10
BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 Kinerja Karyawan
2.1.1 Pengertian kinerja karyawan
Semakin berkembangnya organisasi maka semakin banyak pula
melibatkan tenaga kerja dalam usaha menunjang kelancaran jalannya organisasi
disamping memperhatikan faktor- faktor produksi lainnya. Jika kita berbicara
mengenai produk atau jasa yang dihasilkan dari suatu organisasi maka hal tersebut
tidak akan terlepas dari permasalahan kinerja.
Kinerja merupakan cara yang digunakan untuk menunjukkan kemampuan
seseorang dalam menjalankan tugas yang telah menjadi tanggung jawab dan
wewenang nya.
Kinerja menurut Bernqadin et al, di kutip dari gomes(2000: 135)” catatan
outcome yang dihasilkan dari fungsi-fungsi suatu pekerjaan tertentu akan kegiatan
selama periode waktu tertentu”. Hasil penelitian menyatakan adanya hubungan
antara job satisfaction dengan job performance (AL- badayaneh et al).
Prinsip equity an equality merupakan suatu yang fundamental dalam
mencapai perpormance individual standard. Pengukuran standar individual
performance dilakukan pada lembaga-lembaga dengan mengukur kualitasnya
(Creamer:2000).
11
Kinerja merupakan kemampuan dalam menjalankan tugas dan
pencapaiann standar keberhasilan yang ditentukan oleh instansi kepada karyawan
sesuai dengan job yang diberikan kepada masing-masing karyawan.(Kartini
kartono,1992:32).
Kinerja menurut Muhammad agus tulus (1995:125) merupakan keadaan
atau semangat yang dimiliki seorang karyawan dalam mengerjakan pekerjaannya.
Dari pengertian-pengertian diatas maka dapat dikatakan bahwa kinerja merupakan
suatu hasil yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya dilihat dari kualitas dan kuantitasnya serta efektifitasnya
(berdasarkan hasil penelitian).
2.1.2 Pengukuran Kinerja Karyawan
Ada beberapa unsur yang dipergunakan dalam mengukur kinerja karyawan:
1) Kecakapan dalam bekerja baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
2) Ketelitian dalam menyelesaikan pekerjaan.
3) Kemampuan dalam mengambil keputusan dalam keadaan-keadaan
tertentu.
4) Intensif terhadap kemampuan tenaga kesehatan dalam menciptakan
hal-hal baru dalam mensukseskan pekerjaannya.
5) Disiplin dalam mematuhi peraturan yang ada dalam mengerjakan
pekerjaan sesuai dengan instruksi.
6) Bertanggung jawab atas pekerjaan dan hasil kerja.
7) Kemampuan bekerja sama dengan rekan sekerja.
8) Kesetiaan dalam pekerjaan dan jabatan.
12
9) Kepemimpinan, kemampuan karyawan/tenaga medis dalam
memimpin dan memotivasi pekerja.
2.1.3 Kriteria-Kriteria Kinerja
Kriteria kinerja adalah dimensi-dimensi pengevaluasian kinerja seseorang
pemegang jabatan, suatu tim, dan suatu unit kerja. Secara bersama-sama dimensi
itu merupakan harapan kinerja yang berusaha dipenuhi individu dan tim guna
mencapai strategi organisasi.
Ada 3 jenis dasar kriteria kinerja yaitu :
1. Kriteria berdasarkan sifat memusatkan diri pada karakteristik pribadi
seorang karyawan. Loyalitas, keandalan, kemampuan berkomunikasi,
dan keterampilan memimpin merupakan sifat-sifat yang sering dinilai
selama proses penilaian. Jenis kriteria ini memusatkan diri pada
bagaimana seseorang, bukan apa yang dicapai atau tidak dicapai
seseorang dalam pekerjaannya.
2. Kriteria berdasarkan perilaku terfokus pada bagaimana pekerjaan
dilaksanakan. Kriteria semacam ini penting sekali bagi pekerjaan yang
membutuhkan hubungan antar personal. Sebagai contoh apakah SDM-
nya ramah atau menyenangkan.
3. Kriteria berdasarkan hasil, kriteria ini semakin populer dengan makin
ditekannya produktivitas dan daya saing internasional. Kriteria ini
berfokus pada apa yang telah dicapai atau dihasilkan ketimbang
bagaimana sesuatu dicapai atau dihasilkan.
13
Kriteria yang digunakan untuk menilai kinerja karyawan adalah sebagai
berikut :
1) Quantity of Work (kuantitas kerja) : jumlah kerja yang dilakukan
dalam suatu periode yang ditentukan.
2) Quality of work (kualitas kerja) : kualitas kerja yang dicapai
berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan ditentukan.
3) Job Knowledge (pengetahuan pekerjaan) : luasnya pengetahuan
mengenai pekerjaan dan keterampilannya.
4) Creativeness (kreativitas) : keaslian gagasan-gagasan yang
dimunculkan dan tindakan-tindakan untukmenyelesaikan persoalan-
persoalan yang timbul.
5) Cooperation (kerja sama) : kesedian untuk bekerjasama dengan orang
lain atau sesama anggota organisasi.
6) Dependability (ketergantungan) : kesadaran untuk mendapatkan
kepercayaan dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja.
7) Iniative (inisiatif) : semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru
dalam memperbesar tanggung jawabnya.
8) Personal Qualities (kualitas personal) : menyangkut kepribadian,
kepemimpinan, keramah-tamahan dan integritas pribadi.
14
2.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah :
1. Kemampuan, kepribadian dan minat kerja.
2. Kejelasan dan penerimaan atau kejelasan peran seseorang pekerja
yang merupakan taraf pengertian dan penerimaan seseprang atas tugas
yang diberikan kepadanya.
3. Tingkat motivasi pekerja yaitu daya energi yang mendorong,
mengarahkan dan mempertahankan perilaku.
4. Kompetensi yaitu keterampilan yang dimiliki seorang pegawai.
5. Fasilitas kerja yaitu seperangkat alat pendukung kelancaran
operasional perusahaan.
6. Budaya kerja yaitu perilaku kerja pegawai yang kreatif dan inovatif.
7. Kepemimpinan yaitu perilaku pemimpin dalam mengarahkan pegawai
dalam bekerja.
8. Disiplin kerja yaitu aturan yang dibuat oleh perusahaan agar semua
pegawai ikut mematuhinya agar tujuan tercapai.
2.1.5 Penilaian Kinerja
Pada prinsipnya penilaian kinerja adalah merupakan cara pengukuran
kontribusi-kontribusi dari individu dalam instansi yang dilakukan terhadap
organisasi. Nilai penting dari penilaian kinerja adalah menyangkut penentuan
tingkat kontribusi individu atau kinerja yang diekspresikan dalam penyelesaian
tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Penilaian kinerja intinya adalah
untuk mengetahui seberapa produktif seorang karyawan dan apakah ia bisa
15
berkinerja sama atau lebih efektif pada masa yang akan datang,sehingga
karyawan,organisasi dan masyarakat memperoleh manfaat.
Tujuan penilaian kinerja terdapat pendekatan ganda terhadap tujuan
penilaia prestasi kerja sebagai berikut :
1. Tujuan evaluasi hasil-hasil penilaian prestasi kerja digunakan sebagai dasar
bagi evaluasi reguler terhadap prestasi anggota-anggota organisasi, yang
meliputi :
a) Telaah Gaji. Keputusan-keputusan kompensasi yang mencakup kenaikan
merit-pay, bonus dan kenaikan gaji lainnya merupakan salah satu tujuan
utama penilaian prestasi kerja.
b) Kesempatan Promosi. Keputusan-keputusan penyusunan pegawai
(staffing) yang berkenaan dengan promosi, demosi, transfer dan
pemberhentian karyawan merupakan tujuan kedua dari penilaian prestasi
kerja.
2. Tujuan Pengembangan
a) Informasi yang dihasilkan oleh sistem penilaian prestasi kerja dapat
digunakan untuk mengembangkan pribadi anggota-anggota organisasi.
b) Mengukuhkan dan menopang prestasi kerja. Umpan balik prestasi kerja
(performance feedback) merupakab kebutuhan pengembangan yang
utama karena hampir semua karyawan ingin mengetahui hasil penilaian
yang dilakukan
16
c) Meningkatkan prestasi kerja. Tujuan penilaian prestasi kerja juga untuk
memberikan pedomab kepada karyawan bagi peningkatan prestasi kerja
di masa yang akan datang.
d) Menentukan tujuan-tujuan progresi karir. Penilaian prestasi kerja juga
akan memberikan informasi kepada karyawan yang dapat digunakan
sebagai dasar pembahasan tujuan dan rencana karir jangka panjang.
e) Menentukan kebutuhan-kebutuhan pelatihan. Penilaian prestasi kerja
individu dapat memaparkan kumpulan data untuk digunakan sebagai
sumber analisis dan identifikasi kebutuhan pelatihan.
2.1.6 Dimensi dan Indikator Kinerja
Menurut Wirawan (2009:54) dimensi kinerja dapat dikelompokkan
menjadi 3 jenis, yaitu hasil kerja, perilaku kerja, dan sifat pribadi yang
berhubungan dengan pekerjaan, yaitu dengan uraian sebagai berikut:
a. Dimensi hasil kerja yang terdiri dari tiga indikator yaitu :
1. Kuantitas hasil kerja
2. Kualitas hasil kerja
3. Efisiensi dalam melaksanakan tugas
b. Perilaku kerja yang terdiri dari tiga indikator yaitu :
1) Disiplin kerja
2) Inisiatif
3) Ketelitian
17
c. Sifat pribadi yang terdiri dari tiga indikator yaitu :
1) Kepemimpinan
2) Kejujuran
3) Kreativitas
2.1.7 Unsur-unsur Penilaian Kinerja Karyawan
Menurut Hasibuan (2001:95), unsur-unsur penilaian kinerja karyawan
dapat meliputi sebagai berikut:
1. Kesetiaan dan tanggung jawab.
Kesetiaan yang dimaksud adalah tekad dan kesanggupan, mentaati,
melaksanakan, dan mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh kesadaran
dan tanggung jawab.
2. Kepemimpinan
Kemampuan yang dimiliki seseorang tenaga kerja untuk meyakinkan
orang lain sehingga dapat dikerahkan secara maksimal untuk melaksanakan tugas.
3. Tanggung jawab
Kesanggupan seorang tenaga kerja untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya yang diserahkan kepadanya dengan baik dan tepat waktu serta
berani memikul resiko atas keputusan yang telah diambilnya.
4. Kreativitas dan prakarsa
Kemampuan seorang tenaga kerja untuk mengambil langkah-langkah atau
melaksanakan suatu tidakan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pokok
tanpa menunggu perintah dan bimbingan dari atasannya.
18
5. Ketaatan
Kesanggupan seorang tenaga kerja untuk mentaati segalah ketetapan,
peraturan, perundang-undangan dan peraturan yang berlaku, baik yang tertulis
maupun yang tidak tertulis.
6. Kerjasama
Kemampuan seorang tenaga kerja untuk bekerja bersama-sama dengan
orang lain menyelesaikan suatu tugas dan pekerjaan yang telah ditetapkan,
sehingga mencapai daya guna dan hasil guna yang besar.
Dalam rangka meningkatkan kinerja staff karyawan Chinya Chew dalam
tulisannya berjudul “Be a Better Boss” yang dimuat dalam The Straits Tunes, 11
juli 1998 menyatakan bahwa ada delapan hal yang harus dilakukan oleh pimpinan
terhadap bawahan atau staff untuk dapat meningkatkan kinerjanya yaitu:
1. Pemberian instruksi yang jelas. Staff perlu mengetahui secara jelas apa yang
diinginkan melalui penjabaran kegiatan dengan bahasa yang sederhana dan
mudah dimengerti. Utarakan mengapa seseorang sesuai dalam pelaksanaan
atau tugas yang kita berikan.
2. Belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Sering kali pimpinan malas
mendengar keluhan staffnya. Akibatnya pimpinan akan kehilangan informasi
yang semestinya sangat bermamfaat untuk pengembangan kemajuan yang
diinginkan.
19
3. Menghargai staff yang berprestasi. Pada hakekatnya semua orang merasa
senang dalam menerima penghargaan dalam bentuk apapun. Bila staff
melakukan kegiatan yang berprestasi, informasikan pada atasan anda, dan
hargai mereka. Hal iniakan bermamfaat bagi mereka dan juga anda.
4. Mengetahui kapan dan dimana memberi kritik. Memberitahukan staff bila
mereka baik atau sebaliknya. Bila baik, beri tahu reaksi anda dan jangan
menumpuk berbagai kelemahan atau menumpuknya sekaligus.
5. Memberi perhatian terhadap pengembangan karir karyawan. Pimpinan
selayaknya memberi bimbingan pada staffya untuk memperoleh cara-cara
yang sesuai dalam meningkatkan karirnya.
6. Pemberian tantangan. Motivasi tervaika adalah tantangan untuk pekerjaan.
Bila tidak ada tantangan dalam produktifitas, antusiasme kinerja akan
menurun dan kondisi ini harus segera diantisipasi.
7. Selalu memberikan komunikasi dengan bawahan. Pimpinan harus mampu
mengembangkan komunikasi dua arah dengan anak buah atau staffnya dan
pimpinan harus mampu menggunakan bahasa yang mudah dimengerti serta
berkelanjutan.
8. Menghargai bawahan dan mereka adalah orang yang dibutuhkan. Orang-orang
memiliki keinginan untuk dibutuhkan oleh orang lain.
Pada banyak kondisi, mintalah masukan atau pendapat dan staff mengenai hal
apapun terutama dalam pengambilan keputusan.
20
2.2 Kompetensi
2.2.1 Pengertian Kompetensi
Setiap organisasi dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu dan apabila
tercapai, barulah disebut sebagai sebuah keberhasilan. Untuk mencapai
keberhasilan, diperlukan landasan yang sangat kuat berupa kompetensi
kepemimpinan,kompetensi pekerja, dan budaya organisasi yang mampu
memperkuat dan memaksimumkan kompetensi.
Kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau
melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan
pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh sikap kerja yang
dituntut oleh pekerjaan tersebut. Dengan demikian, kompetensi menunjukkan
keterampilan atau pengetahuan yang dicirikan oleh profesionalisme dalam suatu
bidang tertentu sebagai sesuatu yang tepenting, sebagai sesuatu yang terpenting,
sebagai unggulan bidang tersebut.
Kompetensi merupakaan karakteristik individu yang mendasari kinerja
atau perilaku di tempat kerja. Kinerja di pekerjaan dipengaruhi oleh: (a)
pengetahuan, kemampuan, dan sikap; (b) gaya kerja, kepribadian,
kepentingan/minat, dasar-dasar, nilai sikap, kepercayan, dan gaya kepemimpinan.
2.2.2 Karakteristik Kompetensi
Spencer dan Spencer (1993:9) menyatakan bahwa kompetensi merupakan
landasan dasar karakteristik orang dan mengidikasikan cara berperilaku atau
berpikir, menyamakan situasi, dan mendukung untuk periode waktu yang cukup
lama.
21
Terdapat lima tipe karakteristik kompetensi, yaitu sebagai berikut :
1. Motif (Motive) adalah sesuatu yang secara konsisten dipikirkan atau
diinginkan orang yang menyebabkan tindakan, motif mendorong,
mengarahkan, dan memilih perilaku menuju tindakan atau tujuan
tertentu.
2. Sifat/ciri bawaan (Trait) adalah karakteristik fisik dan respons yang
konsisten terhadap situasi atau informasi. Kecepatan reaksi dan
ketajaman mata merupakan ciri fisik kompetensi seorang pilot tempur.
3. Konsep diri (Self concept) adalah sikap, nilai-nilai, atau citra diri
seseorang. Percaya diri merupakan keyakinan orang bahwa mereka
dapat efektif dalam hampir setiap situasi adalah bagian dari konsep
diri orang.
4. Pengetahuan (knowledge) adalah informasi yang dimiliki orang dalam
bidang spesifik. Pengetahuan adalah kompetensi yang kompleks. Skor
pada tes pengetahuan sering gagal memprediksi prestasi kerja karena
gagal mengukur pengetahuan dan keterampilan dengan cara yang
sebenarnya dipergunakan dalam pekerjaan.
5. Keterampilan (skill) adalah kemampuan mengerjakan tugas fisik atau
mental tertentu. Kompetensi mental atau keterampilan kognitif
termasuk berpikir analitis dan konseptual.
Kompetensi merupakan dimensi perilaku yang berada dibelakang kinerja
kompeten. Sering dinamakan Kompetensi perilaku karena dimaksudkan untuk
menjelaskan bagaimana orang berperilaku ketika mereka menjalankan perannya
22
dengan baik (Armstrong dan Baron, 1998:298). Perilaku apabila didefinisikan
sebagai kompetensi dapat diklasifikasikan sebagai :
1. Memahami apa yang perlu dilakukan dalam bentuk alasan kritis,kapabilitas
strategik, dan pengetahuan bisnis.
2. Membuat pekerjaan dilakukan melalui dorongan prestasi, pendekatan proaktif,
percaya diri, kontrol, fleksibilitas, berkepentingan dengan efektivitas, persuasi
dan pengaruh.
3. Membawa serta orang dengan motivasi, keterampilan antarpribadi,
berkepentingan dengan hasil, persuasi dan pengaruh.
Dari berbagai pandangan tersebut diatas dapat dirumuskan kesimpulan
bahwa kompetensi merupakan kemampuan menjalankan tugas atau pekerjaan
dengan dilandasi oleh pengetahuan,keterampilan, dan didukung oleh sikap yang
menjadi karakteristik individu.
2.2.3 Tipe kompetensi
Tipe kompetensi yang berbeda dikaitkan dengan aspek perilaku manusia
dan dengan kemampuannya mendemonstrasikan kemampuan perilaku tersebut.
Ada beberapa tipe kompetensi yang dapat dijelaskan sebagai berikut ;
1. Planning competency, dikaitkan dengan tindakan tertentu seperti menetapkan
tujuan, menilai risiko dan mengembangkan urutan tindakan untuk mencapai
tujuan.
23
2. Influence competency , dikaitkan dengan tindakan seperti mempunyai dampak
pada orang lain , memaksa melakukan tindakan tertentu atau membuat
keputusan tertentu, dan memberi inspirasi untuk bekerja menuju tujuan
organisasional.
Kedua tipe kompetensi ini melibatkan aspek yang berbeda dari perilaku
manusia. Kompetensi secara tradisional dikaitkan dengan kinerja yang sukses.
3. Communication competency, dalam bentuk kemampuan berbicara,
mendengarkaan orang lain, komunikasi tertulis dan nonverbal.
4. Interpersonal competency, meliputi empati, membangun konsensus,
networking, persuasi, negosiasi, diplomasi, manajemen konflik, menghargai
orang lain, dan menjadi team player.
5. Thinking competency , berkenaan dengan berpikir strategis, berpikir analitis,
berkomitmen terhadap tindakan, memerlukan kemampuan kognitif,
mengidentifikasi mata rantai dan memangkitkan gagasan kreatif.
6. Organizational competency, meliputi kemampuan merencanakan pekerjaan,
mengorganisasi sumber daya, mendapatkan pekerjaandilakukan,mengukur
kemajuan, dan mengambil risiko yang diperhitungkan.
7. Human reseources management competency, merupakan kemampuan dalam
bidang team building, mendorong partisipasi, mengembangkan bakat,
mengusahakan umpan balik kinerja, dan menghargai keberagaman.
8. Leadership competency, merupakan kompetensi meliputi kecakapan
memosisikan diri, pengembangan organisasional, mengelola transisi, orientasi
24
strategis, membangun visi, merencanakan masa depan, mengusai perubahan
dan memolopori kesehatan tempat kerja.
9. Client service competency, merupakan kompetensi berupa mengidentifikasi
dan menganalisis pelanggan, orientasi pelayanan dan pengiriman, bekerja
dengan pelanggan,tindak lanjut dengan pelanggan,membangun partnership
dan berkomitmen terhadap kualitas
10. Business competency , merupakan kompetensi yang meliputi : manajemen
finansial, keterampilan pengambilan keputusan bisnis, bekerja dalam sistem,
menggunakan ketajaman bisnis, membuat keputusan bisnis dan
membangkitkan pendapatan.
11. Self management competency , kompetensi berkaitan dengan menjadi motivasi
diri, bertindak percaya diri, mengelola pembelajaran sendiri,
mendemonstrasikanfleksibilitas, dan berinisiatif.
12. Technical operational competency, kompetensi berkaitan dengan mengerjakan
tugas kantor, bekerja dengan teknologi komputer, menggunakan peralatan
lain, mendemonstrasikan keahlian teknis dan profesional, dan membiasakan
bekerja dengan data dan angka.
2.2.4 Kategori Kompetensi
Michael(dalam buku Wibowo) memberikan lima kategori kompetensi
yang terdiri dari task achievement, relationship, personal attribute, managerial
dan leadership.
1. Task achivement merupakan kategori kompetensi yang berhubungan dengan
kinerja baik. Kompetensi yang berkaitan dengan task achiement ditunjukan
25
oleh orientasi pada hasil, mengelola kinerja, mempengaruhi inisiatif, efesiensi
produksi, fleksibilitas, inovasi, peduli pada kualitas, perbaikan berkelanjutan
dan keahlian teknis.
2. Relationship merupakan kategori kompetensi yang berhubungan dengan
komunikasi dan bekerja baik dengan orang lain dan memuaskan
kebutuhannya. Kompetensi yang berhubungan dengan relationship meliputi :
kerja sama, orientasi pada pelayan, kepedulian antarpribadi, kecerdasan
organisional, membangun hubungan, penyelesaian konflik, perhatian pada
komunikasi dan sensitivitas lintas budaya.
3. Personal antribute merupakan kompetensi intrinsik individu dan
menghubungkan bagaimana orang berpikir, merasa, belajar dan berkembang.
Personal antribute merupakan kompetensi yang meliputi : integritas dan
kejujuran, pengembangan diri, ketegasan, kualitas keputusan, manajemen
stress, berpikir analitis dan berfikir konseptual.
4. Managerial merupakan kompetensi yang secara spesifik berkaitan dengan
pengelolaan, pengawasan dan mengembangkan orang. Kompetensi manajerial
berupa: memotivasi, memberdayakan dan mengembangkan orang lain
5. Leadership merupakan kompetensi yang berhubungan dengan memimpin
organisasi dan orang untuk mencapai maksud, visi dan tujuan organisasi.
Kompetensi berkenan dengan leadership meliputti :
kepemimpinan visioner, berpikir strategi, orientasi kewirausahaan, manajemen
perubahan, membangun focus dan maksud, dasar-dasar, dan nilai-nilai.
26
2.2.5 Strata Kompetensi
Kompetensi dapat dipilah-pilah menurut stratanya. Kompetensi dapat
dibagi menjadi core competencies, managerial competencies dan functional
competencies.
a) Core competencies merupakan kompetensi inti yang dihubungkan dengan
strategi organisasi sehingga harus dimiliki oleh semua karyawan dalam
organisasi.
b) Managerial competencies merupakan kompetensi yang mencerminkan
aktivitas manajerial dan kinerja yang diperlukan dalam peran tertentu.
c) Functional competencies merupakan kompetensi yang menjelaskan tentang
kemampuan peran tertentu yang diperlukan dan biasanya dihubungkan dengan
keterampilan profesional atau teknis.
2.2.6 Manajemen Sumber Daya Manusia Berbasis Kompetensi
Kondisi lingkungan bisnis di masa depan menunjukkan meningkatkan
teknologi dan perubahan social. Di satu sisi harus mengikuti perkembangan
teknologi, di sisi lain semakin meningkat tanggung jawab social organisasi.
Sumber daya manusia perlu memahami kecenderungan organisasi multicultural
dan keberagaman cultural. Di sisi lain pekerja dan pelanggan sangat beragam
menurut ras, jenis kelamin, negara dan budaya. Dengan demikian, sumber daya
manusia perlu memahami masalah dalam keragaman budaya.
Keadaan tersebut membuat kompetensi sumber daya manusia semakin
penting, baik bagi eksekutif, manajer maupun pekerja (Spencer dan
Spencer,1993:343).
27
1) Bagi Eksekutif
Kompetensi yang diperlukan bagi eksekutif adalah sebagai berikut :
a. Strategi Thingking merupakan kemampuan eksekutif untuk memahami
kecenderungan perubahan lingkungan yang cepat, melihat peluang pasar,
mendeteksi ancaman kompetitif, kekuatan dan kelemahan organisasi
mereka dan untuk mengidentifikasi respon strategi optimumnya.
b. Change Leadership merupakan kemampuan eksekutif untuk
mengkomunikasikan visi strategi organisasi yang membuat respon
adaptif berkembang dan diterima stakeholder, membangkitkan
memotivasi dan komitmennya, bertindak sebagai sponsor memotivasi,
kewirausahaan, mengalokasikan sumber daya manusia secara optimal
untuk melaksanakan banyak perubahan.
c. Relationship Managementmerupakan kemampuan eksekutif untuk
membangun hubungan baik dengan stakeholderdi dalam maupun di luar
organisasi. Stakeholder di dalam organisasi meliputi bawahan, rekan
sekerja, atasan langsung dan para pemegang saham. Stakeholderdi luar
organisasi dapat terdiri dari pemasok, rekanan, pemerintah, legislatif,
kelompok kepentingan dan sebagainya.
2) Bagi Manajer
Bagi manajer diperlukan kompetensi yang memberikan kemampuan dalam
bidangnya yang menunjukkan hal-hal berikut :
a. Flexibility (fleksibilitas) merupakan keinginan dan kemampuan manajer
untuk mengubah struktur dan proses manajer apabila diperlukan untuk
28
menjalankan strategi perubahan organisasi. Kemampuan untuk melakukan
perubahan apabila timbul kebutuhan untuk melakukannya.
b. Change Implementation (implementasi perubahan) merupakan
kemampuan kepemimpinan perubahan untuk mengomunikasikan
kebutuhan organisasi akan perubahan kepada bawahan dan keterampilan
manajemen perubahan berupa : komunikasi, pelatihan, fasilitas proses
kelompok yang diperlukan untuk mengimplementasikan perubahan dalam
kelompok kerjanya.
c. Enterpreneurial innovation (inovasi kewirausahaan) merupakan motivasi
memelopori dan mengungguli dengan memunculkan produk baru
mendahului pesaingnya dan dalam memberikan pelayanan dan proses
produksi yang semakin efisien.
d. Interpersonal Understanding (memahami hubungan antar manusia)
merupakan kemampuan memahami dan menilai masukan orang lain
berbeda. Kemampuan dalam memahami hubungan antarpribadi. Hal ini
dapat menumbuhkan saling pengertian antar manajer dan bawahan
maupun di antara sesama manajer dan sesama bawahan.
e. Empowering (memberdayakan) merupakan perilaku manajerial, untuk
berbagi informasi secara partisifatif mengumpulkan gagasan
bawahan,mendorong pengembangan pekerja, mendesain tanggung jawab
penting.
f. Team Facilitation (memfasilitas tim) merupakan keterampilan proses
kelompok yang diperlukan untuk mendapatkan kelompok orang yang
29
berbeda bekerja bersama secara efektif untuk mencapai tujuan bersama
menciptakan tujuan dan kejelasan peran, mengontrol orang yang terlalu
banyak.
g. Portability (kemudahan menyesuaikan) merupakan kemampuan untuk
menyesuaikan dengan cepat dan berfungsi secara efektif di setiap di
lingkungan asing sehingga manajer dapat dipindahkan pada posisi dimana
saja.
3) Bagi Pekerja
Beberapa kompetensi yang mencerminkan kemampuan yang perlu dimiliki
pekerja antara lain adalah sebagai berikut :
a) Flexibility (fleksibilitas merupakan kecenderungan untuk melihat
perubahan sebagai peluang yang menarik dari pada sebagai tantangan,
misalnya kesediaan untuk adopsi teknologi baru.
b) Information-Seeking Motivation and Ability to Learn (motivasi mencari
informasi dan kemampuan belajar) merupakan antusiasme untuk mencari
peluang belajar teknologi baru dan keterampilan dalam hubungan
antarpribadi.
c) Achievement Motivation (motivasi berprestasi) merupakan dorongan untuk
inovasi, perbaikan terus menerus dalam kualitas dan produktivitas yang
diperlukan untuk menghadapi meningkatnyankompetensi.
d) Work Motivation under Time Preassure (motivasi kerja dalam tekanan
waktu) merupakan beberapa kombinasi dari fleksibilitas, motivasi
berprestasi, resistensi terhadap stress dan komitmen organisasi yang
30
memungkinkan individu bekerja dalam permintaan yang meningkatkan
atas produk jasa baru dalam waktu yang lebih pendek.
e) Collaborativeness (kesediaan bekerja sama) merupakan kemampuan untuk
bekerja secara kooperatif dalam kelompok yang bersifat multidisiplin dan
rekan kerja yang berbeda.
f) Customer Service Orientation (orientasi pada pelayanan pelanggan)
merupakan keinginan membantu orang lain, pemahaman tentang hubungan
antar pribadi, bersedia untuk mendengarkan kebutuhan pelanggan dan
tahapan emosi, mempunyai cukup inisiatif untuk mengatasi masalah
pelanggan.
2.2.7 Manfaat Kompetensi
Mengacu pada pendapat Rylatt dan Lohan yang dikutip oleh Moeheriono
(2012:54) kompetensi memberikan beberapa manfaat kepada karyawan dan
organisasi sebagai berikut :
1. Karyawan
a. Kejelasan relevansi proses pembelajaran sebagai pemegang jabatan agar
mampu untuk mentransfer keterampilan, nilai, kualifikasi dan potensi
pengembangan karir.
b. Adanya kesempatan bagi karyawan untuk mendapatkan program
peningkatan kompetensi melauli program-program pengembangan
karyawan yang disusun oleh perusahaan.
c. Penempatan sasaran sebagai sarana pengembangan karier.
31
d. Kompetensi yang ada sekarang dan manfaatnya akan dapat memberikan
nilai tambah pada pembelajaran dan pengembangan karyawan itu sendiri.
e. Pilihan Perubahan karier yang lebih jelas. Untuk berubah pada jabatan
yang baru . Kompetensi baru yang dibutuhkan mungkin hanya berbeda
10% dari yang telah dimilikinya.
f. Penilaian Kinerja yang lebih objektif dan umpan balik berbasis standar
kompetensi yang ditentukan dengan jelas.
Meningkatkan keterampilan dan marketability sebagai karyawan.
2. Organisasi
a. Pemetaan yang akurat dan objektif mengenai kompetensi tenaga kerja
yang dibutuhkan.
b. Meningkatkan efektivitas rekruitmen dengan cara menyesuaikan
kompetensi yang diperlukan dalam pekerjaan dengan yang dimiliki
pelamar kerja.
c. Pendidikan dan pelatihan difokuskan pada kesenjangan keterampilan dan
persyaratan keterampilan perusahaan yang lebih khusus.
d. Akses pada pendidikan dan pelatihan yang lebih afektif dari segi biaya
berbasis kebutuhan industri dan identisifikasi penyedia pendidikan dan
pelatihan internal dan eksternal berbasis kompetensi yang diketahui.
e. Pengambil keputusan dalam organisasi akan lebih percaya diri karna
karyawan telah memiliki keterampilan yang akan diperoleh dalam
pendidikan dan pelatihan.
32
f. Penilaian pada pembelajaran sebelumnya dan penilaian hasil pendidikan dan
pelatihan akan lebih reliable dan konsisten.
g. Mempermudah terjadinya perubahan melalui identifikasi kompetensi yang
diperlukan untuk mengelola perubahan.
Menurut Dharma (2005:99) kompetensi kerja yang dapat dilakukan penilaian
sebagaimana yang diuraikan oleh Spencer, Mc Clelland dan Spencer (1996:105)
kepada penelitian David Mc Clelland mengenai variabel kompetensi yang mana
yang memperkirakan kinerja suatu pekerjaan Spencer (1996:110) menetapkan dua
puluh kompetensi yang sering dipakai untuk memperkirakan keberhasilan.
2.2.8 Mengatasi Hambatan Kompetensi
Kelihatannya mengembangkan kompetensi merupakan hal yang mudah.
Kita dapat dengan mudah mengidentifikasikan pengetahuan, keterampilan dan
proses yang perlu untuk dipelajari. Namun, kenyataan tidak semudah itu sejumlah
factor mempengaruhi kinerjanya. Untuk itu hambatan yang dihadapi perlu diatasi.
Michael Zwell 2000 dalam buku Wibowo (2007) menyebutkan adanya
factor-factor yang dapat dipergunakan untuk memperbaiki kompetensiyaitu
sebagai berikut :
a. Mengalami kekurangan Kompetensi
Sering kali terjadi orang menutupi kekurangannya agar tidak diketahui
orang lain. Budaya yang berusaha selalu tampil baik mengandung bahaya tidak
menyadari kekurangan kecakapan dalam kompetensi. Untuk itu, ada baiknya
orang mengaku dengan terus terang akan kekurangannya dalam kompetensinya
sehingga dapat dilakukan usaha untuk memperbaikinya.
33
b. Meningkatkan harapan
Pekerjaan manajer dan coach termasuk membantu orang memperluas visi
atas pekerjaan mereka sehinggan mereka dapat memanfaatkan bakat, kemampuan,
dan potensinya. Tugas utama seorang coachadalah menciptakan dan memelihara
visi yang lebih tinggi bagi pekerjaan dengan menjaga dalam pikirannya apa yang
mungkin bagi mereka apabila memanfaatkan sepenuhnya kemampuan dan
bakatnya.
c. Mengidentifikasikan hambatan
Hambatan pengetahuan terjadi ketika pekerjaan tidak mempunyai keahlian
tentang informasi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Hambatan
keterampilan terjadi ketika pekerjaan tahu bagaimana melakukan sesuatu, tetapi
belum mengembangkan keterampilan untuk melakukan dengan baik, cepat, dan
konsisten seperti yang diperlukan oleh pekerjaan.
d. Memasukan mekanisme dukungan
Mekanisme dukungan yang dapat dipergunakan organisasi dan pekerja
untuk membantu memastikan kinerja pekerja adalah : (1) mencatat kemajuan
tujuan dan pelaksanaan langkah tindak; (2) mengomunikasikan kemajuan orang
lainnya dan (3) menggunakan penghargaan.
2.2.9 Faktor Yang Mempengaruhi Kompetensi
Kompetensi bukan merupakan kemampuan yang tidak dapat dipengaruhi.
Michael Zwell (dalam buku wibowo 2007:102) yang mengungkapkan
bahwaterdapat beberapa factor yang dapat mempengaruhi kecakapan kompetensi
seseorang yaitu sebagai berikut :
34
1. Keyakinan dan Nilai-nilai
Keyakinan orang tentang dirinya maupun terhadap orang lain akan sangat
mempengaruhi perilaku. Apabila orang percaya bahwa mereka tidak kreatif dan
inovatif, mereka tidak akan berusaha berfikir tentang cara baru atau berbeda dalm
melakukan sesuatu.
Kepercayaan banyak pekerja bahwa manajemen merupakan musuh yang
akan mencegah mereka melakukan inisiatif yang seharusnya dilakukan. Demikian
pula manajer merasa bahwa mereka hanya mempunyai sedikit pengaruh, mereka
tidak meningkatkan usaha dan energi untuk mengidentifikasikan tentang
bagaimana meeka harus memperbaiki sesuatu.
2. Keterampilan
Keterampilan memainkan peran, dikebanyakan kompetensi. Berbicara di
depan umum merupakan keterampilan yang dapat dipelajari,dipraktikan, dan di
perbaiki. Keterampilan menulis juga dapat diperbaiki dengan intruksi, praktik dan
umpan balik.
Dengan memperbaiki keterampilan berbicara di depan umum dan menulis,
individu akan meningkatkan kecakapannya dalam kompetensi tentang perhatian
terhadap komunikasi.
Pengembangan keterampilan yang secara spesifik berkaitan dengan
kompetensi dapat berdampak baik pada budaya organisasi dan kompetensi
individual.
3. Pengalaman
35
Keahlian dari banyak kompetensi memerlukan pengalaman
mengorganisasi orang, komunikasi di hadapan kelompok, menyelesaikan masalah
dan sebagainya. Orang yang tidak pernah berhubungan dengan organisasi besar
dan kompleks tidak mungkin mengembangkan kecerdasan organisasional untuk
memahami dinamika kekuasaan dan pengaruh dalam lingkungan seperti tersebut.
Orang yang pekerjaannya memerlukan sedikit pemikiran strategi kurang
mengembangkan kompetensi dari pada mereka yang telah menggunakan
pemikiran strategis bertahun-tahun. Pengalaman merupakan elemen kompetensi
yang perlu, tetapi untuk menjadi ahli tidak cukup dengan pengalaman.
4. Karakteristik kepribadian
Kepribadian dapat mempengaruhi keahlian manajer dan pekerja dalam
sejumlah kompetensi, termasuk dalam penyelesaian konflik, menunjukkan
kepedulian interpersonal, kemampuan bekerja dalam tim, memberikan pengaruh
dan membangun hubungan.
5. Motivasi
Motivasi merupakan factor dalam kompetensi yang dapat berubah.
Dengan memberikan dorongan apresiasi terhadap pekerjaan bawahan,
memberikan pengakuan dan perhatian individual dari atasan dapat mempunyai
pengaruh positif terhadap motivasi seseorang bawahan.
Apabila manajer dapat mendorong motivasi pribadi seseorang pekerja,
kemudian menyalaraskan dengan kebutuhan bisnis, mereka akan sering
menemukan peningkatan penguasaan dalam sejumlah kompetensi yang
mempengaruhi kinerja.
36
Kompetensi menyebabkan orientasi pada bekerja seseorang pada hasil,
kemampuan mempengaruhi orang lain, meningkatnya inisiatif, dan sebagainya.
Pada gilirannya, peningkatan kompetensi akan meningkatkan kinerja bawahan
dan kontribusinya pada organisasi pun menjadi meningkat.
2.2.10 Dimensi dan Indikator Kompetensi Kerja
Menurut Andrews dan Higson (2007) dalamjurnal ”Role of Undergraduate
Work Placement in Developing Employment Competences: Result From a 5 year
Study of Employers”, indikator kompetensi diantaranya :
1. Communication Skills
Kemampuan untuk berkomunikasi dengan jelas dan ringkas menggunakan
berbagai metode lisan dan tertulis
2. Team-working and Relationship Building Skills
Kemampuan untuk bekerja dalam tim
Kemampuan memanfaatkan keterampilan interpersonal yang tepat untuk
membangun hubungan dengan rekan kerja, anggota tim dan para
pemangku kepentingan eksternal
3. Self and Time Management Skills
Kemampuan untuk mengatur diri sendiri, waktu seseorang dan jadwal
seseorang secara efektif dalam setiap situasi yang berkaitan dengan
pekerjaan yang diberikan.
37
4. Ability to see the Bigger Picture
Kemampuan untuk melihat bagaimana segala sesuatu saling berhubungan
dan melakukan pendekatan terhadap isu-isu yang terkait dengan pekerjaan
secara strategis dan inovatif
5. Influencing and Persuading Abilities
Kemampuan untuk berkomunikasi di semua tingkatan menggunakan
teknik mempengaruhi dan keterampilan negosiasi untuk secara positif
mempengaruhi orang lain
6. Problem Solving Abilities
Kemampuan menganalisis masalah dan situasi secara kritis dan logis
Kemampuan menerapkan solusi terbaik dan logis untuk masalah
7. Leadership Abilities
Kemampuan memimpin sebuah tim, mengambil tanggung jawab untuk
tugas, memberikan arahan, memberikan struktur dan menetapkan
tanggung jawab kepada orang lain.
8. Presentation Skills
Kemampuan untuk menyiapkan dan menyampaikan informasi yang efektif
kepada audiens yang berbeda dalam berbagai macam keadaan dengan
maksud ingin memperkenalkan suatu produk maupun program kegiatan.
38
2.3 Hubungan antara Kompetensi kerja dengan Kinerja karyawan
Kompetensi berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Semakin tinggi
kompetensi yang dimiliki oleh karyawan dan sesuai dengan tuntutan peran
pekerjaan maka kinerja karyawan akan semakin meningkat.
Karyawan yang kompeten biasanya memiliki karakter sikap dan perilaku atau
kemauan dan kemampuan kerja yang relatif stabil ketika menghadapi suatu situasi
ditempat kerja yang terbentuk dari sinergi antara watak, konsep diri, motivasi
internal, dan kapasitas pengetahuan kontekstualnya sehingga ia dengan cepat
dapat mengatasi pemasalahan kerja yang dihadapi, melakukan pekerjaan dengan
tenang dan penuh dengan rasa percaya diri,memandang pekerjaan sebagai suatu
pekerjaan yang harus dilakukan secara ikhlas, dan secara terbuka meningkatkan
kualitas diri melalui proses pembelajaran.
Hal ini akan memberikan dorongan yang kuat kepada karyawan untuk
mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan efisien dan efektif
serta secara psikologis akan memberikan pengalaman kerja yang bermakna dan
rasa tanggung jawab pribadi mengenai hasil-hasil pekerjaan yang dilakukannya.
Pada akhirnya, semua hal ini akan meningkatkan kinerja karyawan baik yang
berhubungan dengan faktor pekerjaan maupun karakteristik personal.
Hal ini didukung pernyataan teoritik dari Spencer & Spencer (1993: 78) bahwa
kompetensi intelektual, emosional, dan sosial sebagai bagian dari kepribadian
yang paling dalam pada seseorang dapat memprediksi atau mempengaruhi
keefektifan kinerja individu.
39
2.4. Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
Nama Peneliti Judul Permasalaha Variabel Hasil
Penelitian n Penelitian Penelitian Penelitian
Devi Rusvitawati Pengaruh Apakah Kompete Bahwa
kompetensi kompetensi nsi kerja kompetensi
kerja terhadap kerja dan efektivitas
kinerja berpengaruh kinerja individu
karyawan di terhadap karyawan berpengaruh
Rumah sakit kinerja terhadap
sari mulia karyawan kinerja
banjarmasin karyawan
Ibnu Mikhail Pengaruh Apakah Kompete Menunjukkan
Abdul kompetensi kompetensis nsi,kepua bahwa
Muqiit,[Link] dan kepuasan ecara parsial san kompetensi
in,[Link],Drs. Restu, kerja terhadap berpengaruh kerja,kine dan kepuasan
[Link] kinerja signifikan rja kerja
perawat rumah terhadap mempunyai
sakit syafira kinerja pengaruh yang
pekanbaru perawat signifikan
rumah sakit terhadap
syafira kinerja
pekanbaru perawat
Albert Wibi Pengaruh Bagaimana Kompete Bahwa secara
Rahman kompetensi pengaruh nsi, simultan
dan kompetensi lingkunga kompetensi
lingkungan dan n kerja, dan
kerja terhadap lingkungan kinerja lingkungan
kinerja kerja secara kerja
perawat bagian simultan berpengaruh
rawat inap terhadap signifikan
pada rumah kinerja terhadap
sakit umum perawat kinerja
daerah bagian rawat perawat pada
(RSUD) petala inap pada RSUD Petala
bumi RSUD petala bumi
pekanbaru bumi pekanbaru
pekanbaru
40
2.5 Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang akan dikembangkan dalam penelitian ini dapat
dilihat seperti pada gambar berikut ini :
Gambar 2.1
Struktur Organisasi
Variabel Kompetensi Kerja (X), Kinerja Karyawan (Y)
Kompetensi Kerja (X) Kinerja Karyawan (Y)
2.6 Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersipat sementara terhadap
permasalahan penelitian, sampai terbukti kebenarannya melalui data yang
terkumpul (Arikunto, 2006). Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan
pembahasan diatas, maka penulis dalam menyusun penelitian ini mengemukakan
hipotesis penelitian sebagai berikut:
“ Diduga bahwa kompetensi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
kinerja karyawan pada Rumah Sakit Ibu Dan Anak Eria Bunda Pekanbaru”