BAB I
PENDAHULUAN
SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) adalah sebuah
program pada komputer yang digunakan untuk membuat analisis
statistika. SPSS (pertama dirilis pada tahun 1968, dan diciptakan oleh
Norman Nie, seorang lulusan Fakultas Ilmu Politik dari Stanford
University, yang sekarang menjadi Profesor Peneliti Fakultas Ilmu Politik di
Stanford dan Profesor Emeritus Ilmu Politik di University of Chicago.
Sekarang ini SPSS yang berkembang sudah berbasis Windows
sehingga di kenal dengan SPSS for windows. Petama kali muncul versi
windows adalah SPSS for Windows versi 6.00, hingga kini SPSS yang
paling terbaru adalah SPSS 19. SPSS memilik banyak kegunaan bagi
pengguna seperti peneliti pasar, peneliti kesehatan, perusahaan survei,
pemerintah, peneliti pendidikan, organisasi pemasaran, dan sebagainya.
Pada dasarnya pengoperasian SPSS memiliki kesamaan dalam
berbagai versi, perbedaan hanya pada fasilitas tambahan yang
ditawarkan. Selain itu, SPSS merupakan software statistik yang paling
populer, fasilitasnya sangat lengkap dibandingkan dengan software
lainnya. Oleh karena itu, diharapkan dengan penggunaan SPSS dapat
memberikan kemudahan dan ketepatan dalam mengolah
data.
Ada beberapa teknik statistik yang dapat digunakan untuk
menganalisis data. Tujuan dari analisis data adalah untuk mendapatkan
informasi yang relevan yang terdapat dalam data tersebut dan
menggunakan hasilnya untuk memecahkan suatu masalah. Dalam bab
pendahuluan ini, sebelum mengolah data, diperlukan pengelompokkan
data terlebih dahulu agar dapat menghasilkan penelitian dengan hasil yang
baik.
DATA PENELITIAN
• Data metriks atau data kuantitatif yaitu data yang berupa angka
menunjukkan jumlah atau banyaknya sesuatu unit.
• Data nonmetrik atau data kualitatif yaitu data yang berupa huruf,
data yang dikategorisasi tetapi tidak dapat dikuantitatifkan atau
dioperasikan dalam hitungan. misalnya jenis kelamin.
TIPE SKALA PENGUKURAN
• Skala Nominal yaitu skala pengukuran yang menyatakan kategori
interistik atau klasifikasi dari konstruksi yang diukur dalam bentuk
variabel dan merupakan data nonparametik atau data kualitatif
(data bukan angka). Contohnya jenis kelamin.
• Skala Ordinal yaitu skala pengukuran yang tidak hanya
menyatakan kategori tapi juga menyatakan peringkat konstruksi
yang diukur dan data nonparametik atau data kualitatif.
• Skala Internal (Jarak) yaitu skala pengukuran yang menyatakan
kategori, peringkat dan jarak konstruksi. Skala interval mempunyai
karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dan
ditambah ada interval yang tetap dan menggunakan data parametik
atau data kuantitatif (data yang berupa angka).
• Skala Ratio yaitu skala perbandingan yang menunjukkan
kategori, peringkat, jarak dan perbandingan konstruksi yang
diukur. Skala ratio memiliki semua karakteristik yang dipunyai
oleh skala nominal, ordinal, dan interval dan merupakan data
parametik atau kuantitatif (data yang berupa angka). Pengukuran
rasio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu
dengan objek lainnya.
BAB II
PENGENALAN SPSS
MEMBUKA FILE BARU
Untuk file baru dapat dibuat dengan mengaktifkan SPSS 17.0 dilakukan
dengan cara yaitu :
1) Klik menu Start
2) Klik All Programs
3) Klik SPSS for inc
4) Klik SPSS Statistics 17.0, maka akan muncul tampilan seperti di bawah
ini :
Keterangan :
Run the tutorial merupakan pilihan apabila akan menjalankan tutorial
SPSS. Memiliki tampilan seperti yang ada di bawah ini :
Ada 14 macam tutorial yang disajikan dalam SPSS 17.0 dan apabila
ingin memilih salah satu di anataranya, arahkan kursor dan klik bagian
tutorial yang ingin dituju. Selanjutnya untuk menjalankan tutorial dengan
meng-klik tanda
yang terletak di bawah kanan tutorial.
o Type in data. Apabila akan memasukkan data baru dengan
pilihan perintah Type in data, maka secara otomatis SPSS
akan memunculkan pada data view dan variabel view.
o Run an existing query. Pilihan ini memuat menu Open
atau membuka file dengan tipe file *.spq.
o Create new query using Database Wizard
merupakan pilihan untuk engekstrak data non-SPSS.
Biasanya default SPSS adalah data source Dbase mengambil
data selain default ini, klik Add ODBC Data Source seperti
tampilan di bawah ini :
o Open an existing data source merupakan pilihan apabila akan
membuka file yang baru dibuka atau dengan tipe file *.sav
o Open another type or file merupakan pilihan untuk membuka file
dengan tipe file selain *.sav.
5) Setelah memilih salah satu dari cara membuka file maka klik OK.
DATA EDITOR
Ada 2 macam data editor di dalam SPSS yaitu :
1. Data view
Data view adalah tempat di mana data statistik yang akan diolah (sudah dalam
bentuk angka skala). Data view memiliki tampilan seperti di bawah ini :
Keterangan :
a) Title bar merupakan nama dari judul SPSS yang sedang dibuka. Pada
umumnya, nama yang diberikan oleh SPSS pada saat membuka pertama kali
yaitu Untitled1[DataSet0]SPSS Statistics Data Editor.
b) Menu berisi perintah mengenai menu di mana di dalamnya terdapat
Submenu yang
digunakan untuk memproses data yang akan diolah.
o File, pada menu utama File memuat 20 pilihan sub-menu.
Pada menu utama File memuat sub-submenu tentang file, di antaranya
membuat file baru (New), membuka (Open), menutup (Close), dan menyimpan
file (Save-Save As…).
o Edit merupakan submenu untuk melakukan pengeditan data yang telah
dimasukkan pada SPSS Data Editor. Beberapa kegunaan dari submenu dari
menu utama Edit adalah melakukan undo atau mengembalikan action terakhir
yang dilakukan, sedangkan redo sebaliknya, cut – clear untuk menghapus data,
copy – paste untuk menggandakan dan duplikasi data, find untuk mencari data,
dan copy – paste variable untuk mengganti variabel data.
o View, merupakan menu yang menampilkan submenu untuk menampilkan
status toolbar yang sedang aktif (Status Bar), toolbar dan font huruf yang
digunakan. Pilihan submenu dari menu utama View seperti berikut :
o Data, merupakan menu yang menampilkan submenu untuk melakukan
perubahan-perubahan terhadap data SPSS, seperti mendefinisikan nilai label
data (define variable properties…), mendefinisikan waktu (define dates…),
mengurutkan data (sort cases), dan memisah isi file dengan riteria tertentu
(split file).
o Transform, merupakan pilihan menu utama yang melakukan operasi
transformasi data, seperti menghitung variabel data ( compute variable…),
mengubah data (recode into same variables…- recode into different variables… )
ataupun me-ranking data (rank cases).
o Analyze, merupakan menu utama yang menjadi pusat pengolahan data
SPSS, menampilkan 21 submenu.
o Graphs, dikelompokkan hanya menjadi 4 submenu, yang menampilkan
berbagai bentuk grafik dan chart.
o Utilities, menu utama yang merupakan pelengkap pada pengoperasian SPSS
ini menyajikan 9 submenu. Beberapa kegunaansubmenu dari menu utama
Utilities adalah menampilkan informasi variabel ( variables…), mendefinisikan,
dan menampilkan variabel data (define-use variabel sets…).
o Add-ons, merupakan menu utama yang menawarkan pelayanan SPSS lewat
website.
o Window, menu ini memberikan informasi window yang sedang aktif.
o Help, menu yang memuat 9 submenu ini memberikan bantuan informasi
tentang topik-topik SPSS (topics) ataupun dalam bentuk tutorial (tutorial).
c) Toolbar berisi icons yang membantu dan mempermudah mengelola data
dengan cepat.
Berikut beberapa icons yang terdapat pada toolbar :
merupakan icon untuk membuka file.
merupakan icon untuk menyimpan file.
merupakan icon untuk mencetak data.
icon untuk mengembalikan action terakhir.
icon untuk mengulang action yang baru saja dilakukan.
d) Baris Nama Variabel merupakan tempat yang menunjukkan nama dari
suatu variabel. Untuk pertama kali baris nama variabel diberi nama Var. Untuk
mengganti nama variabel dapat melalui variabel view dan mengganti dengan
cara double klik kotak variabel tersebut.
e) Baris data
Merupakan barisan yang berisi data-data dalam jumlah banyak yang
merupakan data daripada varibel tersebut.
2. Variabel view
Variabel view merupakan bagian yang digunakan untuk mendefinisikan variabel
data yang akan dimasukkan. Untuk mengaktifkan kotak Variabel View lakukan
dengan klik Variabel View (bagian yang diberi kotak). Variabel view memiliki
gambar seperti di bawah ini :
Di dalam Variabel View di atas memiliki keterangan sebagai berikut:
• Name : berisi nama variabel. Misal dengan memberikan nama variabel data
pertama, maka klik kolom Name pada baris pertama, misalnya Jenis
Kelamin.
• Type : merupakan tipe data, berbagai macam type yang ada memiliki fungsi
yang berbeda yaitu :
a. numeric untuk data angka dengan lebar 8 digit dan 2 angka desimal di
belakang koma
b. string untuk data teks, biasanya data berupa nama. Contoh : nama
perusahaan.
c. Date adalah data yang dimasukkan berupa tanggal dst.
• Width : diisikan sejumlah karakter (lebar kolom) yang akan diinput dalam
Data View. Untuk tipe data numerik, lebar maksimal 40 digit, sedangkan tipe
data string lebar maksimal 32767digit. Apabila menginginkan menambah lebar
ditambah, klik tanda panah ke atas, sebaliknya untuk mengurangi digit lebar,
klik panah ke bawah.
• Decimal : diisi jumlah desimal karakter maksimal yang akan diinput dalam
Data View. SPSS memberikan default 2 angka desimal di belakang koma. Jika
jumlah desimal ingin ditambah, klik tanda panah ke atas dan sebaliknya
untuk mengurangi digit lebar, klik panah ke bawah.
• Label : kolom yang menunjukkan tambahan informasi dengan memberikan
label variabel data.
• Value : untuk memberi kodefikasi, misalnya Motor=1, Mobil=2, 3=Jalan kaki.
• Missing : untuk merupakan kolom yang menunjukkan data yang hilang)
Namun, jika
data lengkap (tidak ada data yang hilang) maka kolom ini dapat diabaikan.
• Columns : Memiliki fungsi mengubah jumlah karakter yang dapat
dimasukkan pada suatu variabel tertentu. Bila kita mengisi coloumns dengan
angka 2, maka hanya dua digit data saja yang dapat dimasukkan pada variabel
tersebut.
• Align : untuk pengaturan tampilan perataan kata dalam Data View, seperti
left, centre, right.
• Measure : merupakan tipe variabel yang akan menentukan jenis analisis
yang akan digunakan. Maka secara default akan terpilih Nominal atau ordinal ,
jika variabel bertipe string. Scale digunakan apabila data yang ingin kita olah
akan dibuat skala pengukuran (range).
MEMINDAHKAN DATA
Tinggi
Umur Badan Berat badan
NO. (Tahun) (cm) (kg) IMT FVC NN Predicted(%)
1 21 175 53 17.31 2990 4322.5 69
2 21 174 54 17.84 3140 4274 73
3 20 178 57 17.99 3060 4414 69
4 19 160 45 17.58 3010 3480 86
5 22 165 49 18.00 2910 3820.5 76
6 22 178 55 17.36 3240 4451 73
7 21 169 50 17.51 2980 4031.5 74
8 21 165 49 18.00 3230 3837.5 84
9 20 170 52 17.99 3260 4026 81
10 22 178 54 17.04 3390 4451 76
11 20 173 49 16.37 3350 4171.5 80
12 21 168 50 17.72 2940 3983 74
13 22 165 48 17.63 3290 3820.5 86
14 22 177 55 17.56 3580 4402.5 81
15 22 164 44 16.36 2980 3772 79
16 20 174 54 17.84 2810 4220 67
17 20 184 60 17.72 3630 4705 77
18 21 166 46 16.69 3070 3886 79
• Pilih Type in data, Copy data di atas dan Paste di Data View seperti
gambar di bawah ini :
MENGGANTI NAMA VARIABLE
Untuk mengganti nama variabel pada data view, dengan cara :
• Membuka Variabel View
• Double klik variabel pada Tab Nama untuk mengganti sesuai dengan
variabel yang
dihendaki.
MENYIMPAN FILE
Untuk menyimpan data dalam SPSS, hal yang perlu kita lakukan :
• Pada file yang sedang di buka pada SPSS, klik menu File
•Pilih Submenu Save As
• Maka akan mucul kotak seperti d bawah ini, dan pada kotak File name berisi
nama file yang akan kita simpan misalnya IMT dan pada kotak Save as type
berisi SPSS Statistics (*sav)
• Pilih Save, maka data akan tersimpan dengan nama file [Link].
BAB III
STATISTIK DESKRIPTIF
Statistik deskriptif berupa frekuensi dan nil21ai pusat ( central tendency).
Frekuensi biasanya dimunculkan dalam bentuk proporsi atau persentase untuk
data atau variabel kategorik. Sedangkan nilai pusat berupa nilai tengah dan
nilai sebaran (mean, median, SD, SE, dll) untuk data atau variabel numerik.
Statistik deskriptif ini juga akan dilengkapi dengan grafik histogram untuk data
numerik.
Cara yang paling sering digunakan untuk menampilkan data katagorikal
adalah : dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Kita akan coba
membuat table distribusi frekuensi.
1. Bukalah file [Link], sehingga data tampak di jendela Data Editor
2. Prosedur untuk menampilkan distribusi frekuensi adalah sebagai berikut:
Dari menu utama, pilihlah:
Analyze
Descriptive Statistic <
Frequencies…
Pada layar tampak kotak dialog seperti gambar berikut:
3. Pada kotak dialog tersebut, klik pada variabel DIDIK yang terdapat pada
kotak sebelah kiri. Kemudian klik tanda >, sehingga kotak dialog menjadi
seperti gambar berikut:
Pada kolom Frequency menunjukkan jumlah kasus dengan nilai yang
sesuai. Jadi pada contoh di atas, ada 3 kader kesehatan yang berpendidikan
SD dari 65 ibu yang ada. Proporsi dapat dilihat pada kolom Percent, pada
contoh di atas, ada 4,6% kader kesehatan yang berpendidikan SD.
Kolom Valid Percent menampilkan proporsi jika missing cases tidak
diikutsertakan sebagai penyebut. Pada contoh di atas, kolom Percent dan
Valid Percent memberikan hasil yang sama karena pada data ini tidak ada
missing cases. Cumulative Percent menjelaskan tentang persen kumulatif,
jadi pada contoh di atas, ada 23,1% ibu yang berpendidikan SD dan SMP (4.6%
+ 18.5%).
ANALYSIS DESKRIPTIF DATA NUMERIK
Pada data numerik atau kontinyu, peringkasan data dapat dilakukan
dengan melaporkan ukuran tengah dan sebarannya. Ukuran tengah yang dapat
digunakan adalah rata-rata, median dan modus. Sedangkan ukuran sebaran
yang dapat digunakan adalah nilai minimum, maksimum, range, standar deviasi
dan persentil. Dari ukuran-ukuran tersebut, yang paling sering digunakan
adalah rata-rata dan standar deviasi.
Sebagai contoh, kita akan coba mencari ukuran tengah dan sebaran dari LAMA
BEKERJA.
1. Bukalah file [Link] (jika file ini belum dibuka), sehingga data tampak di
jendela Data Editor.
2. Dari menu utama, pilihlah:
Analyze
Descriptive Statistic <
Descriptive …
3. Pada kotak dialog tersebut, klik pada variabel LAMA BEKERJA yang terdapat
pada kotak sebelah kiri. Kemudian klik tanda <, sehingga kotak dialog
menjadi seperti gambar berikut:
4. Klik OK untuk menjalankan prosedur. Pada layar tampak hasil seperti
Berikut:
Nilai rata-rata dapat dilihat pada kolom Mean, sedangkan nilai standar
deviasi dapat dilihat pada Std Devation. Pada contoh di atas, rata-rata lama
bekerja adalah 10,95 tahun dengan standar deviasi 8,28 tahun dan lama
bekerja minimun 1 tahun serta lama bekerja maksimum 38 tahun.
Dengan cara di atas, kita dapat memperoleh nilai rata-rata, minimum,
maksimum serta standar deviasi. Tetapi kita tidak memperoleh nilai standar
error, padahal nilai ini diperlukan untuk melakukan estimasi inteval pada
parameter populasi.
5. Jika Anda juga ingin agar SPSS menampilkan standar error, anda dapat
memilih menu Options.
Dari hasil tersebut kita dapat melakukan estimasi interval dari lama bekerja.
Kita dapat menghitung 95% confidence interval lama bekerja, yaitu 10.9538 ±
1,96 x 1,02 (mean + SE mean). Jadi kita 95% yakin bahwa rata pada selang
8.9 sampai 13,0 tahun.
6. Cara yang lain untuk mengeluarkan nilai statistik deskriptif dari data numerik
(nilai rata-rata/mean std. Dev) beserta 95% confidence interval adalah
sebagai berikut:
Dari menu utama, pilihlah:
Analyze
Descriptive Statistic <
Explore…
7. Pada kotak dialog tersebut, klik pada variabel LAMA BEKERJA yang terdapat
pada kotak sebelah kiri. Kemudian klik tanda <, sehingga ketiga variabel
tersebut masuk ke kotak Dependent List seperti gambar berikut:
8. Klik OK untuk menjalankan prosedur, sehingga hasilnya seperti gambar
berikut:
Dari hasil tersebut kita mendapatkan estimasi titik dan estimasi interval dari
variable numerik yang diukur. Kita dapat melihat nilai rata-rata dan 95%
confidence interval dari LAMA BEKERJA yaitu 10,95kg (8,9005 — 13,007),
artinya kita 95% yakin bahwa rata-rata LAMA BEKERJA KADER di populasi
berada pada selang 8,9 sampai 13 tahun.
BAB IV
DATA SCREENING DAN TRANSFORMASI
Untuk melakukan uji statistik langkah awal yang harus dilakukan adalah
dengan screening terhadap data yang akan diolah. Salah satu asumsi
penggunaan statistika parametik adalah asumsi multivariate normality.
Multivariate normality merupakan asumsi bahwa setiap variabel dan semua
kombinasi linear dari variabel distribusi normal. Asumsi multivariate normality
ini dapat diuji dengan melihat normalitas suatu variabel.
Screening terhadap normalitas data merupakan langkah awal yang harus
dilakukan untuk setiap multivariate. Dengan demikian, data yang berdistribusi
normal akan menghasilkan model regresi yang baik. Ada beberapa cara yang
dapat digunakan dalam mendekteksi normalitas data, namun pada modul ini
akan menjelaskan mengenai uji statitik Kolmogorov-Smirnov.
Langkah analisis :
• Buka file [Link]
• Dari menu utama SPSS, pilih menu Analyze, lalu pilih Non-parametic test,
kemudian pilih submenu 1-sample K-S.
Maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini :
• Pada layar One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test, isi variabel pada
kotak Test
Variable List.
• Untuk Test Distribution klik pada bagian Normal.
• Kemudian OK.
• Maka akan menghasilkan output :
Untuk probabilitas berdasarkan tabel di atas bahwa untuk variabel memiliki nilai
di atas = 0.05 yang artinya bahwa variabel-variabel tersebut terdistribusi
dengan normal sedangkan untuk variabel yang berada di bawah batas = 0.05
yang demikian variabel tersebut tidak terdistribusi secara normal.
Kemudian apabila data tidak terdistribusi secara normal maka data perlu
ditransformasi agar menjadi normal. Untuk menormalkan data sebelumnya
harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana bentuk grafik histrogram dari
data yang ada di mana bentuk dari grafik itu sendiri ada bermacam-macam
seperti moderate, positive skewness, severe positive skewness.
Berikut ini cara untuk melihat grafik histogram yaitu :
Buka file [Link] melalui perintah File Open Data.
Dari menu utama SPSS pilih menu Graph, lalu Legacy Dialogs
kemudian pilih Histogram.
Kemudian akan muncul layar Histogram.
Setelah itu pada kotak variabel diisikan dengan variabel
Seperti tampilan di bawah ini :
Kemudian beri checklist pada kotak display normal curve
Klik OK. Maka akan menghasilkan output seperti di bawah ini :
Dengan melihat grafik Histogram seprti gambar di atas maka kita dapat
melakukan trasformasi data. Untuk mengetahui jenis transformasi yang akan
dilakukan, maka kita harus mengetahui termaksud jenis grafik histogram yang
mana variabel-variabel tersebut. Berikut ini bentuk transformasi yang dapat
dilakukan sesuai dengan grafik Histogram :
1. Moderate Positive Skewness : SQRT(x) atau bentuk kuadrat.
2. Subtansial Positive Skewness : LG10(x) atau logaritma 10 atau LN
3. Severe Positive Skewness dengan bentuk L : 1/x atau inverse
4. Subtansial Negative Skewness : LG10(k-x)
5. Severe Negative Skewness dengan bentuk J : 1/(k-x)
Melihat bentuk Grafik yang terjadi pada Net_Sls dan Current rasio merupakan
bentuk grafik Moderate Positive Skewness sehingga untuk melakukan
transformasi data dengan cara :
• Buka file [Link]
• Pada menu utama SPSS, menu Transform _ submenu Compute
• Maka akan muncul layar Compute Variable, untuk kotak Function group pilih
All dan untuk kotak Functions dan Special variables pilih Sqrt kemudian klik
tombol maka pada kotak numeric Expression muncul Sqrt(x) untuk (x) akan
diganti dengan meng-klik variabel IMT lalu tombol sehingga menjadi
SQRT(IMT). Kemudian pada Target variable diberi nama lain missal IMT1.
Perhatikan gambar di bawah ini :
Pilih OK
Setelah melakukan transformasi data maka data tersebut diharapkan dapat
terdistribusi
secara normal. Untuk memastikannya perlu adanya pengecekan data agar data
tersebut dapat dinyatakan normal yaitu dengan menggunakan menu utama
SPSS, analyze _ Analyze _ Non- parametic test 1-sample K-S. masukkan
semua variabel yang sudah kita transformasikan kemudian klik OK. Maka kita
dapat melihat bahwa data yang kita punya sudah normal dimana probabilitas
data itu lebih dari = 0.05. untuk lebih jelasnya kita dapat melihat hasil output
di bawah ini :
Dari hasil dapat disimpulkan bahwa untuk variabel IMT1, dan current rasio
0.486merupakan data yang berditribusi secara normal dengan nilai signifikan
lebih dari 0.05.
BAB V
UJI BEDA 2-RATA-RATA (T-TEST)
Pengertian
Di bidang kesehatan sering kali kita harus membuat kesimpulan apakah
suatu intervensi berhasil atau tidak. Untuk mengukur keberhasilan tersebut kita
harus melakukan uji untuk melihat apakah parameter (rata-rata) dua populasi
tersebut berbeda atau tidak. Misalnya, apakah ada perbedaan rata-rata tekanan
darah populasi intervensi (kota) dengan populasi kontrol (desa). Atau, apakah
ada perbedaan rata-rata berat badan antara sebelum dengan sesudah
mengikuti program diet.
Sebelum kita melakukan uji statistik dua kelompok data, kita perlu
perhatikan apakah dua kelompok data tersebut berasal dari dua kelompok yang
independen atau berasal dari dua kelompok yang dependen/berpasangan.
Dikatakan kedua kelompok data independen bila populasi kelompok yang satu
tidak tergantung dari populasi kelompok kedua, misalnya membandingkan rata-
rata tekanan darah sistolik orang desa dengan orang kota. Tekanan darah
orang kota adalah independen (tidak tergantung) dengan orang desa. Dilain
pihak, dua kelompok data dikatakan dependen/pasangan bila datanya saling
mempunyai ketergantungan, misalnya data berat badan sebelum dan sesudah
mengikuti program diet berasal dari orang yang sama (data sesudah
dependen/tergantung dengan data sebelum).
Konsep Uji Beda Dua Rata-rata
Uji beda rata-rata dikenal juga dengan nama uji-t ( t-test). Konsep dari
uji beda rata-rata adalah membandingkan nilai rata-rata beserta selang
kepercayaan tertentu (confidence interval) dari dua populasi. Prinsip pengujian
dua rata-rata adalah melihat perbedaan variasikedua kelompok data. Oleh
karena itu dalam pengujian ini diperlukan informasi apakah varian kedua
kelompok yang diuji sama atau tidak. Varian kedua kelompok data akan
berpengaruh pada nilai standar error yang akhirnya akan membedakan rumus
pengujiannya.
Dalam menggunakan uji-t ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.
Syarat/asumsi utama yang harus dipenuhi dalam menggunakan uji-t adalah
data harus berdistribusi normal. Jika data tidak berdistribusi normal, maka
harus dilakukan transformasi data terlebih dahulu untuk menormalkan
distribusinya. Jika transformasi yang dilakukan tidak mampu menormalkan
distribusi data tersebut, maka uji-t tidak valid untuk dipakai, sehingga
disarankan untuk melakukan uji non-parametrik seperti Wilcoxon (data
berpasangan) atau Mann-Whitney U (data independen). Berdasarkan
karakteristik datanya maka uji beda dua rata-rata dibagi dalam dua kelompok,
yaitu: uji beda rata-rata independen dan uji beda rata-rata berpasangan.
Aplikasi Uji-t Dependen pada Data Berpasangan
1. Bukalah file [Link], sehingga data tampak di Data editor window.
2. Dari menu utama, pilihlah
Analize <
Compare Mean <
Paired-Sample T-test….
3. Pilih variabel SEBELUM dan SESUDAH dengan cara mengklik masing-masing
variable tersebut.
4. Kemudian klik tanda < untuk memasukkannya ke dalam kotak Paired-
Variables.
5. Pada menu “Options” pilihlah derajat kepercayaan yang diinginkan,
misalnya 95%. Kemudian pilih Continue.
6. Klik OK untuk menjalankan prosedur. Pada layar Output tampak hasil seperti
berikut:
Dari 10 subjek yang diamati terlihat bahwa rata-rata (mean) kolesterol sebelum
intervensi adalah 115.6, dan rata-rata kolesterol sesudah intervensi adalah
120,4. Jika kita ingin mengeneralisasikan pada populasi, apakah di populasi
ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi. Uji ‘t’
yang dilakukan terlihat pada tabel berikut:
Dari hasil uji-t berpasangan tersebut terlihat bahwa rata-rata perbedaan antara
SEBELUM dengan SESUDAH adalah sebesar -4.8. Tanda minus (-) berarti
kolesterol sesudah lebih besar daripada berat sebelum intervensi. Artinya ada
peningkatan kolesterol sesudah intervensi dengan rata-rata peningkatan
tersebut adalah 4,8 mg/L. Hasil perhitungan nilai “t” adalah sebesar -3.325
dengan p-value 0.009 (uji 2-arah).
Hal ini berarti kita menolak Ho dan menyimpulkan bahwa pada populasi (dari
mana sampel tersebut diambil) secara statistik ada perbedaan yang
bermakna antara rata-rata kolesterol sebelum dengan sudah
intervensi.
Aplikasi Uji-t pada Data Independen
Uji-t untuk data independen dilakukan terhadap dua kelompok data yang tidak
saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Misalnya membandingkan
kelompok intervensi dengan kelompok kontrol.
1. Dari menu utama, pilihlah:
Analize <
Compare Mean <
Independent-Samples T-test….
2. Pilih variable dengan cara mengklik variable tersebut.
3. Kemudian klik tanda < untuk memasukkannya ke dalam kotak Test
variable(s).
4. Pilih variabel METODE dan masukkan ke dalam kotak Grouping variable.
5. Kemudian klik menu Define group, dan isi angka 0 (nol) -kode untuk A -
pada Group-1 dan isi angka 1 (satu) -kode untuk B - pada Group-2.
Kemudian pilih Continue. (Kodenya bisa saja 1 dengan 2 tergantung data
yang dipakai)
6. Pada menu “Options” pilihlah derajat kepercayaan yang diinginkan,
misalnya 95%. Kemudian pilih Continue.
7. Klik OK untuk menjalankan prosedur. Pada layar Output tampak hasil
seperti berikut:
Uji-t independen menyajikan dua buah uji statistik. Pertama adalah uji
Levene’s untuk melihat apakah ada perbedaan varians antara kedua kelompok
atau tidak. Kedua adalah uji-t untuk melihat apakah ada perbedaan rata-rata
kedua kelompok atau tidak.
Jika p-value (Sig.) dari uji Levene’s besar dari nilai (0.05), hal ini
berarti varians kedua kelompok adalah sama, maka signifikansi uji-t yang
dibaca adalah pada baris pertama ( Equal variances assumed). Tetapi jika p-
value dari uji Levene’s kecil atau sama dengan nilai (0.05), hal ini berarti
bahwa varians kedua kelompok adalah tidak sama, maka signifikansi uji-t yang
dibaca adalah pada baris kedua (Equal variances not assumed).
Pada contoh diatas signifikansi uji Levene’s adalah 0.491, berarti varians
kedua kelompok adalah sama, maka hasil uji-t pada baris pertama
memperlihatkan p-value (sig.) adalah 0.008 untuk uji 2-sisi. Dapat kita
simpulkan bahwa secara statistik rata-rata waktu operasi metode A
lebih cepat dengan metode B.
BAB VI
UJI BEDA > 2-RATA-RATA (ANOVA)
Pengertian
Jika untuk menguji perbedaan rata-rata antara 2 kelompok independen
digunakan Uji-t, maka untuk melakukan uji terhadap perbedaan rata-rata
antara 3 kelompok independen atau lebih, kita tidak boleh menggunakan uji t
berulang-ulang. Misalnya kita ingin mengetahui apakah ada perbedaan rata-
rata hasil antara 3 kelompok intervensi, apakah ada perbedaan rata-rata berat
badan bayi lahir menurut tingkat pendidikan ibu (rendah, menengah, & tinggi).
Dalam menganalisis data seperti ini (lebih dari dua kelompok) sangat tidak
dianjurkan menggunakan uji-t. Ada dua kelemahan jika menggunakan uji-t
yaitu pertama: kita harus melakukan pengujian berulang kali sesuai kombinasi
yang mungkin, kedua: bila melakukan uji-t berulang-ulang akan meningkatkan
(inflasi) nilai a, inflasi nilai a sebesar = 1 - (1-a), artinya akan meningkatkan
peluang mendapatkan hasil yang keliru.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka uji statistik yang dianjurkan (uji
yang tepat) dalam menganalisis beda lebih dari dua mean kelompok
independen adalah Uji ANOVA atau uji-F. Analisis varian (ANOVA) mempunyai
dua jenis yaitu analisis varian satu faktor (one way anova) dan analsis varian
dua faktor (two ways anova). Pada bab ini hanya akan dibahas analisis varian
satu faktor.
Beberapa asumsi yang harus dipenuhi pada uji Anova adalah:
1. Sampel berasal dari kelompok yang independen
2. Varian antar kelompok harus homogen
3. Data masing-masing kelompok berdistribusi normal
Asumsi pertama harus dipenuhi pada saat pengambilan sampel yang
dilakukan secara random terhadap beberapa (> 2) kelompok yang independen,
yang mana nilai pada satu kelompok tidak tergantung pada nilai di kelompok
lain. Sedangkan pemenuhan terhadap asumsi kedua dan ketiga dapat dicek jika
data telah dimasukkan ke komputer, jika asumsi ini tidak terpenuhi dapat
dilakukan transformasi terhadap data. Apabila proses transformasi tidak juga
dapat memenuhi asumsi ini maka uji Anova tidak valik untuk dilakukan,
sehingga harus menggunakan uji non-parametrik misalnya Kruskal Wallis.
Langkah-langkah sebagai berikut.
1. Dari menu utama, pilihlah
Analyze <
Compare Means <
One-way ANOVA ...
2. Klik variable WAKTU dan klik tanda < untuk memasukkannnya ke kotak
DependentList
3. Klik variable OBAT dan klik tanda < untuk memasukkannnya kotak Factor.
4. Pada menu Options.. klik Deskriptive dan Homegeneity of varians.
5. Klik Continue dan Anda akan kembali ke kotak dialog awal dengan isian
lengkap
6. Klik OK untuk menjalankan prosedur. Hasilnya tampak di output seperti
berikut:
Pada hasil di atas terlihat bahwa rata-rata waktu sembuh pada obat A adalah
5,25 jam, obat B adalah 3,75 jam, dan obat C adalah 7,5 jam. Standar deviasi,
nilai minimum-maximun, daninterval 95% tingkat kepercayaan juga
diperlihatkan.
Salah satu asumsi dari uji Anova adalah varians masing-masing kelompok harus
sama. Untuk itu dilakukan uji homogenitas varians yang hasilnya
memperlihatkan bahwa p-value (sig.) lebih besar dari nilai =0.05, berarti
varians antar kelompok adalah sama. Jika varians tidak sama, uji Anova tidak
valid untuk dipakai. Catatan: dalam hal ini kita tidak melakukan uji normalitas.
Pada hasil di atas diperoleh nilai ANOVA F = 5.700 dengan p-
value=0.025 (dalam keadaan ini boleh juga ditulis p < 0.001). Hipotesis nol
pada uji ANOVA adalah tidak ada perbedaan rata-rata waktu sembuh antara
kelompok obat A, B, C. Dengan menggunakan =0.05, dari hasil di atas kita
menolak hipotesis nol. Sehingga kita menyimpulkan ada perbedaan waktu
sembuh dari ke tiga kelompok obat tersebut (setidaknya salah satu nilai mean
berbeda dengan lainnya). Namun, kita belum tahu kelompok mana yang
berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Dengan uji ANOVA saja kita belum tahu kelompok mana yang berbeda,
untuk menjawab pertanyaan ini kita harus melakukan uji banding ganda.
Untuk melakukan uji banding ganda, kita harus klik menu Post Hoc… pada
kotak dialog ANOVA.
BAB VII
KOLERASI
Uji kolerasi digunakan untuk menguji tentang ada tidaknya hubungan
antar variabel satu dengan variabel yang lainnya. Uji kolerasi belum dapat
diketahui variabel penyebab dan variable akibat. Dalam analisis kolerasi yang
diperhatiakan adalah arah (positif atau negative) dan besatnya
hubungna (kekuatan). Koefisien kolerasi mempunyai harga -1 atau +1
(bergerak dari nol hingga 1 maka semakin besar atau kuat hubungan variabel
atau sempurna = 1). Sebaliknya semakin mendekati 0 maka semakin lemah
atau kecil hubungannya.
BIVARIATE COLLELATION
Sering juga disebut dengan Product Moment Person berguna untuk
menguji kolerasi antar dua variabel di dalam melakukan uji kolerasi perlu
memperhatikan Test of Significant yaitu meliputi Two-Tailed (uji dua sisi)
digunakan dalam kondisi belum diketahui bentuk hubungan antar variable dan
One-tailed (uji satu sisi) digunakan untuk menguji test of significant dari 2
variabel, tetapi telah diketahui adanya arah kecenderungan hubungan negative
atau positif di antara 2 variabel yang berhubungan.
Cara menganalisanya adalah Buka file [Link]
Pilih menu Analyze, pilih Correlate dan klik Bivariate
Maka akan muncul layar Bivariate Correlations. Masukkan variabel IMT dan
FVC
dalam
kotak
Variables.
Pilih Correlation Coefficient Pearson dan Test Of Significance
dengan two tailed karena belum ditentukan arah hubungan dari
variabel IMT dan FVC.
Klik menu Option, lalu Continue akhiri dengan OK. Maka akan
menghasilkan Output seperti di bawah ini :
Terdapat hubungan antara IMT dengan FCV sebesar 0.583. sifat kolerasi
negatif menunjukkan semakin tinggi IMT akan semakin rendah nilai FVC. Nilai
signifikasi sebesar 0.000 berarti hubungan tersebut signifikan atau diterima
pada probabilitas 5%.
PARTIAL CORRELATION
kolerasi parsial digunakan untuk menguji kolerasi dengan memperhitungkan
efek dari variable lain atau dengan kata lain kolerasi partial mengukur kolerasi
antar dua variabel dengan mengeluarkan pengaruh dari satu atau lebih variabel
lain yang sering disebut dengan variable control. Cara pengolahan data yaitu
Buka file [Link]
Klik Analyze Correlate Partial.
Masukkan variabel IMT dan FCV ke dalam kotak Variables. Masukkan
variable DATA ke Controlling for
Kemudian klik Options dan pilih zero-order correlations dan
exclude cases listwise, tekan continue lalu OK
Maka akan menghasilkan tabel seperti di bawah ini :
Dari hasil koefisien antara IMT dan FCV sebelum menghilangkan pengaruh
variabel DATA adalah -0.461 dan signifikan pada alpha 0.05. dan setelah
menghilangkan pengaruh variable DATA adalah 0.000 dan signifikan pada alpha
0.05.
BAB VIII
REGRESI
Regresi digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua
variabel atau lebih, juga menunjukkan arah hubungan antara variabel. Variabel
adalah simbol yang melekat pada bilangan atau angka. Dalam proses aplikasi
SPSS, maka data-data selalu dikelompokkan ke dalam kelompok variabel-
variabel yang sangat menentukan dalam proses penarikan kesimpulan hasil uji
statistik.
Ada 2 jenis variabel di dalam SPSS yaitu :
1. Variabel bebas (independen variabel) yaitu suatu variabel yang menerangkan
(mempengaruhi) terhadap variabel lainnya. Variabel ini dalam notasinya
seringkali diberi notasi X (X1,X2,X3,dst)
2. Variabel terikat (dependent variabel) yakni suatu variabel yang dipengaruhi
(diterangkan) oleh variabel lain. Variabel ini dalam notasinya sering ditulis
dengan Y.
Kemudian Regresi Linear ada 2 macam yaitu
Regresi Linear Sederhana
Regresi sederhana, bertujuan untuk mempelajari hubungan antara dua
variabel. Regresi Linear digunakan apabila variabel dependent
dipengaruhi hanya satu variabel independen.
Bentuk Umum Regresi Linear Sederhana :
Y = a + bX
Keterangan :
Y : peubah tak bebas
X : peubah bebas
a : konstanta
b : kemiringan
Regresi Linear Berganda
Analisis regresi ganda merupakan pengembangan dari analisis regresi
sederhana. Kegunaannya yaitu untuk meramalkan nilai variabel terikat
(Y) apabila variabel bebasnya (X) dua atau lebih.
Analisis regresi ganda adalah alat untuk meramalkan nilai pengaruh dua
variabel bebas atau lebih terhadap satu variabel terikat (untuk
membuktikan ada tidaknya hubungan fungsional atau hubungan kausal
antara dua atau lebih variabel bebas X 1, X2, …., X terhadap suatu
variabel terikat Y.
Bentuk Umum Regresi Linier Berganda :
Y = a + b1X1+ b2
Keterangan :
Y : peubah takbebas
a : konstanta
X1 X : peubah bebas ke-1
b : kemiringan ke-1
X1 : peubah bebas ke-2
b2 : kemiringan ke-2
X2 : peubah bebas ke-n
bn n2 + ...+ bn Xn : kemiringan ke-n
Sebagai contoh dalam regresi linear dengan menguji pengaruh IMT, UMUR,
terhadap hutang perusahaaan (Y). Proses pengelohan data :
• Buka file [Link].
• Klik Analyze pilih Regression klik Linear.
• Maka
akan
muncul kotak Linear Regression seperti gambar di bawah ini :
• Abaikan semua pilihan dan pilih OK.
KOEFISIEN DETERMINASI
Koefisien determasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam variasi variabel dependen. Bila nilai R 2 kecil berarti kemampuan
variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel sangat
terbatas. Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determasi adalah bias
terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Setiap
tambahan satu variabel independen, maka nilai R 2 akan meningkat tidak peduli
apakah variabel tersebut berpengaruh secarasignifikan terhadap variabel
dependen.
Dari tampilan output SPSS di atas besar dari Adjusted R 2 adalah 0.225 atau
hanya sebesar 22,5% FCV dapat dijelaskan oleh keempat variabel independen
IMT, UMUR dan sisanya dijelaskan oleh variabel lainnya. SEE (Standart Error of
estimate) sebesar 6.13821. semakin kecil nilai SEE akan membuat model
regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel dependen.
UJI STATISTIK F
Pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas
yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama
terhadap variabel dependen atau terikat.
Dari uji ANOVA atau F test didapatkan nilai F hitung sebesar 7.392 dengan
probabilitas 0.002. karena probabilitas jauh lebih kecil dari = 0.05 maka
model regresi dapat digunakan untuk memprediksi nilai DER atau yang artinya
variabel IMT, UMUR secara bersama-sama mampu menerangkan variabel FVC.
UJI STATISTIK T
Uji ini untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau
independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Untuk menginterprestasikan koefisien variabel bebas (independen) dapat
menggunakan unstandardized coefficients maupun standardized coefficients
yaitu dengan melihat nilai signifikasi masing-masing variabel independen dari
tabel di bawah ini bahwa nilai UMUR 0.376 memiliki nilai jauh di atas 0.05
sedangkan IMT 0.001 memiliki nilai yang signifikan pada 0.05
BAB IX
UJI ASUMSI KLASIK
UJI MULTIKOLONIERITAS
Uji Multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya kolerasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik
sebagiknya tidak terjadi kolerasi di antara variabel terikat. Untuk mendektesi
adanya atau tidaknya multikolonieritas dalam model regresi dapat dengan
cara :
Nilai R yang dihasilkan oleh oleh suatu estimasi model empiris sangat
2
tinggi, tetapi biasanya variabel-variabel independen banyak yang tidak
signifikan terhadap variable dependentnya.
Dengan melihat batas tolerance yang memiliki nilai kurang dari 0.10
yang berarti tidak ada kolerasi antar variabel independen. Kemudian dari
nilai VIF (Variance Inflation Factor) juga menunjukkan hal yang sama
yaitu tidak adanya penyakit multikolonieritas dengan nilai dari VIF lebih
dari 10.
Selain itu dari Ouput SPSS juga bisa dilihat nilai CI ( Condition Index).
Jika nilai CI > 30 maka dalam model terdapat penyimpangan Asumsi
Klasik Multicolinierity.
Langkah untuk menganalisis penyakit multikolonieritas yaitu :
1. Buka file [Link]
2. Pilih menu Analyze, submenu Regresi lalu pilih Linear Regression.
3. Maka akan muncul layar windows Linear Regression.
4. Untuk menampilkan matrik kolerasi dan nilai Tolernace serta VIF pilih
Statistics maka akan muncul layar tampilan windows Linear Regression
Statistics. Akifkan pilihan Covariance matrix dan Collinierity
Diagnostics.
5. Tekan Continue, abaikan yang lain dan tekan OK
6. Maka akan muncul tampilan SPSS :
Melihat besaran kolerasi antar variabel independen tampak bahwa
variabel IMT 1.000 memiliki kolerasi yang cukup tinggi, variabel UMUR -0.061,
atau sekitar 61%. Oleh karena itu kolerasi ini masih di bawah 95%, maka dapat
dikatakan tidak terjadi multikolonieritas serius.
Kemudian dari hasil, nilai Tolerance untuk IMT 0.996, UMUR 0.996,
menunjukkan nilai kurang dari 0.10 yang berarti tidak ada kolerasi antar
variabel independen yang nilainya lebih dari 95%. Hasil perhitungan nilai
Variance Inflation Factor (VIF) juga menunjukkan hal yang sama, bahwa
variabel IMT 1.004, UMUR 1.004, tidak ada satu variable independent yang
memiliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi tidak ada multikolonieritas antar variabel
independen dalam model regresi.
DIAGNOSTIC COLLINEARITY
Nilai CI yang dihasilkan untuk masing-masing variabel independen adalah
kurang dari 30 maka dapat disimpulkan bahwa variabel independen tidak
terjangkit penyakit multikolonieritas.
UJI AUTOKOLERASI
Uji autokolerasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear
ada kolerasi antara kesalahan penggangguan pada perioade t dengan
kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika adanya kolerasi
maka adanya penyakit autokolerasi. Masalah ini disebabkan karena residual
(kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya.
Apabila pada salah satu terdapat gangguan maka cenderung mempengaruhi
gangguan untuk periode berikutnya. Ada beberapa cara yang dapat digunakan
untuk mendekteksi ada atau tidaknya autokolerasi, pada modul ini akan
menjelaskan dengan Uji Durbin Watson (DW test).
Digunakan untuk autokolerasi tingkat satu dan mensyaratkan adanya
intercept (konstanta) dalam model regresi. Hipotesis yang akan diuji adalah :
H0 : tidak adanya autokolerasi.
H1 : adanya autokolerasi.
Pengambilan keputusan autokolerasi :
Hipotesis nol Keputusan Jika
Tidak ada autokolerasi positif Tolak 0 < d < dl
Tidak ada autokolerasi positif No desicion dl = d = du
Tidak ada autokolerasi negatif Tolak -dl < d <4
Tidak ada autokolerasi negatif No desicion 4-du = d = 4-dl
Tidak ada autokolerasi,positif atau Diterima du < d < 4-dl
negatif
Langkah yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya autokolerasi :
1. Buka file [Link]
2. Menu Analyze Regression Linear
3. Pilih Statistics maka akan muncul layar tampilan windows Linear Regression
Statistics. Kemudian cheklist bagian Residuals Durbin-Watson.
4. Pilih Continue kemudian OK.
5. akan muncul output :
Nilai DW sebesar 1.193, nilai ini akan kita bandingkan dengan nilai table
dengan menggunakan signifikasi 5%, jumlah sampel 54 (n) dan jumlah variabel
independen 2 (k=2) maka di table Durbin Waston akan didapatkan nilai du
sebesar1.386 dan nilai dl = 1.630. Oleh karena nilai DW lebih besar dari (du)
1.386 dan kurang dari 4-dl(4-1.630=3.370), maka dapat disimpulkan bahwa H0
diterima yaitu tidak adanya atau tidak terdapat autokolerasi. (untuk angka du
dan dl dapat dilihat di tabel).
UJI HETEROSKEDASTISITAS
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang
lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap,
maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas.
Model regresi yang baik adalaha Homoskedastisitas atau tidak
Heteroskedetisitas. Dalam modul ini, akan menerangkan menguji ada tidaknya
Heteroskedastisitas dengan Uji Park.
Cara melakukan Uji Park dengan SPSS :
1. Buka file [Link]
2. Meregresikan semua variable bebas
3. Untuk mendapatkan variabel residual dengan cara pilih Save pada Layar
Linear Regression sehingga muncul kotak Linear Regression Save, checklist
unstandardized residual.
4. Pilih Continue lalu OK. Maka pada Variable Data akan muncul 1 Variabel
baru dengan nama Res_1 yang merupakan nilai residual.
5. Kuadratkan nilai residual (Res_1*Res_1) tersebut dengan cara menu
Transform Compute Variable kemudian beri nama Res_2 dan klik OK.
6. Kemudian Logaritmakan Res_2 dengan menu Transform dan Compute.
7. Regresikan LNRes_2 sebagai variabel dependen dan variabel IMT, UMUR
Maka akan menghasilkan output sebagai berikut :
HasiL output SPSS memberikan koefisien variabel independen tidak ada yang
signifikan, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terdapat
Heteroskedasititas.