SKRIPSI
GAMBARAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH
SAKIT PARU MANGUHARJO MADIUN
OLEH :
MARISA DWI AGUSTINA
201403073
STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN ADMINISTRASI KEBIJAKAN KESEHATAN
TAHUN 2020
SKRIPSI
GAMBARAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH
SAKIT PARU MANGUHARJO MADIUN
Diajukan untuk memenuhi
Salah satu persyaratan dalam mencapai gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat
OLEH :
MARISA DWI AGUSTINA
201403073
STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN ADMINISTRASI KEBIJAKAN KESEHATAN
TAHUN 2020
i
ii
iii
PERSEMBAHAN
Puji Syukur Alhamdulillah senantiasa saya panjatkan kepada Allah SWT
yang Maha Agung, karena atas Rahmat dan Ridho- Nya yang begitu besar penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Tanpa suatu perjuangan
dan Ridho Allah SWT mungkin skripsi ini tidak dapat terselesakan dengan tepat
waktu. Penulis juga mengucapkan banyak terma kasih kepada semua phak yang
telah mendukung dan memberkan motivas dalam penulsan skripsi ini, adapun
pihak-pihak yang elah mendukung adalah :
1. Keduanya orang tua, bapak dan ibu yang senantiasa memberikan semnagat
dan doa-doanya yang tak pernah putus supaya cita-cita saya terkabul dan
menjadi orang sukses berhasil serta selalu mendidik saya untuk selalu berdoa,
berusaha, bersabar dan tawaduk dala segala hal yang baik.
2. Kakak ku, Yuni Fitri Astuti yang selalu mnyemangati dan mendoakan agar
saya cepat menyelesaikan skripsi dan lulus.
3. Ibu Avicena Sakufa Marsanti S.K.M., [Link] selaku pembimbing satu skrips
yang baik, cantik dan yang selalu memberikan support serta bmbingna yang
maksimal dalam penulisan dan penyelesaian skrips. Terima kash banyak bu
Avi
4. Bapak Suhadi Prayitno S.K.M., MM selaku pembimbing dua skrpsi yang
selalu memberikan support dan bimbingan serta arahan dalam penulisan dan
penyelesaian skripsi.
5. Ibu Retno Widiarini, S.K.M., [Link] selaku penguji saya, terma kasih banyak
bu sudah menjadi penguji yang baik dan terima kasih atas semua ilmunya.
iv
6. Semua Dosen Kesmas yang sudah memberikan saya ilmu-ilmu yang
bermanfaat sehingga membantu dalam penyelesaian skrpsi ini
7. Kepada semua teman-teman dan sahabat yang tercinta yang tidak bisa
disebutkan satu persatu terima kasih kalian sudah selalu memberikan saya
semangat, motivasi agar segera menyelesaikan skripsi. Gomawo All.
v
vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Marisa Dwi Agustina
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, tanggal lahir : Madiun, 23 Maret 1995
Agama : Islam
Alamat : Jl. Kelapa Manis gg. II no.15 Kota Madiun
Email : marisadwiagutina@[Link]
Riwayat Pendidikan : 1. TK Dharma Wanita Kota Madiun lulus tahun 2002
2. Lulusan SDN 02 Manisrejo tahun 2008
3. Lulusan SMPN 11 Madiun tahun 2011
4. Lulusan SMAN 04 Madiun tahun 2014
5. Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun tahun 2015 -
sampai sekarang
vii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Segala puji serta syukur hanya ditujukan kepada Allah SWT yang telah
banyak memberikan nikmat dan rahmat-Nya kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya dan tanpa ada suatu
halangan apapun. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada
Baginda Besar Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari
zaman jahiliyah menuju zaman yang terang seperti saat ini. Alhamdulilah karena
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Gambaran Kepuasan Pasien
Rawat Jalan Selama 1 Bulan Di Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun Tahun
2020” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan
Masyarakat (SKM).
Ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada
pihak-pihak yang telah memberikan bantuan, dukungan serta motivasi dalam
penyusunan laporan ini, yaitu
1. Bapak Zaenal Abidin,[Link],.[Link] selaku Ketua STIKES Bhakti Husada
Mulia Madiun.
2. Ibu Avicena Sakufa Marsanti, [Link].,M,Kes selaku Ketua Prodi Kesehatan
Masyarakat.
3. Ibu Avicena Sakufa Marsanti, [Link].,M,Kes selaku Dosen Pembimbing I
yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama proses penyusunan
skripsi.
4. Bapak Suhadi Prayitno,[Link],.MM selaku Dosen Pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan dan arahan selama proses penyusunan skripsi.
5. Seluruh pihak manajemen RS Paru Manguharjo Madiun yang telah
mengizinkan dan membantu penulisan dalam melakukan tugas akhir.
6. Teman-teman satu angkatan Prodi Kesehatan Masyarakat.
viii
Penulis menyadari bahwa tak ada gading yang tak retak begitupun dalam
penulisan skripsi ini masih ada kekurangan, maka penulis mohon saran dan
masukan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan khususnya bagi para
pembaca pada umumnya, Amiin.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Madiun, 25 Juli 2020
Marisa Dwi Agustina
NIM. 201403073
ix
ABSTRAK
GAMBARAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT
PARU MANGUHARJO MADIUN
MARISA DWI AGUSTINA
Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun merupakan salah satu oganisasi
kesehatan milik pemerintah Kota madiun yang telah terakreditasi kelas tipe C.
RSPM Madiun belum mencapai kepuasan pelanggan secara maksimal dan selalu
meningkatkan kualitas pelayanan guna mencapai target yang diharapkan.
Sementara itu, dalam menjalankan pelayanan kesehatan, jumlah tempat tidur 41
buah, jumlah tenaga kesehatan sebanyak 128 orang dan pasien rawat jalan pada
tahun 2019 sebanyak 11.367 orang dengan adanya penurunan dan peningkatan
jumlah kunjungan setiap bulannya, maka indikasinya adanya kesenjangan antara
pelayanan yang diterima dengan yang diharapkan pasien. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan
pasien rawat jalan di RS Paru Manguharjo Madiun. Penelitian ini merupakan jenis
penelitian kuantitatif menggunakan desain studi cross sectional. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan yang berada di RS Paru
Manguharjo Madiun Jumlah sampel adalah 45 sampel.
Tekhnik sampling dalam penelitian ini menggunakan purposive samping.
Berdasarkan hasil analisis bivariat menggunakan uji spearmen, terdapat hubungan
yang signifikan antara kualitas pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien
rawat jalan di Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun dengan nilai p value 0,029
dan nilai korelasi yaitu r = 0,220 yang menunjukkan bahwa hubungan kualitas
pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien memiliki keeratan yang lemah.
Sebagian besar pasien merasakan kualitas pelayanan kesehatan yang tidak baik
sebanyak 43 orang (43,4%), sebagian besar pasien yang merasa tidak puas
sebanyak 46 orang (46,5%) dan ada hubungan yang antara kualitas pelayanan
kesehatan dengan kepuasan pasien rawat jalan di Rumah Sakit Paru Manguharjo.
Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun diharapkan lebih meningkatkan mutu
pelayanan terutama pada pelayanan farmasi dan ketepatan waktu dokter dalam
pemeriksaan.
Kata Kunci : Rumah Sakit, Pelayanan Rumah Sakit, Kepuasan Pasien
Kepustakaan : 17 (2011 - 2016)
x
Public Health Program
STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun 2020
ABSTRACT
THE ASSOCIATED BETWEEN THE QUALITY OF SERVICE OF AN
INPATIENT AT MANGUHARJO MADIUN LUNG HOSPITAL
MARISA DWI AGUSTINA
The Manguharjo Madiun Lung Hospital is one of the economic oganization
of madiun government that has acreated type c classes. The RSPM Madiun has
not been able to achieve maximum customer satisfaction and has always
improved the quality of service in order to achieve expected goals. Meanwhile, in
administering health services, the number of beds is 41, the number of health-care
workers as many as 128 people and outpatient patients in 2019 as 11,367 with a
decrease and increase in the number of visits each month, an indication of a
disparity between the services received and the patients expected. The purpose of
this study was to find out the associated between the quality of service and the
satisfaction of an inpatient at Manguharjo Madiun Lung Hospital. The kind of this
research was quantitative study used of cross sectional study. The population of
this study are all the inpatients at the Manguharjo Madiun Lung Hospital. The
number of samples was 45.
The sampling technique of this research used purposive sampling. Based on
bivariate analysis using spearmen test, there is a significant between the quality
of health care and the satisfaction of an hospitality-patient in the Manguharjo
Madiun at p value 0.029 and correlation value are = 0.220 that indicates that the
quality of health services with the satisfaction of the patient is weak. The majority
of patients feel the unqualified quality of health care as many was 43 (43.4%), the
majority of patients feel dissatisfied as many was 46 (46.5%) and there are
connections between the quality of health care and the satisfaction of an hospice
patient at Manguharjo Lung Hospital. The Manguharjo Madiun Lung Hospital is
expected to enhance service especially for pharmaceutical services and doctor
punctuality in screening.
Keywords : Hospital, Health Services of Hospital, Patients Satisfaction
Bibliography : 17 (2011 - 2016)
xi
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ....................................................................................... i
LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ iii
LEMBAR PERSEMBAHAN ............................................................................. iv
LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................ vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................................ vii
KATA PENGANTAR ........................................................................................ viii
ABSTRAK .......................................................................................................... x
ABSTRACT .......................................................................................................... xi
DAFTAR ISI ....................................................................................................... xii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xvi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................... 5
1.3.1 Tujuan Umum ................................................................. 5
1.3.2 Tujuan Khusus ................................................................ 5
1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................... 5
1.5 Keaslian Penelitian ..................................................................... 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rumah Sakit ................................................................................ 7
2.1.1 Definisi Rumah Sakit ...................................................... 7
2.1.2 Tugas Rumah Sakit ......................................................... 8
2.1.3 Fungsi Rumah Sakit ........................................................ 8
2.2 Kepuasan Pasien ......................................................................... 9
2.2.1 Pengertian pasien sebagai pelanggan............................... 9
[Link] Pasien .............................................................. 9
[Link] Hak Pasien ....................................................... 11
2.2.2 Pengertian Kepuasan Pasien ............................................ 12
2.2.3 Faktor- faktor Kepuasan Pelanggan................................. 15
2.2.4 Aspek- aspek Kepuasan Pasien ...................................... 18
2.2.5 Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan....................... 20
2.3 Kualitas Pelayanan Kesehatan .................................................... 22
2.3.1 Pelayanan Kesehatan ....................................................... 22
[Link] Syarat-syarat Pelayanan Kesehatan ................ 23
[Link] Bentuk dan Jenis Pelayanan Kesehatan .......... 24
2.3.2 Karakteristik Pelayana Kesehatan .................................. 26
2.3.3 Kesenjangan dan Hambatan Pelayanan .......................... 28
[Link] Kesenjangan Pelayanan .................................. 28
[Link] Hambatan Pelayanan ...................................... 30
xii
2.3.4 Kualitas Pelayanan Kesehatan ........................................ 31
2.3.5 Aspek Kualitas Pelayanan Kesehatan ............................. 34
2.4 Rawat Jalan ................................................................................. 40
2.4.1 Jenis Pelayanan Rawat Jalan .......................................... 40
2.5 Hubungan Kualitas Pelaanan Kesehatan Dengan Kepuasan
Pasien ......................................................................................... 41
2.6 Keranga Teori ............................................................................. 44
BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL
3.1 Kerangka Konseptual .................................................................. 47
BAB 4 METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian ......................................................................... 49
4.2 Populasi ....................................................................................... 49
4.3 Kerangka Kerja Penelitian ........................................................... 52
4.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ............................. 53
4.4.1 Definisi Operasional Variabel ......................................... 53
4.5 Instrumen Penelitian .................................................................... 53
4.6 Waktu dan Lokasi Penelitian ....................................................... 54
4.7 Teknik Pengolahan Data ............................................................. 54
4.8 Analisa Data ............................................................................... 57
4.9 Etika Penelitian ........................................................................... 57
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum RS Paru Manguharjo Madiun ........................ 59
5.2 Karakteristik Responden ............................................................. 60
5.2.1 Data Umum...................................................................... 60
5.2.2 Data Khusus ..................................................................... 62
5.3 Pembahasan ................................................................................. 64
5.3.1 Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Paru Manguharjo
Kota Madiun .................................................................... 64
1. Kepuasan Pasien Pada Aspek Kenyamanan ............. 64
2. Kepuasan Pasien Pada Aspek Ketanggapan ............. 65
3. Kepuasan Paisen Pada Aspek Tepat Waktu ............. 66
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan .................................................................................. 68
6.2 Saran ............................................................................................ 68
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 70
LAMPIRAN ........................................................................................................ 72
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data Kepuasan Pasien RS Paru Manguharjo ................................. 4
Tabel 1.2 Keaslian Penelitian ....................................................................... 6
Tabel 2.1 Perbedaan Pelayanan Kedokteran dan Pelayanan Kesehatan
Masyarakat ..................................................................................... 25
Tabel 4.1 Definisi Operasional ..................................................................... 53
Tabel 4.2 Kegiatan Penelitian ........................................................................ 54
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Jenis Kelamin................................................................................. 60
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Usia. ............................................................................................... 61
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Tingkat Pendidikan ........................................................................ 61
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Pekerjaan........................................................................................ 62
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Ketanggapan .................................................................................. 62
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Kenyamanan .................................................................................. 63
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Tepat Waktu................................................................................... 63
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Konsep Proses Kepuasan Konsumen .......................................... 13
Gambar 2.2 Model Konsumen atau Ketidakpuasan Konsumen ..................... 18
Gambar 2.3 Model Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Pelanggan .................. 42
Gambar 2.4 Kerangka Teori ............................................................................ 45
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual .................................................................. 47
Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian ........................................................... 52
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Ijin Pengambilan Data Awal ........................................... 72
Lampiran 2 Surat Balasan Pengambilan Data Awal .................................... 73
Lampiran 3 Surat Uji Validitas dan Reabilitas ............................................ 74
Lampiran 4 Surat Balasan Uji Validitas dan Reabilitas .............................. 75
Lampiran 5 Surat Ijin Penelitian .................................................................. 76
Lampiran 6 Surat Balasan Ijin Penelitian .................................................... 77
Lampiran 7 Alur Pelayanan Pasien Rawat Jalan ........................................ 78
Lampiran 8 Kuesioner Penelitian................................................................. 79
Lampiran 9 Lembar Permohonan Menjadi Responden ............................... 81
Lampiran 10 Lembar Persetujuan .................................................................. 82
Lampiran 11 Output SPSS ............................................................................. 83
Lampiran 12 Dokumentasi ............................................................................. 86
Lampiran 13 Lembar Kartu Bimbingan ......................................................... 87
Lampiran 14 Lembar Perbaikan Skripsi ........................................................ 88
xvi
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan yang sangat kompleks,
padat profesi dan padat modal. Agar rumah sakit dapat melaksanakan
fungsi dengan baik, maka di rumah sakit harus memiliki sumber daya
manusia, saran dan prasarana peralatan yang memadai serta dikelola secara
profesional (Depkes RI, 2011). Rumah sakit sebagai salah satu subsistem
pelayanan ksehatan menyelenggarakan dua jenis pelayanan unuk
masyarakat yaitu pelayanan administrasi dan pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan mencakup pelayanan medik, pelayanan penunjang
medik, rehabilitas medik, dan pelayanan perawatan (Munijaya, 2015).
Penelitian yang dilakukan oleh Yulianthy (2016) tentang penelitian
anya di RS Islam Samarinda mengatakan bahwa kualitas pelayanan yang
diberikan oleh pihak rumah sakit akan memberikan pengaruh yang besar
bagi kepuasan pasien, sehingga untuk memberikan kepuasan bagi
pasiennya setiap rumah sakit harus memberikan pelayanan yang
memuaskan. Hasil penelitian Margono (2018), menunjukkan adanya
hubungan kualitas pelayanan dengan kepuasan pasien. Hasil penelitian
Elsi (2016) menunjukkan bahwa pelayanan dokter, perawat, pelayanan
fasilitas medis dan pelayanan administrasi berhubungan dengan tingkat
kepuasan pasien. Hasil penelitian Dwi Zuniarti (2015), tentang hubungan
kualitas pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien rawat inap
1
2
jamkesmas di RSUD Salatiga. Penelitian yang dilakukan oleh Jannah
(2017) melakukan penelitian analisis kualitas pelayanan untuk
mewujudkan kepuasan pasien di Rumah sakit Siti Khodijah Pekalongan,
dengan hasil menunjukkan bahwa sebanyak 48% responden menyatakan
kurang puas terhadap pasien oleh staf medis yang masih kurang dan 47%
responden mengungkapkan masih kurang terjangkau biaya perawatan dan
pengobatan di RS Siti Khodijah Pekalongan.
Penelitian oleh Sulistyaningsih (2018) mengenai mutu pelayanan dan
tingkat kepuasan pasien Asuransi kesehatan keluarga miskin menunjukkan
hasil yang berlawanan yaitu pelayanan kesehatan di RS tersebut dianggap
baik sebanyak 40 orang dari 53 jumlah responden dan tidak ada responden
yang menyatakan mutu pelayanan kurang hanya 1 orang menyatakan mutu
pelayanan di RSU PKU Muhamadiyah adalah sebanyak 75% dan
mematahkan asumsi miring mutu pelayanan yang diberikan kepada
pemegang kartu Askes.
Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun merupakan salah satu
oganisasi kesehatan milik pemerintah kota madiun yang berada di kota
madiun, Jawa Timur. RS Paru Manguhajo Madiun tersebut telah
terakreditasi kelas tipe C oleh menteri Kesehatan Republik Indonesia.
Berdasarkan yang diperoleh dari RSPM Madiun.
Sementara itu, agar dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada
pasien, rumah sakit perlu mengevaluasi pelayanan yang diberikan secara
bertahap untuk meningkatkan kepuasan pasien. Dalam menjalankan
3
pelayanan kesehatan, jumlah tempat tidur 41 buah, jumlah tenaga
kesehatan sebanyak 128 orang dan pasien rawat jalan pada bulan mei
tahun 2020 sebanyak 473 orang dengan adanya penurunan dan
peningkatan jumlah kunjungan setiap bulannya, maka indikasinya adanya
kesenjangan antara pelayanan yang diterima dengan yang diharapkan
pasien, sehingga peneliti tertarik untuk meneliti tentang gambaran
kepuasan pasien rawat jalan di RS Paru Manguharjo Madiun.
Dalam Variabel tersebut terdapat ketanggapan dari perawat sedikit
jutek dan ada beberapa responden yang banyak mengeluh pelayanan pada
khususnya dokter itu datangnya terlambat sehngga pasien harus menunggu
lama, dan sebagian perawatnya yang kurang ramah kepada pasien nya.
Pelayanan yang saya ketahui di rumah sakit tersebut Kebanyakan dari
responden itu mengeluh karna petugas khususnya perawat tidak melayani
dengan ramah, Untuk kepuasan itu sendiri ada sebagian pasien tidak
merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh RS tersebut, seperti
pasien yang sedang meminta surat rujukan untuk berobat ke rumah sakit
lain dalam penanganannya pasien menunggu sedikt lama untuk
mendaatkan surat rujukan dari petugasnya.
Tepat Waktu, Ada beberapa pasien mash menunggu beberapa lama saat
berobat dokter ada yang datangnya terlambat dan pasien mengeluh
lamanya saat mengambil obat d pelayanan farmasi.
Tingkat kepuasan pasen di rawat jalan Rumah Sakit Paru Manguharjo
Madiun dapat dilihat pada tabel 1.1 berikut ini :
4
Tabel 1.1 Data Kepuasan Pasien RS Paru Manguharjo
Tingkat Kepuasan
No Variabel Tidak Puas Puas
Σ % Σ %
1. Kenyamanan ruang tunggu 8 26,7 22 73,3
2. Penampilan petugas 4 13,3 26 86,7
3. Fasilitas ruang tunggu 8 26,7 22 73,3
4. Waktu tunggu pelayanan 25 83,3 5 16,7
5. Keramahan petugas terhadap pasien 4 13,3 26 86,7
6. Kesediaan petugas mendengar keluhan 6 20 24 80
7. Kesedian petugas memberikan solusi 7 23,3 23 76,7
Sumber: Data sekunder 11 Juni Tahun 2020
Berdasarkan tabel 1.1 diketahui bahwa 22 responden menyatakan puas
terhadap ruang tunggu sebanyak 73,3 % dan 8 responden menyatakan
tidak puas sebanyak 26,7 %. Penampilan petugas 26 responden
menyatakan puas sebanyak 86,7% dan 4 responden menyatakan tidak puas
sebanyak 13,3%. Fasilitas ruang tunggu 22 responden menyatakan puas
sebnayak 73,3% dan 8 responden menyatakan tidak puas sebanyak 26,7%.
Waktu tunggu pelayanan 5 responden menyatakan puas sebanyak 16,7 dan
25 responden menyatakan tidak puas sebanyak 83,3%. Keramahan petugas
26 responden menyatakan puas sebanyak 86,6% dan 4 responden
menyatakan tidak puas sebanyak 13,35. Keluhan Petugas 24 responden
menyatakan puas sebanyak 80% dan 6 responden menyatakan tidak puas
sebanyak 20%.Memberikan solusi 23 responden menyatakan puas
sebanyak 76,7% dan 7 responden menyatakan tidak puas sebanyak 23,3%.
Dari uraian d atas maka peneliti tertark untuk mengetahui gambaran
kepuasan pasien rawat jalan di rumah sakit paru manguharjo madiun.
5
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran kepuasan pasien rawat jalan di Rumah Sakit Paru
Manguharjo Madiun?
1.3 Tujuan Masalah
1.3.1 Tujuan Umum
Menggambarkan kepuasan pasien rawat jalan di Rumah Sakit Paru
Manguharjo Madiun.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui ketanggapan pasien di Rumah Sakit Paru
Manguharjo Madiun.
2. Untuk mengetahui kenyamanan pasien di Rumah Sakit Paru
Manguharjo Madiun.
3. Untuk mengetahui tepat waktu pasien di Rumah Sakit Paru
Manguharjo Madiun.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun
Dari hasil peneltian ini, maka dapat diketahui kualitas pelayanan
kesehatan dan tingkat kepuasan pasien rawat inap dengan pasien rawat
jalan umum, sehingga manager Rumah Sakit Paru Manguharjo
Madiun.
6
2. Bagi STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun
Penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dan evaluasi keilmuan,
serta hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai masukan informasi
dalam rangka pengembangan proses belajar mengajar.
3. Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar pada penelitian
selanjutnya terutama yang menyangkut perkembangan pelayanan di
rumah sakit.
1.5 Keaslian Penelitian
Tabel 1.2 Keaslian Penelitian
No Nama Peneliti Tahun Variabel Hasi Penelitian
1. Yulianthy 2018 Gambaran Pelayanan Penelitian ini di IGD RS
Keperawatan Gawat Sukmawati tahun 2018
Darurat dengan Tingkat didapatkan bahwa dari 110
Kepuasan Pasien di responden orang (70%)
Instalasi Gawat Darurat RS menyatakan pelayanan
Sukmawati keperawatan gawat darurat baik
dan 33 oang (30,0%)
menyatakan kurang baik
2. Renni 2016 Gambaran kualitas Semua variabel dari dimensi
pelayanan terhadap kualitas pelayanan (keandalan,
kepuasan pasien rawat ketanggapan, keyakinan) secara
jalan pada rumah sakit bersama sama memiliki
PKU Muhamadiyah pengaruh positifikan terhadap
Surakarta epuasan pasien rawat jalan di rs
PKU Muhamadiyah Surakarta
3. Megawati 2017 Kualitas pelayanan TB Hasil penelitian menunjukkan di
dengan strategi DOTS RSUD Koja ada 8 aspek yang
yang dilihat dari sudut membutuhkan perbaikan.
pandang pasien di RSU Penilaian secara keseluruhan
Koja dan RSI Sukapura menunjukkan bahwa 13
responden memberikan nilai
yang cukup dengan angka 7
sebagai nilai terbanyak diilih
resonden untuk kedua Rumah
Sakit
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rumah Sakit
2.1.1 Definisi Rumah Sakit
Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit adalah
bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi
menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit
(kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah
sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat
penelitian medik.
Sementara menurut SK Menteri Kesehatan RI
No.983/Menkes/SK/XI/1992 menyatakan bahwa rumah sakit umum
adalah merupakan rumah sakit yang
memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik dan
subspesialistik.
Menurut Permenkes No.340 tahun 2010 tentang Klasifikasi Rumah
Sakit, menyatakan bahwa Rumah Sakit adalah institusi pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat
darurat. Pelayanan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Rumah sakit harus
mempunyai kemampuan pelayanan sekurang-kurangnya pelayanan medik
umum, gawat darurat, pelayanan keperawatan, rawat jalan, rawat inap,
7
8
operasi atau bedah, pelayanan medik spesialis dasa, penunjang medik,
farmasi, gizi, strerilisasi, rekam medik, pelayanan administrasi dan
manajemen, penyuluhan kesehatan masyarakat, pemulasaran jenazah,
laundry, dan ambulance, pemeliharaan sarana rumah sakit, serta
pengolahan limbah.
Rumah sakit merupakan suatu organisasi yang melalui tenaga medis
profesional yang terorganisir serta sarana prasarana kedokteran yang
permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan
yang berkesinambungan, diagnosa serta pengobatan penyakit yang diderita
oleh pasien.
2.1.2 Tugas Rumah Sakit
Berdasarkan UU RI nomor 44 tahun 2009 pasal 3 tentang rumah sakit,
rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna.
2.1.3 Fungsi Rumah Sakit
Menurut Undang-undang RI no. 44 tahun 2009, Rumah Sakit
mempunyai fungsi :
1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan
sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui
pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai
kebutuhan medis.
9
3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia
dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan
kesehatan.
4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan
teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan
kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang
kesehatan.
Menurut Milton Roemer dan Friedman dalam bukunya Doctors in
hostpitals yang dikutip oleh Aditama (2017) fungsi rumah sakit adalah :
1. Harus ada pelayanan rawat inap dengan fasilitas diagnostik dan
terapeutiknya.
2. Harus ada memiliki pelayanan rawat jalan.
3. Rumah Sakit juga bertugas untuk melakukan pendidikan pelatihan.
4. Rumah Sakit perlu melakukan penelitian dibidang kedokteran dan
kesehatan.
5. Bertanggung jawab untuk program pencegahan penyakit dan
penyuluhan kesehatan bagi populasi di sekitarnya.
2.2 Kepuasan Pasien
2.2.1 Pengertian Pasien Sebagai Pelanggan
[Link] Pasien
Menurut Tjpton dan Diana (2018: 100) secara tradisional pelanggan
diartkan sebagai rang yang membeli, menggunakan ataupun
memanfaatkan suatu prduk atau jasa, pelanggan adalah rang yang
10
menggunakan jasa pelayanan Nasution (2018: 44) mengtakan bahwa
pelanggan adalah semua rang yang menghaapkan dan menuntut
perusahaan dalam kinerjanya sesuai dengan kualitas pekerjaan yang telah
dtetapkan. Pada dasarnya menurut Nasution (2001: 44), dkenal tiga macam
konsumen dalam sstem kualitas mdern, yaitu sebagai berikut :
1. Konsumen internal adalah setiap orang yang berada dalam peusahaan
dan memilki pengaruh atau berpean pada performance kerja dari suatu
perusahaan.
2. Konsumen antara adalah setiap yang berperan atau bertindak hanya
sebaga peranta, bukan sebagai pemakai akhir prduk atau jasa.
3. Konsumen eksternal adalah setiap orang yang merasakan, membeli
dan menggunakan suatu akhir produk atau jasa, yang sering disebut
sebagai pelanggan nyata.
Kesimpulan dari berbagai penjelasan mengenai pelanggan di atas,
bahwa pelanggan adalah pembeli atau pemakai produk atau jasa
perusahaan sehubungan dengan kualitas dari kinerja perusahaan tersebut
atau hasil kinerja produk atau jasa yang telah dgunakan. Pelanggan dalam
penelitian ini masuk dalam jenis knsumen eksternal mengingat bahwa
pelanggan telah melakukan pembelian, penggunaan, dan merasakan akhir
suatu produk atau jasa. Pelanggan dalam peneltian ini adalah konsumen
sebagai pengguna atau penerima jasa layanan rumah sakit yang dsebut
sebagai pasien.
11
[Link] Hak Pasien
Konsumen memiliki hak yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha
sebagai tanggung jawab atas kewajiban penyedia jasa yang telah
dibayarkan pada pelaku usaha. Knsumem yang dimaksud dalam penelitian
ini adalah pasien sebagai pemakai jasa pelayanan kesehatan yang
disediakan oleh rumah sakit. Sementara itu hak pasien yang harus
dihormati oleh tenaga kesehatan dalam upaya pelayanan kesehatan,
menurut Praptiningsih (2018: 9) adalah :
1. Hak atas pelayanan kesehatan sesuai dengan standart pelayanan
kesehatan. Pasien berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
seperti pelayanan keperawatan sesuai standart asuhan keperawatan
2. Hak atas informasi yang berupa penjelasan berkait dengan
penyakitnya, tindakan medis, dan keperawatan beserta pengbatan
yang dapat dilakukan, infrmasi dibeikan leh tenaga kesehatan,
khususnya dokter untuk tindakan medis dan perawat apabila terkait
dengan pelayanan keperawatan.
3. Hak untuk menentukan nasib sendiri, merupakan hak pasien untuk
menentukan tindakan pengbatan dan atau perawat yang akan
dilakukan terhadap dirinya atau penyakitnya, keputusan untuk
memilih ini dilakukan setelah mendapatkan infrmasi yang jelas dan
lengkap dari dokter dana atau perawat tentang segala sesuatu yang
berkait dengan penyakitnya dan upaya yang dapat ditempuhnya untuk
mendapatkan kesembuhan
12
4. Hak atas second opinion merupakan hak pasien untuk mempereh
masukan dari tenaga kesehatan lain, baik dokter, perawat, maupun
tenaga kesehatan lain terhadap penyakit dan upaya kesembuhan yang
dapat ditempuhnya.
Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan diatas dapat ditarik
kesipulan bahwa pasien sebagai pelanggan kesehatan berhak untuk
mendapatkan pelayanan seoptimal mungkin demi pencapaian derajat
kesehatan atau kesembuhannya Pasien juga mempunyai hak untuk
menerima ataupun menolak tindakan pengobatan dan ata erawat yang akan
dilakukan terhadap dirinya setelah mendapatkan informasi yang jelas dan
lengakp dari dokter atau perawat tentang segala sesuatu yang berkait
dengan penyakitnya.
2.2.2 Pengertian Kepuasan Pasien
Kotler dan Amstrong (2017 : 203) mendefinisikan kepuasan
pelanggan sebagai hasil yang dirasakan oleh pembeli yang mengalami
kinerja sebuah perusahhan yang sesuai dengan haapannya, tingkat
perasaan senang setelah membandingkan kinerja (atau hasil)yang ia
rasakan dibandingkan dengan harapannya. Kepuasan atau ketidakpuasan
pelanggan adalah terhadap kinerja suatu perusahaan atau prduk dengan
melakukan perbandingan antara harapan sebelumnya dengan hasil nyata
kinerja perusahaan atau prduk tersebut setelah melakukan pembei atau
pemakai, menurut Tse dan Wilton (dalam Tjiptono 2005 : 349)
13
Kepuasan pelanggan sebagai keseluruhan sikap yang ditunjukkan
pelanggan atas barang atau jasa setelah mereka memperoleh dan
menggunakannya. Hal ini merupakan hasil dari penelitian evaluatif setelah
pembelian atas seleksi ketika melakukan pembelian yang dipengaruhi oleh
pemilihan pembelian khusus dan pengalaman dalam pemakaian barang
atau jasa tersebut (Mowen dan Minor (2002:89). Kepuasan pelanggan
merupakan respon emsional terhadap pengalaman-pengalaman akan
pemakaian sutu produk atau jasa tertentu.
Dalam knteks kepuasan pelanggan, harapan merupakan perkiraan atau
keyakinan konsumen tentang apa yang akan diterimanya. Sedangkan
kinerja yang dirasakan adalah persepsi konsumen terhadap apa yang ia
terima. Secara knseptual, kepuasan konsumen dapat digambarkan seprti
yang ditunjukkan dalam gambar berikut :
Tujuan Kebutuhan dan
keinginan pelanggan
Produk
Harapan pelanggan
terhadap produk
Nilai produk bagi
pelanggan
Tingkat kepuasan pelanggan
Gambar 2.1 Konsep Proses Kepuasan Konsumen
Sumber: Tjiptono (1997:25)
14
Pada umunya harapan pelanggan mencakup hal yang menjadi
keinginan mencakup perasaan dalam sebuah harapan, mengenai perkiraan
atau keyakinan pelanggan tentang aa yang akan diterima, bila ia membeli
atau mengkonsumsi suatu produk (roduk atau jasa). Sedangkan kinerja
yang dirasakan adaah pandangan konsumen terhadap apa yang ia terima
setlah menerima atau merasakan produk (barang atau jasa) yang dibeli atau
diterima dipengaruhi oleh evaluasi konsumen atas kinerja barang atau jasa
(Mowen dan Minor 2002:90). Beberapa pengertian yang teah diungkaakan
menegaskan bahwa suatu bentuk keistimewaan dari suatu barang atau jasa
ataupun barang barang atau jas itu sendiri, memberikan tingkat
kenyamanan yang terpenting dengan pemenuhan suatu kebutuhan,
termasuk pemenuhan kebutuhan dibawah harapan, atau pemenuhan
kebutuhan melebihi harapan konsumen.
Akhirnya dari beberapa pengertian diatas maka dapat peneliti
simpulkan bahwa kepuasan pelanggan meuakan respon atau tingkat
perasaan pelanggan yang diperoleh setelah pelanggan menerima prduk
(barang atau jasa) dengan membandingkan antara kinerja atau hasil yang
dirasakan dengan haapan. Apabila hasil yang dirasakan dibawah harapan
maka konsumen akan kecewa, kurang puas bahkan tidak puas dan bila
kinerja meebihi harapan maka knsumen akan sangat puas. Yang dimaksud
pelanggan dalam peneliti ini adalah pasien. Kepuasan terjadi karena
harapan-harapan yang ada pada diri pasien merupakan dambaan setiap
rumah sakit selaku tempat penyedia jasa elayan kesehatan.
15
2.2.3 Faktor-faktor Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan harus disertai dengan pemntauan terhadap
kebutuhan dan keinginan yang bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor,
seperti yang telah diungkpakan oleh Garvin (dala Tiptono, 1997:25) yaitu :
1. Kinerja
Merupakan karakteristik perasi pokok dari produk inti yang dibeli atau
diterima.
2. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan
Karakterisik sekunder atau pelengkap
3. Keandalan (reliability)
Faktor kemungkinan yang menggambarkan adanya kemungkinan
kecil akan mengalami kerusakan atau gagal pakai.
4. Kesesuaian denagn spesifikasi
Sejauh mana karakteristik desaian dan perasi memenuhi standart-
standart yang telah ditetapkan seblumnya
5. Daya tahan (Durability)
Berkaitan dengan berapa lama produk atau jasa tersebut dapat terus
digunakan. Dimensi ini termasuk dalam umur teknis maupun umur
ekonomi.
6. Serviceability
Meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah dierbaiki, serta
penanganan keluahan yang memuaskan. Pelayana yang diberikan
tidak sebatas hanya sebelum penjualan tetapi juga selama proses
16
penjualan hingga purna jual, mencakup pelayanan perbaikan dan
ketersedian kmponen yang dibutuhkan.
7. Estetika
Daya tarik produk terhadap panca indera
8. Kualitas yang dipersepsikan
Citra dan reputasi produk atau jasa serta tanggung jawab perusahaan
terhadapnya. Biasanya karena kurang pengatahuan konsumen akan
atibut atau ciri produk (barang atau jasa) yang akan dibeli atau
dietrima biasanya konsumen mempesepsikan kulaitasnya dari aspek
harga, nama merek, iklan dan reoutasi perusahaan.
Kepuasan pelanggan dibentu dan didasarkan oleh beberapa faktor
(Kotler 2006:52) yaitu (1) Pengalaman pembelian terdahulu, (2) Komentar
teman dan kenalannya, (3) Janji dan informasi pemasar dan saingannya.
Selain itu menurut Nasution (2001:4) menjelaskan faktor-faktor kepuasan
planggan sebagai berikut :
1. Kebutuhan dan keinginan yang dirasakan pelanggan. Jika kebutuhan
dan keingina besar, maka harapan atau ekspektasi pelanggan akan
tinggi, begitu juga sebaliknya.
2. Pengalaman masa lalu keika menggunakan produk atau jasa yang
telah dipilih.
3. Pengalamn dari teman-teman yang etlah merasakan kualitas produk
yang dipilih.
17
4. Komunikasi melalui iklan dan pemasaran.
Mowen dan Minor (2002:100) meringkas faktor-faktor kepuasan dan
ketidakpuasan konsumen sebagai berikut :
1. Diskonfirmasi Espektansi atau Pengahargaan
Merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi harapan meliputi
karakteristik produk, faktor-faktor promosi, faktor-faktor lainnya dan
karakteristik konsumen. Faktor yang kedua yaitu faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja aktual.
2. Persepsi kelayakan
3. Atribusi sebab akibat
4. Kinerja produk aktual
5. Keadaan afeksi konsumen
Faktor kepuasan dan ketidakpuasan konsumen dalam dijelaskan dalam
gambar dibawah ini :
18
Pemakaian atau
konsumen produk
Ekspektasinakan Konfirmasi atau Evaluasi
kinerja atau diskonfirmasi kinerja atau
kualitas kualitas
Evaluasi ekuitas Tanggapan
Atribusi penyebab
pertukaan emosional
Kepuasan atau ketidakpuasan
konsumen
Gambar 2.2 Model Kepuasan atau Ketidakpuasan Konsumen
Sumber : Mwen dan Minor (2002:90)
Kesimpulan dari teori kepusan dan ketidakpuasan mengenai model
Diskonfirmasi Ekspektasi menjelaskan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan
pelanggan merupakan perbandingan antara harapa menegnai hal yang
seharusnya berfungsi dengan evaluasi mengenai hak yang seharusnya
berfungsi dengan evalusi mengenai fungsi-fungsi yag sesungguhnya,
sehingga pelanggan akan mearasa puas, tidak puas dalam keadaan netral
dan tidak merasa puas terhada produk atau jasa.
2.2.4 Aspek-aspek Kepuasan Pasien
Kepuasan konsumen merupakan respon atau tingkat perasaan
konsumen yang diperoleh setelah konsumen menerima produk (barang
atau jasa) dengan membandingkan antara kinerja atau hasil yang dirasakan
19
dengan harapan. Apabila hal yang dirasakan dibawah haapan maka
konsumen akan kecewa, kurang puas bahkan tidak puas, namun sebaliknya
bila sesuai dengan haapan, konsumen akan puas dan bila kinerja melebihi
harapan maka konsumen akan sangat puas. Penjelasan dari beberapa
pengertian kepuasan pelanggan dan faktor-faktor kepuasan pelanggan
merupakan hal yang terpenting bagi peneliti untuk merumuskan aspek-
aspek kepuasn pelanggan. Dalam penelitian ini peneliti harus mampu
merumuskan aspek-aspek kepuasan pelanggan secara menyeluruh dan
detail agar mampu mengukur apa yang seharusnya diunkapkan dalam
pengukuran kepuasan pelanggan dan mampu mengungkapkan informasi
akurat sehubungan dengan konstruk yang mendasarinya.
Pengertian kepuasan pelanggan dai beberapa toh sebelumnya telah
diunkapkan meupakan landasn bagi peneliti dalam menyusun aspek
kepuasan pelanggan. Menurut Kotler dan Amstrong (1998:203)
mendefinisikan kepuasan peanggan sebgai hasil yang dirasarkan oleh
pembeli yang mengalami kinerja sebuah perusahaan yang sesuai dengan
harapannya, tingkat perasaan senagn setelah membandingkan kinerja (atau
hasil) yang ia rasakan dibandingkan dengan. Menurut Tjiptono, Gerson,
Nasution dan Engel melihat kepuasan pelanggan dari sudut hasil yang
dirasakan dari kinerja berdasar harapan dan kebutuhan. Mowen dan Minor
(2000) melihat kepuasan pelanggan cenderung dari kondisi emosional
pelanggan sebagai akibat dari kinerja produk atau jasa yang mereka
terima. Selain dari beberapa pengertian kepuasan para tokoh tersebut
20
pendapat dari Gerson (2001:26) juga menjadi landasan bagi peneliti dalam
menyusun aspek kepuasan pasien yang menyatakan bhwa jika ingin
mengukur kepuasan pelanggan maka seharusnya kita mengukur
kebutuhan, keinginan, persyaratan dan harapan pelanggan. Maka dapat
disimpukan bahwa aspek-aspek kepuasan pelanggan adalah sebagai
berikut :
1. Harapan merupakan perkiraan atau keyakinan pelanggan tentang apa
yang akan diterima bila membeli atau mengkonsumsi suatu barang
atau jasa.
2. Kebutuhan merupakan keinginan dari pelanggan terhadap perusahaan
(barang atau jasa) sehubungan dengan pelayanan yang diberikan.
3. Emosional merupakan kondisi perasaan dan respon pelanggan
sehubungan dengan kepuasan pelanggan yang ia terima.
4. Kinerja yang dirasakan merupakan produk atau jasa yang diterima
pelanggan dan pandangan pelanggan mengenai pelayanan yang ia
terima.
Aspek-aspek kepuasan pelanggan diatas yang dijadikan penelti
sebagai acuan pembuatan skala kepuasan pasien dalam penelitian ini.
2.2.5 Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Mengukur kepuasan konsumen dari apa yang telah disimpulkan
sebelumnya bahwa kpuasan konsumen dalah hasil yang dirasakan atas
penggunaan produk dan jasa, sama atau melebihi harapan yang diinginkan.
Kepuasan itu sndiri dapat diukur dengan berbagai cara, diantaranya seperti
21
yang dikemukakan oleh Kontler dan Amstrong (1998:189) tentang metode
untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu:
1. Sistem keluhan dan saran
Metode ini dilakukan dengan cara konsumen menyampaikan keluhan
dan saan melalui kotak saran, kartu komentar, saluran telepon khusus
telepon khusus lain-lain.
2. Survei kepuasan pelanggan
Pengukuran kepuasan pelanggan melalui metode ini dapat dilakukan
dengan barbagai cara, diantaranya :
a. Directly reported satisfaction
Yakni pengukuran langsung dengan pertanyaan pertanyaan yang
disampaikan kepada konsumen tentang tingkat kepuasan
konsumen terhadap pelayanan.
b. Derived dissatisfaction
Yakni pengukuran yang dilakukan dengan cara mengajukan
pelayanan tentang seberapa besar harapan dan hasil dari kinerja
pelayanan yang telah dirasakan pasien.
c. Problem analysis
Yakni pengukuran epuasan yang dilakukan dengan cara meminta
responden untuk menuliskan masalah yang berkaitan dengan
pelayanan yang telah diberikan beserta menuliskan saran-saran
untuk perbaikan pelayanan.
22
d. Importance-performance analysis
Yakni pengukuran kepuasan yang dilakukan dengan cara
meminta responden untuk merangkai berbagai elemen dari
pelayanan yang ditaarkan berdasarkan derajat pentingnya setiap
elemen dan seberapa baik kinerja pelayanan masing-masing
elemen.
3. Ghost shopping
Metode ini dilakukan dengan cara mempekejakan beberapa orang
untuk berperan atau bersikap sebagai objek yang dalam penelitian ini
adalah pasien, dengan tujuan untuk melihat kekuangan atau kelebihan
dari pelayanan.
4. Lost customer analysis
Metode ini dilakukan dengan cara pemberi pelayanan menghubungi
pelanggan yang berhenti atau pindah ke tepat pelayanan lain dan
memanau angkau kehilangan pelanggan yang menunjukkan
kelemahan dalam memuaskan pelanggan.
Dalam penelitian ini peneliti dalam pengukuran kepuasan peneliti
menggunakan metode survey kepuasan elanggan dengan cara Directly
reported satisfactio dan Derved dissatisfaction.
2.3 Kualitas Pelayanan Kesehatan
2.3.1 Pelayanan Kesehatan
Menjabarkan pendapat Levey dan Loomba (dalam Azwar 1996:35)
Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara
23
sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatn, mencegah dan menyembuhkan
penyakit serta memulihkan kesehatn pereorangan, keluarga, kelompok,
dan ataupun masyarakat.
Sesuai dengan batasan yang seperti ini segera mudah dipahami bahwa
bentuk dan jenis pelayanan kesehatan yang dapat ditemukan banyak
macamnya, karennya semua ini sangat ditentukan oleh :
1. Pengorganisasian pelayanan, apakah dilaksanakan secara sendiri atau
secara bersama-sama dalam suatu organisasi.
2. Ruang lingup kegiatan apakah hanya mencakup kegiatan
pemeliharaan kesehtan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,
penyembuhan penyait, pemulihan kesehatan atau campuran dari
semuanya.
3. Sasaran pelayanan kesehatan apakah untuk perseorangan, keluarga,
kelompok ataupun untuk masyarakat secara keseluruhan.
[Link] Syarat-syarat Pelayanan Kesehatan
Menurut Awar (1996:38) agar pelayanan kesehatan dapat mencapai
tujuan yang diinginkan, banyak syarat yang harus dipenuhi. Syaat yang
dimaksud paling tidak mencakup delapan hal pokok yaitu sebagai berikut :
1. Ketersediaan pelayanan kesehatan (Available)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan kesehatan
tersebut tersedia di masyarakat.
24
2. Kesinambungan pelayanan kesehatan (Continue)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut
bersifat berkesinambungan, dalam arti tersedia setiap saat, baik
menurut waktu atau kebutuhan pelayan kesehatan.
3. Penerimaan pelayanan kesehatan (Acceptable)
Artinya pelayanan kesehatan bemutu apabila pelayanan kesehtan
tersebut dapat diterima oleh pemakai jasa pelayanan kesehatan.
4. Kewajaran pelayanan kesehatan (Appropriate)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanana tersebut
bersifat wajar, dalam arti dapat mengatasi masalah kesehatan yang
dihadapi.
5. Ketercapaian pelayanan kesehatan (Accesible)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut
dapat dicapai oleh pemakai jasa pelayanan kesehatan tersebut.
6. Keterjangkauan pelayanan kesehatan (Affordable)
Atinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut dapat
dijangkau oleh pemakai jasa pelayanan kesehatan.
7. Mutu pelayanan kesehatan (Quality)
Artinya pelayanan kesehatan bermutu apabila pelayanan tersebut
dapat menyembuhkan serta tindakan yang dilakukan aman.
[Link] Bentuk dan Jenis Pelayanan Kesehatan
Bentuk dan jenis pelayanan kesehatan penjabarannya sebagai erikut
(Aswar 1996:36) :
25
1. Pelayanan kedokteran
Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok pelayanan
kedokteran (medical servise) ditandai dengan cara pengorganisasian
yang dapat bersifat sendiri (solo practice) ataupun secara bersama-
sama dakam satu oganisasi (institution), tujuan utamnya untuk
menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatn, serta sasaran
utamanya untuk perseorangan dan keluarga
2. Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayan kesehatan yang termasuk dalam pelayanan kesehatan
kelompok pelayanan kesehatan masyarakat (public health service)
ditandai dengan cara pengorganisasian yang umumnya secara bersma-
sama dalam satu organisasi, tujuannya untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit, serta sasarnnya
terutama untuk kelompok dan masyarakat. Perbedaan lebih lanjut dari
kedua benuk pelayanan kesehatan diatas dapat dilihat dari rincian
Leavel dan Clark (dalam Azwar 1996:36-37) yang secara sederhana
dapat diuraikan pada tabel dibawah ini :
Tabel 2.1 Perbedaan Peayanan Kedokteran dan Pelayanan
Kesehatan Masyarakat
Pelayanan Kedokteran Pelayanan Kesehatan Masyarakat
1. Tenaga pelaksanaanya terutama 1. Tenga kesehatan terutama ahli
adalah para dokter kesehatan masyarakat
2. Perhatian utamnya pada 2. Perhatian utamanya pada
penyebuhan penyakit pencegahan penyakit
3. Sasaran utamanya adalah 3. Sasaran utamanya adalah
perseorangan atu keluarga masyarakat secara keseluruhan
26
Pelayanan Kedokteran Pelayanan Kesehatan Masyarakat
4. Kurang memperhatikan efisiensi 4. Selalu berupaya mecari cara yang
efisien
5. Tidak boleh menarik perhatian 5. Dapat menarik perhatian
karena bertentangan dengan etika masyarakat misalnya dengan
kedokteran penyukuhan kesehatan
6. Menjalankan fungsi perseorangan 6. Menjalankan fungsi dengan
dan terikat dengan undang-undang mengorgnisir masyarakat dan
mendapat dukungan undang-
undang
7. Penghasilah diperoleh dari imbal 7. Penghasilan berupa gaji dari
jasa pemerintah
8. Bertanggung jawab hanya pada 8. Bertanggung jawab pada seluuh
penderita masyarakat
9. Tidak dapat memonopoli upaya 9. Dapat memonopoli upaya kesehatn
kesehatan dan bahkan mendapat
saingan
10. Masalah administrasi amat 10. Menhadapi berbagai persoalan
sederhana kepemimpinan
2.3.2 Karkteristik Pelayanan Kesehatan
Menurut Evan dibandingkan dengan kebutuhan hidup manusia yang
lain, kebutuhan pelayanan kesehatan mempunyai tiga ciri utama yang
terjadi sekaligus dan unik yaitu : uncertainty, asymetri of information dan
externality. Ketiga ciri utama tersebut menyebabkan pelayanan kesehatan
sangat unik dibandingkan dengan produk atau jasa lainnya.
1. Uncertainty
Uncertainty atau ketidakpastian menunjukkan bahwa kebutuhan
akan pelayanan keehatan tidak bisa pasti, baik waktu, tempat maupun
besarnya biaya yang dibutuhkan. Dengan tidak kepastian ini sulit bagi
seseorang untuk menganggarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan
akan pelayanan kesehatannya. Penduduk yang penghasilannya rendah
27
tidak mampu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk memenuhi
kebutuhan yang tidak diketahui datangnya, bahkan penduduk yang
relatif berpendapatan memadai sekalipun seringkali tidak sanggup
memenuhi kecukupan biaya yang dibutuhan untuk memenuhi
kebutuhan medisnya. Maka dalam hal ini seseorang yang tidak miskin
dapat menjadi miskin atau bangkrut mana kala ia menderita sakit.
2. Asymetry of Information
Sifat kedua asymetry of information mnunjukkan bahwa
konsumen pelayanan kesehatan berada pada posisi yang lemah
sedangkan provider (dikter dan petugas kesehatan lainnya)
mengetahui jauh lebih banyak tentang manfaat dan kualitas pelayanan
yang dijualnya.
Ciri ini juga ditemukan oleh para ahli ekonoi kesehtan lain seperti
Feldstein, Jacos, Rappaport, dan Phelps. Dalam pelayanan kesehatan,
misalnya kasus ekstrim pembedahan, pasien hampir tidak memiliki
kemampuan untuk mengetahui apakah ia membutuhkan pelayanan
tersebut atau tidak. Kondisi ini sering dekenal dengan konsumen
ignorence atau konsumen yang bodoh, jangankan ia mengetahui
berapa harga dan berapa banyak yang diperlukan, mengetahui apakah
ia memerlukan tindakan bedah saja tidak sanggup dilakukan meskipun
pasien mungkin seorang profesor sekalipun.
28
3. Externality
Externality menunjukkan bahwa konsumsi pelayanan kesehatn
tidak saja mempengaruhi pembeli tetapi juga bukan pembeli.
Contohnya dalah konsumsi rokok yang mempunyai resiko besar pada
bukan perokok, akibat dari ciri ini, pelayanan kesehatan membutuhkan
subsidi daam berbagai bentuk, oleh karena pembiayaan pelayanan
kesehatan tidak saja menjadi tanggung jawab diri sendiri, akan tetapi
perlunya digalang tanggung jawab bersama (publik). Ciri unik
tersebut juga dikemukakan oleh beberapa ahli ekonomi kesehatan
seperti Feldstein.
2.3.3 Kesenjangan dan Hambatan Pelayanan
[Link] Kesenjangan Pelayanan
Model kualitas jasa pelayanan dikembangkan oleh Parasurraman,
Berry dan Zeitmal dalam Yamit (2001:25) yang berupaya untuk
mengurangi kesenjangan (gaps) pelayanan yang terjadi dan mencapai jalan
keluar untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kesenjangan
pelayanan tersebut.
Menurut Parasuraman, Zeithamal dan Berry dalam Nasution
(2001:70) membentuk model kualitas jasa yang menyoroti syarat-syarat
utama untuk membeikan kualitas jasa yang tinggi. Model ini
mengidentifikasikan lima kesenjangan yang mengakibatkan kegagalan
penyampaian jasa yang bermutu yaitu seagai berikut :
29
1. Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi manajemen.
Manajemen tidak selalu memahami secara tepa aa yang diinginkan
pelanggan. Pengurus rumah sakit munkin berfikir bahwa pasien
menginginkan makanan yang lebih baik, tetapi munkin pasien lebih
menginginkan daya tanggap perawat.
2. Kesenjangan antara persepsi manajemen dan spesifikasi kualitas jasa.
Manajemen mungin memahami secara tepat keinginan pelanggan,
tetapi tidak menetapkan suatu set standart kinerja spesific. Pengurus
rumah sakit menyuruh perawat untuk memberikan pelayanan yang
cepat “tanpa” menentukan secara kuantitatif.
3. Kesenjangan antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa.
Paa personil mungkin kurang terlaih atau tidak mampu atau tidak mau
memenuhi standart atau mereka dihadapkan pada standart yang
berlawanan, seperti menyediakan waktu untuk mendengakan para
pelanggan dan melayani mereka dengan cepat.
4. Kesenjangan antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal.
Harapan onsumen dipengahruhi oleh pernyataan yang dibuat paa
wakil perusahaan dan iklan perusahaan. Jika suatu brosur rumah sakit
memperlihatkan kamar yag indah, tetapi pasien tiba dan menemukan
kamar yang tampak murahan dan tak terawa, maka komunikasi
eksternal itu telah mendistrosi harapan pelanggan.
Kesenjangan antara jasa yang dialami dan jasa yang diharapkan.
Kesenjangan ini yang terjadi bila memiliki persepsi yang keliru tentang
30
kualitas jasa tersebut. Dokter mungkin terus mengunjungi pasien untuk
menunjukkan kepeduliannya teteapi pasien menganggapnya sebagai
indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
[Link] Hambatan Pelayanan
Persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan yang diberikan oleh
perusahaan maupun instansi pelayan umum merupakan dasar usaha
peningkatan kualitas pelayanan. Penelitian terhadap berbagai pihak yang
berkepentingan dengan jasa pelayanan menghasilkan berbagai faktor yang
menjadi penhambat peningkatan kualitas pelayanan (Yamit, 2001:32).
Faktor-faktor enghambat yaitu (1) kurang otoritas yang diberikan pada
bawahan, (2) terlalu birokrasi sehingga lambat dalam menanggapi keluhan
konsumen, (3) bawahan tidak berani mengambil keputusan sebelum ada
ijin atasan, (4) Petugas sering bertindak kaku dan tidak memberi jalan
keluar yang baik, (5) Peugas sering tidak ada tempat pada waktu jam kerja
sehingga sulit untuk dihubungi, (6) Banyak interest pribadi, (7) Budaya
tip, (8) Aturan main yang tidak terbuka dan tidak jelas, (9) Kurang
profesional, kurang terampil menguasai bidangnya, (10) Banya instansi
atau bagian lain yang terlibat, (11) Disiplin kerja sangat kurang dan tidak
tepat waktu, (12) Tidak ada keselarasan antar bagian lain yang terlibat,
(13) Kurang control seingga petugas agak “nakal”, (14) Belum ada syste
informasi manajemen (SIM) yang integrasi.
31
2.3.4 Kualitas Pelayanan Kesehatan
Menurut AV Feigennabaun dalam bukunya Total Quality Qontrol
dalam Aditama (2002:173) secara umum menyebutkan bahwa mutu
produk dan jasa didefinisikan sebagai keseluruhangabungan karakteristik
produk dan jasa dari pemasaran, rekayasa, pembuatan dan pemeliharaan
yang membuat produk dan jasa yang digunakan memenuhi harapan
pelanggan.
Philip Crosby dalam Yamit (2001:7) mempersepsikan kualitas sebagai
nilai cacat atau nilai kurang, kesempurnaan dan kesesuaian terhadap
persyaratan. Menurut Goetsch Davis dalam Yamit (2001:8) kualitas adalah
suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk jasa, manusia,
proes dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan, bukan hanya
menekankan pada aspek hasil akhir yaitu produk dan jasa tetai juga
menyangkut kualitas manusia, kualitas proses dan kualitas lingkungan
karena sangat tidak mungkin menghasilkan produk dan jasa yang
berkualitas tanpa melalui manusia dan proses yang berkualitas.
Sedangkan meurut Edward Deming (dalam Yamit 2001:7) kualitas
adalah apapun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen.
Tracendi dalam buku Cost Quality and Acces in Health Care (1988) dalam
Aditama (2002:172) mengatakan bahwa uang lingkup penilaian mutu atau
kualitas pelayanan sangat luas mulai dari kemungkinan derajat
kesempurnaan (perfectability) teknik intervensi klinik sampai pada
peranannya dalam menurunkan angka mortalitas. Ada yang berpendapat
32
bahwa mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit dapat dinilai dari
mortalitas, mortalitas operasi atau ada juga yang berpegang pada derajat
pemanfaatan tempat tidur dan atau juga yang berpegang pada drajat
pemanfaatan tempat tidur dan atau jumlah kunjungan ke poliklinik. Edlund
dan Tracendi (1995) dalam aditama (2002:172) menyatakan bahwa untuk
mengerti tentang mutu pelayanan kesehatan harus diajukan beberapa
pertanyaan seperti oleh siapa, untuk siapa dan untuk tujuan apa [elayanan
kesehatan diberikan.
Menurut Wijono (2003:3) kualitas produk atau jasa adlah seluruh
gabungan atau sifat-sifat produk atau jasa pelayanan dari pemasaran,
engineering, manufaktur, dan pemeliharaan dimana produk atau jasa
pelayanan dalam penggunaanya akan bertemu dengan harapan pelanggan.
Wijono (2000:33) menambahkan untuk pasien dan masyarakat, mutu
pelayanan berati emphatic, respek an tanggap akan kebutuhan, pelayanan
harus sesuai dengan kebutuhan mereka, diberikan dengan cara yang ramah
pada waktu mereka berkunjung. Pda umumnya mereka ingin pelayanan
yang mengurangi gejala secara efektif an mencegah penyakit, sehingga
mereka beserta keluarganya sehat dan dapat melaksanakan tugas mereka
sehari-hari tanpa gangguan fisik.
Sugiarto (1999:36) juga mengatakan bahwa mutu pelayanan sebagai
suatu tindakan seseorang terhadap rang lain melalu penyajian produk atau
jasa sesuai dengan ukuran yang berlaku pada produk atau jasa tersebut
untuk memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan orang lain yang
33
dilayani. Menurut Kotler (2006:273) kualitas adalah keseluruhan ciri serta
sifat barang dan jasa yang berpengaruh pada kemampuan memenuhi
kebutuhan yang dinyatakan mampu tersirat. Kualitas pelayanan kesehatan
adalah yang menunjukkan pada tingkat kesempurnaan pelayanan
kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. Makin
sempurna kepuasan tersebut makin baik pula mutu pelayanan kesehatan
(Azwar 1996:49).
Menuurut Sugiarto (1999:39) kualitas atau mutu dalam industry jasa
pelayanan adalah suatu enyajian produk atau jasa sesuai ukuran berlaku
ditempat produk tersebut diadakan dan penyampaiannya setidaknya sama
dengan yang diinginkan dan diharapkan oleh konsumen. Suatu mutu atau
kualitas dikatakan sangat baik jika penyedia jasa memberikan pelayanan
yang lebih rendah dari harapan pelanggan. Mutu atau kualitas disebut baik
jika penyedia jasa memberikan pelayanan yang setara dengan yang
diharapkan leh pelanggan. Sedangkan muu disebut jelek jika
pelangganmemperoleh pelayanan yang lebih rendah dari harapan.
Pelayanan terbaik pada pelanggan dan tingkat kualitas dapat dicapai secara
konsisten dengan memperbaiki pelayanan dan meberikan perhatian khusus
pada standart pelayanan internal maupun standart penilaian eksternal.
Dari hal diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
kualitas pelayanan kesehtan adalah pelayanan yang berkualitas yang
memberikan suatu jasa pelayanan kesehatan yang benar-benar sesuai
dengan kebutuhan pasien dan menunjukan pada tingkat kesempurnaan
34
pelayanan kesehatan kepada pasein. Bisa dikatakan juga merupakan
kesesuaian pemberian kebutuhan erhadap permintaan pasien akan jasa atau
pelayanan yang dihasilkan oleh industry jasa pelayanan, sehingga dapat
memberikan jaminan bahkan melebihi harapan konsumen. Penegrtian
kualitas pelayanan kesehatn ini menjadi lebih rumit karena pertimbangan
ekonomis, disatu pihak sam-sama disadari akan adanya hubungan antara
biaya yang dikeluarkan dengan kualitas yang dihasilkan, tetapi di pihak
lain tidak ada batasan yang tegas tentang sampai seberapa jauh derajat
kualitas perlu dicapai bila disesuaikan dengan pertimbangan anggaran
yang ada.
2.3.5 Aspek Kualitas Pelayanan Kesehatan
Bagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa termasuk jugaRumah
Sakit tentunya memuaskan kebutuhan pelanggan berarti peusahaan juga
harus memberikan pelayanan berkualitas kepada pelanggan. Mutu atau
kualitas pelayanan dapat diketahui apabila sebelunya telah dilaukan
penilaian, baik terhadap tingkat kesempurnaan, sifat, totalitas dari wujud
seta ciri atau pun terhadap standart yang teah ditetapkan. Dalam
kenyataanya melakukan penilaian ini tidaklah mudah Hal ini dikarenakan
mutu pelayanan tersebut bersifat multi-demensional yang artinya setiap
orang dapat saja melaukan penilaian yang berbeda-beda tergantung dari
lata belakang dan kepentingan masing-masing orang (Azwar 1996:48).
35
Penelitian yang dilakukan oleh Robert dan Pevost pada atahun 1987
(Azwar 1996:48-49) telah berhasil membuktikan adanya perbedaan
penilaian terhadap mutu dari beberapa dimensi yaitu :
1. Bagi pemakai jasa pelayanan kesehatan
Mutu pelayanan kesehatan lebih terkait pada dimensi ketanggapan
petugas memenuhi kebutuhan pasien, kelancaran komunikasi petugas
dengan pasien, keprihatinan serta keramah tamahan petugas dalam
melayani pasien dan atau kesembuhan penyakit yang sedang diderita
pasien.
2. Bagi penyelenggara pelayanan kesehatan
Mutu pelayanan kesehatan lebih terkait pada dimensi kesesuaian
pelayanan yang diselenggaraakan dengan perkembanagan ilmu dan
teknoligi muktakhir atau otonomi profesi dalam menyelenggarakan
pelayanan keehatan sesuai dengan kebutuhan pasien.
3. Bagi penyandang danan pelayanan kesehatan
Mutu pelayanan kesehatan lebih terkait pada dimensi efisiensi
pemakaian sumber dana, kewajaran pembiayaan kesehatan, dan atau
kemampuan pelayanan kesehatan mengurangi kerugian penyandang
dana pelayanan kesehatan.
Memperhatikan mutu sama halnya memperhatikan pengukuran
kualitas pelayanan jasa. Menurut Sugiarto (1999:66) berdasarkan
konsep Serqual (service quality), kualtas pelayanan pada dasarnya
36
adalah hasil persepsi pada pelanggan, pelanggan pada penelitian ini
adalah pasien. Menurut konsep ini dimensi kualitas terdiri dari :
a) Reliability
Aspek pelayanan secara langsung yang menggambarkan tentang
tingkat pengetahuan dan kemampuan melatih diri untuk mampu
melayani dengan sebaik-baiknya.
b) Responsiveness
Menggambarkan tentang tingkat kepekaan yang tinggi
c) Assurance
Bentuk pelayanan secara langsung yang menggambarkan tentang
tingkat pengetahuan dan keampuan melatih diri untuk mampu
melayani dengan sebaik-baiknya.
d) Empathy
Bentuk pehatian dalam pelayanan dengan kemampuan
memperhtikan dan memahai pasien dengan baik
Sedangkan menurut Parasuraman, Zeithamal dan Berry dala Nasution
(2001:70) mengatakan bahwa kualitas pelayanan ditentukan oleh lima
dimensi service quality yaitu Reliability, Responsiveness, Assurance,
Empathy dan Tangible yang dijelaskan sebagai berikut :
1. Reliability (keadaan/ kemampuan untuk mewujudkan janji)
Yaitu, kemampuan dari penyedia jasa untuk memberikan service yang
telah dijanjikan secara akurat, dapat dipercaya dan dapat diandalkan
kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera,
37
akurat dan memuaskan, jujur, aman, tepat wkatu, ketersediaan.
Keseluruhan ini berhubungan dengan kepercayaan terhadap pelayanan
dalam kaitannya dengan waktu.
2. Responsiveness (ketanggapan dala memberikan pelayanan)
Yaitu, kesedian penyedia jasa terutama sifatnya untuk membantu
konsumen serta memberikan pelayanan yang tepat sesuai kebutuhan
dan cepat memperhatikan dan mengatasi kebutuhan.
3. Assurance (keyakinan/ kemampuan untuk meberikan jaminana)
Yaitu, keauan penyedia jasa untuk membangkitkan rasa percaya dan
keyakinan diri konsumen bahwa pihak penyedia jasa terutama
pegawainya mampu memenuhi kebutuhan konsumennya. Mencakup
kemampuan, pengetahuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang
dimiliki pada karyawan, bebas dari bahaya, resik, keragu-raguan,
memiliki kompetensi, percaya diri dan menimbulkan keyakinan
kebenaran (obyektif).
4. Empathy (perhatian)
Yaitu, erhatian secara individual terhadap pelanggan seperti
kemudahan untuk berkomunikasi dengan para karyawan dan usaha
perusahaan memahami kebutuhan konsumen yang terwujud dalam
penuh perhatian terhadap setiap konsumen, melayani knsumen dengan
ramah dan menarik, memahami aspirasi konsumen, berkomunikasi
yang baik dan benar serta bersikap dengan penuh simpati.
38
5. Tangibles (tampilan fisik pelayanan)
Yaitu, penampilan fisik penyedia jasa seperti gedung, tata peralatan,
interior dan ekterior serta penampilan fisik dan personil penyedia jasa.
Ecara lebih rinci tangibles bisa meliputi fasilitas fisik, peralatan
pegawai, kebersihan (kesehatan), ruangan baik teratur rapi, berpakaian
rapi dan harmonis, penampiln karyawan atau peralatannya serta alat
komunikasi dan alat komunikasi.
Mengatasi erbedaan dimensi kualitas pelayanan, telah diperoleh
kesepakatan dalam membicarakan masalah mutu pelayanan kesehatan,
seharusnya pedoman yang dipakai adalah hakekat dasar dari
diselenggarakan pelayanan kesehatan tersebut. Memahami bahwa hakekat
dasar yang dimaksud adalah untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan para
pemakai jasa pelayanan kesehatan (health needs and demands), yang
apabila berhasil dipenuhi akan menimbulkan rasa puas (client satisfaction)
terhadap pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
Menurut Supranato (1997:270) hal-hal yang mempengaruhi pasien
dalam memilih rumah sakit sehubungan dengan kualitas pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit tersebut meliputi beberapa
aspek dan penjelasan indicatr pembentuknya, berikut penjelasannya.
1. Reliability
a. Prsedur penerimaan pasien yang cepat dan tepat
b. Pelayanan pemeriksaan, pengobatan dan perawatan yang cepat
dan tepat
39
c. Jadwal pelayanan rumah sakit dijalankan dengan tepat meliputi
waktu kunjungan dokter, perawatan, dan istirahat
d. Posedur pelayanan tidak berbelit-belit
2. Responsiveness
a. Kemampuan dokter dan perawat untuk cepat tanggap
menyelesaikan keluhan pasien
b. Petugas memberikan informasi yang jelas, mudah dimengerti
c. Tindakan cepat pada saat pasien membutuhkan
3. Assurance
a. Pengetahuan dan kemampuan para dokter menetapkan diagnosis
penyakit
b. Keteramilan para dokter perawat dan petugas lainnya dalam
bekerja
c. Pelayanan yang sopan dan ramah
d. Jaminan keamanan pelayanan dan kepercayaan terhadap
pelayanan
4. Empathy
a. Memberikan perhatian secara khusus kepada pasien
b. Perhatian terhadap keluhan pasien dan keluarga
c. Pelayanan kepada semua pasien tanpa memandang status sosial
5. Tangibles
a. Kebersihan, keterampilan dan kenyamanan ruangan
b. Penataan eksterior dan interior ruangan
40
c. Kelengkapan, kesiapan dan kebersihan alat-alat yang dipakai
d. Kebersihan dan kerapian, penampilan petugas
Dalam penelitian ini penjabarannya aspek kualitas pelayanan
kesehatan dari Suprananto diatas yang mengacu dari teori Parasuraman,
Zeithamal dan Berry oleh peneliti akan dijadikan sebagai aspek atau
dimensi dalam pembuatan skala kualitas pelayanan kesehatan pada
penelitian ini.
2.4 Rawat Jalan
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor
1165/MENKES/SK/2007/bab 1, pasal 1 ayat 4, “pelayanan rawat jalan
adalah pelayanan pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabiltas
medik dan pelayanan kesehatan lainnya tanpa menginap di Rumah Sakit.”
2.4.1 Jenis Pelayanan Rawat Jalan
1. Pelayanan gawat darurat (emergency services) yakni untuk menangani
pasien yang butuh pertolongan segera dan mendadak.
2. Pelayanan rawat jalan paripurna (conprehensive hospital outpatient
services) yaki yang memberikan pelayanan kesehatan paripurna sesuai
dengan kebutuhan pasien.
3. Pelayanan rujukan (refferal service) yakni hanya melayani pasien –
pasien rujukan oleh sarana kesehatn lain. Biasanya untuk diagnosis
atau terapi, sedangkan perawatan selanjutnya tetap ditangani oleh
sarana kesehatan yang merujuk.
41
4. Pelayanan bedah jalan (ambulatory surgery services) yakni
memberikan pelayanan bedah yang dipulangan pada hari yang sama.
2.5 Hubungan Kualitas Pelayanan Kesehatan dengan Kepuasan Pasien
Harapan, kebutuhan, emosional dan kinerja pelayanan kesehatan bagi
pasien merupakan bagian dari kepuasan pasien yang diyakini mempunyai
peranan yang besar dalam menentukan kualitas jasa pelayanan kesehatan.
Pada dasarnya ada hubungan yang erat antara penentuan kulaitas peayanan
kesehatan dan kepuasan pasien. Kepuasan pasien adalah sejauh mana
anggapan kinerja pelayanan kesehatan rumah sakit memenuhi harapan,
kebutuhan dari hasil kinerja yang menimbulkan reaksi emosional pada diri
pasien, bila kualitas pelayanan kesehatan rumah sakit memenuhi harapan,
kebutuhan dari hasil kinerja yang menimukan reaksi emosional pada diri
pasien, bila kualitas peayanan kesehatan yang diterima tidak sesuai dengan
kebutuhan pasien dan jauh dari harapan maka pasien akan kecewa,
sebaliknya bila yang diterima sama atau lebih dari kebutuhan dan
harapannya maka pasien akan puas.
Pelayanan rumah sakit dari pelayanan internal dan eksternal. Pelaynan
internal berkaitan dengan pelayanan eksternal Tjiptono (1997)
menguraikan bahwa kualitas pelayanan akan mendorong terwujudnya
tingkat kepuasan penerima jasa kualitas pelayanan tersebut. Penerima jasa
pelayanan dalam penelitian ini adalah pasien dan pelayanan kesehatan
yang berkualitas akan menciptakan kepuasan pasien. Jadi dapat dikatakan
42
bahwa kualitas pelyanan adalah faktor penentu tingkat kepuasan. Berikut
skema ang dapat menggambarkan :
Harapan Kualitas Pelayanan
Kepuasan
Kinerja yang pelanggan
Rintangan
dirasakan
Keluhan
Gambar 2.3 Model Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Pelanggan
Sumber : Tjiptono (1998)
Kualitas pelayanan merupakan penentu kepuasan pelanggan.
Selanjutnya Blomer (1998) melakukan kajian mengenai pengaruh kualitas
pelayanan terhadap kepuasan konsumen. Hasil penelitian menunjukkan
bhwa hubungan yang kuat antara dampak kualitas pelayanan terhadap
kepuasan konsumen.
Kepuasan pasien menjadi bagian yang integral dan menyeluruh dari
kegiatan jaminan kualitas pelayanan kesehatan artinya pengukuran tingkat
kepuasan pasien harus menjadi kegiatan yang tidak dapat diisahkan dari
pengukuran kualitas layanan kesehatan. Produk atau jasa pelayanan
kesehatan yang bisa memuaskan adalah produk dan jasa yang sanggup
memberikan sesuatu yang dicari oleh pasien, sampai tingkat cukup,
sebaliknya ketidakpuasan akan muncul apabila kinerja layanan kesehatan
yang diperoleh tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan sehingga
pasien akan kecewa.
43
Kepuasan yang dirasakan oleh pasien bukanlah sesuatu yang terjadi
dengan sendirinya. Kepuasan terjadi karena kebutuhan dan harapan yang
ada pada diri pasien tepenuhi. Kepuasan pasien merupakan dambaan setiap
umah sakit selaku tempat penyedia jasa pelayanan kesehatan. Kepuasan
pasien yang tinggi akan menimbulkan kepercayaan pada rumah sakit
sehingga pasien akan merasakan kepuasan dari setiap pelayanan kesehatan
yang diberikan oleh pihak rumah sakit.
Tjiptono (2006:54) juga mnyebutkan bahwa kepuasan konsumen
memiliki hubungan yang erat dengan kualitas. Kualitas memberikan suatu
dorongan kepada konsumen untuk menjalin ikatan hubungan yang kuat
dengan perusahaaan atau penyedia jasa. Dalam jangka panjang, ikaan
seerti ini memungkinkan erusahaan untuk memahami dengan seksama
haraan dan kebutuhan pelanggan. Pada akhirnya perusahaan dapat
meningkatkan kepuasan pelanggan dengan cara memaksimalkan
pengalaman konsumen yang kurang menyenagkan. Hal tersebut
menunjukkan bahwa antara pihak rumah sakit sebagai penyedia layanan
kesehatan, apalagi bagi pasien rawat inap yang pada dasarnya mereka
tinggal dirumah sakit lebih terasa yang berujung pada ada tidaknya
kepuasan yang dirasakan pasien selama proses pemberian peayanan
kesehatan.
44
2.6 Kerangka Teori
Kualitas pelayanan kesehatan mempengaruhi pasien dalam
menggunakan sebuah jasa. Untuk memenuhi kepuasan pasien, kualitas
pelayanan sangat penting dikelola dengan baik. Dengan kualitas pelayanan
kesehatan yang baik tentunya pasien akan merasa puas.
Kepuasan pasien dapat tercipta dengan adanya kualitas jasa pelayanan
kesehatan yang baik dengan kata lain semakin tinggi tingkat kualitas
pelayanan kesehatn semakin besar kepuasan pasien yang dirasakan dan
sebaliknya semakin rendah tingkat kualitas pelayanan kesehatan maka
semakin kecil kepuasan pasien. Setelah menerima pelayanan kesehatan,
pasien secara tidak langsung melakukan evaluasi atas jasa pelayanan
kesehatan yang mereka terima, antara kebutuhan, harapan, dengan kinerja
yang dirasakan yaitu kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan
yang pada akhirnya menimbulkan reaksi emosional pada diri pasien. Hal
ini selanjutnya menghasilkan suatu sikap berupa kepuasan setelah
membandingkan kinerja yang dirasakan dengan kebutuhan dan harapan.
Kualitas pelayanan kesehatan merupakan ukuran penilaian
menyeluruh atas suatu tingkat pelayanan kesehatan yang baik. Sedangkan
kepuasan pasien akan diketahui setelah pasien merasakan hasil dari
kualitas pelayanan yang diterima pakah sesuai dengan kebutuhan dan
harapan atau tidak. Untuk mengetahui tingkat kualitas pelayanan yang baik
dapat diwujudkan dengan bukti langsung (tangibles), keandalan (reability),
daya tanggap (resposivenes), jaminan (assurance), dan empati (emphaty).
45
Berdasarkan uaian diatas, jelas bahwa kualitas pelayanan kesehatan
memiliki hubungan dengan kepuasan pasien sebagai penerima jasa
pelayanan kesehatan. Untuk lebih jelasnya model huungan yang akan
diteliti dapat diperhatikan pada kerangka teori berikut :
Faktor Individiual
1. Kemampuan dan keahlan
2. Latar Belakang
3. Demografi
Faktor psikologi
1. Peseps
2. Attitude Kepuasan pasien terhadap
3. Personality pelayanan
4. Pembelajaran
5. Motivasi 1. Tingkat kepuasan
pelanggan secara
Faktor Organisasi keseluruhan (overall
satsfacation)
1. Sumber Daya 2. Kesesuain produk dan
2. Kepemimpinan
pelayanan yang ditawarkan
3. Penghargaan
4. Struktur dengan harapan pelanggan
5. Job Design (expectation)
3. Tingkat kepuasan
pelanggan selama menjalin
hubungan dengan institusi
Kualitas pelayanan
(exsperience)
1. Keberadaan (Availability)
2. Ketanggapan
(Responsivenes)
3. Kenyamanan
(convenience)
4. Tepat Waktu ( Timelimes)
Gambar 2.4 Kerangka Teori
46
Penjelasan :
1. Reliability (Keandalan) mencakup dua hal pokok, yaitukonsistensi
kerja (performance) dankemampuan untuk dipercaya (dependability).
Hal ini berarti organisasi jasa kesehatan memberikan jasanya secara
terpat semenjak saat pertama (right the first time). Selain itu juga
memenuhi janjinya, misalnya menyampaikan jasanya sesuai dengan
jadwal yang disepakati.
2. Responsiveness (Daya tanggap), yaitu kemauan atau kesiapan para
karayawan untuk memberikan jasa yang dibutuhkan pelanggan.
3. Assurance (Jaminan) yaitu pengetahuan, komponen antara lain
komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan
(security), kompetensi (competence) dan sopan santun (courtesy).
4. Emphaty (kesediaan) yaitu memberikan perhatian yang tulus dan
bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan
dengan berupaya memahami keinginan konsumen. Dimana suatu
perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang
pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta
memiliki waktu.
5. Tangibles yaitu buktu fisik dari jasan, bisa berupa fasilitas fisik,
peralatan yang dipergunakan (Berwujud).
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL
3.1 Kerangka Konseptual
Kerangka Konseptual penelitian menurut Soerjono Seto (2015), yaitu
suatu hubungan atau kaitan antara konsep suatu terhadap konsep yang
lainnya dari masalah yang diteliti. Kerangka konsep kerangka yang dapat
digunakan untuk menghubungan atau menjelaskan secara panjang lebar
tentang suatu topik yang akan dibahas.
Dimensi Pelayanan
Kesehatan :
1. Ketanggapan
2. Kenyamanan Kepuasan Pasien
3. Tepat Waktu
4. Jaminan
5. Kepedulian
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual
Keterangan :
Diteliti :
Tidak Diteliti :
47
48
Keterangan dari kerangka konseptual
1. Ketanggapan, yaitu penilaian responden tentang petugas medis dan
non medis bereaksi cepat terhadap permintaan responden yang terjadi
di Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun.
2. Kenyamanan, yaitu penilaian responden tentang perilaku dan gaya
profesional petugas medis dan non medis yang tepat selama bekerja
dengan responden.
3. Tepat Waktu yaitu penilaian responden terhadap pekerjaan petugas
medis dan non medis dalam melaksanakan pekerjaanya dengan waktu
yang sesuai dengan pernjanjian.
BAB 4
METODE PENELITIAN
Metode penelitin adalah sesuatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu
pengetahuan dan pemecahan suatu masalah pada dasarnya menggunakan metode
ilmiah. Pada metode peneltian akan mengurangi tentang desain penelitian,
populasi, dan sampel, teknik sampling, kerangka kerja penelitian, identifikasi
variabel, definisi operasional, instrumen peneltian, uji validitas dan uji reliabilitas,
lokasi dan waktu penelitian, analsis data dan etika penelitian (Notoatmojo, 2010).
4.1 Desain Penelitian
Penelitan ini merupakan jenis peneltian observasional dengan analisis
deskriptif. Metode deskriptif yaitu prosedur pemecahan masalah dengan
menggambarkan keadaan objek pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta
sebagaimana adanya, kemudian dianalisis dan diienterpresentasikan.
Bentuknya berupa survey, stud korelasi dan studi perkembangan (Abd.
Nasir,dkk 2014).
4.2 Populasi
Populasi dapat didefinisikan sebagai semua nilai baik hasil
perhitungan maupun pengukuran, baik kuantitatif dari karakteristik
tertentu mengenai sekelompok objek yang lengkap dan jelas menurut
Husaini Usman (2006).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan yang
berada di RS Paru Manguharjo Madiun. Populasi dalam penelitian ini
49
50
dikatakan sebagai populasi finit (terhingga) yaitu poulasi yang dapat
diukur dan sumber data jelas secara kuantitatif. Berdasarkan data yang
diperoleh dari RS Paru Manguharjo Madiun pada bulan Mei 2020, jumlah
pasien rawat jalan sebanyak 473 orang.
Sampel dapat didefinisikan sebagai sebagian objek yang diambil dari
keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi
menurut Notoatmodjo (2008).
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin
mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterlibatan
dana dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil
dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan
dapat diberlakukan untuk populasi. Sampel yang diambil dari populasi
harus benar-benar representative. (Sugiyono, 2010).
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien rawat jalan yang berada di
RS Paru Manguharjo Madiun pada tahun 2019, dengan kriteria sebagai
berikut :
1. Kriteria Inklusi merupakan kriteria atau ciri-ciri yang harus dipenuhi
setiap masing-masing anggota populasi yang akan dijadikan sampel.
a. Insklusi : Kualitas pelayanan dan kepuasan pasien rawat jalan di
Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun pada tahun 2020
2. Kriteria Eksklusi merupakan kriteria atau ciri-ciri anggota populasi
yang tidak bisa dijadikan sebagai sampel penelitian.
51
a. Ensklusi : Kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah
kualitas pelayanannya, yaitu daya tanggap, tepat waktu, dan
kenyamanan dalam pasien rawa jalan di Rumah Sakit Paru
Manguharjo Madiun.
3. Penentuan besar sampel
Keterangan :
n= Ukuran Sampel
N = Ukuran Populasi
e= Kelonggaran ketidaktelitian karen keslahan pengamilan sampel
yang ditolelir ([Link], dkk 2011)
n = 45
Jadi besar sampel yang digunakan peneliti untuk dilakukannya
penelitian adalah 45 sampel.
52
4.3 Kerangka Kerja Penelitian
Kerangka kerjadalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Populasi
Populasi pasien RS Paru Manguharjo Madiun Bulan Mei 2020 pada rawat jalan
sebanyak 473 orang.
Sampel
Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 45 responden
Teknik Sampling
Purposive Sampling
Variabel
Dependen (Kepuasan Pasien)
Pengumpulan Data
Data primer untuk mengetahui data angka jumlah pasien rawat jalan yang masuk,
dan data primer melalui wawancara dengan menggunakan Lembar Kuesioner
Pengolahan Data
Editing, Coding, Scoring, Tabulating
Penyajian Hasil dan Kesimpulan
Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian Gambaran Kepuasan Pasien di Rawat
Jalan RS Paru Madiun Tahun 2020.
53
4.4 Variabel Penelitian dan Definis Operasional
4.4.1 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah penjelasan tentang bagaimana suatu
variabel akan diukur serta alat ukur apa yang digunakan untuk
mengukurnya (Rosjidi, 2013). Definisi operasionl dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
Berikut dijabarkan definisi operasional dari variabel yang akan diteliti.
Tabel 4.1 Definisi Operasional
No Variabel Definisi Parameter Instrumen Skala Skor / Kriteria
1. Variabel: Perasaan senang 1. Ketanggapan Kuesioner Ordinal 1 = Tidak Puas <72%
atau kecewa 2. Kenyamanan 2 = Puas ≥ 72 %
Kepuasan pada responden 3. Tepat Waktu
Pasien yang berasal (Perhitungan
dari menggunakan Skala
perbandingan Linkert)
antara kinerja
(atau hasil)
suatau produk
dengan harapan
yang diinginkan
4.5 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan
oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan
tersebut menjad sistematis dan dipermudah olehnya (Arikunto, 2013).
Instrumen yang digunakan dalam penelitan ini adalah observasi, kuesoner
dan wawancara. Observasi adalah cara mengumpulkan data atau
keterangan yang harus dijalankan dengan melakukan usaha usaha
pengamatan secara langsung ketempat yang akan diteliti. Kuesioner adalah
suatu cara pengumpulan data atau suatu peneltian mengenai suatu masalah
54
yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak).
Kuesioner dilakukan dengan mengedarkan suatu daftra pertanyaan yang
berupa formulr yang diberkan kepada sejumlah sebyek untuk mendaptkan
informasi dan jawaban. Wawancara adalah suatu metode yang
dipergunakan untuk pengumpulan data dengan mendapatkan keterangna
atau informasi secara lsan antara penelti dengan responden atau bercakap
cakap berhadap maka secara langsung dengan responden (Notoatmojo,
2012).
4.6 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun.
Waktu penelitian dilakukan mulai dari bulan Juni-Juli 2020.
Tabel 4.2 Kegiatan Penelitian
Tanggal
No Kegiatan
Pelaksanaan
1. Pembuatan dan Konsul Judul 8 Januari 2020
2. Penyusunan dan Bmbingan Proposal 14 Januari 2020
3. Ujian Proposal 6 Maret 2020
4. Revisi Proposal 28 April – 16 Mei 2020
5. Validtas Kuesioner 20 Mei 2020
6. Pengambilan Data 28 Mei 2020
7. Penelitan, Penyusunan dan Konsul Skripsi 5 Juni – 11 Juli 2020
8. Ujian Skripsi 25 Juli 2020
9. Revisi Skripsi 27 Agustus 2020
4.7 Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data menurut Sugiyono (2012), yaitu langkah yang
paling utama dalam proses penelitian, karena tujuan utama dari penelitian
55
adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan data tersebut adalah teknik
data mana yang paling tepat, sehingga benar-benar didapat data yang valid
dan reliable. Pada penelitian kuantitatif, pengolahan data secara umum
dilaksanakan dengan melalui tahap pemeriksaan (editing), proses
pemberian identitas (coding) dan proses pembeberan (tabulating) (Bungin,
2005).
a. Pemeriksaan Data (Editing)
Editing adalah kegiatan yang dilaksanakan setelah peneliti selesai
menghimpun data di lapangan. Kegiatan ini menjadi penting karena
kenyataannya bahwa data yang terhimpun kadang kala belum
memenuhi harapan peneliti, ada di antaranya kurang atau terlewatkan,
tumpang tindih, berlebihan bahkan terlupakan.
b. Pemberian Kode (coding)
Coding merupakan kegiatan merubah data ke dalam bentuk yang lebih
ringkas dengan menggunakan kode-kode tertentu. Maksudnya bahwa
data yang telah diedit tersebut diberi identitas sehingga memiliki arti
tertentu pada saat dianalisis.
1. Kualitas Pelayanan
a. Tidak baik :1
b. Cukup baik :2
c. Baik :3
2. Kepuasan Pasien
a. Tidak puas :1
56
b. Cukup puas :2
c. Puas :3
c. Pemberian Nilai (Scoring)
Pada tahap ini dilakukan pemberian skor atau nilai terhadap jawaban
responden dari pertanyaan dalam kuisioner.
1. Kategori kualitas pelayanan
a. Sangat setuju :1
b. Setuju :2
c. Kurang setuju :3
d. Tidak setuju :4
e. Sangat Tidak Setuju :5
2. Kategori kepuasan pasien
a. Sangat setuju :1
b. Setuju :2
c. Kurang setuju :3
d. Tidak Setuju :4
e. Sangat Tidak Setuju : 5
d. Tabulasi (Tabulating)
Tabulating merupakan proses pengolahan data yang bertujuan untuk
membuat tabel-tabel yang dapat memberikan gambaran statistik
sehingga dapat dihitung jumlah kasus dalam berbagai kategori.
57
4.8 Analisis Data
Data yang sudah diolahkemudian dianalisis untuk memperoleh
kesimpulan secara umum dari peneltian. Analisis data dalam penelitian ini
yakni :
1. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menjelaskan atau mendiskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian. Pada umumnya analisis
univariat mengahasilkan distribusi frekuens dan presentasi dari setiap
variabel (Notoatmodjo, 2012). Pada penelitian ini yang akan dianalisis
univariat adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan, daya tanggap,
kenyamann, dan tepat waktu.
4.9 Etika Penelitian
Hal yang dipelukan oleh seseorang peneliti antara lain :
1. Plagiarisme
Tindakan mengintip ide orang lain tanpa mengakui/ menyebutkan
sumbernya. Merupakan dosa terbesar dalam dunia akademik.
2. Manipulasi Penelitian
Meliputi tindakan peneliti yang memalsukan, mengarang, atau
menciptakan data sendiri sesuai dengan keinginan peneliti. Atau
melaporkan desain sudi yang tidak sesuai dengan kenyataan yang
bersangkutan.
58
3. Identitas Pribadi dan Plaku /Objek Penelitan Identitas pribadi pelaku
pada objek yang diteliti perlu dirahasiakan demi melindungi karier,
pergaulan, privasi maupun status sosial yang bersangkutan.
4. Akses ke objek penelitian
Jika objek yang diteliti menyangkut properti pribadi maka izin dari
pemilik properti diperlukan demi menghomati hak milik orang lain.
Dalam hal ii ada 2 jenis penelitian yaitu penelitian yakni covert study
dan overt study. Covert study adalah peneliian yang dilakukan
merahasiakan status peneliti dan aktivitas penelitian itu sendiri
terhadap pelaku/objek penelitian dengna tujuan memeperoleh data
yang lebih ilmiah. Overt study penelitian yang dilakukan dengan atas
sepengatahuan pelaku/objek yang diteliti.
5. Independensi Penelitian
Peneliti harus dijaga independensinya sebagai wujud
penanggungjawaban profesionalisnya.
6. Pelecehan terhadap Pelaku dan Objek Penelitian
Peneliti harus dapat menghindari pelecehan, baik disengaja maupun
tidak terhadap pelaku dari objek yang diteliti.
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum RS Paru Manguharjo Madiun
Rumah Sakit Tuberkulosa Paru (RSTP) Manguharjo merupakan
rumah sakit tipe C milik Pemerintah yang terletak di wilayah Madiun,
Jawa Timur. Rumah Sakit ini memiliki layanana unggulan dalam bidang
kesehatan paru dan pernapasan yang didukung oleh layanan dokter
spesialis serta ditunjang dengan fasilitas medis lainnya. RSPM terletak di
Jalan Yos Sudarso No. 108-112 Madiun.
Bermula pada 1 Oktober 1962, telah berdiri Tuberculosis Center, yang
kemudian berganti menjadi Balai Pengbatan Penyakit Paru-paru di tahun
1985. Tahun 2000 diubah kembali menjadi Balai Pemberantasan dan
Pengobatan Penyakit Paru (BP4) Madiun.
Saat otonomi daerah mulai dijalankan melalui Perda Provinsi Jawa
Timur Nomor 37 Tahun 2000, serta berdasarkan Pergub 118 tentang
Organisasi dan Tata Kerja PelaksanaTeknis Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur, BP4 Madiun menjadi UPT Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Timur. Hingga pada tanggal 12 Desembar 2012 menurut SK Gubernur
Jawa Timur No. 118/765/KPTS/013/2012, BP4 madiun ditetapkan sebagai
Badan Layanan Umum Daerah Unit Kerja.
Berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 68 Tahun 2014
tentang Perubahan Kedua atas Pergub Nomor 118 Tahn 2008 tentang
59
60
Organisasi dan Tata Kerja UPT Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur,
tugas dan fungsi (Tupoksi) BP4 Madiun mengalami perubahan, sehingga
BP4 Madiun berubah menjadi Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun
(RSPM) Madiun (Peratuan Gubernur Jawa Timur No. 32 Tahun 2015
Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Timur). Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun
terletak di jalan Yos Sudarso No. 108-112 Madiun.
5.2 Karakteristik Responden
5.2.1 Data Umum
Data umum menyajikan karakteristik responden berdasarkan jenis
kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan pekerja. Karakteristik responden
dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Jenis Kelamin.
No Jenis Kelamin Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Laki-laki 18 40,0
2 Perempuan 27 60,0
Total 45 100,0
Sumber : Data Primer Penelitian tahun 2020
Berdasarkan hasil tabel 5.1 diatas menunjukkan bahwa sebagian
besar reponden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 27 orang
(60,0%).
61
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Usia.
No Usia Frekuensi (F) Persentase (%)
1 26-35 tahun 15 33,3
2 36-45 tahun 7 15,6
3 46-55 tahun 15 33,3
4 56-65 tahun 4 8,9
5 ≥65 tahun 4 8,9
Total 45 100,0
Sumber : Data Primer Penelitian tahun 2020
Berdasarkan hasil tabel 5.2 diatas, dapat disimpulkan bahwa
sebagian besar responden berusia 26-35 tahun dan 46-55 tahun yaitu
masing-masing sebanyak 15 orang (33,3%).
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Tingkat Pendidikan.
No Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
(F)
1 Tamat Pendidikan Dasar 7 15,6
2 Tamat Pendidikan 30 66,7
Menengah
3 Tamat Pendidikan Tinggi 8 17,8
Total 45 100,0
Sumber : Data Primer Penelitian tahun 2020
Berdasarkan hasil tabel 5.3 diatas, menunjukkan bahwa sebagian
besar responden memiliki tingkat pendidikat menengah yaitu
sebanyak 30 orang (66,7%).
62
4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Pekerjaan.
No Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
(F)
1 Tidak/Belum Bekerja 2 4,4
2 IRT 17 37,8
3 Pedagang/Wirausaha 8 17,8
4 Petani 5 11,1
5 Pensiunan/PNS 7 15,6
6 TNI/POLRI 3 6,7
7 Lain-lain (Sopir,
Pegawai Toko,
3 6,7
Karyawan Swasta,
Buruh Tani)
Total 45 100,0
Sumber : Data Primer Penelitian tahun 2020
Berdasarkan hasil tabel 5.4 diatas, dapat disimpulkan bahwa
sebagian besar responden memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah
tangga yaitu sebanyak 17 orang (37,8%).
5.2.2 Data Khusus
Data khusus merupakan data yang menyajikan karakteristik responden
berdasarkan variabel bebas yaitu kualitas pelayanan dan variabel terikat
yaitu kepuasan pasien. Karakteristik responden dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Ketanggapan
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Ketanggapan
No Ketanggapan Jumlah Persentase (%)
1 Tidak Puas 23 51,1
2 Puas 22 48,9
Total 45 100,0
Sumber : Data Primer Penelitian 2020
63
Berdasarkan tabel 5.5 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian
besar responden merasakan ketanggapan yang tidak puas yaitu
sebanyak 23 orang (51,1%).
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Kenyamanan
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Kenyamanan
No Kenyamanan Jumlah Persentase (%)
1 Tidak Puas 19 42,2
2 Puas 26 57,8
Total 45 100,0
Sumber : Data Primer Penelitian 2020
Berdasarkan tabel 5.6 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian
besar responden merasakan kenyamanan yang puas yaitu sebanyak 26
orang (57,8%).
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Tepat Waktu
Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Tepat Waktu
No Tepat Waktu Jumlah Persentase (%)
1 Tidak Puas 21 46,7
2 Puas 24 53,3
Total 45 100,0
Sumber : Data Primer Penelitian 2020
Berdasarkan tabel 5.7 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian
besar responden merasakan ketepatan waktu yang puas yaitu sebanyak
24 orang (53,3%).
64
5.3 Pembahasan
5.3.1 Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Paru Manguharjo Kota Madiun
1. Kepuasan Pasien Pada Aspek Kenyamanan
Berdasarkan indikator kenyamanan (tangible) sebagian besar
responen merasapuas pada aspek kenyamanan yaitu sebanyak 26
orang (57,8%).
Menurut Parasuraman, et al dalam Prabanastiti (2018) tangible
(bukti langsung) adalah wujud kenyataan secara fisik yang meliputi
penampilan dan kelengkapan fasilitas fisik seperti ruang perawatan,
gedung, tersedianya tempat parkir kebersihan, kerapian, dan
kenyamanan ruangan tunggu dan ruang pemeriksaan, kelengkapan
peralatan komunikasi dan penampilan.
Berdasarkan hasil penelitian dilapangan pada aspek kenyamanan
diketahui bahwa paien merasa puas terhadap fasilitas pelayanan yang
diberikan oleh pihak Rumah Sakit Paru Manguharjo Kota Madiun.
Adapun fasilitas yang diberikan yaitu ruang tunggu pasien yang bersih
dan nyaman, ruang pemeriksaan yang bersih dan didukung dengan
peralatan yang cukup lengkap, serta laboratorium yang sudah
memadai. Adapun beberapa pasien yang kurang merasa nyaman yaitu
tempat parkir pengunjung rumah sakit yang jaraknya sedikit jauh
dengan pusat pelayanan rawat jalan. Oleh karena itu sebaiknya Rumah
Sakit Paru Manguharjo Kota Madiun perlu meninjau ulang khususnya
pada pelayanan tempat parkir pengunjung rumah sakit yang bertujuan
65
untuk meningkatkan pelayanan sehingga dapat sesuai dengan harapan
dan keinginan pasien saat melakukan pengobatan sehingga dapat
mempengaruhi pada kepuasan pasien dalam meningkatkan rasa aman
dan percaya terhadap pelayanan.
2. Kepuasan Pasien Pada Aspek Ketanggapan
Berdasarkan indikator ketanggapan sebagian besar responen
merasa tidak puas pada aspek ketanggapan yaitu sebanyak 23 orang
(51,1%).
Menurut Parasuraman, et al dalam Prabanastiti (2018)
responsiveness (daya tanggap) adalah Respon atau kesigapan serta
kemampuan untuk membantu pelanggan dan meningkatkan kecepatan
pelayanannya. Dimensi ini juga dapat menunjukkan kesiapan pekerja
untuk melayani pelanggan.
Harapan pelanggan terhadap kecepatan pelayanan cenderung
meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan kemajuan teknologi
dan informasi kesehatan yang dimiliki oleh pelanggan. Pelayanan
kesehatan yang responsive terhadap kebutuhan pelanggannya
kebanyakan ditentukan oleh sikap para front-line staff. Mereka secara
langsung berhubungan dengan para pengguna jasa dan keluarganya,
baik melalui tatap muka, komunikasi non verbal, langsung atau
melalui telepon (Muninjaya, 2010).
Berdasarkan gambaran dilapangan pada aspek ketanggapan yaitu
diketahui bahwa pasien merasa tidak puas karena beberapa petugas
66
dari rumah sakit jarang memberikan informasi mengenai keluhan dari
pasien dan beberapa dari petugas kesehatan juga kurang ramah
terhadap pasien, dokter juga jarang memberikan penjelasa tentang
panyakit yang dialami pasien, untuk pengambilan obat dipelayanan
farmasi sedikit lambat. Hal seperti ini yang dapat menyebabkan pasien
merasa tidak dihargai dan diperhatikan oleh pihak rumah sakit.
Namun pasien merasa puas pada sistem administrasi yang dilakukan
rumah sakit sangat baik dan cepat dan petugas dari bagian
administrasi juga ramah. Diharapkan pihak Rumah Sakit lebih
memperhatikan dan meningkatkan kualitas kinerja dari petugas
kesehatan dan pelayanan farmasi agar pasien merasa dirinya benar-
benar puas dan nyaman apabila berobat di Rumah Sakit Paru
Manguharjo Kota Madiun sehingga menimbulkan rasa untuk ingin
berobat kembali ditempat yang sama.
3. Kepuasan Paisen Pada Aspek Tepat Waktu
Berdasarkan indikator tepat waktu sebagian besar responen
merasa puas pada aspek tepat waktu yaitu sebanyak 24 orang (53,3%).
Menurut Parasuraman, et al dalam Prabanastiti (2018) reliability
(kehandalan) adalah dimensi ini menunjukkan kemampuan untuk
memberikan pelayanan dengan sesuai janji yang ditawarkan. Penilaian
ini berkaitan dengan ketepatan waktu pelayanan waktu mengurus
pendaftaran, waktu pengobatan/pemeriksaan, kesesuaian antara
harapan dan realisasi waktu bagi pasien.
67
Berdasarkan penelitian dilapangan dapat diketahui bahwa paien
merasa puas karena dokter selalu datang sesuai jadwal yang telah
diberikan pihak Rumah Sakit dan waktu tunggu antrian pendaftaran
rawat jalan sampai kepemeriksaan kurang dari 1 jam, jadi pasien puas
karena pelayanan cepat dan pasien tidak merasa bosan menunggu
untuk dipanggil pada saat pemeriksaan. Sebaiknya pihak Rumah Sakit
Paru Kota Madiun tetap mempertahankan disiplin kerja kepada para
petugas kesehatan agar tepat waktu dalam melakukan pemeriksaan
pasien sehingga menciptakan kepuasan pasien terhadap sistem
pelayanan kesehatan yang tepat waktu dan membuat pasien merasa
diperhatikan oleh pihak Rumah Sakit Paru Manguharjo Kota Madiun.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian tentang gambaran
kepuasan pasien rawat jalan 1 bulan sebelumnya di Rumah Sakit Paru
Manguharjo Madiun dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Kepuasan pasien pada aspek kenyamanan adalah sebagian besar
responen merasapuas pada aspek kenyamanan yaitu sebanyak 26 orang
(57,8%).
2. Kepuasan pasien pada aspek ketanggapan adalah sebagian besar
responen merasa tidak puas pada aspek ketanggapan yaitu sebanyak 23
orang (51,1%).
3. Kepuasan pasien pada aspek tepat waktu adalah sebagian besar
responen merasa puas pada aspek tepat waktu yaitu sebanyak 24 orang
(53,3%).
6.2 Saran
1. Bagi Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun
Diharapkan petugas Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun lebih
meningkatkan kualitas pelayanan terutama pada kualitas kinerja dari
petugas kesehatan dan pelayanan farmasi. Sehingga dapat
meningkatkan kepuasan pada pasien yang nantinya akan berdampak
68
69
pada kembalinya pasien untuk datang lagi berobat ke Rumah Sakit Paru
Manguharjo Madiun.
2. Bagi STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun
Penelitian ini diharapkan agar dapat menjadi referensi dan
membantu dalam pengerjaan tugas akhir mahasiswa ditahun
selanjutnya.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti menyarankan untuk melakukan penelitian lagi dengan
menggunakan variabel-variabel lain dan menggunakan metode
penelitian dengan desain case control.
70
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, Azrul. 2016. Pengantar Administrsai Kesehatan, Edisi Ketiga. Jakarta :
Binaupa Aksara.
Andriyani, S dkk. 2013. Hubungan Kualitas Pelayanan Kesehatan dengan
Kepuasan Pasien Rawat Inap di Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit
Umum Daerah Kabupaten Magelang. Jurnal. Departemen Ilmu Kesehatan
Masyarakat Universitas Islam Indonesia Jogjakarta [serial online]
[Link]
equ ence=1. [25 September 2014]
Athiyyah, N. 2011. Kepuasan Pasien Rawat Jalan Terhadap Pelayanan
Kesehatan.
Puskesmas Di Kabupaten Jember. Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga
Data Penelitian Primer tahun 2020
Hasbina Wildani, dkk. 2019. Hubungan Kualitas Pelayanan Kesehatan Rawat
Jalan dengan Tingkat Kepuasan Pasien Peserta Jaminan Kesehatan
Nasional di RSU Muhammadiyah Sumatera Utara. Jurnal Komunitas
Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 2, Januari 2020
Kumalasari, N. 2013. Hubungan Kualitas Pelayanan Rawat Inap dengan Tingkat
Kepuasan Pasien di Bangsal Mawar I RSUD MOERWADI SURAKARTA.
KTI. Universitas Sebelas Maret. [serial online]
[Link]
Notoatmodjo, S. 2015. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta Pusat: Rineka
Cipta.
Risaldy, Yudhistira. 2018. Hubungan Perilaku Caring Perawat Dengan Loyalitas
Pasien Rawat Inap Rumah Sakit [Link] Kota Madiun. Skripsi. STIKES
Bhakti Husada Mulia Madiun.
Silvia Agustina, dkk. 2019. Pengaruh Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan
Pasien di Rawat Jalan Penyakit Dalam RSUD DR. Djoelham Binjai. Jurnal
Kesmas Jambi Vol. 3, No. 1, September 2019.
Suyanto, B. 2012. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Kencana.
Mansur, T. (2016). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan Publik
pada Bagian Bina Sosial Setdako Lhokseumawe. [Tesis Ilmiah]. Medan:
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
71
Nursalam. 2015. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
professional. Jakarta: Salemba Medika
Profil Rumah Sakit Paru Manguharjo Kota Madiun, 2020.
Puti, W. C. (2013). Pengaruh Kualitas Pelayanan dan kepuasan terhadap
Loyalitas Pasien Rawat Jalan dan Rawat Inap Rumah Sakit Otorita Batam.
[Skripsi Ilmiah].
sumber:[Link]
[Link]
Purwoastuti, Endang dan Walyani, Elisabet Siwi. 2015. Mutu Pelayanan
Kesehatan dan Kebidanan. Jakarta : Pustaka Baru Press
Prabanastiti, Sekarwidya. 2018. Analisis Perbedaan Persepsi terhadap Mutu
Pelayanan Antara Pasien BPJS Dan Non-BPJS di Ruang Rawat Inap
Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Aisyah Madiun. Skripsi. STIKES Bhakti
Husada Mulia Madiun.
Wasbrook dan Reilly dalam Tjiptono 2005:349. Definisi yang sama dan juga
mendukung penegrtian kepuasan pelanggan dari para tokoh sebelumnya,
diungkapakan
Day (dalam Tjiptono 2005:349) berpendapat bahwa kepuasan pelanggan
merupakan penilaian evaluatif setelah melakukan pembelian sehubungan
dengan pembelian khusus.
72
LAMPIRAN 1 Surat Ijin Pengambilan Data
73
LAMPIRAN 2 Surat Balasan Pengambilan Data Awal
74
LAMPIRAN 3 Surat Uji Validitas dan Reabilitas
75
LAMPIRAN 4 Surat Balasan Uji Validitas dan Reabilitas
76
LAMPIRAN 5 Surat Ijin Penelitian
77
LAMPIRAN 6 Surat Balasan Ijin Penelitian
78
LAMPIRAN 7 Alur Pelayanan Pasen Rawat Jalan
Alur Pelayanan Rawat Jalan Menurut Dirjen Yanmed Depkes RI ( 1997:26 )
1. Datang sendiri
2. Dokter Praktek Tempat Penerimaan
3. Rujukan Puskesmas Pasien Rawat Jalan
4. Rujukan RS Lain
Pernah Berobat
1. Ya Pemberian
Follow Up Rawatan nomor rekam
2. Tdak
medis
Dirawat Di rujukan ke
Poliklinik rumah sakit
Pendaftaran Perlu berobat ulang
dirawat/ dirujuk PULANG
79
LAMPIRAN 8 Kuesioner Penelitian
KUESIONER PENELITIAN
GAMBARAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN SELAMA 1 BULAN DI
RUMAH SAKIT PARU MANGUHARJO MADIUN
TAHUN 2020
Data Umum
Petunjuk untuk data umum
Tanggal pengisian :
1) Nama :
2) Jenis Kelamin :
3) Umur :
4) Pendidikan Terakhir :
a. Tingkat Pendidikan Rendah
b. Tingkat Pendidikan Menengah
c. Tingkat Pendidikan Tinggi
5) Pekerjaan :
a. Tidak/Belum Bekerja
b. IRT
c. Pedagang/Wirausaha
d. Petani
e. Pensiunan/PNS
f. TNI/POLRI
g. Lain-Lain
A. VARIABEL TERIKAT ( KEPUASAN PASIEN)
Berikan tanda ceklis (√) untuk setiap pernyataan dibawah ini sesuai dengan
penilaian bapak/ibu/sdr/i terhadap pelayanan instalansi rawat jalan pada
kolom:
1. Sangat Tidak Puas
2. Tidak Puas
3. Kurang Puas
4. Puas
5. Sangat Puas
Jawaban
No Pertanyaan
STB TB KB B SB
Ketanggapan
1. Petugas penunjang (parkir, satpam, laboratorium,
gizi, farmasi) segera menjawab atau merespon
untuk melayani dan saat saya bertanya
2. Petugas administrasi (loket pendaftaran,
administrasi pasien) cepat menjawab atau merespon
untuk melayani dan saat saya bertanya
3. Petugas medis (dokter, bidan, perawat) cepat
menjawab atau merespon untuk melayani dan saat
saya bertanya
Kenyamanan
4. Petugas penunjang (parkir, satpam, laboratorium,
gizi, farmasi) melayani sesuai dengan kebutuhan
saya
5. Petugas administrasi (loket pendaftaran,
administrasi pasien) melayani sesuai dengan
kebutuhan saya
6. Petugas medis (dokter, bidan,perawat) melayani
sesuai dengan kebutuhan saya
7. Petugas penunjang (parkir, satpam, laboratorium,
gizi, farmasi) bersikap baik dan ramah
8. Petugas administrasi (loket pendaftaran,
administrasi pasien) bersika baik dan ramah.
Tepat Waktu
9. Petugas penunjang (parkir, satpam, laboratorium,
gizi, farmasi) melaksanakan tugas sesuai dengan
janji yang disepakati
10. Petugas administrasi (loket pendaftaran,
administrasi pasien) melaksanakan tugas sesuai
janji yang disepakati
80
81
LAMPIRAN 9
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada
Yth. Calon Responden Penelitian
Di Tempat
Dengan hormat,
Saya mahasiswa Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat di STIKES
Bhakti Husada Mulia Madiun, mengadakan penelitian ini sebagai salah satu
kegiatan untuk menyelesaikan tugas Akhir Program Studi Sarjana Kesehatan
Masyarakat di STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui “Gambaran Kepuasan Pasien
Rawat Jalan Di Rumah Sakit Paru Manguharjo Madiun”.
Saya mengharapkan jawaban yang saudara berikan sesuai dengan
kenyataan yang ada. Saya menjamin kerahasiaan jawaban serta informasi yang
diberikan hanya akan dipergunakan untuk mengembangkan ilmu kesehatan
masyarakat dan tidak digunakan untuk maksud-maksud lain.
Partisipasi saudara dalam penelitian ini bersifat bebas artinya saudara
bebas ikut atau tidak tanpa sanksi apapun. Apabila saudara setuju terlibat dalam
penelitian ini dimohon menandatangani lembar persetujuan yang telah disediakan.
Atas perhatian dan kesediaannya saya ucapkan terima kasih.
Peneliti,
MARISA DWI AGUSTINA
NIM. 2014030
82
LAMPIRAN 10
LEMBAR PERSETUJUAN
Setelah mendapatkan penjelasan sertta mengetahui manfaat penelitian
dengan judul ‘Gambaran Kepuasan Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit Paru
Manguharjo Madiun’’, saya menyatakan setuju diikutsertakan dalam penelitian
ini dengan catatan bila sewaktu-waktu dirugikan dalam bentuk apapun berhak
membatalkan persetujuan. Saya percaya apa yang saya buat dijamin
kerahasiaannya.
Madiun, Juni 2020
Responden
(…………..….)
83
LAMPIRAN 11 Output SPSS
HASIL OUTPUT GAMBARAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN DI
RUMAH SAKIT PARU MANGUHARJO MADIUN TAHUN 2020
1. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin
Statistics
Jenis_ Tepat_ Kat_
Kelamin Pendidikan Pekerjaan Waktu Kenyamanan Ketanggapan Umur
N Valid 45 45 45 45 45 45 45
Missing 0 0 0 0 0 0 0
2. Distribusi Frekuensi Usia
Jenis_Kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Laki-Laki 18 40.0 40.0 40.0
Perempuan 27 60.0 60.0 100.0
Total 45 100.0 100.0
3. Distrbusi Frekuensi Pendidikan
Pendidikan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tingkat Pendidikan Dasar 7 15.6 15.6 15.6
Tingkat Pendidikan
30 66.7 66.7 82.2
Menengah
Tingkat Pendidikan Tinggi 8 17.8 17.8 100.0
Total 45 100.0 100.0
84
4. Distribusi Frekuensi Pekerjaan
Pekerjaan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak/Belum Bekerja 2 4.4 4.4 4.4
IRT 17 37.8 37.8 42.2
Pedagang/Wirausaha 8 17.8 17.8 60.0
Petani 5 11.1 11.1 71.1
Pensiunan/PNS 7 15.6 15.6 86.7
TNI/POLRI 3 6.7 6.7 93.3
Lain-Lain 3 6.7 6.7 100.0
Total 45 100.0 100.0
5. Distribusi Frekuensi Tepat Waktu
Tepat_Waktu
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak Puas 21 46.7 46.7 46.7
Puas 24 53.3 53.3 100.0
Total 45 100.0 100.0
6. Dstribusi Frekuensi Kenyamanan
Kenyamanan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak Puas 19 42.2 42.2 42.2
Puas 26 57.8 57.8 100.0
Total 45 100.0 100.0
7. Distribusi Frekuensi Ketanggapan
Ketanggapan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Tidak Puas 23 51.1 51.1 51.1
Puas 22 48.9 48.9 100.0
Total 45 100.0 100.0
85
Kat_Umur
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 26-35 tahun 15 33.3 33.3 33.3
36-45 tahun 7 15.6 15.6 48.9
46-55 tahun 15 33.3 33.3 82.2
56-65 tahun 4 8.9 8.9 91.1
>= 65 tahun 4 8.9 8.9 100.0
Total 45 100.0 100.0
86
LAMPIRAN 12 Dokumentasi
87
LAMPIRAN 13 Lembar Kartu Bimbngan
Lembar Konsultasi Bimbingan
88