BAB II
LANDSAN TEORI
A. Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen (consumer behavior) didefinisikan sebgai studi unit
pembelian (buying units) dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan,
konsumsi, dan pembuangan barang atau jasa, pengalaman, serta ide.13 Seperti
layaknya ilmu sosial, perilaku konsumen menggunakan metode serta prosedur riset
dari psikologi, sosiologi, ekonomi dan antropologi. Untuk menggeneralisasikan,
riset perilaku konsumen dilakukan berdasarkan tiga perspektif riset yang bertindak
sebagai pedoman pemikiran dan pengidentifkasian faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku perolehan (akuisisi) konsumen. Ketiga perspektif ini
adalah : perspektif pengambilan keputusan (decision-making prespective),
perspektif pengalaman (experiental perspective) dan perspektif pengaruh perilaku
(behavioral influence perspective).14
1 Perspektif Pengambilan Keputusan (Decision-Making Prespective)
Semenjak tahun 1970-an dan sampai awal tahun 1980-an, para
peneliti memandang konsumen sebagai pengambil keputusan. Dari
13
Sunarto. Perilaku Konsumen. (Yogyakarta:AMUS Yogyakarta, 2006), hal. 3
14
John. C. Mowen dan Michael Minor. Perilaku Konsumen Jilid I Alih Bahasa Lina
Salim editor Nurcahyo Maharani Ed 5. (Jakarta : PT Penerbit Erlangga, 2002), hal. 11-
13
16
17
perspektif ini, pembelian merupakan hasil dimana konsumen merasa
mengalami masalah dan kemudian melalui proses rasional menyelesaikan
masalah tersebut. perspektif pengaruh perilaku (behavioral influence
perspective) menggambarkan seorang konsumen sedang melakukan
serangkaian langkah-langkah tertentu pada saat melakukan pembelian.
Langkah langkah ini termasuk pengenalan masalah, mencari, evaluasi,
alternatif, memilih dan evaluasi pasca perolehan. Akar dari pendekatan
ini adalah pengalaman kognitif dan psikologi serta faktor-faktor
sekonomi lainya. Dalam menganalisis proses pilihan ini, para ahli akan
berusaha untuk mengidentifikasi karakteristik konsumen seperti
kualifikasi , kepandaian bergaul, kemampuan menjelaskan resiko yang
akan dihadapi dan tarifnya.
2 Perspektif Pengalaman (Experiental Perspective)
Perspektif Pengalaman (Experiental Perspective) atas pembelian
konsumen menyatakan bahwa untuk beberapa hal konsumen tidak
melakukan pembelian sesuai proses pengambilan keputusan yang
rasional. Namun, mereka membeli produk dan jasa untuk memperoleh
kesenangan, menciptakan fantasi atau perasaan emosi saja.
Pengklasifikasian berdasarkan perspektif pengalaman menyatakan bahwa
pembelian akan dilakukan karena dorongan hati dan mencari variasi.
Pencarian variasi terjadi ketika konsumen beralih ke merk lain dengan
penyebab yang sederhana, yaitu karena mereka merasa bosan dengan
18
merek lama dan tergoda dengan produk baru yang lain. Banyak
konsumen yang melakukan pembelian barang dan jasa hanya untuk
tujuan kesenangan saja untuk memiliki komponenen pengalaman yang
kuat. Para peneliti yang menganalisis kasus dari perspektif pengalaman
akan berfokus pada identifikasi persaan emosi, dan simbol-simbol yang
menyertai pembelian. Akar dari perpektif pengalaman ini merupakan
bagian dari psikologi, motivasi dan bidang tertentu dari sosiologi dan
antropologi.
3. Perspektif Pengaruh Perilaku (Behavioral Influence Perspective)
Perspektif Pengaruh Perilaku (Behavioral Influence Perspective)
mengasumsikan bahwa kekuatan lingkungan memaksa konsumen untuk
melakukan pembelian tanpa harus terlebih dahulu membangun perasaan
atau kepercayaan terhadap produk. Menurut perpektif ini, konsumen tidak
saja melalui proses pengambilan keputusan rasional, namun juga
bergantung pada perasaan untuk membeli produk atau jasa tersebut.
Sebagai gantinya, tindakan pembelian konsumen secara langsung
merupakan hasil dari kekuatan lingkungan, seperti sarana promosi
penjualan, nilai-nilai budaya, lingkungan fisik dan tekanan ekonomi. Para
peneliti yang menganalisis kasus dari perpektif pengaruh perilaku akan
memeperhatikan untuk menentukan jika tekanan kelompok atau sosial
memiliki dorongan yang kuat. Pembelian konsumen secara kuat
dipengaruhi oleh karakteristik budaya, sosial dan psikologis. Pada
19
umumnya orang pemasaran tidak dapat mengendalikan faktor-faktor
semacam itu, tetapi mereka memperhitungkan. Faktor- faktor yang
mempengaruhi konsumen15 :
1. Faktor Budaya
Faktor-faktor budaya memberikan pengaruh paling luas pada keinginan
dan perilaku konsumen. Orang pemasaran perlu memahami peran dari
budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli.
2. Faktor Sosial
Perilaku konsumen jugadipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti
kelompok kecil, keluarga, serta aturan dan status sosial konsumen.
3. Faktor Pribadi
Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi
seperti umur pembeli dan tahap siklus hidup, pekerjaan, situasi
ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep diri.
4. Faktor Psikologi
Pilihan-pilihan seseorang dalam membeli dipengaruhi lagi oleh empat
faktor psikologi yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan, serta keyakinan
dan sikap
15
Sunarto. Manajemen Pemasaran 2 Seri Prinsip-prinsip Pemasaran. (Yogyakarta : UST
PRESS YOGYAKARTA, 2006), hal. 97-104
20
B. Kepuasan Konsumen
Peran pelanggan sangat penting artinya karena peran pelanggan
berhubungan dengan masa depan bisnis. Kepuasan pelanggan dapat menentukan
prespektif kinerja produksi perusahaan di masa yang akan [Link] itu
pelanggan merupakan faktor yang sangat penting sehingga perusahaan harus selalu
berusaha untuk memuaskan para pelanggannya.
Menurut Kotler, kepuasaan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang
yang muncul setelah membandingkan persepsi/ kesannya terhadap kinerja (atau
hasil) suatu produk dan harapan-harapnnya. Sedangkan menurut Oliver, kepuasaan
adalah tanggapan konsumen atas terpenuhinya kebutuhannya.16
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan
pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang yang merupakan hasil evaluasi
setelah membandingkan apa yang dirasakan dengan harapannya.
Pelanggan tidak akan puas apabila harapannya belum terpenuhi. Oleh
karena itu strategi kepuasan pelanggan harus didahului dengan pengetahuan yang
detail dan akurat terhadap harapan pelangan.
16
Dita Amanah, 2010. Pengaruh Harga Dan Kualitas Produk Terhadap Kepuasaan
Konsumen Pada Majestyk Bakery Dan Cake Shop. Vol 2 no 1 Maret (jurnal keuangan dan bisnis)
hal.79.
21
a. Indikator kepuasan konsumen adalah sebagai berikut :17
1. Perasaan puas (puas akan produk dan pelayanannya)
Yaitu ungkapan perasaan puas atau tidak puas dari pelanggan saat
menerima pelayanan yang baik dan produk yang berkualitas dari
perusahaan.
2. Selalu membeli produk
Yaitu pelanggan akan tetap memakai dan terus membeli suatu produk
apabila tercapainya harapan yang mereka inginkan.
3. Merekomendasikan kepada orang lain
Yaitu pelanggan yang merasa puas setelah memakai atau membeli produk
akan menceritakan kepada orang lain serta mampu menciptakan
konsumen baru bagi suatu perusahaan.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan
Menurut Irawan18, faktor-faktor pendorong kepuasan pelanggan adalah
sebagai berikut:
1. Kualitas produk
Kualitas produk sangat mempengaruhi kepuasaan, pelanggan akan puas
setelah membeli dan menggunakan produk yang ternyata memiliki
kualitas produk baik.
17
Mukhamad Arianto dkk, Analisis Kepuasan Konsumen di Jatiroso Catering Service, jurnal
Bisnis, Manajemen dan Perbankan, Vol. 1 No. 2, 2014.
18
Handi Irawan D. Sepuluh Prinsip Keputusan Pelanggan. Cetakan pertama. (Jakarta:
Elexmedia Komputindo,2002), hal. 37-39.
22
2. Harga
Pelanggan sangat sensitive, biasanya harga murah adalah sumber
kepuasaan yang penting karena pelanggan akan mendapatkan value for
money yang tinggi.
3. Service Quality
Pelanggan akan puas jika mendapatakan pelayanan yang baik.
4. Emotional Factor
Pelanggan akan merasa puas karena adanya emosional value yang
diberikan oleh brand dari produk tersebut.
5. Biaya dan kemudahan
Pelanggan akan semakin puas apabila relative mudah, nyaman dan
efisien dalam mendapatkan produk atau pelayanan.
c. Manfaat Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Ukuran kepuasan pelanggan dapat dikategorikan sebagai kurang puas, puas
dan sangat puas. Pengukuran mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan dapat
digunakan untuk beberapa tujuan, yaitu :19
1. Mempelajari persepsi masing-masing pelanggan terhadap mutu pelayanan
yang dicari diminati dan diterima atau tidak di terima pelanggan yang
akhirnya pelanggan merasa puas dan terus melakukan kerja sama.
19
Philip Kotler. Manajemen Pemasaran : Analisis Perencanaan, Implementasi dan Kontrol,
Edisi Milenium.(Jakarta: PT. Prenhalindo, 2002), hal. 38.
23
2. Mengetahui kebutuhan keinginan, persyaratan, dan harapan pelanggan pada
saat sekarang dan masa yang akan datang yang disediakan perusahaan yang
sesungguhnya dengan harapan pelanggan atas pelayanan yang diterima.
3. Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan harapan-harapan pelanggan.
4. Menyusun rencana kerja dan menyempurnakan kualitas pelayanan dimasa
akan datang.
C. Kualitas Produk
Menurut Kotler dan Amstrong arti dari kualitas produk adalah kemampuan
sebuah produk untuk menampilkan fungsinya dan itu termasuk keseluruhan
performance, reliabilitas, durability, features dan conformance. Ada 8 dimensi dalam
kualitas produk :20
1. Performance, Kinerja (performance) yaitu karakteristik operasi pokok dari
produk inti dan dapat didefinisikan sebagai tampilan dari sebuah produk
seseungguhnya. Performance sebuah produk merupakan pencerminan
bagaimana sebuah produk itu disajikan atau ditampilkan kepada pelanggan.
Tingkat pengukuran Performance pada dasarnya mengacu pada tingkat
karakteristik dasar produk itu beroperasi. Sebuah produk dikatakan memiliki
Performance yang baik bilamana dapatmemenuhi harapan. Bagi setiap
produk/jasa, dimensi performance bisa berlainan, tergantung pada functional
20
Deny Irawan dan Edwin Japarianto. Analisa Pengaruh Kualitas Produk Terhadap
Loyalitas Melalui Kepuasan Sebagai Variabel Intervening Pada Pelanggan Restoran Por Kee
Surabaya Vol. 1, No. 2. (Jurnal Manajemen Pemasaran : Universitas Kristen Petra Surabaya, 2013)
hal. 2
24
value yang dijanjikan oleh perusahaan. Untuk bisnis makanan, dimensi
performance adalah rasa yang enak.
2. Reliability, keandalan (reliability) yaitu tingkat kendalan suatu produk atau
konsistensi keandalan sebuah produk didalam proses operasionalnya dimata
konsumen. Reliability sebuah produk juga merupakan ukuran kemungkinan
suatu produk tidak akan rusak atau gagal dalam suatu periode waktu tertentu.
Sebuah produk dikatakan memiliki Reliability yang tinggi bilamana dapat
menarik kepercayaan dari konsumen terkait kualitas keandalan sebuah
produk. Dimensi performance dan reability sekilas hampir sama tetapi
mempunyai perbedaan yang jelas. Reability lebih menunjukkan probabilitas
produk menjalankan fungsinya.
3. Features, keistimewaan tambahan (features) yaitu karakteristik sekunder atau
pelengkap dan dapat didefinisikan sebagai tingkat kelengkapan atribut-atribut
yang ada pada sebuah produk. Pada titik tertentu, performance dari setiap
merek hampir sama tetapi justru perbedaannya terletak pada fiturnya. Ini juga
mengakibatkan harapan pelanggan terhadap dimensi performance relatif
homogen dan harapan terhadap fitur relatif heterogen.
4. Conformance, kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications)
yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar
yang telah ditetapkan sebelumnya dan dapat didefinisikan sebagai tingkat
dimana semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi sasaran
yang dijanjikan. Definisi di atas dapat dijelaskan bahwa tingkat Conformance
25
sebuah produk dikatakan telah akurat bilamana produk-produk yang
dipasarkan oleh produsen telah sesuai perencanaan perusahaan yang berarti
merupakan produk-produk yang mayoritas diinginkan pelanggan.
5. Durability, daya tahan (durability) berkaitan dengan berapa lama produk
tersebut dapat terus digunakan dan dapat didefinisikan sebagai suatu ukuran
usia operasi produk yang diharapkan dalam kondisi normal dan/atau berat.
Definisi di atas bilamana diterapkan pada pengukuran sebuah makanan dan
minuman sebuah restoran, maka pengertian Durability di atas adalah tingkat
usia sebuah makanan masih dapat dikonsumsi oleh konsumen. Ukuran usia
ini pada produk biasanya dicantumkan pada produk dengan tulisan masa
kadaluarsa sebuah produk.
6. Serviceability, (service ability) meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan,
mudah direparasi, serta penanganan keluhan yang memuaskan dan dapat
didefinisikan sebagai suatu ukuran kemudahan memperbaiki suatu produk
yang rusak atau gagal. Disini artinya bilamana sebuah produk rusak atau
gagal maka kesiapan perbaikan produk tersebut dapat dihandalkan, sehingga
konsumen tidak merasa dirugikan.
7. Aesthethics yaitu keindahan produk terhadap panca indera dan dapat
didefinisikan sebagai atribut-atribut yang melekat pada sebuah produk, seperti
warna, model atau desain, bentuk, rasa, aroma dan lain-lain. Pada dasarnya
Aesthetics merupakan elemen yang melengkapi fungsi dasar suatu produk
26
sehingga performance sebuah produk akan menjadi lebih baik dihadapan
pelanggan.
8. Customer perceived quality, kualitas yang dipersepsikan (perceived quality)
yaitu kualitas yang dirasakan. Bilamana diterapkan pada pengukuran kualitas
makanan dan minuman maka Perceived Quality merupakan kualitas dasar
yang dimiliki sebuah makanan dan minuman.
a. Atribut Produk
Menurut Kotler dan Armstrong beberapa atribut yang menyertai dan
melengkapi produk (karakteristik atribut produk) adalah:21
1. Merek (Brand)
Merek (Brand) merupakan nama, istilah, logo, simbol yang
mengidentifikasi produk atau jasa yang membedakan dari produk-produk
para pesaing.
2. Pengemasan (Packing)
Pengemasan (packing) adalah wadah atau tempat untuk membukus suatu
produk.
3. Kualitas Produk (Product Quality)
Kualitas Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu produk untuk
melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan keandalan, ketepatan
kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai lainnya.
21
Philip Kotler dan Gary Armstrong. Prinsip-prinsip Pemasaran. Alih Bahasa Imam
Nurmawan.( Jakarta: Erlangga, 2001), hal. 354.
27
D. Kelengkapan Produk
Bauran produk (product mix, juga disebut product assortment) adalah
rangkaian semua produk dan unit produk yang ditawarkan suatu penjual tertentu
pada pembeli. Dari sudut pandang produsen atau pemasar, produk merupakan
segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari,
dibeli, digunakan dan dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau
keinginan yang bersangkutan. Berdasarkan perspektif konsumen produk adalah
segala sesuatu yang diterima pelanggan dari sebuha pertukaran dengan pemasar.22
a. Tingkatan Produk
Menurut Tjiptono, mengemukakan bahwa dalam merencanakan penawaran
atau produk, pemasar perlu memahami lima tingkatan produk, yaitu:
1) Produk inti
Produk inti adalah manfaat yang sebenarnya dibutuhkan dan akan
dikonsumsi oleh pelanggan dari setiap produk.
2) Produk generik
Produk generik adalah produk dasar yang mampu memenuhi fungsi produk
yang paling dasar (rancangan produk minimal agar dapat berfungsi)
22
Fandy Tjiptono. Strategi pemasaran edisi 4. (Yogyakarta : CV. Andi Offset, 2015), hal. 231
28
3) Produk harapan
Produk harapan adalah produk formal yang ditawarkan dengan berbagai
atribut dan kondisinya secara normal diharapkan dan disepakati untuk
dibeli.
4) Produk pelengkap
Produk pelengkap adalah berbagai atribut produk yang dilengkapi atau
ditambahi berbagai manfaat dan layanan, sehingga dapat memberikan
tambahan kepuasan dan bisa dibedakan dengan produk pesaing.
5) Produk potensial
Produk potensial adalah segala macam tambahan dan perubhan yang
mungkin dikembangkan untuk suatu produk dimasa mendatang
b. Indikator kelengkapan produk
Variabel kelengkapan produk meliputi keragaman barang yang dijual
dipasar dan ketersediaan barang-barang di pasar. Indikatornya yaitu :
1) Keragaman produk yang dijual
2) Variasai produk yang dijual
3) Ketersediaan produk yang ijual
4) Macam merk yang dijual
E. Harga
Kebijakan harga merupakan satu unsur-unsur kunci dalam memenangkan
persaingan. Kebijakan harga menentukan keputusan konsumen apakah membeli,
berapa banyak dan bagaimana cara pembeliannya.
29
Harga merupakan funsi dari biaya. Setelah seluruh komponen biaya
diperhitungkan, barulah dapat ditetapkan harga. Para manajer yang berhasil
menyadari betul betapa pentingnya biaya dalam membangun keunggulan bersaing.
Bahkan, diantara pilihan-pilihan strategi bersaing, banyak manajer yang memilih
strategi keunggulan biaya sebagai ujung tombak.23
a. Tujuan penetapan harga
Harga pada intinya terbentuk dari adanya interaksi antara permintaan
konsumen dengan penawaran dari penjual, pihak perusahaan harus memperhatikan
prosedur pembentukan harga dengan tepat. Adapun prosedur pembentukan harga
berkaitan dengan tujuan penetapan harga. Kotler menguraikan tujuan dari
penetapan harga diantaranya adalah.24
1) Mendapatkan laba yang maksimum
Jika tujuanya mencapai laba maksimum, maka harga yang terjadi akan
cendurung lebih mahal. Dengan demikian maka laba maksimum yang
diharapkan akan dapat dicapai. Karena laba maksimum didapat dari
pendapatan yang maksimum dikurangi dengan biayayang telah dikeluarkan
oleh perusahaan. Adapun hasil penjualan atau hasil pendapatan ini
merupakan perkalian antara kuantitas yang dijual dengan hargayang
ditetapkan. Sehingga jika harga yang ditetapkan tinggi maka pendapatan
23
Sutrisno Iwantoro. Kiat Sukses Berwirausaha. (Jakarta : PT Grasindo, 2002), hal. 151
24
Nirwana. Prinsip-Prinsip Pemasaran Jasa. (Malang : Dioma, 2004), hal. 86-89
30
akan tinggi pula. Sehingga secara tidak langsung akan dapat
memaksiumkan keuntungan perusahaanya.
2) Pangsa pasar yang lebih luas
Untuk dapat pangsa pasar yang lebih luas, pihak perusahaan akan
menetapkan harga dengan lebih murah. Pangsa pasar yang luas adalah
bentuk dari jumlah konsumen. Dengan demikian, jika pangsa pasar yang
dikehendaki adalah lebih luas, maka pihak penjual harus dapat konsumen
yang lebih banyak pula. Untuk dapat jumlah konsumen yang lebih besar,
alternatif harga yang sesuai adalah dengan harga yang rendah karena harga
yang rendah dapat dijangkau oleh segala kelompok sosial dan ekonomi
masyarakat. Disamping itu harga yang relatif murah akan cenderung
mampu menarik jumlah konsumen yang lebih banyak dalam kurun waktu
yang relatif singkat.
3) Kepemimpinan perusahaan terhadap mutu produk
Jika tujuanya untuk pemimpin produk dipasar, maka ada kecenderungan
harga yang ditetapkan adalah lebih mahal. Karena dengan harga yang
cukup tinggi akan cenderung memberikan persepsi mutu yang baik dari
produk yang dihasilkan. Dengan demikian jika penjual menetapkan harga
yang tinggi, maka dalam hal kepemimpinan mutu produk akan dianggap
sebagai yang terbaik atau pemimpin mutu produk di pasar.
31
4) Menentukan permintaan dari konsumennya
Kepekaan permintaan terhadap perubahan harga ini sering diitilahkan
dengan elastisitas harga terhadap permintaan. Jika permintaan yang terjadi
memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perubahan harga atau sering
disebut sebagai kondisi yang elastis, maka harga dalam hal ini memiliki
peran yang cukup besar dalam perubahan permintaan. Sebaliknya jika
permintaan yang terjadi tidak peka terhadap perubahan harga maka sering
diistilahkan dengan tidak elastis terhadap perubahan harga. Jika demikian
yang terjadi maka pihak perusahaan jurang tepat jika melakuakan
perubahan harga.
5) Perkiraan biaya
Merupakan bagian dari prosedur penetapan harga, seperti itu kita pahami
bahwa biaya pada prinsipnya jelas memiliki korelasi secara langsung dan
searahdengan harga yang akan ditetapkan oleh perusahaan.
6) Kondisi harga pesaing
Kondisi harga pesaing menjadi bagian yang mempengaruhi prosedur
penetapan harga, karena harga yang ditetapkan pesaing akan turut
menentukan keputusan konsumen terhadap harga produk yang akan dipilih.
Jika pesaing memberikan harga rendah, maka konsumen akan cenderung
memilih harga pesaing yang rendah tersebut. Sebaliknya jika harga pesaing
tinggi maka konsumen akan akan kembali pada harga dari produsen yang
rendah tersebut
32
F. Kerangka Konseptual
Menurut Muhammad Kerangka berfikir berisi gambaran pola hubungan antar
variabel atau kerangka konsep yang akan digunakan untuk menjawab masalah yang
diteliti, disusun berdasarkan kajian teoritik yang telah dilakukan dan didukung oleh
hasil penelitian terdahulu25. Berdasarkan pernyataan di atas, disusunlah sebuah
kerangka pemikiran teoritis yang tersaji pada gambar berikut :
25
Muhamad, Metodologi Penelitian Ekonomi Islam, (Jakarta: Raja Grafido Persada, 2013),
hal. 256.
33
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
KUALITAS
PRODUK (X1)
H1
KELENGKAPAN KEPUASAN
PRODUK (X2) KONSUMEN PADA A
H2
KOPMART IAIN
TULUNGAGUNG (Y)
DISPLAY (X3)
H3
HARGA (X4) H5
H4
X1 : Kualitas Prouk
X2 : Kelengkapan Produk
X3 : Suplay Variabel Independen
X4 : Harga
Y : Kepuasan Konsumen Variabel Dependen
34
G. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap masalah
penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi
kebenarannya. Dari uraian rumusan masalah di atas, maka penulis menuliskan
diskripsinya sebagai berikut:
a. H0 : Tidak Terdapat Pengaruh antara kualitas produk (X1) terhadap Kepuasan
Konsumen (Y) pada Konsumen Kopmart IAIN Tulungagung
H1 : Terdapat Pengaruh antara kualitas produk (X1) terhadap Kepuasan
Konsumen (Y) pada Konsumen Kopmart IAIN Tulungagung
b. H0 : Tidak Terdapat pengaruh antara kelengkapan produk (X2) terhadap
Kepuasan Konsumen (Y) pada Konsumen Kopmart IAIN Tulungagung
H2 : Terdapat pengaruh antara Kelengkapan Produk (X2) terhadap
Kelengkapan Produk (Y) pada Konsumen Kopmart IAIN Tulungagung
c. H0 : Tidak Terdapat pengaruh Display (X3) terhadap Kepuasan Konsumen
(Y) pada Konsumen Kopmart IAIN Tulungagung
H3 : Terdapat pengaruh Display (X3) terhadap Kepuasan Konsumen (Y)
pada Konsumen Kopmart IAIN Tulungagung
d. H0 : Tidak Terdapat pengaruh Harga (X3) terhadap Kepuasan Konsumen
(Y) pada Konsumen Kopmart IAIN Tulungagung
H4 : Terdapat pengaruh Harga (X3) terhadap Kepuasan Konsumen (Y) pada
Kosumen Kopmart IAIN Tulungagung
35
e. H0 : Tidak Terdapat pengaruh antara Kualitas Produk (X1), Kelengkapan
Produk (X2) Display(X3) dan Harga (X4) terhadap Kepuasan Konsumen (Y)
pada Konsumen Kopmart IAIN Tulungagung
H5 : Terdapat pengaruh antara Kualitas Produk (X1), Kelengkapan Produk
(X2) Display (X3) dan Harga (X4) terhadap Kepuasan Konsumen (Y) pada
Konsumen Kopmart IAIN Tulungagung.
H. KAJIAN PENELITIAN TERDAHULU
Berdasarkan penelusuran penulis mengenai koleksi jurnal yang telah ada,
penulis tidak menemukan judul penelitian yang sama dengan judul “Pengaruh
kualitas produk, kelengkapan produk, suplay dan harga Terhadap kepuasan pelanggan
kopmart IAIN Tulungagung”, Namun penulis menemukan jurnal yang masih
berkaitan dengan judul penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
Penelitian terdahulu yang pertama yaitu dari Heri Setiawan dengan judul
Pengaruh Kualitas Produk, Kualitas Pelayanan Dan Kepercayaan Terhadap Kepuasan
Nasabah Dan Loyalitas Nasabah Dengan Kepuasan Sebagai Variabel Intervening
(Studi Kasus Pada Nasabah Koperasi Rejo Agung Sukses Cabang Ngaliyan), Hasil
penelitian ini menyatakan secara parsial antara variable kualitas produk, kualitas
pelayanan dan kepercayaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan
Nasabah. Dimana t hitung variabel kualitas produk 4,516 , kualitas pelayanan 4,409
variabel kepercayaan 2,109 > t table 1,679, Sedangkan kepuasan Nasabah
berpengaruh positif dan signifikan terhadap Loyalitas Nasabah, dimana t hitung 5,048
> t table 1,679 .Persamaan pada penelitian ini adalah sama-sama menggunakan
36
kualitas produk dan kualitas pelayanan. Perbedaan penelitian yang akan dilakukan
penulis adalah menggunakan harga sebagai kelengkapan variabel independen dan
kepuasan konsumen sebagai variabel dependen.26
Penelitian yang kedua dari Eswika Nilasari dan Istiatin yang berjudul Kualitas
Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Dealer Pt. Ramayana Motor
Sukoharjo, hasil dari penelitan ini adalah varibel yang paling dominan berpengaruh
terhadap kepuasan konsumen adalah variabel reliabelity (kehandalan) dengan
koefisien 0,504 Uji R2 (R Square) didapatkan hasil 94.4 %. Dan faktor lain yang
mempengaruhi kepuasan konsumen pada Dealer PT. Ramayana Motor Sukoharjo.
sebesar 5,6%. Persamaan dari penelitian ini adalah sama-sama menggunakan kualitas
pelayanan dan kepuasan [Link] penelitian yang akan dilakukan penulis
adalahmenggunakan harga dan kualitas produk sebagai kelengkapan variabel
independen.27
Penelitian penelitian yang ke tiga dari Ririn Sumawati yang berjudul
Pengaruh Kualitas Produk, Harga, Dan Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen
Garden Cafe Koperasi Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, Hasil dari
penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh positif dan signifikan dari variabel
kualitas produk, harga, dan kualitas pelayanan secara bersama-sama terhadap
kepuasan konsumen Garden Cafe dengan nilai Fhitung sebesar 83,089 dan nilai
26
Heri Setiawan dkk, Pengaruh Kualitas Produk, Kualitas Pelayanan Dan Kepercayaan
Terhadap Kepuasan Nasabah Dan Loyalitas Nasabah Dengan Kepuasan Sebagai Variabel
Intervening (Studi Kasus Pada Nasabah Koperasi Rejo Agung Sukses Cabang Ngaliyan), Journal Of
Management, Volume 2 No.2, 2016.
27
Eswika Nilasari & Istiatin, Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen
Pada Dealer Pt. Ramayana Motor Sukoharjo, Jurnal Paradigma Vol. 13, No. 01, 2015.
37
signifikansi sebesar 0,000. Kepuasan konsumen dipengaruhi oleh kualitas produk,
harga, dan kualitas pelayanan sebesar 72,2%, sedangkan sisanya 27,8% dipengaruhi
oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Persamaan dari penelitian
ini sama-sama menggunakan variabel harga, kualitas produk dan pelayanan.
Perbedaan pada penelitian yang akan diteliti oleh penguji adalah penguji
menggunakan anggota koperasi sebagai obyek penelitian.28
Penelitian selanjutnya yang ke empat dari Christian Lasander yang berjudul
Citra Merek, Kualitas Produk, Dan Promosi Pengaruhnya Terhadap Kepuasan
Konsumen Pada Makanan Tradisional (Survey Pada Industri Rumah Tangga Dodol
Daging Pala Audia Di Tahuna Kab. Sangihe), hasil penelitian ini adalah Teknik
analisis data menggunakan regresi linier berganda. Signifikansi menggunakan
statistik Uji-F dan Uji-t. Untuk menguji secara simultan maka digunakan uji-F
dengan hasil F hitung = 18,747 > F Tabel = 2,699 atau Fhitung> Ftabel artinya
citra merek, kualitas produk, dan promosi secara bersama berpengaruh terhadap
kepuasan konsumen. Persamaan dari penelitian ini adalah sama-sama menggunakan
kualitas produk dan harga untuk variabel independen, dan kepuasan konsumen untuk
variabel dependennya. Perbedaan penelitian yang akan diteliti oleh penguji adalah
penguji menggunakan kualitas pelayanan untuk tambahan variabel independennya.29
28
Ririn Sumawati, Pengaruh Kualitas Produk, Harga, Dan Pelayanan Terhadap Kepuasan
Konsumen Garden Cafe Koperasi Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, Jurnal Pendidikan dan
Ekonomi, Vol 7, No 2, 2018.
29
Christian Lasander, Citra Merek, Kualitas Produk, Dan Promosi Pengaruhnya Terhadap
Kepuasan Konsumen Pada Makanan Tradisional (Survey Pada Industri Rumah Tangga Dodol Daging
Pala Audia Di Tahuna Kab. Sangihe), Jurnal EMBA Vol.1 No.3, 2013.
38
Penelitian yang terahir dari Sarini Kodul yang berjudul harga, kualitas produk
dan kualitas pelayanan pengaruhnya terhadap keputusan pembelian mobilavansa,
dengan hasil penelitian Variabel Harga (X1) nilai thitung3.339 lebih besar dari nilai
ttabel sebesar 1,980 dengan tingkat signifikan 0,001< α 0,05 maka H0 ditolak dan Ha
diterima. Variabel Kualitas Produk (X2) nilai thitung 6.858 lebih besar dari nilai
ttabel sebesar 1,980 dengan tingkat signifikan 0,000 < α 0,05 maka H0 ditolak dan Ha
diterima. Variabel Kualitas Pelayanan (X3) nilai thitung 11.026 lebih besar dari nilai
ttabel lebih besar dari 1,980 dengan tingkat signifikan 0,000< α 0,05 maka H0 ditolak
dan Ha diterima. Persamaan dengan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan
kualitas produk, harga dan kualitas pelayanan dalam variabel independennya.
Perbedaan penelitian ini dengan peguji adalah penguji menggunakan keputusan
pembelian dalam variabel dependenya.30
30
Sarini Kodul, harga, kualitas produk dan kualitas pelayanan pengaruhnya terhadap
keputusan pembelian mobilavansa, Jurnal EMBA 1251 Vol.1 No.3 September 2013.