0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan45 halaman

Proyeksi Penduduk dan Ekonomi Cinunuk

Dokumen tersebut membahas rencana penataan lingkungan permukiman di Desa Cinunuk untuk mencapai kota tanpa kumuh. Dokumen menganalisis jumlah penduduk, kepadatan penduduk, dan analisis ekonomi mikro di desa tersebut. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui peningkatan ekonomi dan lingkungan permukiman.

Diunggah oleh

Fachmi Ramadhani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan45 halaman

Proyeksi Penduduk dan Ekonomi Cinunuk

Dokumen tersebut membahas rencana penataan lingkungan permukiman di Desa Cinunuk untuk mencapai kota tanpa kumuh. Dokumen menganalisis jumlah penduduk, kepadatan penduduk, dan analisis ekonomi mikro di desa tersebut. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui peningkatan ekonomi dan lingkungan permukiman.

Diunggah oleh

Fachmi Ramadhani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

PROGRAM KOTA TANPA KUMUH (KOTAKU)


DESA CINUNUK KECAMATAN WANARAJA KABUPATEN GARUT

4.1. ANALISIS KEPENDUDUKAN 4.2.1. Kepadatan Penduduk


Jumlah penduduk Desa Cinunuk pada tahun 2015 sebesar 6.094 jiwa dengan Kepadatan penduduk merupakan perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas
jumlah penduduk terbanyak terdapat pada Rw 03. Berdasarkan proyeksi yang telah wilayah. Kepadatan penduduk terdiri dari kepadatan penduduk kasar dan kepadatan
dilakukan, pada tahun 2020 jumlah penduduk Desa Cinunuk diperkirakan sebesar 6.491 lingkungan perumahan. Kepadatan penduduk kasar (KPK) diperoleh dari pembagian jumlah
jiwa, Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Desa Cinunuk jumlah penduduk pada penduduk dengan luas wilayah keseluruhan, sedangkan kepadatan lingkungan perumahan
tahun 2015 adalah 6094 jiwa. rata- rata laju pertumbuhan penduduk Desa Cinunuk per diperoleh dari pembagian antara jumlah penduduk dengan luas kawasan perumahan.
tahun adalah sebesar 1,2 %.. Dengan menggunakan laju Pertambahan penduduk Kepadatan penduduk Desa Cinunuk hingga akhir tahun proyeksi (2020) diperkirakan sebesar
tersebut, dapat diproyeksikan jumlah penduduk Desa Cinunuk pada tahun perencanaan 70 Unit/Ha, artinya dalam setiap satu hektar terdapat 70 unit rumah penduduk di dalamnya.
2015 – 2020 dapat dilihat dalam Tabel 4.1 sebagai berikut: Lebih jelas lihat Tabel 4.2 dan Gambar
Table 4.1 proyeksi jumlah penduduk Kampung Desa Cinunuk
Jumlah Proyeksi Pada Tahun
RW Penduduk
(Jiwa) 2015 Thn. 2016 Thn. 2017 Thn. 2018 Thn. 2019 Thn. 2020 Diagram
1 895 906 918 930 941 953
4.1 Proyeksi Diagram 4.2 Proyeksi Kepadatan Bangunan
2 682 691 699 708 717 726
3 1108 1.122 1.136 1.151 1.165 1.180 Jumlah
4 551 558 565 572 580 587
5 432 437 443 449 454 460
6 699 708 717 726 735 745
7 750 760 769 779 789 799
8 600 608 615 623 631 639
9 377 382 387 392 397 402
TOTAL 6.094 6.171 6.250 6.329 6.410 6.491

Penduduk

IV- 1
RENCANA PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROGRAM KOTA TANPA KUMUH (KOTAKU)
DESA CINUNUK KECAMATAN WANARAJA KABUPATEN GARUT

IV- 2
4.2. Analisa Ekonomi Kiprah perempuan dalam perekonomian keluarga dan nasional menjadi salah
satu bagian penting dalam pembangunan secara keseluruhan. Seiring dengan
bertambahnya pendapatan perempuan atau akses perempuan terhadap sumber-sumber
4.2.1. Analisa Ekonomi Mikro
daya ekonomi melalui usaha ini, maka kemampuan dan kesempatan mereka bernegosiasi
Usaha mikro tergolong jenis usaha
dalam rumah tanggapun meningkat.
marginal, ditandai dengan penggunaan
Partisipasi perempuan merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan
teknologi yang relatif sederhana, tingkat modal
pembangunan. Program pengembangan usaha mikro yang dilakukan oleh perempuan ini
dan akses terhadap kredit yang rendah, serta
menjadi penting, karena perempuan berhadapan dengan kendala-kendala tertentu yang
cenderung berorientasi pada pasar lokal.
dikenal dengan istilah “tripple burden of women”, yaitu
Namun demikian sejumlah kajian di beberapa
ketika mereka ‘diminta’ menjalankan fungsi reproduksi,
negara menunjukkan bahwa usaha mikro
produksi, sekaligus fungsi sosial di masyarakat pada
berperanan cukup besar bagi pertumbuhan
saat yang bersamaan. Hal tersebut menyebabkan
ekonomi, menyerap tenaga kerja melalui
kesempatan perempuan untuk memanfaatkan peluang
penciptaan lapangan pekerjaan, menyediakan barang dan jasa dengan harga murah,
ekonomi yang ada menjadi sangat terbatas. Sebagian
serta mengatasi masalah kemiskinan. Disamping itu, usaha mikro juga merupakan salah
besar perempuan masih berkiprah di sektor informal
satu komponen utama pengembangan ekonomi lokal, dan berpotensi meningkatkan
atau pekerjaan yang tidak memerlukan kualitas pengetahuan dan ketrampilan spesifik.
posisi tawar (bargaining position) perempuan dalam keluarga.
a. Manfaat Usaha Mikro
Kegiatan usaha mikro dan usaha kecil tidak lepas dari peran kaum perempuan.
Usaha mikro banyak diminati oleh perempuan dengan pertimbangan bahwa usaha ini Usaha mikro memiliki kontribusi yang besar bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi

dapat menopang kehidupan rumah tangga dan dapat memenuhi kebutuhan maupun sosial. Beberapa manfaat usaha mikro yang berhasil diidentifikasi langsung baik

pengembangan diri. Meskipun sulit untuk memisahkan peran perempuan dan laki-laki dari pelaku usaha mikro maupun dari lembaga yang menangani usaha mikro adalah sbb:

dalam usaha mikro, dan belum ada angka pasti mengenai tingkat keterlibatan perempuan  Usaha mikro dianggap dapat meredakan gejolak sosial, karena jenis usaha ini

dalam usaha mikro, diperkirakan porsinya cukup besar dan sebanding dengan porsi mudah dimasuki oleh masyarakat kecil. Terutama sejak krisis dan banyak pabrik

perempuan dalam usaha kecil, yaitu sekitar 40%. Kegiatan usaha kecl yang dilakukan yang menutup usahanya atau mengurangi karyawannya, usaha mikro menjadi

oleh kaum perempuan di Desa Cinunuk antara lain : alternatif pilihan sehingga dapat mengurangi angka pengangguran.

Tabel 4.3 : Jenis produk usaha kecil masyarakat Cinunuk  Menjadi ‘katup pengaman’ kebutuhan rumah tangga dan alternatif usaha. Ketika
mata pencaharian lain mengalami pasang surut atau kebutuhan keluarga
meningkat, usaha mikro yang relatif mudah dimasuki dapat menjadi alternatif
usaha sehingga kebutuhan rumah tangga tetap dapat terpenuhi.
 Meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat, khususnya rumah tangga pelaku
usaha mikro. Dampak usaha mikro ini diindikasikan dengan semakin membaiknya
kondisi fisik rumah para pengusaha mikro/kecil, serta bertambahnya kepemilikan

IV - 2 |
kendaraan. Selain itu pendapatan usaha mikro juga digunakan untuk Keberhasilan usaha mikro/kecil tidak terkait dengan jenis kelamin pengelolanya, tetapi
menyekolahkan anak, berobat, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. bergantung pada jenis usaha dan bagaimana mengelola usaha tersebut. Tetapi ada
kecenderungan perempuan dianggap lebih ulet dalam berusaha dan dalam menghadapi
Dampak usaha mikro, terutama yang ditekuni oleh perempuan, telah meningkatkan
masalah dibandingkan dengan laki-laki. Dari data primer lapangan, tidak terlihat adanya
ekonomi perempuan khususnya dan ekonomi keluarga pada umumnya. Bahkan beberapa
perbedaan yang nyata antara jenis masalah yang dihadapi usaha yang dikelola
kasus usaha ekonomi perempuan yang awalnya merupakan usaha sampingan, kini
perempuan dengan yang yang dikelola laki-laki. Masalah utama bagi mereka sama: yaitu
menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Dampak lainnya adalah menciptakan
masalah modal dan pemasaran.
lapangan kerja bagi rumah tangga di sekitar usaha mikro, terutama tenaga kerja
Secara umum akses pelaku usaha mikro/kecil terhadap program penguatan usaha
perempuan.
mikro relatif mudah dan cukup terbuka. Informasi tentang adanya program dapat diterima
Di beberapa kasus ditemukan bahwa perempuan sebagai pengelola usaha mikro
hingga di tingkat desa atau kelurahan. Namun untuk beberapa wilayah, meskipun
berperan sangat besar dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Meningkatnya
informasi tentang program dapat mencapai tingkat desa, tetapi tidak bisa menjangkau
kontribusi secara ekonomi berkorelasi dengan posisi tawar mereka dalam rumah
seluruh masyarakat karena keterbatasan kapasitas program, proses sosialisasi dan
tangga. Perempuan menjadi lebih berani menyampaikan pendapat dan tidak terlalu
penyebaran informasi.
bergantung kepada suami, khususnya secara ekonomi
Dari pengamatan di lapangan, secara umum ada dua cara sosialisasi yang dilakukan
a. Masalah Yang Dihadapi dalam pelaksanaan program, yaitu sosialisasi yang dilakukan pada program yang bersifat

Permasalahan utama yang banyak dikemukakan pelaku usaha mikro adalah pemberdayaan termasuk pelatihan, dan pada program yang menyediakan modal.

kurangnya modal untuk mengembangkan usaha. Hal ini cukup ironis mengingat cukup Sosialisasi program yang bersifat pemberdayaan atau non komersial dibagi dua, yaitu

banyak program penguatan dalam bentuk bantuan modal yang disediakan untuk usaha yang berasal dari pemerintah (departemen, non departemen dan BUMN), serta yang

mikro. Sifat dan cara mengelola usaha mikro itu sendiri tampaknya turut mendukung berasal dari koperasi keliling. Sosialisasi program dari pemerintah biasanya dilakukan

kurangnya modal. Hasil usaha mikro biasanya digunakan untuk menutup kebutuhan secara terstruktur dan sistematis dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan

sehari-hari sehingga tujuan menambah modal sulit terpenuhi. Bahkan tidak jarang usaha dan desa/kelurahan, dengan melibatkan dinas atau instansi pemerintah terkait yang ada

mikro dikorbankan ketika ada kebutuhan keluarga yang mendesak. Di samping itu, pada setiap jenjang. Sedangkan sosialisasi program yang berasal dari donor dan LSM

umumnya pengusaha mikro tidak memisahkan “pembukuan” usaha dengan pengeluaran umumnya dilakukan oleh petugas lapangan yang langsung menyampaikan informasi ke

keluarga sehingga modal usaha sering terpakai untuk keperluan sehari-hari. tingkat sasaran melalui lembaga pemerintahan di tingkat masyarakat seperti desa atau

Masalah lainnya adalah ketergantungan usaha mikro yang cukup tinggi terhadap kecamatan. Sasarannya individu usaha mikro atau kelompok, baik kelompok lama

musim dan permintaan pasar, menyebabkan usaha ini menjadi fluktuatif dan sulit maupun bentukan baru.

berkembang. Misalnya pengrajin rajutan di RW 06 permintaan pasar kadang tidak Sikap proaktif pelaku usaha mikro dan kecil dalam mengakses program dinilai masih

tertutupi menjelang hari raya idul fitri, namun periode bulan berikutnya permintaan anjlok. rendah karena biasanya mereka menunggu diajak oleh pelaksana program atau pelaku

Bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini yang menyebabkan kerugian dari biaya pekerja, usaha yang sudah terlebih dahulu menerima manfaat atau informasi tentang program.

namun apabila pekerja diberhentikan, mereka berpindah ke kota bandung yang Khusus pada program yang menyediakan modal, pelaku usaha tidak berani memulai jika

cenderung lebih menjanjikan. tidak melihat contoh usaha lain yang sudah dikenalnya, karena takut menghadapi
prosedur yang rumit, bunga yang tinggi atau karena harus mempunyai jaminan.

IV - 3 |
Sebagian besar usaha mikro mengakses program penyediaan modal yang tidak merasa takut atau segan untuk mengajukan permohonan bantuan, dan petugas
dilaksanakan oleh pemerintah, perbankan dan koperasi. Ketiga sumber ini merupakan yang melaksanakan program bersikap pro-aktif dalam mengajak mereka untuk
sumber permodalan yang utama bagi pengusaha kecil dan mikro. Sumber lainnya yang memanfaatkan program yang ditawarkan.
juga berperan adalah koperasi keliling. Menurut pelaku usaha, program yang
dilaksanakan oleh pemerintah lebih disukai karena persyaratannya mudah dan bunganya
rendah. Di samping itu sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah menyebabkan mereka

TABEL 4.4 : ANALISA SWOT EKONOMI DAN INDUSTRI

PELUANG TANTANGAN

EXTERNAL  Mudah untuk dilakukan oleh golongan ekonomi kecil  Pendidikan dan keterampilan masih kurang
 Memperluas pemasaran  Persaingan pasar
INTERNAL
 Banyak program untuk diakses  Harga bahan baku tidak menentu
 Bahan baku mudah didapat  Penerapan teknologi modern

POTENSI STRATEGI SO STRATEGI ST

 Banyaknya masyarakat desa Cinunuk yang menggeluti usaha  Melakukan peningkatan kapasitas produksi  Pelatihan peningkatan kapasitas
mikro  Melakukan strategi pemasaran  Mengakses peralatan modern untuk
 Sebagai salah satu upaya untuk menopang ekonomi keluarga  Memanfaatkan bahan baku local peningkatan mutu dan kapasitas produk olahan
 Perempuan memiliki peran yang lebih dalam usaha mikro  Membuka beberapa usaha baru yang potensial  Membentuk koperasi kecil usaha mikro
 Sebagai alternatif untuk membuka lahan pertanian  Membentuk kelompok usaha bersama
 Bahan baku industry kecil mudah diakses

IV - 4 |
MASALAH STRATEGI WO STRATEGI WT

 Peran perempuan dalam kehidupan social kurang diperhatikan  Sosialisasi program bantuan yang bisa diakses  Membentuk kelompok dan lembaga pengelola
 Modal usaha  Pemahaman kepada warga mengenai akses program usaha kecil dan menengah dengan pembagian
 Lokasi usaha jauh dari jangkauan dan pendampingan dalam kelengkapan persyaratan tugas masing-masing anggota
 Persyaratan pinjaman kadang dianggap sulit dan berbelit  Memaksimalkan peran perempuan dalam ekonomi  Memperluas pemasaran dengan meningkatkan
 Usaha bangkrut mikro kualitas produksi
 Kesadaran peminjam kurang, menyebabkan kemacetan  Mengakses program pinjaman untuk
 Kurang percaya diri dalam melakukan usaha pengembangan usaha
 Legalitas usaha dan produk olahan

obatan dan makanan penguat cenderung meningkat. Jumlah ternak yang dimiliki 2-
5 ekor ternak besar dan 5-100 ekor ternak kecil terutama ayam. Tujuan utama
4.2.2 Analisis Peternakan
pemeliharaan untuk menambah pendapatan keluarga dan konsumsi sendiri.
Usaha peternakan adalah suatu usaha produksi yang di dasarkan pada proses 3. Peternak komersil, usaha ini dijalankan oleh golongan ekonomi yang mempunyai
biologis dari pertumbuhan ternak. Dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia, maka kemampuan dalam segi modal, saran produksi dengan teknologi yang agak
manusia melakukan campur tangan langsung untuk mengendalikan dan menguasai modern. Semua tenaga kerja dibayar dan makanan ternak terutama dibeli dari luar
pertumbuhan hewan ternak. dalam jumlah yang besar.
Perkembangan usaha ternak unggas di Desa Cinunuk relatif lebih maju
Definisi peternakan dalam Undang-Undang No. 6 tahun 1967 disebutkan bahwa
dibandingkan usaha ternak yang lain. Hal ini tercermin dari kontribusinya yang cukup
peternakan adalah pengusahaan ternak. Menurut UU No 6 tahun 1967 usaha peternakan
luas terbukti dengan banyaknya masyarakat Desa Cinunuk yang beternak itik dan ayam
terdiri dari usaha peternakan rakyat dan perusahaan peternakan. Peternakan rakyat
potong khususnya dikawasan RW 07 dan RW 04.
menurut UU No. 6 tahun1967 adalah peternakan yang dilakukan oleh rakyat, antara lain
Berdasarkan pola pemeliharaan usaha ternak di Indonesia. mengklasifikasikannya
petani disamping usaha pertaniannya.
menjadi 3 kelompok yaitu:
Itik yang kita kenal saat ini adalah hasil penjinakan itik liar (Anas mallard). Dalam
1. Peternakan rakyat dengan cara pemeliharaan yang tradisional. Pemeliharaan cara
habitatnya itik liar lebih suka atau sering hidup berpasangan, tetapi setelah jinak sifatnya
ini dilakukan setiap hari oleh anggota keluarga peternak diminta keterampilan
berubah menjadi suka berganti pasangan. Sifat-sifat itik adalah bersifat aquatik. Selain itu
peternak masih sederhana dan menggunakan bibit lokal dalam jumlah dan mutu
dalam hal makanan, itik bersifat omnivorus (pemakan segala). Itik dapat menyebar ke
yang relatif terbatas. Tujuan utama pemeliharaan sebagai heawan kerja dalam
kawasan yang luas karena dibanding dengan unggas jenis lainnya, itik mempunyai
membajak sawah atau tegalan,
keunggulan sebagai berikut :
2. Peternakan rakyat dengan cara pemeliharaan yang semi komersil. Keterampilan
yang dimiliki peternak dapat dikatakan lumayan. Penggunaan bibit unggul, obat-  Mampu mempertahankan produksi telur lebih lama dibandingkan dengan ayam.

IV - 5 |
 Bila dipelihara dengan sistem pengelolaan yang sederhana sekalipun, itik masih Sistem pemeliharaan itik dikategorikan kedalam tiga macam yaitu secara
mampu berproduksi dengan baik. ekstensif/tradisional, semi intensif, dan intensif. Pada pemeliharaan ekstensif, tempat
 Tingkat kematian (mortalitas) itik umumnya kecil, dan itik dianggap lebih tahan pemeliharaan kelompok itik berpindah-pindah untuk mencari tempat penggembalaan
terhadap penyakit, yang banyak tersedia pakannya. Pemeliharaan
 Itik selalu bertelur dipagi hari. Dengan demikian kegiatan pengambilan telur hanya semi intensif adalah pemeliharaan dengan cara
dilakukan sekali sehari sehingga peternak dapat melakukan kegiatan lainnya. mengurung itik pada saat-saat tertentu,

 Dengan pakan berkualitas rendah itik masih dapat berproduksi. biasanya pada malam hari sampai pagi hari.
Setelah itu dilepas disekitar halaman kandang
atau digembalakan ditempat penggembalan
yang dekat.
Sistem Pemeliharaan Intensif.
Pemeliharaan intensif adalah pemeliharaan secara mendalam dan bersungguh-sungguh.
Peternak menggunakan prinsip mendapatkan keuntungan yang sebesar mungkin, dengan
biaya dan resiko yang sekecil mungkin. Memelihara itik secara intensif dengan
dikandangkan ialah beternak tanpa air (pemeliharaan itik sistem kering), seratus persen
dikurung dan tidak diberi air untuk berenang. Air disediakan hanya untuk air minum.
Sistem perkandangan yang digunakan para peternak dalam memelihara ternak itik Peternak di desa Cinunuk banyak yang menggunakan system pemeliharaan intensif,
umumnya adalah sistem litter (hamparan). Bahkan kandang yang digunakan juga tampak dengan memanfaatkan pekarangan belakang rumah sebagai tempat pemeliharaan itik.
seadanya tanpa mempertimbangkan lebih jauh tentang rasa aman, kebersihan kandang Keuntungan cara pemeliharaan intensif ini adalah lahan yang diperlukan relatif
agar terbebas dari penyakit. Pemberian alas berupa sisa-sisa penggergajian kayu yang kecil, dapat memelihara dalam jumlah yang banyak, penanganan dan pengawasan dapat
halus, sekam padi dan penambahan sedikit kapur merupakan hal yang sesuai untuk lebih mudah, tidak tergantung pada musim, produksi maksimal dapat mencapai 85 %,
kandang litter. Penggunaan kapur yang kotorannya dapat dimanfaatkan dan memungkinkan peternak memilih lokasi yang lebih
dicampurkan dalam bahan litter berfungsi untuk dekat dengan daerah pemasaran. Walaupun biaya pakan cukup tinggi tetapi karena
menyerap amoniak yang berasal dari kotoran itik jumlah pemeliharaan dan produksinya cukup tinggi pula maka peternak masih dapat
dan kapur tersebut juga dapat membunuh bibit menikmati keuntungan.
penyakit yang berasal dari kotoran yang Pemeliharaan Semi Intensif. Pemeliharaan semi intensif bisa juga disebut
bercampur dengan urine. pemeliharaan semi tradisional, tapi prinsip–prinsip modern juga sudah mulai dipakai.
Dalam pemeliharaan semi intensif, peternak sudah memakai perhitungan cermat untuk
mendapatkan hasil telur yang semaksimal mungkin. Prinsip peternakan moderen mulai
digunakan antara lain jenis itik yang dipelihara mulai diseleksi (warna bulu, bentuk badan
serta fisik lain). Makanan diberikan sesuai dengan kebutuhan dan variasi usia
perkelompok sudah dilakukan, tetapi prinsip tradisional seperti lokasi dan tempat (lanting,

IV - 6 |
dirawa atau didanau), bahan makanan dan cara pemeliharaan yang dilepas masih tetap akan naik. Berikut ini tabel yang menjelaskan tentang produktivitas itik sampai umur 48
dipertahankan pada pemeliharaan semi intensif, dengan sistem pemeliharaan semi minggu.
intensif ini produksi telur dapat mencapai 200 butir per ekor /tahun. Disamping itu angka Daging itik merupakan salah satu sumber daging yang sudah diterima oleh
kematian itik bisa ditekan dan kontinuitas produksi bisa terjamin serta kualitas telur bisa masyarakat. Salah satu bentuk bahwa daging itik dikenal adalah pemanfaatan sebagai
diperbaiki. bahan baku masakan, yaitu sate daging itik dan daging itik bakar/panggang. Dengan
Pemeliharaan ekstensif atau tradisional. Itik yang dipelihara umumnya tidak demikian, permintaan daging itik sebagai bahan untuk dikonsumsi masyarakat relative
banyak, rasio jantan dan betina tidak diperhitungkan, juga perkandangan. Itik bebas besar.
mencari makan sendiri. Makanan hanya diberikan kalau benar-benar keadaan Penyeleksian bibit sangat penting dalam menentukan ternak itik yang digunakan,
memungkinkan, misalnya ada limbah dapur atau sisa bahan lain. Peternak tidak pernah apakah jantan atau betina. Karena dengan menyeleksi bibit inilah, usaha peternakan kita
mau ikut campur dalam kegiatan itik, kecuali telur yang dihasilkan dan peternak diarahkan ke petelur atau pedaging. Selain itu, tipe pemeliharaannya juga mesti
memerlukan daging itik itu sendiri. Sistem pemeliharaan seperti ini tidak akan memberikan diperhatikan, apakah semi intensif, intensif maupun ekstensif. Penyeleksian bibit ini bisa
keuntungan yang berarti dan peternak tidak pernah merasa rugi. Untuk menjaga dikenal dengan istilah sexing (penentuan jenis kelamin).
kelestariannya peternak menetaskan beberapa telur itik pada induk ayam atau itik Manila Untuk mencapai keberhasilan dari suatu usaha budidaya peternakan itik, salah
(Entok). satunya ditentukan faktor penyeleksian bibit yang baik. Bibit itik biasanya bisa didapatkan
Umumnya peternak memelihara itik setelah musim panen padi, dengan dengan cara memelihara induk itik maupun dengan membeli bibit yang ada di pasar
memanfaatkan sisa-sisa hasil panen. Sistem ini akan diterapkan kembali seiring dengan hewan. Di tempat inilah, proses pembelian bibit dan penyeleksian bibit dapat dilakukan
musim tanam berikutnya. Walaupun masa pemeliharaan sangat pendek dan produksinya oleh para peternak, apakah mereka memilih bibit untuk petelur atau pedaging.
rendah, rata-rata 50% dari total produksi, tetapi keuntungan yang diperoleh peternak Seiring dengan makin berkurangnya lahan sawah, peternak itik semakin terbatas
cukup tinggi. Sistem ini sangat tergantung pada musim (panen), jumlah pemeliharaan dalam mencari lokasi penggembalaan. Peternak itik yang selama ini sangat tergantung
terbatas dan produksinya rendah. dari pakan sisa-sisa panen padi di sawah, terpaksa mengurangi jumlah itik yang
Tujuan pemeliharaan itik dewasa petelur harus sudah mulai ditetapkan dipelihara. Usaha peternakan itik yang semula bisa dijadikan usaha pokok, kini hanya
sebelumnya. Apakah sebagai penghasil telur konsumsi atau sebagai penghasil telur tetas menjadi usaha sampingan, atau sebagai usaha pokok namun dengan penghasilan yang
atau anak itik. Bila tujuan pemeliharaan itik petelur hanya untuk memperoleh telur semakin menurun.
konsumsi saja, tidaklah perlu untuk mencampurkan itik pejantan pada kelompok itik Berkurangnya lahan sawah, menyebabkan ketersediaan lahan penggembalaan itik
petelur. Namun, penerapan yang dilakukan oleh para peternak itik yang masih semakin terbatas, dan jumlah itik yang dipelihara peternak semakin berkurang. Bahkan
menggunakan sistem pemeliharaan ekstensif tradisional biasanya masih tercampur beberapa peternak itik, tidak bisa mempertahankan usahanya karena kesulitan mencari
dengan itik jantan yang berfungsi untuk pemimpin dalam penggembalaan. pakan. Beberapa permasalahan yang dihadapi peternak itik yang hanya mengandalkan
Masa dewasa itik betina pada umur enam bulan, dengan masa bertelur 8-10 bulan pakan dari sawah antara lain:
per tahun sampai mencapai umur 3,5 tahun, setelah itu diafkir. Itik petelur yang baik, 1. Berkurangnya lahan sawah mengakibatkan ketersediaan pakan makin berkurang
produksi telurnya bisa mencapai 275 butir per ekor/tahun. Produksi telur dipengaruhi oleh dan jumlah itik yang dipelihara semakin sedikit,
2 faktor penting, yaitu genetik dan lingkungan. Selain itu, umur dari itik juga menentukan 2. Penggembalaan itik yang jaraknya jauh dari rumah bisa menyebabkan itik
jumlah produksi telur. Pada saat mencapai dewasa kelamin dan selanjutnya, jumlah telur kelelahan, dan menjadi lumpuh,

IV - 7 |
3. Beberapa itik sering bertelur saat digembalakan (seharusnya pagi hari), sehingga  Terkesan kumuh
tercecer di lahan penggembalaan.

Permasalahan tersebut menyebabkan lokasi penggembalaan semakin jauh, waktu yang


diperlukan peternak untuk mencari lahan sawah semakin bertambah, jumlah itik yang
lumpuh akibat kelelahan semakin banyak, dan produksi telur akibat tercecer makin
banyak. Di sisi lain, permintaan akan produk peternakan itik, terutama itik potong,
semakin meningkat. Pemesanan itik potong oleh pedagang pengumpul sering tidak bisa
dipenuhi. Oleh karena itu diperlukan sumber pakan baru untuk menyelamatkan usaha
peternakan itik sebagai sumber pendapatan keluarga.

Kekurangan-kekurangan yang dihadapi peternak yang berusaha secara semi intensif bisa
diatasi melalui pemeliharaan itik secara intensif dengan peningkatan managemen
pemeliharaan, pemberian pakan, dan recording produksi yang baik. Pada pemeliharaan
itik secara intensif, terbatasnya lahan penggembalaan bisa diatasi melalui menyusunan
ransum itik sendiri. Manajemen pemeliharaan itik dibedakan antara itik muda dengan itik
dewasa petelur (layer). Itik muda dipelihara secara semi intensif dan itik dewasa petelur
dipelihara secara intensif. Pembedaan ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap
pakan dari sisa panen padi di lahan sawah dan meningkatkan produksi itik petelur akibat
berkurangnya stress perjalanan untuk mencapi pakan dan tercecernya telur di lahan
penggembalaan.
Dampak yang ditimbulkan dari ternak itik
Namun ada dampak lain dari ternak itik yang dilakukan oleh para peternak di desa
Cinunuk, yaitu kondisi kandang yang berdekatan dengan permukiman penduduk,
menyebabkan :

 Rentan penyakit yang disebabkan oleh limbah kandang

 Lingkungan menjadi kotor

 Bau

TABEL 4.5 : ANALISA SWOT PETERNAKAN

IV - 8 |
PELUANG TANTANGAN

EXTERNAL  Akses program dari dinas peternakan dan pertanian  Persaingan pasar
 Kemitraan dengan investor  Pemenuhan kebutuhan konsumen
INTERNAL
 Permintaan pasar

POTENSI STRATEGI SO STRATEGI ST

 Sebagai potensi untuk menambah penghasilan  Peningkatan produktifitas produksi  Pelatihan peningkatan kapasitas
 Tidak memerlukan waktu yang banyak  Pengembangan keragaman produk perternakan  Melakukan beberapa inovasi olahan produk
 Banyaknya pengangguran  Pembuatan pakan alternatif peternakan
 Sebagai mata pencaharian mayoritas penduduk  Melakukan kemitraan dengan Dinas ataupun dengan  Meningkatkan produksi ternak dengan
 Tidak diperlukan keahlian khusus dalam perternakan, cukup investor perluasan usaha
dengan ilmu yang turun temurun  Meningkatkan strategi pemasaran

MASALAH STRATEGI WO STRATEGI WT

 Keberadaan kandang ternak dianggap sebagai penyebab  Penyuluhan mengenai kesehatan  Pembangunan kandang komunal
kumuhnya lingkungan, karena lingkungan menjadi bau, kotor  Penyediaan lahan yang jauh dari permukiman  Pembangunan kantor pengelola dan tempat
dan tercemar  Melakukan kerjasama usaha dengan pemilik lahan, olahan hasil ternak
 Ketersediaan lahan untuk peternakan tidak ada untuk perluasan usaha  Pembuatan tempat penetasan
 Ketersediaan pakan murah  Pengelolaan limbah ternak, baik dengan bio gas  Penyediaan tempat pengolahan pakan
 Ketersediaan Bibit unggul ataupun pupuk kandang alternative
 Mahalnya biaya produksi  Pembentukan kelompok pengelolaan ternak
 Kurang sinergisnya program-program yang ada, hal ini  Penyediaan bibit unggul
menyebabkan kendala tersendiri  Penyediaan pakan murah

4.2.3 Analisis Pertanian negara-negara berkembang, bahkan untuk negara maju pun pertanian tetap mendapat
perhatian dan perlindungan yang sangat serius (seperti EU, Amerika, Australia, Jepang,
Pembangunan pertanian memiliki arti yang sangat strategis, tidak hanya untuk
dll). Membahas tentang pertanian berarti membahas tentang kelangsungan hidup

IV - 9 |
manusia di mana pertanian sebagai penyedia bahan pangan, bahan sandang dan bahkan
bahan papan. Selama manusia di dunia masih memerlukan bahan pangan untuk
menjamin kelangsungan hidupnya maka pertanian tetap akan memegang perang yang
sangat penting.
Peran strategis pertanian tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata
melalui pembentukan kapital ; penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan
bioenergi; penyerap tenaga kerja; sumber devisa negara; sumber pendapatan; serta
pelestarian lingkungan melalui praktek usahatani yang ramah lingkungan. Berbagai peran
strategis pertanian dimaksud sejalan dengan tujuan pembangunan perekonomian Pesawahan RW 06
nasional yaitu:
a) meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia;
b) mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan;
PERMASALAHAN PERTANIAN
c) menyediakan lapangan kerja;
d) memelihara keseimbangan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Sebagai salah satu prioritas kebijakan untuk mewujudkan misi Indonesia yang
sejahtera, dimana pertanian diharapkan mampu meningkatkan ketahanan pangan;
Hingga saat ini sebagian besar masyarakat masih menggantungkan hidupnya
kapasitas dan kapabilitas petani dan keluarganya; akses petani terhadap
dari sektor pertanian dengan tingkat produktivitas dan pendapatan usaha yang
sumberdaya dan informasi; serta peningkatan daya saing, mutu dan nilai tambah
relatif rendah, sehingga kemiskinan, pengangguran dan rawan pangan banyak terdapat
komoditas pertanian bagi kesejahteraan masyarakat. Pertanian ini akan menyumbang
di pedesaan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa upaya pengentasan kemiskinan,
pada percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan, serta penciptaan
pengangguran, dan rawan pangan harus dilakukan dengan membangun pertanian dan
lapangan kerja baru.
pedesaan.
Pemerintah juga menempatkan lima (5) komoditas pangan sebagai prioritas yang
Adalah merupakan tantangan ke depan untuk mencapai komitmen global pada
ditangani untuk swasembada pangan dan peningkatan kesejahteraan petani, yaitu: padi,
tahun 2015 sebagaimana yang dicanangkan dalam Millenium Development Goals
jagung, kedelai, gula tebu, dan daging sapi.
(MDG’s) melalui pembangunan pertanian dengan segala karakteristik dan sfesifikasi
Keterbatasan keuangan Pemerintah menyebabkan dukungan infrastruktur
masalahnya yang tersebar merata hampir di seluruh wilayah pedesaan.
pertanian belum optimal untuk meyakinkan petani dan pengusaha pertanian
meningkatkan investasinya di bidang pertanian. Namun demikian, Pemerintah telah
secara sungguh-sungguh mempercepat pertumbuhan pertanian ini.
Perilaku petani yang masih berusaha tani secara individual, langkanya dokumen
kepemilikan lahan, serta kesulitan di dalam mengakses dana perbankan masih
mendominasi lambannya upaya pencapaian sasaran revitalisasi pertanian. Demikian
pula halnya dengan perhatian Kepala Daerah terhadap pembangunan pertanian di

IV - 10 |
wilayahnya masing -masing sangat bervariasi. c. meningkatnya kesejahteraan petani yang meliputi meningkatnya produktivitas
Persoalan-persoalan tersebut di atas sangat mempengaruhi posisi tawar petani tenaga kerja di sektor pertanian dan menurunnya insiden kemiskinan.
terhadap pelaku pasar lainnya, sehingga harga yang diterima petani belum sesuai
Ketiga sasaran tersebut merupakan bagian integral dari target sasaran pembangunan
dengan korbanan yang mereka keluarkan. Fenomena dimana pada saat panen raya
nasional.
harga jual komoditas pertanian sangat rendah dan sebaliknya meningkat pada saat petani
sudah tidak memiliki produk, di beberapa lokasi masih menjadi masalah.
Keseluruhan sistem pertanian yang digambarkan tersebut, juga menyebabkan
lambannya perkembangan mekanisasi pertanian baik pra maupun pasca panen, dengan
intensitas berbeda antara wilayah satu dengan lainnya. Beberapa tahun terakhir ini juga
dunia pertanian harus berhadapan dengan berbagai bencana alam, seperti banjir,
kekeringan, longsor, merebaknya serangan Organisme Pengganggu Tanaman dan
Penyakit Hewan, dan lain-lain.
Pertanian Palawija
Selain itu, persoalan mendasar yang dihadapi sektor pertanian pada saat ini dan
Salah satu visi yang menjadi landasan dalam penyusunan strategi dan kebijakan
di masa yang akan datang adalah meningkatnya kerusakan lingkungan dan
pembangunan pertanian adalah: ”terwujudnya perekonomian yang mampu
perubahan iklim global; terbatasnya ketersediaan infrastruktur, sarana prasarana,
menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan
lahan dan air; sedikitnya status dan kecilnya luas kepemilikan lahan; lemahnya
pondasi yang kokoh bagi pembangunan berkelanjutan”.
sistem perbenihan dan perbibitan nasional; keterbatasan akses petani terhadap
Salah satu target utama dari pembangunan pertanian adalah upaya peningkatan
permodalan dan masih tingginya suku bunga usahatani; lemahnya kapasitas dan
kesejahteraan petani, yang berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan petani adalah
kelembagaan petani dan penyuluh; masih rawannya ketahanan pangan dan
tingkat pendapatan petani. Walaupun demikian tidak selalu upaya peningkatan
ketahanan energi; belum berjalannya diversifikasi pangan dengan baik; rendahnya
pendapatan petani secara otomatis diikuti dengan peningkatan kesejahteraan petani,
Nilai Tukar Petani (NTP), dan belum padunya antar sektor dalam menunjang
karena kesejahteraan petani juga tergantung pada nilai pengeluaran yang harus
pembangunan pertanian.
dibelanjakan keluarga petani serta faktor-faktor non-finansial seperti faktor sosial budaya.
Ada tiga kelompok sasaran utama pembangunan pertanian yang perlu dicapai
Walaupun demikian, sisi pendapatan petani merupakan sisi yang terkait secara langsung
yaitu:
dengan tugas pokok dan fungsi Kementerian Pertanian.
a. meningkatnya ketahanan pangan nasional yang meliputi meningkatnya kapasitas
Nilai pendapatan petani dapat bersumber dari usaha pertanian dan usaha
produksi komoditas pertanian dan berkurangnya ketergantungan terhadap pangan
nonpertanian. Nilai pendapatan yang bersumber dari usaha pertanian akan diperoleh dari
impor sekitar 5-10 persen dari produksi domestik;
selisih nilai penjualan komoditas usahatani yang dihasilkan dengan biaya usahatani yang
b. meningkatnya nilai tambah dan dayasaing komoditas pertanian yang meliputi dikeluarkan. Nilai penjualan hasil usahatani akan ditentukan oleh volume produksi yang
meningkatnya mutu produk primer pertanian, meningkatnya keragaman dihasilkan serta harga jual. Makin besar volume produksi yang dihasilkan makin besar
pengolahan produk pertanian dan meningkatnya ekspor serta meningkatkanya pula volume fisik yang dapat dijual.
surplus perdagangan komoditas pertanian; dan Sementara itu, walaupun komoditas pertanian berhasil ditingkatkan produksinya,

IV - 11 |
hal tersebut hanya akan secara nyata meningkatkan nilai penjualan manakala harga jual Program Peningkatan Kesejahteraan Petani dijabarkan lebih lanjut ke dalam beberapa
paling tidak konstan atau lebih baik lagi kalau juga meningkat. Oleh karena itu hal sub program,yaitu:
fundamental yang perlu diupayakan dalam rangka peningkatan nilai jual ini adalah a. Pemberdayaan Petani.
mempertahankan agar harga jual tidak mengalami penurunan. b. Pengembangan SDM Aparatur.
Selain berbagai upaya yang berhubungan secara langsung dengan nilai input dan output c. Pengembangan Kelembagaan.
pertanian, pendapatan petani juga masih memungkinkan untuk ditingkatkan melalui: d. Peningkatan Akses Petani terhadap Sumberdaya Produktif.
a. Pengembangan infrastruktur oleh Pemerintah yang dilakukan secara padat karya e. Perlindungan Petani dan Pertanian.
dengan melibatkan petani yang menjadi sasaran kegiatan; f. Pengembangan diversifikasi usaha rumah tangga berbasis pertanian.
b. Mengembangkan berbagai aktivitas off-farm yang mampu membangkitkan g. Pengkajian dan Percepatan Diseminasi Inovasi Pertanian.
penghasilan bagi petani dengan basis kegiatan yang terkait usahatani, seperti h. Upaya Khusus Penanggulangan Kemiskinan.
wisata agro, industri rumah tangga berbahan baku hasil pertanian dan industri rumah i. Pengembangan Manajemen Peningkatan Kesejahteraan Petani.
tangga yang dapat menghasilkan peralatan pertanian sederhana;
Secara umum ditetapkan sasaran antara dan sasaran akhir dari program ini dalam
c. Mengupayakan insentif bagi tumbuhnya industri hulu dan hilir pertanian;
jangka menengah. Sasaran antara berkaitan dengan output di masing-masing periode
d. Mengupayakan adanya payung hukum bagi bertumbuhnya Lembaga Pembiayaan
dengan indikator utama adalah peningkatan produktifitas tenaga kerja sektor pertanian
Pertanian yang tersedia di perdesaan.
yang kemudian diharapkan berdampak pada pengentasan kemiskinan pedesaan.
Sasaran antara ini dalam jangka menengah diharapkan pula akan berdampak pada
Program Peningkatan Kesejahteraan Petani bertujuan untuk memfasilitasi peningkatan
outcomes yang peningkatan kesejahteraan petani dengan indikator utamanya adalah Nilai
pendapatan petani melalui pemberdayaan, peningkatan akses terhadap sumberdaya
Tukar Petani (NTP)
usaha pertanian, pengembangan kelembagaan, dan perlindungan terhadap petani.
Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah:
a. meningkatnya kapasitas dan posisi tawar petani;
b. semakin kokohnya kelembagaan petani;
c. meningkatnya akses petani terhadap sumberdaya produktif; dan
d. meningkatnya pendapatan petani.

IV - 12 |
TABEL 4.6 : ANALISA SWOT PERTANIAN

PELUANG TANTANGAN

EXTERNAL  Meningkatkan ketahanan pangan  Penerapan teknologi modern


 Meningkatkan nilai tambah petani  Tidak konsistennya harga jual hasil pertanian
INTERNAL
 Meningkatkan kesejahteraan petani  Peningkatanproduk hasil pertanian guna
memenuhi kebutuhan pasar
 Peningkatan kualitas hasil pertanian
 Persaingan pasar

IV - 13 |
POTENSI STRATEGI SO STRATEGI ST

 Banyaknya lahan garapan  Peningkatan produktifitas produksi  Pelatihan peningkatan kapasitas


 Sebagai mata pencaharian mayoritas penduduk  Pengembangan keragaman produk pertanian  Mengakses peralatan modern untuk
 Tidak diperlukan keahlian khusus dalam pertanian, cukup  Extensifikasi pertanian peningkatan mutu dan kapasitas produk olahan
dengan bekal yang turun temurun  Membentuk koperasi kecil usaha mikro

MASALAH STRATEGI WO STRATEGI WT

 Akses permodalan  Peningkatan mutu pertanian  Penciptaan agro wisata


 Produksi berkurang seiring dengan menurunnya kesuburan  Perbaikan sarana pengairan pertanian  Pengembangan managemen pertanian
tanah akibat dari penggunaan pupuk kimia  Legalitas penguasaan lahan, baik dengan perjanjin  Pembangunan sarana pendukung guna
 Terbatasnya luas lahan garapan, karena kebanyakan petani sewa jangka panjang ataupun bagi hasil peningkatan kualitas pertanian (laboratorium,
hanya sebagai penggarap  Penyuluhan kepada petani lumbung, gudang hasil pertanian yang
 Pengairan kurang menyentuh semua lahan garapan  Penerapan pertanian yang ramah lingkungan dilengkapi oleh pengawetan)
 Lemahnya kapasitas petani dalam ilmu pertanian modern  Penyediaan benih dan pupuk dengan harga murah  Adanya sinergisitas atar sector dalam
 Kurangnya keterpaduan anatar sektor pembangunan pembangunan desa
 Ketersediaan pupuk murah dan benih unggul  Akses program dan sosialisasi program
 Pertanian organic
 Strategi tata niaga pertanian dalam upaya
peningkatan nilai tambah petani

IV - 14 |
4.2.4. Kajian Perikanan

Usaha budidaya perikanan air tawar tetap dinilai prospektif di tengah krisis keuangan global
saat ini, sector ini bahkan berpeluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan
menyerap tenaga kerja baru. Usaha budidaya ikan menyumbangkan pendapatan masyarakat
dalam jumlah besar. Usaha ini sangat prospektif dikembangkan di desa Cinunuk karena potensi
lahan, air, sumber daya manusia dan jenis ikan yang pernah menjadi salah satu produk
unggulan di tahun 80-an.

Beberapa jenis ikan yang pernahmenjadi produk pembibitan di desa Cinunuk adalah :

1. Ikan Nilem
2. Ikan mas
3. Ikan gerame
4. Ikan nila

Kendala utama budi daya ikan air tawar adalah diperlukan waktu dan biaya yang cukup  tinggi.
Komponen biaya meliputi: persiapan kolam, pemilihan induk, pemijahan, penetasan,  dan

IV - 15 |
pendederan. Biaya lain yang dianggap cukup tinggi adalah untuk pakan dan  pemeliharaan
terhadap hama dan penyakit ikan.

Kondisi Perikanan Desa CInunuk

TABEL 4.7 : ANALISA SWOT PERIKANAN

PELUANG TANTANGAN

EXTERNAL  Usaha perikanan dapat dijadikan sebagai peluang  Persaingan harga jual dipasaran
ekonomis  Akses program
INTERNAL
 Keberadaan program dari dinas perikanan, salah satu  Kulitas hasil produksi
contohnya, desa Cinunuk bisa dijadikan sebagai lokasi  Penerapan ilmu pengetahuan modern
pengembangan perikanan (Minapolitan)  Pemasaran masih dijual ke wilayah terdekat
 Kemitraan dengan pihak swasta

POTENSI STRATEGI SO STRATEGI ST

 Ketersediaan kolam ikan  Pengembangan berbagai jenis ikan air tawar  Peningkatan produksi perikanan
 Banyak warga yang berpengalaman  Sebagai sentra perikanan di kabupaten garut  Mengakses program yang ada di dinas
 Cocok untuk pengembangan berbagai jenis ikan air tawar perikanan
 Kerjasama dengan pengusaha ikan di luar

IV - 16 |
 Usaha pemijahan bibit ikan air tawar daerah
 Menjadikan cinunuk sebagai penghasil bibit
ikan yang mampu memenuhi kebutuhan
konsumen

MASALAH STRATEGI WO STRATEGI WT

 Motivasi warga untuk kembali beternak ikan  Memotivasi warga dalam pengelolaan perikanan  Inovasi pembuatan pakan alternatif
 Ketersediaan pakan sebagai nilai tambah penghasilan warga  Pembangunan sarana pengairan
 Ternak ikan belum dijadikan sebagai usaha yang  Pemeliharaan sarana infrastruktur yang ada  Perbaikan kolam yang ada
menguntungkan, hanya sekedar hobi dan kebiasaan  Pembentukan kelompok peternak ikan
 Infrastruktur kolam masih sederhana dan sering terjadi  Pembuatan sumur bor
kebocoran pada kolam dengan dinding tanah  Peningkatan strategi pemasaran
 Infrasturtur pengairan belum maksimal  Pembangunan kolam pembibitan
 Pembangunan saung pertemuan kelompok
 Pembangunan tempat penetasan (hatchery)

IV - 17 |
4.3 ANALISIS FISIK
4.3.1. Daya Dukung & Daya Tampung
Penggalian permasalahan yang ada di Desa Cinunuk dalam analisa ini berupa sumber daya
alam, sumber daya manusia dan prasarana lingkungan pendukung, bertujuan untuk mengkaji
dan menganalisa hasil dari Pemetaan Swadaya yang berupa data-data potensi dan
permasalahan yang ada di Desa Cinunuk. Adapun Metode yang akan digunakan adalah
analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treatment ) dan 5 W + 1 H (What ?,
When ?, Where ?, Why ?, Which ?, How ?).
Matrix 4.1
Daya Dukung Pengembangan Desa Cinunuk
SUMB ANALISA
NO ER POTENSI
PERMASALAHAN SOLUSI
DAYA
1. SDA  Lahan  Kekeringan dan hama  Pembuatan sumur
pertanian  Gagal Panen akibat Artetis
kekeringan  Penyediaan pompa
 Teknologi pengolahan Air
tanah dan tanaman  Pemberantasan
rendah Hama
 Sebagian lahan yang  Pola Tanam Yang
2. SDM semakin berkurang akibat disesuikan produk sehingga tidak
 Lapisan jual beli di bawah tangan  Pelatihan teknologi  Hasil tercipta atau munculnya  Penyuluhan dan
Masyarakat  Kurangnya tingkat pertanian Peternakan. produk khas daerah. pelatihan manajemen
kesadaran warga tentang perdagangan dan
kepentingan umum di atas  Penyuluhan tentang  Toko dan  Kurangnya Modal dalam pemasaran.
kepentingan golongan. hidup sehat Warung Menggarap lahan  Penyuluhan dan
 Petani  Mahalnya biaya  Penyuluhan dan warung. pertanian. pelatihan tentang
pendidikan bagi sebagian pelatihan tentang  Kesulitan dalam inovasi usaha.
warga. teknik olah tanah, penyediaan bibit unggul,
 Keterampilan petani tanam dan  Bengkel. Pupuk dan Obat obatan.
yang rendah pemeliharaan  Kurangnya modal dalam
 Peternakan  Sebagian petani hanya  Penyuluhan dari dinas  Industri pengolahan ternak.  Penambahan modal
berstatus buruh garapan terkait masalah Rumah  Kurangnya modal usaha. dengan bantuan kredit
akibat tanah pertanian pertanahan dan 3. SDE Tangga  Daya beli masyarakat dari pihak-pihak
berpindah tangan peraturan penggunaan menurun. terkait.
 Hasil pertanian yang lahan.  Banyaknya persaingan.  Adanya bantuan
tidak stabil ternak dengan bibit
 Keterampilan  Penyuluhan dan  Skill keterampilan yang unggul.
 Perdagang Pengolahan limbah yang pelatihan tentang kurang.  Penyuluhan dan
an kurang pengolahan limbah  Banyaknya persaingan. pelatihan dari dinas
 Timbulnya penyakit kotoran ternak  Skill yang kurang di terkait.
 Kondisi Kandang ternak  Kebersihan kandang masing-masing industri
yang berdekatan dengan dijaga dan tetap Rumah Tangga  Penambahan modal
pemukiman. bersih.  Sulitnya pemasaran usaha.
 Tidak adanya lahan  Penyuluhan dari  Banyaknya persaingan  Dicarikannya tempat
kusus untuk relokasi dinas kesehatan  Belum terorganisir. tempat yang strategis
kandang ternak. tentang hidup sehat. untuk pemasaran.
 Hasil  Kurangnya pengetahuan  Musyawarah warga  Adanya badan usaha
Pertanian pengelolaan modal. tentang posisi dan yang memonitor harga
 Kurangnya pengetahuan kondisi pasar.
tentang pemasaran.  Adanya penyuluhan
 Kurangnya Inovasi dan keterampilan
kerja.  Kerusakan jalan drainase secara berkala
 Adanya penyuluhan disebabkan oleh genangan oleh seluruh masyarakat.
dan keterampilan air, tonase berlebih  Perlu penyuluhan seluruh
kerja. dikarnakan kelas jalan masyarakat akan
 Membentuk yang rendah. pentingnya fungsi jalan.
kelompok-kelompok  Struktur tanah yang  Perbaikan jaringan jalan
industri Rumah cenderung labil dan sesuai dengan kwalitas
Tangga secara 3. JEMBATAN perkerasan dasar yang dan fungsi jalan.
spesifik. kurang maksimal.  Perlunya design khusus
Sumber : Hasil Analisa , 2016  Jembatan rusak yang untuk sarana infrastruktur.
dikarnakan kurangya
pemeliharaan.
 Kesadaran Masyarakat
4. IRIGASI masih kurang akan
Matrix 4.2 pentingnya sarana  Perbaikan dan
Kajian Daya Dukung Prasarana di Desa Cinunuk jembatan peningkatan sarana
Jembatan.

N ANALISA  Perlu penyuluhan untuk


PRASARANA 5. JARINGAN LISTRIK  Rusak karena belum meningkatkan Kesadaran
O KONDISI EXISTING SOLUSI
permanen. masyarakat akan
1. DRAINASE  Kesadaran masyarakat  Perlu penyuluhan untuk
pentingnya sarana
kurang akan pentingnya meningkatkan Kesadaran
Jembatan.
sistem drainase. masyarakat kurang akan
 Rusaknya sistem pentingnya sistem
 Pembuatan talud irigasi
drainase karna kurangnya drainase.
 Kondisi Instalasi yang secara permanent
perawatan.  Perbaikan drainase yang
relatif kurang sehingga dapat
 Drainase belum belum permanen menjadi
baik/semerawut. dipergunakan untuk jangka
sepenuhnya permanent. permanen.
 Kondisi tiang listrik yang waktu yang cukup lama.
 Kurangnya sistem  Pembuatan sistem
cukup jauh dibeberapa titik
2. JALAN drainase di jalan Desa drainase yang dilengkapi
lokasi.  Perlu adanya
Cinunuk dan permukiman. dengan sistem resapan.
 Masih adanya pembenahan instalasi
 Pemeliharaan sistem
JARINGAN pencabangan instalasi dari
6. TELEPON 1 meteran dijadikan listrik. mengenai pelayanan PAM.
beberapa cabang instalasi.  Penambahan beberapa  Perlu adanya sosialisasi
 Penerangan jalan yang unit Trafo/Stabiliser kepada masyarakat oleh
minim yang berakibat  Perlu adanya peninjauan dinas terkait, mengenai
gelapnya sarana jalan ulang tentang biaya biaya penggunaan air tanah.
pada waktu malam hari. yang harus ditinjau kembali 8. SAMPAH  Sampah dibuang ke  Pembuatan tempat
 Kondisi Instalasi yang oleh Dinas Terkait. bantaran sungai dan pembuangan sampah
relatif kurang  Perlu adanya peningkatan drainase jalan. sementara.
baik/semerawut. pelayanan dari dinas  Sampah ditumpuk  Pengadaan alat alat
terkait. dihalaman rumah dan pengangkut sampah
7. JARINGAN PAM  Kondisi tiang telepon  Perlu adanya dibakar. seperti gerobak sampah.
yang cukup jauh penambahan Penerangan  Pembuatan tempat
dibeberapa titik lokasi. jalan umum (PJU). pengelolaan sampah dan
 Kondisi Instalasi jaringan daur ulang di masing
belum mencakup masing RW.
keseluruh wilyah Cinunuk.  Perlu adanya  Diadakannya penyuluhan
 Pada jam tertentu pembenahan instalasi dari dinas terkait untuk
distribusi air PAM sangat Telepon. masalah sampah dan daur
sedikit.  Penambahan tiang ulangnya.
 Apabila pagi hari telepon dengan standar  Pembuatan lubang Bio
distribusi didahului angin jarak yang telah ditentukan pori dimasing masing
palsu yang memutar meter oleh pihak terkait. rumah,yang berfungsi
PAM, sehingga konsumen  Perlu adanya peningkatan 9. sebagai composting dan
merasa dirugikan. pelayanan dari dinas SANITASI  Penggunakan jamban membantu peresapan air
terkait. dengan cubluk tanpa tanah.
 Warga masih cenderung  Perlu adanya instalasi disertai septiktank  Penyuluhan untuk
menggunakan air tanah jaringan tambahan.  Kotoran hewan/manusia meningkatkan kesadaran
untuk keperluaan sehari- masih dibuang ditempat masyarakat tentang hidup
hari.  Perlu adanya terbuka, khususnya sehat
pembenahan instalasi. bantaran sungai.  Pembuatan MCK disertai
 Perlu adanya survey IPAL di kawasan tertentu.
 Pembuatan septictank
Komunal pada daerah
yang padat permukiman.
 Pembuatan tempat
 Kurangnya air bersih di pengelolaan limbah
10. AIR BERSIH musim kemarau ternak.
 Kondisi kwalitas air yang  Mencari sumber mata air
berkurang yang atau sumber air yang
diakibatkan semakin kemudian dibuatkan
banyaknya pencemaran instalasi agar bias
tanah yang berakibat pada disalurkan kedaerah yang
air tanah. kurang air.
 Sumber air yang cukup  Pambuatan Instalasi Air
kuantitasnya semakin Bersih Non PDAM yang
sedikit, karena konservasi disalurkan melalui Hidran
air tidak berjalan dengan umum atau memasok air
baik. bersih kedaerah yang
 Kebutuhan air bersih kekurangan air dengan 4.4 ANALISIS KONDISI BANGUNAN PERMUKIMAN
semakin meningkat, yang menggunakan truk tangki
Kondisi bangunan merupakan salah satu
dikarnakan semakin kemudian dibagikan
aspek penting dalam menentukan apakah suatu
meningkatnya jumlah kepada masyarakat
kawasan termasuk dalam kategori permukiman
penduduk. secara gratis atau
kumuh atau tidak. Kondisi bangunan dilihat dari
dijual /M3 atau jerigen
sifat bangunan seperti
dengan harga terjangkau.
permanen/semi-permanen/tidaklayakhuni.
 Pembuatan tempat
Mayoritas wilayah permukiman kumuh mempunyai
penampungan air bersih
kondisi bangunan yang tidak [Link]
yang diperuntukan untuk
bangunan yang ada di Desa Cinunuk mempunyai sifat hunian yang [Link]
masyarakat banyak.
wilayah bersifat permanen, sedangkan yang lain masih bersifat semi-permanen dan bahkan
Sumber : Hasil Analisa TIPP dan Fasilitator
tidak layakhuni. Rumah tidak layakhuni berbahankan bamboo dan bilik yang keberadaannya
meresahkan, dan rumah di kampong tegalgede rata-rata menyatu dengan kandang domba
atau ayam sehingga menimbulkan baud an pemandangan yang tidak enak.
Sementara itu rumah semi-permanen berdinding tembok namun beratapkan genting (Sumber :Kepmenneg PU No.10/KPTS/2000)
bekas yang [Link], rumah-rumah permanen pun belum mempunyai sertifikat Jika dilihat berdasarkan aturan di atas, maka idealnya jarak antar bangunan di kawasan
tanah dan bangunan, sebagian hanya memiliki akte jual beli saja. Warga hanya berpegang prioritas minimal 3 meter dari pinggir badan jalan.
pada surat hijau. Hal ini dikarenakan rumah warga setempat dihuni oleh rumah tangga miskin Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka prosentase berdasarkan perbandingan
dan tidak mampu membuat sertifikat tanah luas lantai dasar bangunan terhadap luas tanah perpetakan. Koefisien dasar bangunan
diperlukan untuk membatasi luas lahan yang tertutup perkerasan, sebagai upaya untuk
Tata bangunan di wilayah perencanaan dapat dibedakan kedalam tiga golongan berdasarkan
melestarikan ekosistem, sehingga dalam lingkungan yang bersangkutan sisa tanah
karakterfisiknya, yaitu:
sebagai ruang terbuka masih menyerap atau mengalirkan air hujan ke dalam tanah.
 Permukiman berkarakter pedesaan KDB di kawasan prioritas rata-rata sekitar 80-100%. Sungguh kondisi yang sangat tidak

 Permukiman berkarakter perkotaan ideal. Ketentuan untuk kawasan perumahan adalah maksimal memiliki KDB sebesar 70%.
Hal tersebutlah yang menyebabkan kawasan prioritas menjadi kawasan dengan
 Kompleks bangunan umum
kepadatan tertinggi.
Untuk kawasan prioritas kampung tegalgede termasuk pada permukiman berkarakter Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka prosentase berdasarkan perbandingan luas
Perdesaan hal ini dapat dilihat dari bentuknya yang relative tidak teratur akibat perkembangan lantai dasar bangunan terhadap luas tanah perpetakan. Koefisien dasar bangunan diperlukan
yang terjadi tanpa perencanaan. untuk membatasi luas lahan yang tertutup perkerasan, sebagai upaya untuk melestarikan
Bangunan-bangunan di permukiman ini relative rapat dengan dibatasi oleh gang-gang, ekosistem, sehingga dalam lingkungan yang bersangkutan sisa tanah sebagai ruang terbuka
yang menjadi jalur akses pejalan kaki di dalam permukiman [Link] rata-rata masih menyerap atau mengalirkan air hujan ke dalam tanah.
beruparumah semi permanen, dengan ketinggian 1 lantai. Kondisi bangunan permukiman di desa cinunuk Pada dasarnya relatif Padat dengan tingkat
ketidak teraturan rata-rata sebesar 65%, sehingga mengakibatkan banyak permukiman yang tidak
kawasan kampong tegalgede juga minim GSB (Garis Sempadan Bangunan). Jarak teratur untuk di beberpa kawasan , untuk lebih Jelas nya lihat Pada Tabel :
rumah dari jalan rata-rata hanya sekitar 0 – 1 meter. Kondisi tersebut sangat menyulitkan Diagram 4.1 Kondisi bangunan di Desa Cinunuk
jika sewaktu-waktu dibutuhkan pelebaran jalan utama. GSB idealnya dihitung dari lebar as
jalan dibagi 2.
Penentuan jarak antar bangunan (garis sempadan bangunan) antara lain :
1. Tinggi bangunan kurang dari 8 meter, maka jarak minimum antar bangunan
berjarak 3 meter.
2. Tinggi bangunan antara 8-14 meter, maka jarak minimum antar bangunan
berjarak 3 s/d 6 meter.
3. Tinggi bangunan antara 14-40 meter, maka jarak minimum antar bangunan
berjarak 6 s/d 8 meter.
4. Tinggi bangunan lebih dari 40 meter, maka jarak minimum antar bangunan
berjarak 8 meter.
Tabel 4.8 Proyeksi Pertumbuhan Bangunan Desa Cinunuk

Luas Bangunan
RW
(Ha) 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 3,2 198 283 287 290 294 298
2 2,8 158 216 219 221 256 259
3 3,4 188 351 355 360 343 347
4 3,5 169 174 177 179 166 168
5 2,5 140 137 138 140 182 184
6 3,3 126 221 224 227 223 226
7 4 196 237 240 243 197 200
8 3,5 176 190 192 195 180 183
9 2,5 108 119 121 122 159 161

4.5. ANALISI SARANA,PRASARA DAN UTILITAS

4.5.1. Air Bersih dan masyarakat Desa Cinunuk masih belum mempunyai sarana dan prasarana jamban
umum yang layak, sehingga beberapa masalah yang ada di Desa Cinunuk khususnya air
Kebutuhan Air bersih di Desa Cinunuk
bersih yaitu :
sampai saat ini masih membutuhkan dan
 Cakupan pelayanan air bersih perpipaan masih kurang.
kekurangan air bersih karena saat ini masyarakat
 Ketersediaan sumber air baku sangat terbatas
Desa Cinunuk menggunakan air bersih dari subur
 Belum memiliki sistem pengolahan air bersih dalam skala Desa
bor dengan fasilitas seadanya dengan
menggunakan system cacing dan belum terataur
 Masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan air
minum.
Tabel 4.9 Kebutuhan Air Bersih
Kebutuhan Air Minum (ltr/jiwa/hr)
RW
2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 81.573 159.067 161.087 163.133 165.205 167.303
2 62.160 121.211 122.750 124.309 125.888 127.487
3 100.986 196.924 199.424 201.957 204.522 207.119
4 50.220 97.929 99.172 100.432 101.707 102.999
5 39.374 76.779 77.754 78.741 79.741 80.754
6 63.709 124.232 125.810 127.408 129.026 130.665
7 68.357 133.297 134.990 136.704 138.440 140.198
8 54.686 106.637 107.992 109.363 110.752 112.159
9 34.361 67.004 67.855 68.716 69.589 70.473
TOTAL 555.425 1.083.080 1.096.835 1.110.765 1.124.871 1.139.157

Diagram 4.2 Kebtuhan Air Bersih Desa Cinunuk


4.5.2. ANALISIS SANITASI LINGKUNGAN

Kesehatan lingkungan merupakan ilmu kesehatan masyarakat yang


menitik beratkan usaha preventif dengan usaha perbaikan semua faktor lingkungan agar manusia
terhindar dari penyakit dan gangguan kesehatan. Kesehatan lingkungan adalah karakteristik dari
kondisi lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan. Untuk itu kesehatan lingkungan
merupakan salah satu dari enam usaha dasar kesehatan masyarakat.

Istilah kesehatan lingkungan seringkali dikaitkan dengan istilah sanitasi/sanitasi lingkungan yang
oleh Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO), menyebutkan pengertian sanitasi lingkungan/kesehatan Kondisi Saluran Limbah

lingkungan adalah suatu usaha untuk mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik yang
berpengaruh kepada manusia, terutama terhadap hal-hal yang mempunyai efek merusak
perkembangan fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia.

Ruang lingkup dari kesehatan lingkungan meliputi :


Sanitasi, menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai pemelihara kesehatan. Menurut WHO,
1. Penyediaan air minum.
sanitasi adalah upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia, yang mungkin
2. Pengolahan air buangan dan pengendalian pencemaran air.
menimbulkan atau dapat menimbulkan hal- hal yang merugikan, bagi perkembangan fisik,
3. Pengelolaan sampah padat.
kesehatan, dan daya tahan hidup manusia.
4. Pengendalian vektor penyakit.
5. Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah.
Sanitasi adalah bagian dari ilmu kesehatan lingkungan yang meliputi cara dan usaha individu atau
masyarakat untuk mengontrol dan mengendalikan lingkungan hidup eksternal yang berbahaya bagi 6. Hygiene makanan.
kesehatan serta yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia. 7. Pengendalian pencemaran udara.
8. Pengendalian radiasi.
9. Kesehatan kerja, terutama pengendalian dari bahaya-bahaya fisik, kimia dan biologis.
10. Pengendalian kebisingan.
11. Perumahan dan pemukiman, terutama aspek kesehatan masyarakat dari perumahan
penduduk, bangunan-bangunan umum dan institusi.
12. Perencanaan daerah dan perkotaan.
13. Aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara, laut dan darat.

IV - 18 |
14. Pencegahan kecelakaan. limbah.
15. Rekreasi umum dan pariwisata. Beberapa sarana dan prasarana lingkungan yang telah ada tidak dapat berjalan sesuai dengan

16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi, bencana alam, yang diharapkan atau pemeliharaan yang kurang sehingga pelayanan sarana dan prasarana tersebut
menjadi tidak optimal, sistem pelayanan air berih dari PDAM tidak optimal, sistem pengelolaan air
perpindahan penduduk dan keadaan darurat.
limbah masih belum optimal dengan bercampurnya di saluran air hujan, sistem jaringan drainase
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin agar lingkungan pada
banyak yang kondisinya rusak dan masih banyak yang terbuat dari tanah bahkan tidak ada sama
umumnya bebas dari resiko gangguan kesehatan.
sekali sehingga banyak menimbulkan genangan air pada waktu musim hujan. Pengelolaan sistem
jaringan persampahan belum dikelola secara baik masih banyak sampah yang dibuang ditempat
Dari ruang lingkup sanitasi lingkungan di atas tempat-tempat umum merupakan bagian dari
kosong, kemudian ditimbun dan dibakar dan ada juga yang mempergunakan sungai sebagai media
sanitasi yang perlu mendapat perhatian dalam pengawasannya. tempat pembuangan sampah.
Pengembangan prasarana lingkungan khususnya sampah terpadu memerlukan lahan yang
memenuhi kriteria sebagai tempat buangan dan pengelolaanya, sehingga limbahnya dapat
diminimalisir tidak menimbulkan penyakit yang disebabkan lingkungan seperti ISPA, diare dan

Sanitasi Dasar penyakit kulit lainnya.


Sistem drainase perkotaan belum mampu melayani seluruh wilayah di Desa Cinunuk, adanya
Sanitasi dasar adalah sanitasi minimum yang diperlukan untuk menyediakan lingkungan sedimentasi pada beberapa lokasi sistem drainase primer, dan kurangnya perawatan dan pemeliharaan
sehat yang memenuhi syarat kesehatan yang menitik beratkan pada pengawasan berbagai faktor pada sarana dan prasarana pengendali banjir.
lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Upaya sanitasi dasar meliputi
penyediaan air bersih, pembuangan kotoran manusia, pengelolaan sampah, dan pengelolaaan air

IV - 19 |
Tabel 4.10 Proyeksi Buangan Air Limbah Desa Cinunuk Tabel 4.11 Kondisi Sanitasi Desa Cinunuk

RW Thn. 2016 Thn. 2017 Thn. 2018 Thn. 2019 Thn. 2020 AIR LIMBAH/SANITASI

1 24.472 24.783 25.097 25.416 25.739 Sal. Pembuangan Air Sal. Pembuangan Air
Jumlah Kepala Ketersediaan Akses Air KeTIDAKtersediaan Akses SPAL/Sanitasi TIDAK Sesuai Limbah R. Tangga Limbah R. Tangga
2 18.648 18.885 19.125 19.367 19.613 NO RT/RW/ DUSUN
Rumah Tangga Limbah Air Limbah
Persyaratan Teknis Air Limbah
Persyaratan Teknis terpisah dengan TIDAK terpisah dengan
3 30.296 30.681 31.070 31.465 31.865 Drainase Lingkungan  Drainase Lingkungan 

4 15.066 15.257 15.451 15.647 15.846 (R. Tangga) % (R. Tangga) % (R. Tangga) % (R. Tangga) % % %
1 001 248 200 81% 48 19% 200 81% 48 19% 81% 19%
5 11.812 11.962 12.114 12.268 12.424 2 002 194 140 72% 54 28% 140 72% 54 28% 75% 25%
3 003 209 59 28% 150 72% 0 0% 209 100% 0% 100%
6 19.113 19.355 19.601 19.850 20.102
4 004 196 79 40% 117 60% 0 0% 196 100% 0% 100%
7 20.507 20.768 21.031 21.298 21.569 5 005 140 140 100% 0 0% 0 0% 140 100% 0% 100%
6 006 184 0 0% 184 100% 0 0% 184 100% 0% 100%
8 16.406 16.614 16.825 17.039 17.255 7 007 194 194 100% 0 0% 0 0% 194 100% 0% 100%
8 008 176 164 93% 12 7% 0 0% 176 100% 0% 100%
9 10.308 10.439 10.572 10.706 10.842 9 009 122 95 78% 27 22% 95 78% 27 22% 80% 20%
TOTAL 166.628 168.744 170.887 173.057 175.255 JUMLAH 1.663 1.071 66% 592 34% 435 26% 1.228 74% 26% 74%

Diagram 4.3 Proyeksi Buangan Air Limbah


Gambar
Pada Kondisi Sanitasi Di Desa Cinunuk
4.5.3. Analisis Drainase dasarnya drainase
berasal dari bahasaI nggris yaitu drainage yang mempunyai arti mengalirkan, menguras,
membuang atau mengalihkan air. Drainase secara umum didefinisikan sebaga iilmu
pengetahuan yang mempelajari usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu
konteks pemanfaatan tertentu. Atau dalam bidang teknik sipil, drainase adalah suatu tindakan
teknis untuk mengurangi kelebihan air yang berasaldari air hujan, rembesan, maupun
kelebihan air irigasi dari suatu kawasan atau lahan, sehingga fungsi kawasan atau lahan tidak
[Link] juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi
kelebihan air yang berasaldari air hujan, rembesan, maupun kelebihan air irigasi dari suatu
kawasan atau lahan, sehingga fungsi kawasan atau lahan tidak terganggu. Pada kasus ini Diagram 4.4 Luas Area Ada Genangan Desa Cinunuk
drainase Desa Cinunuk, belum memadainya saluran drinase sehingga ketika hujan banyak
sekali genangan air yang tidak terserap, hal itu juga diakibatkan kontruksi jalan
lingkungannya terbuat dari [Link] daya tampung drainase yang tidak memadai
banyak juga sepanjang jalan di lingkungan Desa Cinunuk belum dibuatkanya drainase yang
layak..
Untuk drainase di Desa Cinunuk kondisi dengan tingkat kemiringan rata rata 22%-27%,
sebagian besar jalan dan lingkungan tidak memiliki sistem drainase dan sebagian kecil
menggunakan jaringan drainase dengan konstruksi permanen dan semi permanen.
Adapun Kondisi Drainase Yang Yang Harus Di perbaiki sebasar 82,1 %, Mengenai sistem dan bagian
jaringan drainase dapat dilihat pada gambar dan tabel berikut.

Tabel 4.12 Kondisi Drainase Desa Cinunuk

DRAINASE LINGKUNGAN
Kejadian Tidak Ada Genangan Kejadian Ada Genangan Persyaratan Teknis/Kualitas Drainase

Luas
NO RT/RW/ DUSUN Permukiman Panjang drainase dengan Panjang drainase dengan
Luas Area Tidak Ada Genangan Luas Area Ada Genangan Panjang total Panjang
kondisi tidak rusak/berfungsi kondisi rusak/TIDAK berfungsi
(dalam permukiman) (dalam permukiman) drainase Drainase Ideal
baik baik

(Ha) ha % ha % meter meter % meter meter %


1 001 2,8 0,29 10% 2,54 90% 1.703 725 43% 961 978 57%
2 002 2,0 0,20 10% 1,80 90% 650 375 58% 680 275 42%
3 003 2,0 0,20 10% 1,80 90% 650 375 58% 680 275 42%
4 004 3,5 0,12 3% 3,39 97% 1.035 532 51% 1190 503 49%
5 005 2,5 0,00 0% 2,50 100% 1.350 1.200 89% 850 150 11%
6 006 3,3 0,00 0% 3,30 100% 1.915 1.915 100% 1122 0 0%
7 007 4,0 0,00 0% 4,00 100% 1.330 1.330 100% 1360 0 0%
8 008 3,5 2,45 70% 1,05 30% 1.150 1.150 100% 1190 0 0%
9 009 1,6 0,00 0% 1,60 100% 430 150 35% 544 280 65%
JUMLAH 25,23 3,25 1,04 21,97 88% 10213,00 7752,00 70% 8576,50 2461,00 30%
4.5.4 . AnalisisJalanLingkungan yang sangat kuat,hal ini ada korelasinya dengan pembangunan rumah yang orientasinya
Sistem sirkulasi dan jalur penghubung terdiri dari jaringan jalan dan pergerakan, sirkulasi tidak beraturan. Kondisi permukaan Jalan Lingkungan di desa Cinunuk rata-rata sebesar 60%
kendaraan umum, sirkulasi kendaraan pribadi, sirkulasi kendaraan informal setempat dan kondisi jalan lingkungan Tidak Layak kondisi existing dapat terlihat dari Tabel Baseline Tahun
sepeda, sirkulasi pejalan kaki (termasuk masyarakat penyandang cacat dan lanjut usia), 2015.
system dan sarana transit,system parkir, perencanaan jalur pelayanan lingkungan, dan
system jaringan penghubung.
Sistem Sirkulasi jalan lingkungan yang ada di Desa Cinunuk terdiri dari jalan-jalan gang
yang lebarnya hampir 75% kurangdari 1.5 m sehingga hal tersebut menimbul kesan kumuh

Diagram 4.5 Jangkauan Jalan Desa Cinunuk

IV -27 |
Jalan Desa Cinunuk
Jalan Panday

Jalan Muara Hilir


Jalan Tungilis

Jalan Tungilis

Jalan Raya Wanaraja


Gambar
Keadaan Sarana dan Prasarana Jalan

IV -28 |
4.5.5 Analisis Persampahan
Rendahnya kesadaran masyarakat dalam system pengelolaan sampah Adanya industri Diagram 4.6 Kondisi Sampah Desa Cinunuk
rumah tangga/ masyarakat yang membuang sampah/ limbah ke drainase yang ada di
lingkungan.
Rendahnya cakupan pelayanan sampah. Kurangnya Tempat Penampungan Sampah
Sementara (TPS). Keterbatasan armada pengangkut sampah. Tempat Pengolahan
Sampah Terpadu (TPST) belum tersedia.
Tabel 4.13 Proyeksi Buangan Sampah Desa Cinunuk

Jumlah Penduduk Proyeksi Pada Tahun


RT
(Jiwa) 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 895 912 929 947 965 983
2 682 695 708 722 735 749
3 1.108 1.129 1.151 1.172 1.195 1.217
4 551 561 572 583 594 605
5 432 440 449 457 466 475
6 699 712 726 740 754 768
7 750 764 779 794 809 824
8 600 611 623 635 647 659
9 377 384 391 399 406 414
TOTAL 6.094 6.210 6.328 6.448 6.571 6.695

IV -29 |
[Link] WISATA DAN BUDAYA
1. Kemampuan manajerial di dalam pengelolaan dan pemanfaatan produk dan potensi
Wisata, terutama dalam pengembangan wisata di kawasan.

2. Lemahnya daya saing program kepariwisataan dalam bidang pemasaran dan


Kegiatan kepariwisataan oleh para ahli ekonomi diklasifikasikan sebagai suatu
promosi untuk menarik Wisatawan Nusantara dan Mancanegara.
industri yang dapat menciptakan kemakmuran melalui perkembangan komunikasi,
transportasi, akomodasi yang dapat menciptakan kesempatan kerja relatif besar. Selain itu 3. Kurangnya daya tarik wisata dari objek wisata yang ada.
dikatakan pula bahwa pariwisata sebagai suatu industri tidak hanya sebagai sumber
4. Belum terbentuknya pengelola wisata dengan sistem managemen yang bagus.
devisa, tetapi juga sebagai faktor yang sangat membantu perkembangan daerah-daerah
yang miskin dalam sumber-sumber alam.

Di samping pengaruh yang positif dari hasil pengembangan kepariwisataan, tanpa


disadari ternyata kegiatan kepariwisataan juga dapat menimbulkan efek negatif antara lain
seperti terjadi pengrusakan terhadap cagar alam, objek wisata, tempat-tempat bersejarah,
lingkungan, dan lain-lain. Pengaruh negatif tersebut diakibatkan oleh kurang tepatnya
perhitungan dalam perencanaan. Oleh karena itu perencanaan dipandang penting dalam
pengembangan kepariwisataan agar dapat mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu
ditinjau dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan hidup.

Pariwisata dinilai sebagai salah satu sektor strategis dalam usaha peningkatan
perekonomian Desa Cinunuk. Oleh karena itu, berbagai kawasan potensial dikembangkan
sebagai kawasan wisata. Potensi wisata alam, budaya dan buatan banyak teridentifikasi di
Desa Cinunuk dan beberapa diintegrasikan ke dalam satu kawasan wisata yang terpadu
untuk tujuan kesinergisan pengembangan kawasan.

Untuk menunjang pengembangan pariwisata di Desa Cinunuk, sarana dan


prasarana pendukung semakin ditingkatkan baik jumlah maupun kualitasnya. Beberapa
akses transportasi dibuka untuk memudahkan wisatawan mengunjungi tempat-tempat
Pariwisata Desa Cinunuk.

Permasalahan yang ada selama ini dirasakan di Desa Cinunuk dalam perkembangan
kepariwisataan adalah:

IV -30 |
Obyek dan Daya Tarik Wisata di desa Cinunuk

Desa

Cinunuk kaya akan potensi alam dan budaya untuk dikembangkan menjadi Obyek Wisata l. Pendanaan dan pemerataan kesempatan
dalam perkembangan obyek wisata di Kabupaten Garut mengalami kemajuan yang berarti
seiring dengan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh para pelaku kepariwisataan di
Kabupaten Garut. Pembagian obyek wisata di desa Cinunuk dibedakan atas Obyek Wisata
Alam, Obyek dan Daya Tarik Wisata Budaya, dan Obyek, Daya Tarik Minat Khusus.
Pengembangan wisata alam harus berlandaskan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan
dimana prinsip tersebut diturunkan sampai ke tingkat praktis. Untuk penggabungan dua hal
yang “bertentangan” antara “prinsip” dan “praktis” ini perlu dimiliki suatu strategi
pengembangan. Ada sedikitnya 12 isyu dalam industri wisata lingkungan yang harus dicari
strategi pemecahannya, yaitu :

a. Berkelanjutan (sustainability;

b. Pengolahan sumber alam;

c. Perencanaan terintegrasi;

d. Peraturan;

e. Infrastruktur;

f. Pemantauan dampak;

g. Pemasaran;

h. Standar usaha/industri dan akreditasi;

i. Pendidikan lingkungan dan pelatihan pengelola;

j. Pelibatan masyarakat setempat;

k. Berkesinambungan;

IV -31 |
Kampung Sindangsari merupakan salah satu kampung di Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Garut. Desa Cinunuk sebagian besar daerahnya merupakan dataran rendah. Untuk
mencapai Kampung Sindangsari dan Desa Cinunuk dapat ditempuh dengan angkutan umum yang dilanjutkan dengan ojeg, atau delman, karena letaknya cukup jauh dari jalan raya
utama. Sebagian besar penduduk Kampung Sindangsari dan Desa Cinunuk bermata pencaharian sebagai petani, pemilik sawah, buruh tani. Tanaman yang ditanam di sawah berupa
padi, sayuran atau palawija. Selain itu masyarakat di sana bekerja sebagai pegawai negeri sipil, pedagang dan karyawan swasta.

Di Desa Cinunuk terdapat situs makam yang dianggap keramat dan sering didatangi oleh wisatawan yang ingin berziarah. Banyak orang datang untuk berziarah ke situs makam
tersebut dan sebagian besar masyarakat desa menganut agama Islam. Desa Cinunuk maupun Kampung Sindangsari tidak tertutup pada dunia luar dan menerima era informasi
dengan baik sehingga memungkinkan masyarakatnya menerima kehidupan modern. Hal ini menjadikan kehidupan masyarakatnya berubah seiring dengan kemajuan zaman.

Potensi Wisata Desa Cinunuk

4.7 Analisis Mitigasi Bencana

IV -32 |
Salah satu potensi Desa Cinunuk saat ini merupakan daerah tujuan wisata (alam, budaya, dan
buatan/binaan manusia), fenomena alam dan tingkat kreatifitas masyarakatnya mampu menarik
wisatawan lokal dan domestik untuk datang ke wilayah ini. Kawasan Rawan Bencana yang
mengancam wilayah Desa Cinunuk yakni kawasan bencana tanah longsor, kebakaran dan gempa bumi.
Potensi bencana ini telah diperparah oleh beberapa permasalahan lain yang muncul dan memicu
peningkatan kerentanan. Laju pertumbuhan kebutuhan kawasan-kawasan hunian baru yang pada
akhirnya kawasan hunian tersebut akan terus berkembang dan menyebar hingga mencapai wilayah-
wilayah marginal yang tidak aman. Untuk itu diperlukan upaya pemetaan kawasan bencana sebagai
bentuk kesadaran akan bahaya bencana sekaligus sebagai upaya meminimalisir dampak yang mungkin
ditimbulkan.

Potensi bahaya bencana merupakan salah satu pertimbangan penting dalam proses penataan ruang.
Wilayah yang memiliki tingkat bahaya bencana tinggi mutlak dihindari untuk pemanfaatan lahan baik
produktif maupun konsumtif. Selain itu, diperlukan arahan dan penataan khusus bagi wilayah yang
berdekatan dengan bahaya alam. Pada tahapan awal dalam menunjang proses penataan ruang berbasis
bencana, diperlukan suatu informasi berupa peta dan data yang menunjukkan tentang kerawanan
bencana, serta rekomendasi penataan ruang dalam mengantisipasi permasalahan kebencanaan. Untuk
itu diperlukan suatu kajian khusus mengenai potensi bencana dalam perencanaan PLP-BK

Kajian Kawasan Rawan Bencana di Desa Cinunuk dimaksudkan dalam rangka upaya mewujudkan peta rawan bencana sebagai aspek penting dalam usaha
memperkuat mitigasi (pencegahan) dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Kondisi Permukiman Rawan Bencana

Tujuan Kajian Kawasan Rawan Bencana di Desa Cinunuk ini antara lain :

1. Sebagai pedoman penyusunan mitigasi bencana;


2. Sebagai pedoman penyusunan sistem pemantauan bahaya;
3. Sebagai pedoman penyusunan sistem peringatan dini;

IV -33 |
4. Sebagai pedoman penyusunan rencana jalur dan lokasi evakuasi bencana;
5. Sebagai pedoman pelaksanaan tanggap darurat.
6. Sebagai bahan penyusunan rencana tata ruang;
7. Sebagai rencana tindak penanganan bencana yang terdiri dari: mitigasi bencana,
pemantauan bahaya, sistem peringatan dini, rencana jalur dan lokasi evakuasi bencana,
dan pelaksanaan tanggap darurat. Gambar 4.10 : Bencana Kebakaran

Sasaran yang ingin dicapai dalam Kajian Kawasan Rawan Bencana di Desa Cinunuk adalah sebagai
berikut :
1. Terwujudnya upaya perlindungan masyarakat dari bahaya bencana sebagai bagian dari
kewajiban pemerintah;
2. Terwujudnya penyelenggaraan penanggulangan bencana sebagai bagian dalam proses
pembangunan;
3. Terwujudnya paradigma penanggulangan bencana yaitu proaktif terencana, pengurangan resiko,
desentralisasi dan urusan bersama dengan masyarakat;
4. Terwujudnya upaya penguatan sistem mitigasi (pencegahan) dan kesiapsiagaan menghadapi
bencana;
5. Terwujudnya rencana tata ruang berbasis mitigasi bencana.
Gambar 4.11 : Bencana Longsor

Kaitan Perencanaan Ruang Wilayah dan Bencana alamiah yang harus dimanfaatkan sesuai dengan ketentuannya, misalnya: sumberdaya
lahan, seperti tanah endapan mineral dapat dikembangkan terutama jika lahan tersebut
Permasalahan yang mungkin timbul dalam perencanaan suatu lahan adalah masalah
bermanfaat secara maksimal bagi masyarakat. Tanah dapat juga menjadi bencana apabila
kesesuaian/kecocokan lahan terhadap suatu peruntukan tertentu. Pada dasarnya kesesuaian
tanah tersebut bersifat mudah mengembang (swelling) dan menyusut (shrinkage) serta tanah
suatu lahan sangat ditentukan oleh faktor-faktor lingkungannya/fisik. Dalam perencanaan
yang berada dilereng-lereng bukit yang berpotensi longsor dengan tingkat bencana yang
tataguna lahan, lingkungan alamiah merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan
bervariasi. Disamping itu lahan yang mudah longsor dapat merupakan sumberdaya apabila
dan seyogiyanya hal ini sudah menjadi pengetahuan diantaranya komponen-komponen apa
dikonversi menjadi lahan taman atau dibiarkan sebagai lahan terbuka dan bahkan bisa hutan
saja yang menyusun dan mempengaruhi bentuk bentang alam, seperti proses-proses alam
lindung.
yang merubah bentuk lahan. Pengetahuan lain yang harus diperhatikan adalah relevansi
antara bentuk lahan dengan proses-proses geologi yang bekerja pada lahan tersebut, Jadi jelas pada saat penyusunan pemanfaatan lahan, maka aspek bencana harus
sehingga dapat ditentukan apakah suatu lahan itu sebagai sumberdaya atau sebagai sumber menjadi pertimbangan dalam pengalokasian lahan. Sehingga rencana tata guna lahan yang
bencana. Sebagai ilustrasi dapat dicontohkan bagaimana pertimbangan aspek lingkungan dihasilkan sesuai dengan kaidah perencanaan tata ruang yang baik, yaitu daerah yang

IV -34 |
merupakan potensi bencana harus dihindari dari kegiatan manusia. Bencana yang dapat
timbul sebagai kegiatan alam maupun karena kegiatan manusia harus dihindari melalui
pengalokasian lahan (misalnya melalui penetapan kawasan lindung).

Pemetaan Kawasan Rawan Bencana merupakan salah satu bagian dari siklus
penanggulangan bencana yaitu mitigasi bencana. Arti Mitigasi adalah satu istilah kolektif
yang digunakan untuk mencakup semua aktivitas yang dilakukan dalam mengantisipasi
munculnya suatu potensi kejadian yang mengakibatkan kerusakan, termasuk kesiapan dan
tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang. (Manajemen Bencana UNDP.1994).
Rangkaian kegiatan tersebut apabila digambarkan dalam siklus penanggulangan bencana
adalah sebagai berikut :

Gambar Siklus Penanggulangan Bencana


(Sumber: Bakornas Penanggulangan Bencana)

Pada dasar nyarangkaian kegiatan penanggulangan bencana ini dapat dibagi dalam empat tahapan yakni : c. Pada Tahap Tanggap Darurat dilakukan pengaktifan
 Tahap Pencegahan dan Mitigasi;
Rencana Operasi (Operation Plan) yang merupakan
 Tahap Kesiapsiagaan; operasionalisasi dari Rencana Kedaruratan atau Rencana
 TahapTanggap Darurat; Kontingensi.
 Tahap Pemulihan d. Pada Tahap Pemulihan dilakukan Penyusunan Rencana
Siklus bencana yang digambarkan di atas, sebaiknya tidak dipahami sebagai suatu pembagian tahapan yang tegas, dimana Pemulihan (Recovery Plan) yang meliputi rencana
kegiatan pada tahap tertentu akan berakhir pada saat tahapan berikutnya dimulai. Akan tetapi harus dipahami bahwa setiap waktu rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan pada pasca
semua tahapan dilaksanakan secara bersama-sama dengan porsi kegiatan yang berbeda. Misalnya pada tahap pemulihan, kegiatan bencana.
utamanya adalah pemulihan tetapi kegiatan pencegahan dan mitigasi juga sudah dimulai untuk mengantisipasi bencana yang akan
datang.
Apabila digambarkan keempat jenis rencana dalam
Dalam setiap tahapan tersebut di atas, agar setiap kegiatan dapat berjalan dengan terarah, maka disusun suatu rencana yang
penanggulangan bencana adalah sebagai berikut:
spesifik pada setiap tahapan.
a. Pada Tahap Pencegahan dan Mitigasi, dilakukan penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (Disaster Management Plan)
atau sering disebut juga Rencana Kesiapan (Disaster Preparedness Plan).
b. Pada Tahap Kesiapsiagaan, dilakukan Penyusunan Rencana Kedaruratan (Emergency Response Plan) atau lebih spesifik jika
untuk menghadapi suatu ancaman adalah Rencana Kontingensi (Contingency Plan).

IV -35 |
Gambar Lingkup Bahasan Rencana Penanggulangan
Bencana
Sumber: Bakornas Penanggulangan Bencana

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui Rencana penangulangan bencana pada lingkup Daerah Provinsi merupakan
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi penjabaran strategi kebijakasanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional menjadi
ancaman bencana.(UU No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana). Mitigasi strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah provinsi dan Rencana Tata Ruang
berarti mengambil tindakan-tindakan untuk mengurangi pengaruh-pengaruh dari suatu Wilayah Kabupaten/Kota. Strategi dan struktur pemanfaatan ruang ini merupakan
bahaya sebelum bahaya itu terjadi. Istilah mitigasi berlaku untuk cakupan yang luas dari penjabaran Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi menjadi strategi pelaksanaan
aktivitas-aktivitas dan tindakan-tindakan perlindungan yang mungkin diawali dari yang fisik, pemanfaatan ruang wilayah kota dan kabupaten/kota. Pada lingkup Provinsi penataan
seperti bangunan-bangunan yang kuat, sampai dengan prosedural, seperti teknik-teknik mitigasi bencana didasarkan kepada hal-hal yang berkaitan dengan ancaman bencana
yang baku untuk menggabungkan penilaian bahaya di dalam rencana pengunaan yang dirumuskan sebagai suatu kebijakan penangulangan berdasarkan sifat dan sumber
[Link] mitigasi bencana direncanakan didasarkan kepada tinjauan berbagai kemungkinan lingkup provinsi. Rencana penangulangan bencana pada lingkup Daerah
tingkatan wilayah yaitu pada lingkup nasional yang diarahkan berdasarkan rencana tata Kabupaten dan Kota adalah penataan mitigasi bencana di dasarkan kepada hal-hal yang
ruang nasional; pada lingkup daerah provinsi yang secara lebih spesifik berdasarkan berkaitan dengan acaman bencana yang dirumuskan sebagai suatu kebijakan
ancaman bencana dalam lingkup provinsi serta pada lingkup daerah kabupaten dan kota. penangulangan bencana berdasarkan sifat dan sumber kemungkinan bencana dalam
lingkup wilayah kabupaten tertentu yang spesifik dengan mengidentifikasi wilayah
Rencana penanggulangan bencana pada lingkup nasional yang merupakan
ancaman menunjukan wilayah dengan sifat ancaman lokal kabupaten atau kota.
strategi dan arahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah Negara. Pada penyusunan
Konsep Pengelolaan Bencana
rencana tata ruang nasional akan menyangkut beberapa unsur yang sangat luas. Pada
lingkup nasional penataan mitigasi bencana berdasarkan kepada hal-hal yang berkaitan Kejadian bahaya seringkali tidak dapat dihindari. Namun demikian, risiko terjadinya
dengan ancaman bencana perlu dirumuskan sebagai suatu kebijaksanaan bencana dapat dikurangi. Pengelolaan bencana merupakan ilmu pengetahuan yang
penanggulangan bencana dalam lingkup umum. Untuk lingkup nasional ini identifikasi terkait dengan upaya untuk mengurangi risiko, yang meliputi tindakan persiapan,
wilayah ancaman menujukan wilayah dengan sifat ancaman makro/luas. dukungan, dan membangun kembali masyarakat saat bencana terjadi. Secara umum,
pengelolaan bencana merupakan proses menerus yang dilakukan oleh individu,

IV -36 |
kelompok, dan komunitas dalam mengelola bahaya sebagai upaya untuk menghindari
atau mengurangi dampak akibat bencana. Tindakan yang dilakukan bergantung pada
persepsi terhadap risiko yang dihadapi.

Efektifitas pengelolaan bencana bergantung pada keterpaduan seluruh elemen, baik


pemerintah maupun non-pemerintah. Aktivitas pada setiap hirarki (individu, kelompok,
masyarakat) memberikan pengaruh pada tingkatan yang berbeda. Untuk memahami
konsep pengelolaan bencana, siklus yang tertera pada Gambar menjelaskan tahapan
dalam pengelolaan bencana. Gambar Siklus Pengelolaan Bencana

BENCAN
A Tahapan dalam pengelolaan bencana
Kesiapsiagaan Tanggap Darurat

sebagaimana Gambar adalah sebagai berikut :


setelah
A. Tahap Pra-Bencana bencana

1. Pencegahan (Preventive), adalah perancangan untuk mencegah terjadinya bencana dan/atau mencegah dampak merusak. Contoh: standar keselamatan kerja, tindakan pengontrolan banjir, regulasi
Mitigasi Rehabilitasi/Pemulihan
guna lahan, dsb.
Sebelum
bencanakegiatan mengurangi kerusakan akibat bencana dan meminimalkan resiko bencana. Contoh: merancang bangunan tahan gempa, pelatihan, pengorganisasian
2. Mitigasi (Mitigation), adalah
sukarelawan, peningkatan kesadaran publik, dsb.
Pembangunan
3. Kesiapsiagaan (Preparadness), adalah Tindakan dalam rangka mengantisipasi bencana untuk menjamin tindakan yang tepat saat dan setelah terjadi bencana. Contoh: Praktek early warning sistem,
Pencegahan
penyiapan jalur evakuasi, pelatihan bagi sukarelawan, dsb.

B. Tahap Pasca-Bencana
1. Tanggap Darurat (Emergency Response), adalah Tindakan dan pelayanan segera setelah terjadinya bencana untuk menolong korban. Contoh: search & rescue, perbaikan fasilitas/ infrastruktur dasar
(jembatan, jalan, listrik), bantuan makanan, pengobatan darurat, dsb.
2. Pemulihan (Rehabilitation), adalah Tindakan intervensi memulihkan pelayanan dasar bagi mayarakat. Contoh: Perbaikan tempat tinggal, pembangunan kembali pelayanan dasar yang penting,
pemulihan kegiatan sosial ekonomi yang penting.
3. Pembangunan/ Rekonstruksi (Reconstruction), adalah tindakan memperbaiki dan membantu tempat tinggal dan infrasturktur yang rusak & mengembalikan kondisi sosial ekonomi masy. Seperti
keadaan semula. Contoh: Pembangunan kembali rumah tinggal, dsb.

IV -37 |
IV -38 |

Anda mungkin juga menyukai