24,2% dijelaskan
oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian
ini.
168
[Link] Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat
pengaruh yang signifikan gaya kepemimpinan kepala sekolah, kompe-
tensi profesional dan motivasi kerja terhadap efektivitas kerja guru SMK
Negeri di Kota Samarinda.
Berdasarkan data hasil penelitian yang dijaring melalui instrumen
angket, diketahui bahwa sebesar 29,48% efektivitas kerja guru SMK
Negeri di Kota Samarinda berada dalam kategori rendah. Rendahnya
efektivitas kerja guru tersebut karena ketepatan gaya kepemimpinan
kepala sekolah, kompetensi profesional dan motivasi kerja guru juga
berada dalam kategori rendah. Guna meningkatkan efektivitas kerja
guru, maka harus ditingkatkan butir-butir kerja guru yang masih rendah
efektivitasnya.
Rendahnya efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota samarinda
tersebut, menurut responden R adalah:
... bisa jadi dikarenakan guru-guru yang ada di Samarinda ini masih
belum memahami metode-metode pembelajaran apa yang tepat
untuk dipakai, untuk mengajarkan suatu materi, bisa jadi tidak
tepat, harusnya metode A dipakai untuk materi yang A bisa jadi
tidak sesuai. Jika terjadi ketidaksesuaian tersebut, maka efektivitas
kerjanya tidak bisa maksimal.8
Pendapat responden R dapat disintesakan bahwa kerja guru
tidak efektif karena rendahnya pemahaman guru terhadap macam-
macam metode pembelajaran dan kesalahan penggunaan metode
dalam mengajar. Guna meningkatkan efektivitas kerja guru, responden
8 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, halaman 233, Nomor 1.
169
R merekomendasikan “Tentu guru harus mau belajar, belajar untuk
menyesuaikan diri sesuai dengan kondisi apapun yang ada. Tidak bisa
juga kita menuntut orang lain, tapi kita juga harus bisa memotivasi diri
kita”.9
Adapun menurut responden A, faktor penyebab rendahnya
efektivitas kerja guru adalah:
Kalo penyebab rendahnya itu berarti dilihat keterampilan kerja,
kemudian prestasiya dia, kemudian kemmpuan guru itu beradaptasi
terhadap lingkungannya, dia mampu gak menghadapi perubahan-
perubahan yang terjadi setiap tahunnya. Kepala sekolah juga
sangat berpengaruh menurut saya, kalo kepemimpinan baik Insya-
Allah yang kebawaahnya pasti akan baik juga.10
Faktor penyebab rendah efektivitas kerja guru menurut respon-
den A meliputi 1) keterampilan kerja; 2) prestasi kerja; 3) kemampuan
untuk beradaptasi dengan lingkungan; 4) kemampuan mengahadapi
perubahan yang terjadi; dan 5) ketepatan kepemimpinan kepala seko-
lah terhadap bawahan. Guna mengatasi hal ini, responden A berkata
“Pastinya harus ada peningkatan terhadap diri guru tersebut ya, jadi
dari segi keterampilannya perlu juga peningkatan, ada pelatihan”.11
Rendahnya efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda
terutama pada masalah tidak menyusun program tahunan dan program
semester pembelajaran. Sebanyak 61 guru atau 64,21% guru berada
9 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Halaman 233, Nomor 1.
10 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Halaman 239, Nomor 1.
11 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Halaman 239, Nomor 1.
170
dalam kisaran tidak menyusun program tahunan dan program semester
pembelajaran.
Guru tidak menyusun program tahunan dan program semester
tersebut, responden R berargumen:
Kalau ini lebih kepada, lagi-lagi ada faktor internal dan faktor
eksternalnya, Pak. Jadi kalau internalnya gurunya belum mampu
atau mungkin juga kemauannya yang rendah. Bisa jadi kalau di
sekolah kita ini supervisi belum berjalan secara maksimal, sehingga
ketika gak ada supervisi, gurupun merasa tidak ada kewajiban
untuk membuat.12
Penyebab guru tidak menyusun program tahunan dan program
semester menurut respon R adalah faktor rendahnya motivasi dan
kompetensi guru serta belum dilakukan supervisi secara optimal.
Menyikapi masalah ini, responden R memberikan saran “Meningkatkan
supervisi terhadap guru sehingga guru tergugah untuk melakukan
tugasnya”.13
Pendapat responden R tentang penyebab guru tidak menyusun
program tahunan dan program semester diperkuat oleh responden A
yang mengemukakan “Itu bisa kita lihat dari kemampuan gurunya juga
ya, yang pertama bisa gak membuat program tahunan dan program
semester itu seperti apa yang baik dan benar. Kemudian mungkin
motivasinya mungkin kurang”.14
12 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Halaman 233, Nomor 2.
13 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R. Halaman 234, Nomor 2..
14 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Halaman 239, Nomor 2.
171
Pendapat responden A dapat disintesakan bahwa penyebab
guru tidak menyusun pogram tahunan dan program semester adalah
karena faktor rendahnya kompetensi dan faktor motivasi guru. Guna
mengatasi hal itu, responden A merekomendasikan “guru harus
meningkatkan kemampuan dan motivasi kerjanya” .15
Butir lain yang juga menunjukkan rendahnya efektivitas kerja
guru SMK Negeri di Kota Samarinda adalah masalah guru tidak
menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada awal tahun
atau awal semester pembelajaran sebanyak 55 guru atau 57,90% guru
berada dalam kisaran tidak menyusun RPP pada awal tahun atau awal
semester.
Alasan guru tidak menyusun RPP pada awal tahun atau awal
semester, menurut responden R Karena:
Supervisi belum berjalan secara maksimal, maka guru-gurupun
tidak punya ... saya harus menyelesaikan ini pada bulan ini, gak
seperti itu. Tetapi, selain itu juga ada hal-hal lain, Pak, inikan
kebetulan kurikulum berubah-rubah terus, jadi kadang pemahaman
guru terkait dengan RPP juga masih kurang.16
Jadi, menurut responden R, guru tidak menyusun RPP pada
awal tahun atau awal semester adalah karena pelaksanaan supervisi
yang tidak maksimal dan RPP selalu berubah sehingga guru kurang
paham terhadap RPP yang baru. Untuk itu , responden R merekomen-
15 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Halaman 240, Nomor 2.
16 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Halaman 234, Nomor 3.
172
dasikan “Ya, perlu mengadakan In House Training sehinggaa kawan-
kawan paham terhadap RPP terbaru”.17
Menurut responden A, yang menyebabkan guru tidak
menysun RPP pada awal tahun adalah:
Ya, ... seperti yang saya bilang tadi, faktor motivasi memang
perlu sih. Jadi harus termotivasi dulu gurunya kemauan seperti
itu. Cuma kita disinikan kurang termotivasi mungkin karena ada
beberapa faktor. Kemudian harus ada supervisi si ya,
mengawasi juga dari proses pembelajaran tersebut supaya bisa
berjalan dengan baik.18
Responden A berpandangan bahwa guru tidak menyusun
RPP pada awal tahun atau awal semester adalah karena guru tidak
termotivasi dan belum terlaksananya supervisi dengan baik. Agar
guru menyusun RPP pada awal tahun, pernyataan responden A
tersebut dapat dimaknai perlunya guru termotivasi dan perlunya
pelaksanaan supervisi yang optimal.
Selanjutnya untuk mengetahui berpengaruh tidaknya gaya kepe-
mimpinan kepala sekolah, kompetensi profesional dan motivasi kerja
terhadap efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda, maka
dapat dilihat pada gambar sebagai berikut ini:
17 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Halaman 234, Nomor 3.
18 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Halaman 240, Nomor 3.
173
Gambar 4.1 Ringkasan Hasil Penelitian
Guna memahami gambar 4.1 tersebut, maka dapat dijelaskan
melalui pembahasan berikut ini:
1. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Efekti-vitas
Kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan
kepala sekolah berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap
efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda. Hal ini
ditunjukkan melalui angka signifikansi lebih kecil dari taraf alpha
(0,000 < 0,05) dengan koefisien regresi positif 0,334. Dengan
demikian dapat ditegaskan bahwa semakin tinggi ketepatan gaya
kepemimpinan kepala sekolah, maka semakin tinggi pula efektivitas
kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda. Sebaliknya, semakin
rendah ketepatan gaya kepemimpinan kepala sekolah, maka
semakin rendah pula efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota
Samarinda.
174
Guna meningkatkan efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota
Samarinda, maka perlu ditingkatkan ketepatan gaya kepemimpinan
kepala sekolah sebesar 43,15% yang berada dalam kategori rendah.
Karena hakikat dari gaya kepemmpinan kepala sekolah adalah
bertujuan untuk mendorong produktivitas kerja.19
Penyebab rendahnya ketepatan gaya kepemimpinan kepala
sekolah, responden R berpandangan “Mana kala pimpinan kurang
mengetahui anak buah saya seperti apa, jadi tidak tepat. Karena
tidak tepat, otomatis kinerjanya tidak bisa maksimal”.20
Responden R berpandangan bahwa gaya kepemimpinan
rendah ketepatannya karena pimpinan tidak memahami karakter
bawan, sehingga kinerjanya rendah.
Guna mengatasi rendahnya ketepatan gaya kepemimpinan
kepala sekolah, responden R berpandangan “... di sini memerlukan
seorang pemimpin itu yang mengetahui karakter dari anak buahnya,
sehigga dia akan memutuskan, saya akan mengambil keputusan,
saya akan mengambil gaya kepemimpinan seperti ini”.21
Pendapat responden R dapat disintesakan bahwa kepala
sekolah perlu mengetahui karakter anak buahnya untuk dijadikan
pertimbangan dalam mengambil keputusan.
19 Hasibuan Malayu S.P, Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 170.
20 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 4.
21 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 4.
175
Pendapat responden R berbeda dengan pendapat responden
A yang mengemukan “Penyebabnya kalau kita perhatikan ya, kepala
sekolah kurang dalam menerapkan kepemimpinan, artinya kepala
sekolah belum bisa maksimal memberikan sebagi motivator di
sekolah ... “. 22 Solusi yang perlu dilakukan menurut responden A
adalah “... Dia harus bisa memberikan contoh yang baik ke
bawahannya. Kalau misalkan di sekolah dia disiplin otomatis bawa-
hannya akan ikut disiplin”. 23
Butir gaya kepemimpinan kepala sekolah yang terendah
ketepatannya terutama pada masalah ketidkterbukaan anggaran
sekolah. Terdapat 71 orang guru atau 74,74% guru sependapat
bahwa pimpinan tidak terbuka masalah anggaran pendapatan dan
belanja sekolah.
Kepala sekolah seharusnya terbuka atas tugasnya sebagai
pengelola anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Hal tersebut
sesuai dengan konsep gaya kepemimpinan menurut Islam yang
telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dengan sifat terbuka
(tabligh). Nawawi Berkata “... dalam menunaikkan tugas kerasulan,
dengan tidak menutup-nutupi wahyu yang diturunkan, artinya Nabi
tidak sekedar menyampaikan yang menguntungkan dan tidak
menyampaikan yang merugikan diri beliau sendiri”.24
22 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 4.
23 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 4.
24 Hadari Nawawi, Loc. Cit.
176
Ketidakterbukaan kepala sekolah masalah anggaran ini,
responden R mengemukakan:
Kalau terkait masalah anggaran sekolah, ini banyak diantara
beliau-beliau itu merasa bahwasnya terkait anggaran itu, ini lebih
ke fungsi pihak manajemen saja, jadi mereka beranggapan
bahwasanya ini gak perlu untuk disampaikan ke kawan-kawan
yang ada dibawah, ke guru, padahal itu sangat penting.25
Apa yang disamapaikan responden R tentang penyebab
kepala sekolah tidak terbuka masalah anggaran sekolah tersebut
dapat disintesakan penyebabnya bahwa kepala sekolah berangga-
pan masalah anggaran sekolah tidak perlu diketahui oleh bawahan
atau guru, cukuplah pihak pengelola yang tahu.
Menyikapi masalah ini responden R berharap “Terbuka, kalu
memang tidak ada masalah gak perlu ditutup-tupi. Manakala bisa
mengkomunikasikan dengan baik saya yakin itu, bapak ibu guru bisa
memahami hal itu”.26
Pandangan responden R tentang penyebab kepala sekolah
tidak terbuka masalah anggaran sekolah adalah karena kepala
sekolah tidak jujur. Hal tersebut diperkuat oleh responden A “Yang
pasti kalo e.. dia tidak terbuka itu berarti ada sesuatu yang ditutupilah
yah. Kalau sudah ditutupi berarti kitakan orang lain pasti gak tau. ...
jika tidak terbuka berarti dia tidak jujur”. 27 Untuk itu responden
25 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 5.
26
Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 5.
27 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 5.
177
berandai “Jika transparankan otomatis kita bisa punya program, dan
program dari kepala sekolah”. 28
Butir gaya kepemimpinan kepala sekolah yang rendah ke-2
ketepatannya adalah masalah kesesuaian antara perkataan dengan
perbuatan. Sebanyak 65,26% guru berasumsi bahwa perkataan
pimpinan tidak sesuai dengan perbuatannya.
Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan, harusnya
perkataannya adalah benar sebagaimana konsep gaya kepemimpi-
nan dalam Islam yang telah dicontohkan Rasulullah SAW:
Sifat ini berarti Rasulullah Muhammad saw. mencintai dan
berpihak pada kebenaran yang datangnya dari Allah SWT,
sehingga seluruh pikiran, sikap dan emosi yang ditampilkan
dalam perilaku dan sabdanya serta diamnya beliau merupakan
sesuatu pasti benar.29
Menurut responden R, “Yang namanya pimpinan itukan
hendaknya bisa menjadi teladan, teladan bagi kami yang dibawah.
Manakala pimpinan tidak bisa menjadi teladan ya nanti akan
berimbas ke yang lain, Pak”.30
Pandangan responden R tentang ketidaksesuaian antara
perkataan dengan perilaku kepala sekolah tersebut dapat dimaknai
bahwa kepala sekolah tidak sadar benar bahwa kepribadian dan
kebijakannya dari ucapan sampai perbuatannya adalah teladan.
Menyikapi hal ini, responden R berharap “Setiap pemimpin harus
28 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 5.
29 Hadari Nawawi, [Link]. h. 274.
30 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 6.
178
menjadikan dirinya sebagai teladan bagi bawahan, bahasa Islamnya
uswah hasanah”. 31
Perkataan kepala sekolah berbeda dengan perbuatannya,
responden A berkomentar “Itu contoh kepemimpinan yang tidak bisa
kita ikutin ya, karena yang kita pegang adalah ucapannya, kemudian
setelah ucapannya dibuktikan dengan perbuatannya. Kalo sudah
pemimpinan kita seperti itu bagaimana bawahannya?“.32
Tanggapan responden A di atas dapat disimpulkan bahwa
kepala sekolah yang tidak konsisten antara perkataan dengan
perbuatannya bukan contoh yang baik. Guna menyikapinya adalah
“Tetep harus fokus, guru harus tetep konsisten. Kepala sekolah
semestinya gak boleh begitu si, Pak”.33
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya
yang dilakukan oleh Slamet Riyadi dengan judul “Pengaruh Kompen-
sasi Finansial, Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja terhadap
Kinerja Karyawan pada Perusahaan Manufaktur”. 34 Hasil penelitian
tersebut dinyatakan bahwa gaya kepemimpinan secara signifikan
mempengaruhi kinerja karyawan.
31 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 6.
32 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 6.
33 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 6.
34 Slamet Riyadi, “Pengaruh Kompensasi Finansial, Gaya Kepemimpinan, dan
Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada Perusahaan Manufaktur”, Jurnal
Manajemen dan Kewirausahaan, Vol. 13, No. 1, Maret 2011, h. 40 - 45.
179
2. Pengaruh Kompetensi Profesional terhadap Efektivitas Kerja Guru
SMK Negeri di Kota Samarinda
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kompetensi
profesional berpengaruh signifikan dan positif terhadap efektivitas
kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda. Hal ini didasarkan atas
angka signifikansi lebih kecil dari taraf alpha 5% (0,001 < 0,05)
dengan koefisien regresi positif 0,423. Dengan demikian dapat
ditegaskan bahwa semakin tinggi kompetensi profesional, maka
semakin tinggi efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda.
Sebaliknya, semakin rendah kompetensi profesional, maka semakin
rendah efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda.
Guna meningkatkan efektivitas kerja guru SMK, maka perlu
ditingkatkan kompetensi profesional sebesar 38,95% yang berada
dalam kisaran rendah. Hal itu sesuai pernyataan Johnson dalam
Wina bahwa kompetensi profesional, yaitu kemampuan yang
berhubungan dengan penyelesaian tugas keguruan. 35
Penyebab rendahnya kompetensi guru ini, responden R
berpendapat:
Kenapa kok rendah?, ini ya bisa banyak hal si Pak, diantaranya
bisa jadi ya guru tersebut yang rendah, bisa jadi karena dulu
ingin masuk bidang kedokteran misalkan ternyata gak masuk lalu
masuk keguruan seperti itu. Tetapi bisa jadi juga karena gurunya
kurang mau belajar, padahal sekarang tuntutan pengetahuan
sudah banyak sekali dengan kemajuan jaman.36
35 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Proses Pendidikan,
(Jakarta: Prenada Media, 2005), h. 145..
36 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 7.
180
Rendahnya kompetensi guru menurut responden R dapat
disintesakan penyebabnya karena a) kemampuan guru sedari awal
rendah; b) atau karena menjadi guru adalah keterpaksaan setelah
gagal masuk ke fakultas favoritnya; dan c) guru tidak mau belajar
menambah pengetahuan dan mengikuti perkembangannya.
Guna mengatasi rendahnya kompetensi profesional guru,
maka responden R merekomendasikan:
“Guru harus belajar, tapi sekali lagi kita tidak berdiri sendiri, kita
dalam suatu institusi tentu yang berwenang terkait dengan hal itu
dalam artian manajemen harus memperhatikan hal itu. Bagaima-
na supaya guru-guru bisa meningkat profesionalitasnya ya tentu
dengan mengadakan pelatihan-pelatihan atau IHT dan lain
sebagainya”. 37
Guna mengatasi rendahnya kompetensi profesional, menurut
responden R adalah guru harus senantiasa belajar dan sekolah
mengadakan pelatihan, misal IHT (In House Training).
Senada dengan responden R, responden A mengemukakan
tentang penyebab kompetensi profesional rendah:
Yang pertama kemampuan gurunya ya, kemampuan guru
rendah itu mungkin bisa kita lihat dari e... guru yang tidak mau
terus belajar. Jadi ilmunya di situ-situ saja, mandek. Kan kita
tahu bahwa perubahan ilmu berkembang terus yang terbaru dan
terbaru, nah itu guru tersebut tidak bisa mengikuti perubahan
tersebut.38
Secara singkat pendapat responden A tentang penyebab
kompetensi profesional rendah adalah karena guru tersebut tidak
37 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 7.
38 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 7.
181
mau belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
Solusi yang ditawarkan oleh responden A adalah “Untuk bisa
mengatasi itu, maka guru harus terus belajar, harus ikut pelatihan-
pelatihan yang memang harus ada untuk mengikuti perkembangan,
karena pelatihan itu perlu khususnya untuk guru”.39
Butir rendahnya kompetensi profesional terutama pada mas-
alah keaslian penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP). Terdapat 45 guru atau 47,37% RPP yang dibuat guru adalah
hasil copy paste dari RPP orang lain yang sudah jadi.
Penyusunan RPP melalui alih tulisan dari RPP milik orang lain
adalah bentuk penyimpangan terhadap Permendikbud Nomor 81A
Tahun 2013 bahwa “Setiap guru di setiap satuan pendidikan
berkewajiban menyusun RPP ... .”40 Lebih lanjut ditegaskan:
“Pengembangan RPP dapat dilakukan pada setiap awal
semester atau awal tahun pelajaran, dengan maksud agar RPP
telah tersedia terlebih dahulu dalam setiap awal pelaksanaan
pembelajaran. Pengembangan RPP dapat dilakukan secara
mandiri atau secara berkelompok.41
Menurut responden R, faktor yang menyebabkan guru menyu-
sun RPP dengan cara copy paste adalah:
E... ini yang, lebih ke anu si pak, kemampuan bisa juga, bisa
juga banyak guru gak mau repot..., gak mau repot ... . Disatu sisi
juga itu tadi sering terjadinya perubahan itu, akhirnya jadi males,
bentar-bentar berubah, kemarin terakhir 2013, ada revisi 2016,
39 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 7.
40 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
81A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum, h. 37.
41 Ibid.
182
ada revisi 2017, sampek sekarang ada lagi revisi terbaru,
akhirnya guru juga ah! ngapain juga repot-repot, ya sudah ambil
apa yang ada aja sudah kita ngumpul, yang penting ngumpul
gitu. 42
Pendapat responden R soal RPP disusun oleh guru dengan
cara kopi paste dapat disintesakan penyebabnya a) rendahnya
kemampuan guru; b) guru tidak mau repot membuat dengan karya-
nya sendiri; dan c) kurikulum sering berubah.
Solusi yang ditawarkan oleh responden R adalah:
Ya... harus dipaksa, dipaksa untuk membuat, tapi juga
pemerintah tidak perlulah kita membuat perangkat pembelajaran
sampek sebanyak-banyak itu, perlu juga mungkin dari pihak-
pihak yang terkait dengan perangkat pembelajaran kalo bisa
dibuat simpel ajalah. Contohlah dengan negara-negara ...
kemarin kebetulan sempet ngomong dengan kawan dari
sekolah lain yang pernah keluar negeri. Contoh di Thailan itu gak
seperti kita, RPP satu tahun cuma berapa lembar gak tebel-tebel
kayak gitu, ... . 43
Responden R menawarkan solusi agar guru menyusun RPP
dengan karyanya sendiri adalah guru itu sendiri yang memotivasi
dirinya sendiri dan pihak yang berwenang hendaknya meringkas
RPP agar tidak terlalu banyak isinya.
Pendapar responden R tentang penyebab guru menyusun
RPP dengan cara kopi paste tersebut diperkuat oleh responden A
yang mengemukakan:
Penyebabnya guru masih belum bisa membuat dalam artian
yang bener penyusunannya RPP itu seperti apa itu masih belum
tahu. Karena setiap kurikulumkan terjadi beberapa kali revisi,
42 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 8.
43 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 8..
183
apa lagi K13 revisi 2017, 2018 selalu ada perubahan. Nah
sekarang kitakan pakek 2018, Pak.44
Menurut responden A, penyebab guru melakukan kopi paste
dalam menusyun RPP adalah karena kemampuan guru itu rendah
dan RPP selalu berubah. Solusi yang ditawarkan oleh responden A
adalah “Jadi perlu ada IHT atau house training itu supaya secara
bersama-sama melakukan persamaan persepsi gitu lo ... . Format-
nya begini, nanti teknik pembelajarannya seperti ini, nah itu yang
perlu dipahami betul oleh guru”.45
Butir kompetensi profesional terendah kedua adalah masalah
pengembangan RPP. Terdapat 49,47% guru tidak mengembangkan
RPP berdasarkan bukti gambaran kinerjnya.
Tidak dilakukannya pengembangan RPP oleh guru, menurut
responden R penyebabnya adalah:
E... kalau di tempat kita ini lebih ke anu si, Pak. Terakait dengan
supervisi. Disatu sisi supervisi memang belum berjalan maksimal
tapi juga sering kali ketika kita habis supervisi itu tidak ada intak
kepada gurunya oh kamu kurangnya disini, itu tidak disampai-
kan. Jadi sekedar diambil data ya sudah. Sehingga apa yang
menjadi kekurangan atau kelebihan pada guru, gurunya tidak
tahu. 46
Responden R berpandangan bahwa guru tidak melakukan
pengembangan RPP adalah karena supervisi belum dilaksanakan
44 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 8.
45 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 8.
46 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 9.
184
secara optimal dengan tidak memberikan hasil supervisi, sehingga
guru tidak tahu hal apa dan hal mana yang harus dikembangkan.
Saran responden R “Seharusnya kepala sekolah atau
pensupervisi lainnya memanggil guru yang bersangkutan kemudian
disampaikan hasil dari supervisi tersebut”.47
Adapun menurut responden A, penyebab guru tidak melaku-
kan pengembangan RPP adalah:
Sebenarnya harus ada kelanjutannya si, Pak, dari supervisi tadi.
Jadi setelah guru membuat, lalu disupervisi, ada kelanjutannya,
perbaikannya apa yang kurang, mana yang salah harus e...
diperbaiki. Jadi guru tahu mana salahnya apa, mana yang
kurang karena kita yang membuat kitakan gak bisa nglihat harus
orng lain yang ngelihat ... .48
Inti dari pendapat responden A tentang penyebab guru tidak
melakukan pengembangan RPP adalah karena supervisi belum
dilakukan secara optimal sehingga guru tidak tahu kekurangan RPP
yang dibuat oleh guru. Responden A merekomendasikan perbaikan-
nya adalah “Jadi setelah guru membuat, lalu disupervisi, ada
kelanjutannya, perbaikannya apa yang kurang, mana yang salah
harus e... diperbaiki”.49
Hasil penelitian ini relevan dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Sumarno. Dikemukakan, bahwa kompetensi profesi-
onal berpengaruh positif dan siginifikans terhadap kinerja guru
47 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 9.
48 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 9.
49 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 9.
185
sebesar 39,4%. Menurutnya, bahwa guru yang profesional dalam
tugasnya prestasinya akan meningkat, karena melaksanakan tugas
sesuai dengan keahliannya.50
3. Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Efektivitas Kerja Guru SMK
Negeri di Kota Samarinda
Motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota samarinda. Hal ini
didasarkan atas perolehan angka signifikansi lebih kecil dari taraf
alpha 5% (0,007 < 0,05) dengan koefisien regresi sebesar 0,399.
Oleh karena itu, makin tinggi motivasi kerja, maka makin tinggi
efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota samarinda. Dan makin
rendah motivasi kerja, maka makin rendah efektivitas kerja guru
SMK Negeri di Kota samarinda.
Guna meningkatkan efektivitas kerja SMK Negeri di Kota
samarinda, maka perlu ditingkatkan sebesar 33,69% motivasi kerja
guru yang berada dalam kategori rendah. Hal ini sesuai dengan
pendapat Wahyudi bahwa motivasi kerja guru adalah dorongan
untuk menggerakkan dan mengarahkan guru melakukan pekerjaan
sesuai dengan rencana guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.51
Sumarno, “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesionalisme
50
Guru terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Paguyangan
Kabupaten Brebes”, (Tesis, Universitas Negeri Semarang, 2009), h. iv.
51 Imam Wahyudi, Mengejar Profesionalisme Guru (Jakarta: Prestasi Pustaka,
2012), h. 73.
186
Menurut responden R, rendahnya motivasi kerja guru karena:
Bisa jadi terkait dengan income yang mereka dapatkan, terlebih
tidak semua gurukan ... tidak semua PNS. Kalo PNS mestinya
ndak ada masalah, harusnya. Tapi untuk kawan-kawan-kawan
yang honor secara kesejahteraankan masih dibawah walaupun
sudah ada pergantian. Tapi ada juga hal lain terkait dengan
motivasi ini kurang nyamannya kondisi di sekolah. Manakala
kondisi di sekolah kurang nyaman tentu untuk datang ke sekolah
saja guru ya ndak bisa rajin.52
Responden R berpandangan bahwa penyebab rendahnya
motivasi kerja adalah rendahnya pendapatan yang diterima guru dan
kondisi sekolah yang kurang nyaman.
Saran yang diberikan oleh responden R adalah “Harus dijaga
agar suasana dan lingkungan kerja harus tetap kondusif dan ini
akrap sekali dengan kebijakan kepala sekolah”.53
Apa yang dikemukakan oleh responden R tentang penyebab
rendahnya motivasi kerja adalah kondisi sekolah, diperkuat oleh
responden A berikut:
Banyak si, Pak, faktor penyebab motivasi guru. Yang pertama
mungkin di lingkungan sekolahnya kurang nyaman, misalkan gak
cocok sama e... sesama teman gurunya, atau suasana di kelas
mungkin ada masalah kurang baik dengan siswa, bisa juga, ada
masalah dengan kepala sekolah.54
Saran yang disampaikan oleh responden A adalah “Jadi kalo
mau memperbaiki hal itu ya ... harus perlu perubahan, perubahan
bagaimana supaya suasana kerja itu tetap nyaman”.55
52 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 10.
53 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 10.
54 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 10.
55 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 10.
187
Butir yang menunjukkan rendahnya motivasi kerja guru SMK
Negeri di Kota Samarinda terutama masalah antusiasme kerja guru
saat menghadapi kondisi sulit. Diketahui bahwa sebesar 46,24%
antusiasme kerja guru menurun saat mengahdapi kondisi sulit.
Rendahnya antusiasme kerja guru saat menghadapi kondisi
sulit tersebut tidak sesuai dengan unsur utama dalam devinisi
motivasi yang meliputi timbulnya hasrat, kegairahan dan kegigihan
dalam bekerja. Hal itu setara dengan perkataan Robins dalam
Setiawan “Motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat
upaya yang tinggi ... dalam memenuhi beberapa kebutuhan
individu”.56
Menurut responden R, faktor yang menyebabkan antusiame
kerja guru menurun saat mengahadapi kesulitan adalah:
Itu bisa jadi karena guru tersebut kurang apa ya ... kurang
menyadari manfaat dari peranan seorang guru, bisa jadi seperti
itu, kurang menyadarilah, manfaat Kalau saya seperti ini, maka
nanti manfaatnya juga lebih besar. Tapi kalu begini, untuk apa
capek-capek, toh anak orang aja kok. Ketika kesulitan ya sudah
anak orang aja kok.57
Responden R berpendapat tentang penyebab rendahnya
antusiame guru saat kondisi sulit adalah kurangnya ketekadan guru
untuk berprestasi dalam [Link] mengatasi hal ini, responden
R merekomendasikan:
56 Kiki Cahyanai Setiawan, “Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan
Level Pelaksana di Divisi Operasi PT. Pusri Palembang”, Psikis-Jurnal Psikologi Islami,
Vol. 1 No. 2, 2015, 43-53
57 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 11.
188
Bisa juga kesejahteraan dinaikkan, tapi bisa juga perlu, Pak,
yang selama ini mungkin agak kurang itu apa namnya antara ini
ya semacam reward punishmen , jadi kalu guru itu diajarkan
rajinlah biar punya ... ada rewardnya, penghargaanya, itu yang
selama ini kalau di sekolah.58
Guna menstabilkan motivasi kerja guru saat kondisi sulit,
responden R menganggap perlunya hadiah bagi guru yang sema-
ngat tinggi dan hukuman bagi guru yang rendah semangatnya.
Berbeda dengan responden R tentang penyebab antusiasme
kerja guru menurun saat menghadapi kondisi sulit, responden A
mengemukakan “Pasti mempengaruhilah, Pak, ya. Apa lagi kalo
suasana sudah kurang nyaman pasti gurunya ya pasti males juga,
otomatis itu, Pak.” 59
Responden A tetap menganggap lingkungan dan suasana
kerja menjadi masalah yang dapat menurunkan antusiasme kerja
guru. Responden A menawarkan solusi sebagai upaya agar guru
tetap dalam kondisi yang stabil saat mengahdapi kesulitan “Jadi bisa
mengatasi perubahan itu. Ketidaknyamanan suasana bisa dirubah
menjadi suasana yang menyenangkan oleh gurunya tersebut melalui
kebijakan pimpinan, itu wajib, atau dari pihak lain yang bisa
memperbaiki supaya suasana bisa bagus”.60
58 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 11.
59 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 11.
60 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 11.
189
Butir terendah kedua dari motivasi kerja guru adalah masalah
evaluasi diri. Sebanyak 49,36% guru tidak melakukan evaluasi diri
guna memperbaiki kinerjanya.
Guru seharusnya melakukan evaluasi diri karena evaluasi diri
merupakan proses yang menentukan sampai sejauh mana tujuan
pendidikan dapat dicapai.61
Menurut responden R penyebab guru tidak melakukan
evaluasi diri adalah:
Bisa jadi anu si Pak, sebenarnya guru yang malah kurang tahu
apa yang harus dilakukan terkait dengan evaluasi itu. Apa lagi
tadi terkait dengan supervisi tadi, terkait dengan apa namanya
tadi, kan selama inikan feed back dari supervisor kepada guru
tidak sampai, sehingga juga apa yang mau dievaluasi wong saya
juga ndak tau hasilnya yang saya kerjakan.62
Menurut responden R, guru tidak melakukan evaluasi diri
karena a) guru tidak paham dengan istilah evaluasi diri bagi guru
sehingga guru tidak melakukan apapun terkait evaluasi diri; dan 2)
guru tidak mendapatkan catatan apapun dari hasil supervisi yang
telah dilakukan padanya, sehingga guru tidak tahu kekurangannya.
Solusi yang ditawarkan oleh responden R untuk mengatasi
agar guru melakukan evaluasi diri adalah “Ya itu tadi, sekolah harus
melakukan supervisi dengan benar. Benar-benar dilaksanakan tidak
61 Basukiyatno, Peranan Evaluasi Diri dalam Pengembangan dan Penyelengga-
raan Program Pendidikan Tenaga Kependidikan, Juranal tk diterbitkan, Jurnal Pendi-
dikan, Vol. 1 No. 1 2005, h. 1 – 6.
62 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 12.
190
hanya untuk guru PNS saja untuk PKG tapi yang honorpun juga
dikenakan”.63
Menurut responden R, agar guru melakukan evaluasi diri
adalah dilaksanakannya supervisi secara optimal terhadap guru
Negeri dan juga terhadap guru honorer.
Adapun menurut responden A, faktor penyebab guru tidak
melakukan evaluasi diri guna memperbaiki kinerjanya adalah karena
faktor motivasi:
Masalah dari guru tidak mau memperbaiki, pasti rendahnya
motivasi guru tersebut ya untuk memperbaiki. Otomatis, Pak,
kalo dia tidak mau memperbaiki dari kelemahnnya, diakan berarti
e ... harusnya ada motivasi yang membuat supaya dia bisa
memperbaiki kekurangan dia. 64
Menghadapi persoalan guru tidak melakukan evaluasi diri
guna memperbaiki kinerjnya, responden A merekomendasikan
sebagai berikut:
Misalkan, ada kebijakan jika gurunya mempunya motivasi yang
tinggi dalam e ... tugasnya dia ada dapat reward apa supaya
kemudian misalkan dia kurang itu diberikan sangsi. Jadi ada
solusi yang memacu supaya motivasi guru supaya terus
memperbaiki dirinya. Tapi kalo tidak ada yang pemicunya ya
begitu-begitu aja, Pak. Ya ada pemicu dan yang dipicu mau,
guru perduli. 65
Secara ringkas saran responden A agar guru melakukan
evaluasi diri guna memperbaiki kinerjanya adalah a) pimpinan
63 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan R, Nomor 12.
64 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 12.
65 Lampiran Transkripsi Wawancara P dengan A, Nomor 12.
191
menciptakan pemicu yang bisa membangkitkan motivasi guru; dan b)
guru bersedia dipicu dan perduli dengn prestasi kerja.
Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Tampi bahwa motivasi kerja berpengaruh terhadap
kinerja karyawan. 66 Tompi mengambil keputusan tersebut dengan
membandingkan nilai signifikansi < nilai alpha (0,000 < 0,05).67
4. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kompetensi Profe-
sional dan motivasi kerja terhadap Efektivitas Kerja
Secara bersama-sama, gaya kepemimpinan kepala sekolah,
kompetensi profesional dan motivasi kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota
Samarinda. Hal itu didasarkan atas perolehan angka signifikansi
lebih kecil dari taraf alpha sebesar 5% (0,000 < 0,05) dengan derajat
pengaruh sebesar 0,758 atau 75,8%. Sisanya 0,242 atau 24,2%
dipengaruhi oleh variabel lain yang yang tidak dimasukkan ke dalam
model penelitian.
Guna meningkatkn efektivitas kerj guru SMK Negeri di Kota
Samarinda, maka perlu ditingktkan sebesar 29,48 % efektivits kerja
guru yang masih rendah, perlu ditingkatkan sebesar 43,15% ketepa-
tan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang masih rendah, perlu
ditingkatkan sebesar 38,95% kompetensi profesional yang masih
66 Bryan Johannes Tampi, “Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Motivasi
terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Bank Negara Indonesia,Tbk (Regional Sales
Manado), Journal: Acta Diurna, Volume III. No.4. Tahun 2014, h. 1 – 20.
67 Ibid.
192
rendah, dan perlu ditingkatkan sebesar 33,69% motivasi kerja yang
masih rendah.
Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Hasibuan bahwa
hakikat dari gaya kepemmpinan kepala sekolah adalah bertujuan
untuk mendorong produktivitas kerja. 68 Bagi guru, kompetensi
prifesional merupakan sarana untuk memperlancar pelaksanaan dan
penyelesian pekerjaan. Johnson dalam Wina mengatakan bahwa
kompetensi profesional, yaitu kemampuan yang berhubungan
dengan penyelesaian tugas kegurua.69 Adapaun motivasi merupa-
kan pemicu timbunya hasrat seseorang melakukan pekerjaan.
Robins dalam Setiawan “Motivasi adalah kesediaan untuk menge-
luarkan tingkat upaya yang tinggi ... dalam memenuhi beberapa
kebutuhan individu”.70
Dengan demikian, jika guru didukung oleh gaya kepemim-
pinan kepala sekolah yang tepat, guru memiliki profesionalisme yang
mumpuni serta memiliki motivasi kerja yang tinggi, maka kerja guru
SMK Negeri di Kota samarinda cenderung efektif.
Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Fajar Apriani, “Pengaruh Kompetensi, Motivasi, dan
Kepemimpinan terhadap Efektivitas Kerja”. Dalam analisis determi-
nasinya diperoleh angka sebesar 0,645 atau 64,5%. Artinya,
68 Hasibuan Malayu S.P, Loc. Cit.
69 Wina Sanjaya, Loc. Cit.
70 Kiki Cahyanai Setiawan, Loc. Cit.
193
besarnya pengaruh variabel kompetensi, motivasi dan kepemim-
pinan secara kebersamaan terhadap efektivitas pelaksanaan Tri-
dharma perguruan tinggi adalah 64,5%, sedangkan sisanya disebab-
kan oleh faktor-faktor lainnya.71
G. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian ini terletak pada beberapa hal, yaitu:
1. Penelitian ini terbatas hanya pada jumlah responden sebanyak 95
orang dan terbatas pada guru Negeri SMK Negeri di kota Samarinda
saja, sehingga hasilnya mungkin kurang akurat, jika penelitian
ditujukan pada populasi yang lebih luas dengan responden lebih
banyak.
2. Adanya keterbatasan penelitian dengan menggunakan kuesioner
yang terkadang jawaban dari responden tidak menunjukkan keada-
an yang sesungguhnya.
3. Adanya keterbatasan penelitian dengan hanya melibatkan 3 variabel
independen, sehingga terdapat kemungkinan hasil penelitian berbe-
da bila dilakukan penelitian lain dengan menambah atau mengganti
variabel bebas lain yang kemungkinan juga berpengaruh terhadap
variabel dengan model regresi yang baik pula.
71 Fajar Apriani, “Pengaruh Kompetensi, Motivasi, dan Kepemimpinan terhadap
Efektivitas Kerja”, Bisnis & Birokrasi, Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, volume 16,
Nomor 1, Jan—Apr 2009, h. 13 – 17.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dari variabel pengaruh gaya
kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi profesional dan motivasi
kerja terhadap efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda,
maka dalam penelitian ini diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Gaya kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh secara signifikan
terhadap efektivitas kerja guru SMK Negeri di kota Samarinda. Hal
ini ditunjukkan melalui angka signifikansi lebih kecil dari taraf alpha
5% (0,000 < 0,05), sehingga H0 ditolak. Koesisien regresi sebesar
0,334 adalah positif, artinya semakin meningkat gaya kepemimpinan
kepala sekolah, maka semakin meningkat pula efektivitas kerja guru
SMK Negeri di Kota Samarinda.
Guna meningkatkan efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota
Samarinda, maka perlu ditingkatkan ketepatan gaya kepemimpinan
kepala sekolah sebesar 43,15% yang berada dalam kisaran rendah.
Menurut responden, rendahnya ketepatan gaya kepemim-
pinan kepala sekolah tersebut karena kurang memahami karakter
bawahan, sehingga kepemimpinannya dianggap sering tidak tepat.
Untuk itu kepala sekolah hendaknya memahami karakter bawahan
dan kebijakannya dengan mempertimbangkan karakter bawahan.
Butir gaya kepemimpinan kepala sekolah terendah ketepannya
194
195
adalah pada masalah keterbukaan anggaran sekolah. Terdapat 71
orang guru atau 74,74% guru sependapat bahwa pimpinan tidak
terbuka masalah anggaran pendapatan dan belanja sekolah.
Menurut responden, hal itu dapat dimaknai bahwa pemimpin tersebut
tidak jujur. Responden merekomendasikan agar kepala sekolah
terbuka masalah anggaran sekolah, jika ditutup-tutupi maka akan
menimbulkan perasangka buruk yang mengganggu hubungan
pimpinan dengan guru buruk dan menurunkan gairah kerja guru.
Butir gaya kepemimpinan kepala sekolah yang rendah ke-2
ketepatannya adalah masalah kesesuaian antara perkataan dengan
perbuatan pemimpin. Sebanyak 65,26% guru berasumsi bahwa
perkataan pimpinan tidak sesuai dengan perbuatannya. Menurut
responden, kepala sekolah tidak menyadari bahwa segala perkataan
dan perilaku serta kebijaknnya selalu diperhatikan oleh bawahan.
Oleh karena itu hendaknya pimpinan mengelola perkataan dan
perilakunya agar dapat diteladani. Bila pimpinan tak dapat diteladani,
maka dapat berimbas pada rendahnya kinerja guru.
2. Kompetensi profesional berpengaruh secara signifikan terhadap
efektivitas kerja guru SMK Negeri di kota Samarinda. Hal ini
ditunjukkan melalui perolehan angka signifikansi lebih kecil dari taraf
alpha 5% (0,001 < 0,05), sehingga H0 ditolak. Nilai koefisien sebesar
0,423 adalah positif, artinya semakin meningkat kompetensi profesi-
onal, maka semakin meningkat pula efektivitas kerja guru. Dan
196
semakin rendah kompetensi profesional, maka semakin rendah pula
efektivitas kerja guru.
Guna meningkatkan efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota
Samarinda, maka perlu ditingkatkan kompetensi profesional sebesar
38,95% yang berada dalam kisaran rendah. Menurut responden,
rendahnya kompetensi profesional guru karena guru itu sedari awal
rendah kemampuannya, atau menjadi guru hanya sebuah
keterpaksaan setelah gagal masuk kejurusan favoritnya. Guna
mengatasi hal tersebut, maka guru harus senantiasa belajar untuk
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Butir rendahnya kompetensi profesional terutama pada mas-
alah keaslian rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
disusun oleh guru. Terdapat 47,37% RPP yang disusun guru adalah
hasil copy paste dari RPP orang lain yang sudah jadi. Menurut
responden, hal itu karena guru tidak mau repot menyusun RPP yang
hingga ratusan lembar isinya, terlebih lagi RRP yang selalu berubah
setiap tahun. Untuk itu, pihak pemangku kebijakan dapat membuat
suatu sistem sehingga guru harus menyusun RPP dengan karyanya
sendiri. Selain itu hendaknya Kemendikbud dapat meringkas isi
kandungan RPP sehingga tidak banyaknya unsur yang berulang.
Butir kompetensi profesional terendah kedua adalah masalah
pengembangan RPP. Terdapat 49,47% guru tidak mengembangkan
RPP berdasarkan bukti gambaran kinerjanya. Menurut responden,
197
supervisi belum dilakukan secara maksimal sehingga tak ada
masukan atas kekurangan kinerja guru. Seharusnya supervisi
dilakukan secara maksimal sehingga ada masukan mengenai
kekukurangan kinerja guru guna perbaikan dan pengembangan
RPP.
3. Motivasi kerja berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas
kerja guru SMK Negeri di kota Samarinda. Hal ini ditunjukkan melalui
nilai signi-fikansi lebih kecil dari taraf alpha 5% (0,007 < 0,05),
sehingga H0 ditolak. Nilai koefisien positif 0,339, artinya berpenga-
ruh positif, yaitu semakin meningkat motivasi kerja, maka semakin
meningkat pula efektivitas kerja guru guru SMK Negeri di Kota
Samarinda.
Guna meningkatkan efektivitas kerja SMK Negeri di Kota
samarinda, maka perlu ditingkatkan sebesar 33,69% motivasi kerja
guru yang berada dalam kategori rendah. Menurut responden,
rendahnya motivasi kerja guru karena lingkungan dan suasana
sekolah tidak kondusif. Seharusnya pimpinan dapat menciptakan
lingkungan sekolah yang menyenangkan dan menciptakan hubu-
ngan yang harmonis antar individu di sekolah.
Butir yang menunjukkan rendahnya motivasi kerja guru SMK
Negeri di Kota Samarinda terutama masalah turunnya antusiasme
kerja guru saat menghadapi kondisi sulit. Terdapat 46,24%
antusiasme kerja guru menurun saat mengahdapi kondisi tersulit.
198
Menurut responden, hal itu disebabkan guru kurang peduli dengan
pentingnya pendidikan yang bermutu dan tidak menyadari manfaat
peran seorang guru bagi siswa. Untuk itu, pimpinan dapat
memberikan hadiah bagi guru yang tinggi antusiasme kerjanya dan
memberikan sangsi bagi guru yang rendah antusiasme kerjanya.
Butir terendah kedua dari motivasi kerja guru adalah masalah
evaluasi diri. Sebanyak 49,36% guru tidak melakukan evaluasi diri
guna memperbaiki kinerjanya. Menurut responden, hal itu karena
kegiatan itu tidak terbiasa, sehingga guru tak memikirkannya. Oleh
karena itu, kepala sekolah perlu menciptakan pembiasaan evaluasi
diri bagi semua individu di sekolah dan melakukan tindak lanjutnya.
4. Secara bersama-sama, gaya kepemimpinan kepala sekolah,
kompetensi profesional dan motivasi kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota
Samarinda. Hal itu didasarkan atas perolehan angka signifikansi
lebih kecil dari taraf alpha sebesar 5% (0,000 < 0,05).
Adapun kemampuan model regresi variabel gaya
kepemimpinan kepala sekolah, kompetensi profesional dan motivasi
kerja dalam menjelaskan perubahan yang terjadi pada variabel
efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota Samarinda sebesar 0,758
atau 75,8%. Sisanya 0,242 atau 24,2% dipengaruhi oleh variabel lain
yang yang tidak dimasukkan ke dalam model penelitian.
199
Guna meningkatkn efektivitas kerj guru SMK Negeri di Kota
Samarinda, maka perlu ditingktkan sebesar 29,48 % efektivits kerja
guru yang berada dalam kisaran rendah, perlu ditingkatkan sebesar
43,15% ketepatan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang berada
dalam kisarab rendah, perlu ditingkatkan sebesar 38,95%
kompetensi profesional yang masih berada dalam kisaran rendah,
dan perlu ditingkatkan sebesar 33,69% motivasi kerja yang berada
dalam kisaran rendah. Dengan demikian, jika guru didukung oleh
gaya kepemimpinan kepala sekolah yang tepat, guru memiliki
profesionalisme yang mumpuni, dan guru memiliki motivasi kerja
yang tinggi, maka kerja guru SMK Negeri di Kota samarinda
cenderung efektif.
B. Saran
Setelah dilakukan analisis hasil penelitian dan mencermati
terhadap semua keterbatasan yang ada, peneliti memberikan saran
sebagai berikut:
1. Bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur
a. Mengadakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) guna mening-
katkan profesionalisme guru dengan mengutamakan peningkatan
kemampuan penyusunan program tahunan dan program semester
serta kemampuan penyusunan rencana pelaksanaan pembe-
lajaran (RPP).
200
b. Memetakan kompetensi profesionalisme yang dimiliki oleh guru
untuk diperlakukan sesuai kebutuhan guru.
c. Mengontrol hasil supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah
dan pengawas kepada guru agar kedua supervisor tersebut
melakukan supervisi secara maksimal.
d. Mengadakan pertemuan dengan kepala sekolah dan guru untuk
diberikan motivasi agar kepala sekolah dan guru terpicu untuk
berhasarat, bergairah dan gigih dalam bekerja.
2. Bagi Kepala Sekolah SMK Negeri di Kota Samarinda
a. Kepala sekolah hendaknya memperbaiki karakter kepribadian
terutama masalah keterbukaan anggaran pendapatan dan belanja
sekolah, dan kesesuaian antara perkataan dengan perbuatan.
b. Kepala sekolah hendaknya melakukan supervisi secara optimal
pada awal tahun pembelajaran agar guru menyusun progaram
tahunan dan program semester, serta menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada awal tahun.
c. Kepala sekolah hendaknya melakukan supervisi dengan
memberikan masukan untuk perbaikan dan pengembangan RPP.
d. Kepala sekolah hendaknya menciptakan lingkungan dan suasana
kerja yang nyaman dan tenteram agar guru bergairah dan gigih
bekerja.
201
e. Kepala sekolah hendaknya mengadakan IHT (In House Training)
tentang kurikulum yang terbaru agar guru menguasai penyusunan
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
f. Kepala sekolah hendaknya memberikan penghargaan bagi guru
yang berprestasi dan memberikan sangsi bagi guru yang gagal
berprestasi.
3. Bagi Guru
a. Guna meningkatkan efektivitas kerja guru SMK Negeri di Kota
Samarinda, maka guru hendaknya 1) menyusun program tahunan
dan program semester pembelajaran, sehingga dapat diketahui
jumlah pertemuan dan standar kompetensi yang diajarkan dalam
1 tahun dan 1 semester; 2) menyusun rencana pelaksanaan
pembelaja-ran (RPP) pada awal tahun pembelajaran atau awal
semester agar pelaksanaan pembelajaran terlaksana secara
sistematis dan terukur.
b. Guna meningkatkan kompetensi profesional, maka guru hendak-
nya 1) meningkatkan kemampuan penyusunan rencana pelaksa-
naan pembelajaran (RPP), sehingga RPP yang disusun bukan
hasil kopi paste dari RPP orang lain; 2) Melakukan pengemba-
ngan RPP, sehingga menginformasikan pengetahuan yang
kekinian dan siswa berantusias untuk mengikuti pembelajaran.
c. Guna meningkatkan motivasi kerja, maka guru hendaknya 1)
meningkatkan hasrat dan gairah untuk melakukan pekerjaan,
202
berupaya dengan maksimal, berdaya juang yang kuat, gigih dan
stabil, tak mengeluh, dan pantang menyerah demi mewujudkan
pendidikan yang bermutu; 2) melakukan evaluasi diri untuk
menemukan kekuarangan dalam pelaksanaan pekerjaan dan
ditindaklanjuti dengan perbaikan.
4. Bagi Peneliti Lain
a. Terbuka peluang untuk mengembangkan model yang kemungki-
nannya lebih baik dengan mengganti atau menambah variabel
prediktor terhadap efektivitas kerja guru.
b. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan memasukkan variabel
lain misal variabel kecerdasan emosional, penghargaan dan kom-
pensasi yang diterima guru sebagai variabel yang kemungkinan
juga berpengaruh terhadap efektivitas kerja guru.
c. Untuk penelitian selanjutnya bisa menggunakan responden yang
lebih banyak, misal 200 responden dan pada beberapa sekolah,
sehingga populasi lebih luas dan hasil penelitian akan lebih valid.
d. Untuk penelitian selanjutnya hendaknya memperhatikan respon-
den untuk mengisi kuesioner, yaitu untuk subyek penelitian guru
digunakan responden kepala sekolah dan/wakilnya dan untuk
subyek penelitian kepala sekolah digunakan responden guru.
203
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, M. (2008). Perencanaan pembelajaran. Bandung: PT Remaja Ros-
dakarya.
Abdurrahman, M. (2002). Dinamika masyarakat Islam dalam wawasan
fikih. PT Remaja Rosdakarya.
Abraham, M. (1970). Motivation and Personality, Third Edition. America:
Longman.
Athiyah, M. dan al-Abrasy. (1984). Keagungan Muhammad Rasulullah,
terj. Muhammad Tahir dan Abu Laila, Cet. 2. Jakarta: Pustaka
Jaya.
Danim, S. (2010). Kepemimpinan Pendidikan, Bandung: Alfabeta.
Departemen, A. (2000). Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: CV.
Penerbit Diponegoro.
Djemari, M. (2012). Pengukuran Penilaian & dan Evaluasi Pendidikan,
Cet. Kesatu. Yokyakarta: Nuha Medika.
Duane, S. (1991). Growth Psychology: Models of The Healthy Personality.
terj. Yustinus. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Dwi, P. (2014). SPSS 22 Pengolah Data Terpraktis, Edisi 1, Yogyakarta:
Andi.
Endang, M. (2003). Kurikulum berbasis kompetensi, Bandung: PT
Rosdakarya.
------- (2004). Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
------- (2005). Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi dan
Implementasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
------- (2005). Menjadi kepala sekolah profesional. Bandung: [Link]
Rosdakarya.
------- (2008). Menjadi kepala sekolah profesional. Bandung: [Link]
Rosdakarya.
------- (2003). Kurikulum berbasis kompetensi, Bandung: PT Rosdakarya.
Fatimah, E. (2006). Psikologi Perkembangan. Perkembangan Peserta
Didik. Bandung: Pustaka Setia.
Fazlurrahman. (1991). Nabi Muhammad saw, sebagai Seorang Pemimpin
Militer, Terj. Annas Siddik. Jakarta: Bumi Aksara.
Hadari, N. (1993). Kepemimpinan Menurut Islam, Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
204
Hamalik, O. (2001). Proses Belajar Mengajar, Cet. Ke-1. Jakarta: Bumi
Aksara.
Hamdani, I (2001). Filsafat Pendidikan Islam, Cet. Ke-2. Bandung: Pusta-
ka Setia.
Hamzah B.U. (2007). Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
------- (2013) Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang
pendidikan, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hasibuan, M. S.P. (2001). Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi
Revisi. Jakarta: Bumi Aksara.
------- (2003). Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi. Jakarta:
PT. Bumi Aksara.
------- (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara.
Heidjrachman dan Husnan Suad. (2002). Manajemen Personalia,
Yogyakarta: BPFE.
Hidayat. (1986). Teori Efektifitas dalam Kinerja Karyawan. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Husaini, U. (2011). Manajemen, Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan,
Edisi 3. Jakarta Timur: PT. Bumi Aksara.
Husein, U. (2003). Riset Sumber Daya Manusia dalam Organisasi.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum.
Husnan, S. dan Heidjrachman. (2002). Manajemen Personalia.
Yogyakarta: BPFE.
Imam, G. (2016). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM
SPSS 23: Cetakan 8. Universitas Diponegoro, Semarang.
Imam, W. (2009). Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Organisasi
Pembelajaran (Learning Organization), Cet. Kedua, Bandung:
Alfabeta.
------- (2012). Mengejar Profesionalisme Guru. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Keith, D., & Frederick, W. (2011). Perilaku Dalam Organisasi, Edisi ke
tujuh, Jilid kedua. Erlangga, Jakarta.
Komarudin, S. (2001). Asas-Asas Manajemen Perkantoran. Bandung:
Kappa Sigma.
Lupiyoadi A. R. & Hamdani. (2011). Manajemen Pemasaran Jasa. Jakar-
ta: Salemba Empat.
Mangkunegara, (2009). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Margono, S. (2010). Metodologi Penelitian Pendidikan, Cet. Ke-8. Jakarta:
Rineka Cipta.
205
Marno & Triyo, S. (2008). Manajemen dan kepemimpinan pendidikan
Islam. (Bandung: PT. Refika Aditama).
Muhaimin dkk. (2011). Manajemen Pendidikan, Aplikasi dalam Penyusu-
nan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, Edisi 1, Cet.
Ke-3. Jakarta: Pranada Media Group.
Muhaimin, K. (2004). Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: Remaja
Rosda-karya.
------- (2004). Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: Remaja Ros-
dakarya.
Nana, S.S. (2007). Landasan psikologi Proses Pendidikan, [Link]-4.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ngalim, P. (2012). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Piet, S. (1981). Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, Surabaya:
Usaha Nasional.
Ravianto. (1989). Produktivitas dan Seni Usaha. Jakarta: PT Binaman
Teknika Aksara.
Richard M.S. (1985). Efektivitas Organisasi, Jakarta: Erlangga.
Saiful, S. (2009). Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga
Kepemimpinan, Memberdayakan Guru, Tenaga Kependidikan dan
Masyarakat dalam Manajemen Sekolah. Bandung: Alfabeta.
------- (2010). Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan.
Bandung: CV Alfabeta.
Sardiman, A. M. (2001). Interaksi dan Motivasi dalam belajar Menga-
jar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sarwono J, 2006, Buku Pintar IBM SPSS Statistics 19, Jakarta: PT Elex
Media Komputindo.
Sondang P.S. (1995). Teory Motivasi dan aplikasinya, Cetakan kedua.
Jakarta: Rineka Cipta.
Stephen P.R. (1990). Teori Organisasi, Struktur, Desain dan Aplikasi,
Jusuf Udaya, Lic, Ec. Jakarta: Arcan.
Steyn, G.M. (2002). The changing Principalship in South African Schools.
Educare, 32 (1&2).
Sugiyono. (2003). Statistik Untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta.
------- (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Cet. Ke-
3. Jakarta: Alfabeta Bandung.
------- (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Cet. Ke
18. Jakarta: Alfabeta Bandung.
206
Suharsimi, A. (1993). Manajemen Pengajaran Secara Manusia. Jakarta:
Rineka Cipta.
------- (2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan prak-tik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Suryana, A., & Fathurrohman, P. (2012). Guru profesional. Bandung: PT
Refika Aditama.
Susilo. (2009). Penelitian Pendidikan. Jakarta: Poliyama Widya Pustaka.
Syahruddin, N. (2002). Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum,
Jakarta: Ciputat Press.
Ulum, I.M.D. (2004) Akuntansi Sektor Publik, Malang: UMM Press.
W.J.S, Purwadarminta . (2015). Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi
ke-Tiga. Jakarta Timur, Balai Pustaka.
Wahjosumidjo. (1999). Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan Teoritis
dan Permasalahannya. Jakarta: Rajawali Press.
Wahyuddin N.N. (2011). Teori Belajar dan Pembelajaran, Medan: Perdana
Publishing.
Wibowo. (2007). Manajemen Kinerja, Edisi ketiga. Jakarta: Rajawali
Press.
Wina, S. (2005). Strategi Pembelajaran Berorientasi Proses Pendidikan.
Jakarta: Prenada Media.
Wirawan.(2003). Kapita Selekta Teori Kepemimpinan: Pengantar untuk
Praktek dan Penelitian. Jakarta: Yayasan Bangsa Indonesia dan
Uhamka Press.
Republik Indonesia. (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi
Kurikulum 2013.
Republik Indonesi (2005)., Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005,
tentang Guru dan Dosen.
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan.
Republik Indonesia, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Pembinaan
Ketenagaan. 2018. Data SMK Negeri di Samarinda dan Gurunya.
Provinsi Kalimantan Timur.
Republik Indonesia,. (2010). Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat
Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan,
2010. Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah.
Jakarta: Ditjen PMPTK.
207
Republik Indonesia (20120) .Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
2012, Badan Pengembangan Sumber daya Manusia Pendidikan
dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Pusat
Pengembangan Profesi Pendidik, Pedoman penilaian Kinerja
Guru, Buku 2, Jakarta.
Republik Indonesia. (2011). Kementerian Pendidikan Nasional, 2011,
Direktorat Jende-ral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan, Buku 2 Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja
Guru (Pk Guru). Jakarta. Kemendiknas.
Republik Indonesia (2009). Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi, Peraturan Menteri Nomor 16
Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angaka
Kreditnya, Pembinaan dan Pengembanagan Profesi Guru Buku 2,
Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru. Jakarta.
Republik Indonesia (2007). Menteri Pendidikan Nasional, Lampiran
Peraturan Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta.
Republik Indonesia (2016). Peraturanmenteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 23, 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, Pasal 2
Ayat 1.
Ananda, S. S., & Sunuharyo, B. S. (2018). Pengaruh Karakteristik Individu
Dan Karakteristik Pekerjaan terhadap Kinerja Karyawan dengan
Variabel Mediator Motivasi Kerja Karyawan (Studi Pada Karyawan
Pt Petrokimia Gresik). Jurnal Administrasi Bisnis, 58(1), 67-76.
Apriani, F. (2011). Pengaruh Kompetensi, Motivasi, dan Kepemimpinan
terhadap Efektivitas Kerja. Bisnis & Birokrasi Journal, 16 (1).
Apriani, R. (2015). Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Efektivitas
Kerja Guru Di Sekolah Dasar Islam Terpadu (Sdit) Nurul Hadi
Samarinda. Nomor, 2(2015), 564-577.
Astryantym, Mandasari, et al., 2016. “Pengaruh Gaya Kepemimpinan
terhadap Motivasi Kerja”, (Studi pada Karyawan AJB Bumiputera
1912 Kantor Wilayah Malang), Jurnal Administrasi Bisnis (JAB),
40 (1), p. 31- 39.
Azwar, S. (1993). Kelompok Subjek Ini Memiliki Harga Diri Yang Rendah";
Kok, Tahu...?. Buletin Psikologi, 1(2), 13-17.
Daswati, D. (2012). Implementasi Peran Kepemimpinan dengan Gaya
Kepemimpinan Menuju Kesuksesan Organisasi. Academica, 4(1).
Denison, D. R., & Mishra, A. K. (1995). Toward a theory of organizational
culture and effectiveness. Organization science, 6 (2), 204-223.
208
Erdianti, E. (2014). Strategi Kepala Sekolah sebagai Supervisor dalam
Mengembangkan Kompetensi Profesional Guru. Al-Ta'dib, 7(1),
37-53.
Habib, H. (2017). A study of teacher effectiveness and its importan-
ce. National Journal of Multidisciplinary Research and
Development, 2(3), 530-532.
Helmi, A. F. (1996). Disiplin Kerja. Buletin Psikologi. Tahun IV, Nomor, 2.
Herawan, E. (2013). Kinerja Kepala Sekolah Sebagai Instructional
Leader. Pedagogia, 13(3), 167-172.
Ismail, T. (2017). Kepemimpinan, Kompensasi, Motivasi Kerja, Dan
Kinerja Guru SD Negeri. Jurnal Administrasi Pendidikan
UPI, 24(1), 60-69.
Khairizah, A. (2015). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja
Karyawan (Studi pada Karyawan di Perpustakaan Universitas
Brawijaya Malang). Jurnal Administrasi Publik, 3(7), 1268-1272.
Kingkin, P., Rasyid, H. F., & Arjanggi, R. (2020). Kepuasan kerja dan
masa kerja sebagai prediktor komitmen organisasi pada karyawan
PT Royal Korindah di Purbalingga. Proyeksi: Jurnal Psikologi, 5(1),
17-32.
Kola, A. J., & Gbenga, O. A. (2015). The Effectiveness of Teachers in
Finland: Lessons for the Nigerian Teachers. American Journal of
Social Sciences, 3(5), 142-148.
Kusuma, L. P. S. I., Yudana, I. M., & Marhaeni, A. N. (2013). Kontribusi
Persepsi Siswa Tentang Kemampuan Guru Mengelola
Pembelajaran, Kemampuan Verbal, Dan Ekspektasi Karir
Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Inggris Siswa Kelas XI IPA
Pada SMA Negeri Di Kecamatan Tabanan. Jurnal Administrasi
Pendidikan Indonesia, 4(1).
Leonard, L. (2016). Kompetensi tenaga pendidik di Indonesia: Analisis
dampak rendahnya kualitas SDM guru dan solusi perbai-
kannya. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 5(3).
Mahardhani, A. J. (2016). Kepemimpinan ideal kepala sekolah. Jurnal
Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran, 3(2), 1-4.
Muhammad, A. (2009). Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Dasar,
Khazanah Pendidikan”, Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. 1, No. 2,
p. 147-161.
209
Nurhayati, T. (2016). Hubungan Kepemimpinan Transformasional Dan
Motivasi Kerja. Edueksos: Jurnal Pendidikan Sosial &
Ekonomi, 1(2).
Pradana, M. (2015). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Motivasi
Karyawan di Ganesha Operation, Bandung. Jurnal Studi
Manajemen dan Bisnis, 2(1), 24-39.
Pratiwi, N. K. (2017). Pengaruh Tingkat Pendidikan, Perhatian Orang Tua,
dan Minat Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Bahasa
Indonesia Siswa SMK Kesehatan di Kota Tange-
rang. Pujangga, 1(2), 31.
Putra, J. A. (2014). Peran Kepala Sekolah Sebagai Inovator Di Sekolah
Menengah Pertama Negeri Kota Pariaman. Jurnal Bahana
Manajemen Pendidikan, 2(1), 347-355.
Rachmawati, I. K. (2010). Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Disiplin Kerja
dan Motivasi Kepala Sekolah terhadap Etos Kerja Guru di Smp
Negeri 48 Palembang Sumatera Selatan. Jurnal Ilmiah Bisnis dan
Ekonomi ASIA, 4(2), 84-97.
Raharjo, S. T., & Nafisah, D. (2006). Analisis pengaruh gaya
kepemimpinan terhadap kepuasan kerja, komitmen organisasi dan
kinerja karyawan (studi empiris pada Departemen Agama
Kabupaten Kendal Dan Departemen Agama Kota Sema-
rang). Jurnal Studi Manajemen Organisasi, 3(2), 69-81.
Riesminingsih, 2013, “Pengaruh Kompetensi dan Motivasi terhadap
Kinerja Guru SMA Yadika 3 Karang Tengah”, Jurnal MIX, III (3).
Riyadi, B. A. (2015). Pengaruh Pengalaman Kerja terhadap Kinerja
Karyawan pada Toko Emas Semar Nganjuk. Equilibrium: Jurnal
Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya, 3(1).
Riyadi, S. (2011). Pengaruh kompensasi finansial, gaya kepemimpinan,
dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan pada perusahaan
manufaktur di Jawa Timur. Jurnal manajemen dan kewira-
usahaan, 13(1), 40-45.
Saleh, A., et al. (2016). Factors Affecting the Job Satisfaction and
Performance of Nurses Private Hospitals Class B in Makassar.
International Journal of Scientific & Technology Research, 5(10),
74-83.
Setiawan, K. C. (2015). Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja karya-
wan level pelaksana di divisi operasi PT. Pusri Palembang. Psikis:
Jurnal Psikologi Islami, 1(2), 43-53.
Sutarmanto, S. Kompetensi dan Profesionalisme Guru Pendidikan Anak
Usia Dini. Jurnal Visi Ilmu Pendidikan, 1(1).
210
Sutrischastini, A., & Riyanto, A. (2015). Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap
Kinerja Pegawai Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten
Gunungkidul. Kajian Bisnis STIE Widya Wiwaha, 23(2), 121-137.
Tampi, B. J. (2014). Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Motivasi
terrhadap Kinerja karyawan pada PT. Bank Negara Indonesia, tbk
(regional sales manado). Acta Diurna Komunikasi, 3(4).
Tanang, H. & Abu, B. (2014). Teacher Professionalism and Professional
Development Practices in South Sulawesi, Indonesia. Journal of
Curriculum and Teaching, 3(2), 25-42.
Tania, A. (2013). Pengaruh motivasi kerja dan kepuasan kerja terhadap
komitmen organisasional karyawan PT. Dai Knife di
Surabaya. Agora, 1(3), 1702-1710.
Ulfiyani, S. (2016). Pemaksimalan Peran Guru dalam Pembelajaran
Keterampilan Berbicara di Sekolah. Transformatika: Jurnal
Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 12(2), 105-113.
Utama, M.S. (2017). Gaya Kepemimpinan Partisipatif dan Budaya
Organisasi Birokratis dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai pada
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kabupaten
Majalengka, Jurnal Ilmiah Manajemen & Akuntansi, 4(1), 25 - 35.
Wu, S. I., & Hung, J. M. (2008). A performance evaluation model of CRM
on non-profit organisations. Total Quality Management, 19(4),
321-342.
Yusrizal, ed al. (2018). Performance Assessment of State Senior High
School Teachers Aged 56 Years and Above, Evaluation of
Education,Teacher Training and Education Faculty,Syiah Kuala
University, Daarussalam-Aceh, Indonesia, International Journal of
Instruction, 11(1), 34-46.
Arimbi, Vela Miarri Nurma. (2011). Pengaruh Kepemimpinan Kepala
Sekolah terhadap Kinerja Guru Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) Negeri di Temanggung”, Skripsi, Universitas Negeri
Yogyakarta.
Dinar, Nia. (2007). Analisis Pengembangan Kompetensi Guru, studi pada
Guru SMK Rumpun Bisnis dan Manajemen Kelompok Bidang
Studi Produktif di Kota Cimahi. Tesis, Universitas Pajajaran
Indonesia.
Marmuni, M., (2013). Pengaruh Kompetensi Pedagogik, Motivasi Berpres-
tasi dan Supervisi terhadap Kinerja Guru SMP Negeri se
Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Disertasi.
Universitas Negeri Jakarta.
211
Wirdatul, M. (2015). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
terhadap Kinerja Guru di SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta.
Skripsi, Universitas Negeri Sunan Kalijaga, Yoyakarta.
Nurhafifah. (2016). Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Budaya
Sekolah, dan Kinerja Guru terhadap Efektivitas Sekolah di SMA
Negeri Kabupaten Pringsewu. Tesis Tidak diterbitkan. Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung Bandar
Lampung.
Tawakal, S. (2013). Pengaruh Kepala Sekolah Sebagai Pendidik,
Manajer, Motivator dan Supervisor terhadap Kinerja Guru di SMK
Piri 1 Yogyakarta. Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta.
Windy, S. (2016). Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja
terhadap Kinerja Pegawai Kementrian PU Wilayah I Provinsi
Lampung. Tesis. Universitas Lampung.
Sumarno. (2009). Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Profesi-
onalisme Guru terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri di
Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes. Tesis, Universitas
Negeri Semarang.
Arini, Y. (2017). Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Motivasi terhadap
Kinerja Karyawan Cv. Cipta Nusa Sidoarjo. Skripsi, Universitas
Muhammadiyah, Sidoarjo.
Agus, S. (2018). SMK: Sekolah Mencetak Kuli?.
[Link]
mencetak-kuli_55c818f5187b6183048b4567.
Agus, S. (2018). SMK: Sekolah Mencetak Kuli?”, diakses dari:
[Link]
mencetak-kuli_55c818f5187b6183048b4567.
Ahmad, K. (2018) “Manajemen Penelitian, Teknk Sampling”.
[Link]
[Link].
Anonim. (2018). Zona Dasar Teori, Jasa Pencarian Jurnal ilmiah, Skripsi,
Tesis, atau tugas akhir”. Metode Penelitian Expost Facto.
ttp://[Link]/2015/05/metode-penelitian-
[Link].
Humas DPRD Prov. (2017). Lulusan SMK Diharapkan Turunkan Tingkat
Pengangguran” diakses dari: [Link]
[Link]/read/news/2017/5834/lulusan-smk-diharapkan-
[Link].
Mabadik. (2018). Amang Fahur’s Blog”, Tekinik Analisis Data Kuantitatif.
[Link]
kuantitatif/.
212
Muhammad, A.T. (2017). Jika Hati Baik”, Manajemen Qolbu,.
[Link]
Mumtazah, F.R (2018). Hadis tentang Kepemimpinan.
[Link]
Nunung, N. (2019). Pentingnya Peran Guru dalam Memberikan
Pengarahan atau Menjadi Suri Tauladan, Edukasi,
[Link]
f/pentingnya-peran-guru-dalam-memberikan-pengarahan-atau-
menjadi-suri-tauladan.
Riyanto. (2018). Definisi Statistika Deskriptif dan Statistika Inferensial”,
[Link] definisi-statistika-deskriptif-dan-statistika-
[Link].
SURYA Online , BPS (2018). Lulusan SMK Dominasi Pengangguran di
Kaltim”, diakses dari:
[Link]
dominasi-pengangguran-di-kaltim.
Unknown. (2019). Tugas Utama Guru Par 2, Bisnisku, diakses dari:
[Link]
[Link].
Wikipedia bahasa Indonesia. (2018). ensiklopedia bebas.
[Link]
[Link]. (2017). Tindak Lanjut Hasil UKG, Ini Jadwal dan
Jenis Pelatihan Guru Tahun 2016 Menurut Dirjen GKT
Kemdikbud. [Link]
Hasil-UKG-Ini-Jadwal-dan-Jenis-Pelatihan-Guru-Tahun-2016-
[Link].
Zulkifli, M. Normalitas Data Penelitian Dengan Rumus Chi Kuadrat”
[Link]
er&safe=active.
PENDAHULUAN
Assalamu‟alaikum wr. wb.
Dengan segala hormat, saya mohon kesediaan Bapak/
Ibu guru memberikan bantuan dengan cara menjawab pertanyaan pada
daftar angket yang saya buat.
Angket ini dibuat dalam rangka penulisan disertasi yang
sedang saya kerjakan dengan judul "Pengaruh Gaya Kepemimpinan
Kepala Sekolah, Kompetensi Profesional dan Motivasi Kerja terhadap
Efektivitas Kerja Guru SMK Negeri di kota Samarinda" pada Program Studi
Manajemen Pendidikan S3 Pascasarjana Universitas Mulawarman
Samarinda.
Oleh karena itu, obyektifitas jawaban tidak ada pengaruh
apapun secara kedinasan bagi Bapak/Ibu. Untuk itu mohon mengisi
sesuai dengan kenyataan yang ada.
Hasil penelitian ini tidak dipublikasikan dan semata-mata
untuk kepentingan ilmiah.
Atas kesediaan Bapak/Ibu meluangkan waktu, tenaga, dan
pikiran saya ucapkan terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Samarinda, Januari 2019.
Peneliti,
Huda
213
214
Petunjuk Pengisian Instrumen Penelitian
Nama Responden :
SMK Negeri : .... Samarinda.
1. Berilah tanda centang () pada salah satu jawaban yang tertera di
kolom sebelah kanan dari setiap pertanyaan atau pernyataan.
2. Kolom terdiri dari 5 (lima) pilihan dengan tanda dan arti sebagai berikut:
SS = sangat setuju, bearti pernyataan sangat sesuai dengan
kenyataan.
S = Setuju, bearti pernyataan sesuai/hampir sesuai dengan
kenyataan.
N = Netral, bearti pernyataan berada antara sesuai dan tidak
sesuai dengan kenyataan.
TS = Tidak setuju, bearti pernyataan tidak sesuai dengan
kenyataan.
STS = Sangat tidak setuju, bearti pernyataan sangat tidak sesuai
dengan kenyataan.
215
Angket I
Variabel Efektivitas Kerja Guru
No Pernyataan SS S N TS STS
1 Saya tidak menganalisis silabus untuk mengetahui
semua sumber belajar yang dibutuhkan.
2 Saya tidak menganalisis sumber belajar berda-
sarkan ketersediaan, kesesuaian dan kemudahan
didapat sumber tersebut.
3 Saya tidak membuat struktur bahan ajar secara
sistematis, praktis dan kekinian.
4 Saya menyusun program tahunan dan program
semester pembelajaran
5 Saya menyusunan rencana pelaksanaan pembe-
lajaran (RPP) tidak sebelum pembelajaran ber-
langsung beberapa bulan.
6 Saya merencanakan penggunaan metode pem-
belajaran sesuai kemampuan dan karakteristik
siswa.
7 Saya memperdalam materi pelajaran sesudah
selesai pembelajaran.
8 Saya merencanakan strategi pembelajaran agar
siswa berpartisipasi dalam pembelajaran.
9 Saya tidak melakukan tata ruang belajar, tidak
menata duduknya siswa dan tidak meminta siswa
agar mengeluarkan buku pelajaran pada saat
pembelajaran.
10 Saya tidak selalu membahas materi pelajaran
sebelumnya dan tidak menghubungkan dengan
materi yang sedang dipelajari.
216
No Pernyataan SS S N TS STS
11 Saya selalu menjelaskan tujuan pembelajaran
dan kompetensi yang harus dikuasai siswa
disetiap awal pembelajaran.
12 Saya tidak selalu menyampaikan materi pelajaran
secara terorganisir dan sistematis.
13 Saya tidak menghubungkan materi pelajaran
dengan pengetahuan yang dimiliki siswa dalam
pembelajaran.
14 Saya selalu mengaitkan materi pelajaran dalam
pembelajaran dengan kenyataan faktual yang
terjadi.
15 Saya tidak menyampaikan pembahasan materi
pelajaran secara luas dan mendalam.
16 Saya menerapkan model pembelajaran sesuai
kemampuan dan karakteristik siswa.
17 Saya tidak menerapakan metode pembelajaran
sesuai karakter materi dan tujuan pembelajaran.
18 Saya selalu menampilkan pembelajaran yang
menarik bagi siswa.
19 Saya tidak selalu menerapkan berbagai strategi
agar siswa berperan aktif dalam pembelajaran.
20 Saya tidak selalu menerapkan berbagai strategi
agar suasana dan ketertiban pembelajaran tetap
terjaga.
21 Saya selalu memberi umpan balik kepada siswa
tentang kompetensi yang telah dibahas.
22 Saya selalu menyimpulkan kompetensi yang telah
dibahas.
217
No Pernyataan SS S N TS STS
23 Saya tidak menginformasikan kepada siswa ten-
tang rencana pembelajaran selanjutnya.
24 Saya tidak selalu menyusun alat penilaian hasil
belajar siswa.
25 Saya tidak selalu menyusun program evaluasi
hasil pembelajaran.
26 Saya tidak selalu menyusun program perbaikan
dan pengayaan.
27 Saya memiliki buku catatan penilaian hasil belajar
harian siswa.
28 Saya melakukan penilaian dengan berbagai teknik
dan metode penilaian.
29 Saya tidak selalu melakukan penilaian disetiap
selesai satu standar kompetensi.
30 Saya tidak selalu menganalisis nilai hasil belajar
siswa untuk mengidentifikasi materi yang sudah &
belum dikuasai siswa.
31 Saya selalu menyampaikan hasil belajar siswa
untuk dilakukan perbaikan dan pengayaan.
32 Saya tidak memanfaatkan nilai hasil belajar siswa
sebagai bahan rancangan pembelajaran selanjut-
nya.
218
Angket II
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
Pernyataan
No SS S N TS STS
Gaya Kepemimpinan konsep Islam
1 Pimpinan saya berkeperibadian yang ramah dan
pemurah
2
Pimpinan saya tidak taat beribadah
3 Pimpinan mengutamakan persaudaraan dan persa-
tuan
4 Perkataan pimpinan saya tidak sesuai dengan
perbuatannya
5 Pimpinan memanfaatkan organisasi untuk kepenti-
ngan individunya
6 Pimpinan saya tidak mengurangi hak guru
7 Pimpinan saya tidak semena-mena dalam mem-
buat kebijakan
8 Pimpinan saya tidak terbuka masalah anggaran
pendapatan dan belanja sekolah
9 Pimpinan saya mengajarkan kedisiplinan, kejuju-
ran, ketangguhan dan kesabaran dalam bekerja.
10 Pimpinan saya berilmu luas dan mendalam.
11 Pimpinan mampu mengatasi masalah dengan
cepat dan bijak
Direktif
Pimpinan tidak merinci instruksi tugas yang
12
diberikan kepada guru.
219
No Pernyataan SS S N TS STS
13 Pimpinan tidak menjelaskan tekinis pelaksanaan
tugas/jabatan yang diberikan kepada guru.
14 Pimpinan menjelaskan kepada guru hasil peker-
jaan yang diharapkannya.
15 Pimpinan membimbing guru dalam menyelesaiakn
pekerjaan yang diberikan.
Suportif
16 Pimpinan menciptakan hubungan yang harmonis
antar guru/pegawai
17 Pimpinan tidak memberi pelayanan yang memuas-
kan terhadap kebutuhan guru dalam melaksana-
kan dan menyelesaikan pekerjaan
18 Pimpinan dalam melayani kebutuhan guru terasa
rumit
19 Pimpinan menyediakan perlengkapan kerja/ menga-
jar yang dibutuhkan guru
Partisipatif
20 Pimpinan menghargai pendapat yang disampaiakan
oleh guru
21 Pimpinan melibatkan guru dalam mengatasi persoa-
lan yang timbul dalam sekolah
22 Pimpinan meminta pendapat dari guru sebelum
mengambil keputusan/kebijakan
23 Pimpinan tidak ikut menjalankan tata tertib seko-
lah.
220
No Pernyataan SS S N TS STS
Berorientasi pada Prestasi
24 Pimpinan mendukung/ mendorong/ membantu guru
untuk meningkatkan profesionalisme
25 Pimpinan tidak mendorong/membantu agar guru
bekerja dengan kualitas yang tinggi
26 Pimpinan tidak menggunakan slogan-slogan untuk
membakar semangat guru mencapai tujuan
sekolah
27 Pimpinan tidak menjelaskan serangkaian tujuan
sekolah yang harus dikerjakan oleh guru.
28 Pimpinan memberikan imbalan yang layak atas
beban pekerjaan yang diberikan
ANGKET III
Kompetensi Profesional
No Pernyataan SS S N TS STS
1 Saya tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan
untuk menyusun program tahunan dan program
semester pembelajaran.
2 Saya tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan
untuk menelaah konsep materi pelajaran yang
saya anggap sulit.
3 RPP yang saya buat hasil copy paste dari RPP
karya orang lain yang sudah jadi
4 Saya memiliki pengetahuan dan keterampilan
untuk menciptakan pembelajaran yang menarik
bagi siswa
221
No Pernyataan SS S N TS STS
5 Saya mampu menyusun materi pembelajaran
sesuai kemampuan siswa
6 Saya tidak memiliki strategi jitu agar siswa dengan
cepat memahami materi pembelajaran
7 Saya tidak mengulang penjelasan pada materi
yang penting dan dianggap sulit
8 Saya tidak melakukan bimbingan khsus terhadap
siswa yang belum memahami materi pelajaran
9 Saya tidak melakukan evaluasi diri untuk menge-
tahui kekurangan saya dalam menyusun rencana
dan pelaksanaan pembelajaran
10 Saya tidak memiliki catatan hasil evaluasi diri
tentang kinerja saya
11 Saya tidak menemukan kekurangan dan kelema-
han kinerja saya dari hasil evaluasi
12 Saya tidak memiliki buku jurnal (buku jurnal bukan
milik saya sendiri) untuk kegiatan pembelajaran
13 Saya mencatat pokok-pokok penting kegiatan
pembelajaran ke dalam buku jurnal milik saya
14 Saya tidak memiliki catatan dari kepala
sekolah/pengawas tentang kekurangan kinerja
saya
15 Catatan tentang kekurangan kinerja saya, tidak
saya gunakan acuan untuk memperbaiki pelaksa-
naan pembelajaran berikutnya
16 Catatan tentang kualitas kerja saya, tidak saya
gunakan untuk mengembangkan diri
222
No Pernyataan SS S N TS STS
17 Melalui bukti gambaran kinerja saya, saya tidak
mengembangkan perencanaan dan pelaksanaan
pembelajaran
18 Saya tidak pernah memiliki pengalaman PKB
(Pengembangan keprofesian berkelanjutan)
19 Saya tidak pernah melakukan penelitian/
pembuatan karya inovasi.
20 Saya tidak sering mengikuti kegiatan pendidikan
dan pelatihan serta aktif dalam MGMP.
21 Hasil dari penelitian tindakan kelas/karya inovasi
/Diklat, saya terapkan dalam perencanaan dan
pelaksaan proses pembelajaran.
22 Hasil dari penelitian tindakan kelas/ karya inovasi /
pendidikan dan pelatihan, tidak saya terapkan
dalam melakukan penilaian dan evaluasi hasil
belajar siswa.
23 Saya tidak melakukan program perbaikan dan
pengayaan.
24 Saya jarang menggunakan internet untuk mencari
informasi baru yang berhubungan dengan pendi-
dikan
25 Saya jarang menggunakan internet untuk
mendapat pengetahuan baru bidang penelitain
pendidikan/ karya inovasi/ pembelajaran
223
ANGKET IV
MOTIVASI KERJA GURU
No Pernyataan SS S N TS STS
1 Saya kurang bertanggung jawab terhadap tugas
saya sebagi pengajar, pembimbing dan
administerator belajar siswa.
2 Saya sebagai guru, kurang bertanggung jawab
dalam merencanakan dan melaksanakan
pengajaran.
3 Saya tidak pernah memberi bantuan dalam
memecahkan masalah yang dihadapi siswa.
4 Saya merencanakan kegiatan belajar siswa
dalam mencapai pertumbuhan dan perkem-
bangan yang diinginkan siswa.
5 Saya malas mengerahkan tenaga, waktu dan
pikiran agar siswa mampu memahami secara
mendalam pelajaran yang saya ajarkan.
6 Saya malas berusaha menemukan masalah yang
dihadapi siswa bila siswa gagal dalam mengusai
pelajaran yang saya sampaikan.
7 Saya malas menyelidiki sebab-sebab terjadinya
penyimpangan yang dilakukan siswa dalam pem-
belajaran.
8 Saya melakukan evaluasi diri untuk mengetahui
kelemahan dalam melakukan tugas pembelajaran
dan memperbaikinya.
9 Saya malas menyampaikan hasil penilaian belajar
kepada siswa
224
No Pernyataan SS S N TS STS
10 Saya memberi tahu kesalahan siswa dalam
menjawab soal yang dikerjakan
11 Saya berantusias dalam melakukan pekerjaan
walau menemui kondisi tersulit.
12 Saya optimis dan fokus mencari solusi dari tiap
masalah yang terjadi di sekolah dan tak mencari-
cari penyebab masalah dari pihak lain untuk
dijadikan kambing hitam.
13 Saya tidak berantusias dalam rapat untuk
menyampaikan ide-ide baru guna memberikan
output yang optimal dan menyegarkan.
14 Saya kurang menyenangi pekerjaan saya
15 Saya mentaati semua peraturan sekolah
16 Saya kreatif dan gigih dalam menyelesaikan
pekerjaan
17 Saya bekerja keras demi memenuhi kebutuhan
hidup diri sendiri dan/ keluarga
18 Saya bekerja keras bukan karena mencapai
karier yang tinggi
19 Saya merasa senang dalam bekerja bila
memperoleh perhatian dari teman dan atasan.
20 Saya bekerja degan baik agar pimpinan dan
teman menyukai saya
21 Saya senang mendapat tugas tambahan dari
sekolah
22 Saya berharap mendapat imbalan yang layak dari
tugas tambahan
225
TRANSKRIPSI WAWANCARA P dengan R
Hari/ Tanggal : Kamis, 17 Oktober 2019
Waktu : 09.00 WITE
Lokasi : Kantor SMK Negeri 16 Samarinda
Nama Responden : Rusito, [Link]
Jabatan : Guru Akuntansi/ Kaprog Keahlian Akuntansi.
P = Peneliti
R = Responden, Rusito
No Pertanyaan, Tanggapan dan Solusi
1. P : Sebanyak 29,48% guru SMK Negeri di Kota Samarinda, efektivitas
kerjanya berada dalam kategori rendah. Mengapa demikian?
R : Ehm... untuk rendahnya efektivitas kerja guru, bisa jadi
dikarenakan guru-guru yang ada di Samarinda ini masih belum
memahami metode-metode pembelajaran apa yang tepat untuk
dipakai untuk mengajarkan suatu materi, bisa jadi tidak tepat,
harusnya metode A dipakai untuk materi yang A bisa jadi tidak
sesuai. Jika terjadi ketidaksesuaian tersebut, maka efektivitas
kerjanya tidak bisa maksimal, itu salah satunya.
P : Saran apa yang bisa Bapak berikan?
R : Tentu guru harus mau belajar, belajar untuk menyesuaikan diri sesuai
dengan kondisi apapun yang ada. Tidak bisa juga kita menuntut
orang lain, tapi kita juga harus bisa memotivasi diri kita
2. P : Sebanyak 64,21% dari 95 orang guru tidak menyusun program
tahuanan dan program semester. Mengapa demikian?
R : Kalau ini lebih kepada, lagi-lagi ada faktor internal dan faktor
eksternalnya, Pak. Jadi kalu internalnya gurunya belum mampu atau
mungkin juga kemauannya yang rendah. Bisa jadi kalau di sekolah
kita ini supervisi belum berjalan secara maksimal, sehingga ketika
gak ada supervisi, gurupun merasa tidak ada kewajiban untuk
membuat.
226
P : Agar guru menyusun program tahunan dan program semester
bagaimana caranya?
R : Meningkatkan supervisi terhadap guru sehingga guru tergugah untuk
melakukan tugasnya.
3. P : Sebanyak 57,90% dari 95 orang guru tidak menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada awal tahun atau awal
semester pembelajaran. Mengapa demikian?
R : Ya kembali yang tadi itu, Pak. Supervisi belum berjalan secara
maksimal, maka guru-gurupun tidak punya ... saya harus
menyelesaikan ini pada bulan ini, gak seperti itu. Tetapi, selain itu
juga ada hal-hal lain, Pak, inikan kebetulan kurikulum berubah-rubah
terus, jadi kadang pemahaman guru terkait dengan RPP juga masih
kurang. Terlebih kita lama gak mengadakan In House Training
sehinggaa banyak kawan-kawan yang belum paham terhadap RPP
tersebut.
P : Jawaban terakhir itu tampaknya lebih ke arah upaya peningkatannya
ya?
R : Ya, perlu mengadakan In House Training sehinggaa kawan-kawan
paham terhadap RPP yang terbaru.
4. P : Sebesar 43,15% ketepatan gaya kepemimpinan kepala sekolah
berada dalam kategori rendah. Mengapa demikian?
R : Mana kala pimpinan kurang mengetahui anak buah saya seperti apa
jadi tidak tepat. Karena tidak tepat, otomatis kinerjanya tidak bisa
maksimal.
P : Saran anda?
R : Terkait dengan gaya kepemimpinan, inikan mestinya ada
bermacam-macamlah ya, di sini memerlukan seorang pemimpin itu
yang mengetahui karakter dari anak buahnya, sehigga dia akan
memutuskan saya akan mengambil keputusan, saya akan mengam-
bil gaya kepemimpinan seperti ini.
227
5. P : Sebesar 74,74% guru berasumsi bahwa kepala sekolah tidak
terbuka secara umum masalah anggaran pendapatan dan belanja
sekolah. Mengapa demikian ?
R : Kalau terkait masalah anggaran sekolah, ini banyak diantara beliau-
beliau itu merasa bahwasnya terkait anggaran itu, ini lebih ke fungsi
pihak manajemen saja, jadi mereka beranggapan bahwasanya ini
gak perlu untuk disampaikan ke kawan-kawan yang ada dibawah, ke
guru, padahal itu sangat penting.
P : Saran anda?
R : Terbuka, kalu memang tidak ada masalah gak perlu ditutup-tupi.
Manakala bisa mengkomunikasikan dengan baik, saya yakin itu
bapak ibu guru bisa memahami hal itu.
6. P : Sebanyak 65,26% guru berasumsi bahwa perkataan pimpinan tidak
sesuai dengan perbuatannya. Mengapa demikian ?
R : Yang namnya pimpinan itukan hendaknya bisa menjadi teladan,
teladan bagi kami yang dibawah. Manakala pimpinan tidak bisa
menjadi teladan ya nanti akan berimbas ke yang lain, Pak.
P : Bagaimana menyikapi hal ini?
R : Setiap pemimpin harus menjadikan dirinya sebagai teladan bagi
bawahan, bahasa Islamnya uswah hasanah.
7. P : Terdapat 38,95% kompetensi profesional guru berada dalam kisaran
rendah. Mengapa demikian?
R : Kenapa kok rendah?, ini ya bisa banyak hal si Pak, diantaranya bisa
jadi ya guru tersebut yang rendah, bisa jadi karena dulu ingin masuk
kedokteran misalkan ternyata gak masuk lalu masuk keguruan, bisa
jadi seperti itu. Tetapi bisa jadi juga karena gurunya kurang mau
belajar, padahal sekarang tuntutan pengetahuan sudah banyak
sekali dengan kemajuan jaman. Sekarang guru harus belajar dan
belajar apa lagi ilmu itukan selalu berkembang. Manakala guru
kurang mau belajar, tentu akan ketinggalan.
228
P : Bagaimana cara mengatasinya?
R : Guru harus belajar, tapi sekali lagi kita tidak berdiri sendiri, kita
dalam suatu institusi tentu yang berwenang terkait dengan hal itu
dalam artian manajemen harus memperhatikan hal itu. Bagaimana
supaya guru-guru bisa meningkat profesionalitasnya ya tentu
dengan mengadakan pelatihan-pelatihan atau IHT dan lain
sebagainya.
8. P : Terdapat 47,37% guru berada dalam kisaran sering bahwa RPP
yang dibuat oleh guru adalah hasil copy paste dari RPP orang lain
yang sudah jadi. Mengapa demikian?
R : E... ini yang, lebih ke anu si pak, kemampuan bisa juga, bisa juga
banyak guru gak mau repot..., gak mau repot ... . Disatu sisi juga itu
tadi sering terjadinya perubahan itu akhirnya jadi males, bentar-
bentar berubah, kemarin terakhir 2013, ada revisi 2016, ada revisi
2017, sampek sekarang ada lagi revisi terbaru, akhirnya guru juga
ah! ngapain juga repot-repot, ya sudah ambil apa yang ada aja
sudah kita ngumpul, yang penting ngumpul gitu.
P : Saran anda?
R : Ya... harus dipaksa, dipaksa untuk membuat, tapi juga pemerintah
tidak perlulah kita membuat perangkat pembelajaran sampek seba-
nyak-banyak itu, perlu juga mungkin dari pihak-pihak yang terkait
dengan perangkat pembelajaran kalo bisa dibuat simpel ajalah.
Contohlah dengan negara-negara ... kemarin kebetulan sempet
ngomong dengan kawan dari sekolah lain yang pernah keluar
negeri. Contoh di Thailan itu gak seperti kita, RPP satu tahun cuma
berapa lembar gak tebel-tebel kayak gitu, ... poin-poin aja. ... yang
dipakaipun sama antara bagian-bagian RPP KD ke-1 dengan KD ke-
2 dan seterusnya paling yang dimunculkan ya itu... . Kalau
dimunculkan terus ya terlalu banyak, ... kita boros kertas.
9. P : Terdapat 49,47% guru dalam kisaran tidak memperbaiki dan tidak
mengembangkan RPP setelah dilakukan penilaian kinerja guru pada
229
dirinya. Faktornya apa, Pak?
R : E... kalau di tempat kita ini lebih ke anu si, Pak. Terakait dengan
supervisi. Disatu sisi supervisi memang belum berjalan maksimal
tapi juga sering kali ketika kita habis supervisi itu tidak ada intak
kepada gurunya oh kamu kurangnya disini, itu tidak disampaikan.
Jadi sekedar diambil data ya sudah. Sehingga apa yang menjadi
kekurangan atau kelebihan pada guru, gurunya tidak tahu.
P : Saran anda?
R : Seharusnya kepala sekolah atau pensupervisi lainnya memanggil
guru yang bersangkutan kemudian disampaikan hasil dari supervisi
tersebut.
10. P : Terdapat 33,69% motivasi kerja guru berada dalam kisaran rendah.
Mengapa demikian?
R : Bisa jadi terkait dengan income yang mereka dapatkan, terlebih tidak
semua gurukan tidak semua PNS. Kalo PNS mestinya ndak ada
masalah, harusnya. Tapi untuk kawan-kawan-kawan yang honor
secara kesejahteraankan masih dibawah walaupun sudah ada
pergantian. Tapi ada juga hal lain terkait dengan motivasi ini kurang
nyamannya kondisi di sekolah. Manakala kondisi di sekolah kurang
nyaman tentu untuk datang ke sekolah saja guru ya ndak bisa rajin.
P : Saran anda?
R : Harus dijaga agar suasana dan lingkungan kerja harus tetap
kondusif dan ini akrap sekali dengan kebijakan kepala sekolah.
11. P : Terdapat 65,26% guru berada dalam kisaran kurang berantusias
dalam bekerja saat menghadapi kesulitan. Apa penyebabnya?
R : Itu bisa jadi karena guru tersebut kurang apa ya ... kurang menyadari
manfaat dari peranan seorang guru, bisa jadi seperti itu, kurang
menyadarilah, manfaat Kalau saya seperti ini, maka nanti
manfaatnya juga lebih besar. Tapi kalu begini, untuk apa capek-
capek, toh anak orang aja kok. Ketika kesulitan ya sudah anak orang
230
aja kok.
P : Solusinya bagaimana?
R : Bisa juga kesejahteraan dinaikkan, tapi bisa juga perlu, Pak, yang
selama ini mungkin agak kurang itu apa namnya antara ini ya
semacam reward punishmen , jadi kalu guru itu diajarkan rajinlah
biar punya ... ada rewardnya, penghargaanya, itu yang selama ini
kalau di sekolah.
12. P : Terdapat 47,36% guru tidak melakukan evaluasi diri untuk
mengetahui kelemahan dalam mengajar guna memperbaikinya.
Mengapa demikian?
R : Bisa jadi anu si Pak, sebenarnya guru yang malah kurang tahu apa
yang harus dilakukan terkait dengan evaluasi itu. Apa lagi tadi terkait
dengan supervisi tadi, terkait dengan apa namnya tadi, kan selama
inikan feed back dari supervisor kepada guru tidak sampai, sehingga
juga apa yang mau dievaluasi wong saya juga ndak tau hasilnya
yang saya kerjakan.
P : Solusinya bagaiamana?
R : Ya itu tadi, sekolah harus melakukan supervisi dengan benar. Benar-
benar dilaksanakan tidak hanya untuk guru PNS saja untuk PKG tapi
yang honorpun juga dikenakan.
231
TRANSKRIPSI WAWANCARA P dengan A
Hari/ Tanggal : Selasa, 29 Oktober 2019
Waktu : 09.00 WITE
Lokasi : KantIn SMK Negeri 16 Samarinda
Nama Responden : M. Arief, [Link]
Jabatan : Guru Teknik Komputer dan Jaringan
P = Peneliti
A = Responden, Arief
No Pertanyaan, Tanggapan dan Solusi
1. P : Sebanyak 29,48% guru SMK Negeri di Kota Samarinda, efektivitas
kerjanya berada dalam kategori rendah. Mengapa demikian?
A : Kalo penyebab rendahnya itu berarti dilihat keterampilan kerja,
kemudian prestasiya dia, kemudian kemmpuan guru itu beradaptasi
terhadap lingkungannya, dia mampu gak menghadapi perubahan-
perubahan yang terjadi setiap tahunnya.
Kepala sekolah juga sangat berpengaruh menurut saya, kalo
kepemimpinan baik Insya-Allah yang kebawaahnya pasti akan baik
juga.
P : Saran apa yang bisa Bapak berikan?
A : Pastinya harus ada peningkatan terhadap diri guru tersebut ya, jadi
dari segi keterampilannya perlu juga peningkatan, ada pelatihan.
2. P : Sebanyak 64,21% dari 95 orang guru tidak menyusun program
tahuanan dan program semester. Mengapa demikian?
A : Itu bisa kita lihat dari kemampuan gurunya juga ya, yang pertama
bisa gak membuat program tahunan dan program semester itu
seperti apa yang baik dan benar. Kemudian mungkin motivasinya
mungkin kurang.
P : Agar guru menyusun program tahunan dan program semester
bagaimana caranya?
232
A : guru harus meningkatkan kemampuan dan motivasi kerjanya.
3. P : Sebanyak 57,90% dari 95 orang guru tidak menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada awal tahun atau awal
semester pembelajaran. Mengapa demikian?
A : Ya, ... seperti yang saya bilang tadi, faktor motivasi memang perlu
sih. Jadi harus termotivasi dulu gurunya kemauan seperti itu. Cuma
kita disinikan kurang termotivasi mungkin karena ada beberapa
faktor. Kemudian harus ada supervisi si ya, mengawasi juga dari
proses pembelajaran tersebut supaya bisa berjalan dengan baik
P : Bagaimana solusinya?
A : Kemudian harus ada supervisi si ya, mengawasi juga dari proses
pembelajaran tersebut supaya bisa berjalan dengan baik.
4. P : Sebesar 43,15% ketepatan gaya kepemimpinan kepala sekolah
berada dalam kategori rendah. Mengapa demikian?
A : Penyebabnya kalau kita perhatikan ya, kepala sekolah kurang dalam
menerapkan kepemimpinan, artinya kepala sekolah belum bisa
maksimal memberikan sebagi motivator di sekolah.
P : Bagaimana solusinya?
A : Dia harus bisa memberikan contoh yang baik ke bawahannya. Kalau
misalkan di sekolah dia disiplin otomatis bawahannya akan ikut
disiplin.
5. P : Sebesar 74,74% guru berasumsi bahwa kepala sekolah tidak
terbuka secara umum masalah anggaran pendapatan dan belanja
sekolah. Mengapa demikian ?
A : Yang pasti kalo e.. dia tidak terbuka itu berarti ada sesuatu yang
ditutupilah yah. Kalau sudah ditutupi berarti kitakan orang lain pasti
gak tau. ... jika tidak terbuka berarti dia tidak jujur.
P : Saran anda?
A : Jika transparankan otomatis kita bisa punya program, dan program
233
dari kepala sekolah.
6. P : Sebanyak 65,26% guru berasumsi bahwa perkataan pimpinan tidak
sesuai dengan perbuatannya. Mengapa demikian?
A : Itu contoh kepemimpinan yang tidak bisa kita ikutin ya, karena yang
kita pegang adalah ucapannya, kemudian setelah ucapannya
dibuktikan dengan perbuatannya. Kalo sudah kepemimpinan kita
seperti itu bagaimana bawahannya?
P : Bagaimana menyikapi hal ini?
A : Tetep harus fokus, guru harus tetep konsisten. Kepala semestinya
gak boleh begitu si, Pak.
7. P : Terdapat 38,95% kompetensi profesional guru berada dalam kisaran
rendah. Mengapa demikian?
A : Yang pertama kemampuan gurunya ya, kemampuan guru rendah itu
mungkin bisa kita lihat dari e... guru yang tidak mau terus belajar.
Jadi ilmunya di situ-situ saja, mandek. Kan kita tahu bahwa
perubahan ilmu berkembang terus yang terbaru dan terbaru, nah itu
guru tersebut tidak bisa mengikuti perubahan tersebut.
P : Bagaimana cara mengatasinya?
A : Untuk bisa mengatasi itu, maka guru harus terus belajar, harus ikut
pelatihan-pelatihan yang memang harus ada untuk mengikuti
perkembangan, karena pelatihan itu perlu khususnya untuk guru.
8. P : Terdapat 47,37% guru berada dalam kisaran sering bahwa RPP
yang dibuat oleh guru adalah hasil copy paste dari RPP orang lain
yang sudah jadi. Mengapa demikian?
A : Penyebabnya guru masih belum bisa membuat dalam artian yang
bener penyusunannya RPP itu seperti apa itu masih belum tahu.
Karena setiap kurikulumkan terjadi beberapa kali revisi, apa lagi K13
revisi 2017, 2018 selalu ada perubahan. Nah sekarang kitakan
pakek 2018, Pak.
P : Saran anda?
234
A : Jadi perlu ada IHT atau house training itu supaya secara bersama-
sama melakukan persamaan persepsi gitu lo. Formatnya begini,
nanti teknik pembelajarannya seperti ini, nah itu yang perlu dipahami
betul oleh guru.
9. P : Terdapat 49,47% guru dalam kisaran tidak memperbaiki dan tidak
mengembangkan RPP setelah dilakukan penilaian kinerja guru pada
dirinya. Faktornya apa, Pak?
A : Sebenarnya harus ada kelanjutannya si, Pak, dari supervisi tadi. Jadi
setelah guru membuat, lalu disupervisi, ada kelanjutannya,
perbaikannya apa yang kurang, mana yang salah harus e...
diperbaiki. Jadi guru tahu mana salahnya apa, mana yang kurang
karena kita yang membuat kitakan gak bisa nglihat harus orng lain
yang nglihat ... .
P : Saran anda?
A : Jadi setelah guru membuat, lalu disupervisi, ada kelanjutannya,
perbaikannya apa yang kurang, mana yang salah harus e...
diperbaiki.
10. P : Terdapat 33,69% motivasi kerja guru berada dalam kisaran rendah.
Mengapa demikian?
A : Banyak si, Pak, faktor penyebab motivasi guru. Yang pertama
mungkin di lingkungan sekolahnya kurang nyaman, misalkan gak
cocok sama e... sesama teman gurunya, atau suasana di kelas
mungkin ada masalah kurang baik dengan siswa, bisa juga, ada
masalah dengan kepala sekolah.
P : Bagaimana solusinya?
A : Jadi kalo mau memperbaiki hal itu ya ... harus perlu perubahan,
perubahan bagaimana supaya suasana kerja itu tetap nyaman,
walupun kondisi seperti apapun diamana dia bisa e ... mengikuti
perubahan itu.
11. P : Terdapat 65,26% guru berada dalam kisaran kurang berantusias
235
dalam bekerja saat menghadapi kesulitan. Apa penyebabnya?
A : Pasti mempengaruhilah, Pak, ya. Apa lagi kalo suasana sudah
kurang nyaman pasti gurunya ya pasti males juga, otomatis itu, Pak.
P : Solusinya bagaimana?
A : Jadi bisa mengatasi perubahan itu. Ketidaknyamanan suasana bisa
dirubah menjadi suasana yang menyenangkan oleh gurunya
tersebut melalui kebijakan pimpinan, itu wajib, atau dari pihak lain
yang bisa memperbaiki supaya suasana bisa bagus.
12. P : Terdapat 47,36% guru tidak melakukan evaluasi diri untuk
mengetahui kelemahan dalam mengajar guna memperbaikinya.
Mengapa demikian?
A : Masalah dari guru tidak mau memperbaiki, pasti rendahnya motivasi
guru tersebut ya untuk memperbaiki. Otomatis, Pak, kalo dia tidak
mau memperbaiki dari kelemahnnya, diakan berarti e ... harusnya
ada motivasi yang membuat supaya dia bisa memperbaiki
kekurangan dia.
P : Solusinya bagaiamana?
A : Misalkan, ada kebijakan jika gurunya mempunya motivasi yang
tinggi dalam e ... tugasnya dia ada dapat reward apa supaya
kemudian misalkan dia kurang itu diberikan sangsi. Jadi ada solusi
yang memacu supaya motivasi guru supaya terus memperbaiki
dirinya. Tapi kalo tidak ada yang pemicunya ya begitu-begitu
aja,Pak. Ya ada pemicu dan yang dipicu mau, guru perduli.
236
Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Efektivitas Kerja
Y B1 Pearson Correlation .790** Y B17 Pearson Correlation .689**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
Y B2 Pearson Correlation .753** Y B18 Pearson Correlation .594**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .004
Y B3 Pearson Correlation .718** Y B19 Pearson Correlation .586**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .004
Y B4 Pearson Correlation .578** Y B20 Pearson Correlation .472*
Sig. (2-tailed) .005 Sig. (2-tailed) .027
Y B5 Pearson Correlation .670** Y B21 Pearson Correlation .443*
Sig. (2-tailed) .001 Sig. (2-tailed) .039
Y B6 Pearson Correlation .685** Y B22 Pearson Correlation .755**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
Y B7 Pearson Correlation .679** Y B23 Pearson Correlation .689**
Sig. (2-tailed) .001 Sig. (2-tailed) .000
Y B8 Pearson Correlation .783** Y B24 Pearson Correlation .518*
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .014
Y B9 Pearson Correlation .591** Y B25 Pearson Correlation .586**
Sig. (2-tailed) .004 Sig. (2-tailed) .004
Y B10 Pearson Correlation .721** Y B26 Pearson Correlation .680**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .001
Y B11 Pearson Correlation .792** Y B27 Pearson Correlation .607**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .003
Y B12 Pearson Correlation .806** Y B28 Pearson Correlation .589**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .004
Y B13 Pearson Correlation .755** Y B29 Pearson Correlation .556**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .007
Y B14 Pearson Correlation .786** Y B30 Pearson Correlation .840**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
Y B15 Pearson Correlation .689** Y B31 Pearson Correlation .692**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
Y B16 Pearson Correlation .724** Y B32 Pearson Correlation .717**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
Tabel 3.9
Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel Efektivitas Kerja
237
Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Gaya
Kepemimpinan Kepala Sekolah
X1_1 Pearson Correlation .606** X1_15 Pearson Correlation .957**
Sig. (2-tailed) .003 Sig. (2-tailed) .000
X1_2 Pearson Correlation .778** X1_16 Pearson Correlation .854**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X1_3 Pearson Correlation .895** X1_17 Pearson Correlation .870**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X1_4 Pearson Correlation .877** X1_18 Pearson Correlation .854**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X1_5 Pearson Correlation .790** X1_19 Pearson Correlation .851**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X1_6 Pearson Correlation .869** X1_20 Pearson Correlation .918**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X1_7 Pearson Correlation .909** X1_21 Pearson Correlation .823**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X1_8 Pearson Correlation .875** X1_22 Pearson Correlation .884**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X1_9 Pearson Correlation .925** X1_23 Pearson Correlation .896**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X1_10 Pearson Correlation .468* X1_24 Pearson Correlation .831**
Sig. (2-tailed) .028 Sig. (2-tailed) .000
X1_11 Pearson Correlation .903** X1_25 Pearson Correlation .826**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X1_12 Pearson Correlation .880** X1_26 Pearson Correlation .865**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X1_13 Pearson Correlation .900** X1_27 Pearson Correlation .899**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X1_14 Pearson Correlation .834** X1_28 Pearson Correlation .807**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
Tabel 3.11 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel Gaya
Kepemimpinan Kepala Sekolah
238
Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel
Kompetensi Profesional
Correlations
X2_1 Pearson Correlation .406 X2_14 Pearson Correlation .800**
Sig. (2-tailed) .060 Sig. (2-tailed) .000
X2_2 Pearson Correlation .603** X2_15 Pearson Correlation .799**
Sig. (2-tailed) .003 Sig. (2-tailed) .000
X2_3 Pearson Correlation .673** X2_16 Pearson Correlation .749**
Sig. (2-tailed) .001 Sig. (2-tailed) .000
X2_4 Pearson Correlation .858** X2_17 Pearson Correlation .857**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X2_5 Pearson Correlation .693** X2_18 Pearson Correlation .686**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X2_6 Pearson Correlation .621** X2_19 Pearson Correlation .802**
Sig. (2-tailed) .002 Sig. (2-tailed) .000
X2_7 Pearson Correlation .517* X2_20 Pearson Correlation .557**
Sig. (2-tailed) .014 Sig. (2-tailed) .007
X2_8 Pearson Correlation .877** X2_21 Pearson Correlation .905**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X2_9 Pearson Correlation .907** X2_22 Pearson Correlation .786**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X2_10 Pearson Correlation .675** X2_23 Pearson Correlation .735**
Sig. (2-tailed) .001 Sig. (2-tailed) .000
X2_11 Pearson Correlation .866** X2_24 Pearson Correlation .560**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .007
X2_12 Pearson Correlation .710** X2_25 Pearson Correlation .593**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .004
X2_13 Pearson Correlation .763**
Sig. (2-tailed) .000
Tabel 3.13
Output Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel
Kompetensi Profesional
239
Hasil Uji Validitas Instrumen
Variabel Motivasi Kerja
TOT_X3 TOT_X3
X3_1 Pearson Correlation .510* X3_12 Pearson Correlation .361
Sig. (2-tailed) .015 Sig. (2-tailed) .099
X3_2 Pearson Correlation .266 X3_13 Pearson Correlation .457*
Sig. (2-tailed) .232 Sig. (2-tailed) .033
X3_3 Pearson Correlation .290 X3_14 Pearson Correlation .493*
Sig. (2-tailed) .191 Sig. (2-tailed) .020
X3_4 Pearson Correlation .599** X3_15 Pearson Correlation .583**
Sig. (2-tailed) .003 Sig. (2-tailed) .004
X3_5 Pearson Correlation .564** X3_16 Pearson Correlation .507*
Sig. (2-tailed) .006 Sig. (2-tailed) .016
X3_6 Pearson Correlation .683** X3_17 Pearson Correlation .474*
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .026
X3_7 Pearson Correlation .775** X3_18 Pearson Correlation .761**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X3_8 Pearson Correlation .796** X3_19 Pearson Correlation .900**
Sig. (2-tailed) .000 Sig. (2-tailed) .000
X3_9 Pearson Correlation .258 X3_20 Pearson Correlation .890**
Sig. (2-tailed) .246 Sig. (2-tailed) .000
X3_10 Pearson Correlation .501* X3_21 Pearson Correlation .730**
Sig. (2-tailed) .018 Sig. (2-tailed) .000
X3_11 Pearson Correlation .446* X3_22 Pearson Correlation .586**
Sig. (2-tailed) .037 Sig. (2-tailed) .004
Tabel 3.15
Output Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel Motivasi Kerja
240
Tabulasi Data Hasil Uji Coba Instrumen Variabel
Efektivitas Kerja
NA NO SOAL/SKOR JAWABAN
NO JML
MA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32
1 Responden
5 4 14 5 5 5 4 5 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 5 4 5 4 4 5 4 139
2 Responden
3 3 23 3 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 3 3 3 3 3 4 4 4 111
3 Responden
5 4 34 5 5 4 4 5 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 5 4 5 4 4 5 4 138
4 Responden
5 5 45 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 3 3 3 3 3 3 5 3 3 5 5 5 5 5 5 141
5 Responden
5 5 55 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 160
6 Responden
5 4 64 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 152
7 Responden
5 5 75 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 160
8 Responden
5 5 85 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 159
9 Responden
5 5 94 4 3 4 5 4 3 4 4 4 4 5 5 4 5 3 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 133
10 Responden
4 4 10
4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 127
11 Responden
5 5 11
2 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 2 2 2 5 2 2 5 2 5 139
12 Responden
4 4 12
4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 129
13 Responden
5 4 13
5 3 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 151
14 Responden
5 5 14
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 160
15 Responden
5 5 15
5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 3 3 3 3 3 3 5 3 5 5 5 5 5 5 142
16 Responden
3 3 16
2 4 4 4 3 3 4 3 3 2 3 3 4 5 4 4 5 5 5 3 3 2 3 3 5 4 5 3 3 3 113
17 Responden
3 5 17
3 4 5 5 3 5 3 3 3 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 3 3 5 5 3 3 5 3 3 5 3 129
18 Responden
4 3 18
2 4 4 2 4 3 3 4 3 3 4 4 4 2 2 4 3 3 4 2 3 4 4 2 4 4 3 2 2 3 102
19 Responden
5 4 19
5 5 5 4 5 5 4 5 4 5 4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 5 5 4 4 4 5 3 4 3 4 133
20 Responden
4 4 20
4 5 4 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 5 4 3 5 4 5 4 4 3 130
21 Responden
3 3 21
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 97
22 Responden
4 3 22
5 4 5 3 5 3 5 5 5 5 3 5 5 3 3 5 3 3 3 3 3 3 5 5 5 5 5 3 4 5 131
241
Tabulasi Data Hasil Uji Coba Instrumen Variabel
Gaya Kepemimpinan kepala Sekolah
NO SOAL/SKOR JAWABAN
NONAMA RESPONDEN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 JML
1 Responden 1 5 5 5 5 5 5 5 8 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 4 4 5 139
2 Responden 2 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 4 3 4 4 4 6 6 6 6 4 4 3 3 4 4 4 3 3 109
3 Responden 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 3 5 4 135
4 Responden 4 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 137
5 Responden 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 139
6 Responden 6 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 140
7 Responden 7 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 138
8 Responden 8 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 112
9 Responden 9 4 5 4 3 3 4 4 3 4 4 4 5 5 4 5 4 4 5 4 5 4 4 5 4 4 5 4 4 117
10 Responden 10 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 4 5 5 5 4 4 4 117
11 Responden 11 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 140
12 Responden 12 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 115
13 Responden 13 4 4 4 4 5 4 4 4 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 116
14 Responden 14 5 5 5 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 119
15 Responden 15 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 137
16 Responden 16 5 4 2 2 3 3 3 1 1 5 1 2 2 4 2 1 2 1 2 3 3 3 3 4 4 2 3 1 72
17 Responden 17 4 4 3 3 3 4 4 2 2 4 3 3 3 3 2 3 2 3 3 4 4 3 3 3 3 2 2 1 83
18 Responden 18 3 2 2 2 2 2 2 2 2 5 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 4 3 2 3 2 74
19 Responden 19 4 4 4 4 3 3 3 4 4 5 4 2 2 2 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 5 4 4 2 100
20 Responden 20 4 4 3 3 3 3 2 2 2 4 3 3 3 3 2 3 2 2 3 3 4 3 3 3 2 2 2 3 79
21 Responden 21 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 84
22 Responden 22 5 4 5 3 2 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 99
242
Tabulasi Data Hasil Uji Coba Instrumen Variabel
Kompetensi Profesional
Data Hasil Uji Instrumen Kompetensi Profesional
NO SOAL/SKOR JAWABAN
NO NAMA
RESP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 JUMLAH
1 RES 1 4 3 4 4 4 3 4 4 4 5 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 3 92
2 RES 2 3 3 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 4 2 81
3 RES 3 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 93
4 RES 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 3 4 3 3 114
5 RES 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 125
6 RES 6 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 125
7 RES 7 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 100
8 RES 8 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 100
9 RES 9 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 103
10 RES 10 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 102
11 RES 11 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 2 2 2 5 5 4 4 4 4 5 5 5 112
12 RES 12 5 4 5 4 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 106
13 RES 13 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 100
14 RES 14 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 99
15 RES 15 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 3 5 4 3 116
16 RES 16 5 5 3 3 5 5 5 3 2 2 2 5 5 3 3 2 2 4 4 2 3 3 2 4 5 87
17 RES 17 4 3 5 3 4 3 4 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 4 3 3 3 2 2 69
18 RES 18 4 4 3 3 3 4 4 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 4 3 2 2 2 2 3 3 67
19 RES 19 5 4 3 4 3 3 4 4 3 3 2 2 2 3 3 4 4 1 1 3 2 3 4 5 3 78
20 RES 20 5 3 3 3 4 4 4 3 2 2 2 5 5 2 2 2 2 5 3 5 4 3 4 4 4 85
21 RES 21 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 3 76
22 RES 22 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 96
243
Tabulasi Data Hasil Uji Coba Instrumen
Variabel Motivasi Kerja
Data Hasil Uji Instrumen Motivasi Kerja
NO SOAL/SKOR JAWABAN
NONAMA RESPONDEN JML
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22
1 RESP 1 5 5 4 5 5 5 5 4 4 5 4 4 3 5 5 5 5 5 5 5 4 4 101
2 RESP 2 4 4 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 75
3 RESP 3 5 5 4 5 5 5 5 4 4 5 4 4 3 5 5 5 5 5 5 5 4 4 101
4 RESP 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 3 104
5 RESP 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 109
6 RESP 6 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 4 108
7 RESP 7 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 88
8 RESP 8 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 88
9 RESP 9 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 88
10 RESP 10 5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 4 4 3 3 4 4 3 98
11 RESP 11 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 2 2 4 5 102
12 RESP 12 5 4 5 4 4 4 4 5 4 5 4 5 4 4 4 4 5 5 5 5 4 5 98
13 RESP 13 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 91
14 RESP 14 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 5 4 4 4 4 4 91
15 RESP 15 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 3 104
16 RESP 16 4 4 3 4 3 2 2 2 3 2 3 5 2 4 3 5 5 3 3 3 2 2 69
17 RESP 17 4 4 4 4 4 3 3 2 4 4 3 3 3 4 4 4 4 3 2 2 2 4 74
18 RESP 18 4 4 4 3 4 3 3 2 3 3 4 3 4 4 4 3 4 2 2 2 3 3 71
19 RESP 19 4 5 5 4 4 4 4 4 5 3 4 5 3 4 3 4 5 5 3 2 1 2 83
20 RESP 20 5 5 5 4 4 4 3 2 5 4 4 4 3 4 4 4 4 3 2 2 3 3 81
21 RESP 21 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 5 3 4 3 3 5 81
22 RESP 22 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 88
244
Tabulasi Data Hasil Penelitian
Variabel Efektivitas Kerja
NO Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y10 Y11 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16
1 1 3 2 2 2 3 3 3 1 3 3 2 2 3 4 2
2 3 5 5 2 2 2 4 2 2 4 4 4 4 4 3 2
3 5 4 5 3 2 2 4 2 2 4 4 5 5 4 5 2
4 4 4 4 1 1 4 3 1 1 3 4 4 3 3 4 2
5 2 2 2 1 1 4 2 1 1 4 3 2 2 3 2 1
6 2 2 2 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 1
7 4 4 4 2 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4
8 4 5 5 2 3 3 4 4 4 4 5 5 5 4 4 3
9 3 3 5 1 1 4 3 1 1 4 3 3 3 2 3 1
10 4 4 3 2 3 4 4 4 3 4 5 5 4 5 5 3
11 4 5 4 4 4 5 5 5 4 5 5 5 5 5 4 5
12 3 3 3 2 1 4 3 3 2 5 4 3 5 3 4 1
13 5 5 5 3 4 4 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4
14 4 2 4 1 2 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 1
15 2 2 2 1 1 4 4 3 1 4 3 4 4 3 3 1
16 2 2 2 1 1 4 4 3 1 4 3 4 4 3 3 1
17 3 3 3 1 1 4 2 2 1 4 3 3 3 3 2 1
18 4 4 3 2 2 4 4 4 2 4 5 5 4 4 4 3
19 3 3 3 1 1 4 2 2 1 4 3 3 3 3 2 1
20 4 4 3 2 2 4 4 4 2 4 5 5 4 4 4 3
21 4 5 5 4 4 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5
22 4 3 4 2 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 2
23 2 2 2 1 1 4 4 3 1 4 3 4 4 3 3 1
24 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 5 4 5 5 4 4
25 4 4 3 2 3 4 5 4 3 4 5 5 4 5 5 3
26 3 5 5 2 2 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2
27 3 5 5 2 2 3 4 3 2 4 4 4 4 4 3 2
28 3 5 5 2 2 5 4 3 2 4 4 3 4 4 3 2
29 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 5 4 5 5 4 4
30 4 3 3 5 4 4 4 5 4 5 5 4 5 4 4 5
31 3 5 5 2 2 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2
32 4 3 4 5 3 5 3 5 3 3 3 5 5 5 5 3
33 4 4 4 4 2 5 4 4 4 4 4 5 4 5 4 3
34 3 3 4 3 3 4 4 5 3 3 3 3 3 3 3 3
35 3 3 3 1 1 4 2 2 1 4 3 3 3 3 2 1
36 3 3 3 1 1 4 3 2 1 4 3 3 3 3 3 1
37 3 5 5 2 2 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2
38 4 4 3 2 2 4 4 4 2 4 5 5 4 4 4 2
39 3 5 5 2 2 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2
40 4 5 5 5 4 4 5 3 5 5 5 4 5 5 5 4
41 3 5 5 2 2 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2
42 3 3 2 1 1 4 3 2 1 4 3 3 3 2 3 1
43 3 3 2 1 1 4 3 2 1 4 3 3 3 2 3 1
44 3 5 5 2 2 3 4 3 2 4 4 4 4 4 3 2
45 2 2 2 1 1 4 2 1 1 4 3 2 2 3 2 1
46 3 5 5 2 2 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2
47 3 3 3 1 1 4 3 2 1 4 3 3 3 3 3 1
245
NO Y17 Y18 Y19 Y20 Y21 Y22 Y23 Y24 Y25 Y26 Y27 Y28 Y29 Y30 Y31 Y32
1 3 2 3 3 4 4 4 2 3 2 5 3 3 3 4 3
2 2 2 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
3 2 2 2 2 4 5 5 1 2 2 5 4 2 2 5 4
4 1 2 1 2 4 3 3 1 1 2 3 4 2 2 4 4
5 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 3 3 1 1 3 3
6 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 2 2 1 1 2 2
7 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4
8 4 3 4 4 4 4 5 4 5 4 4 5 4 4 5 5
9 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 3 1 1 2 2
10 3 3 4 4 5 4 4 3 4 3 5 5 3 3 4 5
11 5 5 5 4 4 4 5 5 5 5 5 4 5 5 5 4
12 3 2 2 2 4 4 4 2 1 2 4 5 2 2 5 5
13 3 3 4 4 5 5 5 4 4 4 3 5 5 3 5 5
14 1 2 2 2 4 4 4 1 3 1 4 3 3 3 3 4
15 1 1 1 1 4 4 4 1 1 1 4 4 2 2 5 5
16 1 1 1 1 4 4 4 1 1 1 4 4 2 2 5 4
17 1 1 1 1 4 3 4 1 1 1 3 3 1 1 3 3
18 3 3 3 4 5 4 4 3 3 3 5 5 3 3 4 5
19 1 2 2 1 4 3 4 1 1 1 3 3 1 1 3 3
20 3 3 3 4 5 4 4 3 3 3 5 5 3 3 4 4
21 5 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5
22 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
23 1 1 1 1 4 4 4 1 1 1 4 4 2 2 5 4
24 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 5 4 2 2 5 4
25 3 3 4 4 5 4 4 3 4 3 5 5 3 3 4 5
26 2 2 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
27 2 3 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 4 4
28 2 3 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
29 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 5 4 2 2 4 4
30 4 4 4 5 4 4 4 4 5 4 5 5 4 5 5 5
31 2 2 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
32 5 5 5 3 5 5 5 5 5 3 5 4 4 5 4 4
33 4 4 5 4 5 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
34 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
35 1 2 2 1 4 3 4 1 1 1 3 3 1 1 3 3
36 1 2 2 1 4 3 4 1 1 1 3 3 1 1 3 3
37 2 2 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
38 3 2 3 3 5 4 4 3 3 3 5 5 2 3 4 4
39 2 2 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 3 3 5 4
40 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5
41 2 2 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
42 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 2 2 1 1 2 2
43 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 2 2 1 1 2 2
44 2 3 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
45 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 3 3 1 1 3 3
46 2 2 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
47 1 2 2 1 4 3 4 1 1 1 3 3 1 1 3 3
246
NO Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y10 Y11 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16
48 3 5 5 2 2 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2
49 5 3 5 5 3 4 4 4 3 5 5 5 5 4 4 5
50 4 4 3 2 2 4 4 4 2 4 5 5 4 4 4 3
51 2 2 2 1 1 3 3 3 1 4 3 4 4 3 3 1
52 3 3 3 1 1 4 3 2 1 4 3 3 3 3 3 1
53 3 5 5 2 2 3 3 4 2 4 4 4 4 4 3 2
54 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3
55 4 5 5 2 2 3 3 4 2 4 4 4 4 4 3 2
56 2 2 2 1 1 4 2 1 1 4 3 2 2 3 2 1
57 2 2 2 1 1 4 4 3 1 3 3 4 4 3 3 1
58 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 3
59 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4
60 2 2 2 1 1 4 2 1 1 4 3 2 3 3 2 1
61 3 3 3 1 1 4 3 2 1 4 3 3 3 3 3 1
62 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3
63 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3
64 2 3 2 1 1 4 4 3 1 4 3 4 4 3 3 1
65 5 3 2 1 1 4 4 3 1 3 3 4 4 3 3 1
66 2 2 2 1 1 4 2 1 1 4 3 2 2 3 2 1
67 4 5 5 5 4 4 5 5 3 5 5 5 5 5 5 4
68 4 4 5 3 4 4 4 4 3 5 4 4 3 5 5 5
69 3 5 5 2 2 3 3 4 2 4 4 4 4 4 3 2
70 4 4 4 2 2 4 5 5 3 5 4 5 5 5 5 2
71 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 5 4 4 4 4
72 5 5 5 4 4 4 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4
73 2 2 2 1 1 4 2 1 1 4 3 2 2 3 2 1
74 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3
75 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3
76 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 5 5 5
77 4 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 3
78 4 5 4 3 3 5 5 5 3 5 5 5 5 5 4 5
79 2 2 2 1 1 4 2 1 1 4 3 2 2 3 2 1
80 3 3 3 1 1 3 2 2 1 3 3 3 3 3 2 1
81 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 4 5 4 4 4 3
82 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3
83 4 4 3 2 2 4 4 4 2 4 5 5 4 4 4 3
84 4 3 4 2 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 2
85 5 5 5 5 4 5 5 4 4 5 5 5 4 5 5 3
86 4 4 5 3 3 5 5 4 3 5 5 5 4 4 4 3
87 5 5 5 3 3 5 5 5 4 5 4 5 5 5 5 3
88 4 4 4 4 3 5 4 4 4 4 4 5 4 5 4 2
89 4 4 4 2 2 4 5 5 3 5 4 5 5 5 5 2
90 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
91 3 3 3 1 1 3 2 2 1 3 3 3 3 3 2 1
92 4 4 5 5 5 5 5 4 2 4 4 5 5 4 5 3
93 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
94 3 5 5 2 2 3 3 2 2 4 4 4 4 4 3 2
95 5 5 4 4 4 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5
247
NO Y17 Y18 Y19 Y20 Y21 Y22 Y23 Y24 Y25 Y26 Y27 Y28 Y29 Y30 Y31 Y32
48 2 2 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
49 5 5 5 4 4 3 5 5 4 3 3 4 3 3 4 4
50 3 3 3 1 5 4 4 3 3 3 5 5 3 3 4 4
51 1 1 1 1 4 3 4 1 1 1 4 4 2 2 5 5
52 1 2 2 1 4 3 4 1 1 1 3 3 1 1 3 3
53 2 2 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
54 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
55 2 2 3 2 4 5 4 2 2 2 5 4 2 2 5 4
56 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 3 3 1 1 3 3
57 1 1 1 1 4 4 4 1 1 1 3 4 2 2 5 4
58 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4
59 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 3 3
60 1 1 1 1 2 4 2 1 1 1 3 3 1 1 3 3
61 1 2 2 1 4 3 4 1 1 1 3 3 1 1 3 3
62 3 4 4 3 4 5 4 4 4 4 5 4 4 4 5 4
63 3 4 4 3 4 5 4 4 4 4 5 4 4 4 5 4
64 1 1 1 1 4 4 4 1 1 1 4 4 2 2 5 4
65 1 1 1 1 4 4 4 1 1 1 4 4 2 2 3 4
66 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 3 3 1 1 3 3
67 5 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5
68 4 4 3 3 4 3 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4
69 2 2 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
70 5 5 3 5 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 5 5
71 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 3
72 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5
73 2 1 1 1 2 2 2 1 1 1 3 3 1 1 3 3
74 3 4 4 3 4 5 4 4 4 4 5 4 4 4 5 4
75 3 4 4 3 4 5 4 4 4 4 5 4 4 4 5 4
76 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
77 3 4 4 3 4 5 4 4 4 4 5 4 4 4 5 4
78 5 5 5 4 4 4 5 5 5 5 5 4 5 5 5 4
79 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 3 3 1 1 3 3
80 1 2 2 1 3 3 4 1 1 1 3 3 1 1 3 3
81 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4
82 3 4 4 3 4 5 4 4 4 4 5 4 4 4 5 4
83 3 3 3 1 5 4 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4
84 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
85 4 5 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
86 4 4 4 4 5 5 4 3 4 4 4 3 4 4 5 3
87 3 3 4 4 5 5 5 3 4 4 5 5 4 4 5 5
88 4 4 5 4 5 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
89 5 5 3 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
90 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
91 1 2 2 1 3 3 4 1 1 1 3 3 1 1 3 3
92 4 4 3 4 5 5 4 4 2 3 5 4 3 4 5 4
93 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
94 2 2 2 2 4 5 4 2 2 2 4 4 2 2 5 4
95 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 4
248
Tabulasi Data Hasil Penelitian Variabel Gaya
Kepemimpinan kepala Sekolah
X1. X1. X1. X1. X1.
No X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 X1.6 X1.7 X1.8 X1.9
10 11 12 13 14
1 4 3 4 1 3 3 3 1 5 4 4 3 3 3
2 2 2 2 1 3 3 2 1 3 2 2 1 3 3
3 3 3 3 1 3 3 3 2 2 3 2 3 4 4
4 2 2 3 1 3 4 3 1 3 3 4 2 3 3
5 2 2 2 1 3 3 2 1 2 1 2 2 3 3
6 2 2 2 1 2 2 2 1 3 2 1 1 2 2
7 5 5 5 1 4 4 4 1 4 4 5 3 5 5
8 4 3 4 2 5 4 4 3 4 4 4 4 3 4
9 3 3 3 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2
10 2 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1
11 5 5 4 3 5 5 5 4 4 5 5 4 5 5
12 3 3 3 1 2 2 5 1 2 5 4 2 5 3
13 5 5 5 3 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5
14 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 2 4 3
15 4 3 3 2 3 4 5 3 3 2 2 2 3 2
16 4 5 5 1 4 5 5 1 5 5 4 2 5 5
17 3 3 3 2 4 3 5 2 3 4 5 2 4 3
18 3 3 3 1 3 3 3 2 2 3 2 3 4 4
19 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3
20 4 4 4 1 5 5 5 1 5 5 5 2 5 5
21 5 5 5 1 4 4 4 1 4 4 5 3 5 5
22 4 3 4 1 4 3 4 1 3 3 4 2 4 3
23 3 3 3 1 3 3 3 2 2 3 2 3 4 4
24 5 5 4 4 5 5 5 3 4 5 5 4 5 5
25 5 4 5 4 5 5 5 3 4 5 5 4 5 5
26 4 3 4 1 3 3 3 1 5 4 4 3 3 3
27 4 3 3 2 3 4 5 1 3 3 3 2 4 2
28 5 3 4 1 4 4 4 2 3 3 4 2 2 4
29 4 4 4 4 3 3 3 2 3 3 3 4 3 3
30 4 5 5 1 4 5 5 1 5 5 4 2 5 4
31 3 3 3 1 3 3 3 2 2 3 2 3 4 4
32 5 5 5 3 3 5 4 2 5 3 4 4 5 5
33 4 5 4 3 5 5 5 2 4 5 5 4 4 3
34 2 2 2 1 3 3 2 1 3 2 2 1 3 3
35 3 3 3 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2
36 2 3 2 1 2 2 2 1 3 2 3 3 2 2
37 4 4 4 3 5 4 5 2 4 3 3 2 5 3
38 5 5 5 2 4 4 4 3 4 5 4 5 4 5
39 3 3 3 1 4 4 4 1 4 4 4 2 2 3
40 4 5 5 3 5 4 5 4 5 5 5 4 5 5
41 3 3 3 2 3 3 3 1 2 3 2 3 4 4
42 2 3 2 1 2 2 2 1 3 2 3 3 2 2
43 3 3 3 2 3 3 3 1 2 3 2 3 2 2
44 3 3 3 2 3 3 3 1 2 3 2 3 4 4
45 5 5 4 4 5 3 5 3 4 5 3 4 5 5
46 5 3 4 2 4 4 4 1 3 3 4 2 2 4
249
X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1.
No
15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28
1 4 3 2 2 4 5 3 4 3 3 2 3 4 4
2 3 3 2 2 3 3 4 3 2 4 2 3 2 2
3 5 4 1 2 4 3 4 3 3 4 3 2 3 3
4 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 2 2 2 2
5 2 3 2 1 2 1 2 2 3 3 1 1 2 2
6 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1
7 4 4 3 3 4 4 4 5 5 4 4 5 4 4
8 4 3 3 4 5 5 4 4 5 4 5 5 4 5
9 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2
10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
11 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4
12 2 4 2 2 5 2 5 2 2 4 2 2 3 2
13 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
14 3 2 2 2 2 2 3 3 2 4 2 2 2 2
15 2 3 2 2 3 3 3 4 5 5 2 3 4 2
16 5 5 2 2 4 5 4 5 5 5 2 2 2 2
17 3 3 2 2 3 3 3 2 3 5 2 3 1 2
18 5 4 1 2 4 3 4 5 3 4 3 2 3 3
19 2 3 2 2 2 1 2 2 3 3 1 1 2 2
20 5 5 2 2 5 4 3 5 4 3 3 3 2 2
21 4 4 4 3 4 4 4 5 5 4 4 5 4 4
22 4 3 2 2 4 3 4 2 4 3 2 3 2 2
23 3 4 1 2 4 3 4 3 3 3 2 2 3 3
24 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4
25 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4
26 4 3 2 2 4 3 3 4 3 3 2 3 4 4
27 4 2 2 2 4 2 4 3 4 4 2 3 3 2
28 3 2 2 2 2 4 4 4 4 3 4 5 2 3
29 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2
30 5 5 2 2 4 5 4 5 5 5 2 2 2 2
31 5 4 1 2 4 3 4 5 3 4 3 3 3 3
32 5 3 4 4 5 3 5 5 5 5 4 5 4 4
33 5 5 4 5 5 5 3 5 5 4 5 4 5 4
34 3 3 2 2 3 3 3 3 2 4 2 3 2 2
35 1 2 3 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2
36 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1
37 5 5 2 2 5 5 5 2 5 4 2 1 2 2
38 4 4 2 2 5 5 5 4 5 5 2 2 2 2
39 2 2 3 2 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4
40 5 4 3 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5
41 3 4 1 2 4 3 2 3 3 3 2 2 3 3
42 3 2 3 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1
43 3 4 3 2 4 3 2 3 3 3 2 2 3 3
44 5 2 1 2 2 3 4 5 3 4 3 3 3 3
45 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4
46 3 2 2 2 2 4 4 4 4 3 4 5 3 3
250
X1. X1. X1. X1. X1.
No X1.1 X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 X1.6 X1.7 X1.8 X1.9
10 11 12 13 14
47 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3
48 4 4 3 2 5 5 5 1 5 3 5 2 4 5
49 5 5 5 2 3 5 4 3 5 3 4 4 5 5
50 5 5 5 1 5 5 5 1 5 4 5 2 5 5
51 2 2 2 1 3 3 2 2 3 2 2 1 3 3
52 3 3 3 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2
53 4 4 3 1 4 3 4 1 4 4 4 2 3 3
54 4 4 4 3 4 4 4 2 4 4 4 5 4 4
55 3 3 3 1 4 4 4 1 4 4 4 2 2 3
56 3 3 3 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2
57 2 2 2 1 3 3 2 1 3 2 2 1 3 3
58 5 5 5 3 4 4 4 2 4 5 4 5 4 5
59 4 4 4 3 4 4 4 2 4 4 4 5 4 4
60 3 3 3 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2
61 2 2 2 1 3 3 2 2 3 2 2 1 3 3
62 4 4 4 3 4 4 4 2 4 4 4 5 4 4
63 4 4 4 3 4 4 4 2 4 4 4 5 4 4
64 2 2 2 2 3 3 2 1 3 2 2 1 3 3
65 2 2 2 2 3 3 2 1 3 2 2 1 3 3
66 3 3 3 2 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2
67 4 3 3 2 2 2 3 1 2 5 5 4 3 2
68 5 5 5 2 4 4 4 2 4 4 5 5 5 4
69 3 3 3 3 2 2 2 2 2 5 3 2 3 3
70 5 5 5 3 3 5 4 2 5 3 4 4 5 5
71 5 5 5 2 4 4 4 3 4 5 4 5 4 5
72 4 4 4 4 4 4 5 3 5 5 5 4 5 3
73 3 3 3 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2
74 4 5 5 4 5 4 5 3 5 5 5 4 5 5
75 4 5 5 2 5 4 5 3 5 5 5 4 3 5
76 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
77 4 4 4 2 5 5 5 3 5 3 4 2 5 4
78 4 5 5 4 5 4 5 3 5 5 5 5 5 5
79 3 3 3 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2
80 3 3 2 1 2 2 2 1 3 2 1 1 2 2
81 5 5 5 4 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5
82 4 4 5 3 3 5 4 2 5 3 4 4 5 5
83 4 4 4 2 4 4 4 2 4 4 5 5 4 4
84 5 5 4 2 4 4 4 2 4 4 5 5 4 4
85 4 4 4 2 4 4 5 3 5 5 5 4 5 3
86 4 5 5 3 5 4 5 2 5 5 5 4 3 5
87 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5
88 5 5 5 4 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5
89 4 4 4 4 4 4 5 3 5 5 5 4 5 3
90 5 5 5 4 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5
91 3 3 2 1 2 2 2 1 3 2 1 1 2 2
92 4 4 4 3 4 4 4 2 4 4 4 5 4 4
93 4 4 4 3 4 4 4 2 4 4 4 3 4 3
94 4 3 3 1 2 2 3 1 2 5 5 4 3 2
95 4 4 4 3 4 4 4 2 4 4 2 2 4 4
251
X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1.
No
15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28
47 2 3 2 2 2 1 2 2 3 3 1 1 2 2
48 4 5 2 2 4 3 5 3 3 5 2 2 2 2
49 5 3 4 4 5 3 5 5 5 5 4 5 4 4
50 3 5 2 2 5 5 5 5 5 5 2 2 2 2
51 3 3 2 2 3 3 3 3 2 4 2 3 2 2
52 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2
53 3 4 2 2 4 4 4 4 4 4 2 2 2 2
54 4 4 2 2 4 4 4 4 4 4 3 3 2 2
55 2 2 3 2 4 4 4 3 4 4 2 3 3 4
56 1 2 3 2 2 2 2 2 3 1 3 2 2 2
57 3 3 2 2 3 3 3 2 2 4 2 3 2 2
58 4 4 2 2 5 5 5 4 5 5 2 2 2 2
59 4 4 2 2 4 4 4 4 4 4 3 3 2 2
60 2 2 3 2 2 2 2 3 3 2 3 2 2 2
61 3 3 2 2 3 3 3 3 2 4 2 3 3 3
62 4 4 2 2 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3
63 4 4 2 2 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3
64 3 3 2 2 3 3 3 3 1 4 2 3 3 3
65 3 3 2 2 3 3 3 3 2 4 2 3 3 3
66 1 2 3 2 2 2 2 2 3 1 2 2 2 2
67 2 1 2 2 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2
68 4 4 4 5 4 4 4 5 5 4 4 5 4 4
69 2 3 2 2 3 3 3 3 3 4 2 2 2 2
70 5 3 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4
71 4 4 2 2 5 5 5 4 5 5 2 3 2 3
72 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
73 2 2 3 1 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2
74 5 4 3 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5
75 4 4 3 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5
76 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
77 5 5 2 2 5 5 5 5 5 5 2 2 2 2
78 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5
79 2 2 2 1 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2
80 2 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 1 1
81 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
82 5 3 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4
83 4 4 4 5 4 4 4 5 5 4 4 5 4 4
84 4 4 4 5 4 4 4 5 5 4 4 5 4 4
85 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
86 5 4 3 5 5 5 5 5 4 5 5 4 4 5
87 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
88 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
89 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
90 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
91 2 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 1 1
92 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
93 2 4 2 2 3 4 4 4 3 3 3 3 2 2
94 2 1 2 2 2 3 2 3 3 2 2 2 2 2
95 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
252
Tabulasi Data Hasil Penelitian Variabel
Kompetensi Profesional
NO X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5 X2.6 X2.7 X2.8 X2.9 X2.10 X2.11 X2.12 X2.13 X2.14
1 3 4 2 4 4 4 5 5 4 5 5 4 5 4
2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
4 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
5 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
6 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 2 2 1
7 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
8 4 3 4 5 3 4 3 5 4 4 5 4 4 4
9 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2
10 5 5 4 5 5 4 4 4 5 3 4 4 4 3
11 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4
12 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3
13 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 3 4 5 5
14 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2
15 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3
16 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
17 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2
18 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 4 4 4
19 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2
20 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3
21 4 4 4 3 3 4 5 5 3 4 3 3 4 5
22 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3
23 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2
24 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 3 3
25 5 5 4 4 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3
26 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2
27 2 3 1 2 3 3 3 4 2 2 2 5 3 3
28 3 2 2 4 3 4 4 4 3 3 3 4 4 4
29 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
30 4 4 5 4 4 4 5 4 4 3 4 4 5 3
31 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
32 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
33 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
34 2 3 1 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3
35 1 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2
36 2 3 1 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3
37 2 3 1 2 3 3 3 4 2 2 2 4 3 3
38 2 3 1 2 3 3 3 4 2 2 2 4 3 3
39 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
40 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
41 1 1 1 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2
42 1 1 1 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2
43 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 2 1
44 2 4 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2
45 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 3 4 3
46 2 3 1 2 3 3 3 4 2 2 2 5 3 3
47 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1
48 1 2 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 2 2
253
NO X2.15 X2.16 X2.17 X2.18 X2.19 X2.20 X2.21 X2.22 X2.23 X2.24 X2.25
1 5 5 5 4 5 5 4 5 3 5 4
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
5 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
6 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2
7 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
8 4 3 5 4 3 5 4 3 4 3 4
9 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
10 5 5 4 3 3 5 3 3 5 5 5
11 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
12 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
13 3 3 5 5 3 3 3 3 5 5 5
14 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
15 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
16 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
17 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
18 3 5 5 4 3 5 5 4 5 5 4
19 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
20 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
21 5 3 3 4 4 5 5 5 3 5 4
22 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
23 2 2 2 2 3 3 3 2 2 3 4
24 4 4 3 5 5 5 5 5 4 4 4
25 4 4 3 5 5 5 5 5 3 4 4
26 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2
27 2 2 1 3 2 2 2 2 3 3 3
28 2 4 3 2 4 4 3 4 2 4 4
29 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
30 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4
31 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2
32 4 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4
33 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4
34 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3
35 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2
36 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3
37 2 2 1 3 2 2 2 2 3 3 3
38 2 2 1 3 2 2 2 2 3 3 2
39 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
40 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
41 2 2 1 1 2 2 2 2 1 1 2
42 2 2 1 1 2 2 2 2 1 1 2
43 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1
44 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
45 4 5 5 4 3 3 3 4 5 3 4
46 2 3 1 3 2 2 2 2 3 3 3
47 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
48 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 2
254
NO X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5 X2.6 X2.7 X2.8 X2.9 X2.10 X2.11 X2.12 X2.13 X2.14
49 3 3 2 3 3 3 5 3 3 3 3 5 5 3
50 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3
51 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
52 1 2 1 2 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2
53 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
54 3 3 2 4 4 3 4 4 3 3 3 4 4 4
55 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
56 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
57 2 2 1 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2
58 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3
59 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
60 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
61 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2
62 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4
63 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4
64 2 2 1 3 3 3 3 2 2 2 2 2 4 2
65 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 4 2
66 2 2 1 2 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2
67 4 4 5 4 4 4 5 3 4 4 4 5 4 4
68 4 3 5 3 4 3 4 3 2 2 2 2 2 2
69 4 4 3 3 3 4 4 2 2 2 2 3 2 2
70 3 4 2 4 3 3 4 4 3 3 2 2 3 3
71 4 5 3 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 3
72 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 3
73 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
74 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4
75 3 2 3 4 4 3 4 4 4 4 5 4 3 3
76 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 3 4 4
77 2 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2
78 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 5 4 4
79 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
80 1 2 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 1 2
81 3 3 4 4 4 4 3 5 5 5 3 3 4 4
82 3 4 3 4 2 4 4 5 4 4 4 4 4 3
83 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 2
84 3 3 3 5 4 3 4 4 4 4 4 4 4 5
85 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
86 3 3 3 5 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4
87 5 5 3 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4
88 4 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 5 4
89 3 3 3 5 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4
90 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
91 1 2 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 1 2
92 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3
93 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
94 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
95 5 3 5 4 5 4 4 4 4 5 4 3 4 4
255
NO X2.15 X2.16 X2.17 X2.18 X2.19 X2.20 X2.21 X2.22 X2.23 X2.24 X2.25
49 4 4 3 3 3 3 4 4 3 5 5
50 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
51 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2
52 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2
53 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3
54 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4
55 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3
56 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
57 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2
58 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4
59 3 4 4 4 5 4 4 3 3 4 4
60 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2
61 3 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3
62 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 3
63 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4
64 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2
65 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 2
66 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2
67 4 4 4 3 4 4 3 3 3 5 5
68 2 2 2 2 3 4 3 3 3 2 2
69 2 2 2 4 3 2 2 2 2 3 3
70 3 4 4 2 2 3 2 3 4 5 5
71 3 3 3 3 4 3 4 4 4 4 4
72 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4
73 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3
74 4 4 2 4 4 3 4 3 3 3 3
75 4 4 4 4 3 5 5 4 4 4 4
76 5 5 4 4 4 4 3 3 4 3 4
77 3 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3
78 4 4 4 3 3 3 3 3 4 5 4
79 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
80 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2
81 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 3
82 3 3 4 4 4 4 5 4 4 5 3
83 2 2 2 3 1 4 1 1 4 4 2
84 5 4 4 4 4 4 4 1 4 3 3
85 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
86 4 4 4 4 3 4 5 4 4 4 4
87 5 5 5 3 4 5 5 5 5 5 5
88 5 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4
89 4 4 4 4 3 4 5 4 4 4 4
90 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
91 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2
92 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
93 5 5 5 3 4 5 5 5 5 5 5
94 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
95 4 4 3 4 5 4 4 4 4 5
256
Tabulasi Data Hasil Penelitian
Variabel Motivasi Kerja
NO X3.1 X3.2 X3.3 X3.4 X3.5 X3.6 X3.7 X3.8 X3.9 X3.10 X3.11 X3.12
1 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 2 3
2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 3
3 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 2
4 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2
5 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2
6 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2
7 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4
8 5 3 4 3 4 3 3 4 5 3 3 4
9 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3
10 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5
11 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5
12 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
13 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3
14 2 2 2 2 3 2 2 2 3 3 2 2
15 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2
16 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2
17 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4
18 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 2 3
19 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2
20 4 4 3 4 3 2 2 2 3 3 5 5
21 5 5 3 3 5 4 5 4 5 5 4 5
22 2 2 2 3 3 2 2 2 3 3 2 3
23 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 2
24 5 5 4 5 4 4 4 4 5 4 5 5
25 5 5 4 5 4 4 4 4 5 3 4 5
26 2 2 2 3 3 2 2 2 3 3 2 3
27 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
28 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2
29 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
30 5 5 4 4 5 4 5 4 4 4 4 4
31 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2
32 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
33 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
34 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2
35 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2
36 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 2 3
37 2 2 2 2 3 2 2 2 3 3 2 3
38 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2
39 2 2 2 2 3 2 2 2 3 3 1 2
40 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
41 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
42 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2
43 2 2 3 3 3 2 2 2 3 3 2 3
44 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2
45 4 4 4 5 4 4 4 5 4 4 5 4
46 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2
47 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2
48 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 3 4
257
NO X3.13 X3.14 X3.15 X3.16 X3.17 X3.18 X3.19 X3.20 X3.21 X3.22
1 2 4 4 3 3 4 3 3 3 4
2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2
3 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2
4 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2
5 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2
6 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2
7 4 4 5 3 4 4 4 4 4 5
8 3 5 4 5 5 4 3 5 4 3
9 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
10 4 5 5 5 5 5 5 4 5 3
11 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4
12 3 3 3 3 3 3 3 4 3 5
13 5 5 4 5 4 5 5 5 3 3
14 2 3 3 2 3 3 3 4 3 3
15 2 2 2 2 2 3 2 3 3 3
16 2 2 2 1 2 2 2 2 2 3
17 4 4 4 3 4 4 3 3 3 4
18 2 4 4 3 3 4 3 3 4 5
19 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2
20 2 4 3 3 5 3 3 3 2 3
21 5 5 3 5 4 5 5 5 5 5
22 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4
23 2 2 2 1 2 2 2 2 2 3
24 5 5 5 4 4 5 3 3 4 3
25 5 5 4 4 5 5 3 3 4 3
26 2 4 4 2 3 4 3 3 3 3
27 2 3 3 3 3 5 3 4 4 5
28 4 4 4 3 4 2 4 4 4 3
29 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
30 4 5 4 5 5 4 2 2 3 3
31 2 1 2 1 2 2 2 3 3 3
32 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4
33 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4
34 3 3 4 3 4 2 4 4 4 3
35 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2
36 2 4 4 3 3 4 3 3 3 4
37 2 4 4 3 3 4 3 3 3 4
38 2 2 2 2 2 3 2 3 3 4
39 2 3 3 1 3 3 3 3 3 3
40 4 4 4 4 4 4 3 3 5 3
41 2 2 2 2 2 3 3 3 3 4
42 2 1 2 1 2 2 2 3 3 3
43 2 4 4 3 3 4 3 3 3 4
44 2 2 2 2 2 3 3 3 3 4
45 4 4 4 5 4 5 5 4 5 4
46 2 2 2 2 2 3 3 4 3 4
47 2 2 2 2 2 3 3 3 3 4
48 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4
258
NO X3.1 X3.2 X3.3 X3.4 X3.5 X3.6 X3.7 X3.8 X3.9 X3.10 X3.11 X3.12
49 5 5 3 4 4 4 3 3 3 3 5 5
50 5 5 3 4 4 4 3 3 3 3 3 5
51 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2
52 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2
53 2 2 3 3 3 2 2 2 3 3 2 3
54 5 5 3 4 4 4 3 3 3 3 3 5
55 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4
56 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2
57 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2
58 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
59 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4
60 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
61 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 3
62 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4
63 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4
64 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3
65 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3
66 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
67 5 5 5 4 4 4 4 4 5 5 5 4
68 4 4 4 4 4 3 3 2 4 4 4 3
69 4 4 4 3 4 3 3 2 3 4 3 3
70 4 5 5 4 4 4 4 4 5 5 4 5
71 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 4
72 5 5 5 4 5 5 5 4 4 5 5 4
73 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
74 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4
75 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 2 5
76 4 5 4 5 5 4 5 5 5 5 5 5
77 4 4 4 4 4 3 3 2 4 4 4 3
78 4 5 4 4 5 4 5 4 5 4 5 5
79 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2
80 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
81 3 4 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3
82 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4
83 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4
84 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4
85 4 4 5 4 3 4 5 4 4 4 5 4
86 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4
87 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5
88 5 5 4 5 4 4 4 5 4 5 5 5
89 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4
90 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 4
91 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2
92 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 5 4
93 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
94 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2
95 4 4 5 4 3 4 4 5 4 4 5 4
259
NO X3.13 X3.14 X3.15 X3.16 X3.17 X3.18 X3.19 X3.20 X3.21 X3.22
49 2 4 4 3 5 3 3 3 3 3
50 2 4 4 3 5 3 3 3 3 3
51 2 2 2 1 3 3 3 3 4 4
52 2 1 2 1 2 2 2 4 4 4
53 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4
54 2 4 4 3 5 3 3 3 3 3
55 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
56 2 2 2 1 2 3 2 2 3 4
57 2 2 2 2 3 3 4 4 4 4
58 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3
59 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3
60 2 2 2 2 2 2 2 2 3 4
61 2 4 4 3 3 4 3 3 3 3
62 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4
63 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4
64 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4
65 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3
66 2 2 2 2 2 3 3 3 3 4
67 4 5 5 4 2 4 4 4 3 3
68 3 4 4 3 4 3 2 2 2 4
69 4 4 4 4 4 2 2 2 3 3
70 3 4 3 4 5 5 3 2 1 2
71 3 4 4 4 4 3 3 4 4 4
72 5 4 4 5 4 5 3 5 5 4
73 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3
74 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4
75 3 5 4 3 3 4 3 2 3 3
76 3 5 5 5 5 5 5 4 4 4
77 3 4 4 3 4 3 2 2 2 4
78 5 4 4 5 5 4 5 5 5 4
79 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3
80 2 2 2 2 3 3 4 4 4 4
81 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3
82 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4
83 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4
84 4 4 2 5 4 4 2 3 3 4
85 5 4 5 4 5 4 5 4 4 5
86 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4
87 5 5 5 5 5 5 3 4 5 4
88 4 5 5 5 5 5 4 4 5 3
89 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4
90 5 5 5 5 5 3 3 5 5 5
91 2 2 2 2 3 3 2 4 4 4
92 3 4 3 4 5 4 3 3 3 5
93 5 5 5 5 5 4 3 4 5 5
94 2 2 2 2 3 4 2 3 3 4
95 5 4 4 4 4 4 4 2 2 2
260
Tabulasi 4 Kelompok Data Hasil Penelitian
NO X1 X2 X3 Y NO X1 X2 X3 Y
1 90 108 65 90 46 90 64 55 100
2 68 49 48 100 47 63 27 49 75
3 83 77 37 107 48 97 40 80 100
4 72 51 41 85 49 119 88 80 133
5 56 50 44 60 50 108 82 78 114
6 42 39 34 48 51 68 53 49 80
7 112 100 88 123 52 58 43 39 75
8 112 98 85 132 53 87 73 68 102
9 52 55 49 65 54 100 90 78 120
10 32 105 104 124 55 86 77 85 105
11 131 121 103 149 56 56 50 44 60
12 80 87 69 98 57 66 55 55 80
13 135 98 102 141 58 108 97 85 124
14 75 60 56 96 59 100 98 77 120
15 84 69 47 83 60 59 53 47 63
16 106 54 43 82 61 70 68 65 75
17 83 60 80 71 62 102 96 85 125
18 85 95 67 118 63 101 97 85 125
19 61 44 33 73 64 69 58 58 83
20 104 86 71 117 65 70 59 60 83
21 113 100 100 153 66 55 53 50 60
22 83 69 63 119 67 70 100 92 151
23 79 59 38 82 68 118 69 74 129
24 130 94 95 128 69 74 67 72 102
25 130 99 93 125 70 122 80 85 133
26 88 56 60 100 71 110 98 87 124
27 83 63 69 102 72 126 98 100 154
28 89 83 70 104 73 57 51 45 61
29 84 100 88 127 74 130 90 83 126
30 105 105 89 139 75 125 95 81 125
31 86 47 36 100 76 140 95 102 158
32 119 97 85 136 77 107 68 74 124
33 122 98 87 139 78 134 94 100 146
34 67 68 68 101 79 56 50 44 60
35 57 45 33 73 80 46 40 54 70
36 47 68 65 75 81 138 94 73 121
37 98 62 61 100 82 120 95 81 125
38 108 61 48 113 83 114 70 80 112
39 87 50 53 102 84 116 94 81 117
40 130 100 86 152 85 126 100 95 141
41 77 40 50 100 86 124 96 88 130
42 50 40 36 63 87 139 117 105 140
43 75 32 63 63 88 138 102 100 139
44 82 56 54 103 89 126 96 85 130
45 126 93 95 60 90 138 125 104 160
NO X1 X2 X3 Y 91 46 40 54 70
46 90 64 55 100 92 110 77 85 133
47 63 27 49 75 93 92 122 106 160
48 97 40 80 100 94 70 49 52 100
49 119 88 80 133 95 105 99 85 153
261
Output Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Efektivitas Gaya Kompetensi Motivasi
Kerja Kepemimpinan Profesional Kerja
N 95 95 95 95
Normal Mean 107.5474 92.92 75.6105 70.4211
a
Parameters Std. Deviation 29.05489 27.891 23.82663 20.74392
Most Extreme Absolute .093 .068 .159 .109
Differences Positive .085 .068 .091 .087
Negative -.093 -.068 -.159 -.109
Kolmogorov-Smirnov Z .910 .667 1.548 1.067
Asymp. Sig. (2-tailed) .379 .766 .017 .205
a. Test distribution is Normal.
Output Hasil Uji Hetroskedastisitas
a
Coefficients
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients t Sig.
Model B Std. Error Beta
1 (Constant) 9.414 3.871 2.432 .017
Gaya Kepemimpinan -.027 .056 -.077 -.484 .629
Kompetensi Profesional -.017 .087 -.042 -.201 .841
Motivasi Kerja .062 .102 .131 .612 .542
a. Dependent Variable: RES2
262
Output Hasil Uji Linieritas
ANOVA Table
Sum of Mean
df F Sig.
Squares Square
Efektivitas Kerja Between (Combined) 65930.037 62 1063.388 2.535 .003
* Gaya Groups
Linearity 47851.03 114.07
Kepemimpinan 47851.031 1 .000
1 1
Deviation from
18079.006 61 296.377 .707 .879
Linearity
Within Groups 13423.500 32 419.484
Total 79353.537 94
ANOVA Table
Sum of Mean
Squares df Square F Sig.
Efektivitas Kerja Between (Combined) 68719.587 49 1402.441 5.935 .000
* Kompetensi Groups
Linearity 53453.95 226.20
Profesional 53453.953 1 .000
3 3
Deviation from
15265.634 48 318.034 1.346 .159
Linearity
Within Groups 10633.950 45 236.310
Total 79353.537 94
ANOVA Table
Sum of Mean
Squares df Square F Sig.
Efektivitas Kerja Between (Combined) 66430.970 50 1328.619 4.524 .000
* Motivasi Kerja Groups
Linearity 52818.97 179.84
52818.974 1 .000
4 3
Deviation from
13611.996 49 277.796 .946 .577
Linearity
Within Groups 12922.567 44 293.695
Total 79353.537 94
263
Output Hasil Uji Multikolinieritas
a
Coefficients
Unstandardized Standardized Collinearity
Coefficients Coefficients Statistics
Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) 16.437 5.536 2.969 .004
Gaya
.334 .080 .321 4.184 .000 .438 2.284
Kepemimpinan
Kompetensi
.423 .124 .347 3.396 .001 .247 4.054
Profesional
Motivasi Kerja .399 .146 .285 2.741 .007 .238 4.205
a. Dependent Variable:
Efektivitas Kerja
Output Analisis Regresi dan Uji t
a
Coefficients
Unstandardized Standardized
Model Coefficients Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 16.437 5.536 2.969 .004
Gaya Kepemimpinan .334 .080 .321 4.184 .000
Kompetensi
.423 .124 .347 3.396 .001
Profesional
Motivasi Kerja .399 .146 .285 2.741 .007
a. Dependent Variable: Efektivitas Kerja
Output Uji F
b
ANOVA
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
a
1 Regression 60787.753 3 20262.584 99.317 .000
Residual 18565.783 91 204.020
Total 79353.537 94
a. Predictors: (Constant), Motivasi Kerja, Gaya Kepemimpinan, Kompetensi Profesional
b. Dependent Variable: Efektivitas Kerja
264
Output Koefisien Determinasi Parsial
Gaya Kepemimpinan terhadap Efektivitas Kerja
Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
a
1 .777 .603 .599 18.40480
a. Predictors: (Constant), Gaya Kepemimpinan
Gaya Kompetensi Profesional terhadap Efektivitas Kerja
Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
a
1 .821 .674 .670 16.68802
a. Predictors: (Constant), Kompetensi Profesional
Gaya Motivasi Kerja terhadap Efektivitas Kerja
Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
a
1 .816 .666 .662 16.89136
a. Predictors: (Constant), Motivasi Kerja
Output Koefisien Determinasi Simultan
Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
a
1 .875 .766 .758 14.28354
a. Predictors: (Constant), Motivasi Kerja, Gaya Kepemimpinan, Kompetensi Profesional
265
Rekomendasi dari Ketua Universitas Mulawarman kalimantan Timur
untuk Mendapat Surat Izin Penelitian dari Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi
Kalimantan Timur
266
Rekomendasi Penelitian dari Kepala Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi
Kalimantan Timur
267
Surat Keterangan dari Kepala SMK Negeri 6 Samarinda
Telah Melakukan Uji Instrumen
268
Surat Keterangan Kepala SMK Negeri 7 Samarinda
Telah Melakukan Penelitian
269
Surat Keterangan dari Kepala SMK Negeri 11 Samarinda
Telah Melakukan Penelitian
270
Surat Keterangan dari Kepala SMK Negeri 12 Samarinda
Telah Melakukan Penelitian
271
Surat Keterangan dari Kepala SMK Negeri 14 Samarinda
Telah Melakukan Penelitian
272
Surat Keterangan dari Kepala SMK Negeri 16 Samarinda
Telah Melakukan Penelitian
273
Surat Keterangan dari Kepala SMK Negeri 17 Samarinda
Telah Melakukan Penelitian
274
Surat Keterangan dari Kepala SMK Negeri 20 Samarinda
Telah Melakukan Penelitian
275
Foto 1 Wawancara Peneliti dengan Responden Rusito, [Link] Guru
Akuntansi dan Kepala Program Keahlian Akuntansi
SMK Negeri 16 Samarinda
276
Foto 2 Wawancara Peneliti dengan Responden M. Arief, [Link], Guru dan
Kepala Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan
SMK Negeri 16 Samarinda \
277
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Huda, Lahir pada 20 Juli 1967 di Jombang Jawa Timur. Ia
menerima Pendidikan dasar pada Madrasah Ibtida‟iyah Bustanul Ulum di
Jombang dan tamat pada tahun 1981. Pada pendidikan tingkat menengah
pertama ia belajar di Madrasah Tsanawiyah Darussalam di Jombang pula,
dan tamat pada tahun 1984. Pada tahun 1985 ia melanjutkan sekolah
pada Madarasah „Aliyah (MA) di kota yang sama dan lulus pada tahun
1988. Pada tahun 1989 ia melanjutkan pendidikan pada IAIN Antasari
Samarinda Kalimantan Timur dengan mengambil fakultas Tarbiyah
(pendidikan) jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan lulus pada tahun
1995. Pada 2012 ia melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Samarinda Kalimantan Timur dan mengambil Program
Studi (Prodi) Magister Pendidikan Islam. Pada tanggal 17 Juni 2014 ia
berhasil mempertanggungjawabkan karya tesisnya. Pada 2015, ia
melanjutkan pendidikan di Universitas Mulawarman Kalimantan Timur
program studi Manajemen Pendidikan Proram Doktor (S.3), dan pada 16
Desember 2019 ia berhasil mempertanggungjawabkan disertasinya.
Sebagai orang yang lahir dari keluarga dan masyarakat santri, ia
banyak mempelajari ajaran Islam selain dari kitab berbahasa Jawa dan
Indonesia, juga kitab berbahasa Arab, yaitu: Safinah an-Najah, Sullam at-
Taufiq, Washiyat al-Mushthafa, Akhlaq al-Lilbanin, Ta„lim al-Muta„allim,
Tafsir al-Maraghi, Tafsir Jalalain, Alfiyah dan beberapa kitab lainnya.
Karakteristiknya yang tangguh memekikkan semboyan “lebih baik
berkalang tanah dari pada menyerah kalah dalam perjuangan”.