100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
211 tayangan22 halaman

Laporan Pendahuluan Diabetes Melitus

Laporan ini membahas diabetes melitus, termasuk definisi, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, dan faktor-faktor yang berkaitan. Diabetes dibedakan menjadi tipe 1 yang disebabkan kekurangan insulin dan tipe 2 yang disebabkan resistensi insulin. Gejala akut meliputi poliuria, polidipsia, dan poliphagia. Faktor risiko termasuk obesitas, genetik, dan usia.

Diunggah oleh

Septi Melinda Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
211 tayangan22 halaman

Laporan Pendahuluan Diabetes Melitus

Laporan ini membahas diabetes melitus, termasuk definisi, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, dan faktor-faktor yang berkaitan. Diabetes dibedakan menjadi tipe 1 yang disebabkan kekurangan insulin dan tipe 2 yang disebabkan resistensi insulin. Gejala akut meliputi poliuria, polidipsia, dan poliphagia. Faktor risiko termasuk obesitas, genetik, dan usia.

Diunggah oleh

Septi Melinda Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

Keperawatan Medikal Bedah

Oleh :

Nama : SOSYA MONA SEPRIANTI


NPM : 220103108
Dosen Pembimbing :

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU
2022/2023
LAPORAN PENDAHULUAN
DIABETES MELITUS

A. Pengertian Diabetes Melitus


Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya. (Perkeni, 2015)
Menurut American Diabetes Association (2015), diabetes merupakan suatu
penyakit kronis kompleks yang membutuhkan perawatan medis yang lama atau
terus menerus dengan cara mengendalikan kadar gula darah untuk mengurangi
risiko multifaktoral.

B. Klasifikasi Diabetes Melitus


Penyakit diabetes melitus yang dikenal masyarakat sebagai penyakit kencing manis
terjadi pada seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula (glukosa) dalam
darah akibat kekurangan insulin atau reseptor insulin tidak berfungsi baik. Tipe
diabetes mellitus terbagi menjadi 2, yaitu:
1) DM Tipe 1
Diabetes yang timbul akibat kekurangan insulin disebut DM tipe 1 atau Insulin
Dependent Diabetes Melitus (IDDM). Sedang diabetes karena insulin tidak
berfungsi dengan baik disebut DM tipe 2 atau Non-Insulin Dependent Diabetes
Mellitus (NIDDM). Insulin adalah hormon yang diproduksi sel beta di
pankreas, sebuah kelenjar yang terletak di belakang lambung, yang berfungsi
mengatur metabolisme glukosa menjadi energi serta mengubah kelebihan
glukosa menjadi glikogen yang disimpan di dalam hati dan otot. Tidak
keluarnya insulin dari kelenjar pankreas penderita DM tipe 1 bisa disebabkan
oleh reaksi autoimun berupa serangan antibodi terhadap sel beta pankreas.
2) DM Tipe 2
Pada penderita DM tipe 2, insulin yang ada tidak bekerja dengan baik karena
reseptor insulin pada sel berkurang atau berubah struktur sehingga hanya sedikit
glukosa yang berhasil masuk sel. Akibatnya, sel mengalami kekurangan
glukosa, di sisi lain glukosa menumpuk dalam darah. Kondisi ini dalam jangka
panjang akan merusak pembuluh darah dan menimbulkan berbagai komplikasi.
Bagi penderita Diabetes Melitus yang sudah bertahun-tahun minum obat
modern seringkali mengalami efek yang negatif untuk organ tubuh lain.
(Maulana M,2008)

C. Etiologi dan Faktor Resiko Diabetes Melitus


a. Obesitas (kegemukan)
Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada
derajat kegemukan dengan IMT >23 dapat menyebabkan peningkatan kadar
glukosa darah menjadi 200mg%
b. Hipertensi
Peningkatan tekanan darah pada hipertensi berhubungan erat dengan tidak
tepatnya penyimpanan garam dan air atau meningkatnya tekanan dari dalam
tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer
c. Riwayat keluarga
Seorang yang menderita diabetes melitus juga diduga mempunyai gen diabetes.
Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif
d. Dislipedimia
Keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah (Trigliserida > 25
mg/dL). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin dengan rendahnya
HDL (<35 mg/dL) sering didapatkan pada pasien diabetes.
e. Umur
Berdasarkan penelitian, usia yang terbanyak terkena diabetes melitus adalah
>45 tahun.
f. Faktor genetik
DM tipe 2 berasal dari interaksi genetis dan berbagai faktor mental penyakit ini
sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial. Resiko emperis
dalm hal terjadinya DM tipe 2 akan meningkat dua sampai enam kali lipat jika
orang tua atau saudara kandung mengalami DM.
g. Alkohol dan rokok
Alcohol akan mengganggu metabolisme gula darah terutama pada penderita
DM, sehingga akan mempersulit regulasi gula darah dan meningkatkan tekanan
darah.

D. Patofisiologi Diabetes Melitus


A. Diabetes Melitus Tipe 1
DM tipe 1 adalah penyakit autoimun kronis yang berhubungan dengan
kerusakan sel-sel Beta pada pankreas secara selektif. Onset penyakit secara
klinis menandakan bahwa kerusakan sel-sel beta telah mencapai status terakhir.
Beberapa fitur mencirikan bahwa diabetes tipe merupakan penyakit
autoimun. Ini termasuk:
a. kehadiran sel-immuno kompeten dan sel aksesori di pulau pankreas yang
diinfiltrasi.
b. asosiasi dari kerentanan terhadap penyakit dengan kelas II (respon imun)
gen mayor histokompatibilitas kompleks (MHC; leukosit manusia antigen
HLA).
c. kehadiran autoantibodies yang spesifik terhadap sel Islet of Lengerhans;
d. perubahan pada immunoregulasi sel-mediated T, khususnya di CD4 +
Kompartemen.
e. keterlibatan monokines dan sel Th1 yang memproduksi interleukin dalam
proses penyakit.
f. respons terhadap immunotherapy, dan sering terjadi reaksi autoimun pada
organ lain yang pada penderita diabetes tipe 1 atau anggota keluarga
mereka. Mekanisme yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh untuk
berespon terhadap sel-sel beta sedang dikaji secara intensif
B. Diabetes Melitus Tipe 2
Diabetes melitus tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin,
namun karena sel-sel sasaran insulin tidak mampu merespon insulin secara
normal. Keadaan ini disebut resistensi insulin. Resistensi insulin terjadi akibat
dari obesitas dan kurangnya aktivitas fisik serta penuaan. Penderita DM tipe 2
dapat terjadi produksi glukosa hepatic yang berlebihan namun tidak terjadi
pengrusakan sel-sel B Langerhans secara autoimun seperti DM tipe 2.
Defisiensi fungsi insulin DM tipe 2 bersifat relatif dan tidak absolut.
Pada awal perkembangan diabetes melitus tipe 2, sel B menunjukan
gangguan pada sekresi insulin fase pertama, artinya sekresi insulin gagal
mengkompensasi resistensi insulin. Apabila tidak ditangani dengan baik, pada
perkembangan selanjutnya akan terjadi kerusakan sel-sel B pancreas.
Kerusakan sel-sel B pancreas akan terjadi secara progresif seringkali akan
menyebabkan defisiensi insulin.

E. Manifestasi Klinis Diabetes Melitus


Gejala diabetes melitus dibagi menjadi gejala akut dan gejala kronis.
1. Gejala akut
a. Poliuria
Kekurangan insulin untuk mengangkut glukosa melalui membrane dalam
sel menyebabkan hiperglikemia sehingga serum plasma meningkat atau
hiperosmolariti menyebabkan cairan intrasel berdifusi kedalam sirkulasi
atau cairan intravaskuler, aliran darah ke ginjal meningkat sebagai akibat
dari hiperosmolariti dan akibatnya akan terjadi diuresis osmotic (poliuria)
( Bare & Suzanne, 2002).
b. Polidipsia
Akibat meningkatnya difusi cairan dari intrasel kedalam vaskuler
menyebabkan penurunan volume intrasel sehingga efeknya adalah dehidrasi
sel. Akibat dari dehidrasi sel mulut menjadi kering dan sensor haus
teraktivasi menyebabkan seseorang haus terus dan ingin selalu minum
(polidipsia) ( Bare & Suzanne, 2002).
c. Poliphagia
Karena glukosa tidak dapat masuk ke sel akibat dari menurunnya kadar
insulin maka produksi energi menurun, penurunan energi akan menstimulasi
rasa lapar. Maka reaksi yang terjadi adalah seseorang akan lebih banyak
makan (poliphagia) ( Bare & Suzanne, 2002).
d. Penurunan berat badan
Karena glukosa tidak dapat di transport kedalam sel maka sel kekurangan
cairan dan tidak mampu mengadakan metabolisme, akibat dari itu maka sel
akan menciut, sehingga seluruh jaringan terutama otot mengalami atrofidan
penurunan secara otomatis (Bare & Suzanne, 2002).
e. Malaise atau kelemahan ( Bare & Suzanne, 2002)
2. Gejala kronis
Gejala kronis diabetes melitus yaitu: Kesemutan, kulit terasa panas atau seperti
tertusuk-tusuk jarum, rasa kebas di kulit, kram, kelelahan, mudah mengantuk,
pandangan mulai kabur, pada ibu hamil sering terjadi keguguran atau kematian
janin dalam kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg.
F. WOC
Genetik, sindrom Obesitas, usia, pola
ovarium, virus, bakteri, hidup
bahan toksik

Kerusakan Reseptor insulin


pankreas pada sel berkurang

Penghancuran sel- Jumlah sel


sel beta pankreas menurun

DM Tipe 1 DM Tipe 2

Defisiensi Insulin

Katabolisme protein
Hiperglikemia
meningkat

Fleksibilitas darah ↓ Lipolisis meningkat


Protein dalam tubuh ↓

Pelepasan O2 Penurunan BB
Resistensi infeksi ↓

Hipoksia perifer
Luka MK: Defisit
Nutrisi (D.0019)
MK: Perfusi Perifer
Pertumbuhan Tidak Efektif (D.0009)
organisme
Poliuri
MK: Intoleransi
Gangren Aktivitas (D.0056)
Dehidrasi

MK: Gangguan
MK: Resiko
Integritas
Ketidakseimbangan
Kulit/Jaringan (D.0129)
Elektrolit (D.0037)
G. Pemeriksaan Penunjang Diabetes Melitus

Jenis-jenis pemeriksaan laboratorium untuk Diabetes Melitus adalah sebagai


berikut :
 Gula darah puasa
Pada pemeriksaan ini pasien harus berpuasa 8-10 jam sebelum pemeriksaan
dilakukan. Spesimen darah yang digunakan dapat berupa serum atau plasma
vena atau juga darah kapiler. Pemeriksaan gula darah puasa dapat digunakan
untuk pemeriksaan penyaringan, memastikan diagnostik atau memantau
pengendalian DM. Nilai normal 70-110 mg/dl.
 Gula darah sewaktu
Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan pada pasien tanpa perlu diperhatikan
waktu terakhir pasien pasien. Spesimen darah dapat berupa serum atau
plasma yang berasal dari darah vena. Pemeriksaan gula darah sewaktu plasma
vena dapat digunakan untuk pemeriksaan penyaringan dan memastikan
diagnosa Diabetes Melitus. Nilai normal <200 mg/dl.
 Gula darah 2 jam PP (Post Prandial)
Pemeriksaan ini sukar di standarisasi, karena makanan yang dimakan baik
jenis maupun jumlah yang sukar disamakan dan juga sukar diawasi pasien
selama 2 jam untuk tidak makan dan minum lagi,  juga selama menunggu
pasien perlu duduk, istirahat yang tenang, dan tidak melakukan kegiatan
jasmani yang berat serta tidak merokok. Untuk pasien yang sama,
pemeriksaan ini bermanfaat untuk memantau DM. Nilai normal <140 mg/dl.
 Glukosa jam ke-2 TTGO
TTGO tidak diperlukan lagi bagi pasien yang menunjukan gejala klinis khas
DM dengan kadar gula darah atau glukosa sewaktu yang tinggi melampaui
nilai batas sehinggasudah memenuhi kriteria diagnosa DM. (Gandasoebrata,
2007 : 90-92).
Nilai normal   :
o Puasa : 70 – 110 mg/dl
o ½ jam : 110 – 170 mg/dl
o 1 jam : 120 – 170 mg/dl
o 1½ jam : 100 – 140 mg/dl
o 2 jam : 70 – 120 mg/dl
Kriteria Diabetes Melitus di tegakkan bila (Riskesdas, 2013):
a. Nilai gula darah sewaktu (GDS) >200mg/dl, disertai dengan gejala khas
diabetes melitus (banyak makan, sering buang air kecil, sering minum, dan
berat badan turun)
b. Nilai gula darah puasa (GDP) >126 mg/dl, disertai dengan gejala khas diabetes
melitus
c. Nilai Gula darah 2 jam PP (Post Prandial) >200mg/dl, meskipun nilai GDP
<126 mg/dl dan atau gejala khas diabetes tidak mengikuti
d. TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) ditegakkan bila nilai gula darah 2 jam PP
140-199 mg/dl
e. Gula Darah Puasa (GDP) menurut ADA (American Diabetes Association)
(2011) ditegakkan bila nilai GDP 100-125 mg/dl.

H. Penatalaksanaan Diabetes Melitus


Tujuan penatalaksanaan pasien DM (Konsensus penelolaan DM, 2015). Tujuan
penatalaksanaan DM adalah:
1. Tujuan pendek
Menghilangkan keluhan diabetes melitus, memperbaiki kualitas hidup, dan
mengurangi rosoko komplikasi akut
2. Tujuan panjang
Mencegah dan menghambat progresif penyulit mikroangiopati dan
makroangiopati
3. Tujuan akhir
Turunnya morbiditas dan mortalitas DM
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah,
tekanan darah, berat badan dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien dengan
mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku.
1. Diet
Prinsip pengaturan makan pada penderita DM yaitu makanan yang seimbang
dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing individu. Prinsip diet
yaitu dengan keteraturan jadwal makan, jenis makanan, dan jumlah kalori.
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang
dalam hal karbohidrat 60-70%, lemak 20-25%, dan protein 10-15%. Indeks
Massa Tubuh (IMT) merupakan alat untuk memantau status gizi orang dewasa,
khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.
Rumus:
IMT = BB(kg)/TB(m2)
Klasifikasi IMT:
- BB kurang <18.5
- BB normal 18.5-22.9
- BB lebih >23
2. Exercise (latihan fisik/olahraga)
Latihan jasmani dapat dilakukan jika tidak disertai adanya nefropati. Kegiatan
jasmani sehari-hari dan latihan jasmani dilakukan secara teratur sebanyak 3-5
kali perminggu selama sekitar 30-45 menit dengan total 150 menit perminggu.
Jeda antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut. Dianjurkan untuk
melakukan pemeriksaan glukosa darah sebelum latihan jasmani. Kadar glukosa
darah <100 mg/dl pasien harus mengkonsumsi karbohidrat terlebih dahulu dan
bila >250 mg/dl dianjurkan untuk menunda latihan jasmani. Latihan jasmani
yang dianjurkan berupa latihan yang bersifat aerobic dengan intensitas sedang
seperti jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan berenang.
3. Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan sangat penting dalam pengelolaan. Pendidikan kesehatan
pencegahan primer harus diberikan kepada masyarakat resiko tinggi. Pendidikan
kesehatan sekunder diberikan kepada kelompok pasien DM,
sedangkan pendidikan kesehatan untuk pencegahan tersier diberikan kepada
pasien yang sudah mengalami DM dengan penyulit menahun.
4. Terapi farmakologis
Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan.
1. Obat anti hiperglikemia oral

2. Obat antihiperglikemia suntik


a. Insulin
Insulin diperlukan pada keadaan: penurunan berat badan yang cepat,
HbA1c>9% dengan kondisi dekompensasi metabolik, hiperglikemia
berat yang disertai ketosis, gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat.
Dosis insulin disesuaikan oleh kondisi setiap individu, ada 3 macam
sediaan insulin:
1) Insulin kerja singkat (short-acting) mula kerja relatif cepat.
Contohnya insulin lispro dan insulin aspart
2) Insulin kerja sedang (intermediate-acting), contohnya insulin
isophane dan suspense insulin seng
3) Insulin kerja panjang dengan mula kerja lebih lambat, contohnya
suspensi insulin seng
b. Agonis GLP-1
Agonis GLP-1 dapat bekerja pada sel-beta sehingga terjadi peningkatan
pelepasan insulin,mempunyai efek menurunkan berat badan,
menghambat pelepasan glukagon, dan menghambat nafsu [Link]
penurunan berat badan agonis GLP-1 juga digunakan untuk indikasi
menurunkan berat badanpada pasien DM dengan obesitas. Pada
percobaan binatang, obat ini terbukti memperbaiki cadangan sel beta
pankreas. Efek samping yang timbul pada pemberian obat ini antara lain
rasa sebah dan muntah. Obat yang termasuk golongan ini adalah:
Liraglutide, Exenatide, Albiglutide, dan Lixisenatide.
c. Kombinasi insulin dan agonis GLP-1
Kombinasi obat antihiperglikemia oral denganinsulin dimulai dengan
pemberian insulin basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja
panjang). Insulin kerja menengah harus diberikan jam 10 malam
menjelang tidur, sedangkan insulin kerja panjang dapat diberikan sejak
sore sampai sebelum [Link] tersebut pada umumnya
dapat mencapai kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin
yang cukup kecil. Dosis awal insulin basal untuk kombinasiadalah 6-10
[Link] dilakukan evaluasi dengan mengukurkadar glukosa darah
puasa keesokan harinya. Dosis insulin dinaikkan secara perlahan (pada
umumnya 2 unit) apabila kadar glukosa darah puasa belum mencapai
target. Pada keadaaan dimana kadar glukosa darah sepanjang hari masih
tidak terkendali meskipun sudah mendapat insulin basal, maka perlu
diberikan terapi kombinasi insulin basal dan prandial, sedangkan
pemberian obat antihiperglikemia oral dihentikan dengan hati-hati.
5. Perawatan Luka Diabetes Mellitus
Perawatan luka ini dapat dilakukan melalui debridemen, mengurangi beban
tekanan, kontrol infeksi dengan antibiotik yang sesuai dan penggantian balutan
serta tindakan operasi atau bedah untuk mencegah komplikasi dan mempercepat
penyembuhan (Sigh, 2013).
a) Debridemen
Debridemen berfungsi untuk menghilangkan jaringan mati/nekrotik dan
benda asing serta dapat mengoptimalkan lingkungan sekitar luka. Metode
ini dilakukan menggunakan balutan basah- kering, menggunakan enzim
seperti salep.
b) Balutan/Dressing
Tindakan dresing merupakan salah satu komponen penting dalam
mempercepat penyembuhan luka. Prinsipnya adalah menciptakan suasana
keadaan lembab sehingga dapat meminimalisir trauma. Faktor yang harus
diperhatikan dalam memilih dressing yang akan digunakan yaitu tipe ulkus,
ada atau tidaknya eksudat, ada tidaknya infeksi, kondisi kulit sekitar dan
biaya. Beberapa jenis dressing diantara lain :
c) Penatalaksanaan dengan operasi
- Penutupan luka (skin graft) merupakan tindakan memindahkan
sebagian atau selluruhnya tebalnya kulit dari satu tempat ke tempat lin
dan dibutuhkan revaskularisasi untuk menjamin kelangsungan hidup
kulit yang dipindahkan
- Pembedahan revaskularisasi merupakan upaya untuk menurunkan
risiko amputasi pada klien dengan iskemik perifer. Metode ini meliputi
bypass grafiting atau endovascular technique.
- Amputasi merupakan tindakan yang paling terakhir jika berbagai
macam telah gagal dan tidak menunjukkan perbaikan. Amputasi ini
dilakukan pada penderita DM dengan ulkus kaki 40-60% pada
ekstremitas bawah. Amputasi menyebabkan seseorang menjadi cacat
dan kehilangan kemandiriannya (Wounds International, 2013). Indikasi
amputasi meliputi :
a) Iskemik jaringan yang tidak dapat diatasi dengan tindakan
revaskularisasi
b) Infeksi kaki yang mengancam dengan perluasan infeksi yang tidak
terukur
c) Terdapat ulkus yang semakin memburuk sehingga tindakan
pemotonan menjadi lebih baik untuk keselamatan pasien.

I. Komplikasi Diabetes Melitus


Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan komplikasi akut dan
kronis. Menurut PERKENI komplikasi DM dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Komplikasi akut
a. Hipoglikemia
Kadar glukosa darah seseorang dibawah nilai normal (<50 mg/dL).
Hipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita DM tipe 1 yang dapat
dialami 1-2 kali perminggu. Kadar gula darah yang rendah akan
menyebabkan sel-sel otak tidak mendapat pasokan energi sehingga tidak
berfungsi bahkan dapat mengalami kerusakan
b. Hiperglikemia
Apabila kadar gula darah meningkat secara tiba-tiba, dapat berkembang
menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya, antara lain ketoasidosis
diabetik, koma hiperosmoler non ketotik dan kemolakto asisdosis
2. Komplikasi kronis
a. Komplikasi makrovaskuler, terjadi trombosit otak (pembekuan darah pada
bagian otak, mengalami penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung
kongetif, dan stroke
b. Komplikasi mikrovaskuler terjadi pada penderita DM tipe 1 seperti
nefropati, diabetic, retinopati (kebutaan), neuropati, dan amputasi
ASUHAN KEPERAWATAN

DIABETES MELITUS

1. Pengkajian
a. Identitas
Identitas beberapa data didapatkan adalah nama klien, umur, pekerjaan orang tua,
pendidikan orang tua, agama, suku, alamat. Dalam identitas data/ petunjuk yang
dapat kita prediksikan adalah Umur, karena seseorang memiliki resiko tinggi
untuk terkena diabetes mellitus pada umur diatas 40 tahun.
b. Keluhan Utama
Pasien diabetes mellitus datang kerumah sakit dengan keluhan utama yang
berbeda-beda. Pada umumnya seseorang dating kerumah sakit dengan gejala khas
berupa polifagia, poliuria, polidipsia, lemas, dan berat badan turun.
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian riwayat penyakit dahulu akan didapatkan informasi apakah
terdapat factor-faktor resiko terjadinya diabetes mellitus misalnya riwayat
obesitas, hipertensi, atau juga aterosclerosis
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengkajian pada RPS berupa proses terjadinya gejala khas dari DM, penyebab
terjadinya DM serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk
mengatasinya.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji adanya riwayat keluarga yang terkena diabetes mellitus, hal ini
berhubungan dengan proses genetic dimana orang tua dengan diabetes
mellitus berpeluang untuk menurunkan penyakit tersebut kepada anaknya.
d. Pola Aktivitas
1) Pola Nutrisi
Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka
kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan
sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan
mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan
nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan penderita.
2) Pola Eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang
menyebabkan pasien sering kencing (poliuri) dan pengeluaran glukosa pada
urine ( glukosuria ). Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.
3) Pola Istirahat dan Tidur
Adanya poliuri, dan situasi rumah sakit yang ramai akan mempengaruhi waktu
tidur dan istirahat penderita, sehingga pola tidur dan waktu tidur penderita
4) Pola Aktivitas
Adanya kelemahan otot – otot pada ekstermitas menyebabkan penderita tidak
mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal, penderita mudah
mengalami kelelahan.
5) Pola persepsi dan konsep diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita
mengalami gangguan pada gambaran diri. lamanya perawatan, banyaknya
biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan
dan gangguan peran pada keluarga (selfesteem).
6) Pola sensori dan kognitif
Pasien dengan diabetes mellitus cenderung mengalami neuropati / mati rasa
pada kaki sehingga tidak peka terhadap adanya trauma.
7) Pola seksual dan reproduksi
Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi
sehingga menyebabkan gangguan potensi sek, gangguan kualitas maupun
ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme.
8) Pola mekanisme stres dan koping
Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan tidak
berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif
berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain – lain, dapat
menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang
konstruktif / adaptif.
e. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan
dan tanda – tanda vital.
2) Head to Toe
a) Kepala Leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga
kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering
terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah
bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa
mata keruh.
b) Sistem integument
Kaji Turgor kulit menurun pada pasien yang sedang mengalami dehidrasi,
kaji pula adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban dan
suhu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar
luka, tekstur rambut dan kuku.
c) Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas menandakan pasien mengalami diabetes ketoasidosis,
kaji juga adanya batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM mudah
terjadi infeksi.
d) Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,
takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis. Hal ini
berhubungan erat dengan adanya komplikasi kronis pada makrovaskuler
e) Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat
[Link] glukosa akan dibuang dalam bentuk urin.
f) Sistem muskuloskeletal
Adanya katabolisme lemak, Penyebaran lemak dan, penyebaran masa
otot,berubah. Pasien juga cepat lelah, lemah.
g) Sistem neurologis
Berhubungan dengan komplikasi kronis yaitu pada system neurologis pasien
sering mengalami penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi,
mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.
f. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :
1) Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120
mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl.
2) Urine
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan
dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui
perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ), dan
merah bata ( ++++ ).
3) Kultur pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai
dengan jenis kuman.
2. Diagnosa Keperawatan
1) Perfusi Perifer Tidak Efektif b.d hiperglikemia d.d pengisian kapiler >3 detik (D.
0009)
2) Defisit Nutrisi b.d peningkatan kebutuhan metabolisme d.d berat badan menurun
10% dibawah rentang ideal (D. 0019)
3) Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit b.d ketidakseimbangan cairan (dehidrasi)
d.d diabetes melitus (D.0037)
4) Intoleransi Aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
(D.0056)
5) Gangguan Integritas Kulit/Jaringan b.d perubahan status nutrisi (kekurangan) d.d
kerusakan jaringan atau lapisan kulit (D.0129)
3. Intervensi Keperawatan

Perfusi Perifer Tidak Efektif b.d hiperglikemia d.d pengisian kapiler >3
detik (D. 0009)
SLKI SIKI

Dalam 1 x 24 jam masalah 1. Monitor EWS


keperawatan dapat teratasi dengan 2. Periksa sirkulasi perifer (nadi
kriteria hasil : perifer, pengisian kapiler, warna
1. CRT <2 detik kulit)
2. Penyembuhan luka 3. Identifikasi factor risiko
meningkat gangguan sirkulasi (diabetes
3. Tugor kulit membaik melitus, cek gula darah secara
4. Tekanan darah sistolik rutin)
membaik 4. Ajarkan program diet sesuai
5. Tekanan darah diastolik dengan kebutuhan
membaik

Defisit Nutrisi b.d peningkatan kebutuhan metabolisme d.d berat badan


menurun 10% dibawah rentang ideal (D. 0019)
SLKI SIKI

Dalam 1 x 24 jam masalah 1. Monitor asupan makanan


keperawatan dapat teratasi dengan 2. Monitor berat badan
kriteria hasil : 3. Ajarkan diet yang diprogramkan
1. Porsi makanan yang 4. Kolaborasi pemberian medikasi
dihabiskan meningkat sebelum makan (antlemetik)
2. Serum albumin meningkat 5. Kolaborasi dengan ahli gizi
3. Frekuensi makan membaik untuk menentukan jumlah kalori
4. Nafsu makan membaik dan jenis nutrien yang
dibutuhkan
Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit b.d ketidakseimbangan cairan
(dehidrasi) d.d diabetes melitus (D.0037)
SLKI SIKI

Dalam 1 x 24 jam masalah 1. Monitor kehilangan cairan


keperawatan dapat teratasi dengan (dehidrasi)
kriteria hasil : 2. Identifikasi tanda dan gejala
1. Dehidrasi menurun ketidakseimbangan kadar
2. Tekanan darah membaik elektrolit
3. Serum natrium membaik 3. Berikan diet yang tepat
4. Serum kalium membaik 4. Edukasi tentang jenis,
5. Serum klorida membaik penyebab, dan penanganan
ketidakseimbangan elektrolit

Intoleransi Aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan


oksigen (D.0056)
SLKI SIKI

Dalam 1 x 24 jam masalah 1. Moitoring tanda-tanda vital


keperawatan dapat teratasi dengan 2. Identifikasi kebutuhan kalori dan
kriteria hasil : jenis nutrient
3. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
1. Frekuensi nadi meningkat
menentukan jumlah kalori dan
2. Oliguria menurun
jenis nutrient yang dibutuhkan
3. Tekanan darah membaik
Gangguan Integritas Kulit/Jaringan b.d perubahan status nutrisi
(kekurangan) d.d kerusakan jaringan atau lapisan kulit (D.0129)
SLKI SIKI

Dalam 1 x 24 jam masalah 1. Monitor karakteristik luka


keperawatan dapat teratasi dengan (warna, ukuran, bau)
kriteria hasil : 2. Monitor tanda-tanda infeksi
1. Kerusakan jaringan 3. Bersihkan jaringan nekrotik
menurun 4. Pertahankan Teknik steril saat
2. Kerusakan lapisan kulit melakukan perawatan luka
menurun 5. Edukasi tentang tanda dan gejala
infeksi
6. Kolaborasi pemberian antibiotik
DAFTAR PUSTAKA

Bennett, P. Epidemiology Of Type 2 Diabetes Millitus. In [Link], Diabetes


Millitus Fundamental and Clinical [Link]:Lippincott William
&Wilkin s. 2008; 43 (1):544-7
Buraerah, Hakim. Analisis Faktor Risiko Diabetes Melitus tipe 2 di Puskesmas
Tanrutedong, Sidenreg Rappan,. Jurnal Ilmiah Nasional;2010
Fatimah, Restyana Noor. 2015. Diabetes Melitus Tipe 2. Medical Faculty, Lampung
University
Soelistijo, dkk. 2015. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2
di Indonesia 2015. [Link]:Jakarta
Teixeria L. Regular physical exercise training assists in preventing type 2 diabetes
development: focus on its antioxidant and anti-inflammantory properties.
Biomed Central Cardiovascular Diabetology.2011; 10(2);1-15.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). 
Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), 
Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), 
Edisi 1. Jakarta: Persatuan Perawat Indonesia

Anda mungkin juga menyukai