Pengaruh Sarana Prasarana Terhadap Kinerja Pegawai
Pengaruh Sarana Prasarana Terhadap Kinerja Pegawai
Di Susun Oleh :
ALBRTUS I FAUWAWAN
NIM : 2018 010 105
PENDAHULUAN
Perkantoran merupakan alat penunjang yang berperan penting bagi para pelaku
organisasi. Hal ini diwujudkan dengan adanya perkantoran pada setiap organisasi. Dengan
adanya perkantoran, tugas dari pelaku organisasi dapat diselesaikan dengan baik, sehingga
organisasi dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efesien. Dalam menciptakan
perkantoran yang berkualitas, maka suatu organisasi perlu melakukan manajemen sarana dan
prasarana perkantoran serta sumber daya manusia dengan baik. Dengan adanya manajemen
sarana dan prasarana perkantoran, keperluan kantor yang akan digunakan oleh seorang
pegawai akan terpenuhi dengan baik, (F Rafky : 2017).
Perkantoran merupakan salah satu tempat penunjang yang berperan penting bagi para
pelaku organisasi. Hal ini diwujudkan dengan adanya bangunan perkantoran pada sebuah
organisasi. Dengan adanya sebuah perkantoran, tugas dari suatu pelaku organisasi dapat
diselesaikan dengan baik dan terstruktur sehingga organisasi dapat mencapai tujuan yang
efektiv dan efisien. Suatu organisasi ketika ingin membuat perkantoran faktor pendukung
juga harus di perhatikan seperti prasarana yang menyangkut tentang gedung, luas gedung
sesuai dengan bidang dan kebutuhan suatu perusahaan tersebut. Dan yang sarana atau benda
untuk menunjang penyelesaian kegiatan perkantoran. Jika sudah di manajemen dengan baik
makan akan terwujud segala aktivitas perkantoran yang nyaman.
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam sebuah kantor
untuk mencapai tujuan dan sasarannya, karena sumber daya manusia merupakan salah satu
faktor penentu berhasil atau tidaknya suatu kantor dalam mencapai tujuannya. Salah satu
yang harus diperhatikan dalam mengelola sumber daya manusia adalah mengenai
penempatan kerja pegawai.
Penempatan pegawai dalam posisi jabatan yang tepat akan membantu kantor untuk
mendapatkan hasil kerja yang optimal dan mencapai tujuan yang diharapkan. Hal tersebut
diperkuat dengan pernyataan Hasibuan (2005) bahwa penempatan harus didasarkan pada
deskripsi pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan yang telah ditentukan serta berpedoman kepada
prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat dan orang yang tepat di belakang pekerjan.
Suatu organisasi, menurut Rivai (2004) Tanpa didukung karyawan yang sesuai baik dari segi
kuantitatif, kualitatif, strategi dan operasionalnya, maka organisasi/kantor itu tidak akan
mampu mempertahankan keberadaannya, mengembangkan dan memajukan dimasa yang
akan datang. Untuk itu, dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menunjang
tugas yang menjadi tanggungjawab organisasi.
Peranan sumber daya manusia menjadi semakin penting bila dikaitkan dengan
perkembangan global yang penuh dengan persaingan diantara organisasi. Salah satu cara
yang dilakukan organisasi dalam menghadapi persaingan yaitu dengan memberdayakan dan
menggali seluruh potensi SDM yang dimilikinya itu secara maksimal. Sejalan dengan hal
tersebut, maka suatu organisasi perlu meningkatkan perhatiannya terhadap kualitas pegawai,
baik perhatian dari segi kualitas pengetahuan dan keterampilan, karir maupun tingkat
kesejahteraannya, sehingga dapat meningkatkan prestasi dan motivasi pegawai untuk
memberikan seluruh kemampuannya dalam pencapaian tujuan organisasi. Sesuai dengan
Peraturan Mentri Dalam Negeri Nomor 7 tahun 2006 pasal 1 angka 3 dan 4 tentang Sarana
kerja adalah fasilitas yang secara langsung berfungsi sebagai penunjang proses
penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam mencapai sasaran yang ditetapkan, antara lain;
ruangan kantor, perlengkapan kerja, dan kendaraan dinas. Prasarana kerja adalah fasilitas
yang secara tidak langsung berfungsi menunjang terselenggaranya suatu proses kerja aparatur
dalam meningkatkan kinerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, seperti gedung
kantor, rumah jabatan dan rumah instansi.
Menurut FA rotinsulu : 2017 Sarana dan prasarana kantor merupakan aspek penting
dalam kegiatan kantor karena hal ini akan sangat membantu karyawan dalam menyelesaikan
tugasnya. Sarana adalah segala sesuatu yang berupa fisik sedangkan prasarana adalah segala
sesuatu yang berupa non fisik yang menunjang dan menjadi pedoman dalam bekerja.
Ketersediaan sarana dan prasarana sangat berpengaruh bagi kegiatan operasional kantor. Hal
ini akan sangat berpengaruh kepada psikologi karyawan pada saat bekerja. Oleh karena
itulah, pelatihan pengelolaan Sarana dan prasarana kantor ini penting untuk diikuti. Sesuai
dengan peraturan bupati fakfak nomor 8 tahun 2021 pasal 37 ayat 3 tentang pemenuhan
sarana prasarana penyelenggaraan mengacu pada standar pelayanan, kebutuhan organisasi,
dan tuntutan perkembangan teknologi serta sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti ketersediaan Sarana dan
prasarana pada kantor Desa katemba distrik Fakfak Tengah sangat kurang. Dampak buruk
dari kurangnya sarana dana prasarana yaitu kurangnya printer, jumlah pegawai tidak
sebanding dengan jumlah komputer yang disediakan, masih kurangnya ruang kerja, kinerja
pegawai yang terganggu mempengaruhi target dan waktu sehingga pekerjaan menjadi
tertunda, pelayanan yang diberikan tidak maksimal dan pekerjaan semakin menumpuk.
Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai tujuan bersama
contohnya seperti alat tulis kantor, sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang
merupakan penunjang utama suatu proses didalam kantornya, contohnya ruangan yang
kurang sesuai dengan jumlah pegawai, toilet dan lain-lain.
Untuk menunjang kelancaran suatu kegiatan, maka organisasi harus memiliki sarana
dan prasarana yang cukup memadai. Dikatakan demikian karena dengan sarana dan prasarana
yang dimiliki harus cukup menjamin kelancaran operasional kegiatan dalam organisasi
tersebut. Sehingga keberadaan sarana dan prasarana ini telah memberikan peran yang sangat
besar dalam memperlancar kinerja dari pegawai. Setiap bentuk usaha kerja sama sejumlah
manusia dalam realisasi kegiatannya memerlukan berbagai alat bantu. Efektifitas kegiatan
kerjasama dipengaruhi juga oleh tepat tidaknya alat bantu yang tersedia dan digunakan.
Dalam suatu organisasi sarana dan prasarana diistilahkan sebagai alat. Alat-alat tersebut pada
umumnya berupa benda-benda yang dipergunakan sebagai peralatan dilingkungan kantor atau
perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul
“Pengaruh Sarana Dan Prasarana Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Desa
Katemba Distrik Fakfak Tengah”
Berdasarkan Uraian Pada Latar Belakang Maka Rumusan Masalah sebagai berikut:
1. Apakah sarana dan prasarana berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
Aparatur Kampung pada Kantor desa katemba Distrik fakfak Tengah?
TINJAUAN PUSTAKA
Sarana adalah sebagai alat yang dapat digunakan untuk melancarkan atau memudahkan
manusia dalam mencapai tujuan tertentu. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), Sedangkan menurut Moenir (2006), sarana adalah segala jenis peralatan yang
berfungsi sebagai alat utama/ alat langsung untuk mencapai tujuan. Misalnya: tempat tidur,
toilet,tempat sampah,dan lain-lain. Sarana adalah perlengkapan berbagai peralatan seperti
bahan atau perabot yang secara langsung di pakai dalam sebuah aktivitas atau kegiatan.
(Bafadal: 2011). Sarana adalah suatu yang bisa dipergunakan dalam mencapai sesuatu tujuan
(Winarno Surakhmad:2001). Prasarana menurut KBBI merupakan segala sesuatu yang bias
menunjang untuk terselenggaranya segala proses baik itu berupa usaha, pembangunan
ataupun proyek. Prasarana adalah alat yang secara tidak langsung dipakai untuk mencapai
tujuan. (Daryanto:2005). Prasarana adalah segala kelengkapan dasar fisik suatu
Kawasan,lingkungan, kota atau wilayah yang memungkinkan ruang tersebut bisa berfungsi
sebagaimana mestinya.(Grigg:1988). Prasarana adalah perangkat penunjang utama suatu
usaha untuk mencapai tujuan yang meliputi bangunan, lahan, gedung dan ruangan yang ada
di dalamnya (Yuwono:2008). Prasarana adalah segala sesuatu yang bisa menunjang
terlaksananya suatu kegiatan (Winarno Surakhmad:2001) Contoh sederhana untuk memahami
kedua pengertian diatas misalnya:
a. Ketika kita ingin berpergian kita akan menggunakan mobil sebagai sarana. Sedangkan
jalan raya dan jembatan adalah prasarananya.
b. Disekolah kita menggunakan meja, bangku, computer ataupun papan tulis sebagai
sarana. Sedangkan bangunan sekolah, halaman sekolah adalah contoh dari
prasarananya.
Jadi secara umum, pengertian sarana dan prasarana adalah suatu alat ataupun bagian yang
memiliki peran untuk mencapai keberhasilan dan juga kelancaran dalam berbagai hal atau
lingkup. Sarana dan prasarana menjadi hal yang sangat penting untuk menghasilkan hasil
yang sesuai dengan harapan.
Dalam memilih berbagai perlengkapan sarana dan prasarana kantor, ada beberapa hal
yang harus diperhatikan agar kamu tidak menyesal setelah membeli sarana dan prasarana
kantor yang kamu butuhkan. Dalam membeli barang apa saja, termasuk dalam membeli
fasilitas sarana dan prasarana kantor, kamu tidak seharusnya tergoda oleh harga-harga yang
murah tanpa kamu ketahui kualitas dari barangbarang tersebut.
Berikut ini adalah beberapa karakteristik atau ciri-ciri peralatan kantor (sarana dan prasarana)
yang baik, yaitu :
a. Peralatan kantor tersebut benar-benar dibutuhkan atau mempunyai nilai guna untuk
membantu pekerjaan kantor;
b. Sarana dan prasarana kantor yang akan dibeli mempunyai kualitas yang baik dengan
harga yang sesuai;
c. Dapat membantu pekerjaan kantor sehari-hari menjadi lebih efektif dan efisien.
Secara umum, sarana dan prasarana mempunyai empat fungsi utama, yaitu:
Tujuan utama adanya sarana dan prasarana menurut Junaidi dalam yanti (2013) adalah
sebagai berikut:
1. Mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan sehingga dapat menghemat waktu.
2. Meningkatkan produktivitas baik barang atau jasa.
3. Hasil kerja lebih berkualitas dan terjamin.
4. Lebih memudahkan dalam bekerja.
5. Ketepatan susunan stabilitas pekerja lebih terjamin.
6. Menimbulkan rasa kenyamanan bagi orang-orang yang berkepentingan.
Sebagai upaya untuk tercapainya target dari Kantor Distrik Fakfak Timur Tengah, maka
indikator dari sarana prasarana yang digunakan untuk mengukur variabel sarana dan
prasarana telah disimpulkan oleh Hartono (2014:32) bahwa sarana prasarana memiliki
indikator yaitu kelengkapan, kondisi, dan penggunaan sarana prasarana. Indikator sarana
prasarana di atas akan dibahas untuk lebih mempermudah dalam memahami sarana prasarana
yaitu sebagai berikut:
1. Sarana prasarana yang lengkap membuat pelaksanaan pekerjaan lebih mudah, karena
semua kebutuhan pekerjaan terfasilitasi seluruhnya.
2. Kondisi sarana prasarana turut mempengaruhi proses pelaksanaan pekerjaan. Jika
kondisi sarana prasarana masih baik dan layak digunakan maka penyelesaian
pekerjaan dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat. Tetapi sebaliknya, jika kondisi
sarana prasarana sudah banyak yang rusak, maka penyelesaian pekerjaan juga tidak
dapat selesai tepat waktu.
3. Penggunaan sarana prasana yang mudah dalam pengoperasiannya juga turut
mempengaruhi kinerja pegawai. Tetapi sebaliknya, jika sarana prasarana tersebut
dalam penggunaannya susah dan rumit, maka pekerjaan juga akan lama selesai.
Mangkuprawira dan Hubeis (2007:153) mengatakan bahwa kinerja adalah hasil dari proses
pekerjaan tertentu secara terencana pada waktu dan tempat dari pegawai serta organisasi
bersangkutan. Murpy dan Cleveland dalam Pasolong (2007:175) mengatakan bahwa, kinerja
adalah kualitas perilaku yang berorientasi pada tugas dan pekerjaan. Hal ini berarti bahwa
kinerja pegawai dalam sebuah kantor ditentukan oleh sikap dan perilaku pegawai terhadap
pekerjaannya dan orientasi pegawai dalam melaksanakan pekerjaanya.
Kinerja menurut Amstrong dan Baron (1998:159) seperti dikutip oleh Wibowo (2008:222)
adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja
merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis
organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi. Definisi kinerja adalah
tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu. Kinerja setiap orang dipengaruhi
oleh banyak faktor yang dapat digolongkan pada tiga kelompok, yaitu kompetensi individu
orang yang bersangkutan, dukungan organisasi, dan dukungan manajemen
(Simanjuntak,2005:210). Dari definisi-definisi tersebut dapat dikatakan bahwa kinerja
merupakan suatu hasil dari tindakan seorang pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan diawasi
oleh orang-orang tertentu yaitu seorang atasan atau pimpinan dan dukungan dari organisasi.
Menurut Dharma (2001:150) tujuan diadakannya penilaian kinerja bagi para pegawai dapat
kita ketahui dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Tujuan Evaluasi, dimana seorang manajer atau atasan menilai kinerja dari masa lalu
seorang pegawai atau bawahannya dengan menggunakan rating deskriptif untuk
menilai kinerja dan dengan data tersebut berguna dalam keputusan-keputusan
promosi, demosi, terminasi dan kompensasi.
2. Tujuan Pengembangan, dimana seorang manajer mencoba untuk meningkatkan
kinerja seorang pegawai dimasa yang akan datang. Sedangkan tujuan pokok dari
system penilaian kinerja pegawai adalah, sesuatu yang menghasilkan informasi yang
akurat dan valid yang berkenaan dengan perilaku dan kinerja anggota instansi
pemerintah.
2.2.4 Manfaat dari Penilaian Kinerja
Menurut sadarmayanti dalam Ainnisya & Susilowati (2018) bahwa manfaat yang didapat dari
penilaian kinerja yaitu:
1. Meningkatkan prestasi kerja. Dengan adanya penilaian, baik pimpinan atau karyawan
memperoleh umpan balik dan mereka dapat memperbaiki pekerjaannya atau
prestasinya.
2. Memberi kesempatan kerja adil. Penilaian akurat dapat menjamin karyawan
memperoleh kesempatan menempati posisi pekerjaan sesuai kemampuannya.
3. Kebutuhan pelatihan dan pengembangan. Melalui penilaian kinerja, terdeteksi
karyawan yang kemampuannya rendah sehingga memungkinkan adanya program
pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka.
4. Penyesuaian kompensasi.
5. Keputusan promosi dan demosi.
6. Mendiagnosis kesalahan desain pekerjaan. Kinerja yang buruk mungkin suatu tanda
kesalahan dalam desain pekerjaan.
7. Menilai proses rekrutmen dan seleksi.
Menurut George dan Jones (2002), kepuasan kerja adalah perasaan yang dimiliki oleh
pegawai tentang kondisi tempat kerja mereka saat ini. Kemudian menurut Church (1995),
kepuasan kerja merupakan hasil dari berbagai macam sikap (attitude) yang dipunyai
seorang pegawai.
1. Target
Target merupakan indikator terhadap pemenuhan jumlah barang, pekerjaan, atau
jumlah uang yang dihasilkan.
2. Kualitas
Kualitas adalah elemen penting, karena kualitas yang dihasilkan menjadi kekuatan
dalam mempertahankan loyalitas pelanggan.
3. Waktu penyelesaian
Penyelesaian yang tepat waktu membuat kepastian distribusi dan penyerahan
pekerjaan menjadi pasti. Ini adalah modal untuk membuat kepercayaan pelanggan.
4. Taat Asas
Tidak saja harus memenuhi target, kualitas dan tepat waktu tapi juga harus dilakukan
dengan cara yang benar, trasparan dan dapat dipertanggung jawabkan.
Kinerja pegawai secara objektif dan akurat dapat dievaluasi melalui tolak ukur tingkat
kinerja. Pengukuran tersebut berarti memberi kesempatan bagi para pegawai untuk
mengetahui tingkat kinerja mereka. Memudahkan pengkajian kinerja pegawai, lebih lanjut
Mitchel dalam buku Sedarmayanti (2001:51) yang berjudul Manajemen Sumber
Daya Manusia dan Produktivitas Kerja, mengemukakan indikatorindikator kinerja yaitu
sebagai berikut :
Menurut Panggabean (2002:15), sumber daya manusia (SDM) merupakan suatu proses yang
terdiri dari pengelolaan, perencanaan, kepemimpinan dan pengendalian aktivitas yang
berkaitan dengan analisis pekerjaan, pengadaan, evaluasi pekerjaan, pengembangan,
promosi, kompensasi dan pemutusan hubungan kerja dalam rangka memperoleh tujuan yang
ditentukan. Menurut pendapat dari Hasibuan (2002:10), sumber daya manusia (SDM)
merupakan ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan
efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Menurut
Kiggundu (2003:11), sumber daya manusia (SDM) merupakan pengembangan dan
pemanfaatan pegawai dalam rangka tercapainya tujuan dan sasaran individu, organisasi,
masyarakat, bangsa dan internasional yang efektif.
Dari uraian penelitian terdahulu diatas, maka terdapat relevansi atau kesamaan
dengan penelitian ini, variabel penelitian yang digunakan yaitu variabel sarana prasarana
(X) dan variabel Kinerja (Y) dan metode penelitian yang digunakan yaitu metode
penelitian kuantitatif.
Kerangka konseptual merupakan suatu bentuk kerangka berpikir yang dapat digunakan
sebagai pendekatan dalam memecahkan masalah. Biasanya kerangka penelitian ini
menggunakan pendekatan ilmiah dan memperlihatkan hubungan antar variabel dalam proses
analisisnya. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian tentang pengaruh sarana dan
prasarana terhadap kinerja pegawai pada kantor desa katemba distrik fakfak tengah di
kabupaten fakfak menggunakan dua variabel penelitian yaitu variabel independent/bebas (X)
penelitian ini sarana dan prasarana yang digunakan sebagai Variabel X sedangkan kinerja
pegawai sebagai variabel Y. Untuk mengetahui hasil penelitian terkait ada atau tidak adanya
pengaruh antara variabel X dan variabel Y maka digunakan teknik analisa data yaitu
Validitas Data, Analisis Koefisien Kolerasi,Realibilitas Data, Regresi Liniear Sederhana, Uji
t, dan Uji Koefisien Determinan seperti yang digambarkan pada Gambar kerangka konseptual
di bawah ini
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
Indikator kinerja :
Indikator sarana dan prasarana :
1. Kualitas Kerja (Quality of
1. Kelengkapan
2. Kondisi work)
3. Penggunaan sarana 2. Ketetapan Waktu
prasarana
(Pomptnees)
(Hartono 2014:32) 3. Inisiatif (Initiative)
4. Kemampuan (Capability)
5. Komunikasi
(Communication)
Sedarmayanti (2001:51)
1. Validitas data
2. Reabilitas data
3. Analisis koefisien korelasi
4. Regresi linier sederhana
5. Uji t
6. Uji koefisien determinan
Berdasarkan rumusan masalah dan landasan teori yang menguraikan secara lengkap
mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai pada kantor desa
katemba Distrik Fakfak Tengah Kabupaten Fakfak (variable penelitian), maka secara
deskriptif, hipotesis dalam penelitian ini adalah jawaban sementara untuk permasalahan yang
akan diteliti maka penulis akan mencoba merumuskan hipotesis statistik sebagai berikut :
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada Kantor Desa Katemba Distrik Fakfak Tengah yang
waktu pelaksanaannya pada Bulan September 2022 sampai dengan selesai.
3.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari variabel yang menyangkut masalah yang diteliti
(Nursalam. 2003). Oleh karena itu populasi pada penelitian ini adalah pegawai pada Kantor
Desa Katemba Distrik Fakfak Tengah yang berjumlah 10 orang pegawai. terdiri dari 7 Orang
PNS dan 3 Orang Pegawai Honorer.
3.2.2 Sampel
Sampel adalah sebagian untuk diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan
dianggap mewakili seluruh populasi (Soekidjo). Teknik sampling yang digunakan dalam
menentukan sampel pada penelitian ini adalah teknik sampling jenuh. Purposive sampling
menurut Sugiyono (2012:126) adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Maka sample dalam penelitian ini sebanyak 7 orang Pegawai Negeri Sipil di Kantor Desa
Distrik Fakfak Tengah dengan rincian sebagai berikut :
Jumlah 7 Orang
Definisi operasional variabel penelitian menurut Sugiyono (2015, h.38) adalah suatu atribut
atau sifat atau nilai dari obyek atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang telah
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Definisi
variabel-variabel penelitian harus dirumuskan untuk menghindari kesesatan dalam
mengumpulkan data.
Sesuai dengan judul penelitian yaitu “Pengaruh Sarana Prasarana Terhadap Kinerja
Pegawai Pada Kantor Desa Distrik Tengah Di Kabupaten Fakfak”, ada dua variabel yaitu
sarana dan prasarana dan kinerja pegawai. Maka definisi operasional yang perlu dijelaskan
yaitu sebagai berikut:
Menurut Arikunto (2010:203) instrumen penelitian adalah “alat atau fasilitas yang digunakan
oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih
baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah”.
1. Kuesioner
Menurut Sugiyono (2017:142) angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan
data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada responden untuk dijawab.
2. Wawancara
Menurut Sugiyono (2016:317) wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan
data untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga apabila peneliti
ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. tentang perilaku, dan
makna dari perilaku tersebut.
Menurut Sugiyono (2010: 335), yang dimaksud dengan teknik analisis data adalah
proses mencari data, menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara,
catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,
menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola memilih mana
yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami
oleh diri sendiri maupun orang lain.
3.6.2 Reliabilitas
3.6.4 Uji T
Menurut Sugiyono (2018; 223) Uji t merupakan jawaban sementara terhadap
rumusan masalah, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
Rancangan pengujian hipotesis digunakan untuk mengetahui korelasi dari kedua
variabel yang diteliti. Uji T (Test T) adalah salah satu test statistik yang dipergunakan
untuk menguji kebenaran atau kepalsuan hipotesis yang menyatakan bahwa diantara
dua buah mean sampel yang diambil secara random dari populasi yang sama, tidak
terdapat perbedaan yang signifikan (Sudjiono, 2010).