0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan35 halaman

Kegawatdaruratan Hipertensi Kehamilan

Makalah ini membahas empat jenis kondisi maternal yang berisiko kegawatdaruratan yaitu hipertensi esensial, hipertensi dalam kehamilan, preeklampsia, dan eklampsia. Kondisi-kondisi tersebut dibahas secara rinci meliputi pengertian, penyebab, gejala, dan penanganannya.

Diunggah oleh

Dyah Ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan35 halaman

Kegawatdaruratan Hipertensi Kehamilan

Makalah ini membahas empat jenis kondisi maternal yang berisiko kegawatdaruratan yaitu hipertensi esensial, hipertensi dalam kehamilan, preeklampsia, dan eklampsia. Kondisi-kondisi tersebut dibahas secara rinci meliputi pengertian, penyebab, gejala, dan penanganannya.

Diunggah oleh

Dyah Ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KEGAWATDARURATAN MATERNAL NEONATAL

DAN BASIC LIFE SUPPORT


“Hipertensi dalam Kehamilan”
Disusun Guna Memenuhi Tugas mata kuliah Kegawatdaruratan Maternal Neonatal
dan Basic Life Support
Dosen Pengampu : Isroni Astuti [Link],[Link].

Disusun Oleh :
Kelompok 3 Tingkat 2B Kebidanan
Camilatul Fiqriyah P17124021050
Clarissa Azahra Oktafiani P17124021051
Dyah Ayu Ratri Tianto P17124021053
Necia Pratilia Siagian P17124021069
Sukma Rahmawati P17124021078

PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA 1
TAHUN AKADEMIK 2022/2023
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah
Kegawatdaruratan Maternal Neonatal dan Basic Life Support “Hipertensi dalam
Kehamilan” dapat selesai pada waktunya.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Kegawatdaruratan


Maternal Neonatal dan Basic Life support “Hipertensi dalam Kehamilan”. Pada
kesempatan ini juga, penulis menyampaikan ucapakan terima kasih yang ditujukan
kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa yang selalu menjadi penuntun dan yang menyertai kami dalam
menyelesaikan penyusunan makalah ini.
2. Kedua orang tua yang selalu mendukung dan mendoakan kami.
3. Nurhayati SST,[Link] selaku dosen penanggung jawab mata kuliah Kegawatdaruratan
Maternal Neonatal dan Basic Life Support di Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan
Kemenkes Jakarta 1.
4. Isroni Astuti [Link],[Link] selaku dosen pengampu mata kuliah Kegawatdaruratan
Maternal Neonatal dan Basic Life Support di Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan
Kemenkes Jakarta 1.

Materi yang kami sampaikan dalam makalah ini tentunya masih jauh dari
kesempurnaan, karena kami juga masih dalam tahap pembelajaran. Oleh karena itu
arahan, koreksi, dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah
ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.

Jakarta, 24 Januari 2023

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii


DAFTAR ISI ............................................................................................................... iii
BAB I ............................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................. 2
BAB II .......................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN .......................................................................................................... 3
2.1 Definisi Kondisi Maternal Yang Berisiko Kegawatdaruratan ....................... 3
2.2 Jenis-jenis kondisi maternal yang berisiko kegawatdaruratan ....................... 4
1. Hipertensi Esensial ......................................................................................... 4
2. Hipertensi dalam kehamilan (HDK / PIH) ..................................................... 5
3. Pre Eklampsia ............................................................................................... 13
4. Eklampsia ..................................................................................................... 26
BAB III ....................................................................................................................... 30
PENUTUP .................................................................................................................. 30
3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 30
3.2 Saran ............................................................................................................. 30
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 31
LEMBAR PERSETUJUAN ..................................................................................... 32

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kegawatdaruratan dapat di definisikan sebagai situasi serius dan kadang
kala berbahaya yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga dan
membutuhkan tindakan segera guna menyelamatkan jiwa / nyawa.
Kegawatdaruratan maternal adalah kondisi kesehatan yang mengancam jiwa
yang terjadi dalam kehamilan atau selama dan sesudah persalinan dari
kelahiran.
Terdapat sekian banyak penyakit dan gangguan dalam kehamilan yang
mengancam keselamatan ibu dan [Link] gawat darurat maternal adalah
kasus obstetri yang apabila tidak segera ditangani akan berakibat kematian ibu
dan [Link] ini menjadi penyebab utama kematian ibu janin dan bayi
baru [Link] neonatal adalah mencakup diagnosis dan tindakan
terhadap organisme yang berada pada periode adaptasi kehidupan intrauterine
ke ekstrauterin yang memerlukan perawatan yang tidak direncanakan dan
mendadak,serta untuk angka kesakitan dan kematian pasien.
Kegawatdaruratan Neonatal adalah situasi yang membutuhkan evaluasi
dan manajemen yang tepat pada bayi baru lahir yang sakit kritis (kurang lebih
usia 28 hari),serta membutuhkan pengetahuan yang dalam mengenali
perubahan psikologis dan kondisi patologis yang mengancam jiwa yang bisa
saja timbul sewaktu-waktu.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian, penyebab, gejala dan penanganan Hipertensi Esensial?
2. Apa pengertian, penyebab, gejala dan penanganan Hipertensi dalam
Kehamilan?
3. Apa pengertian, penyebab, gejala dan penanganan Pre Eklampsia?

1
4. Apa pengertian,penyebab,gejala dan penanganan Eklampsia?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian, penyebab, gejala dan penanganan
Hipertensi Esensial
2. Untuk mengetahui penyebab,gejala dan penanganan Hipertensi Dalam
Kehamilan
3. Untuk mengetahui penyebab, gejala dan penanganan Pre Eklampsia
4. Untuk mengetahui pengertian, penyebab,gejala dan penanganan
Eklampsia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Kondisi Maternal Yang Berisiko Kegawatdaruratan


Kegawatdaruratan adalah kejadian yang tidak diduga atau terjadi secara
tiba-tiba,seringkali merupakan kejadian yang berbahaya. Kegawatdaruratan
dapat juga di definisikan sebagai situasi serius dan kadang kala berbahaya yang
terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga dan membutuhkan tindakan segera
guna menyelamatkan jiwa/nyawa.
Sedangkan kegawatdaruratan obstetri adalah kondisi kesehatan yang
mengancam jiwa yang terjadi dalam kehamilan atau selama dan sesudah
persalinan dan kelahiran. Terdapat sekian banyak penyakit dan gangguan dalam
kehamilan yang mengancam keselamatan ibu dan bayinya. Kasus gawat darurat
obstetric adalah kasus obstetri yang apabila tidak segera ditangani akan
berakibat kematian ibu dan janinnya. Kasus ini menjadi penyebab utama
kematian ibu janin dan bayi baru lahir. Masalah kedaruratan selama kehamilan
disebabkan oleh komplikasi kehamilan spesifik atau penyakit medis atau bedah
yang timbul secara bersamaan.
Kegawatdaruratan neonatal adalah situasi yang membutuhkan evaluasi
dan manajemen yang tepat pada bayi baru lahir yang sakit kritis (kurang dari
usia 28 hari), serta membutuhkan pengetahuan yang dalam mengenali
perubahan psikologis dan kondisi patologis yang mengancam jiwa yang bisa
saja timbul sewaktu-waktu.
Penderita atau pasien gawat darurat adalah pasien yang perlu
pertolongan tepat,cermat, dan cepat untuk mencegah kematian/ kecacatan.
Ukuran keberhasilan dari pertolongan ini adalah waktu tanggap (respon time)
dari [Link] lain dari pasien gawat darurat adalah penderita yang
bila tidak ditolong segera akan meninggal atau menjadi cacat.

3
2.2 Jenis-jenis kondisi maternal yang berisiko kegawatdaruratan
1. Hipertensi Esensial
Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu
hipertensi primer atau hipertensi esensial (90- 95%) dan hipertensi
sekunder (5-10%). Hipertensi primer yaitu tidak ditemukan penyebab
dari peningkatan tekanan darah tersebut. Hipertensi primer merupakan
penyakit multifaktorial yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan
lingkungan yang dapat diperparah oleh faktor obesitas, stres, konsumsi
alkohol yang berlebihan, dan lain-lain.
Hipertensi primer tidak diketahui penyebabnya sehingga disebut
juga hipertensi esensial. Pada hipertensi ini terjadi peningkatan kerja
jantung akibat penyempitan pembuluh darah tepi. Pada umumnya,
penderita hipertensi esensial tidak memiliki keluhan. Keluhan yang
dapat muncul antara lain: nyeri kepala, gelisah, palpitasi, pusing, leher
kaku, penglihatan kabur, nyeri dada, mudah lelah, dan impotensi.
Faktor pemicu hipertensi dibedakan menjadi 2 macam yaitu faktor
yang tidak dapat dikontrol dan faktor yang dapat dikontrol. Faktor yang
tidak dapat dikontrol antara lain keturunan, jenis kelamin, dan umur.
Faktor yang dapat dikontrol antara lain kegemukan, gaya hidup, pola
makan, aktivitas, kebiasaan merokok, alkohol dan garam .
Hipertensi bersifat diturunkan atau bersifat genetik. Seseorang
menderita hipertensi kemungkinan lebih besar diturunkan oleh orang
tuannya jika orang tua tersebut penderita hipertensi. Hipertensi esensial
didapatkan dari riwayat hipertensi pada orang tua. Adanya faktor
riwayat keluarga akan menyebabkan mempunyai risiko yang sama yaitu
menderita hipertensi karena berhubungan dengan peningkatan kadar
sodium intraseluler dan rendahnya potasium terhadap sodium antara
individu dengan orang tua menderita hipertensi daripada orang yang
tidak mempunyai riwayat hipertensi di dalam keluarganya.

4
Seseorang yang memiliki riwayat keluarga hipertensi akan memiliki
risiko yang lebih besar untuk menderita hipertensi. Hal ini terjadi karena
seseorang yang memiliki riwayat keluarga hipertensi, beberapa gen
yang terdapat di dalam tubuh akan berinteraksi dengan lingkungan dan
dapat memicu peningkatan tekanan darah.

2. Hipertensi dalam kehamilan (HDK / PIH)


Tekanan darah ibu hamil yang tinggi (hipertensi) dapat
mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin intrauterin yang tentunya
akan berdampak terhadap berat badan lahir (Damanik, 2010).
Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit
kehamilan (Sarwono, 2010).WHO meninjau secara sistematis angka
kematian ibu di seluruh dunia (Khan, dkk, 2006), di negara-negara
maju, 16% kematian ibu disebabkan karena hipertensi. Persentase ini
lebih besar dari tiga penyebab utama lainnya: perdarahan-13%, aborsi
8%, dan sepsis 2 %. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini
menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (2009) sebesar
228/100.000 kelahiran hidup, penyebab kematian ibu dengan persentase
tertinggi yaitu perdarahan sebesar 28%, yang kedua yaitu eklampsia
24% (Depkes, 2012). Dilihat dari penyebab kematian ibu tahun 2010-
2012, terjadi peningkatan pada faktor Pre Eklampsia/Eklampsia (PE/E)
dan faktor lain-lain, dari proporsi tahun 2012, faktor PE/E masih
menjadi faktor dominan (34,88%) penyebab kematian ibu di Jawa
Timur (Depkes, 2012).
Hipertensi dalam kehamilan didefinisikan sebagai tekanan darah
sistolik > 140 mmHg dan tekanan darah diastolik > 90 mmHg
(Elizabeth, 2008). Hipertensi dalam kehamilan sering ditemukan dan
dapat merupakan salah satu dari tiga besar (selain perdarahan dan
infeksi) penyebab kematian internal, diagnosis hipertensi pada

5
kehamilan ditegakkan bila TD systole >140 mmHg dan TD distole >90
mmHg (Obgynacea, 2009). Hipertensi dalam kehamilan adalah tekanan
sistol > 140 atau tekanan diastol > 90 mmHg. Kenaikan tekanan sistolik
15 mmHg dibandingkan tekanan darah sebelum hamil atau pada
trimester pertama kehamilan (WHO, 2012).
Penyakit hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan
vaskuler yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul dalam
kehamilan atau pada permulaan nifas (Obstetri Patologi, Univ.
Padjajaran Bandung, 1984).
A. Faktor Resiko Kejadian Hipertensi Dalam Kehamilan
Terdapat banyak faktor untuk terjadinya hipertensi dalam
kehamilan, yang dapat dikelompokkan dalam faktor resiko sebagai
berikut:
1) Primigravida (seorang wanita hamil yang untuk pertama kali
(Gobak, 2005)), primipaternitas (kehamilan anak pertama
dengan suami kedua)
2) Hiperplasentosis misalnya : mola hidatidosa, kehamilan
multipel, DM, hidrops fetalis, bayi besar
3) Umur yang ekstrim (>35 tahun)
4) Riwayat keluarga yang pernah preeklampsia / eklampsia
5) Penyakit – penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada
sebelum hamil
6) Obesitas (BMI >35)
(Prawirohardjo, 2010)
B. Patofisiologi Hipertensi pada Ibu Hamil
Prawirohardjo (2013) menjelaskan beberapa teori yang
mengemukakan terjadinya hipertensi dalam kehamilan diantaranya
adalah:

6
1. Teori kelainan vaskularisasi plasenta
Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta mendapat
aliran darah dari cabang-cabang arteri uterina dan arteri
ovarika. Kedua pembuluh darah tersebut menembus
miometrium berupa uteri arkuarta dan memberi cabang arteri
radialis. Arteri radialis menembus endometrium menjadi arteri
basalis dan artrei basalis memberi cabang arteri spiralis.
Kehamilan normal akan terjadi invasi trofoblas ke dalam
lapisan otot arteri spiralis yang menimbulkan degenerasi
lapisan otot tersebut sehingga terjadi dilatasi arteri spiralis.
Invasi trofoblas juga memasuki jaringan sekitar arteri spiralis,
sehingga jaringan matriks menjadi gembur dan memudahkan
arteri spiralis mengalami distensi dan dilatasi. Keadaan ini
akan memberi dampak penurunan tekanan darah, penurunan
resistensi vaskular, dan peningkatan tekanan darah pada daerah
utero plasenta. Akibatnya aliran darah ke janin cukup banyak
dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga dapat menjamin
pertumbuhan janin dengan baik. Proses ini sering dinamakan
dengan remodeling arteri spiralis.

Sebaliknya pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi


invasi selsel trofoblas pada lapisan otot arteri spiralis dan
jaringan matriks sekitarrya. Lapisan otot arteri spiralis menjadi
tetap kaku dan keras sehingga lumen arteri spiralis tidak
memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi.
Akibatnya arteri spiralis relatif mengalami vasokonstriksi dan
terjadi kegagalan remodeling arteri spiralis. Sehingga aliran
darah uteroplasenta menurun, dan terjadi hipoksia dan iskemia
plasenta (Prawirohardjo, 2013).

7
2. Teori Iskemia Plasenta, Radikal Bebas, dan Disfungsi
Endotel
Plasenta yang mengalami iskemia dan hipoksia akan
menghasilkan oksidan yang disebut juga radikal bebas.
Iskemia plasenta tersebut akan menghasilkan oksidan penting,
salah satunya adalah radikal hidroksil yang sangat toksis,
khususnya terhadap membran sel endotel pembuluh darah.
Radikal hidroksil tersebut akan merusak membran sel yang
mengandung banyak asam lemak tidak jenuh menjadi
peroksida lemak.
Peroksida lemak tersebut selain akan merusak
membran sel, juga akan merusak nukleus, dan protein sel
endotel. Peroksida lemak sebagai oksidan akan beredar
diseluruh tubuh dalam aliran darah dan akan merusak
membran sel endotel. Akibat sel endotel terpapar terhadap
peroksida lemak, maka terjadi kerusakan sel endotel, yang
kerusakannya dimulai dari membran sel endotel. Kerusakan
membran sel endotel mengakibatkan terganggunya fungsi
endotel, bahkan rusaknya seluruh struktur sel endotel
(Prawirohardjo, 2013).
3. Teori Intoleransi Imunologik Antara Ibu dan Janin
HLA-G (human leukocyte antigen protein G)
merupakan prakondisi untuk terjadinya invasi trofoblas
kedalam jaringan desidua ibu, disamping untuk menghadapi
sel natular killer. HLA-G tersebut akan mengalami penurunan
jika terjadi hipertensi dalam kehamilan. Hal ini menyebabkan
invasi desidua ke trofoblas terhambat. Awal trimester kedua
kehamilan perempuan yang mempunyai kecendrungan terjadi
pre-eklampsia, ternyata mempunyai proporsi helper sel yang

8
lebih rendah bila dibanding pada normotensif (Prawirohardjo,
2013).
4. Teori Adaptasi Kardiovaskuler
Daya refrakter terhadap bahan konstriktor
akanhilangjika terjadi hipertensi dalam kehamilan, dan
ternyata terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan
vasopresor. Artinya daya refrakter pembuluh darah terhadap
bahan vasopresor hilang hingga pembuluh darah menjadi
sangat peka terhadap bahan vasopresor
(Prawirohardjo, 2013).
5. Teori Genetik
Genotip ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi
dalam kehamilan secara familial jika dibandingkan dengan
genotipe janin. Telah terbukti bahwa pada ibu yang mengalami
pre-eklampsia, 2,6% anak perempuannya akan mengalami
preeklampsia pula, sedangkan hanya 8% anak menantu
mengalami preeklampsia (Prawirohardjo,
2013).
6. Teori defisiensi gizi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan
defisiensi gizi berperan dalam terjadinya hipertensi dalam
kehamilan. Misalnya seorang ibu yang kurang mengkonsumsi
minyak ikan, protein dan
lain-lain (Prawirohardjo, 2013).
7. Teori stimulus inflamasi
Teori ini berdasarkan fakta bahwa lepasnya debris
trofoblas di dalam sirkulasi darah merupakan rangsangan
utama terjadinya proses inflamasi. Plasenta juga akan
melepaskan debris trofoblas dalam kehamilan normal. Sebagai

9
sisa-sisa proses apoptosis dan nekrotik trofoblas, akibar reaksi
stress oksidatif. Bahan-bahan ini sebagai bahan asing yang
kemudian merangsang timbulnya proses inflamasi. Proses
apoptosis pada preeklampsia terjadi peningkatan stress
oksidatif, sehingga terjadi peningkatan produksi debris
apoptosis dan dan nekrotik trofoblas. Makin banyak sel
trofoblas plasenta maka reaksi stress oksidatif makin
meningkat, sehingga jumlah sisa debris trofoblas juga makin
meningkat. Keadaan ini menimbulkan beban reaksi inflamasi
dalam darah ibu menjadi jauh lebih besar dibanding reaksi
inflamasi pada kehamilan normal (Prawirohardjo, 2013).
C. Manifestasi Klinik
Jhonson (2014), menjelaskan beberapa manifestasi klinis dari
hipertensi dalam kehamilan yaitu:
a. Spasme pembuluh darah ibu serta sirkulasi dan nutrisi yang buruk
dapat mengakibatkan kelahiran dengan berat badan dan kelahiran
prematur.
b. Mengalami hipertensi diberbagai level.
c. Protein dalam urin berkisar dari +1 hingga +4.
d. Gejala neurologi seperti pandangan kabur, sakit kepala dan hiper
refleksia mungkin akan terjadi.
e. Berpotensi gagal hati.
f. Kemungkinan akan mengalami nyeri di kuadran kanan atas.
g. Meningkatnya enzim hati.
h. Jumlah trombosit menurun.
D. Pemeriksaan Diagnostik
Manuaba, dkk (2013) menyebutkan pemeriksaan diagnostik yang
dilakukan pada ibu hamil dengan hipertensi diantaranya :
a) Uji urin kemungkinan menunjukkan proteinuria

10
b) Pengumpulan urin selama 24 jam untuk pembersihan kreatinin dan
protein.
c) Fungsi hati: meningkatnya enzim hati (meningkatnya alamine
amino transferase atau meningkatnya aspartate).
d) Fungsi ginjal: profil kimia akan menunjukkan kreatinin dan
elektrolit abnormal, karena gangguan fungsi ginjal.
e) Tes non tekanan dengan profil biofisik.
f) USG seri dan tes tekanan kontraksi untuk menentukan status janin
g) Evaluasi aliran doppler darah untuk menentukan status janin dan
ibu.
E. Penatalaksanaan
Menurut Manuaba, dkk (2013) beberapa penatalaksanaan yang
dapat dilakukan pada pasien dengan hipertensi dalam kehamilan
diantaranya :
a. Hipertensi Ringan
Kondisi ini dapat diatasi dengan berobat jalan. Pasien diberi
nasehat untuk menurunkan gejala klinis dengan tirah baring 2x2
jam/hari dengan posisi miring. Untuk mengurangi darah ke vena kava
inferior, terjadi peningkatan darah vena untuk meningkatkan peredaran
darah menuju jantung dan plasenta sehingga menurunkan iskemia
plasenta, menurunkan tekanan darah, meningkatkan aliran darah
menuju ginjal dan meningkatkan produksi urin. Pasien juga dianjurkan
segera berobat jika terdapat gejala kaki bertambah berat (edema), kepala
pusing, gerakan janin terasa berkurang dan mata makin kabur.
b. Hipertensi Berat
Dalam keadaan gawat, segera masuk rumah sakit, istirahat dengan tirah
baring ke satu sisi dalam suasana isolasi. Pemberian obat-obatan untuk
menghindari kejang (anti kejang), antihipertensi, pemberian diuretik,
pemberian infus dekstrosa 5%, dan pemberian antasida.

11
c. Hipertensi Kronis
Pengobatan untuk hipertensi kronis adalah di rumah sakit untuk evaluasi
menyeluruh, pemeriksaan laboratorium lengkap serta kultur,
pemeriksaan kardiovaskuler pulmonal (foto thorax, EKG, fungsi paru).
Penatalaksanaan terhadap hipertensi dalam kehamilan tersebut juga
dijelaskan oleh Purwaningsih dan Fatmawati (2010); Prawirohardjo (2013),
beberapa penatalaksanaan hipertensi dalam kehamilan diantaranya :
1) Anjurkan melakukan latihan isotonik dengan cukup istirahat dan tirah
baring.
2) Hindari kafein, merokok, dan alkohol.
3) Diet makanan yang sehat dan seimbang, yaitu dengan mengkonsumsi
makanan yang mengandung cukup protein, rendah karbohidrat, garam
secukupnya, dan rendah lemak.
4) Menganjurkan agar ibu melakukan pemeriksaan secara teratur, yaitu
minimal 4 kali selama masa kehamilan. Tetapi pada ibu hamil dengan
hipertensi dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan yang
lebih sering, terutama selama trimester ketiga, yaitu harus dilakukan
pemeriksaan setiap 2 minggu selama 2 bulan pertama trimester ketiga,
dan kemudian menjadi sekali seminggu pada bulan terakhir
kehamilan.
5) Lakukan pengawasan terhadap kehidupan dan pertumbuhan janin
dengan USG.
6) Pembatasan aktivitas fisik.
7) Penggunaan obat- obatan anti hipertensi dalam kehamilan tidak
diharuskan, karena obat anti hipertensi yang biasa digunakan dapat
menurunkan perfusi plasenta dan memiliki efek yang merugikan bagi
janin. Tetapi pada hipertensi berat, obat-obatan diberikan sebagai
tindakan sementara. Terapi anti hipertensi dengan agen farmakologi
memiliki tujuan untuk mengurangi tekanan darah perifer, mengurangi

12
beban kerja ventrikel kiri, meningkatkan aliran darah ke uterus dan
sisitem ginjal serta mengurangi resiko cedera serebrovaskular.

3. Pre Eklampsia
Pre eklampsia adalah suatu sindroma klinis dalam kehamilan
viable (usia kehamilan > 20 minggu dan / berat janin 500 gram ) yang
ditandai dengan hipertensi, proteinuria dan edema. Gejala ini dapat
timbul sebelum kehamilan 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblastik.(
Taufan, 2011). Pre eklamsi berat adalah pre eklamsi yang ditandai
tekanan sistolik 160 atau lebih dalam 24 jam, 3 atau 4 pada pemeriksaan
invalitatif, oliguria air kencing 400 ml atau kurang dalam 24 jam,
keluhan serebral, gangguan penglihatan atau nyeri di daerah
epigastrum, edema paru-paru atau sianosis. (Maryunani, 2009).
Riwayat kesehatan ibu berhubungan dengan kejadian pre
eklampsia hal ini sesuai dengan teori menurut Saifuddin bahwa riwayat
kesehatan ibu khususnya hipertensi sebelum kehamilan berpengaruh
pada kejadian preeklampsia. Adanya tekanan darah tinggi sebelum
hamil akan jantung seseorang bekerja dengan extra keras, hal ini
mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah, jantung, ginjal, otak
dan mata. Pada wanita hamil terjadi peningkatan kerja jantung yang
menyebabkan tekanan darah yang berakibat pada kejadian
preeklampsia. Perempuan dengan riwayat hipertensi kemungkinan telah
mengalami penyempitan pembuluh darah yang rentan terhadap kejadian
preeklampsia.
A. Jenis-Jenis Pre-Eklampsi
1. Pre-eklampsi ringan
Pre-eklampsi ringan adalah timbulnya hipertensi disertai
proteinuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu

13
atau segera setelah kehamilan. Penyebab pre-eklampsi ringan
belum diketahui secara jelas. Penyakit ini dianggap sebagai
“maladaptation sundrome” akibat vasospasme general segala
akibat. Gejala klinis pre-eklampsi ringan meliputi :
a) Kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg atau lebih, diastol
15 mmHg atau lebih dari tekanan darah sebelum hamil
pada kehamilan 20 minggu atau lebih dari sistol 140
mmHg sampai kurang 160 mmHg, diastole 90 mmHg
sampai kurang 110 mmHg
b) Proteinuri: secara kuantitatif lebih dari 0,3 gr/liter dalam
24 jam atau secara kualitatif positi 2 (+2)
c) Edema pada pretibia, dinding abdomen, lumbosakral,
wajah atau tangan
Penangan pre-eklampsi ringan dapat dilakukan dua cara,
tergantung gejala yang timbul, yakni :
1. Penatalaksaan rawat jalan pasien pre-eklampsi ringan,
dengan cara :
1. Ibu dianjurkan banyak istirahat (berbaring tidur/miring)
2. Diet: cukup protein, rendah lemak, rendah karbohidrat,
dan rendah garam
3. Pemberian sedative ringan
4. Kunjungan ulang setiap 1 minggu
5. Pemeriksaan laboratorium (Hb, Hemotokrit, trombosit,
urine lengkap,asam urat darah, fungsi hati, fungsi
ginjal)

14
2. Penatalaksaan rawat tinggal pasien pre-eklampsi ringan
berdasarkan kriteria :
a) Setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan tidak
menunjukkan adanya perbaikan dari gejala-gejala pre-
eklampsi
b) Kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih perminggu
selama 2 kali berturut-turut (2 minggu)
c) Timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda
pre-eklampsi berat
Perawatan obstetri pasien pre-eklampsi ringan :
a) Kehamilan preterm (kurang 37 minggu)
b) Bila desakan darah mencapai normotensif selama
perawatan, persalinan ditunggu sampai aterm.
Namun bila desakan darah turun tetapi belum
mencapai normotensif selama perawatan maka
kehamilannya dapat diakhiri pada umur kehamilan
37 minggu atau lebih
c) Kehamilan aterm (37 minggu atau lebih)
persalinan ditunggu sampai terjadinya onset
persalinan atau di pertimbangkan untuk melakukan
persalinan pada taksiran tanggal persalinan
d) Cara persalinan
Persalinan dapat dilakukan secara spontan bila
memperpendek kala II
2. Pre-eklampsi berat
Pre-eklampsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan
yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg
atau lebih desertai proteinuria dan/atau edema pada kehamilan
20 minggu atau lebih. Gejala dan tanda pre-eklampsi berat :

15
a. Tekanan darah sistolik > 160 mmHg, tekanan darah
diastolik > 110 mmHg
b. Peningkatan kadar enzim hati atau/dan ikterus
c. Trombosit < 100.000/𝑚𝑚3
d. Oliguria < 400 ml/24 jam
e. Proteinuria > 3 gr/liter
f. Nyeri episgastrium
g. Skotoma dan gangguan visus lainnya atau nyeri frontal
yang berat
h. Perdarahan retina
i. Odem pulmonum
Pada pre-eklampsi berat juga terdapat penyulit lain,
diantaranya : kerusakan organ-organ tubuh seperti jantung,
gagal ginjal, gangguan fungsi hati, gangguan pembekuan
darah, sindrome HELLP, bahkan dapat terjadi kematian pada
janin, ibu, atau keduanya bila pre-eklampsi tak segera diatasi
dengan baik dan benar. Penanganan pre-eklampsi berat, yakni
a. Perawatan aktif, sedapat mungkin sebelum perawatan aktif
pada setiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal
assessment yakni pemeriksaan nonstress test (NST) dan
USG, dengan indikasi (salah satu atau lebih) :
1) Ibu : usia khamilan 37 minggu atau lebih; adanya
tanda- tanda atau gejala impending eklamsi,
kehgagalan terapi konservatif yaitu setelah 6 jam
pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan darah
atau setelah 24 jam perwatan edicinal, ada gejala-
gejala satus quo (tidak ada perbaikan)

16
2) Janin : hasil fetal assesment jelek (NST dan USG):
adanya tanda Intravena Uterine Growt retardatin
(IUGR)
3) Hasil laboratorium: adanya “HELP syndrome”
(hematolisis dan peningkatan fungsi hepar,
trombositopenia)
b. Pengobatan medisinal pasien pre-eklampsi berat
(dilakukan dirumah sakit dan atas instruksi dokter) yaitu :
segera masuk RS: tirah baring kesatu sisi. Tanda-tanda
vital diperiksa setiap 30 menit, reflek patella setiap jam,
infus RL dextrose 5% dimana setiap 1 liter disleingi infus
RL (60-125 cc/jam) 500CC, berikan antasida, diet cukup
protein, rendah karbohidrat, rendah lemak, dan rendah
garam, pemberian obat anti kejang, MgSO4, diuretik tidak
diberikan kecuali bila ada tanda-tanda edema paru, payah
jantung kongestif atau edema anasarka, diberikan
furosemid injeksi 40mg/IM
c. Antidepresa diberikan bila : tekanan darah sistolis lebih
180 mmHg. Diastolis lebih dari 110 mmHg atau MAP
lebih 125 mmHg. Sasasaran pengobatan adalah tekanan
diastolis kurang 105 mmHg (bukan kurang 90 mmHg)
karena akan menurunkan perfusi plasenta, dosis
antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada
umumnnya.
d. Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya,
dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan
kontinyu)
e. Bila tidak tersedia anti hipertensi parental dapat diberikan
tablet anti hipertensi secara sublingual diulang selang 1

17
jam, maksimal 4-5 kali. Bersama dengan awal pemberian
sublingual maka obat yang sama mulai diberikan secara
oral (Syakib Bakri, 1997)
f. Pengobatan jantung jika ada indikasinya yakni ada tanda-
tanda menjurus payah jantung, diberikan digitalisasi cepat
dengan cedilanid
g. Lain-lain : konsul bagian penyakit dalam / jantung, mata.
Penanganan pre-eklampsi berat pada saat persalinan,
dilakukan tindakan penderita dirawat inap anatara lain :
a. Istirahat mutlak dan ditempatkan diruangan isolasi;
berikan diet rendah garam, lemak dan tinggi protein;
berikan suntikan MgSO4 8 gr IM, 4 gr bokong kanan,
dan 4 gr bokong kiri; suntikan dapat diulang dengan
dosis 4 gr setiap jam; syarat pemberia MgSO4 adalah
reflek patella positif, diuresis 100 cc dalam 4 jam
terakhir, respirasi 16 x/ menit dan harus tersedia
antidotnya yaitu calsium gluconas 10% dalam ampul
sedia 10cc; infus dextrose 5% dan ringer laktat; berikan
obat anti hipertensi; injeksi katapres 1 ampul 1 mg dan
selanjutnya dapat diberikan tablet katapres 3 X ½ tablet
atau 2 X ½ tablet sehari; diuretika tidak diberikan,
kecuali terdapat edema umum, edema paru dan
kegagalan jantung kongestif. Untuk itu dapat
disuntikkan 1 ampul IV lasix; segera setelah pemberian
MgSO4 kedua, dilakukan induksi partus dengan atau
tanpaamniotomi. Untuk induksi dipakai oksitosin 10
satuan dalam infus tetes (dilakukan oleh bidan atas
instruksi dokter)

18
b. Kala II harus dipersingkat dalam 24 jam dengan
ekstraksi wakum atau forceps, jadi ibu dilarang
mengedan ()dilakukan oleh dokter ahli kandungan);
jangan berikan methergin postpartum, kecuali bila
terjadi perdarahan yang disebabkan antonia uteri;
pemberian MgSO4 kalau tidak ada kontraindikasi,
kemudia diteruskan dengan dosis 4 gr setiap 4 jam
dalam 24 jam postpartum.
c. Bila ada indikasi obstetric dilakukan seksio sesarea,
perhatikan bahwa: tidak terdapat koagulopati: anastesi
yang aman atau terpilih adalah anastesi spinal
berhubungan dengan resiko (dilakukan oleh dokter
kandungan)
d. Jika anastesi umum tidak tersedia atau janin mati, aterm
terlau kecil, lakukan persalinan pervaginam.
Jikaservuks matang, lakukan induksi dengan oksitosin
2- 5 IU dalam 500nml dextrose 10 tetes/mnit atau
dengan prostaglandin (atas instruksi dokter boleh
dilakukan oleh bidan)

B. Faktor-faktor risiko preklampsia


Kajian penelitian ini meliputi faktor risiko preeklampsia,
yaitu usia, obesitas, diabetes melitus, hipertensi kronik, riwayat
penyakit ginjal, dan riwayat preeklampsia.
1. Usia
Usia hamil yang tidak berisiko yaitu antara 20-35 tahun.
Rentang usia tersebut merupakan usia reproduktif yang aman
untuk hamil karena komplikasi kehamilan yang sedikit
sedangkan usia ibu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari

19
35 tahun merupakan rentang usia yang berisiko karena kejadian
komplikasi meningkat pada usia tersebut.
Perkembangan pesat baik secara fisik, mental, dan
intelektual terjadi pada saat masa remaja. Kehamilan pada usia
muda atau remaja memiliki dampak pada kesehatan remaja dan
bayinya serta dampak sosial dan ekonomi. Kehamilan pada
usia remaja memiliki risiko tinggi untuk mengalami
komplikasi kehamilan dibandingkan usia kehamilan 20-39
tahun. Seperti disebutkan sebelumnya, pada usia.
Wanita dengan usia >35 tahun kemungkinan telah terjadi
proses degeneratif yang memengaruhi pembuluh darah perifer
sehingga terjadi perubahan fungsional dan struktural yang
berperan pada perubahan tekanan darah, sehingga lebih rentan
mengalami preeklampsia. Wanita usia >35 tahun lebih rentan
untuk mengalami preeklampsia dibandingkan wanita pada usia
20-35 tahun. Menurut Lamminpaa et al. ibu hamil dengan usia
di atas 35 tahun memiliki kemungkinan 1,5 kali menderita
preeklampsia dibandingkan ibu hamil dengan usia kurang dari
35 tahun.

2. Obesitas
Obesitas meningkatkan risiko preeklampsia. Dengan
demikian, risiko preeklampsia berat dan ringan serta
preeklampsia yang terjadi pada awal dan akhir kehamilan lebih
besar pada wanita obesitas dan kelebihan berat badan. Sebuah
teori menyebutkan bahwa antioksidan memiliki peran untuk
menghambat terjadinya preeklampsia. Wanita yang obesitas
memiliki konsentrasi antioksidan dalam darah yang lebih
rendah. Berdasarkan penelitian Sibai et al. semakin tinggi berat

20
kehamilan maka semakin tinggi risiko mengalami
preeklampsia
Obesitas dapat memengaruhi fungsi dan perfusi
plasenta, melalui beberapa perubahan metabolik yang
berhubungan dengan obesitas seperti hiperlipidemia,
hiperinsulinemia, atau hyperleptinemia. Penanda metabolik ini
diketahui meningkat pada plasma wanita hamil yang
mengalami obesitas dan bahkan lebih tinggi pada wanita
dengan preeklampsia. Selain itu, telah dilaporkan bahwa kadar
kolesterol serum total pada trimester pertama dan kedua
kehamilan dapat memprediksi terjadinya preeklampsia.
Perubahan profil lipid yang terdiri dari peningkatan low-
density lipoprotein (LDL), rendahnya kadar highdensity
lipoprotein (HDL), dan peningkatan kadar trigliserida pada
wanita dengan preeklampsia. Telah dilaporkan bahwa LDL
mengurangi migrasi sitotrofoblas ekstravili dan meningkatkan
apoptosis trofoblas. Juga, tingginya kadar trigliserida dan asam
lemak bebas, yang meningkat pada obesitas, meningkatkan
risiko preeklampsia dan meningkat pada preeklampsia.

3. Diabetes Melitus
Kejadian preeklampsia meningkat pada wanita dengan
diabetes. Berdasarkan penelitian Yanit et al, Pre eklampsia
lebih mungkin terjadi pada wanita dengan diabetes sebesar tiga
sampai empat kali. Pada wanita diabetes dengan hipertensi
kronik memiliki kemungkinan 12 kali menderita preeklampsia.
Peningkatan kadar glukosa memiliki efek yang sama
pada perkembangan preeklampsia. Glukosa yang berlebih
selama kehamilan menghambat fungsi sel sitotrofoblas (CTB)

21
dengan menginduksi pensinyalan jalur stres (P38 MAPK dan
PPARγ) diikuti dengan penghambatan MMP-9 yang
menyebabkan migrasi CTB dan komplikasi invasi, stres
oksidatif yang menyebabkan hipoksia plasenta, dan
peningkatan IL 6 yang menyebabkan ketidakseimbangan
angiogenik. Semua perubahan ini tampaknya berkontribusi
pada jalur umum akhir yang mengarah ke plasentasi abnormal,
sehingga berkembangnya preeklampsia.
4. Hipertensi kronik
Pada wanita dengan hipertensi kronik terjadi penurunan
tekanan darah pada awal kehamilan dan meningkat kembali
pada trimester ketiga. Komplikasi paling sering dalam
kehamilan pada wanita dengan hipertensi kronik adalah
preeklampsia.
Salah satu faktor predisposisi pre-eklampsia berat ialah
riwayat hipertensi, penyakit hipertensi vaskular sebelumnya,
atau hipertensi esensial. Hipertensi yang diderita sebelum
kehamilan mengakibatkan gangguan/kerusakan pada organ-
organ penting tubuh. Kehamilan itu sendiri membuat berat
badan naik sehingga dapat mengakibatkan
gangguan/kerusakan yang lebih parah, yang ditunjukkan
dengan edema dan proteinuria.
5. Riwayat Penyakit Ginjal
Semua wanita dengan penyakit ginjal kronik memiliki
insiden terjadinya pre-eklampsia tinggi. Hipertensi dan penyakit
ginjal yang sudah ada sebelumnya meningkatkan risiko hasil
kehamilan yang merugikan, terutama peningkatan risiko
preeklampsia. Menurut Tangren et al. ibu hamil dengan riwayat
gangguan ginjal akut memiliki risiko mengalami preeklampsia

22
2,9 kali lebih besar dibandingkan ibu hamil yang tidak memiliki
riwayat gangguan ginjal akut.
Wanita dengan akut kidney injury (AKI) yang pulih
secara klinis, terutama mereka dengan AKI berat, memiliki sisa
penyakit ginjal subklinis dan massa nefron rendah sebelum
memasuki kehamilan. Jumlah nefron dapat berkurang hingga
50% sebelum kreatinin serum naik di atas kisaran normal.
Jumlah nefron rendah dan pengganti untuk massa ginjal rendah
telah dikaitkan dengan konsekuensi kesehatan jangka panjang
yang merugikan, termasuk hipertensi dan gangguan ginjal
kronik. Jumlah nefron yang rendah juga tampaknya menjadi
faktor risiko komplikasi kehamilan. Kehamilan dikaitkan
dengan perubahan besar dalam aliran plasma ginjal yang
menyebabkan peningkatan GFR sebesar 50% saat midgestasi.
Penurunan hiperfiltrasi kehamilan telah diidentifikasi sebagai
faktor risiko preeklampsia, kelahiran prematur, dan berat lahir
rendah.
6. Riwayat Preklampsia
Preeklampsia sebelumnya merupakan faktor risiko
terjadinya preeklampsia, mungkin karena ketidakmampuan
sistem kardiovaskular untuk pulih dari preeklampsia karena
profil kardiovaskular pada wanita dengan preeklampsia berulang
lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang memiliki
kehamilan normal sesudahnya. Wanita dengan preeklampsia
berulang mengalami peningkatan ketebalan karotis intima-
media, serta curah jantung yang lebih rendah (CO) dan massa
ventrikel kiri, dibandingkan dengan wanita dengan kehamilan
lanjutan normal.
C. Pencegahan preeklampsia

23
Diagnosis dini preeklampsia penting untuk dilakukan untuk
mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Pemeriksaan
antenatal rutin untuk mencari tanda-tanda preeklampsia sangat
penting sebagai upaya pencegahan timbulnya preeklampsia berat
dan eklampsia. Deteksi dini pada kehamilan sangat diperlukan
untuk mencegah risiko komplikasi kehamilan dan persalinan
Berbagai komplikasi dapat muncul selama kehamilan, salah
satunya adalah preeklampsia. Pengetahuan ibu hamil tentang gejala
klinis serta tanda dari preeklampsia berperan besar dalam deteksi
dini preeklampsia ini.
Upaya yang perlu dilakukan untuk meminimalkan dampak
dari pengetahuan kurang yaitu dengan edukasi terkait preeklampsia.
Linggardini dan Aprilina (2016) menyatakan bahwa pendidikan
kesehatan tentang preeklampsia terhadap ibu hamil dapat mencegah
terjadinya preeklampsia pada kehamilan ibu melalui pemantauan
tekanan darah, yang mana kehamilan ibu mestinya dilakukan
pemeriksaan secara rajin. Di samping itu, pendidikan kesehatan
untuk ibu hamil sangat dibutuhkan dengan tujuan bahwa ibu hamil
secara rajin melakukan pemeriksaan kandungan serta
meningkatkan pemahaman tentang bahaya preeklampsia.
D. Tanda gejala Preeklampsia hipertensi
Preeklampsia merupakan hipertensi yang timbul setelah 20
minggu kehamilan disertai dengan proteinuria (Prawirohardjo,
2014). Preeklampsia dikelompokkan menjadi preeklampsia tanpa
gejala berat dan preeklampsia berat, dimana preeklampsia tanpa
gejala berat ditandai dengan tekanan darah ≥ 140/90 mmHg dan
proteinuria ≥300 mg/24 jam. Sementara preeklampsia berat
ditandai dengan tekanan darah ≥160/110 mmHg disertai proteinuria
>5g/24 jam (POGI, 2016).

24
D. Masalah pada ibu dan janin
Preeklampsia berat dapat menjadi masalah, baik pada ibu
ataupun pada janin karena adanya vasospasme pembuluh darah,
sehingga aliran darah uteroplasenta ke janin terbatas, akibatnya
janin dapat terlahir dalam keadaan berat bayi lahir rendah (BBLR),
kelahiran prematur, intra uterine fetal death, serta Apgar score yang
rendah.
E. Tata Laksana Pre Eklampsi
Prinsip penatalaksanaan preeklampsia adalah kontrol
tekanan darah yang adekuat serta pencegahan kejang atau
eklampsia. Persalinan atau terminasi kehamilan adalah satu-satunya
penatalaksanaan definitif preeklampsia. Namun, tata laksana juga
sangat ditentukan oleh kondisi klinis ibu dan janin, khususnya usia
kehamilan, progresivitas penyakit, serta kesejahteraan janin. Dalam
tata laksana, dokter hendaknya selalu mempertimbangkan manfaat
dan risiko baik pada ibu maupun janin.
Tata Laksana Konservatif
Tata laksana konservatif (expectant management) bertujuan
untuk memperbaiki luaran perinatal dengan mengurangi morbiditas
neonatus serta memperpanjang usia gestasi tanpa membahayakan
ibu. Tata laksana konservatif dapat direkomendasikan untuk pasien
preeklampsia tanpa gejala berat dengan usia kehamilan <37 minggu
atau pasien preeklampsia dengan gejala berat dan usia kehamilan
<34 minggu.
Rawat jalan dapat dilakukan untuk pasien preeklampsia
tanpa gejala berat dengan usia kehamilan preterm (<37 minggu),
dengan catatan harus ada observasi ketat terhadap kondisi ibu dan
janin. Pemantauan bertujuan untuk mendeteksi ada tidaknya
komplikasi atau perburukan preeklampsia. Idealnya, pengukuran

25
tekanan darah ibu dilakukan 2 kali/minggu, sementara pemeriksaan
laboratorium (nilai trombosit, fungsi ginjal, serta enzim liver)
diperiksa tiap minggu. Kesejahteraan janin dipantau dengan USG
serial untuk menilai pertumbuhan janin dan volume air ketuban.
Jika ada hambatan pertumbuhan janin, dokter dapat melakukan
pemeriksaan Doppler untuk menilai aliran darah arteri umbilikus.
Frekuensi pemeriksaan dapat berbeda pada tiap pasien tergantung
indikasi dan kondisi klinis.
Pasien preeklampsia dengan gejala berat direkomendasikan
untuk melakukan rawat inap selama menjalani perawatan
konservatif. Selain itu, perawatan sebaiknya dilakukan di fasilitas
kesehatan yang memiliki perawatan intensif maternal dan neonatal.
Selama perawatan konservatif, pemberian kortikosteroid
direkomendasikan untuk membantu pematangan paru janin.
Tata laksana konservatif dapat dilakukan sampai usia
kandungan mencapai 37 minggu pada pasien preeklampsia tanpa
gejala berat atau sampai 34 minggu pada pasien preeklampsia
dengan gejala berat. Syaratnya adalah tidak ada perburukan kondisi
ibu dan janin, tidak ada tanda persalinan preterm, dan tidak ada
ketuban pecah dini.

4. Eklampsia
Eklampsia adalah terjadinya kejang pada wanita dengan pre-
eklampsia yang tidak dapat dikaitkan dengan penyebab lainnya.
Eklampsia keadaan darurat yang dapat mengancam jiwa, terjadi pada
sebelum, saat, dan setelah persalinan (antepartum, intrapartum,
postpartum). Eklampsia didahului dengan sakit kepala dan perubahan
penglihatan, kemudian kejang selama 60-90 detik. Eklampsia

26
dibedakan menjadi eklampsia gravidarum, eklampsia intrapartum, dan
eklampsia pospartum. Prinsip manajemen kejang eklampsia.
A. Gejala Eklampsia
Gejala utama eklampsia adalah kejang sebelum, selama, atau
sesudah persalinan. Munculnya eklampsia pada ibu hamil selalu di
dahului dengan preeklampsia. Preeklampsia dapat timbul sejak
minggu ke-20 kehamilan.
Eklampsia akan ditandai dengan tekanan darah >140/90 mm
Hg, ditemukannya protein pada urin, dan bisa disertai dengan
pembengkakan pada tungkai. Jika tidak mendapatkan penanganan,
preeklampsia bisa menyebabkan eklampsia. Pada beberapa kasus, bisa
terjadi impending eclampsia yang ditandai dengan:
1. Tekanan darah yang semakin tinggi
2. Sakit kepala yang semakin parah
3. Mual dan muntah
4. Sakit perut terutama pada bagian perut kanan atas
5. Tangan dan kaki membengkak
6. Gangguan penglihatan
7. Frekuensi dan jumlah urin yang berkurang (oligouria)
8. Peningkatan kadar protein di urin
Jika terus berlanjut, akan muncul kejang. Kejang akibat
eklampsia bisa terjadi sebelum, selama, atau setelah persalinan. Kejang
eklampsia dapat terjadi sekali atau berulang kali. Namun, ada 2 fase
kejang yang bisa terjadi saat mengalami eklampsia, yaitu:
1. Fase pertama
Pada fase ini, kejang akan terjadi selama 15-20 detik disertai
dengan kedutan pada wajah, kemudian dilanjutkan dengan
munculnya kontraksi otot di seluruh tubuh.

27
2. Fase kedua
Fase kedua dimulai pada rahang, kemudian bergerak ke otot
muka, kelopak mata, dan akhirnya menyebar ke seluruh tubuh
selama 60 detik. Pada fase kedua, kejang eklampsia akan
membuat otot kontraksi dan rileks secara berulang-ulang dalam
waktu yang cepat
B. Penanganan Eklampsia
Kejang pada eklampsia merupakan kondisi gawat darurat yang
mengancam nyawa ibu dan bayi. Melakukan persalinan adalah
pengobatan utama untuk eklampsia. Pertolongan pertama pada
eklampsia adalah memutus kejang, baru kemudian setelah kejang
teratasi dapat diputuskan untuk melakukan proses persalinan. Obat-
obatan dapat diberikan sebagai pertolongan pertama pada eklampsia:
1. Obat-obatan antikejang:
a) Magnesium sulfat suntikan pelan dalam intravena.
Magnesium sulfat dapat merelaksasi otot-otot yang kejang.
Pemberian magnesium sulfat dilakukan dengan suntikan
intravena pelan untuk memutus kejang, kemudian dilakukan
terapi pemeliharaan dengan magnesium sulfat infus selama
24 jam walaupun sudah tidak kejang untuk menghindari
kejang berulang.
b) Lorazepam atau Diazepam dapat diberikan apabila terdapat
kontraindikasi dari magnesium sulfat
c) Phenitoin dapat diberikan jika mengalami kejang berulang
walaupun sudah diberikan magnesium sulfat.
2. Obat-obatan anti hipertensi harus sesegera mungkin setelah
magnesium sulfat diberikan jika tensi diatas 160/110 mmHg. Target
tekanan darah adalah 140–160/90–110 mmHg. Obat-obatan
hipertensi yang dapat digunakan adalah labetalol atau nifedipin.

28
3. Obat-obatan diuretik seperti furosemid dapat diberikan apabila
terdapat cairan pada paru (edema pulmo) (mukhlas, asep. 2018)
C. Pencegahan Eklampsia
Belum ada langkah pasti untuk mencegah preeklampsia dan
eklampsia. Namun, beberapa langkah berikut bisa dilakukan untuk
menurukan risiko terjadinya eklampsia pada ibu hamil:
1. Melakukan kontrol kendala
Kontrol berkala selama kehamilan perlu dilakukan agar deteksi dini
dan pengendalian hipertensi serta preeklampsia bisa dilakukan.
Dengan melakukan pengendalian terhadap preeklampsia, maka
risiko terjadinya eklampsia bisa diturunkan.
2. Mengkonsmsi aspirin dosis rendah
Aspirin dalam dosis rendah mungkin akan diberikan dokter sesuai
dengan kondisi ibu hamil. Pemberian aspirin dapat mencegah
penggumpalan darah dan pengecilan pembuluh darah, sehingga
dapat mencegah munculnya eklampsia.
3. Menerapkan gaya hidup sehat
Menerapkan gaya hidup sehat, seperti menjaga berat badan ideal
dan berhenti merokok, dapat membantu menurunkan risiko
eklampsia bila ibu hamil.
4. Mengkonsumsi suplemen tambahan
Suplemen dengan arginin dan vitamin juga diduga dapat
menurunkan risiko eklampsia jika dikonsumsi mulai trimester
kedua kehamilan.

29
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kegawatdaruratan dapat di definisikan sebagai situasi serius dan kadang
kala berbahaya yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga dan
membutuhkan tindakan segera guna menyelamatkan jiwa / nyawa.
Kegawatdaruratan maternal adalah kondisi kesehatan yang mengancam jiwa
yang terjadi dalam kehamilan atau selama dan sesudah persalinan dari
kelahiran.
Terdapat sekian banyak penyakit dan gangguan dalam kehamilan yang
mengancam keselamatan ibu dan bayinya. Kasus gawat darurat maternal
adalah kasus obstetri yang apabila tidak segera ditangani akan berakibat
kematian ibu dan janinnya. Kasus ini menjadi penyebab utama kematian ibu
janin dan bayi baru lahir. Kegawatdaruratan neonatal adalah mencakup
diagnosis dan tindakan terhadap organisme yang berada pada periode adaptasi
kehidupan intrauterine ke ekstrauterin yang memerlukan perawatan yang
tidak direncanakan dan mendadak,serta untuk angka kesakitan dan kematian
pasien.

3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari masih banyak
kekurangan pengetahuan serta kekurangan dalam penulisan. Hal tersebut terjadi
karena penulis masih dalam tahap pembelajaran sehingga diharapkan kritik dan
saran yang dapat membangun makalah ini.

30
DAFTAR PUSTAKA

Mulyo. D. 2019. Hipertensi Dalam Kehamilan. Unissula


Dr. dr. Haidar Alatas. 2019. Seminar Nasional Penyakit Tidak Menular Penyebab
Kematian Maternal. Prodi D3 Kebidanan Politeknik Kesehatan Kemenkes
Semarang.
Laily Mitha Anggriani. 2016. Deskripsi Kejadian Hipertensi Warga Rt 05/Rw 02
Tanah Kali Kedinding Surabaya. Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu
Perilaku, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya.
Jurnal Promkes, Vol. 4, No. 2 Desember 2016: 151–164.
Unknow. 2018. [Link] Diakses
pada 21 Januari 2023.
Steven Johanes Adrian, Tommy. 2019. Hipertensi Esensial: Diagnosis dan
Tatalaksana Terbaru pada Dewasa. Fakultas Kedokteran

Kemenkes, Buku Kesehatan Ibu dan Anak, 2014


Saifuddin, Abdul Bari,2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan dan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. YPSP. Jakarta.

31
LEMBAR PERSETUJUAN

Makalah perkuliahan dengan pokok bahasan “Hipertensi dalam Kehamilan”. Telah


dikoreksi oleh dosen penanggung jawab dan telah dikoreksi oleh tim.

Jakarta, 24 Januari 2023


Dosen Penanggung Jawab

Isroni Astuti [Link],[Link]

32

Common questions

Didukung oleh AI

Early detection and management of preeclampsia are crucial as they allow timely interventions to prevent progression to severe stages, which can lead to significant maternal and fetal complications. By regularly monitoring blood pressure and performing urinalysis during prenatal visits, healthcare providers can identify signs of preeclampsia early, enabling interventions such as medication management and lifestyle adjustments that can mitigate risks associated with hypertensive disorders during pregnancy .

Management of severe preeclampsia involves active and continuous monitoring of maternal and fetal conditions, ensuring bed rest, and administering medications to control blood pressure and prevent seizures, such as magnesium sulfate. If indicated, early delivery may be considered, particularly after assessing fetal maturity and maternal health. In cases without immediate delivery, hospitalization allows for intensive surveillance and treatment adjustments based on clinical responses and fetal assessments .

Preventive measures for at-risk women include lifestyle interventions such as weight management, dietary adjustments to enhance nutrition with proteins and reduce salt, and regular prenatal monitoring for blood pressure changes. Additionally, health education programs to increase awareness about preeclampsia signs and timely medical consultations can help in early intervention. Preventive pharmacological approaches, like low-dose aspirin, may also be considered under medical guidance for at-risk groups .

Obesity contributes to the pathophysiology of preeclampsia through metabolic disturbances and impaired antioxidant activity. Obese women typically have higher levels of lipids and inflammatory markers that can exacerbate endothelial dysfunction, a precursor to preeclampsia. Additionally, excess weight is associated with hyperinsulinemia and increased leptin levels, which contribute to vascular anomalies and stress, thereby enhancing the susceptibility to preeclampsia .

Preeclampsia risk factors include maternal age over 35 years, obesity, diabetes, chronic hypertension, kidney disease, and a history of preeclampsia. Obesity increases the risk due to lower antioxidant concentrations, which may lead to an imbalance that contributes to preeclampsia. Diabetes elevates the risk by three to four times and is associated with conditions such as chronic hypertension, which can further increase complications. Chronic kidney disease also predisposes individuals to preeclampsia due to underlying nephron damage .

Hypertension serves as a significant risk factor for developing preeclampsia due to increased cardiovascular and renal strain. Chronic hypertension predisposes patients to endothelial cell dysfunction and altered adaptive responses in vascular dynamics, creating a conducive environment for preeclampsia progression. Elevated blood pressures exacerbate oxidative stress and inflammation, key mechanisms underlying preeclampsia pathogenesis .

Comorbidities such as diabetes and chronic hypertension adversely affect pregnancy outcomes by increasing the risk of preeclampsia. Diabetes prompts excessive glucose levels that hinder proper cell function, leading to inflammatory responses and impaired placental development, which are critical pathways to preeclampsia. Similarly, chronic hypertension can exacerbate vascular and renal stress, predisposing pregnant women to severe manifestations of preeclampsia, characterized by high blood pressure and organ dysfunction .

Preeclampsia can severely impact neonatal outcomes through restricted fetal growth due to limited placental blood flow. Potential complications for infants include preterm birth, low birth weight, neonatal respiratory distress, and increased risk of infections. Additionally, the sudden onset of maternal conditions due to preeclampsia might lead to emergency delivery scenarios, further complicating neonatal health prospects .

Metabolic disorders in pregnancy, such as insulin resistance and dyslipidemia, contribute to preeclampsia through mechanisms of endothelial dysfunction and oxidative stress. High circulating insulin and lipid levels disrupt normal placental development, impairing blood flow and nutrient exchange. These disturbances prompt inflammatory pathways and vasoconstrictive states, resulting in the characteristic hypertension and proteinuria seen in preeclampsia .

Maternal emergencies are situations that occur suddenly and pose a severe risk to maternal and neonatal health, potentially leading to death if not promptly addressed. These emergencies are characterized by conditions such as hypertensive disorders of pregnancy (e.g., preeclampsia and eclampsia) which can rapidly deteriorate, threatening the life of both the mother and the unborn child. Failure to promptly manage these conditions is a leading cause of maternal and neonatal mortality .

Anda mungkin juga menyukai