BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI
1. Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL)
a. Definisi
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) merupakan
metode yang digunakan untuk menghitung perkiraan risiko yang
disebabkan oleh pajanan agen baik kimia maupun fisik pada kelompok
berisiko dengan mempertimbangkan karakteristik risiko. Menurut
Louvar & louvar (1998), analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL)
didefinisikan sebagai kerangka ilmiah untuk memecahkan
permasalahan lingkungan dan kesehatan.
ARKL merupakan sebuah proses yang dimaksudkan untuk
menghitung atau memperkirakan risiko pada kesehatan manusia,
termasuk diantaranya identifikasi terhadap keberadaan faktor
ketidakpastian, penelusuran pada pajanan tertentu, memperhitungkan
karakteristik yang melekat pada agen yang menjadi perhatian dan
karakteristik dari sasaran yang spesifik (Dirjen PP dan PL, 2012).
ARKL merupakan perkembangan spesifik dari Health Impact
Assesment (HIA). Di Indonesia ARKL merupakan bagian dari Analisis
Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL). ADKL sendiri dibedakan
menjadi ADKL untuk pencemaran pada umumnya (bukan bagian
dari studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)) dan
9
10
ADKL bagian AMDAL, yang dimaksudkan untuk kajian aspek
kesehatan masyarakat dalam konteks rencana usaha atau kegiatan baru.
ADKL termuat dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak
Lingkungan (ADKL) (Dirjen PP dan PL, 2012).
ARKL merupakan sebuah tujuan untuk memastikan supaya
analisis risiko dari bahan kimia dan pengelolaannya dapat berjalan
dengan baik untuk meningkatkan perlindungan terhadap kesehatan
manusia dan lingkungan. Tujuan ini telah menjadi kesepakatan dari
berbagai negara dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan.
b. Paradigma Analisis Risiko
Menurut (Kuhn, 1962), paradigma merupakan suatu landasan
berpikir maupun konsep dasar yang digunakan sebagai model ataupun
pola yang dimaksud oleh para ilmuwan dalam usahanya dengan
mengadalkan studi-studi keilmuan yang dilakukannya. Paradigma
Analisis risiko ini, mengacu pada Risk Assesment and Management
Handbook tahun 1996, analisis risiko terbagi menjadi dua istilah yaitu
risk analysis dan risk assessment. Risk analysis meliputi 3 komponen
yaitu penelitian, asesmen risiko (risk assessment) atau ARKL dan
pengelolaan risiko.
11
Paradigma analisis risiko dapat diilustrasikan pada gambar berikut :
Gambar 2.1 Paradigma Analisis Risiko
Sumber : Dirjen PP & PL Kemenkes
Pada prosesnya, analisis risiko dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Penelitian
Penelitian bertujuan untuk membangun hipotesis,
mengukur, mengamati dan merumuskan efek dari suatu bahaya
maupun agen risiko di lingkungan terhadap manusia, baik yang
dilakukan secara laboratorium maupun penelitian lapangan dengan
tujuan untuk mengetahui efek, respon dan nilai referensi yang
aman bagi tubuh agen yang memiliki risiko.
12
2) Asesmen risiko (risk assessment) ARKL
Asesmen risiko bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya
apa saja yang membahayakan, memahami hubungan antara dosis
agen risiko dengan tubuh, mengukur besar pajanan agen risiko, dan
menetapkan tingkat risiko dan efeknya pada suatu populasi.
3) Pengelolaan risiko
Pengeloaan risiko dilakukan jika asesmen risiko yang
ditetapkan tidak aman efeknya pada populasi. Pengelolaan risiko
dapat dilakukan dengan pengembangan opsi regulasi, pemberian
rekomendasi teknis sosial ekonomi politis dan melalukan tindak
lanjut.
Secara operasional, pelaksanaan ARKL diharapkan tidak hanya
terbatas kepada analisis atau penilaian risiko suatu agen risiko atau
parameter tertentu di lingkungan terhadap kesehatan masyarakat, namun
juga dapat menyusun skenario pengelolaannya atau manajemen risiko.
Tetapi menurut teori analisis Risiko Louvar dan Luovar 1998 bahwa
manajemen risiko bukan termasuk ke dalam analisis risiko, namun
manajemen risiko merupakan langkah tindak lanjut dari hasil analisis
risiko yang telah diperoleh. Hal tersebut dapat diilustrasikan pada gambar
berikut:
13
Gambar 2.2 Analisis Risiko (Louvar dan Luovar 1998)
Sumber : [Link]
c. Jenis dan Penggunaan ARKL
Berdasarkan Buku Pedoman Analisis Risiko Kesehatan
Lingkungan (ARKL) terdapat dua jenis ARKL yang dapat digunakan
yakni, kajian ARKL di atas meja (desktop studi) dan kajian lapangan
(field study) tergantung sumber data yang digunakan. Kajian ARKL
diatas meja tidak menggunakan data-data lapangan, tetapi
menggunakan nilai-nilai baku (nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya),
rekomendasi dan/atau asumsi. Sementara kajian lapangan dilakukan
dengan cara mengukur langsung kualitas lingkungan, pajanan
(frekuensi, durasi) dan data antropometri (berat badan). Perbedaan
penggunaan jenis ARKL tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
14
Tabel 2.1 Perbandingan antara ARKL dekstop dan field
Variabel Desktop Field
Sumber data yang Data sekunder dan Data primer dan
digunakan asumsi/nilai baku asumsi (jika
dibutuhkan)
Waktu pelaksanaan Seketika saat Perlu perencanaan dan
dibutuhkan pengorganisasian
Durasi lebih singkat Durasi lebih lama
Besarnya biaya yang Sangat sedikit atau Biaya besar (seperti
dibutuhkan tidak ada melakukan suatu
penelitian / kajian
lapangan)
ARKL sebagai suatu alat atau pendekatan dapat diaplikasikan
untuk berbagai keperluan. Penggunaan ARKL pada berbagai
kebutuhan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.2 Penggunaan dari masing-masing jenis ARKL
Jenis Kegiatan/ Kebutuhan Desktop Field
Analisis suatu kasus kesehatan lingkungan ✔ -
: (Emergency Responses).
Analisis suatu kasus kesehatan lingkungan - ✔
: (Reformation Responses).
Penyusunan AMDAL suatu kegiatan dan ✔ -
atau usaha : kajian ANDAL dan
penyusunan RKL – RPL.
Pengkajian, penyusunan, dan penetapan - ✔
baku mutu.
Pengkajian, penyusunan dan penetapan - ✔
kebijakan kesehatan lingkungan yang
baru.
d. Langkah-langkah ARKL
Dalam pedoman ARKL, Analisis risiko terbagi menjadi tiga yaitu :
Risk Assessment (ARKL), pengelolaan risiko dan komunikasi risiko.
Lebih lanjut, dalam pedoman tersebut ARKL terbagi menjadi empat
15
langkah yaitu : identifikasi bahaya (hazard identification), analisis
dosis-respon (dose-response assesment), analisis pemajanan (exposure
assesment) dan karakterisasi risiko (risk characterization). Langkah-
langkah tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut :
Gambar 2.3 Langkah-langkah ARKL (Kemenkes)
Sumber : Dirjen PP & PL Kemenkes
1) Identifikasi bahaya
Identifikasi bahaya (hazard identification) merupakan
tahapan awal ARKL yang bertujuan untuk mengenali agen
risiko yang memiliki potensi menjadi penyebab gangguan
kesehatan jika tubuh terpajan. Tahap ini merupakan suatu
proses yang menentukan bahan kimia yang berpotensi memiliki
pengaruh terhadap manusia baik berupa karsinogenik maupun
non-karsinogenik.
Data identifikasi bahaya risk agent dari berbagai sumber
pencemaran dapat dirangkum pada suatu tabel, sebagai
16
pelengkap dalam identifikasi bahaya dapat pula ditambahkan
gejala-gejala gangguan kesehatan yang erat kaitannya dengan
agen risiko yang akan dianalisis.
2) Analisis dosis respon
Analisis dosis respon (dose-response assesment)
merupakan tahapan lanjutan dari identifikasi bahaya. Analisis
dosis-respon digunakan untuk memperkirakan efek samping
dari agen risiko yang terjadi pada suatu populasi yang terpajan.
Pada dasarnya analisis dosis respon digunakan untuk
menentukan nilai toksisitas risk agent untuk setiap bentuk spesi
kimianya. Tokisisitas dinyatakan dalam nilai reference dosis
(RfD), dan/atau reference concentration (RfC), dan/atau cancer
slope factor (CSF) dari agen risiko yang menjadi fokus ARKL.
RfD berasal dari pajanan oral atau tertelan (ingesi, untuk
makanan dan minuman) dan RfC berasal dari pajanan udara
(inhalasi) digunakan untuk efek-efek non-karsinogenik
sementara CSF digunakan untuk efek-efek karsinogenik (US
EPA 1997).
Analisis dosis-respon merupakan bagian yang paling
penting dalam ARKL karena ARKL dapat digunakan jika
sudah terdapat risk agent yang sudah terdapat dosis-respon (US
EPA 1997). Dosis-respon menggambarkan peluang seseorang
untuk mengalami sakit setelah kontak dengan kuman udara
17
(mikroba) (Dewi, 2022). Analisis dosis respon cukup merujuk
pada literatur Integrated Risk Information System (IRIS) yang
tersedia pada [Link]/iris.
3) Analisis pemajanan
Analisis pemajanan atau eksposure assesment merupakan
langkah lanjutan dari analisis dosis respon, analisis ini
dilakukan untuk menghitung atau mengukur intake/asupan dari
agen risiko. Untuk menghitung intake digunakan persamaan
atau rumus yang berbeda. Data yang digunakan dapat berupa
data primer (hasil pengukuran konsentrasi sendiri), data
sekunder (hasil pengukuran dari pihak terpercaya seperti Dinas
Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, LSM dll) dan asumsi
yang berdasarkan pada pertimbangan yang logis atau
menggunakan nilai baku.
Pada tahap ini juga dibutuhkan data terkait antropometri
dari populasi terpajan untuk menetapkan intake. Karakteristik
antropometri yang diukur diantarnya adalah berat badan,
pajanan harian, frekuensi pajanan tahunan dan durasi pajanan.
Rumus perhitungan yang digunakan untuk intake pada jalur
pemajanan inhalasi non-karsinogenik adalah sebagai berikut :
I = Asupan (intake) inhalasi (mg/kg/hari)
18
C = Konsentrasi agen risiko (zat toksik/polutan di udara)
mg/m3)
R = Laju inhalasi (m3/jam)
te = Lama pajanan (jam/hari)
fe = frekuensi pajanan (hari/tahun)
Dt = durasi pajanan (tahun)
Wb = berat badan (kg)
Tavg = periode waktu rata-rata untuk efek non-karsinogenik
(10.950 hari)
4) Karakterisasi risiko
Karakterisasi risiko (risk characterization) merupakan
langkah akhir dalam melakukan ARKL, dimana pada tahapan
ini ditetapkannya tingkat risiko, dengan kata lain tahapan ini
menentukan apakah agen risiko pada konsentrasi tertentu yang
dianalisis pada ARKL berisiko menimbulkan gangguan
kesehatan pada masyarakat atau tidak. Karakterisasi dinyatakan
dalam Risk Quotient (RQ) untuk efek-efek non-karsinogenik.
Penghitungan RQ dilakukan dengan cara melakukan
pembagian antara asupan inhalasi (I) dengan reference
concentration (RfC) menggunakan rumus persamaan dari
(ATSDR, 2005) :
RQ = Tingkat risiko pajanan non-karsinogenik
19
I = Asupan (intake) (mg/kg/hari)
RfC = Konsentrasi referensi (mg/m3)
Risiko kesehatan dinyatakan ada dan perlu dikendalikan
jika RQ > 1. Jika RQ ≤ 1, risiko tidak perlu dikendalikan
tetapi perlu dipertahankan agar nilai numerik RQ tidak
melebihi 1.
e. Langkah Lanjutan ARKL
1) Manajemen risiko
Manajemen risiko merupakan langkah lanjutan dari ARKL
apabila nilai karakterisasi risiko menunjukkan tingkat yang tidak
aman, yakni jika nilai RQ>1. Dalam melakukan manajemen risiko
terdiri dari strategi manajemen risiko dengan cara pengelolaan
risiko, strategi pengelolaan risiko meliputi penentuan ambang batas
aman yang terdiri dari konsentrasi agen risiko (C), jumlah
konsumsi (R), waktu pajanan (tE), frekuensi pajanan (fE) dan durasi
pajanan (Dt). Manajemen risiko dapat dijabarkan dan dihitung
menggunakan rumus sebagai berikut :
a) Penentuan konsentrasi aman (C)
Dalam penentuan konsentrasi aman semua variabel dan
nilai yang digunakan sama dengan variabel dan nilai pada
perhitungan intake. Untuk menghitung konsentrasi aman
inhalasi non-karsinogenik adalah sebagai berikut :
20
b) Penentuan jumlah konsumsi aman (R)
Laju asupan yang dapat dikelola hanya pada pajanan yang
melalui makanan dan air minum (ingesti). Sementara untuk
pajanan melalui udara (inhalasi) hampir tidak mungkin
dilakukan pembatasan laju inhalasi.
c) Penentuan waktu pajanan (tE)
Waktu pajanan aman dapat dikelola jika pemajanan terjadi
pada orang yang berada pada lingkungan kerja atau lingkungan
pendidikan yang tidak permanen. Pengelolaan waktu dapat
dilakukan dengan mengurangi jam terpapar setiap harinya.
Penerapannya hanya dilakukan untuk pemajanan inhalasi,
sedangkan untuk pemajanan ingesti cukup dilakukan dengan
pembatasan jumlah konsumsi. Untuk menghitung waktu
pajanan aman non-karsinogenik menggunakan rumus berikut :
d) Penentuan frekuensi pajanan aman (fE)
Frekuensi pajanan aman hampir sama dengan waktu
pajanan aman, oleh karena itu yang dapat dihitung
menggunakan rumus adalah pajanan yang melalui inhalasi.
Untuk menghitung frekuensi pajanan aman non-karsinogenik
menggunakan rumus berikut :
21
e) Penentuan durasi pajanan aman (Dt)
Durasi pajanan aman hampir sama dengan waktu pajanan
aman dan frekuensi pajanan aman, oleh karena itu yang dapat
dihitung menggunakan rumus adalah pajanan yang melalui
inhalasi. Untuk menghitung durasi pajanan aman non-
karsinogenik menggunakan rumus berikut :
2) Komunikasi risiko
Komunikasi risiko dilakukan untuk menyampaikan informasi
risiko pada masyarakat (populasi yang berisiko), pemerintah dan
pihak yang berkepentingan. Komunikasi risiko juga merupakan
tindak lanjut dari ARKL dan merupakan tanggung jawab dari
pihak yang menyebabkan terjadinya risiko (pemrakarsa).
Dalam komunikasi risiko harus menggunakan bahasa yang
umum dan mudah dipahami serta menjelaskan semua informasi
yang dibutuhkan tanpa ada yang dirahasiakan. Komunikasi risiko
dapat dilakukan menggunakan metode ceramah ataupun diskusi
interaktif, menggunakan media komunikasi seperti media massa,
televisi dan radio ataupun penyajian dalam format pemetaan
menggunakan geographical information system (GIS).
22
2. Nitrogen Dioksida (NO2)
a. Pengertian dan Karakteristik
Nitrogen merupakan kandungan udara terbanyak di atmosfer
yakni sebesar 78%. Nitrogen memiliki beberapa bentuk oksida, yaitu :
Nitrus Oxide (NO) merupakan sebagai gas normal yang berada di
udara, dengan kadar sekitar 940 mg/m3 (500 ppb) dan Nitrogen
Pentoksida (N2H5) sebagai gas yang secara alamiah ada di udara dan
terlibat pada siklus nitrat serta penting dalam pertumbuhan organik.
Aktivitas manusia yang menghasilkan Nitrogen Oksida (NO) dan
Nitrogen Dioksida (NO2) diantaranya adalah penggunaan bahan bakar
minyak. Gas NO di atmosfer bereaksi dengan Oksigen menghasilkan
gas NO2.
Kadar NO2 di udara dinyatakan dalam satuan part per million
(ppm), part per billion (ppb) atau µg/m3 (1 ppb = 1,88 µg/m3. Kadar
NO2 yang rendah jika terhirup oleh manusia dapat merangsang
timbulnya gejala sesak napas. Pajanan NO2 tidak boleh lebih dari 400
µg/m3 selama 24 jam.
b. Pembentukan
Nitrogen Dioksida yang diperoleh dari proses pembakaran
merupakan berbentuk Oksida Nitrat (NO). pembentukan NO dan NO2
meliputi reaksi enters Nitrogen dan Oksigen di udara lalu membentuk
NO, kemudian reaksi berikutnya antara NO dengan Oksigen yang
23
lebih banyak dapat membentuk NO2. Persamaan reaksinya sebagai
berikut :
N2 + O2 → 2NO
2NO + O2 → 2NO2
NO2 lebih berat daripada udara dan dapat larut dalam air, NO 2
dapat kembali menjadi NO atau teroksidasi lebih lanjut yang dapat
membentuk HNO2 dan HNO3 dengan reaksi berikut :
3NO2 + H2O → 2HNO2 + NO + O2
2NO2 + H2O → HNO3 + HNO2
Selanjutnya apabila NO2 bereaksi dengan senyawa organik
dapat menghasilkan Peroksiasetil Nitrat (PAN) atau Hidrokarbon
(HC) melalui bantuan cahaya matahari kemudian dapat menghasilkan
asap.
HC + NOX + cahaya matahari → asap photochemical.
c. Toksikologi
NO2 berwarna merah kecokelatan dan memiliki bau khas.
Mayoritas penelitian toksikologi NO2 dilakukan pada industri. Pada
binatang percobaan yang mengalami pajanan gas NO2 mengalami
kekurangan dalam mekanisme pertahanan paru-paru dan fungsi imun.
Umumnya pajanan NO2 pada waktu yang pendek dan kadar yang
rendah tidak dapat menyebabkan kelainan pada binatang percobaan
(Mukono, 2019). NO2 memiliki toksisitas yang lebih kuat 4 kali
24
dibandingkan dengan NO. Organ tubuh yang memiliki kepekaan tinggi
yaitu paru-paru (Constantya, 2017).
d. Sumber Pencemaran
Kadar NOx di udara daerah perkotaan yang berpenduduk padat
akan lebih tinggi dibandingkan dengan pedesaan. Hal tersebut
disebabkan karena berbagai macam kegiatan yang menopang
kehidupan manusia yang menambah kadar NOx di udara, seperti
transportasi, generator pembangkit listrik, pembuangan sampah dll.
1) Sumber antropogenik (kegiatan manusia)
a) Sumber Tidak Bergerak
Nitrogen Dioksida dihasilkan dari sumber yang tidak
bergerak, proses pembakaran dari batubara dan gas LPG masih
mendominasi sumber pencemaran dari NO2. Sumber ini
menyumbang pencemaran sebanyak 48,5%.
b) Sumber Bergerak
Transportasi kendaraan bermotor dapat menyumbang
pencemaran NO2, pencemar ini merupakan salah satu pencemar
yang besar dari emisi gas buang kendaraan bermotor selain CO.
Sumber ini menyumbang pencemaran sebanyak 39,3%.
e. Efek Bagi Kesehatan Manusia
Umumnya efek kesehatan akibat keracunan gas NO2 adalah
iritasi. NO2 dapat menimbulkan iritasi mata, hidung, tenggorokan dan
saluran napas. Meskipun kadar NO2 rendah, tetapi dapat memberikan
25
gangguan kesehatan diantaranya gangguan fungsi alat pernapasan dan
penurunan fungsi serta dapat memicu asma. NO2 yang
mengontaminasi paru-paru dapat menyebabkan pembengkakan,
sehingga penderita yang terpapar akan sulit bernapas yang dapat
mengakibatkan kematian (Constantya, 2017).
Akibat pajanan NO2 dapat menimbulkan batuk, iritasi mata
(mata merah, rasa pedih pada mata), pusing dan sesak napas. Apabila
NO2 bereaksi dengan uap air yang membentuk senyawa HNO3 maka
senyawa tersebut sangat merusak tubuh manusia. NO2 yang berhasil
masuk ke dalam saluran pernapasan akan merusak lapisan mukosa
pada saluran pernapasan sehingga menjadi iritasi (Suyono, 2014).
Tabel 2.3 Pengaruh NO2 terhadap kesehatan (dalam ukuran kadar ppm)
No Kadar (ppm) Pengaruh
1 1-3 Mengiritasi saluran pernapasan
2 5 Mengakibatkan kesulitan bernapas
3 50-100 Menyebabkan inflamasi jaringan paru-paru
4 150 – 200 Menyebabkan Bronchiolities fibrosa obliterons
5 500 Menyebabkan kematian
Semakin tinggi kadar NO2, maka risiko yang akan ditimbulkan
menjadi semakin berbahaya bagi kesehatan manusia. Pada kadar
yang rendah hanya dapat mengiritasi organ tubuh yang berlendir
terutama saluran pernapasan dan pada kadar yang sangat tinggi dapat
menyebabkan kematian karena efek toksik dari NO2.
26
f. Baku Mutu
Tabel 2.4 Baku Mutu NO2
Negara-
Amerika
Bahan Waktu negara WHO Indonesia
USEPA
Pencemar rata-rata Eropa (µg/m3) (µg/m3)
(µg/m3)
(µg/m3)
Nitrogen
Dioksida 1 jam - 200 400 200
(NO2)
Tabel diatas menunjukkan standar baku mutu yang di
tetapkan di beberapa negara dan organisasi kesehatan dunia, baku
mutu di Indonesia mengacu pada PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang
Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Metode analisis menggunakan saltzman dan peralatan menggunakan
spektrofotometer.
g. Cara Pengukuran
Pengukuran NO2 menggunakan metode Griess Saltzman,
dengan menggunakan alat spektrofotometer. Pengukuran ini
mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 7119-2-2017.
Prinsip kerja pada pengukuran ini adalah menjerap gas NO2 di udara
ke dalam larutan Griess Saltzman sehingga dapat membentuk
senyawa azo dye berwarna merah muda. Konsentrasi larutan yang
ditentukan oleh spektofotometer dengan panjang gelombang 550 nm.
1) Bahan yang diperlukan pada pengukuran NO2 adalah :
a) Hablur asam sulfanilat (H2NC6SO3H);
b) Larutan asam asetat glasial (CH3COOH pekat);
c) Aquades;
d) Natrium nitrit (NaNO2);
27
e) Larutan Induk N-(1-naftil)-etilendiamin dihidroklorida
(NEDA, C12H16Cl2N2);
f) Aseton (C3H6O);
g) Larutan penjerap Griess Saltzman;
h) Larutan induk nitrit (NO2) 2.000 µg/mL.
2) Peralatan Pengukuran NO2 diantaranya :
a) Peralatan Pengambilan contoh uji NO2 seperti pada gambar
berikut
Gambar 2.4 Pengambilan Contoh Uji
b) Labu ukur 25 mL, 100 mL dan 1.000 mL;
c) Pipet mikro;
d) Gelas ukur 100 mL;
e) Gelas piala 100 mL, 500 mL dan 1.000 mL;
f) Spektofotometer;
g) Neraca analitik dengan ketelitian 0,1 mg;
h) Oven;
i) Botol berwarna gelap;
j) Barometer;
28
k) Desikator; dan
l) Kaca arloji.
3) Langkah Pengukuran
a) Susun peralatan seperti pada gambar 2.1
b) Masukan larutan penjerap Griess-Saltzman sebanyak 10 mL
ke dalam botol penjerap, atur botol penjerap agar tidak
terhindar dari matahari langsung:
c) Hidupkan pompa penghisap udara dan atur kecepatan alir 0,4
L/menit setelah stabil catat laju alir awal (F1) dan pantau
sekurang-kurangnya 15 menit;
d) Lakukan pengambilan contoh uji selama 1 jam dan catat
temperatur dan tekanan udara;
e) Matikan pompa penghisap setelah 1 jam;
f) Lakukan analisis di lapangan segera setelah pengambilan
contoh uji (maksimal 1 jam setelah pengambilan contoh uji).
4) Pembuatan Kurva Kalibrasi
a) Optimalkan alat spektofotometer sesuai dengan petunjuk
penggunaan alat;
b) Buat deret larutan kerja dalam labu takar 25 mL dengan 1
blanko dan minimal 3 kadar yang berbeda;
c) Tambahkan larutan penjerap sampai tanda tera dan kocok
dengan baik dan biarkan selama 15 menit:
29
d) Ukur serapan masing-masing larutan standar dengan
spektofotometer pada panjang gelombang 550 nm;
e) Buat kurva kalibrasi antara serapan dengan jumlah NO2 (µg).
5) Penghitungan Contoh Uji
Jumlah NO2 (µg) tiap 1 mL larutan standar yang digunakan dapat
dihitung dengan rumus berikut :
Keterangan :
NO2 = jumlah NO2 dalam larutan standar NaNO2 (µg/mL)
a = berat NaNO2 yang ditimbang (g)
46 = berat molekul NO2
69 = berat molekul NaNO2;
f = faktor yang menunjukkan jumlah mol NaNO2 yang
menghasilkan warna yang setara dengan 1 mol NO2 (nilai f
= 0,82);
10/100 = faktor pengenceran dari larutan induk NaNO2
106 = konversi dari gram ke µg
1. Sulfur Dioksida (SO2)
a. Karakteristik
Sulfur Dioksida (SO2) merupakan gas yang beracun, tidak
berwarna dan berbau tajam pada konsentrasi lebih dari 0.5 ppm. SO2
dapat terdeteksi oleh penciuman pada kadar 0,3 – 1 ppm (Wardhana,
2004). SO2 mayoritas berasal dari kegiatan manusia akibat
30
pembakaran bahan bakar fosil, batu bara, dan minyak. Sebagian kecil
juga berasal dari kegiatan alam berupa aktivitas vulkanik gunung
berapi, emisi biogenik H2S dan evaporasi air laut. SO2 mudah sekali
larut dalam air, jika bereaksi dengan air dapat membentuk senyawa
H2SO4. SO2 menjadi salah satu penyebab iritasi pada sistem
pernapasan (Mukono, 2019).
Kadar SO2 dinyatakan dalam satuan µg/m3 atau ppm (1 ppm
sama dengan 2.660 µg/m3 pada suhu 20℃). Kadar maksimum SO2
yang diperbolehkan adalah sebesar 900 µg/m3 (Mukono, 2019).
b. Pembentukkan SO2
SO2 merupakan produk dari pembakaran bahan bakar fosil
(minyak dan batubara). Emisi Sulfur dari sumber gas mayoritas dari
SO2, sementara Sulfur trioksida terdapat dalam jumlah yang lebih
sedikit (Maharani, 2017). Pembentukan SO2 juga dipengaruhi akibat
adanya reaksi dengan Oksigen di udara, persamaan reaksinya adalah
sebagai berikut (Prabowo, 2018).
S + O2 → SO2
2 + O2 → 2SO3
Lebih lanjut, Sulfur Dioksida dapat menjadi senyawa lain,
senyawa lanjutan akibat reaksi dari SO2 dengan Oksigen dan uap air
adalah pembentukan asam sulfat yang menyebabkan hujan asam di
udara, reaksi pembentukkannya adalah sebagai berikut :
½ O2 + SO2 + H2O → H2SO4
31
c. Toksikologi
SO2 mudah larut dalam air. Pada kadar 26.600 µg/m3 SO2
sangat rentan dan dapat mengiritasi mata hidung dan tenggorokan.
Pada pajanan terus-menerus, SO2 dengan kadar 53.200 µg/m3 (20
ppm) dapat mengakibatkan bronkitis kronis (Mukono, 2019).
d. Sumber Pencemaran SO2
Pencemaran SO2 di udara berasal dari pemakaian batubara di
kegiatan industri, transportasi dan lain sebagainya, namun sumber
utamanya berasal dari pembakaran stasioner yang memakai bahan
bakar batubara dan bahan bakar minyak (Mukono, 2019).
1) Sumber Antropogenik (kegiatan manusia)
a) Sumber Tidak Bergerak
Sulfur dioksida dihasilkan dari sumber yang tidak bergerak,
mayoritas sumbernya adalah cerobong asap atau tangki
penyimpanan yang memancarkan emisi gas buang, selain itu
terdapat sumber lain yaitu pembakaran bahan bakar rumah
tangga. Sumber ini menyumbang pencemaran sebesar 72,5%.
b) Sumber bergerak
Transportasi kendaraan bermotor dapat menyumbang
pencemaran SO2, namun kadar yang dihasilkan jauh lebih
sedikit jika dibandingkan dengan sumber tidak bergerak.
Sumber ini menyumbang pencemaran sebesar 2,4%.
32
e. Efek terhadap kesehatan
Pajanan SO2 di dalam dan luar ruangan dapat menyebabkan
penyakit saluran pernapasan. Kelarutan SO2 yang tinggi akan
mengakibatkan iritasi yang parah pada saluran pernapasan dan mata.
Efek pajanan SO2 timbul dari pajanan industri, pajanan SO2 dari
industri dapat menyebabkan penurunan fungsi paru-paru. Selain itu
efek asap batu bara dari industri dapat mengakibatkan efek mutagenik
pada makhluk hidup (Mukono, 2019). SO2 dapat merusak fungsi paru-
paru dalam kadar 25 mg/m3 di lingkungan hanya dalam waktu 10
menit (Machdar, 2018).
Penyakit yang timbul diakibatkan karena SO2 adalah ISPA, SO2
akan mempengaruhi keutuhan lapisan mukosa, penambahan sekresi
mukus dan mengganggu pergerakan silia, hal ini memicu mudahnya
mikrobiologi dalam menginfeksi saluran pernapasan (Sundari, 2019).
Tabel 2.5 Pengaruh SO2 terhadap kesehatan (dalam ukuran kadar ppm)
No Kadar (ppm) Pengaruh
1 3–5 Jumlah terkecil yang mampu terdeteksi dari baunya
2 8 – 12 Jumlah terkecil yang dapat menyebabkan iritasi
tenggorokan
3 20 Jumlah terkecil yang dapat menyebabkan iritasi mata
Jumlah terkecil yang dapat menyebabkan batuk dan
maskimum yang diperbolehkan untuk kontak dengan
waktu yang lama
4 50 – 100 Maksimum yang diperbolehkan untuk kontak dengan
waktu yang singkat (30 menit)
5 400 – 500 Berbahaya mesikupun kontak dengan waktu yang
singkat
Semakin tinggi kadar SO2, maka risiko yang akan ditimbulkan
menjadi semakin berbahaya bagi kesehatan manusia. Pada kadar yang
33
rendah hanya dapat terdeteksi baunya oleh indera penciuman dan pada
kadar yang sangat tinggi berbahaya bagi kesehatan meskipun hanya
kontak dalam waktu yang singkat dengan SO2.
f. Baku mutu
Tabel 2.6 Baku Mutu SO2
Negara-
Amerika
Bahan Waktu negara WHO Indonesia
USEPA
Pencemar rata-rata Eropa (µg/m3) (µg/m3)
(µg/m3)
(µg/m3)
Sulfur
Dioksida 1 jam - - 350 150
(SO2)
Sumber : (Machdar, 2018 dan KLHK, 2021).
Tabel diatas menunjukkan standar baku mutu yang di tetapkan
di beberapa negara dan organisasi kesehatan dunia, baku mutu di
Indonesia mengacu pada lampiran PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang
Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Metode analisis menggunakan pararosanilin dan peralatan
menggunakan spektrofotometer.
g. Cara pengukuran SO2
Pengukuran SO2 menggunakan metode pararosanilin dengan
menggunakan alat spektrofotometer. Pengukuran ini mengacu pada
standar Nasional Indonesia (SNI) 7119-7:2017. Prinsip kerja pada
pengukuran ini adalah menjerap SO2 di udara ke dalam larutan
penjerap tetrakloromerkurat membentuk senyawa kompleks
diklorosulfonatomerkurat. Penambahan larutan pararosanilin dan
formaldehida maka membentuk senyawa pararosanilin metil sulfonat
34
yang berwarna ungu. Konsentrasi larutan diukur pada panjang
gelombang 550 nm.
1) Bahan yang digunakan untuk pengukuran SO2 adalah
a) Larutan penjerap tetrakloromerkurat (TCM) 0,04 M ;
b) Larutan induk natrium metabisulfit (Na2S2O5);
c) Larutan standar natrium metabisulfite (Na2S2O5);
d) Larutan induk iod (I2) 0,1 N;
e) Larutan iod (I2) 0,01 N;
f) Larutan indikator kanji;
g) Larutan asam klorida (HCl) (1+10);
h) Larutan induk tiosulfat (Na2S2O3) 0,1 N;
i) Larutan Na2S2O3 0,1 N;
j) Larutan asam klorida (HCl) 1 M;
k) Larutan asam sulfamat (NH2SO3H) 0,6%;
l) Larutan asam fosfat (H3PO4) 3 M;
m) Larutan induk pararosanilin hidroklorida (C18H17N3HCl) 0,2%;
n) Larutan kerja pararosanilin;
o) Larutan formaldehida (HCHO) 0,2%;
p) Larutan penyangga asetat 1 M (pH = 4,74).
2) Peralatan Pengukuran
a) Peralatan pengambilan contoh uji SO2 sesuai gambar 2.2;
b) Labu ukur 25 mL, 50 mL, 100 mL, 250 mL, 500 mL dan 1.000
mL;
35
c) Pipet volumetrik;
d) Gelas ukur 100 mL;
e) Gelas piala 100 mL, 250 mL, 500 mL dan 1.000 mL;
f) Spektrofotometer sinar tampak dilengkapi kuvet;
g) Timbangan analitik dengan ketelitian 0,1 mg;
h) Buret 50 mL;
i) Labu erlenmeyer asah bertutup 250 mL;
j) Oven;
k) Kaca arloji;
l) Termometer;
m) Pengaduk; dan
n) Botol reagen.
3) Pengambilan Contoh Uji
a) Susun peralatan seperti pada gambar 2.4
b) Masukan larutan penjerap SO2 sebanyak 10 mL ke dalam botol
penjerap, atur botol penjerap agar tidak terhindar dari matahari
langsung dengan alumunium foil;
c) Hidupkan pompa penghisap udara dan atur kecepatan alir 0,5
L/menit setelah stabil catat laju alir awal (F1) dan pantau
sekurang-kurangnya 15 menit;
d) Lakukan pengambilan contoh uji selama 1 jam dan catat
temperatur dan tekanan udara;
e) Matikan pompa penghisap setelah 1 jam
36
f) Diamkan selama 20 menit setelah pengambilan contoh uji
untuk menghilangkan pengganggu.
4) Pembuatan Kurva Kalibrasi
a) Optimalkan alat spektrofotometer sesuai petunjuk penggunaan
alat;
b) Buat deret larutan kerja dalam labu takar 25 mL dengan 1
blanko dan minimal 3 kadar yang berbeda;
c) Tambahkan larutan penjerap sampai volume;
d) Tambahkan 1 mL larutan larutan asam sulfamat 0,6% dan
tunggu sampai 10 menit;
e) Tambahkan 2 mL larutan formaldehida 0,2% dan mL larutan
pararosanilin, diamkan selama 30 menit;
f) Tempatkan dengan aquades sampai volume 25 mL, lalu
homogenkan;
g) Ukur serapan masing-masing larutan standar dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 550 nm paling lama
30 menit;
h) Buat kurva kalibrasi antara serapan dengan jumlah SO2 (µg).
5) Perhitungan Contoh Uji
Konsentrasi SO2 dalam pengambilan contoh uji selama 1
jam dapat dihitung dengan rumus berikut :
37
Keterangan :
C = konsentrasi SO2 di udara (µg/Nm3)
a = jumlah SO2 dari contoh uji dengan melihat kurva
kalibrasi (µg)
V = volum udara pada kondisi normal (L)
1000 = konversi liter ke m3
38
B. Kerangka teori
Sumber Antropogenik
Aktivitas kendaraan
bermotor
Berat Laju Waktu
badan inhalasi pajanan
Konsentrasi
NO2 dan SO2
Durasi
pajanan
Inhalasi Intake / Frekuensi
Asupan (I) pajanan
Risk Quotient
(RQ)
Manajemen
RQ ≤ 1 RQ > 1 risiko
Gambar 2.5 Kerangka Teori Modifikasi
Dirjen PP & PL (2012), Louvar & Louvar (1997), Mukono (2019).