BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Status Gizi Anak Sekolah
1. Pengertian status gizi
Menurut Supariasa, Bakri, dan Fajar, tahun 2016 status gizi adalah ekspresi
dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari
nutriture dalam bentuk variable tertentu. Status gizi adalah ukuran keberhasilan
dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi
badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan
oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan zat gizi (Beck, 2000).
Status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara
asupan zat gizi dari makanan dengan kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk
metabolisme tubuh. Status gizi seseorang tergantung dari asupan zat gizi dan
kebutuhannya, jika antara asupan gizi dengan kebutuhan tubuhnya seimbang, maka
akan menghasilkan status gizi yang baik (Harjatmo,dkk 2017)
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat [Link] gizi dapat pula diartikan sebagai tanda fisik yang
diakibatkan oleh karena adanya keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran
gizi melalui variabel-variabel tertentu yaitu indikator status gizi. Definisi lain
menyebutkan bahwa status gizi adalah suatu keadaan fisik seseorang yang
ditentukkan dengan salah satu atau kombinasi dari ukuran-ukuran gizi tertentu
(Alatas, 2011).
1
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukkan tingkat
kesehatan dan keserasian antara perkembangan fisik dan [Link] masa
tumbuh kembang anak, kecukupan gizi merupakan hal mutlak yang harus selalu
diperhatikan orang tua. Gizi yang baik merupakan pondasi bagi kesehatan
masyarakat, jika terjadi gangguan gizi baik, gizi kurang, maupun gizi lebih
pertumbuhan tidak akan berlangsung optimal. Kekurangan zat gizi berakibat daya
tangkapnya berkurang, pertumbuhan fisik tidak optimal, cenderung postur tubuh
pendek, tidak aktif bergerak, sedangkan kelebihan zat gizi akan meningkatkan
resiko penyakit degeneratif di masa yang akan [Link] satu kelompok usia
yang rentan mengalami masalah gizi kurang ataupun gizi lebih yaitu anak usia
sekolah(Ningsih, Suyanto, Restuastuti, 2016).
Anak sekolah membutuhkan gizi yang baik untuk menunjang kegiatan
belajar di [Link] yang baik sangat mempengaruhi daya konsentrasi dan
kecerdasan anak dalam menerima dan menyerap setiap ilmu yang didapat di
[Link] sekolah merupakan sasaran strategis dalam perbaikan gizi
masyarakat. Hal ini menjadi penting karena anak sekolah sedang mengalami
pertumbuhan secara fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk menunjang
kehidupannya di masa mendatang(Ningsih, Suyanto, Restuastuti, 2016).
2. Klasifikasi status gizi
Dalam menentukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang
disebutreference. Baku antropometri yang digunakan di Indonesia adalah WHO-
NCHS.
Parameter dan indeksi antropometri yang umum digunakan untuk menilai
status gizi anak umur 5 – 18 tahun Indeks Massa Tubuh Menurut Umur (IMT/U).
2
Indeks Massa Tubuh adalah angka yang berhubungan dengan berat badan menurut
tinggi badan. Kategori IMT/U:
Sangat kurus : < - 3SD
Kurus : -3SD sampai dengan < -2 SD
Normal : -2 SD sampai dengan 1 SD
Gemuk : >1 SD sampai dengan 2 SD
Obesitas : >2SD
3. Faktor – faktor yang mempengaruhi status gizi
Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi zat gizi dan penyakit infeksi yaitu:
1) Konsumsi Zat Gizi
Konsumsi zat gizi adalah konsumsi zat gizi seseorang yang didapatkan dari
makanan dan minuman yang dikonsumsi selama 1 hari (24 jam). Apabila zat – zat
gizi yang ada pada makanan kurang maka status gizi akan kurang dan sebaliknya
apabila zat – zat gizi yang ada pada makanan lengkap maka status gizi baik.
2) Infeksi
Antara status gizi dan infeksi terdapat [Link] dapat menimbulkan
gizi kurang melalui berbagai [Link] adanya infeksi dapat
menyebabkan menurunnya nafsu makan. Jika hal ini terjadi maka zat gizi yang
masuk kedalam tubuh juga berkurang dan akan mempengaruhi keadaan gizi jika
keadaan gizi menjadi buruk maka reaksi kekebalan tubuh akan menurun sehingga
kemampuan tubuh mempertahankan diri terhadap infeksi menjadi menurun
(Kusharto & Supariasa, 2014).
4. Cara penilaian status gizi
3
Secara umum penilaian status gizi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu:
penilaian status gizi secara langsung dan status gizi tidak langsung.
a. Penilaian Status Gizi Secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dibagi menjadi empat penilaian yaitu:
Biokimia, biofisik, klinis dan antropometri.
1) Penilaian Status Gizi Secara Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan specimen yang diuji
secara laboratories yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan
tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan
tubuh seperti hati dan otot.
Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi
keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik,
maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukkan
kekurangan gizi yang spesifik.
2) Penilaian Status Gizi Secara Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi
[Link] ini didasarkan atas perubahan – perubahan yang terjadi yang
dihubungkan dengan ketidak cukupan zat [Link] ini dapat dilihat pada jaringan
epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau
pada organ – organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar
[Link] ini digunakan untuk survey klinis secara cepat (rapid clinical
surveys).Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda – tanda klinis
umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat [Link] itu pula digunakan
4
untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik
yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.
3) Penilaian Status Gizi Secara Biofisik
Penilaian status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan
melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur
dan jaringan. Metode ini digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta
senja epidemic(epidemic of night blindness).Cara yang digunakan adalah tes
adaptasi gelap.
4) Penilaian Status Gizi Secara Antropometri
Antropometri berasal dari kata anthopos (tubuh) dan metros (ukuran).Secara
umum antropometri diartikan sebagai ukuran tubuh manusia. Dalam bidang gizi,
antropometri berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Sedangkan antropometri gizi
adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh,
komposisi tubuh, tingkat umur dan tingkat gizi (Kusharto & Supariasa, 2014).
Ada berbagai cara untuk menilai status gizi seseorang yaitu konsumsi
makanan,antropometri, biokimia dan klinis. Antropometri atau ukuran tubuh
merupakan refleksi dari pengaruh genetik dan lingkungan. Penilaian status gizi
dengan menggunakan metode antropomteri merupakan cara mudah dan murah
dibandingkan dengan penilaian status gizi lainnya. Ukuran antropometri di bagi
menjadi dua, yaitu ukuran massa jaringan dan ukuran linier. Ukuran massa jaringan
meliputi pengukuran berat badan, tebal lemak di bawah kulit, dan lingkar lengan
atas. Ukuran massa jaringan ini sifatnya sensitif, cepat berubah, dan
5
menggambarkan kondisi saat ini. Adapun ukuran linier meliputi pengukuran tinggi
badan, lingkar kepala dan lingkar dada. Ukuran linier sifatnya spesifik, perubahan
relatif lambat, ukuran tetap atau naik dan dapat menggambarkan riwayat masa lalu
(Sinaga, 2017).
Parameter dan indeksi antropometri yang umum digunakan untuk menilai status
gizi anak umur 5 – 18 tahun Indeks Massa Tubuh Menurut Umur (IMT/U).Indeks
Massa Tubuh adalah angka yang berhubungan dengan berat badan menurut tinggi
badan.
Berat Badan (Kg)
Rumus cara mencari IMT/U =
Tinggi Badan (m)²
NIS−NMBR
Rumus cara mencari Z-Score = Z-Score =
NSBR
Keterangan :
NIS : Nilai Individual Subjek
NMBR : Nilai Median Baku Rujukan
NSBR : Nilai Simpang Baku Rujukan
6
Tabel 1
Kategori Status Gizi dengan Indeks IMT/U
Indeks Kategori Status Gizi Ambang Batas (Z-Score)
Indeks Massa Sangat Kurus <-3 SD
Tubuh
Kurus -3 SD Sampai Dengan <-2 SD
Menurut
Umur Normal -2 SD Sampai Dengan <-1 SD
(IMT/U)
Gemuk >1 SD Sampai Dengan 2 SD
Anak Umur
5-18 Tahun Obesitas >2 SD
Sumber : Keputusan Menteri RI No.1995/MENKES/SK/XII/2010
b. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung
Penilaian status gizi secara tidak langsumg dapat dibagi menjadi tiga yaitu
survei konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi. Pengertian dan
penggunaan metode ini akan diuraikan sebagai berikut:
1) Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistikvital adalah dengan menganalisa dari
beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka
kesakitan, dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang
berhubungan dengan [Link] dipertimbangkan sebagai bagian dari
indikator tidak langsung pengukuran status gizi secara tidak langsung pengukuran
status gizi masyarakat.
2) Faktor Ekologi
Penggunaan faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui
penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk program intervensi
gizi (Kusharto & Supariasa, 2014).
7
3) Survei Konsumsi Makanan
Metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan
jenis zat gizi yang [Link] data konsumsi makanan dapat
memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat,
keluarga dan [Link] dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat
gizi.
8
A. Pola Makan
1. Pengertian pola makan
Pola Makan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
mengurangi terjadinya masalah gizi. Gizi sangat penting untuk menjaga kesehatan
dan mencegah penyakit. Faktor kekurangan gizi muncul akibat salah pola makan
seperti kelebihan makan atau makan makanan yang kurang [Link]
penyakit degeneratif yang ditimbulkan oleh pola makan yang tidak baik diantaranya
diabetes mellitus, kanker, hipretensi, dan penyakit jantung. Mengindari penyakit
akibat pola makan yang kurang sehat, diperlukan suatu pedoman bagi individu,
keluarga, atau masyarakat tentang pola makan yang sehat. Untuk membentuk pola
mkana yang baik, sebaiknya dilakukan sejak masa kanak – kanak karena hal ini
akan terbawa hingga dewasa (Rowa, 2015).
Pola makan merupakan faktor yang berpengaruh langsung terhadap status
gizi. Pola makan dapat dinilai secara langsung dari kualitas dan kuantitas hidangan.
Jika susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh, baik kuantitas maupun
kualitasnya., maka tubuh akan mendapat kondisi kesehatan yang sebaik-baiknya
dan keadaan gizi yang baik pun dapat tercapai. Pola makan yang tidak seimbang
membuat pasokan energi tidak sesuai dengan keluaran energy untuk menjalankan
kegiatan sehari-hari. Jika di pagi hari sempat sarapan, lalu siang hari makan
seadanya, selanjutnya makan malam dalam keadaan yang terlalu lelah untuk
menyiapkan makanan serta maka solusi termudah dan tercepat biasanya adalah
pilihan “makanan diluar” atau jajan di mana komposisi gizinya diluar kontrol (Miko
dan Dina, 2016).
9
2. Faktor – faktor yang mempengaruhi pola makan
Pola makan yang terbentuk gambaran sama dengan kebiasaan
makanseseorang. Secara umum faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola
makan adalah faktor ekonomi, sosial budaya, agama, pendidikan dan lingkungan
(Sulistyoningsih, 2011).
a. Faktor Ekonomi
Variabel ekonomi mencakup dalam peningkatan peluang untuk daya beli
pangan dengan kuantitas dan kualitas dalam pendapatan menurunan daya beli
pangan secara kualitas maupun kuantitas masyarakat.
Pendapatan yang tinggi dapat mencakup kurangnya daya beli dengan
kurangnya pola makan masyarakat sehingga pemilihan suatu bahan makanan lebih
di dasarkan dalam pertimbangan selera dibandingkan aspek gizi. Kecenderungan
untuk mengkonsumsi makanan impor (Sulistyoningsih, 2011).
b. Faktor Sosial Budaya
Pantangan dalam mengkonsumsi jenis makanan dapat dipengaruhi oleh
faktor budaya sosial dalam kepercayaan budaya adat daerah yang menjadi
kebiasaan atau adat. Kebudayaan di suatu masyarakat memiliki cara mengkonsumsi
pola makan dengan cara sendiri.
Dalam budaya mempunyai suatu cara bentuk macam pola makan seperti:
dimakan,bagaimana pengolahannya, persiapan dan penyajian
(Sulistyoningsih,2011).
c. Agama
Dalam agama pola makan ialah suatu cara makan dengan diawali berdoa
sebelum makan dengan diawali dengan makan menggunakan tangan kanan.
10
d. Pendidikan
Dalam pendidikan pola makan ialah salah satu pengetahuan, yang dipelajari
dengan berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan dan penentuan kebutuhan
gizi (Sulistyoningsih, 2011).
e. Lingkungan
Dalam lingkungan pola makan ialah berpengaruh terhadap pembentuk
perilaku makan berupa lingkungan keluarga melalui adanya promosi, media
elektronik, dan media cetak (Sulistyoningsih, 2011).
3. Cara penilaian pola konsumsi makanan
Menurut Gibson, tahun 2005 metode frekuensi makanan (food frequency)
adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan
makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan atau
tahun.
Terdapat dua jenis FFQ :
a. Kualitatif FFQ memuat tentang, daftar makanan yang spesifik pada kelompok
makanan tertentu atau makanan yang dikonsumsi secara periodik pada musim
tertentu. Frekuensi konsumsi makanan yang dinyatakan dalam harian,
mingguan,bulanan, atau tahunan.
b. Semi kuantitatif FFQ , adalah kualitatif FFQ dengan tambahan perkiraan porsi
seperti ukuran: kecil, medium, besar dan sebagainya. Kuesioner semi
kuantitatif FFQ ini harus memuat bahan makanan sumber zat gizi yang lebih
utama.
11
Metode SQ – FFQ dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut:
1) Responden diwawancarai mengenai jenis makanan yang dikonsumsi, apakah
dalam harian, mingguan, bulanan atau tahunan.
2) Responden diwawancarai mengenai ukuran rumah tangga dan porsinya. Untuk
memudahkan responden menjawab, pewawancara menggunakan alat bantu
foto ukuran bahan makanan atau food model.
3) Mengestimasi ukuran porsi yang dikonsumsi responden ke dalam ukuran berat
(gram).
4) Mengkonversi semua frekuensi daftar bahan makanan untuk perhari (Kusharto
& Supariasa, 2014).
12